Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 Pengaruh Corporate Governance. Growth Opportunities, dan Struktur Modal terhadap Kebijakan Dividen pada Perusahaan LQ45 PERIODE 2013-2017 Andy Hartawan. Diyan Lestari. Manajemen. Fakultas Bisnis. Institut Teknologi dan Bisnis Kalbis Jalan Pulomas Selatan Kav. Jakarta 13210 Email: andy. hartawan17@gmail. Email: diyan. lestari@kalbis. Abstract: This study aims to analyze the effect of board size, independent commisioner, institutional ownership, growth opportunities and capital structure on dividend policy in LQ45 Companies. Independent variables in this study are board size, independent commisioner, institutional ownership, growth opportunities and capital structure. The sample is taken by using purposive sampling method, from 74 companies that are listed in LQ45 from 2013-2017 there are 23 companies that meet the Those data are analyzed by using panel regression and by using analysis method with panel The result of this study indicates that growth opportunities effect the dividend policy, while board size, independent commisioner, institutional ownership, and capital structure has no effect on dividend Keywords: board size, capital strucutre, dividen policy, growth opportunities, independen commisioner, institutional ownership Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh board size, komisaris Independen, kepemilikan institusional, growth opportunities, dan struktur modal terhadap kebijakan dividen perusahaan LQ45. Variabel independen yang diteliti adalah board size, komisaris independen, kepemilikan institusional, growth opportunities, dan struktur modal. Sampel diambil dengan menggunakan metode purposive sampling , sehingga dari 74 perusahaan yang terdaftar dalam daftar perusahaan LQ45 periode 2013-2017 didapatkan 23 perusahaan yang memenuhi kriteria. Data dianalisis dengan menggunakan metode regresi linear berganda dengan data panel. Penelitian ini memiliki hasil bahwa Growth Opportunities berpengaruh secara parsial terhadap kebijakan dividen, sedangkan board size, komisaris independen, kepemilikan institusional, dan struktur modal tidak berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Kata kunci: board size, growth opportunities, kepemilikan institusional, komisaris independen, struktur modal, kebijakan dividen PENDAHULUAN Dewasa ini, perkembangan infomasi membuat perputaran kegiatan masyarakat dunia menjadi semakin cepat. Hal ini disebabkan karena dengan semakin majunya teknologi informasi dan komunikasi, tentunya akan semakin mempermudah aktivitas sehari-hari masyarakat dunia. Dengan semakin mudah dan cepatnya masyarakat melakukan aktivitasnya, berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat pun terkena imbasnya, dan mengalami perkembangan yang pesat, yang salah satunya adalah aspek bisnis. Bisnis yang dilakukan masyarakat merupakan salah satu penunjang aktifitas ekonomi. berapapun besarnya skala bisnis yang ada, bisnis tersebut akan membantu perkembangan ekonomi. Salah satu bentuk paling umum dari sebuah bisnis adalah perusahaan. Bisa dibilang, perusahaan merupakan jantungnya bisnis. Salah satu unsur penting perusahaan adalah modal. Tanpa adanya modal, aktivitas perusahaan tidak akan dapat berjalan. Untuk perusahaan besar, salah satu cara untuk mendapatkan modal adalah dengan menjual saham. Penjualan saham tersebut tersebut tidak dapat dilakukan secara sembarangan tetapi harus melewati pasar khusus yaitu pasar modal. Di Indonesia sendiri, pasar modal yang resmi adalah Bursa Efek Indonesia (BEI). Lewat BEI, perusahaan dapat menawarkan sahamnya untuk dibeli oleh masyarakat luas yang bertindak sebagai investor. Pada BEI sendiri terdapat perusahaan-perusahaan yang sahamnya menjadi primadona investor, di mana saham-saham perusahaan tersebut memiliki tingkat likuiditas yang Kelompok dari saham perusahaan-perusahaan tersebut disebut saham LQ45 yang diperbaharui setiap setengah tahun. Dari olah data yang dilakukan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 peneliti untuk data index LQ45 selama 5 tahun terakhir, terhitung dari periode 2013-2017 tercatat terdapat 23 perusahaan yang konsisten sahamnya masuk ke kategori saham LQ45. LQ45 adalah index saham yang terdiri dari 45 perusahaan yang telah memenuhi ketentuan-ketentuan tertentu, salah satunya adalah memiliki kondisi keuangan, nilai transaksi, dan tingkat pertumbuhan yang tinggi, sehingga karena itulah saham perusahaan yang terdaftar dalami index ini menjadi primadona bagi investor. Akan tetapi status ini bukan satusatunya faktor yang dipertimbangkan oleh investor dalam melalukan investasi saham. Seperti kita ketahui, tujuan utama dari investor adalah untuk mendapatkan keuntungan, yang salah satunya dalam investasi saham bisa didapat dari dividen, sehingga dividen dan kebijakan perusahaan mengenai dividen menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan oleh investor dalam melakukan investasi saham. Akan tetapi jumlah dividen yang dibagikan oleh perusahaan, bahkan di perusahaan LQ45 selalu mengalami fluktuasi. Seperti kita lihat pada Gambar 1, dimana pembagian dividen dari 4 bank Big 4 di Indonesia yang juga masuk dalam index LQ45 serta dapat mewakili perusahaan-perusahaan yang ada di index LQ45 karena selalu masuk secara konsisten dalam periode penelitian mengalami fluktuasi setiap Sehingga diperlukan sebuah penelitian untuk mengetahui kiranya variabel-variable apa saja yang dapat mempengaruhi kebijakan dividen dari suatu perusahaan. Gambar 1 Fluktuasi Pembagian Dividen Big 4 Perbankan Indonesia periode 2013-2017 Terdapat beberapa cara untuk mengukur kebijakan dividen yaitu dengan meghitung Dividen Yield dan Dividen Payout Ratio. Dividen Yield mengaitkan besaran dividen dengan harga saham perusahaan, dihitung dengan membagi dividen tahunan per saham dengan harga per lembar saham sedangkan dividen payout ratio merupakan rasio pembayaran dividen diukur dengan cara membagi besarnya dividen per lembar saham dengan laba bersih per lembar saham. Pada penelitian ini digunakan rumus dividend payout ratio untuk mengukur kebijakan dividen. Kebijakan perusahaan yang di dalamnya terdapat kebijakan dividen, keluar dari proses tata kelola perusahaan, atau corporate governance, sehingga dapat dikatakan bahwa corporate governance merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kebijakan dividen. corporate governance berbicara tentang bagaimana pihak manajemen mengatur struktur, proses, dan mekanisme guna memastikan perusahaan memiliki arah yang menjaga nilai perusahaan dalam jangka waktu panjang (Velnampy, 2013:228. Lestari, 2. Di dalam corporate governance sendiri terdapat berbagai lingkup yang dapat dijadikan indikator untuk menilai corporate Akan tetapi pada penelitian ini hanya digunakan tiga indikator, yaitu board of director size, komisaris independen, dan kepemilikan institusional. Board of Director size adalah jumlah direktur dalam dewan direksi. Menurut Bangun. Yuniarwati, dan Santioso . , semakin banyak anggota dalam dewan direksi akan meningkatkan koordinasi menjadi lebih baik dan efektif, karena semakin banyak tenaga pikiran untuk membantu mengambil keputusan apa yang harus dilakukan perusahaan, di mana hal tersebut akan berdampak pada kemajuan perusahaan untuk mengatasi agency conflict, yang tentu akan berdampak juga pada pengambilan keputusan kebijakan dividen. Akan tetapi dalam penelitiannya. Lipton dan Lorch . menyatakan bahwa terdapat beberapa kekurangan dalam besarnya ukuran dewan direksi. Ukuran dewan direksi yang besar akan berakibat pada kurangnya diskusi yang berarti, sebab mengekspresikan pendapat dalam kelompok besar umumnya memakan waktu, sulit dan mengakibatkan kurangnya kekompakan pada dewan direksi. Dari kedua penelitian tersebut terdapat gap karena adanya perbedaan hasil. Untuk itu guna mengeluarkan sebuah kebijakan dividen yang optimal, perlu dilakukan sebuah penelitian untuk mengetahui pengaruh jumlah anggota dewan direksi sehingga sebuah perusahaan dapat menentukan tentang Board Size yang efektif jika ingin memberikan dividen dengan jumlah yang optimal mengingat pengambilan keputusan kebijakan dividen suatu perusahaan diambil dalam rapat dewan direksi dan komisaris yang selanjutnya akan disampaikan hasilnya kepada para pemegang saham pada Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Menurut Widjaja independen adalah anggota dewan komisaris yang diangkat berdasarkan keputusan RUPS dari pihak yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham utama, anggota direksi dan atau anggota dewan komisaris Putra . menjelaskan bahwa Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 tingginya proporsi untuk komisaris independen berpengaruh positif terhadap kinerja perusahaan. Semakin baik kinerja suatu perusahaan tentu kemungkinan perusahaan untuk memberikan dividen bagi stakeholder-nya akan semakin besar juga. Akan tetapi pendapat berbeda disampaikan oleh Kurnianti . dimana berdasarkan hasil penelitiannya, komisaris independen tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap hasil dari kebijakan dividen. Dari kedua penelitian tentang komisaris independen tersebut didapati hasil yang berbeda sehingga muncul adanya gap yang dapat diteliti. Menurut Elva institusional adalah persentase saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga . erusahaan asuransi, dana pensiunan, atau perusahaan lai. Jumlah kepemilikan institusional memiliki kaitan dengan kebijakan dividen dimana pemilik saham dari pihak institusional membeli saham perusahaan dengan harapan mendapatkan keuntungan, yang dapat didapatkan dengan membantu peningkatan performa perusahaan yang otomatis dapat membantu menambah dana yang digunakan untuk pembagian Embara. Wiagustini, dan Badjra . menemukan bukti bahwa kepemilikkan institusional berpengaruh positif signifikan terhadap kebijakan Akan tetapi pendapat berbeda disampaikan oleh Rais dan Santoso . 7: . yang tidak menemukan bukti adanya keterkaitan antara kepemilikan institusional dan kebijakan dividen sehingga hal ini menimbulkan gap yang dapat dikaji kembali dengan melakukan penelitian kembali. Di luar corporate governance, terhadap variabel-variabel lain yang dapat mempengaruhi kebijakan dividen, salah satunya adalah growth Growth opportunities merupakan kesempatan perusahaan untuk berinvestasi pada halhal yang menguntungkan. (Fatmariani, 2013:. Untuk meningkatkan growth opportunities dibutuhkan dana yang dipergunakan untuk menambah modal perusahaan dalam upaya meningkatkan pertumbuhan. Dana yang dipakai tentu salah satunya berasal dari pendapatan perusahaan. Di sini lah adanya hubungan antara kebijakan dividen dan Growth Opportunities dimana kedua hal tersebut berbanding terbalik. Shamsabadi. Min, dan Chung . yang menyatakan bahwa perusahaan akan menyesuaikan kebijakan dividennya seiring dengan perubahaan Growth Opportunities-nya, dimana semakin muda perusahaan yang berarti bahwa Growth Opportunitiesnya masih tinggi, perusahaan akan lebih sedikit mengeluarkan dividen dibanding dengan ketika perusahaan tersebut memasuki fase maturity di mana ketika Growth Opportunities perusahaan tersebut jauh berkurang. Hubungan yang berbanding terbalik ini dapat dilihat pada kasus PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telko. Pada tahun 2014. Telkom ingin menggenjot pertumbuhan perusahaan di atas rata-rata industri, yaitu di atas 6%-8% (Telkom. Tentu hal ini membutuhkan dana yang haru dikeluarkan untuk mendukung perkembangan tingkat pertumbuhan tersebut sehingga hal ini berdampak juga pada pembagian dividen, dimana pada tahun 2014 Telkom tidak membagikan dividen kepada pemegang saham karena dana yang didapat dari hasil keuntungan digunakan untuk meningkatkan peluang pertumbuhannya. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Shamsabadi. Min, dan Chung . yang menyatakan bahwa perusahaan akan menyesuaikan kebijakan dividennya seiring dengan perubahaan Growth Opportunities-nya, dimana semakin muda perusahaan yang berarti bahwa Growth Opportunities-nya masih tinggi, perusahaan akan lebih sedikit mengeluarkan dividen dibanding dengan ketika perusahaan tersebut memasuki fase maturity di mana ketika Growth Opportunities perusahaan tersebut jauh berkurang. Faktor lain di luar Corporate Governance dan Growth Opportunities yang dapat mempengaruhi kebijakan dividen adalah struktur modal. Menurut Syamsuddin . struktur modal merupakan penentuan komposisi modal, yaitu perbandingan antara hutang dan modal sendiri atau dengan kata lain struktur modal merupakan hasil atau akibat dari keputusan pendanaan yang intinya memilih apakah menggunakan hutang atau ekuitas untuk mendanai operasi perusahaan. Menurut Palupi. Sudjana, dan A . struktur modal memiliki pengaruh signifikan terhadap kebijakan dividen. Hal ini pada dasarnya terjadi karena Kebijakan dividen dan struktur modal memiliki hubungan yang berkaitan dengan dana. Dana yang biasanya diambil dari pendapatan perusahaan untuk membiayai operasi perusahaan dapat diambil dari hutang yang didapatkan perusahaan dimana hal tersebut akan mempengaruhi rasio yang dijadikan sebagai alat pengukuran struktur modal. Penggunaan hutang sebagai dana operasi tersebut akan mengurangi pendapatan yang digunakan perusahaan untuk membiayai aktivitas operasi perusahaan sehingga, dana yang didapat dari pendapatan dapat dibagikan ke shareholder dalam bentuk dividen. Dalam penelitian ini rasio yang digunakan untuk mengukur struktur modal adalah Debt to Equity Ratio (DER) yang dihitung dengan Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 membagi total hutang dengan total modal. Selain itu hubungan struktur modal dan kebijakan dividen dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1 Data DER dan DPR Bank BUMN LQ45 periode Sesuai namanya, regresi panel adalah regresi yang menggunakan data panel sebagai data penelitiannya. Data panel sendiri menurut Ghozali dan Ratmono . 7: . didefinisikan sebagai sebuah kumpul data . di mana perilaku cross-sectional . ndividu, perusahaan, negar. diamati sepanjang Persamaan regresi panel untuk penelitian ini adalah sebagai berikut : DPRit= 1BOD 2IC 3IO 4GO 5DER e Pengaruh DER terhadap DPR, seperti dapat dilihat contohnya pada BNI dimana ketika DER nya mengalami penurunan dari 7,11 menjadi 5,59. DPRnya juga mengalami penurun dari yang tadinya 0,3 menjadi 0,25 saja. Akan tetapi terdapat pendapat-pendapat yang berbeda dari para ahli tentang pengaruh variabel-variabel tersebut terhadap struktur modal, sehingga dibutuhkan penelitian untuk mengetahui pengaruh sebenarnya dari variabel-variabel tersebut. Berdasarkan hal tersebut peneliti mengambil penelitian dengan judul AuPengaruh Corporate Governance. Growth Opportunities, dan Struktur Modal terhadap Kebijakan Dividen pada Perusahaan LQ45Ay. II. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian ini menggunakan data sekunder yang diambil dari sampel yang diambil dari populasi perusahaan LQ45 periode 2013-2017 dengan metode purposive sampling. Variabel yang diuji adalah board of director size, komisaris independen, kepemilikan institusional, growth opportunities, dan struktur modal sebagai variabel independen, lalu kebijakan dividen sebagai variabel dependen. Populasi dan Sampel Populasi dalam penelitian ini yaitu perusahaan LQ45 periode 2013-2017. Pemilihan. Sampel penelitian menggunakan metode purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut: purposive sampling dengan kriteria sebagai berikut . Perusahaan yang menjadi subjek merupakan perusahaan yang tercatat di index LQ45 pada periode 2013-2017, . Perusahaan yang menjadi subjek secara konsisten masuk ke dalam daftar perusahaan LQ45 periode Analisis Regresi Data Panel Model analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis regresi panel. Keterangan : DPR = Kebijakan dividen = Konstanta = Koefisien regresi variabel independen BOD= Jumlah direktur IC = Jumlah komisioner independen IO = Jumlah kepemilikan institusional GO= Growth Opportunities DER= Struktur Modal e = Error Uji Asumsi Klasik Uji asumsi klasik dilakukan untuk mengetahui model penelitian dapat dianalisis dan model tersebut dapat reprensentatif. Uji asumsi klasik yang dilakukan adalah uji multikolinearitas dan uji Uji Multikolinearitas Digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik multikolinearitas, yaitu adanya hubungan lienar antar variabel independent dalam model regresi. (Priyatno, 2008: . Penelitian yang baik adalah penelitian yang variabel independen nya tidak memiliki hubungan . atau dengan kata lain tidak memiliki masalah multikolinearitas. Untuk mendeteksi adanya masalah multikolinearitas dilakukan uji nilai korelasi antar variabel indpenden, bila nilai korelasi antar variabel yang ada kurang dari 0,9 maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada masalah multikolinearitas serius yang terjadi (Ghozali & Ratmono, 2017: . Uji Heterokedastisitas Digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya penyimpangan asumsi klasik heterkedastisitas, yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual untuk pengamatan pada mode regresi. (Priyatno, 2008: . Penelitian yang baik memiliki data yang homogen yang berarti tidak ditemukan adanya perbedaan antara varian dari residual antara pengamatan-pengamatan yang dilakukan. Untuk menguji apakah terdapat masalah heterokedastisitas pada suatu penelitian dapat dilakukan beberapa Metode pengujian. Metode Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 yang dapat digunakan adalah Uji White. Glesjer. Breusch-Pagan-Godfrey. Harvey, dan ARCH. Model memenuhi persyaratan apabila nilai probabilitas chisquare melebihi nilai alpha 0,05 (Winarno, 2011: Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode Breusch-Pagan-Godfrey. Uji Kelayakan Model Menurut Basuki dan Prawoto . 6: . terdapat tiga pendekatan model untuk metode estimasi model regresi dengan menggunakan data panel, yaitu : Common Effect Model Pendekatan model ini merupakan metode yang paling sederhana karena hanya menggabungkan data time series dan cross section. Metode ini dapat menggunakan pendekatan Ordinary Least Square (OLS) atau teknik kuardrat terkecil untuk mengestimasi model data panel. Fixed Effect Model Pendekatan model ini mengasumsikan bahwa perbedaan antar individu dapat diakomodasi dari perbedaan intersepnya. Untuk mengestimasi data panel, model ini dapat menggunakan teknik variable dummy Untuk menangkap perbedaan intersep antar Perbedaan intersep dapat terjadi karena perbedaan budaya kerja, manajerial, dan insentif. Model ini sering juga disebut dengan teknik Least Squares Dummy Variable (LSDV). Random Effect Model Pendekatan model ini akan mengestimasi data panel dimana variabel gangguan mungkin saling berhubungan antar waktu dan antar individu. Pada model Random Effect perbedaan intersep diakomodasi oleh error terms masing-masing Keunggulan dari metode ini adalah dapat menghilangkan masalah heterokedastisitas. Model ini dapat disebut juga dengan Error Component Model (ECM) atau teknik Generalized Least Square (GLS). Uji Hipotesis (Uji . Menurut Mulyono . , uji t digunakan variabel-variabel independen secara parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel dependen. Derajat signifikansi yang digunakan adalah 0,05. Apabila nilai signifikan lebih kecil dari derajat kepercayaan maka kita menerima hipotesis alternatif, yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara parsial mempengaruhi variabel dependen. Uji statistik t, pada dasarnya menunjukan seberapa jauh pengaruh suatu variabel independen secara parsial dalam menerangkan variabel dependen. Pengujian ini dilakukan uji dua arah dengan hipotesis: H0 O 1=0 artinya tidak ada pengaruh dari variabel independent terhadap variabel dependen. Ha O 1< 0 atau 1>0 artinya ada pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen. H0 diterima dan Ha ditolak apabila thitung< ttabel, artinya variabel independen tidak berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen. H0 ditolak dan Ha diterima apabila thitung> ttabel, artinya variabel independen berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependen Koefisien Determinasi Koefisien determinasi pada intinya mengukur seberapa besar kemampuan variabel bebas dalam menjelaskan variabel terkaitnya. Nilai koefisien determinasi adalah antara nol dan satu. Semakin tinggi nilai koefisien determinasi (R. berarti semakin tinggi kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variasi perubahan terhadap variabel dependen (Mulyono, 2018: . Akan tetapi koefisien determinasi memiliki kelemahan, yaitu semakin banyak jumlah variabel independen, maka hasilnya akan semakin bias, dimana nilai R2 akan terus bertambah setiap satu variabel independen yang ditambahkan. Oleh karena itu disarankan untuk menggunakan adjusted R2 . Berbeda dengan R2, nilai adjusted R2 dapat naik atau turun apabila satu variabel independen ditambahkan ke dalam model (Ghozali: 2016:. Operasional Variabel Variabel Dependen (Y) Dalam penelitian ini variabel dependen yang digunakan adalah kebijakan dividen. Kebijakan dividen Kesempatan investasi yang tersedia, ketersediaan dan biaya modal alternatif, dan preferensi pemegang saham untuk menerima pendapatan saat ini atau menerimanya di masa datang (Sartono, 2010: Kebijakan dividen dapat diukur dengan rumus sebagai berikut : Variabel Independen (X) Dalam penelitian ini variabel independen pertama yang digunakan adalah board of director size. Dewan direksi merupakan dewan yang berguna untuk Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 membentu suatu kewajiban, larangan, dan sangsi yang haru dipatuhi oleh setiap pegawai sehingga dapat menjadi pedoman bagi seluruh pegawai sehingga dapat menjadi pedoman bagi seluruh pegawai dalam melaksanakan pekerjaannya. (Mulyadi, 2012:. Board of director size diukur dengan menghitung jumlah direktur yang ada di keanggotaan dewan Variabel independen kedua adalah komisaris Komisaris independen adalah Anggota dewan komisaris yang diangkat berdasarkan keputusan RUPS dari pihak yang tidak terafiliasi dengan pemegang saham utama, anggota direksi dan/ atau anggota dewan komisaris lainnya (Widjaja, 2009: . Komisaris independen diukur dengan menghitung jumlah komisaris independen yang ada di dewan komisaris. Variabel independen ketiga adalah kepemilikan Kepemilikan institusional adalah Persentase saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga . erusahaan asuransi, dana pensiunan, atau perusahaan lain (Elva, 2012: . Kepemilikan institusional dapat diukur dengan menghitung persentase kepemilikan oleh institusi dalam sebuah perusahaan. Variabel independen keempat adalah growth Growth opportunities adalah Growth Opportunities merupakan kesempatan perusahaan untuk melakukan investasi pada hal-hal yang menguntungkan (Fatmariani, 2013: . Growth opportunities dapat diukur dengan rumus sebagai Variabel independen kelima adalah struktur Struktur modal merupakan penentuan komposisi modal, yaitu perbandingan antara hutang dan modal sendiri atau dengan kata lain struktur modal merupakan hasil atau akibat dari keputusan pendanaan yang intinya memilih apakah menggunakan hutang atau ekuitas untuk mendanai operasi perusahaan (Syamsuddin, 2009:. Struktur modal dapat diukur dengan rumus sebagai berikut: Model Konseptual Penelitian Model konseptual dapat dilihat pada Gambar 2. Gambar 2 Model Konseptual Penelitian Hipotesis Penelitian Pengaruh Board Size terhadap Kebijakan Dividen Board Size adalah jumlah anggota dari dewan direksi atau ukuran dari besarnya dewan direksi di suatu perusahaan. Jumlah anggota pada suatu dewan direksi sendiri tergantung dari kebijakan masingmasing perusahaan. Pada dasarnya semakin banyak anggota dewan direksi maka semakin baik juga performanya karena semakin banyak individu yang bekerja, di mana performa dari dewan direksi dapat dilihat pada rapat dewan direksi yang dilakukan setiap periode tertentu di mana pada rapat dewan direksi tersebut tercakup juga keputusan yang diambil tentang kebijakan dividen. Pada dasarnya semakin banyak anggota dewan direksi maka semakin baik juga performanya karena semakin banyak individu yang bekerja, di mana performa dari dewan direksi dapat dilihat pada rapat dewan direksi yang dilakukan setiap periode tertentu di mana pada rapat dewan direksi tersebut tercakup juga keputusan yang diambil tentang kebijakan dividen. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Lipton dan Lorch . terdapat beberapa kekurangan dalam besarnya ukuran dewan direksi. Ukuran dewan direksi yang besar akan berakibat pada kurangnya diskusi yang berarti, sebab mengekspresikan pendapat dalam kelompok besar umumnya memakan waktu, sulit dan mengakibatkan kurangnya kekompakan pada dewan direksi. Selain itu ada pendapat dari Bangun. Yuniarwati, dan Santioso . mengatakan bahwa terdapat pengaruh positif dan signifikan antara Board Size dan kebijakan dividen. Meskipun berbeda, tetapi kedua penelitian tersebut mengungkapkan bahwa Board Size berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Dari hal-hal tersebut dapat diambil hipotesis berupa : H1 : Board Size berpengaruh terhadap kebijakan Pengaruh Komisaris Independen terhadap Kebijakan Dividen Komisaris independen dapat menjadi pembeda pada hasil rapat karena komisaris independen bersifat netral di mana hal tersebut dapat membantu rapat menghasilkan keputusan yang menguntungkan bagi semua pihak di dalam perusahaan tidak hanya untuk satu pihak tertentu saja. Hal tersebut mencakup juga tentang kebijakan dividen, di mana keputusan kebijakan dividen diambil pada saat rapat. Dalam Putra menjelaskan bahwa tingginya proporsi untuk Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 komisaris independenakan berdampak pada kebijakan dividen yang dibagikan oleh perusahaan. Hal tersebut karena adanya independensi yang diharapkan meningkatkan kinerja perusahaan dan kebijakan terkait dengan proporsi dividen yang dibagikan. Pendapat lain oleh Cahyadi. Purwanti, dan Mardiati . mengatakan bahwa terdapat pengaruh negatif antara komisaris indpenden dan kebijakan dividen, di mana semakin banyak komisaris dividen maka semakin sedikit dividen yang dibagikan. Dari hal-hal tersebut dapat disampaikan hipotesis berupa : H2 : Komisaris Independen berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Pengaruh Kepemilikan Institusional terhadap Kebijakan Dividen Kepemilikan institusional adalah persentase saham perusahaan yang dimiliki oleh institusi atau lembaga . erusahaan asuransi, dana pensiunan, atau perusahaan lai. (Elva, 2012: . Dengan adanya kepemilikan institusional, proses pengawasan perusahaan menjadi lebih baik karena institusi yang memiliki saham di perusahaan tersebut akan menggunakan sumber dayanya untuk ikut mengawasi jalannya perusahaan guna memastikan perusahaan berjalan dengan baik. Jika perusahaan berjalan dengan baik maka keuntungan yang akan didapat juga akan semakin naik sehingga dana yang digunakan untuk pembagian dividen juga semakin besar. Dengan adanya kepemilikan institusional, proses pengawasan perusahaan menjadi lebih baik karena institusi yang memiliki saham di perusahaan tersebut akan menggunakan sumber dayanya untuk ikut mengawasi jalannya perusahaan guna memastikan perusahaan berjalan dengan baik. Jika perusahaan berjalan dengan baik maka keuntungan yang akan didapat juga akan semakin naik sehingga dana yang digunakan untuk pembagian dividen juga semakin besar. Hasil penelitian dari Embara. Wiagustini, dan Badjra . menunjukkan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Pendapat ini didukung oleh penelitian yang dilakukan oleh Kurnianti . yang juga menemukan bahwa kepemilikan institusional berpengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Dari hal-hal yang telah disampaikan dapat diambil hipotesis berupa: H3 : Kepemilikan institusional berpengaruh terhadap kebijakan dividen Pengaruh Growth Opportunities terhadap Kebijakan Dividen Untuk meningkatkan Growth Opportunies dibutuhkan dana yang berasal dari pemasukan Hal ini tentu akan mempengaruhi kebijakan dividen dimana dana yang digunakan untuk membagikan dividen akan berkurang karena digunakan untuk meningkatkan Growth Opportunities. Hal ini sesuai dengan penelitian dari Shamsabadi. Min, dan Chung . yang menyatakan bahwa perusahaan akan menyesuaikan kebijakan dividennya seiring dengan perubahaan Growth Opportunity-nya, dimana semakin muda perusahaan yang berarti bahwa Growth Opportunity-nya masih tinggi, perusahaan akan lebih sedikit mengeluarkan dividen dibanding dengan ketika perusahaan tersebut memasuki fase maturity di mana ketika Growth Opportunity perusahaan tersebut jauh berkurang. Pendapat lain oleh Sindhu. Hashmi, & Haq . dan Lestari . di mana mereka menemukan bahwa terdapat pengaruh signifikan antara Growth Opportunities terhadap kebijakan dividen yang berarti dengan tumbuhnya perusahaan, muncul peluang baru bagi perusahaan untuk membagikan dividen. Meskipun sedikit berbeda, akan tetapi kedua pendapat tersebut menyimpulkan bahwa Growth Opportunites mempengaruhi kebijakan dividen. Dari hal-hal yang telah disampaikan didapatkan hipotesis berupa : H4 : Growth Opportunities berpengaruh terhadap kebijakan dividen. Pengaruh Struktur Modal terhadap Kebijakan Dividen Struktur modal merupakan penentuan komposisi modal, yaitu perbandingan antara hutang dan modal sendiri atau dengan kata lain struktur modal merupakan hasil atau akibat dari keputusan pendanaan yang intinya memilih apakah menggunakan hutang atau ekuitas untuk mendanai operasi perusahaan (Syamsuddin, 2009: . Kebijakan dividen memiliki hubungan dengan struktur modal dimana jika perusahaan memiliki lebih banyak hutang sebagai modalnya untuk mendanai operasional perusahaan, maka pendapatan yang diterima perusahaan dapat lebih banyak disalurkan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Kebijakan dividen memiliki hubungan dengan struktur modal dimana jika perusahaan memiliki lebih banyak hutang sebagai modalnya untuk mendanai operasional perusahaan, maka pendapatan yang Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 diterima perusahaan dapat lebih banyak disalurkan kepada pemegang saham dalam bentuk dividen. Hal tersebut senada dengan hasil penelitian dari Palupi. Sudjana, dan Z. A . yang menyatakan bahwa struktur modal memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap kebijakan dividen. Dari hal-hal tersebut didapatkan hipotesis berupa: H5 : Struktur modal berpengaruh terhadap kebijakan i. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Penelitian Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui gpportunities, dan struktur modal terhadap kebijakan dividen perusahaan LQ45 periode 2013-2017. Peneliti menggunakan data sekunder dari website IDX . Pengambilan sampel penelitian digunakan metode purposive samping. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan uji t untuk menjawab hipotesis 1-5, serta analisis regresi data panel untuk mengetahui model regresinya Data diolah menggunakan aplikasi Eviews versi 10. Breusch-Pagan-Godfrey yang akan menunjukkan adanya masalah heterokedastisitas atau tidak. Tabel 3 Uji Heterokedastisitas Hasil dari uji Breusch-Pagang-Godfrey pada program Eviews versi 10. 0 sesuai Tabel 3 memberikan nilai probabilitas dari Obs*R-squared sebesar 0,1415, nilai ini lebih besar dari nilai signifikansi . sehingga dapat diketahui bahwa tidak terjadi masalah heterokedastisitas yang berarti data residualnya Uji Kelayakan Model . Uji Chow Uji ini digunakan untuk menentukan pilihan penggunaan antara model Common Effect dan Fixed Effect. Berikut adalah hasil uji yang telah dilakukan : Tabel 4 Uji Chow Uji Asumsi Klasik . Uji Multikolinearitas Dengan pengujian menggunakan program Eviews versi 10. 0, didapatkan nilai korelasi seperti pada Tabel 2 Tabel 2 Uji Multikolinearitas Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa nilai probabilitycrosection F sebesar 0,0000 dan nilai tersebut lebih kecil daripada 0,05 yang berarti model yang dipilih adalah model Fixed Effect. Uji Hausman Uji ini digunakan untuk menentukan pilihan penggunaan antara model Fixed Effectdan Random Effect. Berikut adalah hasil uji yang telah dilakukan: Tabel 5 Uji Hausman Hasil pada Tabel 2 menunjukkan tidak adanya masalah multikolinearitas yang serius karena tidak adanya variabel yang memiliki nilai lebih 0,9 . Uji Heterokedastisitas Pada penelitian ini, uji yang digunakan untuk menganalisis masalah heterokedastisitas adalah uji Berdasarkan hasil uji yang telah dilakukan pada tabel di atas, dapat dilihat bahwa nilai probabilitycrosection F sebesar 0,4023 dan nilai tersebut lebih besar daripada 0,05 yang berarti model yang dipilih adalah model Random Effect Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 . Uji LM Uji digunakan untuk menentukan pilihan antara model Common Effect atau model Random Effect. Berikut adalah hasil uji yang dilakukan : Tabel 6 Uji Langrange Multiplier Tabel 6 menunjukkan bahwa nilai probabilitas dari cross-section Breusch-Pagan adalah 0,0000, maka model yang dipilih adalah model Random Effect. Dari ketiga uji yang telah dilakukan, dapat diambil kesimpulan bahwa model regresi panel yang akan digunakan adalah model Random Effect. Persamaan Regresi nilai kebijakan dividen akan naik sebesar 0,404927. Growth Opportunities memiliki hubungan yang positif dengan kebijakan dividen. Jika diasumsikan bahwa variabel lain tetap, maka setiap kenaikan nilai Growth Opportunities sebesar 1 nilai kebijakan dividen akan naik sebesar 0. Struktur modal memiliki hubungan yang negatif dengan kebijakan dividen. Jika diasumsikan bahwa variabel lain tetap, maka setiap kenaikan nilai struktur modal sebesar 1 nilai kebijakan dividen akan turun sebesar 0,028251. Uji Hipotesis (Uji . Uji signifikansi parameter dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Pengolahan data yang telah dilakukan memberikan hasil sebagai berikut : Tabel 8 Uji t Tabel 7 Koefisien Variabel Hasil dari tabel 7 memberikan hasil regresi data panel sebagai berikut: DPR= 0,134069 0,002872BOD 0,010331IC 0,404927IO 0,007077GO - 0,028251DER e Dari hasil model regresi panel di atas, dapat diketahui bahwa : Persamaan kebijakan dividen memiliki nilai konstanta sebesar 0,134069. Nilai konstanta tersebut menggambarkan jika diasumsikan bahwa semua variabel memiliki nilai nol, maka nilai dari kebijakan dividen adalah 0,134069. Jumlah direktur memiliki hubungan yang positif dengan kebijakan dividen. Jika diasumsikan bahwa variabel lain tetap, maka setiap kenaikan nilai jumlah direktur sebesar 1 nilai kebijakan dividen akan naik sebesar 0,002872. Komisaris Independen memiliki hubungan yang positif dengan kebijakan dividen. Jika diasumsikan bahwa variabel lain tetap, maka setiap kenaikan nilai komisaris independen sebesar 1 nilai kebijakan dividen akan naik sebesar 0,010331. Kepemilikan Institusional hubungan yang positif dengan kebijakan dividen. Jika diasumsikan bahwa variabel lain tetap, maka setiap kenaikan nilai kepemilikan institusional sebesar 1 Dari hasil tersebut dapat diberikan hasil sebagai . Variabel jumlah direktur memiliki nilai probabilitas sebesar 0,8779 yang lebih besar dari nilai kritis yaitu 0,05 sehingga hipotesis 1 ditolak, selain itu hasil uji thitung lebih kecil daripada ttable sehingga hipotesis 1 ditolak. Dari hasil yang didapat, dapati diketahui bahwa variabel jumlah direktur secara parsial tidak memiliki pengaruh terhadap variabel kebijakan dividen perusahaan LQ45 periode 20132017. Variabel komisaris independen memiliki nilai probabilitas sebesar 0,7257 yang lebih besar dari nilai kritis yaitu 0,05 sehingga hipotesis 2 ditolak, selain Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 itu hasil uji thitung lebih kecil daripada ttable sehingga hipotesis 2 ditolak. Dari hasil yang didapat, dapati diketahui bahwa variabel komisaris independen secara parsial tidak memiliki pengaruh terhadap variabel kebijakan dividen perusahaan LQ45 periode . Variabel kepemilikan institusional memiliki nilai probabilitas sebesar 0,2345 yang lebih besar dari nilai kritis yaitu 0,05 sehingga hipotesis 3 ditolak, selain itu hasil uji thitung lebih kecil daripada ttable sehingga hipotesis 3 ditolak. Dari hasil yang didapat, dapati diketahui bahwa variabel kepemilikan institusional secara parsial tidak memiliki pengaruh terhadap variabel kebijakan dividen perusahaan LQ45 periode 2013-2017. Variabel Growth Opportunities memiliki nilai probabilitas sebesar 0. 0280 yang lebih kecil dari nilai kritis yaitu 0,05 sehingga hipotesis 4 diterima, selain itu hasil uji thitung lebih besar daripada ttable sehingga hipotesis 4 diterima. Dari hasil yang didapat, dapati diketahui bahwa variabel Growth Opportunities secara parsial berpengaruh terhadap variabel kebijakan dividen perusahaan LQ45 periode Variabel Growth Opportunities memiliki pengaruh positif terhadap kebijakan dividen karena memiliki nilai koefisien yang positif. Variabel struktur modal memiliki nilai probabilitas sebesar 0,1592 yang lebih besar dari nilai kritis yaitu 0,05 sehingga hipotesis 5 ditolak, selain itu hasil uji thitung lebih kecil daripada ttable sehingga hipotesis 5 ditolak. Dari hasil yang didapat, dapati diketahui bahwa variabel struktur modal Koefisien Determinasi (R. Tabel 9 Koefisien Determinasi menunjukkan bahwa seluruh variabel independen mempengaruhi variabel dependen sebesar 7,0766%, sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak ada di dalam penelitian. IV. SIMPULAN Setelah melalui beberapa proses penelitian mulai dari pencarian latar belakang, penyusunan tinjauan pustaka, pengumpulan data, pengolahan data, serta analisis dari hasil olahan data mengenai pengaruh jumlah direktur, komisaris independen, kepemilikan institusional. Growth Opportunities, dan struktur modal terhadap kebijakan dividen pada perusahaan LQ45 periode 2013-2017, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: . Board of Director Size tidak memiliki pengaruh terhadap kebijakan dividen pada perusahaan LQ45 periode 2013-2017. Komisaris independen tidak memiliki pengaruh terhadap kebijakan dividen pada perusahaanLQ45 periode 2013-2017. Kepemilikan institusional tidak memiliki pengaruh terhadap kebijakan dividen pada perusahaan LQ45 periode 2013-2017. Growth Opportunitiesberpengaruh terhadap kebijakan dividen pada perusahaan LQ45 periode dan . Struktur modal tidak memiliki pengaruh terhadap kebijakan dividen pada perusahaan LQ45 periode 2013-2017. DAFTAR RUJUKAN Bangun. Yuniarwati, & Santioso. AuPengaruh Corporate Governance. Profitability, dan Foreign Ownership terhadap Dividend Policy pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2014-2016Ay. Jurnal Akuntansi. 24912/ja. Basuki. & Prawoto. Analisis Regresi dalam Penelitian Ekonomi & Bisnis: Dilengkapi Aplikasi SPSS & EVIEWS. Depok: PT Rajagrafindo Persada Cahyadi. Purwanti. & Mardiati. AuPengaruh Profitabilitas. Dewan Komisaris. Komisaris Uji koefisien determinasi dilakukan untuk mengetahui pengaruh variabel indepen secara keseluruhan terhadap variabel dependen. Hasil pengolahan data yang telah dilakukan menggunakan aplikasi EViews versi 10. 0 memberikan hasil nilai R-Square sebesar 0. 111522 (Tabel . Nilai ini menunjukkan bahwa seluruh variabel independen mempengaruhi variabel dependen sebesar 11,1522%, sisanya dijelaskan oleh variabel-variabel lain yang tidak ada di dalam penelitian ini. Nilai Adjusted R menunjukkan niai sebesar 0. Nilai ini Independen. Risiko Idionsinkratis Dividend Payout RatioAy. Jurnal Economiam. Vol. No. April 2018. Universitas Brawijaya. Elva. AuPengaruh Kepemilikan Institusional dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan Hutang dan Nilai Perusahaan(Studi pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di BEI)Ay. JOM. [Onlin. Vol. No. 2, hlm 110-125. ttps://w. id/ojs/index. php/fe3/article/view/1736, diakses 6 Maret 2. Embara. Wiagustini. , & Badjra. AuVariabel Ae Variabel yang Berpengaruh terhadap Kebijakan Dividen serta Harga Saham Pada Perusahaan Manufaktur di Kalbisocio. Jurnal Bisnis dan Komunikasi. Volume 8. No. Februari 2021 Bursa Efek IndonesiaAy. Jurnal Manajemen. Strategi Putra. AuPengaruh Dewan Komisaris. Proporsi Bisnis, dan Kewirausahaan. Vol. No. Agustus. Komisaris Independen. Terhadap Kinerja PerusahaanAy Jurnal Manajemen Teori dan Terapan Tahun 8. No. Fatmariani. AuPengaruh Struktur Kepemilikan, 2, hlm 70-85. Debt Covenant dan Growth Opportunities Terhadap Rais. & Santoso. AuKepemilikan Konservatisme Akuntansi pada Perusahaan Manufaktur Manajerial. Kepemilikan Institusional. Profitabilias yang Terdaftar di Bursa Efek IndonesiaAy. Journal dan Ukuran Perusahaan Terhadap Kebijakan DividenAy Akutansi Vol. No. Universitas Negeri Padang. Jurnal Ilmiah Manajemen Bisnis. Vol. No. Juli Hlm. Ae Desember 2017, hlm 111-124. Universitas Kristen Ghozali. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program IBM SPSS 21. Semarang: Universitas Krida Wacana Sartono. Manajemen Keuangan Teori dan Aplikasi . th ed. Yogyakarta: BPFE Diponegoro Ghozali. & Ratmono. Analisis Multivariat dan Shamsabadi. Min. , & Chung. Ekonometrika dengan Eviews 10. Semarang : Badan AuCorporate Governance and Dividend Strategy: Penerbit Universitas Diponegoro Lessons from AustraliaAy. International Journal of Kurnianti. AuPengaruh Corporate Governance Terhadap Kebijakan Dividen (Studi Pada Perusahaan LQ-45 yang Terdaftar di BEI Periodo 2013-2. Ay. Universitas Lampung. http://digilib. id/id/ eprint/32941 Lestari. Profitability. Growth Opportunities. Managerial Finance. Vol. 12 Issue: 5, p. 583-610, https://doi. org/10. 1108/IJMF-08-2015-0156 Sindhu. Hashmi. , & Haq. AuImpact of Ownership Structure on Dividend Payout in Pakistani Non-Financial SectorAy. Cogent Business & Management 3. Leverage. Ukuran Perusahaan, dan Kebijakan Dividen. Syamsuddin. Manajemen Keuangan Perusahaan: Jurnal Riset Manajemen dan Bisnis (JRMB) Fakultas Konsep Aplikasi dalam: Perencanaan. Pengawasan. Ekonomi UNIAT. Vol. S1, 227Ae240. dan Pengambilan Keputusan. Jakarta: Rajawali Pers. Lestari. Frim Life Cycle. Ownership and Dividend Telkom. AuStrategi Telkom Genjot Pertumbuhan Bisnis Payout. The 6th Indonesian Finance Association Tahun 2014Ay. Diakses pada 30 Maret 2019 dari https:// Internal Conference 2020, . Yogyakarta. id/swa/ceo-interview/strategi-telkom-genjot- Lipton. and Lorsch. AuA modest proposal for improved corporate governanceAy. Business Lawyer. Vol. 48, pp. Mulyadi. Auditing Buku 1. Edisi Keenam. Jakarta : Salemba Empat Mulyono. Berprestasi Melalui JFP Ayo Kumpulkan Angka Kreditmu. Yogyakarta: Deepublish Palupi. Sudjana. N, & Z. Zahroh. AuPengaruh Sturuktur Modal Terhadap Kebijakan Dividen (Studi pada Perusahaan Manufaktur Sektor Industri Dasar & Kimia yang Terdaftar di Bursa efek Indonesia Periode pertumbuhan-bisnis-tahun-2014 Velnampy. AuCorporate Governance and Firm Performance : A Study of Sri Lankan Manufacturing CompaniesAy. Journal of Economics and Sustainable Development. Vol. No. 3, 2013 p. Widjaja. Perencanaan Sebagai Fungsi Manajemen. Jakarta: Penerbit PT. Rineka Cipta Winarno. W W. Analisis Ekonometrika dan Statistika dengan Eviews. Edisi Keempat. Yogyakarta : Unit Penerbit dan Percetakan (UPP STIM YKPN) 2013-2. Ay. Jurnal Administrasi Bisnis. Vol. No. hlm 76-82. Priyatno. Mandiri Belajar SPSS (Untuk Analisis Data dan Uji Statisti. Yogyakarta: MediaKom