e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2025. Vol. 4 No. DOI: PENGUATAN KOMPETENSI SISWA KEBUMIAN MELALUI PEMBINAAN TERSTRUKTUR DAN PRAKTIKUM LAPANGAN UNTUK PERSIAPAN OSN TINGKAT KABUPATEN Syafrizal1. Muliani1*. Nanda Novita1. Islami Fatwa2. Dian Darisma3 Pendidikan Fisika. FKIP. Universitas Malikussaleh Pendidikan Vokasional Teknik Mesin. FKIP. Universitas Malikussaleh Program Studi Teknik Geofisika. Fakultas Teknik. Universitas Syiah Kuala. Indonesia Email*: muliani91@unimal. ABSTRAK Kebumian merupakan salah satu bidang sains yang dilombakan dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, tidak semua sekolah menyediakan kebumian sebagai mata pelajaran terpisah, sehingga siswa seringkali menghadapi kesulitan dalam mempelajari materi yang kompleks dan multidisipliner. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk melatih siswa dalam menghadapi seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten/kota melalui pembinaan terstruktur dan praktikum lapangan dalam memperkuat kompetensi siswa dibidang kebumian. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi 3 tahap yaitu tahap persiapan dan koordinasi, pelaksanaan kegiatan, evaluasi dan tindak Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kompetensi siswa bidang kebumian yang signifikan pada rata-rata nilai posttest dalam rentang . dibandingkan pretest . pada setiap topik materi, yang juga diperkuat oleh hasil latihan soal berbasis aplikasi Quizizz. Pada seleksi tingkat sekolah, lima siswa berhasil terpilih untuk melanjutkan ke OSN tingkat kabupaten, dan salah satunya meraih prestasi di tingkat Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini tidak hanya berhasil meningkatkan kesiapan akademik siswa menghadapi OSN, tetapi juga memperkuat budaya belajar ilmiah, keterampilan observasi, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam upaya mencetak generasi muda yang unggul di bidang Kata Kunci : Kompetensi siswa bidang kebumian. Olimpiade Sains Nasional (OSN). Pembinaan terstruktur. Praktikum lapangan ABSTRACT Earth science is one of the science fields competed in the National Science Olympiad (OSN) for Senior High Schools (SMA). However, not all schools provide earth science as a separate subject, so students often face difficulties in learning complex and multidisciplinary materials. This community service activity was carried out to train students to face the selection of OSN at the district/city level through structured coaching and field practicums in strengthening student competency in the field of earth science. The method of implementing the activity includes 3 stages, namely the preparation and coordination stage, implementation of activities, evaluation, and follow-up. The results of the activity showed a significant increase in student competency in the field of earth science, on average posttest scores in the range . compared to the pretest . on each topic of material, which was also reinforced by the results of the Quizizz application-based practice In the school-level selection, five students were successfully selected to continue to the district-level OSN, and one of them achieved an achievement at that level. Overall, this community service activity has not only succeeded in improving students' academic readiness to face OSN but also strengthened the culture of scientific learning, observation skills, and collaboration between universities and schools to produce a superior young generation in the field of earth sciences. Keywords: Student competencies in the field of earth science. National Science Olympiad (OSN). Structured coaching. Field practicum e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2025. Vol. 4 No. DOI: PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini menuntut peningkatan mutu pendidikan yang semakin kompleks dan dinamis. Pendidikan sains menjadi salah satu bidang penting yang perlu mendapat perhatian serius karena berperan besar dalam membangun sumber daya manusia yang kritis, kreatif, dan Salah satu upaya strategis dalam meningkatkan mutu pendidikan sains adalah melalui kegiatan pembinaan peserta didik dalam mengikuti kompetisi akademik bergengsi, seperti Olimpiade Sains Nasional (OSN) yang diikuti oleh siswa di seluruh Indonesia. OSN menjadi ajang bergengsi yang mampu mendorong siswa untuk mengasah kemampuan berpikir tingkat tinggi, memperluas wawasan, dan memupuk kecintaan terhadap bidang ilmu tertentu, termasuk bidang kebumian (Syafrizal et al. , 2. OSN ini bukan sekadar sarana untuk menilai pencapaian akademik, tetapi juga berperan sebagai pemicu berkembangnya minat dan potensi siswa dalam bidang sains (Fajirin, 2. Salah satu bidang yang dilombakan pada kegiatan OSN adalah bidang kebumian. Bidang kebumian dalam OSN mencakup cakupan materi yang luas, mulai dari geologi, meteorologi, oseanografi hingga Bidang ini menuntut siswa tidak hanya menguasai konsep teoritis, tetapi juga memiliki keterampilan interpretasi data, pengamatan lapangan, serta pemahaman fenomena kebumian secara utuh dan Oleh sebab itu, penguatan kompetensi siswa di bidang kebumian harus dilakukan melalui pembinaan yang terstruktur serta didukung dengan kegiatan praktikum lapangan. Pembinaan terstruktur memberikan kesempatan bagi siswa untuk mendalami materi secara sistematis, terarah, dan mendalam. Sementara itu, praktikum lapangan membantu siswa mempelajari dan memahami konsep secara kontekstual melalui pengalaman langsung di alam (Nuai & Nurkamiden, 2. Pembinaan terstruktur dapat mencakup berbagai strategi, mulai dari penyusunan kurikulum pembinaan, penggunaan metode diskusi, pemecahan masalah, simulasi soal OSN, hingga penilaian formatif secara berkala. Melalui strategi ini, guru dan pembina dapat memetakan kemampuan awal siswa, mengidentifikasi materi yang perlu diperkuat, dan merancang program pembinaan sesuai kebutuhan (Hidayanti et al. , 2. Strategi ini juga selaras dengan pendekatan scientific approach yang dianjurkan dalam kurikulum merdeka, yang menekankan proses mengamati, menanya, menalar, mencoba, dan mengomunikasikan (Arifin et al. , 2. Praktikum lapangan juga menjadi salah satu pilar penting dalam pembinaan kebumian . Dalam konteks kebumian, lapangan adalah laboratorium nyata yang menyediakan objek belajar tak terbatas, seperti batuan, bentuk lahan, cuaca, dan fenomena geologi lainnya. Melalui kegiatan lapangan, siswa tidak hanya mengamati, tetapi juga dilatih untuk mengukur, mendokumentasikan data, membuat peta sketsa, dan menafsirkan hasil pengamatan. Kegiatan ini sangat penting untuk membangun keterampilan ilmiah siswa, seperti berpikir kritis, menganalisis, mengevaluasi, dan menarik kesimpulan berdasarkan data empiris (Bahtiar et al. , 2. Selain itu, kegiatan praktikum lapangan juga membangun keterampilan sosial siswa, seperti kerja sama, komunikasi, kepemimpinan, serta menumbuhkan sikap peduli terhadap lingkungan. Siswa belajar untuk menghargai kekayaan geologi dan memahami pentingnya menjaga kelestarian lingkungan sebagai warisan bagi generasi mendatang (Hermawan & Ghani, 2. Hal ini sejalan dengan prinsip pendidikan berkelanjutan . ducation for sustainable developmen. yang menjadi salah satu tujuan global (UNESCO, 2. Pelaksanaan pembinaan OSN di tingkat kabupaten menjadi tahap yang sangat strategis karena menjadi gerbang awal untuk melanjutkan ke tingkat provinsi dan nasional. Oleh karena itu, sekolah perlu memiliki strategi pembinaan yang terencana, sistematis, dan terukur agar mampu menghasilkan siswa yang tidak hanya cerdas, tetapi juga berkarakter dan berwawasan luas (Fatimiah et al. , 2. (Suarso et al. , 2. Program pembinaan juga perlu memperhatikan perkembangan teknologi, seperti pemanfaatan citra satelit, data digital, dan perangkat lunak pemetaan (GIS) untuk membantu siswa memahami fenomena kebumian secara modern dan kontekstual (Idris et al. , 2. Pembinaan OSN yang baik harus mencakup tiga aspek penting, yaitu penguatan pengetahuan . nowledge reinforcemen. , peningkatan keterampilan . kills improvemen. , dan pembentukan sikap ilmiah . cientific attitud. (Wiyoko et al. , 2. Ketiganya perlu dirancang dalam kurikulum pembinaan yang berkesinambungan, tidak hanya menjelang lomba, tetapi sebagai bagian dari budaya belajar di sekolah. Selain itu, penting juga melibatkan alumni OSN, praktisi, dan dosen perguruan tinggi sebagai mentor untuk memperkaya materi dan pengalaman siswa (Manurung et al. , 2. Di sisi lain, pembinaan terstruktur juga harus mempertimbangkan perbedaan kondisi setiap sekolah, seperti ketersediaan guru pembina, sarana pendukung, serta karakteristik siswa. Beberapa sekolah di daerah mungkin memiliki keterbatasan alat peraga, e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2025. Vol. 4 No. DOI: laboratorium, atau akses data digital. Oleh karena itu, kerjasama dengan pihak luar, seperti perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan dinas pendidikan menjadi solusi strategis untuk menutupi keterbatasan tersebut (Pranata et al. , 2. Pembinaan OSN juga memiliki tantangan seperti waktu belajar yang terbatas, padatnya kurikulum reguler, serta tekanan kompetisi yang tinggi. Oleh sebab itu, guru pembina perlu menciptakan suasana pembinaan yang menyenangkan, kolaboratif, dan memotivasi siswa untuk belajar secara mandiri (Andini et al. , 2. Pembinaan tidak boleh hanya berfokus pada capaian akademik semata, tetapi juga harus memperhatikan kesejahteraan psikologis siswa agar mereka tetap termotivasi dan tidak terbebani Secara umum, pembinaan terstruktur dan praktikum lapangan saling melengkapi dalam menyiapkan siswa menghadapi OSN kebumian tingkat kabupaten. Pembinaan terstruktur memberikan fondasi teori yang kuat dan keterampilan berpikir ilmiah, sementara praktikum lapangan memberikan pengalaman nyata untuk memperkuat pemahaman dan keterampilan interpretasi data kebumian. Keduanya menjadi landasan penting untuk mencetak siswa yang tidak hanya mampu bersaing di tingkat kabupaten, tetapi juga siap untuk menghadapi tantangan kompetisi di tingkat provinsi dan nasional. Dengan demikian, kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk melatih siswa dalam menghadapi seleksi Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten/kota melalui pembinaan terstruktur dan praktikum lapangan dalam memperkuat kompetensi siswa dibidang kebumian. METODE PELAKSANAAN PENGABDIAN Metode pelaksanaan pengabdian menguraikan metode/langkah-langkah yang digunakan dalam menyelesaikan persoalan masyarakat. Kegiatan yang dilakukan dapat berupa pelatihan, pendampingan, pengentasan kemiskinan, pelestariaan lingkungan, dll. Pada metode pelaksanaan pengabdian juga dimuat tempat/lokasi pengabdian dilaksanakan beserta tanggal dan jangka waktu pelaksanaan dengan jelas. Penjelasan tersebut dapat disertakan dengan gambar pendukung. Pelaksanaan kegiatan ini di khususkan kepada siswa/siswi yang diseleksi dan dipilih oleh pihak sekolah untuk mengikuti olimpiade sains. Pelaksanaan kegiatan pembinaan di SMAN Modal Bangsa Arun dan kegiatan praktikum kebumian dilaksanakan di BMKG Stasiun Meteorologi Malikussaleh. Peserta kegiatan pengabdian adalah siswa/siswi SMAN Modal Bangsa Arun berjumlah 9 siswa yang berasal dari bidang olimpiade Kebumian. Proses pelaksanan kegiatan pengabdian ini dilakukan selama 2 bulan dan alur tahapan pelaksanaan kegiatan pengabdian ini dapat dilihat pada gambar 1 berikut ini. Tahap 1 Persiapan dan Koordinasi Tahap 2 Pelaksanaan Kegiatan Tahap 3 Tahap Evaluasi dan Tindak Lanjut Gambar 1. Alur tahapan pelaksanaan kegiatan pengabdian pembinaan OSN bidang kebumian Kegiatan pengabdian ini dirancang dalam tiga tahap utama, yaitu Tahap Persiapan dan Koordinasi . Koordinasi awal Melakukan pertemuan dengan pihak sekolah, guru pembina OSN serta pihak BMKG Stasiun Meteorologi Malikussaleh terkait untuk menjelaskan rencana kegiatan, jadwal, dan kebutuhan teknis . Identifikasi kebutuhan siswa e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2025. Vol. 4 No. DOI: Melakukan wawancara singkat kepada siswa dan guru untuk mengetahui topik atau materi kebumian yang dianggap sulit dan sering muncul dalam seleksi OSN. Penyusunan materi pembinaan Menyusun materi yang sesuai dengan kisi-kisi OSN, mencakup materi pembentukan tata surya, fisika dan gerak planet, pembentukan bumi dan tektonik lempeng, geomorfologi, mineral dan batuan, atmosfer, cuaca dan iklim, serta oceanografi. Penyusunan rencana praktikum Merancang kegiatan praktikum lapangan, termasuk memilih lokasi yang relevan yang terdekat untuk pengenalan dan praktikum alat-alat ukur cuaca yaitu BMKG Stasiun Meteorologi Malikussaleh. Tahap Pelaksanaan Kegiatan Kegiatan pelaksanaan dibagi menjadi dua bentuk utama: pembinaan terstruktur di kelas dan praktikum lapangan. Pembinaan Terstruktur (In-Class Trainin. Kegitan ini meliputi: Pemetaan Kemampuan Awal Siswa Kemampuan awal siswa dipetakan melalui dua metode yaitu wawancara dengan guru pembina untuk mengetahui proses pembinaan yang telah dilakukan dan pemberian pretest berupa 20 soal pilihan ganda disesuaikan dengan cakupan materi pada masing-masing topik untuk mengukur penguasaan siswa terhadap keseluruhan materi. Pretest dan Posttest Setiap Materi Sebelum penyampaian materi, siswa diberikan pretest untuk mengetahui pemahaman awal terhadap topik yang akan dibahas. Setelah materi disampaikan, dilakukan posttest untuk mengukur peningkatan pemahaman siswa. Tes dilakukan menggunakan aplikasi Quizizz yang disetting dengan waktu pengerjaan 1 menit per soal. Penggunaan media ini dimaksudkan agar siswa terbiasa menjawab soal dengan cepat dan semangat belajar tetap terjaga. Pemberian Materi Penyampaian materi dilakukan melalui: . Metode ceramah dan diskusi menggunakan bantuan presentasi (PPT) dan video. Kegiatan observasi seperti klasifikasi jenis batuan berdasarkan sampel yang dibawa langsung ke kelas. Selama proses pembelajaran juga diselipkan permainan edukatif . dan motivasi untuk menjaga antusiasme siswa. Praktikum Lapangan Praktikum dilakukan melalui kunjungan ke BMKG Stasiun Meteorologi Malikussaleh. Siswa melakukan praktik menggunakan alat ukur cuaca dan menganalisis data hasil pengukuran. Tahap Evaluasi dan tindak lanjut Kegiatan ini meliputi: Seleksi Tingkat Sekolah Seleksi dilakukan untuk memilih 5 siswa terbaik yang akan mewakili sekolah dalam ajang seleksi tingkat kabupaten/kota. Tes evaluasi akhir Pada akhir kegiatan, siswa mengikuti tes akhir yang terdiri dari 100 soal pilihan ganda untuk mengukur hasil pembelajaran secara keseluruhan. Pendampingan lanjutan Menyelenggarakan diskusi terbuka bersama siswa dan guru pembina untuk mengevaluasi manfaat kegiatan, materi yang perlu ditambah, dan kendala yang dihadapi. Memberikan rekomendasi bagi guru dan siswa untuk kegiatan latihan rutin setelah kegiatan pengabdian selesai. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi siswa SMAN Modal Bangsa Arun terhadap materi-materi esensial yang diujikan dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang Kegiatan di awali dengan pretest atau test awal yang diberikan kepada siswa (Gambar . Jumlah e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2025. Vol. 4 No. DOI: soal pretest yang diberikan bervariasi, antara 10 hingga 20 soal pilihan ganda, disesuaikan dengan cakupan materi pada masing-masing topik. Pre-test dilakukan menggunakan aplikasi Quizizz yang disetting dengan waktu pengerjaan 1 menit per soal menggunakan Gadget maupun komputer. Dalam pengerjaannya siswa diminta untuk tidak melihat buku ajar dan diharapkan menjawab sesuai dengan kemampuannya masingmasing. Hal ini bertujuan untuk melihat kemampuan awal dari tiap siswa dalam mengerjakan soal-soal olimpiade kebumian. Gambar 2. Proses pelaksanaan kegiatan pretes. Dari kegiatan pretest diperoleh nilai rata-rata pretest siswa dalam rentang 25-40 pada setiap topik Hal ini mengindikasikan bahwa hasil pretest yang memperlihatkan rata-rata nilai siswa dalam rentang 25-40 dari skala penilaian maksimal mencerminkan tingkat penguasaan materi kebumian yang masih relatif rendah di kalangan calon peserta Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat kabupaten. Angka tersebut tidak sekadar menunjukkan kurangnya pemahaman konseptual terhadap topik-topik utama kebumian, seperti geologi, geofisika, meteorologi, oseanografi, dan astronomi, tetapi juga mengindikasikan keterbatasan siswa dalam menghadapi soal-soal berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS) yang menjadi ciri khas soal OSN. Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara materi kebumian yang dipelajari di sekolah dengan tuntutan kompetensi yang diharapkan pada level kompetisi akademik, serta menyoroti perlunya pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual, integratif, dan aplikatif. Dengan demikian, nilai rata-rata pretest yang rendah menjadi bukti empiris bahwa intervensi berupa program pembinaan terstruktur dan praktikum lapangan sangat diperlukan, tidak hanya untuk memperkuat pemahaman teoretis siswa, tetapi juga untuk meningkatkan kemampuan analitis, keterampilan pemecahan masalah, dan kepercayaan diri mereka dalam menghadapi soal-soal olimpiade kebumian yang menuntut integrasi antara konsep dan fenomena nyata di lapangan. Tahap kedua yaitu memberikan materi mengenai ilmu kebumian berdasarkan silabus materi yang diperlombakan . Materi di sampaikan dengan bantuan media presentasi seperti powerpoint dan Gambar 3. Kegiatan penyampaian materi e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2025. Vol. 4 No. DOI: Materi disampaikan selama 2 jam setiap sesi, dengan frekuensi 2 kali per minggu,selama total 12 kali pertemuan termasuk praktikum lapangan didalamnya. Karena keterbatasan jumlah pertemuan, tidak semua topik dapat dibahas secara menyeluruh. Hal ini menjadi kelemahan dalam pelaksanaan kegiatan, terutama karena kegiatan tidak dimulai jauh hari sebelum pelaksanaan seleksi olimpiade. Untuk ke depannya, dibutuhkan pelatihan yang lebih intensif dan terjadwal lebih awal agar proses pembelajaran tidak terlalu padat. Materi kebumian yang diberikan yaitu pembentukan tata surya, fisika dan gerak planet, pembentukan bumi dan tektonik lempeng, geomorfologi, mineral dan batuan, atmosfer, cuaca dan iklim, serta oceanografi. Soalsoal yang dibahas sebagian besar berasal dari seleksi tingkat kabupaten. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari tekanan berlebih pada siswa akibat materi yang terlalu sulit, yang dapat menurunkan motivasi dan minat belajar mereka. Selanjutnya pada proses pembelajaran siswa diminta untuk melakukan kegiatan obersvasi tentang klasifikasi jenis batuan. Pada kegiatan observasi siswa melakukan klasifikasi tiga jenis batuan berdasarkan sampel yang disediakan . atuan beku, sedimen, dan metamor. , serta menyebutkan nama jenis batuan yang Selama proses belajar, disisipkan permainan edukatif untuk menjaga antusiasme siswa. Disampaikan pula motivasi dengan memberikan wawasan tentang manfaat jangka panjang mempelajari Kebumian, baik untuk pendidikan lanjutan maupun prospek kerja di bidang terkait. Tahap ketiga yaitu kegiatan praktikum lapangan bekerja sama dengan BMKG Stasiun Meteorologi Malikussaleh . Gambar 4. Kegiatan praktikum lapangan di BMKG Stasiun Meteorologi Malikussaleh Praktikum dilakukan di BMKG Stasiun Meteorologi Malikussaleh. Siswa berlatih menggunakan alatalat ukur cuaca secara langsung di taman alat BMKG, kemudian menganalisis data hasil pengukuran. Beberapa alat yang ada di taman alat, di antaranya Campbell Stokes, barometer, anemometer, hygrometer, termometer, serta pengamatan pilot balloon. Siswa aktif mencatat data dan menyampaikan hasil pengamatan di sesi diskusi. Kegiatan ini sangat membantu pemahaman siswa karena mereka dapat melihat langsung bentuk dan fungsi alat, sehingga memudahkan dalam mengingat materi. Tahap kekempat yaitu seleksi tingkat sekolah . yang bertujuan untuk menjaring dan memetakan siswa-siswa yang memiliki minat, bakat, serta potensi akademik unggul dalam bidang sains tertentu, sehingga sekolah dapat mempersiapkan peserta terbaik yang layak mewakili sekolah ke jenjang kompetisi lebih tinggi, seperti tingkat kabupaten/kota, e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2025. Vol. 4 No. DOI: Gambar 5. Kegiatan seleksi tingkat sekolah Seleksi dilakukan melalui tes berjumlah 80 soal pilihan ganda, dengan total skor maksimum 100 poin. Soal-soal mencakup seluruh materi yang telah diajarkan selama program. Hasil nilai seleksi tingkat sekolah dapat dilihat pada tabel 1 berikut ini. Tabel 1. Nilai seleksi OSN tingkat sekolah di SMAN Modal Bangsa Arun Responden Nilai tes OSN Siswa-1 Siswa-2 Siswa-3 51,25 Siswa-4 Siswa-5 46,25 Siswa-6 43,75 Siswa-7 Siswa-8 Siswa-9 Berdasarkan hasil tes, dipilih 5 siswa dengan nilai tertinggi untuk mewakili sekolah dalam seleksi Olimpiade Sains tingkat kabupaten/kota. Kelima siswa ini kemudian mendapatkan pendampingan lanjutan. Pemilihan lima siswa ini menunjukkan adanya proses seleksi yang berbasis meritokrasi, di mana indikator utama yang digunakan adalah pencapaian akademik berdasarkan performa tes. Selanjutnya, kelima siswa tersebut tidak hanya diumumkan sebagai wakil sekolah, tetapi juga diberikan pendampingan lanjutan, yang berarti mereka mendapatkan pembinaan tambahan secara lebih intensif dan sistematis. Pendampingan ini biasanya meliputi kegiatan seperti pendalaman materi bidang lomba kebumian. Latihan soal yang lebih kompleks, pembahasan soal-soal OSN tahun-tahun sebelumnya, serta praktikum atau diskusi terarah yang bertujuan memperkuat kemampuan analisis dan pemecahan masalah. Tujuan dari pendampingan ini adalah agar para siswa dapat mencapai kesiapan akademik dan mental yang optimal untuk bersaing secara kompetitif di tingkat kabupaten/kota dan berpotensi melaju ke tahap provinsi dan nasional. Tahap kelima yaitu evaluasi tes kemampuan akhir Pada tahap ini seluruh siswa mengikuti tes akhir yang terdiri dari 100 soal pilihan ganda untuk mengukur pencapaian pembelajaran secara menyeluruh. Postest dilakukan menggunakan aplikasi Quizizz yang disetting dengan waktu pengerjaan 1 menit per soal menggunakan Gadget maupun computer (Gambar . Nilai rata-rata postest pada setiap topik materi berada dalam rentang 65-80. Hal ini menunjukkan terdapat peningkatan yang lebih baik pada aspek pengetahuan siswa dalam memahami soal-soal OSN bidang kebumian jika dibandingkan dengan nilai pretest yang hanya sekitar 25-40. e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2025. Vol. 4 No. DOI: Gambar 6. Tampilan aplikasi Quizizz dalam mengerjakan soal postest. Penggunaan aplikasi Quizizz sebagai media untuk mengerjakan soal tes posttest memberikan sejumlah manfaat signifikan, baik dari sisi pedagogis, teknis, maupun psikologis siswa. Secara pedagogis. Quizizz memungkinkan penyajian soal posttest dalam format digital yang interaktif dan menyenangkan, sehingga membantu mengurangi ketegangan siswa saat menghadapi tes evaluasi. Fitur gamifikasi seperti poin, leaderboard, dan timer menciptakan suasana kompetitif yang sehat sekaligus menjaga motivasi belajar siswa, meskipun yang diukur tetap pemahaman materi secara serius. Selain itu. Quizizz mendukung variasi jenis soal, mulai dari pilihan ganda, benar-salah, hingga soal berbasis gambar, yang relevan untuk materi kebumian yang sering memerlukan visualisasi, seperti gambar struktur geologi atau foto batuan. Dari sisi teknis. Quizizz bagi siswa, mengerjakan posttest melalui aplikasi ini memberi pengalaman belajar yang lebih dinamis, memfasilitasi refleksi mandiri karena siswa dapat langsung melihat hasil dan pembahasan, serta membangun kesadaran diri terhadap pencapaian dan kekurangan mereka. Dengan demikian, penggunaan Quizizz tidak hanya berfungsi sebagai alat evaluasi hasil pembelajaran, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran itu sendiriAi mendorong keterlibatan aktif siswa, meningkatkan literasi digital, dan memperkuat keterampilan belajar mandiri yang sangat penting dalam persiapan menghadapi kompetisi seperti OSN Kebumian. Tahap selanjutnya yaitu pendampingan lanjutan. Pada tahap ini dilakukan diskusi terbuka bersama siswa dan guru pembina untuk mengevaluasi manfaat kegiatan, materi yang perlu ditambah, dan kendala yang Memberikan rekomendasi bagi guru dan siswa untuk kegiatan latihan rutin setelah kegiatan pengabdian selesai (Gambar . Gambar 7. Tahap tindak lanjut kegiatan pengabdian Tahap tindak lanjut dalam kegiatan pengabdian memiliki peran penting yang strategis dan menghasilkan manfaat yang signifikan, baik bagi peserta, pihak sekolah, maupun tim pelaksana. Secara umum, tindak lanjut bertujuan memastikan bahwa hasil kegiatan tidak berhenti pada selesainya pelaksanaan program, tetapi benar- e- ISSN : 2961-8878 p- ISSN : 2961-8010 Juni 2025. Vol. 4 No. DOI: benar berdampak nyata dan berkelanjutan terhadap peningkatan kompetensi sasaran pengabdian. Bagi siswa, tahap tindak lanjut membantu memperkuat dan mengokohkan pemahaman materi yang telah diperoleh selama pembinaan melalui evaluasi lanjutan, sesi refleksi, dan pendampingan tambahan. Langkah ini penting untuk mengidentifikasi materi atau keterampilan yang masih belum dikuasai sepenuhnya, sehingga dapat segera diperbaiki sebelum menghadapi kompetisi seperti OSN tingkat kabupaten. Dari perspektif sekolah, tindak lanjut bermanfaat sebagai mekanisme monitoring dan evaluasi internal untuk menilai efektivitas program pengabdian sekaligus sebagai dasar perencanaan pembinaan jangka Sekolah dapat mengetahui materi mana yang masih menjadi kelemahan siswa, serta menentukan strategi pembinaan rutin dan pendampingan intensif berikutnya. Sementara itu, bagi tim pengabdian, tahap tindak lanjut menjadi sarana refleksi akademis untuk menilai keberhasilan metode yang digunakan, menyempurnakan desain kegiatan serupa di masa depan, dan menyusun rekomendasi berbasis data yang lebih Secara keseluruhan, tahap tindak lanjut tidak hanya memastikan keberlanjutan manfaat kegiatan pengabdian, tetapi juga memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah sasaran, mendorong budaya belajar yang lebih berkelanjutan, dan meningkatkan potensi prestasi siswa di ajang kompetisi KESIMPULAN DAN UCAPAN TERIMA KASIH Kesimpulan Berdasarkan hasil pelaksanaan, program ini terbukti memberikan dampak positif bagi peningkatan kompetensi siswa, yang tercermin dari adanya peningkatan nilai rata-rata posttest . alam rentang 65-80 dibandingkan pretest . alam rentang 25-. pada setiap topik materi serta meningkatnya kepercayaan diri siswa dalam menghadapi seleksi OSN tingkat kabupaten. Pendekatan pembinaan terstruktur yang memadukan penyampaian materi berbasis soal-soal HOTS, diskusi interaktif, simulasi tes OSN, dan praktikum lapangan terbukti efektif dalam membantu siswa memahami konsep-konsep kebumian yang kompleks serta melatih keterampilan berpikir kritis dan analitis. Praktikum lapangan yang dilakukan di BMKG Stasiun Meteorologi Malikussaleh menjadi sarana penting untuk menghubungkan teori dengan fenomena nyata, sehingga siswa dapat mengamati langsung alat-alat ukur cuaca, kemudian menganalisis data hasil pengukuran. Beberapa alat yang ada di taman alat, di antaranya Campbell Stokes, barometer, anemometer, hygrometer, termometer, panci penguapan serta pengamatan pilot balloon. Tahap evaluasi melalui posttest, diskusi refleksi, dan tindak lanjut juga berperan penting dalam memperkuat pemahaman siswa, memetakan kelemahan yang masih perlu diperbaiki, dan memberikan rekomendasi untuk program pembinaan berkelanjutan. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini tidak hanya berhasil meningkatkan kesiapan akademik siswa menghadapi OSN, tetapi juga memperkuat budaya belajar ilmiah, keterampilan observasi, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dan sekolah dalam upaya mencetak generasi muda yang unggul di bidang kebumian. Ucapan Terima Kasih