AuEKOMABIS: Jurnal Ekonomi Manajemen Bisnis AuDOI: https://doi. org/10. 37366/ekomabis. e-ISSN 2716-0238Ay Volume 6 Issue 01 Ae Jan 2025Ay Menuju Pembangunan Berkelanjutan: Mewujudkan Kesetaraan. Pemberdayaan dan Peningkatan Taraf Ekonomi Melalui Perwujudan Kota Kreatif Toward Sustainable Development: Realising Equity. Empoerment and Economic Improvement Through the Realisation of a Crative City Submit: 1 Feb 2024 Review: 18 Jun 2024 Accepted: 14 Jan 2025 Publish: 25 Jan 2025 Bayu Aulia1*). Santi Isnaini2. Tri Siwi Agustina3 Abstrak Studi ini mengeksplorasi potensi transformatif dalam menciptakan kota kreatif berdasarkan konsep mashlahah mursalah, yang bertujuan untuk mengatasi tantangan ekonomi, ketidaksetaraan, dan mencapai keberlanjutan. UNESCO membentuk Jaringan Kota Kreatif pada tahun 2004 untuk mengidentifikasi kotakota dengan sektor kreatif yang dinamis. Penelitian ini menekankan pentingnya lingkungan yang kreatif, aset budaya, dan partisipasi masyarakat dalam menumbuhkan kreativitas. Di Indonesia. Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif telah secara aktif mempromosikan kota-kota kreatif, dengan UNESCO mengakui Ambon. Bandung. Jakarta, dan Pekalongan. Model Pentahelix yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, dan bisnis diidentifikasi sebagai hal yang sangat penting untuk inovasi yang berkelanjutan. Meskipun temuantemuannya positif, namun mengakui adanya keterbatasan seperti data secara langsung masih menjadi sebuah keterbatasan. Secara keseluruhan, penelitian ini menggarisbawahi mashlahah mursalah sebagai fondasi yang kuat untuk mewujudkan kota kreatif yang berfokus pada keadilan ekonomi, kesetaraan, dan keberlanjutan melalui upaya kolaboratif antar pemangku kepentingan. Kata Kunci: Kota Kreatif. Pembangunan Berkelanjutan. Peningkatan Ekonomi. Mashlahah Mursalah 1 Magister Pengembangan Sumberdaya Manusia. Sekolah Pascasarjana. Universitas Airlangga . 385759-2022@pasca. 2 Sekolah Pascasarjana & Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Airlangga . isnaini@fisip. 3 Sekolah Pascasarjana & Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Airlangga . siwi@feb. *) Correspondence AuUniversitas Pelita BangsaAy P a g e | 47 AuMenuju Pembangunan Berkelanjutan: Mewujudkan Kesetaraan. Pemberdayaan AAy Abstract This study explores the transformative potential of creating creative cities based on the concept of mashlahah mursalah, which aims to address economic challenges, inequality and achieve sustainability. The emergence of creative cities, originally coined by Charles Landry in 1995, is gaining momentum globally, with UNESCO establishing the Creative Cities Network in 2004 to identify cities with vibrant creative sectors. The research emphasises the importance of creative environments, cultural assets, and community participation in fostering creativity. In Indonesia, the Ministry of Tourism and Creative Economy has been actively promoting creative cities, with UNESCO recognising Ambon. Bandung. Jakarta, and Pekalongan. The Pentahelix model involving government, community, academia and business was identified as critical for sustainable innovation. While the findings are positive, it recognises limitations such as direct data still being a limitation. Overall, this research underscores mashlahah mursalah as a strong foundation for realising creative cities that focus on economic justice, equality, and sustainability through collaborative efforts among Keywords: Creative City. Sustainable Development. Economic Improvement. Mashlahah Mursalah -------------------------------------------------------------------------------------------------------------------- Pendahuluan Kota kreatif pertama kali muncul dalam istilah yang dikemukakan Charles Landry pada The Creative city: A Toolkit for Urban Innovators 1995. Hingga pada tahun 1997 united kingdom menerapkan implementasi kebijakan kreatif kota dan menu8njukkan perkembangan yang menakjubkan. Hingga pada tahun 2004. UNESCO mereperesentasikan sebuah program yang bernama UNESCO Creative City Network yang bertujuaan untuk mengidentifikasi kota-kota yang memiliki sektor kreatif dan membangun hubungan antar kota. Mewujudkan kota kreatif setiap kota harus mencapai lingkungan dan suasana yang kreatif (Landry 2. Ada beberapa hal yang dapat dilaksanakan untuk mewujudkan hal-hal tersebut: mengembangkan rintangan dan permasalahan menjadi sebuah kreatiditas, menciptakan individu yang kreatif, menggunakan instrumen seperti ruang terbuka maupun ruang non-fisik sebagai sarana inovatif, partisipasi masyarakat dan menejemen birokrasi (Nugraha 2. Dalam menciptakan peningkatan ekonomi dan kemashalahtan ummat, perwujudan kota kreatif dianggap sebagai sebuah solusi dari permasalahan ummat yang kini semakin merujuk kepada area perkotaan. Kebudayaan menjadi aset yang sangat penting dalam meningkatkan peran perwujudan kota kreatif sebagai sarana peningkatan taraf kehidupan dan peningkatan ekonomi umat. Peran budaya dan kreativitas dalam pembangunan perkotaan telah menjadi topik yang sangat banyak dikaji dalam literatur studi perkotaan pada beberapa dekade terakhir (Grossi. Sacco, and Blessi 2. Seperti such as Florida's creative class (Florida 2. Landry's creative city (Landry 2. and Scott's cognitive-cultural capitalist city (Scott 2. Perwujudan kota kreatif di Indonesia telah digiatkan melalui perwujudan menteri pariwisata dan ekonmi kreatif (Menparekra. Dikutip dari UNESCO creative City Network terdapat 5 kota di Indonesia yang tergolong kedalamnya: . Berdasarkan laporan resmi UNESCO, hampir 90% masyarakat Kota Ambon terlibat dalam aktivitas 48 | P a g e AuEKOMABIS: Jurnal Ekonomi Manajemen BisnisAy AuBayu Aulia. Santi Isnaini. Tri Siwi AgustinaAy bermusik, terutama melalui partisipasi dalam paduan suara. Hal ini menjadi dasar penetapan Ambon sebagai bagian dari UNESCO Creative Cities Network pada subsektor musik sejak tahun 2019. Kota Bandung telah diakui sebagai anggota UNESCO Creative Cities Network pada subsektor desain sejak tahun 2015. Berdasarkan data dari UNESCO, sekitar 56% industri kreatif di kota ini berbasis pada desain, termasuk mode, desain grafis, dan media digital, yang mengalami perkembangan signifikan. Jakarta masuk dalam UNESCO Creative Cities Network pada subsektor literatur pada tahun 2021. Sebelumnya, pada tahun 2019. Jakarta tercatat memiliki lebih dari 1. 240 penerbit baik komersial maupun non-komersial. Keberadaan jaringan pendukung industri buku, seperti Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) dan Komite Jakarta Kota Buku, turut memperkuat ekosistem literasi di kota ini. Kota Pekalongan secara resmi tergabung dalam UNESCO Creative Cities Network pada subsektor kerajinan dan seni rakyat sejak Penciptaan atmosfer kota kreatif di Indonesia tidak lepas dari unsur ekonomi kreatif. Indonesia memiliki industri kreatif yang berkembang setiap tahunnya. Menurut laporan Kementerian Pariwisata . Subsektor ekonomi kreatif telah memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, yakni sebesar Rp1. triliun, meningkat dibandingkan kontribusi sebelumnya sebesar Rp1. 105 triliun. Hal ini mencerminkan kemampuan ekonomi Indonesia dalam bersaing dan berinovasi di tingkat global. Mengingat persaingan bisnis yang semakin ketat di era globalisasi, kreativitas menjadi faktor kunci untuk mendukung keberlanjutan usaha. Pelaku bisnis dituntut untuk berpikir kreatif guna meningkatkan visibilitas dan daya tarik produk atau layanan mereka di mata konsumen. Penelitian tentang kota sebagai sebuah sistem yang kompleks juga telah berkembang melebih ekpektasi yang berbeda dan berbeda yang berpengaruh pada kebijakan serta praktik bagi para stakeholder (M Batty 2. Sistem perkotaan sendiri diekplorasi melalui berbagai sudut pandang yang berbeda, diantaranya: kognitif (Portugali 2. , spasial (Michael Batty et al. , infrastruktur , sosial (Morales et al. , ekonomi (Lee and Lin 2. Kompleksitas kota-kota modern diperparah oleh fakta bahwa interaksi manusia yang padat dan bersisi banyak yang membentuknya adalah sumber dari bentuk kreativitas dan perubahan sosial ekonomi yang tidak terbatas, tetapi selalu spesifik secara historis dan geografis (Hall 1. Mengingat komentar ini, kita dapat mengidentifikasi urbanisasi kontemporer sebagai fenomena dua sisi di mana masing- masing kota dibentuk sebagai sistem transaksi internal yang tertanam dalam sistem transaksi yang lebih luas yang mengikat semua kota bersama-sama ke dalam jaringan hubungan yang saling melengkapi dan kompetitif (Berry 1. Identifikasi ini, pada gilirannya, menimbulkan masalah logika aglomerasi . engapa dan bagaimana kelompok modal dan tenaga kerja muncul dalam ruang geografis di tempat tertent. dan pembagian ruang kerja secara keseluruhan dalam masyarakat . agaimana kota menjadi spesialis dalam kegiatan ekonomi tertentu di tempat kedu. Contoh: Surabaya sebagai kota dan ruang geogrgafis produktif daripada Sidoarjo. Tetapi Surabaya belum menjadi kota kreatif, meski sudah ada pembangunan alun-alun. Surabaya belum memenuhi syarat AuUniversitas Pelita BangsaAy P a g e | 49 AuMenuju Pembangunan Berkelanjutan: Mewujudkan Kesetaraan. Pemberdayaan AAy sebagai kota kreatif. Penyebabnya banyak, tidak ada kekhasan, tidak ada keunikan dalam budaya, seni, dan lain-lain. Penelitian ini untuk memberikan sebuah ide yang baru bagi perkembangan sebuah kota berdasarkan konsep mashalahah mursalah. Penelitian ini menganggap bahwasanya permasalahan yang terjadi atas ekonomi, kesenjangan dan keberlangsungan yang timpang tindih di perkotaan akan bisa di atasi oleh sebuah ide kreatif. Penelitian tentang kota kreatif (Voronkova & Nikitenko, 2. membahas konsep kota kreatif sebagai faktor dalam pengembangan masyarakat digital, dengan fokus pada inovasi, kreativitas, dan perencanaan budaya. Penelitian ini menggunakan pendekatan terbaru yang terletak pada pendekatan inovatif yang diusulkan dalam mengintegrasikan konsep kota kreatif dengan prinsip mashalahah mursalah, yang merupakan landasan dari hukum Islam dan berfokus pada kesejahteraan umum. Pendekatan ini menawarkan kerangka kerja yang holistik dan kontekstual, yang belum banyak dieksplorasi dalam literatur kota kreatif. Dengan mengedepankan mashalahah mursalah, penelitian ini menekankan pada keseimbangan antara kesejahteraan ekonomi, sosial, dan budaya, sehingga dapat memberikan solusi yang lebih komprehensif dan inklusif dalam pembangunan kota Penelitian ini juga menggarisbawahi pentingnya budaya lokal sebagai aset utama dalam pengembangan kota kreatif, suatu aspek yang sering terabaikan dalam pendekatan yang lebih generik. Dengan menggali dan mengintegrasikan elemen budaya lokal, penelitian ini berkontribusi pada pelestarian dan pengembangan identitas lokal sambil mendorong inovasi dan kreativitas. Pendekatan ini menawarkan pandangan baru yang lebih mendalam tentang bagaimana budaya lokal dapat dimanfaatkan sebagai pendorong utama dalam pembangunan kota kreatif. Selain itu, penelitian ini menggunakan metode Study case pada kota-kota di Indonesia seperti Ambon. Bandung. Jakarta, dan Pekalongan untuk memberikan wawasan spesifik tentang bagaimana konsep kota kreatif dapat diimplementasikan dalam konteks negara berkembang. Pendekatan ini berbeda dari banyak studi sebelumnya yang lebih banyak berfokus pada kota-kota di negara maju. Dengan demikian, penelitian ini memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang dinamika lokal dan tantangan spesifik yang dihadapi oleh kota-kota di Indonesia, sehingga dapat menawarkan solusi yang lebih relevan dan efektif. Penelitian ini juga memanfaatkan data spesifik dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, yang menunjukkan kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB nasional. Analisis ini memberikan dasar empiris yang kuat untuk argumen bahwa ekonomi kreatif memiliki peran signifikan dalam pembangunan kota kreatif di Indonesia. Data ini memberikan bukti konkret tentang dampak ekonomi dari sektor kreatif dan relevansinya dalam konteks perkotaan Indonesia. Pendekatan interdisipliner yang digunakan dalam penelitian ini menggabungkan berbagai disiplin ilmu seperti ekonomi, sosiologi, perencanaan kota, dan studi budaya untuk membangun kerangka kerja yang komprehensif dalam memahami dan mengembangkan kota kreatif. Pendekatan ini memungkinkan untuk melihat masalah dari berbagai perspektif dan menawarkan solusi yang lebih komprehensif. Integrasi berbagai disiplin ilmu ini menciptakan kerangka kerja yang mampu mengatasi 50 | P a g e AuEKOMABIS: Jurnal Ekonomi Manajemen BisnisAy AuBayu Aulia. Santi Isnaini. Tri Siwi AgustinaAy kompleksitas kota-kota modern dan memberikan panduan praktis bagi pembuat kebijakan dan praktisi di lapangan. Penelitian ini menekankan pentingnya teknologi dan inovasi dalam pengembangan infrastruktur kota kreatif. Dengan mengidentifikasi instrumen seperti ruang terbuka dan ruang non-fisik sebagai sarana inovatif, penelitian ini menggarisbawahi bagaimana teknologi dapat digunakan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kreativitas dan inovasi. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana teknologi dapat menjadi pendorong utama dalam menciptakan kota yang lebih kreatif dan berkelanjutan. Oleh karena hal tersebut, penelitian ini tidak hanya menambah literatur yang ada, tetapi juga memberikan panduan praktis yang dapat digunakan oleh pembuat kebijakan dan praktisi di lapangan dalam mengembangkan kota kreatif yang inklusif dan berkelanjutan di Indonesia. keterbaharuan dari penelitian ini terletak pada integrasi mashalahah mursalah, penekanan pada budaya lokal, penggunaan data empiris, pendekatan interdisipliner, dan pentingnya teknologi dan inovasi dalam pembangunan kota kreatif. Metodologi Penelitian ini dikaji dengan menggunakan metode deskriptif kualitatif Ae fenomenologi, yang berfokus pada pemahaman mendalam tentang fenomena kota kreatif melalui perspektif orang-orang yang terlibat di dalamnya. Metode ini dipilih karena memungkinkan peneliti untuk menggali makna yang lebih dalam dari pengalaman dan persepsi individu terkait pengembangan kota kreatif. Berikut ini adalah penjelasan rinci tentang proses penelitian, yang mencakup pengembangan konsep, pengumpulan data, dan metode analisis. Fenomenologi adalah metodologi penelitian yang berfokus pada pemahaman bagaimana kejadian tersebut terjadi. Ini mengeksplorasi dunia kehidupan untuk memahami apa yang penting bagi mereka dan bagaimana mereka menafsirkan Langkah kedepannya (Dodgson, 2. Pengembangan konsep dalam penelitian ini dimulai dengan telaah literatur yang luas tentang kota kreatif dan mashalahah mursalah, serta kajian terhadap berbagai teori dan model yang telah dikembangkan oleh para ahli seperti Charles Landry. Richard Florida, dan Allen Scott. Peneliti memfokuskan pada identifikasi elemen kunci dari kota kreatif, termasuk ekonomi kreatif, budaya lokal, teknologi, dan inovasi. Konsep mashalahah mursalah, yang menekankan kesejahteraan umum, ditambahkan sebagai landasan teoretis yang mengarahkan penelitian ini menuju pemahaman yang lebih holistik dan Telaah ini tidak hanya mencakup buku dan artikel ilmiah, tetapi juga laporan kebijakan dan studi kasus dari berbagai kota yang telah berhasil mengimplementasikan konsep kota kreatif. Informasi ini digunakan untuk mengembangkan kerangka kerja yang dapat diaplikasikan dalam konteks kota-kota di Indonesia, dengan memperhatikan dinamika lokal dan tantangan spesifik yang mereka hadapi. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan melalui dua pendekatan utama: telaah karya tulis ilmiah dan observasi data sekunder. Telaah karya tulis ilmiah AuUniversitas Pelita BangsaAy P a g e | 51 AuMenuju Pembangunan Berkelanjutan: Mewujudkan Kesetaraan. Pemberdayaan AAy melibatkan analisis kritis terhadap artikel, buku, laporan, dan dokumen resmi yang berkaitan dengan pengembangan kota kreatif. Peneliti mencari literatur yang mencakup berbagai contoh kota sukses di seluruh dunia, dengan tujuan untuk mengidentifikasi praktik terbaik dan strategi yang efektif. Fokus utama adalah pada kota-kota yang memiliki kesamaan dengan kota-kota di Indonesia dalam hal budaya, ekonomi, dan struktur sosial. Selain itu, observasi data sekunder dilakukan dengan mengumpulkan informasi dari berbagai sumber, seperti laporan statistik, publikasi pemerintah, dan data dari organisasi internasional seperti UNESCO. Data ini mencakup aspek-aspek seperti kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB, partisipasi masyarakat dalam kegiatan kreatif, dan kebijakan pemerintah yang mendukung pengembangan kota kreatif. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis fenomenologi dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Proses analisis dimulai dengan pemaknaan naratif dari karya tulis ilmiah yang telah ditelaah. Setiap karya tulis dianalisis secara mendalam untuk mengidentifikasi tema-tema utama yang berkaitan dengan pengembangan kota kreatif, seperti inovasi, partisipasi masyarakat, dan peran budaya Kerangka pemikiran dalam penelitian ini dapat dijelaskan melalui penggunaan bagan dan tabel. Penjelasan mencakup identifikasi kota-kota yang telah mengembangkan konsep kota kreatif, dengan membandingkannya terhadap kota atau negara lain yang dijadikan sebagai acuan . Dari hasil analisis tersebut, dapat dirumuskan strategi yang sistematis untuk pengembangan dan keberlanjutan kota kreatif di masa Tabel 1. Kerangka berfikirMetodologi Hasil Kota Kreatif based on Mashlahah Mursalah Mashlahah mursalah merupakan prinsip fiqih yang berarti prinsip kemaslahatan . yang dipergunakan menetapkan suatu hukum , atau mashlahah mursalah juga dapat berarti suatu perbuatan yang mengandung nilai baik . (Uman Imam Al-Ghazali, yang berasal dari mazhab SyafiAoi, menyatakan bahwa para sahabat Nabi merupakan teladan bagi umat dalam penerapan qiyas. Hal ini terlihat dengan jelas bahwa dalam menetapkan suatu hukum, mereka sering kali berlandaskan 52 | P a g e AuEKOMABIS: Jurnal Ekonomi Manajemen BisnisAy AuBayu Aulia. Santi Isnaini. Tri Siwi AgustinaAy pada pertimbangan kemaslahatan. Pernyataan Al-Ghazali ini juga didukung oleh Imam al-Haramain, sebagaimana dijelaskan dalam pembahasan mengenai al-istidlal yang tertuang dalam kitab al-Burhan (Ajuna 2. Dalam menciptakan kota kreatif perspektif mashlahah mursalah adalah sebuah indikasi untuk menciptakan ekosistem ekonomi dan kesetaraan dalam keadilan. Sebagai contoh adalah kota Venesia di Italia yang memanfaatkan kreatifitas sebagai penopang utama, (Richards 2. menawarkan konsep pembuatan tempat kreatif, yang menggabungkan kreativitas, makna, dan sumber daya baik itu seumberdaya alam atauapun sumberdaya manusia yang ada untuk menciptakan tempat yang lebih kreatif. Sumber daya lokal, aset, kemampuan penduduk, keahlian, dan preferensi individu menyebabkan suatu lokasi unik (Grenni. Soini, and Horlings 2. Mashalah mursalah dengan perwujudan kota kreatif adalah sebuah ekosistem memberdayakan masyarakat berdasarkan potensi lokal untuk menciptakan sebuah kemashlahatan bersama untuk menjujunjung kesetaraan agar bisa berkembang dan Di kota kreatif, para ahli merekomendasikan agar perencanaan kota melampaui penggunaan alat pembangunan ekonomi tradisional seperti subsidi komersial atau insentif pajak. Pendekatan kreatif dapat menggantikan penyediaan ruang komersial atau perumahan dengan kemitraan untuk pembangunan kembali properti milik publik yang terbengkalai melalui program pembangunan sendiri . isalnya NDSM Wharf. Amsterda. Sebuah inisiatif kreatif dapat memberikan bantuan bisnis, teknis dan hukum untuk industri kreatif . isalnya Creative Londo. Penelitian ini mengungkapkan beberapa temuan kunci terkait implementasi konsep mashlahah mursalah dalam pengembangan kota kreatif di Indonesia. Berdasarkan analisis terhadap literatur dan data sekunder, berikut adalah hasil yang ditemukan: . Pemanfaatan Potensi Lokal dan Kreativitas: Kota-kota yang berhasil mengembangkan diri sebagai kota kreatif, seperti Ambon. Bandung. Jakarta, dan Pekalongan, menunjukkan bagaimana pemanfaatan potensi lokal dan kreativitas dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Ambon, misalnya, telah memanfaatkan kekayaan budaya musiknya, sementara Bandung berkembang pesat melalui industri desain. Peran Kebijakan Pemerintah: Kebijakan pemerintah memainkan peran penting dalam mendukung pengembangan kota kreatif. Dukungan melalui inisiatif seperti UNESCO Creative Cities Network menunjukkan bahwa pengakuan internasional dapat mendorong kota-kota untuk lebih mengoptimalkan potensi kreatif mereka. Kontribusi Ekonomi Kreatif terhadap PDB: Berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, sektor ekonomi kreatif memberikan kontribusi yang signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional, dengan peningkatan dari Rp1. 105 triliun menjadi Rp1. 211 triliun dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini mengindikasikan bahwa ekonomi kreatif tidak hanya memiliki nilai budaya yang tinggi, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang substansial dalam mendukung pertumbuhan nasional. Partisipasi Masyarakat: Partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan kreatif menjadi salah satu faktor kunci keberhasilan kota Kota-kota yang sukses menunjukkan tingkat partisipasi yang tinggi dari masyarakat dalam berbagai kegiatan kreatif, seperti festival, pameran, dan lokakarya. AuUniversitas Pelita BangsaAy P a g e | 53 AuMenuju Pembangunan Berkelanjutan: Mewujudkan Kesetaraan. Pemberdayaan AAy Kota Kreatif sebagai sarana peningkatan kesetaraan (Ekonom. Kota kreatif memiliki potensi untuk meningkatkan kesetaraan ekonomi melalui pengembangan ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif dapat menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Transformasi struktur ekonomi dalam rangka peningkatan nilai tambah dan daya saing ekonomi secara berkelanjutan harus segera dilakukan mengingat tingkat kompetisi yang memerlukan kompetensi di bidang penguasaan sumber daya dalam pasar global semakin tinggi. Lembaga untuk Konferensi Perdagangan dan Pengembangan PBB (Isar. UNCTAD, and UNDP 2. dalam Creative Economy Report 2013 Special Edition: Widening Local Development Pathways menyebutkan bahwa kekuatan terbesar dalam pertumbuhan ekonomi dunia ke depan di antaranya akan didorong oleh industri yang berorientasi pada kreativitas, inovasi, seni, dan budaya. Hal ini disebabkan karakter dan jenis industri tersebut terbukti tidak terlalu terdampak oleh krisis ekonomi yang terjadi pada Seiring dengan perkembangan tersebut. Indonesia memiliki potensi besar untuk mentransformasi struktur ekonominya melalui pengembangan sektor ekonomi Terdapat sejumlah tantangan yang menghambat optimalisasi pengembangan sektor ekonomi kreatif. Beberapa di antaranya meliputi: . belum tersedianya kebijakan dan regulasi yang akomodatif, termasuk keterbatasan insentif. infrastruktur dan ruang kreatif yang masih belum memadai. dukungan dan inisiatif dari pemerintah daerah yang masih terbatas. Selain itu, masalah pada aspek sumber daya manusia, yang menjadi faktor utama dalam proses kreasi dan inovasi produk ekonomi kreatif, juga memerlukan perhatian khusus. Salah satu langkah strategis untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah pembentukan ruang yang dapat berfungsi sebagai pusat interaksi bagi berbagai pemangku kepentingan ekonomi kreatif, seperti pemerintah, dunia usaha/industri, akademisi, dan komunitas kreatif, sebagaimana diuraikan dalam Prosiding Pengembangan Kota Kreatif Berbasis Potensi Lokal untuk Mendorong Pertumbuhan Ekonomi. Penelitian ini mengungkap beberapa data dan informasi kunci terkait peran kota kreatif dalam peningkatan kesetaraan ekonomi melalui pengembangan ekonomi kreatif: . Lapangan Kerja dan Peluang Usaha: Ekonomi kreatif terbukti mampu menciptakan lapangan kerja baru dan peluang usaha yang inklusif. Berdasarkan data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Indonesia, kontribusi sektor ekonomi kreatif terhadap PDB nasional mencapai Rp1. 211 triliun pada tahun 2020, meningkat dari Rp1. 105 triliun pada tahun sebelumnya. Sektor ini juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, memberikan kesempatan bagi masyarakat dari berbagai latar belakang untuk terlibat dalam kegiatan ekonomi yang produktif. Daya Tahan terhadap Krisis Ekonomi: Industri kreatif menunjukkan daya tahan yang tinggi terhadap krisis ekonomi global, seperti yang terlihat pada krisis ekonomi tahun 2008. Menurut Creative Economy Report 2013 oleh UNCTAD dan UNDP, industri yang berorientasi pada kreativitas, inovasi, seni, dan budaya tidak terlalu terdampak oleh krisis tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Hambatan 54 | P a g e AuEKOMABIS: Jurnal Ekonomi Manajemen BisnisAy AuBayu Aulia. Santi Isnaini. Tri Siwi AgustinaAy Pengembangan Ekonomi Kreatif: Meskipun memiliki potensi besar, pengembangan sektor ekonomi kreatif di Indonesia masih menghadapi beberapa hambatan. Hambatan ini termasuk kurangnya fasilitasi kebijakan dan peraturan yang akomodatif, keterbatasan insentif, kurangnya infrastruktur dan ruang kreatif, serta dukungan dan inisiatif daerah yang masih terbatas. Selain itu, masalah sumber daya manusia yang kurang memadai juga menjadi kendala utama dalam penciptaan dan pengembangan produk ekonomi kreatif. Inisiatif untuk Mengatasi Hambatan: Pembentukan ruang yang berfungsi sebagai pusat aktivitas lintas pelaku ekonomi kreatifAimelibatkan pemerintah, dunia usaha/industri, akademisi, dan komunitas/forum kreatifAi merupakan langkah strategis yang diusulkan untuk mengatasi berbagai hambatan dalam pengembangan sektor ini. Ruang-ruang tersebut diharapkan menjadi wadah kolaborasi dan inovasi, sekaligus mendukung penguatan dan keberlanjutan ekosistem ekonomi kreatif secara menyeluruh. Model Pentahelix: Kunci Inovasi Berkelanjutan. AuKami percaya kunci utama pengembangan Kota Kreatif adalah keterlibatan lintas pelaku, yaitu pemerintah, komunitas, akademisi dan pelaku usaha . uadruple-heli. dalam berbagi tugas dan peran, sehingga menghasilkan upaya yang kolaboratif dan sinergis dalam penumbuhkembangan dan pemanfaatan kreativitas dan inovasiAy, kata Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif. Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan UKM Rudy Salahudin dalam Dialog Kebijakan AuThe Road Towards a Sustainable Creative City of IndonesiaAydi Malang. Ada banyak kota-kota besar di Indonesia yang belum memiliki perekonomian kota yang sangat cair. Hal ini berarti bahwa belum cukup perusahaan dan pekerja yang membentuk kolaborasi terus-menerus satu sama lain dengan cara yang membantu melepaskan energi inovatif yang beragam. Sejumlah penelitian telah menunjukkan bahwa proses kontak dan pertukaran multifaset seperti itu merupakan faktor penting dalam menghasilkan ide-ide baru, kepekaan, dan wawasan dalam aglomerasi industri (Edquist 1997. Lundvall and Johnson 1. Karena pertukaran informasi formal dan informal yang diperpanjang terjadi di setiap klaster . isalnya, dalam situasi di mana pesanan subkontrak sedang dinegosiasikan atau dalam tim kerja yang berorientasi proye. , pembelajaran dan kepekaan yang cukup besar kemungkinan akan terus berlanjut Ai sebagian besar waktu tanpa sadar Ai tentang berbagai aspek desain produk, teknologi produksi, lingkungan bisnis umum, dan Informasi ini, pada gilirannya, kemudian dapat dimasukkan ke dalam inovasi kecil dan perbaikan marjinal dalam praktik produktif lokal. Penelitian ini mengungkap beberapa data dan informasi penting mengenai penerapan model Pentahelix dalam pengembangan kota kreatif dan inovasi berkelanjutan di Indonesia: . Keterlibatan Lintas Pelaku (Pentaheli. : Model Pentahelix yang melibatkan lima komponen utama - pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan media telah diidentifikasi sebagai kunci utama dalam pengembangan kota kreatif yang Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif. Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan UKM. Rudy Salahudin, menekankan pentingnya kolaborasi lintas pelaku ini dalam dialog kebijakan di Malang, menyoroti bahwa keterlibatan berbagai AuUniversitas Pelita BangsaAy P a g e | 55 AuMenuju Pembangunan Berkelanjutan: Mewujudkan Kesetaraan. Pemberdayaan AAy menumbuhkembangkan dan memanfaatkan kreativitas dan inovasi. Kondisi Perekonomian Kota yang Belum Cair: Banyak kota besar di Indonesia masih belum memiliki perekonomian yang cair, yang ditandai dengan kurangnya kolaborasi terusmenerus antara perusahaan dan pekerja. Hal ini menghambat pelepasan energi inovatif yang beragam dan diperlukan untuk menciptakan ide-ide baru dan inovasi. Pentingnya Pertukaran Informasi dan Kontak Multifaset: Penelitian menunjukkan bahwa proses kontak dan pertukaran informasi multifaset merupakan faktor penting dalam menghasilkan ide-ide baru dan inovasi di dalam aglomerasi industri. Pertukaran formal dan informal yang terjadi di dalam klaster industri membantu meningkatkan pembelajaran dan kepekaan tentang berbagai aspek desain produk, teknologi produksi, dan lingkungan bisnis. Pembahasan Kota Kreatif based on Mashlahah Mursalah Prinsip Mashlahah Mursalah menekankan pada tindakan yang bermanfaat bagi Dalam konteks kota kreatif, hal ini berarti memastikan bahwa inisiatif kreatif berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan, termasuk aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan . reimikien & Kaserauskas, 2. Integrasi konsep mashlahah mursalah dalam pengembangan kota kreatif memiliki potensi besar untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Pemanfaatan potensi lokal dan kreativitas menjadi kunci utama dalam mencapai tujuan Kota-kota seperti Ambon dan Bandung memberikan contoh konkret bagaimana kekayaan budaya dan kreativitas lokal dapat dioptimalkan untuk menciptakan peluang ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Kota-kota kreatif harus bertujuan untuk pembangunan berkelanjutan dengan menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan dan kesetaraan sosial. Hal ini sejalan dengan tujuan Mashlahah Mursalah, yang berupaya melindungi dan meningkatkan kualitas hidup semua penduduk (Sirisoda, 2. Perbandingan dengan kota-kota kreatif di negara lain, seperti Venesia di Italia dan Amsterdam di Belanda, menunjukkan bahwa pendekatan kreatif dalam perencanaan kota dapat menghasilkan hasil yang signifikan. Di Venesia, pemanfaatan kreativitas sebagai penopang utama ekonomi telah menciptakan lingkungan yang kaya akan makna dan sumber daya lokal. Amsterdam, melalui inisiatif seperti NDSM Wharf, menunjukkan bagaimana kemitraan publik-swasta dan program pembangunan sendiri dapat menghidupkan kembali properti yang terbengkalai dan memberikan dukungan bagi industri kreatif. Konsekuensinya, penelitian ini menunjukkan bahwa pendekatan mashlahah mursalah dalam pengembangan kota kreatif dapat membawa berbagai manfaat, termasuk peningkatan kesejahteraan ekonomi, pelestarian budaya lokal, dan peningkatan partisipasi masyarakat. Namun, untuk mencapai hasil yang optimal, diperlukan 56 | P a g e AuEKOMABIS: Jurnal Ekonomi Manajemen BisnisAy AuBayu Aulia. Santi Isnaini. Tri Siwi AgustinaAy dukungan kebijakan yang kuat dari pemerintah, kemitraan yang efektif antara sektor publik dan swasta, serta partisipasi aktif dari masyarakat. Di Indonesia, tantangan yang dihadapi mencakup perlunya peningkatan kesadaran akan pentingnya sektor kreatif, pengembangan infrastruktur yang mendukung kegiatan kreatif, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Kebijakan yang lebih proaktif dari pemerintah, seperti insentif pajak bagi industri kreatif dan dukungan untuk program-program pelatihan, dapat membantu mengatasi tantangan ini dan mempercepat pengembangan kota kreatif. Proyek Bangkit Berbarengan di Surakarta adalah contoh penggunaan desain sosial untuk meningkatkan kondisi kehidupan di daerah perkotaan. Proyek ini melibatkan warga setempat dalam menciptakan fasilitas umum dan mengadvokasi pencegahan COVID-19, yang menunjukkan bagaimana keterlibatan masyarakat dan solusi kreatif dapat meningkatkan kesejahteraan Masyarakat (Kusumaningdyah & Purwandaru. Kota Kreatif sebagai sarana peningkatan kesetaraan (Ekonom. Kota-kota kreatif memanfaatkan modal budaya untuk mendorong pembangunan ekonomi dan pembaruan sosial. Hal ini tidak hanya melibatkan peningkatan ekonomi budaya, tetapi juga menciptakan ekonomi baru yang berasal dari modal budaya, yang merupakan ekspresi dari identitas suatu tempat (Martone et al. , 2. Klaster kreatif, seperti klaster seni rupa, musik, sinema, arsitektur, dan desain, sering kali diprakarsai oleh pemerintah daerah untuk mendorong regenerasi dan inovasi perkotaan yang berkelanjutan. Klaster-klaster ini dapat mengarah pada pembangunan kembali yang komprehensif dan daya saing ekonomi (Martone & Sepe, 2. Kota kreatif memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesetaraan ekonomi melalui pengembangan ekonomi kreatif. Ekonomi kreatif tidak hanya mampu menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha bagi masyarakat dari berbagai latar belakang, tetapi juga memiliki daya tahan yang tinggi terhadap krisis ekonomi global. Ini menjadikannya sebagai sektor yang strategis dalam upaya transformasi struktur ekonomi dan peningkatan daya saing ekonomi secara berkelanjutan. Temuan dari Creative Economy Report 2013 oleh UNCTAD dan UNDP, memperlihatkan bahwa industri kreatif di seluruh dunia menunjukkan ketahanan yang luar biasa terhadap krisis ekonomi. Ini memberikan pelajaran berharga bagi Indonesia bahwa fokus pada pengembangan ekonomi kreatif dapat menjadi salah satu strategi utama dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Industri kreatif yang berorientasi pada kreativitas, inovasi, seni, dan budaya mampu mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Beberapa hambatan signifikan yang menghalangi optimalisasi pengembangan sektor ekonomi kreatif di Indonesia. Kebijakan dan peraturan yang tidak akomodatif, keterbatasan insentif, dan kurangnya infrastruktur serta ruang kreatif menjadi tantangan utama yang perlu diatasi. Dukungan dan inisiatif dari pemerintah daerah juga masih terbatas, yang menghambat pertumbuhan sektor ini di berbagai wilayah. AuUniversitas Pelita BangsaAy P a g e | 57 AuMenuju Pembangunan Berkelanjutan: Mewujudkan Kesetaraan. Pemberdayaan AAy Selain itu, masalah sumber daya manusia, seperti kurangnya pelatihan dan pendidikan yang memadai, juga menjadi kendala dalam penciptaan dan pengembangan produk ekonomi kreatif. Pembaharuan kota yang kreatif terkadang dapat memperburuk kesenjangan yang ada dan meminggirkan penduduk kelas pekerja. Manfaat dari pembaharuan tersebut tidak selalu menjangkau masyarakat miskin, sehingga menyoroti perlunya kebijakan yang dapat mengatasi kesenjangan ini (Gerhard et al. , 2. Di negara-negara Selatan, kota-kota di dunia mengadopsi kebijakan industri kreatif untuk meningkatkan daya saing mereka. Namun, kebijakan-kebijakan ini harus dirancang dengan hati-hati untuk menghindari kesenjangan sosial yang semakin dalam dan untuk memastikan bahwa manfaat ekonomi bersifat inklusif (Booyens, 2. Konsekuensi dari hambatan-hambatan ini adalah bahwa potensi penuh dari sektor ekonomi kreatif belum dapat diwujudkan secara maksimal. Untuk mengatasi hambatan-hambatan tersebut, diperlukan langkah-langkah strategis yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pembentukan ruang kolaboratif yang menjadi pusat aktivitas lintas pelaku ekonomi kreatif, termasuk pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas kreatif, adalah salah satu solusi yang dapat diimplementasikan. Ruangruang ini dapat mendukung kolaborasi, inovasi, dan pengembangan kapasitas, sehingga memperkuat ekosistem ekonomi kreatif. Meskipun ada berbagai tantangan, potensi kota kreatif untuk meningkatkan kesetaraan ekonomi melalui pengembangan ekonomi kreatif sangat besar. Dukungan kebijakan yang lebih kuat, peningkatan infrastruktur, dan pengembangan sumber daya manusia yang lebih baik adalah kunci untuk mengoptimalkan potensi ini. Dengan langkah-langkah strategis yang tepat, kotakota di Indonesia dapat menjadi contoh sukses dalam memanfaatkan ekonomi kreatif untuk menciptakan kesejahteraan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Model Pentahelix: Kunci Inovasi Berkelanjutan. Penerapan model Pentahelix dalam pengembangan kota kreatif yang berkelanjutan merupakan hal yang urgen. Model ini menitikberatkan pada keterlibatan berbagai pemangku kepentingan, yaitu pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dan media, untuk berbagi peran serta tugas dalam menciptakan kolaborasi yang sinergis. Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif. Rudy Salahudin, juga menegaskan bahwa kolaborasi lintas sektor ini memiliki peran krusial dalam mendukung pengembangan serta pemanfaatan kreativitas dan inovasi secara optimal. Dibandingkan dengan model lain yang mungkin hanya melibatkan satu atau dua pelaku utama, model Pentahelix menawarkan pendekatan yang lebih holistik dan inklusif. Keterlibatan berbagai pihak memastikan bahwa setiap aspek pengembangan kota kreatif diperhatikan, mulai dari kebijakan dan regulasi hingga pendidikan dan pelatihan, serta penyebaran informasi melalui media. Hal ini menciptakan lingkungan yang kondusif untuk inovasi Tantangan utama yang dihadapi adalah banyak kota besar di Indonesia masih belum memiliki perekonomian yang cukup cair. Kurangnya kolaborasi terus-menerus antara 58 | P a g e AuEKOMABIS: Jurnal Ekonomi Manajemen BisnisAy AuBayu Aulia. Santi Isnaini. Tri Siwi AgustinaAy perusahaan dan pekerja menghambat pelepasan energi inovatif yang diperlukan untuk menciptakan ide-ide baru dan inovasi. Penelitian oleh Edquist . dan Lundvall & Johnson . menunjukkan bahwa proses kontak dan pertukaran informasi multifaset sangat penting dalam menghasilkan ide-ide baru dan inovasi. Di dalam klaster industri, pertukaran formal dan informal ini meningkatkan pembelajaran dan kepekaan tentang desain produk, teknologi produksi, dan lingkungan bisnis, yang pada gilirannya dapat diintegrasikan ke dalam inovasi kecil dan perbaikan marjinal dalam praktik produktif Terdapat kebutuhan akan konstruk pengukuran yang tervalidasi untuk menilai efektivitas model Pentahelix dalam mendorong inovasi (Sudiana et al. , 2. Keterlibatan dan kolaborasi yang efektif di antara berbagai pemangku kepentingan dapat menjadi tantangan, tetapi sangat penting untuk keberhasilan model ini (Wicaksono et al. , 2023. Konsekuensinya, untuk mengoptimalkan penerapan model Pentahelix, diperlukan upaya untuk meningkatkan kondisi perekonomian kota agar lebih cair. Ini termasuk menciptakan lingkungan yang mendukung kolaborasi terus-menerus antara perusahaan dan pekerja, serta memfasilitasi pertukaran informasi dan kontak Dengan demikian, energi inovatif yang beragam dapat dilepaskan, menciptakan ide-ide baru dan inovasi yang berkelanjutan. Selain itu, diperlukan kebijakan yang mendukung dan infrastruktur yang memadai untuk mendukung pengembangan kota kreatif. Dukungan pemerintah dalam bentuk regulasi yang akomodatif, insentif bagi pelaku usaha kreatif, dan penyediaan ruang kreatif yang memadai adalah beberapa langkah penting yang dapat diambil. Pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia juga sangat penting untuk memastikan bahwa masyarakat memiliki keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan untuk berpartisipasi dalam ekonomi kreatif. Di Pulau Samalona, model Pentahelix telah digunakan untuk mengembangkan pariwisata berbasis inovasi digital, yang melibatkan semua pemangku kepentingan untuk meningkatkan daya tarik dan keberlanjutan pulau tersebut (. et al. , 2. Kabupaten Ngawi, model Pentahelix telah diterapkan untuk mendorong pengembangan eko-industri, dengan fokus pada faktor-faktor seperti bahan baku, modal, dan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan (Wicaksono et al. , 2023. Model Pentahelix adalah kunci dalam pengembangan kota kreatif yang berkelanjutan. Dengan mengatasi tantangan yang ada dan mengoptimalkan kolaborasi lintas pelaku, kota-kota di Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang menjadi kota kreatif yang inovatif dan berkelanjutan, meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial Kesimpulan Kota kreatif dianggap sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan ekonomi, kesenjangan, dan mencapai keberlanjutan, dengan memanfaatkan kreativitas sebagai AuUniversitas Pelita BangsaAy P a g e | 59 AuMenuju Pembangunan Berkelanjutan: Mewujudkan Kesetaraan. Pemberdayaan AAy pendorong utama. Pengembangan kota kreatif dengan perspektif mashlahah mursalah memberikan kontribusi positif terhadap ekosistem ekonomi dan kesetaraan. Kasus Venesia di Italia menjadi contoh sukses yang memanfaatkan kreativitas sebagai penopang utama, menciptakan ekosistem yang memanfaatkan potensi lokal untuk mencapai kemashlahatan bersama. Ini menunjukkan bahwa penerapan prinsip mashlahah mursalah dapat menciptakan kota kreatif yang memberdayakan masyarakat dan mengedepankan kesetaraan. Perwujudan kota kreatif memiliki dampak positif terhadap peningkatan kesetaraan ekonomi. Ekonomi kreatif yang diintegrasikan ke dalam struktur kota kreatif dapat menciptakan lapangan kerja dan peluang usaha yang merata di antara masyarakat dari berbagai latar belakang. Namun, masih terdapat beberapa hambatan seperti kurangnya fasilitasi kebijakan dan peraturan yang akomodatif, serta infrastruktur dan dukungan daerah yang belum memadai. Model Pentahelix, yang melibatkan pemerintah, komunitas, akademisi, pelaku usaha, dianggap sebagai kunci inovasi berkelanjutan dalam pembangunan kota kreatif. Keterlibatan lintas pelaku ini menghasilkan upaya kolaboratif dan sinergis, menciptakan lingkungan yang mendukung penumbuhkembangan kreativitas dan Model ini dapat diadopsi oleh kota-kota lain yang ingin mengembangkan sektor ekonomi kreatif mereka. Penelitian ini memiliki keterbatasan. Beberapa hambatan, seperti kurangnya data untuk dianalisis dan juga tidak adanya survey langsung terhadap konsensi masyarakat. Selain itu, adaptasi model Pentahelix di berbagai konteks kota perlu dipertimbangkan dengan Penelitian ini menunjukkan bahwa konsep mashlahah mursalah dapat menjadi landasan yang kuat untuk mewujudkan kota kreatif yang berfokus pada keadilan ekonomi, kesetaraan, dan keberlanjutan. Melalui upaya kolaboratif dan sinergis lintas pelaku, kota kreatif dapat menjadi motor penggerak perkembangan masyarakat dan ekonomi yang inklusif. Daftar Pustaka