Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 21-32 PEMBAURAN SOSIAL MELALUI PROYEK MODERASI BERAGAMA DI ORGANISASI BEM SE KOTA PALANGKA RAYA Pebi Erika Pendidikan Agama Katolik. STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya Email : 2020008@stipas. Paulina Maria E. STIPAS Tahasak Danum Pambelum Keuskupan Palangka Raya Abstract. The background of this research is how the social development among students who have diversity in each Student Executive Board (BEM). From this background, this study aims to see and describe the social assimilation that occurs in BEM students throughout the city of Palangka Raya. This study uses a qualitative approach with a descriptive type of research. This type of research data collection using interviews and The key informants of this research are 10 student presidents from every BEM campus throughout the city of Palangkaraya. Test the validity of the data by extending observations, increasing persistence, triangulation and member check. The data analysis technique in this study uses Miles and Huberman theory which includes three stages, namely by reducing data, presenting data, and drawing conclusions. The results of this study are students are able to have the right perspective and understand tolerance, especially to respect each other, accept differences, help and cooperate, and understand the role of students, especially the organization of each campus BEM in maintaining appropriate social development so that they are able to become pioneers of religious moderation in the future now. Keywords: Social assimilation, student Excutive Board Organization (BEM), tolerance, religious moderation. Abstrak. Penelitian ini dilatar belakangi bagaimana pembauran sosial antar mahasiswa yang memiliki keanekaragaman dalam setiap Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Dari latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk melihat dan mendeskripsikan pembauran sosial yang terjadi dimahasiswa- mahasiswa organisasi BEM se Kota Palangka Raya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Sebagai informan kunci dari penelitian ini adalah 10 orang presiden Mahasiswa dari setiap BEM kampus seKota Palangka Raya. Uji keabsahan data perpanjangan pengamatan, meningkatkan ketekunan, triangulasi dan member check. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan Miles and Huberman theory yang mencakup tiga tahap, yaitu dengan mereduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini adalah mahasiswa mampu memiliki cara pandang tepat dan memahami toleransi, terutama untuk saling menghargai, menerima perbedaan, tolong menolong dan bekerja sama, serta mermahami peran sebagai mahasiswa terutama organisasi tiap BEM Received Juli 07, 2022. Revised Agustus 2, 2022. September 22, 2022 * Pebi Erika, 2020008@stipas. PEMBAURAN SOSIAL MELALUI PROYEK MODERASI BERAGAMA DI ORGANISASI BEM SE KOTA PALANGKA RAYA kampus dalam memelihara pembauran sosial yang tepat, sehingga mampu menjadi pelopor moderasi beragama masa kini. Kata kunci: Pembauran sosial, mahasiwa Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), toleransi, moderasi beragama. LATAR BELAKANG Indonesia adalah suatu negara yang memiliki begitu banyak pulau,suku budaya yang beragam dan keunikan tersendri dari setiap perbedaan induvidu,budaya dan kepercayaannya (Digdoyo, 2. Toleransi merupakan sikap saling menghargai terhadap perbedaan pendapat dan perilaku orang lain yang berbeda latar belakang,suku ataupun budayanya. Berdasarkan teori dapat dipahami bahwa tiap-tiap individu memiliki hak dan kebebasan dalam berpendapat, berintraksi, dan menentukan apa yang menjadi pilihannya (Meiza,2. Bagaimana setiap individu menciptakan ketentraman, kerukunan dan kenyamanan dalam menjalani kehidupan relasi sosialnya di dalam Sebaliknya. Jika setiap individu memiliki ketidak pedulian terhadap sikap toleransi sosial hal tersebut dapat menyebabkan munculnnya berbagai permasalahan sosial dalam ruang lingkup dan pembauran sosial, yang dapat menghilangkan rasa ketentraman, kerukunan, dan kenyaman dalam kehidupan sosial (Muhamad Saleh, dkk. Pembauran dalam KBBI berarti menyesuaikan, masuk kedalam, melebur, menyatu, pencampuran atau gabungan. Sedangkan kata Sosial berasal dari kata Latin AuSociusAy yang artinya AoAomasyarakatAoAo. Jadi, pembauran sosial merupakan suatu proses penyesuaian unsur-unsur yang berbeda etnis yang terdapat di dalam masyarakat, dimana pertemuan itu mampu menciptakan suatu relasi ataupun interaksi yang harmonis antar individu maupun dalam suatu komunitas. Pembauran sosial dalam kehidupan mahasiswa dan bermasyarakat menjadi suatu hal yang mungkin terjadi, karena hal tersebut mengakomodasi dari perbedaan dan keragaman diantara manusia dengan sesamanya dan juga dengan budayanya. Setiap induvidu memiliki alasan mengapa toleransi terhadap perbedaan dalam tindakan dan perilaku tersebut tetap dibiarkan. Alasan mengapa perbedaan dalam tindakan dan perilaku tersebut tetap di biarkan menjadi ciri khas sebuah toleransi. Sehingga setiap orang juga memiliki kebebasan dalam mengutarakan berpendapat serta beragama sesuai kepercayaannya. Toleransi sosial adalah penerimaan yang mencakup SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 21-32 permasalah interaksi sosial pada diri manusia yang berkaitan dengan kehidupan manusia, sesama dan juga lingkungan budaya. Seperti halnya dalam ruang lingkup 10 BEM di Kota Palangka Raya, pastinya setiap mahasiswa yang terdapat didalamnya berasal dari beragam suku budaya, kebiasaan dan agama. Mahasiswa dapat belajar untuk saling menghargai, menghormati, tolongmenolong dan menerima perbedaan satu dengan yang lainnya. Sehingga keanekaragaman dan keberagaman dalam suatu Badan Eksekusif Mahasiswa menjadi pemersatu Jadi tepatlah semboyan Negara Republik Indonesia, mengingat bangsa indonesia memiliki dinamika budaya maka tepatlah semboyan Bhineka Tunggal Ika menjadi pembentuk kesadaran setiap individu dalam kesatuan, melihat bagaimana bangsa Indonesia memiliki dinamika sosial (Sodik. Fajri. , terutama dalam menerapkan nilai-nilai Bangsa Indonesia yang dimplementasikan melalui pembauran sosial yang terjadi di mahasiswa-mahasiswa BEM sekota Palangkaraya dalama moderasi beragama (Camran,2. Namun disamping hal itu juga, keberagaman yang terdapat pada mahasiswa yang berbeda latar belakang , jika dilihat dari sisi lain di dalam sebuah perbedaan pastinya dapat menjadi sumber konflik dalam pembauran sosial di ruang lingkup interaksi Menurut KBBI. Konflik diartikan sebagai perselisihan, percekcokan, pertentangan, atau perseteruan. Keanekaragaman negara Indonesia merupakan perwujudan keragaman suku budaya dan agama yang ditanggapi secara normatif (Molan. Karena perbedaan suku setiap individu dalam menuntut hak kesetaraan sebagai mahluk sosial maka tidak jarang menumbulkan konflik terhadap pembauran sosial, apabila dibiarkan konflik sosial ini dapat tidak terkendali dan mengancam keutuhan dalam pembauran sosial antar mahasiswa. Sikap toleransi sosial dalam pembauran sosial antar mahasiswa, entah itu dalam BEM internal kampus maupun jalinan hubungan dengan BEM Kampus-kampus lainnya, sangat diperlukan untuk mewujudkan kerukunan antar mahasiswa yang mempunyai latar belakangan yang berbeda-beda. Maka dari ini, pentingnya hidup saling mengahargai, menghormati, melengkapi, serta tolong-menolong antara setiap mahasiswa dan hal yang perlu diterapkan dalam kehidupan pembauran sosial mahasiswa demi menciptakan kehidupan yang aman, tentram, serta damai (Suparman dkk, 2. Disinilah perlunya diterapkan kepada seluruh mahasiswa, khususnya bagi peran 10 BEM setiap kampus di kota Palangkaraya untuk PEMBAURAN SOSIAL MELALUI PROYEK MODERASI BERAGAMA DI ORGANISASI BEM SE KOTA PALANGKA RAYA saling menciptakan kedamaian serta memperkuat rasa toleransi terhadap segala perbedaan, entah itu dalam dalam BEM internal Kampus ataupun dalam relasi pembauran sosial dengan BEM kampus-kampus. Mahasiswa yang mampu memiliki pembauran sosial yang baik akan memiliki sikap toleransi sosial, karena mereka dapat lebih terbuka menerima dan berminat terhadap keanekaragaman di lingkungan sekitarnya, dibandingkan mahasiswa yang kurang memiliki pembauran sosial, mereka lebih cenderung untuk bersikap intoleransi terhadap mahasiswa yang memiliki latar belakang Berdasarkan penjelasan diatas. Tujuan penelitian ini dilaksanakan untuk mendeskripsikan bagaimana toleransi dan penerapan pembauran sosial yang terjadi di mahasiswa-mahasiswa BEM se Kota Palangka Raya. Melalui proyek moderasi beragama di 10 BEM se Kota Palangka Raya, serta cara-cara yang digunakan untuk meminimalisir permasalahan pembauran sosial yang terjadi, entah dalam BEM Internal setiap kampus ataupun dalam relasi dengan BEM kampus-kampus lainnya di Kota Palangka Raya. Mahasiswa yang memiliki pembauran sosial yang baik, adalah mahasiswa yang dapat bersikap baik dan saling menerima, menghormati, serta menghargai satu dan lainnya yang berbeda agama dan budaya (Susanto, dkk. Relevansi nya, yaitu pembauran sosial menjadi salah satu factor penting sikap toleransi untuk terciptanya suatu kondisi harmonis antar mahasiswa. Melalui penelitian ini, di harapkan mahasiwa memiliki kesadaran terhadap pembauran sosial dalam hal toleransi sosial. Kata Moderasi berasal dari bahsa Latin AuModeratioAy yang berarti AukesedanganAy, dan menurut KBBI berarti Aupengurangan kekerasan dan penghindaran keestremanAy. Sehingga. Moderasi Beragama dipahami sebagai suatu sikap tenggang rasa dan seimbang antara penghormatan agama sendiri juga kepada praktik beragama orang lain yang berbeda kepercayaan, serta berkaitan erat dengan menjaga keharmonisan dari perbedaan yang ada. Salah satu langkah yang dapat dilakukan untuk memperkuat moderasi beragama antar mahasiswa di organisasi BEM, yaitu dengan melakukan interaksi semaksimal mungkin antara agama agama yang satu dengan agama yang lain dalam internal umat beragama (Kementrian Agama RI, 2. Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) merupakan organisasi mahasiswa intra kampus, yang bertujuan sebagai wadah kegiatan mahasiswa untuk mengembangkan kapasitas kemahasiswaan berupa aspirasi, gagasan positif yang membangun, kreatif SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 21-32 dalam bidang eksekutif dan manajerial atau leadership di tingkat universitas. Sejarah dari BEM di Indonesia pada mulanya dikenal dengan nama Dewan mahasiswa (DEMA) yang dibentuk pada tahun 1950 oleh universitas-universitas di Indonesia. Tetapi sejak kebijakan NKK dikeluarkan pada masa kepemimpinan Presiden Soeharto. DEMA ini dibubarkan dan digantikan dengan Senat Mahasiswa. Setelah Reformasi bergulir untuk menjalankan program-program Senat Mahasiswa dibentuk lah Badan Pelaksana Mahasiswa yang sekarang lebih dikenal dengan istilah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Berbagai penelitian telah dilakukan yang membahas tentang moderasi beragama. Penelitian moderasi beragama terdahulu tentang moderasi beragama dan relevansinya dengan toleransi, yang pernah dilakukan oleh Agus Akhmadi . mengenai peran moderasi beragama dalam keragamaan Indonesia Religious moderation. Menurut NS . penelitian ini menganalisis moderasi beragama untuk menciptakan keselarasan sosial dan keseimbangan dalam kedidupan individual dan sosial. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan wawancara dan studi dokumentasi literatur. Wawancara merupakan teknik pengumpulan data yang bertujuan untuk memperoleh informasi secara langsung melalui proses tanya jawab dan permintaan keterangan kepada narasumber . yang dipandang mampu memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang diajukan oleh pewawancara. Oleh sebab itu, peneliti melakukan wawancara dengan beberapa informan yang telah ditentukan dengan menggunakan seperangkat pertanyaan yang sudah disiapkan sesuai rumusan masalah, sehingga memeroleh data yang akurat dan sesuai dengan objek,tujuan, dan topik penelitian sehingga dapat diambil kesimpulan tertentu (Mukhtar, 2. Dokumentasi merupakan catatan peristiwa pada waktu yang lalu, dapat berbentuk tulisan, gambar, karya-karya, monumental dari seseorang. Literatur adalah catatatan dari artikel-artikel ilmiah dan buku-buku yang relevan dengan masalah penelitian. Peneliti dalam penelitian ini menggunakan sumber data primer yakni 10 Presiden Mahasiswa BEM sebagai narasumber yang langsung terlibat dalam BEM se Kota Palangka Raya. Sumber data sekunder didapat dari dokumentasi dan penelitian terdahulu PEMBAURAN SOSIAL MELALUI PROYEK MODERASI BERAGAMA DI ORGANISASI BEM SE KOTA PALANGKA RAYA yang ada terkait dengan tujuan penelitian ini. Data primer dari hasil wawancara bersama narasumber dan data sekunder berupa jurnal dan literatur dari peneliti terdahulu (Sugiyono, 2. Teknik analisis data merupakan cara kritis dalam proses penelitian kualitatif, sehingga hipotesis yang didapat dikembangkan dan dievaluasi (Stainback dalam Sugiyono,2. Penelitian ini menggunakan metode teknik analisis data Miles and Huberman theory yang mencakup tiga tahap aktivitas, yaitu: data Reduction . eduksi dat. Data Display . enyajian dat. , dan Conclusion Drawing/ Verification . enarikan Waktu penelitian dilaksanakan selama 1 bulan di Kota Palangka Raya. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan dengan presiden mahasiswa BEM se Kota Palangka Raya, dan literatur yang mendukung dalam penelitian ini, peneliti dapat melihat bagaimana pembauran sosial yang terjadi di mahasiswa dalam membangun toleransi sosial antar BEM sekota palangkaraya, dan beberapa aspek untuk meminimalisir masalah pembauran sosial jika ada terjadi di ruang lingkup mahasiswa, mengingat mahasiwa- mahasiswa di Kota Palangka Raya yang terdiri dari berbagai macam suku budaya dan agama yang berbeda. Sehingga peneliti memehami empat indikator nilai toleransi sosial (Usman & Widyanto:2. , yang yang harus dimiliki mahasiswa, terutama dalam proses pembauran sosial antar Organisasi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), antara lain sebagai berikut: Pertama. Saling Menghargai. Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan narasumber presma yang terlibat langsung dalam organisasi BEM seKota Palangka Raya, setiap presma BEM keseluruhan menyatakan bahwa toleransi dalam pembauran sosial di ruang lingkup mahasiswa setiap BEM yang memiliki keberagaman, pastinya diperlukan sikap toleransi terhadap perbedaan, terlebih dalam menjalin relasi antar BEM. Hal ini mengingat, setiap personal mahasiswa yang memiliki latar belakan, standar pemikiran, sudut pandang, perilaku, sikap, dan kebiasaan yang beragam. Sikap saling menghargai antar satu dengan yang lainnya dan nilai kesabaran dalam mengimbangi sikap ini, di harapkan setiap mahasiswa mampu menyadari, bahwa keberagaman yang ada itu bukanlah sesuatu yang dapat merusak kesatuan, tetapi menjadi suatu kekayaan dan terwujud dalam keharmonisan pada pembauran sosial. Sikap saling menghargai ini dapat diimplementasikan dengan tindakan tidak menghina perbedaan SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 21-32 suku budaya dan agama di antara mahasiswa, tetapi bagaimana setiap mahasiswa mampu menjaga dan merawat keberagaman tersebut dalam sudut pandang yang positif dalam hidup bersama. Jika sikap saling menghargai dan sabar sudah terbentuk dalam diri setiap mahasiswa, maka keberagaman dapat menjadi pondasi dan tidak adanya masalah dalam relasi antar BEM, sebab keragamanan ini menjadi ciri khas bangsa Indonesia. Walaupun terdiri dari beragam suku budaya dan agama, mahasiswa tetap dapat hidup berdampingan. Hak dan kewajiban dari taip individu yang mendorong antar mahasiswa untuk menjalin persaudaraan yang erat, sehingga perbedaan yang ada tidak dijadikan alasan untuk tidak memiliki rasa toleransi, melainkan menjadikan perbedaan sebagai kekayaan dan Misalkan organisasi antar BEM disuatu kampus melakukan forum agama atau Lintas Agama yang berbeda latar belakang agama maupun suku dapat saling menghargai tanpa harus menjadikan keberagaman tersebut sebagai penghalang untuk bersosialisasi. Sehingga, setiap mahasiswa meskipun memiliki latar belakang identitas suku dan agama yang beragam, tetap mampu untuk menghadirkan sikap saling menghargai dan menghargai terhadap yang lain. Kedua. Menerima perbedaan dan terbuka. Dari hasil wawancara yang dilakukan dengan narasumber presma yang terlibat langsung dalam organisasi BEM se Kota Palangka Raya, setiap presma BEM keseluruhan menyatakan bahwa sikap untuk saling menerima dan menyikapi perbedaan yang ada di pembauran sosial Mahasiswa harus melihatnya sebagai sesuatu yang unik dalam menciptakan suasana persaudaraan, terutama berkaitan dengan toleransi sosial dalam hal perbedaan agama ataupun suku, sudah seharusnya mahasiswa khususnya dari BEM dapat saling memahami , menghormati, dan saling bertoleransi antar satu dengan yang lainnya. Sikap intoleransi dalam pembauran sosial dapat mengakibatkan konflik sosial. Meskipun suatu konflik atau perbedaan pendapat tidak bisa secara penuh dihindari, seperti halnya dalam suatu pengambilan keputusan dalam pertemuan. Tetapi disini perlu ditekankan bagaimana setiap pribadi bisa membatasi diri, dan memahami perbedaan pendapat yang ada secara tepat, dimana melalui musyawarah pada akhirnya akan ditemukan kesepakatan. Organisasi BEM tiap kampus mampu menjadi jembatan dalam tercipta toleransi sosial yang mumpuni. Kemampuan penerimaan akan perbedaan ini dapat menjadi pedoman untuk pembauran sosial yang lebih luas menyeluruh. PEMBAURAN SOSIAL MELALUI PROYEK MODERASI BERAGAMA DI ORGANISASI BEM SE KOTA PALANGKA RAYA Perubahan yang terjadi dari dari pemahaman mahasiswa kondusif menjadi apresiasi posistif terhadap perbedaan suku budaya dan agama lain. Menurut penulis sikap bijak dan penerimaan juga mesti ditunjukkan kepada pemahaman seseorang dan kelompok yang tetap menolak, apakah secara moderat atau ekstrem, wacana dan penghayatan terhadap pluralisme suku budaya dan agama (Anis. Yunus. Mahasiswa menciptakan hidup rukun dalam beragama. Terkait dengan hal itu, tidak lepas dari pembelajaran kearifan lokal yang diterapkan pihak kampus. Jika setiap mahasiswa bisa menghormati perbedaan latar belakang yang ada dengan sikap toleransi yang tepat, maka kesatuan dan persatuan antar BEM se kota Palangkaraya akan terwujud dan terpelihara dengan baik sampai seterusnya. Ketiga. Tolong menolong dan mampu berkerjasama. Sebagai mahluk sosial manusia membutuhkan orang lain di setiap aspek kehidupan sosial, sehingga setiap individu memiliki kesadaraan untuk saling tolong menolong dan bekerja sama. Sifat ini yang menyebabkankan adanya toleransi sosial. Rasa kebersamaan antar mahasiswa yang memiliki perbedaan dalam latar belakangnya, harus dilakukan dengan aksi nyata juga sikap tolong-menolong dalam bekerja sama, tanpa memandang status atau politik identitas individu yang membutuhkan bantuan. Jika mahasiswa tidak lagi peduli pada sesama karena rendahnya nilai kebersamaan, pribadi mahasiswa bisa jadi memiliki sikap egoisme akan kepentingannya sendiri tanpa melihat juga memperhatikan dilingkunagn sekitar berkaitan dengan orang lain yang membutuhkan pertolongan. Ini mengakibatkan kebersamaan dan persaudaraan antar BEM menjadi rapuh. Mahasiswa harus mampu menjadi pelopor dan penggagas moderasi beragama, khususnya dalam bidang toleransi sosial. Dengan mempertahankan budaya tolong menolong, saling berbagi, dan kerjasama antara sesama mahasiswa terutama antar BEM, maka mahasiswa bisa mewujudkan sikap toleransi dalam pembauran sosial, yang menjadikan relasi antar mahsiswa menjadi harmoni, serta menjauhkan pribadi mahasiswa dari sifat individualistik dan egoistis terhadap sesama. Oleh karena itu, untuk menciptakan pembauran sosial yang baik dan tept, serta mewujudkan mahasiswa yang dinamis dengan rasa toleransi sosial tinggi, mahasiswa harus menanamkan budaya saling tolong menolong dan mampu bekerja sama dengan yang lainnya (Jannah. Mittahul,dkk. SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 21-32 Misalnya dalam kegiatan kerjasama lintas iman dan organisasi keagamaan mahasiswa yang beragama Muslim Muhamadiyah dan mahasiswa Kristiani STIPAS dapat saling berpartisipasi. Melalui kegiatan ini, terlihat sangat jelas bagaiaman pembauran sosial pada tiap mahasiswa terdapat penataan dalam hubungan antar agama dan suku melalui penguatan ideologi moderasi, tanpa melihat perbedaan yang ada sebagai Pembauran yang terjadi dalam kegiatan mahasiwa melalui adanya kerjasama, mempelihatkan bahwa mahasiswa tidak lagi bersikap intoleransi dalam agama ataupun berkaitan dengan politik identitas, sebab mahasiswa dalam menyikapi perbedaan yang ada senantiasa mengambil jalan tengah untuk mengatasi perbedaan. Kolaborasi yang dilakukan antar BEM sebagai jembatan untuk memberi ruang pengenalan dan pembentukan edukasi yang tepat, serta menjadi salah satu cara untuk mengakhiri konflik bernuansa suku dan agama dalam kehidupan sosial mahasiswa. Keempat. Tidak Diskriminasi atau memaksakan kehendak pada orang lain. Tidak memaksakan orang lain agar sama dengan kehendak pribadi dan memiliki penerimaan terhadap perbedaan yang ada menjadi salah satu hal yang diperlukan dalam pembauran Perbedaan yang ada di antar mahasiswa tidak dijadikan penghalang persaudaraan melainkan sebagai langkah untuk saling mengenal dan memahami satu dengan yang lain, baik kelebihan dan keterbatasan masing-masing, sehingga hubungan antar sesama mahasiswa maupun antar BEM dapat terbina harmonis. Perbedaan dalam suatu hubungan komunitas ataupun organisasi yang beragam merupakan hal yang wajar dan seharusnya dapat diterima. Pemahaman, sudut pandang, dan pendapat yang berbeda tersebut, menjadikan seseorang cenderung suka membedabedakan yang disebut dengan istilah diskriminasi. Ketika seseorang diperlakukan tidak adil karena perbedaan suku budaya dan agama, hal ini merupakan dasar dari tindakan Namun, ketika mahasiswa mampu memahami bahwa diskriminasi adalah hal yang dapat membuat perpecahan persatuan dan kesatuan dalam pembauran sosial maupun relasi, maka mahasiswa terutama BEM perlu mengambil langkah untuk mengatasinya. Kesadaran personal tiap mahasiswa yang disikapi secara tepat, akan melahirkan kesadaran sosiologis yang berimplikasi pada terciptanya hubungan yang harmonis antar mahasiswa yang memiliki latar belakang suku dan pemeluk agama yang berbeda. PEMBAURAN SOSIAL MELALUI PROYEK MODERASI BERAGAMA DI ORGANISASI BEM SE KOTA PALANGKA RAYA sehingga akan terciptanya pembaharuan sosial yang dinamis antar mahasiswa (Sheila C. Gordon dan Benjamin Arenstein. Melalui penelitian dan proses wawancara yang selama 1 bulan ini di dilakukan dalam proyek moderasi beragama di mahasiswa BEM se Kota Palangka Raya tersebut cukup baik. Cara mahasiswa berinteraksi dalam pembauran sosial, entah dalam BEM internal kampus ataupun dengan BEM Kampus lannya, dapat membentuk perilaku mahasiswa melalui relasi sosial, di mana mahasiswa saling menghargai, menghormati, tolong menolong, serta bekerjasama. Tabel 1. Uraian Kegiatan Proyek Moderasi Beragama Terhadap Pembauran Sosial BEM se Kota Palangka Raya. Kegiatan Kunjungan bersama Berhasil. ke makam Pahlawan Keteranagan Saat memperingati hari Pahlawan presma BEM se Kota Palangka Raya bersama-sama berkunjung ke makam Pahlawan yang ada di Kota Palangka Raya. Aksi penghijauan Berhasil. Beberapa anggota yang dikirim sebagai perwakilan dari setoiap BEM se Kota Palangka Raya mengikuti aksi penghijauan, yaitu dengan menanam tanaman pohon bersama dibeberapa temapat di sekita jalan Kota Palangka Raya. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian, maka peneliti menyimpulkan bahwa pembauran sosial dalam upaya moderasi beragama di BEM se Kota Palangka Raya sesungguhnya telah tumbuh secara perlahan dan baik dalam relasi antar mahasiswa. Sikap pembauran soial dalam toleransi ini telah membangun relasi kuat di antara mahasiswa yang memiliki latar belakang suku dan agama yang berbeda. Melalui sikap saling menghargai, menerima perbedaan, tolong menolong, kerja sama, dan dukungan edukasi yang membangun kesadaran kolektif mampu memberi ruang pengenalan dan pembentukan kepribadian SEPAKAT - VOLUME 8. NO. SEPTEMBER 2022 Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Vol. No. 2 September 2022 e-ISSN: 2541-0881. p-ISSN: 2301-4032. Hal 21-32 positif yang melihat dan menjadikan perbedaan juga keberagaman yang ada sebagai pondasi kekayaan, sehingga tidak ada nya pengotakan serta sekat-sekat pembatas dalam proses pembauran sosial. Bagaimana mahasiswa khususnya organisasi tiap BEM Kampus mampu terbuka, menjaga, dan merawat keberagaman yang ada, sehingga dapat menja Kegiatan yang telah dilakukan oleh presma maupun mahasiswa BEM se kota Palangkaraya menjadi jalan untuk semakin meneguhkan dan mempererat toleransi sosial moderasi beragama. di pelopor moderasi beragama masa kini. Upaya yang dilakukan oleh BEM se Kota Palangka Raya pada pembauran sosial mahasiswa telah menciptakan toleransi sosial dalam moderasi beragama, yang diharapkan mampu menyadarkan mahasiswa akan pentingnya bersikap saling toleran, menghargai, dan menghormati perbedaan suku budaya dan agama setiap mahasiswa sebagai bangsa Indonesia. Melalui proyek moderasi beragama ini menunjukkan kepada kita bahwa yang diperlukan saat ini adalah senantiasa mengisi ruang-ruang publik dengan edukasi mengenai pentingnya toleransi, yang meliputi pembauran sosial melalui pendekatan humanis dan psikologis untuk membentuk karakter, yang di implementasikan dengan tindakan nyata tentang penghargaan juga penerimaan terhadap perbedaan dalam hal keanekaragaman suku budaya dan agama. PEMBAURAN SOSIAL MELALUI PROYEK MODERASI BERAGAMA DI ORGANISASI BEM SE KOTA PALANGKA RAYA REFERENSI