P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 Jurnal Language education literature OPTIMALISASI MODEL PEMBELAJARAN VAK (VISUAL. AUDITORY. KINESTETIC) SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENGINDENTIFIKASI UNSUR CERPEN PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI TERAWAS Budi Astuti SMA Negeri Terawas. Indonesia Email: budiastutisylia@gmail. ABSTRAK Tujuan penelitian ini untuk mengetahui peningkatan kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas melalui model pembelajaran VAK. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas dari pratindakan sampai dengan Siklus II. Pengumpulan data dengan teknik tes. Pada hasil pratindakan diketahui hasil rata-rata nilai adalah 67,75 dengan ketuntasan klasikal 45%. Pada kegiatan siklus I diketahui rata-rata nilai adalah 69,5 engan ketuntasan klasikal 55%. Pada siklus II diketahui rata-rata nilai adalah 76 dengan ketuntasan klasikal 85%. Berdasarkan hasil rata-rata dikatahui peningkatan dari pratindakan ke siklus I adalah 1,75 sedangkan peningkatan ketuntasan klasikal dari pratindakan ke siklus I adalah 10%. Pada Siklus I ke siklus II diketahui peningkatan rata-rata nilai adalah 6,5 sedangkan ketuntasan mengalami peningkatan 30%. Selanjutnya peningkatan rata-rata nilai pratindakan ke siklus II adalah 8,25 dengan ketuntasan klasikal dari pratindakan ke siklus II adalah 40%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa melalui model pembelajaran VAK kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas dapat Kata kunci: VAK, mengindetifikasi, unsur, cerpen OPTIMIZATION OF VAK LEARNING MODELS (VISUAL. AUDITORY. KINESTETIC) AS AN EFFORT TO IMPROVE THE ABILITY TO IDENTIFY SHORT STORY ELEMENTS IN CLASS XI STUDENTS OF TERAWAS STATE HIGH SCHOOL ABSTRACT The aim of this research is to determine the increase in the ability to identify short story elements in class XI students at Terawas State High School through the VAK learning model. The research method used is Classroom Action Research from pre-action to Cycle II. Data collection using test techniques. In the pre-action results, it was found that the average score 75 with classical completeness of 45%. In the first cycle of activities, it was found that the average score was 69. 5 with classical completeness of 55%. In cycle II it was found that the average score was 76 with classical completeness of 85%. Based on the results, the average increase from pre-action to cycle I was 1. 75, while the increase in classical completeness from pre-action to cycle I was 10%. From Cycle I to Cycle II, it was found that the average increase in score was 6. 5, while completeness increased by 30%. Furthermore, the average increase in the pre-action score to cycle II was 8. 25 with classical completeness from pre-action to cycle II being 40%. Thus it can be concluded that through the VAK learning model the ability to identify short story elements in class XI students at Terawas State High School can increase. Keywords: VAK, identifying, elements, short stories Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 PENDAHULUAN Pembelajaran Bahasa Indonesia diarahkan untuk mencapai beberapa tujuan yang harus dimiliki siswa yakni kemampuan berbahasa, sikap berbahasa, pengetahuan tentang ilmu kebahasaan bahasa Indonesia, kesadaran diri atas pentingnya sebuah karya bagi pengembangan diri, dan sikap positif siswa terhadap sebuah karya. Selain itu pembelajaran Bahasa Indonesia juga bertujuan untuk melatih siswa dalam keterampilan menulis, menyimak, membaca, menelaah, menganalisis, dan mengidentifikasi sebuah Pembelajaran sastra di sekolah harus mampu membentuk pola berfikir yang kreatif hal ini karena sastra merupakan suatu pengalaman, pemikiran, dan rekaman budaya pengarang terhadap sesuatu hal yang terjadi dalam dirinya dan masyarakat. (Ali, 2020:. mengemukakan bahwa mata pelajaran bahasa Indonesia bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien sesuai dengan etika yang berlaku, baik secara lisan maupun tulis. Pembelajaran sastra adalah proses memahami konsep sastra yaitu bentuk rekaan yang lebih sering disebut imajinasi. Dengan demikian, suatu karya sastra tidak lepas dari segala sesuatu yang ada di luar karya itu. Salah satu pembelajaran sastra yang termasuk dalam sebuah prosa cerita yaitu cerita pendek. Cerita pendek merupakan karangan fiktif yang berisikan tentang sebagian kehidupan seseorang atau diceritakan secara ringkas fokus pada suatu tokoh saja. Oleh karena itu, cerpen memiliki jumlah kata yang lebih sedikit dibanding dengan genre prosa lainnya. Selain itu, cerpen juga memiliki unsur-unsur intrinsik yang lebih terbatas misalnya tema, alur, tokoh, sudut pandang, gaya bahasa, latar dan amanat. Cerpen sering dimaknai sebagai cerita yang bisa dibaca dalam sekali duduk, setengah jam sampai dua jam. Cerpen menarik dan penting untuk dibaca karena cerpen mengandung nilai-nilai kehidupan yang dikemas secara singkat. Dengan demikian, cerpen merupakan karya sastra yang memuat penceritaan secara memusat kepada suatu peristiwa pokok saja (Nurhayati, 2019:. Unsur-unsur yang membangun cerpen yaitu unsur instrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur instrinsik membangun cerpen dari dalam yang mencakup alur, tema, setting, sudut pandang, perwatakan atau penokohan dan gaya bahasa, sedangkan unsur ekstrinsik merupakan unsur yang berada di luar karya sastra yang bersifat P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 Jurnal Language education literature melatarbelakangi terciptanya suatu karya seperti unsur historis, sosial, budaya, ekonomi, politik, filsafat, keagamaan, percintaan, dan moral. Pemahaman terhadap sebuah cerpen dapat dilakukan dengan berbagai pembelajaran sastra, sehigga diperoleh isi dan pesan dari cerpen tersebut. Salah satu sup-pokok materi cerpen di tingkat SMA adalah mengindentifikasi unsur cerpen. Berkaitan dengan materi mengindentifikasi unsur cerpen di SMA Negeri Terawas dikatehui hasil ulangan harian dan sebagai data pratindakan secara klasikal belum mencapai ketuntasan. Pada materi mengindentifikasi unsur cerpen diketahui bahwa masih ada siswa yang belum memahami langkah mengindentifikasi unsur cerpen, dikarenakan belum memahami unsur pembangun cerpen. Hal ini mengakibatkan kemampuan siswa dalam mengidentifikasi unsur cerpen masih rendah sehingga hanya sedikit yang nilainya tuntas dalam mencapai KKM 70. Dari 20 siswa, yang sudah mencapai KKM sebanyak 9 siswa . %) sedangkan yang belum mencapai KKM sebanyak 11 siswa . %). Berdasarkan permasalahan tersebut perlunya inovasi dalam pembelajaran guna meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia. Inovasi pembelajaran dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia sangat berfariasi, guru hanya harus menyesuaikan antara materi dengan inovasi yang diberikan, salah satunya penggunaan model pembelajaran. Banyak model pembelajaran yang dapat digunakan oleh guru dalam melakukan motivasi, salah satunya adalah dengan menerapkan model pembelajaran yang sesuai dengan kondisi siswa sehingga dapat membuat siswa termotivasi yaitu salah satunya adalah model pembelajaran VAK (Visual. Auditory. Kinestheti. Model pembelajaran pembelajaran VAK (Visual. Auditory. Kinestheti. merupakan pembelajaran yang difokuskan pada pemberian pengalaman belajar langsung . irect dan menyenangkan menggunakan cara belajar dengan melihat . , belajar dengan mendengar . , dan belajar dengan bergerak serta emosi . Model ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk belajar langsung dengan bebas menggunakan modalitas yang dimilikinya mencapai pemahaman dan pembelajaran yang efektif. Melalui model pembelajaran ini, diharapkan hasil pembelajaran mengalami Dalam pembelajaran ini proses berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja atau meneliti suatu objek bukan mentransfer pengetahuan dari Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 guru ke siswa. Berdasarkan penjelasan di atas dilakukan PTK (Penelitian Tindakan Kela. dengan judul AuOptimalisasi Model Pembelajaran VAK (Visual. Auditory. Kinesteti. sebagai Upaya Meningkatkan Kemampuan Mengindentifikasi Unsur Cerpen pada Siswa Kelas XI SMA Negeri TerawasAy METODE Metode penelitian ini adalah PTK (Penelitian Tindakan Kela. Supardi . 2: . AuPenelitian Tindakan Kelas adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk memperbaiki mutu proses belajar mengajar yang dirasakan adanya permasalahan pembelajaran di suatu kelasAy. Penelitian Tindakan Kelas ini terdiri dari dua siklus. Setiap siklus terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Observer dalam penelitian tindakan kelas ini adalah 2 orang, yaitu kepala SMA dan 1 guru mata pelajaran bahasa Indonesia SMA Negeri Terawas. Penelitian ini dilakukan dengan metode penelitian tindakan kelas. Proses perencanaan dibagi menjadi dua siklus dan masing-masing langkah dalam siklus terdiri dari . Planning . Acting . Observing . Reflecting . mpan bali. Setiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Pada kegiatan akhir diadakan penyempurnaan tindakan sesuai dengan hasil refleksi pada siklus sebelumnya, sehingga mendapatkan hasil yang lebih optimal. Tempat yang digunakan dalam penelitian ini adalah SMA Negeri Terawas sedangkan waktu penelitian dilakukan pada semester genap tahun ajaran 2022/2023, dimulai dari 1 s. d 29 Juli 2022. Pelaksanaan PTK di lakukan dari pratindakan, siklus I dan siklus II dilakukan dengan dua kali pertemuan dengan langkah-langkah perencanaan, pelaksanaan, observasi dan refleksi. Instrumen merupakan alat ukur yang digunakan untuk memperoleh data. Data diperlukan untuk menjawab permasalahan yang menjadi pokok penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah soal tes mengindentifikasi unsur cerpen. Tes yang dilaksanakan adalah siklus I dan siklus II setelah diterapkanya model pembelajaran VAK. Tes adalah serentetan pertanyaan atau latihan serta alat lainnya yang digunakan untuk mengukur keterampilan pengetahuan inteligensi, kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 Analisa data dilakukan setiap pertemuan dan siklus, sehingga tindakan perbaikan yang dilakukan pada siklus berikutnya dapat menghasilkan perubahan yang signifikan dan pencapaian maksimal. Untuk menentukan kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen secara individu penulis mengunakan penskoran hasil tes kemampuan mengidentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas. Indikator penelitian dalam penulisan ini menggunakan kriteria sebagai barikut: . Daya serap perorang yaitu apabila telah mencapai KKM 70. Daya serap klasikal yaitu pada suatu kelas dinyatakan tuntas apabila kelas tersebut mancapai 75% siswa yang mencapai KKM yang mencapai nilai 70. Keberhasilan dalam kemampuan mengidentifikasi unsur cerpen melalui model pembelajaran VAK pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas yaitu siswa dinyatakan berhasil jika siswa memperoleh nilai 70 dan pembelajaran berhasil jika lebih dari 75%, siswa mencapai nilai KKM. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 4 Juli sampai 29 Juli 2022 di kelas XI. SMA Negeri Terawas. Pelaksanaan dilakukan secara langsung oleh penulis dan sesuai dengan jadwal yang berlangsung di sekolah tersebut. Model pembelajaran yang digunakan adalah model pembelajaran VAK. Proses pelaksanaan penelitian, tahap pertama dimulai dengan pengambilan data ulangan harian sebagai data pratindakan. Tahap kedua, setelah didapat data pratindakan pada tanggal 4 Juli 2022, siswa diberi perlakuan berupa pembelajaran menggunakan model pembelajaran VAK pada tanggal 7 Juli 2022. Tahap ketiga pelaksanaan siklus II, pada tanggal 15 Juli 2022 untuk mengetahui peningkatan kemampuan mengidentifikasi unsur cerpen. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada uraian hasil tes setiap siklusnya sebagai berikut: Hasil Tes Hasil Tes Pratindakan Pengambilan data pratindakan dilakukan pada tanggal 4 Juli 2022 dikelas XI. SMA Negeri Terawas. Untuk memperoleh suatu data, penulis mengambil data ulangan harian sebagai data pratindakan. Dari hasil pengamatan dan penelitian terhadap kemampuan mengidentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas. Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 Berdasarkan hasil nilai pratindakan, siswa yang mendapatkan nilai lebih dari 70 sesuai dengan KKM dalam pratindakan sebanyak 9 siswa . %) dan yang belum tuntas sebanyak 11 siswa . %). Nilai tertinggi adalah 80 dan yang terendah 50. Rata-rata nilai keseluruhan sebesar 67,75. Secara deskriptif dapat dikatakan bahwa kemampuan awal/pratindakan siswa belum dalam kategori tuntas secara klasikal, karena rata-rata nilai < 70 dan belum mencapai ketuntasan secara klasikal 75%. Rendahnya nilai pratindakan disebabkan baberapa faktor, antara lain kurangnya pemahaman siswa terhadap unsur cerpen, dan faktor utama adalah kurang tepatnya materi pembelajaran dengan model yang digunakan. Model pembelajaran harusnya mampu memberikan langkah mudah siswa dalam memahami suatu materi. Model pembelajaran harusnya memberikan motivasi penuh pada materi tertentu khususnya pada materi mengindentifikasi unsur cerpen. Oleh sebab itu diperlukan model pembelajaran yang sesuai salah satu yang dicobakan penulis adalah model pembelajaran VAK. Hasil Siklus I Siklus 1 adalah proses perbaikan pembelajaran dari kegiatan pratindakan. Adapun siklus I dilaksanakan dua kali pertemuan . x40 meni. pada pertemuan pertama tanggal 7 Juli 2022 dan pertemuan ke-dua tanggal 11 Juli 2022 di SMA Negeri Terawas. Tahap Perencanaan Pada tindakan pertama dilakukan kegiatan pembelajaran dengan menerapkan model pembelajaran VAK. Pada pertemuan pertama pembelajaran membahas materi mengidentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas. Pada tahap perencanaan penulis sebagai pelaksana tindakan mempersiapkan tahap pembelajaran pada perencanaan ini. Perencanaan pembelajaran, lembar observasi dan sejumlah keperluan mengajar lainnya. Pelaksanaan Pelaksanaan siklus I pertemuan pertama dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 7 Juli 2022. Pada tahap ini penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajara. yang telah disusun sebelumnya. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan sesuai dengan model yang digunakan (Lampira. P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 Jurnal Language education literature Hasil Observasi Pada tahap ini pelaksanaan pembelajaran, diamati oleh Kepala SMA Terawas dan guru atau teman sejawat SMA Negeri Terawas. Pengamatan ini dilakukan penulis dan observer menggunakan lembar observasi yang sudah berisi indikator yang diperlukan dalam menjawab permasalahan proses pembelajaran yang berlangsung. Hasil observasi menunjukkan pada siklus I pertemuan pertama sebagian besar siswa kurang memperhatikan dalam kegiatan proses belajar berlangsung. Berdasarkan hasil dari observer secara umum pelaksanaan pembelajaran berjalan dengan baik, walaupun dalam proses yang dilakukan oleh penulis masih memiliki kelemahan, terutama terhadap penggunaan waktu. Dalam pemanfaatan waktu menjadi kurang efisien karena ketika proses memahami mengidentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas, siswa masih banyak bertanya, sehingga waktu yang digunakan banyak terbuang ketika proses pembelajaran. Selain itu juga, pada saat kegiatan proses pembelajaran guru kurang memberikan pendampingan intensif. Hasil Siklus I Pertemuan 2 Tahap Perencanaan Penulis memulai pelaksanaan siklus I pertemuan kedua dengan perencanaan. Pada tahap ini penulis menyiapkan semua hal yang diperlukan pada pelaksanaan Hal-hal yang perlu disiapkan antara lain: Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan lembar observasi. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan siklus I pertemuan ke-dua dilaksanakan pada hari Senin tanggal 11 Juli 2022. Pada tahap ini penulis melaksanakan pembelajaran sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran telah disusun sebelumnya. Langkah-langkah pelaksanaan pembelajaran yang penulis laksanakan sesuai dengan waktu yang ditetapkan . Kegiatan akhir pelaksanaan siklus I pertemuan ke-dua, maka pelaksanaan siklus I telah selesai dilaksanakan. Oleh karena itu untuk mengetahui peningkatan kemampuan mengidentifikasi unsur cerpen melalui model pembelajaran VAK pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas, penulis memberikan latihan kepada siswa. Tes yang diberikan berupa penugasan kepada siswa untuk mengerjakan soal berkaitan dengan Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 mengindentifikasi unsur cerpen. Pelaksanaan tes dikuti oleh seluruh subyek penelitian yaitu seluruh siswa kelas XI. 1 SMA Negeri Terawas, yang berjumlah 20 siswa. Hasil Pelaksanaan Tindakan Hasil pelaksanaan siklus I akan memberikan gambaran perlunya dilaksanakan siklus II atau tidak. Berdasarkan hasil pembelajaran siklus I belum menunjukan keaktifan dan motivasi siswa sebagaimana yang diharapkan. Dari hasil tes kemampuan mengidentifikasi unsur cerpen melalui model pembelajaran VAK pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas menunjukan siswa masih belum mencapai nilai ketuntasan. Berdasarkan dari hasil tes siklus I diketahui bahwa siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 11 siswa atau 55%, dan 9 siswa atau 45% dinyatakan belum tuntas. Rata-rata nilai adalah 69,5, secara deskriptif dapat dikatakan bahwa siklus I secara klasikal belum tuntas, karena masih di bawah ketuntasan klasikal yaitu sebesar 75%. Pada kegiatan siklus 1 terjadi peningkatan kemampuan mengidentifikasi unsur cerpen melalui model pembelajaran VAK pada siswa kelas XI. 1 SMA Negeri Terawas dari pratindakan dengan rata-rata 67,75 sedangkan pada siklus I rata-rata nilai adalah 69,5, sehingga terjadi peningkatan rata-rata sebesar 1,75. Selain itu dari hasil siklus 1 diperoleh data peningkatan ketuntasan klasikal dari ketuntasan pratindakan 45% sedangkan silkus I sebesar 55%. Peningkatan ketuntasan klasikal dari pratindakan ke siklus I sebesar 10%. Hasil Observasi Pelaksanaan observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung. Observasi ini dilaksanakan oleh kepala sekolah dan guru matapelajaran bahasa Indonesia SMA Negeri Terawas mengamati pelaksanaan pembelajaran yang dilaksanakan dan mengisi lembar observasi yang telah disiapkan dan kemudian memberikan saran dan kritik terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan. Saran dan kritikan yang diberikan oleh pengamat pada pelaksanaan siklus 1 pertemuan kedua. Hasil observasi menunjukkan pada siklus I pertemuan ke dua sebagian besar siswa merasa lebih tertantang dan termotivasi dalam mengindentifikasi unsur cerpen dengan diterapkanya model pembelajaran VAK. Berdasarkan pengamatan antara guru, penulis dan kolaborator siswa terlihat lebih aktif, ada kompetisi antar kelompok. Refleksi Setelah dilaksanakan siklus I pertemuan pertama dan pertemuan kedua, penulis mendapatkan saran-saran atau tangapan dari para observer. Saran-saran tersebut Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 ditindak lanjuti dengan memperbaki langkah RPP yang akan diterapkan pada siklus II sesuai dengan saran-saran atau hasil pengamatan dari para observer dalam siklus I, selain itu perlunya mengoptimalkan contoh dan latihan yang mendukung. Hasil Siklus II Siklus II dilaksanakan dalam 2 x pertemuan . x 40 meni. pada tanggal 15 Juli 2022 (Pertemuan . sampai dengan 21 Juli 2022 (Pertemuan . di kelas XI. 1 SMA Negeri Terawas. Pertemuan pertama pada siklus II menjelaskan unsur cerpen. Pada pertemuan ke dua siklus II membahas latihan-latihan berkaitan dengan indentifikasi unsur cerpen. Perencanaan Tindakan Tahap perencanan pada siklus II adalah refleksi dari siklus I. Masukan dari tahap refleksi kegiatan siklus 1 hal yang menjadi perbaikan adalah, apersepsi pembelajaran disiapkan semenarik mungkin, tujuan pembelajaran lebih terperinci, mengkondisikan setiap kelompok belajar dan menguatkan dan mengapresiasi kerja siswa. Selain itu diperlukan latihan-latihan yang membuat siswa lebih termotivasi untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia. Tahap Pelaksanaan Sesuai dengan masukan dan saran yang diperoleh dari siklus I. Selanjutnya langkah-langkah yang perlu ditempuh pada pelaksanaan siklus II. Langkah yang dipersiapkan dimulai dari kegiatan pendahuluan, kegiatan inti dan penutup, sehingga lebih mengoptimalkan model pembelajaranya. Pelaksanaan siklus II bertujuan untuk memperbaiki kekurangan yang terjadi pada siklus I. Berdasarkan kritik dan saran dari observer, maka penulis melakukan perbaikan meningkatkan kualitas bentuk latihan dengan mengoptimalkan langkah model pembelajaran yang tepat agar lebih efektif. Perbaikan pada pembagian alokasi waktu untuk mengkondisikan kelompok belajar. Untuk mengetahui peningkatan siklus II, diadakan latihan mengindentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas yang dikerjakan secara perorangan. Dari hasil tes tersebut terlihat peningkatan nilai siswa pada siklus II. Berdasarkan hasil siklus II bahwa siswa yang mendapatkan nilai >70 ketegori tuntas sebanyak 17 siswa . %). Siswa yang nilainya kurang dari <70 adalah 3 siswa . %). Nilai tertinggi adalah 85 dan yang terendah 65 rata-rata keseluruhan sebesar 76. Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 Pada siklus II kemampuan mengidentifikasi unsur cerpen melalui model pembelajaran VAK pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas telah tuntas dengan rata-rata 76. Secara deskripsi pembelajaran pada siklus II dikatakan tuntas secara klasikal, karena siswa tuntas lebih dari 75% yang mendapatkan nilai >70. Berdasarkan hasil tersebut melalui model pembelajaran VAK kemampuan mengidentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas telah meningkat. Hasil Observasi Berdasarkan hasil penelitian di atas bahwa model pembelajaran VAK mampu meningkatkan kemampuan mengidentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas. Dapat dilihat dari hasil tes dan kegiatan pembelajaran siswa dalam menerima pelajaran serta memberikan respon yang baik yang diajarkan oleh guru pada saat proses belajar mengajar berlangsung. Hasil observasi menunjukkan pada siklus II sebagian besar siswa lebih termotivasi untuk menyelesaikan latihan-latihan berkaitan mengindentifikasi unsur cerpen. Pada tahap ini menunjukkan bahwa model pembelajaran VAK yang digunakan dalam pembelajaran meningkatkan motivasi dan hasil belajar bahasa Indonesia. Sebagian siswa juga menyatakan bahwa pembelajaran dengan model VAK ini sangat efektif digunakan karena memberikan peluang kepada siswa berfikir kritis. Refleksi Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar melalui model pembelajaran VAK pada siklus II mengalami peningkatan dari sebelumnya, di antaranya siswa termotivasi dalam mengerjakan latihan materi mengindentifikasi unsur cerpen jika dibandingkan dengan pelaksanaan siklus I. Melihat proses pembelajaran yang aktif, dapat disimpulkkan melalui model pembelajaran VAK kemampuan mengidentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas dapat meningkat. Dapat dilihat dari hasil pratindakan dengan nilai rata-rata 67,75, siswa tuntas 9 siswa . %) sedangkan siswa yang belum tuntas 11 siswa . %). Sementara rata-rata siklus I sebesar 69,5 dengan jumlah siswa tidak tuntas sebesar 11 siswa . %) sedangkan yang belum tuntas sebanyak 9 siswa . %). Terjadi peningkatan ketuntasan dari pratindakan ke siklus I yaitu 10% dan rata-rata 1,75. Pada siklus II rata-rata hasil tes sebesar 76 dibandingkan dengan nilai rata-rata siklus I sebesar 69,5. Jumlah siswa yang tuntas belajar pada siklus II sebanyak 9 siswa Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 . %). Sedangkan siklus I sebanyak 11 siswa . %) dengan demikian, terdapat peningkatan siswa yang tuntas sebanyak 6 orang atau 30%. Dapat dilihat dari hasil nilai pratindakan ke siklus II terjadi peningkatan dengan jumlah siswa 8 atau 40%. Oleh sebab itu, tindakan pada siklus berikutnya tidak perlu dilaksanakan, karena kriteria ketuntasan secara klasikal sudah mencapai klasikal atau 75% pada siklus II dan siswa yang memperoleh nilai >70. Peningkatan secara signifikan ketuntasan belajar bahasa Indonesia dengan materi mengindentifikasi unsur cerpen yang dapat dicapai dengan memperbaiki kekurangankekurangan pada proses siklus I dan penerapan hasil dari koordinasi dengan kepala sekolah dan teman sejawat dalam proses penelitian berlangsung sehingga nilai yang dicapai oleh siswa memperoleh nilai ketuntasan yang baik secara individu maupun Pembahasan Analisis Peningkatan Kemampuan Mengindentifikasi Unsur cerpen Melalui Model Pembelajaran VAK Kegiatan Pratindakan Pada tahap pratindakan dilakukan untuk mengatahui hasil kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen sebagai data awal. Data diperoleh melalui hasil ulangan harian pada kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen. Selanjutnya data akan diolah untuk melihat persentase ketuntasan dan belum tuntas pada siswa. Hasil siswa pada pratindakan digunakan untuk memecahkan permasalahan yang ada baik dari siswa, guru dan proses pembelajaranya. Hasil ulangan harian digunakan sebagai data pratindakan sehingga didapatkan bahwa siswa yang mendapatkan nilai > 70 kategori tuntas terdapat 9 siswa atau 45%. Hasil pratindakan dengan nilai rata-rata 67,75, sedangkan siswa yang belum tuntas 11 siswa atau 55%. Berdasarkan hasil pratindakan dapat dikatakan bahwa kemampuan awal siswa dalam kategori belum tuntas secara klasikal. Rendahnya hasil dari pratindakan dapat disebabkan dengan penggunaan model pembelajaran yang belum sesuai dengan materi yang diberikan. Model pembelajaran harus sesuai dalam pembelajaran untuk meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia. Motivasi belajar siswa terhadap materi belum maksimal sehingga diperlukan model yang sesuai. Model P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 Jurnal Language education literature yang sesuai dengan materi pembelajaran dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan mengoptimalkan pembelajaran yang kreatif dan inovatif. Berdasarkan faktor-faktor peningkatan pembalajaran Indonesia, tersebut penulis menyimpulkan bahwa untuk mencapai hasil belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara efektif dan efisien, maka perlu dicarikan solusi pemecahan masalahnya. Oleh karena itu untuk meningkatkan kemampuan siswa. VAK mengindentifikasi unsur cerpen. Pembahasan Siklus I Kegiatan siklus I dilakukan untuk memperbaiki kondisi awal hasil belajar siswa, untuk itu pada proses pembelajaran diterapkan model VAK. Pada proses kegiatan pembelajaran pada siklus I siswa masih dalam kategori belum tuntas secara klasikal terhadap kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen. Pada siklus I digunakan model pembelajaran VAK untuk meningkatkan kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen. Pada siklus I ini penelitian dilakukan dengan kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran VAK penulis bertindak sebagai guru. Pembelajaran yang dilakukan secara klasikal difokuskan pada proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dan hasil belajar siswa. Dalam pelaksanaan tindakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen. Pada awal pembelajaran, setelah memberikan apersepsi berkaitan dengan materi yang akan diberikan, selanjutnya memberikan motivasi kepada siswa dan dilanjutkan dengan penyampaian tujuan Kemudian guru menginformasikan dengan jelas tentang model pembelajaran VAK. Informasi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen. Siklus 1 digunakan sebagai alat ukur untuk menggetahui keberhasilan tindakan pertama, maka digunakan 1 soal dalam meningkatkan kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen. Berdasarkan hasil tes nilai yang diperoleh pada siklus I menunjukan ratarata siklus I sebesar 69,5. Diketahui jumlah siswa tidak tuntas sebesar 11 siswa atau Dalam hal ini berarti tujuan dari pembelajaran secara klasikal 75% belum tercapai. Perlu adanya perbaikan yang dilaksanakan pada siklus II, walaupun setelah dilaksanakan pembelajaran pada siklus I terlihat banyak perubahan dan peningkatan Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 nilai terjadi pada kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI. SMA Negeri Terawas. Pembahasan pada Siklus II Pada kegiatan siklus II penelitian dilakukan dengan kegiatan pembelajaran menggunakan model pembelajaran VAK, penulis bertindak sebagai guru. Pembelajaran yang dilakukan difokuskan pada proses pembelajaran yang dapat meningkatkan kemampuan siswa dan hasil belajar siswa. Pelaksanaan tindakan sebagai upaya meningkatkan kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen. Menggetahui keberhasilan tindakan siklus II digunakan 1 soal mengindentifikasi unsur cerpen dalam meningkatkan hasil belajar bahasa Indonesia. Adapun pengunaan teori dalam materi mengindentifikasi unsur cerpen didasarkan pada hasil latihan yang diberikan. Hasil tes siklus II dilaksanakan menunjukkan bahwa siswa yang dinyatakan tuntas sebanyak 17 siswa 85%, dan 3 siswa atau 15% yang dinyatakan belum tuntas. Nilai tertinggi yang diperoleh adalah 85 nilai terendah adalah 65 dan nilai rata-rata pada siklus II adalah 76. Dari hasil tersebut diketahui adanya ketuntasan secara klasikal karena lebih dari 75%, maka dapat disimpulkan jika model pembelajaran VAK dapat meningkatkan kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen pada siswa kelas XI SMA Negeri Terawas. Analisis Hasil Belajar Hasil belajar siswa kelas XI. 1 SMA Negeri Terawas memahami materi mengindentifikasi unsur cerpen dengan model pembelajaran VAK dapat diketahui adanya peningkatan. Peningkatan dari pratindakan, siklus I dan siklus II. Nilai rata-rata hasil pratindakan sebesar 67,75 sedangkan tes pada siklus I yaitu 69,5. Jika dibandingkan dengan pratindakan mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar 1,75. Sedangkan siswa dinyatakan tuntas pada saat pratindakan sebanyak 9 siswa . %) dan siklus I meningkat menjadi 11 siswa . %). Peningkatan siswa tuntas pada pratindakan ke siklus I sebanyak 2 siswa . %). P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 Jurnal Language education literature Hasil Tes PTK Category 1 Pra Siklus I Siklus II Diagram 1: Peningkatan pratindakan. Siklus I dan Siklus II Nilai rata-rata pada tes siklus II jika dibandingkan dengan siklus I juga mengalami Pada siklus 1 siswa yang tuntas 11 siswa . %), pada siklus II meningkat menjadi 17 siswa . %) pada siklus II, berarti meningkat sebanyak 6 siswa . %). Peningkatan pratindakan ke siklus II yaitu: X 100% Dengan: R1: 67,75 R2: Rata-rata siklus I = 69,5 R2: Rata-rata siklus II = 76 x 100% x 100% = 0,096 x 100% = 9,6% Siswa yang tuntas pada saat pratindakan berjumlah 9 siswa . %) setelah dilakukan siklus II menjadi 17 siswa . %), berarti telah terjadi peningkatan dari pratindakan sampai siklus II sebanyak 8 siswa . %). Peningkatan hasil belajar juga diperkuat dari nilai rata-rata kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen mengalami perubahan, dari rata-rata pratindakan sebesar 67,75 pada siklus I menjadi 69,5 dan mengalami peningkatan disiklus II sebesar 76. Nilai rata-rata pratindakan 67,75 dan pada siklus II menjadi 76. Peningkatan hasil belajar dari pratindakan ke siklus II dengan Jurnal Language education literature P- ISSN: 2798-2645 E- ISSN: 2798-2653 Vol. 2 No. Page:1-16 rata-rata sebesar 8,25. Dari hasil per-siklus mengalami peningkatan secara klasikal. Dengan demikian pembelajaran melalui model pembelajaran VAK mampu meningkatkan kemampuan mengindentifikasi unsur cerpen pada siswa SMA Negeri Terawas. SIMPULAN Berdasarkan hasil PTK (Penelitian Tindakan Kela. dapat disimpulkan jika hasil tes nilai yang diperoleh pada pratindakan menunjukan bahwa siswa yang memperoleh nilai > 70 berjumlah 9 siswa 45%. Dalam hal ini berarti tujuan dari pembelajaran secara klasikal 75% belum tercapai. Setelah dilaksanakan siklus I terlihat peningkatan nilai disebabkan adanya daya tarik dalam proses belajar Nilai rata-rata hasil pratindakan sebesar 67,75 sedangkan tes pada siklus I yaitu 69,5 Jika dibandingkan dengan pratindakan mengalami peningkatan dengan rata-rata sebesar 1,75. Sedangkan siswa dinyatakan tuntas pada saat pratindakan sebanyak 9 siswa . %) dan siklus I meningkat menjadi 11 siswa . %). Peningkatan siswa tuntas pada pratindakan ke siklus I sebanyak 2 siswa . %). Nilai rata-rata pada siklus II jika dibandingkan dengan siklus I juga mengalami Pada siklus 1 siswa tuntas sebanyak 11 siswa . %), pada siklus II meningkat menjadi 17 siswa . %), berarti meningkat sebanyak 6 siswa . %). Siswa yang tuntas pada saat pratindakan berjumlah 9 siswa . %) setelah dilakukan siklus II menjadi 17 siswa . %), berarti telah terjadi peningkatan dari pratindakan sampai siklus II sebanyak 8 siswa . %). Peningkatan hasil belajar juga diperkuat dari nilai rata-rata, pratindakan sebesar 67,75 pada siklus I menjadi 69,5 dan mengalami peningkatan disiklus II sebesar 76. DAFTAR PUSTAKA