Penggunaan Metode Simulasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keaktifan Siswa Mata Pelajaran Fiqih Materi Ketentuan Islam Tentang Peradilan dan Hikmahnya Penggunaan Metode Simulasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keaktifan Siswa Mata Pelajaran Fiqih Materi Ketentuan Islam Tentang Peradilan dan Hikmahnya Kelas X di MAN I Pasuruan Tahun Pelajaran 2017-2018 Muhammad Andi Isya a* a Program Studi Pendidikan Agama Islam. Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah Raden Wijaya Mojokerto *Koresponden penulis: andi_02@jurnal. Abstract This paper is about the application of the simullation method to improve student learning outcomes about Islamic provisions regarding justice and wisdom on Fiqih class X MAN 1 Pasuruan. This learning improvement is done because it is considered necessary to overcome the problems that arise in the learning process. The purpose of this study is to improve student learning outcomes of Fiqih subjects about Islamic provisions regarding justice and wisdom through the use of the simullation method. This study uses Classroom Action Research that starts from planning, action, observation, and reflection. The subjects of the study were tenth grade students at MAN 1 Pasuruan. Sources of data obtained from students and teachers during learning. Data collection tools in the form of observation, test results, data instruments are observation sheets and test sheets. Based on the results of research that has been described that an increase in student learning outcomes and activeness in each cycle, starting from cycle one to the second cycle. so that it can be concluded if the simulation method can improve student learning outcomes and activeness of the provisions of Islamic material about justice and wisdom, fiqh subjects in class X MAN 1 Pasuruan Keywords: Simullation. Learning Outcomes, regarding justice Latar Belakang Pembelajaran secara sederhana berarti interaksi antara guru dan peserta didik di kelas, tentunya interaksi tersebut bersifat mendidik, ada transfer pengetahuan. Lebih luas lagi pembelajaran tidak hanya terjadi di kelas, interaksi antara guru dan peserta didik tidak bersifat tertutup di kelas saja, di luar kelas dalam lingkup sekolah atau bahkan di luar kelas dalam jarak yang jauh pun pembelajaran dapat terjadi. Kadangkala pembelajaran yang terjadi di kelas membuat peserta didik kurang aktif dalam menerima pelajaran, karena hal tersebut sudah dilakukan setiap hari dan tidak sedikit muncul kebosanan dari diri peserta didik. Sudah dapat diprediksi, apabila kebosanan ini terus berlangsung, hal tersebut akan menghilangkan keaktifan siswa dalam menerima pelajaran, yang pada akhirnya berpengaruh terhadap hasil belajar dan prestasi siswa. Beberapa pelajaran memang dipandang sebagai momok bagi sebagian peserta didik, beberapa lagi hanya dianggap sebagai kegiatan meninabobokkan mereka, sehingga dengan adanya pelajaran tersebut ditambah dengan metode monoton guru, peserta didik merasa ngantuk dan hilang konsentrasinya. Tak terkecuali pada pelajaran fiqih, dalam tataran konsep, pelajaran fiqih identik dengan banyaknya definisi-definisi dan konespkonsep yang harus dihafalkan peserta didik. Banyak pula guru yang mensiasati dengan membuat lantunan-lantunan nadom seperti halnya di pondok pesantren. Variasi tersebut tentunya untuk menghilangkan rasa jenuh peserta didik dalam menangkan dan memahami konsep fiqih yang tekstual. Tetapi perlu diingat jika metode tersebut tampaknya cocok untuk peserta didik dengan background kehidupannya di pesantren. PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Vol. 3 No. 2 Agustus 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. Tidak semua peserta didik di Madrasah Aliyah sekalipun, yang berbackground pesantren, banyak juga dari kalangan umum Agaknya akan kesulitan bagi mereka yang berbackground di luar Artinya peserta didik yang tidak berasal dari pontren akan mengalami kesulitan ketika mereka harus menghafal dan beradu nadma dengan teman sebangkunya. Diperlukan metode yang bisa dipahami semua kalangan peserta didik. metode sangat penting dalam keterlanjutan pembelajaran di kelas. Kreatifitas guru serta improvisasi dalam menghidupkan kelas memang sangat diperlukan ketika guru dalam pembelajaran. Seorang guru yang kreatif akan menggunakan metode yang bervariatif, selain itu upaya-upaya untuk menghidupkan kelas dikuasai ketika peserta didik sudah mulai bosan berada di kelas, seperti dengan menggunakan yel-yel atau permainan yang menggembirakan. Menurut Wina Sanjaya . ada beberapa strategi yang bisa dikembangkan guru dalam menghidupkan kelas, diantaranya adalah: . Reconnecting, artinya peserta didik diajak untuk menghubungkan kembali pelajaran dari awal hingga akhir yang telah . Inquiring minds what to know, membangkitkan rasa ingin tahu. Peserta didik harus dirangsang rasa ingin tahunya terhadap materi yang akan disampaikan guru. Learning starts with a question, belajar dimulai dengan sebuah Salah satu cara mencari pola yakni dengan menciptakan pola belajar aktif. The power of two, kekuatan berdua. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan kepentingan dan keuntungan sinergi. Everyone is teacher here, setiap orang adalah Cara ini memberi kesempatan kepada setiap peserta didik untuk bertindak sebagai AupengajarAy terhadap peserta didik lain. Kenyataan yang peneliti alami di kelas X MAN 1 Pasuruan, suasana kelas belum aktif secara keseluruhan. Peserta didik kurang berperan aktif, pada saat tengah pelajaran berlangsung, ada beberapa siswa yang Pemahaman siswa cenderung menurun ketika guru hanya menerangkan materi dengan metode ceramah. Selain itu, definisidefinisi kata terlalu banyak, artinya siswa menerima materi berupa pengetahuanpengetahuan yang harus didefinisikan dan dihafalkan sehingga minat siswa terhadap mata pelajaran fiqih. Selain itu materi ini merupakan materi yang bersifat praktek, mendengarkan guru saja atau menghafalkan definisi-definisi istlah tetapi lebih dari itu, pembelajaran kontekstual sangat diperlukan untuk membumikan materi tersebut. Agaknya metode yang cocok untuk diimplementasikan seorang pendidik dalam pembelajaran ini adalah metode simulasi. Pemilihan metode simulasi setidaknya dicocokkan dengan materi yang akan diajarkan, karena metode ini mencoba untuk membuat kegiatan/permasalahan seolaholah nyata dalam pembelajaran. Artinya peserta didik mengalami secara langsung, berperan secara langsung dalam kegiatan Menurut Sri Anitah. DKK 7: . simulasi merupakan pembelajaran metode kelompok. Dalam pembelajaran dengan metode simulasi yang menjadi obyek bukan benda atau kegiatan realnya, tetapi kegiatan pembelajaran yang bersifat purapura. Berdasarkan observasi peneliti pada pra siklus saat pembelajaran, diperoleh hasil belajar yang cenderung menurun, lebih dari sebagian siswa memperoleh nilai di bawah KKM yang telah ditetapkan, yakni 75. Dari 25 siswa hanya 10 siswa yang memenuhi KKM sedangkan sisanya 15 siswa memperoleh nilai dibawah KKM. Dari uraian latar belakang menggunakan metode simulasi dalam mata pelajaran fiqih materi ketentuan Islam tentang peradilan serta hikmahnya, agar peserta didik dapat memperoleh pemahaman tentang suatu konsep serta mempu akhirnya dapat terimplementasikan dalam Penggunaan Metode Simulasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keaktifan Siswa Mata Pelajaran Fiqih Materi Ketentuan Islam Tentang Peradilan dan Hikmahnya kehidupan bermasyarakat. Tujuan Tujuan yang ingin dicapai pada penelitian ini adalah: Untuk mengetahui peningkatan hasil belajar siswa dan keaktifan siswa melalui penerapan metode simulasi mata pelajaran Fiqih materi Ketentuan Islam tentang Peradilan dan hikmahnya pada siswa kelas X MAN 1 Pasuruan Tahun Pelajaran 2017/2018. Kajian Pustaka Hakikat Hasil Belajar Pengertian hasil belajar menurut Winkel . adalah ketercapaian siswa yang diwujudkan dalam bentuk angka, atau prestasi belajar siswa. Dimyati dan Mudjiono . 6:3-. menjelaskan hasil belajar adalah angka atau skor yang diperoleh siswa sebagai tanda keberhasilan setelah diberikan tes di setiap akhir Nilai yang diperoleh siswa menjadi acuan untuk melihat penguasaan siswa dalam menerima materi pelajaran. Pengertian yang lebih simple disampaikan oleh Nana Sudjana . , yakni hasil belajar adalah perubahan tingkah laku yang mencakup bidang kognitif, afektif, dan psikomotorik. Jadi pengertian hasil belajar adalah hasil yang dicapai oleh siswa atas prestasi belajarnya di sekolah yang diwujudkan dalam bentuk angka dan skor, yang mencakup aspek kognitif, afektif dan psikomotorik. Secara kongkrit, hasil belajar selama ini dapat berupa raport, nilai ulangan harian, portofolio dan nilai-nilai lain yang mengerjakan soal-soal atau berdasarkan penilaian lain tanpa harus mengerjakan Realitasnya hasil belajar banyak diukur dari ranah kognitif saja. Benjamin S. Bloom (Dimyati dan Mudjiono, 2006: 2. menyebutkan perilaku kognitif terdiri dari enam ranah, sebagai berikut: Pengetahuan, kemampuan ingatan tentang hal yang telah dipelajari dan Yang pengertian, fakta, prinsip, teori dan Pemahaman, mencakup kemampuan menangkap makna dan arti yang telah Penerapan, mencakup kemampuan mengimplementasikan kaidah serta metode dalam menghadapi masalah nyata dan baru. Analisis, yakni kemampuan merinci bagian-bagian dari satu kesatuan utuh sehingga mudah dipahami dengan baik. Misalnya mengurangi masalah menjadi bagian yang telah kecil. Sintesis, membentuk dan menghasilkan pola Misalnya kemampuan menyusun suatu program. Selain ranah kognitif, evaluasi dapat dilakukan pada ranah afektif untuk mengetahui afektif peserta didik. Menurut Davies . alam Dimyati, 2009:. ranah afektif berhubungan dengan perasaan, nilai-nilai, emosi, perhatian dan sikap. Pengukuran atau evaluasi yang tepat pada ranah afektif adalah dengan pengamatan, observasi, dan ada sebagian dengan soal evaluasi yang bersifat afektif. Sedangkan pada ranah psikomotorik, masih menurut Davies . alam Dimyati, 2009:. bahwa ranah psikomotorik berhubungan dengan motorik, manipulasi benda atau kegiatan yang membutuhkan koordinasi saraf dan koordinasi badan. Pengertian Metode Simulasi Menurut Pusat Bahasa Depdiknas . simulasi adalah metode yang memperagakan suatu keadaan yang mirip dengan keadaan sesungguhnya. penggambaran suatu sistem atau proses dengan peragaan menggunakan pameran atau model statistik. Udin Syaefudin SaAoud . 5: . simulasi adalah sebuah visualisasi perilaku dan replikasi, misalnya sebuah perencanaan pendidikan, yang dalam kurun waktu tertentu sudah PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Vol. 3 No. 2 Agustus 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. Sri Anitah. DKK . 7: 5. metode kelompok yang menjadi sebuah metode Proses pembelajaran yang menggunakan metode simulasi cenderung objeknya bukan benda atau kegiatan yang sebenarnya, melainkan kegiatan mengajar yang bersifat pura-pura. Kegiatan simulasi dapat dilakukan oleh siswa pada kelas tinggi di sekolah dasar. Dari beberapa definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa metode simulasi adalah pembelajaran yang membuat seoalah-olah seperti nyata, kegiatannya merupakan replika dari suatu sistem, dan pembelajaran bersifat purapura. Selanjutnya jenis-jenis metode simulasi menurut Sri Anita . antara lain: Bermain peran . ole playin. Dalam proses pembelajarannya metode ini pola permainan menjadi hal yang Dramatisasi dilakukan kelompok siswa dengan mekanisme yang telah diberikan dan diarahkan oleh guru sesuai dengan kegiatan yang telah Simulasi lebih fokus pada mengingat kembali gambaran masa lalu yang digambarkan kembali pada masa datang atau peristiwa aktual yang bermakna bagi kehidupan. Sosiodrama Sosiodrama masalah-masalah dengan bermain peran. Permasalahan yang menyangkut hubungan antara Dalam pembelajarannya yang dilakukan oleh kelompok untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan masalah individu sebagai makhluk Misalnya, hubungan anak dan orangtua, antara siswa dengan teman Permainan simulasi (Simulasi game. Dalam pembelajarannya siswa belajar membuat suatu keputusan dengan bermain peran dengan peran yang sudah ditugaskan. Peer Teaching. Peer teaching merupakan latihan mengajar yang dilakukan oleh siswa kepada teman-teman calon guru Pengertian Metode Banyak cara yang dilakukan guru dalam proses pembelajaran, semua pembelajaran secara optimal. Tujuan tersebut dapat tercapai jika interaksi antara guru dan murid berlangsung secara komunikatif dan berkualitas. Yaitu ada hubungan dua arah yang hidup serta sesuai prosedur yang direncanakan guru dan ketuntasan belajar terpenuhi. Untuk mencapai hal itu dibutuhkan metodemetode sebagai cara menyampaian guru dalam pembelajaran. Menurut Abdurrahman Ginting . metode pembelajaran dapat diartikan cara atau pola khas yang terjadi dalam proses pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai prinsip dasar pendidikan, tehnik dan sumberdaya, agar terjadi perubahan pada diri pembelajar. Dengan kata lain metode pembelajaran adalah tehnik yang harus dikuasai oleh seorang guru dalam menyajikan materi kepada peserta didik, baik individual ataupun klasikal agar materi pelajaran dapat diserap, dimanfaatkan murid serta (Abu Ahmadi, 2005:. Selanjutnya Menurut Sagala . , metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam menyajikan bahan mengorganisasi kelas secara umum. Surakhmad . mengemukakan metode pembelajaran adalah alat yang berfungsi untuk mencapai tujuan. Pendapat lebih lengkap dijelaskan oleh Hatimah pembelajaran tidak hanya berfungsi sebagai cara penyampaian materi saja. Penggunaan Metode Simulasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keaktifan Siswa Mata Pelajaran Fiqih Materi Ketentuan Islam Tentang Peradilan dan Hikmahnya melainkan lebih dari itu yakni untuk menciptakan iklim kondusif, pendorong tumbuhnya minat belajar, penyampaian bahan belajar, serta sebagai penilaian dalam proses belajar serta hasil belajar. Berbeda dengan Nana Sudjana . yang mendefinisikan metode pembelajaran sebagai cara yang dipergunakan guru pada saat pembelajaran agar terjadi hubungan dengan siswa. Jadi metode pembelajaran adalah cara yang digunakan guru dalam proses belajar mengajar dan merupakan alat untuk mencapai tujuan. Metode beragam jenisnya, semua pada intinya bertujuan untuk mempermudah proses siswa dapat memahami pembelajaran Proses belajar-mengajar yang berbagai jenis metode pembelajaran secara bergantian atau saling bahu membahu satu sama lain. Masing-masing metode ada kelemahan dan kelebihannya. Metode Jenis Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas . lassroom action researc. Pemilihan metode penelitian tindakan kelas didasarkan atas tujuan penelitian dan masalah penelitian yang menuntut adanya tindak lanjut penyempurnaan, yang didasarkan pada prinsip daur ulang reflektif, partisipatif, kolaboratif yang berpusat pada situasi sosial kelas. Penelitian ini dilakukan dalam bentuk siklus, masing-masing siklus terdiri dari tindakan, observasi dan monitoring, refleksi, evaluasi dan revisi, dan kesimpulan hasil. Subyek Penelitian Penelitian ini dilakukan di MAN 1 Pasuruan pada mata pelajaran Fiqih, materi ketentuan Islam tentang peradilan dan hikmahnya. Subjek dalam penelitian ini adalah siswa kelas X A1 dengan jumlah siswa sebanyak 25 anak. Pemilihan siswa kelas X A1 dilakukan secara purposive, yakni subjek penelitian ditentukan sendiri dengan memilih salah satu kelas yang memiliki kualitas belajar rendah Jenis Data dan Instrumentasi Dalam pengumpulan data dapat digunakan berbagai macam tehnik pengumpulan data atau pengukuran yang disesuaikan dengan karakteristik data yang akan dikumpulkan dan responden Teknik pengumpulan data seperti observasi, tes, dokumentasi, wawancara dan catatan lapangan. Pengumpulan data dapat menggunakan instrumen yang sudah ada. Untuk ini perlu kejelasan mengenai karakteristik . dan kehandalan . Analisis Data Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara merefleksi hasil observasi terhadap proses pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dan siswa di kelas. Data yang berupa kalimat atau kata-kata dari catatan lapangan diolah dan dianalisa secara deskriptif kualitatif dan diolah menjadi kalimat bermakna. Analisis mengorganisasi ke dalam suatu pola, satuan uraian dasar dan kategori, serta mengaturnya urutan data. (Lexy Moleong, 2007:. Analisis data ini adalah memberikan kode, dan mengatur yang bertujuan menemukan hipotesa kerja dan Analisis data dilakukan dalam suatu Proses dimulai dari pelaksanaan pengumpulan data dan dikerjakan intensif agar data tersebut tidak kadaluarsa. Berpegang dari pendapat di atas, penulis mengumpulkan data-data selama Instrumentnya adalah sebagai berikut: PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Vol. 3 No. 2 Agustus 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. Lembar Observasi Secara sederhana, observasi berarti pengumpulan data-data hasil perbaikan Observasi dalam penelitian tindakan kelas dilakukan terhadap guru sebagai peneliti, dan pengamatan Lembar observasi terhadap guru sebagai peneliti adalah jurnal. Lembar Tes Untuk mengetahui hasil perbaikan pembelajaran, data terkumpul melalui tes pembelajaran. Tes pembelajaran disusun dalam RPP yang berupa soalsoal setiap siklus. Kemudian hasilnya dimasukkan ke dalam tabel dan dideskripsikan sehingga peningkatan perbaikan pembelajaran dapat diketahui di semua siklus. Analisis ini dihitung sederhana, yaitu: Untuk menilai ulangan atau tes Peneliti melakukan penjumlahan dan dibagi sehingga diperoleh rata-rata tes formatif dari keseluruhan hasil tes yang diperoleh siswa. (Arikunto, 2013:. yang telah mencapai daya serap lebih Untuk digunakan rumus sebagai berikut (Darmayanti, 2010:. P = Oc siswa yang tuntas belajar x 100% Oc siswa Hasil Penelitian Pra Siklus Pra siklus merupakan kondisi nyata yang berhubungan dengan aktifitas belajar dan pemahaman konsep Fiqih siswa kelas X MAN 1 Pasuruan pada saat sebelum dilakukannya tindakan. Hal ini didapatkan melalui wawancara yang dilakukan oleh peneliti terhadap guru mata pelajaran Fiqih di kelas tersebut. Sedangkan data mengenai pemahaman konsep Fiqih siswa pada pra siklus sekolah, yaitu hasil ulangan harian siswa Berdasarkan pre-test yang diperoleh sebelum pelaksanaan rencana perbaikan siklus pertama diperoleh daftar nilai sebagai berikut: X = OcX OcN Dengan: X = Nilai rata-rata Oc X= Jumlah semua nilai siswa Oc N= Jumlah siswa . Untuk ketuntasan belajar Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan dan secara Berdasarkan kurikulum 1994 (Depdikbud, 1. , yaitu peserta didik dikatakan telah tuntas belajar apabila mencapai skor 65% atau 65. Serta kelas dikatakan tuntas belajar apabila peserta didik dalam kelas tersebut mencapai 85% Keterangan: Jumlah siswa yang tuntas = 14 siswa Jumlah siswa yang tidak tuntas = 11 siswa . %) KKM = 75. Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa hanya 58% siswa yang tuntas, yakni sejumlah 14 siswa dengan memperolah nilai diatas 75 sesuai dengan Kriteri Kentuntasan Minimal (KKM). Sedangkan siswa yang belum tuntas mencapai 11 Penggunaan Metode Simulasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keaktifan Siswa Mata Pelajaran Fiqih Materi Ketentuan Islam Tentang Peradilan dan Hikmahnya siswa atau 42% dengan memperoleh nilai Hal ini disebabkan karena siswa belum masih banyak peserta didik dalam kelas tersebut merasa kesulitan untuk menganalisa peran-peran setiap komponen dalam peradilan, kesulitan tersebut berasal dari teks buku yang terlalu banyak menghafal serta pendekatan guru dalam menerangkan materi. Hasil dari pre-test ini digunakan untuk mengetahui tahap awal kemampuan siswa dalam melaksanakan rencana perbaikan pembelajaran Bahasa Indonesia tentang menceritakan pengalaman anak. Siklus Pertama . Rancangan Awal Kegiatan ini dilaksanakan sesuai rencana tindakan. Beberapa hal yang perlu dipersiapkan guru sebelum yaitu: membuat skenario pembelajaran, membuat tes awal, menyiapkan alat pendorong, membuat lembar evaluasi untuk tes akhir individu. Tindakan dan Pengamatan . Pendahuluan Pada awal pembelajaran guru memberikan permasalahan dan apersepsi sesuai dengan materi yang akan dipelajari dan menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam . Kegiatan Inti Dalam proses pembelajaran guru menggunakan metode simulasi, guru membagi beberapa kelompok. Setiap mensimulasikan proses peradilan Setiap anggota kelompok memerankan setiap komponen dalam peradilan. Agar menarik, guru juga melengkapi pakaian-pakaian hakim dan panitera. Penutup Dan pada kegiatan penutup, siswa bersama-sama simpulan dari pembelajaran yang telah dilakukan . Refleksi Setelah pengamatan pada siklus pertama peserta didik sudah mulai tumbuh motivasi belajarnya, keaktifan dalam antusiasme peserta didik dalam memerankan dan membuat kelas seolah-olah pengadilan agama, serta penekanan guru diawal pembelajaran ikut berperan pada proses pembelajaran Tetapi simulasi tersebut, antara lain: kesiapan siswa dalam mensimulasi proses peradilan, siswa terasa asing dalam proses tersebut, dirasa guru kurang memberi penjelasan diawal seperti pemutaran video tentang proses Yang kedua adalah anggota kelompok banyak yang belum mengerti tupoksi dari apa yang diperankannya. Kekurangan-kekurangan pada siklus pertama akan dijadikan masukan dalam pembenahan atau perbaikan pada siklus kedua. Pembenahan atau perbaikan pada siklus kedua antara lain: guru memberikan penjelasan awal yang mudah dipahami mengenai tupoksi-tupoksi dari setiap komponen memutarkan video atau tanyangan yang berhubungan dengan hal tersebut, guru memberi pemahaman kepada peserta didik, dengan memberikan skenario cerita agar mudah dihafal dan dipraktekkan dalam simulasi. Dari kegiatan tindakan di siklus pertama diperoleh hasil belajar sebagai berikut: PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Vol. 3 No. 2 Agustus 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. Tabel Hasil Ketuntasan Belajar . Tindakan dan Pengamatan . Pendahuluan Series 1 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Tabel Keaktifan Siswa Series 1 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Keterangan: Jumlah siswa yang tuntas = 17 siswa Jumlah siswa yang tidak tuntas = 8 siswa KKM = 75. Berdasarkan tabel ketuntasan belajar diatas dapat dilihat bahwa ada 17 siswa yang tuntas belajar dengan prosentase Sedangkan siswa yang belum tuntas pada siklus pertama ini berjumlah 8 siswa atau 33%. Jadi prosentasi belajar meningkat dibanding hasil pre-test atau sebelum pembelajaran siklus pertama. Siklus Kedua . Rancangan Awal Pada siklus kedua rancangan dilakukan berdasarkan hasil pada siklus Rencana pembelajaran. Membuat tes awal. Pada siklus 2 tindakan yang direncanakan adalah penyesuaian siswa terhadap materi pelajaran melalui metode simulasi. Menyiapkan alat peraga video sebagai pendorong dan pancingan bagi siswa. Membuat tes evaluasi akhir. Pada awal pembelajaran guru memberikan apersepsi sesuai dengan materi yang akan dipelajari dan menyampaikan tujuan yang akan dicapai dalam pembelajaran. Kegiatan Inti Dalam kegiatan inti di sikuls kedua ini, guru memutarkan video tentang peradilan agama beserta contoh kasus-kasus yang ditanganinya. Setelah itu guru memberikan penjelasan berupa garis bawah tentang apa yang sudah diputar dalam video tersebut. Kemudian guru membagi menjadi beberapa kelompok besar dan memberi mereka contoh teks bacaan yang akan disimulasikan. Setelah itu peserta didik membuat seolah-olah peradilan agama tapi di kelas. Penutup Pada kegiatan ini, siswa bersamasama guru membuat simpulan dari kegiatan hari ini. Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya mengenai kesulitan selama kegiatan pembelajaran berlangsung dan untuk mengetahui kemampuan dan daya serap siswa dalam kegiatan pembelajaran, guru memberikan tugas individu. Dari diperoleh hasil sebagai berikut: Tabel Ketuntasan Belajar Series 1 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Penggunaan Metode Simulasi untuk Meningkatkan Hasil Belajar dan Keaktifan Siswa Mata Pelajaran Fiqih Materi Ketentuan Islam Tentang Peradilan dan Hikmahnya Tabel Keaktifan Siswa Pembahasan Aktifitas Siswa Series 1 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 Keterangan: Jumlah siswa yang tuntas = 22 siswa Jumlah siswa yang tdk tuntas=3 siswa KKM = 75. Berdasarkan tabel diatas, dapat diketahui bahwa siswa yang tuntas belajar dengan nilai diatas 75 sebanyak 22 siswa atau 92% sedangkan siswa sebanyak 3 siswa atau 8%. Jika dilihat dari sini maka prestasi belajar siswa mengalami peningkatan pada siklus kedua, nilai yang didapat dan ketuntasan belajar lebih banyak peningkatan dibanding pada siklus pertama atau sebelum perbaikan Sedangkan keaktifan belajar siswa, sudah bisa diaktifkan Artinya peserta didik merasa berpartisipasi dalam menghidupkan Peningkatan disebabkan karena peserta didik sudah mengetahui tupoksi-tupoksi dari setiap komponen dalam peradilan agama, dengan penuh penjiwaan, dan simulasi Ketercapaian diatas juga disebabkan karena guru memberi penjelasan diawal dengan memutarkan video mengenai peradilan, sehingga peserta didik menangkap ilustrasi tersebut, ini yang memudahkan mereka untuk menghafal apa yang akan mereka lakukan dalam Pada ketuntasan belajar siswa belum tercapai Hal ini disebabkan oleh mengindahkan penjelasan guru, selain itu itu guru hanya bertumpu pada metode Kemudian pada siklus 1 pengkondisian siswa sudah mulai terkondisi dengan terhubung dalam kelompok-kelompok yang akan bermain peradilan dan membuat kelas seolah-olah pengadilan Sedangkan untuk keaktifan siswa, pada siklus 1 siswa sudah mulai terbiasa untuk terbawa dalam materi pelajaran. Pemilihan menjadikan siswa lebih aktif daripada metode ceramah yang biasa dilakukan Sedangkan pada pelaksanaan kegiatan perbaikan pembelajaran siklus kedua. Setiap peserta didik dalam kelas terlibat aktif dalam pembelajaran. Mereka saling bekerja sama, walaupun ada 1 siswa yang kurang aktif, hal ini dikarenakan faktor internal peserta didik. sedangkan untuk kelompok lain sudah bisa memerankan setiap komponen dalam Siswa berkompetisi dalam memperbaiki kualitas simulasi peradilan mereka. Motivasi yang diberikan ketua kelompok, berhasil membuat anggota kelompok untuk ikut langsung memperbaiki sajian simulasi yang mereka sajikan. Hasil Belajar Siswa Tiap Siklus Hasil belajar siswa pada saat pre-test, 58% siswa yang tuntas, yakni sejumlah 14 siswa dengan memperolah nilai diatas 75 Kriteri Kentuntasan Minimal (KKM). Sedangkan siswa yang belum tuntas mencapai 11 siswa atau 42% dengan memperoleh nilai dibawah 75. Hal ini disebabkan karena siswa masih belum PROGRESSA Journal of Islamic Religious Instruction Vol. 3 No. 2 Agustus 2019 ISSN 2579-9665 (Printe. , 2579-9673 (Onlin. mengetahui tentang materi yang disajikan, keawaman mereka dikarenakan guru hanya bertumpu pada metode ceramah. Oleh pembelajaran di siklus 1 dan 2. Setelah adanya perbaikan pembelajaran siklus pertama dan kedua, prestasi belajar siswa mengalami peningkatan. Pada siklus pertama 17 siswa yang tuntas belajar dengan prosentase 67%. Sedangkan siswa yang belum tuntas pada siklus pertama ini berjumlah 8 siswa atau 33%. Dan pada siklus kedua diperoleh nilai nilai diatas 70 sebanyak 22 siswa atau 92% sedangkan siswa yang mengalami keterlambatan sebanyak 3 siswa atau 8%. Lebih jelas seperti pada grafik dibawah ini meningkat di setiap siklusnya. Dengan beberapa langkah antara lain: . Siswa dikelompokkan dalam kelompok-kelompok besar, . kelompok diharapkan untuk mempelajari suatu materi tertentu, . Kelompok mensimulasi atau membuat seolah-olah seperti dalam materi yang sudah Dengan metode simulasi, hasil ketuntasan belajar pada perbaikan pembelajaran Pada siklus pertama 16 siswa yang tuntas belajar dengan prosentase 67% dan 33% siswa yang belum tuntas. Dan pada siklus kedua diperoleh nilai nilai diatas 70 sebanyak 22 siswa atau 92% sedangkan siswa yang mengalami keterlambatan sebanyak 3 siswa atau 8% Daftar Pustaka