Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 143 - 148 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/432 Hubungan Kekuatan Otot Ekstensor Knee Terhadap Performa Mobilitas Pada Pasien Osteoarthritis The Relationship Between Strength of Knee Extensor Muscles To Mobility Performance In Osteoarthritis Patients *Afif Ghufroni. Jasmine Kartiko Pertiwi Poltekkes Kemenkes Surakarta Email: apip. physio@gmail. Diterima: 28 November 2024 | Ditinjau: 04 Desember 2024 | Disetujui: 22 April 2025 | Publikasi Online: 15 Mei 2025 ABSTRAK Di Indonesia lebih dari 65% lanjut usia di atas 61 tahun menderita osteoarthritis. Osteoartritis (OA) merupakan penyakit kronis muskuloskeletal yang menyerang pada tulang rawan sendi lutut dan dapat mengakibatkan penurunan kekuatan otot ekstensor knee secara prograsif. Penurunan kekuatan otot ekstensor knee mengakibatkan penurunan fungsi aktifitas keseharian. Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui hubungan kekuatan otot ekstensor knee terhadap performa mobilitas pasien osteoarthritis. Rancangan penelitian menggunakan cross sectional analisys. Penelitian dilakukan di RSUD Simo Kabupaten Boyolali. Subjek semua pasien osteoarthritis yang datang ke poli fisioterapi RSUD Simo Kabupaten Boyolali sebanyak 46 subjek. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Analisis statistik yang digunakan menggunakan uji pearson correlation. Hasil uji hubungan antara kekuatan otot ekstensor knee terhadap performa mobilitas pasien osteoarthritis didapatkan hasil nilai p = 0,047 dan nilai koefisien korelasi r = 0,295 yang dapat diartikan terdapat hubungan yang bermakna antara kekuatan otot ekstensor knee terhadap performa mobilitas pasien osteoarthritis. Kata kunci : Kekuatan Ekstensor Knee. Mobilitas. Osteoarthritis. ABSTRACT In Indonesia, more than 65% of elderly people over 61 years suffer from osteoarthritis. Osteoarthritis (OA) is a chronic musculoskeletal disease that attacks the cartilage of the knee joint and can result in a progressive decrease in the strength of the extensor knee muscles. A decrease in the strength of the extensor muscles of the knee results in a decrease in the function of daily activities. This study aims to determine the relationship between the strength of the knee extensor muscle and the mobility performance of osteoarthritis patients. The research design uses cross sectional The research was conducted at Simo Hospital. Boyolali Regency. The subjects of all osteoarthritis patients who came to the physiotherapy polyclinic of Simo Hospital. Boyolali Regency were 46 subjects. Sampling uses purposive sampling. Statistical analysis was used using the Pearson correlation test. The results of the test of the relationship between the strength of the extensor muscles of the knee and the mobility performance of osteoarthritis patients were obtained with a value of p = 0. 047 and a correlation coefficient value of r = 0. Keyword : Knee Extensor Strength. Mobility. Osteoarthritis. PENDAHULUAN Osteoarthritis lutut adalah penyakit degeneratif pada sendi lutut karena adanya abrasi tulang rawan sendi. Pembentukan tulang baru pada permukaan persendian yang mampu menyebabkan Selain nyeri permasalahan yang ditimbulkan adalah kelemahan otot, gangguan gerak serta fungsi serta mengakibatkan terganggunya atau menurunnya kemampuan fungsioanal . Osteoarthritis paling banyak menyerang pada usia lanjut. Lebih dari 80% usia di atas 75 tahun menderita osteoarthritis, angka tersebut meningkat seiring dengan bertambahnya usia. Penyakit osteoarthritis merupakan kasus terbanyak yang terdapat di rumah sakit dari semua kasus penyakit Kelainan pada lutut merupakan kelainan terbanyak dari osteoarthritis diikuti sendi panggul dan tulang belakang (Felson, 2. Osteoarthritis dikarenakan merupakan penyakit degenerasi, sampai saat ini belum ada obat yang mampu menangani permasalahan secara kausatif . Sehingga banyak peneliti mencari pengobatan alternatif yang dapat di modifikasi. Kekuatan otot quadriceps merupakan faktor yang Hubungan Kekuatan Otot Ekstensor Knee. | Afif Ghufroni. Jasmine Kartiko Pertiwi Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 143 - 148 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/432 dapat dimodifikasi dan diyakini dapat meningkatkan kemampuan fungsional pada pasien Penurunan kekuatan otot quadriceps juga merupakan permasalahan di tingkat impairment yang sering ditemukan di klinis. Kelemahan ini memberikan dampak instabilitas sendi lutut dan peningkatan nyeri pada kasus osteoarthrits. Penurunan kekuatan otot quadriceps berpengaruh terhadap terjadinya osteoarthritis (Segal et. Angaka kejadian osteoarthritis disetiap daerah berbeda-beda. Di Kanada sekitar 13% orang hidup dengan osteoarthritis (Bombardier, 2. Di Amerika sebanyak 10% dari populasi mengalami osteoarthritis di usia 60 tahun . Berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO), penduduk yang mengalami osteoarthrits di Indonesia tercatat 8,1% dari total penduduk. Menurut Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) prevalensi osteoarthrits di Indonesia, mencapai 5% pada usia kurang dari 40 tahun, 30% pada usia 40-60 tahun, dan 65% pada usia lebih dari 61 tahun. Jawa Tengah, kejadian penyakit osteoarthritis sebesar 5,1% dari semua penduduk di Jawa Tengah . Pada penelitian . dari 36 pasien osteoarthritis, melihat dynamic postural control yaitu dilihat dari perpindahan kaki kanan dan kiri. Ditemukan dengan semakin kecil dan semakin lambat waktu yang dibutuhkan dalam melakukan perpindahan kaki ketika berjalan, berkorelasi terhadap kemampuan fungsional keseharian dan kualitas hidup. Kondisi tersebut terdapat pada pasien steoarthritis dengan tingkat ringan. sedang bahkan berat. Peneliti meyakini kecepatan perpindahan kaki ketika berjalan dipengaruhi oleh kekuatan otot ekstensor knee pada pasien osteoarthritis. Meskipun sudah banyak penelitian tentang intervensi peningkatan kekuatan ekstensor knee pada osteoarthritis, penulis masih kasulitan untuk melihat hubungan antara kekuatan otot ekstensor knee terhadap performa mobilitas pada pasien osteoarthritis. Sehingga tujuan dari penelitian ini, penulis ingin melihat hubungan antara kekuatan otot ekstensor knee terhadap performa mobilitas pada pasien osteoarthritis. Temuan itu akan memberikan rujukan kepada praktisi fisioterapis dalam melatih kekuatan otot yang memberikan kontribusi kemampuan fungsional pasien osteoarthritis. METODE PENELITIAN Design penelitian menggunakan cross sectional analisys. Penelitian dilakukan di RSUD Simo Kabupaten Boyolali pada bulan Mei s/d Juli 2022. Subjek adalah semua pasien osteoarthritis yang datang ke poli fisioterapi RSUD Simo Kabupaten Boyolali. Pengambilan sampel menggunakan purposive sampel. Analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah uji normalitas menggunakan shapiro test. Uji hubungan menggunakan uji pearson correlation. Penelitian ini menghubungakan kekuatan otot ekstensor knee dengan performa mobilitas pasien osteoarthritis. Alat ukur yang digunakan dalam pengambilan data kekuatan otot ekstensor knee manggunakan 1 RM. Setiap subjek diukur kekuatan otot ekstensor knee pada kaki kanan dan Data yang digunakan dalam analisis merupakan data rerata dari kedua kaki. Cara penilaian kekuatan otot dilakukan sebagai berikut: . menentukan beban yang akan digunakan dalam . melakukan gerakan ekstensi knee menggunakan beban yang telah dipasang. mencatat pengulangan yang didapatkan oleh pasien dalam percobaan. melihat diagram holten untuk menentukan konversi pengulangan terhadap besar % dalam percobaan. menghitung hasil yang di dapat menggunakan rumus . RM = beban yang dipakai X . engulangan % dalam diagram holten X 100 %)}. Sedangkan performa mobilitas di ukur menggunakan 6 MWT, dengan melakukan jalan selama 6 menit dapat menggambarkan performa mobilitas pasien. Cara penilaian menggunakan Hubungan Kekuatan Otot Ekstensor Knee. | Afif Ghufroni. Jasmine Kartiko Pertiwi Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 143 - 148 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/432 6MWT adalah sebagai berikut : . menentukan jarak satu titik ke titik yang lain. pasien duduk di kursi berada dititik awal. melakukan skrinning kesiapan pasien dalam melakukan pengukuran ini. pasien di minta berdiri dan diberikan aba-aba mulai diikuti menghitung waktu/start. setelah 6 menit pasien diminta berhenti di tempat. menghitung jarak tempuh yang dapat dilampaui pasien tersebut . Gambar 1. 6MWT, subjek berjalan dari titik A. C dan D . Kriteria inklusi pada penelitian ini adalah . pasien di diagnosis osteoarthritis. berusia lebih dari 45 tahun. pasien berkunjung ke poli fisioterapi. bersedia menjadi subjek Kriteria eksklusi pada penelitian ini adalah . terdapat fraktur, sprain dan strain. memiliki gangguan komunikasi. Kriteria dropout pada penelitian ini adalah . subjek tidak mengikuti pengambilan data kekuatan otot, . tidak mengisi kuesioner kemampuan fungsional. pasien tidak mengikuti pengambilan data performa mobilitas. Penelitian ini telah diterima pada uji kelayakan etik penelitian oleh komisi etik peneltitian kesehatan (KEPK) FK UMS dengan nomer 4285/B. 2/KEPK-FKUMS/VI/2022. HASIL DAN PEMBAHASAN Subjek penelitian sebanyak 46 subjek. Karakteristik subjek yang ditampilkan pada penelitian ini berdasarkan jenis kelamin, umur, indeks massa tubuh (IMT), pendidikan dan penyakit penyerta berupa diabetes militus. Berdasarkan jenis kelamin jumlah laki-laki sebanyak 11 . ,9 %) dan perempuan sebanyak 35 . ,1 %). Berdasarkan data tersebut, perempuan lebih banyak mengalami osteoarthritis dibandingkan laki-laki. Angka kejadian semakin meningkat seiring dengan terjadinya menopause . Karakteristik berdasarkan usia nilai minimal 46 tahun, maksimal 85 tahun dan rata-rata 64,13 tahun. Osteoarthritis tidak hanya di dapatkan pada usia lanjut saja, data tersebut usia 46 tahun sudah mengalami osteoarthritis. Semakin tua usia seseorang, semakin tinggi kemungkinan terkena osteoarthiris . Karakteristik indeks massa tubuh nilai minimal 18 dan maksimal 38 dan rata-rata 25,78. Obesitas merupakan faktor resiko terjadinya osteoarthritis dengan tingkat hubungan yang kuat . Program penurunan berat badan menjadi rekomendasi yang dianjurkan oleh Perhimpunan Reumatologi Indonesia dalam pengelolaan non farmakologis pada kasus osteoarthritis . Karakteristik berdasarkan pendidikan pada tingkat SD sebanyak 27 . ,7 %) subyek. SMP sebanyak 7 . ,2%) subyek. SMA sebanyak 4 . ,7%) subyek dan sarjana 8 . ,4%) subyek. Osteoarthritis paling banyak di derita pasien dengan tingkat pendidikan sekolah dasar (SD). Karakteristik yang memiliki penyakit penyerta diabetes miletus 13 . ,26 %) dan tidak mengalami diabetes miletus sebanyak 33 . ,74 %). Rincian karakteristik subjek dapat dilihat pada Hubungan Kekuatan Otot Ekstensor Knee. | Afif Ghufroni. Jasmine Kartiko Pertiwi Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 143 - 148 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/432 Tabel 1 Karakteristik Subjek Penelitian Karakteristik Nilai Jenis kelamin (%) Laki-laki 11 . ,9 %) Perempuan 35 . ,1 %) Jumlah Usia . Minimal Maksimal Rata-rata 64,13 Indeks masa tubuh Minimal Maksimal Rata-rata 25,78 Pendidikan (%) 27 . ,7 %) SMP ,2 %) SMA ,7 %) Sarjana ,4 %) Penyakit Diabetus Miletus ,26 %) Tidak 33 . ,74 %) Uji normalitas menggunakan uji shapiro-wilk test didapatkan hasil pada kekuatan otot ekstensor knee p = 0,000 dan nilai pada performa mobilitas p = 0,000. Uji hubungan yang digunakan menggunakan uji pearson correlation didapatkan nilai p 0,047 dan nilai koefisien relatif r = 0,295 yang dapat diartikan terdapat hubungan yang bermakna antara kekuatan otot ekstensor knee terhadap performa mobilitas pasien osteoarthritis. Table 2. Normalitas data dan hubungan kekuatan otot ekstensor knee dengan performa mobilitas pasien Nilai Normalitas data 1 RM . ekuatan otot ekstensor kne. 6 MWT . erforma mobilita. Uji hubungan kekuatan otot ekstensor knee terhadap perfoma mobilitas pasien Nilai p Nilai r 0,047 Hasil dari penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna antara kekuatan otot ekstensor knee terhadap performa mobilitas pasien osteoarthritis. Pada penderita osteoarthritis selain nyeri keluahan utama yang dikeluhkan, penurunan kekuatan otot . , terdapat atropi otot quadriceps, penurunan luas gerak dan penurunan kemapuan fungsional. Pada penelitian yang berjudul effects of exercise on knee osteoarthritis: a systematic review, peningkatan kekuatan otot dikarenakan Hubungan Kekuatan Otot Ekstensor Knee. | Afif Ghufroni. Jasmine Kartiko Pertiwi Jurnal Fisioterapi dan Rehabilitasi Vol. 09 No. 02 Bulan Juli 2025 p-ISSN 2548-8716 Halaman 143 - 148 e-ISSN 2599-2791 DOI: 10. 33660/jfrwhs. https://jurnal-d3fis. id/index. php/akfis/article/view/432 pemberian latihan akan memberikan dampak yang positif terhadap kemampuan fungsional pasien osteoarthritis . Penelitian dengan judul eccentric and concentric resistance exercise comparison for knee osteoarthritis pada medicine & science in sports & exercise, latihan kosentrik-eksentrik memberikan peningkatan kekuatan otot ekstensor dan meningkatkan kemampuan fungsional pasien osteoarthritis . Tingkat keparahan pasien osteoarthritis dipengaruhi oleh neuromuscular joint function. Defisit neuromuskular terbukti di berbagai tingkat keparahan knee osteoarthritis struktural dan terlihat pada kekuatan otot, aktivasi sukarela, ukuran otot, dan kemampuan kontrol kekuatan. Perempuan mungkin menunjukkan perubahan ini ke tingkat yang lebih besar daripada laki-laki . Pada penelitian dengan judul Auknee extensor power relates to mobility performance in people with knee osteoarthritis: cross-sectional analysisAy bertujuan mengidentifikasi kekuatan otot terhadap kemampuan menyelesaikan tugas fisik berupa berjalan pada pasien osteoarthritis. Didapatkan hasil terdapat hubungan kekuatan otot ekstensor knee terhadap kemampuan mobilitas pasien osteoarthritis . Perbedaan kekuatan isometrik quadriceps secara langsung mempengaruhi kemampuan berjalan pada wanita dengan osteoarthritis . Ketidakcukupan kekuatan otot quadriceps akan merubah pola jalan pada penderita obesitas . Terjadinya perubahan kekuatan otot disebabkan oleh kemapuan fasikulus otot untuk memanjang pada saat berjalan akan meningkatkan momen pada kedua tungkai, sehingga dalam berjalan jarak jauh pasien tidak mampu menerima beban tersebut . Selain kekuatan otot, intensitas nyeri yang dialami pasien osteoarthritis akan mempengaruhi gaya jalan dan mengakibatkan mobilitas pasien terhambat . Dapat disimpulkan selain kekuatan otot ekstensor knee, terdapat beberapa faktor lain yang mengakibatkan pasien tidak dapat berjalan jauh atau mobilitasnya berkurang diantaranya nyeri yang dialami oleh pasien itu sendiri. SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan pada penelitian ini terdapat hubungan yang bermakna antara kekuatan otot ekstensor knee terhadap performa mobilitas pasien osteoarthritis. Temuan ini memberikan pemahaman kepada praktisi fisioterapis penting untuk melatihkan kekuatan otot ekstensor knee dengan tujuan meningkatkan performa mobilitas pasien osteoarthritis. Meskipun terdapat hubungan yang bermakna. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut faktor lain yang dapat mempengaruhi mobilitas pasien osteoarthritis. DAFTAR PUSTAKA