Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 2 Januari 2026 Hal : 68-75 E-ISSN : 3110-4665 FAKTOR FAKTOR YANG MEMENGARUHI RENDAHNYA PENGGUNAAN (AKDR) Novitasari1*. Siti Fatimah2 Program Studi Kebidanan Program Sarjana Fakultas Kebidanan. Institut Citra International *Email : novitasarirn1515@gmail. ABSTRAK AKDR merupakan salah satu KB yang tergolong dalam metode kontrasepsi jangka panjang. AKDR merupakan salah satu alat atau benda yang dimasukkan ke dalam rahim yang sangat efektif dan dapat dipakai pada semua perempuan usia produktif. Pencapaian program KB AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa masih rendah, khususnya PUS yang menggunakan AKDR tidak mengalami peningkatan yang signifikan. Tujuan penelitian ini yaitu Untuk mengetahui adanya faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa Kabupaten Bangka Barat Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain case control dengan sampel akseptor KB aktif di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa yang dibagi menjadi 2 kelompok kasus dan kontrol. Kelompok kasus yaitu akseptor KB AKDR sebanyak 40 orang, sedangkan kelompok kontrol adalah akseptor KB Non AKDR berdasarkan data rekam medis Puskesmas Kelapa tahun 2024 sebanyak 40 orang. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat hubungan bermakna antara paritas . -value 0,. , pendidikan . -value 0,. , peran tenaga kesehatan . -value 0,. , riwayat penggunaan kontrasepsi . -value 0,. terhadap rendahnya penggunaan AKDR terhadap rendahnya penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa tahun 2025. Saran penelitian ini diharapkan tenaga kesehatan dapat menyediakan pelatihan konseling kepada kader kesehatan agar mereka dapat secara efektif mempromosikan penggunaan AKDR di Posyandu. Kata Kunci : AKDR. Paritas. Pendidikan. Peran Tenaga Kesehatan. Riwayat Penggunaan Kontrasepsi ABSTRACT IUD is one of the family planning methods that is classified as a long-term contraceptive method. IUD is a device or object inserted into the uterus that is very effective and can be used by all women of productive age. The achievement of the IUD family planning program in the Kelapa Community Health Center Working Area is still low, especially the PUS using IUD has not experienced a significant increase. The purpose of this study is to determine the factors that influence the low use of IUD in the Kelapa Community Health Center Working Area. West Bangka Regency in 2025. This study used a case control design with a sample of active family planning acceptors in the Kelapa Community Health Center Working Area divided into 2 groups of cases and controls. The case group is 40 IUD family planning acceptors, while the control group is 40 non-IUD family planning acceptors based on medical record data from the Kelapa Community Health Center in 2024. Based on the results of the study, there is a significant relationship between parity . -value 0. , education . -value 0. , the role of health workers . -value 0. , history of contraceptive use . -value 0. on the low use of IUDs in the Kelapa Health Center Working Area in 2025. The suggestion of this study is that health workers can provide counseling training to health cadres so that they can effectively promote the use of IUDs in Posyandu. Keywords : IUD. Parity. Education. Role of Health Workers. History of Contraceptive Use Vol. 1 No. 2 Januari 2026 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 2 Januari 2026 PENDAHULUAN Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) atau disebut IUD adalah alat kontrasepsi berbentuk kecil, silastis, dengan lengan atau kawat tembaga disekitarnya yang dipasang di dalam rahim yang memberikan perlindungan jangka panjang terhadap kehamilan (Peraturan BKKBN NO. 18 Tahun 2020, 2. AKDR merupakan salah satu KB yang tergolong dalam metode kontrasepsi jangka panjang. AKDR merupakan salah satu alat atau benda yang dimasukkan kedalam rahim yang sangat efektif dan dapat dipakai pada semua perempuan usia produktif (Parita et al. , 2. Menurut data World Health Organization (WHO, 2. , prevalensi penggunaan kontrasepsi modern di dunia meningkat hampir dua kali lipat sejak tahun 1990. Namun ketersediaan alat kontrasepsi masih berbedabeda antar wilayah dan antar negara. Tahun 2022 diperkirakan 874 juta perempuan usia produktif . -49 tahu. menggunakan metode kontrasepsi modern. Asia Tenggara. Asia Timur dan Oceania, penggunaan alat kontrasepsi modern tertinggi . %), sedangkan di Afrika Sub-Sahara, penggunaan alat kontrasepsi modern terendah . %). Tahun 2023 sebanyak 66,10% Pasangan Usia Subur (PUS) umur 15-49 tahun menggunakan alat KB atau cara tradisional untuk menunda atau mencegah kehamilan. Menurut data World Health Organization (WHO, 2. , prevalensi penggunaan kontrasepsi modern di dunia meningkat hampir dua kali lipat sejak tahun 1990. Namun ketersediaan alat kontrasepsi masih berbedabeda antar wilayah dan antar negara. Tahun 2022 diperkirakan 874 juta perempuan usia produktif . -49 tahu. menggunakan metode kontrasepsi modern. Asia Tenggara. Asia Timur dan Oceania, penggunaan alat kontrasepsi modern tertinggi . %), sedangkan di Afrika Sub-Sahara, penggunaan alat kontrasepsi modern terendah . %). Tahun 2023 sebanyak 66,10% Pasangan Usia Subur (PUS) umur 15-49 tahun menggunakan alat KB atau cara tradisional untuk menunda atau mencegah kehamilan. Berdasarkan data Profil Kesehatan Provini Kepulauan Bangka Belitung pada tahun 2023 prevalensi KB mengalami peningkatan yaitu 67,5%. Jumlah PUS 268. orang dengan rincian kondom 5. 543 orang . ,1%), suntik 106. 116 orang . ,5%), pil 505 orang . ,7%). IUD/AKDR 7. 432 orang . ,8%), implan 12. 283 orang . ,8%). Berdasarkan data BKKBN didapatkan hasil pada tahun 2022 di Kabupaten Bangka Barat terdapat peserta KB aktif 24. 847 orang, akseptor IUD 459 orang . ,84%). Tahun 2023 terdapat peserta KB aktif 26. 498 orang, akseptor AKDR 443 orang . ,67%). Sedangkan tahun 2024 terdapat peserta KB 298 orang, akseptor AKDR 528 orang . ,80%). Berdasarkan data Rekam Medis Puskesmas Kelapa, jumlah peserta aktif KB di Kecamatan Kelapa pada tahun 2022 yaitu 4790 orang dengan akseptor AKDR sebanyak 33 orang . ,69%), peserta aktif KB pada tahun 2023 sebanyak 5059 orang dengan akseptor AKDR sebanyak 39 orang . ,78%) orang, sedangkan pada tahun 2024 jumlah peserta aktif KB sebanyak 5500 orang dengan akseptor AKDR sebanyak 40 orang . ,72%). Penilitian Alexander et al . tidak ada hubungan usia dengan rendahnya penggunaan IUD dengan nilai P=0. (P>0,. , tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan dalam rendahnya penggunaan IUD dengan P-value 0. 295 (P>0,. , ada hubungan antara tingkat pengetahuan akseptor dengan rendahnya penggunaan IUD dengan nilai Pvalue = 0. 033 (P<0,. , ada hubungan antara paritas dengan rendahnya penggunaan IUD dengan nilai P-value 0. 043 (P<0,. , tidak ada hubungan antara pendapatan akseptor dengan rendahnya penggunaan IUD yang berarti tidak ada hubungan antara pendapatan dengan pemilihan alat kontrasepsi dengan nilai P-value = 0,913 (P>0,. , tidak ada hubungan antara agama akseptor dengan rendahnya penggunaan IUD dengan nilai P-value = 1,000 (P>0,. Sedangkan hasil penelitian Oktarina Sri Iriani et al . menunjukkan bahwa minat ibu terhadap pemilihan AKDR di PMB bidan T termasuk dalam kategori tidak berminat sebanyak 28 responden . ,1%), tidak terdapat hubungan pengetahuan terhadap rendahnya minat ibu terhadap pemilihan AKDR dengan Vol. 1 No. 2 Januari 2026 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 2 Januari 2026 nilai p-value 0,442 yang berarti lebih besar dari -value . , terdapat hubungan pendidikan terhadap rendahnya minat ibu terhadap pemilihan AKDR dengan nilai pvalue 0,003 yang berarti lebih kecil dari -value . , terdapat hubungan ekonomi terhadap rendahnya minat ibu terhadap pemilihan AKDR dengan nilai p-value 0,01 yang berarti lebih kecil dari -value . Puskesmas Kelapa turut mensukseskan program KB melalui safari KB. Safari KB merupakan suatu kegiatan atau program BKKBN dalam pemberian dan pemasangan alat kontrasepsi MKJP secara gratis kepada masyarakat wilayah kerja Puskesmas Kelapa dalam upaya pengendalian angka kelahiran. Penguatan program safe motherhood melalui peningkatan penggunaan kontrasepsi, terutama metode jangka panjang seperti Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR), merupakan langkah penting untuk menekan angka kematian ibu karena kontrasepsi berperan dalam mencegah kehamilan tidak direncanakan dan mengurangi risiko kesehatan bagi ibu dan bayi. Meskipun efektivitas AKDR tinggi dan dapat digunakan oleh seluruh perempuan usia reproduktif, data global, nasional, hingga regional menunjukkan penggunaannya masih rendah dibandingkan metode kontrasepsi lain. Di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dan khususnya Kabupaten Bangka Barat, persentase akseptor AKDR setiap tahun tidak mengalami peningkatan signifikan, termasuk di Puskesmas Kelapa yang hanya mencatat sekitar 0,69Ae0,78% peserta KB aktif sebagai pengguna AKDR. Selain itu, hasil penelitian sebelumnya menunjukkan adanya faktor-faktor yang memengaruhi rendahnya penggunaan AKDR seperti pengetahuan, pendidikan, dukungan suami, dan paritas, namun temuan tersebut belum konsisten. Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti merasa AyFaktor-Faktor Memengaruhi Rendahnya Penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa Kabupaten Bangka Barat Tahun 2025Ay. Alasan penelitian METODE Penelitian ini menggunakan desain case control yaitu penelitian dimulai dengan mengidentifikasikan subjek dengan efek . elompok kasu. , dan mencari subjek yang tidak mengalami efek . elompok kontro. (Notoatmodjo, 2. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh akseptor KB aktif tahun 2024 di wilayah kerja Puskesmas Kelapa Desa Kabupaten Bangka Barat sebanyak 5500 orang. Sampel penelitian adalah akseptor KB aktif di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa yang dibagi menjadi kelompok kasus (AKDR) dan kontrol (Non-AKDR), dengan besar sampel ditentukan menggunakan rumus uji hipotesis beda proporsi untuk desain case control 1:1, yaitu: n = (Z1-/2 Oo2P . -P) Z1-OoP1 . -P. P2 . -P. )A (P1-P. A Dari rumus tersebut kebutuhan sampel sebanyak 36 akseptor. Adapun untuk menghindari drop out sampel penelitian, maka ditambahkan 10% menjadi 40 sampel per kelompok kontrol dan kelompok kasus sehingga total sampel yang dibutuhkan yaitu 80 akseptor. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik total sampling untuk kelompok kasus dan menggunakan teknik Simple Random Sampling (SRS) untuk kelompok kontrol. HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Distribusi Frekuensi Umur yang Mempengaruhi Rendahnya Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Umur < 20 tahun 20-35 tahun >35 tahun Total Vol. 1 No. 2 Januari 2026 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 2 Januari 2026 Berdasarkan table 1 di atas menunjukkan bahwa responden dengan kategori umur < 20 tahun sebanyak 4 orang . %), kategori umur 20-35 tahun sebanyak 58 orang . ,5%) dan kategori umur > 35 tahun sebanyak 18 orang . ,5%). Tabel 2. Distribusi Frekuensi Paritas yang Mempengaruhi Rendahnya Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Paritas Beresiko . elahirkan Ou 3 kali ) Tidak beresiko . elahirkan < 3 kal. Total 18,75 81,25 Berdasarkan table 2 di atas menunjukkan bahwa responden dengan paritas beresiko . elahirkan Ou 3 kal. sebanyak 15 orang . ,75%) dan paritas tidak beresiko . elahirkan < 3 kal. sebanyak 65 orang . ,25%). Tabel 3. Distribusi Frekuensi Pendidikan yang Mempengaruhi Rendahnya Penggunaan Alat Kontrasepsi Dalam Rahim (AKDR) Pendidikan Dasar Menengah Tinggi Total 53,75 3,75 Berdasarkan tabel 3 di atas menunjukkan bahwa responden dengan dengan pendidikan dasar . endidikan terakhir SD-SMP) sebanyak 43 orang . ,75%), responden dengan pendidikan menengah . endidikan terakhir SMA) sebanyak 34 orang . ,5%) dan pendidikan tinggi . endidikan terakhir diploma, sarjana, magiste. sebanyak 3 orang . ,75%). Tabel 4. Hubungan paritas dengan rendahnya penggunaan AKDR Paritas Beresiko Tidak Beresiko Total Penggunaan AKDR Tidak Total P-value CI 95% Lower Upper Berdasarkan tabel 4 di atas menunjukkan bahwa dari 40 responden yang menggunakan AKDR, yang paling banyak terjadi pada paritas tidak beresiko . elahirkan < 3 kal. yaitu 29 responden . ,5%) dan paling sedikit pada paritas berisiko . elahirkan Ou 3 kal. yaitu sebanyak 11 responden . ,5%). Hasil analisis menggunakan uji Chi Square diperoleh p-value 0,045 (<0,. artinya ada hubungan bermakna antara paritas dengan rendahnya penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa. Hasil analisa lebih lanjut didapatkan nilai OR 3,414, hal ini berarti bahwa paritas yang tidak beresiko . elahirkan < 3 kal. mempunyai resiko 3,414 kali pada rendahnya penggunaan AKDR dibandingkan dengan paritas yang beresiko . elahirkan >3 kal. Vol. 1 No. 2 Januari 2026 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 2 Januari 2026 Tabel 5. Hubungan pendidikan dengan rendahnya penggunaan AKDR Pendidikan Dasar Menengah Tinggi Total Penggunaan AKDR Tidak Total Exact Sig. -side. Berdasarkan tabel 5 di atas menunjukkan bahwa dari 40 responden yang menggunakan AKDR, responden dengan pendidikan dasar (SD-SMP) sebanyak 29 orang . ,4%), pendidikan menengah (SMA) sebanyak 8 orang . ,5%) dan pendidikan tinggi (Diploma. Sarjana. Magiste. sebanyak 3 orang . %). Berdasarkan hasil uji FisherAos Exact Test didapatkan hasil Exact Sig. -side. 0,001 (< 0,05 maka Ho ditola. bahwa terdapat hubungan pendidikan dengan rendahnya penggunaan AKDR di wilayah kerja Puskesmas Kelapa Kabupaten Bangka Barat Tahun 2025. Tabel 6. Hubungan peran Tenaga kesehatan dengan rendahnya penggunaan AKDR Peran Tenaga Kesehatan Baik Kurang Total Penggunaan AKDR Tidak Total CI 95% Lower Upper Berdasarkan tabel 6 di atas peran tenaga kesehatan dikategorikan menjadi dua yaitu baik dan kurang. Data tersebut menunjukkan bahwa dari 40 responden yang menggunakan AKDR, responden dengan peran tenaga kesehatan baik sebanyak 28 orang . %), sedangkan responden dengan peran tenaga kesehatan kurang sebanyak 12 orang . %). Hasil analisis menggunakan uji Chi Square yang diperoleh p-value 0,02 (< 0,. artinya ada hubungan bermakna antara peran tenaga kesehatan dengan rendahnya penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa tahun 2025. Peran tenaga kesehatan yang kurang mempunyai resiko 2,852 kali pada rendahnya penggunaan AKDR dibandingkan peran tenaga kesehatan yang baik. Tabel 7. Hubungan Riwayat Penggunaan Kontrasepsi dengan Rendahnya Penggunaan AKDR Riwayat Penggunaan Kontrasepsi Hormonal Non hormonal Total Penggunaan AKDR Tidak Total CI 95% Lower Upper Berdasarkan tabel 7 di atas riwayat penggunaan kontrasepsi dikategorikan menjadi dua yaitu hormonal dan non hormonal. Data tersebut menunjukkan bahwa dari 40 responden yang menggunakan AKDR, responden yang memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal sebanyak 27 orang . ,5%), sedangkan responden yang memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi non hormonal sebanyak 13 orang . ,5%). Hasil analisis menggunakan uji Chi Square yang diperoleh p-value 0,004 (<0,. artinya ada hubungan bermakna antara riwayat penggunaan Vol. 1 No. 2 Januari 2026 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 2 Januari 2026 kontrasepsi dengan rendahnya penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa tahun Responden yang memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal mempunyai resiko 3,857 kali dibandingkan dengan responden yang memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi non PEMBAHASAN Hubungan paritas dengan rendahnya penggunaan AKDR Paritas adalah keadaan melahirkan seorang bayi atau anak dalam keadaan hidup atau mati. Paritas juga didefinisikan sebagai banyaknya kelahiran yang dimiliki oleh seorang perempuan (Sari dkk. , 2. Semakin banyak jumlah kelahiran maka akan semakin mempengaruhi kondisi tubuh ibu sehingga ibu akan lebih rentan terhadap penyakit (Riyani , 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan Rohaeni . yang menyatakan semakin banyaknya jumlah anak yang dilahirkan maka akan semakin tinggi keinginan responden untuk membatasi kelahiran. Sehingga responden dengan jumlah anak banyak atau >2 kecenderungan untuk menggunakan AKDR lebih besar daripada ibu yang mempunyai anak < 2. Penelitian ini sejalan juga dengan Suryanti dkk . , yang mengatakan ada pengaruh paritas terhadap minat menggunakan AKDR pada wanita usia subur di Wilayah Kerja Puskesmas Long Ikis hasil dengan pvalue = 0,047. Menurut Jumiati et al . paritas menjadi faktor yang sangat berpengaruh terhadap penggunaan alat kontrasepsi AKDR karena semakin banyak jumlah anak semakin besar pula keinginan untuk membatasinya. Penelitian Suryanti et al . bahwa tingkat paritas berpengaruh secara signifikan terhadap penggunaan AKDR karena besarnya jumlah anak dalam sebuah keluarga menjadi faktor penguat yang membuat PUS lebih memilih menggunakan AKDR. Sejalan dengan Penelitian Fahlevie et al . menyatakan bahwa WUS yang mempunyai anak >2 terdapat kecenderungan untuk menggunakan kontrasepsi yang memiliki tingkat keberhasilan tinggi dalam membatasi jumlah anaknya. Selain itu WUS yang mempunyai anak lebih dari dua sangat disarankan untuk menggunakan alat kontrasepsi . Hubungan pendidikan dengan rendahnya penggunaan AKDR Menurut UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Tingkat mempengaruhi wawasan dan pengetahuan ibu. Semakin rendah pendidikan ibu maka akses terhadap informasi tentang KB khususnya AKDR akan berkurang sehingga ibu akan kesulitan untuk mengambil keputusan secara efektif, alat kontrasepsi yang mana akan dipilih oleh ibu. (Sulastri, 2. Berdasarkan hasil uji FisherAos Exact Test didapatkan hasil Exact Sig. -side. 0,001 (< 0,05 maka Ho ditola. bahwa terdapat hubungan pendidikan dengan rendahnya penggunaan AKDR di wilayah kerja Puskesmas Kelapa Kabupaten Bangka Barat Tahun 2025. Hal ini sejalan dengan Wulandari. Kusumaningsih. Berdasarkan hasil uji statistik dengan menggunakan uji chi square diperoleh nilai p-value 0,019 . yang menunjukkan ada hubungan antara tingkat pendidikan ibu dengan kurangnya penggunaan AKDR di Kecamatan Purworejo. Hubungan peran tenaga kesehatan dengan rendahnya penggunaan AKDR Rendahnya penggunaan AKDR yaitu salah satunya karena salahnya informasi yang diterima ibu mengenai AKDR. Sehingga dalam kondisi ini, diperlukannya peran dari petugas kesehatan untuk memberikan informasi terhadap ibu mengenai kontrasepsi dan memantau agar ibu tidak mendapatkan infromasi yang salah Vol. 1 No. 2 Januari 2026 Jurnal Ilmiah Citra Kebidanan Vol. 1 No. 2 Januari 2026 karena masih banyak ibu yang belum mengetahui efek samping dan keuntungan dari AKDR. (Kadir, 2. Hasil analisis menggunakan uji Chi Square yang diperoleh p-value 0,006 (<0,. artinya ada hubungan bermakna antara peran tenaga kesehatan dengan rendahnya penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa tahun 2025. Peran tenaga kesehatan yang baik mempunyai resiko 7,207 kali pada penggunaan AKDR dibandingkan peran tenaga kesehatan yang Hal ini sejalan dengan Siti Munawaroh . bahwa hasil uji chi-square diperoleh p-value = 0,007 (< 0,. yang berarti ada hubungan signifikan antara peran petugas kesehatan dengan minat penggunaan alat kontrasepsi IUD. Hasil uji juga menunjukkan nilai PR= 1,525 . % CI: 1,124-2,. yang berarti kurangnya peran petugas kesehatan berisiko 1,525 kali untuk memiliki minat rendah dalam penggunaan AKDR dibandingkan dengan peran petugas kesehatan yang baik. Hubungan penggunaan AKDR Menurut Henni Purnasari dkk . riwayat penggunaan kontrasepsi sebelumnya dapat mempengaruhi minat seseorang untuk AKDR. Pengalaman sebelumnya dengan metode kontrasepsi, baik itu keberhasilan maupun kegagalan, dapat membentuk persepsi dan preferensi seseorang terhadap metode kontrasepsi lainnya, termasuk AKDR. Berdasarkan hasil analisis menggunakan uji Chi Square yang diperoleh p-value 0,004 (<0,. artinya ada hubungan bermakna antara riwayat penggunaan kontrasepsi dengan rendahnya penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa Responden yang memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi hormonal mempunyai resiko 3,857 kali dibandingkan dengan responden yang memiliki riwayat penggunaan kontrasepsi non hormonal. Hal ini sejalan dengan Okvitasari Y dkk . hasil uji statistik menggunakan Chi square diperoleh nilai P-value = 0,038 < 0,05, bahwa ada hubungan antara riwayat KB dengan penggunaan AKDR. Dari hasil analisis diperoleh OR = 1,712> 1. Artinya responden yang belum pernah menggunakan KB lebih berisiko 1,7 kali tidak menggunakan AKDR. KESIMPULAN Berdasarkan hasil dari analisis data dan pembahasan dalam penelitian ini, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: rapikan Terdapat hubungan bermakna antara paritas terhadap rendahnya penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa tahun 2025 Terdapat hubungan bermakna antara penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa tahun 2025 Terdapat hubungan bermakna antara peran tenaga kesehatan terhadap rendahnya penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa tahun 2025. Terdapat hubungan bermakna antara riwayat penggunaan kontrasepsi terhadap rendahnya penggunaan AKDR di Wilayah Kerja Puskesmas Kelapa tahun 2025. DAFTAR PUSTAKA