Jurnal Masyarakat Sehat : 200-205 Jurnal Masyarakat Sehat IIndonesia Nency A & SyafeiA Masy. Sehat Indonesia : 200-205 Hubungan Pola Asuh dan Pengetahuan Orang Tua terhadap Perilaku Orang Tua dalam Pendidikan Seks Prasekolah Aprilya Nency1*. Abdullah Syafei2 1Program Studi Kebidanan Program Sarjana Terapan Fakultas Vokasi. Universitas Indonesia Maju 2Program Studi Kesehatan Masyarakat. Fakultas Ilmu Kesehatan. Universitas Indonesia Maju *Korespondensi: Aprilya Nency. Program Studi Kebidanan Program Sarjana Terapan Fakultas Vokasi. Universitas Indonesia Maju. Jl. Harapan No. 50 Lenteng Agung Jakarta Selatan DOI: https://doi. 70304/jmsi. Copyright @ 2025. Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia E-ISSN: 2828-1381 P-ISSN: 2828-738X Abstrak: Pendidikan seks pada anak prasekolah merupakan upaya penting untuk membentuk pemahaman awal mengenai tubuh, batasan diri, dan perilaku yang Namun, pelaksanaannya sangat bergantung pada peran orang tua, terutama terkait pola asuh dan tingkat pengetahuan yang dimiliki. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara pola asuh dan pengetahuan orang tua terhadap perilaku orang tua dalam memberikan pendidikan seks pada anak usia Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak usia 4Ae6 tahun, dengan jumlah sampel sebanyak 94 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antar Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua . ilai p = 0,001. OR = 4,. dan tingkat pengetahuan orang tua . ilai p = 0,008. OR = 3,. dengan perilaku orang tua dalam memberikan pendidikan seks. Kesimpulannya, semakin baik pola asuh dan semakin tinggi pengetahuan orang tua, maka semakin positif perilaku mereka dalam memberikan pendidikan seks kepada anak prasekolah. Diharapkan orang tua dapat meningkatkan pengetahuan dan menerapkan pola asuh yang mendukung keterbukaan serta komunikasi efektif mengenai pendidikan seks sejak dini. Kata Kunci: Anak prasekolah. Orang tua. Pola asuh. Pendidikan seks Abstract: Sex education for preschool children is an important effort to develop an early understanding of the body, self-limitations, and safe behavior. However, its implementation is highly dependent on the role of parents, especially regarding parenting patterns and their level of knowledge. This study aims to determine the relationship between parenting patterns and parental knowledge on parental behavior in providing sex education to preschool children. This study is a quantitative study with a cross-sectional approach. The population in this study were parents of children aged 4Ae6 years, with a sample of 94 respondents. The research instrument was a questionnaire that had been tested for validity and Data analysis was performed using the Chi-Square test to determine the relationship between variables. The results showed a significant relationship between parenting patterns . -value = 0. OR = 4. and parental knowledge level . -value = 0. OR = 3. with parental behavior in providing sex education. In conclusion, the better the parenting patterns and the higher the parental knowledge, the more positive their behavior in providing sex education to preschool children. It is hoped that parents can increase their knowledge and implement parenting styles that support openness and effective communication regarding sex education from an early age. Keywords: Preschoolers. Parents. Parenting. Sex Education Nency A & SyafeiA Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia : 200-205 Pendahuluan Global Threat Assessment Report tahun 2023 yang dirilis oleh We Protect Global Alliance dan WHO menunjukkan bahwa terdapat peningkatan kasus pelecehan seksual terhadap anak sejak tahun 2019 sebesar 87 persen, dengan lebih dari 32 juta laporan secara global . Dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 tahun 2016 tentang Perlindungan Anak, dinyatakan bahwa negara menjamin hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Namun saat ini, kekerasan seksual terhadap anak semakin meningkat secara signifikan yang mengancam dan membahayakan jiwa anak, merusak kehidupan pribadi dan tumbuh kembang anak, serta mengganggu rasa kenyamanan, ketentraman, keamanan, dan ketertiban masyarakat. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen pA) melaporkan bahwa kasus kekerasan seksual pada anak di Indonesia pada tahun 2019 sebanyak 7. 752, tahun 2020 meningkat sebanyak 8. 210, tahun 2021 sebanyak 10. kasus, tahun 2022 meningkat menjadi 11. 682, tahun 2023 mengalami peningkatan drastis 156 kasus. Pada data tersebut dapat dilihat bahwa kasus kekerasan seksual pada anak terus meningkat setiap tahunnya. Kasus kekerasan seksual pada anak menduduki posisi nomor 1 di Jawa Barat, diantaranya pada tahun 2020 terjadi 930 kasus kekerasan seksual pada Pada tahun 2021 mengalami peningkatan menjadi 1. 251 kasus, tahun 2022 meningkat 343 kasus, tahun 2023 mempunyai posisi tertinggi kasus kekerasan pada anak yaitu 473 kasus, diikuti dengan Jawa Timur, dan Jawa Tengah. Berdasarkan Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Bogor. Jawa Barat, mencatat bahwa sepanjang 2023 terdapat 224 kasus kekerasan yang dialami oleh perempuan dan anak di wilayahnya. Dari jumlah tersebut, 173 kasus terjadi pada anak-anak . Dalam penelitian Situmorang, dikatakan bahwa kejadian kekerasan pada anak erat kaitannya dengan pendidikan seks pada anak. Pendidikan seks pada anak usia prasekolah merupakan upaya pemberian informasi tentang kondisi fisiknya baik sebagai perempuan ataupun sebagai laki-laki, dan ada keterkaitan dengan psikologis anak dengan melibatkan orang tua, pihak guru di sekolah, maupun masyarakat di sekitarnya agar anak mengetahui bagaimana menghindari bahaya kekerasan seksual ataupun mencegah terjadinya perilaku kekerasan Pendidikan seks diberikan agar dapat menguasai dengan baik perbedaan antara lakilaki dan perempuan, atribut anak laki-laki dan perempuan, bagaimana bergaul berkaitan dengan organ seks, organ reproduksi, mengerti adanya penyimpangan seks, menyesuaikan dirinya dengan baik dan hidup harmonis dalam lingkungan masyarakatnya . Langkah yang sederhana yang paling penting dalam upaya melindung anak dari kekerasan seksual diberikan oleh keluarga yaitu orang tua yang memegang peranan paling penting dalam tumbuh kembang anak Anak prasekolah adalah anak yang berumur antara 4 sampai 6 tahun yang memiliki karakteristik senang sekali belajar, berimajinasi dan selalu ingin tahu, dan mencoba hal-hal Salah satu ciri khas perkembangan psikososial pada usia ini adalah mulai meluasnya lingkungan sosial anak. Dalam masa ini, perkembangan psikososial anak sangat dipengaruhi oleh peran orang tua, salah satunya dalam pola perilaku pendidikan seksual . Pemahaman dan pengalaman seks yang keliru pada anak dapat mengembangkan persepsi yang salah tentang alat kelamin, proses reproduksi, dan seksualitas. Jika memiliki persepsi yang salah, seorang anak dapat berpotensi mengalami kekerasan seksual dan juga penyimpangan seksual di kemudian hari . Orang tua dalam memberikan pengasuhan kesehatan reproduksi dan pendidikan seksual kepada anak dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya pengaruh budaya, faktor lingkungan, jumlah anak, tingkat pendidikan orang tua, pengetahuan orang tua serta sosial ekonomi orang tua membuat orang tua memberikan pola pengasuhan yang berbeda-beda kepada anak. Hasil Nency A & SyafeiA Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia : 200-205 penelitian Solehati, dkk menunjukkan bahwa hampir setengah pola pengasuhan yang diterapkan orang tua kepada anaknya dalam memberikan pendidikan kesehatan reproduksi adalah pola pengasuhan demokratis. Pola pengasuhan merupakan suatu proses mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma dalam masyarakat dan memiliki pengaruh terhadap perilaku orang tua dalam memberikan pendidikan seksual pada anak . Penelitian Gandheswari, dkk menyatakan bahwa terdapat hubungan antara pengetahuan dengan perilaku orang tua dalam memberikan pendidikan seks usia dini pada anak prasekolah ( p-value = 0. , responden yang perilakunya baik dalam memberikan pendidikan seks usia dini lebih banyak didapatkan pada responden dengan pengetahuan baik . ,4%) dibandingkan responden dengan pengetahuan kurang . ,2%) . Pendidikan seksual akan lebih sulit apabila pengetahuan orang tua kurang memadai menyebabkan sikap kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan pemahaman tentang masalah-masalah kesehatan reproduksi anak. Akibatnya anak mendapatkan informasi kesehatan reproduki yang tidak sehat. Informasi kesehatan reproduksi yang tidak sehat atau tidak sesuai dengan perkembangan usia anak dapat mengakibatkan anak terlibat dalam kasus-kasus berupa konflik-konflik dan gangguan mental, ide-ide yang salah dan ketakutan-ketakutan yang berhubungan dengan kesehatan reproduksi . Pengetahuan menjadi landasan pemahaman orang tua mengenai pemberian pendidikan seks, hal ini dikarenakan informasi yang didapatkan oleh orang tua dapat membangun persepsi sehingga timbul kesadaran orang tua akan pentingnya pendidikan seks pada anak sejak usia dini . Berdasarkan latar belakang tersebut, maka tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan pola asuh dan pengetahuan orang tua terhadap pendidikan seks prasekolah pada anak usia 4-6 diwilayah RT 04 RW 07 Kelurahan Pondok Rajeg Kecamatan Cibinong Bogor. Metode Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah orang tua yang memiliki anak usia 4Ae6 tahun, dengan jumlah sampel sebanyak 94 responden. Instrumen penelitian berupa kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square untuk mengetahui hubungan antar variabel. Hubungan Variabel Independen dengan Variabel Dependen diperoleh melalui analisis hitung Statistik Chi Square. Chi Square digunakan ketika variabel yang hendak digunakan berskala kategorik. Statistik Chi Square digunakan untuk mengetahui keterkaitan antara dua variabel dengan dasar pengujian selisih nilai proporsi dari nilai observasi dengan nilai harapan. Pengambilan keputusan uji Chi Square didasarkan pada dua hal. yaitu nilai hitung yang dibandingkan dengan nilai kritis dan p-value (Nilai Asymp. Si. yang dibandingkan dengan taraf signifikansi . %). Hasil uji memutuskan untuk menolak H0 apabila :Nilai Asymp. Sig. -side. < 5%. Apabila terdapat nilai expected count <5 maka pengujian diganti menggunakan uji fisher. Hasil analisis Chi Square untuk mengetahui hubungan antara variabel independen terhadap variabel dependen. Hasil Tabel 1. Hubungan Pola Asuh Orang Tua dan Pengetahuan Orang Tua dengan Perilaku Orang Tua dalam Pendidikan Seks Prasekolah Variabel Kategori Pola Asuh Baik Kurang baik Tinggi Rendah Pengetahuan Perilaku Pendidikan Seks Baik Kurang Baik Nilai p 0,001 4,042 0,008 3,094 Nency A & SyafeiA Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia : 200-205 Berdasarkan tabel 1, diperoleh informasi bahwa pada hubungan pola asuh dengan perilaku pendidikan seks didapatkan hasil sebanyak 37 responden . ,5%) memiliki perilaku pendidikan seks yang baik dari total 54 responden dengan pola asuh yang baik. Sedangkan mayoritas responden yang memiliki perilaku pendidikan seks kurang baik yaitu sebanyak 26 responden . %) dari total 40 responden dengan pola asuh tidak baik. Selain itu nilai signifikan menunjukkan angka sebesar 0,001, nilai tersebut < 0. 05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya terdapat hubungan antara Pola Asuh dengan Perilaku Pendidikan Seks dan nilai odd ratio sebesar 4 yang artinya pola asuh dengan kriteria baik lebih berpeluang 4 kali memiliki perilaku pendidikan seks baik daripada pola asuh dengan kriteria tidak baik. Hubungan pengetahuan dengan perilaku pendidikan seks didapatkan hasil sebanyak 33 responden . ,3%) memiliki perilaku pendidikan seks baik berasal dari kelompok responden yang memiliki pengetahuan tinggi yaitu 49 orang. Sedangkan mayoritas responden yaitu 27 responden . %) memiliki perilaku pendidikan seks kurang baik dari total 45 responden yang memiliki pengetahuan rendah. Selain itu nilai signifikansi menunjukkan angka sebesar 0. nilai tersebut < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya terdapat hubungan antara Pengetahuan dengan Perilaku Pendidikan Seks dan nilai odd ratio sebesar 3 yang artinya pengetahuan dengan kriteria tinggi lebih berpeluang 3 kali memiliki perilaku pendidikan seks baik daripada pengetahuan dengan kriteria rendah. Pembahasan Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, mayoritas responden memiliki pola asuh dengan kriteria baik yaitu sebanyak 54 responden dengan persentase 57,4%. Berdasarkan hasil analisis statistik Chi Square didapatkan hasil p-value sebesar 0,001, nilai tersebut < 0. 05 maka H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya terdapat hubungan antara Pola Asuh dengan Perilaku Pendidikan Seks dan nilai odd ratio sebesar 4 yang artinya pola asuh dengan kriteria baik lebih berpeluang 4 kali memiliki perilaku pendidikan seks baik daripada pola asuh dengan kriteria tidak baik. Hal ini sejalan dengan penelitian Aisyah, dkk yang berjudul Peran Pola Asuh orangtua Pada Pemberian Pendidikan Seks Pada Anak Usia Dini . Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan data yang dikumpulkan diperoleh dari hasil pengamatan, hasil wawancara, catatan lapangan dan dokumentasi dengan hasil penelitian bahwa setiap pola asuh orang tua mencerminkan perilaku yang berbeda pada orang tua dalam memberikan pendidikan seksual bagi anak usia dini. Sebagai contoh adalah, peran pola asuh orang tua demoktratis terhadap pengenalan pendidikan seksual anak usia 4-5 tahun menjadikan perilaku orang tua yang akhirnya membentuk anak mudah bergaul, percaya diri dan mandiri sehingga anak mampu berkomunikasi terkait kondisi lingkungannya. Peran pola asuh orang tua otoriter terhadap pengenalan pendidikan seksual anak usia 4-5 tahun membentuk perilaku orang tua yang pada akhirnya menjadikan anak mampu mengenal lingkungannya, disiplin waktu ketika sekolah dan mampu membedakan perilak baik dan buruk. Sehingga dapat disimpulkan terdapat hubungan antara pola asuh dengan perilaku orang tua dalam memberikan pendidikan seksual anak usia Pola pengasuhan merupakan suatu proses mendidik, membimbing, dan mendisiplinkan serta melindungi anak untuk mencapai kedewasaan sesuai dengan norma dalam masyarakat dan memiliki pengaruh terhadap perilaku orang tua dalam memberikan pendidikan seksual pada anak . Hasil penelitian variabel pengetahuan di dapatkan informasi bahwa mayoritas responden memiliki pengetahuan dengan kriteria tinggi yaitu sebanyak 49 responden dengan persentase 52,1%. Hasil Uji Statistik Chi Square menunjukkan angka signifikansi . -valu. sebesar 0,008, yang mana nilai tersebut < 0,05, sehingga H0 ditolak dan H1 diterima yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara Pengetahuan dengan Perilaku Pendidikan Seks dan nilai odd ratio sebesar 3 yang artinya pengetahuan dengan kriteria tinggi lebih berpeluang 3 kali memiliki perilaku pendidikan seks baik daripada pengetahuan dengan kriteria rendah. Hal ini sesuai Nency A & SyafeiA Jurnal Masyarakat Sehat Indonesia : 200-205 dengan penelitian yang dilakukan oleh Gandeswari mengenai perilaku pemberian Pendidikan seks usia dini pada anak pra sekolah di Kota Semarang yang menyatakan bahwa mayoritas respondennya memiliki pengetahuan baik mengenai Pendidikan seks usia dini yaitu sebanyak 43 dari total 66 responden atau sebesar 65,2% . Perilaku merupakan hasil dari segala macam pengalaman serta interaksi manusia dengan lingkunganya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku merupakan respon atau reaksi seorang individu terhadap stimulus yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya . Hasil penelitian ini di dukung juga dengan penelitian lain dengan judul Faktor Faktor Yang Berhubungan Dengan Perilaku Orangtua Dalam Memberikan Pendidikan Seksual Pada Anak Usia Dini Di Tkit Shohibul QurAoan Kota Solok tahun 2022 dengan hasil terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan perilaku ibu dalam memberikan pendidikan seksual pada anak usia dini di TKIT Shohibul QurAoan Kota Solok Tahun 2022. Pengetahuan tentang manfaat pemberian pendidikan seks pada anak dapat mempengaruhi sikap ibu dalam memberikan pendidikan seks sejak dini karena pengetahuan merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan sikap seseorang. Pengetahuan juga dapat merubah persepsi seseorang, termasuk tentang pentingnya pemberian pendidikan seks sejak usia dini . Pengetahuan orang tua yang cukup berarti orang tua sudah memahami sebagian tentang pendidikan seks yang diberikan kepada anak sejak dini, seperti memberitahu anak jenis sentuhan yang pantas dan tidak pantas yang dilakukan orang lain, menanamkan jiwa untuk berperilaku sesuai jenis kelamin, menanamkan rasa malu sejak dini, mengajarkan anak tentang tempat bagian tubuh yang tidak diperbolehkan untuk disentuh orang lain selain orang terdekat, memperkenalkan bagian-bagian tubuh dan membentuk pengertian anak tentang perbedaan seks antara laki-laki dan perempuan. Pendidikan seks upaya memberikan pemahaman kepada anak, sesuai dengan usianya, mengenai fungsi-fungsi alat dan naluri alamiah yang mulai timbul serta bimbingan dalam menjaga dan memelihara organ intim . Kesimpulan Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara pola asuh orang tua dan pengetahuan orang tua terhadap perilaku orang tua dalam pendidikan seks prasekolah pada anak usia 4-6 tahun di RT 04 RW 07 Kelurahan Pondok Rajeg Kecamatan Cibinong. Orang tua dengan pola asuh dan pengetahuan yang baik akan memiliki perilaku pendidikan seksual yang lebih baik dibandingkan responden dengan pola asuh dan pengetahuan kurang baik. Ucapan Terimakasih Penulis mengucapkan terima kasih kepada Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Indonesia Maju atas dana hibah penelitian internal. Daftar Pustaka