2025. : 69-80 E-ISSN 2722709x https://jurnal. id/index. php/herbapharma/index PENGARUH PENGGUNAAN STIFFENING AGENT CERA ALBA TERHADAP SIFAT FISIK DAN STABILITAS SEDIAAN LIP BALM MINYAK ALMOND (Prunus Erin Efrilia1*. Nur Cholis Endriyatno2. Amelia Reza Agustyne2. Sabrina Aulia Putri2. Ika Wulandari2. Muhammad Zakki2. Adam Kinantaka2 Program Studi D3 Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Pekalongan. Pekalongan. Indonesia Program Studi S1 Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Pekalongan. Pekalongan. Indonesia *E-mail : efriliaerin@gmail. ABSTRAK Masalah kesehatan bibir seperti kering, pecah-pecah, dan iritasi dapat mengganggu kenyamanan serta aktivitas sehari-hari. Perawatan bibir yang kurang optimal juga meningkatkan risiko kerusakan akibat paparan sinar matahari, cuaca ekstrem, atau bahan kimia dari kosmetik. Penggunaan lip balm merupakan solusi praktis untuk menjaga kelembapan bibir, meskipun demikian sebagian produk mengandung bahan sintetis yang berpotensi menimbulkan iritasi. Oleh karena itu, diperlukan inovasi lip balm berbahan alami yang aman dan efektif. Penelitian ini bertujuan memformulasikan lip balm berbasis minyak almond (Prunus amygdalu. sebagai zat aktif pelembap dan cera alba sebagai agen pengeras . tiffening agen. dengan tiga variasi konsentrasi, yaitu 10%, 15%, dan 20%. Evaluasi dilakukan terhadap sifat organoleptik, homogenitas, pH, daya lekat, titik leleh, serta stabilitas fisik selama penyimpanan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh formula memenuhi parameter fisik lip balm yang baik. Formula dengan konsentrasi cera alba 15% memberikan hasil paling optimal dengan tekstur stabil, daya sebar luas, daya lekat nyaman, serta titik leleh yang sesuai untuk iklim tropis. Sediaan juga menunjukkan kestabilan fisik dan organoleptik selama penyimpanan tanpa perubahan Kata Kunci: Cera alba. Lip Balm. Minyak Almond ABSTRACT Lip health problems such as dryness, cracking, and irritation can interfere with comfort and daily Inadequate lip care may increase the risk of damage caused by sun exposure, extreme weather, or chemical ingredients from cosmetics. Lip balm is a practical solution to maintain lip moisture. however, some products contain synthetic ingredients that may cause irritation. Therefore, innovation in natural-based lip balm formulations that are safe and effective is required. This study aims to formulate a lip balm using almond oil (Prunus amygdalu. as a moisturizing active ingredient and cera alba as a stiffening agent, with three concentration variations of 10%, 15%, and 20%. Evaluations were conducted on organoleptic properties, homogeneity, pH, adhesion, melting point, and physical stability during storage. The results showed that all formulations met the acceptable physical parameters of lip The formulation containing 15% cera alba exhibited the most optimal characteristics, with stable texture, wide spreadability, comfortable adhesion, and an appropriate melting point for tropical climates. The preparation also demonstrated good physical and organoleptic stability during storage without significant changes. Keywords: Almond oil. Cera alba. Lip Balm HERBAPHARMA, 2025. : 69-80 PENDAHULUAN Bibir merupakan bagian wajah yang tidak hanya berperan dalam fungsi fisiologis seperti makan dan berbicara, tetapi juga berkontribusi besar terhadap estetika dan ekspresi wajah. Kondisi bibir yang sehat dapat meningkatkan kepercayaan diri seseorang. Sebaliknya, bibir yang kering, pecah-pecah, atau mengalami iritasi dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu aktivitas sehari-hari (Desnita et al. , 2. Tidak seperti kulit pada umumnya, bibir memiliki struktur yang lebih tipis dan tidak dilengkapi dengan pelindung alami seperti folikel rambut dan kelenjar keringat, sehingga lebih rentan terhadap dehidrasi, paparan sinar matahari, serta perubahan kondisi lingkungan (Yusuf et al. Salah satu solusi untuk menjaga kelembapan dan kesehatan bibir adalah penggunaan sediaan topikal seperti lip balm. Produk ini berfungsi mempertahankan kelembapan bibir, melindungi dari kekeringan, serta dalam beberapa kasus dapat memberikan perlindungan terhadap sinar ultraviolet (UV) dan membantu mencerahkan warna bibir yang kusam (Yusuf et al. , 2. Namun, sebagian besar produk lip balm di pasaran masih menggunakan bahan kimia sintetis yang berpotensi menimbulkan iritasi pada individu dengan sensitivitas kulit tertentu (Sarwanda et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa perlunya pengembangan sediaan lip balm berbahan dasar alami yang lebih aman dan ramah bagi kulit sensitif. Minyak almond (Prunus amygdalu. merupakan salah satu bahan alami yang banyak digunakan dalam formulasi kosmetik karena kandungan nutrisi dan sifat emoliennya. Minyak ini mengandung asam lemak tak jenuh seperti asam oleat, asam linoleat, dan asam palmitat yang berfungsi menjaga kelembapan, meningkatkan daya serap, serta melindungi kulit dari infeksi dan paparan sinar UV (Limanda et al. , 2019. Sarwanda et al. , 2. Selain itu, kandungan vitamin E yang tinggi dalam minyak almond memiliki aktivitas antioksidan tinggi yang dapat membantu menangkal radikal bebas dan memperbaiki kerusakan kulit (El Bernoussi et al. , 2. Dalam formulasi lip balm, pemilihan bahan basis sangat penting karena menentukan karakteristik fisik sediaan seperti kekerasan, homogenitas, kestabilan warna, serta kenyamanan penggunaan. Salah satu bahan yang sering digunakan sebagai agen pengeras . tiffening agen. adalah Cera alba atau lilin lebah putih. Cera alba berfungsi sebagai pengikat minyak dan komponen lainnya dalam sediaan serta mampu mempertahankan konsistensi dan kestabilan formulasi (Suena et al. , 2. Sifat emulgator dan kemampuan retensi minyak dari bahan ini menjadikannya pilihan tepat dalam pembuatan lip balm berbasis minyak alami. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk memformulasikan lip balm berbahan aktif minyak almond (Prunus amygdalu. dengan variasi konsentrasi Cera alba sebagai stiffening agent, yaitu 10%, 15%, dan 20%. Penelitian ini juga bertujuan mengevaluasi stabilitas fisik sediaan lip balm selama penyimpanan guna memastikan mutu dan efektivitas produk yang dihasilkan. BAHAN DAN METODE Bahan dan Alat Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah minyak almond (Subur Kimia Jay. dan bahan lain yaitu cera alba (Gracefruit Lt. , cetyl alkohol (PT. Sumber Berlian Kimi. , minyak zaitun (Borge. , propilen glikol (Sigma Aldric. , metil paraben paraben (Golden Er. Oleum Rosae (Sigma Aldric. dan Aquadest (Bratac. Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini meliputi timbangan analitik (Ohau. , alat uji daya lekat, alat uji daya sebar, viskometer (VT-04 Rio. , alat-alat gelas (PyrexA), pH meter (Lutron PH220SS), kaca objek (Sail Bran. , pipet tetes, waterbath (Memmer. , batang pengaduk (Iwak. , cawan petri (Anumbr. , cawan porselen (PyrexA), mortir dan stamper (PyrexA). PROSEDUR PENELITIAN Formulasi Sediaan Lip Balm Formulasi lip balm minyak almond dibuat dalam tiga variasi dengan perbedaan konsentrasi bahan basis Cera alba. Formulasi sediaan lip balm minyak almond dapat dilihat pada tabel 1. HERBAPHARMA, 2025. : 69-80 Bahan Minyak Almond Cera alba Cetyl Alkohol Adeps Lanae Metyl Paraben Propilen Glikol Oleum Rosae Olive Oil Tabel 1. Formulasi Sediaan Lip Balm Minyak Almond Fungsi Formulasi FI (%) FII (%) Zat Aktif Stiffening agent/ basis Pengemulsi Pelembut Pengawet Humektan Pengaroma Emolien Ad 100 Ad 100 Fi (%) Ad 100 Langkah pertama pembuatan Lip balm minyak almond adalah dengan menimbang seluruh bahan sesuai formulasi. Cera alba, cetyl alcohol dan adeps lanae dileburkan dalam cawan penguap di penangas air dengan suhu 70A C. Campuran yang telah lebur tersebut dipindahkan ke dalam mortir Dalam wadah terpisah, metil paraben dilarutkan sedikit demi sedikit ke dalam campuran propilen glikol dan minyak zaitun hingga homogen, kemudian ditambahkan ke dalam mortir berisi basis lip balm. Setelah campuran menjadi homogen, oleum rosae dimasukkan sebagai bahan pengaroma, lalu diaduk kembali hingga terbentuk sediaan yang merata. Uji Sifat Fisik Sediaan Uji Organoleptik Organoleptik adalah suatu pengujian dengan menggunakan pancaindra manusia sebagai alat utama untuk menilai karakteristik fisik sediaan lip balm. Parameter yang diamati meliputi warna, aroma, rasa, dan bentuk dari sediaan lip balm (Ambari et al. , 2. Uji Homogenitas Masing-masing sediaan lip balm dengan bahan aktif minyak almond diperiksa homogenitasnya dengan cara mengoleskan 1 gram sediaan pada kaca objek, lalu diamati partikel yang kasar dengan cara diraba. Sediaan dinyatakan homogen apabila tidak tampak partikel kasar atau butiran terpisah (Ambari et al. , 2. Uji pH Pengujian ini dilakukan untuk melihat tingkat keasaman sediaan lip balm untuk memastikan sediaan lip balm tidak menyebabkan iritasi pada kulit bibir. Pengujian dilakukan dengan menimbang 1 gram sampel yang dilarutkan dalam 100 mL akuades, kemudian diukur menggunakan pH meter yang telah dikalibrasi dengan larutan dapar standar asam dan netral (Sarwanda. Fitriani and Indriyanti. Uji daya lekat Sebanyak 0,25 gram sampel ditempatkan di antara dua kaca objek. Keduanya ditekan menggunakan beban 1 kg selama 5 menit, kemudian dilepaskan dan diberi beban 80 gram. Waktu hingga kedua kaca terpisah dicatat. Pengujian dilakukan sebanyak tiga kali replikasi (Ambari et al. Uji Iritasi Uji iritasi dilakukan menggunakan metode open patch test pada lengan bawah bagian dalam terhadap sepuluh panelis yang bersedia dan menandatangani surat pernyataan kesediaan. Sediaan dioleskan pada area seluas 2,5 y 2,5 cm dan dibiarkan terbuka. Pengamatan dilakukan tiga kali sehari selama dua hari berturut-turut. Kriteria inklusi panelis meliputi wanita berusia 20Ae30 tahun, sehat jasmani dan rohani, tidak memiliki riwayat alergi kulit, serta menyatakan kesediaan menjadi responden. Reaksi yang diamati meliputi munculnya eritema, papula, vesikula, atau edema pigmentasi (Ambari et , 2. Uji Kelembapan HERBAPHARMA, 2025. : 69-80 Uji kelembapan dilakukan secara in vivo dengan 9 panelis yang dibagi ke dalam tiga kelompok yiatu 3 orang panelis mengunakan formula FI, 3 orang panelis mengunakan formula FII, 3 orang panelis mengunakan formula Fi. Kriteria panelis meliputi wanita sehat berusia 20Ae25 tahun tanpa riwayat alergi kulit dan bersedia menjadi subjek uji. Sediaan dioleskan pada lengan bawah setiap pagi dan malam hari selama enam hari. Pengamatan meliputi perubahan fisik yang terjadi dan tingkat kelembapan kulit yang diukur menggunakan skin analyzer (Imani, 2. Uji Stabilitas Uji stabilitas fisik pada sediaan ini menggunakan metode cycling test untuk mengetahui pengaruh perubahan suhu selama waktu penyimpanan terhadap kestabilan sediaan. Sediaan disimpan pada kulkas dengan suhu 4AC selama 24 jam dan dilanjutkan dengan menyimpan sediaan pada oven dengan suhu 40AC selama 24 jam. Pengujian dilakukan sebanyak 6 siklus dan diamati terjadinya perubahan fisik dari sediaan pada awal dan akhir pengujian yang meliputi organoleptik, homogenitas, dan pH. Evaluasi yang dilakukan meliputi uji organoleptis, uji pH, uji homogenitas, uji daya sebar dan uji daya lekat (Ambari et al. , 2. Analisis Data Data yang diperoleh dari hasil pengujian terhadap parameter fisik sediaan lip balm, meliputi pH, daya lekat, dan daya sebar, dianalisis secara statistik menggunakan perangkat lunak SPSS versi 25. Analisis dilakukan untuk mengetahui adanya perbedaan yang signifikan antar formula lip balm dengan variasi konsentrasi Cera alba . %, 15%, dan 20%). HASIL DAN PEMBAHASAN Formulasi Sediaan Lip Balm Formulasi lip balm dengan minyak almond telah berhasil dibuat dalam tiga variasi berdasarkan konsentrasi cera alba sebagai basis pembentuk struktur utama sediaan, yakni FI . %). FII . %), dan Fi . %). Proses pembuatan dilakukan dengan metode leleh dan pencampuran bertingkat sesuai sifat fisikokimia bahan, terutama untuk menjaga kestabilan senyawa aktif dan homogenitas sediaan. Semua formulasi menunjukkan bentuk sediaan semi padat yang stabil secara visual, homogen, berwarna kekuningan, dan memiliki aroma khas dari bahan aromatik yang digunakan . leum rosa. Perbedaan konsentrasi cera alba diketahui memengaruhi karakteristik fisik lip balm, terutama pada parameter daya sebar, kekerasan, dan kenyamanan aplikasi. Cera alba merupakan bahan penstabil dan penebal yang memberikan struktur padat pada sediaan (Pattnaik et al. , 2. Formulasi dengan konsentrasi cera alba tertinggi (F. cenderung memiliki tekstur yang lebih keras dan viskositas yang lebih tinggi dibandingkan FI, sehingga mempengaruhi penurunan daya sebar. Hal ini sejalan dengan temuan sebelumnya bahwa peningkatan konsentrasi cera alba dalam formula lip balm menyebabkan berkurangnya kemampuan produk untuk menyebar secara merata di permukaan kulit (Kumari et al. , 2. Namun, peningkatan konsentrasi cera alba juga dapat memberikan efek protektif yang lebih tinggi terhadap kulit bibir karena sifat oklusif dari cera alba yang dapat menghambat kehilangan air transepidermal (TEWL), menjaga kelembaban, dan memberikan lapisan pelindung (Draelos, 2. Dengan demikian, formulasi Fi mungkin lebih sesuai untuk penggunaan pada kondisi lingkungan kering atau musim dingin, sementara FI lebih cocok untuk kondisi tropis yang lembap karena memiliki daya sebar lebih baik dan tekstur yang lebih ringan. Seluruh formulasi menggunakan minyak almond sebagai zat aktif yang dikenal kaya akan asam lemak tak jenuh dan vitamin E, yang mampu melembapkan dan menutrisi kulit bibir (Lin et al. , 2. Kombinasi bahan tambahan seperti propilen glikol sebagai humektan dan adeps lanae sebagai emolien memberikan efek sinergis dalam melembutkan dan meningkatkan hidrasi bibir. Uji Sifat Fisik sediaan Lip Balm HERBAPHARMA, 2025. : 69-80 Uji sifat fisik dilakukan untuk mengevaluasi kualitas dan kestabilan sediaan lip balm yang diformulasikan dengan tiga konsentrasi cera alba berbeda, yaitu FI . %). FII . %), dan Fi . %). Uji Organoleptik Tabel 2. Hasil Uji Organoleptik Formula Warna Bentuk Putih kekuningan Semi padat Oleum rosae khas FII Putih susu Semi padat Oleum rosae khas Fi Putih susu Semi padat Oleum rosae khas Pengamatan organoleptik dilakukan untuk menilai karakteristik fisik awal sediaan lip balm dari tiga formula, yaitu FI. FII, dan Fi. Parameter yang diamati meliputi warna, bentuk, dan bau. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa seluruh sediaan memiliki bentuk semi padat yang sesuai dengan karakteristik umum lip balm, yakni sediaan topikal padat-lembut dengan kemampuan meleleh pada suhu tubuh untuk memudahkan aplikasi (Kumar et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa ketiga formula telah berhasil membentuk struktur fisik yang stabil dan seragam. Gambar 1. Uji Organolpetis Dari segi warna, terdapat perbedaan antara formula. Formula FI menunjukkan warna putih kekuningan, sedangkan FII dan Fi berwarna putih susu. Perbedaan ini kemungkinan besar disebabkan oleh peningkatan konsentrasi cera alba dalam formula. Cera alba secara alami memiliki warna kuning pucat hingga kuning tua tergantung pada kemurnian dan metode pemrosesan, sehingga pada konsentrasi rendah seperti pada FI . %), warna kekuning dari cera alba masih tampak dominan (Sundararajan et al. , 2. Sementara pada FII dan Fi, proporsi bahan tambahan lain seperti cetyl alcohol dan minyak lainnya yang berwarna lebih terang dapat menutupi rona kekuningan cera alba, dan menghasilkan warna putih susu. Untuk parameter bau, seluruh formula menunjukkan aroma khas oleum rosae yang ditambahkan sebagai bahan pewangi. Hal ini menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi negatif antara bahan dalam formula yang dapat menimbulkan bau tidak sedap, serta mendukung penerimaan sediaan secara organoleptik oleh pengguna (Draelos, 2. Stabilnya aroma juga menjadi indikasi bahwa tidak terjadi degradasi komponen volatil selama proses pemanasan dan pencampuran sediaan. Secara keseluruhan, hasil pengamatan organoleptik menunjukkan bahwa ketiga formulasi memiliki karakteristik fisik yang baik dan konsisten, yang mencerminkan keberhasilan proses formulasi dan potensi kestabilan sediaan selama penyimpanan. Uji Homogenitas Tabel 3. Hasil Uji Homogenitas Formulasi Homogenitas Homogen HERBAPHARMA, 2025. : 69-80 FII Homogen Fi Homogen Uji homogenitas dilakukan untuk menilai keseragaman fisik sediaan lip balm yang telah diformulasikan dalam tiga formula, yaitu FI. FII, dan Fi. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa seluruh formula menghasilkan sediaan yang homogen secara visual, tanpa adanya pemisahan fase, gumpalan, maupun perbedaan warna dan tekstur antar bagian. Homogenitas yang baik menunjukkan bahwa bahan-bahan dalam sediaan, termasuk fase lemak dan minyak, telah tercampur secara merata dan stabil. Gambar 2. Uji Homogenitas Homogenitas merupakan salah satu indikator penting dalam mutu sediaan semipadat seperti lip balm, karena dapat memengaruhi kenyamanan penggunaan, efikasi bahan aktif, serta kestabilan produk selama penyimpanan (Sahu et al. , 2. Ketidakseragaman pada sediaan dapat disebabkan oleh distribusi zat aktif yang tidak merata sehingga berisiko menurunkan efektivitas sediaan maupun kenyamanan pengguna. Oleh karena itu, keberhasilan seluruh formula dalam mencapai homogenitas yang optimal menunjukkan bahwa metode formulasi yang digunakan telah dilakukan dengan tepat, termasuk pada tahap pemanasan dengan suhu terkontrol dan pengadukan secara konstan. Faktor lain yang berkontribusi terhadap homogenitas adalah kompatibilitas antar bahan, terutama antara bahan dasar seperti Cera alba, cetyl alcohol, dan adeps lanae dengan bahan cair seperti minyak almond dan minyak zaitun. Pemilihan bahan dengan polaritas yang sesuai serta titik leleh yang relatif dekat memungkinkan pencampuran berlangsung merata saat dilakukan pelelehan (Tavakoli et al. , 2. Dengan hasil uji homogenitas yang baik pada semua formula, dapat disimpulkan bahwa seluruh sediaan telah memenuhi salah satu syarat mutu dasar untuk sediaan kosmetik topikal, dan siap untuk tahap evaluasi berikutnya. Uji pH Pengujian pH dilakukan untuk menilai kesesuaian sediaan lip balm terhadap pH fisiologis kulit bibir, yang umumnya berada pada rentang pH 4,5Ae6,5 (Korting et al. , 2. Hasil pengukuran menunjukkan adanya variasi nilai pH antar formulasi. Tabel 4. Hasil uji pH Replikasi 2 Replikasi 3 Formula Repliaksi 1 Rata-rata pH (SD) 5,0 A 0 FII 5,37 A 0,32 5,67 A 0,29 HERBAPHARMA, 2025. : 69-80 Pada FI menunjukkan nilai pH paling rendah, yaitu 5,0 A 0, sedangkan FII memiliki pH 5,37 A 0,32, dan Fi menunjukkan pH tertinggi sebesar 5,67 A 0,29. Seluruh nilai pH masih berada dalam rentang yang aman dan sesuai untuk penggunaan topikal pada area sensitif seperti bibir, sehingga tidak berpotensi menyebabkan iritasi atau gangguan keseimbangan kulit (Muhammad et al. , 2. Gambar 3. Uji pH Secara statistik, data pH dari ketiga formulasi diuji normalitasnya dengan metode uji ShapiroWilk, dan hasil menunjukkan bahwa seluruh kelompok data berdistribusi normal . > 0,. Dengan terpenuhinya asumsi normalitas, analisis dilanjutkan menggunakan uji One-Way ANOVA untuk melihat ada tidaknya perbedaan signifikan antar formula. Sebelum itu. LeveneAos Test digunakan untuk menguji homogenitas varians, dan hasilnya menunjukkan bahwa data memiliki varians yang homogen . > 0,. , sehingga pemilihan ANOVA sebagai metode analisis dinilai tepat. Hasil uji ANOVA menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antar ketiga formula terhadap nilai pH yang dihasilkan dengan nilai signifikansi 0,027 . < 0,. Analisis ini mengindikasikan bahwa komposisi formula, khususnya variasi konsentrasi cera alba, berpengaruh nyata terhadap tingkat keasaman sediaan. Hal ini dapat dijelaskan secara ilmiah, dimana cera alba memiliki sifat basa lemah yang dapat memengaruhi pH akhir produk ketika digunakan dalam konsentrasi tinggi (Tavakoli et al. , 2. Untuk mengetahui lebih lanjut formula yang berbeda secara signifikan, dilakukan uji lanjut menggunakan Tukey HSD. Hasilnya menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara FI dan Fi . < 0,. , namun FII tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan dengan FI maupun Fi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi cera alba dari FI ke Fi berpengaruh terhadap peningkatan pH sediaan secara signifikan, meskipun perbedaan tersebut masih dalam batas aman untuk kulit. Dari sudut pandang formulasi, penyesuaian pH merupakan aspek penting yang berpengaruh terhadap kenyamanan penggunaan dan stabilitas bahan aktif dalam sediaan, termasuk minyak almond yang rentan terhadap oksidasi pada kondisi pH ekstrem (Araujo et al. , 2. Oleh karena itu, memastikan pH sediaan tetap dalam rentang fisiologis menjadi salah satu indikator mutu penting dalam formulasi produk kosmetik yang baik. Uji daya lekat Uji daya lekat dilakukan untuk mengetahui sejauh mana sediaan lip balm dapat bertahan menempel di permukaan kulit bibir setelah diaplikasikan. Daya lekat merupakan salah satu parameter penting dalam menentukan kenyamanan penggunaan dan efektivitas sediaan, karena produk dengan daya lekat yang optimal tidak hanya memberikan perlindungan yang lebih lama, tetapi juga mengurangi frekuensi pemakaian ulang. Nilai daya lekat sediaan lip balm adalah lebih dari empat detik (Reddy et al. , 2. HERBAPHARMA, 2025. : 69-80 Tabel 5. Hasil Uji Daya Lekat Rata-rata daya lekat . Rata-rata daya 5,625 A 0,370 FII 6,175 A 0,304 6,500 A 0,354 Formulasi Berdasarkan data hasil pengujian di atas, diketahui bahwa Fi memiliki daya lekat tertinggi sebesar 6,54 A 0,05 detik, sedangkan FI memiliki daya lekat terendah sebesar 5,84 A 0,16 detik. Meskipun ketiga formula menunjukkan nilai daya lekat dalam rentang yang relatif dekat, analisis statistik menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar formula. Uji Shapiro-Wilk menunjukkan bahwa data berdistribusi normal . > 0,. , dan LeveneAos Test mengonfirmasi bahwa varians antar kelompok homogen . > 0,. Oleh karena itu, uji One-Way ANOVA digunakan dan menghasilkan nilai signifikansi p = 0,016 . < 0,. , yang berarti terdapat perbedaan daya lekat yang signifikan secara statistik antar formula. Analisis lanjutan menggunakan Tukey HSD menunjukkan bahwa terdapat perbedaan signifikan antara FI dan Fi . = 0,. , sedangkan FII tidak menunjukkan perbedaan signifikan dibandingkan FI maupun Fi. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa peningkatan konsentrasi cera alba dalam formula berpengaruh terhadap peningkatan daya lekat sediaan lip Cera alba berfungsi sebagai stiffening agent yang mampu memberikan viskositas dan daya lekat lebih tinggi pada sediaan, sehingga memungkinkan produk lebih lama bertahan di permukaan kulit (Tavakoli et al. , 2. Penambahan cera alba yang lebih tinggi pada Fi tidak hanya memperkuat struktur sediaan, tetapi juga meningkatkan kohesi internal, yang secara langsung meningkatkan daya lekat produk (Li et al. , 2. Namun, keseimbangan antara daya lekat dan kenyamanan aplikasi tetap perlu diperhatikan, karena daya lekat yang terlalu tinggi dapat menimbulkan sensasi lengket yang kurang disukai pengguna (Li et al. , 2. Berdasarkan hasil tersebut. Fi dinilai memiliki performa daya lekat terbaik, tetapi pengujian tambahan seperti uji hedonik atau preferensi konsumen tetap diperlukan untuk memastikan bahwa karakteristik tersebut sesuai dengan ekspektasi pengguna Uji Iritasi Uji iritasi dilakukan untuk memastikan keamanan sediaan lip balm terhadap kulit, terutama karena penggunaannya ditujukan untuk area sensitif seperti bibir. Pengujian dilakukan dengan metode uji tempel terbuka . pen patch tes. pada 10 panelis wanita berusia 20Ae30 tahun yang telah memenuhi kriteria inklusi dan menandatangani surat pernyataan kesediaan. Sediaan lip balm dari ketiga formula dioleskan pada area lengan bawah bagian dalam seluas 2,5 x 2,5 cm, sebanyak tiga kali sehari selama dua hari berturut-turut. Reaksi yang diamati meliputi eritema . , papula, vesikula, edema, dan pigmentasi sesuai dengan parameter penilaian iritasi kulit ringan hingga berat (Ambari et al. , 2. Selama masa pengamatan, tidak ditemukan reaksi iritasi pada seluruh panelis untuk ketiga formulasi lip balm. Tabel 6. Hasil Uji Iritas No Panelis Eritema (Kemeraha. Papula Vesikula Edema Pigmentasi Skor Total Kategori Reaksi* Tidak iritasi HERBAPHARMA, 2025. : 69-80 No Panelis Eritema (Kemeraha. Papula Vesikula Edema Pigmentasi Skor Total Kategori Reaksi* Tidak iritasi Tidak iritasi Tidak iritasi Tidak iritasi Tidak iritasi Tidak iritasi Tidak iritasi Tidak iritasi P10 Tidak iritasi Keterangan : 0 = Tidak ada reaksi. 1 = Reaksi ringan. 2 = Reaksi sedang. 3 = Reaksi berat Hasil ini menunjukkan bahwa seluruh formula lip balm aman digunakan dan tidak menimbulkan iritasi kulit berdasarkan pengujian subakut jangka pendek. Ketidakmunculan gejala iritasi dapat dikaitkan dengan pemilihan bahan yang bersifat non-sensitizing dan biokompatibel, seperti minyak almond, minyak zaitun, serta cera alba yang juga memiliki sifat emolien dan antiinflamasi ringan (Neto et al. , 2. Selain itu, penggunaan bahan pengawet dalam konsentrasi rendah seperti methylparaben 0,2%, juga dapat mendukung keamanan sediaan, karena senyawa ini tergolong aman dalam kadar tersebut dan jarang menimbulkan reaksi alergi apabila diformulasikan dengan tepat (Yang et al. , 2. Oleh karena itu, tidak ditemukannya tanda-tanda iritasi dalam uji ini menjadi indikator penting bahwa sediaan lip balm memenuhi aspek keamanan . yang dibutuhkan dalam pengembangan produk kosmetik. Namun demikian, meskipun hasil ini menunjukkan keamanan jangka pendek, pengujian lanjutan seperti uji iritasi kronis, uji komedogenik, atau evaluasi dermatologis pada populasi lebih luas tetap disarankan untuk menjamin keamanan jangka panjang dalam penggunaan rutin. Uji Kelembapan Uji kelembapan dilakukan untuk mengevaluasi kemampuan sediaan lip balm dalam meningkatkan kadar air pada permukaan kulit setelah aplikasi. Parameter ini penting karena salah satu fungsi utama lip balm adalah menjaga dan mengembalikan kelembapan alami bibir yang rentan kering. Kadar kelembapan kulit yang normal berkisar antara 30Ae50%, di mana kadar air di bawah 30% menandakan kulit kering, sedangkan di atas 50% menunjukkan kulit sangat lembap atau berminyak. Pengujian ini dilakukan dengan mengukur kadar kelembapan kulit sebelum dan sesudah penggunaan sediaan pada masing-masing formula. Gambar 4. Uji Kadar Air HERBAPHARMA, 2025. : 69-80 Formulasi Tabel 7. Hasil Uji Kelembapan Sebelum (%) Sesudah (%) FII Fi Berdasarkan hasil di atas, seluruh formula menunjukkan adanya peningkatan kadar kelembapan kulit setelah aplikasi. Sebelum penggunaan, nilai kelembapan pada semua kelompok berada pada kategori sangat kering (<33%), sesuai dengan klasifikasi yang dikemukakan oleh Masluhiya & Fidiastuti . Setelah penggunaan, hasil pengukuran menunjukkan bahwa tingkat kelembapan kulit mengalami peningkatan pada seluruh formula yang diuji. FI mengalami kenaikan dari 32,0% menjadi 33,7%, sehingga berpindah dari kategori sangat kering ke kering . Ae47%). FII menunjukkan peningkatan paling signifikan, yaitu dari 30,2% menjadi 38,9% yang termasuk dalam kategori normal . Ae42%). Sementara itu. Fi juga mengalami peningkatan dari 28,9% menjadi 34,5% yang termasuk dalam kategori kering. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa ketiga formula mampu meningkatkan kelembapan kulit, dengan efektivitas tertinggi ditunjukkan oleh FII. Peningkatan kelembapan ini dapat dikaitkan langsung dengan komponen emolien dan humektan dalam formula, seperti minyak almond, minyak zaitun, dan propilen glikol. Propilen glikol memiliki kemampuan menarik air ke lapisan stratum korneum, sementara minyak alami berfungsi sebagai oklusif yang membantu mengurangi kehilangan air dari kulit . ransepidermal water los. (Li et al. , 2. Hasil paling optimal ditunjukkan oleh FII, yang mampu membawa kadar kelembapan ke tingkat normal, menunjukkan kombinasi bahan yang paling efektif dalam menjaga hidrasi kulit. Kemungkinan, keseimbangan antara kandungan cera alba 15% sebagai bahan oklusif, serta jumlah emolien dan humektan lainnya, menciptakan tekstur semi-oklusif yang ideal dan cukup melapisi permukaan kulit, namun tetap memungkinkan interaksi dengan kelembapan lingkungan (Zou et al. , 2. Sementara itu. FI dan Fi menunjukkan peningkatan yang lebih rendah. Hal ini bisa jadi karena perbedaan konsentrasi cera alba yang terlalu rendah pada FI . ehingga kurang membentuk lapisan pelindun. , atau terlalu tinggi pada Fi . erpotensi terlalu oklusif dan membatasi penyerapan air dari lua. Keseimbangan ini menjadi penting dalam formulasi produk pelembap bibir yang efektif. Secara keseluruhan, ketiga formula terbukti memiliki kemampuan meningkatkan kelembapan kulit, dengan FII menunjukkan hasil paling efektif dalam mengembalikan kelembapan ke level fisiologis yang ideal. Ini menjadi indikasi bahwa FII berpotensi lebih unggul dalam fungsi pelembap, yang merupakan salah satu klaim utama produk lip balm. Uji Stabilitas Uji stabilitas fisik dilakukan menggunakan metode cycling test, yaitu penyimpanan sediaan secara bergantian pada suhu rendah . AC) dan suhu tinggi . AC) selama 24 jam setiap siklusnya, dna dilakukan sebanyak 6 siklus, untuk mensimulasikan kondisi penyimpanan ekstrem. Tujuan pengujian ini adalah untuk mengevaluasi pengaruh fluktuasi suhu terhadap sifat fisik dan kimia sediaan lip balm, meliputi organoleptik, homogenitas, pH, daya sebar, dan daya lekat (Ambari et al. , 2. HERBAPHARMA, 2025. : 69-80 Gambar 5. Cycling Test Suhu Panas Parameter Tabel 8. Hasil uji Stabilitas Formulasi I (FI) Formulasi II (FII) Formulasi i (F. Organoleptik Tidak berubah . arna, bau, bentuk teta. Tidak berubah Tidak berubah Homogenitas Homogen Homogen Homogen pH Awal 5,37 5,67 pH Akhir 4,5 . enurun signifika. 5,35 . 5,64 . Stabilitas pH Tidak stabil Stabil Stabil Hasil pengamatan menunjukkan bahwa ketiga formulasi lip balm tetap stabil secara organoleptik dan homogenitas sepanjang siklus pengujian. Tidak ditemukan perubahan warna, bau, atau tekstur yang signifikan yang dapat memengaruhi kualitas produk secara visual dan sensorik. Ini mengindikasikan bahwa komposisi bahan dan metode pembuatan telah menghasilkan sediaan dengan kestabilan fisik yang baik meskipun mengalami perubahan suhu ekstrim (Neto et al. , 2. Namun demikian. FI mengalami penurunan pH yang signifikan, dari 5,0 menjadi 4,5 setelah 6 Hal ini mengindikasikan adanya perubahan kimiawi dalam sediaan yang berpotensi menurunkan kestabilan formulasi. Penurunan pH dapat terjadi disebabkan oleh adanya degradasi bahan aktif atau komponen emulsi yang sensitif terhadap suhu, sehingga memerlukan perhatian lebih lanjut dalam pengembangan formulasi agar pH tetap dalam rentang aman dan nyaman untuk kulit bibir . H fisiologis sekitar 4,5Ae6,. (Wang et al. , 2. Sementara FII dan Fi menunjukkan stabilitas pH yang baik, dengan nilai pH yang relatif konstan selama siklus uji. Dari sisi daya sebar dan daya lekat, ketiga formula mempertahankan performa yang stabil dengan fluktuasi ringan yang masih dalam batas toleransi. Hal ini menunjukkan bahwa perubahan suhu selama cycling test tidak mempengaruhi konsistensi dan adhesivitas sediaan secara signifikan, faktor penting yang menunjang kenyamanan penggunaan lip balm (Zou et al. , 2. Secara keseluruhan, uji stabilitas ini memberikan gambaran bahwa formulasi lip balm dengan konsentrasi cera alba yang lebih tinggi (FII dan F. lebih unggul dalam mempertahankan kestabilan kimia dan fisik selama penyimpanan dengan kondisi suhu bervariasi. Hal ini penting sebagai dasar pengembangan produk kosmetik yang tahan lama dan dapat dipasarkan dengan kualitas terjamin (Li et al. , 2. KESIMPULAN Pada penelitan ini menunjukkan bahwa variasi konsentrasi cera alba memberikan pengaruh signifikan terhadap sifat fisik dan stabilitas sediaan lip balm. Formula dengan konsentrasi cera alba 15% (FII) menunjukkan hasil paling optimal. FII memiliki kestabilan pH yang baik, daya lekat dan daya sebar yang seimbang, peningkatan kelembapan kulit paling signifikan, serta tidak menimbulkan iritasi HERBAPHARMA, 2025. : 69-80 pada kulit. Selain itu. FII juga mempertahankan kestabilan fisik dan organoleptik selama uji REFERENSI