Original Research Paper Variasi dan Hubungan Fenetik Passiflora spp. di Yogyakarta berdasarkan Karakter Morfologis dan Anatomis Variation and Phenetic Relationship of Passiflora spp. in Yogyakarta Based on Morphological and Anatomical Characters Nur AoAini Maulidiyah1*. Purnomo1 Fakultas Biologi. Universitas Gadjah Mada. Jalan Teknika Selatan. Sekip Utara. Yogyakarta, 55281. Indonesia. *Corresponding Author: nur. maulidiyah@mail. Abstrak: Passiflora spp. atau markisa merupakan tumbuhan tropis yang banyak dimanfaatkan terutama sebagai sumber pangan. Banyaknya variasi morfologi pada spesies Passiflora menyebabkan kesulitan dalam identifikasi antar spesiesnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi morfologis dan anatomis pada Passiflora spp. di Yogyakarta serta menentukan hubungan kekerabatan fenetik yang berguna untuk identifikasi. Sebanyak 15 sampel Passiflora diambil dengan metode purposive sampling dari Kapubaten Bantul. Kabupaten Sleman. Kabupaten Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta kemudian dilakukan karakterisasi morfologis dan anatomis. Karakter morfologis yang diamati meliputi organ batang, daun, dan bunga sementara untuk karakter anatomis yang diamati adalah organ daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 15 sampel yang diperoleh teridentifikasi sebagai P. edulis f. edulis f. edulis, dan P. Spesies Passiflora memiliki variasi morfologis pada bentuk batang muda, bentuk daun, tekstur permukaan daun dan batang, bentuk dan warna braktea, warna sepal dan petal, serta kehadiran cincin ungu pada korona. Variasi anatomis terdapat pada pola berkas pengangkut, bentuk sisi atas dan bawah tulang daun, bentuk dan ukuran sel palisade, serta tipe dan densitas stomata. Berdasarkan analisis fenetik, sampel Passiflora membentuk 4 klaster utama pada indeks similaritas 0,8 yaitu P. edulis, dan P. Kata kunci: Passiflora spp. , morfologis, anatomis, analisis fenetik Abstract: Passiflora spp. or passion fruit is a tropical plant that is often used as a food source. The large morphological variations of Passiflora cause difficulties in identifying the species. The objectives of the study are to identify the specific morphological and anatomical characters of Passiflora spp. in Yogyakarta and to determine their phenetic relationship for identification. A total of 15 samples of Passiflora were taken by purposive sampling technique from Bantul. Sleman. Kulon Progo, and Yogyakarta City, and then carried through the morphological and anatomical characterization. The morphological characters observed stems, leaves, and flowers, while the anatomical characters observed leaves. The results show that the observed samples are identified as four species. edulis, and P. The P. edulis species consists of two forms. edulis f. flavicarpa and P. edulis f. The variation of morphological character lie in young stem shape, leaf shape, the texture of stem and leaf surface, bract shape and color, sepal and petal color, and the presence of a purple corona ring. While the variation of anatomical characters lie in the pattern of the vascular bundles, the shape of the upper and lower sides of the leaf veins, the shape and size of the palisade cells, as well as the type and density of stomata. Based on the phenetic analysis on the 0. 8 phenon line, four main clusters were formed. edulis, and P. Keywords: Passiflora spp. , morphological, anatomical, phenetic analysis Dikumpulkan: 22 Desember 2022 Direvisi: 13 Juli 2023 Diterima: 28 Agustus 2024 Dipublikasi: 30 Agustus 2024 A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. Pendahuluan Passiflora spp. atau markisa . stilah masyarakat umu. , merupakan tumbuhan berbunga dari famili Passifloraceae yang kerap dimanfaatkan sebagai bahan makanan, obatobatan, dan tanaman hias (Ocampo Pyrez and dAoEeckenbrugge, 2017. Sanchez et al. , 1. Tumbuhan ini dapat tumbuh di daerah beriklim tropis maupun subtropis dengan pusat keragaman terbesarnya di Colombia dan Brazil yang memiliki setidaknya 170 dan 150 spesies (Cerqueira-Silva et al. , 2. Passiflora merupakan tanaman menahun dengan ciri umum yaitu habitus berupa semak atau pohon merambat dengan sulur aksilar yang sederhana, daunnya tersusun spiral dengan pertulangan menyirip atau menjari namun biasanya bertoreh menjari, bunga dengan tipe biseksual dilengkapi korona yang berkembang dengan baik dan warna yang menarik (Backer & Bakhuizen van Den Brink. Sanchez et al. , 1. Passiflora memiliki banyak manfaat yaitu sebagai sumber pangan, obat-obatan, bahan produk kecantikan, dan ornamen atau hiasan. Beberapa spesies Passiflora seperti P. Sims dan P. ligularis dibudidayakan karena buahnya mengandung banyak nutrisi seperti serat, gula, kaya zat gizi . rotein, vitamin A, tiamin, riboflavin, niasin, vitamin C. Fe. Ca, dan potassiu. , serta rendah sodium, kolesterol, dan asam lemak jenuh (Muntafiah dkk. , 2. Sementara itu, ekstrak akar, daun, dan buah P. foetida dimanfaatkan untuk pengobatan asma, masalah pencernaan, sakit kepala, memiliki efek sedative atau mengurangi nervous, dan memiliki aktivitas analgesik, antidiare, serta sitotoksik (Asadujjaman et al. , 2. Kulit buah P. Sims juga dimanfaatkan sebagai pewarna alami kosmetik karena mengandung antosianin yang menghasilkan warna menarik. edulis f. flavicarpa juga kaya vitamin A sehingga dapat mencerahkan kulit dan membantu regenerasi sel (Xu et al. , 2. Selain itu. Passiflora juga kerap dimanfaatkan sebagai ornamen atau hiasan karena memiliki bunga yang cantik, bentuk daun yang unik dan rimbun, serta mudah untuk Spesies yang popular dijadikan tanaman hias adalah P. coccinea dan P. vitifolia (Gilman. Budidaya Passiflora di Indonesia tergolong sedikit karena tidak terlalu populer jika dibandingkan buah tropis lain. Menurut data BPS, produksi Passiflora di Indonesia khususnya Passiflora edulis terus mengalami penurunan dari tahun 2016 hingga 2019 yaitu dari 101. ton menjadi 44. 977 ton. Pada tahun 2020 produksinya meningkat menjadi 53. 319 ton. Adanya penurunan produksi ini menunjukkan bahwa Passiflora perlu diteliti lebih lanjut. Hubungan kekerabatan antar spesies merupakan dasar penelitian untuk memperoleh bibit unggul Passiflora sekaligus usaha untuk menjaga kelestariannya (Prasgi dkk. , 2. Keragaman karakter Passiflora spp. menggambarkan hubungan kekerabatan pada setiap individu ataupun spesies. Individu dengan kekerabatan yang dekat umumnya memiliki banyak kesamaan karakter fenotip terutama pada kenampakan morfologis. Passiflora yang dijumpai di lapangan sering kali tidak memiliki organ yang lengkap sehingga kurang mendukung karakterisasi dan menyebabkan data kurang dapat dipercaya dan identifikasinya menjadi kurang valid. Oleh karena itu, diperlukan adanya karakter lain seperti karakter anatomis untuk memperjelas dan menguatkan karakter morfologis. Karakter anatomis sendiri berperan penting untuk menentukan kekerabatan fenetik . ataupun secara filogenetik. Selain itu, karakter anatomis dapat digunakan untuk mengetahui spesimen dalam tingkat famili dan genus (Diatrinari dan Purnomo, 2. Menurut Qarunia et al. data pendekatan anatomi seperti stomata dapat mendukung ciri morfologis dalam klasifikasi. enelitian ini bertujuan untuk mengetahui variasi morfologis dan anatomis pada Passiflora di Yogyakarta serta menentukan hubungan kekerabatan fenetiknya. Bahan dan Metode Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan mulai Februari November 2022. Pengambilan sampel dilakukan di Daerah Istimewa Yogyakarta meliputi kawasan Kabupaten Sleman. Bantul. Kulon Progo, dan Kota Yogyakarta. Pembuatan dan pengamatan preparat anatomi daun dilakukan di Laboratorium Struktur dan Perkembangan Tumbuhan Fakultas Biologi UGM. A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah sampel beberapa spesies Passiflora meliputi bagian daun, batang, dan bunga yang ditemukan di Yogyakarta. Bahan kimia yang digunakan untuk pembuatan preparat antara lain alkohol dengan berbagai konsentrasi . %, 80%, 95%, dan 100%), larutan FAA, larutan alkohol : xilol . onsentrasi 3:1, 1:1, 1:. , larutan xilol, campuran xilol : prafin . , parafin, larutan safranin 1% dalam alkohol 70%, gliserin jeli, kanada balsam, dan kloralhidrat. Alat yang digunakan untuk koleksi sampel dan dokumentasi antara lain ziplock dengan berbagai ukuran, toples plastik dengan berbagai ukuran, kertas label, milimeter blok, pisau atau cutter, kamera, logbook, penggaris, metline, dan pensil. Alat yang digunakan pada pembuatan preparat antara lain silet atau cutter, gelas benda, gelas penutup, cawan Petri, pinset, pipet tetes, pompa pengisap . , kuas, gelas beker, scalpel, bunsen, meja pemanasan . ot plat. , rotary microtome, staining jar, oven, mikroskop, jarum preparat, dan optilab. Alat yang digunakan untuk pengukuran parameter lingkungan antara lain thermometer, soil tester, hygrometer, altimeter, dan luxmeter. Prosedur Penelitian Pengambilan Sampel Penentuan lokasi pengambilan sampel dilakukan dengan survey eksploratif. Sebanyak 15 sampel Passiflora spp. berhasil dikumpulkan dari 4 kabupaten/kota di Yogyakarta. Sampel yang diperoleh diidentifikasi menggunakan kunci identifikasi dari buku AuFlora of JavaAy oleh Backer & van Den Brink . Sampel daun diambil sebanyak 3 bagian dari setiap tanaman kemudian disimpan dalam ziplock dan dipreparasi dalam alkohol 70%. Karakterisasi Morfologis Penentuan karakter morfologis dilakukan dengan pengamatan langsung serta dilakukan pengambilan foto pada karakter spesifik. Masing-masing karakter dicatat dan diurutkan berdasarkan analisis deskripsi menurut buku petunjuk International Union For The Protection Of New Varieties Plants (UPOV) dan dimodifikasi dengan karakterisasi oleh Hutabarat . Daftar karakter morfologis yang diamati dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Karakter morfologis terpilih yang digunakan dalam analisis fenetik Passiflora spp. No. Karakter No. Karakter Jenis batang Lebar helaian daun Bentuk batang Diameter bunga Permukaan batang Bentuk braktea Diameter batng Warna braktea Warna sulur Bentuk sepal Warna sepal bagian Bentuk daun Warna sepal bagian Pertulangan daun Kehadiran sepal Bentuk ujung daun 20. Bentuk tepian daun 21. Bentuk petal Bentuk pangkal Warna petal Tekstur permukaan Panjang filamen korona . Panjang helaian Kehadiran cincin ungu pada radii Pembuatan dan Pengamatan Preparat Aantomis Daun Pembuatan preparat anatomis penampang melintang daun mengacu pada metode parafin oleh Maruzy dkk. Preparat penampang paradermal dibuat dengan mengacu pada metode leaf clearing oleh Santosa et al. dan free hand section atau penyayatan langsung. Preparat diamati dengan perbesaran 4x, 10x, 40x, dan 100x kemudian hasil pengamatan difoto menggunakan optilab. Pengukuran dilakukan dengan aplikasi Image Raster 3. Karakterisasi Anatomis Daun Karakter-karakter anatomis daun diamati kemudian diberi nilai . berdasarkan analisis deskripsi menurut Wosch et al. Daftar karakter anatomis yang diamati dapat dilihat pada Tabel 2. A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. Tabel 2. Karakter anatomis terpilih yang digunakan dalam analisis fenetik Passiflora spp. No. Karakter Tipe stomata Densitas stomata Lebar stomata Ketebalan epidermis bawah tulang daun Ketebalan epidermis atas helaian daun Ketebalan epidermis bawah helaian Ketebalan mesofil palisade Ketebalan mesofil bunga karang Ketebalan helaian daun Ketebalan tulang daun Bentuk sisi atas tulang daun Bentuk sisi bawah tulang daun Pola jaringan pembuluh tulang daun Kehadiran trikoma Analisis Data Data karakter morfologis dan anatomis dicatat secara deskriptif kemudian dibuat menjadi data biner untuk penyusunan diagram dendrogram dalam penentuan hubungan kekerabatan fenfetik antar sampel. Penyusunan diagram dendrogram menggunakan program MVSP versi 3. 1 dan diolah menggunakan prosedur UPGMA berdasarkan metode Gower General Similarity Coefficient. Hasil dan Pembahasan Hasil Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa di Daerah Istimewa Yogyakarta ditemukan 4 spesies Passiflora dan terdapat 2 forma dari spesies P. Daftar sampel dan titik lokasi pengambilan sampel dapat dilihat pada Tabel 3 Tabel 3. Data spesies Passiflora yang telah diidentifikasi di Yogyakarta. No. Nama Spesies Sinonim Nama Lokal Lokasi Passiflora foetida L. Decaloba obscura M. Roem. Dysosmia fluminensis M. Roem. Dysosmia foetida M. Roem. Dysosmia gossypiifolia M. Roem. Dysosmia polyadena M. Roem. Granadilla foetida Gaertn. (World Flora Online, 2. Rambusa. Sewon (Bantu. Srandakan (Bantu. , dan Brosot (Kulon Prog. Passiflora vitifolia H. Macrophora sanguinea Raf. Passiflora buchananii Triana &Planch. Passiflora punicea Ruiz & Pav. ex DC. Passiflora sanguinea Sims. Passiflora servitensis H. Karst. Passiflora servitensis var. Karst. (World Flora Online, 2. Passiflora edulis Deg. Passiflora edulis var. (Lindl. ) Mast. (World Flora Online. Kasihan (Bantu. Jetis (Yogyakart. , dan Jetis (Bantu. Markisa kuning, siuh Tegalrejo (Yogkayart. dan Kasihan (Bantu. A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. Tabel 3. Data spesies Passiflora yang telah diidentifikasi di Yogyakarta . Passiflora edulis edulis Sims. Passiflora Passiflora cuneifolia Cav. Passiflora edulis var. (Roem. ) Mast. Passiflora edulis var. (Jacq. ) Mast. Passiflora gratissima A. St. -Hil. (World Flora Online, 2. Markisa ungu. Seyegan (Slema. Kasihan (Bantu. , dan Tegalrejo (Yogkayart. Granadilla quadrangularis Medik. Passiflora grandiflora Salisb. Passiflora hexangularis Raeusch. Passiflora macrocarpa Mast. Passiflora macroceps Mast. (World Flora Online, 2. Markisa besar, markisa sayur. Kalasan (Slema. Variasi Morfologis Passiflora spp. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan terhadap spesies Passiflora di Yogyakarta dapat diketahui bahwa terdapat perbedaan morfologis yang jelas diantara spesies-spesies tersebut meliputi bagian batang, daun, dan bunga. Variasi morofologis dan habitus spesies Passiflora dapat dilihat pada gambar berikut: Gambar 1. Habitus 4 spesies Passiflora yang ditemukan di Yogyakarta . edulis f. Keterangan: . helai daun, . batang, . sulur, dan . okumentasi pribadi, 2. A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. Gambar 2. Variasi warna dan bentuk batang . foetida batang silinder berwarna hijau, . vitifolia batang silinder berwarna hijau kecoklatan, . edulis f. flavicarpa batang silinder berwarna hijau kemerahan, . edulis f. edulis batang silinder berwarna hijau, . quadrangularis batang bersudut empat berwarna hijau (Dokumentasi pribadi, 2. Gambar 3. Variasi bentuk tepi daun . foetida bercangap menajri, . vitifolia berbagi menjari, . flavicarpa berbagi menjari, . edulis f. edulis berbagi menjari, dan . quadrangularis tunggal dengan tepi rata (Dokumentasi pribadi, 2. A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. Gambar 4. Variasi bunga . foetida, . vitifolia, . edulis f. flavicarpa, . edulis f. edulis, dan . Keterangan: . braktea, . sepal, . petal, . korona, . benang sari, . putik, dan . ovarium (Dokumentasi pribadi, 2. Variasi Morfologis Passiflora spp. Karakter anatomis spesies Passiflora melintang tulang daun dan helaian daun serta penampang paradermal sisi bawah Berikut adalah variasi karkter anatomis masing-masing spesies Passiflora. Gambar 5. Variasi penampang melintang tulang daun . foetida, . vitifolia, . edulis f. edulis f. edulis, dan . Keterangan: . epidermis atas, . kolenkim, . parenkim, . floem, . xylem, . trikoma, . drusen, dan . epidermis bawah. Bar (AA. = 500. A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. (Dokumentasi pribadi, 2. Gambar 6. Variasi penampang melintang helaian daun . foetida, . vitifolia, . edulis f. edulis f. edulis, dan . Keterangan: . epidermis atas, . mesofil palisade, . mesofil bunga karang, . berkas pengangkut, . drusen, . stoamata, dan . epidermis bawah. Bar (AA. = 100 (Dokumentasi pribadi, 2. Gambar 7. Stomata pada penampang paradermal daun . foetida, . vitifolia, . edulis f. flavicarpa, . edulis f. edulis, . Keterangan: . stoma, . sel A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access penjaga, . sel tetangga, . sel epidermis. Bar (AA. = 100 . dan 50 . (Dokumentasi pribadi. Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. Analisis Hubungan Fenetik Passiflora berdasarkan Karakter Morfologis dan Anatomis Berdasarkan analisis hubungan kekerabatan 15 sampel Passiflora di Yogyakarta terbentuk 4 klaster utama pada dendrogram dengan garis ambang batas 0,8. Adapun indeks similaritas, dendrogram hasil analisis fenetik Passiflora spp. , dan grafis analisis PCA dalah sebagai berikut: Tabel 4. Indeks similaritas lima belas sampel Passiflora spp. berdasarkan karakter morfologis dan anatomis. Keterangan: (A1. A2. foetida, (B1. B2. vitifolia, (C1. C2. edulis f. flavicarpa, (D1. D2. edulis f. edulis, dan (E1. E2. 1,000 0,895 0,947 0,605 0,579 0,632 0,526 0,474 0,579 0,632 0,526 0,553 0,368 0,316 0,368 1,000 0,947 0,553 0,526 0,579 0,579 0,526 0,579 0,526 0,579 0,605 0,421 0,368 0,368 1,000 0,553 0,526 0,579 0,526 0,474 0,579 0,579 0,526 0,605 0,368 0,368 0,368 1,000 0,974 0,974 0,500 0,447 0,395 0,500 0,395 0,421 0,237 0,184 0,289 1,000 0,947 0,526 0,474 0,421 0,526 0,421 0,447 0,211 0,211 0,263 1,000 0,474 0,421 0,421 0,474 0,368 0,395 0,263 0,211 0,263 1,000 0,895 0,895 0,789 0,789 0,816 0,474 0,526 0,474 1,000 0,842 0,789 0,895 0,816 0,579 0,579 0,579 1,000 0,789 0,789 0,816 0,526 0,579 0,474 1,000 0,842 0,868 0,474 0,526 0,526 1,000 0,868 0,632 0,579 0,579 1,000 0,500 1,000 0,605 0,895 1,000 0,553 0,895 0,895 1,000 Gambar 8. Dendrogram Passiflora spp. berdasarkan karakter morfologis dan anatomis menggunakan Gower General Similarity Coefficient. Keterangan: (A1. A2. foetida, (B1. B2. vitifolia, (C1. C2. edulis f. flavicarpa, (D1. D2. edulis f. edulis, dan (E1. E2. A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. PCA case scores PCA case scores AD1 MBU1 edulis f. MBA4 D2C1 Axis 2 Axis 2 MBU8 MD7 MBA1 AD14 E2E1 MBU2 A3A1 MD8 MBU8 AD9 MBA5 MBU10 MD6 MBA3 b MBA5 AD3 AD13 MBU10 MD6 MBA3 MBU11 MBU9 MBU6 MBU5 MBU4 MBU3 MBU7 MBA2 AD12 AD11 MD5 MD4 MD2 MD1 Axis 1 Vector scaling: 6,89 AD4 AD6 6 MD7 AD8 AD10 MD8MBU3 MBU11 MBU9 MBU6 MBU5 MBU4 MBU7 MBA2 MD5 MD4 MD2 MD1 AD2 edulis f. edulis f. MBU2 AD5 C3 C1 D2C2 AD7 MBA1 edulis f. MBA4 MBU1 MD3 MD3 Axis 1 Vector scaling: 8,38 Gambar 9. Grafik PCA Passiflora spp. berdasarkan karakter morfologis dan anatomis. Tabel 4. Nilai komponen utama pada setiap karakter pembeda spesies Passiflora dalam analisis PCA karakter morfologis dan anatomis. Singkatan MBA1 MBA2 MBA3 MBA4 MBA5 MD1 MD2 MD3 MD4 MD5 MD6 MD7 MD8 MBU1 MBU2 MBU3 MBU4 MBU5 MBU6 MBU7 MBU8 MBU9 Karakter Axis Axis Axis Jenis batang 0,000 0,000 0,000 Bentuk batang muda -0,187 -0,225 -0,042 Permukaan batang 0,219 -0,089 -0,165 Diameter batng 0,031 0,192 -0,171 Warna sulur 0,125 -0,004 0,244 Bentuk daun -0,187 -0,225 -0,042 Pertulangan daun -0,187 -0,225 -0,042 Bentuk ujung daun 0,003 -0,327 0,090 Bentuk tepian daun -0,187 -0,225 -0,042 Bentuk pangkal daun -0,187 -0,225 -0,042 Tekstur permukaan 0,219 -0,089 -0,165 Panjang helaian daun 0,203 -0,040 -0,141 Lebar helaian daun 0,067 -0,172 -0,240 Diameter bunga 0,028 0,188 -0,210 Bentuk braktea 0,077 0,066 -0,356 Warna braktea 0,192 -0,175 0,153 Bentuk sepal 0,192 -0,175 0,153 Warna sepal bagian 0,192 -0,175 0,153 Warna sepal bagian 0,192 -0,175 0,153 Kehadiran sepal awn -0,187 -0,225 -0,042 Bentuk petal -0,090 -0,130 -0,325 Warna petal 0,192 -0,175 0,153 Singkatan MBU10 MBU11 AD1 AD2 AD3 AD4 AD5 AD6 AD7 AD8 AD9 AD10 AD11 AD12 AD13 AD14 Karakter Axis Axis Axis 0,219 -0,089 -0,165 Panjang filamen Kehadiran cincin ungu 0,192 -0,175 0,153 pada radii Tipe stomata -0,066 0,273 0,200 Densitas stomata -0,085 0,054 -0,135 Lebar stomata 0,156 0,013 0,128 Ketebalan epidermis 0,196 -0,066 -0,040 bawah tulang daun Ketebalan epidermis -0,044 0,131 -0,116 atas helaian daun Ketebalan epidermis 0,167 -0,153 -0,171 bawah helaian daun Ketebalan mesofil -0,016 0,085 -0,256 Ketebalan mesofil 0,210 -0,041 -0,118 bunga karang Ketebalan helaian 0,000 -0,062 -0,257 Ketebalan tulang daun 0,210 -0,046 -0,133 Bentuk sisi atas tulang -0,187 -0,225 -0,042 Bentuk sisi bawah -0,187 -0,225 -0,042 tulang daun Pola jaringan 0,219 -0,089 -0,165 pembuluh tulang daun Kehadiran trikoma -0,193 -0,104 0,048 A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. Pembahasan Variasi Morfologis Paassiflora spp. Variasi Morfologis Batang Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat banyak variasi morfologis pada 4 spesies Passiflora yang ada di Yogyakarta. Passiflora memiliki habitus berupa liana yang merambat dengan batang herba namun sedikit berkayu pada bagian bawah . emi wood. Berdasarkan Gambar 2. diketahui bahwa 4 spesies Passiflora yaitu P. edulis f. flavicarpa, dan P. edulis f. memiliki batang muda dengan bentuk silinder . sementara P. quadrangularis memiliki batang muda bersudut empat . Bentuk batang muda yang bersudut empat pada quadrangularis ini merupakan salah satu karakter khusus yang dapat mebedakan spesies ini dengan spesies lain (Deshmukh et al. , 2. Pada permukaan batang P. foetida dan P. rambut-rambut . sedangkan pada P. edulis f. edulis f. edulis, dan P. quadrangularis permukaan batangnya licin . Rambut halus yang menutupi permukaan batang P. foetida berwarna kuning dan pada P. vitifolia berwarna merah kecoklatan (Bisht et al. , 2020. Patil et al. , 2. Berdasarkan diameter batangnya. foetida merupakan spesies dengan batang paling kecil dengan kisaran rerata 0,38 Ae 0,49 cm sedangkan P. vitifolia dan P. memiliki batang yang cukup besar yaitu 2,26 Ae 4,57 dan 2,6 Ae 3,76. Adanya perbedaan ukuran diameter batang ini selain disebabkan karena ketiga spesies merupakan spesies berbeda dapat juga dipengaruhi oleh sifat tumbuh. foetida di Indonesia hanya dianggap tumbuhan liar oleh masyarakat sehingga sering dibasmi bersama gulma lain (Patil et al. , 2. Sementara itu. vitifolia dan P. quadrangularis yang ditemukan merupakan tanaman budidaya sehingga kondisinya terawat dan berumur panjang. Spesies Passiflora juga memiliki warna batang dan sulur yang beragam. edulis f. edulis, dan P. quadrangularis memiliki batang dan sulur berwarna hijau. berwarna hijau dengan corak kecoklatan, dan P. edulis f. flavicarpa berwarna hijau dengan corak Deshmukh et al. menyatakan bahwa P. edulis f. edulis memiliki batang dan sulur berwarna hijau tanpa adanya jejak warna Sementara itu, pada P. edulis f. flavicarpa terdapat warna kemerahan atau keunguan pada batang, sulur, dan daunnya. Adanya perbedaan warna ini menjadi salah satu kunci untuk membedakan kedua spesies tersebut selain dilihat dari warna buahnya. Variasi Morfologis Daun Berdasarkan Gambar 3. diketahui bahwa terdapat tiga bentuk daun pada 4 spesies yang diamati yaitu P. foetida dengan bentuk daun bercangap menjari. edulis f. flavicarpa, dan P. edulis f. edulis memiliki bentuk daun berbagi menjari, serta P. quadrangularis memiliki bentuk daun tunggal dengan tepian rata dengan pertulangan daun Pada dasarnya, bentuk helaian daun Passiflora adalah bulat telur namun sangat dipengaruhi oleh kedalaman torehan tepi daun dan tipe pertulangan daunnya sehingga menimbulkan variasi. foetida memiliki daun bercangap menjari dengan bentuk dasar bulat telur . , panjang helaian daunnya 7,67 Ae 9 ,63 cm dan lebar 8,27 Ae 9,63 cm. Ujung daunnya meruncing . , tepi daun bergerigi . , pangkal daun bertoreh . , dan permukaannya ditutupi rambut halus . (Gambar 3. Spesies ini memiliki daun dengan kedalaman torehan sedang . dengan tekstur permukaan berambut halus. Selain itu, daun P. foetida juga memiliki ketebalan daun paling tipis dan tidak kaku jika dibandingkan dengan spesies lain yang diamati. Adapun morfologis daun yang serupa juga disebutkan oleh Patil et al. vitifolia memiliki bentuk daun berbagi menjari dengan kisaran panjang helaian daun 9,87 Ae 10,47 cm dan lebar 10,1 Ae 11,5 cm. Ujung daun runcing . , tepi daun bergerigi . , pangkal daun bertoreh . , dan permukaan daunnya ditutupi rambut halus . (Gambar 3. Pada penelitian Ocampo & dAoEeckenbrugge . juga disebutkan bahwa P. vitifolia memiliki daun berlobus tiga, ujung daunnya runcini, tepi daun bergerigi, dan pangkal daun bertoreh. edulis f. flavicarpa dan P. edulis f. A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. edulis pada dasarnya memiliki morfologi daun yang serupa karena merupakan satu spesies. Bentuk daun kedua spesies ini adalah berbagi menjari dengan ujung daun meruncing . , tepi daun bergerigi . , pangkal daun bertoreh . , dan tekstur permukaan daun yang licin . (Gambar dan Gambar 3. Karakter yang membedakan kedua spesies ini adalah ukurannya. edulis f. arkisa kunin. memiliki daun yang lebih besar daripada edulis f. arkisa ung. edulis f. flavicarpa memiliki panjang daun 12,97 Ae 15,3 cm dan lebar 16,57 Ae 19,93 cm sementara P. edulis f. edulis memiliki panjang daun 9,3 Ae 11,8 cm dan lebar 13,6 Ae 16,9 cm. Hal ini sesuai dengan pernyataan Deshmukh et al. bahwa P. edulis f. flavicarpa memiliki daun yang lebih besar dibandingkan P. edulis f. karena P. edulis f. flavicarpa lebih kuat dan dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan tropis sementara P. edulis f. edulis lebih cocok pada kondisi lingkungan yang lebih sejuk yaitu daerah subtropis ataupun dataran tinggi tropis. quadrangularis memiliki daun tunggal dengan tepi tanpa torehan, pertulangan daun menyirip, serta panjang helaian daunnya sekitar 11,5 Ae 13,37 cm dan lebar 10,13 Ae 11,87 cm. Ujung daunnya runcing . , tepi daun rata . , pangkal daun membulat . , dan tekstur permukaan daunnya licin . (Gambar 3. Spesies ini memiliki karakter morfologis daun yang paling berbeda karena tepi daunnya tidak bertoreh. Penelitian Anjana et al. menunjukkan bahwa P. memiliki daun tunggal dengan permukaan licin . dan tepian daun rata . Variasi Morfologis Bunga Pada Gambar 4. dapat dilihat bahwa Passiflora memiliki karakter bunga yang sangat foetida memiliki sepal dan petal berwarna putih dengan korona berwarna putih dan terdapat cincin ungu (Gambar 4. vitifolia memiliki sepal dan petal berwarna merah dengan korona berwarna merah dan tidak dijumpai cincin ungu, namun bagian palii terlihat jelas dan berwarna putih (Gambar 4. flavicarpa dan P. edulis f. edulis memiliki sepal dan petal berwarna putih dengan korona berwarna putih dan teramati adanya cincin ungu (Gambar 4. dan Gambar 4. Sementara itu. quadrangularis memiliki sepal dan petal berwarna putih dengan semburat keunguan, koronanya berwarna ungu dan terdapat cincin ungu gelap di bagian dasarnya (Gambar 5. Berdasarkan bunganya dapat diketahui variasi ukuran bunga dari Passiflora spp. yaitu mulai dari 2,9 Ae 3,4 cm pada P. foetida hingga 10,8 Ae 12,1 cm pada P. Hasil pengukuran panjang radii menunjukkan bahwa P. foetida memiliki filamen paling pendek yaitu 0,6 Ae 0,9 cm sedangkan P. quadrangularis memiliki filamen paling panjang yaitu 6,6 Ae 6,9 cm. foetida memiliki braktea berbentuk pinnatifid berwarna hijau, sepal bulat telur, bagian luar berwarna hijau, bagian dalam berwarna putih, dan terdapat struktur tambahan berupa sepal awn (Gambar 4. Braktea yang unik pada P. foetida memiliki peran khusus yaitu untuk menangkap serangga dan dapat mengeluarkan enzim pencernaan menjadi karakter khas pada spesies ini dibandingkan spesies yang lain (Patil et al. vitifolia memiliki braktea berbentuk linear dan berwarna merah muda, sepal berbentuk linear dengan bagian luar dan dalam sepal berwarna merah serta terdapat sepal awn berwarna kuning, dan petal berbentuk bulat telur dan berwarna putih, serta petal berbentuk bulat memanjang dan berwarna merah (Gambar 4. Karakter khusus pada braktea P. vitifolia adalah memiliki kelenjar nektar ekstrafloral . xtrafloral nectarie. pada bagian tepi dekat pangkal. Hasil ini sesuai dengan karakterisasi dalam penelitian Sunarmi et al. yaitu P. vitifolia memiliki braktea dengan warna merah muda dan memiliki kelenjar pada bagian tepinya. edulis f. flavicarpa dan P. edulis f. edulis memiliki braktea bulat telur dan berwarna hijau, sepal berbentuk bulat memanjang dengan bagian luar sepal berwarna hijau dengan bagian dalam berwarna putih dan terdapat sepal awn, serta petal dengan bentuk bulat memanjang dan berwarna putih (Gambar 4. dan Gambar 4. Perbedaan morfologis bunga kedua spesies ini hanyalah pada ukuran bagian bunga dan diameter Hal ini sesuai dengan penjelasan Deshmukh et al. bahwa P. edulis f. flavicarpa lebih kuat dan dapat tumbuh dengan A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. baik pada lingkungan tropis sementara P. edulis lebih cocok pada kondisi lingkungan yang lebih sejuk yaitu daerah subtropis ataupun dataran tinggi tropis. Sementara itu. memiliki braktea bulat telur dan berwarna hijau, sepal berbentuk bulat telur dengan bagian luar sepal berwarna hijau dan bagian dalam berwarna putih serta tidak terdapat adanya sepal awn, serta petal berbentuk bulat telur dan berwarna putih dengan semburat ungu pada bagian bawahnya (Gambar 4. Adapun hasil ini sesuai dengan penelitian Anjana et al. Variasi Anatomis Paassiflora spp. Variasi Penampang Melintang Tulang Daun Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa terdapat banyak variasi anatomis pada 4 spesies Passiflora yang ada di Yogyakarta. Pada penampang melintang tulang daun terlihat bahwa berkas pengangkut Passiflora memiliki tipe kolateral dan tersusun atas xilem dan floem yang terletak pada bagian pusat tulang daun dengan berbagai pola. foetida dan P. vitifolia memiliki berkas pengangkut yang membentuk lengkungan datar disertai adanya jejak dorsal (Gambar 5a dan Sementara itu, spesies P. edulis f. edulis f. edulis, dan P. memiliki pola berkas pengangkut yang membentuk cincin pusat (Gambar 5. Gambar , dan Gambar 5. Hasil pengamatan karakter anatomis ini sesuai dengan hasil pengamatan pada penelitian Wosch et al. Terkait bentuk sisi atas tulang daun, semua sampel memiliki bentuk cembung . namun dengan proyeksi yang bervariasi. Proyeksi silindris atau membulat dijumpai pada spesies P. foetida dan P. edulis f. flavicarpa, dan P. edulis f. edulis (Gambar 5. Gambar 5. Gambar 5. , dan Gambar 5. sedangkan pada P. quadrangularis bentuk sisi atas tulang daunnya cembung dengan stuktur tambahan keel . entuk seperti kapa. (Gambar Semua sampel memiliki bentuk concave untuk sisi bawah tulang daunnya. Sisi bawah tulang daun P. edulis f. flavicarpa, dan P. edulis f. edulis memiliki bentuk concave membulat (Gambar 5. Gambar . Gambar 5. , dan Gambar 5. ) sedangkan quadrangularis bentuk sisi bawah tulang daunnya adalah concave dengan stuktur tambahan keel . entuk seperti kapa. (Gambar Adapun hasil pengamatan serupa juga ditemukan pada penelitian Wosch et al. Pada penampang melintang tulang daun Passiflora juga teramati adanya alat tambahan berupa trikoma. Trikoma non-glanduler teramati pada sampel P. edulis f. flavicarpa, dan P. edulis f. edulis (Gambar 5. Gambar 5. Gambar 5. , dan Gambar 5. Sementara itu, pada sampel P. tidak menunjukkan adanya trikoma. Kristal Caoksalat dalam bentuk drusen juga teramati pada penampang melintang tulang daun sampel Passiflora. Kristal Ca-oksalat tersebar pada seluruh jaringan parenkim tulang daun. Namun pada P. edulis f. flavicarpa, dan P. edulis f. edulis kristal ini hanya ditemukan di sekitar berkas pengangkut saja (Gambar 5. Gambar 5. , dan Gambar 5. Passiflora memiliki ukuran dan bentuk tulang daun serta pola berkas pengangkut yang Tulang daun Passiflora tersusun dari epidermis atas, kolenkim, parenkim, berkas pengangkut, dan epidermis bawah. Epidermis atas memiliki ukuran yang kecil dibandingkan epidermis bawah. ketebalan epidermis bawah tulang daun sampel Passiflora berkisar antara 0,011 Ae 0, 024 mm. Ketebalan epidermis bawah tulang daun lima spesies Passiflora berturut-turut adalah 0,015 Ae 0,020 mm untuk P. 0,011 Ae 0,016 mm untuk P. 0,018 Ae 0,020 mm untuk P. edulis f. 0,016 Ae 0,018 mm untuk P. edulis f. dan 1,019 Ae 0,024 mm untuk P. Berdasarkan hasil pengukuran tersebut, diketahui bahwa P. memiliki ukuran tulang daun paling kecil dan P. quadrangularis memiliki ukuran tulang daun paling besar. Sedangkan P. edulis f. memiliki ukuran tulang daun lebih besar daripada P. edulis f. Hasil pengukuran ini selaras dengan hasil pengukuran karakter morfologis daun. Berdasarkan Taneda & Tarehima . , jumlah dan diameter xilem pada tulang daun berhubungan positif dengan luas healaian daun pada daun dewasa, sehingga semakin besar ukuran tulang daun maka dimensi daun juga semakin luas. Variasi Penampang Melintang Helaian Daun Helaian daun Passiflora memiliki tipe A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. dorsiventral sehingga tersusun dari epidermis atas, jaringan mesofil yang terdiferensiasi menjadi palisade dan bunga karang, dan epidermis bawah. Karakter anatomis yang diamati pada penampang melintang helaian daun yaitu ketebalan helaian daun, epidermis atas dan bawah, mesofil palisade, dan bunga karang. Ketebalan helaian daun dipengaruhi oleh ketebalan epidermis, palisade, dan bunga karang. Ketebalan helaian daun lima spesies Passiflora yang diamati memiliki rentang rerata 0,113 Ae 0,223 mm. Spesies dengan helaian daun paling tebal adalah P. edulis f. edulis yaitu 0,180 Ae 0,223 mm (Gambar 6. ) sedangkan lamina paling tipis dimiliki spesies P. foetida yaitu 0,113 Ae 0,129 mm (Gambar 6. Ketebalan epidermis atas helaian daun sampel Passiflora yang diamati memiliki kisaran rerata 0,04 Ae 0,030 mm. Epidermis atas paling tebal dimiliki oleh P. vitifolia yaitu 0,023 Ae 0,033 mm dan epidermis atas paling tipis dimiliki oleh foetida yaitu 0,04 Ae 0,021 mm. Sementara itu, untuk ketebalan epidermis bawah berkisar pada rentang 0,008 Ae 0,021 mm. Sampel dengan epidermis bawah paling tebal adalah P. edulis f. edulis yaitu 0,015 Ae 0,021 mm dan sampel dengan epidermis bawah paling tipis adalah P. foetida yaitu 0,008 Ae 0,013 mm. Ketebalan palisade sampel Passiflora memiliki rentang rerata 0,027 Ae 0,087 mm. Palisade paling tebal ditemukan pada spesies P. vitifolia yaitu 0,057 Ae 0,087 mm dan sedangkan palisade paling tipis ditemukan pada P. foetida yaitu 0,027 Ae 0,039 Sementara itu, ketebalan bunga karang memiliki rentang 0,044 Ae 0,135 mm. Sampel dengan jaringan spons paling tebal adalah P. edulis Sims. sebesar 0,113 Ae 0,135 mm dan jaringan spons paling tipis ada pada sampel P. foetida yaitu 0,113 Ae 0,129 mm. Variasi anatomis juga teramati pada bentuk dan susunan sel-sel palisade daun Passiflora. Sel-sel palisade pada sampel P. vitifolia terlihat sangat mencolok dibandingkan sampel lain karena memiliki bentuk sangat kolumnar dengan ukuran yang panjang dan tersusun rapat (Gambar 6. Sampel P. memiliki sel-sel palisade dengan bentuk kolumnar dengan ukuran yang pendek dan tersusun agak renggang (Gambar 6. Sementara itu, pada sampel P. edulis f. edulis f. edulis, dan P. quadrangularis sel-sel palisadenya berbentuk kolumnar dan pendek namun tidak sekolumnar sampel P. vitifolia dan P. foetida (Gambar 6. Gambar 6. , dan Gambar 6. Susunan sel-sel palisade ketiga spesies tersebut juga sangat renggang dengan banyak ruang antar sel. Gotoh et al. menyatakan bahwa pada tumbuhan yang terkena paparan matahari secara langsung daunnya akan lebih tebal dan sel-sel palisadenya lebih kolumar dibandingkan tumbuhan yang Variasi Penampang Paradermal Karakter anatomis yang diamati pada penampang paradermal berfokus pada stomata yaitu tipe, densitas, panjang, dan lebar stomata. Pada lima spesies Passiflora yang diamati stomata hanya ditemukan di sisi abaksial atau sisi bawah daun. Berdasarkan pengamatan pada preparat penampang paradermal 15 sampel Passiflora ditemukan dua tipe stomata yaitu stomata anomositik dan parasitik. Stomata tipe anomositik dijumpai pada P. vitifolia, dan P. (Gambar 7. Gambar 7. , dan Gambar 7. sedangkan pada P. edulis f. flavicarpa dan P. edulis tipe stomata adalah parasitic (Gambar 7. dan Gambar 7. Menurut Rindyastuti et al. , setiap spesies tumbuhan memiliki karakter stomata yang berbeda baik dalam ukuran, bentuk, susunan, ataupun posisinya sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan. Hasil pengamtan ini juga sesuai dengan penelitian yang telah dilakukan Wosch et al. Densitas stomata pada sampel yang diamati sangatlah tinggi, yaitu berkisar antara 252,11 Ae 944,06 stomata per mm2. Sampel dengan densitas stomata terendah yaitu P. flavicarpa dengan rerata 232,90 Ae 377,92 stomata per mm2 sedangkan sampel dengan densitas stomata tertinggi yaitu P. dengan rerata 731,95 Ae 944,06 stomata per mm2. Densitas stomata yang tinggi pada sampel Passiflora ini disebabkan karena ukuran stomatanya kecil dan jarak antar stomata cukup dekat (Gambar 7. Pengukuran terhadap panjang dan lebar stomata juga dilakukan pada sampel yang Lebar stomata 15 sampel memiliki kisaran rerata 0,014 Ae 0,023 mm. Sampel dengan A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. lebar stomata paling kecil adalah P. vitifolia yaitu 0,014 Ae 0,015 mm sedangkan sampel dengan lebar stomata paling besar adalah P. quadrangularis yaitu 0,021 Ae 0,023 mm. Berdasarkan hal ini diketahui bahwa densitas stomata berbanding terbalik dengan ukuran Pada sampel P. vitifolia densitas stomatanya sangat tinggi yaitu 731,95 Ae 944,06 stomata per mm2 namun dilihat dari lebar stomatanya sampel ini memiliki ukuran paling kecil yaitu 0,014 Ae 0,015 mm. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Camargo & Marenco . bahwa pada kebanyakan spesies pohon di hutan hujan Amazonia ditemukan hubungan negatif antara denistas stomata dengan ukuran Analisis Hubungan Fenetik Passiflora spp. berdasarkan Karakter Morfologis dan Anatomis Setiap spesies Passiflora dikelompokkan dalam masing-masing klaster berdasarkan indeks similaritas (IS) dari karakter morfologis dan anatomis yang telah diamati. Nilai IS 15 sampel Passiflora bervariasi dari 0,4348 Ae 0,974. Pada dendrogram ditarik garis ambang batas pada indeks simialritas 0,8 untuk menentukan pengelompokkan dan persamaan OTU sesuai Sneath & Sokal . dan Singh . Berdasarkan garis mabang batas tersebut dihasilkan 4 klaster pada dendrogram (Gambar Selain itu, sampel E3. E2, dan E1. D2. D3, dan D1. sampel C3. C2, dan C1. B3. B2, dan B1. serta sampel A2. A3, dan A1 masing-masing membentuk klaster dengan nilai IS >80% sehingga sampel pada masing-masing kelompok merupakan spesies yang sama. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa data karakater mengelompokkan 15 sampel Passiflora spp. Yogyakarta kedalam 4 spesies sesuai hasil Berdasarkan dendrogram pada Gambar 8. 15 sampel Passiflora membentuk dua klaster utama yaitu klaster I dan klaster II. Klaster I terdiri dari 9 sampel yang selanjutnya membentuk klaster Ia dan klaster Ib sedangkan 6 sampel lainnya membentuk klaster II yang selanjutnya membentuk klaster IIa dan klaster IIb. Klaster Ia terdiri dari sampel E3. E2, dan E1 dengan IS 0,895. Klaster Ib terdiri dari sampel D2. D3. D1. C3. C2, dan C1 dengan IS 0,855. Klaster IIa c terdiri dari sampel B3. B2, dan B1 dengan IS 0,961. Klaster IIb terdiri sampel A2. A3, dan A1 dengan IS 0,921. Berdsarkan Sari et al. , panjang dan arah panah pada scatter plot menunjukkan karakter-karakter yang paling mempengaruhi Semakin panjang panah maka karakter tersebut semakin berpengaruh. Klaster I dan II saling bergabung pada IS 0,434 karena adanya persamaan karakter pada 15 sampel Passiflora yaitu jenis batang herba dengan sedikit bagian berkayu pada pangkalnya. Klaster I terdiri dari 9 sampel yang membentuk klaster Ia dan Ib. Klaster Ia terdiri dari sampel E3. E2, dan E1 yang merupakan spesies P. sedangkan klaster Ib terdiri dari sampel D2. D3. D1. C3. C2, dan C1 di mana sampel D merupakan sampel P. edulis f. edulis dan sampel C merupakan P. edulis f. Klaster Ia dan Ib saling bergabung dan membentuk klaster I pada IS 0,542 karena memiliki persamaan pada karakter tekstur permukaan batang dan daun serta lebar daun. Klaster Ia terdiri dari sampel P. quadrangularis yang saling menyatu pada IS 0,895 karena memiliki beberapa karakter khusus yang membedakannya dari klaster Ib yaitu bentuk daun, bentuk petal, serta bentuk sisi bawah dan atas tulang daun. Pada spesies ini bentuk daunnya adalah daun tunggal dengan pertulangan daun menyirip dan tepi rata (Gambar ), petal berbentuk bulat telur, dan pada sisi atas serta bawah tulang daunnya memiliki proyeksi khas yang disebut keel atau bentuk seperti kapal (Gambar 5. Sementara itu, klaster Ib terbentuk pada IS 0,810 berdasarkan persamaan pada karakter bentuk daun berbagi menjari, bentuk petal bulat memanjang, sisi atas tulang daun cembung dengan proyeksi silindris atu membulat, serta sisi bawah tulang daunya concave membulat. Berdasarkan scatter plot PCA komponen utama pembentuk klaster ini adalah tipe stomata, denistas stomata, ketebalan epidermis atas helaian daun, dan ketebalan mesofil palisade. Klaster Ib terbagi lagi menjadi 2 klaster lebih kecil yang memisahkan sampel C dan D. Keduanya saling terpisah karena memiliki beberapa perbedaan terutama pada karakter Sampel C (P. edulis f. memiliki daun dan bunga yang lebih besar A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. dibandingkan sampel D (P. edulis f. Adanya perbedaan ukuran pada diameter bunga ini disebabkan oleh faktor lingkungan terutama altitude atau ketinggian dan intensitas cahaya. Deshmukh et al. menyatakan bahwa P. edulis f. flavicarpa lebih kuat dan dapat tumbuh dengan baik pada lingkungan tropis sementara P. edulis f. edulis lebih cocok pada kondisi lingkungan yang lebih sejuk yaitu daerah subtropis ataupun dataran tinggi tropis. Berdasarkan Li et al. Passiflora edulis menunjukkan variabilitas morfologi yang cukup besar dan perbedaan paling nyata antar populasi adalah warna kulit buah. Oleh karena itu. Degener . kemudian mengusulkan untuk membedakan populasi dalam spesies terutama menurut warna buah dan menamai populasi buah kuning sebagai Passiflora edulis f. Secara alami, bentuk khas dari spesies Passiflora edulis f. edulis adalah mapan, yang memiliki buah ungu dan sesuai dengan Passiflora edulis utama deskripsi oleh Sims. Klaster II terbentuk pada IS 0,570 dan terdiri dari 6 sampel. Klaster ini terbentuk karena memiliki persamaan karakter berupa permukaan batang dan daun yang ditutupi rambut halus. Klaster II terbagi menjadi 2 yaitu klaster IIa yang terdiri dari sampel B3. B2, dan B1 yang merupakan spesies P. vitifolia serta klaster IIb terdiri sampel A2. A3, dan A1 yang merupakan spesies P. Klaster IIa terbentuk pada IS 0,961 dan berdasarkan scater plot PCA klaster ini terbentuk karena memiliki karakter khusus yaitu bentuk braktea linear dan stomata yang berukuran kecil. Klaster IIb terbentuk pada IS 0,921 karena memiliki krakter khusus yaitu braktea pinnatifid, bentuk daun bercangap menjari, memiliki cincin ungu pada radii, ukuran jaringan penyusun daun yang relatif kecil dibandingkan spesies lain. Hasil berdasarkan karakter morfologis dan anatomis ini berhasil mengelompokkan sampel-sampel Passiflora sesuai dengan klasifikasi infragenerik oleh Feuillet & MacDougal . yang merupakan salah satu acuan penting dalam klasifikasi Passiflora. Feuillet & MacDougal . mengelompokkan genus Passiflora kedalam 4 subgenus yaitu Astrophea. Decaloba. Deidamioides, dan Passiflora. Mengacu pada klasifikasi Feuillet & MacDougal . dan penjelasan Ocampo Pyrez & dAoEeckenbrugge . , kelima spesies Passiflora yang ditemukan merupakan subgenus Passiflora. Klaster I yang terdiri dari spesies P. edulis f. flavicarpa, dan P. edulis f. edulis termasuk kedalam subgenus Passiflora supersection Passiflora. Sementara itu, klaster IIa yang terdiri dari spesies P. Passiflora supercestion Distephana dan klaster IIb yang terdiri dari spesies P. foetida termasuk dalam subgenus Passiflora section Dysosmia. Berdasarkan pada nilai IS masing-masing klaster dapat diketahui jarak hubungan kekerabatan lima spesies Passiflora yang ditemukan di Yogyakarta. Spesies dengan kekerabatan paling dekat adalah P. edulis f. flavicarpa dan P. edulis f. edulis karena keduanya merupakan spesies yang sama. Kedua spesies P. edulis f. flavicarpa dan P. edulis f. edulis memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan P. quadrangularis karena masih termasuk dalam supersection yang sama. Sementara itu. vitifolia dan P. foetida memiliki hubungan kekerabatan yang jauh dengan ketiga spesies lain meskipun kelima spesies ini masih termasuk dalam satu subgenera yang sama yaitu Passiflora. Berdasarkan nilai komponen utama analisis PCA, karakter morfologis dan anatomis yang berperan dalam pemisahan 15 sampel Passiflora spp. di Yogyakarta adalah bentuk batang muda, bentuk daun, pertulangan daun, bentuk ujung daun, bentuk tepian daun, bentuk pangkal daun,kehadiran sepal awn, tipe stomata, serta bentuk sisi atas dan bawah tulang dan. Sementara itu, karakter yang cukup mendukung dalam pemisahan klaster adalah bentuk braktea, bentuk petal, ketebalan mesofil palisade, dan ketebalan daun (Tabel . Kesimpulan Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa 4 spesies Passiflora yang ditemukan di Yogyakarta memiliki memiliki variasi morfologis pada bentuk batang muda, bentuk daun, tekstur permukaan daun dan batang, bentuk dan warna braktea, warna sepal dan petal, serta kehadiran cincin ungu pada korona. Variasi anatomis A 2024 Maulidiyah, dkk. This article is open access Maulidiyah & Purnomo . Berkala Ilmiah Biologi, 15 . : 92 Ae 109 DOI: 10. 22146/bib. terdapat pada pola berkas pengangkut, bentuk sisi atas dan bawah tulang daun, bentuk dan ukuran sel palisade, serta tipe dan densitas Berdasarkan analisis fenetik, sampel Passiflora membentuk 4 klaster utama pada indeks similaritas 0,8 yaitu P. edulis, dan P. and cultivation. JAYA Publishing House. Delhi. India. 979Ae1005. Diatrinari. and Purnomo. Hubungan Kekerabatan Fenetik Kultivar Krisan (Chrysanthemum morifolium Ramat. ) Di Pakem. Daerah Istimewa Yogyakarta Berdasarkan Karakter Anatomis Daun dan Batang. Bioma, 15. DOI: 21009/Bioma15. Ucapan terima kasih Terima kasih kepada Laboratorium Struktur dan Perkembangan Tumbuhan dan Laboratorium Sistematika Tumbuhan Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada yang telah memfasilitasi terlaksananya penelitian ini. Referensi