JURNAL SIMETRIK (Sipil. Mesin. Listri. https://ejournal-polnam. id/index. php/JurnalSimetrik Online ISSN: 2581-2866 https://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENERAPAN BUILDING INFORMATION MODELING (BIM) DI PROYEK KONSTRUKSI KOTA AMBON Arfianti. Fauzan A Sangadji. Felix Taihuttu. Program Studi Teknik Sipil. Fakultas Teknik. Universitas Pattimura antiarfi97@gmail. ARTICLE HISTORY Received: November 7, 2025 Revised November 22, 2025 Accepted: November 23, 2025 Online available: November 24, 2025 Keywords: Building Information Modelling. BIM. Key Factors. BIM Implementation *Correspondence: Name: Arfianti E-mail: antiarfi97@gmail. Kantor Editorial Politeknik Negeri Ambon Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Jalan Ir. Putuhena. WailelaRumahtiga. Ambon Maluku. Indonesia Kode Pos: 97234 ABSTRACT Building Information Modelling (BIM) is one of the significant technological and communication advancements in the construction services industry. BIM represents one of the most promising developments in the construction sector. Using BIM technology, a virtual model of a building, known as a building information model, can be digitally constructed and used for planning, design, construction, and According to the Regulation of the Minister of Public Works and Public Housing of the Republic of Indonesia No. 22/PRT/M/2018 concerning the Construction of State Buildings, the application of BIM is mandatory for non-simple Stateok buildings with an area exceeding 2000 mA and more than two floors. Based on this regulation, this study aims to evaluate the factors influencing the implementation of BIM among construction project stakeholders in Ambon City. Indonesia. Data for this research were collected through a survey, including questionnaires and interviews with respondents in the construction industry. The analysis employed descriptive statistical methods, including Central Tendency Measurement. Variability Measurement, and Relative Importance Index (RII). The results indicate that the main factor affecting the implementation of BIM in construction projects in Ambon City is the lack of BIM education or training. Keywords: Building Information Modelling. BIM. Key Factors. BIM Implementation PENDAHULUAN Perkembangan teknologi dan komunikasi di Indonesia turut memengaruhi kemajuan industri jasa Salah satu inovasi penting yang mendorong transformasi sektor ini adalah Building Information Modelling (BIM), memungkinkan pembangunan model digital bangunan untuk mendukung perencanaan, desain, konstruksi, dan pemeliharaan (Azhar, 2. Pemerintah Indonesia juga menegaskan komitmennya terhadap inovasi teknologi konstruksi melalui UU No. 2 Tahun 2017 tentang Jasa Konstruksi yang memberi kewenangan bagi pemerintah pusat untuk mengembangkan standar dan inovasi teknologi. Arfianti et. DOI: https://doi. org/10. 31959/js. Secara global, implementasi BIM telah diterapkan secara luas di negara seperti Inggris. Amerika Serikat. Australia, dan Singapura. Namun, adopsi BIM di Indonesia masih relatif lambat dibandingkan negaranegara tersebut, padahal kebutuhan akan efisiensi dan percepatan pembangunan infrastruktur sangat tinggi. Menurut Smith . BIM berpotensi mengurangi ketidakpastian, meningkatkan keselamatan, serta mempercepat pertukaran informasi antardisiplin melalui model 3D yang terintegrasi (Eastman et al. Dalam proyek konstruksi yang kompleks, efektivitas manajemen sumber daya, terutama sumber daya manusia, sangat menentukan keberhasilan Analisis Faktor-Faktor Penerapan Building InformationA JURNAL SIMETRIK (Sipil. Mesin. Listri. https://ejournal-polnam. id/index. php/JurnalSimetrik Online ISSN: 2581-2866 https://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. pencapaian biaya, mutu, dan waktu. Permasalahan seperti kurangnya koordinasi, perubahan desain, dan keterlambatan logistik seringkali menimbulkan konflik serta menurunkan efisiensi pelaksanaan proyek. Oleh karena itu, penerapan teknologi seperti BIM menjadi penting untuk meningkatkan kolaborasi dan produktivitas di lapangan. Sesuai Peraturan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat No. 22/PRT/M/2018, penerapan BIM diwajibkan pada pembangunan gedung negara tidak sederhana dengan luas di atas 2000 mA dan lebih dari dua lantai. Aturan ini menunjukkan urgensi penerapan BIM di Indonesia, termasuk di wilayah timur seperti Kota Ambon yang tengah mengalami peningkatan pembangunan infrastruktur. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi faktor-faktor yang memengaruhi penerapan BIM oleh pelaku proyek konstruksi di Kota Ambon. TINJAUAN PUSTAKA 1 Penelitian Terdahulu Dari hasil rangkuman beberapa penelitian yang berfokus pada hambatan dan tingkat adopsi BIM di Indonesia. Handika & Jane . Ae Fokus Hambatan Manajerial dengan tujuan: Menganalisis faktor penghambat BIM. Hasil Utama dari penelitian ini adalah hambatan utama kurangnya partisipasi manajemen dalam memberikan motivasi, pelatihan, dan pengawasan. Megapathi dkk. Ae berfokus pada Tingkat Adopsi BIM di Bali. Bertujuan untuk mengetahui tingkat implementasi dan hambatan adopsi BIM di daerah tersebut . Hasil Utama dalam penelitian ini adalah tingkat adopsi BIM di daerah tersebut masih rendah . %), mayoritas hanya menggunakan hingga tahap 3D. Hambatan utama: biaya tinggi, kurangnya tenaga ahli, kurangnya peran pemerintah, dan kesulitan mengubah proses kerja. Dalam jurnal Faizal Restu Utomo . Ae Fokus Klasifikasi Faktor di Indonesia. Tujuan: Merangking dan mengklasifikasi faktor penghambat dan pendorong adopsi BIM di Indonesia. Faktor Penghambat Utama (Peringka. : Kurangnya pemahaman tentang BIM dan manfaatnya, kurangnya pengembangan kemampuan . , dan kurangnya pelatihan. Klasifikasi Faktor Penghambat Baru: Faktor individu, organisasi, pemerintah, dan vendor software BIM. Ary Wibowo . Ae Fokus Evaluasi dan Strategi BIM (SWOT). Tujuan: Mengevaluasi penerapan BIM pada proyek di Indonesia dan menganalisis strategi optimal. Hasil Utama: Penerapan BIM pada 3 proyek sudah berjalan baik namun terkendala kurangnya sinergi karena pengguna jasa belum sepenuhnya memahami BIM. Strategi optimal: intensif sosialisasi, promosi, dan peningkatan pelatihan/sertifikasi BIM. Arfianti et. DOI: https://doi. org/10. 31959/js. 2 Building Information Modeling (BIM) Definisi BIM Konsep atau cara kerja menggunakan pemodelan 3D digital . yang berisi semua informasi proyek yang terintegrasi, yang bertujuan untuk fasilitasi koordinasi, simulasi, dan visualisasi antara pihak terkait . erencana, pembangun. Teori Dasar dari BIM sendiri yaitu untuk Menyimpan semua informasi relevan dalam satu sistem daring tunggal . ingle online syste. untuk mempermudah analisis cepat pada pilihan biaya, mutu, dan waktu. Fungsi Praktis: Pusat basis data yang menyajikan seluruh dokumen proyek . esain, spesifikasi. BoQ, jadwa. bagi semua pihak. Manfaat utama BIM adalah meningkatkan efisiensi dan kualitas proyek: A Koordinasi & Kolaborasi: Peningkatan komunikasi real-time di antara stakeholder, mengurangi kesalahan dan pengerjaan ulang. A Perencanaan Akurat: Representasi desain yang akurat, estimasi biaya yang lebih tepat, dan pengurangan penundaan. A Visualisasi Lengkap: Alat model 3D yang membantu pemangku kepentingan memahami proyek secara penuh. A Mitigasi Bentrokan: Identifikasi bentrokan (MEP, internal, eksterna. sebelum konstruksi A Keberlanjutan: Optimalisasi material/tenaga pengurangan dampak lingkungan. 3 Dimensi Konstruksi BIM Dimensi BIM mengkategorikan informasi detail dalam model: A 3D: Pemodelan visual . A 4D: Penambahan waktu . A 5D: Penambahan biaya . stimasi, anggaran. A 6D: Penambahan keberlanjutan . ptimalisasi biaya siklus hidu. A 7D: Penambahan manajemen fasilitas . elacakan data aset, pemeliharaa. A 8D, 9D, 10D: Dimensi tambahan seperti keselamatan, konstruksi ramping, dan industrialisasi konstruksi. 4 Implementasi BIM (Leve. Implementasi BIM dibagi berdasarkan tingkat A Level 0: Tidak ada kolaborasi, hanya 2D CAD. A Level 1: Desain konseptual 3D, dokumentasi 2D CAD, informasi dikolaborasikan dalam Analisis Faktor-Faktor Penerapan Building InformationA JURNAL SIMETRIK (Sipil. Mesin. Listri. https://ejournal-polnam. id/index. php/JurnalSimetrik Online ISSN: 2581-2866 https://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. bentuk elektronik, tetapi standar masih terpisah per disiplin. A Level 2: Kolaborasi terstruktur, pelaku bekerja dengan sistem sendiri, namun model dipertukarkan dengan protokol dan format yang disetujui (IFC/COBi. A Level 3: Kolaborasi Penuh (Open BIM), semua pelaku bekerja, memodifikasi, dan berbagi satu objek yang sama . hared objec. Bagian ini menjelaskan kerangka kerja bagaimana faktor-faktor memengaruhi penggunaan Building Information Modeling (BIM) oleh pelaku proyek di Kota Ambon dilaksanakan. METODOLOGI Penelitian menggunakan dua metode utama yaitu Studi Literatur dari karya ilmiah atau jurnal terkait topik BIM . ntuk mendapatkan landasan teori dan Angket Kuesioner: Teknik pengumpulan data primer yang paling efisien, dilakukan dengan memberikan seperangkat pertanyaan tertulis kepada responden secara langsung atau tidak Penulis mendatangi langsung perusahaan jasa konstruksi di Kota Ambon. 1 Reabilitas dan Validitas Data yang terkumpul akan diuji kualitasnya: A Validitas: Mengukur apakah variabel yang diukur benar-benar variabel yang diteliti. A Reliabilitas: Mengukur konsistensi hasil pengukuran durasi. 2 Teknik Analisis Data A Metode Utama: Deskriptif, bertujuan untuk mendapati nilai variabel mandiri . tanpa harus membuat perbandingan atau dihubungkan dengan variabel lain. A Teknik Analisis Spesifik: Central Tendency Measurement (Mea. : Nilai rata-rata data. Variability Measurement (Standar Devias. : Mengukur persebaran data dan seberapa dekat data dengan nilai rata-rata. Relative Important Index (RII): Metode yang paling penting, digunakan untuk menentukan faktor yang paling berpengaruh dengan sistem ranking berdasarkan bobot jawaban kuesioner dari responden. Objek penelitian dari kasus ini adalah penyedia jasa konstruksi, termasuk didalamnya kontraktor, konsultan perencana. ASN kementerian PUPR Kota Ambon. Responden dari penelitian ini Arfianti et. DOI: https://doi. org/10. 31959/js. yaitu profesional yang mempunyai pengalaman dalam pelaksanaan proyek konstruksi dan infrastruktur. Pada proses penelitian penulis mendatangi langsung Perusahaan-perusahaan yang meneydiakan layanan jasa pekerjaan konstruksi di kota Ambon yang untuk memberika kuesioner. HASIL DAN PEMBAHASAN Responden dalam penelitian kasus ini adalah penyedia jasa konstruksi, termasuk didalamnya kontraktor, konsultan perencana. ASN kementerian PUPR Kota Ambon. Responden dari penelitian ini adalah profesional yang mempunyai pengalaman dalam pelaksanaan proyek konstruksi dan infrastruktur. Pengisian kuesioner dilakukan dengan mendatangi langsung pelaku proyek untuk mengisi kuesioner secara manual dan menggunakan website untuk mengisi kuesioner secara daring dengan total responden yang menjawab adalah 33 responden, sesuai dengan tabel dibawah ini. Profil Responden Peran Dalam Konsultan Proyek Kontraktor Pemilik Proyek (Owne. Jabatan/Sepesialis Project Pekerjaan Manager Site Engineer Drafter Quantity Surevyor Surveyor Pendidikan Pengalaman Kerja Pelaksana Staff Perencana <5 Tahun 5 Ae 10 Tahun >10 Tahun Sektor Pekerjaan Proyek Pemerintah Proyek Swasta Sumber: Hasil penelitian . Presentase dari tabel diatas dapat diambil kesimpulan bahwa responden mayoritas adalah pemilik proyek dengan Analisis Faktor-Faktor Penerapan Building InformationA JURNAL SIMETRIK (Sipil. Mesin. Listri. https://ejournal-polnam. id/index. php/JurnalSimetrik Online ISSN: 2581-2866 https://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. %), pendidikan S1 . %), pengalaman kerja kurang dari 5 tahun . %), dan sektor pekerjaan proyek pemerintah . 1 Level BIM yang pernah digunakan Dari hasil penelitian level BIM yang permah digunakan mayoritas responden yaitu. Level 0 . %). Level 1. %). Level 2 . %), dan Level 3. %). Sedangkan menggunakan BIM yaitu Proyek Bangunan Gedung . %). Proyek Jalan Dan Jembatan. %) dan Proyek Keairan (Bendungan. Pelabuhan, dl. %). 2 Software Yang Dipakai Dalam Proyek Pelaku proyek yang belum siap perubahan ke BIM Usia BIM emahnya daya nalar dan inga. Kurangnya tas atau system lain lunak BIM BIM masih belum bisa . urang percaya pada integritas dan fungsi BIM) TRUE TRUE TRUE FALS X2. Aplikasi atau program yang setiap orang berbeda-beda sehingga sulit TRUE X2. TRUE X2. Kurangnya BIM untuk semua jenis Pembanguna Kurangnya terhadap hasil kerja BIM TRUE X1. X1. X2. X2. Tabel Software Yang Dipakai Dalam Proyek Software Yang Dipakai Di Proyek Jumlah Responden Presen Autocad Archicad Sketchup Etabs Revit Autocad Land Gis Sumber: Hasil Penelitian . 3 Hasil Uji Validitas Dan Reabilitas Data Hasil Uji Validitas Rhitung > Rtotal = valid Tabel Hasil Uji Validitas KOD Faktor-Faktor Penerapan X1. X1. Kurangnya (Trainin. Kurangnya BIM Kesulitan kerja karena system yang selama ini X1. Mea Tabel Hitung TRUE TRUE Arfianti et. DOI: https://doi. org/10. 31959/js. Ket TRUE Analisis Faktor-Faktor Penerapan Building InformationA JURNAL SIMETRIK (Sipil. Mesin. Listri. https://ejournal-polnam. id/index. php/JurnalSimetrik Online ISSN: 2581-2866 https://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. X2. X3. X3. X3. X3. X3. X4. X4. proyek di . urangnya BIM) Rencana mutu yang belum ada terlihat sulit dalam proyek Mahalnya keras untuk BIM Mahalnya biaya untuk BIM Mahalnya lunak dan Anggaran BIM yang masih belum ada di kontrak atau RAB Minimnya BIM . urangnya BIM dalam Infrastruktur yang kurang BIM Penggunaan BIM n pekerjaan X4. X4. X5. X5. X5. X6. X6. TRUE TRUE TRUE TRUE FALS FALS Kurangnya ahli dibidang BIM Kurangnya pelatih atau pengajar di bidang BIM Kompleksitas beban bagi BIM TRUE TRUE TRUE Kurangnnya . urangnya dan dukungan manajer dan Kurangnya Kurangnya BIM yang Perusahaan BIM yang rendah Pengembanga n BIM belum TRUE TRUE TRUE FALS TRUE Sumber: Hasil penelitian . TRUE FALS Arfianti et. DOI: https://doi. org/10. 31959/js. Setelah menggunakan SPSS terdapat beberapa variable yang tidak valid . yaitu variable X2. X3. X3. X4. X6. 1, dikarenakan nilai Rhitung < Rtabel maka untuk perhitungan selanjutnya variable tersebut tidak akan dikutsertakan dalam perhitungan selanjutnya. Analisis Faktor-Faktor Penerapan Building InformationA JURNAL SIMETRIK (Sipil. Mesin. Listri. https://ejournal-polnam. id/index. php/JurnalSimetrik Online ISSN: 2581-2866 https://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. Hasil Uji Reabilitas Tabel Hasil Uji Reabilitas menggunakan CronbachAos Alpha Nama CronbachAo s Alpha Faktor Yang Mempengaru Penggunaan BIM 0,858 Bata Keteranga Reliabel X4. X4. X4. 4 Analisi Mean Dan Standar Deviasi X3. X5. Tabel Analisis Mean dan Standar Deviasi KODE Faktor-Faktor Penerapan Mean X1. Kurangnya pendidikan (Trainin. X1. Kurangnya pemahaman tentang manfaatnya penggunaan BIM Kesulitan dalam kebiasan kerja karena sudah beradaptasi dengan system yang selama ini digunakan Pelaku proyek yang belum siap menerima perubahan ke BIM Usia membuat kurang maksimalnya penggunaan BIM manajemen proyek . emahnya daya nalar dan Kurangnya interprobabilitas dengan sistem lain semisal pertukaran data informasi antar perangkat lunak BIM X1. X1. X1. X2. X2. X2. X2. X2. X3. X3. Aplikasi atau program yang digunakan setiap orang berbeda-beda sehingga sulit untuk menyatukan Kurangnya keseuaian BIM untuk semua jenis proyek Pembangunan Kurangnya tanggung jawab individu terhadap hasil kerja BIM kepada pelaku proyek di lapangan . urangnya kemampuan teknis pemanfaatan BIM) Rencana mutu yang belum ada kejelasan sehingga terlihat sulit untuk diaplikasikan dalam proyek Mahalnya biaya perangkat keras untuk menjalankan BIM Mahalnya biaya untuk pelatihan BIM X5. X5. X6. Kompleksitas pekerjaan, menjadi beban bagi pengguna BIM manajemen Kurangnnya dukungan senior . urangnya kesadaran dan dukungan manajer dan Kurangnya peran pemerintah Kurangnya peraturan/ standar prosedur pengoperasional BIM yang harus ditetapkan oleh Perusahaan Pengembangan BIM belum Sumber: Hasil penelitian . 5 Faktor Penerapan Dari 33 responden yang valid, nilai RII masing-masing variable untuk dikalkulasi untuk memperoleh peringkat masing-masing variable dibandingkan dengan variable-variabel yang lain. Tabel di bawah Menunjukan peringkat faktor-faktor penerapan BIM yang telah dikalkulasi. Tabel Faktor Penerapan KODE X1. X1. X1. X1. X1. Arfianti et. DOI: https://doi. org/10. 31959/js. Mahalnya biaya perangkat lunak dan biaya Infrastruktur teknologi yang kurang memadai, untuk mendukung BIM Kurangnya ahli dibidang BIM Kurangnya pelatih atau pengajar di bidang BIM Faktor-faktor Penerapan Kurangnya (Trainin. Kurangnya tentang manfaat BIM Kesulitan dalam kebiasan kerja karena sudah dengan system yang digunakan selama ini Pelaku proyek yang belum siap perubahan ke BIM Usia membuat BIM emahnya daya nalar dan inga. Mean RII Rank Analisis Faktor-Faktor Penerapan Building InformationA JURNAL SIMETRIK (Sipil. Mesin. Listri. https://ejournal-polnam. id/index. php/JurnalSimetrik Online ISSN: 2581-2866 https://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. X2. X2. X2. X2. X2. X3. X3. X3. X4. X4. Kurangnya dengan system lain semisal pertukaran data informasi antar perangkat lunak BIM Aplikasi atau program yang setiap orang berbeda-beda sehingga sulit Kurangnya keseuaian BIM untuk semua jenis proyek Pembangunan Kurangnya tanggung jawab terhadap hasil kerja BIM kepada pelaku proyek di . urangnya BIM) Rencana mutu yang belum jelas sehingga sulit untuk dalam proyek Mahalnya biaya perangkat keras BIM Mahalnya biaya untuk pelatihan BIM Mahalnya biaya perangkat lunak dan biaya X4. X5. X5. X5. X6. Infrastruktur memadai, untuk BIM Kurangnya ahli dibidang BIM Kurangnya pelatih atau pengajar di bidang BIM Kompleksitas dianggap beban bagi pengguna BIM Kurangnnya . urangnya kesadaran dan manajer dan Kurangnya Kurangnya BIM yang harus ditetapkan oleh Perusahaan Pengembangan BIM belum Sumber: Hasil penelitian . Arfianti et. DOI: https://doi. org/10. 31959/js. 6 Pembahasan Faktor-faktor penerapan BIM paling banyak dipilih menurut para responden adalah Aukurangnya Pendidikan atau . BIMAy dengan nilai RII=0. 836, rata-rata=4. 18 dan SD=0. kedua faktor-faktor penerapan BIM paling banyak dipilih adalah AuKurangnya pemahaman tentang manfaat penggunaan BIMAy dengan nilai RII=0. rata-rata=4. 03 dan SD=0. peringkat ketiga AuMahalnya biaya perangkat lunak dan biaya pembaruanyaAy dengan nilai RII=0. 782, ratarata=3. 91, dan SD=1. Untuk peringkat keempat faktor-faktor penerapan BIM adalah AuKurangnya ahli dibidang BIMAy dengan nilai RII=0. 766, rata-rata=3. dan SD=1. peringkat kelima yaitu AuKesulitan dalam kebiasan kerja karena sudah beradaptasi dengan sistem yang selama ini digunakanAy dengan nilai RII=0. 764, rata-rata=3. 82, dan SD=0. PENUTUP Kesimpulan Faktor-faktor penerapan BIM paling banyak dipilih menurut para responden adalah Aukurangnya Pendidikan atau . BIMAy. peringkat kedua faktor-faktor penerapan BIM paling banyak dipilih adalah AuKurangnya pemahaman tentang manfaat penggunaan BIMAy. peringkat ketiga AuMahalnya biaya perangkat lunak dan biaya pembaruanyaAy. Untuk peringkat keempat faktor-faktor penerapan BIM adalah AuKurangnya ahli dibidang BIMAy. peringkat kelima yaitu AuKesulitan dalam kebiasan kerja karena sudah beradaptasi dengan sistem yang selama ini digunakanAy. Analisis Faktor-Faktor Penerapan Building InformationA JURNAL SIMETRIK (Sipil. Mesin. Listri. https://ejournal-polnam. id/index. php/JurnalSimetrik Online ISSN: 2581-2866 https://creativecommons. org/licenses/by-nc/4. Saran Untuk menyarankan, agar dilakukan penelitian dengan ruang lingkup yang lebih luas, misalnya yang awalnya Lokasi di Kota Ambon saja, menjadi Provinsi Maluku secara Untuk stakeholder asosiasi keahlian jasa konstruksi, perlu ditambahkan kurikulum baru tentang Building Information Modellingsebagai syarat sertifikasi untuk meningkatkan dan mempercepat adopsi BIM serta meningkatkan kualitas pelaku proyek konstruksi di Kota Ambon. DAFTAR PUSTAKA