CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN PITYRIASIS VERSICOLOR PADA SANTRIWATI SMP IT ABU HURAIRAH MATARAM Siti Luthfiah Zulfa1. Angelica Vanini WT2. Rusmiatik3. Artha Budi Susila Duarsa4 1,2,3,4 Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Islam Al-Azhar Mataram Email: ulfadame01@gmail. Received: 28-02-2023. Received:10-05-2023. Accepted: 16-06-2023 ABSTRACT Pityriasis Versicolor is a fungal infection caused by Mallasezia furfur with symptoms that are not disturbing so that many of the sufferers ignore to do the examination and treatment. Pityriasis versicolor is mostly found in the pesantren environment because it is seen from the pesantren environment that is less clean, limited knowledge of students about pityriasis versicolor so that the number of spread of the incidence of pityriasis versicolor in boarding This study aims to determine the factors that can influence the occurrence of pityriasis versicolor in female students of SMP IT Abu Hurairah Mataram. This type of research uses quantitative analytical observational with cross sectional design. Conducted at SMP IT Putri Abu Hurairah Mataram on October 27, 2022. The research sample was 164 female students, with the sampling technique being random sampling. The analysis used was the Chi-Square statistical test with an alternative Fisher Exact Analysis test. The results in this study indicate that there is a significant relationship in the personal hygiene variable with pityriasis versicolor obtained a p-value of 0. -value <0. , and the dense occupancy variable with pityriasis versicolor obtained a p-value of 0. -value <0. This study also shows that there is no significant relationship between the knowledge variable and pityriasis versicolor obtained p-value 0. -value> 0. and the environmental sanitation variable with pityriasis versicolor obtained p-value 0. value> 0. It can be concluded that there is a relationship between personal hygiene and dense occupancy with pityriasis versicolor while knowledge and environmental sanitation are not related. Keyword: personal hygiene, knowledge, sanitation, occupancyA pityriasis versicolor, female students ABSTRAK Pityriasis Versicolor adalah Infeksi jamur disebabkan oleh Mallasezia furfur yang dengan gejala yang tidak mengganggu sehingga banyak dari penderita mengabaikan untuk melakukan pemeriksaan dan mengobatan. Pityriasis versicolor banyak ditemukan di lingkungan pesantren sebab dilihat dari lingkungan pesantren yang kurang bersih, pengetahuan santri mengenai pityriasis versicolor yang terbatas sehingga angka penyebaran kejadian pityriasis versicolor di pondok pesantren. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya pityriasis versicolor pada santriwati SMP IT Abu Hurairah Mataram. Jenis penelitian ini menggunakan kuantitatif analitik observasional dengan rancangan cross sectional. Dilakukan di SMP IT Putri Abu Hurairah Mataram pada tanggal 27 Oktober 2022. Sampel penelitian sebanyak 164 santriwati, dengan teknik pengambilan sampel yaitu random sampling. Analisis yang E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 97 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI digunakan yaitu uji statistic Chi-Square dengan alternatif uji Fisher Exact Analysis. Hasil pada penelitian ini menunjukkan bahwa adanya hubungan yang signifikan pada variabel personal hygiene dengan pityriasis versicolor didapatkan nilai p-value 0,023 . -value < 0,. , dan variabel hunian padat dengan pityriasis versicolor didapatkan nilai p-value 0,048 . -value < 0,. Pada penelitian ini juga menunjukkan tidak ada hubungan yang signifikan pada variabel pengetahuan dengan pityriasis versicolor didapatkan p-value 0,068 . -value> 0,. dan variabel sanitasi lingkungan dengan pityrasis versicolor didapatkan p-value 0,202 . -value> 0,. Dapat simpulkan terdapat hubungan antara personal hygiene dan hunian padat dengan pityriasis versicolor sedangkan pengetahuan dan sanitasi lingkungan tidak berhubungan. Kata Kunci: personal hygiene, pengetahuan, sanitasi, hunianApityriasis versicolor. PENDAHULUAN Penyakit kulit yang disebabkan oleh infeksi jamur atau dermatomikosis merupakan penyakit yang sering dijumpai pada negara dengan iklim tropis, yang disebabkan karena udara yang lembab yang mendukung (Widyawati et al. , 2. Infeksi jamur yang diantaranya adalah dermatofitosis atau tinea, kandidiasis, pityriasis versicolor. Pityriasis versicolor adalah infeksi jamur kulit kronis yang disebabkan oleh proliferasi ragi lipofilik atau spesies dari Malassezia yang terdapat di stratum korneum. Spesies Malassezia paling umum adalah M. sympodialis dan juga M. Furfur (Gupta. Pityriasis versicolor sangat mudah menginfeksi kulit dan sering berada ditempat lembab dengan kadar air yang lebih tinggi dalam waktu yang lama. Data angka prevalensi kejadian pityriasis versicolor di dunia didapatkan mencapai 50% di daerah yang panas dan lembab dan sekitar 1,1 % di daerah yang dingin (Sudiadnyani, 2. Menurut data RISKESDAS . , prevalensi penyakit kulit di Indonesia sebesar 6,78%. Pada penelitian yang di lakukan oleh Soleha, . pendertita pityriasis versicolor di Indonesia cukup tinggi yaitu 40% dari jumlah Di beberapa kota di Indonesia seperti Jakarta golongan penyakit pityriasis versicolor sampai saat ini menempati urutan kedua setelah dermatitis dan beberapa kota lainnya (Mikrobiologi et al. , 2. Sedangkan di Lombok belum didapatkan laporan mengenai angka kejadian pityriasis versicolor secara menyeluruh, hanya di dapatkan data sebanyak 1,5% dari seluruh kejadian penyakit kulit (Hidajat et al. , 2. Dengan mengganggu karena tidak terasa gatal pada area yang terkena sehingga banyak dari penderita mengabaikan pityriasis versicolor, namun dapat berakibat penderita menarik diri dari pergaulan apabila terkena di area wajah atau area yang mudah terlihat karena merusak ke aestetikan, apabila tidak ditangani dapat memperburuk keadaan dari Dengan alasan ini juga banyak dari penderita banyak yang tidak melakukan pemeriksaan dan pengobatan sehingga menjadikan insiden pityriasis versicolor (Sihombing, 2017. Sudiadnyani, 2. Walaupun tidak membahayakan jiwa tetapi menjadi suatu masalah tersendiri di bidang kesehatan sebab tingginya angka prevalensi atau distribusi, transmisi penyebaran dan angka morbiditas atau kesakitan yang besar (Wulan et al. , 2. Kejadian pityriasis versicolor adalah penyakit kulit yang sering ditemukan di lingkungan pesantren yang kumuh dan kurang nya pengetahuan santri tentang E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 98 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj kebersihan diri, kesehatan serta banyak nya aktifitas yang menyebabkan hiperhidrosis pada santri sehingga dapat menimbulkan terjadinya pityriasis versicolor. Walaupun banyak infeksi kulit yang dapat terjadi pada kalangan santri seperti scabies dan dermatitis selain pityriasis versicolor. Santitasi yang kurang bersih dan kepadatan hunian di pesantren menjadikan angka kejadian dari penyakit infeksi jamur terlebih adalah pityriasis versicolor di pesantren tinggi, sehingga penularan kontak secara langsung dapat mudah terjadi pada santri (Natalia et al. , 2. Dari hasil survei yang dilakukan oleh peneliti, lingkungan pondok yang kurang bersih seperti didapatkan baraang-barang ynag bertumpukan dengan yang lainnya dengan jumlah penduduk yang cukup padat dan aktivitas yang banyak dapat penyebaran dari pityriasis versicolor pada Banyak dari santri juga mengabaikan kebersihan sekitarnya sehingga lingkungan terlihat kumuh. METODE Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif analitik observasional dengan rancangan penelitian menggunakan cross sectional untuk mempelajari korelasi variabel bebas dengan variable terikat, dimana pengukuran variabel dilakukan sekali dalam waktu yang serentak. Penelitian ini dilakukan di SMP IT Abu Hurairaah Mataram. Sampel penelitian sebanyak 164 responden menggunakan teknik random sampling. Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetauhi faktorfaktor yang dapat menyebabkan terjadinya pityriasis versicolor pada santriwati SMP IT Abu Hurairah Mataram. Instrument yang digunakan pada penelitian dengan menggunakan lembar kuesioner dan HASIL DAN PEMBAHASAN VOL. 01 NO. JUNI Hasil Analisis Univariat Tabel 1. Karakteristik Responden Frekuensi Usia Jumlah . Persentase (%) Total Berdasarkan tabel diatas, dari 164 responden dari karakteristik usia, didapatkan responden berusia 13 tahun sebanyak 76 responden . ,3%), berusia 14 tahun sebanyak 52 responden . ,7%) dan responden berusia 15 tahun sebanyak 36 responden . %). Dari hasil pengambilan data didapatkan lebih banyak responden berusia 13 tahun. Menurut beberapa teori disebutkan bahwa kejadian pityriasis versicolor dapat mengenai semua kalangan usia, namun kejadian pityriaisis versicolor umumnya lebih banyak ditemui pada kelompok usia 11-20 tahun yang meninggali suatu kawasan atau area yang bersuhu panas disertai kelembaban yang tinggi (Candra K, et all. Usia remaja merupakan usia yang mengalami perubahan hormonal dan peningkatan aktivitas kelenjar sebaseus, pada usia remaja cenderung banyak melakukan aktifitas fisik yang menyebabkan tubuh berkeringat atau hiperhidrosis sehingga menjadi faktor predisposisi terjadinya pityriasis versicolor (Putri, 2. Tabel 2. Personal Hygiene Frekuensi Personal Jumlah . Persentase Hygiene (%) Baik Kurang Baik Total Data yang diperoleh dari 164 responden berdasarkan personal hygiene didapatkan responden dengan personal hygiene baik sebanyak 83 responden . ,6%), sedangkan untuk personal hygiene yang kurang baik E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 99 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj sebanyak 81 responden . ,4%). Hasil data tersebut didapatkan lebih banyak santriwati dengan personal hygiene yang baik. Tabel 3. Pengetahuan Pengetahuan Baik Kurang Baik Total Frekuensi Jumlah . Persentase (%) Data yang diperoleh dari 164 responden berdasarkan pengetahuan dari didapatkan responden dengan pengetahuan baik sebanyak 78 responden . ,7%), sedangkan responden dengan pengetahuan kurang baik sebanyak 86 responden . Hasil data menunjukkan lebih banyak responden dengan pengetahuan yang kurang baik. Tabel 4. Sanitasi Lingkungan Frekuensi Sanitasi Jumlah Persentase Lingkungan . (%) Positif Negatif Total Data yang diperoleh dari 164 responden berdasarkan sanitasi lingkungan, didapatkan responden dengan sanitasi lingkungan positif atau sanitasi lingkungan sehat sebanyak 61 responden . ,2%), dan responden dengan sanitasi lingkungan negatif atau sanitasi lingkungan kurang sehat sebanyak 103 responden . ,8%). Hasil data mengenai sanitasi lingkungan didapatkan lebih banyak responden sanitasi lingkungan VOL. 01 NO. JUNI Tabel 5. Hunian Padat Hunian Padat Memenuhi Syarat Tidak Memenuhi Syarat Total Frekuensi Jumlah Persentase . (%) Karakteristik kepadatan hunian dikelompokkan menjadi hunian memenuhi syarat dan hunian tidak memenuhi syarat. Seluruh kamar tidur santri untuk tingkat SMP sebanyak 16 kamar masing-masing dihuni 16-24 santriwati disetiap kamar. Data yang didapatkan dari 102 responden . ,8%) hunian memenuhi syarat hunian, dan 62 responden . ,8%) dengan hunian tidak memenuhi syarat atau tergolong dalam hunian padat. Hasil data menunjukkan lebih banyak yang memenuhi syarat hunian. Tabel 6. Pityriasis Versicolor Frekuensi Pityriasis Jumlah Persentase . (%) Mengalami Tidak Mengalami Total Pengumpulan data menunjukkan hasil bahwa responden mengalami kejadian responden . ,3%) dan responden tidak mengalami kejadian pityriasis versicolor adalah sebanyak 116 responden . ,7%), sehingga didapatkan santriwati lebih banyak yang tidak mengalami pityriasis versicolor. Hasil Analisis Bivariat Tabel 7. Hubungan Personal Hygiene dengan Pityriasis Versicolor Personal Hygiene Pityriasis Versicolor Total P-Value E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 100 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj Mengalami VOL. 01 NO. JUNI Tidak Mengalami Kurang Baik 62,5% 49,4% Baik 37,5% 50,6% Total Penelitian ini melibatkan 164 responden personal hygiene baik yang mengalami pityriasis versicolor sebanyak 18 . ,5%) responden dan terdapat 65 . %) responden personal hygiene baik tidak mengalami pityriasis versicolor. Sedangkan responden dengan personal hygiene kurang baik yang mengalami pityriasis versicolor sebanyak 30 . ,5%) responden dan 51 . %) responden dengan personal hygiene kurang baik tidak mengalami pityriasis versicolor. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi-square menggunakan program SPSS versi 26, untuk mengetahui salah satu faktor yang berhubungan yaitu antara variabel personal hygiene dengan kejadian pityriasis versicolor pada santriwati SMP-IT Abu Hurairah Mataram, didapatkan nilai p = 0,023 < 0,05 yang secara statistik signifikan antara personal hygiene dengan pityriasis versicolor. Hasil tersebut dapat terjadi sebab sebagian besar dari responden mempunyai personal hygiene yang baik, sebab dengan hasil tersebut dapat mempengaruhi sedikitnya dari responden yang terkena pityriasis versicolor, dari hasil tersebut didapatkan responden tetap menjaga kebersihan tangan kaki dan juga pakaian yang diganti setiap Sedangkan responden dengan personal hygiene yang kurang baik lebih besar pengaruhnya terkena pityriasis versicolor. Seperti Tumilaar 0,023 1,712 didapatkan hasil yang signifikan antara personal hygiene dengan pityriasis versicolor. Dalam hasilnya menyatakan kebersihan diri dapat menjadi alasan seseorang dapat terhindar dari penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur seperti pityriasis versicolor sebab karena kulit yang bersih dan terawat tidak dapat menjadi tempat perkembangan bakteri dan jamur. Personal hygiene seseorang menentukan status kesehatan secara sadar dalam menjaga kesehatan dan mencegah terjadinya penyakit terutama gangguan pada kulit. Seseorang dapat dikatakan mampu memliki personal hygiene yang baik apabila dapat menjaga kebersihan tubuhnya (Febriyanti, 2. Personal hygiene yang kurang menjadi salah satu faktor resiko terjadinya pityriasis versicolor, sebab personal hygiene yang kurang baik tersebut menjadi alasan seseorang mudahnya mengalami penyakit kulit salah satunya disebabkan oleh jamur seperti pityriasis versicolor (Sitorus, 2. Dalam memelihara personal hygiene kebiasaankebiasaan yang sehat perlu diperhatikan seperti menggunakan barang sehari-hari tidak bergantian, mandi minimal 2 kali sehari, menjaga kebersihan pakaian dan menjaga kebersihan lingkungan. Hasil dari penelitian ini didukung dengan adanya kesadaran dari masing-masing santri yang sadar dengan kebersihan tubuh, seperti mencuci tangan sebelum tidur dan sesudah E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 101 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI melakukan aktifitas sebab tangan adalah perantara penularan pada kuman, serta kebiasaan mengganti pakaian yang sudah Pada pakaian yang kurang bersih dan pakaian yang sudah digunakan untuk berkegiatan apabila tidak diganti, tidak menutup kemungkinan menjadikan tempat perkembangbiakan jamur, untuk itu perlu mengganti pakaian setiap hari sehingga dapat terhindar dari berbagai macam penyakit kulit yang kapan bisa menyerang saja apabila tidak diperhatikan atau dibiarkan. Penderita dengan personal hygiene yang baik namun tetap terkena pityriasis versicolor dapat disebabkan karena tingkat imunitas yang rendah dan tidak menjaga asupan nutrisi dengan baik sehingga dapat mengakibatkan terjadinya pityriasis versicolor (Rani Prastian, 2. Tabel 8. Hubungan Pengetahuan dengan Pityriasis Versicolor Pengetahuan Pityriasis Versicolor Mengalami Tidak Mengalami Kurang Baik 62,5% 48,3% 52,4% Baik 37,5% 51,7% 47,6% Total Penelitian ini melibatkan 164 responden dengan pengetahuan baik yang mengalami pityriasis versicolor sebanyak 18 . ,5%) responden dan 60 . ,7%) responden pengetahuan yang baik tidak mengalami pityriasis versicolor. Sedangkan responden dengan pengetahuan kurang baik yang mengalami pityriasis versicolor sebanyak 30 . ,5%) responden dan 56 . ,3%) responden dengan pengetahuan tidak baik tidak mengalami pityriasis versicolor. Berdasarkan hasil analisis bivariat untuk mengetahui faktor yang berhubungan pada variabel pengetahuan dengan pityriasis versicolor pada santriwati SMP-IT Abu Hurairah Mataram, hasil p value didapatkan nilai p = 0,068 < 0,05 yang secara analisis tidak signifikan. Hasil tersebut dapat terjadi sebab pada usia 13-15 tahun terlebih berada di pondok pesantren dapat dipengaruhi oleh beberapa hal seperti usia, pendidikan dan sumber Santri-santri masih tergolong anak- Total P-Value 0,068 1,513 anak sehingga daya tangkap atau pola pikir mengenai suatu penyakit belum sebaik orang Pada usia-usia tersebut pengetahuan tentang kesehatan dan penyakit masih Sumber informasi yang disediakan di Pondok Pesantren juga memiliki keterbatasan media informasi sehingga informasi yang diterima mengenai kesehatan masih terbatas (Nazaria et al. , 2. Penelitian ini sejalan pada penelitian Natalia . pada santri MTs di Pondok Pesantren X Kecamatan Mempawah Hilir, menunjukkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan kejadian pityriasis Didapatkan bahwa mayoritas dari santri yang mengalami pityriasis versicolor mempunyai pengetahuan yang kurang baik kesehatan pribadi dan juga pityriasis versicolor, hal tersebut dapat disebabkan kurangnya pendidikan, sumber informasi dan budaya solidaritas di pesantren serta pengaruh fasilitas pesantren dan pengaruh perilaku E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 102 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI hidup santri yang kurang baik dapat mempengaruhi terjadinya penularan pityriasis versicolor pada santri. Namun, penelitian ini tidak sejalan dengan Lumbanraja. M et al, . diketahui bahwa dari 57 responden, 20 orang . %) memiliki pengetahuan yang baik tentang Pityriasis versicolor, 27 orang . ,4%) memiliki pengetahuan cukup dan 10 orang . ,6%) memiliki pengetahuan kurang. Dengan demikian, mayoritas responden memiliki pengetahuan cukup tentang pityriasis versicolor,yakni sebanyak 27 responden . ,4%). sebab dari hasil didapatkan pengetahuan santri kurang baik dengan jumlah yang mengalami pityriasis versicolor. Santriwati pada tingkat MTs merupakan pelajar yang belum bekerja dan hanya berinteraksi dengan santri lainnya sehingga pengalaman belajar yang mereka miliki masih tergolong sedikit, sehingga pengetahuan bisa menjadi faktor risiko terjadinya pityriasis versicolor, dengan pengetahuan tentang kesehatan yang terbatas menyebabkan santriwati kurang mengetahui akibat apabila tidak menjaga kebersihan tubuh, pinjam meminjam alat-alat pribadi dan tidak menjaga lingkungan sekitarnya (Patmawati & Sumardi, 2. Sehingga hasil pada variabel pengetahuan mempengaruhi hasil tidak berhubungan. Tabel 9. Hubungan Sanitasi Lingkungan dengan Pityriasis Versicolor Sanitasi Lingkungan Pityriasis Versicolor Mengalami Total Tidak Mengalami Negatif 68,8% 60,3% 62,8% Positif 31,3% 39,7% 37,2% Total Penelitian ini melibatkan 164 responden dengan sanitasi lingkungan positif atau sanitasi lingkungan sehat yang mengalami pityriasis versicolor sebanyak 15 . ,3%) responden dan responden dengan sanitasi lingkungan positif tidak mengalami pityriasis versicolor sebanyak 46 . ,7%) responden. Sedangkan responden dengan sanitasi lingkungan negative atau sanitasi kurang sehat yang mengalami pityriasis versicolor sebanyak 33 . ,8%) responden dan 70 ,3%) lingkungan negatif tidak mengalami pityriasis Hasil analisis bivariat faktor yang P-Value 0,202 1,306 lingkungan dengan pityriasis versicolor pada santriwati SMP-IT Abu Hurairah Mataram, hasil p- value didapatkan nilai p = 0,202 > 0,05 yang secara statistik tidak signifikan . value=0,. antara faktor sanitasi lingkungan dengan kejadian pityriasis versicolor. Hasil penelitian didapatkan bahwa sanitasi lingkungan yang kurang sehat seperti pada lingkungan kamar mandi didapatkan penumpukan barang-barang seperti handuk, alat-alat mandi, sepatu sendal dan juga pakaian sehingga terlihat lingkungan menjadi kumuh dan lembab, penumpukan sampah pada sudut kamar. Lingkungan tersebut dapat mempengaruhi terjadi pertumbuhan jamur E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj VOL. 01 NO. JUNI sehingga dapat menyebabkan terjadi nya pityriasis versicolor pada santri. Namun berbanding terbalik dengan hasil penelitian ini, bahwa didapatkan hasil yang tidak signifikan bermakna hubungan antara sanitasi lingkungan dengan kejadian pityriasis perbedaan teori dengan hasil penelitian bisa disebabkan dari temuan responden yang mengalami pityriasis versicolor dalam jumlah yang sedikit dengan sanitasi lingkungan negatif atau sanitasi lingkungan yang kurang sehat. Penelitian yang dilakukan oleh Desmawati et al. , . tentang hubungan personal hygiene dan sanitasi lingkungan dengan kejadian pityriasis versicolor di pondok pesantren Al-Kautsar pekan baru, bahwa p-value yang didapatkan 0,306 > 0,05 sehingga hasil penelitian ini didapatkan hasil yang tidak signifikan antara sanitasi antara lingkungan dengan kejadian pityriasis versicolor. Sanitasi lingkungan merupakan kebersihan tempat tinggal atau asrama yang dapat dilakukan dengan cara membersihkan perabotan milik pribadi atau lingkungan. Sanitasi kebersihannya dimulai dari ruangan atau kamar santri, halaman, saluran pembuangan air, jalan di depan asrama dan juga lingkungan kamar mandi. Kondisi sanitasi lingkungan pondok pesantren cukup dikenal dengan lingkungan yang kumuh membuat penyebaran dari berbagai penyakit terutama penyakit kulit pada santri menjadi semakin banyak. Lingkungan yang kurang baik akan membuat jamur, tungau ataupun parasit lebih mudah untuk berkembang biak. Kemudian ditambah dengan kebiasaan santriwati yang kurang menjaga kebersihan kamar dan sekitarnya sehingga terlihat kurang rapi, barang-barang yang tidak di tempatnya serta baju-baju yang digantung dan bercampung dengan teman sekamar yang menambah penyebaran dari penyakit kulit seperti pityriasis versicolor menjadi cepat (Desmawati et al. , 2. Namun sanitasi lingkungan yang kurang sehat belum tentu merupakan faktor risiko untuk terkena pityriasis versicolor. Tabel 10. Hubungan Hunian Padat dengan Kejadian Pityriasis Versicolor Hunian Padat Pityriasis Versicolor Mengalami Total Tidak Mengalami 45,1% Tidak Memenuhi Memenuhi 56,3% 43,8% 59,5% 54,9% Total 40,5% Penelitian responden dengan hunian yang memenuhi syarat yang mengalami pityriasis versicolor sebanyak 21 . ,8%) responden dan 69 P- Value 0,048 1,562 . ,5%) responden memenuhi syarat tidak mengalami pityriasis versicolor. Sedangkan responden dengan hunian yang tidak memenuhi syarat yang mengalami E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 104 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj pityriasis versicolor sebanyak 27 . ,3%) dan 47 . ,5%) responden tidak memenuhi Hasil analisis bivariat faktor yang berhubungan yaitu variabel hunian padat dengan kejadian pityriasis versicolor pada santriwati SMP-IT Abu Hurairah Mataram, hasil p- value didapatkan nilai p = 0,048 < 0,05 yang secara statistik signifikan . -value=0,. antara faktor hunian padat dengan kejadian pityriasis Hasil pada penelitian ini didapatkan sebagian besar ruangan yang ditempati oleh santri memenuhi syarat hunian sebab luas ruangan tersebut memiliki ukuran Ou 8m2 untuk 2 orang. Sebab ukuran suatu ruangan dapat mempengaruhi penularan suatu Ruangan yang tidak layak atau tidak memenuhi syarat huni dapat Malassezia furfur mudah dan cepat berkembang (Sitorus, 2. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Sitorus, . didapatkan hasil yang signifikan antara faktor hunian pada dengan kejadian pityriasis versicolor sebab ruangan kamar santri yang terdapat di Pondok Pesantren Sultan Mahmud Badaruddin sebagian besar memenuhi syarat dan tidak mengalami pityriasis versicolor. Penelitian ini juga sejalan dengan Nilam . yang menyatakan kepadatan hunian tidak versicolor yaitu pada santri yang tinggal di kamar dengan ukuran kamar (< 8m2 untuk 2 oran. sehingga hunian tersebut dapat dikategorikan sebagai hunian yang memenuhi syarat yang telah ditentukan. Sehingga santri-santri dapat dengan leluasa atau tidak berdempet dengan temannya dan terdapat jarak antara kasur dari masingmasing santri. Kepadatan hunian menjadi salah satu faktor yang dapat menyebabkan terjadinya penularan pityriasis versicolor. VOL. 01 NO. JUNI Dengan jumlah penghuni rumah atau ruangan yang dipenuhi melebihi kapasitas, dapat meningkatkan suhu ruangan menjadi panas, yang bisa disebabkan karena pengeluaran badan juga akan meningkatkan kelembaban, berakibat adanya uap air dari pernafasan maupun penguapan cairan tubuh dari kulit (Nilam, 2. Namun penelitian ini tidak sejalan dengan penelitian Fahlevi . tentang hubungan perilaku personal hygiene dan kepadatan hunian terhdapat penyakit pityriasis versicolor pada santri di pondok pesantren Qodratullah Langkan Kabupaten Banyuasin yaitu dengan hasil adanya hubungan tidak signifikan antara hunian versicolor, didapatkan seluruh ruangan kamar tidur santri dikategorikan padat, 64,8% subjek yang menderita pityriasis versicolor yang tinggal di kepadatan hunian yang padat sebanyak 57 responden. Pada hunian tidak memenuhi syarat seperti ruangan yang lembab, tidak ada jendela dan atap yang bocor dapat mempengaruhi kualitas udara yang masuk kedalam ruangan dan apabila semakin banyak jumlah penghuninya, maka akan udara di dalam ruangan tersebut akan cepat mengamalami pencemaran. CO2 juga akan cepat meningkat dan kadar dari O2 menurun, sehingga kepadatan hunian sangat berhubungan terdahap jumlah bakteri penyebab penyakit menular (Sitorus, 2. Penutup Simpulan Personal hygiene dari santriwati yang menjadi responden pada penelitian ini sebagian besar mempunyai personal hygiene yang baik. Pengetahuan santri mengenai personal hygiene terhadap pityriasis versicolor pada penelitian ini sebagian besar mempunyai pengetahuan yang kurang baik karena beberapa sebab seperti E-ISSN 2985-4237 P-ISSN 2985-4. 105 CAKRAWALA MEDIKA: JOURNAL OF HEALTH SCIENCES https://publikasi. id/inde php/cmj Sanitasi lingkungan santriwati pada penelitian ini sebagian besar tergolong mempunyai sanitasi yang negatif atau kurang sehat. Hunian padat pada penelitian ini sebagian besar dengan hunian yang memenuhi syarat, sebab lebih banyak santriwati yang menghuni kamar dengan jumlah yang sedikit. Saran Bagi peneliti selanjutnya Peneliti selanjutnya diharapkan untuk mengkaji lebih banyak sumber dan referensi terkait dengan faktor-faktor yang dapat menyebabkan terjadinya pityriasis versicolor agar dapat melengkapi dari sumber-sumber dari penelitian Peneliti selanjutnya diharapkan untuk memperhatikan kuesioner dan proses dalam pengambilan data agar dapat dilaksanakan dengan baik dan data yang didapatkan sesuai dengan harapan. Peneliti selanjutnya diharapkan untuk memperhatikan metode Daftar Pustaka