ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Diterima : 10 Desember 2025 Direvisi : 21 Desember 2025 DOI : 10. 58518/darajat. Dipublikasi : 24 Desember 2025 PEDAGOGI CINTA: MEREKONSTRUKSI LANDASAN FILSAFAT PENDIDIKAN ISLAM MELALUI ANALISIS ISI DAN HERMENEUTIK TERHADAP TAFSIR AL-MISBAH KARYA M. QURAISH SHIHAB Heni Listiana Universitas Islam Negeri Madura. Pamekasan. Indonesia Email: henilistiana@iainmadura. Mokhammad Akhwan Muhlis LPI Maktuba Al-Majidiyah Email: akhwanmuhlis3@gmail. Najwa Afcarina Izzati Universitas Islam Negeri Madura. Pamekasan. Indonesia Email: najwaafcarina06@gmail. Zilfania Qathrun Nada Universitas Islam Negeri Madura. Pamekasan. Indonesia Email: fanianada22@gmail. Achmad Muhlis Universitas Islam Negeri Madura. Pamekasan. Indonesia Email: achmadmuhlis@iainmadura. Abstrak Artikel ini mengkaji krisis pedagogis dalam pendidikan Islam kontemporer yang cenderung bersifat reduksionis dan berorientasi pada transfer pengetahuan semata, sehingga mengabaikan dimensi spiritual dan etis peserta didik. Sebagai respons terhadap persoalan tersebut, penelitian ini bertujuan merumuskan sebuah kerangka teoretis yang disebut Pedagogi Cinta melalui penafsiran sistematis atas Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi pustaka, sementara analisis data dilakukan secara deskriptif-analitis melalui perpaduan analisis konten dan pendekatan hermeneutika. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pedagogi Cinta bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu: . aksiologi rahmah sebagai fondasi spiritual yang termanifestasi dalam keteladanan . swah uasana. pembelajaran dialogishumanis sebagai pendekatan pedagogis yang memuliakan akal dan hati peserta didik. kurikulum integratif yang menyinergikan ilmu naqli dan Aoaqli. Temuan ini menegaskan bahwa Pedagogi Cinta merupakan solusi transformatif dalam membentuk individu yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan spiritual, sehingga mampu merealisasikan cita-cita insAn kAmil yang berorientasi pada nilai raumatan lil-AoAlamn. Kata kunci: Pedagogi Cinta. Tafsir al-Misbah. Quraish Shihab. Pendidikan Islam. Kurikulum Integratif. 195 Pedagogi Cinta: Merekonstruksi Landasan Filsafat. | Heni Listiana et. Darajat. Volume 8. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Abstract This article examines the pedagogical crisis in contemporary Islamic education, which tends to be reductionist and oriented toward the transfer of knowledge alone, thereby neglecting the spiritual and ethical dimensions of students. In response to this issue, this study aims to formulate a theoretical framework called the Pedagogy of Love through a systematic interpretation of M. Quraish Shihab's Tafsir al-Misbah. This study uses a qualitative approach with a literature study method, while data analysis is carried out descriptively and analytically through a combination of content analysis and a hermeneutic approach. The results show that the Pedagogy of Love rests on three main pillars, namely: . the axiology of rahmah as a spiritual foundation manifested in exemplary behavior . swah uasana. dialogical-humanistic learning as a pedagogical approach that honors the minds and hearts of students. an integrative curriculum that synergizes naqli and 'aqli knowledge. These findings confirm that the Pedagogy of Love is a transformative solution in shaping individuals who are not only intellectually superior, but also emotionally and spiritually mature, so that they are able to realize the ideal of insAn kAmil, which is oriented towards the value of raumatan lil-AoAlamn. Keywords: Pedagogy of Love. Tafsir al-Misbah. Quraish Shihab. Islamic Education. Integrative Curriculum. PENDAHULUAN Dalam narasi ideal peradaban, pendidikan Islam seharusnya menjadi tempat utama untuk memanusiakan manusia . a'di. 1, sebuah instrumen yang tidak hanya mengarahkan individu pada pemahaman tekstual, tetapi juga pada internalisasi nilai dan kesadaran etik. Namun, realitas kontemporer sering menunjukkan hal yang berbeda. Di era disrupsi, pendidikan Islam kerap terjebak dalam rutinitas pedagogis yang kering dan pragmatis 23. Kritik pun bermunculan. Fadhlullah, misalnya, mengkritik model yang berfokus pada eksploitasi sumber daya manusia untuk mencetak siswa sebagai pekerja terampil tanpa penekanan pada pengembangan akhlak 4. Secara metodologis, pendidikan Islam dianggap lemah karena lebih berpusat pada pengajaran daripada pembelajaran yang holistik dan berkelanjutan 5. Fenomena ini berakar pada orientasi pendidikan yang lebih condong pada AuapaAy . hat-oriente. daripada "mengapa" . hy-oriente. , di mana dominasi metode hafalan membelenggu daya kreatif siswa. Akibatnya, pendidikan gagal membentuk individu yang saleh, mandiri, dan memiliki tanggung jawab sosial yang mendalam 6. Paradigma ini merupakan sebuah ironi teologis, di mana pendidikan yang seharusnya dilandasi oleh rahmah . asih sayan. justru menjadi kaku dan eksklusif. Merespons krisis pedagogis ini, artikel ini hadir sebagai respons terhadap krisis pedagogis dalam pendidikan Islam, yang menuntut rekonstruksi landasan filosofis yang Luqman Azis Hirnawan. AuKonsep TaAdib An-Naquib Al-Attas Dan Humanisme Paulo Freire Serta Relevansinya Dengan Pendidikan IslamAy . : 132. M A Zubaidi. Pendidikan Islam 5. 0: Integrasi Spiritualitas Dan Teknologi Di Era Disrupsi, 1st ed. (Yogyakarta: Zahir Publishing, 2. , 6. Ibid. , 10. Fadhlullah Irfan. AuKritik Atas Pemikiran Humanisme Pendidikan John Dewey,Ay el-Buhuth 2, no. : 44. Pratama Irja Putra and Zulhijra. AuReformasi Pendidikan Islam Di Indonesia,Ay J u r n a l P A I R a d e n F a t a h V 1, no. : 7. Yushinta Eka Farida. AuHumanisme Dalam Pendidikan Islam,Ay Tarbawi : Jurnal Pendidikan Islam 12, no. 196 Pedagogi Cinta: Merekonstruksi Landasan Filsafat. | Heni Listiana et. Darajat. Volume 8. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat autentik dan relevan. Dalam upaya ini. Tafsir al-Misbah karya Prof. Dr. Quraish Shihab menjadi referensi krusial. Tafsir ini, dengan pendekatannya yang ma'nawi-ijtima'i . osiologis-kontekstua. 7, menawarkan perspektif segar yang menempatkan nilai universal rahmah sebagai jantung dari seluruh ajaran Islam. Merespons tantangan hermeneutik ini. Quraish Shihab secara kritis melampaui belenggu penafsiran tekstualisliteral. Sebagaimana disoroti oleh Wartini, krisis pemahaman Al-Qur'anAiyang dialami masyarakat awam maupun terpelajarAibukan hanya persoalan bahasa, melainkan kegagalan dalam menangkap benang merah dari tema-tema pokok. Oleh karena itu. Quraish Shihab menawarkan pendekatan tematis yang holistik, yang secara jeli menunjukkan keserasian struktural dan tematis antara ayat-ayat dan surat-surat 8. Dengan demikian. Tafsir al-Misbah tidak hanya menyajikan interpretasi, tetapi juga mendidik pembaca untuk melihat Al-Qur'an sebagai satu kesatuan organik yang koheren, menjadikannya sumber inspirasi otentik untuk memecahkan problematika modern, termasuk dalam dunia pendidikan. Artikel ini, dengan demikian, bertujuan membangun sebuah kerangka teoretis yang kami sebut Pedagogi Cinta. Terminologi ini secara filosofis merangkum spirit rahmah sebagai prinsip utama. Kami berargumen bahwa pendidikan yang berbasis kasih sayang, dialog, dan penghargaan terhadap martabat kemanusiaan adalah solusi untuk mengembalikan ruh pendidikan Islam yang humanis. Kontribusi orisinal artikel ini terletak pada penafsiran Tafsir al-Misbah secara sistematis untuk membentuk sebuah model pedagogi yang koheren, praktis, dan berorientasi pada masa depan peradaban. Sebagai respons terhadap kritik pendidikan yang mengabaikan dimensi emosional dan etis. Silverman memperkenalkan pedagogi cinta, sebuah ide yang menekankan peran fundamental cinta dalam menciptakan lingkungan belajar yang transformasional dan Pandangan ini diperkuat oleh Loreman, yang melampaui pemahaman konvensional bahwa cinta hanya memfasilitasi hubungan harmonis. Loreman berargumen bahwa cinta adalah prasyarat epistemik yang memberdayakan siswa untuk proaktif mencari ilmu dan mencapai potensi maksimalnya 10. Kedua pemikir ini, bersama dengan gagasan dari Noddings 11 dan Freire 12, menyoroti pentingnya hubungan interpersonal dan komunitas untuk menumbuhkan cinta, harapan, dan kepercayaan. Dalam tradisi intelektual Islam, konsep ini memiliki akar yang kuat. Meskipun istilah "pedagogi cinta" adalah terminologi modern, semangatnya telah lama berakar kuat dalam khazanah Islam. Landasan filosofisnya dapat ditemukan pada Pendidikan Berbasis Arifin Zaenal. AuKarakteristik Tafsir Al-Misbah,Ay Al-Ifkar 13, no. : 19, http://dx. org/10. 1016/j. 056https://academic. com/bioinformatics/articleabstract/34/13/2201/4852827internal-pdf://semisupervised3254828305/semisupervised. ppthttp://dx. org/10. 1016/j. 005http://dx. org/10. Atik Wartini. AuCorak Penafsiran M. Quraish Shihab Dalam Tafsir Al-Misbah,Ay HUNAFA: Jurnal Studia Islamika 11, no. : 113Ae116. Marissa Silverman. AuCritical Pedagogy as a Pedagogy of ALove,AAy vrme: Visions of Research in Music Educations 40 . : 71, https://opencommons. edu/vrmeAvailableat:https://opencommons. edu/vrme/vol40/iss1/8. Fuad Fachruddin. AuBook Review: Pedagogi Cinta,Ay Sukma: Jurnal Pendidikan 3, no. : 234. Muzeliati Muzeliati. M Firdaus, and Sumianto Sumianto. AuKerinduan Pada Sosok Pendidik: Upaya Membangun Relasi Edukatif Yang Otentik,Ay Indonesian Research Journal on Education 5, no. : 103. Siti Komariyah. AuThe Relevance of Paulo FreireAs Dialogical Concept in Enhancing Mathematical Understanding in Islamic Elementary Schools: Relevansi Konsep Dialog Paulo Freire Dalam Meningkatkan Pemahaman Matematika Di Madrasah Ibtidaiyah,Ay NUMBERS: Jurnal Pendidikan Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam 3, no. : 10. 197 Pedagogi Cinta: Merekonstruksi Landasan Filsafat. | Heni Listiana et. Darajat. Volume 8. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat Rahmah, yang menempatkan kasih sayang sebagai fondasi utama 13. Konsep ini diperkuat oleh Tarbiyah, yang menekankan proses pengasuhan dan pengembangan holistik dengan penuh kasih 14, serta Ta'dib, yang berfokus pada penanaman adab dan karakter sebagai upaya untuk memanusiakan manusia 15. Dengan demikian, pedagogi cinta adalah sintesis brilian yang menjembatani ide pendidikan universal dengan nilai-nilai Islam. Ia bertujuan membangun nilai kasih yang mendalam, menjadikan individu yang berilmu dan berakhlak mulia. Oleh karena itu artikel ini akan membahas dua pertanyaan riset yaitu: Bagaimana konsep pedagogi cinta dapat direkonstruksi secara filosofis-pedagogis melalui pendekatan ma'nawi-ijtima'i dalam Tafsir al-Misbah? Bagaimana implikasi konsep pedagogi cinta dari Tafsir al-Misbah dapat dijadikan landasan untuk mengembangkan model pendidikan Islam yang humanis dan berorientasi pada pembentukan karakter . a'di. ? METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi pustaka . ibrary researc. 16, yang dipilih karena fokusnya pada interpretasi dan analisis mendalam terhadap teks-teks utama. Sumber data primer yang digunakan adalah Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab 17. Analisis difokuskan pada ayat-ayat yang relevan dengan tema pendidikan, etika, dan relasi sosial, dengan kutipan langsung dari tafsir sebagai bukti Keistimewaan Tafsir al-Misbah terletak pada pendekatan ma'nawi-ijtima'i . osiologis-kontekstua. yang secara kritis melampaui penafsiran tekstualis-literal 18. Pendekatan ini menjembatani tradisi tafsir klasik dengan tantangan modern, menjadikannya rujukan yang relevan dan otoritatif. Sumber sekunder meliputi karya lain dari M. Quraish Shihab serta literatur akademis . uku dan jurna. mengenai filsafat pendidikan Islam, tafsir kontemporer, dan pedagogi humanis untuk membangun konteks dan perbandingan. Analisis data akan dilakukan secara deskriptif-analitis melalui perpaduan metode analisis konten 19 dan hermeneutika 20. Analisis konten digunakan untuk mengidentifikasi, mengklasifikasi, dan memetakan secara sistematis konsep-konsep pedagogis. Sementara itu, hermeneutika berfungsi untuk menginterpretasi makna yang lebih dalam dan Perpaduan kedua metode ini bertujuan melampaui makna literal, mencari relevansi filosofisnya, dan menjadikannya landasan teoretis yang dapat Validitas temuan akan diperkuat melalui triangulasi data antar sumber primer dan sekunder, yang menjamin argumen yang kokoh dan dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Mahfud Ifendi. AuKurikulum Cinta: Membangun Paradigma Pendidikan Berbasis Kasih Sayang Di Madrasah,Ay AsSulthan Journal of Education 01, no. : 689. Salwa Rihadatul Aisy. Cucu Surahman, and Elan Sumarna. AuMenggali Makna Tarbiyah Dalam QS. Ali Imran Ayat 79: Pendidikan Spiritual. Moral. Dan Sosial Umat Islam,Ay Jurnal Semiotika-Q: Kajian Ilmu al-Quran dan Tafsir 4, no. : 715. Juleha Juleha. Nur Aliya, and Siti Suleho. AuPendidikan Sebagai Proses Memanusiakan Manusia,Ay Jurnal Ilmiah Penelitian Mahasiswa 3, no. : 386. Miza Nina Adlini et al. AuMetode Penelitian Kualitatif Studi Pustaka,Ay Jurnal Edumaspul 6, no. : 974. Mahanum Mahanum. AuTinjauan Kepustakaan,Ay ALACRITY : Journal of Education 1, no. : 6. Muhammad Quraish Shihab. AuMembumikan Al Quran Jilid 13,Ay Lentera Hati . : 13. Yuli Asmi Rozali. AuPenggunaan Analisis Konten Dan Analisis Tematik,Ay Penggunaan Analisis Konten dan Analisis Tematik Forum Ilmiah 19 . : 68, w. Deora Westa Purba. AuHermeneutika Sebagai Metode Pendekatan Dalam Teologi,Ay Regula Fidei | 3 . : 82. 198 Pedagogi Cinta: Merekonstruksi Landasan Filsafat. | Heni Listiana et. Darajat. Volume 8. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat PEMBAHASAN Dalam diskursus keilmuan Islam, konsep cinta memiliki spektrum makna yang kaya, melampaui satu kata tunggal. Istilah seperti Hubb. Wadd, dan Rahmah menunjukkan beragamnya bentuk kasih sayang 21, dari lingkup keluarga hingga relasi universal antar sesama manusia. Pemahaman ini sejalan dengan pandangan Alfiyah dan Nufus, yang mengkaji al-Hubb sebagai tema sentral dalam Al-Qur'an. Secara etimologis, al-Hubb dapat dimaknai sebagai "kecenderungan menuju keindahan," dan dalam konteks yang lebih dalam, cinta kepada sesama adalah bukti nyata dari cinta seorang hamba kepada Sang Pencipta. Hal ini ditegaskan oleh ulama tafsir Imam Al-Alusi, yang menyatakan bahwa cinta kepada manusia harus berlandaskan pada cinta kepada Allah, karena cinta kepada manusia merupakan bagian dari kekuasaan Tuhan 22. Dalam perspektif teologis, cinta ini merupakan fitrah Ilahi, manifestasi dari sifat rahmah Allah yang mendorong manusia untuk memberi, bukan semata-mata untuk Ajaran Rasulullah A Amenjadi teladan mulia untuk mentradisikan kasih sayang, yang secara psikologis juga diperkuat oleh Allport sebagai indikator kematangan Dengan demikian, pendidikan yang didasari oleh prinsip cinta tidak bisa dipahami secara dangkal. Cinta, dalam ranah pedagogis, harus diwujudkan dalam tindakan nyata yang berlandaskan kasih sayang, kelembutan, dan kerelaan berkorban. Meskipun pendidikan modern memiliki landasan teologis dan relevansi psikologis yang kuat, ia cenderung mengabaikan dimensi spiritual dan emosional 25. Sebagai respons, pedagogi cinta hadir dengan menempatkan "sentuhan qalb" atau sentuhan hati sebagai esensi utamanya. Dalam Al-Qur'an, qalb dipahami bukan sekadar organ fisik, melainkan pusat kesadaran, emosi, dan moralitas yang esensial dalam pembentukan karakter. Sebagaimana dijelaskan oleh Al-Ghazali, qalb adalah tempat lahirnya cinta dan kasih sayang, menegaskan bahwa pendidikan harus melampaui aspek kognitif semata 26. Pendekatan ini menawarkan strategi yang berharga untuk pendidikan emosi dan pencegahan kekerasan. Qalb yang sehat berfungsi sebagai kendali atas emosi negatif seperti amarah dan kebencian, sehingga menjadi dasar yang efektif untuk menumbuhkan empati, kesabaran, dan pengendalian diri pada siswa 27. Dengan demikian, pendidikan berbasis qalb tidak hanya bertujuan untuk mencerdaskan intelektual, tetapi juga memperkuat karakter moral dan spiritual yang menjadi fondasi bagi pengendalian diri dan empati sosial 28. Dengan demikian, dibutuhkan sebuah kerangka kerja baru yang dapat menjembatani idealisme teologis ini dengan praktik pedagogis yang nyata. Pendekatan ini memadukan Muslihati. Barni Mahyudin, and Iskandar. AuPerspektif Pendidikan Islam Berbasis Cinta Dan Kasih Sayang,Ay Jurnal Intelegensia 8, no. : 63. Avif Alfiyah and Chusnun Nufus. AuKONSEP AL-HUBB DALAM AL-QURAAN (Telaah Kitab Tafsir Ruh AlMani Karya Imam Al-Alus. ,Ay Jurnal Ilmu Al-QurAoan dan Tafsir 6, no. : 85. Haidar Bagir. Risalah Cinta Dan Kebahagiaan (Noura Books, 2. , 15. Gordon W Allport. AuPersonality and Character,Ay Psychological bulletin 18, no. : 441. Mohammad Sholeh and Ali Mudlofir. AuPendidikan Tasawuf Dalam Neurosains Dan Kontribusinya Terhadap Spiritualitas Masyarakat Modern,Ay Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan 18, no. Hafiz. AuQalb Dalam Al-Qur A an : Relevansi Untuk Pendidikan Emosi Dan Pencegahan Kekerasan Hafiz,Ay AlIlmiya: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 01, no. : 136. Muhammad Nasruddin and Abdul Muiz. AuTinjauan Kritis Neurosains Terhadap Konsep Qalb Menurut AlGhazali,Ay Syifa Al-Qulub 4, no. : 70. Yudril Basith et al. AuOptimalisasi Peran Pendidik Dalam Pendidikanmelalui Integrasi Potensi Qalb Dan Aql,Ay Indonesian Journal of Islamic Religious Education 2, no. : 215. 199 Pedagogi Cinta: Merekonstruksi Landasan Filsafat. | Heni Listiana et. Darajat. Volume 8. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat ajaran Al-Qur'an dengan psikologi dan pedagogi mutakhir untuk memastikan pendidikan benar-benar melahirkan individu yang matang secara emosional dan berakhlak mulia 29. Hal ini menjadikannya solusi transformatif yang mampu membentuk manusia seimbang, sadar, dan berintegritas. Menurut M. Quraish Shihab, penafsiran Al-Qur'an harus sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan modern. Ia menggarisbawahi pentingnya interaksi antara wahyu dan akal dalam memahami ajaran Al-Qur'an secara lebih mendalam. Penafsiran ini bertujuan untuk membuktikan bahwa Al-Qur'an memiliki aspek-aspek ilmiah yang relevan dan dapat menjadi sumber inspirasi 30. Penelusuran sistematis terhadap Tafsir al-Misbah berhasil mengartikulasikan sebuah kerangka konseptual yang kokoh untuk Pedagogi Cinta. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa M. Quraish Shihab menempatkan kasih sayang . sebagai prinsip Rahmah dalam konteks pendidikan bukanlah sekadar emosi, melainkan sebuah aksiologi yang mewujud dalam praktik pedagogis yang memanusiakan. Dari analisis ini, teridentifikasi tiga pilar utama Pedagogi Cinta. Aksiologi Rahmah dalam Pendidikan Penelusuran terhadap term rahmah dalam Al-Qur'an menunjukkan signifikansi yang mendalam, tidak hanya sebagai konsep pinggiran, melainkan sebagai prinsip dinamis dan imperatif dalam ajaran Islam. Kajian Hidayatullah 31, secara krusial membedakan antara rahmah IlahiAiyang sempurnaAidan rahmah yang diwujudkan oleh manusiaAiyang Perbedaan ini menjadi fondasi teologis yang memandu bagaimana seorang pendidik dituntut untuk menginternalisasi dan merefleksikan rahmah Ilahi dalam Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah mengartikulasikan makna rahmah secara lebih rinci, membedahnya sebagai perpaduan antara ra'fah . elembutan dan kesantuna. dan riqqah . elunakan hati dan rasa ib. Perpaduan ini bukan sekadar emosi, melainkan sebuah aksiologiAisebuah nilai yang mewujud dalam praktik pedagogis yang Dengan demikian, rahmah dalam konteks pendidikan diwujudkan melalui akhlakul karimah, yaitu perpaduan antara kepribadian yang baik . dan amal perbuatan yang terpuji . Aksiologi ini menuntut seorang pendidik untuk menghadapi siswa yang nakal dengan kelembutan . tanpa mengorbankan ketegasan, serta menggunakan kesantunan . a'fa. sebagai metode dialogis untuk menyelesaikan konflik, bukan kekerasan 32. Dari landasan teologis ini. Tafsir al-Misbah menegaskan bahwa esensi tugas pendidik melampaui transfer ilmu . a'li. Tugas utamanya adalah pembentukan karakter . arbiyah dan ta'di. , yang diwujudkan melalui keteladanan yang nyata. Quraish Shihab menafsirkan Al-Ahzab . : 21 sebagai landasan pedagogis utama, di mana Nabi Muhammad AA menjadi uswah hasanah . eladan yang bai. Konsep ini menolak hubungan guru-siswa sebagai hierarki kekuasaan dan sebaliknya menegaskannya sebagai ikatan batin yang dibangun di atas rasa hormat dan kasih sayang. Murid belajar tidak hanya dari apa yang Muhammad Kristiawan. AuTelaah Revolusi Mental Dan Pendidikan Karakter Dalam Pembentukkan Sumber Daya Manusia Indonesia Yang Pandai Dan Berakhlak Mulia,Ay TaAodib 18, no. : 13. Shihab. AuMembumikan Al Quran Jilid 13,Ay 97Ae100. Alif Hendra Hidayatullah. AuTerminologi Rahmah Dalam Al QurAan (Studi Interpretasi Quraish Shihab Dalam Tafsir Al-Misba. ,Ay Qof 3, no. : 147. Fitrah Sugiarto. Indana Ilma Ansharah. AuPenafsiran Quraish Shihab Tentang Pendidikan Akhlak Dalam Al-QurAan Surat Al-Ahzab Ayat 21 Pada Tafsir Al-Misbah,Ay Al Furqan: Jurnal Ilmu Al Quran dan Tafsir 4, no. : 164. Shihab M. Quraish. Tafsir Al-Misbah Pesan. Kesan. Dan Keserasian Al-QurAoan Vol. 10 (Ciputat: Penerbit Lentera Hati, 2. , 441. 200 Pedagogi Cinta: Merekonstruksi Landasan Filsafat. | Heni Listiana et. Darajat. Volume 8. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat dikatakan guru, tetapi dari bagaimana guru menjalani hidupnya 34. Implementasi uswah hasanah sebagai manifestasi rahmah dapat dijabarkan melalui empat karakter profetik: siddiq . , amanah . , fathanah . ecerdasan holisti. , dan tabligh . emampuan menyampaikan dengan tepa. Karakter ini tidak hanya menjadi tuntutan bagi siswa, tetapi juga menjadi prasyarat bagi pendidik 35. Fathanah, misalnya, menuntut pendidik untuk menggunakan kecerdasan emosional dan spiritualnya dalam memahami kondisi batin siswa, sedangkan tabligh mengharuskannya untuk menyampaikan materi dan nilai dengan metode yang tepat dan relevan. Dengan demikian. Pedagogi Cinta menuntut pendidik untuk mengintegrasikan keempat sifat ini ke dalam kompetensi pedagogis, kepribadian, profesional, dan sosialnya. Pendekatan ini menawarkan sebuah paradigma baru yang menuntut revolusi cara pandang dari "pendidikan sebagai transfer ilmu" menjadi "pendidikan sebagai proses Dengan demikian, pendidikan yang didasari rahmah dan diwujudkan melalui keteladanan uswah hasanah akan menciptakan individu yang matang secara spiritual, emosional, dan intelektual. Pembelajaran sebagai Dialog Humanis: Menghargai Martabat Akal dan Hati Pendidikan Islam saat ini dihadapkan pada tantangan untuk beranjak dari paradigma konvensional yang cenderung menempatkan guru sebagai pusat otoritas, menjadikan siswa sebagai objek pasif dalam transfer pengetahuan 36. Pedagogi yang demikian, meskipun efektif dalam penyampaian informasi, sering kali gagal dalam membentuk individu yang berkarakter, mandiri, dan berjiwa kritis. Oleh karena itu, rekonstruksi mendalam diperlukan untuk menggeser fokus dari sekadar penguasaan materi menuju pembangunan manusia secara utuh. Sebagai antitesis terhadap model konvensional, pedagogi dialogis-humanis hadir sebagai fondasi baru yang menegaskan bahwa pembelajaran adalah sebuah interaksi otentik yang memuliakan akal dan hati siswa 37. Dalam kerangka pemikiran ini, pendidik tidak lagi berfungsi sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan sebagai fasilitator yang mendorong siswa untuk berpikir kritis 38, mengkonstruksi pengetahuan mereka sendiri 39, dan terlibat aktif dalam proses penemuan 40. Gagasan ini selaras dengan pandangan M. Quraish Shihab yang menyoroti pentingnya dialog, bukan sebagai alat untuk memaksakan kehendak, tetapi sebagai metode otentik untuk mencari kebenaran, sebagaimana dicontohkan dalam kisah-kisah kenabian. Inti dari pedagogi ini berakar pada keyakinan bahwa tujuan pendidikan adalah menyatukan akal dan hati 41. Tafsir Q. Al-Mujadilah . : 11 yang disampaikan oleh Quraish Shihab, di mana Allah menjanjikan peninggian derajat bagi orang-orang beriman Adam F. Hasan et al. AuAkhlakul Karimah Dalam Al-QurAan Surah Al-Ahzab Ayat 21 Perspektif M. Quraish Shihab,Ay Al-Zayn : Jurnal Ilmu Sosial & Hukum 3, no. : 513. Siti Fatimah and Suparno. AuPendidikan Karakter Dalam Surat Al-Ahzab Ayat 21 Perspektif Tafsir Al-Misbah Karya Muhammad Quraish Shihab,Ay Jurnal Pendidikan Agama Islam Miazhar 1, no. : 9. Meila Natasya. Muhammad Imam Firdaus, and Fatimah Khairani. AuKompetensi Pendidik Dan Konvensionalisme Guru: Antara Inovasi Dan Tradisi,Ay Journal of Sustainable Education 2, no. : 160. Nur Zaini. AuKonsep Pendidikan Humanis Dan Implementasinya Dalam Proses Belajar Mengajar,Ay Karangan: Jurnal Bidang Kependidikan. Pembelajaran. Dan Pengembangan 1, no. : 62. Dede Nuraida. AuPeran Guru Dalam Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa Dalam Proses Pembelajaran,Ay Jurnal Teladan: Jurnal Ilmu Pendidikan Dan Pembelajaran 4, no. : 52. Nurhidayati Euis. AuPEDAGOGI KONSTRUKTIVISME DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN INDONESIA,Ay International Journal of Educational Counseling 1, no. : 1. Svinicki. AuA Theoretical Foundation for Discovery Learning,Ay The American journal of physiology 275, no. 6 Pt 2 . : 4. Asep Muharam Asep. AuMaqlat Luqmn Spektrum Pedagogis Dialogis Freire,Ay Kaipi: Kumpulan Artikel Ilmiah Pendidikan Islam 1, no. : 17. 201 Pedagogi Cinta: Merekonstruksi Landasan Filsafat. | Heni Listiana et. Darajat. Volume 8. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat dan berilmu, bukan hanya merupakan janji eskatologis, melainkan juga seruan filosofis untuk memberdayakan manusia melalui sinergi sempurna antara iman dan ilmu 42. Oleh karena itu, dialog dalam pembelajaran tidak berhenti pada interaksi antara guru dan siswa, melainkan meluas menjadi dialog antara teks dan konteks, serta antara akal dan hati 43. Proses holistik ini membentuk siswa menjadi pribadi yang tidak hanya taat secara spiritual, tetapi juga mandiri secara intelektual 44, mewujudkan generasi yang memiliki integrasi spiritual dan nalar kritis. Untuk mengimplementasikan paradigma ini, peran pendidik harus direkonstruksi secara total. Zaini menawarkan pandangan bahwa pendidik harus menjadi teladan yang penuh kasih sayang, mampu menumbuhkan empati dan motivasi siswa, serta menciptakan lingkungan yang toleran 45. Pendidik memposisikan diri sebagai teman belajar dalam suasana dialogis, mengaitkan materi dengan pengalaman dan perasaan siswa, dan bahkan berani menunjukkan transparansi tentang kekurangan diriAisebuah tindakan yang justru membangun integritas dan mengajarkan kerendahan hati. Guna mewujudkan penyatuan akal dan hati ini. Susilawati dkk mengusulkan strategi konkret seperti metode pembelajaran kritis, penguatan adab, praktik tadabbur, mentoring ruhani, dan pembiasaan kegiatan rutin spiritual 46. Melalui perpaduan strategi-strategi ini, pendidikan dapat melahirkan individu yang cerdas secara intelektual serta matang secara emosional dan Dengan demikian, pedagogi dialogis-humanis menantang kita untuk meninggalkan pendekatan yang usang. Ia menawarkan sebuah visi baru di mana pendidikan adalah perjalanan spiritual-intelektual yang memberdayakan, memuliakan martabat manusia, dan menciptakan pribadi-pribadi yang berintegrasi secara holistik. Kurikulum yang Integratif: Mengembangkan Potensi Holistik (Akal. Hati, dan Spiritualita. Paradigma pendidikan konvensional sering kali terperangkap dalam kurikulum reduksionis, yang memisahkan ilmu pengetahuan dari dimensi etika dan spiritual. Kondisi ini menciptakan disonansi yang menempatkan siswa sebagai entitas kognitif semata, mengabaikan aspek-aspek kemanusiaan yang lebih dalam 47. Sebagai respons kritis terhadap krisis ini, pemikiran Quraish Shihab yang termaktub dalam Tafsir al-Misbah menawarkan sebuah fondasi bagi kurikulum integratif. Kurikulum ini memandang manusia sebagai makhluk multidimensional yang menuntut pendekatan pendidikan Inti dari kurikulum integratif ini adalah menyatukan apa yang secara artifisial telah dipisahkan oleh pendidikan modern. Mukhlasin dan Wibowo mendefinisikannya sebagai pendekatan pembelajaran terpadu yang berfokus pada penyatuan perkembangan, pertumbuhan, dan kemampuan pengetahuan siswa 48. Pendekatan ini secara metodologis membantu siswa mengaitkan pengetahuan baru dengan pengalaman sebelumnya. Quraish. Tafsir Al-Misbah Pesan. Kesan. Dan Keserasian Al-QurAoan Vol. 10, 17. Hamid Baharudin Reni. Susilawati Rizki. Ananda Shalicha Nafilata. Erhasa Yuberti Abd. Rahmad. AuMenyatukan Akal Dan Hati Dalam Pendidikan Islam,Ay Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar 10, no. : 260. Euis. AuPEDAGOGI KONSTRUKTIVISME DALAM PRAKSIS PENDIDIKAN INDONESIA,Ay 1. Zaini. AuKonsep Pendidikan Humanis Dan Implementasinya Dalam Proses Belajar Mengajar,Ay 62. Reni. Susilawati Rizki. Ananda Shalicha Nafilata. Erhasa Yuberti Abd. Rahmad. AuMenyatukan Akal Dan Hati Dalam Pendidikan Islam,Ay 65Ae67. Saifuddin Sabda. AuParadigma Pendidikan Holistik: Sebuah Solusi Atas Permasalahan Paradigma Pendidikan Modern,Ay dalam http://w. tarbiyah-iainantasari. id/artikel_detail. cfm 27 . : 1. Ahmad Mukhlasin. AuDesain Pengembangan Kurikulum Integratif Dan Implementasinya Dalam Pembelajaran,Ay Jurnal Tawadhu 2, no. : 364. 202 Pedagogi Cinta: Merekonstruksi Landasan Filsafat. | Heni Listiana et. Darajat. Volume 8. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat sehingga mengembangkan nalar kritis mereka dan memungkinkan pembentukan pengetahuan yang kokoh melalui interaksi langsung dengan lingkungan. Lebih dari itu. Listiana menegaskan bahwa spiritualitas adalah fondasi yang tak tergantikan dalam proses Ia berpendapat bahwa integrasi spiritualitas dalam kurikulum tidak hanya efektif untuk deradikalisasi dan pembentukan karakter, tetapi juga memperkuat pemahaman siswa tentang nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi, menciptakan lingkungan belajar yang Visi pendidikan Quraish Shihab memberikan legitimasi filosofis bagi kurikulum semacam ini. Ia menolak fragmentasi ilmu pengetahuan, sebuah masalah yang dianggapnya sebagai akar dari dualisme berpikir yang memisahkan ranah spiritual dan Gagasan ini berlandaskan pada keyakinan filosofis bahwa ilmu, baik yang bersifat naqli . maupun aqli . , berasal dari satu entitas yang sama, yaitu Tuhan Oleh karena itu, tugas utama kurikulum adalah menjembatani keduanya, menciptakan sinergi otentik antara sains dan spiritualitas. Pendidikan, dengan demikian, tidak sekadar mentransfer fakta, melainkan menumbuhkan kesadaran bahwa setiap disiplin ilmu adalah jalan untuk mengenal Sang Pencipta. Melalui Tafsir al-Misbah. Shihab secara konsisten mengimplementasikan visi ini dengan "membumikan" pesan-pesan Al-Qur'an agar relevan, utuh, dan terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari, baik di dalam maupun di luar ruang Dengan mengintegrasikan akal, hati, dan spiritualitas, kurikulum ini bertujuan untuk melahirkan insan kamilAimanusia yang utuh dan seimbang. Insan kamil adalah individu yang mampu menggunakan akalnya untuk ilmu pengetahuan, hatinya untuk menumbuhkan kasih sayang dan empati, serta spiritualitasnya untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Kurikulum holistik ini pada akhirnya mempersiapkan siswa untuk menjadi rahmatan lil-alamin, pribadi yang menebarkan manfaat dan kasih sayang bagi Inilah puncak dari Pedagogi Cinta: melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas intelektual, tetapi juga matang emosional, mendalam spiritual, dan siap menjadi agen perubahan etis di tengah masyarakat. Diskusi: Merekonsiliasi Teologi dan Pedagogi dalam Pedagogi Cinta Analisis data secara deskriptif-analitis melalui perpaduan metode analisis konten dan hermeneutika membawa kita pada sebuah temuan mendalam: Pedagogi Cinta yang diartikulasikan dari Tafsir al-Misbah bukan sekadar sebuah konsep, melainkan sebuah kerangka pendidikan yang utuh dan transformatif. Kerangka ini menawarkan sebuah kritik fundamental terhadap praktik pendidikan Islam yang dominan, yang seringkali terjebak dalam paradigma transfer pengetahuan yang reduksionis dan berpusat pada guru. Pedagogi Cinta mengalihkan fokus dari "apa yang diajarkan" menuju "bagaimana ia diajarkan" dan "siapa yang mengajar," menandai pergeseran radikal menuju model yang berpusat pada siswa, humanis, dan memanusiakan. Konsep ini memberikan kontribusi signifikan dalam diskursus pendidikan Islam, melengkapi sekaligus melampaui gagasan-gagasan sebelumnya. Jika Fazlur Rahman menekankan pada pentingnya konteks sosio-historis Al-Qur'an 52 dan Muhammad Abduh Heni Listiana. AuDeradicalization Based on Spiritual Neuroscience Through Islamic Education,Ay Islamuna: Jurnal Studi Islam 8, no. : 22. Indana Zulfa and Ach Tajib. AuKonsep Pendidikan Anak Menurut M. Quraish Shihab Dalam Perspektif Pendidikan Islam,Ay Kartika: Jurnal Studi Keislaman 5, no. : 246. Yunita Yenni. Kurikulum Berbasis Integrasi Ilmu Dan Islam, ed. Lisnawati. Etika Jurnalisme Pada Koran Kuning : Sebuah Studi Mengenai Koran Lampu Hijau, 1st ed. , vol. 16 (Purwokerto: Penerbit Amerta Media Perum, 2. , 59. Rudy Irawan. AuMetode Kontekstual Penafsiran Al-QurAan Perspektif Fazlur Rahman,Ay Al-Dzikra: Jurnal Studi Ilmu al-QurAoan dan al-Hadits 13, no. : 1. 203 Pedagogi Cinta: Merekonstruksi Landasan Filsafat. | Heni Listiana et. Darajat. Volume 8. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat menyoroti rasionalitas dalam pendidikan 53. Pedagogi Cinta mengintegrasikan fondasi teologis yang kuat untuk dimensi afektif dan spiritual. Ia mengatasi kekosongan yang seringkali terabaikan dalam kerangka rasionalitas murni dengan menempatkan rahmah sebagai aksiologi sentral. Tiga pilar utama yang teridentifikasi dalam penelitian iniAi aksiologi rahmah, pembelajaran sebagai dialog humanis, dan kurikulum integratifAi bekerja dalam sebuah koherensi logis dan saling menguatkan. Pertama, aksiologi rahmah adalah fondasi teologis dan spiritual yang memandu seluruh praksis pendidikan. Melalui penafsiran Quraish Shihab terhadap konsep rahmah, kita melihat bahwa ia bukan sekadar emosi, melainkan sebuah prinsip etis yang menuntut pendidik untuk merefleksikan kasih sayang Ilahi 54. Hal ini mewujud dalam keteladanan . swah hasana. yang menjadi prasyarat mutlak, menuntut pendidik untuk mengintegrasikan karakter kenabian . hiddiq, amanah, fathanah, tablig. ke dalam kompetensi pedagogis mereka. Ini adalah jawaban terhadap krisis moral kontemporer, di mana materi keagamaan tanpa keteladanan hanya akan menjadi dogma kosong. Kedua, pembelajaran sebagai dialog humanis berfungsi sebagai metodologi yang secara langsung mengimplementasikan aksiologi rahmah. Dengan menolak model teachercentered yang otoriter, pedagogi ini memuliakan martabat akal dan hati siswa. Sebagaimana dijelaskan Quraish Shihab, dialog adalah metode otentik untuk mencari kebenaran, dan dalam konteks pendidikan, ia melatih nalar dan kemandirian berpikir Ini merupakan strategi yang esensial untuk membendung radikalisme dan dogmatisme, yang kerap tumbuh subur dalam lingkungan pendidikan satu arah. Dialog menjadi jembatan antara guru dan siswa, teks dan konteks, serta yang terpenting, antara akal dan hati. Ketiga, kurikulum integratif hadir sebagai struktur penopang yang mewadahi kedua pilar sebelumnya. Dengan menolak fragmentasi ilmu pengetahuan, kurikulum ini menyatukan dimensi naqli . dan aqli . Ia memberikan kerangka kerja yang solid untuk mengimplementasikan pembelajaran terpadu 56 yang juga mengintegrasikan Ini adalah solusi atas dikotomi ilmu agama dan ilmu umum yang menjadi akar permasalahan dalam sistem pendidikan Islam selama ini. Dengan demikian, kurikulum ini melahirkan individu yang tidak hanya menguasai teknologi, tetapi juga memiliki kedalaman etis dan spiritual. Secara keseluruhan. Pedagogi Cinta dalam perspektif Tafsir al-Misbah adalah sebuah kerangka pendidikan yang utuh dan transformatif. Ia adalah panggilan untuk mengembalikan ruh pendidikan Islam yang humanis dan memanusiakan. Melalui perpaduan antara teologi aksiologis, metodologi dialogis, dan struktur kurikulum yang integratif, ia menawarkan solusi yang relevan dan mendalam. Menerapkan pedagogi ini tidak hanya akan memperbaiki sistem pendidikan, tetapi juga akan membentuk karakter bangsa yang lebih beradab dan beretika 58. Ia adalah peta jalan untuk melahirkan insan kamilAipribadi yang seimbang antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional, dan kedalaman spiritualAiyang siap menjadi rahmatan Abdul Halim and Adib Masykuri. AuPembaruan Pendidikan Islam Worldview: Tinjauan Historis. Filosofis Dan Sosiologis Muhammad Abduh,Ay Journal of Islamic Educational Development 1, no. : 1. Mahmud Arif. AuTAFSIR PENDIDIKAN Makna Edukasi AlqurAan Dan Aktualisasi PembelajarannyaAy (Penerbit OMBAK, 2. , 6. Fadlil Haekal Mahendra. AuAnalisis Metode Pembelajaran Perspektif M. Quraish Shihab (Studi Tafsir AlMishba. Ay (Jakarta: Jakarta: FITK UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA, 2. , 7. Mukhlasin. AuDesain Pengembangan Kurikulum Integratif Dan Implementasinya Dalam Pembelajaran,Ay 364. Listiana. AuDeradicalization Based on Spiritual Neuroscience Through Islamic Education,Ay 1. Lutfi Hardiyanto. Herinto Sidik Iriansyah, and Saryono Saryono. AuLandasan Filosofis Pendidikan Budaya Dan Karakter Bangsa,Ay Jurnal Citizenship Virtues 4, no. : 733. 204 Pedagogi Cinta: Merekonstruksi Landasan Filsafat. | Heni Listiana et. Darajat. Volume 8. Nomor 2. Desember 2025 ISSN 2620-9985 (Printe. , 2656-5595 (Onlin. Link https://ejournal. iai-tabah. id/index. php/Darajat lil-alamin 59, agen perubahan yang menebarkan kasih sayang dan manfaat di tengah tantangan zaman. KESIMPULAN Penelitian ini berangkat dari sebuah refleksi kritis terhadap krisis pedagogis dalam pendidikan Islam kontemporer, yang seringkali terjebak dalam model transfer pengetahuan yang kering dan reduksionis. Melalui analisis hermeneutika dan konten terhadap Tafsir al-Misbah karya M. Quraish Shihab, artikel ini berhasil mengartikulasikan sebuah kerangka konseptual yang kokoh: Pedagogi Cinta. Kerangka ini menawarkan sebuah jalan keluar yang bukan hanya memperbaiki metode, tetapi juga merekonstruksi ulang landasan filosofis pendidikan Islam. Temuan utama penelitian ini tersintesis dalam tiga pilar yang saling berkoherensi. Pertama, aksiologi rahmah sebagai fondasi teologis dan spiritual, menegaskan bahwa kasih sayang bukan sekadar emosi, melainkan sebuah prinsip etis yang harus menjadi jiwa dari setiap praktik pendidikan. Pilar ini mewujud dalam keteladanan . swah hasana. pendidik yang mengintegrasikan karakter profetik ke dalam kompetensi profesionalnya. Kedua, pembelajaran sebagai dialog humanis berfungsi sebagai metodologi yang memuliakan martabat akal dan hati siswa. Model ini menolak hierarki otoriter dan sebaliknya mendorong interaksi otentik yang melatih nalar kritis dan kemandirian berpikir, sebuah prasyarat vital untuk membendung dogmatisme dan radikalisme. Ketiga, kurikulum integratif hadir sebagai struktur yang menopang dua pilar tersebut, menolak fragmentasi ilmu pengetahuan, dan menyatukan ilmu naqli . dengan aqli . untuk menciptakan sinergi antara sains dan spiritualitas. Dengan demikian, kontribusi orisinal artikel ini terletak pada penafsiran sistematis terhadap Tafsir al-Misbah untuk membentuk model pedagogi yang koheren, praktis, dan berorientasi pada masa depan peradaban. Pedagogi Cinta bukan sekadar solusi teoretis. adalah panggilan untuk kembali pada ruh pendidikan Islam yang humanis dan Penerapan kerangka ini akan membentuk insan kamil pribadi yang seimbang antara kecerdasan intelektual, kematangan emosional, dan kedalaman spiritual yang pada akhirnya siap menjadi rahmatan lil-alamin, agen perubahan yang menebarkan kasih sayang dan manfaat di tengah tantangan zaman. DAFTAR PUSTAKA