Jurnal Budi Pekerti Agama Islam Volume 3. Nomor 4. Agustus 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpai. Available online at: https://journal. id/index. php/jbpai Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Tafhim Al-QurAoan dalam Materi Amanah Kelas II Smp-T Darul AoAmal Emat Muslihat 1. Siti Qomariyah 2*. Tedi Tedi 3. Hendi Supandi 4 Institut Madani Nusantara. Indonesia Jl. Lio Balandongan 74 Citamiyang kota Sukabumi. Jawa Barat. Indonesia Email : stqomariyah36@gmail. com 1*, teddyazmy@gmail. Abstract. The instillation of trustworthiness . is an essential element in the character development of students, particularly within the framework of Islamic education. As a core moral value emphasized in both the Al-Quran and Hadith, amanah serves as a foundation for shaping students' integrity, responsibility, and Despite its significance, the teaching materials designed to instill this value have not been critically assessed, especially in terms of their content relevance and pedagogical effectiveness. This study aims to conduct an in-depth analysis of the Tafhim Al-Quran teaching materials used for Grade II students at SMP-T Darul 'Amal, focusing on the topic of amanah. Utilizing a qualitative approach with a descriptive method, data were gathered through the collection of documents, lesson plan (RPP) reviews, and interviews with subject teachers. The findings reveal that the teaching materials do cover the three learning domainsAicognitive, affective, and psychomotorAi but tend to disproportionately emphasize the cognitive domain. While the materials include references to AlQuran verses and Hadith concerning trustworthiness and the fulfillment of promises, they often lack practical, real-world examples that are relatable to the everyday experiences of adolescents. Moreover, the current instructional approach remains conventional and teacher-centered, offering limited opportunities for students to engage in reflective and participatory learning activities. In light of these findings, the study recommends the development of more contextualized and student-centered teaching materials. These materials should incorporate active learning strategies, such as group discussions, case studies, and experiential learning activities, to more effectively foster the internalization of amanah as a lived value. Enhancing the relevance and interactivity of character education in this way can significantly improve its impact on students' moral development. Keywords: Al-Quran. Character Education. SMP-T Darul 'Amal. Tafhim Al-Quran. Trustworthiness Abstrak. Penanaman nilai amanah merupakan bagian penting dari pembentukan karakter peserta didik yang berlandaskan ajaran Islam. Namun, efektivitas bahan ajar yang digunakan dalam menyampaikan nilai-nilai tersebut belum banyak dikaji secara kritis. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam konten dan pendekatan bahan ajar Tafhim Al-Quran pada materi "Amanah" di Kelas II SMP-T Darul 'Amal. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Data dikumpulkan melalui dokumentasi, observasi RPP, serta wawancara dengan guru pengampu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan ajar telah mencakup dimensi kognitif, afektif, dan psikomotor secara umum, namun masih dominan pada aspek kognitif. Materi tentang amanah dan Amanah telah dikaitkan dengan ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis, namun kurang disertai dengan contoh kontekstual yang sesuai dengan realitas kehidupan remaja. Selain itu, pendekatan pembelajaran masih konvensional dan belum sepenuhnya mendorong partisipasi aktif siswa dalam refleksi sikap. Oleh karena itu, diperlukan pengembangan bahan ajar yang lebih aplikatif, kontekstual, serta mengintegrasikan metode pembelajaran aktif untuk membentuk karakter amanah secara lebih optimal. Kata Kunci: Al-Quran. Amanah. Pendidikan Karakter. SMP-T Darul 'Amal . Tafhim Al-Quran. LATAR BELAKANG Pendidikan Agama Islam memainkan peranan krusial dalam menempa karakter dan akhlak mulia generasi muda, khususnya di jenjang SMP. Masa ini adalah periode transisi yang vital dalam perkembangan psikologis dan sosial remaja, panggung di mana mereka mulai mencari jati diri. Oleh karena itu, penanaman nilai-nilai Islam secara intensif menjadi amat relevan, berfungsi sebagai fondasi kokoh bagi perilaku mereka di masa depan. Received: Juni 15, 2025. Revised: Juni 30, 2025. Accepted Juli 27, 2025. Online Available: Juli 29, 2025 Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Tafhim Al-QurAoan dalam Materi Amanah Kelas II Smp-T Darul AoAmal Salah satu pilar utama yang diajarkan dalam pendidikan Islam adalah amanah. Dalam konteks interaksi sosial . , amanah tidak sekadar menjadi bagian dari ajaran AlQur'an dan Hadis, namun juga esensi ajaran Islam yang kaya dimensi spiritual, sosial, dan etika. Amanah, alam pandangan Islam, adalah ciri khas pribadi beriman, membawa konsekuensi pada integritas diri serta kepercayaan yang terbangun dalam setiap jalinan hubungan sosial. Menanamkan nilai amanah sejak dini adalah keharusan. Tujuannya bukan hanya menciptakan individu yang taat dalam ibadah ritual, melainkan juga membentuk pribadi yang berakhlak mulia dan konsisten memegang teguh amanah dalam setiap aspek kehidupan. Dengan demikian, kita berharap dapat melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berintegritas tinggi dan dapat diandalkan (Ramli. Pembelajaran Tafhim Al-Qur'an seyogianya bukan hanya sekadar hafalan ayat. Ia harus bertransformasi menjadi instrumen strategis yang membentuk karakter utuh peserta didik. Mata pelajaran ini membuka peluang emas bagi para pendidik untuk menyemaikan ajaran Islam melalui pendekatan berbasis nilai . alue-based learnin. Di sini, siswa tak hanya diajak memahami konten tekstual Al-Qur'an dan Hadis, namun juga mendalami, menghayati, dan secara aktif mengimplementasikan nilai-nilai luhur tersebut dalam setiap aspek kehidupan Rasulullah SAW adalah prototipe sempurna dari nilai amanah. Bahkan jauh sebelum kenabian, beliau telah masyhur dengan julukan "al-Amin" dari masyarakat Quraisy, sebuah pengakuan universal atas integritas dan kemampuannya menjaga kepercayaan. Keteladanan agung beliau dalam amanah ini harus menjadi episentrum pembelajaran di kelas. Baik melalui penelusuran kisah hidup . yang menginspirasi, refleksi mendalam terhadap nilai-nilai yang terkandung, maupun praktik langsung dalam interaksi sehari-hari, siswa akan menemukan relevansi konkret dari konsep amanah. Pendekatan holistik ini akan memastikan bahwa materi agama tidak lagi menjadi sekadar konsep abstrak, melainkan fondasi kokoh bagi pembentukan pribadi yang berintegritas dan dapat diandalkan dalam realitas dunia (Sutrisna. Meskipun nilai amanah telah diajarkan melalui berbagai materi ajar, kenyataan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang hanya memahami amanah secara teoritis, tanpa mampu mengaktualisasikannya dalam perilaku sehari-hari. Fenomena ini menunjukkan bahwa terjadi kesenjangan serius antara pengetahuan yang diperoleh di kelas dan pembentukan sikap atau karakter yang seharusnya menjadi tujuan utama dari pendidikan Islam. Hal ini mentransformasi nilai menjadi kebiasaan atau budaya perilaku. Salah satu faktor penyebab JBPAI Ae VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. yang dominan adalah pendekatan pembelajaran yang terlalu berorientasi pada kognitif semata, serta bahan ajar yang bersifat tekstual dan kurang kontekstual. Guru sering kali lebih fokus pada penyampaian materi atau penguasaan isi pelajaran demi kepentingan penilaian akademik, tanpa memfasilitasi proses internalisasi nilai secara menyeluruh. Padahal, pembentukan sikap membutuhkan keterlibatan emosional dan penguatan moral melalui berbagai strategi pembelajaran yang reflektif dan aplikatif (Rohman. , & MaAoruf. Agar pembelajaran Tafhim Al-QurAoan dapat menghasilkan dampak nyata dalam membentuk kepribadian siswa yang amanah, bahan ajar yang digunakan harus mengintegrasikan secara seimbang ketiga ranah utama pembelajaran: kognitif . , afektif . , dan psikomotor . erilaku nyat. Materi yang hanya berisi definisi, dalil, atau penjabaran konsep normatif akan menjadi kering apabila tidak dikaitkan dengan kehidupan nyata peserta didik. Bahan ajar yang demikian tidak memberikan ruang bagi siswa untuk merenung, berefleksi, dan mengaitkan nilai amanah dengan dinamika kehidupan sosial mereka, baik di sekolah, rumah, maupun masyarakat. Oleh karena itu, sangat penting bagi guru untuk merancang bahan ajar yang tidak hanya menyampaikan informasi agama, tetapi juga memuat studi kasus, simulasi, permainan peran, atau proyek sosial yang dapat mengasah sensitivitas moral dan kebiasaan berperilaku amanah. Pembelajaran yang kontekstual ini akan lebih bermakna dan dapat meningkatkan keterlibatan emosional siswa, sehingga nilai amanah tidak sekadar dihafal, tetapi juga menjadi bagian dari kepribadian mereka (Majid. Implementasi Kurikulum Merdeka di berbagai jenjang pendidikan, membawa angin segar dalam pengembangan bahan ajar yang lebih adaptif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. Kurikulum ini memberi ruang luas bagi guru untuk merancang perangkat ajar yang tidak kaku dan seragam, tetapi disesuaikan dengan kondisi nyata siswa di lapangan. Dalam konteks pembelajaran nilai amanah, guru dapat mengembangkan model ajar berbasis proyek, pengalaman lapangan, dan pendekatan reflektif yang memungkinkan siswa belajar melalui kegiatan langsung. Namun, fleksibilitas ini juga menuntut guru untuk memiliki kompetensi yang tinggi, baik dalam aspek pedagogik, penguasaan materi, maupun inovasi dalam menyusun strategi pembelajaran. Guru dituntut untuk tidak hanya menjadi penyampai materi, tetapi juga fasilitator nilai dan pembimbing moral yang mampu menyesuaikan pembelajaran dengan perkembangan zaman dan kebutuhan karakter peserta didik (Kemendikbudristek. Untuk memastikan efektivitas bahan ajar dalam membentuk karakter amanah siswa, sangat penting dilakukan studi kritis dan evaluasi yang komprehensif terhadap isi, metode, serta pendekatan yang digunakan dalam penyusunannya. Studi ini tidak hanya menilai Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Tafhim Al-QurAoan dalam Materi Amanah Kelas II Smp-T Darul AoAmal kesesuaian bahan ajar dengan kurikulum formal, tetapi juga menelaah sejauh mana bahan tersebut mampu menyentuh sisi afektif dan mendorong perubahan perilaku nyata. Evaluasi ini dapat dilakukan melalui berbagai metode seperti observasi kelas, refleksi guru dan siswa, serta penilaian berbasis portofolio yang menunjukkan perkembangan karakter peserta didik. Hasil analisis ini nantinya dapat menjadi bahan pertimbangan bagi perbaikan dan inovasi dalam pengembangan bahan ajar Tafhim Al-QurAoan di masa mendatang. Dengan demikian, pendidikan agama Islam tidak hanya menghasilkan siswa yang cerdas secara kognitif, tetapi juga berkarakter kuat, amanah, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosialnya (Zuchdi, , & Budiasih. SMP-T Darul AoAmal, sebagai lembaga pendidikan Islam perlu melakukan evaluasi terhadap efektivitas bahan ajar yang digunakan, terutama pada materi-materi yang berkaitan langsung dengan pembentukan karakter peserta didik. Materi Amanah menjadi sangat relevan ditelaah karena bersinggungan langsung dengan dinamika sosial remaja yang kerap diuji dengan berbagai tantangan amanah dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara kritis bahan ajar Tafhim Al-QurAoan pada materi AuamanahAy kelas II SMP-T Darul AoAmal. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan harapan dapat memberikan gambaran nyata mengenai kekuatan dan kelemahan bahan ajar yang digunakan serta memberikan saran pengembangan ke depannya. KAJIAN TEORITIS Teori Pendidikan Karakter Pendidikan karakter merupakan proses penanaman nilai-nilai moral, etika, dan spiritual ke dalam diri peserta didik agar menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Menurut Thomas Lickona . , pendidikan karakter adalah usaha yang disengaja untuk membantu seseorang memahami, merasakan, dan melakukan nilai-nilai etis yang esensial, seperti rasa hormat, tanggung jawab, kejujuran, dan amanah. Lickona menekankan bahwa pendidikan karakter tidak cukup hanya melalui pengajaran kognitif, melainkan juga harus melibatkan dimensi afektif dan perilaku . Dalam konteks pendidikan Islam, amanah merupakan salah satu nilai inti yang tidak hanya diajarkan secara normatif dalam Al-QurAoan dan Hadis, tetapi juga menjadi indikator keberhasilan karakter seorang mukmin. Pendidikan karakter dalam Islam tidak hanya bertujuan membentuk manusia yang baik . ood huma. , tetapi juga manusia yang beriman dan bertakwa . nsan kami. , sebagaimana dicontohkan oleh Rasulullah SAW. JBPAI Ae VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. Teori Perkembangan Remaja Remaja, khususnya pada jenjang SMP, berada dalam fase transisi dari masa anak-anak menuju dewasa. Pada tahap ini, menurut Erik Erikson, remaja berada dalam krisis identitas . dentity vs role confusio. , di mana mereka mulai mencari jati diri dan nilai-nilai hidup yang ingin mereka pegang. Nilai amanah, jika ditanamkan secara kontekstual dan menyentuh sisi emosional, dapat menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas moral remaja. Dalam hal ini, pendidikan agama yang berbasis nilai, seperti pembelajaran Tafhim AlQurAoan, sangat strategis untuk membantu peserta didik menemukan makna hidup yang sesuai dengan ajaran Islam dan menjadikan nilai amanah sebagai bagian dari kepribadiannya. Teori Belajar Konstruktivisme Teori konstruktivisme, sebagaimana dijelaskan oleh Jean Piaget dan Lev Vygotsky, menyatakan bahwa peserta didik membangun pengetahuannya melalui pengalaman nyata dan interaksi sosial. Oleh karena itu, proses pembelajaran harus memberi ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi nilai-nilai secara aktif, bukan sekadar menerima informasi dari guru. Dalam konteks pembelajaran nilai amanah, pendekatan konstruktivis berarti peserta didik tidak hanya diajarkan definisi amanah secara tekstual, tetapi juga diajak merefleksikan pengalaman pribadi, berdiskusi, melakukan simulasi, atau proyek sosial yang memungkinkan mereka memahami dan mempraktikkan amanah dalam kehidupan nyata. Pendekatan Pembelajaran Berbasis Nilai (Value-Based Learnin. Pembelajaran berbasis nilai adalah pendekatan yang menekankan pentingnya integrasi antara penguasaan pengetahuan dan internalisasi nilai moral. Halstead dan Taylor . menyebutkan bahwa pembelajaran nilai harus melalui tiga tahapan utama: Pengenalan nilai . nowing the goo. Penghayatan nilai . esiring the goo. Pelaksanaan nilai . oing the goo. Bahan ajar Tafhim Al-QurAoan, jika dirancang dengan pendekatan ini, harus mengandung materi yang tidak hanya menjelaskan konsep amanah secara teologis, tetapi juga memberikan ruang bagi siswa untuk menghayati nilai tersebut melalui refleksi, diskusi, dan pengalaman langsung. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan Islam untuk menciptakan insan yang mampu mengilmui, mengimani, dan mengamalkan ajaran Al-QurAoan dalam kehidupan. Konsep Tafhim Al-QurAoan sebagai Media Pembentukan Karakter Tafhim Al-QurAoan secara etimologis berarti Aumemahami isi Al-QurAoan dengan menyeluruhAy. Dalam konteks pendidikan Islam. Tafhim bukan hanya transfer ilmu, tetapi juga transformasi nilai. Menurut Al-Attas . , pendidikan dalam Islam adalah proses penyucian jiwa dan penanaman adab, yang puncaknya adalah pembentukan akhlak. Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Tafhim Al-QurAoan dalam Materi Amanah Kelas II Smp-T Darul AoAmal Oleh karena itu, bahan ajar Tafhim Al-QurAoan harus menyentuh dimensi spiritual . aqarrub ilalla. , rasional . embuktian dan pemahaman dali. , serta sosial . plikasi dalam Nilai amanah menjadi sangat relevan dalam konteks ini karena merupakan refleksi dari kedalaman spiritual dan integritas sosial seseorang. Implementasi Kurikulum Merdeka dalam Pendidikan Karakter Kurikulum Merdeka memberikan fleksibilitas bagi guru untuk menyusun bahan ajar yang kontekstual, bermakna, dan berpusat pada peserta didik. Prinsip diferensiasi dan pembelajaran berbasis proyek dalam kurikulum ini membuka ruang luas bagi pengembangan nilai amanah secara holistik. Melalui pendekatan yang menekankan pada pengalaman belajar nyata, guru dapat merancang pembelajaran Tafhim Al-QurAoan yang tidak hanya menyampaikan konten agama, tetapi juga membentuk sikap dan karakter siswa melalui kegiatan reflektif, praktik sosial, dan evaluasi formatif yang menekankan proses pembentukan Kajian teoritis ini memperkuat urgensi dan relevansi penelitian terhadap bahan ajar Tafhim Al-QurAoan, khususnya dalam konteks pendidikan karakter nilai amanah pada peserta didik jenjang SMP. Ia juga menjadi pijakan konseptual yang kokoh dalam mengevaluasi efektivitas bahan ajar, sekaligus memberikan arah untuk pengembangannya sesuai dengan kebutuhan zaman dan karakter peserta didik. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode penelitian dengan pendekatan kualitatif deskriptif yang dirancang untuk memperoleh pemahaman mendalam mengenai implementasi kebijakan Kampus Merdeka sebagai respon pemerintah terhadap tantangan pendidikan tinggi di masa pandemi COVID-19. Fokus penelitian ini adalah untuk menelaah bagaimana kebijakan tersebut dijalankan di lingkungan perguruan tinggi serta bagaimana kebijakan tersebut memengaruhi kualitas pembelajaran dan kesiapan mahasiswa menghadapi dunia kerja di tengah kondisi krisis. Teknik Analisis Data Setelah data terkumpul, tahap selanjutnya adalah pengelolaan dan analisis data yang menjadi dasar penarikan kesimpulan secara rinci dan mendalam. Mengacu pada pendapat Miles dan Huberman yang dikutip oleh Sugiyono, analisis data kualitatif dilakukan melalui beberapa tahapan, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. JBPAI Ae VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. Pengumpulan Data Pada tahap ini, peneliti mengumpulkan data yang berkaitan dengan implementasi Kampus Merdeka selama pandemi. Teknik pengumpulan data meliputi wawancara dengan dosen dan mahasiswa, observasi kegiatan pembelajaran daring dan program Kampus Merdeka, serta dokumentasi kebijakan dan laporan evaluasi pelaksanaan program. Reduksi Data Setelah data dikumpulkan, peneliti melakukan penyaringan dan peringkasan informasi penting yang relevan dengan tujuan penelitian. Informasi dikelompokkan berdasarkan tema seperti efektivitas program, kendala pelaksanaan, dampak terhadap mahasiswa, dan adaptasi perguruan tinggi. Reduksi data ini memungkinkan peneliti untuk lebih fokus pada temuan yang Penyajian Data Data yang telah direduksi disusun dan disajikan dalam bentuk narasi dan deskripsi yang menggambarkan pola-pola temuan utama. Penyajian ini membantu peneliti dan pembaca untuk memahami konteks pelaksanaan kebijakan Kampus Merdeka di lapangan selama masa Penarikan Kesimpulan/Verifikasi Setelah data dianalisis, peneliti menarik kesimpulan sementara berdasarkan pola dan temuan yang muncul. Kesimpulan ini kemudian diverifikasi kembali melalui pengujian ke konsistensian informasi dan pertimbangan dari berbagai sumber data. Proses ini dilakukan Teknik Uji Keabsahan Data Untuk memastikan keabsahan dan keandalan data, peneliti menggunakan teknik Triangulasi adalah metode untuk memverifikasi data melalui berbagai sumber dan pendekatan, sebagaimana dijelaskan oleh Moleong. Dalam penelitian ini, digunakan beberapa bentuk triangulasi berikut: Triangulasi Sumber Peneliti membandingkan data yang diperoleh dari berbagai informan, seperti mahasiswa, dosen, dan pihak pengelola program Kampus Merdeka, guna menguji konsistensi informasi yang diberikan. Triangulasi Metode Dilakukan dengan menggunakan lebih dari satu metode pengumpulan data, seperti wawancara, observasi, dan dokumentasi, untuk memperoleh data yang lebih komprehensif. Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Tafhim Al-QurAoan dalam Materi Amanah Kelas II Smp-T Darul AoAmal Triangulasi Teori Peneliti juga menggunakan berbagai perspektif teori kebijakan publik dan teori pendidikan tinggi untuk memahami dan memverifikasi temuan penelitian secara mendalam. Selain triangulasi, peneliti juga menerapkan teknik member check, yakni dengan meminta klarifikasi dan konfirmasi dari para partisipan terhadap data yang telah direkam dan ditafsirkan, guna memastikan akurasi dan mencegah kesalahan interpretasi. Untuk lebih menjamin validitas hasil penelitian, peneliti juga melakukan pengujian kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas. Uji kredibilitas memastikan keandalan data. transferabilitas menjamin bahwa hasil dapat diterapkan dalam konteks serupa. dependabilitas menunjukkan konsistensi data. dan konfirmabilitas memastikan bahwa hasil penelitian bebas dari bias peneliti. HASIL DAN PEMBAHASAN Materi tentang perilaku dalam mata pelajaran Tafhim Al-QurAoan pada kelas II SMPT Darul AoAmal merupakan upaya untuk memberikan pemahaman kepada siswa tentang bagaimana menerapkan perilaku amanah dalam bermualah dalam kehudupan sehari-hari. Berdasarkan RPP yang disediakan, tujuan pembelajaran dari materi ini adalah untuk membantu siswa memahami perilaku dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun, dalam melihat tujuan pembelajaran ini, terdapat beberapa aspek yang dapat dianalisis secara kritis, baik dari sisi ketidaksesuaian, kekurangan, maupun rekomendasi perbaikannya. Berdasarkan tujuan penelitian pada makalah ini, maka hasil penelitian diuraikan sebagai Studi kritis terhadap tujuan pembelajaran bahan ajar Tafhim Al-QurAoan materi Amanah kelas II SMP-T Darul AoAmal Kesesuaian Tujuan Pembelajaran Tujuan pembelajaran dalam RPP yang dianalisis telah mencerminkan tiga domain utama dalam teori pembelajaran: Ranah Kognitif Contoh: AuMenjelaskan pengertian perilaku amanah. Ay Merupakan langkah awal untuk memastikan bahwa siswa memahami konsep yang akan diinternalisasi dan diaplikasikan. Pemahaman yang mendalam menjadi dasar bagi perubahan sikap dan perilaku. Ranah Afektif Contoh: AuMeningkatkan keyakinan bahwa amanah adalah ajaran pokok agama. Ay JBPAI Ae VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. Tujuan ini menunjukkan bahwa pembelajaran diarahkan untuk membangun keyakinan internal peserta didik terhadap nilai amanah sebagai bagian dari ajaran Islam. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan karakter yang menekankan penguatan nilai dalam diri siswa, bukan sekadar pemahaman kognitif. Ranah Psikomotorik Contoh: AuMenampilkan perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari. Ay Tujuan ini menunjukkan adanya harapan bahwa siswa akan mengaktualisasikan nilai amanah dalam tindakan nyata. Ini penting karena keberhasilan pendidikan karakter bukan diukur dari seberapa banyak siswa tahu, tetapi seberapa mereka mampu berbuat. Selain itu, tujuan-tujuan ini juga sejalan dengan Profil Pelajar Pancasila, terutama dalam aspek: Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia. Berkebhinekaan global . elalui penghormatan nilai amanah dalam interaksi sosia. Mandiri . elalui kesadaran bertanggung jawab atas janji dan tindaka. Kekurangan Tujuan Pembelajaran Meskipun sudah mengarah ke penguatan karakter, beberapa kekurangan tetap perlu Rumusan Tujuan Kurang Operasional (Non-SMART) Tujuan pembelajaran yang tidak dirumuskan secara SMART (Specific. Measurable. Achievable. Relevant. Time-boun. menyulitkan pengukuran keberhasilan. Misalnya, frasa "meningkatkan keyakinan. " tidak secara jelas mengindikasikan bagaimana 'keyakinan' itu akan diukur. Dalam konteks pendidikan, tujuan harus bisa diobservasi dan dinilai secara Tidak menggunakan kata kerja operasional Taksonomi Bloom secara konsisten Tujuan pembelajaran yang efektif memerlukan kata kerja yang dapat diobservasi. Kata kerja seperti "meningkatkan" atau "menghayati" memang kurang ideal karena sulit diukur secara Untungnya. Taksonomi Bloom yang direvisi oleh Anderson & Krathwohl menyediakan kerangka kerja yang solid. Dengan tingkatan seperti remembering, understanding, applying, analyzing, evaluating, dan creating, kita bisa merumuskan tujuan dengan lebih spesifik. Misalnya, memilih kata kerja seperti "mengungkapkan, menjelaskan, membandingkan, atau menerapkan" akan sangat membantu dalam menilai kemajuan siswa secara lebih nyata. Tidak Tujuan yang baik akan dijabarkan lebih lanjut dalam bentuk indikator. Misalnya, indikator dari Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Tafhim Al-QurAoan dalam Materi Amanah Kelas II Smp-T Darul AoAmal tujuan Aumenampilkan perilaku amanah. Ay bisa berupa: siswa mampu memberikan contoh perilaku amanah saat diskusi kelompok atau simulasi sosial. Rekomendasi Perbaikan Tujuan Pembelajaran Agar tujuan pembelajaran pada materi amanah dalam bahan ajar Tafhim Al-QurAoan menjadi lebih terstruktur dan mudah dievaluasi, maka beberapa perbaikan berikut sangat Merumuskan Tujuan dengan Prinsip SMART Tujuan harus dirumuskan dengan memperhatikan lima kriteria: Spesifik: Fokus pada satu kompetensi atau hasil yang ingin dicapai. Measurable: Dapat diukur melalui indikator perilaku yang jelas. Achievable: Realistis sesuai dengan kemampuan peserta didik dan waktu yang tersedia. Relevant: Sesuai dengan konteks materi dan kebutuhan karakter siswa. Time-bound: Dicapai dalam kurun waktu tertentu . isalnya satu pertemuan atau satu tem. Contoh sebelum: AuPeserta didik diharapkan dapat meningkatkan keyakinan terhadap pentingnya amanah dalam Ay Contoh sesudah (SMART): AuSetelah mengikuti pembelajaran, peserta didik mampu menjelaskan makna amanah berdasarkan QS. Al-MuAominun: 8 dan memberikan contoh penerapannya dalam kehidupan sehari-hari secara lisan dan tertulis. Ay Menggunakan Kata Kerja Operasional Taksonomi Bloom Rumusan tujuan perlu menggunakan kata kerja operasional yang observabel dan terukur berdasarkan tingkatan Taksonomi Bloom yang telah direvisi (Anderson & Krathwoh. Contoh kata kerja yang sesuai antara lain: Remembering: menyebutkan, mengidentifikasi, menghafal Understanding: menjelaskan, menguraikan, menafsirkan Applying: menerapkan, menggunakan, mendemonstrasikan Analyzing: membedakan, membandingkan, mengklasifikasikan Evaluating: menilai, mengkritisi, menyimpulkan Creating: merancang, membuat, menyusun Contoh rumusan yang disarankan: AuPeserta didik mampu menjelaskan pengertian amanah menurut Al-QurAoan dan Hadis. Ay AuPeserta didik dapat membedakan antara perilaku yang mencerminkan amanah dan tidak amanah dalam kehidupan remaja. Ay JBPAI Ae VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. AuPeserta didik dapat menyusun cerita pendek bertema amanah sebagai tugas proyek individu. Ay Menurunkan Tujuan ke dalam Indikator Pencapaian Setiap tujuan pembelajaran idealnya dijabarkan ke dalam beberapa indikator spesifik, yang menjadi dasar asesmen formatif dan sumatif. Indikator ini akan membantu guru dalam mengobservasi, mencatat, dan mengevaluasi proses maupun hasil belajar siswa secara objektif. Contoh indikator dari tujuan Aumenampilkan perilaku amanahAy: Siswa dapat memberikan dua contoh nyata perilaku amanah di sekolah. Siswa dapat berperan sebagai tokoh yang amanah dalam simulasi jual beli di kelas. Siswa dapat membuat jurnal reflektif tentang pengalaman mereka menjalankan amanah di Studi kritis terhadap materi pembelajaran bahan ajar Tafhim Al-QurAoan materi Amanah kelas II SMP-T Darul AoAmal Kesesuaian Materi dengan Tujuan Pendidikan Karakter Kesesuaian Konseptual Materi Amanah telah sesuai dengan tujuan utama Pendidikan Agama Islam, yaitu pembentukan akhlak mulia dan penguatan nilai karakter Islami. Dalam dokumen RPP, tujuan pembelajaran mencakup aspek spiritual dan sosial, seperti meningkatkan keyakinan terhadap pentingnya amanah dan Amanah sebagai ajaran pokok agama serta ciri orang beriman. Keselarasan dengan Kurikulum Merdeka RPP memuat elemen-elemen pembelajaran yang selaras dengan Kurikulum Merdeka, seperti pendekatan literasi, berpikir kritis, kreativitas, dan penggunaan asesmen formatif dan sumatif secara variatif. Pendekatan Kontekstual dan Reflektif Mulai Diterapkan Terdapat usaha mengaitkan pembelajaran dengan kehidupan sehari-hari siswa, termasuk melalui kegiatan bermain peran . ce breaking, penugasan, dan penilaian portofoli. , serta refleksi nilai amanah melalui diskusi dan game edukatif. Kekurangan dalam Implementasi Pembelajaran Minimnya Sentuhan Emosional dalam Pembelajaran Meski indikator sikap sudah tercantum, namun belum terlihat eksplorasi metode pembelajaran yang mendorong refleksi mendalam secara personal . isalnya melalui journaling, simulasi konflik moral, atau studi kasus realisti. Sumber Belajar Terbatas Sumber belajar yang digunakan hanya mengandalkan buku teks dan media proyeksi Hal ini membuat siswa cenderung pasif dan berpotensi tidak mendapatkan ilustrasi Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Tafhim Al-QurAoan dalam Materi Amanah Kelas II Smp-T Darul AoAmal konkret penerapan amanah dalam berbagai konteks sosial saat ini . isal: media sosial, transaksi digital, atau kehidupan remaja sehari-har. Kegiatan Proyek Sosial Belum Terintegrasi Belum terdapat integrasi kegiatan proyek sosial . isalnya: observasi perilaku amanah di lingkungan sekolah, membuat kampanye amanah, atau wawancara dengan tokoh masyaraka. yang dapat memperkuat internalisasi nilai secara psikomotorik dan sosial. Penilaian Karakter Cenderung Generik Walaupun penilaian sikap telah diakomodasi dengan teknik observasi, penilaian diri, dan antarteman, indikator yang digunakan masih bersifat umum dan belum menyasar indikator konkrit perilaku amanah secara terukur. Rekomendasi Pengembangan Bahan Ajar dan Pembelajaran Integrasikan Pendekatan Value-Based Learning dan Experiential Learning Pengembangan bahan ajar sebaiknya tidak terbatas pada penyampaian konsep normatif, melainkan mengarah pada pengalaman belajar yang menyentuh ranah afektif dan psikomotor peserta didik. Pendekatan berbasis nilai . alue-based learnin. mendorong siswa untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai Islam seperti amanah secara utuh melalui pemaknaan personal dan kontekstual. Selain itu, experiential learning memungkinkan siswa mengalami langsung proses pembelajaran melalui kegiatan nyata yang bermakna, seperti proyek sosial, observasi lapangan, atau penyusunan vlog reflektif tentang praktik amanah dalam kehidupan sehari-hari (Zuchdi. , & Budiasih. Kembangkan Sumber Belajar Kontekstual dan Multimedia Bahan ajar yang efektif hendaknya bersifat kontekstual dan relevan dengan dinamika sosial budaya peserta didik. Penggunaan sumber belajar tambahan seperti video edukatif, infografik, artikel aktual tentang kasus ketidak amanahan . i sekolah, media sosial, atau masyaraka. , dan cerita inspiratif dapat membantu siswa memahami realitas kehidupan secara lebih konkret. Platform digital seperti Google Form. Quizziz, atau Padlet juga dapat dimanfaatkan untuk membuat kuis reflektif, evaluasi nilai, atau diskusi daring yang memperkuat interaksi dan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran (Kemendikbudristek. Desain Penilaian Karakter yang Lebih Autentik Penilaian karakter tidak cukup dilakukan hanya dengan observasi umum atau penilaian diri yang bersifat subjektif. Perlu disusun instrumen penilaian yang lebih spesifik dan terstruktur, seperti moral dilemma test . ji dilema mora. , reflektif journaling . urnal nila. , atau karakter checklist berbasis indikator perilaku amanah. Misalnya: "berani mengakui JBPAI Ae VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. kesalahan", "tidak mencontek dalam ujian", atau "konsisten berkata benar meski dirugikan". Penilaian seperti ini akan lebih mendalam dalam mengukur perkembangan sikap dan integritas moral peserta didik (Widodo. Fasilitasi Kegiatan Kolaboratif dan Partisipatif Pembelajaran nilai akan lebih kuat jika dibangun dalam suasana kolaboratif dan Guru dapat merancang kegiatan diskusi kelompok berbasis studi kasus nyata, debat moral, atau permainan peran . tentang konflik amanah. Selain itu, forum reflektif di kelas atau media sosial kelas . isalnya grup WA atau Telegram edukati. dapat menjadi ruang berbagi pengalaman pribadi siswa tentang tantangan dan praktik amanah dalam kehidupan sehari-hari (Rohman. , & MaAoruf. Kegiatan ini tidak hanya melatih keterampilan sosial, tetapi juga menumbuhkan empati dan penguatan nilai secara kolektif. Studi kritis terhadap metode pembelajaran bahan ajar Tafhim Al-QurAoan materi Amanah kelas II SMP-T Darul AoAmal Kesesuaian Metode Pembelajaran Berdasarkan RPP, metode pembelajaran menunjukkan beberapa elemen yang telah sesuai dengan pendekatan karakter dan Kurikulum Merdeka: Berbasis Nilai Karakter: Tujuan pembelajaran tidak hanya mencakup aspek kognitif . enjelaskan dan menyimpulka. , tetapi juga afektif . enghayati dan menampilkan amana. yang sesuai dengan pendekatan pendidikan karakter Islami. Aktivitas Literasi dan Critical Thinking: Siswa diajak mengamati tayangan, mencatat, dan mengidentifikasi poin penting ini mencerminkan pendekatan literasi kritis dan berpikir tingkat Penilaian Beragam dan Holistik: Instrumen penilaian mencakup penilaian sikap spiritual, sosial, kognitif, dan keterampilan . ortofolio, produk, proyek, observasi, penilaian diri dan antartema. , mendukung penilaian formatif dan sumatif. Kegiatan Penutup Aktif: Rangkuman, refleksi, dan game edukatif sebagai evaluasi menunjukkan upaya untuk menguatkan keterlibatan emosional siswa. Kekurangan dan Kelemahan yang Teridentifikasi Namun, terdapat beberapa kekurangan yang bisa menghambat efektivitas dalam membentuk karakter amanah secara kontekstual: Minimnya Pembelajaran Kontekstual Meskipun ada tayangan dan diskusi, belum tampak keterlibatan siswa dalam studi kasus nyata, simulasi, atau proyek berbasis kehidupan sehari-hari yang dapat mengaitkan amanah dengan realitas sosial di sekolah atau keluarga. Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Tafhim Al-QurAoan dalam Materi Amanah Kelas II Smp-T Darul AoAmal Ketergantungan pada Media Visual dan Ceramah Guru hanya menggunakan tayangan materi . ari laptop dan infoku. , tanpa ada petunjuk penggunaan media yang lebih interaktif atau partisipatif seperti permainan peran, debat nilai, atau cerita reflektif yang melibatkan empati siswa secara langsung. Kurangnya Diferensiasi Pembelajaran Tidak ditemukan strategi khusus untuk mengakomodasi perbedaan minat dan gaya belajar siswa, padahal Kurikulum Merdeka mendorong pembelajaran terdiferensiasi. Evaluasi Sikap Cenderung Format Penilaian sikap spiritual dan sosial saat ini masih terbatas pada observasi dan jurnal. Belum terlihat bagaimana guru benar-benar mengukur internalisasi dan perubahan sikap siswa secara berkelanjutan, atau melalui proyek sosial yang berdampak nyata. Rekomendasi Agar pembelajaran materi Amanah benar-benar bermakna dan mampu membentuk karakter amanah secara kontekstual pada peserta didik, maka diperlukan beberapa strategi pengembangan yang komprehensif dan adaptif terhadap kebutuhan serta realitas sosial peserta Gunakan Pendekatan Kontekstual dan Reflektif Pendekatan kontekstual . ontextual teaching and learnin. menekankan pembelajaran yang mengaitkan materi dengan kehidupan nyata siswa, sehingga nilai amanah tidak hanya dipahami secara konseptual, tetapi juga dihayati dan diaplikasikan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari (Nurhadi, & Senduk. Guru dapat menambahkan kegiatan seperti simulasi bermuamalah, studi kasus dilema moral, serta praktik Amanah dalam kelompok kecil. Sebagai bagian dari pembelajaran reflektif, siswa dapat dilibatkan dalam proyek seperti AuMinggu amanahAy, yaitu kegiatan selama satu minggu di mana siswa mendokumentasikan setiap tindakan amanah yang mereka lakukan, baik di sekolah maupun di rumah. Kegiatan ini dapat menjadi bagian dari portofolio karakter yang dibahas dalam sesi refleksi bersama guru dan teman sejawat. Integrasikan Pembelajaran Diferensiasi Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya diferensiasi pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar peserta didik yang beragam. Guru dapat menerapkan strategi pembelajaran yang bervariasi berdasarkan minat, kesiapan, dan gaya belajar siswa (Tomlinson, . Misalnya, melalui tugas terbuka, pilihan proyek individu atau kelompok, serta mentoring sebaya bagi siswa yang membutuhkan penguatan atau tantangan tambahan. JBPAI Ae VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. Tingkatkan Interaktivitas dan Kreativitas Media Agar penyampaian materi lebih menarik dan mudah diakses oleh generasi digital, guru disarankan untuk mengembangkan bahan ajar berbasis multimedia interaktif, seperti video cerita pendek, komik digital bertema amanah, atau game edukatif berbasis nilai Islam. Media ini akan meningkatkan keterlibatan emosional dan kognitif siswa serta membantu menyampaikan pesan moral secara efektif (Majid. Perkuat Asesmen Karakter Penilaian karakter tidak cukup hanya dilakukan dengan observasi guru, tetapi perlu diimbangi dengan refleksi tertulis dan jurnal pribadi siswa yang dikumpulkan secara berkala. Melalui refleksi ini, siswa diminta untuk menceritakan pengalaman amanah yang mereka alami atau tantangan amanah yang mereka hadapi (Zuchdi. Selain itu, guru perlu menyusun rubrik penilaian karakter yang tidak hanya menilai aspek pengetahuan dan sikap secara umum, tetapi juga perubahan perilaku konkret, baik di lingkungan sekolah maupun di rumah. Rubrik ini dapat digunakan dalam penilaian diri, antarteman, serta oleh guru dan orang tua. Studi kritis terhadap evaluasi pembelajaran bahan ajar Tafhim Al-QurAoan materi perilku kelas II SMP-T Darul AoAmal Kesesuaian Evaluasi Pembelajaran Evaluasi pembelajaran dalam RPP yang ditelaah sudah mencakup tiga ranah utama pembelajaran: kognitif . , afektif . , dan psikomotorik . Ini merupakan langkah positif yang menunjukkan bahwa guru berupaya melakukan evaluasi yang holistik dan menyeluruh. Penjabaran kesesuaiannya sebagai berikut: Ranah Kognitif (Pengetahua. Evaluasi kognitif dilakukan melalui: Tes tertulis . ilihan ganda dan uraia. Tes lisan . alam diskusi dan tanya jawa. Penugasan Kesesuaian: Metode ini relevan untuk menilai pemahaman peserta didik terhadap pengertian perilaku amanah, menepati janji, dan nilai-nilai Islam terkait muamalah. Kompetensi seperti menjelaskan dan menyimpulkan juga cocok diuji dengan uraian atau diskusi. Ranah Afektif (Sikap Spiritual dan Sosia. Instrumen yang digunakan: Observasi guru Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Tafhim Al-QurAoan dalam Materi Amanah Kelas II Smp-T Darul AoAmal Penilaian diri Penilaian antar teman Kesesuaian: Penilaian ini sejalan dengan tujuan untuk menanamkan nilai-nilai amanah dan Melalui observasi dan penilaian diri/teman, guru dapat melihat sejauh mana siswa menginternalisasi nilai amanah dalam tindakan dan interaksi sosial. Ranah Psikomotorik (Keterampila. Instrumen: Penilaian proyek Penilaian produk Portofolio Kesesuaian: Sangat amanah, menulis refleksi perilaku sehari-hari, atau membuat poster nilai Kekurangan Evaluasi Pembelajaran Walaupun struktur evaluasi terlihat lengkap, ada beberapa kekurangan dalam implementasi dan perancangan instrumen, yaitu: Tidak Ada Rubrik Penilaian yang Terlampir Rubrik diperlukan agar: Penilaian menjadi objektif Siswa mengetahui kriteria keberhasilan Guru mudah melakukan penilaian formatif maupun sumatif Contoh kekurangan: Misalnya dalam penilaian proyek atau penilaian sikap amanah, tidak jelas indikator apa yang digunakan . isal: frekuensi, konsistensi, konteks perilak. Instrumen Terlalu Umum Deskripsi instrumen seperti Ausoal uraianAy atau Aupenugasan proyekAy tidak disertai contoh konkret soal atau tugas. Hal ini dapat menyebabkan variabilitas penafsiran dan pelaksanaan yang tidak Belum Terintegrasi dengan Tujuan Pembelajaran Evaluasi belum menunjukkan hubungan langsung dan eksplisit dengan tujuan seperti: AuMenampilkan perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hariAy AuMeyakini bahwa amanah adalah ajaran pokok agamaAy JBPAI Ae VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. Implikasi: bisa terjadi ketidaksesuaian antara tujuan yang dicanangkan dan alat ukur yang Minim Asesmen Otentik Asesmen otentik yang mencerminkan dunia nyata atau aplikasi langsung dalam kehidupan siswa belum terlihat dirancang dengan baik. Misalnya, tidak ada simulasi transaksi jual beli, praktik menepati janji, atau refleksi amanah dalam kehidupan sehari-hari. Rekomendasi Pengembangan Evaluasi Untuk meningkatkan mutu evaluasi pembelajaran materi Amanah amanah , berikut beberapa strategi yang direkomendasikan. Diantaranya: Menyusun Rubrik Penilaian Rubrik merupakan alat bantu penting dalam mengevaluasi performa peserta didik secara objektif dan sistematis, terutama dalam menilai sikap afektif seperti amanah dan tanggung jawab. Penggunaan rubrik membantu guru menghindari penilaian subjektif dan meningkatkan transparansi proses evaluasi. (Brookhart. Merancang Instrumen Konkret Evaluasi harus mampu mencerminkan ketercapaian tujuan pembelajaran secara Instrumen yang baik tidak hanya mengukur hafalan, tetapi juga keterampilan berpikir kritis dan aplikasi nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari. (Zubaidah. Soal uraian: AuApa dampak dari tidak amanah dalam muamalah menurut Al-QurAoan dan Hadis? Jelaskan disertai contoh nyata. Ay Proyek: Simulasi jual beli dengan penerapan amanah dan etika Islam. Portofolio: Kumpulan jurnal harian siswa mengenai tindakan amanah yang mereka lakukan selama sepekan. Instrumen ini sesuai dengan pendekatan penilaian autentik yang dianjurkan dalam Kurikulum Merdeka (Kemendikbudristek. Mengintegrasikan Penilaian dengan Tujuan Pembelajaran Evaluasi yang baik harus terhubung langsung dengan tujuan pembelajaran dan indikator pencapaian kompetensi. Misalnya, jika salah satu tujuan adalah Aumenampilkan perilaku amanah dalam kehidupan sehari-hari,Ay maka evaluasi harus: Melibatkan observasi perilaku amanah siswa dalam praktik nyata atau simulasi. Menggunakan jurnal refleksi sebagai alat ukur internalisasi nilai. Memanfaatkan video pendek untuk menilai ekspresi verbal amanah siswa. Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Tafhim Al-QurAoan dalam Materi Amanah Kelas II Smp-T Darul AoAmal Evaluasi berbasis performa semacam ini terbukti lebih bermakna daripada sekadar tes tertulis konvensional (Wiggins. Meningkatkan Asesmen Otentik Asesmen otentik melibatkan siswa dalam situasi nyata atau menyerupai kondisi kehidupan sehari-hari. Ini penting agar nilai amanah tidak hanya dimengerti secara teoritis, tetapi juga diinternalisasi secara praktis. Contoh kegiatan asesmen otentik: Simulasi kasus: Siswa diminta memecahkan dilema moral . isalnya: menerima kembalian berlebih saat belanj. Wawancara narasumber: Mewawancarai pedagang lokal atau tokoh masyarakat tentang pentingnya amanah dalam transaksi. Kampanye amanah: Siswa membuat poster, pamflet, atau video sebagai media dakwah nilai Studi kritis terhadap sumber pembelajaran bahan ajar Tafhim Al-QurAoan materi Amanah kelas II SMP-T Darul AoAmal? Kesesuaian Sumber Pembelajaran Dalam RPP tersebut, sumber belajar yang digunakan adalah: Buku Siswa Al-QurAoan Hadits untuk SMP Kelas IX. Relevansi Tematik: Buku tersebut secara spesifik ditujukan untuk kelas IX MTs dan secara langsung membahas tema Perilaku amanah , yang merupakan bagian dari pembelajaran akhlak dan praktik ajaran Islam. Sesuai Kurikulum: Buku tersebut umumnya sudah disusun berdasarkan kurikulum nasional yang berlaku (KMA 183 Tahun 2. , sehingga sesuai dengan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Kompetensi Inti/Kompetensi Dasar (KI/KD). Landasan Al-QurAoan dan Hadis: Materi mengangkat langsung ayat-ayat dan hadis yang mendukung pembentukan karakter amanah , memperkuat sisi keilmuan dan keimanan siswa. Kekurangan Sumber Pembelajaran Meskipun buku tersebut menjadi acuan utama dan layak digunakan, terdapat sejumlah kekurangan yang perlu dikritisi secara akademik dan pedagogis: Kurang Kontekstual dan Aktual Sumber belajar cenderung menggunakan kasus atau contoh klasik yang jauh dari realitas sosial siswa saat ini . isalnya muamalah di pasar tradisional, padahal siswa juga mengalami muamalah digital: e-wallet, marketplace, ds. Tidak ditemukan integrasi nilai amanah dalam konteks sosial media, transaksi online, atau interaksi modern yang relevan dengan keseharian siswa. JBPAI Ae VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. Minimnya Visual dan Interaktifitas Buku teks masih dominan berbasis teks naratif, tidak dilengkapi dengan gambar, ilustrasi, atau infografis yang dapat membantu pemahaman siswa. Kurangnya latihan berbasis proyek atau keterampilan praktis, seperti simulasi jual beli atau studi kasus nyata. Belum Mendorong Higher Order Thinking Skills (HOTS) Pertanyaan atau aktivitas dalam buku lebih banyak menekankan ingat dan pahami . emembering & understandin. , belum mengarah ke menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta . nalyzing, evaluating, creatin. (Anderson. , & Krathwohl. Rekomendasi Pengembangan Sumber Pembelajaran Untuk meningkatkan efektivitas sumber pembelajaran, berikut beberapa rekomendasi berdasarkan prinsip pedagogi dan pengembangan kurikulum: Penguatan Konteks Sosial dan Aktualisasi Nilai Materi pembelajaran sebaiknya diperbarui dengan menyertakan contoh-contoh kekinian yang relevan dengan realitas sosial peserta didik. Misalnya, kasus muamalah tidak hanya di pasar konvensional, tetapi juga di ruang digital seperti e-commerce, transaksi QRIS, dompet digital . -walle. , dan media sosial. Nilai amanah perlu ditanamkan dalam konteks interaksi modern yang sering dijumpai siswa, seperti menjaga privasi akun, tidak menyebar hoaks, dan memegang komitmen dalam kerja kelompok daring. Hal ini akan membantu siswa melihat keterkaitan antara ajaran agama dan kehidupan mereka sehari-hari. Peningkatan Visualisasi dan Interaktivitas Buku ajar perlu dilengkapi dengan elemen visual seperti ilustrasi, diagram alur, peta konsep, dan infografis yang dapat memperjelas isi materi sekaligus menarik minat belajar siswa. Diperlukan penyisipan aktivitas berbasis simulasi atau proyek sederhana, seperti praktik jual beli amanah, permainan peran . ole pla. antara penjual dan pembeli jujur, serta tugas observasi perilaku amanah di lingkungan sekolah atau rumah. Penambahan media digital atau lembar kerja interaktif berbasis aplikasi atau QR code yang terintegrasi dengan video singkat atau kuis daring juga dapat memperkaya pengalaman belajar Penguatan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) Soal evaluasi dan tugas dalam bahan ajar harus dikembangkan agar mencakup keterampilan berpikir tingkat tinggi. Misalnya: Studi Kritis Bahan Ajar Mata Pelajaran Tafhim Al-QurAoan dalam Materi Amanah Kelas II Smp-T Darul AoAmal Analisis: siswa diminta membandingkan antara perilaku amanah dan tidak amanah dalam dua situasi berbeda. Evaluasi: siswa diajak menilai suatu kasus nyata . isalnya seorang pelajar yang meminjam barang dan lupa mengembalikanny. dari perspektif nilai Islam. Kreasi: siswa diberi tugas untuk membuat kampanye nilai amanah melalui poster digital, video pendek, atau menulis cerita islami yang mengandung pesan moral tentang amanah. Penguatan HOTS ini juga mendorong siswa berpikir reflektif dan solutif, sesuai dengan arah pendidikan karakter abad 21. KESIMPULAN DAN SARAN Simpulan Berdasarkan kajian mendalam terhadap bahan ajar mata pelajaran Tafhim Al-Qur'an pada materi Amanah di Kelas II SMP-T Darul 'Amal, sebuah pola yang menarik namun menantang terungkap. Meskipun bahan ajar ini telah berupaya menyentuh ketiga ranah pembelajaran utama yaitu kognitif, afektif, dan psikomotor, observasi menunjukkan bahwa dominasi aspek kognitif masih sangat terasa dalam pelaksanaannya. Materi yang disajikan memang relevan dengan ajaran Islam dan telah secara akurat mengaitkan nilai amanah dengan dalil-dalil kuat dari Al-Qur'an dan Hadis. Namun demikian, penyampaiannya cenderung bersifat teoritis, kurang dilengkapi dengan nuansa kontekstual yang dapat menjembatani pemahaman siswa dengan realitas kehidupan mereka. Begitu pula dengan pendekatan ia masih cenderung konvensional, belum sepenuhnya berhasil menarik siswa ke dalam aktivitas reflektif atau aplikatif yang esensial untuk menginternalisasi nilai-nilai amanah secara mendalam. Kelemahan juga teridentifikasi dalam evaluasi pembelajaran dan sumber belajar yang Meskipun penilaian telah mencoba mencakup ketiga ranah dan menggunakan beragam teknik seperti observasi, penilaian diri, dan proyek, seringkali tidak disertai dengan rubrik penilaian yang rinci. Akibatnya, keterkaitan penilaian dengan tujuan pembelajaran menjadi kurang eksplisit. Lebih lanjut, sumber belajar utama masih terasa terbatas pada buku teks konvensional dan media visual sederhana. Ini menyiratkan ketiadaan penguatan dari media interaktif atau materi yang relevan dengan realitas kehidupan digital siswa di era modern ini. Kondisi ini secara gamblang menunjukkan adanya urgensi besar untuk mengembangkan bahan ajar dan strategi pembelajaran yang lebih kontekstual, adaptif, dan benar-benar berbasis nilai, sehingga amanah dapat terinternalisasi secara optimal dalam diri setiap peserta didik. Saran JBPAI Ae VOLUME 3. NOMOR 4. AGUSTUS 2025 e-ISSN : 3031-8343 p-ISSN : 3031-8351. Hal. Untuk menjadikan pembelajaran Tafhim Al-Qur'an pada materi Amanah lebih efektif dalam membentuk karakter peserta didik, ada beberapa langkah yang bisa diambil. Strategi Pembelajaran yang Lebih Berdampak Pertama, guru perlu merancang tujuan pembelajaran yang lebih operasional dan terukur, menggunakan kata kerja operasional dari Taksonomi Bloom. Ini akan memastikan bahwa tujuan pembelajaran jelas dan dapat dievaluasi. Kedua, pendekatan pembelajaran harus bergeser ke arah pembelajaran kontekstual dan reflektif. Ini berarti melibatkan siswa dalam aktivitas nyata seperti studi kasus, simulasi, proyek sosial, atau menulis jurnal reflektif. Tujuannya adalah membantu mereka menghubungkan materi amanah dengan pengalaman hidup sehari-hari. Pengembangan Sumber Belajar dan Evaluasi Selain itu, pengembangan sumber belajar yang lebih kontekstual sangat penting. Guru bisa memanfaatkan video edukatif, infografik, dan media digital interaktif. Ini akan membantu menggambarkan nilai amanah dalam berbagai konteks, termasuk di dunia digital yang akrab dengan siswa. Terakhir, evaluasi pembelajaran perlu diperkuat dengan rubrik penilaian karakter yang konkret dan autentik. Ini akan memungkinkan guru menilai perkembangan siswa secara objektif dan menyeluruh. Kolaborasi dengan orang tua dalam penilaian karakter juga akan sangat membantu, menciptakan sinergi antara sekolah dan rumah. Dengan menerapkan langkah-langkah ini, nilai amanah tidak hanya akan dipahami secara kognitif, tetapi juga dihayati dan diterapkan secara nyata dalam kehidupan peserta didik. UCAPAN TERIMA KASIH