EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 E-ISSN 2746-8011 Website: https://ejurnal. id/edukasitematik DOI: https://doi. org/10. 59632/edukasitematik. Peningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia melalui Model Problem Based Learning pada Siswa Kelas V Sekolah Dasar Improving Indonesian Language Learning Outcomes through the Problem Based Learning Model for Grade V Elementary School Students Fauzan Mirza Al Muhammadi1. Dewi Yulianawati2. Nurlidah3 Pendidikan Profesi Guru. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Cirebon. Indonesia1,2,3 Email Korespondensi: fauzanalmuhammadi8@gmail. Histori Artikel Masuk: 10-05-2025 | Diterima: 25-07-2025 | Diterbitkan: 31-07-2025 Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia siswa kelas V sekolah dasar melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). Permasalahan yang dihadapi adalah rendahnya capaian hasil belajar akibat dominasi metode ceramah yang monoton dan minim interaksi. Penelitian dilaksanakan dalam bentuk Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dua siklus dengan subjek 28 siswa. Data dikumpulkan melalui tes tertulis dan dianalisis secara deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan baik pada rata-rata nilai maupun ketuntasan belajar setelah penerapan PBL. PBL terbukti mendorong keterlibatan aktif siswa, pengembangan kemampuan berpikir kritis, serta pemahaman materi Bahasa Indonesia secara lebih kontekstual. Temuan ini menguatkan penelitian sebelumnya bahwa PBL efektif diterapkan di sekolah dasar dan direkomendasikan sebagai alternatif strategi pembelajaran untuk meningkatkan mutu pembelajaran Bahasa Indonesia. Kata Kunci: Bahasa Indonesia. Hasil Belajar. Problem Based Learning. Penelitian Tindakan Kelas. Sekolah Dasar Abstract This study aims to improve the Indonesian language learning outcomes of fifth-grade elementary school students through the implementation of the Problem Based Learning (PBL) model. The main problem addressed is the low learning achievement caused by the dominance of monotonous lecture methods with minimal interaction. The research was conducted as a Classroom Action Research (CAR) consisting of two cycles with 28 students as the subjects. Data were collected through written tests and analyzed using descriptive quantitative methods. The findings indicate a significant improvement in both average scores and learning mastery after the application of PBL. PBL was proven to encourage active student engagement, develop critical thinking skills, and enhance contextual understanding of Indonesian language These results reinforce previous studies showing that PBL is effective for elementary school learning and recommend it as an alternative instructional strategy to improve the quality of Indonesian language education. Keywords: Indonesian Language. Learning Outcomes. Problem Based Learning. Classroom Action Research. Primary School This is an open acacess article under the CC BY-SA license PENDAHULUAN Pendidikan merupakan aspek fundamental yang menentukan kemajuan suatu bangsa. Pendidikan berperan dalam membentuk individu agar mampu bersaing dan bertahan menghadapi dinamika modernitas dalam berbagai bidang kehidupan (Mahuda, 2. Hal ini sejalan dengan Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menegaskan peran penting pendidikan dalam mengembangkan kompetensi dan membentuk karakter beradab demi tercapainya tujuan mencerdaskan kehidupan bangsa. Anjani dkk. menambahkan bahwa pendidikan adalah instrumen strategis untuk mencapai visi Indonesia Emas 2045 karena melalui pendidikan, potensi sumber daya manusia dapat dikembangkan secara optimal. Dengan demikian, kualitas manusia lebih ditentukan oleh mutu pendidikan yang diterima daripada sekadar Kesadaran akan urgensi pendidikan perlu dimiliki oleh semua pihak, baik pemerintah. CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 masyarakat, guru, orang tua, maupun siswa (Ladaria, 2. Salah satu pondasi penting dalam pembangunan pendidikan tersebut dimulai dari jenjang sekolah dasar. Pendidikan dasar tidak hanya mengembangkan aspek akademik, tetapi juga fisik dan sosialemosional siswa (Melianti dkk. , 2. Ramadhani dkk. menegaskan bahwa pembangunan generasi berkualitas dimulai dari pendidikan dasar karena selain memberikan bekal akademik, juga menanamkan pendidikan karakter. Dengan demikian, sekolah dasar menjadi fondasi penting bagi pengembangan kognitif, emosional, dan sosial anak sepanjang hayat. Salah satu kompetensi kunci yang harus dikuasai siswa di jenjang ini adalah Bahasa Indonesia, karena bahasa merupakan sarana berpikir, berkomunikasi, dan membangun identitas kebangsaan. Pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar bertujuan meningkatkan keterampilan berbahasa lisan maupun tulisan secara baik dan benar (Kurniawan, 2020. Suparlan, 2. Halijah dalam Kurniawan . menekankan bahwa pengajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar penting untuk mengasah kemampuan komunikasi sejak dini. Namun, praktik pembelajaran di lapangan seringkali tidak ideal. Kurniawan . mengidentifikasi bahwa banyak guru masih mengandalkan metode konvensional seperti ceramah tanpa variasi media, sehingga tidak mampu meningkatkan kompetensi siswa. Kondisi ini diperkuat oleh Khoiruman . yang menemukan bahwa monotoninya metode pembelajaran membuat siswa bosan dan pasif. Sagita dan Hamzah . menambahkan sejumlah tantangan lain, seperti perbedaan gaya belajar siswa, ketergantungan pada pembelajaran satu arah, serta adanya kecenderungan guru hanya mengejar target materi. Yulianto dan Nugraeheni . juga mengingatkan bahwa kemajuan era digital mendorong pergeseran penggunaan bahasa, di mana siswa lebih sering menggunakan bahasa gaul daripada bahasa baku. Faktor-faktor tersebut mempertegas bahwa guru berperan sentral dalam menciptakan pembelajaran yang efektif, interaktif, dan kontekstual (Sagita & Hamzah, 2. Observasi pra-penelitian di SDN I Pasalakan. Kecamatan Sumber. Kabupaten Cirebon, menunjukkan kondisi pembelajaran Bahasa Indonesia yang masih didominasi metode ceramah tanpa media pendukung. Dampaknya, hasil belajar siswa rendah: dari 28 siswa, hanya 9 . ,14%) yang tuntas, sedangkan 19 siswa belum mencapai KKM. Kondisi ini menegaskan adanya kesenjangan . as sei. antara realita pembelajaran yang monoton dan hasil belajar rendah, dengan kondisi ideal . as solle. yang menuntut pembelajaran aktif, variatif, dan bermakna. Untuk menjawab permasalahan tersebut, peneliti menerapkan model Problem Based Learning (PBL). PBL menghadapkan siswa pada permasalahan nyata yang relevan dengan kehidupan mereka, sehingga mendorong keterlibatan aktif, pemahaman kontekstual, dan peningkatan keterampilan berpikir kritis (Ardianti, 2021. Rukmi dkk. , 2. Penelitian terdahulu oleh Firmando dkk. membuktikan bahwa penerapan PBL di SDN 24 Ampenan mampu meningkatkan rata-rata nilai dan ketuntasan belajar Bahasa Indonesia secara signifikan. Namun, penelitian tersebut berbeda konteks dengan penelitian ini, baik dari sisi lokasi maupun jumlah subjek. Oleh karena itu, penelitian ini mengisi celah . dengan fokus pada siswa kelas V SDN I Pasalakan. Kabupaten Cirebon, yang mengalami permasalahan rendahnya hasil belajar Bahasa Indonesia. Dengan demikian, tujuan penelitian ini adalah meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN I Pasalakan melalui penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL). METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan model Problem Based Learning (PBL) yang dilaksanakan dalam dua siklus, yaitu siklus I dan siklus II. Setiap siklus mencakup empat tahapan utama, yakni: . perencanaan, . pelaksanaan tindakan, . pengamatan, dan . Hasil refleksi pada akhir siklus digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki kekurangan dan kelemahan pembelajaran pada siklus sebelumnya. Prinsip CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 keberhasilan tindakan ditentukan berdasarkan ketuntasan belajar klasikal, yaitu apabila minimal 75% siswa mencapai nilai di atas KKM. Jika ketuntasan belum tercapai, maka tindakan dilanjutkan pada siklus berikutnya. Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas V SDN I Pasalakan. Kecamatan Sumber. Kabupaten Cirebon, dengan jumlah subjek sebanyak 28 siswa . perempuan dan 19 laki-lak. Penelitian berlangsung selama dua minggu, dengan pelaksanaan siklus I pada 3 Maret 2025 dan siklus II pada 17 Maret 2025. Kehadiran peneliti dalam setiap tahap berperan sebagai perencana, pengamat, sekaligus kolaborator bersama guru kelas, sehingga proses pembelajaran berlangsung secara Guru kelas berperan sebagai pelaksana tindakan, sedangkan peneliti bertugas melakukan observasi dan dokumentasi jalannya pembelajaran. Instrumen penelitian berupa tes hasil belajar yang berbentuk soal uraian dan pilihan ganda, disusun berdasarkan indikator kompetensi dasar Bahasa Indonesia, khususnya keterampilan menulis kalimat ajakan, harapan, dan larangan. Instrumen tes ini terlebih dahulu divalidasi secara isi . ontent validit. oleh dua ahli pendidikan bahasa Indonesia dan diuji coba pada kelas paralel untuk memastikan reliabilitasnya. Selain tes, data pendukung diperoleh melalui lembar observasi aktivitas guru dan siswa, catatan lapangan, serta dokumentasi foto. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan: . tes tertulis untuk mengukur hasil belajar siswa pada akhir setiap siklus, . observasi aktivitas siswa dan guru untuk melihat keterlibatan selama pembelajaran, dan . refleksi bersama guru guna mengevaluasi jalannya tindakan. Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif dan kualitatif. Data kuantitatif berupa nilai tes dianalisis dengan menghitung rata-rata kelas dan persentase ketuntasan belajar siswa. Kriteria keberhasilan ditentukan apabila rata-rata kelas meningkat dan minimal 75% siswa mencapai nilai Ou KKM. Data kualitatif berupa hasil observasi dan refleksi dianalisis dengan cara mereduksi, menyajikan, dan menarik kesimpulan untuk melihat perubahan perilaku siswa serta efektivitas pelaksanaan PBL. Untuk menjaga keabsahan data, dilakukan triangulasi sumber . uru dan penelit. , triangulasi metode . es, observasi, dokumentas. , serta diskusi reflektif antar kolaborator. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian Tindakan Kelas dengan judul AuPeningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia melalui Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada Siswa Kelas V SDN I Pasalakan. Kabupaten CirebonAy, dimulai dengan masa pra-siklus yakni ketika peneliti melakukan observasi dan pengambilan nilai awal sebelum masa PTK dimulai. Masa tersebut menunjukkan hasil belajar siswa kelas V SDN I Pasalakan yang rendah dan di bawah rata-rata yang ditunjukkan melalui hasil dalam tabel 1 berikut ini: Tabel 1. Rekapitulasi Hasil Belajar Peserta Didik pada Kegiatan Pembelajaran Kondisi Awal Kriteri Ketuntasan Ket. Jumlah Tuntas 32,14 Belum Tuntas 67,86 Jumlah 100,00 Nilai terendah 40,00 Nilai tertinggi 70,00 Rata Ae rata 53,79 Ketuntasan 27,59 CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 Berdasarkan tabel 1, dapat disimpulkan bahwa ketuntasan belajar baru mencapai angka 32,14% atau 9 orang siswa, sedangkan nilai rata-rata secara klasikal yakni 32,14% yang artinya berada di bawah syarat ketuntasan belajar klasikal (<75%). Realita hasil pembelajaran di atas menunjukkan adanya permasalahan pembelajaran yang memerlukan penanganan khusus yang akan dilakukan dengan melaksanakan kegiatan penelitian tindakan kelas. Berdasarkan hasil penelitian masa pra-siklus tersebut maka peneliti memutuskan untuk mengadakan penelitian tindakan kelas dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning untuk mengadakan peningkatan hasil belajar siswa kelas V SDN I Pasalakan. Kabupaten Cirebon. Penelitian Tindakan Kelas dengan judul AuPeningkatan Hasil Belajar Bahasa Indonesia melalui Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning pada Siswa Kelas V SDN I Pasalakan. Kabupaten CirebonAy, telah dilaksanakan dalam dua siklus yakni Siklus I dan Siklus II. Pelaksanaan penelitian dalam dua siklus yakni siklus I pada 3 Maret 2025 dan Siklus II pada 17 Maret 2025. Secara garis besar, hasil penelitian yang dilakukan dalam dua siklus tersebut menyatakan bahwa Problem Based Learning, sebagai sebuah model pembelajaran mampu meningkatkan hasil belajar siswa kelas V SDN I Pasalakan. Kabupaten Cirebon, yang ditunjukkan melalui peningkatan aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa selama proses pembelajaran. Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan baik dalam siklus I maupun siklus II yakni pembelajaran mengenai kalimat yang menyatakan ajakan, harapan, dan larangan dengan kompetensi dasar menulis, dengan deskripsi siswa mampu menuliskan atau membuat kalimat perintah yang sesuai dengan jenis-jenisnya. Berikut merupakan deskripsi data pelaksanaan siklus I dan siklus II pada masa pembelajaran: Deskripsi data pelaksanaan tindakan di siklus I, dilaksanakan selama satu pertemuan yakni pada tanggal 3 Maret 2025. Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning, pada siklus I, ditunjukkan dalam hasil penelitian berikut 2 ini: Tabel 2. Rekapitulasi Hasil Belajar Peserta didik Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus Kesatu Kriteri Ketuntasan Kondisi Awal Ket. Jumlah Tuntas 53,57 Belum Tuntas 46,42 Jumlah 100,00 Nilai terendah 65,00 Nilai tertinggi 86,00 Rata Ae rata 68,79 Ketuntasan 53,57 Berdasarkan tabel rekapitulasi pada tabel 2, diketahui adanya peningkatan hasil belajar sebelum tindakan pada akhir siklus I. Adapun nilai rata-rata dan presentase ketuntasan belajar sudah meningkat dari data awal yaitu dari nilai rata-rata sudah meningkat dari hasil belajar pada masa prasiklus menjadi 68,79% dan ketuntasan secara klasikal menjadi 53,57%. Hal tersebut menunjukkan adanya presentase kenaikan ketuntasan belajar klasikal sebesar 21,43%. Berhubung belum memenuhi kriteria indikator keberhasilan ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan yaitu 75% Peserta Didik belajar yang tuntas sehingga perlu perbaikan pada siklus berikutnya. Deskripsi data pelaksanaan tindakan di siklus II, dilaksanakan selama satu pertemuan yakni pada tanggal 17 Maret Hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan menggunakan model pembelajaran Problem Based Learning, pada siklus II, ditunjukkan dalam hasil penelitian pada tabel 3 berikut ini: Tabel 3. Rekapitulasi Hasil Belajar Peserta didik Pada Kegiatan Pembelajaran Siklus Kedua Kriteri Ketuntasan Kondisi Awal Ket. CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 Tuntas Belum Tuntas Jumlah Nilai terendah Nilai tertinggi Rata Ae rata Ketuntasan Jumlah 85,71 14,29 100,00 70,00 91,00 77,63 85,71 Berdasarkan tabel 3 dan gambar di atas, siswa kelas V SDN Pasalakan. Kabupaten Cirebon diketahui adanya peningkatan hasil belajar sebelum tindakan pada akhir siklus II. Nilai rata-rata dari presentase ketuntasan belajar sudah meningkat dari data siklus I yaitu nilai rata rata menjadi 77,63. Ketuntasan belajar siswa kelas V pada siklus II sudah menunjukkan presentase 85,71%, yang artinya ada kenaikan presentase ketuntasan belajar klasikal sebesar 32,14%. Hal tersebut membuktikan bahwa pada pelaksanaan siklus kedua sudah memenuhi kriteria indikator keberhasilan ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan yaitu 75%. Oleh karena itu, penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning pada siswa kelas V SDN 1 Pasalakan. Kabupaten Cirebon pada siklus II sudah mengalami peningkatan. Pembahasan Berdasarkan Penelitian Tindakan Kelas yang telah dilakukan pada siswa kelas V SDN I Pasalakan yang berjumlah 28 orang diperoleh hasil secara kualitatif yang menyatakan bahwa siswa kelas V SDN I Pasalakan secara klasikal atau di atas <75% mampu menuliskan kalimat yang menyatakan ajakan, harapan, dan larangan dengan baik. Hal tersebut diperoleh dengan adanya indikator-indikator pembelajaran yang diperbaiki yang dipaparkan sebagai berikut: Pada masa prasiklus guru hanya menjelaskan dengan metode pembelajaran ceramah tanpa adanya media pembelajaran yang seharusnya dapat membantu meningkatkan suasana pembelajaran. Hal tersebut kemudian menyebabkan siswa cenderung bosan yang bermuara pada hasil belajar yang buruk. Keadaan tersebut kemudian senada dengan pernyataan Arsyad, dkk, . , yang menyatakan bahwa kendati metode ceramah memiliki keunggulan dalam menyampaikan materi secara langsung namun metode tersebut memiliki kekurangan berupa kurangnya interaksi yang dilakukan oleh para siswa dalam proses pembelajaran sehingga siswa cenderung merasa bosan. Hal tersebut didukung dengan ungkapan Atiyah dan Izzah, . , yang menyatakan bahwa metode ceramah memiliki keburukan yakni membatasi interaksi siswa sehingga mengurangi keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang mempengaruhi kemampuan siswa dalam memahami materi yang disampaikan. Fenomena ini terjadi pada siswa kelas V SDN I Pasalakan. Kabupaten Cirebon sebelum dilakukannya Penelitian Tindakan Kelas yang dilakukan ini yang ditunjukkan dengan rendahnya hasil belajar siswa pada masa pra-siklus yakni nilai siswa kelas V SDN I Pasalakan, yang menyatakan bahwa dari 28 siswa hanya 9 siswa yang mendapatkan nilai tuntas di atas KKM sebanyak 75 yang berarti hanya 32,14% siswa yang mencapai ketuntasan belajar klasikal, sedangkan 19 lainnya atau sebesar 67,86% belum mencapai ketuntasan dalam belajar. Hal tersebut diakibatkan pemahaman siswa terhadap materi belajar yang rendah. Berdasarkan data yang diberikan, hasil pembelajaran bahasa Indonesia di kelas 5 SDN I Pasalakan menunjukkan ketuntasan yang rendah, dengan 67,86% siswa belum tuntas dan rata-rata nilai yang hanya mencapai 53,79. Hal ini mengindikasikan adanya beberapa faktor yang memengaruhi pemahaman siswa, salah satunya adalah metode ceramah yang monoton yang diterapkan oleh guru. Metode ceramah yang cenderung satu arah dan tidak melibatkan interaksi aktif antara guru dan siswa dapat menyebabkan kejenuhan dan kurangnya motivasi belajar siswa. Siswa yang tidak terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran cenderung merasa kesulitan dalam CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 menyerap materi dengan baik, terutama pada pelajaran yang membutuhkan pemahaman konsep dan penguasaan keterampilan, seperti bahasa Indonesia. Selain itu, kurangnya variasi dalam metode pengajaran, seperti diskusi, permainan edukatif, atau penggunaan media pembelajaran yang lebih menarik, dapat membuat siswa merasa kurang tertarik dan sulit untuk berkonsentrasi. Akibatnya, nilai siswa cenderung rendah karena mereka tidak dapat sepenuhnya memahami materi atau mengaplikasikan keterampilan berbahasa Indonesia secara efektif. Peningkatan hasil belajar siswa kelas V SDN I Pasalakan setelah penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dapat dilihat dari data yang menunjukkan adanya perubahan signifikan pada ketuntasan belajar, di mana 53,57% siswa berhasil tuntas, dibandingkan dengan kondisi awal yang hanya 32,14%. Hal tersebut dapat terjadi dikarenakan: . Pendekatan yang lebih aktif dan interaktif, dalam model PBL, siswa lebih terlibat dalam proses pembelajaran melalui pemecahan masalah nyata yang relevan dengan kehidupan mereka. Berbeda dengan metode ceramah yang monoton. PBL mendorong siswa untuk berpikir kritis, bekerja sama dalam kelompok, dan menemukan solusi atas masalah yang diberikan. Hal ini meningkatkan keterlibatan aktif mereka dalam pembelajaran, yang pada gilirannya meningkatkan pemahaman dan keterampilan mereka dalam bahasa Indonesia. Penerapan Pembelajaran Kontekstual, hal ini dikarenakan Problem Based Learning memberikan konteks yang lebih nyata dan aplikatif, yang membantu siswa memahami konsep dengan cara yang lebih bermakna. Dalam hal ini, siswa belajar bahasa Indonesia melalui penyelesaian masalah yang mereka hadapi, sehingga mereka tidak hanya sekadar menghafal teori atau aturan, tetapi juga memahami bagaimana menggunakan bahasa secara praktis dalam konteks sehari-hari. Penigkatan Kemampuan Kerja Sama dan Komunikasi. Problem Based Learning mengutamakan kerja kelompok, yang meningkatkan keterampilan sosial siswa, seperti komunikasi, diskusi, dan pemecahan masalah secara bersama-sama. Siswa yang bekerja sama dalam kelompok cenderung lebih aktif berdiskusi, saling bertanya, dan mengajukan pendapat, yang secara tidak langsung melatih keterampilan berbahasa Indonesia siswa kelas V SDN Pasalakan I, yang berperan penting dalam meningkatkan kemampuan berbicara dan berpikir kritis. Berdasarkan hasil siklus I tersebut yang belum mencapai keberhasilan belajar dikarenakan nilai ketuntasan belajar yang belum mencapai 75% maka penelitian tindakan kelas dilanjutkan pada siklus II dengan memperbaiki sintaks-sintaks yang dirasa belum maksimal pada siklus I, yang kemudian meningkatkan hasil belajar siswa hingga pada siklus II tercapai ketuntasan belajar siswa di atas 75% pada siswa kelas V SDN Pasalakan I, yang disebabkan guru lebih memperhatikan dan memperdalam Problem Based Learning yang menyebabkan siswa diberi kebebasan untuk mencari solusi terhadap masalah yang ada, yang mendorong mereka untuk belajar secara mandiri. Hal ini meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap proses belajarnya dan memperkuat keterampilan penelitian serta penerapan pengetahuan yang telah mereka pelajari. Kemandirian ini membuat siswa lebih percaya diri dalam mengerjakan tugas dan ujian. Selain hal tersebut, dalam model Problem Based Learning, yang diterapkan dalam memperbaiki siklus II maka penilaian tidak hanya berdasarkan hasil akhir atau tes, tetapi juga proses belajar yang dilalui siswa. Ini memberikan kesempatan bagi siswa untuk memperbaiki diri melalui umpan balik yang konstruktif dan terusmenerus. Hal ini mendukung perkembangan mereka secara keseluruhan, baik dalam aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik, hal ini disampaikan oleh Guru melalui proses pembelajaran yang menggunakan tindakan apresiasi terhadap keberhasilan yang dicapai siswa sehingga siswa menjadi termotivasi untuk melakukan pembelajaran dengan baik. CopyrightA 2025 | EDUKASI TEMATIK: Jurnal Pendidikan Sekolah Dasar | Volume 6. Nomor 2. Juli 2025 PENUTUP Penerapan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terbukti efektif dalam meningkatkan hasil belajar Bahasa Indonesia pada siswa kelas V SDN I Pasalakan. Berdasarkan hasil siklus I dan II, terjadi peningkatan yang signifikan baik dari segi rata-rata nilai maupun ketuntasan belajar secara klasikal. Rata-rata nilai siswa meningkat dari 53,79 pada pra-siklus menjadi 68,79 pada siklus I dan akhirnya mencapai 77,63 pada siklus II. Demikian pula, ketuntasan belajar klasikal meningkat dari 32,14% menjadi 53,57%, dan akhirnya mencapai 85,71%, yang menunjukkan keberhasilan penerapan model PBL dalam pembelajaran. Model ini mendorong keterlibatan aktif siswa melalui pemecahan masalah kontekstual, sehingga mampu meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan menulis kalimat ajakan, harapan, dan larangan sesuai kompetensi dasar. Temuan ini sejalan dengan penelitian Firmando, dkk. yang menunjukkan bahwa penerapan PBL mampu meningkatkan rata-rata nilai dan ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran Bahasa Indonesia di SDN 24 Ampenan. Hasil penelitian ini juga diperkuat oleh Rukmi, dkk. yang menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah memiliki relevansi dengan kehidupan siswa sehingga memudahkan pemahaman materi. Dengan pendekatan pembelajaran yang lebih bermakna, siswa tidak hanya menghafal materi, tetapi belajar melalui pengalaman nyata dan kerja kelompok, yang juga melatih keterampilan sosial dan komunikasi mereka. Hal ini membuktikan bahwa PBL bukan hanya meningkatkan capaian akademik, tetapi juga kompetensi abad 21 yang penting seperti berpikir kritis dan kolaborasi. Berdasarkan temuan tersebut, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Problem Based Learning layak dijadikan alternatif metode pembelajaran Bahasa Indonesia di sekolah dasar, terutama dalam konteks yang memerlukan peningkatan hasil belajar dan keterlibatan siswa. PBL juga mampu menjawab tantangan pembelajaran konvensional yang cenderung pasif dan monoton, sebagaimana dikeluhkan dalam berbagai penelitian terdahulu. Dengan adanya bukti empirik dari penelitian ini, guru diharapkan dapat menerapkan model PBL secara berkelanjutan dan inovatif, serta menjadikannya bagian dari praktik pembelajaran yang adaptif dan kontekstual di era pendidikan DAFTAR PUSTAKA