Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Volume 11. Nomor 1 (Oktober 2. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . https://w. id/e-journal/index. php/dunamis DOI: 10. 30648/dun. Submitted: 25 Agustus 2025 Accepted: 23 November 2025 Published: 2 Juni 2026 Liturgi Yang Hidup: Memaknai Kembali Liturgi Kristen melalui Penelusuran Sejarah Perkembangannya Richardson Siwy Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana siwyrich@yahoo. Abstract Liturgy is often understood as a service that takes place in sacred spaces, even confined within However, in its historical origins, liturgy has a broad definition and can provide living meaning to Christian worship and life. Using literature review, with an analytical-critical approach, this study traces the initial meaning of liturgy and follows its changes, as well as how it is interpreted Ultimately, it is realized that liturgy encompasses all of life. it is not limited to sacred spaces, let alone clerical vestments, but rather opens of entire life of the church to all. Keywords: communion. sacred space. Abstrak Liturgi sering dipahami sebagai ibadah yang berlangsung di ruang-ruang sakral, bahkan terbatas di Namun, dalam asal-usul historisnya, liturgi memiliki makna yang luas dan dapat memberikan makna yang hidup bagi ibadah dan kehidupan Kristen. Menggunakan metode pustaka dengan pendekatan analistis-kritis, tulisan ini menelusuri makna awal liturgi dan jejak perubahannya serta bagaimana liturgi dimaknai saat ini. Pada akhirnya, disadari bahwa liturgi mencakup seluruh tidak terbatas pada ruang-ruang suci, apalagi busana klerikal, melainkan membuka seluruh kehidupan bergereja bagi semua orang. Kata Kunci: ibadah. ruang sakral. 18 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 PENDAHULUAN Istilah AuliturgiAy merupakan salah satu istilah yang paling sering digunakan dalam konteks kehidupan gerejawi. Namun dalam praktiknya, liturgi sering direduksi menjadi tata ibadah formal yang bersifat repetitif dan ritualistik. 1 Reduksi tersebut menjadikan liturgi terlepas dari kehidupan sosial umat dan berfungsi semata-mata sebagai kegiatan seremonial. Pemahaman ini tidak hanya mengaburkan makna liturgi tetapi juga menutup kemungkinan liturgi menjadi medium pembentukan karakter, spiritualitas, dan etika komunitas Kristen. Akibatnya, liturgi sulit menjangkau keluar dari ruang-ruang sakral tadi, apalagi untuk berada di wilayah yang dianggap ku- ngandung dimensi etis, sosial, dan partisipatif. Dalam tradisi gereja mula-mula, liturgi bukan hanya tindakan sakral, tetapi juga praksis berbagi hidup dalam komunitas melalui doa, pengajaran, perjamuan, dan tindakan solidaritas sosial. 4 Dengan demikian, pemahaman liturgi sejatinya memuat keterpaduan antara dimensi sakral dan profan, spiritual dan sosial, ibadah dan tindakan etis. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah bagaimana liturgi dapat kembali dihidupi sebagai praksis iman yang menyentuh realitas kehidupan umat dan dunia? Pertanyaan ini sekaligus menjadi dasar dari upaya rekonstruksi pemaknaan liturgi sebagai sumber berteologi dan praksis gereja. METODE PENELITIAN muh dan terpinggirkan. Kemiskinan dan ke- Tulisan ini menggunakan metode senjangan yang menciptakan rasa rendah studi pustaka dengan pendekatan teologis diri dan ketidaknyamanan terutama dengan atas sejarah perkembangan liturgi. Data di- mereka yang berbeda status sosial untuk be- kumpulkan melalui analisis literatur yang rinteraksi dalam liturgi di ruang sakral. 2 Pa- bersumber pada teologi liturgi klasik dan dahal, secara historis istilah leitourgia da- Analisis dilakukan dengan pende- lam tradisi Yunani kuno merujuk pada tin- katan liturgis-kritis5 untuk menelusuri per- dakan pelayanan publik demi kesejahteraan kembangan makna liturgi serta implikasi- Artinya, sejak awal liturgi me- nya bagi kehidupan gereja masa kini. Aidan Kavanagh. On Liturgical Theology (Collegeville. MN: Liturgical Press, 1. , 75. Seperti yang dilihat oleh Fitry Hanna Hutagalung. AuThe Homeless Liturgy: Meliturgikan Ratapan. Harapan. Dan Transformasi Kaum Miskin,Ay DUNAMIS: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani 8, no. (April 3, 2. : 850Ae68, https://doi. org/10. DUN. V8I2. Kavanagh. On Liturgical Theology, 66. Paul F. Bradshaw. The Search for the Origins of Christian Worship (Oxford: Oxford University Press, 2. , 23-25. Stephen S. Wilbricht. Rehearsing GodAos Just Kingdom (Collegeville. Minnesota: Liturgical Press, 2. 19 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 HASIL DAN PEMBAHASAN terang liturgi karena melalui liturgilah ke- Liturgi dan Kehidupan Sosial Etis hidupan Kristen dibentuk dan diungkapkan. Hubungan liturgi dan transformasi menurut Beberapa Ahli Stanley Hauerwas dan Samuel Wells melihat bahwa etika dapat diperoleh melalui setiap tindakan yang dilakukan dalam liturgi. Mereka menganggap bahwa ibadah Kristen yang membentuk kehidupan moral orang Kristen dan menjadikannya bagian dari komunitas karakter. Liturgi yang diperkaya dengan eksplorasi etis da- sosial dibahas pula oleh Margaret M. Kelleher. Ia melihat sejarah perjumpaan liturgi dan transformasi sosial yang dilakukan oleh para teolog di Amerika Serikat yang menunjukkan upaya menghubungkan liturgi dengan kehidupan sosial sudah berlangsung lama bahkan jauh sebelum reformasi liturgi bergema dalam konsili Vatikan II. Kelleher juga melihat bahwa titik tolak pat menyebabkan perubahan total etika dari hubungan liturgi dan transformasi so- Kristen, juga sebaliknya perubahan total sial terletak pada pemahaman akan Tubuh etika Kristen dapat terjadi melalui eksplo- Mistik Kristus. Kesatuan intim semua ang- rasi liturgi. gota tubuh satu sama lain di dalam Kristus Hal senada juga dipaparkan Pieter dipimpin untuk persekutuan orang-orang Vos. Ia melihat bahwa hubungan antara li- Seperti setiap orang memiliki tang- turgi dan etika sering dipahami sebagai pe- gung jawab untuk berkontribusi pada peme- ngaruh yang datang dari luar dan memiliki liharaan tubuh mistik yang berkelanjutan. Seperti yang terjadi pada Gereja demikian juga setiap orang dalam suatu ma- perdana bahwa liturgi itu sendiri merupa- syarakat memiliki tanggung jawab untuk kan tindakan pemuridan yang kemudian berkontribusi pada kebaikan bersama ma- membentuk etika. Mengutip ungkapan la8 Kontribusi yang dituntut oleh ke- ma, lex orandi, lex credendi. Vos meng- adilan sosial mencakup barang-barang ma- anggap orang-orang Kristen hanya dapat me- terial dan barang-barang spiritual atau inte- mahami hidup mereka dengan benar dalam 10 Namun, hubungan itu hanya dida- Carthage. De dominica oratione 8 (CSEL 3, 1, . Diakses pada: https://archive. org/details/StCyprianOn TheLordsPrayer/page/n19/mode/2up. Vos. Liturg. Ethics New Contrib. from Reform. Perspect. Margaret M. Kelleher. Catholic Historian. Vol. No. 4, . Sources of Social Reform. Part Two (Fall, 1. Published by: Catholic Stanley Hauerwas and Samuel Wells, eds. The Blackwell Companion to Christian Ethics (West Sussex: Blackwell Publishing, 2. , 3. Pieter Vos, ed. Liturgy and Ethics: New Contributions from Reformed Perspectives (Leiden: Brill, 2. , 2. Lengkapnya: legen credenda lex statuat supplicandi. Aksioma ini dikemukakan oleh Prosper of Aquitaine. Siprianus dari Carthage . Ae258 M). Cyprian of 20 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 sarkan pada konsep teologi dari liturgi dan sekadar secara kiasan, bukan secara harfiah. bukan melihat bahwa liturgi pada dasarnya Makna Awal Liturgi dalam Dunia Yunani dipraktikkan dalam kerangka membangun dan Alkitab hubungan dengan orang lain. Beberapa pendapat ini menunjukkan bahwa upaya untuk menemukan pemahaman liturgi yang erat kaitannya dengan kehidupan sosial sudah cukup dilakukan. Namun mengapa pemahaman tentang hubungan liturgi dan kehidupan sosial sulit diterapkan dalam gereja, alih-alih terkurung Kata AuliturgiAy tidak muncul secara tiba-tiba dalam peradaban ibadah Kristen. Ia memiliki latar sejarah dan konteks budaya di mana ia dilaksanakan. Dalam bahasa Yunani klasik, kata AEIA berarti Aupelayanan rakyat,Ay dari kata ergon . elayani atau bekerj. dan laos . angsa atau rakya. dalam ritualistik liturgi. Vincent Lloyd men- Kata ini sudah muncul pada abad ke 4 SZB, coba menjawab persoalan ini. Ia melihat dan digunakan dalam pengertian pengabdi- bahwa liturgi belakangan ini dijadikan sum- an atau tindakan bakti seseorang terhadap ber daya oleh teolog yang tertarik pada kotanya demi kepentingan bersama dengan postmodernisme dan budaya kontemporer. kesadaran sendiri atau berdasarkan ketentu- Namun menurutnya, ketertarikan ini sering an yang berlaku pada waktu itu. Pengabdian mengabaikan tradisi yang kaya dari refleksi atau liturgi itu dapat dinyatakan dalam ben- filosofis dan teologis tentang liturgi. Aki- tuk kerja bersama bagi kota . erja bakt. , batnya, ciri-ciri penting liturgi, seperti sifat pajak, wajib militer, dan pembangunan fa- otoritatif dari liturgi untuk teologi, diabai- silitas umum secara sukarela. 13 Masa itu di 11 Menurutnya, otoritas liturgi muncul negara-kota Yunani, warga kaya dapat me- melalui repetisi, pengaturan waktu dan ru- ngatur kota atas biayanya sendiri, secara ang, pola gerak dan bahasa, serta kebiasaan sukarela atau berdasarkan ketentuan yang yang membentuk realitas moral yang dila- berlaku untuk membangun jalan/mendiri- kukan secara bersama. 12 Kritik Lloyd cu- kan kuil bagi dewa sebagai liturgi. kup jelas terhadap studi liturgi belakangan Athena, majelis warga . menetap- ini, yakni bahwa istilah liturgi digunakan kan liturgi untuk orang kaya, dan ada aturan University of America Press. Akses: Liturgy and Social Transformation: Exploring the Relationship on JSTOR Vincent Lloyd. AuLiturgy in the Broadest Sense,Ay New Blackfriars 92, no. 1037 (January 2. : 71Ae89, https://doi. org/10. 1111/J. Lloyd. Lih. Rasid Rachman. Pembimbing Ke Dalam Sejarah Liturgi (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. Lihat juga Frank C. Senn. Introduction to the Christian Liturgy (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 5. 21 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 hukum yang dengannya mereka diberi li- Oleh penulis Perjanjian Baru (PB). Sementara bagi orang yang lebih ka- kata ini digunakan dengan pengertian yang ya, tidak diatur bentuk liturgi-nya tetapi da- beragam: merujuk pada fungsi sekuler para pat menukar hartanya dengan liturgi. hakim (Rm. 13: . , berhubungan dengan Memasuki periode Helenis, kata li- pelayanan imam Zakharia (Luk. , kor- turgi kemudian diartikan dengan Aupekerjaan ban Kristus atau persembahan imamat di- yang dilakukan oleh budak untuk majikan mana ia menjadi Liturgos dari tempat kudus mereka dan bahkan tindakan pelayanan ke- (Ibr. Pelayanan Kristus untuk pembe- cil yang dilakukan seseorang untuk teman- ritaan Injil (Rm. , dan perayaan kul- Ay Kata ini kemudian digunakan juga pa- tus orang Kristen yang Auberliturgi kepada da upacara kultus dalam peribadatan di TuhanAy di Antiokhia (Kis. 17 Namun, kuil-kuil Yunani sebagai tanda pemujaan ada dua ayat yang mengandung pengertian kepada dewa-dewi. Liturgi sebagai ekspresi sosial berupa sumbangan kasih kepada orang kultus yang merujuk pada Aukeuntungan pu- lain, yakni 2 Korintus 9:12 dan Roma 15: blik atas layanan yang diberikan kepada pa- Dua ayat terakhir ini benar-benar men- ra dewa. Ay15 Pada abad ke 3 SZB para rabi coba menghubungkan antara liturgi dengan menggunakan istilah liturgi untuk menerje- tindakan kasih bahwa keduanya adalah dua mahkan ritus yang dilakukan para imam di aspek dari kehidupan yang sama yang di- Bait Allah sebagaimana yang terlihat dalam motivasi oleh ucapan syukur kepada Tuhan. Septuaginta (LXX). Artinya, kata yang se- Kata liturgi menghilang pengguna- mula digunakan secara umum sebagai tanda annya ketika Alkitab diterjemahkan ke da- pengabdian atau bakti kepada negara atau lam bahasa Latin (Vulgat. oleh Hieronimus seseorang ini, oleh para rabi dipakai untuk . -420 ZB), namun kemudian muncul menggambarkan aktivitas orang Lewi atau kembali pada abad ke-16 dalam tulisan-tu- layanan yang diberikan oleh seorang pela- lisan para humanisme Kristen dan reforma- yan dalam tempat ibadah. Tercatat ada 170 18 Kemunculan istilah ini pun bukan kali kata Leitourgia digunakan dalam LXX. mengacu pada simbolisme atau kategori pe- Rachman. Pembimbing Ke Dalam Sejarah Liturgi. Senn. Introduction to the Christian Liturgy. Cheslyn Jones et al. , eds. The Study of Liturgy. Revised (London & New York: SPCK & Oxford, 1. , 25. Paul V. Marshall. AuLiturgi,Ay in The Encyclopedia of Christianity. Vol. 3 (GrandRapids. MI-Leiden: William B. Eerdmans-Brill, 2. , 324. Senn. Introduction to the Christian Liturgy, 5. Senn. Terry L. Johnson. Worshipping with Calvin: Recovering the Historic Ministry and Worship of Reformed Protestantism (Faverdale North Darlington: EP Books, 2. , 31. Martusudjita. Pengantar Liturgi: Makna. Sejarah Dan Teologi Liturgi (Yogyakarta: Kanisius, 1. , 18. 22 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 rilaku, melainkan sebagai bentuk program Kata liturgi sendiri oleh katekistmus disiplin untuk memperoleh kebajikan mo- diterjemahkan dengan kata minister dan nastik Kristen sebagai disiplin biara yang officium (Luk. 1:23. 2Kor. bahkan memastikan bahwa motif batin dan perilaku dengan kata obssequium, caeremonia, munus, berjalan bersama. opus dan sevitus. Patut diduga, istilah liturgi diguna- Selain kata leitourgia (AEIA), kan kembali karena kata ibadah yang diter- dalam PB ada pula kata EAA . jemahkan ke dalam beragam kata ini telah yang diterjemahkan dengan Auibadah. Ay Pada terkurung ke dalam ritual belaka, yang ber- awal penggunaannya, latreia menunjuk pa- langsung di dalam dan di luar gereja, tanpa da suatu pekerjaan atau pelayanan yang di- menunjukkan dampak dari ritual tersebut. lakukan secara kultural, khususnya melalui Maka makna mula-mula liturgi sebagai la- 21 Jika ditelaah penggunaan- yanan publik itu hilang dan ibadah dipaha- nya dalam Roma 12:1, maka ditemukan mi sebagai bahasa gereja yang sakral dan bahwa kata latreia diterjemahkan sebagai Jadi, oleh gereja, kata AuliturgiAy me- pelayanan atau ibadah22 yang diekspresikan ngalami penyempitan makna menjadi hal Paulus sebagai Aukorban hidupAy dari tubuh yang menyangkut hubungan dengan yang orang Kristen yang digunakan untuk mela- Misalnya. Katekismus Gereja Katolik yani Tuhan. Kata latreia . engkapnya logi- menyebut liturgia adalah salah satu tugas ka latrei. digunakan Paulus berkaitan de- gereja yang menempati posisi penting da- ngan pandangan Helenisme pada masa itu. lam kaitannya dengan membangun relasi Berbeda dari Yudaisme yang sedang berge- dengan Allah. Liturgia yang mengusahakan rak menuju ke luar pada penerapan etis dari kekudusan sehingga manusia dimungkin- peribadatan ritual. Helenistik sebaliknya kan untuk bersekutu dengan Allah, bersama justru bergerak ke arah dalam sehingga aga- Dia dan dalam Dia. Liturgia . ugas pengu- ma menjadi lebih bersifat pribadi. 23 Paulus dusa. itu diemban Gereja melalui penye- menggunakan kata latreia untuk mengkritik lenggaraan doa-doa/ibadat yang disebut li- konsepsi ibadah yang demikian, yang ter- Ronald L. Grimes. The Craft of Ritual Studies (New York: Oxford University Press, 2. , 190. Konfrensi Wali Gereja Indonesia. Katekismus Gereja Katolik (Yogyakarta: Kanisius, 1. , 1069. Strathmann. AuLatreia,Ay in Theological Dictionary of The New Testament, ed. Gerhard Kittel and Gerhard Friedrich (Grand Rapids: William B Eerdmans Publishing Company, 1. , 62. James F. White. Introduction to Christian Worship (Nashville: Abingdon Press, 1. , 27. Th. van den End. Tafsiran Alkitab: Surat Roma (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 488. David Peterson. Engaging with God: A Biblical Theology of Worship (Downers Grove: IVP Academic, 2. , 174. 23 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 nyata turut memengaruhi gereja. Ia meng- si, salib dan kebangkitan. 26 Namun kemudi- inginkan agar ibadah tampak sebagai kesak- an terjadi perkembangan yang cukup signi- sian hidup, bukan tindakan ritual semata. fikan setelah Gereja diterima dalam kekai- Gereja harusnya menghasilkan tin- saran Romawi di Abad Ke-4. Menurut ca- dakan nyata dari ibadah ritual mereka, be- tatan Horton Davies, telah terjadi peruba- rupa sikap yang benar dan mengasihi orang han besar yang ditandai dengan beberapa lain, karena seluruh aktifitas orang Kristen Pertama, ibadah tidak lagi dilakukan di adalah pengabdian kepada Allah. Penggu- rumah-rumah melainkan di katedral yang naan kata AutubuhAy di sini bermakna keha- megah, tidak pula dalam bentuk ibadah diran kita di tengah dunia ini baik pikiran, yang bebas dan sederhana tetapi dalam ben- perkataan, dan perbuatan yang terungkap tuk yang tetap dan teratur. Hal ini terjadi lewat tindakan tubuh. Sedangkan kata Auhi- karena kekristenan bukan lagi agama yang dupAy yang dikaitkan dengan Auibadah yang terlarang dan dianiaya, umat tidak lagi ber- sejatiAy menunjuk pada kehidupan konkret temu secara sembunyi-sembunyi. Agama manusia yang hidup di dunia alam dan per- Kristen menjadi agama yang dilindungi, 24 Karl Barth dalam tafsirannya me- bahkan didorong pertumbuhannya oleh ke- ngaitkan kata hidup dengan ibadah yang Jemaat Kristen kemudian mendi- sejati, menyebutkan bahwa Aukehidupan yang rikan gedung-gedung gereja yang kemega- konkretAy ialah Aumanusia yang hidup di du- hannya melebihi kuil-kuil Helenis. para pe- nia alam dan peradaban. Ay25 jabat agama mengenakan jubah yang indah. Transformasi Liturgi dalam Sejarah Gereja dan ibadah umum mencerminkan fakta sejarah bahwa kaum Nazaret yang dibenci telah menaklukkan kekuasaan kekaisaran Pada masa gereja mula-mula, iba- Romawi. 27 Ada kesan yang cukup kuat dah dilakukan di rumah-rumah pribadi de- yang menunjukkan bahwa kemapanan me- ngan tata liturgi yang bebas dan sederhana. mengaruhi model peribadatan umat sehing- Kekristenan bertumbuh dalam refleksi dan ga liturgi terkurung dalam ruang-ruang iba- meditasi karena pemahaman yang terbatas 28 Keterlibatan umat dalam ibadah ham- pada konsep tindakan Allah dalam inkarna- pir tidak ada, ibadah-ibadah di katedral ha- van den End. Tafsiran Alkitab: Surat Roma, 653. Karl Barth. The Epistle to the Romans, trans. Edwyn C. Hoskyns (USA: Oxford University Press, 1. , 425. White. Introduction to Christian Worship, 26. White. Marcel Metzger. History of the Liturgy: The Major Stages (Minnesota: Liturgical Press, 1. 24 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 nya menjadi milik para elit agama. Pemi- ra berliturgi dalam gereja. Uang dikumpul- sahan tajam antara klerus dan umat semakin kan untuk membangun. Ekaristi pun telah dipertegas oleh prosesi pengakuan dosa se- menjadi pusat liturgi apalagi ketika teologi belum ibadah. Umat merasa tidak layak un- transubstansiasi menjadi doktrin yang dite- tuk mengikuti ibadah. rima dan diajarkan gereja. Konsili Trente Kedua, pemahaman gereja mula- . mendefinisikan transubstansiasi se- mula yang dinilai terbatas karena didasar- bagai perubahan yang indah dan tunggal da- kan pada inspirasi langsung Roh Kudus, ri keseluruhan substansi roti dan anggur men- kemudian dijadikan kredo berdasarkan oto- jadi Tubuh dan Darah Ae penampilan luarnya ritas dan teologi yang berkembang. Kon- hanyalah roti dan anggur. sep-konsep liturgi didasarkan pada teologi. Ketiga, kerangka liturgi, khususnya Format ibadah diatur dengan cermat ke dalam gereja Kristen ortodoks, memberi dalam tata liturgi tetap. Ekspansi di antara ruang yang besar bagi peran umat, namun orang-orang bukan Yahudi (=penginjila. penggunaan bahasa Latin dan tingkat buta sebagai pelaksanaan tugas perutusan yang huruf yang tinggi tidak memungkinkan terkandung dalam liturgi gereja mula-mula umat untuk mengambil bagian dalam liturgi tidak lagi mendapat perhatian sebagai aki- yang telah menjadi baku. Sekitar abad V, bat dari pengakuan kekaisaran atas gereja. rumpun tradisi besar dalam liturgi terdiri Munculnya buku-buku liturgi telah menu- dari Liturgi Roma dan Liturgi Gallia serta tup ruang untuk inovasi pastoral dan makin sejumlah rumpun tradisi kecil yang tersebar memperkuat lahirnya kesalehan-kesalehan di Eropa Barat dan Timur hingga ke Asia dan ibadah pribadi yang terkurung dalam telah menggunakan bahasa Latin meski se- ruang-ruang biara. 31 Tata liturgi yang rumit belumnya liturgi Gallia menggunakan ba- dengan bahasa yang asing menyebabkan hasa Yunani. Di abad ketujuh, ritus liturgi umat menghindari Perjamuan Kudus dan yang berbeda antar Timur dan Barat sudah Liturgi tidak lagi menjadi dasar da- menemukan bentuk dasar dan ciri khasnya lam berteologi, namun justru teologi yang dengan menggunakan adalah bahasa Aram cenderung bernuansa vertikal mewarnai ca- Juswantori Ichwan. AuIbadah Dan Hidup Rukun Dalam Keluarga Dan Bertetangga,Ay in Calvinis Aktual. Budiman Heryanto (Jakarta: KPT GKI Jabar, 2. , 87. White. Introduction to Christian Worship, 27. Metzger. History of the Liturgy: The Major Stages, 133. Allister McGrath. Historical Theology. An Introduction to the History of Christian Thought (Oxford: Blackwell Publishing, 1. , 164. 25 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 dan Latin, bukan bahasa sehari-hari umat. semua orang percayaAy . Pet 2:. yang me- Ibadah menjadi sangat individual karena nekankan kesetaraan hak dan tugas pendeta pemisahan tajam antara klerus dan umat. serta umat sebagai warga seiman. Pendeta Klerus menjadi pelaksana dan umat hanya yang ditahbiskan untuk pelayanan firman Allah dan sakramen harus bersedia menga- Upaya untuk menghadirkan liturgi jar jemaat dengan baik. Konsepnya yang dalam kehidupan umat terlihat dengan mun- cukup populer ada pada ungkapan Sola culnya berbagai bentuk sakramen, seperti Fide. Sola Gratia dan Sola Scriptura yang prosesi, ziarah, pemujaan relikwi, yang di- menekankan iman, anugerah dan Alkitab pahami sebagai tanda dari sesuatu yang sa- yang semata-mata menjadi sumber kesela- kral atau disakralkan. 34 Ada sekitar 12 hing- Ungkapan Sola Scriptura menye- ga 30 sakramen berkaitan dengan aktivitas babkan khotbah berupa pemberitaan firman kehidupan umat, namun hal ini justru me- dan pengajaran dalam kebaktian minggu nyebabkan liturgi makin mistis, apalagi di- menjadi unsur yang hakiki. Tetapi juga tambah dengan konsep berteologi yang se- menjadi kritik atas pepatah patriastik legen makin mapan. credenda lex statuat supplicandi yang men- Liturgi gereja kembali mengalami jadikan liturgi sebagai sumber berteologi. perubahan pada masa reformasi. Hal ini Hal ini dapat dipahami jika dihubungkan bermula ketika Alkitab mulai dibaca dalam dengan kondisi peribadatan gereja yang ka- bahasa aslinya. Pengaruh humanisme Kris- ku dan bersifat mistis. ten membuat para reformator berpikir ulang Liturgi masa reformasi adalah pem- tentang pelaksanaan ibadah gereja. 36 Kritik beritaan Firman. Seluruh aktivitas yang di- seputar pelaksanaan ibadah gereja pada lakukan di gereja dinilai berdasarkan pema- masa itu di antaranya datang dari Martin haman tersebut. 37 Luther mewujudkannya Luther dan John Calvin. Konsep penting dengan membaca Alkitab dan berkhotbah dalam reformasi Luther adalah Auimamat am dalam bahasa setempat agar mudah dime- Westminster Dictionary of Liturgy and Worship, ed. John Gordon Davies (Philadelphia: The Westminster Press, 1. , 505-7. Johnson. Worshipping with Calvin: Recovering the Historic Ministry and Worship of Reformed Protestantism, 31. Rachman. Pembimbing Ke Dalam Sejarah Liturgi. Metzger. History of the Liturgy: The Major Stages. Rachman. Pembimbing Ke Dalam Sejarah Liturgi, 40, 97. Metzger. History of the Liturgy: The Major Stages, 135. Joseph Martos. Doors to the Sacred: A Historical Introduction to Sacraments in the Catholic Church (New York: Image Books, 1. , 221. Geoffrey Wainwright. AuTheology of Worship,Ay in The New 26 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 ngerti dan dapat dilakukan dalam kehidu- paikan dalam pemberitaan Sabda melalui pan sehari-hari. Sasaran Pemberitaan Firman pelayanan terhadap sesama. pun bukan sekadar berkhotbah monoton Senada dengan Luther. Calvin pun atau pidato, namun berisi pengajaran yang memberi penekanan pada pemberitaan baik dan sungguh-sungguh. Hal ini bertuju- Firman dalam liturgi. Bagi Calvin. Alkitab an agar umat tidak hanya mendapatkan pe- adalah hukum Kristen, yakni sumber bela- ngajaran melainkan dapat melakukan itu jar umat untuk menjalani hidup sehari-hari dalam kehidupan setiap hari. 38 Ia meman- dengan baik, sehingga semua hal didasar- dang bahwa nilai dari liturgi hampir selu- kan pada Alkitab dengan pembacaan yang ruhnya mendidik, sehingga menjadikan li- 41 Ia mulai mereformasi ibadah de- turgi sebagai Aubengkel pengajaran. Ay39 ngan menyusun tata liturgi yang berpusat Luther beranggapan bahwa liturgi pada pelayanan firman dan pengajaran po- tidak boleh mengurung umat dalam meng- kok-pokok iman Kristen. 42 Kata-kata doa ekspresikan keyakinan mereka. Terlihat de- dalam liturgi Calvin adalah gabungan dari ngan jelas bagaimana usahanya untuk me- bagian-bagian kitab suci. Bacaan yang pan- nangani masalah formula liturgi dan eks- jang dari PL dan PB serta eksposisi Firman presi kebebasan. Baginya, dalam iman ma- Tuhan adalah tanda dari pewahyuan Tuhan nusia bebas dari semua formula liturgi dan atas umat yang beribadah. Pengajaran, yang ritus manusia, karena iman tidak bergan- bertujuan untuk membangun umat beriman tung pada formula ritual melainkan lebih sama pentingnya dengan keinginan untuk merupakan keyakinan akan karya penebu- memuliakan Tuhan lewat ketaatan yang ti- san Kristus. Iman menyiratkan kebebasan, dak menyimpang. Penekanan ini terlihat da- namun dalam kasih manusia tetap terikat lam liturgi Strassburg . engembangan dari untuk melayani sesamanya dan harus meng- tata liturgi Ulrich Zwingli di Jenew. yang hormati ritual yang membawa sesamanya dibuatnya sebagai kritik terhadap liturgi ke dalam dunia Sabda, di mana iman lahir Selain menghilangkan unsur tran- dan dipelihara. 40 Ia menekankan tindakan substansiasi dalam misa, liturgi ini memberi konkrit atas buah dari Firman yang disam- penekanan pada Pemberitaan Firman, doa- Gregg Allison. History of Worship (Michigan: Zondervan, 2. Bart Thompson. Liturgies of The Western Church (New York: The William Collins & World Publishing Company, 1. , 102. Thompson, 102-3. Horton Davies. Christian Worship Its History and Meanings (New York-Nashville: Abindon Press, 1. , 57. Th. Van den End, ed. Enam Belas Dokumen Dasar Calvinisme (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 407. 27 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 doa umum yang disampaikan dalam bahasa cramental unio. , yakni kesatuan roti de- yang bisa dimengerti serta sakramen yang ngan Tubuh Kristus dan kesatuan anggur tidak menjadi sekadar tontonan namun da- dengan Darah Kristus. Baginya. Aubukan pat dipahami dan dihayati oleh umat. doktrin transubstansiasi-nya yang perlu di- Bagi Calvin, tujuan ibadah Kristen yakini, tetapi, cukuplah bahwa Kristus be- adalah bersaksi tentang kebaikan Tuhan di nar-benar hadir dalam Ekaristi. Ay44 Calvin hadapan dunia sekaligus tindakan pemisa- menjadikan Perjamuan Kudus lebih sering han yang jelas antara dunia dan komunitas dilakukan agar umat menyelami kematian Namun ia tidak puas jika hanya se- Kristus setiap hari sehingga ia dapat menja- orang saja yang merasakan manfaat dari lani hidup yang dibarui setiap hari pula. kesaksian dan pemisahan itu. Ia berharap Suasana ibadah Calvin diwarnai bahwa tindakan ini pada gilirannya akan oleh perasaan merendahkan diri di hadapan menuntun orang lain untuk datang kepada kedaulatan Tuhan Yang Mahatinggi. Manu- Tuhan. 43 Calvin juga memberi penekanan sia yang terbatas dan tidak dapat memahami pada ibadah harian selain hari Minggu. Tuhan yang transenden dan misterius itu. Firman diberitakan di setiap ibadah dan hanya dapat memberi penghormatan kepa- pada hari Jumat dilakukan pendalaman da-Nya dalam bentuk ketaatan. 45 Ketaatan Alkitab. Begitu pula dengan waktu jeda un- yang dimaksudkan berdimensi komunal. tuk berdoa dalam setiap pekerjaan. Peker- Hubungan antara umat dengan Kristus ter- jaan harus dipahami sebagai kehendak dan gambar dalam hubungan dengan sesama. panggilan Tuhan, sebab dengan bekerja ma- Itu sebabnya, sebelum pelayanan Perjamu- nusia turut serta dalam proses pembaruan an Kudus konsistori akan memeriksa per- ciptaan yang berkelanjutan. soalan yang terjadi dalam keluarga atau de- Luther dan Calvin tetap memperta- ngan sesama jemaat. Setiap persoalan yang hankan Perjamuan Kudus dalam liturgi, na- timbul harus dibereskan terlebih dahulu. mun dengan pemahaman berbeda dari yang Ia melihat liturgi adalah sarana mewujud- sebelumnya dianut gereja. Luther mengem- kan firman Tuhan dalam kehidupan setiap bangkan doktrin kesatuan sakramental . a- hari termasuk dalam hubungan dengan se- Liturgy and Ethics: New Contributions from Reformed Perspectives, ed. Pieter Vos (Brill, 2. , 49-64. Davies. Christian Worship Its History and Meanings, 57. Ichwan. AuIbadah Dan Hidup Rukun Dalam Keluarga Dan Bertetangga,Ay 91. John D. Witvlie. Worship Seeking Understanding: Windows into Christian Practice (Michigan: Baker Academic, 2. Gerard den Hertog. AuGod Waits for and Responds to Sincere Prayer and Responsible Actions,Ay in 28 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 mua makhluk. Sakramen menjadi tanda un- pori oleh beberapa tokoh, yakni Prosper tuk bersikap adil dengan tidak menyakiti se- Guyranger . Pius X . , sama dalam kehidupan nyata. dan Dom Virgil Michel. OSB. Bagi Luther dan Calvin, liturgi Mereka menganggap bahwa kehidupan iba- Kristen pada akhirnya menghasilkan tidak dah di gereja hampir membatu, karena itu hanya persekutuan yang lebih besar antara mereka menekankan aspek sosial dari doa Tuhan dengan umat-Nya dan gereja, tetapi upaya reformasi liturgi juga dilaku- juga menjadi saksi bagi dunia. Dalam tra- kan dengan mempromosikan partisipasi ak- disi Reformasi, liturgi dilihat sebagai Tuhan tif dalam liturgi untuk mendapatkan kemba- berbicara dan bertindak sekaligus sebagai li semangat Kristen sejati di dunia. respons umat yang setia atas tindakan Tuhan mensahkan prinsip teologis bahwa partisi- Liturgi yang dilihat sebagai karya ko- pasi dalam Autubuh mistik KristusAy melalui munitas secara keseluruhan dan menekan- liturgi menghasilkan solidaritas praktis da- kan kembali pelayanan Sabda sebagai ba- lam kehidupan seutuhnya. Mereka meng- gian utama dari liturgi. 48 Berpartisipasi da- anggap bahwa hanya sejauh umat berparti- lam liturgi bukan hanya memasuki lingkup sipasi dalam liturgi menurut pikiran Kristus, firman Allah dan tindakan penebusan, te- maka umat hidup dan menghirup kesatuan tapi juga menanggapi perkataan dan tinda- sosial dari semua anggota di dalam Kristus. kan itu dalam perayaan liturgi. Liturgi tidak Konsili Vatikan II . kemudian saja mengantar untuk umat untuk masuk dengan jelas menyerukan gereja untuk me- dalam Sabda tetapi juga melibatkan komu- lakukan pembaruan liturginya. nitas dan dunia sebagai tujuan dari penerapan Sabda itu. Sementara itu, gereja Protestan melakukan upaya mereformasi liturgi melalui Dalam perkembangan selanjutnya. Liturgi Lima di Peru. Dewan Gereja-gereja Gereja terus berusaha melakukan reformasi Sedunia melalui Sidang di Kota Lima Peru Pada Gereja Katolik hal ini dipelo- tahun 1983 menetapkan Tata Liturgi Perja- Pieter Vos (Brill, 2. , 223-45, https://doi. 1163/9789004356528_012. Stephen S. Wilbricht. Rehearsing GodAos Just Kingdom-The Eucharistic Vision of Mark Searle (Collegeville-Minnesota: Liturgical Press, 2. Clyudio Carvalhaes, ed. Liturgy in Postcolonial Perspectives. Only One Is Holy (New York: Palgrave Macmillan, 2. , 5. John Calvin. Institutes of The Christian Religion. Volume 2, ed. John T. McNeill (Louisville. KY: Westminster John Knox Press, 2. , 4, 17, 38. Hak Joon Lee. AuCutting. Binding, and ReMembering: A Covenantal Approach to Christian Liturgy and Ethics,Ay in Liturgy and Ethics: New Contributions from Reformed Perspectives New Contributions from Reformed Perspectives, ed. 29 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 muan Kudus sebagai sebuah awal baru tara ibadah dan iman. Ungkapan ini mem- dalam reformasi liturgi Protestan. 51 Satu hal berikan ukuran untuk mengembangkan kre- penting adalah Perjamuan Kudus yang me- do Kristen, kanon Kitab Suci, dan hal-hal nekankan universalitas damai sejahtera, bah- doktrinal lainnya berdasarkan pada teks- wa setelah damai sejahtera dihadirkan dan teks doa Gereja, yaitu tata liturgi Gereja. dialami, maka jemaat sepatutnya memulia- Gereja Awal, ada tradisi liturgi sebelum ada kan Tuhan pada segala waktu dan tempat. kredo umum, dan sebelum ada kanon alki- Tanda dari upaya menghadirkan damai se- tabiah yang disahkan secara resmi. Tradisi jahtera itu dengan memelihara bumi sebagai liturgi ini menyediakan kerangka teologis sumber berkat. Liturgi harus memiliki im- . an doktrina. untuk menetapkan kredo plikasi langsung dengan lingkungan di ma- dan kanon. Pepatah ini menegaskan kemba- na gereja hadir. Perjamuan Kudus dilihat li bahwa liturgi menjadi sumber kehadiran sebagai tindakan AuEucharistic lifeAy yang teologi dalam kehidupan bergereja. akan menjembatani liturgi dan kehidupan yang nyata. Liturgi sebagai Sumber Teologi Kini pertanyaan teolog Catherine Mowry LaCugna. Audapatkah liturgi menjadi sumber teologi?Ay menjadi pemicu refleksi ulang atas pemahaman liturgi. 54 Perta- Dalam sejarah gereja, upaya gereja nyaan tersebut membuka ruang untuk me- untuk mengembalikan praktik liturgi seba- mandang liturgi bukan semata-mata seba- gai dasar bagi kredo terlihat melalui pepa- gai ekspresi iman, tetapi sebagai konteks di tah Patriastik legen credenda lex statuat mana pengalaman akan karya keselamatan supplicandi . ukum doa dapat menegakkan Allah dijalani, dirasakan, dan ditafsirkan hukum percay. Pepatah yang merupakan Dengan demikian, liturgi tidak tanggapan atas pengaruh semi-Pelagian ini hanya berbicara tentang tindakan ritual, me- mengaitkan antara liturgi dan pengakuan lainkan merupakan perjumpaan eksistensial gereja bahwa liturgi tidak berbeda dari teo- antara Allah, gereja, dan dunia. Hal ini mengacu pada hubungan an51 Geoffrey Wainwright. AuEcumenical Convergences,Ay in The Oxford of Christian Worship, ed. Geoffrey Wainwright and Karen B. Westerfield Tucker (New York: Oxford University Press, 2. , 1198-99. Andrea Bieler and Luise Schottroff. The Eucharistic: Bodies. Bread, and Resurrection (Minneapolis: Fortress Press, 2. , 4. John D. Laurance, ed. The Sacrament of the Eucharist (Collegeville. Minnesota: Liturgical Press, 2. , 60. Kavanagh. On Liturgical Theology, 92. Geoffrey Wainwright. Doxology: The Praise of God in Worship. Doctrine and Life - a Systematic Theology (New York: Oxford University Press, 1. , 251. Catherine Mowry LaCugna. AuCan Liturgy Ever Again Become a Source for Theology?,Ay Studia Liturgica 19, no. 1 (March 1. : 1Ae13, https:// org/10. 1177/003932078901900101. 30 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 LaCugna lebih dahulu merumuskan hubungan antara liturgi dan teologi: . Par- Liturgi dan Praksis Etika Sosial: Liturgi yang Hidup tisipasi dalam liturgi adalah konteks nyata Dalam beberapa studi tentang li- bagi seluruh karya teologis. Dalam liturgi turgi, ibadah tidak dapat dipisahkan dengan kita menjumpai realitas dan misteri Allah, kehidupan sosial. Christian Scharen menga- hal mana kemudian diuraikan oleh pengaja- takan bahwa Auibadah Kristen membentuk Liturgi dalam hal ini menjadi penahan orang dan komunitas yang berkomitmen un- agar teologi tidak berubah menjadi ilmu tuk melaksanakan kepentingan publik yang agama yang mengawang. Jika menga- lebih luas, untuk tindakan keadilan dan per- sumsikan bahwa teologi Trinitarian meru- damaian di dunia. Ay 56 Ia mengklaim bahwa pakan doktrin praktis, bukan spekulatif, de- hubungan antara ibadah dan etika sosial re- ngan konsekuensi bagaimana kita harus ber- latif diabaikan dalam diskusi tentang gereja hubungan satu sama lain dan dengan Tuhan, dan kehidupan publik. Sama halnya dengan maka teologi harus dikaitkan dengan liturgi. Bernd Wannenwetsch yang mengklaim bah- yang merupakan tindakan ritual, yang mela- wa dimensi etis ibadah tidak hanya mem- luinya kita hidup dan menjalankan iman bentuk etika individu umat, melainkan se- kepada Allah Tritunggal yang merupakan buah bentuk kehidupan sosial dari suatu ko- dasar dari semua hubungan. liturgi dapat munitas, di mana para anggotanya menemu- menjadi kesempatan untuk ketidaksepaka- kan dasar keberadaan politik mereka mela- tan dan perselisihan yang membutuhkan lui perayaan ibadah yang kompleks, yang analisis teologis. Dalam prosesnya, teologi mengintegrasikan berbagai aspek kehidupan. dapat dirangsang untuk wawasan baru. Pengertian yang luas tentang liturgi Dari rumusan ini terlihat bahwa liturgi dan dikemukakan pula oleh Clyudio Carvalhaes. teologi tidak dapat saling menggantikan na- Menurutnya, liturgi . uga teologi liturg. mun liturgi justru membawa teologi untuk membantu mengatur agama-agama mela- Liturgi menjadikan teologi me- lui tindakan, kosakata, dan tata bahasa ter- ngalami perjumpaan dengan beragam per- tentu yang menentukan bentuk-bentuk pe- soalan manusia. nalaran, serta membentuk iman atau kehi- LaCugna. Christian Scharen. Public Worship and Public Work: Character and Commitment in Local Congregational Life (Collegeville. MN: Liturgical Press, 2. , 10. Bernd Wannenwetsh. Political Worship: Ethics for Christian Citizens, trans. Margaret Kohl (New York: Oxford University Press, 2. , 4-5, 123. 31 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 dupan religius dengan kesadaran identitas sertai pengajara. , doa-doa, persembahan yang mengalir, bergerak, dan jamak. Litur- dan berkat. 60 Selain ibadah di Bait Allah dan gi tidak hanya mengatur kehidupan ber- Sinagoge, ibadah pribadi berupa berpuasa agama di dalam ruang sakral atau tempat juga ada dalam tradisi Yahudi. Yang dipa- suci, tetapi juga memaknai kehidupan indi- hami sebagai ibadah untuk melunakkan hati vidu dan kelompok di dunia dan akibatnya Tuhan, namun oleh Yesaya ditafsir secara memaknai dunia itu sendiri. Menurutnya, berbeda (Yesaya . Yesaya menghendaki liturgi adalah tindakan kuat yang memberi agar berpuasa dilakukan berupa tindakan tahu kita apa dan bagaimana berpikir dan sosial dengan membebaskan yang terbe- Ia telah membentuk tubuh, piki- lenggu, memberi makan yang lapar, mem- ran, roh, politik, ekonomi, dan negara- beri pakaian bagi yang telanjang, dst. Dalam ibadah gereja mula-mula un- Sejak awal, gereja-gereja Kristen sur-unsur ini tetap dipertahankan namun menggunakan liturgi untuk mengatur kehi- ada ciri baru yang menonjol, yaitu pertama, dupannya dan hubungannya dengan alam, berkumpul melibatkan semua orang tanpa serta untuk mendefinisikan siapa orang- batas-batas etnik, budak maupun merdeka. orang percaya ketika mencoba untuk me- Semua orang diterima dalam keramah-ta- mahami apa dan siapa Tuhan di dalam mahan Allah yang menerima siapa saja. Ke- Yesus Kristus dalam kaitannya dengan apa dua, dalam bentuk Perjamuan Agape (Per- dan bagaimana berpikir dan bertindak tadi. jamuan Kasi. Jika dalam ibadah Yahudi Carvalhaes memperjelas kekuatan dan mak- di Bait Allah, persembahan diberikan dalam na liturgi yang demikian luas sehingga ca- bentuk hewan korban sebagai bagian dari kupannya tidak saja dalam bentuk tindakan upacara penghapusan dosa, dan ibadah di gereja bagi dirinya tetapi juga bagi semesta. Sinagoge persembahan berupa pengumpu- Orde Liturgi Kristen yang ada se- lan uang sebagai sarana mengingat karya karang dan umumnya digunakan di gereja- Allah yang membebaskan dari perbudakan gereja, secara garis besar mengikuti unsur dan menolong orang lain, maka persem- penting dalam ibadah Yahudi, yakni ber- bahan dalam ibadah gereja mula-mula di- kumpul, nyanyian, pembacaan Taurat . i- lakukan dalam bentuk makan bersama. Carvalhaes. Liturgy in Postcolonial Perspectives. Only One Is Holy, 3. Carvalhaes. Harold Henry Rowley. Ibadat Israel Kuno, ed. Cairns (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2. , 174. 32 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 Bagi gereja mula-mula, makna per- dengan kapasitas ruangan atau kesucian sembahan . on-kurba. adalah kesediaan Apa yang sebelumnya merupakan untuk berbagi dengan orang lain sebagai- tindakan nyata berupa kesediaan berbagi mana ketentuan dalam ibadah Yahudi, bah- berubah menjadi tindakan ritual yang terja- wa kurban yang dibawa sebagian diberikan di dalam ruang kudus. Perjamuan Kudus kepada para imam dan orang miskin juga kemudian menjadi sakramen. orang asing sebagaimana yang diamanatkan Semangat berkumpul dan berbagi dalam Ulangan 12 dan 16. 61 Awalnya, ben- ini dipengaruhi kuat oleh misteri kebang- tuk persembahan dalam ibadah jemaat ru- kitan Kristus. Dom Odo Casel. mah berupa makanan yang dibawa untuk lihat bahwa unsur Paskah, yang adalah tin- dinikmati bersama oleh semua jemaat. dakan penebusan utama Kristus dalam ke- Perlahan-lahan ini digantikan dengan pe- hidupan, pelayanan, penderitaan, kematian, ngumpulan uang yang digunakan untuk kebangkitan, dan kenaikan-Nya, menjadi membeli makanan dalam ibadah bersama. dorongan komunitas Kristen yang berbagi Unsur makan bersama/sehidangan ini yang dalam tindakan penebusan Kristus saat be- disebut Perjamuan Agape . Kor. 10:14Ae22. 64 Dasar dari liturgi gereja mula- 11:17Ae34. Yud. dan kemudian hari mula adalah keyakinan akan Kristus yang dikenal sebagai Perjamuan Kudus. 63 Peran Gereja melalui liturgi berefleksi umat untuk berbagi dalam tindakan menjadi akan Kristus yang berkurban dan mewujud- Simbol pengumpulan persemba- kanya dalam bentuk tindakan. han diikuti dengan tindakan berbagi yang Ketiga adalah doa, yang merupakan secara nyata dilakukan bagi orang-orang bagian cukup besar dari liturgi Kristen mu- yang membutuhkannya. Aspek ritual dari la-mula. Penjelasan tentang doa terlihat da- ekaristi ini kemudian menjadi formal se- lam 1 Timotius 2:1-2. Jenis doa yang disam- hingga liturgi menuntut ruang yang tidak paikan berupa ucapan syukur, permohonan, bisa disediakan oleh arena gereja rumah. dan syafaat. Syafaat merupakan cara gereja Konsep ini memengaruhi pandangan ten- mengingat orang lain dalam liturgi mereka. tang kesakralan ruang entah itu berkaitan Allison. History of Worship. Jenn Cianca. Sacred Ritual. Profane Space: The Roman House as Early Christian Meeting Place (Montreal & Kingston-London- Chicago: McGillQueenAos University Press, 2. , 115. Allison. History of Worship. James F. White. A Brief History of Christian Worship (Nashville: Abingdon Press, 1. , 15-16. White. Introduction to Christian Worship, 24-25. 33 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 Keempat adalah pengutusan. Sete- dampak bagi sesama sekaligus melibatkan lah melakukan perkumpulan, memecah roti orang lain. Kemiskinan dan kesenjangan untuk orang lain dan berdoa, para murid yang menciptakan rasa rendah diri dan ke- akan membubarkan diri untuk memecah ke tidaknyamanan terutama dengan mereka dalam komunitas, mereka akan diutus. Ren- yang berbeda status sosial, baik latar bela- cana perutusan itu harus terlebih dahulu di- kang pendidikan maupun perekonomian 65 putuskan dalam pertemuan komunitas ke oleh liturgi batas dan sekatnya dileburkan. mana mereka harus pergi. Komunitas pula Liturgi tidak hanya menghadirkan tata litur- yang kemudian akan menerima laporan ten- gi yang peduli, tetapi kehidupan berliturgi tang efek dan hasil dari tindakan dan misi di ruang sakral dan profan yang sungguh- tersebut (Kis. hal yang sama juga sungguh menjawab kebutuhan umat dalam terlihat di Antiokhia (Kis. 13:2-. Artinya, perjumpaan dengan Tuhan dan sesama. tindakan berkumpul dan semua aktivitas di Liturgi adalah rangkaian tindakan dalamnya harus dilanjutkan dengan tinda- mempersembahkan hidup pada Allah yang kan diutus untuk pergi dan melakukan apa diwujudkan dalam persiapan, kegiatan per- yang diajarkan. Pengutusan memiliki arti jumpaan, melakukan interaksi, serta pengu- penting di sini bahwa ibadah dalam bentuk tusan untuk menghadirkan damai sejahtera berkumpul harus berhenti dan dilanjutkan kepada semesta. Pada dasarnya liturgi me- dengan tindakan untuk meneruskan apa yang rupakan tindakan nyata tentang apa yang didengar dan dipelajari dalam ibadah yang seharusnya dipikirkan dan dilakukan, tidak berkumpul itu. hanya di ruang ibadah . tetapi juga di Dari uraian di atas, dapat disimpul- dunia dalam pengabdian kepada yang ilahi. kan bahwa liturgi menyangkut perjumpaan Sehingga, konsep liturgi Kristen tidak ha- antara Allah dan Gereja-Nya. Perayaan nya berupa tindakan ritual yang terjadi di liturgi adalah tentang karya penebusan ruang sakral melainkan berupa tindakan kon- Kristus yang ditanggapi oleh gereja dengan krit dalam hubungan dengan orang lain bah- memuliakan Allah. Liturgi dilakukan untuk kan dengan semua aspek kehidupan kosmos membangun hubungan dengan Tuhan, teta- sebagai bentuk penyembahan dan pengab- pi juga karena Tuhan memberi . dian kepada Tuhan. Liturgi menjadi cara diri untuk dijumpai dan perjumpaan itu ber- umat memaknai seluruh aktivitasnya terma- Hutagalung. AuThe Homeless Liturgy: Meliturgikan Ratapan. Harapan. Dan Transformasi Kaum Miskin. Ay 34 CopyrightA 2026. Dunamis. ISSN 2541-3937 . , 2541-3945 . Dunamis: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani. Vol. No. Oktober 2026 suk saat beribadah. Dengan liturgi, umat memahami seluruh hidup sebagai sesuatu yang harus dijalani karena rasa syukur atas apa yang telah Tuhan berikan kepadanya. Sehingga berliturgi juga berarti menatalayani hubungan antara Tuhan, manusia dan ciptaan lainnya. KESIMPULAN Liturgi yang hidup adalah liturgi yang kembali kepada makna dasarnya sebagai tindakan pengabdian kepada Allah yang diwujudkan melalui relasi sosial dan praksis kehidupan bersama. Penyempitan liturgi menjadi ritual formal menghilangkan dimensi pembentukan etika dan partisipasi Pemulihan liturgi sebagai sumber pembentukan teologi dan etika menuntut gereja untuk membuka ruang partisipasi, berbagi, pelayanan sosial, dan keterlibatan dengan dunia. Ia bukan hanya perayaan di ruang ibadah, tetapi dihidupi dalam seluruh aspek kehidupan. Ia menjadi sarana teologi untuk membumi, mengalami perjumpaan dan berefleksi dengan seluruh peristiwa yang dialami manusia. DAFTAR PUSTAKA