Ganesha Civic Education Journal Volume 6. Number 1. April 2024, pp. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 DOI: https://doi. org/10. 23887/gancej. Open Access: https://ejournal2. id/index. php/GANCEJ/index PERAN GURU TERHADAP INTERNALISASI NILAI-NILAI PANCASILA DALAM MEMBENTUK NILAI KARAKTER DISIPLIN DAN DEMOKRATIS SISWA DI SMP NEGERI 6 SINGARAJA Ni Luh Gede Leony Risdayanti * Universitas Pendidikan Ganesha. Indonesia ARTICLE INFO ABSTRAK Article history: Received 12 Desember 2023 Accepted 1 April 2024 Available online 30 April Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran guru terhadap internalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam membentuk nilai karakter disiplin dan demokratis siswa di SMP Negeri 6 Singaraja. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif kualitatif yaitu penelitian lapangan yang bersifat deskriptif analitik. Pengumpulan Kata Kunci: data menggunakan metode observasi, wawancara, studi pustaka, dan Guru. Pancasila. Karakter Subjek dalam penelitian ini adalah para guru serta peserta didik SMP Negeri 6 Singaraja. Data yang dikumpulkan dengan Keywords: Teacher. Pancasila. memberikan kuisioner dan melakukan observasi dan wawancara kepada Character. para guru dengan menggunakan teknik snowball sampling, yang dimana mula-mula berjumlah kecil, kemudian membesar dalam penentuan sampel, serta melakukan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukan bahwa peran guru terhadap internalisasi nilai Ae nilai Pancasila kepada peserta didik tidak terinternalisasikan dengan baik, ini disebabkan karena terbatas ruang dan waktu, masa peralihan peserta didik dari jenjang sebelumnya yang cenderung bersifat ke kanak Ae kanakan dan belum mampu memahami banyak hal. Selain itu kemajuan teknologi juga menyebabkan peserta didik menjadi malas untuk belajar, serta kurangnya didikan dan pengawasan orang tua dalam pergaulan anak sehingga proses internalisasi tidak berjalan dengan Implikasinya yaitu melalui temuan penelitian dapat memberikan masukan berharga bagi pengembangan kurikulum dan materi ajar yang lebih kontekstual dan relevan dengan upaya pembentukan karakter disiplin dan demokratis berbasis nilai-nilai Pancasila. ABSTRACT This research aims to determine the role of teachers in internalizing Pancasila values in forming the character values of discipline and democracy of students at SMP Negeri 6 Singaraja. The research method used is a qualitative descriptive research method, namely field research that is descriptive analytical in Data collection uses observation, interview, literature study, and documentation methods. The subjects in this study were teachers and students of SMP Negeri 6 Singaraja. Data were collected by giving questionnaires and conducting observations and interviews with teachers using the snowball sampling technique, which was initially small in number, then enlarged in determining the sample, and conducting The results of the study showed that the role of teachers in internalizing Pancasila values to students was not internalized properly, this was due to limited space and time, the transition period of students from the previous level who tended to be childish and were not yet able to understand many things. In addition, technological advances also cause students to be lazy to learn, as well as the lack of parental education and supervision in children's relationships so that the internalization process does not run The implication is that research findings can provide valuable input for the development of a curriculum and teaching materials that are more contextual and relevant to efforts to form disciplined and democratic characters based on Pancasila values. This is an open access article under the CC BY-SA license. Copyright A 2024 by Author. Published by Universitas Pendidikan Ganesha. * Corresponding author. E-mail addresses: leony. risdayanti@undiksha. Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2024, pp. Pendahuluan Generasi muda merupakan garda terdepan dalam membangun bangsa dan negara. Sebagai generasi penerus bangsa, generasi muda tidak lepas dari yang namanya pendidikan, yang dimana generasi sekarang harus memiliki kemampuan dan pengetahuan yang lebih luas untuk Sanjaya . menyatakan peran pendidikan merupakan sesuatu pondasi awal yang dapat memberikan generasi muda sebuah keterampilan dan hal yang dibutuhkan untuk dapat berhasil di dalam hidup. Prastiwi & Pandin . menyatakan dengan adanya pendidikan memungkinkan seseorang mengembangkan potensi yang ada di dalam dirinya sehingga bisa menjadi bekal untuk mempersiapkan diri menghadapi ataupun mengatasi permasalahan yang terjadi. Pada dasarnya pendidikan tidak hanya untuk mengembangkan pengetahuan peserta didik namun juga membentuk kepribadian dan moral peserta didik sehingga mempunyai sifat dan kepribadian yang baik. Oleh karena itu pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dalam membentuk karakter generasi muda karena pendidikan tidak hanya sebagai agen perubahan . gent of chang. tetapi juga harus menjadi . gent of produce. yang mampu memberikan perubahan yang nyata. Nilai karakter sangat penting diberikan kepada peserta didik di sekolah, yang dimana dapat memberikan pengaruh yang positif dalam pengembangan karakter peserta didik di sekolah, sehingga menjadikan peserta didik sebagai individu yang berkualitas. Suastika . menyatakan memiliki wawasan yang luas dan pengetahuan nilai moral tidak cukup untuk menjadi manusia berkarakter, nilai moral harus disertai dengan adanya karakter yang bermoral. Pendidikan yang diberikan kepada anak remaja harus mencangkup semuanya, tidak hanya pendidikan formal namun juga penting diberikan pendidikan nonformal seperti pendidikan Masa remaja merupakan tahapan anak merasakan hal baru, yang dimana anak akan mulai memberanikan diri mencoba melakukan sesuatu untuk mencari identitas diri. Dalam masa percobaan ini menyebabkan banyak pelanggaran Ae pelanggaran yang sering terjadi seperti terlambat datang ke sekolah, tidak mengerjakan pekerjaan rumah, tidak menghormati guru, berpakaian tidak rapi, menghina teman serta memilih Ae milih dalam berteman karena perbedaan agama, ras dan warna kulit. Sehingga peran guru diperlukan dalam memberikan perhatian yang penuh untuk memberikan bimbingan dan mengarahkan peserta didik agar tidak berada di jalan yang salah. Perilaku penyimpangan ini disebabkan oleh pendidikan karakter yang belum maksimal, dalam hal ini harus segera ada pergerakan yang dilakukan untuk meningkatkan moralitas peserta didik dengan melakukan penanaman nilai karakter yang dapat membentuk dan memperkuat kepribadian peserta didik. Nilai karakter sangat penting diberikan kepada peserta didik di sekolah, yang dimana dapat memberikan pengaruh yang positif dalam pengembangan karakter peserta didik di sekolah, sehingga menjadikan peserta didik sebagai individu yang berkualitas. Palunga & Marzuki . menyatakan memiliki wawasan yang luas dan pengetahuan nilai moral tidak cukup untuk menjadi manusia berkarakter, nilai moral harus disertai dengan adanya karakter yang bermoral. Peralihan dari sekolah dasar ke sekolah menengah pertama tentunya juga membuat peserta didik lebih merasa asing dengan lingkungan sekolah yang baru, mengakibatkan peserta didik menjadi acuh terhadap sekitarnya yang membuat peserta didik tidak memiliki sopan santun, tidak displin dan tidak peduli dengan sesama. Pentingnya peran guru dalam memperkenalkan dan mengajarkan nilai - nilai Pancasila kepada peserta didik dapat menumbuhkan kesadaran dalam mengimplementasikan nilai - nilai Pancasila dalam kehidupan sehari Ae hari, baik di lingkungan sekolah, masyarakat, bangsa dan Penanaman nilai Ae nilai Pancasila dalam proses pembelajaran di dalam kelas maupun di luar kelas secara tidak langsung akan membentuk karakter sesuai dengan nilai Ae nilai Pancasila. Peserta didik dapat mengamalkan nilai - nilai Pancasila di sekolah seperti menghargai dan menghormati warga sekolah, melakukan doa bersama sebelum pembelajaran dimulai, melakukan kerja bakti di lingkungan sekolah dan menghargai pendapat teman, dengan demikian akan tercipta generasi penerus bangsa yang cerdas, bermoral dan religious. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul Peran Guru Terhadap Internalisasi Nilai Ae Nilai Pancasila Dalam Membentuk Nilai Karakter Disiplin dan Demokratis Siswa Di SMP Negeri 6 Singaraja. Penelitian ini berfokus pada peran guru terhadap internalisasi nilai Ae nilai Ni Luh Gede Leony Risdayanti / Peran Guru Terhadap Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Membentuk Nilai Karakter Disiplin Dan Demokratis Siswa Di Smp Negeri 6 Singaraja Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2024, pp. Pancasila dalam kegiatan sehari Ae hari yang dilakukan di sekolah untuk membentuk karakter peserta didik yang disiplin dan demokratis. Dari latar belakang tersebut dapat ditarik permasalahan yaitu: Pertama, bagaimana peran guru dalam menginternalisasikan nilai Ae nilai Pancasila dalam membentuk nilai karakter disiplin dan demokratis peserta didik. Kedua, apa kendala guru dalam menginternalisasikan nilai Ae nilai Pancasila kepada peserta didik. Adapun tujuan penelitian ini adalah: Pertama, untuk mengetahui peran guru dalam menginternalisasikan nilai Ae nilai Pancasila dalam membentuk nilai karakter disiplin dan demokratis peserta didik. Kedua, untuk mengetahui kendala yang dihadapi guru dalam menginternalisasikan nilai Ae nilai Pancasila kepada peserta didik. Metode Penelitian ini penulis menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang berusaha untuk menuturkan pemecahan masalah yang ada sekarang berdasarkan data, penyajian data, menganalisi dan menginterpretasi (Sugiyono. Penelitian kualitatif (Qualitative Researc. merupakan penelitian kearah menganalisis suatu aktivitas, kepercayaan, perilaku, persepsi serta pemikiran terhadap fenomena yang dialami oleh subjek penelitian. Dengan penelitian ini, penulis berharap dapat menggambarkan informasi Ae informasi factual yang detail dengan melakukan observasi secara mendalam tentang bagaimana peran guru menginternalisasikan nilai Ae nilai Pancasila dalam membentuk karakter disiplin dan demokratis siswa di SMP Negeri 6 Singaraja. Lokasi penelitian sebagai tempat dimana peneliti mengambil data dan tempat penelitian itu dilaksanakan terkait dengan permasalahan yang menjadi fokus kajian dalam penelitian ini. Sehingga lokasi penelitian dilakukan di SMP Negeri 6 Singaraja. Kabupaten Singaraja. Adapun dasar peneliti menggunakan lokasi ini, karena ingin mengetahui bagaimana peran guru menginternalisasikan nilai Ae nilai Pancasila dalam membentuk karakter disiplin dan demokratis siswa. Rentang waktu dalam pelaksanaan penelitian kurang lebih satu sampai dua bulan guna mendapatkan data Ae data yang dibutuhkan dalam penelitian ini, yang dimana data yang diperoleh nantinya dapat digunakan sebagai pendukung kegiatan penelitian untuk menggali dan menemukan kebenaran pengetahuan secara fakta yang ada di lapangan. Berdasarkan tujuan penelitian melalui proses pengumpulan data dengan bersumber yaitu wawancara, dokumentasi dan studi pustaka yang diperoleh saat di lapangan dan disusun secara Analisis data dilakukan dengan cara memilih, menggolongkan serta menghubungkan sumber data yang didapat dalam penelitian. Data yang telah dikumpulkan di reduksi atau memilih-milih data yang benar dan data yang salah. Kemudian ditampilkan atau dikelompokkan secara utuh yang dimana pada saat proses selanjutnya akan memudahkan dalam pemaparan dan penegasan kesimpulan sebagai akhir dari penelitian yang dilaksanakan. Proses tersebut dilakukan secara berulang Ae ulang, sehingga apa yang menjadi tujuan dalam penelitian ini dapat Hasil dan Pembahasan Peran Guru dalam Menginternalisasikan Nilai-Nilai Pancasila dalam Membentuk Nilai Karakter Disiplin dan Demokratis Peserta Didik Internalisasi sendiri merupakan proses penanaman perilaku sikap dan nilai seseorang yang didapatkan dalam proses pembinaan. Hal yang paling penting disini adalah harus ada contoh atau figur yang harus diperankan oleh guru sebagai contoh untuk anak didiknya sehingga karakter peserta didik yang terbentuk akan mencerminkan nilai Ae nilai Pancasila. Untuk itu peran guru sangat penting dalam menginternalisasikan nilai Ae nilai Pancasila kepada peserta didik. Salah satu karakter yang harus ditanamkan kepada peserta didik yakni karakter Disiplin adalah sesuatu yang berhubungan dengan kepatuhan terhadap peraturan yang Menurut Kemdiknas . mendefinisikan bahwa disiplin adalah suatu tindakan yang menunjukkan perilaku tertib dan patuh pada berbagai ketentuan dan peraturan. Dengan menanamkan karakter disiplin kepada peserta didik akan membentuk sikap dan kepribadian yang baik, taat terhadap peraturan serta berperilaku sesuai dengan norma Ae norma yang Selain itu demokrasi juga tidak kalah pentingnya ditanamkan kepada peserta didik. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2024, pp. yang dimana demokrasi dapat memberikan gambaran kepada peserta didik dalam belajar berbicara didepan umum, mengeluarkan pendapat dan menghargai pendapat orang lain, yang nantinya dapat diterapkan di lingkungan masyarakat. Demokrasi merupakan hal yang sangat penting ditanamkan kepada peserta didik untuk melatih kejujuran, keterbukaan, menghargai dan menghormati sesama. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan para guru, peneliti menemukan bahwa peran guru memang sangat penting dalam memberikan pendidikan karakter kepada peserta didik, seperti yang kita ketahui guru merupakan suritauladan atau contoh teladan yang akan ditiru dan dipercaya oleh anak didiknya. Peran guru tidak hanya sebagai petugas pengajar tetapi juga sebagai pendidik, dimana guru memberikan motivasi, pendidikan kepada siswa dari aspek nilai, etika dan sikap, sehingga akhirnya membentuk kepribadian pendidikan siswa (Suprahatiningrum, 2. Pada saat proses belajar mengajar di sekolah guru memiliki peran yaitu menjadi contoh teladan dalam bertutur kata dan bertingkah laku, melatih ketrampilan peserta didik, memberikan dorongan kepada peserta didik untuk meningkatkan semangat dalam belajar serta memberikan arahan agar mereka mampu menghadapi permasalahan dan menemukan jati Maka dari itu para guru melakukan pembiasaan, memberikan contoh langsung serta memberikan arahan mengenai perilaku yang baik sesuai dengan nilai Ae nilai Pancasila. Dengan menerapkan kebiasaan Ae kebiasaan yang baik akan melatih anak untuk berdisiplin dalam berpakaian, disiplin waktu, sopan santun dan lain sebagainya. Sehingga karakter peserta didik dengan perlahan membaik dari jenjang sebelumnya. Hal ini sependapat dengan Hamalik . yang mengatakan bahwa sebagai pendidik guru bertugas membina perkembangan pengetahuan, sikap dan keterampilan. Setiap sekolah pasti memiliki tata tertib yang harus dipatuhi oleh semua pihak sekolah baik guru, pegawai maupun peserta didik. Begitu pula dengan SMP Negeri 6 Singaraja memiliki tata tertib yang dijadikan landasan dalam berprilaku maupun bersikap dalam melaksanakan kewajiban selama berada disekolah. Adanya tata tertib ini diharapkan dapat menjaga ketertiban dan kedisiplinan peserta didik, guru maupun pegawai selama berada disekolah, mampu menciptakan proses belajar mengajar yang nyaman dan tentram di lingkungan sekolah serta peserta didik mampu mengatur waktu dengan baik dan berperilaku sesuai dengan tata tertib yang ada di sekolah. Kepala sekolah dan para guru juga senantiasa menberikan contoh serta keteladanan kepada peserta didik. Mengarahkan, memberikan pendampingan dan pembinaan, menumbuhkan rasa memiliki juga salah satu cara yang ditempuh oleh kepala sekolah serta para guru SMP Negeri 6 Singaraja. Kepala sekolah mengarahkan untuk saling menghargai profesi yang dimiliki oleh semua warga sekolah, sehingga peserta didik bisa mencontoh hal tersebut. Pada proyek Kurikulum Merdeka. SMP Negeri 6 Singaraja mengangkat tema AuSuara DemokrasiAy dengan topik AuPemilihan Ketua dan Wakil Ketua OsisAy. Tema ini diangkat bertujuan untuk menyampaikan materi mengenai demokrasi yang dimana peserta didik diharapkan dapat mengetahui tata cara pemilu yang baik dan benar, sehingga peserta didik bisa menerapkannya di lingkungan masyarakat. Pada saat kegiatan berlangsung para guru ikut serta mendampingi peserta didik dalam proses pelaksanaan kegiatan pemilihan tersebut, mulai dari memberikan pemahaman tentang demokrasi kepada peserta didik, cara membuat visi misi, penetapan calon perwakilan kelas, babak penyelisihan, debat kandidat ketua dan wakil ketua osis dan pemungutan suara untuk pemilihan ketua dan wakil ketua osis. Maka dari itu nilai Ae nilai dan praktik demokrasi mengajarkan peserta didik untuk menggunakan hak asasi mereka dan melatih keterampilan mereka dalam menyuarakan pendapat, menghadapi perbedaan dan mengambil keputusan. Dalam kegiatan proyek ini bertujuan untuk membangun nilai saling menghormati, saling menghargai, tolong menolong serta menumbuhkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki hak untuk berpendapat. Hal ini menunjukkan bahwa guru sudah menanamkan nilai-nilai Pancasila sesuai dengan visi dan misi SMP Negeri 6 Singaraja. Berdasarkan hal tersebut, dapat dilihat dari cara guru berinteraksi dengan peserta didik. Perihal mengenai bertutur kata yang baik, guru dapat menjadi teladan untuk peserta didiknya melalui cara guru menanggapi permasalah yang sedang dihadapi oleh peserta didik, seperti menanggapi murid yang malas dalam mengerjakan tugas, menghadapi siswa yang bandel dan lain sebagainya. Meskipun dalam keadaan marah, namun Ni Luh Gede Leony Risdayanti / Peran Guru Terhadap Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Membentuk Nilai Karakter Disiplin Dan Demokratis Siswa Di Smp Negeri 6 Singaraja Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2024, pp. para guru sangat sabar dalam menghadapi peserta didik. Para guru dapat menjadi teladan dalam disiplin waktu masuk ke dalam kelas, sebagian besar guru di sekolah mengarahkan peserta didik untuk menjadi pribadi yang disiplin. Para guru juga selalu berusaha untuk datang tepat waktu sebagai contoh untuk anak didiknya dan hampir seluruh guru di sekolah menjadi teladan dalam disiplin menjalankan ibadah. Hal ini juga ditunjukkan dari upaya yang dilakukan oleh kepala sekolah dan para guru dalam memberikan tindakan atau sanksi atas pelanggaran terhadap peraturan sekolah yang dilakukan oleh peserta didik. Dalam hal ini para guru berharap peserta didik mampu menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari Ae hari, guna menciptakan generasi penerus bangsa yang baik, cerdas dan bermoral. Namun kurangnya kesadaran diri peserta didik membuat guru sulit untuk menginternalisasikan nilai Ae nilai Pancasila. Masih ada peserta didik yang terlambat datang ke sekolah, berkelahi dengan temannya, konvoi di jalanan masih menggunakan atribut sekolah, tidak menggunakan seragam sesuai peraturan tata tertib sekolah dan masih ada peserta didik yang meminta uang secara paksa kepada temannya. Kebiasaan beberapa peserta didik tidak mengikuti peraturan yang ditetapkan dan memberikan contoh yang kurang baik kepada teman Ae Peserta didik sebenarnya mengetahui peraturan sekolah namun masih banyak yang mengabaikan peraturan yang ada, karena kebiasaan Ae kebiasaan yang dilakukan peserta didik ketika di rumah dan pengaruh lingkungan sekitarnya. Tidak hanya itu dalam proses belajar mengajar didalam kelas masih banyak peserta didik yang ribut pada saat guru menjelaskan materi, mencontek pada saat ulangan, mengganggu teman yang lagi belajar, tidur di dalam kelas serta tidak mengerjakan tugas yang diberikan. Oleh karena itu, untuk mengubah karakter peserta didik tidak bisa dengan waktu yang singkat diperlukan proses yang panjang. Guru harus memiliki kesabaran tinggi dalam menghadapi anak didiknya. Dapat disimpulkan bahwa internalisasi nilai Ae nilai Pancasila sudah dilaksanakan namun belum maksimal dikarenakan terbatas ruang dan waktu serta jumlah siswa yang lebih banyak dibandingkan jumlah guru sehingga menyebabkan dalam proses menginternalisasikan nilai Ae nilai Pancasila belum berjalan dengan maksimal, guru tidak bisa membimbing dan mengawasi seluruh siswa secara bersamaan. Guru hanya memiliki sedikit waktu untuk menanamkan nilai Ae nilai Pancasila lebih mendalam kepada peserta didik. Karena dalam pembentukan karakter peserta didik juga dipengaruhi oleh faktor dari diri sendiri, faktor lingkungan keluarga dan lingkungan masyarakat. Seperti yang kita ketahui peserta didik lebih banyak menghabiskan waktu di rumah daripada di sekolah. Dengan demikian perlu adanya kerja sama antara guru dengan orang tua peserta didik untuk ikut serta mendidik dan mengawasi anak dalam pergaulan di lingkungan masyarakat. Orang tua juga berperan untuk mengawasi anak dalam pergaulan di lingkungan masyarakat, karena kerja sama antara peran guru dan peran orang tua sangat berpengaruh terhadap proses menginternalisasikan nilai Ae nilai Pancasila dalam kehidupan sehari Ae hari untuk membentuk karakter anak yang baik. Sehingga internalisasi nilai Ae nilai Pancasila dapat berjalan dengan maksimal. Kendala yang Dihadapi Guru dalam Menginternalisasi Nilai-Nilai Pancasila Kepada Peserta Didik Dalam proses internalisasi nilai Ae nilai Pancasila tentunya ada saja kendala yang dihadapi oleh guru, seperti yang kita ketahui proses internalisasi nilai Ae nilai Pancasila tidak mudah untuk ditanamkan kepada pesera didik. Adapun kendala yang dihadapi guru dalam proses internalisasi nilai-nilai Pancasila yang peneliti dapatkan yaitu masa transisi peserta didik, kemajuan teknologi, pengaruh lingkungan internal dan eksternal. Masa transisi peserta didik yakni dari jenjang sekolah dasar menuju sekolah menengah pertama. Hal ini menyebabkan terjadi perubahan dari masa kanak Ae kanak ke masa remaja, yang dimana peserta didik cendrung masih membawa sifat yang kekanak Ae kanakan, belum mampu memahami banyak hal dan masih ingin meraskan kebebasan untuk bermain. Hal - hal berkaitan prilaku dan karakter peserta didik yang masih tertanam disaat jenjang sebelumnya belum dapat dirubah dengan waktu yang singkat. Selain itu kurangnya kesadaran diri peserta didik untuk menerapkan nilai Ae nilai Pancasila juga menjadi faktor kendala dalam proses internalisasi. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304 Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2024, pp. Perkembangan teknologi juga membawa pengaruh di dunia Pendidikan, yakni pengaruh positif dan pengaruh negatif. Perkembangan teknologi jika dimanfaatkan dengan baik akan sangat bermanfaat untuk dunia Pendidikan, seperti halnya pembelajaraan akan menjadi lebih menarik, sehingga menarik perhatian peserta didik dalam proses belajar mengajar dan membuat peserta didik lebih mudah dalam memahami materi. Namun pengaruh negatif bisa terjadi karena di era modern ini sangat cangih, jadi semua bisa diakses di dunia internet. Selain itu faktor kemajuan teknologi juga menyebabkan peserta didik menjadi malas untuk belajar dan lebih memilih menghabiskan waktunya untuk bermain gadget. Dampak yang ditimbulkan oleh perkembangan teknologi yaitu beraneka ragam diantaranya perilaku yang menyimpang dari nilai dan norma yang berlaku. Perkembangan teknologi saat ini sering kali disalah gunakan oleh peserta didik dalam berperilaku sehari Ae hari, seperti kecanduan menggunakan handphone untuk bermain games dan sering melihat tontonan yang tidak seharusnya dilihat oleh anak seumuran mereka. Kemajuan teknologi internet dan pengaruh lingkungan mereka yang sudah dalam kebebasan dunia maya. Mereka lebih mengetahui dari para guru, maka dari itu harus ada benteng yang menyaring pengaruh luar yang tidak baik. Berdasarkan hal tersebut guru harus sabar dan memberi contoh yang baik agar peserta didik tidak terjerumus hal negative. Pengawasan dari orang tua juga berperan penting dalam menanamkan pola pikir yang baik dalam kehidupan seorang anak. Pengaruh lingkungan internal dan eksternal juga menjadi faktor kendala dalam proses Pergaulan dengan teman sebaya dapat membawa seseorang kearah positif maupun Karena seseorang akan memiliki karakter yang baik jika berada dilingkungan yang baik, begitupun sebaliknya jika seseorang berada didalam lingkungan yang kurang baik, maka kemungkinan besar seseorang tersebut akan memiliki karakter yang kurang baik. Pengaruh pergaulan bisa menjadi dasar peserta didik mudah berpaling dari nilai Pancasila, seberapa sering pun guru mengajarkan tentang nilai Ae nilai Pancasila, apabila pergaulan peserta didik melenceng dari nilai Pancasila, maka peserta didik akan tetap berada dijalur yang salah. Pengaruh manusia berperan penting dalam menanamkan nilai dasar Pancasila. Lingkungan keluarga merupakan pengaruh yang sangat besar dalam membentuk watak anak itu sendiri. Anak akan menerima pengaruh dari keluarga seperti cara orang tua mendidik, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi. Keluarga menjadi upaya penting dalam memupuk akhlak anak, disamping itu keluarga seharusnya memiliki rasa yang aman dan nyaman. Sekarang ini banyak orang tua mengalami kegagalan dalam mendidik anak, sehingga memicu kematangan emosi anak berubah menjadi buruk, ini bisa menyebabkan anak memiliki etika dan moral yang kurang Dalam hal ini internalisasi nilai Ae nilai Pancasila harus dimulai dari lingkungan rumah sekitar, yang dimana dengan menanamkan nilai Ae nilai Pancasila dari sejak dini akan membentuk karakter yang baik dalam diri generasi muda. Sehingga pada saat anak memasuki dunia Pendidikan anak sudah memiliki bekal yang kemudian akan diasah lagi oleh guru di Dengan demikian nilai Ae nilai luhur Pancasila dapat menyatu dalam diri generasi muda. Simpulan dan Saran Internalisasi nilai nilai Pancasila yang dilakukan oleh guru belum berjalan dengan Hal tersebut dikarenakan jumlah peserta didik yang lebih banyak dibandingkan dengan jumlah guru. Peran guru memang sangat penting dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila, akan tetapi terbatas masalah ruang dan waktu. Para guru tidak bisa membimbing seluruh siswa secara bersamaan serta mengawasi siswa diluar jam sekolah, sehingga internalisasi nilai-nilai Pancasila belum maksimal. Dalam proses internalisasi nilai-nilai Pancasila ini agar berlangsung maksimal perlu adanya peran orang tua yang membantu guru dalam mendidik dan membimbing anak. Seperti yang kita ketahui orang tua tentunya lebih banyak memiliki waktu dengan anak sehingga orang tua bisa mengawasi anak diluar jam Berdasarkan hal tersebut orang tua harus memberikan contoh yang baik bagi anak, memberikan perhatian dan kasih sayang, serta mengawasi anak dalam pergaulan di lingkungan masyarakat, karena kerja sama antara peran guru dan peran orang tua sangat berpengaruh terhadap proses menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari untuk membentuk karakter anak yang baik. Dengan demikian selain peran guru, peran orang tua Ni Luh Gede Leony Risdayanti / Peran Guru Terhadap Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Membentuk Nilai Karakter Disiplin Dan Demokratis Siswa Di Smp Negeri 6 Singaraja Ganesha Civic Education Journal. Vol. No. April 2024, pp. sangat diperlukan dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila kepada anak sehingga mendapatkan hasil yang maksimal dalam proses internalisasi tersebut. Kendala yang dihadapi guru SMP Negeri 6 Singaraja dalam menginternalisasikan nilai-nilai Pancasila untuk membentuk karakter disiplin dan demokratis siswa dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu yang pertama faktor kemajuan teknologi menyebabkan peserta didik menjadi malas untuk belajar dan hanya menghabiskan waktunya untuk bermain gadget. Yang kedua, yaitu faktor masa peralihan peserta didik dari sekolah dasar menuju ke sekolah menengah pertama, yang dimana peserta didik cenderung masih membawa sifat yang ke kanak-kanakan dan belum mampu memahami banyak hal. Dan yang ketiga, yaitu pengaruh lingkungan internal dan eksternal peserta didik yang dimana dari pengaruh internal itu sendiri terkait dengan masing Ae masing orang tua yang memiliki kesibukan tersendiri yang menyebabkan kurangnya perhatian dan kasih sayang pada Selain itu kurangnya didikan dan pengawasan orang tua dalam pergaulan anak, sehingga karakter anak tergantung dari pola asuh yang diterapkan di lingkungan keluarga. Dan dari pengaruh eksternal seperti pergaulan dengan teman sebaya yang dimana adanya timbul rasa penasaran dan keinginan untuk mencoba sesuatu hal yang negatif yang dilakukan oleh teman Ae temannya, serta memberikan contoh yang kurang baik kepada teman Ae temannya. Berdasarkan kesimpulan diatas, saran yang yang hendak disampaikan olh peneliti adalah sebagai berikut : . Bagi Guru Ae Guru. Para guru hendaknya mampu membuat proses belajar mengajar yang menarik sehingga dapat menjadi daya tarik minat belajar peserta didik, menciptakan suasana yang nyaman dan meningkatkan interaksi terhadap peserta didik. Memberikan reward kepada peserta didik bisa meningkatkan semangat belajar peserta didik, sehingga proses penanaman nilai Ae nilai Pancasila akan menjadi lebih optimal dan maksimal dilakukan jika membangun kedekatan dan hubungan yang baik antara guru dengan peserta didik. Bagi Peserta Didik. Peserta didik diharapkan dapat menerapkan dan mengimplementasikan nilai Ae nilai Pancasila di ligkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat, sehingga peserta didik memilki karakter yang baik yang mencerminkan nilai-nilai luhur Pancasila. Daftar Rujukan Palunga. R & Marzuki. Peran Guru Dalam Pengembangan Karakter Peserta Didik Di Sekolah Menengah Pertama Negeri 2 Depok Sleman. Jurnal Pendidikan Karakter. Vol. 8 No. https://doi. org/10. 21831/jpk. Prastiwi. , & Pandin. Pancasila-Based Educational Content on Social Media as an Effort to Overcome the Moral Degradation of The Millennial Generation During Pandemic. Ganesha Civic Education Journal, 5. , https://doi. org/10. 23887/gancej. Sanjaya. Sukadi. Sastrawijaya. , & Kartika. Utilization of Civic KVSSAW Evaluation Model in Determining the Effectiveness of Tri Hita Karana in Character Education for Students on Elementary School of Bali Aga. Journal of Engineering and Applied Sciences, 14. , 2572-2581. Sanjaya. Sukadi. , & Natajaya. Implementasi Pendidikan Karakter Sesuai Dengan Permendikbud No. 20 Tahun 2018 Di SMP Negeri 1 Kediri. Tabanan. In Seminar Nasional Pengabdian kepada Masyarakat (Vol. 4, pp. Suastika. Urgensi Pendidikan Karakter Berlandaskan Tri Hita Karana (Studi Pengembangan Model Pembelajaran PKn-SD di Kota Singaraj. Lembaga Penelitian Universitas Pendidikan Ganesha. Prosiding Seminar Nasional Riset Inovatif II. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta Suprihatiningrum. Strategi Pembelajaran. Jogjakarta: Ar-Ruzz. GANCEJ. P-ISSN: 2714-7967 | E-ISSN: 2722-8304