Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 107-118 Available at http://jurnal. id/jpterpadu Jurnal Perikanan Terpadu P-ISSN : 2599-154X E-ISSN : 2745-6587 Pendekatan Produksi Surplus dalam Menganalisa Hasil Tangkapan Ikan dan Status Penangkapan Ikan yang didaratkan di p Lempasing Surplus Production Approach in Analyzing Fishing Results and Status of Landed Fishing in p Lempasing Ayang Armelita Rosalia1*. Aji Prasetyo1. Denta TirtanaA. La Ode Alam Minsaris1. Amalia Febryane Adhani MazayaA. Novia Nurul AfifahA Program Studi Sistem Informasi Kelautan. Universitas Pendidikan Indonesia. Serang. Indonesia Program Studi Perikanan Tangkap. Jurusan Perikanan dan Kelautan. Politeknik Negeri Lampung. Bandar Lampung. Indonesia Program Studi Sosial Ekonomi Perikanan. PSDKU Universitas Brawijaya. Malang. Indonesia Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Universitas Jenderal Soedirman. Purwokerto. Indonesia *koresponden: ayang. armelita@upi. Article Information Abstract The province of Lampung is one that utilizes fish resources of up to 380,000 tons per year of the total fish stocks landed in existing fishing ports. One of them is the Lempasing Fishing Keywords : Port Beach . , which has a strategic location and directly borders the Gulf of Lampung. However, according to the annual MSY (Maximum Sustainable Yiel. Surplus report of p Lempasing from 2013 to 2022, landed catches tend to decrease every year. Therefore, it is necessary to make production. WPP NRI 572. Fish stock. Utilization maximum use of fish resources. In this study, fish stocks were analyzed using the surplus production approach using the equilibrium state method, the Schaefer 1954 model, and the Fox 1970 model, and then the non-equilibrium state model, the Walter-Hilborn 1976 model, in one and two ways. From the results of the analysis it was found that the correct model for determining the level of utilization and catch status used the Walter-Hilborn model of the second way which has the second highest R2 value which reaches 80% and for the highest value of R2 obtained the model Walter- Hilbron one way reaches 95% but with the utilization rate of 313% this is less relevant because it does not correspond to the facts on the field, in this case the utilizing rate in p Lempasing according to the Walter Hilborne model of second way reached 97% which means fully exploited recommended in utilizing the fish resources can refer to the value (YMSY) 713 tons/year, maximum catch effort (FMSY), of 1240 tons/ year, with the number of allowed catches (YJTB) of 571 trips/year in which each trip (UMSY) can catch as Submitted Revised Accepted Published 29/04/2025 14/07/2025 31/07/2025 01/08/2025 107 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 107-118 much as 0. 58 catches. In this case, too, the catch effort can be increased, but by considering the value of the sustainable stock or fish stocks that exist at the depth of Be 727 tons. Rosalia. Prasetyo. Tirtana. Minsaris. Mazaya. , & Afifah. Pendekatan produksi surplus dalam menganalisa hasil tangkapan ikan dan status penangkapan ikan yang didaratkan di p Lempasing. Jurnal Perikanan Terpadu 6. : 107-118 PENDAHULUAN Indonesia sebagai negara yang dijuluki negara maritim memiliki peran penting dalam bidang perikanan khususnya perikanan tangkap. Salah satunya adalah p Lempasing yang terletak di Provinsi Lampung. Hasil tangkapan ikan yang didaratkan di seluruh pelabuhan perikanan yang ada di Provinsi Lampung setiap tahunya bisa mencapai 380,000 ton/tahun. Hal ini juga mendorong p Lempasing yang memiliki luas wilayah dan beberapa fasilitas dalam menunjang bongkar muat dalam hasil tangkapan lautnya yaitu sebesar 270 m2 menjadikan salah satu pelabuhan perikanan pantai yang strategis dan berbatasan langsung dengan wilayah Teluk Lampung dan menjadi peranan penting dalam hasil tangkapan lautnya (Mawarni et al. , 2. Ada 54 jenis hasil tangkapan ikan yang didaratkan di p Lempasing dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir. Beberapa ikan unggulan yang didaratkan di p Lempasing adalah Ikan Tongkol. Ikan Kembung, dan Cumi-cumi. Hasil tangkapan ikan yang didaratkan p Lempasing dapat mencapai 536 ton. (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, 2. Salah satu sistem terbaik dalam memanfaatkan sumberdaya ikan agar tidak terjadinya penangkapan yang berlebihan adalah dengan menganalisa stok ikan dan status penangkapan ikan di perairan atau di pelabuhan tersebut (Muhsoni, 2. Namun, pemanfaatan sumber daya ikan yang tidak menggunakan manajemen dengan tepat akan mengakibatkan penurunan jumlah stok ikan yang berdampak buruk pada keberlangsungan ekosistem dan mata pencaharian nelayan. Salah satu model dalam analisis hasil tangkapan ikan yaitu dengan pendekatan produksi surplus. Model Produksi surplus berfokus dalam menganalisa hasil tangkapan setiap tahunya yang menganggap bahwa umur, panjang, dan bobot ikan bersifat homogen (Tuapetel, 2. Model produksi surplus digunakan untuk mengetahui hasil tangkapan maksimum lestari (MSY) dan hasil tangkapan persatuan upaya (CPUE) dari suatu perairan yang memiliki tujuan untuk merekomendasi dalam upaya penangkapan baik ditingkatkan, dikurangi atau dipertahankan yang tentunya akan berdampak pada hasil tangkapan dan kelestarian ikan yang ada di alam (Telussa. METODOLOGI PENELITIAN Data pada penelitian ini menggunakan data sekunder yang dimiliki oleh Pelabuhan Perikanan Pantai Lempasing yang berada di Provinsi Lampung pada titik koordinat 05A 29Ao 15Ay LS dan 105A 15Ao 12. 5Ay BT. Data sekunder ini adalah data historis atau time series berupa data hasil tangkapan . dan upaya penangkapan . ikan yang didaratkan di p Lempasing dalam kurun waktu sepuluh tahun yaitu 2013-2022. 108 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 107-118 Figure 1. Map of the p Lempasing Research Location. Lampung Province Maksimum Sustainable Yield atau Maksimum Penangkapan Setiap tahun (MSY) pada hasil yang didaratkan di p Lempasing menggunakan pendekatan secara produksi surplus. Model produksi surplus ini berfokus dalam analisa data hasil tangkapan setiap tahunnya yang didaratkan di suatu pelabuhan yang menganggap ikan adalah homogen yaitu umur, berat, dan panjang ikan Dalam pendekatan Produksi Surplus memiliki dua metode yang berbeda dalam analisanya yaitu metode equilibrium state mencakup model Schaefer . dan model Fox . sedangkan metode non-equilibrium state ini mencakup model Walter-Hilborn . cara kesatu dan cara kedua. Model Schaefer 1954 menurut Martosubroto & Wudianto, . menyatakan bahwa dalam metode eqilbrium state nilai Catch per Unit Effort (CpUE) dan nilai effort . memiliki hubungan linear negatif. Sedangkan pada model Fox 1970 menurut (Rochmady & Susiana, 2. menyatakan bahwa hubungan nilai Catch per Unit Effort (CpUE) dan effort . memiliki hubungan Dalam memperoleh nilai a . dan b . diperlukan analisis regresi untuk mengetahui seberapa pengaruh nilai effort . terhadap nilai Catch per Unit Effort (CpUE). Menurut (Sparee, 1. pada metode equilibrium state yaitu Schaefer . dan Fox . dan metode nonequilibrium state yaitu Walter-Hilborn . cara satu dan dua dalam menentukan nilai Catch per Unit Effort (CpUE) adalah dengan membagi nilai catch . atau hasil tangkapan ikan di p Lempasing dengan nilai effort . upaya penangkapan di p Lempasing. Rumus sebagai berikut (Sparee, yaycyycOya = ya ya Keterangan: CpUE : catch per unit effort : catch : effort Selanjutnya untuk mengetahui nilai MSY atau Maximum Sustainable Yield ada 2 jenis nilai MSY yaitu FMSY (Fishing Mortality Sustainable Yiel. atau tingkat penangkapan yang diterapkan pada stok ikan yang memungkinkan untuk dapat diambil dan YMSY (Yield at Maximum Sustainable 109 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 107-118 Yiel. memiliki arti hasil tangkapan maksimum yang diperbolehkan untuk ditangkap dengan mempertimbangkan hasil tangkapan dalam kurun waktu yang panjang tanpa merusak keberlangsungan populasi ikan tersebut. Pada model Schaefer . untuk menentukan nilai FMSY (Fishing Mortality Sustainable Yiel. dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut (Hodgson, 2. yaycAycIycU = Oeyca . O yc. Keterangan: : intercept : slope YMSY (Yield at Maximum Sustainable Yiel. pada model Schaefer . dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut (Tsikliras & Froese, 2. ycUycAycIycU = Oeyca2 . O yc. Dalam menentukan nilai FMSY (Fishing Mortality Sustainable Yiel. pada model Fox . dapat dinyatakan sebagai berikut (Hodgson, 2. yaycAycIycU = yayaAycI yca YMSY (Yield at Maximum Sustainable Yiel. pada model Fox . dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut (Tsikliras & Froese, 2. ycUycAycIycU = yaycAycIycU O yaycUycE. ca Oe . Dalam pendekatan metode non-equilibrium yaitu model Walter-Hilborn . cara satu dan kedua digunakan untuk mendapatkan potensi tangkapan lestari atau (B. dengan memiliki tujuan untuk menduga parameter populasi ikan yang ada di laut seperti nilai r, q, dan k. dalam hal ini dapat dinyatakan dengan persamaan sebagai berikut (Kekenusa et al. , 2. yaycyycOya. yaycyycOyayc Oe1=ycOe[ yc ] yaycyycOyayc Oe yc O yce yco. yc Keterangan: CpUE. : Catch per Unit Effort (CPUE) awal pada saat ((Ut 1/U. CpUEt : Catch per Unit Effort (CPUE) awal pada saat t. : laju pertumbuhan alami stok biomassa . : koefisien cathability . < q < . : daya dukung maksimum lingkungan alami : jumlah effort pada tahun t Dalam menentukan nilai MSY yaitu Maximum Sustainable Yield ada 2 jenis nilai MSY yaitu FMSY (Fishing Mortality Sustainable Yiel. atau tingkat penangkapan yang diterapkan pada stok ikan yang memungkinkan untuk dapat diambil dan YMSY (Yield at Maximum Sustainable Yiel. memiliki arti hasil tangkapan maksimum yang diperbolehkan untuk ditangkap dengan mempertimbangkan hasil tangkapan dalam kurun waktu yang panjang tanpa merusak keberlangsungan populasi ikan tersebut. 110 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 107-118 Pada model Walter-Hilborn . cara satu dan cara kedua memiliki persamaan dalam menentukan nilai FMSY dan YMSY hal ini dinyatakan oleh (Tuapetel, 2. bahwa dalam menentukan nilai tersebut dapat menggunakan persamaan berikut: ycUycAycIycU = . cOyc. yc yaycAycIycU = . Oy. Pada metode non-equilibrium state memiliki perbedaan dengan metode equilibrium state. Dalam hal ini yang membedakan kedua metode tersebut adalah dalam metode non-equilibrium state dapat menganalisis nilai potensi cadangan lestari atau potensi stok ikan yang tersedia di laut (B. hal ini dinyatakan oleh (Tuapetel, 2. dalam mencari nilai Be pada model Walter-Hilboorn . cara kesatu dan cara kedua dapat menggunakan persamaan sebagai berikut: ycUycAycIycU = . cOyc. yc yaycAycIycU = . Oy. Dalam menentukan YJTB pada metode equilibrium state dan non-equilibrium state dapat menggunakan dengan persamaan sebagai berikut (Arkham et al. , 2. ycUyaycNyaA = 80% O ycUycAycIycU Dalam menentukan tingkat pemanfaatan pada hasil penangkapan ikan di suatu tempat dapat dikategorikan dalam enam kelompok tingkat pemanfaatan ikan (Safitri, 2. Unexploited . %) Pada hal ini sumberdaya ikan belum dimanfaatkan secara optimal sehingga dapat dilakukan penangkapan agar mendapatkan manfaat dari produksinya. Lightly Exploited (<25%) Sumberdaya ikan telah dieksploitasi sebesar 25-50% dari nilai MSY. Hal ini dianjurkan untuk meningkatkan kegiatan penangkapan, karena tidak mempengaruhi kelestarian sumberdaya ikan. Moderately exploited . -75%) Sumberdaya ikan telah diambil dari separuh nilai MSY yaitu 26-75%. Dalam hal ini penangkapan masih diperbolehkan dengan syarat dapat memperhatikan kelestarian sumberdaya ikan. Fully Exploited . -100%) Sumberdaya ikan telah dieksploitasi hampir mendekati nilai MSY yaitu 76-100%. Pada hal ini penangkapan masih diperbolehkan dengan syarat memperhatikan kelestarian sumberdaya Over Exploited . -150%) Sumberdaya ikan telah dieksploitasi melebihi nilai MSY sebesar 101-150%. Dalam hal ini upaya penangkapan harus dikurangi untuk memperbaiki kelestarian sumberdaya ikan. Depleted (>150%) Sumberdaya ikan telah dieksploitasi melebihi nilai MSY yaitu sebesar >150%. Dalam hal ini upaya penangkapan dapat dibatasi secara bijak agar sumberdaya ikan dapat pulih kembali. Dalam menentukan tingkat pemanfaatan ikan pada metode equilibrium state dan metode nonequilibrium state dapat menggunakan persamaan sebagai berikut (Herka Mayu et al. , 2. 111 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 107-118 ycN. ycEyceycoycaycuyceycaycycaycaycu = ycIycaycyca Oe ycycaycyca ycaycaycycaEa ycUyaycNyaA HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil tangkapan yang didaratkan di p Lempasing ditangkap lebih dari satu jenis alat tangkap atau bisa disebut juga multi-gear dan ada sepuluh jenis alat tangkap aktif dalam menangkap ikan yang didaratkan di p Lempasing dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir yaitu Jaring Payang. Gillnet. Jaring Arad. Bagan Perahu. Cantrang. Lampu. Pancing. Pelele. Pengasin. Purse Seine, dan jaring rampus. Berdasarkan data laporan tahunan di p Lempasing pada periode tahun 2013-2022 memiliki trend menurun dari tahun ke tahun, hal ini menunjukan bahwa penangkapan ikan yang didaratkan di p Lempasing perlu adanya peningkatan dalam segi upaya penangkapan untuk memanfaatkan sumber daya ikan yang lebih baik. Hal tersebut dapat dilihat pada Figure 2. Figure 2. Results of fish catches landed at p Lempasing for the 2013-2022 period Hasil analisa regresi pada metode equilibrium state yaitu pada model Schaefer . memperoleh nilai a . 5, nilai b . -0,0003 dengan nilai R2 yaitu sebesar 0,21 dalam hal ini memiliki arti bahwa nilai effort mempengaruhi terhadap nilai CpUE yaitu sebesar 29%, sebaliknya 71% lainya dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti produksi ikan, musim pemijahan ikan, fishing ground, dan faktor lainnya. Dalam hasil analisa nilai MSY pada stok ikan yang didaratkan di p Lempasing menggunakan model Schaefer . mendapatkan nilai FMSY atau upaya penangkapan maksimum lestari sebesar 2157 trip/tahun. YMSY atau hasil tangkapan maksimum lestari sebesar 1618 ton/tahun, dengan hasil tangkapan yang diperbolehkan atau YJTB sebesar 1294 trip/tahun. Dengan nilai CpUE maksimum lestari atau UMSY sebesar 0,75 ton/trip dan status penangkapan ikan mencapai 44% yang artinya dalam memanfaatkan sumber daya ikan masih separuh dari nilai MSY yaitu sebesar 26%-75% masih tergolong ke dalam moderately exploited dalam hal ini direkomendasikan untuk meningkatkan upaya penangkapan . dengan syarat tanpa merusak kelestarian sumberdaya ikan yang masih ada di alam. Pada model Schaefer . nilai signifikan f lebih besar dari pada nilai . Hal ini dinyatakan bahwa model ini tidak cocok untuk dijadikan analisis dalam menentukan tingkat pemanfaatan di p Lempasing pada periode 2013-2022 yang memiliki nilai signifikan f 0,1 > dari nilai sebesar 0,05. 112 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 107-118 Figure 3. Graph of the Relationship between Catch and Effort of Fish Landed at p Lempasing 2013-2022 Using the Schaefer 1954 Method Hasil analisa regresi pada metode equilibrium state yaitu pada model Fox . memperoleh nilai a . sebesar 0,40, nilai b . -0,0003 dengan nilai R2 yaitu sebesar 0,33 dalam hal ini memiliki arti bahwa nilai effort mempengaruhi terhadap nilai CpUE yaitu sebesar 44%, sebaliknya 56% lainya dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti produksi ikan, musim pemijahan ikan, fishing ground, dan faktor lainnya. Dalam hasil analisa nilai MSY pada stok ikan yang didaratkan di p Lempasing menggunakan model Schaefer . mendapatkan nilai FMSY atau upaya penangkapan maksimum lestari sebesar 2867 trip/tahun. YMSY atau hasil tangkapan maksimum lestari sebesar 1579 ton/tahun, dengan hasil tangkapan yang diperbolehkan atau YJTB sebesar 1263 trip/tahun. Dengan nilai CpUE maksimum lestari atau UMSY sebesar 0,55 ton/trip dan status penangkapan ikan mencapai 45% yang artinya dalam memanfaatkan sumber daya ikan masih separuh dari nilai MSY yaitu sebesar 26%-75% masih tergolong ke dalam moderately exploited dalam hal ini direkomendasikan untuk meningkatkan upaya penangkapan . dengan syarat tanpa merusak kelestarian sumberdaya ikan yang masih ada di alam. Pada model Fox . nilai signifikan f lebih kecil dari pada nilai . Hal ini dinyatakan bahwa model dapat dijadikan analisis dalam menentukan tingkat pemanfaatan di p Lempasing pada periode 2013-2022 yang memiliki nilai signifikan f 0,03 < dari nilai sebesar 0,05. Figure 4. Graph of the Relationship between Catch and Effort of Fish Landed at p Lempasing 2013-2022 Using the Fox 1970 Method 113 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 107-118 Hasil analisa regresi pada metode non-equilibrium state pada model Walter-Hilborn . cara ke satu diperoleh nilai r atau laju pertumbuhan intristik dalam keadaan stabil sebesar 0,74, nilai q atau koefisien catchability sebesar -0,96. sedangkan untuk cadangan lestari atau stok ikan Be yang masih berada di alam menunjukan 293 ton/tahun dengan nilai FMSY atau upaya penangkapan maksimum lestari sebesar 282 trip/tahun. YMSY atau hasil tangkapan maksimum lestari sebesar 109 ton/tahun, dengan hasil tangkapan yang diperbolehkan atau YJTB sebesar 87 trip/tahun. Dengan nilai CpUE maksimum lestari atau UMSY sebesar 0,38 ton/trip dan status penangkapan ikan mencapai 313% yang artinya dalam memanfaatkan sumberdaya ikan tidak diperbolehkan melebihi dari nilai MSY yaitu sebesar >150% sudah tergolong ke dalam depleted. Upaya penangkapan sangat direkomendasikan untuk dikurangi atau dibatasi agar tidak mengganggu keberlangsungan ekosistem ikan tersebut. Pada model Walter-Hilborn . cara kesatu dapat dijadikan model dalam menentukan tingkat pemanfaatan karena nilai signifikan f lebih kecil dari pada nilai yaitu sebesar nilai signifikan f 0,0001 < nilai 0,05 akan tetapi pada hal ini hasil analisa model Walter-Hilborn cara ke satu kurang relevan karena berdasarkan data selama kurun waktu 2013-2022 di p Lempasing hasil penangkapan ikan terus menurun. Hasil analisa regresi pada metode non-equilibrium state pada model Walter-Hilborn . cara kedua diperoleh nilai r atau laju pertumbuhan intristik dalam keadaan stabil sebesar 1,70 , nilai q atau koefisien catchability sebesar -1,58. sedangkan untuk cadangan lestari atau stok ikan Be yang masih berada di alam menunjukan 662 ton/tahun dengan nilai FMSY atau upaya penangkapan maksimum lestari sebesar 1046 trip/tahun. YMSY atau hasil tangkapan maksimum lestari sebesar 563 ton/tahun, dengan hasil tangkapan yang diperbolehkan atau YJTB sebesar 451 trip/tahun. Dengan nilai CpUE maksimum lestari atau UMSY sebesar 0,54 ton/trip dan status penangkapan ikan mencapai 97% sudah tergolong kedalam fully exploited yang artinya dalam memanfaatkan sumberdaya ikan telah dieksploitasi hampir mendekati nilai MSY yaitu sebesar 76125%. Upaya penangkapan sangat direkomendasikan untuk dikurangi atau dibatasi agar tidak mengganggu keberlangsungan ekosistem ikan tersebut. Pada model Walter-Hilborn . cara kedua memiliki nilai signifikan f lebih kecil dari pada nilai oleh karena itu model Walter-Hilborn . cara kedua dapat dijadikan model dalam menentukan tingkat pemanfaatan karena nilai signifikan f lebih kecil dari pada nilai yaitu sebesar nilai signifikan f 0,002 < nilai 0,05. Berdasarkan hasil analisis regresi dengan menggunakan metode equilibrium state dan metode non-equlibrium state mendapatkan nilai YMSY. FMSY. YJTB. R2. Tingkat pemanfaatan, status penangkapan dan nilai Be pada model Walter-Hilborn cara kesatu dan cara kedua dapat dilihat pada dibawah ini Table 1. Results of regression analysis using equilibrium state and non-equilibrium state methods Model Schaefer . Fox . WalterHilborn . first way WalterHilborn . second way Utilization Rate 177 trip/ Depleted 416 ton 571 trip/ Fully Exploited 727 ton YMSY FMSY YJTB ton/year 1525 ton/ 2009 ton/ 2597 ton/ trip/year 1220 trip/ 221 ton/ 456 ton/ 713 ton/ 1240 ton/ Catcher Status Moderately Exploited Moderately Exploited 114 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 107-118 Berdasarkan hasil yang dapat dilihat pada tabel 1. Model yang tepat untuk menentukan nilai tingkat pemanfaatan dan status penangkapan ikan yang didaratkan di p Lempasing dalam periode 2013-2022 yaitu model Walter-Hilborn . cara kedua yang memiliki nilai R2 sebesar 80% tertinggi kedua setelah Walter-Hilborn . cara kesatu yaitu sebesar 95%. Alasan tidak menggunakan cara kesatu karena dilihat dari tingkat pemanfaatan mencapai 313 yaitu dengan status penangkapan depleted oleh karena itu model kesatu kurang relevan dengan kenyataan yang ada di p Lempasing yang memiliki hasil tangkapan setiap tahunnya menurun. Hasil tangkapan yang didaratkan di p Lempasing ditangkap lebih dari satu jenis alat tangkap atau bisa disebut juga multi-gear. Berdasarkan data (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, 2. ada sepuluh jenis alat tangkap aktif dalam menangkap ikan yang didaratkan di p Lempasing dalam kurun waktu sepuluh tahun terakhir yaitu Jaring Payang. Gillnet. Jaring Arad. Bagan Perahu. Cantrang. Lampu. Pancing. Pelele. Pengasin. Purse Seine, dan jaring rampus. Berdasarkan data Laporan Tahunan yang didapatkan langsung dari p Lempasing (Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung, 2. menyatakan bahwa dalam kurun waktu sepuluh tahun dalam periode 2013 hingga 2022 hasil penangkapan ikan yang didaratkan di p Lempasing memiliki tren menurun hal ini dapat dilihat pada Figure 2. Dalam hal ini upaya tepat yang dapat dilakukan oleh pihak p Lempasing yaitu dengan meningkatkan upaya penangkapan dengan memperhatikan nilai MSY atau Tingkat Pemanfaatan berdasarkan data hasil tangkapan Dalam melakukan analisis hasil tangkapan agar mendapatkan tingkat pemanfaatan yang baik diperlukan analisa dinamika populasi dengan menggunakan model Produksi Surplus (Muhsoni, 2. Produksi surplus ini mencakup dua metode yaitu equilibrium state yaitu model Schaefer 1954 dan model Fox 1970 serta model non-equilibrium state yaitu model Walter-Hilborn Dari hasil analisa yang dilakukan dapat ditentukan nilai Tingkat pemanfaatan yang dapat dijadikan acuan berdasarkan nilai R2 tertinggi dengan syarat memperhatikan tingkat pemanfaatan dengan data real yang didapatkan (Safitri, 2. Hasil analisis pada metode equilibrium state yaitu model Schaefer 1954 memiliki nilai R2 29% lebih kecil dibandingkan keempat model yang telah dianalisa. pada model ini nilai signifikan f 0,1 lebih besar dari pada nilai sebesar 0,05 oleh karena itu model ini tidak cocok untuk dijadikan acuan dalam menentukan tingkat pemanfaatan ikan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Safitri, 2. menggunakan model Schaefer 1954 didapatkan nilai R2 39% lebih kecil dibandingkan keempat model yang telah dianalisa yang menyatakan bahwa model ini tidak dapat dijadikan acuan dalam menentukan tingkat pemanfaatan ikan karena memiliki nilai R2 terkecil dibandingkan model lainnya. Hasil analisis pada metode equilibrium state yaitu model Fox 1970 memiliki nilai R2 44% pada model ini nilai signifikan f 0,03 lebih kecil dari pada nilai sebesar 0,05 oleh karena itu model ini dapat dijadikan dalam menentukan tingkat pemanfaatan ikan. Dalam penelitian yang dilakukan oleh (Rosadi et al. , 2. menggunakan model Fox mendapatkan nilai R2 sebesar 90% dan pada model ini juga mendapatkan nilai signifikan f 0,00012 lebih kecil dari pada nilai sebesar 0,05. Oleh karena itu model Fox ini dapat digunakan dalam menentukan tingkat pemanfaatan ikan. Hasil analisa pada metode non-eqilibrium state model Walter-Hilborn 1976 cara kesatu didapatkan nilai R2 sebesar 95% tetapi pada model ini kurang relevan dikarenakan tingkat pemanfaatan sebesar 313% . hal ini berbanding terbalik dengan data dilapangan yaitu hasil penangkapan di p Lempasing dalam kurun waktu sepuluh tahun memiliki trend menurun. Sedangkan pada model Walter-Hilborn cara kedua memiliki nilai R2 sebesar 80% lebih kecil dari 115 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 107-118 pada cara kesatu, tetapi pada cara kedua lebih relevan dengan tingkat pemanfaatan ikan sebesar 97% . ully exploite. yaitu hasil penangkapan ikan hampir mendekati nilai MSY. Oleh karena itu berdasarkan hasil analisis regresi yang telah dilakukan model yang cocok untuk dijadikan acuan adalah menggunakan model Walter-Hilborn 1976 cara kedua. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Yusfiandayani et al. , 2. yang mengamati produktivitas dan pola musim tangkap ikan peperek di Teluk Banten menggunakan model pendekatan produksi surplus menyatakan bahwa hasil dari analisa model terbaik didapatkan dari model Walter-Hilborn . dengan nilai R2 tertinggi yang mencapai 0,97 dalam hal ini memiliki arti bahwa nilai effort mempengaruhi terhadap nilai CpUE yaitu sebesar 97%, sebaliknya 3% lainya dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor lain seperti produksi ikan, musim pemijahan ikan, fishing ground, dan faktor lainnya. Hal ini juga diperkuat dalam pernyataan (Muhsoni, 2. mengenai metode non-equilibrium yaitu model Walter-Hilborn . menyatakan bahwa pada model ini tidak bergantung pada kondisi keseimbangan dari suatu populasi perikanan yang artinya pada model ini menganggap bahwa biomassa ikan sama yaitu dari segi umur, berat, dan panjang ikan yang ditangkap setiap Selain itu model ini dapat mengestimasikan nilai parameter dari sebuah populasi di dalam model sehingga dalam pendugaan lebih mendekati dengan fakta di lapangan. Dalam pemanfaatan sumberdaya ikan yang didaratkan di p Lempasing telah menunjukkan relatif menurun, sehingga perlu adanya upaya dalam penangkapan yang dapat memanfaatkan sumberdaya ikan secara maksimal walaupun berdasarkan hasil tingkat pemanfaatan 97% dengan status fully exploited dari model Walter-Hilborn . dapat dijadikan acuan dalam meningkatkan effort penangkapan ikan dengan memperhatikan konsep kehatianhatian bahawa dalam memanfaatkan sumberdaya ikan harus merujuk kepada ilmu yang bersifat holistik dan mengacu kepada peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. PER. 29/MEN/2012 yang menyatakan bahwa dalam upaya penangkapan haruslah memperhatikan nilai analisa dari jumlah tangkapan yang diperbolehkan (JTB) yang ditentukan berdasarkan nilai 80% dari Maximum Sustainable Yield (MSY) (Safitri, 2. agar dalam memanfaatkan sumberdaya ikan tidak terjadinya penangkapan yang over exploited bahkan depleted yang mengakibatkan terganggunya ekosistem ikan yang ada di habitat aslinya (Rosadi et al. , 2. KESIMPULAN Berdasarkan hasil analisa dari ketiga model yang telah diuji menyatakan bahwa model Walter-Hilborn . cara kedua dapat dijadikan acuan dalam menentukan tingkat pemanfaatan di p Lempasing dengan nilai kepercayaan atau nilai R2 sebesar 80% lebih kecil dibandingkan model pertama yaitu sebesar 95% walaupun seperti ini Walter-Hilborn cara kedua lebih relevan karena tingkat pemanfaatan sebesar 97% yaitu fully exploited dibandingkan model Walter-Hilborn cara kedua sebesar 313% hal ini kurang relevan mengingat hasil penangkapan di p Lempasing dari tahun ketahun semakin menurun. IMPLIKASI KEBIJAKAN Berdasarkan hasil penelitian direkomendasi untuk meningkatkan hasil tangkapan atau memanfaatkan sumberdaya ikan di p Lempasing dapat mengacu kepada nilai maksimum penangkapan pertahun. Upaya penangkapan dapat ditingkatkan tetapi dengan memperhatikan nilai cadangan lestari atau stok cadangan ikan yang ada di alam. 116 | P a g e Jurnal Perikanan Terpadu 6. , 107-118 UCAPAN TERIMAKASIH Terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Pendidikan Indonesia yang telah membiayai Penelitian ini. Terima kasih kepada Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Lampung. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu kegiatan ini. DAFTAR PUSTAKA