JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. Upaya Meningkatkan Pemahaman Konsep Matematika dengan Model Pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (Cup. Berbantuan E-Modul Materi Trigonometri di Kelas XI Mipa-1 SMAN 1 Sinunukan Torang Siregar1*. Suparni2. Almira Amir3. Anita Adinda4 1*,2,3,4Pascasarjana Tadris Matematika,Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padangsidimpuan. Indonesia 1*Korespondensi : torangsir@uinsyahada. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk melihat apakah terdapat peningkatan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa dengan diterapkannya model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUP. berbantuan e-modul. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK), dengan subjek penelitian 310 orang siswa kelas XI MIPA-1 SMAN 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal. Objek penelitian ialah meneliti dapat atau tidaknya penerapan model pembelajaran CUPs berbantuan e-modul pada kelas XI MIPA-1 SMAN 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal tahun ajaran 2022/2023 meningkatkan pemahaman konsep matematika siswa pada materi trigonometri. Penelitian ini terdiri dari 2 siklus, pada siklus I berdasarkan analisis pada data menunjukkan siswa yang memenuhi kriteria keberhasilan belajar ialah 22 siswa . ,810%) sedangkan 13 siswa . ,14%) belum memenuhi kriteria keberhasilan belajar. Siklus I menghasilkan nilai tengah kelas 78,66. Selanjutnya, di Siklus yang ke II terjadi peningkatan yakni total siswa mencapai kriteria keberhasilan belajar menjadi 36 siswa . ,107%) atau kategori tinggi, meskipun 4 siswa . ,49%) masih belum memenuhi kriteria keberhasilan belajar dan nilai tengah kelas 86,38. Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa penerapan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUP. berbantuan e-modul pada materi trigonometri meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa kelas XI MIPA-1 SMAN 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal tahun ajaran 2022/2023. Kata kunci: kemampuan pemahaman konsep matematika. Conceptual Understanding Procedures (CUP. , e-modul. PENDAHULUAN Proses dimana masing-masing individu mengalami pembelajaran, pemahaman dan pelatihan dengan tujuan agar memperoleh ilmu dan keahlian yang bermanfaat untuk memperbaharui kapasitas diri masing-masing individu disebut sebagai pendidikan. Dalam pendidikan, peranan matematika sangat esensial dan dimanfaatkan dalam berbagai hal, matematika menjadi bagian dari penalaran dan penyelesaian kuantitatif mencakup dasar logika yang berguna pula bagi bidang ilmu yang lainnya (Dewi et al. Keterampilan pokok yang harus dimiliki ketika matematika dipelajari secara bermakna ialah pemahaman akan konsep (Rochim et al. , 2. Tingkat kemampuan pemahaman konsep yang tinggi, bila dimiliki oleh seorang siswa akan memudahkannya ketika memahami pembelajaran matematika saat di kelas (F. Sari et al. , 2. Berbagai jenis persoalan dan permasalahan pada matematika akan mampu diselesaikan seorang siswa dengan dimilikinya kemampuan memahami konsep yang baik. JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. Sebaliknya pula, kegunaan pengetahuan, kemampuan, dan berbagai ide matematika lainnya menjadi sangat terbatas apabila tidak dimilikinya kemampuan konsep matematika oleh siswa (Khairani et al. , 2. Namun berdasarkan fakta lapangan yang ada. Indonesia termasuk kedalam kategori rendah pada kemampuan siswa untuk memahami konsep matematika. Fakta ini dibuktikan oleh penelitian Trend International Mathematics and Science Study 20110 (TIMSS) dan Program for International Students Assessment 2018 (PISA). Hasil evaluasi TIMSS yang diikuti Indonesia terakhir kali pada 20110, mendapatkan peringkat dibidang matematika untuk siswa Indonesia dirangking 44 antar 49 keseluruhannya, perolehan poin 397 dari 1000 rata-rata international (Prastyo, 2. Demikian pula pada PISA 2018 menunjukkan pelajar dari Indonesia berada pada rangking 73 diantara 78 lainnya dengan perolehan poin matematika 379 (Mastutah, 2. Dari sini, diperoleh fakta kemampuan pemahaman konsep peserta didik di Indonesia masih rendah. Kegiatan wawancara yang telah dilaksanakan ke siswa kelas XI MIPA-1 SMAN 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal menjelaskan bahwa siswa menganggap pembelajaran matematika sebagai hal yang tidak menarik dan pelajaran sulit, ini menjadi akar masalah yang berdampak sehingga pemahaman tentang konsep matematika pada siswa menjadi kurang. Konsep yang dikaji dalam pembelajaran matematika bersifat abstrak menjadikan cara siswa memandang pelajara matematika ialahi suatu topik yang berat untuk siswa. Siswa yang mengalami kesulitan dalam pemahaman untuk suatu konsep berdampak pada kecenderungan memilih untuk menghafalkan konsep tersebut dengan tidak lagi paham maksud konsepnya. Pembelajaran dengan metode hafalan menjadikan hal memahami konsep matematika tidak sebenar-benarnya dipunyai oleh Sementara dari banyaknya kecakapan yang perlu dikuasai dalam matematika, terdapat satu kecakapan yang sangat penting dikuasai yaitu memahami konsep. Penulis juga melakukan kegiatan wawancara kepada seorang guru mata pelajaran bidang matematika yang mengajar untuk kelas XI MIPA-1 di SMA Negeri 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal, disampaikan pada wawancara tersebut mengenai fakta bahwa sebagian besar dari siswa mengalami sulitnya ketika harus paham tentang materi Selain itu diceritakan pula mengenai metode pembelajaran yang diterapkan kepada siswa menggunakan metode konvensional, dalam kegiatan belajar dan mengajar siswa terbiasa bertindak pasif dengan menjadikan guru sebagai opsi tunggal untuk menerima informasi pembelajaran. Kinerja serta daya kreativitas yang ada pada diri siswa dapat menjadi terhambat karena hal ini, sesudahnya akan berpengaruh kepada pemahaman yang dimiliki oleh siswa terkait konsep matematika akan selalu tergolong kedalam kategori rendah. Tes awal kepada siswa kelas XI MIPA-1 SMA Negeri 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal juga menunjukkan hasil rendah untuk kemampuan memahami konsep pelajaran matematika. Berdasarkan tes awal yang dilakukan di kelas XI MIPA-1 SMA Negeri 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal dengan keseluruhan terdapat 310 siswa, ditemukan permasalahan tentang kebanyakan dari siswa di dalam kelas tersebut yang pemahaman akan konsep matematikanya masih tergolong sangat rendah. Hasil yang ditemukan di lapangan memberikan bukti akan hal ini. Dari 310 siswa, terdapat 19 siswa . %) ada di golongan Ausangat rendahAy, 11 siswa . %) tergolong AyrendahAy, 3 siswa . %) termasuk kategori AycukupAy, sedangkan siswa yang memiliki tingkat pemahaman matematika AutinggiAy hanya 2 siswa . %). Maka karena itu, dibutuhkan adanya usaha yang bertujuan supaya terdapat peningkatan pada kemampuan siswa ketika memahami konsep matematika. Dalam meningkatkan kemampuan pemahaman konsep matematika siswa, guru menjadi salah JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. satu kunci keberhasilan. Titik sentral untuk mengendalikan, menyokong dan menghasilkan suasana belajar mengajar bergantung pada guru sehingga membantu tercapainya maksud pembelajaran. Untuk mencapai kemampuan pemahaman pada konsep matematika secara maksimal, guru harus mampu melakukan pemilihan yang tepat atas model pembelajaran yang diterapkan saat pembelajaran. (D. Sari, 2. menyatakan bahwa model pembelajaran adalah penyederhanaan secara umum terhadap proses pembelajaran yang memungkinkan bisa dipakai dalam berbagai topik juga mata pelajaran. Berarti penentuan model sebagai patokan yang dipergunakan ketika pembelajaran berlangsung sangatlah Oleh sebab itu, kemampuan guru dalam memahami berbagai macam tipe model pembelajaran sangat dibutuhkan, sehingga guru mampu memilih suatu model yang paling sesuai untuk diterapkan dari antara sekian banyaknya model pembelajaran yang ada. Dalam memilih model pembelajaran, sebaiknya memperhatikan apakah model yang diterapkan dapat membantu dalam membangun pengetahuannya secara mandiri, dan menjadikan siswa berperan aktif ketika pembelajaran berlangsung. Melalui pemilihan model pembelajaran yang tepat akan menjadikan siswa lebih dipermudah untuk dapat memiliki pemahaman terkait konsep pembelajaran yang dipelajari (Fitriani et al. , 2. Dari yang dikemukakan oleh Mulhall dan McKittrick . alam Widia & Deti, 2. model pembelajaran CUPs merupakan satu model pengajaran yang dimaksudkan supaya siswa dapat terbantu untuk meningkatkan pemahaman konsep yang dimilikinya dengan menyampaikan pemahaman yang sulit dan pemahaman yang sifatnya baru pada aktivitas kelompok dan juga individu. Model pembelajaran CUPs merupakan model yang memberikan kesempatan bagi siswa untuk mampu memiliki pemahaman terhadap konsep tertentu dengan berbagai langkah yang dirancang secara terstruktur dan pengerjaan personal, setelah itu melakukan diskusi bersama dengan kelompok supaya diperoleh kesepakatan dan pemahaman yang sama dan dijadikan sebagai kesimpulan. Penelitian terdahulu oleh Ade Fadhilla Rahayu di SMPN 2 Montasik dibidang Sains, mengungkapkan terjadinya peningkatan di siklus kedua pada hasil belajar siswa SMPN 2 Montasik dari 710% menjadi 100% melalui diterapkannya model pembelajaran CUPs (Rahayu, 2. Selain itu, berdasarkan kepada penelitian Vina Melani di SMPN 33 Purworejo pada kelas Vi A mengemukakan adanya kemajuan terhadap pemahaman konsep siswa dengan diimplementasikannya model pembelajaran CUPs pada pembelajaran di kelas. Dalam penerapan model pembelajaran CUPs, penggunaan media e-modul dirancangkan untuk menambah wawasan bagi siswa dan akhirnya sebagai media pendukung bagi siswa dalam memahami konsep yang dipelajari. Penggunaan media pembelajaran adalah langkah yang efektif juga efisien untuk perantara penyampaian informasi dalam pembelajaran, sehubungan dengan melalui pemanfaatan media pembelajaran yang inovatif serta melibatkan teknologi informasi mempunyai potensi yang besar dalam hal memperbaiki kualitas pembelajaran. (Imansari & Sunaryantiningsih, 2. melakukan penelitian yang menghasilkan bahwa penggunaan e-modul memberikan keberhasilan dalam pembelajaran untuk dijadikan media dengan kategori yang sangat baik yaitu skor rata-rata 84,72%. Maka dari itu, kesimpulan yang dapat diambil ialah e-modul dapat dijadikan media pembelajaran selama proses Dapat dikaji bahwa, beberapa permasalahan yang terdapat dalam penelitian ini yaitu: Siswa di kelas XI MIPA-1 SMA Negeri 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal memiliki kemampuan pemahaman konsep matematika yang masih sangat rendah. Siswa tidak dapat menyelesaikan permasalahan matematika dengan menggunakan konsep yang sudah pernah dipelajarinya. Pembelajaran matematika yang diterapkan JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. masih secara konvensional dimana siswa cenderung tidak aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Kelas XI MIPA-1 SMAN 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal belum mencoba menerapkan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUP. Kurangnya media pembelajaran yang mampu memikat perhatian siswa dan yang dapat menjadikan siswa semakin memahami konsep Berdasarkan penjabaran yang ada diatas, disusunlah rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu: apakah penerapan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUP. berbantuan e-modul mampu meningkatkan kemampuan siswa di kelas XI MIPA-1 SMA Negeri 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal dalam memahami konsep matematika? Dengan batasan masalah penelitian ini dibatasi pada peningkatan kemampuan siswa di kelas XI MIPA-1 SMAN 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal terkait pemahaman terhadap konsep matematika setelah menerapkan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUP. berbantuan e-modul. Berdasarkan latar belakang inilah peneliti mengambil keputusan untuk melaksanakan penelitian dengan mengimplementasikan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUP. berbantuan e-modul yang dianggap memiliki peluang dalam meningkatkan kemampuan siswa untuk memahami konsep pada pelajaran Adapun tujuan penelitian ini yakni bertujuan supaya diketahui apakah dengan menerapkan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUP. dengan berbantuan e-modul mampu meningkatkan kemampuan siswa di kelas XI MIPA1 SMA Negeri 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal dalam memahami konsep METODE Penelitian ini adalah penelitian jenis tindakan kelas (PTK). PTK merupakan suatu penelitian yang berfokus pada upaya membenahi tindakan pembelajaran yang diperbuat guru selama di dalam kelas, melalui PTK diinginkan terjadi peningkatan mutu Penelitian ini sifatnya kolaboratif antara peneliti bersama guru bidang studi matematika. Instrumen penelitian yang terdapat dalam penelitian ini terdiri dari instrumen perangkat pembelajaran serta instrumen pengumpulan data. Instrumen perangkat pembelajaran mencakup sekumpulan hal-hal yang berkaitan dengan sumber belajar yang dipakai untuk mendukung pembelajaran, yang terdiri atas Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), e-modul, dan soal tes. Instrumen pengumpulan data berkaitan dengan segala sesuatu yang dilakukan dengan tujuan mengumpulkan data, diantaranya wawancara pra siklus, tes pemahaman konsep kepada siswa, lembar observasi, serta dokumentasi. Pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan melalui tes dan non tes. Tes terdiri dari tes awal dan tes pemahaman konsep, sementara lembar observasi dan dokumentasi adalah bagian dari pengumpulan data bersifat non tes. Tes kemampuan pemahaman konsep siswa diberikan disetiap akhir siklus. Pada tahap awal penelitian juga dilakukan tes untuk melihat kemampuan awal yang dimiliki siswa. Tes disetiap akhir siklus dilakukan setelah pemberian tindakan pada siswa. Tes pemahaman konsep disusun dalam bentuk uraian yang jumlahnya sebanyak 3 soal. Pemilihan tes dalam bentuk uraian, ini dilakukan peneliti agar indikator-indikator dari pemahaman konsep matematika lebih Tes yang telah disusun terlebih dahulu divaliditas terlebih dahulu untuk melihat apakah tes tersebut sudah sesuai hal-hal yang ingin diukur melalui tes tersebut . aliditas Untuk mengetahui kevalidan tes tersebut, maka diajukan tes ini untuk di validitas JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. oleh 3 validator untuk memberikan penilaian. Peneliti mengajukan validasi terhadap tes yang dipakai dalam penelitian ini terhadap dua dosen dari prodi Pendidikan Matematika Universitas Negeri Medan kemudian satu guru mata pelajaran Matematika di SMAN 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal untuk menilai kevalidan tes tersebut. Sesudah proses validasi, soal-soal tersebut yang dinilai valid atau sudah dilakukan revisi sesuai arahan validator kemudian menjadi soal untuk dipakai di dalam penelitian ini. Penelitian ini menerapkan metode pelaksanaan penelitian tindakan kelas (PTK) yang diadaptasi dari Raka Joni dengan siklus: Alternatif Pemecahan (Rencana Tindaka. Pelaksanaan Tindakan I Refleksi I Analisis Data I Observasi I Belum Terselesaikan Alternatif Pemecahan (Rencana Tindaka. Pelaksanaan Tindakan II Refleksi II Analisis Data II Observasi II Belum Terselesaikan Siklus Selanjutnya Permasalahan Siklus I Siklus II Terselesaikan Gambar 1. Siklus PTK menurut Raka Joni (Syaifudin, 2. Siklus I dilaksanakan sesuai dengan berbagai tahapan seperti digambarkan di atas. Permasalahan didalam penelitian ini ialah rendahnya kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika. Permasalahan ditemukan peneliti melalui tes awal siswa dan wawancara dengan guru yang mengampu bidang studi matematika. Dari tes awal yang dilakukan di kelas XI MIPA-1 SMA Negeri 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal dengan keseluruhan terdapat 310 siswa, ditemukan permasalahan tentang kebanyakan dari siswa didalam kelas tersebut yang pemahaman akan konsep matematikanya masih tergolong sangat rendah. Hasil yang ditemukan di lapangan memberikan bukti akan hal Dari 310 siswa, terdapat 19 siswa . %) ada di golongan Ausangat rendahAy, 11 siswa . %) tergolong AyrendahAy, 3 siswa . %) termasuk kategori AycukupAy, sedangkan siswa yang memiliki tingkat pemahaman matematika AutinggiAy hanya 2 siswa . %). Berdasarkan hasil tes awal ini, dapat dilihat bahwa pemahaman konsep matematika siswa masih sangat rendah. Dengan melihat adanya permasalahan terhadap kemampuan siswa untuk memahami konsep, selanjutnya disusunlah suatu perencanaan tindakan pada siklus I untuk mengatasinya. Rencana tindakan I dibuat berdasarkan hasil tes dan kesulitan yang dialami siswa. Berdasarkan permasalahan tersebut, dikembangkan strategi untuk mengatasinya, antara lain: . Mempersiapkan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara merinci pada tahapan-tahapan yang diperlukan untuk menyelesaikan tujuan pembelajaran berbasi model pembelajaran CUPs. Menyiapkan bahan pembantu, seperti e-modul, lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Memperlengkapi alat penelitian yang diperlukan, seperti lembar observasi dan tes untuk mengukur pemahaman siswa tentang konsep . Melakukan diskusi dengan guru matematika kelas XI MIPA-1 SMAN 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal untuk menyesuaikan model pembelajaran yang JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. dipakai dengan mempertimbangkan latar belakang dan tingkat keterampilan siswa. Selama pelaksanaan tindakan di kelas, peneliti bertindak menjadi guru dan moderator dalam kegiatan belajar mengajar. Berikut ini adalah tugas-tugas yang diselesaikan selama fase ini: Pengembangan skenario belajar yang disusun menerapkan model pembelajaran CUPs. Peneliti berperan menjadi guru dan guru bidang studi matematika berperan sebagai pengamat yang memberikan umpan balik selama proses pembelajaran. Memberi siswa lembar kerja peserta didik (LKPD) yang sudah peneliti persiapkan. Mengarahkan supaya siswa mengerjakan LKPD yang diberikan. Membuka sesi tanya jawab kepada siswa untuk menanyakan kejelasan soal ataupun penjelasan terkait soal. Pada akhir tindakan, peneliti memberikan tes kemampuan pemahaman konsep matematika kepada siswa supaya diketahui pencapaian siswa setelah diberikan Penentuan skor terhadap hasil pengerjaan tes oleh siswa dilakukan melalui pemberian nilai pada masing-masing langkah pengerjaan permasalahan. Berdasarkan pedoman penskoran yang ada, maka rumus perhitungan terhadap skor yang diperoleh siswa ialah: ycAycnycoycaycn = ycycoycuyc ycycaycuyci yccycnycyyceycycuycoyceEa y 100 ycycoycuyc ycoycaycoycycnycoycyco Untuk melihat level kemampuan siswa dalam memahami konsep selama diterapkannya model CUPs, dilakukan analisis pada hasil tes siswa. Berpedoman kepada kriteria AuSangat Rendah. Rendah. Cukup. Tinggi dan Sangat TinggiAy dalam menentukan tingkat pemahaman konsep matematika, dengan nilai keberhasilan belajar 710 . ntuk rentang nilai 0-. yang menjadi standar minimal untuk memahami konsep. Nilai yang diperoleh siswa dari tes yang diberikan kemudian dikategorikan sesuai dengan tabel berikut. Tabel 1. Kriteria Tingkat Pemahaman Konsep Matematika (Riduwan & Akdon, 2. Rentang Nilai 90 O N <100 80 O N < 90 710 O N < 80 60 O N < 710 N < 60 Kategori Pemahaman Konsep Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Hal yang akan menjadi indikator keberhasilan peningkatan kemampuan siswa dalam memahami konsep diketahui dari: Meningkatnya pemahaman siswa akan konsep matematika, ditandai dengan meningkatnya skor pada masing-masing indikator pemahaman konsep. Hasil tes kemampuan siswa untuk memahami konsep meningkat di tiap-tiap Hasil tes memenuhi kriteria keberhasilan belajar klasikal sebesar 810% dan nila yang diperoleh siswa lebih dari atau sama dengan 710. Jika tercapai indikator keberhasilan penelitian ini, pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan dianggap berhasil. Namun, apabila indikator ini tidak tercapai, maka pengajaran dianggap belum berhasil dan lanjut pada siklus selanjutnya. JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Hasil tes kemampuan awal yang peneliti berikan pada kelas tersebut menunjukkan permasalahan yaitu tingkat kemampuan siswa dalam memahami konsep masih terbatas. Berikut hasil yang diperoleh dari tes awal: Tabel 2. Deskripsi Tingkat Kemampuan Awal Pemahaman Konsep Interval Nilai Tingkat Kemampuan Banyak Siswa Persentase 90 O N <100 80 O N < 90 710 O N < 80 60 O N < 710 N < 60 Total Siswa Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah Dari tabel 2, terlihat sebagian besar siswa berada pada tingkatan pemahaman tergolong sangat rendah. Dari jawaban siswa pada tes kemampuan awal, terdapat beberapa permasalahan yang peneliti dapatkan: Masih sangat rendahnya kemampuan yang siswa kelas XI MIPA-1 miliki dalam memahami konsep matematika. Siswa tidak dapat menyelesaikan persoalan dengan menggunakan konsep yang sudah pernah dipelajari. Pembelajaran matematika yang diterapkan masih berupa pembelajaran konvensional dimana siswa cenderung pasif selama kegiatan pembelajaran. Kelas XI MIPA-1 belum pernah menggunakan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUP. Kurangnya media belajar yang memikat perhatian siswa sehingga mendukung siswa untuk lebih paham akan konsep pada pembelajaran yang disampaikan. Inilah yang menjadi permasalahan untuk selanjutnya dilaksanakan pada siklus I. Siklus I Penyusunan perencanaan untuk tindakan I dirancang dengan harapan mampu menjadi solusi terhadap permasalahan pemahaman konsep matematika siswa. Adapun rencana tindakan I adalah: Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan model pembelajaran CUPs berbantuan e-modul. Memperlengkapi hal-hal yang mendukung berlangsungnya kegiatan proses belajar mengajar yaitu Lembar Kegiatan Peserta Didik. Membuat alat penilaian yang meliputi: . Tes Kemampuan Pemahaman Konsep I, yang mengukur kemampuan pemahaman konsep siswa. lembar aktivitas guru, yang digunakan untuk memantau tindakan instruktur selama proses pembelajaran. Selama melaksanakan tindakan. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang sudah ada dilaksanakan di dalam kelas. Dalam situasi ini, peneliti mengambil peran sebagai guru dan mengarahkan bagaimana kegiatan belajar mengajar dilakukan. Pembelajaran siklus pertama terdiri dari 3 kali pertemuan. Berdasarkan RPP, kegiatan JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. belajar mengajar dibagi menjadi tiga kategori: bagian pendahuluan, inti, dan bagian Tes kemampuan terhadap pemahaman konsep siklus I yang diberikan kepada 310 orang siswa, memperoleh 78,66 sebagai nilai rata-rata, dimana sebanyak 22 orang . ,810%) yang memperoleh nilai keberhasilan belajar Ou 710 dan yang tidak mencapai keberhasilan belajar ada 13 siswa . %). Hasil tes kemampuan siswa dalam memahami konsep terlihat pada tabel berikut yaitu: Tabel 3. Tingkat kemampuan siswa memahami konsep Siklus I Interval Nilai Tingkat Kemampuan Total Siswa Persentase Nilai Rata-Rata 90 O N <100 80 O N < 90 710 O N < 80 60 O N < 710 N < 60 Sangat Tinggi Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah 14,28% 17,14% 210,71% 11,43% 78,66 (Cuku. Salah satu dari jawaban siswa pada tingkat kemampuan yang tergolong sangat tinggi dan sangat rendah untuk indikator I ditunjukkan pada berikut. Gambar 1. Jawaban dengan kategori sangat tinggi untuk indikator I Dari gambar diatas, terlihat indikator I yaitu mengungkapkan kembali konsep yang telah dipelajari sudah terpenuhi untuk jawaban siswa di siklus I. Gambar 2. Jawaban siswa kategori sangat rendah untuk indikator I Dari gambar diatas, dijelaskan bahwa tingkat kemampuan menyatakan ulang sebuah konsep belum ditunjukkan. Meskipun hasil akhir sudah benar, namun dari jawaban yang ada terlihat ketidakmampuan siswa dalam memahami konsep yang digunakan dan sekedar menebak jawaban. Gambar 3. Jawaban siswa kategori sangat tinggi untuk indikator II JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. Dari gambar diatas, terlihat bahwa sudah terpenuhi indikator II yaitu merepresentasikan konsep yang ada kedalam berbagai bentuk sesuai keperluan dalam menyelesaikan persoalan matematika. Gambar 5. Jawaban siswa kategori sangat rendah untuk indikator II Dari gambar diatas, menjelaskan bahwa siswa masih belum menguasai indikator II. Dari jawaban diatas, belum menunjukkan kemampuan siswa untuk merepresentasikan konsep yang ada kedalam berbagai bentuk sesuai keperluan dalam menyelesaikan persoalan matematika. Nilai Rata-Rata Siklus I 77,68 67,86 74,55 Gambar 4. Grafik nilai rata-rata per indikator siklus I Berikut ini adalah hasil dari tes kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika yang diberikan di siklus I, yang mencakup tiga indikator pemahaman konsep Mengungkapkan kembali konsep yang telah dipelajari Hasil tes kemampuan yang diberikan pada siklus I menunjukkan kemampuan yang dimiliki siswa untuk indikator yang pertama ini tergolong cukup, dengan total skor 90 dari maksimal 112 dan persentase 77,68%. Merepresentasikan konsep yang ada kedalam berbagai bentuk sesuai keperluan dalam menyelesaikan persoalan matematika Pada indikator yang kedua, siswa tergolong pada tingkatan rendah dengan total skor 76 dari maksimal 112 dan persentase 67,86%. Menggunakan konsep atau prosedur penyelesaian masalah Pada indikator yang ketiga, siswa tergolong pada tingkatan cukup dengan total skor 168 dari maksimal 224 dan persentase 74,1010%. Tes kemampuan siswa memahami konsep pada siklus I menunjukkan hasil terdapat 14,28% yaitu 10 siswa tergolong kemampuan pemahaman konsep yang sangat tinggi, 36,43% yaitu 11 siswa tergolong tinggi, 17,14% yaitu 6 siswa tergolong cukup, 210,71% yaitu 9 siswa tergolong rendah, dan 11,43% yaitu 4 siswa tergolong sangat rendah. Hasil menunjukkan 22 dari 310 siswa . ,810%) mendapatkan nilai Ou710 dengan nilai ratarata pada siklus I sebesar 78,66. Walaupun nilai rata-rata kelas meningkat, penelitian masih belum memenuhi indikator keberhasilan yang ada secara menyeluruh. Persentase keberhasilan belajar klasikal yang diperoleh pada siklus I adalah 62,810% masih belum memenuhi persentase yaitu Ou810%. Dengan demikian, dilanjutkan penelitian siklus kedua dengan berpedoman pada hasil yang diperoleh dari siklus pertama untuk merancang tindakan yang akan membantu siswa pada kemampuan pemahaman konsep. A Siklus II JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. Pelaksanaan siklus II dilakukan karena tujuan penelitian belum tercapai dan terdapat hal-hal untuk dibenahi selama kegiatan pembelajaran. Sesuai indikator keberhasilan yang ditetapkan, diharapkan kemampuan siswa untuk memahami konsep mampu lebih dikembangkan di siklus II. Peneliti mengidentifikasi sejumlah masalah sebagai masalah II, dan rencana aksi kedua dilaksanakan, termasuk: Dari total siswa, 34,71% masih kesulitan menyelesaikan soal pemahaman konsep dengan benar. Siswa masih sulit dikondisikan ketika pembelajaran dilakukan dengan menggunakan pembelajaran berbasis kelompok, yang mengganggu ketertiban di dalam kelas. Adanya ketimpangan kemampuan ketika pembagian kelompok heterogen. Refleksi yang dilakukan pada siklus I menyatakan bahwa belum tercapai keberhasilan pada prose pembelajaran yang telah dilaksanakan. Peneliti sekarang membuat perencanaan untuk dilaksanakan pada tindakan kedua yang bertujuan menyelesaikan permasalahan pembelajaran pada siklus sebelumnya. Berikut adalah perencana untuk tindakan kedua: . Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) secara terperinci tehadap tahapan-tahapan sesuai sintas pada model pembelajaran CUPs berbantuan e-modul dan juga mempersiapkan lembar kerja untuk siswa dengan materi yang akan dipelajari selanjutnya sebagai bahan penunjang kegiatan pembelajaran yang sedang berlangsung. Menyusun kembali kelompok belajar berdasarkan perolehan hasil tes siswa ketika siklus pertama. Membuat alat penilaian, seperti tes kemampuan pemahaman konsep II yang mengevaluasi kemampuan yang dimiliki siswa untuk memahami konsep, serta mempersiapkan lembar observasi guru. Tes yang diberikan di siklus kedua kepada 310 orang siswa, menunjukkan nilai rata rata siswa yaitu 86,38 dimana 30 siswa atau 88,107% memperoleh nilai keberhasilan belajar Ou 710, sementara 4 siswa atau 11,42% tidak memenuhi keberhasilan belajar. Hasil tes pada siklus kedua ditunjukkan oleh tabel berikut: Tabel 4. Tingkat Kemampuan Pemahaman Konsep Siklus II Rentang Nilai Tingkat TotalSiswa Persentase Nilai rata-rata Kemampuan 90 O N <100 80 O N < 90 710 O N < 80 60 O N < 710 N < 60 Sangat Tinggi 110 Tinggi Cukup Rendah Sangat Rendah 1 42,810% 10,71% 8,107% 2,87% 86,38 (Tingg. Berikut ini adalah hasil dari tes kemampuan siswa dalam memahami konsep matematika yang diberikan di siklus kedua, yang mencakup tiga indikator pemahaman konsep matematika: Mengungkapkan kembali konsep yang telah dipelajari Hasil tes kemampuan yang diberikan pada siklus kedua menunjukkan kemampuan yang dimiliki siswa untuk indikator yang pertama ini tergolong sangat tinggi, dengan total skor 104 dari maksimal 112 dan persentase 92,86%. JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. Merepresentasikan konsep yang ada kedalam berbagai bentuk sesuai keperluan dalam menyelesaikan persoalan matematika Pada indikator yang kedua, siswa tergolong pada tingkatan cukup dengan total skor 87 dari maksimal 112 dan persentase 77,68%. Menggunakan konsep atau prosedur penyelesaian masalah Pada indikator yang ketiga, siswa tergolong pada tingkatan tinggi dengan total skor 196 dari maksimal 224 dan persentase 86,38%. Beberapa jawaban siswa pada tingkat kemampuan yang tergolong sangat tinggi pada siklus kedua dapat dilihat pada gambar berikut. Gambar 5. Jawaban tepat untuk indikator I pada siklus II Dari gambar 7 di atas terlihat tentang jawaban siswa sudah memenuhi indikator I dengan lengkap dan tepat. Gambar 6. Jawaban tepat untuk indikator II pada siklus II Dari gambar 8 terlihat tentang tingkat kemampuan siswa untuk indikator kedua dalam menyelesaikan soal terpenuhi. Gambar 7. Jawaban tepat untuk indikator i pada siklus II Dari gambar 9 terlihat tentang tingkat kemampuan pada siswa untuk indikator i dalam menyelesaikan soal sudah tercapai. JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. Grafik Hasil Tes Siklus II Gambar 8. Hasil uji pemahaman konsep siklus II Hasil yang diperoleh dari tes pada siklus kedua disajikan dalam gambar 10. Tes kemampuan siswa memahami konsep di siklus kedua memperoleh 42,810% atau 110 siswa tergolong memiliki tingkat pemahaman sangat tinggi, 40% atau 14 siswa atau tergolong dalam tingkat pemahaman tinggi, 3,107% atau 2 siswa tergolong tingkat pemahaman cukup, 3 siswa atau 8,107% tergolong rendah, dan 2,87% atau 1 siswa tergolong sangat rendah. Hasil tersebut memperoleh 88,107% siswa sudah memenuhi target nilai pemahaman konsep yaitu terdapat 36 siswa dari total 310 siswa memiliki nilai Ou710 dan rata-ratanya 86,38. Analisis hasil tes siklus kedua menunjukkan siswa menjadi lebih aktif ketika berdiskusi dan kelas menjadi lebih kondusif selama aktivitas belajar berlangsung. Selain itu, indikator pada kemampuan siswa dalam memahami konsep dapat dipenuhi dari penyelesaian siswa terhadap masalah yang diberikan. Terjadinya peningkatan sesudah disusunnya kelompok baru pada siklus dua saat model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures berbantuan e-modul digunakan. Terdapat beberapa hal yang dapat diambil dilihat dari hasil analisis data dan hasil tes, yakni: Kemampuan pemahaman konsep yang dimiliki siswa meningkat sesudah diterapkan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures berbantuan e-modul. Mengacu kepada nilai rata-rata kelas di siklus pertama yang masuk tingkat kategori cukup naik menjadi kategori sangat tinggi di siklus kedua. Terjadi peningkatan persentase keberhasilan yaitu dari 62,810% untuk siklus pertama naik hingga mencapai 88,107% ketika siklus kedua. Dari uraian diatas, jelas bahwa penelitian ini memenuhi kriteria keberhasilan, khususnya dalam hal meningkatkan kemampuan siswa untuk memahami konsep. Tujuan pada penelitian telah terpenuhi, oleh sebab itu pembelajaran berhenti serta siklus selanjutnya tidak diperlukan karena indikator keberhasilan penelitian telah terpenuhi. Sehingga bisa dikatakan penerapan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures berbantuan e-modul mampu memberikan peningkatan terhadap kemampuan siswa memahami konsep untuk materi trigonometri di XI MIPA-1 SMAN 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal. Pembahasan Hasil penelitian yang didapatkan menunjukkan penerapan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUP. berbantuan e-modul mampu meningkatkan kemampuan siswa memahami konsep matematika dalam materi trigonometri. Hasil tes yang diberikan kepada siswa mengalami kenaikan dari siklus I dan siklus II. Tabel 10 merinci kenaikan yang dialami selama penelitian ini. JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. Tabel 5. Tabel kemampuan pemahaman konsep siswa tiap siklus Interval Nilai Tingkat Tes Awal Siklus I Siklus II Kemampuan 90 O N <100 Sangat Tinggi 80 O N < 90 Tinggi 710 O N < 80 Cukup 60 O N < 710 Rendah N < 60 Sangat Rendah Rata-rata 109,23 78,66 86,38 Dari tabel 10 terlihat jumlah siswa yang berhasil mencapai kriteria keberhasilan yaitu Ou710 mengalami peningkatan, dapat dilihat bahwa saat tes awal hanya 10 siswa yang nilainya Ou710 yang berasal dari 2 siswa kategori tinggi dan 3 siswa kategori cukup. Setelah dijalankan siklus satu jumlah tersebut meningkat, sehingga siswa yang mencapai nilai Ou710 ada 21 orang dan meningkat lagi disiklus kedua menjadi 36 orang. Terlihat juga adanya peningkatan skor rata-rata kelas meningkat 19,43 poin dari tes awal yang ratarata kelas saat tes awal adalah 109,23, kemudian menjadi 78,66 di siklus pertama, lalu meningkat 7,72 poin sehingga rata-rata pada siklus kedua mencapai 86,38. Gambar 9. Nilai rata-rata kemampuan pemahaman konsep Kemampuan pemahaman konsep pada siswa untuk masing-masing indikator meningkat yang diukur dengan rata-rata kelas. Untuk indikator pertama, pada tes awal memperoleh rata-rata kelas 63,39 kemudian naik mencapai 77,68 pada siklus pertama dan 92,86 di siklus kedua. Indikator kedua, tes awal mendapatkan nilai rata-rata kelas 610,18 lalu naik menjadi 67,86 di siklus pertama, dan siklus II menjadi 77,68. Indikator i, tes awal memiliki rata-rata 49,11 lalu siklus pertama diperoleh 74,1010 dan naik menjadi 87,100 disiklus kedua. Dari rata-rata setiap indikator, didapatkan bahwa indikator I memiliki nilai rata tertinggi ketika di siklus pertama dan kedua dibandingkan indikator lainnya. Untuk indikator II apabila dibandingkan dengan indikator pertama dan ketiga, memiliki nilai rata-rata yang paling kecil dikarenakan pada indikator II yaitu merepresentasikan konsep yang ada kedalam berbagai bentuk sesuai keperluan menjadi cukup sulit untuk memproses penyelesaian terhadap soal representasi matematika yang diberikan, dapat disimpulkan dari ketiga indikator tersebut pada indikator II memiliki tingkat kesulitan yang lebih dibandingkan indikator I dan i. Untuk hasil yang lebih jelas dan lengkap disajikan sebagai berikut: JOURNAL TRIGONOMETRI Indikator Pemahaman Konsep VOL. 1 NO. Nilai Rata-Rata Tes Awal Siklus I Siklus II Menyatakan ulang sebuah konsep 63,39 77,68 92,86 Menyajikan konsep dalam representasi matematika 610,18 67,86 77,68 Mengaplikasikan penyelesaian masalah 49,11 74,101 87,100 Dari analisis data, peneliti dapat menyatakan bahwa pada siklus I kriteria keberhasilan belajar klasikal yaitu 810%, belum tercapai, karena pada siklus I keberhasilan belajar klasikalnya hanya mencapai 62,810%. Selanjutnya saat siklus II dilaksanakan dan dilakukan perubahan susunan kelompok sehingga dalam setiap kelompok tersebar secara merata tingkat kemampuan siswa, kondisi tersebut menghasilkan suasana pembelajaran yang lebih baik serta peranan aktif siswa lebih Dengan demikian bisa dinyatakan bahwa penelitian telah berhasil dan tercapai, dengan berdasarkan kepada: Masing-masing indikator pada tes kemampuan memahami konsep telah mengalami Hasil tes untuk melihat kemampuan memahami konsep pada masing-masing siklus meningkat. Skor yang diperoleh dari observasi mengelola aktivitas belajar memiliki kategori sangat baik. Berdasarkan hal-hal tersebut, maka penerapan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures berbantuan e-modul pada siswa kelas XI MIPA-1 SMAN 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal Tahun Pelajaran 2022/2023 mampu memberikan peningkatan kemampuan siswa dalam memahami konsep. Dari hasil penelitian ini, model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures berbantuan emodul ini sangat direkomendasikan untuk diterapkan. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan diambil kesimpulan terhadap hasil yang diperoleh yaitu dengan menerapkan model pembelajaran Conceptual Understanding Procedures (CUP. berbantuan e-modul mampu memberikan peningkatan terhadap kemampuan siswa kelas XI MIPA-1 SMAN 1 Sinunukan. Kabupaten Mandailing Natal Tahun Pelajaran 2022/2023 dalam memahami konsep. Pada penelitian ini terdiri dari dua siklus, dimana pada siklus yang kedua terpenuhi indikator keberhasilan penelitian. Terdapat peningkatan persentase siswa yang berhasil mencapai kriteria keberhasilan belajar klasikal pada tes menjadi kategori sedang dan pada setiap siklus terjadi peningkatan nilai rata-rata. Hal tersebut mengindikasikan bahwa kemampuan siswa dalam memahami konsep mengalami peningkatan. Berdasarkan hasil tes awal, hanya 10 siswa . tau 14,28%) yang nilainya Ou710. Kemudian, ketika siklus I jumlah tersebut meningkat yaitu dari 10 siswa menjadi 22 siswa . ,810%) berarti kemampuan siswa dalam memahami konsep mengalami peningkatan. Terdapat pula peningkatan terhadap nilai rata-rata kelas meningkat pada 78,66 setelah siklus pertama dilaksanakan. Selanjutnya melalui siklus kedua terdapat juga peningkatan kemampuan siswa untuk JOURNAL TRIGONOMETRI VOL. 1 NO. memahami konsep ditunjukkan melalui jumlah siswa dengan nilai Ou710 bertambah dari 22 siswa ke 36 . ,107%) siswa dan terjadi kenaikan nilai rata-rata kelas yaitu 86,38. DAFTAR PUSTAKA