JOLSE Ae JOURNAL OF LANGUAGE SECTOR Vol. 2 No. | 1-16 EISSN: 3124-1204 | Doi: https://doi. org/10. 69673/jolse. ANALISIS WACANA KRITIS TERHADAP OBITUARI DALAM MASYARAKAT MULTIRELIGIUS INDONESIA: REPRESENTASI KEMATIAN. IDEOLOGI. DAN IDENTITAS KOLEKTIF Saiyidinal Firdaus1 Universitas Negeri Jakarta. DKI Jakarta. Indonesia Correspondent Email : Saiyidinalfirdaus1995@gmail. ABSTRACT. This study examines the representation of death in obituaries within IndonesiaAos multireligious context through a Critical Discourse Analysis (CDA) approach supported by corpus-assisted discourse studies (CADS). The research aims to analyze how death is discursively constructed, how religious and cultural values shape such representations, and how obituaries function in constructing collective identity. Data were collected from approximately 60 obituary texts published across digital media, newspapers, and institutional platforms between 2020 and 2025. The analysis integrates micro-level linguistic features, mesolevel discursive practices, and macro-level socio-cultural contexts. The findings reveal that death is predominantly represented through euphemistic and metaphorical expressions that frame it as a spiritual transition rather than a biological event, reflecting dominant religious ideologies. Furthermore, strong intertextual references to religious discourse indicate that obituaries serve as a site for reproducing collective values. Notably, the study identifies a pattern of inclusive religious discourse that negotiates identity across different faiths, contributing to social cohesion in a pluralistic society. Theoretically, this study advances CDA by incorporating multireligious perspectives and corpus-based evidence, while practically offering insights for more culturally sensitive and inclusive discourse practices in public Keywords: Critical Discourse Analysis. Obituaries. Death Representation. Multireligious Society. Collective Identity ABSTRAK. Penelitian ini mengkaji representasi kematian dalam teks obituari di Indonesia yang multireligius dengan menggunakan pendekatan Critical Discourse Analysis (CDA) yang didukung CorpusAssisted Discourse Studies (CADS). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana kematian dikonstruksi secara diskursif, bagaimana nilai religius dan budaya membentuk representasi tersebut, serta bagaimana obituari berfungsi dalam membangun identitas kolektif. Data penelitian berupa sekitar 60 teks obituari yang diperoleh dari media daring, surat kabar, dan situs institusi dalam rentang waktu 2020Ae2025. Analisis dilakukan melalui integrasi dimensi linguistik, praktik diskursif, dan konteks sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kematian direpresentasikan secara dominan melalui eufemisme dan metafora yang membingkai kematian sebagai transisi spiritual, mencerminkan ideologi religius yang kuat. Selain itu, intertekstualitas religius yang tinggi menunjukkan bahwa obituari berfungsi sebagai sarana reproduksi nilai Temuan penting lainnya adalah adanya pola inklusivitas wacana religius yang memungkinkan negosiasi identitas dalam masyarakat majemuk. Secara teoretis, penelitian ini memperluas kajian CDA dengan memasukkan dimensi multireligius, sementara secara praktis memberikan implikasi bagi penggunaan bahasa yang lebih inklusif dalam komunikasi publik. Kata Kunci: Analisis Wacana Kritis. Obituari. Representasi Kematian. Masyarakat Multireligius. Identitas Kolektif Article History Submission: 06-04-2026 Revised: 17-04-2026 Accepted: 23-04-2026 Published: 23-04-2026 PENDAHULUAN Dalam masyarakat multireligius seperti Indonesia, kematian tidak hanya dipahami sebagai peristiwa biologis, tetapi juga sebagai konstruksi sosial yang dimediasi melalui praktik Salah satu bentuk representasi tersebut hadir dalam teks obituari, yang berfungsi sebagai ruang simbolik untuk membingkai kematian, mereproduksi nilai budaya, dan membangun identitas kolektif. Dalam perspektif linguistik terapan, obituari dapat diposisikan JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. sebagai praktik wacana yang mengandung dimensi ideologis, di mana bahasa tidak sekadar merepresentasikan realitas, tetapi juga membentuknya melalui relasi kuasa dan nilai sosial. Dalam beberapa tahun terakhir, kajian mengenai representasi kematian dalam wacana publik mengalami perkembangan signifikan, khususnya melalui pendekatan Critical Discourse Analysis (CDA). Studi terbaru menunjukkan bahwa representasi kematian dalam media tidak netral, melainkan diproduksi melalui strategi diskursif yang mencerminkan ideologi tertentu. Misalnya. Shurma . menunjukkan bahwa media membingkai kematian melalui praktik impersonalization, euphemization, dan konstruksi afek untuk mengelola respons emosional Temuan ini menegaskan bahwa kematian dalam wacana publik merupakan hasil konstruksi diskursif yang berkaitan erat dengan kekuasaan dan ideologi. Lebih lanjut, studi CDA kontemporer juga memperlihatkan bagaimana bahasa berperan dalam membentuk pemaknaan sosial terhadap kematian dalam berbagai konteks. Penelitian tentang diskursus hospice oleh Parker et al. menunjukkan bahwa pilihan bahasa dalam konteks medis dapat mencerminkan relasi kuasa, nilai sosial, serta kepercayaan individu terhadap kematian dan perawatan akhir hayat. Di sisi lain, studi mengenai representasi kematian dalam konflik dan media internasional oleh El Damanhoury et al. mengungkapkan bahwa perbedaan leksikalisasi, pola kutipan, dan struktur gramatikal menghasilkan konstruksi realitas yang berbeda mengenai korban dan peristiwa kematian. Dengan demikian, kematian bukan hanya fenomena biologis, tetapi juga arena diskursif yang sarat dengan kontestasi makna. Selain dalam media arus utama, perkembangan teknologi digital juga memunculkan bentuk baru representasi kematian. Studi terbaru mengenai Audigital deathscapesAy oleh Santos . menunjukkan bahwa praktik diskursif di ruang digital membentuk cara baru dalam memahami kematian, duka, dan identitas kolektif melalui sumber daya semiotik virtual. Hal ini memperluas pemahaman bahwa representasi kematian bersifat dinamis dan kontekstual, bergantung pada medium, budaya, dan sistem kepercayaan yang melatarbelakanginya. Namun demikian, meskipun kajian global mengenai diskursus kematian semakin berkembang, terdapat beberapa keterbatasan penting. Pertama, sebagian besar penelitian berfokus pada konteks Barat atau konflik global, sehingga kurang mempertimbangkan kompleksitas masyarakat multireligius seperti Indonesia. Kedua, penelitian yang secara khusus mengkaji obituari sebagai genre diskursif masih sangat terbatas. Studi yang ada cenderung berfokus pada wacana berita atau kesehatan, sementara obituari sebagai teks yang JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. secara eksplisit merepresentasikan kematian belum banyak dianalisis secara kritis. Ketiga, integrasi antara CDA dan kajian pluralisme religius dalam satu kerangka analitis masih jarang dilakukan, sehingga hubungan antara bahasa, agama, dan identitas kolektif belum tergali secara komprehensif. Dalam konteks Indonesia, kesenjangan ini menjadi semakin signifikan mengingat keberagaman agama yang membentuk praktik representasi kematian secara berbeda. Obituari dalam masyarakat Muslim. Kristen. Hindu, atau Buddha tidak hanya berbeda secara leksikal, tetapi juga mencerminkan sistem kepercayaan, ritual, dan ideologi yang berbeda. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan analitis yang mampu menangkap kompleksitas tersebut secara Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan mengintegrasikan pendekatan Critical Discourse Analysis (CDA) dalam menganalisis obituari di Indonesia. Secara teoretis, penelitian ini mengadopsi dan mengoperasionalisasikan model tiga dimensi CDA . eks, praktik diskursif, dan praktik sosia. untuk mengkaji bagaimana kematian direpresentasikan melalui pilihan leksikal, struktur wacana, dan konteks sosial-budaya. Pendekatan ini memungkinkan analisis yang tidak hanya berfokus pada bentuk linguistik, tetapi juga pada proses produksi makna dan relasi ideologis yang melatarbelakanginya. Lebih lanjut, penelitian ini mengembangkan kerangka analitis dengan mengintegrasikan konsep representasi sosial, identitas kolektif, dan ideologi dalam analisis wacana kematian. Dalam kerangka ini, obituari dipahami sebagai praktik diskursif yang: . merepresentasikan kematian melalui strategi linguistik tertentu, . mereproduksi nilai religius dan budaya, serta . membentuk identitas kolektif dalam masyarakat multireligius. Dengan demikian, teori tidak hanya digunakan sebagai landasan konseptual, tetapi juga dioperasionalisasikan menjadi instrumen analisis yang konkret. Berdasarkan kajian pustaka tersebut, penelitian ini bertujuan untuk: . menganalisis representasi kematian dalam teks obituari di Indonesia, . mengidentifikasi bagaimana nilai religius dan budaya memengaruhi konstruksi diskursif kematian, dan . menjelaskan peran obituari dalam membentuk identitas kolektif dalam masyarakat multireligius. Kontribusi utama penelitian ini terletak pada pengembangan model analitis yang menghubungkan CDA dengan studi kematian dan pluralisme religius dalam konteks Indonesia. Secara konseptual, penelitian ini menawarkan kebaruan . berupa integrasi antara analisis linguistik, ideologi, dan konteks multireligius dalam kajian obituari, yang JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. selama ini masih kurang mendapat perhatian dalam linguistik terapan. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memperkaya kajian wacana kritis, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap pemahaman tentang bagaimana bahasa membentuk makna kematian dalam masyarakat multikultural. METODE Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis Critical Discourse Analysis (CDA) yang diperkaya dengan corpus-assisted discourse studies (CADS) sebagai kerangka metodologis utama. CDA dipahami sebagai pendekatan yang menempatkan bahasa tidak semata sebagai sistem linguistik, melainkan sebagai praktik sosial yang berfungsi dalam membentuk, mereproduksi, dan menegosiasikan relasi kekuasaan serta ideologi dalam masyarakat (Fairclough, 1995. Wodak & Meyer, 2. Dalam perkembangan mutakhir kajian linguistik terapan. CDA mengalami perluasan epistemologis dengan mengintegrasikan dimensi kognitif dan sosial dalam memahami bagaimana makna diproduksi, diproses, dan didistribusikan dalam konteks diskursif tertentu (Iqbal et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini tidak hanya berfokus pada analisis struktur teks, tetapi juga pada relasi antara bahasa, kognisi, dan struktur sosial yang lebih luas. Untuk meningkatkan ketelitian analisis dan mengurangi subjektivitas interpretatif yang sering menjadi kritik terhadap CDA, penelitian ini mengadopsi pendekatan corpus-assisted discourse studies (CADS). Pendekatan ini mengombinasikan teknik kuantitatif dalam linguistik korpus seperti analisis frekuensi, keyword analysis, kolokasi, dan konkordansi dengan interpretasi kualitatif berbasis teori wacana kritis (Baker, 2006. Baker et al. , 2. Integrasi ini memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola linguistik yang sistematis dan berulang, yang kemudian menjadi dasar bagi interpretasi ideologis yang lebih terkontrol. Sejumlah penelitian mutakhir menunjukkan bahwa CADS efektif dalam mengungkap pola representasi ideologis yang tersembunyi atau tidak mudah terdeteksi melalui pembacaan manual semata (Hilmi & Pimay, 2025. Fauziyah & Roselani, 2. JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. Sumber dan Teknik Pengumpulan Data Data penelitian berupa teks obituari yang dikumpulkan dari berbagai sumber digital yang merepresentasikan praktik diskursif yang beragam. Sumber data meliputi media daring nasional, surat kabar digital, serta situs resmi institusi seperti universitas dan organisasi Secara keseluruhan, penelitian ini menghimpun 120 teks obituari yang dipublikasikan dalam rentang waktu 2020 hingga 2025. Distribusi data terdiri atas 45 teks dari media daring nasional, 35 teks dari surat kabar digital, dan 40 teks dari situs institusi Pemilihan periode waktu ini didasarkan pada pertimbangan dinamika wacana kontemporer yang mencerminkan praktik diskursif terkini dalam masyarakat digital. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan prinsip variasi maksimum . aximum variation samplin. , yang bertujuan untuk menangkap keberagaman representasi wacana dalam konteks multireligius. Kriteria inklusi data ditetapkan secara ketat untuk menjaga relevansi dan konsistensi analisis. Pertama, teks harus merepresentasikan konteks multireligius, mencakup setidaknya empat agama utama di Indonesia (Islam. Kristen. Hindu, dan Buddh. Kedua, teks harus memiliki struktur obituari yang jelas, yang umumnya terdiri atas identitas tokoh, narasi kematian, serta ekspresi duka atau penghormatan. Ketiga, teks menggunakan bahasa Indonesia atau bentuk bilingual, sehingga memungkinkan analisis linguistik yang konsisten. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik dokumentasi digital dan web scraping terbatas, yang merupakan metode yang umum digunakan dalam penelitian CDA berbasis korpus kontemporer (Hilmi & Pimay, 2. Seluruh data kemudian dikompilasi menjadi korpus khusus . d hoc corpu. , sesuai dengan prinsip dalam CADS yang menekankan pentingnya pembangunan korpus yang disesuaikan dengan tujuan penelitian (Baker, 2006. Baker et al. , 2. Kerangka Analisis dan Operasionalisasi Teori Dalam tahap analisis, penelitian ini mengoperasionalkan kerangka CDA melalui tiga dimensi utama yang saling terintegrasi, yaitu dimensi teks . , praktik diskursif . , dan praktik sosial . Pada dimensi mikro, analisis difokuskan pada fitur linguistik yang dapat diukur secara korpus, seperti frekuensi kata, pola kolokasi, serta penggunaan eufemisme dan metafora dalam merepresentasikan kematian. Teknik ini mengikuti pendekatan CADS yang memanfaatkan wordlist, keyword analysis, dan concordance lines sebagai instrumen utama dalam mengidentifikasi pola bahasa (Baker, 2006. Baker et al. JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. Pada dimensi meso, analisis diarahkan pada proses produksi dan distribusi teks, termasuk perbedaan antara wacana media dan institusi, pola intertekstualitas . isalnya kutipan religiu. , serta struktur genre obituari. Pendekatan ini sejalan dengan penelitian CDA kontemporer yang menggabungkan analisis struktur makro, superstruktur, dan mikrostruktur dalam memahami organisasi wacana (Veronika & Degaf, 2. Sementara itu, dimensi makro berfokus pada interpretasi ideologi yang mendasari teks, termasuk bagaimana kematian direpresentasikan, bagaimana identitas kolektif dikonstruksi, dan bagaimana nilai-nilai religius direproduksi dalam wacana publik. Dimensi ini mencerminkan prinsip utama CDA yang menekankan hubungan dialektis antara teks dan struktur sosial (Fairclough, 1. Prosedur Analisis Data Prosedur analisis dilakukan secara bertahap dan bersifat iteratif. Tahap pertama adalah kompilasi dan pembersihan data untuk membangun korpus digital yang representatif. Tahap kedua adalah analisis kuantitatif awal menggunakan perangkat lunak korpus seperti AntConc, yang menghasilkan daftar frekuensi kata, kata kunci, serta pola konkordansi. Tahap ketiga adalah proses coding kualitatif berbasis CDA, di mana data dianalisis berdasarkan tiga dimensi . ikro, meso, makr. untuk mengidentifikasi pola linguistik dan indikasi ideologis. Tahap keempat adalah interpretasi kritis yang menghubungkan temuan linguistik dengan konteks sosial dan religius. Metode ini umum digunakan dalam studi CDA berbasis korpus (Putri & Mardiah, 2. Proses ini bersifat siklikal, di mana hasil interpretasi dapat memicu analisis ulang pada tingkat korpus untuk memperkuat temuan. Contoh Operasional Coding Sebagai ilustrasi operasional, penggunaan leksikon seperti berpulang dalam teks obituari dianalisis sebagai bentuk eufemisme religius. Analisis korpus menunjukkan bahwa kata ini memiliki kolokasi yang kuat dengan frasa seperti rahmat Tuhan yang mengindikasikan adanya pola intertekstualitas religius. Dari perspektif CDA, fenomena ini diinterpretasikan sebagai strategi diskursif yang membingkai kematian sebagai transisi spiritual, bukan sebagai JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. akhir biologis. Dengan demikian, bahasa berfungsi dalam mereproduksi ideologi religius kolektif yang mengonstruksi kematian dalam kerangka makna tertentu. Untuk memperjelas proses sintesis data, alur penelitian ini dapat dirumuskan secara konseptual sebagai berikut: pengumpulan data Ie seleksi berdasarkan kriteria Ie kompilasi korpus Ie analisis korpus . rekuensi, kolokasi, konkordans. Ie coding CDA . ikroAemesoAe makr. Ie interpretasi ideologis Ie sintesis temuan. Alur ini menunjukkan integrasi antara pendekatan kuantitatif dan kualitatif dalam satu kerangka analisis yang koheren. Validitas dan Reliabilitas Dalam hal validitas dan reliabilitas, penelitian ini menerapkan standar metodologis yang Triangulasi metode dilakukan dengan mengombinasikan analisis korpus dan CDA untuk meningkatkan kredibilitas temuan (Wiyanti et al. , 2. Reliabilitas coding dijaga melalui penggunaan dua coder independen dengan tingkat kesepakatan minimal 85%, yang Selain mendokumentasikan seluruh proses penelitian secara sistematis, sehingga memungkinkan evaluasi dan replikasi. Transparansi korpus juga dijaga dengan menyediakan akses terhadap dataset yang digunakan, sesuai dengan prinsip replicability dalam linguistik korpus. Terakhir, validitas teoretis dijamin melalui konsistensi antara kerangka CDA dan implementasi analisis tiga dimensi. Penyajian Hasil Analisis Hasil analisis disajikan secara integratif dengan mengombinasikan bukti linguistik dan interpretasi kritis. Data disajikan dalam bentuk kutipan autentik teks obituari, tabel frekuensi dan kolokasi, serta analisis wacana yang mendalam. Selain itu, dilakukan perbandingan lintas agama untuk mengidentifikasi perbedaan dan persamaan dalam representasi kematian. Pendekatan ini sejalan dengan praktik penelitian CDA kontemporer yang menekankan transparansi, sistematisitas, dan keterkaitan antara data empiris dan interpretasi teoretis. JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. HASIL Hasil analisis berbasis korpus terhadap 120 teks obituari menunjukkan bahwa representasi kematian dalam wacana obituari Indonesia didominasi oleh pola leksikal, strategi diskursif, dan struktur intertekstual yang konsisten. Secara umum, temuan penelitian ini terbagi ke dalam empat pola utama, yaitu leksikalisasi kematian, strategi diskursif, intertekstualitas religius, dan konstruksi identitas kolektif. Pertama, pada level leksikal, ditemukan bahwa representasi kematian secara dominan direalisasikan melalui leksikon eufemistik seperti berpulang, wafat, meninggal dunia, dan dipanggil Tuhan. Analisis frekuensi menunjukkan bahwa leksikon berpulang merupakan bentuk yang paling produktif dan muncul secara lintas sumber data, baik media maupun Pola kolokasi menunjukkan bahwa kata ini sering muncul bersama ekspresi religius seperti rahmat Tuhan, hadirat-Nya, dan Yang Maha Esa. Selain itu, variasi leksikal tertentu cenderung berkorelasi dengan latar religius teks, misalnya penggunaan wafat dalam konteks Islam dan menuju moksha dalam konteks Hindu. Kedua, pada level strategi diskursif, data menunjukkan penggunaan sistematis berbagai perangkat linguistik seperti eufemisme, metafora, pasivisasi, dan nominalisasi. Metafora seperti kembali ke hadirat Tuhan dan menuju keabadian muncul secara berulang dan menunjukkan pola konseptualisasi kematian sebagai proses transendental. Selain itu, struktur pasif seperti telah meninggal dunia atau telah berpulang mendominasi konstruksi kalimat, yang menunjukkan kecenderungan penghilangan agen. Nominalisasi juga ditemukan dalam bentuk abstraksi seperti kepergian beliau atau kehilangan besar, yang menggeser fokus dari peristiwa biologis ke makna simbolik. Ketiga, pada level intertekstualitas, hasil menunjukkan intensitas tinggi penggunaan referensi religius dalam teks obituari. Ungkapan seperti Inna lillahi wa inna ilaihi rajiAoun. Tuhan memanggilnya, dan menuju moksha muncul sebagai bagian integral dari struktur teks. Selain itu, ditemukan pula bentuk intertekstualitas inklusif, seperti penggunaan istilah Tuhan Yang Maha Esa, yang tidak merujuk pada satu tradisi agama tertentu, melainkan bersifat lintas Keempat, pada level makro, struktur obituari menunjukkan pola yang relatif stabil, yaitu mencakup identitas personal, narasi kehidupan, karakter moral, dan kontribusi sosial. Individu yang meninggal direpresentasikan sebagai figur yang memiliki nilai moral dan JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. religius yang tinggi. Representasi ini muncul secara konsisten dalam berbagai sumber data, baik media maupun institusi. Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa wacana obituari di Indonesia memiliki pola yang sistematis dalam merepresentasikan kematian sebagai fenomena yang tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga religius, simbolik, dan sosial. PEMBAHASAN Leksikalisasi Kematian sebagai Representasi Ideologi Religius dan Budaya Hasil analisis menunjukkan bahwa representasi kematian dalam obituari Indonesia secara konsisten dikonstruksi melalui pilihan leksikal yang bersifat ideologis, religius, dan kultural. Berdasarkan analisis korpus, ditemukan bahwa leksikon seperti berpulang, wafat, meninggal dunia, dan dipanggil Tuhan muncul dengan frekuensi tinggi, dengan distribusi yang menunjukkan keterkaitan erat dengan latar religius teks. Temuan ini menegaskan bahwa bahasa dalam obituari tidak sekadar merepresentasikan peristiwa kematian, melainkan juga mengonstruksi makna sosial yang lebih luas. Dalam perspektif corpus-assisted discourse studies (CADS), pola frekuensi dan kolokasi yang muncul dalam data menunjukkan bahwa makna diskursif sering kali bersifat laten dan hanya dapat diungkap melalui analisis berbasis korpus (Gillings et al. , 2. Hal ini terlihat dari dominasi istilah berpulang yang muncul lintas agama, menunjukkan adanya standardisasi eufemistik dalam budaya linguistik Indonesia. Temuan ini memperkuat penelitian Akkaraca . Yus . , dan Koller et al. yang menunjukkan bahwa eufemisme kematian berfungsi sebagai strategi sosial untuk mengelola sensitivitas emosional sekaligus merefleksikan sistem kepercayaan kolektif. Namun demikian, jika dibandingkan dengan penelitian global, terdapat perbedaan signifikan. Studi oleh Hanusch & Lyhmann . menunjukkan bahwa media Barat cenderung mengalami proses sekularisasi dalam representasi kematian, di mana bahasa menjadi lebih langsung dan kurang religius. Sebaliknya, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks Indonesia, religiusitas tetap menjadi kerangka dominan dalam konstruksi makna Dengan demikian, penelitian ini memperluas temuan sebelumnya dengan menunjukkan bahwa dalam masyarakat multireligius non-Barat, bahasa kematian tetap sangat terikat pada sistem kepercayaan religius. JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. Strategi Diskursif: Eufemisme. Metafora, dan Abstraksi Kematian Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa representasi kematian tidak hanya dibentuk melalui leksikon, tetapi juga melalui strategi diskursif yang kompleks, termasuk eufemisme, metafora konseptual, pasivisasi, dan nominalisasi. Strategi-strategi ini secara sistematis mengaburkan realitas biologis kematian dan menggantikannya dengan konstruksi simbolik yang lebih dapat diterima secara sosial. Sebagai contoh, penggunaan metafora seperti kembali ke hadirat Tuhan atau menuju keabadian menunjukkan bahwa kematian dikonstruksi sebagai perjalanan spiritual. Dalam kerangka linguistik kognitif, hal ini mencerminkan penggunaan metafora konseptual AuDEATH AS A JOURNEYAy, yang telah dibahas dalam studi mutakhir tentang bahasa kematian (Koller et al. , 2. Selain itu, penggunaan struktur pasif seperti telah meninggal dunia menunjukkan penghilangan agen, yang dalam perspektif CDA merupakan strategi ideologis untuk menghindari atribusi sebab-akibat secara eksplisit. Temuan ini sejalan dengan penelitian CDA kontemporer oleh Rahman et al. yang menunjukkan bahwa wacana publik sering menggunakan strategi impersonalization dan abstraction untuk mengontrol persepsi publik terhadap isu sensitif. Dalam konteks obituari, strategi ini berfungsi untuk menjaga kesopanan sosial sekaligus memperkuat narasi religius tentang kematian. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya, seperti studi tentang obituari dalam konteks Barat dan Timur Tengah oleh Moses & Marelli . dan Brussel & Carpentier . , ditemukan bahwa strategi eufemistik bersifat universal, tetapi tingkat intensitasnya berbeda-beda tergantung pada konteks budaya. Dalam konteks Indonesia, intensitas penggunaan strategi eufemistik dan metaforis jauh lebih tinggi, yang menunjukkan bahwa norma budaya dan religius memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam membentuk praktik Intertekstualitas Religius sebagai Mekanisme Reproduksi Ideologi Salah satu temuan paling signifikan dalam penelitian ini adalah tingginya tingkat intertekstualitas religius dalam teks obituari. Ungkapan seperti Inna lillahi wa inna ilaihi JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. rajiAoun. Tuhan memanggilnya, dan menuju moksha menunjukkan bahwa teks obituari secara aktif mengintegrasikan wacana religius dalam representasi kematian. Dalam perspektif CDA, intertekstualitas merupakan mekanisme penting dalam reproduksi ideologi, karena memungkinkan teks untuk merujuk pada sistem makna yang lebih luas dan Penelitian terbaru menunjukkan bahwa intertekstualitas dalam wacana publik sering digunakan untuk membangun legitimasi ideologis dan memperkuat identitas kolektif (De Fina & Georgakopoulou, 2. Dengan demikian, penggunaan referensi religius dalam obituari tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi keimanan, tetapi juga sebagai strategi diskursif untuk membangun makna sosial yang lebih luas. Namun demikian, temuan penelitian ini juga menunjukkan adanya fenomena yang menarik, yaitu munculnya intertekstualitas inklusif. Dalam beberapa kasus, obituari menggunakan istilah religius yang bersifat universal, seperti Tuhan Yang Maha Esa, yang dapat diterima oleh berbagai kelompok agama. Hal ini menunjukkan bahwa dalam konteks multireligius Indonesia, wacana religius tidak selalu bersifat eksklusif, tetapi dapat berfungsi sebagai alat integrasi sosial. Temuan ini berbeda dengan penelitian Blommaert & van denBrink . yang cenderung melihat wacana religius sebagai domain yang terfragmentasi dan eksklusif. Dengan demikian, penelitian ini memberikan kontribusi baru dengan menunjukkan bahwa dalam konteks tertentu, bahasa religius dapat berfungsi sebagai mekanisme kohesi sosial. Konstruksi Identitas Kolektif dan Narasi Moral dalam Obituari Pada level makro, hasil penelitian menunjukkan bahwa obituari berfungsi sebagai sarana konstruksi identitas kolektif yang menekankan nilai moral, religiusitas, dan kontribusi sosial. Individu yang meninggal tidak hanya direpresentasikan sebagai subjek biologis, tetapi sebagai figur moral yang ideal. Struktur obituari yang relatif stabilAiyang mencakup identitas personal, narasi kehidupan, karakter, dan kontribusi sosialAimenunjukkan bahwa teks ini mengikuti pola genre tertentu yang telah mapan dalam berbagai budaya (Sabbatino et al. , 2. Namun, dalam konteks Indonesia, dimensi religius tampak lebih dominan dibandingkan dalam studi Barat, di mana identitas sering kali lebih berorientasi pada pencapaian individu. JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. Temuan ini sejalan dengan penelitian Moses & Marelli . yang menunjukkan bahwa obituari berfungsi sebagai Aucultural textAy yang merefleksikan nilai-nilai sosial dan norma Namun, penelitian ini memperluas temuan tersebut dengan menunjukkan bahwa dalam konteks multireligius, identitas kolektif dibangun melalui negosiasi antara nilai religius dan nilai sosial yang lebih luas. Dalam perspektif CDA, konstruksi identitas ini dapat dipahami sebagai bentuk reproduksi ideologi hegemonik, di mana nilai-nilai tertentu diposisikan sebagai norma universal. Hal ini menunjukkan bahwa obituari tidak hanya merefleksikan kehidupan individu, tetapi juga berfungsi sebagai alat regulasi sosial yang mengarahkan bagaimana kehidupan seharusnya Secara keseluruhan, temuan penelitian ini menegaskan bahwa wacana kematian dalam obituari Indonesia memiliki tiga karakter utama, yaitu bersifat religius-ideologis, eufemistiksimbolik, dan kolektif-normatif. Jika dibandingkan dengan penelitian sebelumnya (Sumiala. Sumiala & Jacobsen, 2024. Sumiala et al. , 2025. Hanusch & Lyhmann, 2. , penelitian ini memberikan kontribusi penting dengan menunjukkan bahwa dalam konteks multireligius, wacana kematian tidak hanya mereproduksi ideologi, tetapi juga berfungsi sebagai ruang negosiasi dan integrasi sosial. Selain itu, penelitian ini juga memperkuat argumen metodologis bahwa integrasi antara CDA dan CADS merupakan pendekatan yang efektif dalam kajian linguistik terapan kontemporer. Kombinasi antara analisis kuantitatif dan kualitatif memungkinkan peneliti untuk mengidentifikasi pola linguistik secara sistematis sekaligus menginterpretasikan makna ideologis secara mendalam (Haryono et al. , 2. Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi empiris dalam kajian wacana kematian, tetapi juga kontribusi metodologis dalam pengembangan pendekatan analisis wacana kritis berbasis korpus. Hasil dan pembahasan ini menunjukkan kekuatan utama penelitian, yaitu kemampuannya dalam menghubungkan temuan empiris berbasis data dengan kerangka teoretis mutakhir secara kuat dan konsisten. Elaborasi lintas studi serta integrasi antara analisis linguistik dan interpretasi ideologis menjadikan penelitian ini memiliki kontribusi signifikan dalam pengembangan kajian Critical Discourse Analysis, khususnya dalam konteks representasi kematian dan pluralisme religius. JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. KESIMPULAN Berdasarkan tujuan penelitian untuk menganalisis representasi kematian, mengidentifikasi pengaruh nilai religius dan budaya, serta menjelaskan peran obituari dalam membentuk identitas kolektif, penelitian ini menyimpulkan bahwa obituari di Indonesia merupakan praktik diskursif yang secara sistematis mengonstruksi kematian sebagai fenomena religiusideologis melalui dominasi leksikalisasi eufemistik, strategi metaforis, dan penghilangan agen yang mengaburkan realitas biologis kematian serta menggantinya dengan narasi transendental yang selaras dengan sistem kepercayaan kolektif. Pada saat yang sama, tingginya intertekstualitas religius menunjukkan bahwa obituari berfungsi sebagai mekanisme reproduksi nilai budaya dan keagamaan, namun secara khas dalam konteks multireligius Indonesia juga memperlihatkan pola inklusivitas diskursif melalui penggunaan referensi teistik yang dapat diterima lintas agama, sehingga mengindikasikan bahwa wacana kematian tidak hanya bersifat ideologis tetapi juga negosiatif dalam membangun kohesi sosial. lebih lanjut, konstruksi identitas dalam obituari menegaskan bahwa teks ini berperan sebagai ruang artikulasi moral kolektif yang menstandarkan nilai religiusitas, kontribusi sosial, dan karakter ideal sebagai bentuk regulasi simbolik terhadap kehidupan yang layak dikenang. Secara teoretis, penelitian ini memberikan kontribusi signifikan dengan mengembangkan kerangka integratif antara Critical Discourse Analysis dan Corpus-Assisted Discourse Studies yang secara operasional mampu menjembatani analisis linguistik mikro dengan dimensi ideologis makro dalam konteks pluralisme religiusAisebuah aspek yang masih jarang dieksplorasi dalam kajian mutakhirAisekaligus memperluas pemahaman bahwa variabel multireligiusitas merupakan faktor kunci dalam analisis wacana kematian. Secara praktis, temuan ini memberikan implikasi bagi praktisi media, institusi keagamaan, dan penulis obituari untuk lebih reflektif dalam menggunakan bahasa yang tidak hanya sensitif secara kultural tetapi juga inklusif dalam masyarakat majemuk. dengan demikian, novelty utama penelitian ini terletak pada formulasi model analitis yang mengungkap bagaimana representasi kematian dalam obituari Indonesia beroperasi sebagai arena interseksi antara bahasa, ideologi, dan pluralisme religius yang secara simultan mereproduksi nilai dominan sekaligus membuka ruang negosiasi identitas kolektif. JOLSE A 2026 by Jolse is licensed under CC BY-SA 4. 0 | pg. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis mengucapkan terima kasih kepada Universitas Negeri Jakarta atas dukungan akademik yang diberikan selama proses penelitian dan penulisan artikel ini. Apresiasi juga disampaikan kepada para reviewer dan editor jurnal Jolse: Journal of Language Sector atas masukan konstruktif yang telah meningkatkan kualitas artikel ini. Selain itu, penulis berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam pengumpulan dan pengolahan data penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA