CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat https://journal. com/index. php/caradde Volume 8 | Nomor 2 | Desember . 5 e-ISSN: 2621-7910 dan p-ISSN: 2621-7961 DOI: https://doi. org/10. 31960/caradde. Peningkatan Kompetensi Guru dalam Pembelajaran Interaktif melalui Pemanfaatan Nearpod: Sebuah Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat Rispah Purba1*. Alim Mutaqin2. Tiffany Shahnaz Rusli3. Daud Kaigere4. Firda Wati5. Sara Cesilia6 Kata Kunci: Nearpod. Pembelajaran Digital. Guru. Siswa. Masyarakat. Keywords: Nearpod. Digital Learning. Teachers. Students. Community. Corespondensi Author Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Universitas Cendrawasih. Indonesia Alamat: Jl. Camp Wolker. Kampung Mosso. Kecamatan Muara Tami. Kota Jayapura. Papua Email: rispahpurba. rp@gmail. Article History Received: 16-09-2025. Reviewed: 29-10-2025. Accepted: 25-11-2025. Available Online: 18-12-2025. Published: 28-12-2025. Abstrak. Kegiatan meningkatkan kompetensi guru dalam merancang dan menerapkan pembelajaran digital interaktif melalui Nearpod, pemahaman dasar kepada masyarakat sekitar mengenai pengelolaan usaha berbasis digital. Mitra kegiatan adalah para guru sekolah dasar di SD Negeri Inpres Skouw Mabo yang berjumlah dua belas orang sebagai sampel utama. Metode pelaksanaan dilakukan secara bertahap, dimulai dari analisis kebutuhan untuk memetakan keterampilan awal guru, pelatihan penggunaan Nearpod, praktik penyusunan modul interaktif, pendampingan implementasi di kelas, hingga evaluasi reflektif bersama peserta. Analisis data dilakukan secara kuantitatif melalui perbandingan nilai tes awal dan tes akhir, serta rekam jejak keterlibatan siswa selama pembelajaran, dan diperkuat dengan catatan observasi kualitatif. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan guru dalam memahami konsep pembelajaran digital, menghasilkan modul interaktif, dan menerapkannya di kelas. Siswa menunjukkan keterlibatan yang lebih tinggi, sementara masyarakat memperoleh wawasan baru yang Kegiatan ini menyimpulkan bahwa Nearpod mampu menjadi sarana efektif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dan peran guru dalam menghadirkan kelas yang lebih aktif serta Abstract. This community engagement activity aimed to enhance teachers competence in designing and implementing interactive digital learning through the use of Nearpod, while also providing basic insights for the surrounding community on managing small businesses with digital approaches. The partner in this program was a group of elementary school teachers in the SD Negeri Inpres Skouw Mabo, with twelve participants serving as the main sample. The implementation method was carried out in stages, beginning with a needs analysis to identify teachers initial skills, followed by training sessions, guided development of interactive modules. Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 classroom implementation, and reflective evaluation. Data were analyzed quantitatively through comparisons of pre-test and post-test scores and records of student participation, complemented by qualitative observations. The results showed significant improvements in teachers digital learning abilities, the creation of interactive modules, and positive changes in classroom engagement. Students became more active, and the community gained useful knowledge. The activity concludes that Nearpod effectively enhances learning quality and supports teachers in creating more engaging classroom This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. @2025 by Author membutuhkan model pembelajaran berbasis teknologi yang lebih aplikatif dan mudah Urgensi kegiatan pengabdian muncul pembelajaran yang memfasilitasi interaksi, kolaborasi, dan keterlibatan siswa. Model pembelajaran digital tidak hanya membantu memperkaya penyajian materi, tetapi juga mampu menghadirkan ruang belajar yang lebih komunikatif. Dalam konteks ini, konsep teori pembelajaran interaktif menekankan bahwa siswa perlu terlibat melalui aktivitas yang memicu perhatian, partisipasi, dan umpan balik (Agustin & Utomo, 2. Hal ini sejalan dengan kerangka Technological Pedagogical and Content Knowledge yang mengintegrasikan teknologi, pedagogi, dan materi secara bersamaan agar pembelajaran lebih relevan. Selain itu, model SAMR menyebutkan bahwa teknologi idealnya tidak sekadar menggantikan metode lama, tetapi mengubah dan memperkaya pengalaman belajar (Blundell et al. , 2. Rencana pemecahan masalah dalam kegiatan ini difokuskan pada pelatihan dan pendampingan guru untuk merancang serta mengimplementasikan pembelajaran berbasis Nearpod. Melalui langkah tersebut diharapkan guru lebih percaya diri menggunakan teknologi, sementara siswa merasakan suasana Pada saat yang sama, keterampilan digital guru juga meningkat sehingga memberi dampak jangka panjang PENDAHULUAN Perkembangan mendorong perubahan besar dalam praktik pembelajaran masih didominasi pendekatan konvensional yang menempatkan siswa sebagai penerima informasi pasif, sehingga interaksi belajar menjadi terbatas dan kurang memfasilitasi partisipasi. Kondisi ini menjadi tantangan karena pembelajaran yang efektif menuntut keterlibatan aktif, kesempatan berekspresi, serta penggunaan media yang sesuai dengan karakteristik peserta didik di masa kini. Permasalahan terlihat pada guru-guru di salah satu sekolah dasar di Distrik Muara Tami. Kota Jayapura. Papua, yang menjadi mitra kegiatan ini. Berdasarkan hasil observasi awal, sebagian guru belum familiar dengan media pembelajaran digital interaktif, meskipun sekolah telah memiliki akses internet yang Hal ini sejalan dengan pandangan (Said, 2. yang menegaskan bahwa meningkatkan keterlibatan siswa dan hasil Proses cenderung berpusat pada guru, penggunaan media terbatas pada slide dan buku teks, dan siswa menunjukkan partisipasi yang minim. Lingkungan geografis perbatasan yang memiliki akses pelatihan terbatas turut memperkuat kebutuhan akan intervensi peningkatan kompetensi digital guru. Kondisi tersebut menjadi alasan mengapa lokasi ini Purba, et al. Peningkatan Kompetensi Guru dalam. bagi kualitas pembelajaran. Berdasarkan uraian di atas, hipotesis pemanfaatan Nearpod dalam pembelajaran dapat meningkatkan keterampilan guru dalam pengalaman belajar yang lebih aktif, menyenangkan, dan bermakna bagi siswa. Beberapa menunjukkan efektivitas media interaktif pemahaman siswa. (Harmawati et al. , 2. menunjukkan bahwa penggunaan platform digital mampu meningkatkan fokus dan respons siswa. Sementara itu menurut (Adriansyah et al. , 2. bahwa Nearpod mampu menghadirkan interaksi dua arah yang mempermudah guru mengukur keterlibatan siswa secara langsung. Temuan-temuan tersebut menjadi dasar penting bagi kegiatan ini untuk memilih media digital yang sesuai dengan karakteristik guru dan kondisi sekolah Nearpod dipilih karena memiliki fitur interaktif yang komprehensif dan mudah diterapkan oleh guru pemula dalam teknologi. Dibandingkan platform lain. Nearpod menyediakan integrasi kuis, polling, video, simulasi, dan aktivitas respons langsung dalam satu tampilan, sehingga memudahkan guru mengelola kelas sambil memantau partisipasi siswa secara real-time. Pemanfaatan Nearpod dapat menjadi sarana untuk menjembatani kebutuhan tersebut, karena memberikan sempatan bagi siswa untuk lebih aktif, berpikir kritis, sekaligus meras dihargai dalam proses Seperti yang ditegaskan oleh (Gesang Wahyudi & Jatun, 2. , keberhasilan integrasi teknologi dalam pendidikan terletak pada kemampuan guru menggabungkan aspek pedagogi, konten, dan teknologi secara Platform ini juga dapat diakses melalui berbagai perangkat, sehingga sesuai dengan kondisi sekolah mitra yang memiliki kemampuan digital guru. Kebaruan kegiatan ini terletak pada penerapan Nearpod sebagai media berbasis interaktivitas dalam konteks sekolah di wilayah perbatasan, yang selama ini belum banyak terfasilitasi dalam pelatihan Oleh karena itu, tujuan utama kegiatan kompetensi guru dalam merancang dan mengimplementasikan pembelajaran digital interaktif berbasis Nearpod, meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses belajar, serta mendukung transformasi pembelajaran yang lebih inovatif dan adaptif terhadap kebutuhan pendidikan digital saat ini. Dengan pendekatan pelatihan dan pendampingan yang sistematis, kegiatan ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi peningkatan mutu pembelajaran di sekolah Dengan mempertimbangkan berbagai tantangan tersebut, diperlukan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya memperkaya meningkatkan interaksi antara guru dan siswa. Integrasi teknologi dalam pembelajaran menjadi langkah strategis untuk menjawab kebutuhan tersebut. Namun, integrasi ini tidak dapat dilakukan secara instan, guru perlu mengenai pemilihan media yang tepat, cara karakteristik peserta didik. Pelatihan yang terarah sangat penting untuk memastikan bahwa teknologi digunakan secara pedagogis, bukan sekadar sebagai alat presentasi. Dalam kerangka teori integrasi teknologi, pendekatan TPACK menegaskan bahwa guru harus menguasai hubungan antara konten, pedagogi, dan teknologi agar pembelajaran menjadi relevan dan bermakna. Model SAMR bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mentransformasi pengalaman belajar. Kedua kerangka ini memberikan dasar kuat bahwa guru tidak hanya perlu mengetahui cara bagaimana teknologi tersebut dapat mengubah dinamika pembelajaran menuju praktik yang lebih interaktif dan berpusat pada siswa. Dengan dukungan teori tersebut. Nearpod pembelajaran menjadi relevan. Platform ini memberikan peluang bagi guru untuk merancang aktivitas yang memfasilitasi partisipasi aktif, mengumpulkan data respons siswa secara langsung, serta menyediakan variasi kegiatan yang dapat menyesuaiakn kebutuhan kelas. Keunggulan ini yang membuat Nearpod lebih sesuai dibandingkan platfotm lain, khususnya dalam konteks sekolah mitra yang membutuhkan solusi praktis, fleksibel, dan mudah diaplikasikan Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 oleh guru dengan latar belakang kemampuan digital yang beragam. Melalui pelatihan dan pendampingan diharapkan tidak hanya membantu guru menguasai penggunaan Nearpod, tetapi juga meningkatkan kemampuan dalam memahami prinsip-prinsip pembelajaran digital yang Pada akhirnya, transformasi ini ditujukan untuk membangun kelas yang lebih komunikatif, memperkuat partisipasi siswa, serta mendukung atmosfer belajar yang kondusif di sekolah mitra. Dengan memanfaatkan teknologi digital untuk sekaligus memberikan model implementasi yang dapat direplikasikan pada sekolahsekolah lain yang menghadapi tantangan Kegiatan dilaksanakan selama empat minggu dengan lima tahapan utama masingmasing dilakukan secara terstruktur: Analisis Kebutuhan (Minggu . Tim wawancara informal dengan guru, dan meninjau perangkat sekolah. Hasil identifikasi awal menunjukkan kurangnya pemahaman guru terkait media interaktif, digital, serta rendahnya keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar. Workshop Pengenalan Nearpod (Minggu 2, 1 sesi berdurasi 3 ja. Guru diperkenalkan pada konsep pembelajaran digital interaktif, teori pendukung (TPACK dan SAMR), serta demonstrasi fitur Nearpod seperti kuis, polling, simulasi, dan aktivitas berbasis respons langsung. Praktik Pembuatan Modul (Minggu 2-3, dua sesi masing-masing 2 ja. Guru didampingi menyusun satu modul interaktif sesuai mata pelajaran yang Pada tahap ini guru belajar merancang konten, memilih aktivitas yang tepat, serta mengintegrasikan bahan ajar ke dalam Nearpod. Implementasi di Kelas (Minggu 3-4, disesuaikan dengan jadwal mengaja. Guru menerapkan modul Nearpod secara langsung di kelas. Tim pengabdian hadir keterlibatan siswa, pola pengajaran, dan respons terhadap penggunaan media. Refleksi dan Evaluasi (Akhir Minggu 4, 1 Guru bersama tim melakukan diskusi Nearpod, tantangan teknis, serta strategi keberlanjutan program. Data dikumpulkan melalui dua pendekatan, kuantitatif . re-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman guru tentang pembelajaran digital dan penggunaan Nearpod serta pengukuran tingkat partisipasi siswa dicatat melalui jumlah respons dalam kuis, polling, dan aktivitas . bservasi menggunakan lembar observasi terstruktur, wawancara singkat dengan guru mengenai pengalaman penggunaan Nearpod, dan dokumentasi foto kegiata. Instrumen yang METODE Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan di salah satu sekolah dasar yang berlokasi di Distrik Muara Tami. Kota Jayapura. Papua. Sekolah ini berada di wilayah perbatasan dengan akses pelatihan teknologi yang sangat infrastruktur sekolah relatif sederhana dengan perangkat komputer yang tidak merata, jaringan internet tersedia tetapi belum Hasil menunjukkan bahwa sebagian besar guru hanya menggunakan slide presentasi atau papan tulis sebagai media utama, dan belum pernah mengintegrasikan media digital interaktif dalam kegiatan belajar. Kondisi tersebut menjadi dasar pemilihan mitra dan lokasi karena membutuhkan pendampingan komprehensif dalam penerapan pembelajaran Peserta utama kegiatan adalah 12 guru dari berbagai mata pelajaran. Sasaran peningkatan kompetensi digital karena memiliki tingkat penguasaan teknologi yang beragam, sebagian besar berada pada kategori Selain guru, terdapat perwakilan masyarakat sekitar terutama orang tua siswa yang mengikuti sesi singkat mengenai pengelolaan usaha berbasis digital sebagai bagian dari pemberdayaan komunitas sekolah. Purba, et al. Peningkatan Kompetensi Guru dalam. digunakan meliputi lembar tes pilihan ganda, lembar observasi interaksi kelas, pedoman wawancara, dan rubrik penilaian modul. Analisis kuantitatif dilakukan dengan menghitung persentase peningkatan nilai tes, perubahan rata-rata skor, dan efektivitas pelatihan menggunakan N-gain score. Data partisipasi siswa dianalisis secara deskriptif pembelajaran digital berlangsung. Analisis kualitatif dilakukan melalui teknik reduksi data, pengorganisasian tema, menggambarkan perubahan perilaku guru dan Kombinasi kedua teknik ini dipilih agar hasil evaluasi tidak hanya menggambarkan capaian numerik, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam mengenai proses transformasi mengungkapkan adanya tantangan teknis, seperti kestabilan jaringan dan adaptasi awal terhadap tampilan aplikasi, namun kendala tersebut berkurang seiring peningkatan pengalaman praktik. Refleksi peserta selama sesi evaluasi Nearpod mengelola kelas dengan lebih terstruktur karena alur pembelajaran dapat diatur secara runtut pada slide, dan seluruh siswa dapat mengikuti materi pada perangkat masingmasing. Data observasi menunjukkan pola keterlibatan yang lebih merata, terutama pada aktivitas kuis yang memungkinkan siswa menjawab secara individu tanpa tekanan. Peningkatan hasil belajar guru sejalan dengan tujuan pelatihan berbasis praktik seperti yang dijelaskan dalam pendekatan konstruktivisme bahwa pengalaman langsung membantu peserta membangun pengetahuan secara mandiri. Penggunaan Nearpod memberikan ruang bagi guru untuk berlatih mengintegrasikan konsep pedagogi, materi, dan teknologi dalam model TPACK. Dari sudut pandang teori SAMR, perubahan perilaku guru pada tahap implementasi menunjukkan pergeseran dari sekadar substitusi media . engganti slide stati. menuju tahap augmentation dan modification, di mana pembelajaran mulai menawarkan fitur interaktif yang tidak dapat dicapai oleh metode konvensional. Hasil ini juga sejalan dengan temuan terbaru bahwa teknologi interaktif meningkatkan tingkat partisipasi siswa secara signifikan melalui aktivitas berbasis respons langsung dan tampilan visual yang membantu kefokusan (Berta et al. , 2. Faktor keberhasilan utama kegiatan ini meliputi pendekatan pelatihan berbasis praktik langsung, pendampingan intensif, penggunaan instrument evaluasi progresif, dan kesesuaian media dengan karakteristik siswa sekolah Namun, tantangan juga ditemukan, seperti keterbatasan jaringan internet dan variasi tingkat literasi digital guru. Hambatan ini sejalan dengan penelitian lain yang menyebutkan bahwa kesiapan infrastruktur dan kepercayaan diri pengguna merupakan faktor yang sangat memengaruhi efektivitas integrasi teknologi (Iskandar et al. , 2. Kemajuan bertahap yang dicapai guru menunjukkan bahwa pendekatan bertahap mampu mengurangi resistensi terhadap HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengukuran kemampuan guru melalui pre-test dan post-test menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan terhadap penggunaan Nearpod dan konsep pembelajaran digital interaktif. Rata-rata nilai pre-test berada pada kategori rendah, sedangkan nilai post-test meningkat sekitar 30% setelah pelatihan. Peningkatan ini juga diperkuat dengan perhitungan N-gain, yang menunjukkan efektivitas pelatihan berada pada kategori sedang menuju tinggi. Grafik peningkatan nilai guru tersaji pada grafik 1. Selain peningkatan pengetahuan, luaran produk berupa 12 modul pembelajaran interaktif berhasil disusun oleh peserta. Modul ini memiliki komponen kuis, polling, video, dan aktivitas berbasis respons langsung. Seluruh modul telah diuji coba pada kegiatan implementasi kelas. Tercatat pula peningkatan keterlibatan siswa selama uji coba modul, dengan jumlah respons aktivitas meningkat sekitar 65-70% dibandingkan pembelajaran Dari observasi kelas, guru terlihat lebih mampu memfasilitasi interaksi melalui fitur(Berta et al. , 2. fitur Nearpod, terutama pada aktivitas live participation. Wawancara singkat menunjukkan bahwa guru merasa lebih percaya diri menggunakan media digital setelah melalui proses praktik langsug dan Beberapa Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 Hasil kegiatan menunjukkan bahwa Nearpod dapat menjadi media yang efektif untuk meningkatkan keterlibatan siswa dan kompetensi digital guru bila didukung oleh Kesesuaian hasil penelitian ini dengan temuan sebelumnya membuktikan bahwa teknologi interaktif memiliki potensi kuat untuk diterapkan dalam sekolah dengan sumber daya terbatas, selama guru memperoleh bimbingan dalam memahami fungsi pedagogisnya. Sebelum kegiatan dimulai, sebagian besar guru belum mengenal secara menyeluruh fitur-fitur Nearpod. Fakta ini sejalan dengan penelitian (Niko Entriza & Febry Puspitasari, 2. yang menemukan bahwa pelatihan berbasis teknologi mampu mempercepat adopsi guru terhadap media digital dalam proses belajar mengajar. Selain peningkatan pengetahuan, guru juga mengalami perkembangan nyata dalam keterampilan teknis. Setiap peserta mampu merancang minimal satu modul pembelajaran menggunakan Nearpod. Modul-modul ini dilengkapi dengan kuis interaktif, polling, video singkat, serta aktivitas drag and drop yang membuat pembelajaran lebih menarik. Produk yang dihasilkan memiliki keunggulan berupa kemudahan akses, fleksibilitas penggunaan pada perangkat laptop maupun gawai, serta desain interaktif yang langsung dapat digunakan di kelas. Adapun kelemahan yang ditemukan adalah ketergantungan pada jaringan internet stabil serta keterbatasan kreativitas sebagian guru yang masih baru Meskipun demikian, kelemahan ini dapat diatasi melalui pendampingan lanjutan dan pelatihan Ketika modul tersebut digunakan dalam pembelajaran, suasana kelas berubah lebih dinamis. Siswa menunjukkan antusiasme tinggi untuk berpartisipasi dalam kuis maupun diskusi berbasis Nearpod. Hasil observasi meningkat hampir 70% dibandingkan dengan sebelum kegiatan. Hal ini selaras dengan pendapat (Dewi et al. , 2. yang menekankan bahwa pembelajaran interaktif berbasis teknologi dapat meningkatkan motivasi serta partisipasi siswa dalam kegiatan belajar. Dengan kata lain, penggunaan Nearpod berhasil menjawab permasalahan rendahnya keterlibatan siswa di kelas. Selain pada guru dan siswa, kegiatan ini juga memberikan kontribusi pada masyarakat sekitar sekolah. Melalui sesi singkat, orang tua siswa mendapatkan pemahaman dasar mengenai pengelolaan usaha kecil dan pemasaran digital. Walaupun lingkup kegiatan masyarakat lebih sederhana dibandingkan dengan pelatihan guru, luaran ini tetap memberi nilai tambah, khususnya dalam membuka wawasan tentang potensi teknologi untuk meningkatkan daya saing usaha keluarga. Hasil yang dicapai selaras dengan kompetensi guru, menghadirkan pembelajaran interaktif, serta menumbuhkan motivasi belajar siswa. Peningkatan pemahaman dan keterampilan guru dalam menggunakan Nearpod menunjukkan bahwa pelatihan berbasis praktik langsung lebih efektif dibandingkan hanya teori. Hal ini mendukung teori pembelajaran konstruktivis, di mana pengalaman langsung lebih mudah dipahami dan diterapkan (Kurniawan & Darmawan. Keberhasilan implementasi di kelas membuktikan bahwa teknologi bukan sekadar alat bantu, melainkan sarana transformasi Temuan ini sejalan dengan penelitian terbaru oleh (Laela et al. , 2. yang menunjukkan bahwa penggunaan media digital berbasis interaktivitas meningkatkan keterlibatan siswa hingga 60% dibandingkan dengan metode konvensional. Dengan demikian, program ini tidak hanya relevan dalam konteks lokal, tetapi juga konsisten dengan tren global pendidikan abad ke-21 yang menekankan literasi digital dan pembelajaran Sementara menunjukkan potensi pengabdian kepada Guru mendapatkan keterampilan digital, siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih bermakna, dan masyarakat ikut merasakan manfaat dalam aspek ekonomi digital. Hal ini memperkuat gagasan bahwa pengabdian masyarakat sebaiknya dirancang holistik, menyentuh lebih dari satu lapisan manfaat. Keberhasilan program ini tidak hanya terlihat dari angka peningkatan skor pre-test dan post-test, tetapi juga dapat diamati melalui suasana kegiatan pelatihan. Dokumentasi Purba, et al. Peningkatan Kompetensi Guru dalam. berikut memperlihatkan bagaimana guru-guru mengikuti sesi pelatihan dengan penuh tidak hanya berlangsung satu arah, tetapi benar-benar melibatkan peserta secara penuh. Hal ini sejalan dengan konsep pembelajaran orang dewasa . , di mana partisipasi aktif menjadi kunci keberhasilan sebuah pelatihan (Yahya et al. , 2. Dengan adanya dokumentasi ini, dapat dipahami bahwa keberhasilan kegiatan pengabdian tidak hanya diukur dari capaian kognitif, tetapi juga dari semangat, interaksi, dan kolaborasi nyata yang terbangun di ruang Guru merasa mendapatkan pengalaman baru yang aplikatif, sementara tim pengabdian dapat melihat langsung dampak positif dari metode yang digunakan. Situasi ini memperkuat hasil kuantitatif sebelumnya, sekaligus menunjukkan bahwa kegiatan ini membawa nilai humanis yang mendalam, yang menghidupkan Kembali gairah belajar para guru di tengah tantangan dunia pendidikan digital. Jika ditinjau lebih jauh, keterlibatan guru dalam kegiatan ini tidak hanya mengingatkan keterampilan teknis, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri untuk mencoba hal-hal baru di kelas. Beberapa guru mengungkapkan bahwa sebelumnya merasa canggung menggunakan media digital karena takut salah atau khawatir siswa tidak dapat Namun, setelah pelatihan, perasaan itu perlahan berubah menjadi keyakinan bahwa teknologi justru dapat mempermudah penyampaian materi dan membuat siswa lebih tertarik. Refleksi ini menunjukkan bahwa pelatihan bukan hanya tentang pengetahuan, tetapi juga tentang mengubah pola pikir guru terhadap inovasi Kondisi ini sesuai dengan temuan terbaru dari (Shahnaz Rusli et al. , 2. yang menekankan bahwa integrasi teknologi dalam pendidikan tidak cukup hanya dengan menyediakan perangkat, melainkan harus diiringi dengan pelatihan yang mampu membangun rasa percaya diri dan kesiapan pedagogis guru. Dengan kata lain, kompetensi digital tidak hanya soal keterampilan teknis, tetapi juga soal kesiapan mental untuk menghadapi perubahan. Selain itu, dampak positif terhadap siswa pun sejalan dengan penelitian (NurAoaini et al. , 2. yang menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis aplikasi interaktif meningkatkan motivasi intrinsik siswa karena merasa lebih dilibatkan dan memiliki ruang Gambar 1. Suasana Pemaparan Materi Pelatihan Pada Gambar 1. Terlihat bagaimana peserta, yang sebagian besar adalah guru sekolah dasar, memperlihatkan penjelasan materi di depan kelas. Pemateri menggunakan memperlihatkan contoh penerapan aplikasi Nearpod secara langsung. Meskipun kondisi ruang belajar sederhana, semangat guru untuk meningkatkan kompetensi digital terasa kuat. Situasi ini menggambarkan bahwa semangat belajar tidak ditentukan oleh fasilitas semata, melainkan oleh motivasi dan kebutuhan untuk beradaptasi dengan perkembangan zaman. Gambar 2. Interaksi antara Pemateri dan Guru dalam Sesi Praktik Gambar 2. Menunjukkan interaksi aktif antara pemateri dengan peserta. Guru terlihat terlibat dalam diskusi, bertanya, dan berbagi pengalaman selama praktik menyusun modul pembelajaran berbasis Nearpod. Suasana ini menjadi bukti bahwa kegiatan Caradde: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8 No 2. Desember 2025 untuk berekspresi. Situasi yang sama terlihat dalam implementasi Nearpod, di mana siswa lebih berani merespons pertanyaan, mencoba kuis, bahkan saling berdiskusi saat kegiatan Hal yang paling humanis dari kegiatan ini adalah bagaimana suasana kelas berubah menjadi ruang yang hidup. Dari ruangan sederhana dengan fasilitas terbatas, muncul tawa, interaksi, dan semangat belajar yang Ini menegaskan bahwa kualitas pendidikan tidak selalu ditentukan oleh kemewahan sarana, melainkan oleh kreativitas guru dan keberanian untuk mencoba pendekatan baru. Seperti yang diungkapkan oleh (Siswahyuningsih et al. , 2. perubahan pendidikan sejati terjadi ketika guru berani keluar dari zona nyaman dan melihat teknologi sebagai sahabat, bukan hambatan. Jika diperhatikan secara menyeluruh, kegiatan pengabdian ini tidak hanya berhenti pada peningkatan kompetensi guru, tetapi juga menumbuhkan ekosistem pembelajaran yang lebih sehat. Guru yang semula ragu mencoba teknologi kini mulai terbuka untuk bereksperimen, sementara siswa yang awalnya pasif kini menjadi lebih percaya diri dalam Kehangatan interaksi antara pemateri, guru, dan siswa menciptakan suasana belajar yang lebih setara, di mana setiap suara dihargai. Proses ini menunjukkan bahwa perubahan dalam pendidikan membutuhkan sentuhan manusiawi, bukan hanya instruksi Guru bukan sekadar diajarkan cara menggunakan aplikasi, tetapi juga diajak untuk merasakan bagaimana teknologi bisa menghadirkan pengalaman belajar yang Hal ini sejalan dengan pandangan (IstiAoana, 2. yang menyatakan bahwa teknologi pendidikan akan memberi dampak nyata jika diintegrasikan dengan pendekatan yang relevan dengan kebutuhan pengguna, bukan sekadar dipaksakan sebagai alat baru. Lebih dari itu, keterlibatan masyarakat sekitar dalam sesi singkat mengenai pengelolaan usaha berbasis digital juga menjadi bukti bahwa kegiatan ini memiliki dimensi sosial yang kuat. Orang tua siswa sederhana, tentang bagaimana memanfaatkan media digital untuk meningkatkan usaha kecil. Nilai ini penting karena pendidikan sejatinya tidak hanya berdampak di ruang kelas, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Dengan demikian, kegiatan ini dapat dipandang sebagai langkah kecil menuju transformasi pendidikan yang lebih luas. Dari sebuah ruang kelas sederhana di perbatasan, lahir upaya nyata untuk membangun budaya belajar yang inklusif, kreatif, dan berdaya Seperti yang diingatkan oleh (Arrobbi et , 2. keberlanjutan inovasi dalam pendidikan tidak hanya ditentukan oleh teknologi, melainkan oleh komunitas guru yang mau saling mendukung dan terus belajar Dari keseluruhan proses, terlihat jelas bahwa pelatihan Nearpod telah membuka peluang baru bagi guru untuk berinovasi, siswa untuk lebih terlibat, serta masyarakat untuk Peningkatan kompetensi guru bukan hanya tercermin dari hasil tes, tetapi juga dari pembelajaran digital. Siswa pun menjadi lebih antusias, menunjukkan bahwa ketika merasa dihargai dan dilibatkan, motivasi belajar meningkat secara alami. Hasil ini memperkuat pandangan (Rohman & Sh, 2. yang menekankan pentingnya keterampilan abad ke-21 dalam pendidikan, di mana kreativitas, kolaborasi, dan literasi digital harus diintegrasikan ke dalam praktik pengajaran. Melalui Nearpod, guru dapat menghadirkan pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan tersebut. Selain itu, pengalaman ini juga selaras dengan temuan (Nurhidayah, 2. yang menyebutkan bahwa pelatihan berbasis praktik langsung memiliki dampak jangka panjang dalam meningkatkan kepercayaan diri guru untuk terus berinovasi. Dengan kata lain, keberhasilan kegiatan ini bukan hanya tentang capaian target yang terukur, tetapi juga tentang tumbuhnya kesadaran kolektif bahwa pendidikan yang berkualitas dapat diwujudkan meskipun dalam keterbatasan. Teknologi yang paling menentukan adalah bagaimana guru dan siswa mampu memaknai serta menghidupkan kembali semangat belajar di ruang kelas. Grafik 1. Peningkatan Skor Pre-test dan Post-test Guru pendalaman kompetensi guru, penguatan infrastruktur dan akses teknologi, integrasi program dengan kebijakan sekolah, replikasi dan perluasan sasaran, serta monitoring dan evaluasi jangka panjang. Dengan rekomendasi ini, kegiatan pengabdian tidak hanya berdampak pada peningkatan keterampilan jangka pendek, tetapi juga mendukung penguatan ekosistem pembelajaran digital yang lebih sistematis dan berkelanjutan. SIMPULAN DAN SARAN Kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa penggunaan Nearpod memberikan peningkatan nyata pada kompetensi digital guru dan kualitas pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil pengukuran, terjadi peningkatan skor pemahaman guru sekitar 30% dari pre-test ke post-test. Selain itu, sebanyak 12 modul pembelajaran interaktif berhasil disusun dan diimplementasikan dalam proses belajar. Observasi kelas mencatat peningkatan keterlibatan siswa sebesar 65-70% terutama pada aktivitas kuis dan diskusi Guru juga menunjukkan perubahan keterampilan dalam merancang konten digital, memfasilitasi interaksi menggunakan fiturfitur Nearpod. Temuan ini membuktikan bahwa pelatihan berbasis praktik dan langsung pada peningkatan kemampuan pedagogis dan teknologi guru. Kegiatan ini juga memberi dampak tambahan bagi masyarakat sekitar melalui sesi literasi digital sederhana. Secara keseluruhan, program, ini memenuhi indikator keberhasilan pembelajaran digital, peningkatan partisipasi siswa, dan perluasan pemahaman masyarakat terhadap teknologi. Beberapa langkah strategis dapat dilakukan untuk memastiak keberlanjutan dan UCAPAN TERIMA KASIH