KESKOM. 2025; 11(2) : 308-316 JURNAL KESEHATAN KOMUNITAS (J O U R N A L O F C O M M U N I T Y H E A L T H) http://jurnal.htp.ac.id Pengaruh Sikap Pekerja dalam Theory of Planned Behavior terhadap Kepatuhan Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Pabrik Minyak Kelapa Sawit The Influence of Workers Attitudes Based on the Theory of Planned Behavior on Occupational Health and Safety Compliance in Palm Oil Mills Yusmaini1 , Chrismis Novalinda Ginting2* , Linda Chiuman3 1,2,3 Universitas Prima Indonesia ABSTRACT ABSTRAK Workers’ compliance with Occupational Safety and Health (OSH) procedures can be explained through the Theory of Planned Behavior (TPB). This study aims to examine the influence of workers’ attitudes, risk awareness, and commitment to safety behavior on OSH compliance. A quantitative cross-sectional design was employed involving 200 palm oil mill workers. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed with Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEM-PLS) using SmartPLS 4.0.The results show that positive attitudes significantly influence compliance with safety procedures (β = 0.323, p < 0.05) and reduce workplace accident rates (β = 0.303, p < 0.05). Risk awareness also contributes significantly to compliance (β = 0.218, p < 0.05) and accident reduction (β = 0.223, p < 0.05). Furthermore, commitment to safety behavior strongly influences adherence to safety procedures (β = 0.248, p < 0.05) and plays a key role in minimizing workplace accidents (β = 0.343, p < 0.05). Conclusion: Positive attitudes, risk awareness, and commitment to safety behavior significantly enhance workers’ compliance with OSH procedures and contribute to the reduction of workplace accidents in the palm oil industry. Sikap Pekerja terhadap kepatuhan Keselamatan dan Kesehatan kerja (K3) dapat diukur melalui Theory of Planned Behavior (TPB). Tujuan penelitian ini untuk menganalisis pengaruh sikap pekerja, kesadaran akan risiko kerja, dan komitmen terhadap perilaku K3 terhadap kepatuhan keselamatan dan kesehatan kerja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif cross-sectional dengan 200 responden pekerja pabrik minyak kelapa sawit. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling-Partial Least Squares (SEMPLS) dengan SmartPLS 4.0 untuk menguji hubungan antar variabel. Hasil penelitian ini adalah Sikap positif pekerja berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan terhadap prosedur keselamatan (path coefficient = 0,323, p < 0,05) dan penurunan angka kecelakaan kerja (path coefficient = 0,303, p < 0,05). Kesadaran akan risiko kerja berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan terhadap prosedur keselamatan (path coefficient = 0,218, p < 0,05) dan penurunan angka kecelakaan kerja (path coefficient = 0,223, p < 0,05). Komitmen terhadap perilaku K3 memiliki pengaruh positif terhadap kepatuhan terhadap prosedur keselamatan (path coefficient = 0,248, p < 0,05) dan penurunan angka kecelakaan kerja (path coefficient = 0,343, p < 0,05). Kesimpulan dari hasil penelitian ini menunjukkan bahwa sikap positif, kesadaran terhadap risiko kerja, dan komitmen terhadap perilaku K3 berpengaruh signifikan terhadap peningkatan kepatuhan pekerja terhadap prosedur keselamatan serta penurunan angka kecelakaan kerja. Keywords: Theory of Planned Behavior (TPB), Workers’ Attitudes, Occupational Health and Safety. Kata Kunci : Theory of Planned Behavior (TPB), Sikap Pekerja, Keselamatan dan Kesehatan Kerja Corresponding author : Chrismis Novalinda Ginting Email: chrismis@unprimdn.ac.id • Received 26 Maret 2025 • Accepted 5 Mei 2025 • Published 31 Juli 2025 • p - ISSN : 2088-7612 • e - ISSN : 2548-8538 • DOI: https://doi.org/10.25311/keskom.Vol11.Iss2.2215 Copyright @2017. This is an open-access article distributed under the terms of the Creative Commons Attribution-NonCommercial-ShareAlike 4.0 International License (http://creativecommons.org/licenses/by-nc-sa/4.0/) which permits unrestricted non-commercial used, distribution and reproduction in any medium Siti Halimatul Munawarah, et al The Effect of NHI Contribution Assistance on Antenatal Care Pengaruh Bantuan Iuran JKN Terhadap Antenatal Care PENDAHULUAN Keselamatan kerja adalah suatu kegiatan atau tindakan yang dilakukan tenaga kerja dan perusahaan untuk melindungi dan menjamin keselamatan dan kesehatan agar tidak terjadi kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja (1). Keselamatan merupakan perhatian utama manusia, dan langkah-langkah keselamatan yang tepat penting untuk melindungi tenaga kerja, peralatan, fasilitas dan lingkungan. Idealnya risiko ditempat kerja harus diidentifikasi dicatat, dipantau dan dikelola. Manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang efektif dapat berperan penting dalam kesuksesan perusahaan, karena kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja berdampak pada produktivitas, daya saing dan menimbulkan kerugian ekonomi yang besar (2). Keselamatan dan kesehatan kerja (K3) sebagai segala bentuk kegiatan untuk menjamin dan melindungi keselamatan serta kesehatan pekerja melalui upaya pencegahan keseelakaan kerja dan penyakit akibat kerja. Oleh sebab itu, penguatan manajemen keselamatan yang menyeluruh dalam setiap tahap operasional perusahaan menjadi aspek wajib dalam penerapan sistem K3.(3) Keselamatan merupakan perhatian utama manusia, dan langkahlangkah keselamatan yang tepat penting untuk melindungi tenaga kerja, peralatan, fasilitas dan lingkungan. Idealnya risiko ditempat kerja harus diidentifikasi dicatat, dipantau dan dikelola (4). Industri minyak kelapa sawit adalah salah satu sektor strategis di Indonesia dan merupakan kontributor utama bagi perekonomian. Namun industri ini juga dikenal sebagai salah satu sektor yang melibatkan tingkat kecelakaan kerja tinggi. Pekerja pabrik minyak kelapa sawit sering berisiko terkena mesin berat, bahan kimia, suhu ekstrim dan lingkungan kerja yang berdebu. Data kasus kecelakaan kerja dilihat dari sektor usaha, industri pertanian, perikanan, perkebunan dan kehutanan pada tahun 2019 terjadi kecelakaan kerja sebanyak 36.301, tahun 2020 sebanyak 40.947 dan tahun 2021 sebanyak 38.476 kejadian. Pada tahun 2023, jumlah kasus kecelakaan kerja di Indonesia tercatat sebanyak 370.747 kasus. Sekitar 93,83% merupakan kasus peserta penerima upah, 5,37% kasus peserta bukan penerima upah, dan 0,80% kasus peserta jasa konstruksi (5). Di Keskom, Vol 11, No 2, 2025 309 Indonesia, data dari BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan peningkatan jumlah kecelakaan kerja dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2020, tercatat 221.740 kasus kecelakaan kerja, yang meningkat menjadi 234.270 kasus pada tahun 2021. Hingga November 2022, angka tersebut mencapai 265.334 kasus (Data Indonesia, 2022).(6) Theory of Planned Behavior (TPB), yang diperkenalkan oleh Icek Ajzen pada tahun 1985, menawarkan kerangka kerja untuk memahami faktor-faktor yang mempengaruhi niat dan perilaku individu. TPB menyatakan bahwa perilaku ditentukan oleh tiga komponen utama: sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang dirasakan. Sikap positif terhadap perilaku keselamatan di tempat kerja dapat meningkatkan niat dan kepatuhan pekerja terhadap prosedur K3 (7). Sikap positif terhadap keselamatan dapat meningkatkan kepatuhan dan mengurangi insiden kecelakaan kerja (8). Peneliti lain juga mengatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan sikap, pengetahuan, dan perilaku pekerja terhadap penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (K3) (9). Sikap yang positif memberikan kontribusi pada perilaku yang aman di lingkungan kerja. serta berkorelasi terhadap keselamatan kerja dalam penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (10). Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh sikap pekerja dalam kerangka Theory of Planned Behavior (TPB) terhadap kepatuhan keselamatan dan kesehatan kerja pada pabrik minyak kelapa sawit. Dengan memahami faktor-faktor yang mempengaruhi sikap pekerja, manajemen dapat merancang intervensi yang lebih efektif untuk meningkatkan kesadaran dan kepatuhan K3. Temuan penelitian ini diharapkan dapat berkontribusi pada pengurangan angka kecelakaan kerja dan peningkatan kesejahteraan pekerja di industri kelapa sawit. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain Cross Sectional. Lokasi penelitian dilakukan di PT Sumber Tani Agung PMKS Sabungan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karyawan berjumlah 200 pekerja. Pengumpulan data menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan informasi. Analisa data menggunakan Structural Equation Model Partial Siti Halimatul Munawarah, et al The Effect of NHI Contribution Assistance on Antenatal Care Pengaruh Bantuan Iuran JKN Terhadap Antenatal Care Least Square (SEM-PLS) dengan Aplikasi SmartPLS. Langkah Analisa sebagai berikut: pertama evaluasi model pengukuran (outer model) dan kedua evaluasi model struktural (inner model) (11). HASIL Karakteristik Responden Informasi karakteristik responden dikumpulkan dari penelitian ini meliputi distribusi frekuensi usia, pendidikan terakhir, lama bekerja dan bidang pekerjaan sebagai berikut: mayoritas responden dalam penelitian ini dilihat dari umur sekitar 41,5% berada di usia >40 tahun, 35,5% pada usia 31-40 tahun, dan 23% pada usia 20-30 tahun. Karakteristik berdasarkan pendidikan yaitu mayoritas berpendidikan SMA/Sederajat yaitu 87,5%, sedangkan pendidikan S1/Sederajat 10,5%, dan pendidikan D4 sebanyak 4%. Karakteristik responden lama bekerja, mayoritas 42% bekerja selama 1-10 tahun, 31% pekerja > 21 tahun dan 27% bekerja selama 11-20 tahun. Karakteristik responden 310 menurut bidang pekerjaan, mayoritas pekerja bekerja dibidang proses/ pengolahan sebesar 37% dan bidang sortase sebesar 24,5%, pada bidang manintanance/electrical sebanyak 16%, Boiler sebesar 7,5%, bidang security sebanyak 7,5%, bidang adminstrasi sebesar 3,5%, bidang laboratoriun sebesar 2% dan bidang driver sebesar 1,5%, bidang cleark sebesar 0,5%. Hasil analisis evaluasi Model Pengukuran menunjukkan bahwa seluruh indikator memiliki outer loading > 0,70, mengindikasikan validitas indikator yang baik Nilai Composite Reliability dan Cronbach’s Alpha > 0,70 serta AVE > 0,50 pada semua konstruk menunjukkan bahwa model memenuhi kriteria reliabilitas dan validitas konvergen. Selain itu, validitas diskriminan juga terpenuhi, baik melalui nilai HTMT (< 0,90) maupun Fornell-Larcker, di mana akar AVE lebih besar dari korelasi antar konstruk. Dengan demikian, seluruh konstruk dalam model pengukuran dinyatakan valid dan reliabel untuk digunakan dalam analisis lebih lanjut. Selanjutnya evaluasi model struktural (inner model). Tabel 1. Evaluasi Model Struktural (Inner Model) Original Sample Standard deviation Sample (O) mean (M) (STDEV) X1. Sikap Positif -> Y1. Kepatuhan 0,323 0,326 0,075 X1. Sikap Positif -> Y2. Penurunan 0,303 0,305 0,076 X2. Kesadaran -> Y1. Kepatuhan 0,218 0,217 0,089 X2. Kesadaran -> Y2. Penurunan 0,223 0,222 0,068 X3. Komitmen -> Y1. Kepatuhan 0,248 0,245 0,072 X3. Komitmen -> Y2. Penurunan 0,343 0,342 0,066 T statistics (|O/STDEV|) 4,311 3,984 2,437 3,292 3,433 5,219 P values 0 0 0,015 0,001 0,001 0 Sumber: Output SmartPLS 4.0 (2025) Penelitian ini menguji pengaruh Sikap Positif, Kesadaran, dan Komitmen terhadap Kepatuhan dan Penurunan angka kecelakaan kerja di tempat kerja. Hasil analisis menunjukkan bahwa: pertama sikap positif berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan (path coefficient 0,323, p-value 0) dan Penurunan angka kecelakaan kerja (path coefficient 0,303, p-value 0). Sikap positif pekerja dapat meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan dan mengurangi angka kecelakaan kerja. Kedua : kesadaran pekerja terhadap risiko kerja juga berpengaruh positif terhadap Kepatuhan (path coefficient 0,218, p-value 0,015) dan Penurunan angka kecelakaan kerja (path coefficient 0,223, p-value 0,001). Kesadaran yang lebih tinggi Keskom, Vol 11, No 2, 2025 mendorong perilaku yang lebih berhati-hati dan patuh terhadap prosedur keselamatan. Ketiga: Komitmen pekerja terhadap perilaku keselamatan menunjukkan pengaruh signifikan terhadap Kepatuhan (path coefficient 0,248, p-value 0,001) dan Penurunan angka kecelakaan kerja (path coefficient 0,343, p-value 0). Komitmen yang kuat meningkatkan kepatuhan terhadap keselamatan dan berkontribusi besar dalam mengurangi kecelakaan kerja. Nilai R-square untuk Kepatuhan (0,456) dan Penurunan angka kecelakaan kerja (0,556) menunjukkan bahwa variabel-variabel tersebut secara moderat mempengaruhi kedua outcome tersebut. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan pentingnya pengembangan sikap positif, kesadaran, Siti Halimatul Munawarah, et al The Effect of NHI Contribution Assistance on Antenatal Care Pengaruh Bantuan Iuran JKN Terhadap Antenatal Care dan komitmen pekerja untuk meningkatkan keselamatan kerja di lingkungan industri. PEMBAHASAN Pengaruh Sikap positif terhadap Kepatuhan terhadap prosedur keselamatan Sikap positif secara signifikan mempengaruhi kepatuhan pekerja terhadap prosedur keselamatan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa dengan sikap positif yang dimiliki pekerja dapat mendorong tingkat kepatuhan pekerja dalam melaksanakan prosedur dan aturan terkait prosedur keselamatan dan kesehatan kerja di ruang lingkup PT PMKS Sabungan. Penelitian ini sejalan dengan penelitian lain yang menjelaskan bahwa pengetahuan dan sikap pekerja cukup baik dapat mningkatkan perilaku yang aman terhadap pekerja tersebut (12). Penelitian lain juga menjelaskan bahwa sikap berpengaruh positif terhadap persepsi penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) (13). Secara bersama-sama, pengetahuan, sikap dan kondisi lingkungan kerja berpengaruh terhadap persepsi penerapan K3. Penelitian yang lain juga menyatakan bahwa pengetahuan, sikap dan perilaku karyawan berpengaruh signifikan terhadap manajemen budaya keselamatan dan kesehatan kerja (10). Penelitian lain juga menyatakan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap karyawan terhadap penerapan K3 dan produktivitas kerja. Penerapan program K3 yang baik dapat meningkatkan produktivitad karyawan (14). Penelitian lain juga menudukung hal-hal diatas dengan penelitian yang menyatakan bahwa ada hubungan yang positif antara sikap karyawan terhadap penerapan K3 dan produktivitas kerja. Sikap yang positif terhadap suatu perilaku cenderung meningkatkan kemungkinan seseorang melakukan perilaku tersebut (15). Sikap positif pekerja terhadap keselamatan kerja merupakan determinan penting dalam mendorong tingkat kepatuhan terhadap prosedur keselamatan dilingkungan kerja. Dengan demikian membangun sikap positif terhadap keselamatan kerja menjadi strategi kunci dalam menciptakan perilaku kerja yang aman dan menurunkan risiko kecelakaan kerja di industri. Keskom, Vol 11, No 2, 2025 311 Pengaruh Sikap positif terhadap penurunan angka kecelakaan kerja Sikap positif berpengaruh secara signifikan terhadap penurunan angka kecelakaan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa sikap positif dapat mendukung pengurangan atau perubahan perilaku yang diinginkan, seperti penurunan tingkat masalah atau penurunan angka kecelakan kerja. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan yang menunjukkan bahwa peningkatan sikap dan pengetahuan keselamatan memiliki hubungan positif dengan peningkatan perilaku keselamatan. Pekerja yang memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap risiko kerja dan prosedur keselamatan lebih cenderung mematuhi aturan keselamatan, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap penurunan angka kecelakaan kerja. Peningkatan sikap keselamatan memiliki hubungan positif dengan peningkatan perilaku keselamatan. Studi tersebut menemukan bahwa pekerja dengan pemahaman yang lebih baik terhadap keselamatan lebih cenderung berperilaku aman, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap penurunan angka kecelakaan kerja (16). Sikap positif pekerja terhadap keselamatan kerja secara nyata berkontribusi terhadap penurunan angka kecelakaan kerja. Pekerja yang memiliki sikap yang mendukung terhadap pentingnya keselamatan akan cenderung menunjukkan perilaku kerja yang lebih aman, lebih waspada terhadap risiko, dan lebih disiplin dalam menerapkan prosedur keselamatan yang berlaku. Dengan demikian, intervensi yang berfokus pada pembentukan dan penguatan sikap positif terhadap keselamatan dapat menjadi langkah strategis dalam menurunkan insiden kecelakaan kerja di lingkungan industri. Pengaruh Kesadaran akan risiko Kerja (Risk Awareness) terhadap kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Kesadaran akan risiko Kerja (Risk Awareness) memiliki pengaruh yang signifikan kepada kepatuhan terhadap risiko kerja. Kesadaran terkait dengan pemahaman atau pengetahuan yang lebih baik tentang konsekuensi dari suatu tindakan atau kebijakan, yang mendorong individu untuk lebih patuh terhadap aturan yang ada. Penelitian ini juga sejalan dengan penelitian lain yang menyatakan Siti Halimatul Munawarah, et al The Effect of NHI Contribution Assistance on Antenatal Care Pengaruh Bantuan Iuran JKN Terhadap Antenatal Care bahwa terdapat pengaruh positif kesadaran keselamatan risiko kerja terhadap kepatuhan penggunaan APD, dan persepsi risiko dapat memotivasi individu untuk mengambil tindakan pencegahan yang efektif (17). Pekerja yang memiliki kesadaran tinggi terhadap risiko kerja lebih cenderung menggunakan APD dibandingkan mereka yang tidak menyadari bahaya kerja. Kesadaran akan risiko kerja berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur kerja (18). Kesadaran akan risiko kerja berkontribusi terhadap peningkatan kepatuhan terhadap prosedur kerja, tetapi faktor lain seperti pengalaman kerja, sistem pelatihan, serta dukungan dari manajemen turut berperan dalam menentukan tingkat kepatuhan (19). Kesadaran terhadap risiko kerja memang memiliki pengaruh terhadap kepatuhan, tetapi tidak cukup untuk menjamin kepatuhan penuh terhadap prosedur keselamatan. Faktor lain seperti kenyamanan APD, persepsi tentang pentingnya keselamatan, dan pengawasan di tempat kerja juga memainkan peran penting dalam meningkatkan kepatuhan. Selain itu, tingkat pendidikan memiliki hubungan signifikan dengan kesadaran terhadap bahaya kerja, tetapi tidak selalu berbanding lurus dengan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Hal ini menunjukkan bahwa edukasi dan pelatihan keselamatan kerja perlu diperkuat, tidak hanya untuk meningkatkan kesadaran, tetapi juga untuk mendorong kepatuhan melalui pendekatan berbasis kebijakan dan pengawasan yang lebih ketat (20). Kesadaran pekerja terhadap bahaya kerja memiliki dampak signifikan terhadap evaluasi risiko dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Pekerja yang lebih sadar terhadap bahaya kerja cenderung mengidentifikasi risiko utama di tempat kerja mereka, seperti mesin bergerak dan paparan lingkungan, yang pada akhirnya mempengaruhi kepatuhan mereka terhadap langkah-langkah pencegahan. Implementasi langkah- langkah keselamatan yang berbasis pada persepsi pekerja dapat menurunkan tingkat risiko hingga 17%, menegaskan bahwa kesadaran akan risiko kerja harus didukung dengan intervensi manajemen yang tepat. Peningkatan kesadaran pekerja terhadap risiko kerja dapat meningkatkan kepatuhan mereka terhadap prosedur keselamatan, terutama jika didukung oleh Keskom, Vol 11, No 2, 2025 312 pelatihan keselamatan yang berkelanjutan dan kebijakan perusahaan yang mendukung (21). Kesadaran akan risiko kerja merupakan fondasi penting yang perlu diperkuat melalui pendekatan menyeluruh, termasuk edukasi yang tepat sasaran, pelatihan berkelanjutan, dan kebijakan perusahaan yang mendukung budaya keselamatan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, tetapi juga mampu menurunkan risiko kecelakaan secara signifikan di lingkungan kerja. Pengaruh Kesadaran akan risiko kerja (Risk Awareness) terhadap penurunan angka kecelakaan kerja Kesadaran akan risiko kerja memiliki pengaruh yang signifikan terhadap penurunan angka kecelakaan kerja. Kesadaran yang lebih tinggi berhubungan dengan peningkatan keputusan untuk mengurangi atau mengatasi masalah angka kejadian kecelakaan kerja. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan lain yang menunjukkan bahwa peningkatan kesadaran akan risiko kerja merupakan langkah kunci dalam mengurangi angka kecelakaan kerja. Banyak kecelakaan di industri konstruksi disebabkan oleh kurangnya kesadaran pekerja terhadap bahaya kerja, lemahnya komunikasi keselamatan, serta kurangnya keterlibatan pekerja dalam program keselamatan. Selain itu, metode tradisional dalam penilaian risiko kerja sering kali memiliki keterbatasan dalam menangani variabilitas lingkungan kerja. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran pekerja terhadap bahaya kerja perlu didukung dengan pendekatan berbasis data real-time serta metode yang lebih fleksibel, seperti penggunaan logika fuzzy dalam analisis risiko. Dengan demikian, hasil penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan kesadaran terhadap risiko kerja harus menjadi prioritas dalam strategi pencegahan kecelakaan kerja di industri berisiko tinggi (22). Sistem manajemen keselamatan yang efektif dapat meningkatkan kesadaran pekerja terhadap risiko kerja, yang pada akhirnya berkontribusi dalam menurunkan angka kecelakaan kerja. Sebagian besar pekerja memahami pentingnya keselamatan kerja, tingkat kepatuhan terhadap prosedur keselamatan masih menjadi tantangan, dengan kurang dari 50% Siti Halimatul Munawarah, et al The Effect of NHI Contribution Assistance on Antenatal Care Pengaruh Bantuan Iuran JKN Terhadap Antenatal Care pekerja yang benar-benar patuh. Peran manajemen dalam membentuk budaya keselamatan sangat penting dalam meningkatkan kesadaran dan kepatuhan pekerja terhadap prosedur keselamatan. Oleh karena itu, peningkatan kesadaran akan risiko kerja harus disertai dengan strategi yang lebih komprehensif, seperti pelatihan berbasis praktik, pengawasan yang lebih ketat, serta keterlibatan manajemen dalam memastikan bahwa keselamatan kerja menjadi prioritas utama dalam organisasi (23). Kesadaran terhadap risiko kerja memainkan peran penting dalam mengurangi paparan terhadap bahaya kerja. Pemadam kebakaran yang tidak menerima pelatihan lebih rentan terhadap kontaminasi dan memiliki tingkat kepatuhan yang lebih rendah terhadap prosedur keselamatan. Selain itu, budaya kerja memiliki dampak besar terhadap kepatuhan terhadap keselamatan. Hal ini menegaskan bahwa peningkatan kesadaran akan risiko kerja harus disertai dengan strategi yang lebih komprehensif, seperti pelatihan berkala, kebijakan pengawasan yang lebih ketat, serta perubahan budaya keselamatan di tempat kerja (24). Peningkatan kesadaran harus dilengkapi dengan strategi komprehensif seperti pelatihan berbasis praktik, pendekatan teknologi dalam penilaian risiko (misalnya berbasis data real-time dan logika fuzzy), pengawasan yang ketat, serta keterlibatan aktif manajemen dalam membentuk budaya keselamatan. Dengan kata lain, peningkatan kesadaran terhadap risiko kerja harus dilihat sebagai bagian dari upaya kolektif yang mencakup edukasi, pelatihan, sistem manajemen keselamatan, dan budaya kerja yang mendukung agar benar-benar efektif dalam menurunkan angka kecelakaan kerja secara berkelanjutan. Pengaruh Komitmen terhadap perilaku K3 (Comitment to safety behavior) terhadap kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Komitmen terhadap perilaku K3 berpengaruh positif kepada kepatuhan terhadap prosedur keselamatan. Komitmen sering diartikan sebagai kesediaan untuk terus mendukung dan mengikuti aturan atau kebijakan dalam jangka panjang. Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan lain yang menunjukkan bahwa komitmen organisasi terhadap Keskom, Vol 11, No 2, 2025 313 keselamatan kerja berperan penting dalam meningkatkan kepatuhan pekerja terhadap prosedur keselamatan. Saat pekerja merasakan adanya dukungan dari manajemen dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman, mereka lebih cenderung mematuhi aturan keselamatan dan terlibat dalam budaya keselamatan kerja (25). Komitmen terhadap keselamatan kerja memiliki hubungan positif dengan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan dan penurunan angka kecelakaan kerja. Studi tersebut menemukan bahwa pekerja yang merasakan adanya dukungan dari manajemen dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman lebih cenderung untuk mematuhi prosedur keselamatan kerja (26). Komitmen terhadap keselamatan kerja memiliki hubungan positif dengan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan dan berkontribusi pada penurunan angka kecelakaan kerja. Pekerja yang merasakan adanya dukungan dari manajemen dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman lebih cenderung untuk mematuhi prosedur keselamatan kerja (27). Komitmen terhadap keselamatan kerja memiliki hubungan positif dengan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan dan penurunan angka kecelakaan kerja. Studi tersebut menemukan bahwa manajemen keselamatan yang baik meningkatkan komitmen afektif karyawan terhadap organisasi, yang pada akhirnya memperkuat kepatuhan terhadap aturan keselamatan kerja (28). Organisasi yang memiliki kepemimpinan yang kuat dalam keselamatan kerja lebih cenderung memiliki pekerja yang patuh terhadap prosedur keselamatan (29). Komitmen terhadap K3 merupakan fondasi penting yang memperkuat budaya keselamatan di tempat kerja. Komitmen ini mampu meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, sekaligus berkontribusi dalam menurunkan angka kecelakaan kerja. Oleh karena itu, organisasi perlu membangun sistem keselamatan yang tidak hanya menekankan aturan, tetapi juga menumbuhkan komitmen afektif melalui kepemimpinan yang kuat, komunikasi yang efektif, dan kebijakan yang mendukung keselamatan sebagai prioritas utama. Siti Halimatul Munawarah, et al The Effect of NHI Contribution Assistance on Antenatal Care Pengaruh Bantuan Iuran JKN Terhadap Antenatal Care Pengaruh Komitmen terhadap perilaku K3 (Comitment to safety behavior) terhadap penurunan angka kecelakaan kerja Komitmen terhadap perilaku K3 memiliki pengaruh sangat signifikan terhadap penurunan angka kecelakaan kerja. Hal ini menunjukkan bahwa individu yang memiliki komitmen yang tinggi lebih cenderung terlibat dalam tindakan yang mengurangi masalah atau meningkatkan perubahan positif. Penelitian ini sejalan dengan peneliti lain yang menemukan bahwa pekerja yang mengalami tekanan kerja tinggi (job demands) lebih rentan melanggar prosedur keselamatan, sementara dukungan manajemen dan sumber daya kerja yang memadai (job resources) dapat meningkatkan keterlibatan kerja dan mengurangi pelanggaran keselamatan. Oleh karena itu, dalam konteks penelitian ini, peningkatan komitmen terhadap perilaku K3 perlu didukung dengan kebijakan manajemen yang lebih kuat serta penyediaan sumber daya yang mendukung kepatuhan terhadap prosedur keselamatan, sehingga dapat menurunkan angka kecelakaan kerja secara signifikan (30). Pekerja yang merasakan adanya dukungan dari rekan kerja dalam menciptakan lingkungan kerja yang aman lebih cenderung untuk mematuhi prosedur keselamatan kerja. Peningkatan komitmen terhadap perilaku K3 perlu didukung dengan kebijakan manajemen yang lebih kuat serta sistem keselamatan kerja yang efektif untuk memastikan bahwa pekerja memiliki kesadaran tinggi terhadap keselamatan kerja dan patuh terhadap prosedur keselamatan, sehingga risiko kecelakaan kerja dapat diminimalkan (31). Peningkatan kesadaran terhadap risiko kerja dan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan memiliki dampak signifikan terhadap penurunan angka kecelakaan kerja. Organisasi yang memiliki budaya keselamatan yang kuat, regulasi keselamatan yang ketat, serta program pelatihan keselamatan yang efektif, mengalami tingkat kecelakaan yang lebih rendah. Pekerja yang memiliki pemahaman yang baik terhadap risiko kerja lebih cenderung mematuhi aturan keselamatan kerja dan menghindari tindakan yang dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Oleh karena itu, dalam konteks penelitian ini, peningkatan komitmen terhadap perilaku K3 perlu didukung Keskom, Vol 11, No 2, 2025 314 dengan kebijakan manajemen yang lebih kuat serta sistem keselamatan kerja yang lebih efektif untuk memastikan bahwa pekerja memiliki kesadaran tinggi terhadap keselamatan kerja dan patuh terhadap prosedur keselamatan, sehingga risiko kecelakaan kerja dapat diminimalkan. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian, sikap positif pekerja terbukti memiliki pengaruh signifikan dalam meningkatkan kepatuhan terhadap prosedur keselamatan serta menurunkan angka kecelakaan kerja. Selain itu, kesadaran pekerja akan risiko yang ada turut memperkuat kepatuhan mereka terhadap prosedur keselamatan dan memberikan kontribusi dalam mengurangi tingkat kecelakaan kerja di lingkungan kerja. Komitmen terhadap perilaku keselamatan kerja juga memainkan peran penting dalam meningkatkan kepatuhan pekerja terhadap standar keselamatan serta menurunkan angka kecelakaan. Secara keseluruhan, model penelitian ini menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti sikap, kesadaran terhadap risiko, dan komitmen terhadap keselamatan kerja memiliki pengaruh yang moderat dalam meningkatkan kepatuhan serta menurunkan angka kecelakaan kerja di tempat kerja. Berdasarkan penelitian diatas terdapat beberapa saran dari peneliti yaitu pihak perusahaan dapat meningkatkan program pelatihan keselamatan berbasis TPB untuk membentuk sikap positif pekerja terhadap K3, mengembangkan sistem pengawasan dan reward untuk meningkatkan kepatuhan pekerja terhadap prosedur keselamatan serta menyediakan alat pelindung diri (APD) yang lebih nyaman agar pekerja lebih patuh dalam menggunakannya. DAFTAR PUSTAKA 1. 2. 3. Presiden RI. Peraturan Pemerintah RI Nomor 50 Tahun 2012 Tentang Penerapan Sistem Manajemen Keselamatan Kerja. ‫עלון הנוטע‬. 2012;66(10):37–9. Peraturan Kementerian Tenaga Kerja. Permenaker No. 03/Men/1998. 1998;2. Ketenagakerjaan M. Peraturan Menteri Ketenagakerjaan RI Nomor 9 Tahun 2016 Tentang Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam Pekerjaan pada Ketinggian. Siti Halimatul Munawarah, et al The Effect of NHI Contribution Assistance on Antenatal Care Pengaruh Bantuan Iuran JKN Terhadap Antenatal Care 4. Kassu Jilcha a,⇑ DK. Industrial occupational safety and health innovation for sustainable development. Eng Sci Technol an Int J. 2017;20:372–80. 5. Satu Data Ketenagakerjaan. Data Prioritas Ketenagakerjaan SDI 2023. 2023. Kecelakaan Kerja Tahun 2023. Available from: https://satudata.kemnaker.go.id/data/kumpulandata/1728. 6. Ketenagakerjaan B. BPJS Ketenagakerjaan. 2024. BPJS Ketenagakerjaan Gelar ToT K3 untuk Tekan Kecelakaan di Perkebunan Sawit. Available from: https://www.bpjsketenagakerjaan.go.id/berita/2 9100/BPJS-Ketenagakerjaan-Gelar-ToT-K3untuk-Tekan-Kecelakaan-di-PerkebunanSawit.?utm_source=chatgpt.com 7. Ajzen I. The Theory of Planned Behavior. Tagliche Prax. 1991;50(1):179–211. 8. Hidayatullah A, Tjahjawati SS. Pengaruh Keselamatan dan Kesehatan Kerja Terhadap Produktivitas Kerja Karyawan. J Ris Bisnis Investasi. 2017;3(2):90. 9. Mohammad Nasrullah TS. Hubungan Antara Knowledge, Attitude, Practice Safe Behavior Pekerja Dalam Upaya Untuk Menegakkan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Indones J Occup Saf Heal. 2014;3:82–93. 10. Rahayu EP. Hubungan Antara Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Karyawan dengan Penerapan Manajemen Budaya Keselamatan dan Kesehatan Kerja. J Kesehat Komunitas. 2015;2(6). 11. Hair JF, Hult GTM, Ringle CM, Sarstedt M, Danks NP, Ray S. Mediation Analysis. 2021. 139–153 p. 12. Hair JF, Risher JJ, Sarstedt M, Ringle CM. When to use and how to report the results of PLS-SEM. Eur Bus Rev. 2019;31(1):2–24. 13. Mohammad N, Tjipto S. Hubungan Antara Knowledge, Attitude, Practice Safe Behavior Pekerja Dalam Upaya Untuk Menegakkan Keselamatan Dan Kesehatan Kerja. Vol. 3, The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health. 2014. p. 82–93. 14. Farihah R. Hubungan antara Sikap Karyawan terhadap Penerapan Keselamatan dan Kesehatan Keskom, Vol 11, No 2, 2025 315 Kerja (K3) dengan Produktivitas KAryawan PT Toyotetsu Corporation. 2006; 15. Theodora O. Pengaruh Motivasi Kerja Terhadap Kinerja KaryawanPt.Sejahtera Motor Gemilang. Agora [Internet]. 2015;3(No.2):187– 95. Available from: https://www.neliti.com/publications/36432/pen garuh-motivasi-kerja-terhadap-kinerjakaryawan-ptsejahtera-motor-gemilang 16. Zulkifly SS, Zabidi N, Harith SH, Shamsudin MS, Yusof M, Zain AZM. Investigating the Dynamic Interactions Between Safety Knowledge, Attitudes, Behaviors, and Workplace Accidents Among Solid Waste Management Personnel. Int J Saf Secur Eng. 2024;14(6):1941–8. 17. Brewer NT, Weinstein ND, Cuite CL, Herrington JE. Risk Perceptions and Their Relation to Risk Behavior. Ann Behav Med. 2004;27(2):125–30. 18. Budhathoki SS, Singh SB, Sagtani RA, Niraula SR, Pokharel PK. Awareness of occupational hazards and use of safety measures among welders: A cross-sectional study from eastern Nepal. BMJ Open. 2014;4(6):1–6. 19. Braeckman L, Verbrugghe M, Janssens H, Verpraet R, Cobbaut L. Awareness, Knowledge, and Practices Regarding Occupational Hazards among Medical Students: A Longitudinal Study before and after Admission as Trainees. J Occup Environ Med. 2017;59(4):e41–5. 20. Faremi F, Ogunfowokan A, Mbada C, Olatubi M, Ogungbemi A. Occupational hazard awareness and safety practices among Nigerian sawmill workers. Int J Med Sci Public Heal. 2014;3(10):1244. 21. Patyk M, Nowak-Senderowska D. Occupational risk assessment based on employees’ knowledge and awareness of hazards in mining. Int J Coal Sci Technol [Internet]. 2022;9(1):1– 11. Available from: https://doi.org/10.1007/s40789-022-00554-5 22. Pinto A, Nunes IL, Ribeiro RA. Occupational risk assessment in construction industry Overview and reflection. Saf Sci. 2011;49(5):616–24. 23. Sukiennik M, Bąk P, Kapusta M. The impact of Siti Halimatul Munawarah, et al The Effect of NHI Contribution Assistance on Antenatal Care Pengaruh Bantuan Iuran JKN Terhadap Antenatal Care the management system on developing occupational safety awareness among employees. Inz Miner. 2019;2019(1):245–50. 24. Wolffe TAM, Turrell L, Robinson A, Dickens K, Clinton A, Maritan-Thomson D, et al. Culture and awareness of occupational health risks amongst UK firefighters. Sci Rep [Internet]. 2023;13(1):1–12. Available from: https://doi.org/10.1038/s41598-022-24845-8 25. Kaynak R, Tuygun Toklu A, Elci M, Tamer Toklu I. Effects of Occupational Health and Safety Practices on Organizational Commitment, Work Alienation, and Job Performance: Using the PLS-SEM Approach. Int J Bus Manag. 2016;11(5):146. 26. Amponsah-Tawiah K, Mensah J. Occupational Health and Safety and Organizational Commitment: Evidence from the Ghanaian Mining Industry. Saf Health Work [Internet]. 2016;7(3):225–30. Available from: http://dx.doi.org/10.1016/j.shaw.2016.01.002 27. Schwatka N V., Rosecrance JC. Safety climate and safety behaviors in the construction industry: The importance of co-workers commitment to safety. Work. 2016;54(2):401– 13. 28. Tan ZC, Tan CE, Choong YO. Occupational Safety & Health Management and Corporate Sustainability: The Mediating Role of Affective Commitment. Saf Health Work [Internet]. 2023;14(4):415–24. Available from: https://doi.org/10.1016/j.shaw.2023.10.006 29. Subramaniam C, Shamsudin FM, Alshuaibi ASI. Investigating employee perceptions of workplace safety and safety compliance using pls-sem among technical employees in Malaysia. J Appl Struct Equ Model. 2017;1(1):44–61. 30. Hansez I, Chmiel N. Safety Behavior: Job Demands, Job Resources, and Perceived Management Commitment to Safety. J Occup Health Psychol. 2010;15(3):267–78. 31. Tomei F. Occupational accidents and occupational risk prevention. Prev Res. 2016;5(2):80–95. Keskom, Vol 11, No 2, 2025 316