Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at https://journal. an-nur. id/index. php/alwildan IMPLEMENTASI PROBLEM BASED LEARNING PADA PELAJARAN FIQIH MENINGKATKAN HASIL BELAJAR DAN AKTIVITAS PESERTA DIDIK Harun Kholidur Rosidi1. Iswantir2. Rita Asnimar3 1 MI Bustanut Tholabah Jabung 2 UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi 3 UIN Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi Email : harunkholidurrosidi@gmail. com1, iswantir@iainbukittinggi. ritaasnimar1978@gmail. DOI: 10. 57146/alwildan. Received: November 2022 Accepted: December 2022 Published: December 2022 Abstract : Based on the results of daily tests on fiqh subjects, it shows that learning is less successful because it is still below the specified KKM, even though the teacher has explained all the material but has not used good learning methods, only conventional learning models so that students are active in learning, and are less interested in taking fiqh lessons. This study aims to improve the learning outcomes of grade VI students of MIS Bustanut Tholabah in Fiqh subjects. The location of this research is in class VI MIS Bustanut Tholabah Mekar Jaya Village. Jabung District. East Lampung Regency with a total of 15 7 boys and 8 girls. The data in this study were obtained through interviews, action observation results, and evaluation results. This research was carried out in 3 The results showed that in cycle I, before the action was taken, the average score The average score increased to 74 after the action. The average score increased to 74 after the action. As for student activity, it was found that 73% of students were For the evaluation results, only 60% of students reached the KKM. In cycle II, before the action was taken, the average score was 68. The average score increased to 66 after the action was taken. The average score increased to 73. 66 after the action was As for student activity, 77% of students were found to be active. For evaluation results, 70% of students have reached the KKM. In cycle i, before the action was taken, the average score was 68. The average score increased to 85 after the action was taken. Cycle i has achieved success of 80% of students who reached the KKM, and student activity reached 90%. Based on the results of the study it can be concluded that learning with a problem-based learning model can improve student learning outcomes, and increase student activity. Learning becomes more fun because students actively participate in all processes of learning activities, this PBL learning model must support TPACK (TECHNOLOGICAL PEDAGOGICAL CONTENT KNOWLEDGE) and requires supporting devices that support learning such as projectors, laptops, and at least more fun media. However, this model is less suitable for children who have limitations or Keywords : Problem Based Learning. Student activity. Fiqh. TPACK. Learning outcomes Abstrak : Berdasarkan hasil ulangan harian pada mata pelajaran fiqih menunjukkan bahwa pembelajaran kurang berhasil karena masih di bawah KKM yang ditentukan, model Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 pembelajaran konvensional membuat siswa kurang aktif dalam pembelajaran, dan kurang tertarik dalam mengikuti pelajaran fiqih. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI MIS Bustanut Tholabah pada mata pelajaran Fiqih. Lokasi penelitian ini adalah di kelas VI MIS Bustanut Tholabah Desa Mekar Jaya Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Timur dengan jumlah siswa 15 orang. 7 siswa laki-laki dan 8 siswa perempuan. Penelitian ini dilaksanakan dalam 3 siklus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada siklus I. Nilai rata-rata meningkat menjadi 74 setelah dilakukan tindakan. Sedangkan untuk aktivitas siswa, ditemukan bahwa 73% siswa aktif. Untuk hasil evaluasi, hanya 60% siswa yang mencapai KKM. Pada siklus II. Nilai rata-rata meningkat menjadi 73,66 setelah dilakukan tindakan. Sedangkan untuk aktivitas siswa, ditemukan 77% siswa yang aktif. Untuk hasil evaluasi, 70% siswa telah mencapai KKM. Pada siklus i. Nilai rata-rata meningkat menjadi 85 setelah dilakukan Siklus i telah mencapai keberhasilan 80% siswa yang mencapai KKM, dan aktivitas siswa mencapai 90%. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran berbasis masalah dapat meningkatkan hasil belajar siswa, dan meningkatkan aktivitas siswa. Pembelajaran menjadi lebih menyenangkan karena siswa berpartisipasi aktif dalam semua proses kegiatan Kata Kunci: Pembelajaran berbasis masalah, aktivitas siswa. Fiqih. TPACK, hasil belajar PENDAHULUAN Dalam proses belajar mengajar sering terjadi kondisi dimana antara guru dan peserta didik tidak saling terhubung. Guru sibuk dengan materi yang di paparkan sementara Peserta Didik melakukan kegiatan yang tidak berhubungan dengan pelajaran, masing masing asyik dengan kegiatan masing masing. Jika demikian yang terjadi maka proses pembelajaran tidak akan terjadi karna antara Guru dan Peserta didik yang merupakan dua komponen penting dalam sistem pembelajaran tidak saling bekerjasama. Proses pembelajaran terjadi ketika guru dan peserta didik bersama sama mengarah kepada tujuan yang sama, oleh karna itu, kedua kompenen penting sistem pendidikan yaitu guru dan juga peserta didik masing masing harus memanfaatkan segala potensi yang dimilikinya untuk keberhasilan suatu proses pembelajaran. Metodologi Penelitian Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK). Penelitian ini menggunakan desain dari Kemmis dan Mc Taggart (Ima maryani, 2. yaitu model siklus yang dilakukan secara berulang. Model siklus ini dimulai dengan rencana, tindakan, pengamatan, refleksi, dan perencanaan kembali merupakan dasar untuk suatu rancangan pemecahan permasalahan. Untuk subjek dalam penelitian ini adalah Peserta Didik kelas VI MIS Bustanut Tholabah Desa Mekar Jaya Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Timur yang terdiri dari 7 Peserta Didik Laki Laki dan 8 Peserta Didik Perempuan. Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan Model siklus yang peneliti lakukan dalam 3 siklus. Pada siklus 1. Peneliti mengambil materi Binatang yang Halal dikonsumsi, di siklus kedua dengan materi Binatang yang Haram dikonsumsi dan di siklus yang ke 3 menggunakan materi Jual beli. Sumber data penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer adalah Peserta Didik kelas VI MIS Bustanut Tholabah Desa Mekar Jaya Kecamatan Jabung Kabupaten Lampung Timur yang terdiri dari 7 Peserta Didik Laki Laki dan 8 Peserta Didik Perempuan. Sumber data sekunder adalah data dari Kepala Madrasah dan administrasi MIS Bustanut Tholabah Desa Mekar Jaya Kec. Jabung Kab. Lampung Timur. Jenis data sekunder yang digunakan dalam penelitian ini adalah aktivitas, lokasi dan dokumentasi. Data dari hasil post tes dari perlakuan model pembelajaran Problem Based Learning (PBL) dibuat data skor hasil belajar dan analisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pra penelitian yang dilakukan meliputi kegiatan wawancara dengan Kepala Sekolah, wali kelas dan Peserta Didik serta kegiatan observasi di dalam kelas. Berdasarkan hasil kegiatan wawancara yang telah dilakukan dengan kepala sekolah, wali kelas dan Peserta Didik, diperoleh informasi sebagai berikut: Hasil belajar Peserta Didik kelas VII cukup baik namun tidak ada peningkatan yang signifikan di dalam mata pelajaran fiqih. Beberapa Peserta Didik menyukai mata pelajaran fiqih, tetapi sebagian Peserta Didik lainnya kurang senang dengan mata pelajaran fiqih. Sebaian besar Peserta Didik yang kurang senang dengan mata pelajaran fiqih berpendapat bahwa materi pada pelajaran fiqih membosankan. Kegiatan observasi pra penelitian tindakan kelas dilakukan dengan tujuan untuk mengamati proses pembelajaran fiqih di kelas. Kegiatan observasi ini dilakukan selama pengabdian di Madrasah ini oleh peneliti. Berdasarkan kegiatan pengamatan yang dilakukan, diketahui ternyata Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan pengamat masih menggunakan model pembelajaran yang terpusat pada guru . eacher centre. Hal tersebut menyebabkan sebagian besar Peserta Didik mengalami kejenuhan dalam belajar. Padahal, karakteristik sebagian besar Peserta Didik di kelas bersifat aktif. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus I Tahap Perencanaan Tahap perencanaan pada siklus ini dimulai dengan mengidentifikasi permasalahan yang terdapat disekolah. Kemudian menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang dilengkapi dengan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD). Kegiatan selanjutnya adalah menyiapkan soal test awal . dan soal test akhir . , membuat instrumen penelitian, membuat lembar observasi Peserta Didik, membuat lembar observasi guru, dan catatan lapangan. Pada tahap ini, peneliti ingin mengetahui apakah pembelajaran dengan menggunakan model problem based learning dalam proses pelaksanaannya mampu meningkatkan hasil belajar Peserta Didik. Tahap Pelaksanaan Siklus pertama ini dilaksanakan satu kali pertemuan. Pertemuan pertama yaitu mengerjakan soal test awal . yang diikuti 15 Peserta Didik guna untuk menyiapkan Peserta Didik dalam proses Setelah mengadakan pretest, dilanjutkan dengan membahas materi tentang Binatang yang Halal dikonsumsi. Sedangkan pelaksanaan posttest dilakukan pada akhir pertemuan. Langkahlangkah tindakan pada siklus I adalah sebagai berikut: Sintaks Problem Based Learning Siklus I Aktivitas Tahapan ini terlaksana dalam kegiatan inti berupa eksplorasi, yakni guru menjelaskan tentang model Problem Based Learning terhadap Peserta Didik. Guru memotivasi Peserta Didik agar ikut aktif dalam diskusi pemecahan masalah. Selain itu guru juga sudah menyiapkan LKPD contoh kasus yang harus dikerjakan setiap kelompok diskusi, serta lembar observasi aktifitas Peserta Didik selama mengikuti proses pembelajaran dengan model Problem Based Learning. Tahap 2 Di kegiatan inti berupa elaborasi, guru membagi Mengorganis Peserta Didik menjadi beberapa kelompok untuk Peserta mengorganisir Peserta Didik dalam proses diskusi. Didik untuk Tahap 3 Setelah LKPD contoh kasus telah dibagikan pada setiap Membimbing kelompok Peserta Didik, guru berkeliling mengamati penyelidikan setiap kelompok serta mempersilahkan Peserta Didik bertanya tentang soal diskusi yang kurang dimengerti. Tahapan Tahap 1 Mengorientas i Peserta Didik pada Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan kelompok Tahap 4 Mengembang kan dan Tahap 5 Menganalisis Peserta Didik dituntut untuk membuat laporan berupa jawaban-jawaban dari contoh kasus yang telah Dalam kegiatan inti yaitu konfirmasi, masing-masing mempresentasikan hasil diskusinya. Setelah semua kelompok mempresentasikan jawaban dari contoh kasus yang telah diberikan, guru beserta seluruh Peserta Didik bersama-sama menganalisis apakah jawaban yang telah dipresentasikan sudah Ketika ditemukan jawaban yang kurang pas atau salah guru meluruskan dan memberikan penjelasan materi agar Peserta Didik mengerti pemecahan masalah dari contoh kasus tersebut. Dengan begitu secara tidak langsung. Peserta Didik telah menerima materi pelajaran tanpa merasa bosan dengan guru yang hanya menerangkan materi saja. Tahap Pengamatan Hasil Observasi Aktifitas Guru Pengamatan dilakukan oleh observer (Kepala Madrasah dan Penelit. dengan mencatat seluruh keadaan di ruang kelas dengan berbagai aktifitas yang dilakukan guru selama proses pembelajaran yang telah direkam menggunakan kamera dalam bentuk video. Pada siklus I ini didapatkan rata-rata presentase 80%. Dokumentasi Aktivitas Guru Hasil Observasi Aktifitas Peserta Didik Pengamatan dilakukan oleh observer . uru bidang studi fiqi. dengan mencatat seluruh keadaan di ruang kelas dengan berbagai aktifitas yang dilakukan Peserta Didik selama proses Hasil observasi aktifitas Peserta Didik terlampir. Pada siklus I didapatkan rata-rata presentase 73%. Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan c. Catatan Lapangan Berdasarkan hasil catatan lapangan, aktifitas Peserta Didik masih didapatkan hasil yang kurang maksimal. Hal ini dikarenankan, belum mengerti serta belum terbiasa dengan model problem based learning. Wawancara Setelah selesai menerapkan model problem based learning pada siklus I, wawancara pun dilakukan dengan guru . Dari hasil wawancara didapatkan kesimpulan bahwa masih banyak kekurangan dalam pelaksanaan model problem based learning pada siklus I diantaranya Peserta Didik masih merasa bosan saat mengamati slide materi. Peserta Didik masih ada yang bercanda saat diskusi kelompok. Peserta Didik juga masih belum berani dalam memaparkan hasil diskusi kelompok. Hasil Belajar Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar dari aspek kognitif Peserta Didik pada siklus I dilakukan tes hasil belajar Peserta Didik. Adapun hasil dari tes hasil belajar Peserta Didik adalah sebagai berikut: Hasil Tes Hasil Belajar Peserta Didik pada Siklus I Pretest Posttest N-Gain Jumlah 13,875 Rata 61,67 0,925 Rata Pada siklus I, sebelum dilakukan tindakan mendapatkan skor ratarata 61,67. Namun skor rata-rata meningkat menjadi 74 setelah dilakukan tindakan. Untuk mengetahui tingkat efektifitas penerapan tindakan dalam penelitian tindakan kelas pada siklus I, maka data skor Peserta Didik di analisis dengan N-Gain. Dari selisih skor rata-rata pretest dan rata-rata posttest didapatkan nilai N-Gain sebesar 0,925 dengan kategori tinggi. Namun hasil posttest siklus I hanya mencapai 60% Peserta Didik yang mencapai KKM dan belum memenuhi indikator keberhasilan dimana 75% Peserta Didik harus mencapai nilai KKM. Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan Tahap Refleksi Berdasarkan analisis hasil observasi, catatan lapangan serta wawancara ditemukan beberapa kekurangan yang ada pada siklus I dan diperlukan tindak lanjut perbaikan pada siklus selanjutnya. Hal tersebut dijelaskan dalam bentuk tabel sebagai berikut: Kekurangan dan tindak lanjut perbaikan Siklus I Kekurangan Tindak lanjut Perbaikan Masih Peserta Guru memberikan Ice cooling untuk Didik yang mengantuk memberikan semangat kepada Peserta dalam proses pembelajaran Didik Peserta Didik belum Memberikan pengarahan di setiap memahami LKPD berbasis kelompok tentang LKPD berbasis Peserta Didik belum Guru memotivasi Peserta Didik memiliki kepercayaan diri dengan memberikan reward sebagai mempresentasikan penyemangat dalam menyampaikan hasil diskusi presentasi hasil diskusi Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus II Tahap Perencanaan Perencanaan pada siklus II ini diawali dengan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan dilengkapi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), untuk materi pada siklus II ini peneliti mengambil materi Binatang yang Haram. Kegiatan selanjutnya adalah mempersiapkan berbgai perangkat lain seperti Soal Pretest dan Soal Postest, membuat instrumen penelitian, lembar observasi peserta didik, lembar observasi guru, dan catatan lapangan. Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan siklus kedua ini sesuai dengan rencana yaitu satu kali pertemuan dengan mengadakan soal pretest yang diikuti 15 Peserta Didik untuk mengetahui potensi awal peserta didik kemudian dilanjutkan dengan membahas materi tentang Binatang yang Haram lalu mengadakan kegiatan diskusi kelompok, sedangkan postest dilakukan diakhir pertemuan. Tabel Sintaks Problem Based Learning Siklus II Tahapan Aktivitas Tahap 1 Tahapan ini terlaksana dalam kegiatan inti Mengorientasi berupa eksplorasi, yakni guru menjelaskan Peserta Didik tentang model Problem Based Learning pada masalah terhadap Peserta Didik. Guru memotivasi Peserta Didik agar ikut aktif dalam diskusi pemecahan masalah. Selain itu guru juga sudah menyiapkan LKPD contoh kasus yang harus dikerjakan setiap kelompok diskusi, serta lembar observasi aktifitas Peserta Didik selama Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan Tahap 2 Mengorganisasi Peserta Didik untuk belajar Tahap 3 Membimbing individu maupun Tahap 4 Mengembangkan dan menyajikan mengikuti proses pembelajaran dengan model Problem Based Learning. Di kegiatan inti berupa elaborasi, guru membagi Peserta Didik menjadi beberapa kelompok untuk mengorganisir Peserta Didik dalam proses diskusi. Setelah LKPD contoh kasus telah dibagikan pada setiap kelompok Peserta Didik, guru berkeliling mengamati setiap kelompok serta mempersilahkan Peserta Didik bertanya tentang soal diskusi yang kurang dimengerti. Peserta Didik dituntut untuk membuat laporan berupa jawaban-jawaban dari contoh kasus yang telah diberikan. Dalam kegiatan inti yaitu konfirmasi, masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Tahap Pengamatan Hasil Observasi Aktifitas Guru Pada siklus II ini didapat kan hasil presentase 85%, hal ini manggambarkan bahwa kesesuaian cara mengajar guru dalam menggunakan model Problem Based Learning pada proses pembelajaran masuk ke dalam kategori sangat baik. Hasil Observasi Aktivitas Peserta didik Pada siklus II ini didapatkan hasil presentase 77%. Hal tersebut menunjukkan kesesuaian cara mengajar guru dalam menerapkan model problem based learning pada proses pembelajaran dengan kategori sangat baik. Ada beberapa peningkatan yang signifikan dari siklus I di siklus ke II ini meskipun ada beberapa peserta didik yang masih belum memahami secara kompleks tentang model Problem based learning Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan c. Catatan Lapangan Berdasarkan hasil catatan lapangan aktifitas Peserta Didik sudah jauh meningkat, tampaknya mereka sudah mulai mengerti dan terbiasa dengan model problem based learning, meskipun ada beberapa peserta didik yang masih kurang aktif dalam berdiskusi. Wawancara Dari hasil wawancara didapatkan kesimpulan bahwa pembelajaran fiqih dengan model problem based learning sudah berjalan dengan baik. Meskipun beberapa kendala masih terlihat dari antusias beberapa peserta didik yang belum muncul. Hasil Belajar Adapun hasil dari tes hasil belajar Peserta Didik adalah sebagai berikut: Tabel Hasil Tes Hasil Belajar Peserta Didik pada Siklus II Pretest Posttest N-Gain Jumlah 9,992475 Rata Rata 68,33 73,66 0,666165 Pada siklus II, sebelum dilakukan tindakan mendapatkan skor ratarata 68,33. Namun skor rata-rata meningkat menjadi 73,66 setelah dilakukan tindakan. Dari selisih skor rata-rata pretest dan rata-rata posttest didapatkan nilai N-Gain sebesar 0,666165 dengan kategori sedang. Tes posttest siklus II telah mencapai keberhasilan sebesar 70% Peserta Didik yang mencapai KKM berarti belum memenuhi indikator keberhasilan sebesar 75%. Tahap Refleksi Berdasarkan analisis hasil observasi, catatan lapangan serta wawancara peran guru pada pembelajaran siklus II ini benar-benar tidak mendominasi kelas seperti pada siklus I. Waktu banyak diberikan untuk Peserta Didik terlibat langsung dalam pembelajaran. Peserta Didik tampak lebih bersemangat dalam mengikuti pembelajaran karena termotivasi dengan masalah kehidupan sehari-hari pada materi Binatang Haram. Peserta Didik juga sudah mulai serius dan fokus dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu Peserta Didik sudah berani untuk tampil di depan kelas memaparkan hasil diskusi kelompok. Meskipun ada beberapa peserta didik yang masih belum sepenuhnya aktif dalam berdiskusi. Deskripsi Tindakan Pembelajaran Siklus i Tahap Perencanaan Perencanaan pada siklus i ini diawali dengan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan dilengkapi Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), untuk materi pada siklus i ini peneliti mengambil materi Jual Beli. Kegiatan selanjutnya adalah mempersiapkan berbagai perangkat lain seperti Soal Pretest dan Soal Postest, membuat instrumen penelitian, lembar observasi peserta didik, lembar observasi guru, dan catatan lapangan. Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan Tahap Pelaksanaan Pelaksanaan siklus i ini sesuai dengan rencana yaitu satu kali pertemuan dengan mengadakan soal pretest yang diikuti 15 Peserta Didik untuk mengetahui potensi awal peserta didik kemudian dilanjutkan dengan membahas materi tentang Jual Beli lalu mengadakan kegiatan diskusi kelompok, sedangkan postest dilakukan diakhir pertemuan. Langkah-langkah tindakan pada siklus i disajikan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) terlampir Tabel Sintaks Problem Based Learning Siklus i Tahapan Aktivitas Tahap 1 Tahapan ini terlaksana dalam kegiatan inti Mengorientasi berupa eksplorasi, yakni guru menjelaskan Peserta Didik pada tentang model Problem Based Learning terhadap Peserta Didik. Guru memotivasi Peserta Didik agar ikut aktif dalam diskusi pemecahan masalah. Selain itu guru juga sudah menyiapkan LKPD contoh kasus yang harus dikerjakan setiap kelompok diskusi, serta lembar observasi aktifitas Peserta Didik selama mengikuti proses pembelajaran dengan model Problem Based Learning. Tahap 2 Di kegiatan inti berupa elaborasi, guru membagi Mengorganisasi Peserta Didik menjadi beberapa kelompok Peserta Didik untuk untuk mengorganisir Peserta Didik dalam proses diskusi. Tahap 3 Setelah LKPD contoh kasus telah dibagikan Membimbing pada setiap kelompok Peserta Didik, guru berkeliling mengamati setiap kelompok serta individu maupun mempersilahkan Peserta Didik bertanya tentang soal diskusi yang kurang dimengerti. Tahap 4 Peserta Didik dituntut untuk membuat laporan Mengembangkan berupa jawaban-jawaban dari contoh kasus dan menyajikan yang telah diberikan. Dalam kegiatan inti yaitu konfirmasi, masing-masing kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya. Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan Tahap 5 Menganalisis dan proses pemecahan Setelah semua kelompok mempresentasikan jawaban dari contoh kasus yang telah diberikan, guru beserta seluruh Peserta Didik bersamasama menganalisis apakah jawaban yang telah dipresentasikan sudah benar. Ketika ditemukan jawaban yang kurang pas atau salah guru meluruskan dan memberikan penjelasan materi agar Peserta Didik mengerti pemecahan masalah dari contoh kasus tersebut. Dengan begitu secara tidak langsung. Peserta Didik telah menerima materi pelajaran tanpa merasa bosan dengan guru yang hanya menerangkan materi saja. Tahap Pengamatan Hasil Observasi Aktifitas Guru Pada siklus i ini didapat kan hasil presentase 90%, hal ini manggambarkan bahwa kesesuaian cara mengajar guru dalam menggunakan model Problem Based Learning pada proses pembelajaran masuk ke dalam kategori sangat baik. Hasil Observasi Aktivitas Peserta didik Pada siklus II ini didapatkan hasil presentase 90%. Hal tersebut menunjukkan kesesuaian cara mengajar guru dalam menerapkan model problem based learning pada proses pembelajaran dengan kategori sangat baik. Ada beberapa peningkatan yang signifikan dari siklus I dan II, di siklus ke i ini hanya 1 peserta didik yang masih sedikit bingung tentang model Problem based learning ini. Namun peneliti yakin akan memahami dengan keterbiasaan dalam keseharian. Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan h. Catatan Lapangan Berdasarkan hasil catatan lapangan aktifitas Peserta Didik sudah jauh meningkat, tampaknya mereka sudah mulai mengerti dan terbiasa dengan model problem based learning, ada 3 peserta didik yang masih kurang aktif dalam berdiskusi. Wawancara Dari hasil wawancara didapatkan kesimpulan bahwa pembelajaran fiqih dengan model problem based learning berjalan dengan sangat baik. Terbukti antusiasme peserta didik dalam mengikuti setiap proses pembelajaran. Hasil Belajar Adapun hasil dari tes hasil belajar Peserta Didik adalah sebagai berikut: Tabel Hasil Tes Hasil Belajar Peserta Didik pada Siklus i Pretest Posttest N-Gain Jumlah 37,48875 Rata Rata 68,33 2,4992 Pada siklus i, sebelum dilakukan tindakan mendapatkan skor ratarata 68,33. Namun skor rata-rata meningkat menjadi 85 setelah dilakukan tindakan. Dari selisih skor rata-rata pretest dan rata-rata posttest didapatkan nilai N-Gain sebesar 2,4992 dengan kategori tinggi. Tes posttest siklus i telah mencapai keberhasilan sebesar 80% Peserta Didik yang mencapai KKM berarti melampaui indikator keberhasilan sebesar 75%. 20% dari 15 peserta didik tidak mencapai KKM. Tahap Refleksi Berdasarkan analisis hasil observasi, catatan lapangan serta wawancara peran guru pada pembelajaran siklus i ini sudah tidak mendominasi kelas seperti pada siklus I dan II. Waktu digunakan oleh guru dan peserta didik melakukan pembelajaran secara Peserta Didik sangat bersemangat, serius dan fokus dalam mengikuti pembelajaran. Selain itu Peserta Didik sangat antusias untuk tampil di depan kelas memaparkan hasil diskusi kelompok. Ini yang sangat diharapkan oleh kami, peneliti dan observer. Analisis Data dan Pembahasan Setelah menerapkan model problem based learning (PBL) pada pelajaran Fiqih, hasil belajar fiqih siswa meningkat. Pada siklus I terjadi Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan peningkatan nilai rata-rata dari pretest 61,67 menjadi 74 nilai rata-rata Pada hasil belajar kognitif siklus I, jumlah siswa yang mencapai nilai KKM yaitu sebanyak 9 siswa dan jumlah siswa yang tidak mencapai KKM sebanyak 6 siswa. Skor N-gain yang didapatkan pada siklus I sebesar 0,925 dengan kategori tinggi. Pada siklus II peningkatan nilai rata-rata pretest 68,33 menjadi 73,66 nilai rata rata posttest. Siswa yang mencapai KKM pada siklus II yaitu 10 siswa dan 5 siswa yang tidak mencapai KKM. Skor N-gain dari siklus I ke siklus II menunjukkan bahwa terjadi penurunan hasil belajar dengan skor N-gain di siklus I 0,925 sedangkan menjadi 0,666165 dengan kategori sedang untuk siklus II. Pada siklus i peningkatan nilai rata rata pretest 68,33 menjadi 85 nilai rata rata posttest. Siswa yang mencapai KKM adalah 12 siswa dan 3 siswa belum mencapai KKM. Skor N-Gain dari siklus II. II, dan i menunjukkan kenaikan hasil belajar dengan skor 0,925 di siklus I, kemudian turun menjadi 0,666165 di siklus II dan naik drastis menjadi 2,4992 di siklus ke i dengan kategori sangat baik. N-Gain Nilai Rata Rata Pretest Nilai Rata Rata Posttest Pencapaian KKM Siklus 3 Siklus 2 Siklus 1 Diagram Persentase Hasil Belajar Siswa Aktifitas siswa dihasilkan rata-rata keterlaksanaan langkah-langkah problem based learning dari siklus I dan siklus II dan siklus i yaitu dari kategori cukup . %) menjadi baik . %) dan meningkat menjadi sangat baik . %) Siklus 3 Aktifitas Aktifitas Siswa Guru Siklus 1 Hasil Belajar Siklus 1 Siklus 2 Siklus 3 Diagram menunjukan adanya hasil presentase kegiatan guru yang diperoleh pada siklus I dengan menerapkan model problem based learning sebesar 80 % dengan kategori sangat baik, sedangkan hasil persentase kegiatan guru yang diperoleh pada siklus II sebesar 85% dan pada siklus i menjadi 90%. Hal ini menunjukkan bahwa adanya peningkatan kegiatan guru pada siklus I . II dan i dalam menerapkan model problem based Bila dianalisis setiap aspeknya, maka tiap-tiap aspek telah menunjukkan peningkatan dari siklus pertama ke siklus kedua dan pada siklus ketiga, dan pada siklus ketiga semua aspek telah menunjukkan kategori baik. Hal ini berarti siswa telah mengalami perubahan dalam belajar dan memahami suatu konsep dengan baik pula. Al-Wildan: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Vol. 01 No. : 99-113 Available online at http://journal. com/index. php/alwildan Dari penjelasan di atas, menunjukkan bahwa penerapan model problem based learning memberikan kesempatan kepada siswa untuk terlibat langsung, aktif, mandiri, kreatif, berpikir kritis selama pembelajaran serta pembentukan suatu konsep yang real dan sistematis. Sehingga pembelajaran mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan dan meningkatkan hasil belajar siswa. Oleh karena itu, melalui model problem based learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada mata pelajaran KESIMPULAN Problem Based Learning adalah sebuah model pembelajaran yang memanfaatkan masalah yang nyata, dengan tujuan mempersiapkan dan membiasakan siswa menghadapi masalah yang akan dihadapi dalam Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah diuraikan dapat disimpulkan penerapan model problem based learning pada pelajaran Fiqih dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas VI MIS Bustanut Tholabah Desa Mekar Jaya Kecamatan Jabung Kab. Lampung Timur. Dengan demikian penerapan model problem based learning dianggap berhasil dalam meningkatkan hasil belajar siswa dalam Mata pelajaran Fikih, sehingga penelitian ini tidak perlu dilanjutkan ke siklus berikutnya. beberapa hal yang bisa disimpulkan berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah diuraikan adalah Problem based learning dapat digunakan untuk meningkatkan aktivitas belajar peserta didik pada mata pelajaran fiqih serta meningkatkan hasil belajar peserta didik. Agar pelaksanaan model problem based learning dapat mencapai hasil yang optimal terdapat beberapa hal penting yang harus diperhatikan, seperti Penggunaan Media Video dan PPT Interaktif mendukung model ini, kaitkan isu isu terbaru dalam kehidupan nyata. Ajak siswa mengenali permasalahan disekitar dan pengembangan model ini sedikit membutuhkan waktu yang relatif lama. DAFTAR PUSTAKA