JIFI (JURNAL ILMIAH FARMASI IMELDA) Vol. No. Maret 2022, pp. ISSN: 2597-7164 (Onlin. ,2655-3147 (Prin. https://jurnal. id/index. php/JURNALFARMASI A 65 ISOLASI DAN IDENTIFIKASI SENYAWA FLAVONOIDA DARI DAUN TUMBUHAN MUNDU (Garcinia dulcis (Rox. Sri Rezeki Samosir Universitas Imelda Medan. Indonesia Article Info Article history: Received Feb 21, 2022 Revised Mar 29, 2022 Accepted Mar 30, 2022 Keywords: Flavonoid Compounds Biflavonoid Spectroscopic ABSTRACT The isolation and identification of flavonoid leaves were conducted compound from mundu (Garcinia dulcis (Rox. The isolation process of flavonoid compounds began through maceration process by using methanol, then the partitioning was carried out using ethyl acetate and hexane, and the isolation proces swas continued using column chromatography. Determination of the structure used UVAevisible spectrophotometry (UV-Vi. Infrared spectroscopy (IR). Nuclear Magnetic Resonance (NMR) and Liquid chromatographyAemass spectrometry (LC-MS/MS). Flavonoid compound obtained weighed 12. 0 mg and (Reterdation Facto. of 37 The results of the spectroscopic data interpretation showed that the flavonoid compound was included in bi flavonoid type which was morreloflavanon with the molecular formula of C30H23O11 and molecular weight of 559m/z. This is an open access article under the CC BY-SAlicense. Corresponding Author: Sri Rezeki Samosir Program Studi S1 Farmasi. Universitas Imelda Medan. Jl. Bilal No. 52 Kelurahan Pulo Brayan Darat I Kecamatan Medan Timur. Medan - Sumatera Utara. Email: sr473569@gmail. INTRODUCTION Tanaman yang mengandung senyawa flavonoida dapat digunakan sebagai antikanker, antioksidan, antiinflamasi, antialergi dan antihipertensi (Fauziah, 2. Salah satu garcinia yang telah dibudidayakan adalah mundu (Garcinia dulci. Berdasarkan uji fitokimia tumbuhan mundu positip mengandung senyawa flavonoida. Menurut perkiraan, sebesar 2% dari seluruh karbon yang difotosintesis oleh tumbuhan diubah menjadi flavonoida atau senyawa yang berkaitan erat dengan senyawa flavonoida (Markham, 1. Di Sumatera ditemukan 22 jenis Garcinia sebagian Garcinia di Indonesia masih tumbuh liar dihutan-hutan. Salah satu Garcinia yang telah dibudidayakan adalah Mundu (Garcinia dulci. Tanaman ini memiliki habitat di Jawa. Sulawesi dan Maluku, terutama di hutan primer, hutan dataran rendah, batu karang dan pinggir sungai pada ketinggian 350 mdpl. Tinggi tanaman ini mencapai 10-13 meter dengan daun berbentuk bulat telur/lonjong berwarna hijau, dan buahnya berbentuk bulat dengan rasa yang asam-manis. Menurut (Sarastani, 2. kebanyakan sumber antioksidan alami adalah tanaman yang mengandung senyawa fenol yang tersebar di seluruh bagian tanaman baik di kayu, biji, daun, buah, akar, bunga Journal homepage: https://jurnal. id/index. php/JURNALFARMASI 66 A e-ISSN:2597-7164Ae p-ISSN: 2655-3147 maupun serbuk sari. Keanekaragaman berbagai jenis tanaman di Indonesia yang berpotensi untuk digunakan sebagai bahan baku obat Tanaman dari jenis manggis-manggisan (Garcini. merupakan salah satu tumbuhan yang belum didayagunakan secara optimal. Hasil pengamatan yang dilakukan terhadap 476 nomor spesimen herbarium jenis-jenis Garcinia (Garcinia sp. yang disimpan di Herbarium Bogoriense, dan telah ditemukan 64 jenis Garcinia di seluruh Indonesia. Peran terpenting flavonoid dari sayuran dan buah segar adalah mengurangi resiko terkena penyakit jantung dan stroke (Safitri, 2. Tumbuhan yang mengandung flavonoid banyak dipakai dalam pengobatan tradisional. Flavonoida adalah senyawa yang mengandung C15 terdiri atas dua inti fenolat yang dihubungkan dengan tiga satuan karbon (Sastrohamidjojo, 1. Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa C 6-C3-C6, artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 . incin benzena tersubstitus. disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon (Robinson, 1. (Deachathai et al. , 2. melaporkan bahwa senyawa-senyawa hasil isolasi dari buah, bunga dan biji G. dulcis memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcusaureus dan bakteri MRSA (Methicilin Resistant Staphylococcus aureu. , sedangkan (Herlina and Ersam, 2. melaporkan bahwa senyawa santon yang diperoleh dari kulit akar (Garcinia dulcis (Rox. Kur. memiliki aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Eschericia coli. (Ansari et al. melaporkan didalam daun mundu terdapat kandungan flavonoida golongan biflavonoid, namun pada penelitian itu belum dilakukan uji aktivitas dari senyawa flavonoida tersebut. Berdasarkan uraian tersebut perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut untuk mengetahui senyawa golongan flavonoida yang ada pada daun mundu dengan melakukan isolasi dan identifikasi terhadap ekstrak daun mundu. Menentukan struktur senyawa flavonoida hasil isolasi menggunakan spektrofotometer ultraviolet visible (UV-Vi. , inframerah (FT-IR), spektrometer . H-NMR), 13CNMR dan kromatografi cair spektrometer massa (LC-MS/MS). RESEARCH METHOD Alat Alat Gelas merk Pyrex. Rotari evaporator, merk Bychi R-114. Penangas air merk Bychi B480. Botol vial. Steaming Water Bath. Bejana Kromatografi Lapis Tipis. Spektrofotometer UV -Vi s SP300. Spektrofotometer FT-IR Shimadzu. Spektrometer 1H-NMR & 13C-NMR merk Delta 2 NMR, dan Spektrometer LC-MS/MS tipe ACQUITY UPLCAH-Class System . aters,USA. Bahan Pada uji pendahuluan digunakan FeCl3 5%. NaOH 10%. HCl 37%, dan logam Mg. Pada keperluan ekstraksi maserasi digunakan pelarut berderajat teknis meliputi metanol, etil asetat dan n-heksana. Sementara untuk keperluan isolasi digunakan pelarut berderajat proanalis seperti metanol, kloroform, benzene, n-heksana, etil asetat dan plat Kromatografi Lapis Tipis (KLT) produk Merck dan untuk keperluan uji aktivitas antioksidan diperlukan asam askorbat dan DPPH . ,2-diphenyl-1-picryl-hydrazi. Aldrich. Cara Kerja Preparasi Sampel Daun Tumbuhan Mundu (Garcinia dulcis (Rox. Kur. Sampel yang diteliti adalah Daun Mundu (Garcinia dulcis (Rox. Kur. Sampel daun mundu dikeringkan diudara, lalu digiling halus sampai diperoleh serbuk daun tumbuhan mundu sebanyak 2300 g. Uji Skrining Fitokimia Terhadap Ekstrak Daun Tumbuhan Mundu Serbuk kering halus daun tumbuhan mundu dianalisis dengan menggunakan metodeskrining fitokimia dilakukan secara kualitatif dengan reaksi warna sebagai berikut: Dituangkan sebanyak 10 gram serbuk daun tumbuhan Mundu kering ke dalam Erlenmeyer. Kemudian ditambahkan 100 mL etil asetat ke dalam gelas Erlenmeyer dan didiamkan selama 1 malam. Lalu didekantasi dan dibagi masing-masing ekstrak sampel sebanyak 2 mL ke dalam 3 tabung reaksi lalu ditambahkan masing-masing pereaksi. JIFI (Jurnal Ilmiah Farmasi Imeld. Vol. No. 2,Maret 2022: 65-72 JIFI (Jurnal Ilmiah Farmasi Imeld. A 67 Ekstraksi Daun Tumbuhan Mundu Serbuk daun tumbuhan mundu ditimbang sebanyak 2300 g, kemudian dimaserasi dengan metanol teknis sebanyak 18 L sampai sampel terendam seluruhnya dan dibiarkan selama24 Maserat dipekatkan dengan menggunakan rotaryevaporator juntuk memperoleh ekstrak pekat metanol dan ditetesi dengan reagen FeCl3 5%. Kemudian diuapkan menggunakan penangas uap untuk menuapkan pelarut. Diteruskan untuk pemisahan senyawa tanin dengan cara melarutkan ekstrak pekat metanol dengan aquadest lalu dipartisi berulang-ulang dengan etil asetat, hingga ekstrak etil asetat hingga flavonoida negatif terhadap pengujian dengan FeCl3 5%. Fraksi etil asetat kemudian dirotarievaporator lalu diuapkan dengan penangas air hingga semua pelarut etil asetat menguap. Ekstrak pekat etil asetat dilarutkan dengan metanol dan diekstraksi partisi berulang-ulang dengan n-heksan sampai lapisan n-heksan bening. Residu dipekatkan kembali dengan rotarievaporator dan diuapkan kembali sehingga diperoleh ekstrak pekat lapisan metanol. Analisa Kromatografi Lapis Tipis Analisa Kromatografi Lapis Tipis dilakukan terhadap ekstrak metanol dengan menggunakan fase diam silika gel 60F254E. Merck. Fase gerak yang digunakan adalah campuran pelarut kloroform: metanol dengan perbandingan 90:10. 80:20. 70:30. 60:40 . Dimasukkan 10 ml campuran larutan fase gerak kloroform : metanol 90:10 . kedalam bejana kromatografi, kemudian dijenuhkan. Pada plat KLT yang telah diaktifkantotolkan ekstrak pekat metanol. Dimasukkan plat kedalam bejana yang telah berisi campuran pelarut yang telah dijenuhkan, lalu ditutup dan dielusi hingga pelarut mencapai batas yang telah Plat yang telah dielusi, dikeluarkan dari bejana, lalu dikeringkan. Diamati noda yang terbentuk dibawah sinar UV, kemudian difiksasi dengan pereaksi FeCl3 5%. Diamati warna noda hitam yang timbul dan dihitung harga Rf yang diperoleh. Perlakuan yang sama dilakukan untuk perbandingan pelarut kloroform: metanol dengan perbandingan 80:20. 70:30. 60:40 . Pemisahan Senyawa Flavonoida Dengan Kromatografi Kolom Pemisahan senyawa golongan flavonoida dilakukan dengan metode kolom kromatografi terhadap ekstrak pekat metanol. Silika gel 40 . -230 mes. digunakan sebagai fase diam yang digunakan adalah dan fase gerak yaitu kloroform 100%, campuran pelarut kloroform: metanol dengan perbandingan konsentrasi yang ditentukan 90:10, 80:20, 70:30, 60:40 . Tahap awal merangkai alatkolom. Kemudian silika gel 40 dibuburkan . -230 mes. dengan menggunakan kloroform, dihomogenkan lalu dimasukkan kedalam kromatografi kolom. Kemudian dielusi dengan menggunakan kloroform 100% sampai diperoleh silika gel berbentuk padat dan homogen. Dibuburkan 6,2 g ekstrak pekat metanol ditambahkan dengan silika gel kemudian dilarutkan dengan pelarut metanol, lalu dikeringkan sampai berbentuk Kemudian dimasukkan kedalam kromatografi kolom yang berisi lapisan bubur silika gel, lalu ditambahkan fase gerak kloroform: metanol 90:10 . secara perlahan-lahan dan diatur sehingga aliran fase yang keluar dari kolom sama banyaknya dengan penambahan fase gerak dari atas. Ditingkatkan kepolaran dengan menambahkan fase gerak kloroform: metanol dengan perbandingan konsentrasi 80:20 . , 70:30 . , 60:40 . Hasil yang diperoleh ditampung dalam botol vial setiap 10 mL, lalu di KLT dan diuji dengan pereaksi FeCl3 5%. Kemudian digabung fraksi dengan harga Rf yang sama sehingga diperoleh, pertama fraksi 6181 dengan jumlah noda 2 dengan harga Rf 0,23 : 0,25 kedua fraksi 81-144 dengan jumlah noda 2 dengan harga Rf 0,12 : 0,14 ketiga fraksi 145-173 dengan jumlah noda 1 dengan harga Rf 0,04, keempat fraksi 174-243 dengan jumlah noda 1 dengan harga Rf 0,06 . dan di KLT lalu diuji dengan FeCl3 5%, kemudian diuapkan sampai terbentuk padatan. Pemurnian Senyawa Hasil Isolasi Padatan yang diperoleh dari pemisahan dengan kromatografi kolom dengan fraksi yang paling baik yaitu 61-81 dilarutkan dengan metanol lalu dianalisis KLT menggunakan beberapa pelarut dengan perbandingan tertentu. Kloroform: etil asetat 80:20 . adalah fase gerak Isolasi Dan Identifikasi Senyawa Flavonoida Dari Daun. (Sri Rezeki Samosi. 68 A e-ISSN:2597-7164Ae p-ISSN: 2655-3147 yang menunjukkan pemisahan yang paling baik untuk selanjutnya digunakan untuk menjenuhkan bejana KLT preparatif. Kemudian padatan yang telah dilarutkan, ditotolkan secara perlahan-lahan dan sama rata disepanjang tepi bawah plat KLT preparatif. Plat diamasukkan kedalam bejana yang berisi campuran pelarut yang telah dijenuhkan, kemudian Setelah dielusi, plat dikeluarkan dari bejana, dikeringkan, dan hasilnya diperiksa dibawah sinar UV. Tiap zona diberi tanda dan dikeruk lalu dielusi dengan kloroform: etil asetat . Hasil elusi diuapkan hingga diperoleh padatan amorf berwarna kuning. Hasil isolasi dimurnikan dengan menggunakan pelarut aseton dan n-heksan hingga diperoleh senyawa murni yang dibuktikan dengan noda yang tunggal pada plat KLT. Identifikasi Senyawa Hasil Isolasi Penentuan struktur senyawa hasil isolasi dianalisis menggunakan spektrofotometer yaitu Spektofotometer UV-Visible. Spektrofotometer Infra Merah (FT-IR), dan Spektrofotometer Resonansi Magnet Inti Proton ( 1HNMR), karbon . CNMR) dan Spektrofotometer LCMS/MS. RESULTS AND ANALYSIS Hasil determinasi sampel yang dilakukan di Laboratorium biologi (Herbarium Medanens. Universitas Sumatera Utara menyatakan sampel yang digunakan pada penelitian adalah benar (Garcinia dulcis (Rox. Kur. Serbuk Daun mundu (Garcinia dulcis (Rox. Kur. diuji untuk mengetahui apakah daun mundu tersebut mengandung senyawa flavonoida atau tidak. Pengujian dilakukan menggunakan pereaksi FeCl3 5%. Serbuk Mg. HCl . dan menggunakan pereaksi H2SO4 (P) terhadap ekstrak etil asetat. Berdasarkan hasil KLT dapat dinyatakan bahwa sampel sudah murni dan menghasilkan 1 noda dengan massa 12,0 mg dengan nilai Rf yang diukur sebesar 0,37. Senyawa Flavonoida Hasil Isolasi yang dianalisis dengan Alat Spektrofotometer UV-Visible. Spektrofotometer FT-IR. Spektrofotometer 1H-NMR. Spektrofotometer 13C-NMR dan Spektrofotometer LC-MS/MS Spektrum UV-Visible (UV-Vi. Senyawa Flavonoida Hasil analisa Spektrofotometer Ultraviolet-Visible (UV-Vi. pada senyawa hasil isolasi dengan menggunakan pelarut polar Metanol ditunjukkan pada gambar 1. II=288. I=339. 500 nm Gambar 1. Analisa Spektrofotometer Ultraviolet-Visible (UV-Vi. pada Senyawa Hasil Isolasi dengan Menggunakan Pelarut Polar Metanol Dari hasil analisa menggunakan alat Spektrofotometer Ultraviolet-Visible (UV-Vi. dengan pelarut metanol menunjukkan adanya dua serapan panjang gelombang maksimum ( mak. yaitu pada pita I menunjukkan panjang gelombang 339. 500 nm dan pada pita II menunjukkan panjang gelombang 288. 500 nm yang sesuai dengan panjang gelombang pembanding (Markham, 1. yaitu ditunjukkan pada tabel 1. Hal ini menunjukkan bahwa senyawa flavonoida hasil isolasi JIFI (Jurnal Ilmiah Farmasi Imeld. Vol. No. 2,Maret 2022: 65-72 A 69 JIFI (Jurnal Ilmiah Farmasi Imeld. sesuai dengan spektrum UV-Visible dari senyawa pembanding flavonoida yaitu senyawa golongan Flavon. Tabel 1. Panjang Gelombang UV-Visible Senyawa Hasil Isolasi Pita Panjang Gelombang . Senyawa Hasil Isolasi Senyawa Pembanding Absorbansi 0,758 0,865 Perubahan pergeseran yang terjadi pada cincin A cenderung tercerminkan adanya serapan pita II, sedangkan perubahan pergeseran yang terjadi pada cincin B dan C cenderung lebih jelas tercermin adanya pada serapan pita I. Berdasarkan tabel 1. Pita II menghasilkan panjang gelombang yang lebih tinggi dari senyawa pembanding hal ini disebabkan oleh Oksigenasi tambahan . erutama hidroksilas. yang umumnya mengakibatkan pergeseran pita yang sesuai ke panjang gelombang yang lebih tinggi (Markham, 1. Spektrum FT-IR Senyawa Flavonoida Hasil analisa Spektrofotometer Inframerah (FT-IR) dari padatan amorf hasil isolasi memberikan serapan-serapan pada daerah bilangan gelombang . pada gambar 2: Gambar 2. Analisa Spektrofotometer Inframerah (FT-IR) dari Padatan Amorf Hasil Isolasi Memberikan Serapan-Serapan Pada Daerah Bilangan Gelombang . Dari hasil analisa Spektrofotometer Inframerah (FT-IR) pada senyawa hasil isolasi menghasilkan serapan-serapan pada daerah bilangan gelombang . pada tabel 2. Tabel 2. Analisa Spektrofotometer Inframerah (FT-IR) dari Padatan Amorf Hasil Isolasi Memberikan Serapan-Serapan Pada Daerah Bilangan Gelombang . Spektrum FTIRSampel . Bilangan Gelombang (Pavia,2. Gugus Fungsi Keterangan Vibrasi Ulur C-H Alifatis Vibrasi Ulur C=O Keton Vibrasi Ulur C=C Aromatis Vibrasi Ulur C-O Vibrasi Ulur C-O-C Sedang Tajam Sedang Tajam Sedang Dari hasil analisa Spektrum Inframerah (FT-IR) (Gambar . diperoleh bilangan gelombang 3379,29 cm-1 dengan puncak lebar menunjukkan adanya vibrasi ulur dari O-H yang didukung oleh bilangan gelombang 1165,00 cm-1 puncak tajam menunjukkan adanya vibrasi ulur C-O. Pada bilangan gelombang 3379,29 cm-1 vibrasi ulur O-H pada bilangan gelombang 1635,64 cm-1 dengan puncak tajam, menunjukkan pergerakan vibrasi ulur C=O keton, pada bilangan gelombang 1458,18 - 1512,19 cm-1 dengan puncak sedang, menunjukkan adanya Vibrasi ulur C=C aromatis, pada bilangan gelombang 1087,85 cm-1 dengan puncak sedang, menunjukkan adanya pergerakan vibrasi ulur C-O-C gugus eter sesuai dengan data Spektrum Inframerah (FT-IR). Seluruh data Spektrum Isolasi Dan Identifikasi Senyawa Flavonoida Dari Daun. (Sri Rezeki Samosi. 70 A e-ISSN:2597-7164Ae p-ISSN: 2655-3147 Inframerah (FT-IR) yang diproleh ini menunjukkan gugus fungsi yang umumnya terdapat pada senyawa flavonoida. Spektrum NMR Senyawa Flavonoida Hasil Isolasi Spektrometer 1H-NMR digunakan untuk menentukan jumlah proton dalam lingkungan kimiadan menentukan jumlah karbon yang terdapat pada senyawa hasil isolasi dengan menggunakan Spektrometer 13C-NMR. Hasil analisa Spektrofotometer . H-NMR) terhadap senyawa hasil isolasi dengan menggunakan Aseton sebagai pelarut dan sebagai pelarut pembanding TMS diproleh spektrum dengan lingkungan pergeseran kimia dari proton tertera dalam gambar 3 dan penjelasan pada tabel Gambar 3. Analisa Spektrofotometer . H-NMR) Terhadap Senyawa Hasil Isolasi Dengan Menggunakan Aseton Sebagai Pelarut Dan Sebagai Pelarut Pembanding TMS Diproleh Spektrum Dengan Lingkungan Pergeseran Kimia Dari Proton Dari hasil analisa Spektrum 1H-NMR dengan menggunakan pelarut Aseton (Gambar dan Gambar . diperoleh adanya pergeseran kimia pada posisi= 5,864 ppm dan = 5,888 ppm . H) puncak doublet menunjukkan proton dari H-6 dan H-8, posisi pergeseran kimia pada daerah = 6,3064 ppm . H) puncak singlet menunjukkan proton dari H-6AoAodan adanya pergeseran kimia pada posisi = 6,4527 ppm . H) puncak singlet menunjukkan proton dari H-3AoAoAoPergeseran kimia pada posisi = 6,538 ppm . H) puncak doublet menunjukkan proton dari H-5Ao, pada pergeseran kimia pada posisi = 6,1192 ppm . H) puncak doublet menunjukkan proton dari H-3Ao, pergeseran kimia pada posisi = 6,852 ppm puncak doublet menunjukkan proton dari H-5AoAoAo. H) pada pergeseran kimia pada daerah = 7,002 ppm dan = 7,019 ppm . H) Puncak doublet menunjukkan proton dari H-2Ao dan H-6Ao, pergeseran kimia posisi = 7,233 ppm . H) puncak doublet menunjukkan proton dari H-6AoAoAo, adanya pergeseran kimia daerah = 7,491 ppm . H) puncak singlet menunjukkan proton dari H-2AoAoAo. Tabel 3. Analisa Spektrofotometer . H-NMR) Terhadap Senyawa Hasil Isolasi Dengan Menggunakan Aseton Sebagai Pelarut Dan Sebagai Pelarut Pembanding TMS Diproleh Spektrum Dengan Lingkungan Pergeseran Kimia Dari Proton Daerah Pergeseran Kimia/. 5,864Ae5,888 6,3064 6,452 6,538 6,097 Proton H-6& H8 H-6AoAo H-3AoAoAo H-5Ao H-2 Jenis Puncak Doublet Singlet Singlet Doublet Doublet Pergeseran Kimia . Pembanding 5,971Ae 6. 6,259 6,429 6,442 6,162 JIFI (Jurnal Ilmiah Farmasi Imeld. Vol. No. 2,Maret 2022: 65-72 Jenis Puncak Pembanding Doublet Singlet Singlet Doublet Doublet A 71 JIFI (Jurnal Ilmiah Farmasi Imeld. H-3 H-3Ao H-5AoAo H2Ao&H6Ao H-6AoAoAo H-2AoAoAo 6,021 6,1192 6,852 7,002Ae7,019 7,233 7,491 Singlet Doublet Doublet Doublet Doublet Singlet 6,254 6,636 6,928 7,069Ae7,111 7,309 7,356 Singlet Doublet Doublet Doublet Doublet Doublet Nb: *(Markham, 1. Berdasarkan spektrum dan tabel data 13C-NMR senyawa flavonoida dan memperlihatkan sinyal-sinyal pada pergeseran kimia C . 197,9. 183,9. 168,3. 165,8. 164,3. 163,5. 162,5. 158,3. 157,8. 151,1. 151,0. 147,3. 146,9. 130,5. 129,3. 123,4. 120,5. 116,7. 115,6 . 114,3. 105,1. 103,4. 103,1. 102,2. 99,5. 97,6. 96,0. 82,3. dan 48,6. Hasil 13C-NMR diproleh 30 jumlah atom karbon. Nilai-nilai pergeseran kimianya sudah mendekati pergeseran kimia literatur Hal ini oleh perbedaan pelarut yang digunakan. Penggunaan pelarut yang berbeda memiliki sifat magnetik yang berbeda-beda. Hal ini berpengaruh terhadap interaksi dengan medan magnet sehingga C . suatu senyawa ikut bergeser, namun tetap memiliki pola yang sama. Hal ini berpengaruh terhadap interaksi dengan medan magnet sehingga C . suatu senyawa ikut bergeser, namun tetap memiliki pola yang sama (Silverstein, 2. Spektrum LC-MS/MS Senyawa Flavonoida Hasil analisis spektrum massa (MS) terhadap senyawa flavonoida menggunakan pelarut metanol dengan BM 559 m/z peak yang ditimbulkan dapat dilihat pada gambar 4: MHS S2 Kimia USU Sri Reseki S Sample Kode DM2 399 . 1: TOF MS ES Gambar 4. Analisis Spektrum Massa (MS) Terhadap Senyawa Flavonoida Menggunakan Pelarut Metanol Dengan BM 559 m/z Peak Yang Ditimbulkan Hasil interpretasi data dari LC-MS/MS diperoleh rumus molekul (C30H23O. dengan BM 559 m/z beserta fragmentasinya m/z yaitu 404,1920. 387,1654. 271,0589,153,0182 dan 124,0873 m/z. Berdasarkan intrepetasi data yang dilakukan pada spektrum UV-Visible. Spektrum Inframerah (FT-IR). Spektrum 1H-NMR, 13C-NMR dan Spektrum LC-MS/MS disimpulkan bahwa senyawa flavonoida hasil isolasi dari tumbuhan daun mundu adalah senyawa flavonoida jenis biflavonoid diperkirakan morelloflavone dengan rumus molekul C30H23O11 struktur seperti pada gambar berikut: Gambar 5. Senyawa Morelloflavone Jenis Biflavonoid Untuk menentukan posisi letak proton terhadap karbon analisa ditentukan berdasarkan HMBC dan HMQC (Frida, 2. Isolasi Dan Identifikasi Senyawa Flavonoida Dari Daun. (Sri Rezeki Samosi. 72 A e-ISSN:2597-7164Ae p-ISSN: 2655-3147 CONCLUSION Berdasarkan penelitian yang dilakukan dapat diperoleh hasil pemisahan dan pemurnian ekstrak metanol dari daun (Garcinia dulcis (Rox. Kur. dihasilkan isolasi berbentuk padatan amorf berwarna kuning dengan berat 12,0 mg dan hasil elusidasi struktur dari data spektroskopi UV, inframerah. NMR, dan LC-MS/MS isolat yang diperoleh merupakan senyawa biflavonoid yaitu morreloflavon. REFERENCES