Moluccas Health Journal. Vol. 6 No. 2 (Agustus, . No. Hal 69-76 ISSN 2810 - 0034 (Ceta. ISSN 2686 - 1828 (Onlin. https://w. id/index. php/mhj/index GAMBARAN PERILAKU BUANG AIR BESAR SEMBARANG PADA MASYARAKAT DI RW 13 RT 5 PERUMNAS II WAENA KOTA JAYAPURA Holly Aspalek1. Lisma Natalia Br Sembiring2. Fenska N Makualaina3. Crystin E Watunglawar4* Program Studi Ilmu Keperawatan. Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jayapura. Papua. Indonesia DATA OF ARTICLE: Received: 01 Agusuts 2024 Reviewed: 14 Agustus 2024 Revised: 24 Agustus 2024 Accepted: 30 Agustus 2024 *CORRESPONDENCE: fenskanarlym@gmail. Abstrak Latar belakang: Perilaku buang air besar sembarang masih teus berlangsung baik secara global termask di Indonesia dan di Kota Jayapura. Salah satu penyebabnya adalah minimnya sarana sanitasi jamban yang aman, nyaman dan sehat serta faktor kebiasaan turun temurun. Hal ini akan berdampak pada kesehatan mayarakat sehingga perlu adanya kesadaran dari masyarakat dalam perilaku buang air besar yang benar. Tujuan: Mengetahui gambaran perilaku buang air besar sembarang pada masyarakat di RW 13 RT 5 Perumnas II Waena Kota Jayapura. Metode: Jenis penelitian dengan deskriptif kuantitatif. dengan jumlah sampel sebanyak 71 orang kepala keluarga atau yang mewakili menggunakan purposive sampling, pengumpulan data mengunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat. Hasil: Perilaku buang air besar sembarang di RW 13 RT 5 Perumnas II Waena Kota Jayapura sebagian besar dalam kategori positif sebanyak 43 orang . ,6%) dibandingkan perilaku negatif sebanyak 28 orang . ,4%). Kesimpulan: Sebagian besar perilaku buang air besar dilakukan positif oleh masyakat sehingga perlu lebih ditingkatkan sehingga akan timbul kesadaran terutama masyarakat dengan perilaku negatif dengan menyediakan sarana jamban yang bersih, sehat dan nyaman didukung dengan upaya promosi kesehatan dari instansi setempat. Kata kunci: Perilaku Masyarakat. BABS, dan Jamban PENDAHULUAN Latar Belakang Pembuangan kotoran/tinja yang biasa juga disebut dengan tempat Buang Air Besar (BAB) merupakan bagian yang penting dalam sanitasi lingkungan. (Lataha, 2. Pada tahun 2020 dari total populasi dunia yang menggunakan layanan sanitasi yang dikelola dengan aman sebanyak 54% . ,2 miliar oran. , penggunaan toilet atau jamban septictank sebanyak 1,7 miliar orang. Dari jumlah tersebut, 494 juta masih buang air besar di tempat terbuka, misalnya di selokan jalan, kali, di balik semak-semak, atau di perairan terbuka (WHO, 2. Pada tahun 2021 Indonesia menduduki peringkat ke-3 di dunia sebagai negara dengan sanitasi terburuk setelah India dan Srilanka. Hal tersebut dikarenakan sebagian besar masyarakat melakukan buang air besar sembarangan di berbagai tempat walaupun sudah terjadi penurunan praktik buang buang air besar sembarangan (BABS) dalam 3 tahun terakhir yaitu tahun 2019 sebanyak 7,61%, tahun 2020 sebanyak 6,19% dan tahun 2021 sebanyak 5,69% (Bappenas, 2. Data BABS provinsi Papua dalam akses sanitasi 26,93%, desa melaksanakan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) sejumlah 943 desa/kelurahan . ,02%) dan desa Open Defecation feses (ODF) atau stop BABS sebanyak 134 desa . ,77%) yang berada pada urutan ke 28 dari 34 provinsi (Kemenkes RI, 2. Vol 6No 2 Agustus 2024 Moluccas Health Journal. Vol. 6 No. 2 (Agustus, . No. Hal 69-76 ISSN 2810 - 0034 (Ceta. ISSN 2686 - 1828 (Onlin. https://w. id/index. php/mhj/index Data Dinkes Kota Jayapura tahun 2022 masyarakat memiliki akses sanitasi 73,02%, sebanyak 134 desa/kelurahan . ,06%) dan desa Open Defecation feses (ODF) atau stop BABS sebanyak 43 kelurahan . ,86%) (Dinkes Kota Jayapura, 2. Berdasarkan data Puskesmas Waena tahun 2022 bahwa 100% telah mencapai ODF pada pilar karena sebagian besar telah memiliki sarana jamban. Berdasarkan studi pendahuluan yang didapatkan dari observasi di kelurahan Waena Perumnas II Waena di RW 13 RT 5 terdapat 86 Kepala Keluarga. Perilaku masyarakat masih belum berjalan dengan maksimal karena masih banyak masyarakat yang Buang Air Besar Sembarangan terutama pada masyarakat rumahnya tidak memiliki jamban dan sebagian keluarga yang memiliki jamban namun memilih buang air besar di kali dengan model cemplung . karena jamban yang mereka miliki penuh dan tersumbat. Selain itu ada beberapa rumah warga yang memiliki jamban dan pembuangannya mengarah ke kali tanpa dibuat septictank karena rumahnya berada di pinggir kali dan lebih mudah sehingga tidak mengeluarkan biaya. Hal ini diperkuat dari hasil wawancara pada 6 orang warga RW 13 RT 5 Perumnas II Waena, yaitu 4 orang mengatakan mereka BABS di kali karena tidak ada jamban, ada jamban di rumah keluarga yang lain tapi rusak dan penuh sebanyak 8 keluarga dari 86 KK. Jenis jamban yang dimiliki adalah jamban jongkok. Keluarga yang memiliki jamban yang tidak berfungsi dengan baik memilih BAB di kali karena tidak mau merepotkan tetangganya sedangkan ada beberapa keluarga yang jambannya masih berfungsi dengan baik sebanyak 2 keluarga dan air tersedia tapi memilih BAB di kali karena jumlah jamban dalam rumah hanya 1 sedangkan jumlah anggota keluarganya lebih dari 7 orang terutama di pagi hari karena jamban yang akan digunakan secara bersamaan. Keterbatasan jumlah jamban menyebabkan bebeberap anggota keluarga BAB di kali. Selain itu BAB di kali memudahkan mereka dan tidak repot karena kurangnya pendapatan yang mereka miliki untuk membangun jamban sedangkan pendapatan mereka digunakan untuk kebutuhan utama yang lain. Tujuan penelitian untuk mengetahui Gambaran Perilaku Buang Air Besar Sembarang Pada Masyarakat di RW 13 RT 5 Perumnas II Waena Kota JayapuraAy. METODE Jenis penelitian dengan deskriptif kuantitatif. dengan jumlah sampel sebanyak 71 orang kepala keluarga atau yang mewakili menggunakan purposive sampling, pengumpulan data mengunakan kuesioner dan dianalisis secara univariat. HASIL Karakteristik Responden Tabel 1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Karakteristik Responden Karakteristik Persentas e (%) Umur 20-25 tahun 26-35 tahun Vol 6No 2 Agustus 2024 Moluccas Health Journal. Vol. 6 No. 2 (Agustus, . No. Hal 69-76 ISSN 2810 - 0034 (Ceta. ISSN 2686 - 1828 (Onlin. https://w. id/index. php/mhj/index 36-45 tahun 46-59 tahun Jenis Kelamin Laki Ae Laki Perempuan Pendidikan Tidak Sekolah SMP SMA Perguruan Tinggi Pekerjaan Tidak Kerja Bekerja Total Distribusi responden menurut umur yaitu sebanyak 2 orang . ,8%) berumur 20-25 tahun, 30 orang . ,3%) berumur 26-35 tahun, 38 orang . ,5%) berumur 36-45 tahun, 1 orang . ,4%) berumur 46-59 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berumur dewasa akhir. Distribusi responden menurut jenis kelamin yaitu 50 orang . ,4%) berjenis kelamin laki-laki dan 21 orang . ,6%) berjenis kelamin perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa responden dalam penelitian ini terbanyak adalah laki Ae laki. Distribusi responden menurut pendidikan yaitu berpendidikan tidak sekolah sebanyak 13 orang . ,3%). SD sebanyak sebanyak 13 orang . SMP sebanyak 16 orang . ,5%). SMA sebanyak 19 orang . ,8%) dan perguruan tinggi sebanyak 10 orang . ,1%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden berpendidikan SMA. Distribusi responden menurut pekerjaan yaitu 14 orang . ,7%) tidak bekerja dan 57 orang . ,3%) Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden bekerja. Perilaku Buang Air Besar Sembarang Tabel 2 Distribusi Perilaku Buang Air Besar Sembarang Perilaku BABS Positif Negatif Total Distribusi responden menurut perilaku buang air besar sembarang dalam kategori positif sebanyak 43 orang . ,6%) dan perilaku buang air besar sembarang dalam kategori negatif sebanyak 28 orang . ,4%). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar memiliki perilaku buang air besar sembarang dalam kategori positif. Vol 6No 2 Agustus 2024 Moluccas Health Journal. Vol. 6 No. 2 (Agustus, . No. Hal 69-76 ISSN 2810 - 0034 (Ceta. ISSN 2686 - 1828 (Onlin. https://w. id/index. php/mhj/index PEMBAHASAN Umur Hasil penelitian diperoleh distribusi responden sebagian besar berumur dewasa akhir 36-45 tahun. Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan Syarda . menemukan bahwa sebagian besar responden berumur dewasa akhir. Menurut penelitian Amelia . menemukan bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara umur terhadap perilaku buang air besar sembarangan (BABS). Umur akan mempengaruhi kondisi tempat tinggal, dimana jika masyarakat tinggal di dekat sungai dan mempunyai perilaku buang air besar sembarang, sudah terjadi dan berlangsung lama perilaku tersebut, yang berdampak pada kondisi pencemaran pada lingkungan sekitarnya. Umur yang semakin dewasa belum tentu menunjukkan semakin matang seseorang dalam berpikir dan berperilaku untuk melakukan kebiasaan baik seperti buang air besar di Semakin meningkatnya umur seseorang, tidak menjamin orang tersebut juga meningkat dalam berperilaku dan berpikir positif atau lebih baik (Tafese & Anato, 2. Menurut Fitrianingsih & Wahyuningsih . yang mengatakan usia menentukan sikap individu, sehinggal individu tersebut akan cenderung mempunyai perilaku yang positif dibandingkan umur yang dibawahnya. Peneliti berpendapat bahwa semakin bertambahnya umur dewasa akhir lebih banyak berinteraksi dengan orang banyak serta pergaulannya sehingga dapat memiliki pengetahuan yang baik. Namun hal ini dipengaruhi lingkungannya. Apabila lingkungan yang tidak mendukung dalam perilaku buang air besar yang benar dapat berdampak pada perilaku buang air besar sembarang. Jenis Kelamin Hasil penelitian diperoleh distribusi responden terbanyak adalah laki Ae laki. Hal ini sejalan dengan penelitian Pambudi . yang menemukan responden terbanyak adalah laki-laki yang banyak melakukan perilaku buang air besar sembarang. Jenis kelamin tidak menjadi salah satu alasan atau faktor penentu dalam pemanfaatan jamban, meskipun realitanya wanita lebih menjaga kerahasiaan tubuh. Perempuan umumnya akan cenderung berusaha menggunakan jamban tetangga jika tidak memiliki jamban sendiri untuk menjaga dan melindungi kerahasiaan dan privasi tubuhnya. Namun, ketika seseorang berada dalam kondisi mendesak untuk membuang tinja, maka perilaku BABS dapat saja terjadi, baik pada perempuan ataupun laki-laki jika akses jamban terdekat tidak tersedia (Selan, 2. Peneliti berpendapat bahwa jenis kelamin tidak menjadi ukuran dalam hal pemanfaatan jamban. Sama halnya dengan perempuan, laki-laki juga memiliki bagian yang sensitif dan rahasia yang tidak ingin diperlihatkan pada orang lain. Penelitian ini menegaskan bahwa pemanfaatan jamban diukur dari seberapa baik pemahaman dan pengetahuan responden akan pentingnya menggunakan jamban sebagai salah satu bentuk pencegahan penyakit yang disebabkan oleh BABS, seperti risiko penyakit diare dan lainnya. Pendidikan Hasil penelitian diperoleh distribusi responden sebagian besar berpendidikan SMA. Penelitian ini sejalan dengan penelitian Fitrianingsih & Wahyuningsih . yang menemukan sebagian besar responden berpendidikan SMA. Menurut penelitian Selan . menemukan tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan pemanfaatan jamban karena seseorang dengan pendidikan rendah dan tingkat pendidikan Vol 6No 2 Agustus 2024 Moluccas Health Journal. Vol. 6 No. 2 (Agustus, . No. Hal 69-76 ISSN 2810 - 0034 (Ceta. ISSN 2686 - 1828 (Onlin. https://w. id/index. php/mhj/index tinggi yang kurang memanfaatkan jamban dan berperilaku membuang tinja di kebun, hutan dan kali karena kondisi jarak kebun dan rumah yang jauh, atau tidak adanya akses jamban teedekat sehingga responden akan lebih memilih BABS ketika berada pada kondisi tersebut. Dampak pendidikan yang rendah adalah kurangnya pengetahuan seseorang. Pengetahuan merupakan salah satu pendorong untuk seseorang mengubah perilaku. Namun pendidikan yang tinggi bukan merupakan jaminan seseorang berperilaku buang air besar semabrang karena dipengaruhi oleh fasilitas jamban yang ada dan kondisi lingkungan yang mendukung seperti kali (Maharani, 2. Penelitian ini juga menemukan pendidikan yang rendah dan tinggi di RW 13 RT 5 Perumnas II Waena Kota Jayapura memiliki perilaki BABS yang sama karena perilaku buang air besar sembarangan dianggap sebagai perilaku turun-temurun walaupun telah memiliki pendidikan tinggi. Pedidikan tidak sama dengan pengetahuan, masyarakat yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi tidak selamanya memiliki pengetahuan yang luas bahkan ada yang memiliki pendidikan yang rendah tetapi pengetahuannya luas. Karena pengetahuan tidak hanya diperoleh dari jenjang pendidikan tetapi dapat diperoleh dari media cetak, elektronik dan penyuluhan atau mengikuti seminar. Hal itu terbukti pada waktu penelitian, responden yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi masih ada yang tidak memiliki jamban keluarga dan buang air besar di kali. Pekerjaan Hasil penelitian diperoleh distribusi responden sebagian besar bekerja dan dari hasil observasi diperoleh responden yang bekerja dan tidak bekerja terdapat perilaku negatif dalam buangair besar sembarang. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Arifin . yang menemukan sebagian responden yang bekerja memiliki perlaku buan air besar sembarang. Ada beberapa faktor yang berkaitan dengan perilaku kebiasaan buang air besar sembarangan di masyarakat diantaranya faktor pendidikan, pekerjaan maupun tingkat pendapatan yang dimana hal tersebut berkaitan erat dengan kepemilikan fasilitas yang dimiliki oleh setiap individu (Regita et al. , 2. Pekerjaan berhubungan dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) di mana kepala keluarga yang tidak bekerja berpengaruh terhadap anggota keluarga melakukan buang air besar di mana saja (Maharani, 2. Perilaku buang air besar sembarang lebih banyak terdapat pada kepala keluarga yang tidak bekerja dibandingkan pada kepala keluarga yang bekerja. Sebaliknya kepala keluarga yang berperilaku baik lebih banyak terdapat pada kepala keluarga yang bekerja dibandingkan pada kepala keluarga yang tidak bekerja (Syarda. Hal itu didasari oleh pengetahuan seseorang, karena salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan ialah pekerjaan, dimana pekerjaan berhubungan dengan faktor interaksi sosial dan kebudayaan dengan kata lain adanya proses pertukaran informasi serta kegiatan yang dilakukan secara berulang ulang (Herman, 2. Peneliti berpendapat dari hasil peneliian diperoleh bahwa pekerjaan merupakan bukan faktor risiko seseorang tidak memiliki jamban, dimana kepemilikkan jamban sangat erat kaitannya dengan perilaku Buang Air Besar Sembarangan (BABS) karena dalam sebuah rumah tidak hanya ditentukan dari status pekerjaan, melainkan berkaitan dengan faktor kesadaran perilaku serta pemahaman mengenai pentingnya memiliki jamban dalam sebuah Vol 6No 2 Agustus 2024 Moluccas Health Journal. Vol. 6 No. 2 (Agustus, . No. Hal 69-76 ISSN 2810 - 0034 (Ceta. ISSN 2686 - 1828 (Onlin. https://w. id/index. php/mhj/index Perilaku Buang Air Besar Sembarang Hasil penelitian diperoleh bahwa masyarakat di RW 13 RT 5 Perumnas II Waena Kota Jayapura yang sebagian sebagian besar memiliki perilaku buang air besar sembarang dalam kategori positif. Sejalan dengan penelitian Herman . menemukan sebagian besar rsponden responden memiliki perilaku buang air besar yang baik. Hal tersebut menunjukkan bahwa masyarakat masih menganggap perilaku hidup bersih dan sehat merupakan urusan pribadi yang penting. Namun masih ada masyarakat yang tidak memiliki jamban di rumah atau buang air besar sembarangan. Masyarakat belum mengetahui bahwa buruknya perilaku terkait sanitasi oleh salah satu anggota masyarakat, juga akan mempengaruhi kualitas kesehatan masyarakat lainnya (Fitrianingsih & Wahyuningsih, 2. Hasil penelitian diperoleh bahwa perilaku buang air besar yang baik karena memiliki jamban yang tersedia dan tersedia sarana air dan penerangan yang cukup. Perilaku buang air besar sembarang padamasyarakat disebabkan sudah merupakan kebiasaan turun temurun, sehingga bila ada anggota keluarga yang memilki jamban rusak atau diapakai anggota keluarga yang lain responden lebih memilih BAB di kali. Responden juga merasa nyaman dan aman untuk BAB di tempat terbuka. Perilaku BABS yang negatif pada masyarakat di RW 13 RT 5 Perumnas II Waena Kota Jayapura juga ditemukan karena jamban yang dimiliki tidak memberikan rasa aman dan Hasil observasi diperoleh sebagian jaman yang dimilki terutama kondisi jamban yang tidak bersih, ketersdiaan air yang tidak cukup dan penerangan yang tidak sesuai. Sejalan dengan penelitian Syarda . menemukan masyarakat yang terbiasa buang air besar di sungai yang kakinya terendam air, merasa dingin, melihat pemandangan dan terasa nyaman lalu harus berpindah defekasi di jamban dengan ruang yang sempit, sumpek dan gelap adalah sangat sulit. Dibutuhkan waktu yang cukup lama untuk mengubah perilaku mengubah perilaku tidak semudah membalik telapak tangan. Penyebab perilaku buang air besar sembarang tempat karena masih rendahnya pengetahuan masyarakat desa Tanjung hidup sehat, sikap, kepemilikan jamban dan dukungan keluarga dalam bertingkah laku sehat. Jamban keluarga yang tidak memenuhi syarat merupakan penyebab terjadinya pencemaran lingkungan diantaranya pencemaran tanah, pencemaran air, kontaminasi makanan, dan berkembangbiakan lalat (Arifin, 2. Berdasarkan asumsi peneliti bahwa sebagian besar perilaku posirtif karena tersedia jamban yang masih berfungsi dengan baik. Sedangkan perilaku BABS yang negatif pada masyarakat akan menyebabkan perilaku buang air besar sembarang akan terus berlangsung. Adanya rasa nyaman buang air besar sembarang dan terbuka serta kebiasan turun temurun terutama terdapat aliran sungai, sehingga masyarakat yang tempat tinggalnya dekat sekitar 100 m dengan aliran sungai lebih memilih membuang kotorannya ke sungai karena lebih mudah dan tidak mengeluarkan biaya. Pentingnya dukungan masyarakat dalam mencegah seseorang dalam buang air besar sembarangan dalam hal ini adalah dukungan dari tokoh masyarakat dan perangkat RT dan RW yang menjadi panutan masyarakat dalam membuang air besar sembarangan. Masyarakat juga harus sadar bahwa pentingnya jamban sehat, dukungan masyarakat dibentuk dengan adanya kemauan dan kemampuan dari masyarakat itu sendiri yang terlibat langsung. Vol 6No 2 Agustus 2024 Moluccas Health Journal. Vol. 6 No. 2 (Agustus, . No. Hal 69-76 ISSN 2810 - 0034 (Ceta. ISSN 2686 - 1828 (Onlin. https://w. id/index. php/mhj/index KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa perilaku buang air besar sembarang pada masyarakat di RW 13 RT 5 Perumnas II Waena Kota Jayapura sebagian besar dalam kategori positif sebanyak 43 orang . ,6%). Sebagian masyarakt yang memiliki perilaku negatif ini akan menyebabkan perilaku buang air besar sembarang terus berlangsung dan akan mempengaruhi kesehatan masyarakat. REFERENSI