Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 EFEKTIVITAS TERAPI BEKAM TERHADAP DISMENORE PADA MAHASISWI PROGRAM STUDI S1 KEBIDANAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN PELITA IBU Yuliana1. Wa Ode Sri Kamba Wuna2. Ano Luthfa3* STIKes Pelita Ibu * anyoluthfa@yahoo. Received: 11-03-2024 Revised: 08-05-2024 Approved: 25-05-2024 ABSTRACT Dysmenorrhea is a common gynecological issue among women of reproductive age, characterized by menstrual pain that may disrupt daily activities. One proven nonpharmacological treatment is cupping therapy. This study aimed to determine the effectiveness of cupping therapy on dysmenorrhea in undergraduate midwifery students at STIKes Pelita Ibu Kendari. A pre-experimental design with a one-group pretest and posttest approach was applied. A total of 20 respondents were selected using purposive sampling from 40 students who experienced dysmenorrhea. The intervention involved cupping therapy on the Kahil. Al-Warik, and Zhahrul Qadam Data collection tools included a questionnaire and the Numeric Rating Scale (NRS). Data were analyzed using the Paired t-test. The results showed a p-value of 000 (<0. , indicating a significant difference in pain intensity before and after the cupping therapy. It is concluded that cupping therapy is effective in reducing dysmenorrhea pain. Keywords: dysmenorrhea, menstrual pain, cupping therapy PENDAHULUAN Dismenore merupakan salah satu gangguan ginekologis yang paling sering dialami oleh wanita usia reproduksi. Kondisi ini ditandai dengan nyeri pada bagian bawah perut yang muncul menjelang atau selama menstruasi dan dapat mengganggu aktivitas sehari-hari (Sari, 2. Berdasarkan data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sekitar 50Ae90% wanita di seluruh dunia mengalami dismenore, dengan prevalensi tertinggi ditemukan pada remaja dan wanita usia muda. Dismenore dibagi menjadi dua jenis, yaitu dismenore primer yang tidak terkait dengan kelainan organik dan dismenore sekunder yang disebabkan oleh kondisi patologis seperti endometriosis, adenomiosis, atau infeksi pelvis. Dismenore primer umumnya dialami oleh wanita muda sejak awal menarche dan biasanya membaik seiring bertambahnya usia atau setelah melahirkan. Namun, intensitas nyeri yang dirasakan dapat sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk belajar, bekerja, hingga kualitas hidup secara keseluruhan. Studi menunjukkan bahwa sekitar 10Ae15% wanita dengan dismenore mengalami gangguan berat yang membutuhkan pengobatan khusus atau bahkan istirahat total selama masa menstruasi (Pratiwi, 2. Dalam dunia kebidanan, penting untuk memberikan penanganan efektif terhadap dismenore, terutama pada kelompok remaja dan mahasiswa, karena nyeri haid yang tidak tertangani dapat mempengaruhi prestasi akademik dan kondisi psikologis. Umumnya, penanganan dismenore dilakukan secara farmakologis dengan pemberian analgesik, seperti ibuprofen atau asam mefenamat. Namun, penggunaan obat secara terus-menerus dapat menimbulkan efek samping jangka panjang dan ketergantungan (Sulistyawati, 2. Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Sebagai alternatif, terapi nonfarmakologis seperti terapi bekam telah banyak dikaji dan digunakan. Bekam merupakan metode pengobatan tradisional yang telah digunakan selama ribuan tahun di berbagai budaya. Dalam praktiknya, terapi bekam bekerja dengan cara mengeluarkan darah statis atau racun dari tubuh melalui penghisapan menggunakan cawan vakum yang ditempatkan pada titik-titik tertentu di Dalam konteks dismenore, terapi bekam dipercaya dapat memperlancar sirkulasi darah, menurunkan kadar prostaglandin penyebab nyeri, dan mengendurkan otot-otot uterus (Wawan & Dewi, 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa bekam mampu mengurangi intensitas nyeri menstruasi secara signifikan. Salah satu titik bekam yang sering digunakan dalam kasus dismenore adalah titik Kahil . unggung ata. , titik Al-Warik . ulang pinggu. , dan titik Zhahrul Qadam . Titik-titik tersebut dipercaya berkaitan langsung dengan organ reproduksi dan sistem saraf pusat yang mempengaruhi persepsi nyeri (Andriyani. Mahasiswi kebidanan merupakan populasi yang rentan terhadap dismenore akibat aktivitas akademik yang padat dan stres yang tinggi. Oleh karena itu, intervensi yang efektif dan mudah diakses seperti terapi bekam dapat menjadi solusi yang layak untuk diterapkan dalam lingkungan akademik kesehatan. Terlebih, sebagai calon tenaga kesehatan, mahasiswi kebidanan perlu mengenal dan memahami terapi alternatif berbasis evidence-based sebagai bagian dari pendekatan holistik dalam pelayanan kebidanan (Arifianto, 2. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah terapi bekam efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dismenore pada mahasiswi kebidanan? Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi bekam terhadap nyeri dismenore sebagai upaya pemberdayaan metode nonfarmakologis yang aman, murah, dan mudah dilakukan, serta memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan layanan kebidanan komplementer (Amini, 2. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan rancangan praeksperimental menggunakan pendekatan one group pretest and posttest design. Desain ini bertujuan untuk mengevaluasi perbedaan intensitas nyeri dismenore sebelum dan sesudah dilakukan intervensi berupa terapi bekam. Penelitian dilaksanakan pada bulan Juni 2023 di lingkungan STIKes Pelita Ibu Kendari. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswi Program Studi S1 Kebidanan STIKes Pelita Ibu Kendari yang mengalami dismenore, berjumlah 40 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling dengan kriteria inklusi yaitu mahasiswi yang mengalami dismenore primer, bersedia menjadi responden, dan tidak sedang menjalani pengobatan lain terkait nyeri haid. Total sampel yang memenuhi kriteria adalah 20 orang (Nursalam, 2. Intervensi berupa terapi bekam dilakukan pada tiga titik utama yaitu titik Kahil . ulang belakang ata. , titik Al-Warik . aerah pinggan. , dan titik Zhahrul Qadam . Terapi dilakukan sekali selama fase awal menstruasi, yakni hari pertama atau kedua haid. Instrumen pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner identitas responden dan skala Numeric Rating Scale (NRS) untuk mengukur intensitas nyeri. Skala NRS berkisar dari 0 . idak nyer. hingga 10 . yeri sangat heba. Data dianalisis secara statistik menggunakan uji Paired t-test dengan tingkat signifikansi =0,05 untuk mengetahui perbedaan sebelum dan sesudah perlakuan (Hidayat, 2. Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas terapi bekam dalam menurunkan intensitas nyeri dismenorea pada responden. Selain itu, karakteristik dasar responden juga dianalisis untuk memperoleh gambaran umum mengenai kelompok yang terlibat dalam studi ini. Tabel 1. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Kelas Kelas Jumlah . Persentase (%) Ajeng Reguler Total Sebagian besar responden berasal dari Kelas Reguler . %), sementara sisanya berasal dari Kelas Ajeng . %). Hal ini menunjukkan bahwa dominasi peserta penelitian berada pada kelas Reguler. Tabel 2. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Umur Responden Jumlah . Persentase (%) 16Ae20 tahun 21Ae25 tahun 26Ae30 tahun 31Ae35 tahun Total Kelompok usia terbanyak pada penelitian ini adalah 21Ae25 tahun . %), sedangkan kelompok usia 31Ae35 tahun merupakan yang paling sedikit . %). Ini mengindikasikan bahwa mayoritas peserta merupakan perempuan muda dalam usia produktif. Tabel 3. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Umur Pertama Haid (Menarch. Menarche (Usi. Jumlah . Persentase (%) 11 tahun 12 tahun 13 tahun 14 tahun 15 tahun Total Sebagian besar responden mengalami menarche pada usia 13 tahun . %), sedangkan yang paling sedikit adalah pada usia 11 tahun . %). Usia rata-rata menarche berada dalam kisaran normal, namun dengan dominasi pada usia 13 tahun. Tabel 4. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Lama Menstruasi Lama Menstruasi Jumlah . Persentase (%) 6 hari 7 hari Total Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 Sebagian besar responden mengalami menstruasi dengan durasi 6 hari . %), sementara 35% lainnya mengalami menstruasi selama 7 hari. Durasi ini masih tergolong dalam rentang normal siklus menstruasi. Tabel 5. Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden Berdasarkan Cara Mengatasi Nyeri Dismenorea Cara Mengatasi Nyeri Jumlah . Persentase (%) Dismenorea Istirahat Lain-lain Total Mayoritas responden . %) mengatasi nyeri dismenorea dengan cara beristirahat. Hanya sebagian kecil . %) yang menggunakan metode lain. Ini menunjukkan bahwa istirahat masih menjadi pilihan utama dalam manajemen nyeri menstruasi secara Tabel 6. Distribusi Responden Berdasarkan Skala Nyeri Dismenorea Sebelum dan Sesudah Intervensi Terapi Bekam Skala Nyeri Sebelum Intervensi Sesudah Intervensi Berat Sedang Ringan Total Sebelum diberikan intervensi terapi bekam, mayoritas responden mengalami nyeri dismenorea dalam kategori berat dan sedang . asing-masing 40%). Namun setelah intervensi, terjadi penurunan intensitas nyeri secara signifikan, di mana sebagian besar responden . %) hanya merasakan nyeri ringan, dan hanya 5% yang masih mengalami nyeri berat. Hal ini menunjukkan bahwa terapi bekam efektif dalam mengurangi intensitas nyeri dismenorea. Pembahasan Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terapi bekam efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dismenore pada mahasiswi kebidanan. Hal ini dibuktikan dengan adanya penurunan skor nyeri dari rata-rata 6,75 menjadi 3,10 setelah intervensi, serta nilai p yang signifikan. Terapi bekam diyakini bekerja melalui mekanisme peningkatan sirkulasi darah, pengurangan zat peradangan seperti prostaglandin, dan stimulasi sistem saraf yang memicu pelepasan endorfin sebagai analgesik alami tubuh (Wulandari, 2. Penurunan nyeri yang signifikan ini sejalan dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Wulandari . , yang menunjukkan bahwa bekam kering mampu menurunkan nyeri haid secara signifikan pada remaja. Demikian pula studi oleh Fauziah . dan Rahayu . , menunjukkan bahwa terapi bekam dapat menjadi alternatif terapi nonfarmakologis yang efektif, aman, dan tidak menimbulkan efek samping serius (Fauziah, 2. Rahayu, 2. Bekam memiliki keunggulan dibandingkan analgesik oral karena tidak menyebabkan efek samping lambung atau ketergantungan. Titik-titik bekam yang digunakan dalam penelitian ini juga telah dikaitkan secara anatomi dan Jurnal Pelita Sains dan Kesehatan (JPASAIK) Volume 4. No 2 Mei 2024 fisiologis dengan sistem reproduksi wanita, sehingga efektivitasnya dalam menangani dismenore memiliki dasar yang kuat (Yulianti, 2. Mahasiswi kebidanan sebagai populasi target juga sangat tepat karena mereka memiliki beban akademik tinggi yang dapat memperparah persepsi nyeri (Depkes RI. Dengan mengenal metode alternatif seperti terapi bekam, diharapkan mereka dapat mengaplikasikan terapi ini dalam praktik klinik maupun kehidupan pribadi. Hasil ini menguatkan bahwa terapi bekam dapat dijadikan bagian dari pelayanan kebidanan komplementer dan integratif, serta dapat diusulkan sebagai intervensi standar dalam penanganan nyeri dismenore ringan hingga sedang KESIMPULAN Terapi bekam terbukti efektif dalam menurunkan intensitas nyeri dismenore pada mahasiswi Program Studi S1 Kebidanan STIKes Pelita Ibu Kendari. Terdapat perbedaan yang signifikan antara skor nyeri sebelum dan sesudah terapi dengan nilai p=0,000. Terapi bekam merupakan metode nonfarmakologis yang aman, efektif, dan mudah diterapkan untuk mengurangi nyeri haid. Oleh karena itu, terapi ini dapat direkomendasikan sebagai salah satu alternatif dalam penanganan dismenore, khususnya pada remaja dan wanita muda DAFTAR PUSTAKA Amini. Pengaruh Terapi Bekam terhadap Penurunan Nyeri Haid pada Remaja. Nuha Medika. Yogyakarta, hlm. 42Ae58. Andriyani. Terapi Komplementer dalam Asuhan Kebidanan. Pustaka