Jurnal Semeru Vol. No. November 2025 Tahun E-ISSN: 3047-6518 Halaman:262-270 Dari Bertahan Hidup Ke Hidup Bermakna: Potret Transformasi Kualitas Hidup Masyarakat Dusun Kemendung Desa Penanggungan. Kecamatan Trawas. Kabupaten Mojokerto Enny Istanti. Indi Nuroini. Universitas Bhayangkara Surabaya e-mail: . ennyistanti@ubhara. id, . indi@ubhara. ABSTRACT This research aims to photograph and deeply understand the transformation of the quality of life of the people of Kemendung Hamlet. Penanggungan Village. Trawas District. Mojokerto Regency, from a survival condition to a more meaningful life. This phenomenon is important to study because the quality of life of rural communities is not only determined by material aspects, but also by subjective experiences, social relations, and community participation. This research uses a descriptive qualitative approach with phenomenological and participatory design to explore the meaning and life experiences of the Data was collected through in-depth interviews. Focus Group Discussions (FGD. , and participatory observations of 12 informants consisting of hamlet residents, community leaders, and parties involved in educational and social activities. The results of the study show that there is a shift in the meaning of quality of life which is characterized by increased self-awareness, social participation, a sense of togetherness, and the growth of the meaning of life through non-formal educational activities, local-based creativity, and collective social activities. These findings reveal that the quality of life of the community is a social construction formed through life experiences and community relations, not solely the result of meeting economic needs. This research contributes theoretically by strengthening a qualitative approach in the study of experiential quality of life and relational well-being. Practically, the findings of the research provide implications for the formulation of policies and programs for empowering rural communities that are more participatory, contextual, and oriented towards strengthening social capacity. Further research is suggested to examine the sustainability of quality of life transformation in the context of other villages with a longitudinal approach. Keywords: Quality of life. social transformation. community empowerment. Kemendung village ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk memotret dan memahami secara mendalam transformasi kualitas hidup masyarakat Dusun Kemendung. Desa Penanggungan. Kecamatan Trawas. Kabupaten Mojokerto, dari kondisi bertahan hidup menuju kehidupan yang lebih bermakna. Fenomena ini penting dikaji karena kualitas hidup masyarakat desa tidak hanya ditentukan oleh aspek material, tetapi juga oleh pengalaman subjektif, relasi sosial, serta partisipasi komunitas. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain fenomenologis dan partisipatif untuk menggali makna dan pengalaman hidup Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam. Focus Group Discussion (FGD), dan observasi partisipatif terhadap 12 informan yang terdiri atas warga dusun, tokoh masyarakat, dan pihak yang terlibat dalam kegiatan edukasi dan sosial. Hasil penelitian menunjukkan adanya pergeseran makna kualitas hidup yang ditandai oleh meningkatnya kesadaran diri, partisipasi sosial, rasa kebersamaan, serta tumbuhnya makna hidup melalui kegiatan edukasi nonformal, kreativitas berbasis lokal, dan aktivitas sosial kolektif. Temuan ini mengungkap bahwa kualitas hidup masyarakat merupakan konstruksi sosial yang dibentuk melalui pengalaman hidup dan relasi komunitas, bukan semata-mata hasil pemenuhan kebutuhan ekonomi. Penelitian ini berkontribusi secara teoretis dengan memperkuat pendekatan Jurnal Semeru : https://ejournal. id/semeru Doi: https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. November 2025 Tahun E-ISSN: 3047-6518 Halaman:262-270 kualitatif dalam kajian kualitas hidup berbasis pengalaman dan kesejahteraan relasional. Secara praktis, temuan penelitian memberikan implikasi bagi perumusan kebijakan dan program pemberdayaan masyarakat desa yang lebih partisipatif, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan kapasitas sosial. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengkaji keberlanjutan transformasi kualitas hidup dalam konteks desa lain dengan pendekatan longitudinal. Kata Kunci : Kualitas hidup. transformasi sosial. pemberdayaan masyarakat. Kemendung PENDAHULUAN Kualitas hidup masyarakat merupakan konsep multidimensional yang terus mengalami pergeseran makna seiring berkembangnya paradigma pembangunan global Pada fase awal, kualitas hidup umumnya dipahami secara sempit melalui indikator-indikator objektif yang bersifat material dan terukur, seperti tingkat pendapatan, kondisi kesehatan, pemenuhan kebutuhan dasar, serta akses terhadap layanan publik. Pendekatan ini menempatkan kesejahteraan sebagai hasil akhir pembangunan yang dapat diukur secara kuantitatif. Namun, perkembangan kajian mutakhir dalam ilmu sosial dan pembangunan menunjukkan bahwa pendekatan tersebut belum mampu menangkap kompleksitas pengalaman hidup manusia secara utuh. Kualitas hidup tidak hanya berkaitan dengan apa yang dimiliki individu atau kelompok, tetapi juga dengan bagaimana mereka merasakan, memaknai, dan menjalani kehidupannya dalam konteks sosial dan kultural tertentu. Seiring dengan itu, perspektif kontemporer menegaskan bahwa kualitas hidup mencakup dimensi subjektif yang bersifat psikososial, seperti rasa bermakna dalam hidup, kebahagiaan, kepuasan hidup, kualitas relasi sosial, tingkat partisipasi dalam kehidupan komunitas, serta kemampuan individu dan kelompok untuk mengambil peran aktif dalam menentukan arah dan tujuan hidupnya. Dimensidimensi tersebut menekankan pentingnya pengalaman hidup . ived experienc. dan agensi manusia dalam proses pembangunan. Dengan demikian, kualitas hidup dipahami sebagai proses dinamis yang dibentuk melalui interaksi antara individu, komunitas, dan lingkungan sosialnya, bukan sekadar akumulasi capaian material semata. Pergeseran paradigma ini membawa implikasi penting dalam memahami pembangunan, di mana manusia tidak lagi diposisikan sebagai objek atau penerima pasif kebijakan, melainkan sebagai subjek aktif yang memiliki pengalaman, nilai, aspirasi, dan pengetahuan lokal. Pengalaman-pengalaman tersebut sering kali tidak dapat sepenuhnya direpresentasikan oleh angka statistik atau indikator kuantitatif, karena mengandung makna, emosi, dan konteks sosial yang kompleks. Oleh karena itu, pemahaman kualitas hidup menuntut pendekatan yang lebih interpretatif dan kontekstual, yang mampu menggali suara, pengalaman, serta cara masyarakat memaknai kehidupannya sendiri (Diener et al. , 2. Dalam konteks nasional Indonesia, isu kualitas hidup masih menjadi tantangan serius, terutama di wilayah perdesaan yang menghadapi keterbatasan struktural dan sosial. Meskipun berbagai program pembangunan desa telah diluncurkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat, implementasi di lapangan sering kali belum menyentuh dimensi psikososial dan kultural kehidupan warga. Banyak masyarakat desa masih berada dalam kondisi bertahan hidup . , di mana fokus utama kehidupan sehari-hari adalah pemenuhan kebutuhan dasar, sementara ruang untuk aktualisasi diri, pengembangan kreativitas, dan pencarian makna hidup relatif terbatas. Berbagai temuan empiris berbasis laporan lapangan, observasi sosial, dan wawancara komunitas menunjukkan bahwa rendahnya kualitas hidup di desa tidak semata-mata disebabkan oleh kemiskinan Faktor-faktor seperti keterbatasan akses pendidikan nonformal, rendahnya kepercayaan diri kolektif, lemahnya jaringan sosial, serta minimnya ruang partisipasi warga turut membentuk pengalaman hidup masyarakat desa. Studi-studi kualitatif menegaskan bahwa perasaan tidak berdaya dan terpinggirkan sering kali lebih dirasakan dibandingkan kekurangan materi itu sendiri (White, 2. Dusun Kemendung. Desa Penanggungan. Kecamatan Trawas. Kabupaten Mojokerto, merefleksikan dinamika tersebut secara nyata. Berdasarkan pengamatan awal dan interaksi langsung Jurnal Semeru : https://ejournal. id/semeru Doi: https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. November 2025 Tahun E-ISSN: 3047-6518 Halaman:262-270 dengan warga, kehidupan masyarakat Dusun Kemendung dalam waktu yang cukup lama diwarnai oleh pola bertahan hidup akibat keterbatasan ekonomi dan kesempatan. Namun demikian, dalam beberapa tahun terakhir mulai tampak munculnya praktik-praktik sosial berbasis edukasi, kreativitas, dan kegiatan kolektif yang secara perlahan mengubah cara masyarakat memandang diri mereka sendiri, komunitasnya, dan masa depan yang ingin mereka bangun. Dari perspektif sosial dan budaya, perubahan kualitas hidup masyarakat desa tidak dapat dilepaskan dari proses pemaknaan bersama yang dibangun melalui interaksi sosial. Kualitas hidup bukan sekadar hasil dari intervensi program, tetapi merupakan proses sosial yang terbentuk melalui pengalaman hidup, nilai-nilai lokal, dan praktik keseharian masyarakat. Pendekatan kualitatif menjadi sangat relevan untuk memahami bagaimana warga Dusun Kemendung menafsirkan perubahan yang mereka alami, bagaimana edukasi dan kreativitas dipraktikkan dalam konteks lokal, serta bagaimana aktivitas sosial memperkuat rasa kebersamaan dan kebermaknaan hidup (Creswell & Poth, 2. Namun, kajian mengenai kualitas hidup masyarakat hingga kini masih didominasi oleh pendekatan kuantitatif yang menitikberatkan pada pengukuran indikator objektif. Pendekatan tersebut cenderung mengabaikan pengalaman subjektif dan suara masyarakat sebagai aktor utama pembangunan. Akibatnya, banyak studi belum mampu menjelaskan bagaimana masyarakat secara nyata mengalami perubahan kualitas hidup, bagaimana mereka memaknai pergeseran dari bertahan hidup menuju hidup yang lebih bermakna, serta bagaimana proses sosial tersebut berlangsung dalam kehidupan sehari-hari. Literature gap dalam penelitian ini terletak pada minimnya studi kualitatif yang secara eksplisit mengeksplorasi transformasi kualitas hidup masyarakat desa sebagai proses pengalaman hidup . ived Penelitian sebelumnya lebih banyak berfokus pada hasil akhir pembangunan, bukan pada perjalanan sosial dan kultural yang dialami masyarakat. Padahal, pemahaman tentang proses transformasi tersebut sangat penting untuk merumuskan pendekatan pemberdayaan yang lebih kontekstual, berkelanjutan, dan berpihak pada masyarakat. Pendekatan kualitatif dalam penelitian ini digunakan untuk menggali secara mendalam dinamika sosial, makna, dan pengalaman masyarakat Dusun Kemendung. Melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan penelusuran narasi warga, penelitian ini berupaya memahami bagaimana masyarakat membangun kesadaran baru tentang kualitas hidup, bagaimana edukasi dan kreativitas menjadi sarana transformasi, serta bagaimana kegiatan sosial memperkuat kohesi komunitas. Pendekatan interpretatif dan konstruktivis menjadi landasan utama dalam memahami realitas sosial yang bersifat kompleks dan kontekstual (Matthew B Miles et al. , 2. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memotret dan menganalisis secara mendalam proses transformasi kualitas hidup masyarakat Dusun Kemendung dari kondisi bertahan hidup menuju hidup yang lebih bermakna. Fokus kajian diarahkan pada pengalaman masyarakat dalam mengikuti kegiatan edukasi, mengembangkan kreativitas lokal, serta membangun solidaritas sosial sebagai fondasi pemberdayaan masyarakat berbasis komunitas. Secara teoretis, penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian kualitas hidup dan pembangunan masyarakat dengan perspektif kualitatif yang menekankan makna, pengalaman, dan proses Secara praktis, temuan penelitian ini diharapkan memberikan kontribusi bagi akademisi, praktisi pemberdayaan, dan pembuat kebijakan dalam merancang program pembangunan desa yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kesejahteraan material, tetapi juga pada pembentukan kehidupan yang bermakna, berdaya, dan berkelanjutan bagi masyarakat desa. TEORI Konsep Kualitas Hidup dan Makna Hidup Kualitas hidup dalam kajian sosial kontemporer dipahami sebagai konsep multidimensional yang melampaui indikator objektif seperti pendapatan, kesehatan, dan pendidikan. Perspektif mutakhir menekankan bahwa kualitas hidup juga mencakup dimensi subjektif, seperti kesejahteraan psikologis, relasi sosial, rasa bermakna, partisipasi komunitas, serta kemampuan individu dan kelompok dalam Jurnal Semeru : https://ejournal. id/semeru Doi: https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. November 2025 Tahun E-ISSN: 3047-6518 Halaman:262-270 menentukan arah hidupnya. Diener et al. , . menegaskan bahwa subjective well-being merupakan elemen kunci dalam memahami kualitas hidup karena berakar pada pengalaman dan penilaian individu terhadap kehidupannya sendiri. Dalam konteks masyarakat desa, pendekatan ini menjadi relevan karena kualitas hidup sering kali dimaknai melalui kebersamaan sosial, nilai budaya lokal, dan rasa memiliki terhadap komunitas. White, . melalui konsep relational wellbeing menekankan bahwa kesejahteraan tidak dapat dilepaskan dari relasi sosial dan konteks komunitas, sehingga pemahaman kualitas hidup harus dibaca sebagai proses sosial yang dialami dan dinegosiasikan secara kolektif. Oleh karena itu, pendekatan kualitatif menjadi krusial untuk menggali pengalaman hidup . ived experienc. masyarakat dalam memahami pergeseran dari kondisi bertahan hidup menuju hidup yang lebih 2 Transformasi Sosial. Pemberdayaan Masyarakat, dan Kesenjangan Studi Transformasi kualitas hidup masyarakat desa tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses sosial yang melibatkan edukasi, kreativitas, dan aktivitas sosial berbasis komunitas. Teori pemberdayaan masyarakat menempatkan warga sebagai subjek aktif perubahan yang memiliki kapasitas untuk merefleksikan pengalaman, membangun kesadaran kritis, dan menciptakan perubahan bermakna dalam kehidupannya (Perkins & Zimmerman, 1. Penelitian-penelitian terdahulu menunjukkan bahwa pendekatan berbasis partisipasi dan pembelajaran sosial mampu meningkatkan rasa berdaya dan makna hidup masyarakat (Suryani & Agung, 2021. UNDP, 2. Namun demikian, sebagian besar studi masih berfokus pada capaian material atau keberhasilan program, sementara makna subjektif, pengalaman transformasi, dan proses sosial yang dialami masyarakat desa relatif kurang dieksplorasi secara mendalam. Kesenjangan teoretis inilah yang ingin diisi oleh penelitian ini, yaitu dengan memotret transformasi kualitas hidup masyarakat Dusun Kemendung melalui perspektif pengalaman, pemaknaan, dan dinamika sosial warga. Dengan demikian, kerangka konseptual penelitian ini berpijak pada integrasi teori kualitas hidup subjektif, relational wellbeing, dan pemberdayaan masyarakat sebagai dasar analisis Gambar 1 Diagram Alur Metode Pelaksanaan Kegiatan Tahap 1 koordinasi & identifikasi Tahap awal berfungsi sebagai fondasi pelaksanaan. Kegiatan dimulai dengan menjalin komunikasi formal dan informal dengan perangkat desa serta pihak komunitas sasaran untuk: . menyamakan persepsi tentang masalah utama, . menyepakati tujuan kegiatan, . menetapkan sasaran/kelompok prioritas, dan . membangun komitmen bersama agar program berjalan efektif. Output tahap ini biasanya berupa kesepakatan awal, jadwal kegiatan, serta daftar calon peserta/informan Tahap 2 pemetaan kebutuhan & potensi Tahap ini menekankan pendekatan partisipatif, yaitu menggali kondisi nyata di lapangan berdasarkan suara peserta/masyarakat. Pemetaan dilakukan melalui wawancara mendalam dan fgd untuk memahami: hambatan yang dihadapi, potensi lokal yang dapat dioptimalkan, tingkat kesiapan, serta peluang pengembangan. Tahap ini penting agar intervensi tidak Autop-downAy, tetapi benar-benar sesuai kebutuhan dan konteks lokal. Outputnya berupa peta masalahAepotensi dan prioritas kebutuhan. Tahap 3 penyusunan strategi Berdasarkan hasil pemetaan, disusun strategi program yang lebih operasional: tujuan spesifik, materi/agenda, metode pelaksanaan, pembagian peran, serta indikator keberhasilan. Inti tahap ini adalah co-design: masyarakat/peserta dilibatkan sebagai subjek aktif dalam perencanaan sehingga strategi yang Jurnal Semeru : https://ejournal. id/semeru Doi: https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. November 2025 Tahun E-ISSN: 3047-6518 Halaman:262-270 muncul lebih realistis dan dimiliki bersama. Outputnya berupa rancangan strategi/roadmap kegiatan yang siap dijalankan. Tahap 4 pelatihan & pendampingan Tahap implementasi dilakukan melalui pelatihan yang bersifat praktis dan aplikatif, dilanjutkan pendampingan agar peserta mampu menerapkan hasil pelatihan. Kegiatan bisa mencakup pengenalan platform/alat, praktik penggunaan, pembuatan konten atau prosedur kerja, serta coaching saat penerapan di lapangan. Pendampingan memastikan perubahan tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi menjadi keterampilan dan kebiasaan baru. Outputnya berupa peningkatan kompetensi dan bukti penerapan . ontoh: akun/produk/konten/prosedur yang digunaka. Tahap 5 evaluasi & tindak lanjut Tahap akhir memastikan program terukur dan berkelanjutan. Evaluasi dilakukan melalui monitoring keterlibatan peserta, refleksi hasil kegiatan, serta pengukuran perubahan perilaku/kemampuan menggunakan instrumen ringan seperti kuesioner singkat dan wawancara reflektif. Setelah evaluasi, disusun rencana tindak lanjut bersama perangkat desa/komunitas . isalnya jadwal pendampingan lanjutan, pembentukan tim lokal, atau agenda ruti. Output tahap ini adalah laporan evaluasi, pembelajaran . esson learne. , dan rencana keberlanjutan. METODE Penelitian dilaksanakan di Dusun Kemendung. Desa Penanggungan. Kecamatan Trawas. Kabupaten Mojokerto, dengan waktu pelaksanaan antara November Ae Desember 2025. Lokasi ini dipilih secara purposif karena menunjukkan dinamika sosial yang relevan dengan fokus penelitian, yakni adanya upaya transformasi kualitas hidup masyarakat melalui edukasi, kreativitas, dan kegiatan sosial berbasis Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan tujuan untuk menggambarkan dan memahami secara mendalam proses transformasi kualitas hidup masyarakat dari kondisi bertahan hidup menuju hidup yang lebih bermakna. Pendekatan kualitatif dipilih karena penelitian ini berfokus pada penggalian makna, pengalaman hidup, serta proses sosial yang dialami masyarakat Dusun Kemendung dalam konteks edukasi, kreativitas, dan kegiatan sosial berbasis Penelitian ini tidak bertujuan menguji hipotesis, melainkan menelusuri realitas sosial sebagaimana dipersepsikan dan dialami langsung oleh masyarakat. Desain penelitian disusun dengan mempertimbangkan konteks lokal, nilai-nilai sosial budaya desa, serta keterlibatan aktif masyarakat sebagai subjek utama penelitian. Oleh karena itu, pendekatan fenomenologi dan partisipatif digunakan untuk memahami realitas transformasi kualitas hidup dari sudut pandang warga itu sendiri (Creswell & Poth, 2. Sumber Data Sumber data utama dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh langsung dari masyarakat Dusun Kemendung, tokoh masyarakat, serta fasilitator atau pihak yang terlibat dalam kegiatan edukasi dan sosial di dusun tersebut. Data sekunder digunakan sebagai pelengkap, meliputi profil desa, dokumen kegiatan sosial, laporan program pemberdayaan, serta literatur yang relevan terkait kualitas hidup dan pemberdayaan masyarakat. Fokus utama data adalah narasi, pengalaman, persepsi, dan refleksi warga mengenai perubahan kualitas hidup yang mereka rasakan. Keunikan konteks lokal menjadi kekuatan utama data yang dikumpulkan, sejalan dengan prinsip penelitian kualitatif yang menempatkan konteks sebagai bagian integral dari data (M. Miles et al. , 2. Oleh karena itu, triangulasi data diterapkan untuk menjaga validitas informasi (Indi Nuroini, 2. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data meliputi wawancara mendalam. Focus Group Discussion (FGD), dan observasi partisipatif. Wawancara dilakukan secara semi-terstruktur untuk menggali pengalaman hidup, pemaknaan kualitas hidup, serta persepsi masyarakat terhadap perubahan sosial yang terjadi. FGD dilaksanakan bersama kelompok warga dan tokoh lokal untuk mendalami pengalaman kolektif, nilai kebersamaan, serta dinamika sosial yang berkembang dalam komunitas. Observasi partisipatif dilakukan Jurnal Semeru : https://ejournal. id/semeru Doi: https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. November 2025 Tahun E-ISSN: 3047-6518 Halaman:262-270 selama kegiatan edukasi, kreativitas, dan aktivitas sosial berlangsung untuk mengamati interaksi sosial, partisipasi warga, serta praktik keseharian masyarakat. Peneliti juga mencatat dinamika komunikasi dan relasi sosial antar warga selama proses penelitian. Kombinasi teknik ini memungkinkan peneliti memperoleh gambaran yang holistik dan mendalam mengenai fenomena yang diteliti. Subjek Penelitian Subjek penelitian adalah masyarakat Dusun Kemendung yang berdomisili dan terlibat aktif dalam kehidupan sosial komunitas. Kriteria pemilihan subjek meliputi: . berdomisili di Dusun Kemendung minimal lima tahun. terlibat atau terdampak langsung oleh kegiatan edukasi, kreativitas, atau kegiatan sosial. bersedia merefleksikan pengalaman hidupnya secara terbuka. Teknik pemilihan informan dilakukan menggunakan purposive sampling, dengan mempertimbangkan relevansi pengalaman informan terhadap fokus penelitian (Patton, 2. Untuk memperkaya data, snowball sampling digunakan guna menjaring informan tambahan berdasarkan rekomendasi informan awal. Sebanyak 12 informan dipilih untuk wawancara mendalam, serta dua sesi FGD dilakukan dengan melibatkan 6Ae8 peserta pada setiap sesi. Prosedur Pelaksanaan Penelitian Prosedur penelitian dimulai dengan koordinasi dan identifikasi awal, dilanjutkan dengan pemetaan sosial, pelaksanaan wawancara dan FGD, serta observasi partisipatif selama kegiatan masyarakat berlangsung. Seluruh rangkaian penelitian dilaksanakan secara bertahap dalam kurun waktu satu bulan. Data hasil wawancara dan FGD direkam . engan persetujuan informa. , ditranskripsikan secara verbatim, dan dianalisis menggunakan analisis tematik. Proses analisis mencakup pengkodean data, pengelompokan tema, dan interpretasi makna berdasarkan konteks sosial budaya masyarakat. Untuk menjamin kredibilitas temuan, peneliti menerapkan member checking dengan mengonfirmasi hasil interpretasi kepada informan (Lincoln. , & Guba, 1985: Enny Istanti dkk, 2. Analisis Data Analisis data kualitatif mengacu pada model interaktif Miles dan Huberman, yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan secara berulang. Reduksi data dilakukan dengan menyeleksi informasi yang relevan dengan fokus transformasi kualitas hidup. Penyajian data disusun dalam bentuk matriks tema dan narasi tematik untuk memudahkan identifikasi pola dan hubungan antar Penarikan kesimpulan dilakukan secara induktif dengan mempertimbangkan konteks sosial budaya masyarakat Dusun Kemendung. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi sumber dan metode, serta audit trail yang mendokumentasikan seluruh proses penelitian. Pendekatan ini sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif eksploratif yang menekankan kedalaman pemahaman terhadap realitas HASIL DAN PEMBAHASAN 1 Hasil Penelitian Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas hidup masyarakat Dusun Kemendung mengalami pergeseran makna yang signifikan, dari orientasi bertahan hidup menuju kehidupan yang lebih bermakna. Berdasarkan wawancara mendalam dan observasi partisipatif, sebagian besar informan menggambarkan kondisi kehidupan mereka pada masa lalu sebagai Ausekadar mencukupi kebutuhan sehari-hariAy tanpa ruang untuk pengembangan diri maupun partisipasi sosial yang aktif. Salah satu warga menyampaikan bahwa Audulu yang penting bisa makan dan kerja, tidak pernah terpikir soal belajar bersama atau kegiatan sosialAy. Narasi ini menggambarkan bahwa kualitas hidup sebelumnya dipahami secara sempit sebagai pemenuhan kebutuhan dasar. Tema kedua yang muncul dari analisis data adalah peran edukasi dan pembelajaran sosial dalam membentuk kesadaran baru masyarakat. Kegiatan edukasi nonformal, diskusi warga, dan pendampingan sosial telah membuka ruang refleksi dan dialog antarwarga. Informan mengungkapkan bahwa proses belajar bersama tidak hanya meningkatkan pengetahuan, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan keberanian untuk berpendapat. Seorang informan menyatakan. Ausekarang kami lebih berani bicara dan Jurnal Semeru : https://ejournal. id/semeru Doi: https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. November 2025 Tahun E-ISSN: 3047-6518 Halaman:262-270 ikut menentukan kegiatan di dusun, tidak hanya mengikuti sajaAy. Temuan ini menunjukkan bahwa edukasi berfungsi sebagai medium transformasi kesadaran sosial. Selanjutnya, kreativitas dan aktivitas sosial berbasis komunitas menjadi tema penting yang memperkuat perubahan kualitas hidup. Aktivitas kolektif seperti kerja bakti tematik, kegiatan seni sederhana, dan inisiatif sosial warga menciptakan rasa kebersamaan dan makna hidup yang lebih dalam. Observasi lapangan menunjukkan meningkatnya partisipasi warga dalam kegiatan sosial yang sebelumnya kurang diminati. Kreativitas tidak selalu diwujudkan dalam bentuk ekonomi, tetapi juga dalam cara warga membangun relasi, solidaritas, dan identitas kolektif sebagai komunitas dusun. 2 Pembahasan Temuan penelitian ini memperkuat pandangan bahwa kualitas hidup merupakan konstruksi sosial yang tidak dapat dipisahkan dari pengalaman dan pemaknaan individu dalam konteks komunitas. Pergeseran dari bertahan hidup menuju hidup bermakna yang dialami masyarakat Dusun Kemendung sejalan dengan konsep subjective well-being yang menekankan pentingnya pengalaman subjektif, relasi sosial, dan rasa bermakna dalam kehidupan sehari-hari. Hasil ini mendukung temuan Diener et al. yang menyatakan bahwa kesejahteraan tidak hanya ditentukan oleh faktor material, tetapi juga oleh bagaimana individu memaknai kehidupannya. Dari perspektif relational wellbeing, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas hidup warga sangat dipengaruhi oleh kualitas relasi sosial dan partisipasi komunitas. Aktivitas edukasi, kreativitas, dan kegiatan sosial telah menjadi ruang interaksi yang memperkuat ikatan sosial Temuan ini sejalan dengan White, . yang menegaskan bahwa kesejahteraan bersifat relasional dan dibangun melalui hubungan sosial yang bermakna. Namun, penelitian ini memperluas pemahaman tersebut dengan menunjukkan bahwa relasi sosial di tingkat dusun dapat menjadi katalis perubahan kesadaran dan makna hidup masyarakat. Jika dibandingkan dengan penelitian terdahulu tentang kualitas hidup masyarakat desa yang cenderung menitikberatkan pada indikator ekonomi dan kesejahteraan material, penelitian ini menawarkan perspektif yang berbeda. Studi Suryani. , & Agung, . , misalnya, menekankan pemberdayaan ekonomi sebagai faktor utama peningkatan kualitas hidup, sementara temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dimensi non-material seperti rasa memiliki, partisipasi, dan makna hidup memiliki peran yang sama pentingnya. Dengan demikian, penelitian ini mengisi kesenjangan empiris dengan menghadirkan pemahaman yang lebih holistik tentang transformasi kualitas hidup masyarakat Secara praktis, hasil penelitian ini mengimplikasikan bahwa program pemberdayaan masyarakat tidak seharusnya hanya berfokus pada aspek ekonomi atau bantuan material, tetapi juga pada penciptaan ruang edukatif, kreatif, dan sosial yang memungkinkan masyarakat membangun makna hidup secara Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian kualitas hidup dengan memperkuat pendekatan kualitatif yang menempatkan pengalaman hidup dan suara masyarakat sebagai pusat analisis. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengeksplorasi keberlanjutan transformasi makna hidup ini dalam jangka panjang serta menguji penerapannya pada konteks desa lain dengan karakteristik sosial yang berbeda. SIMPULAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa kualitas hidup masyarakat Dusun Kemendung tidak hanya mengalami peningkatan secara material, tetapi juga mengalami transformasi makna dari sekadar bertahan hidup menuju kehidupan yang lebih bermakna. Transformasi tersebut tercermin dalam perubahan cara masyarakat memaknai kehidupan, meningkatnya partisipasi sosial, tumbuhnya rasa percaya diri, serta menguatnya relasi dan solidaritas komunitas. Edukasi nonformal, kreativitas berbasis lokal, dan kegiatan sosial kolektif terbukti menjadi elemen kunci yang mendorong perubahan kesadaran dan pengalaman hidup masyarakat secara berkelanjutan. Jurnal Semeru : https://ejournal. id/semeru Doi: https://doi. org/10. 55499/semeru. Jurnal Semeru Vol. No. November 2025 Tahun E-ISSN: 3047-6518 Halaman:262-270 Secara teoretis, penelitian ini berkontribusi pada pengayaan kajian kualitas hidup dengan menegaskan pentingnya pendekatan kualitatif berbasis pengalaman hidup . ived experienc. dan perspektif kesejahteraan relasional. Temuan penelitian memperkuat pandangan bahwa kualitas hidup merupakan konstruksi sosial yang dibentuk melalui interaksi, nilai budaya, dan partisipasi komunitas, bukan semata-mata hasil dari peningkatan indikator ekonomi. Dengan demikian, penelitian ini melengkapi literatur yang selama ini lebih didominasi oleh pendekatan kuantitatif dan indikator objektif. Dari sisi praktis dan kebijakan, hasil penelitian ini mengimplikasikan bahwa program pemberdayaan masyarakat desa perlu dirancang secara partisipatif, kontekstual, dan berorientasi pada penguatan kapasitas sosial. Intervensi pembangunan yang menekankan ruang belajar bersama, kreativitas warga, dan aktivitas sosial kolektif berpotensi menghasilkan dampak yang lebih bermakna dan berkelanjutan dibandingkan pendekatan yang bersifat top-down dan materialistik semata. Oleh karena itu, pemerintah desa dan pemangku kepentingan terkait disarankan untuk mengintegrasikan dimensi sosial, kultural, dan edukatif dalam perencanaan pembangunan desa. Sebagai penutup, penelitian ini memiliki keterbatasan pada cakupan lokasi dan waktu penelitian yang relatif terbatas. Penelitian selanjutnya disarankan untuk mengeksplorasi transformasi kualitas hidup masyarakat dalam konteks desa lain dengan karakteristik sosial yang berbeda, serta menggunakan pendekatan longitudinal untuk melihat keberlanjutan perubahan makna hidup masyarakat dalam jangka SAMPAIAN TERIMAKASIH/ ACKNOWLEDGEMENT Penulis menyampaikan terima kasih kepada Universitas Bhayangkara Surabaya atas dukungan akademik dan fasilitasi pelaksanaan penelitian ini. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Pemerintah Desa Penanggungan, khususnya perangkat desa dan masyarakat Dusun Kemendung, yang telah memberikan izin, dukungan, serta partisipasi aktif selama proses penelitian berlangsung. Apresiasi setinggi-tingginya diberikan kepada seluruh informan dan pihak terkait yang telah bersedia berbagi pengalaman, pemikiran, dan waktu sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan kontribusi, baik secara langsung maupun tidak langsung, dalam penyusunan dan penyelesaian artikel ini. Terimakasih kepada mahasiswa peserta KKN 2025: Ahmad Azzam Fikrillah . / FISIP Anak Agung Margaretha Salina Putri / FH Imelda Triwahyu Rahmadhani . / FH Nurul Hidayatus Sufyan / FH Muhammad Miqwad . / FH Fendy Wirayuda / FH Tafana Cahaya Puspita . / FEB Silvanda Quraini Maulina Aisyah / FEB Aslih Fithar Amali . / FEB Rolivhyo Laksana . / FEB Hafif Adi Permana / FEB Moch Abrar Adrianur . / FEB REFERENSI