JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Upaya Guru Kelas dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Matematika (Diskalkuli. pada Siswa Kelas V SDN Gunggung 1 Rafikatul Arifa STKIP PGRI Sumenep. Sumenep. Indonesia fikakangean97@gmail. Bella Helliyana Febria STKIP PGRI Sumenep. Sumenep. Indonesia Bellahellianafebria@gmail. Moh. Ainor Rofiqi STKIP PGRI Sumenep. Sumenep. Indonesia rofikiainur998@gmail. Abstract Learning difficulties in mathematics are a common issue faced by elementary school students, particularly in basic arithmetic operations, which can impact academic performance and attitudes towards mathematics in the future. This study aims to examine teachers' efforts to address learning difficulties in mathematics among fifth-grade students, especially those with dyscalculia. The research employs a qualitative approach using a case study method at SDN Gunggung 1, with the fifth-grade homeroom teacher selected as the research subject through purposive sampling. Data were collected through in-depth interviews and analyzed using qualitative descriptive analysis techniques. The results indicate that fifth-grade students experience difficulties in learning mathematics, particularly in multiplication and division, driven by low learning motivation, minimal parental supervision due to work commitments, and reliance on technology that diminishes the habit of memorizing basic concepts. The efforts made by the teacher include strengthening multiplication memorization, implementing heterogeneous group learning, and communicating with parents through home visits. This study concludes that overcoming difficulties in learning mathematics requires effective collaboration between teachers, schools, and parents to create optimal continuity in learning. Keywords: learning difficulties, dyscalculia, efforts of teachers Abstrak Kesulitan belajar matematika merupakan permasalahan yang sering dialami siswa sekolah dasar, khususnya dalam operasi hitung dasar yang dapat berdampak pada prestasi akademik dan sikap terhadap matematika di masa depan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji upaya guru dalam mengatasi kesulitan belajar matematika pada siswa kelas V, khususnya yang mengalami diskalkulia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus di SDN Gunggung 1, dengan guru JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi wali kelas V sebagai subjek penelitian yang dipilih secara purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan teknik analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas V mengalami kesulitan belajar matematika terutama pada operasi perkalian dan pembagian yang disebabkan oleh rendahnya motivasi belajar, minimnya pengawasan orang tua akibat kesibukan kerja, dan ketergantungan pada teknologi yang mengurangi kebiasaan menghafal konsep dasar. Upaya yang dilakukan guru meliputi penguatan hafalan perkalian, penerapan pembelajaran kelompok heterogen, dan komunikasi dengan orang tua melalui kunjungan rumah. Penelitian ini menyimpulkan bahwa keberhasilan mengatasi kesulitan belajar matematika memerlukan kolaborasi efektif antara guru, sekolah, dan orang tua untuk menciptakan kontinuitas pembelajaran yang optimal Kata kunci: kesulitan belajar, diskalkulia, upaya guru Pendahuluan Pendidikan merupakan fondasi utama dalam pembentukan sumber daya manusia yang berkualitas, dimana proses pembelajaran menjadi inti dari seluruh kegiatan pendidikan. Keberhasilan pendidikan sangat bergantung pada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan dilaksanakan dengan mempertimbangkan berbagai aspek yang mempengaruhi pencapaian tujuan pembelajaran. Dalam konteks ini, guru memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan lingkungan belajar yang kondusif dan merancang strategi pembelajaran yang tepat agar materi dapat diserap dengan optimal oleh peserta didik. Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa proses pembelajaran tidak selalu berjalan mulus sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Berbagai tantangan dan hambatan kerap muncul dalam implementasi pembelajaran, salah satunya adalah munculnya kesulitan belajar pada peserta didik yang dapat menghambat pencapaian hasil belajar yang diharapkan (Anindya et al. , 2. Kondisi ini menuntut guru untuk memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi dan menangani berbagai permasalahan belajar yang dihadapi siswa agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara Kesulitan belajar merupakan fenomena yang umum terjadi dalam dunia pendidikan dan dapat dialami oleh setiap siswa dengan berbagai karakteristik yang berbeda. Kondisi ini dapat dipahami sebagai suatu keadaan di mana anak secara nyata menghadapi hambatan atau gangguan dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan (Hakim, 2. Para pakar pendidikan telah mengategorikan kesulitan belajar ke dalam tiga bidang utama, yaitu kesulitan dalam membaca, menulis, dan berhitung, dimana masing-masing memerlukan pendekatan penanganan yang spesifik sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan individual siswa (Rahmawati & Witono, 2. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Di tingkat sekolah dasar, kesulitan belajar matematika atau diskalkulia menjadi salah satu permasalahan yang paling sering dijumpai dan memerlukan perhatian khusus dari para pendidik. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan Patricia & Zamzam . dimana siswa sekolah dasar cenderung mengalami kesulitan dalam menguasai konsep-konsep dasar matematika, yang dapat berdampak jangka panjang terhadap prestasi akademik dan sikap siswa terhadap mata pelajaran Permasalahan ini tidak dapat dipandang sebelah mata, mengingat dampak jangka panjangnya yang dapat meluas hingga mempengaruhi prestasi akademik siswa secara keseluruhan, membentuk persepsi negatif terhadap mata pelajaran matematika, dan pada akhirnya dapat menghambat perkembangan potensi akademik siswa di jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Bentuk nyata dari fenomena tersebut dapat di lihat darobservasi awal melalui wawancara dengan Kepala SDN Gunggung 1. Hasil observasi mengungkapkan bahwa siswa kelas V di sekolah tersebut masih mengalami kesulitan substansial dalam menguasai operasi dasar matematika, dengan fokus permasalahan utama terletak pada kemampuan perkalian dan pembagian. Kondisi ini mengindikasikan adanya gejala diskalkulia yang perlu mendapat penanganan yang tidak hanya tepat sasaran, tetapi juga bersifat komprehensif dan berkelanjutan. Dampak dari kesulitan belajar ini tidak hanya berpengaruh pada aspek akademik, tetapi juga dapat mempengaruhi tingkat kepercayaan diri siswa dan membentuk persepsi negatif terhadap matematika di masa mendatang. Meskipun urgensi permasalahan ini telah diakui secara luas dalam komunitas pendidikan, kajian mendalam tentang strategi konkret dan kontekstual yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran di Indonesia masih menunjukkan keterbatasan yang cukup signifikan. Mengingat pentingnya peran strategis guru sebagai ujung tombak dalam mengatasi kesulitan belajar matematika di tingkat operasional, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menganalisis secara komprehensif upaya-upaya yang telah dan sedang dilakukan oleh guru kelas dalam men angani kesulitan belajar matematika pada siswa kelas V, dengan fokus khusus pada siswa yang mengalami indikasi diskalkulia. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi dalam pengembangan model pembelajaran matematika yang inklusif dan dapat menjadi rujukan untuk penyusunan program pelatihan guru dalam menangani siswa dengan kesulitan belajar matematika. Metode JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Studi ini menerapkan metode penelitian kualitatif dengan desain studi kasus guna menganalisis berbagai cara yang dilakukan pendidik dalam menangani problematika pembelajaran matematika siswa kelas V SDN Gunggung 1. Sebagaimana dikemukakan Creswell . dalam Pahleviannur et al . , riset kualitatif merupakan metodologi yang menitikberatkan pada eksplorasi dan analisis mendalam terhadap pemaknaan yang dimiliki individu atau komunitas berkaitan dengan isu sosial yang dihadapi mereka. Desain studi kasus dipilih karena memungkinkan peneliti untuk mengeksplorasi fenomena kontemporer dalam konteks kehidupan nyata, khususnya ketika batas antara fenomena dan konteks tidak begitu jelas terlihat. Penelitian ini dilaksanakan di SDN Gunggung 1 yang berlokasi di Jalan Tambak Sari. Gunggung Barat. Gunggung. Kecamatan Batuan. Kabupaten Sumenep. Jawa Timur. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada hasil observasi awal yang menunjukkan adanya indikasi kesulitan belajar matematika pada siswa kelas V, khususnya dalam operasi perkalian dan pembagian. Penelitian dilaksanakan pada tanggal 7 Mei 2025 dengan durasi pengumpulan data yang disesuaikan dengan kebutuhan untuk memperoleh informasi yang komprehensif dan mendalam. Penentuan subjek penelitian menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan subjek berdasarkan kriteria tertentu yang relevan dengan tujuan penelitian. Kriteria pemilihan subjek . Keterlibatan langsung dalam proses pembelajaran matematika kelas V, . Pengalaman praktis dalam menangani siswa dengan kesulitan belajar, . Pemahaman komprehensif tentang kondisi pembelajaran di sekolah, . Kesediaan untuk berpartisipasi dalam proses penelitian. Dari kriteria tersebut kemudian ditentukanlah subjek penelitian, dimana sumber data primer di dapat melalui hasil wawancara dengan guru wali kelas V dan sumber data sukender di dapat dari hasil waawancara dengan Kepala SDN Gunggung 1. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah wawancara terstruktur yang telah disusun berdasarkan kerangka teoritis dan tujuan penelitian serta observasi partisipatif yang dilakukan untuk mengamati secara langsung proses pembelajaran matematika di kelas V. Adapun instrumen penelitian berdasarkan teknik pengumpulan data yang dilakukan, berkaitan dengan kesulitan belajar matematika yang dialami siswa, faktor-faktor yang melatarbelakanginya, pendekatan pembelajaran yang diimplementasikan oleh guru, interaksi guru dan siswa selama pembelajaran berlangsung dan respon siswa terhadap pembelajaran matematika. Selain itu, penggunaan perangkat rekaman audio selama proses wawancara juga di lakukan untuk memperoleh data menyeluruh dan memastikan tidak ada informasi penting yang terlewat dalam proses transkripsi dan analisis. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahap yang berlangsung secara berkesinambungan sepanjang proses penelitian. Tahap pertama yaitu reduksi data dilakukan dengan melakukan transkripsi seluruh hasil wawancara, mengidentifikasi tema-tema utama dari data yang terkumpul, dan mengategorikan informasi berdasarkan fokus penelitian tentang kesulitan belajar matematika, faktor penyebab, serta upaya penanganan guru. Tahap kedua adalah penyajian data y ang dilakukan dengan menyusun informasi yang telah direduksi ke dalam bentuk narasi deskriptif yang Tahap ketiga merupakan penarikan kesimpulan dan verifikasi yang dilakukan melalui interpretasi pola-pola data, triangulasi sumber antara guru kelas dan kepala sekolah, triangulasi metode antara wawancara dan observasi. Hasil Dan Pembahasan Hasil Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan guru kelas V SDN Gunggung 1, diketahui bahwa kesulitan belajar yang paling dominan dialami siswa adalah operasi perkalian dan pembagian. Hal ini terlihat dari hasil observasi dimana ketika guru memberikan materi matematika yang menggunakan pemecahan masalah seperti perkalian, mayoritas siswa di kelas tersebut belum fasih atau kurang menguasai perkalian meski ada beberapa yang sudah bisa. Hasil wawancara juga mengungkapkan bahwa sebagian besar siswa kelas V mengalami kesulitan dalam mengingat kembali materi matematika yang telah dipelajari sebelumnya. Selain itu, minat pada pembelajaran matematika juga sangat rendah, yang terlihat dari minimnya antusiasme mereka dalam mengikuti proses Dalam upaya mengatasi permasalahan tersebut, guru kelas V cenderung memfokuskan pembelajaran pada penguatan kemampuan perkalian terlebih dahulu sebelum melangkah ke materi Guru melakukan identifikasi terhadap siswa yang belum menguasai operasi perkalian dengan lancar, khususnya perkalian lima ke atas, untuk kemudian diberikan program penguatan melalui latihan hafalan berulang. Selain itu, guru juga menerapkan strategi pembelajaran kolaboratif melalui pembentukan kelompok heterogen dimana siswa yang telah menguasai perkalian dengan baik berperan sebagai tutor sebaya yang membantu teman-temannya yang masih mengalami kesulitan. Selain itu, guru juga telah melakukan komunikasi dengan orang tua melalui WhatsApp untuk mendukung pembelajaran mandiri siswa di rumah, khususnya dalam pemahaman operasi perkalian dan pembagian. Pihak sekolah juga telah melakukan upaya untuk membangun komunikasi yang baik JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi dengan orang tua siswa melalui program kunjungan rumah khususnya bagi siswa yang menghadapi hambatan dalam proses pembelajaran. Namun demikian, dalam pelaksanaannya, kerjasama antara sekolah dan keluarga seringkali menghadapi berbagai kendala praktis yang tidak mudah diatasi. Kesulitan utama dalam implementasi program kunjungan rumah adalah keterbatasan waktu orang tua akibat padatnya rutinitas pekerjaan, sehingga koordinasi dan komunikasi langsung menjadi sulit Berdasarkan wawancara yang dilakukan dengan guru wali kelas V, minimnya pengawasan orang tua karena kesibukan pekerjaan yang mengharuskan mereka bekerja dari pagi hingga sore telah menciptakan keterbatasan waktu kebersamaan antara orang tua dan anak. Siswa juga cenderung menghabiskan waktu kosongnya dengan bermain, entah itu main bersama teman sebayanya atau bermain gadget. Akibatnya, proses penguatan materi pembelajaran di rumah tidak berjalan optimal sehingga siswa cenderung cepat melupakan konsep-konsep yang telah diajarkan di sekolah. Selain itu, dari hasil wawancara dengan Kepala SDN Gunggung 1 diketahui bahwa sekolah belum menyediakan guru khusus untuk menangani anak dengan kesulitan belajar matematika . , sehingga tanggung jawab pembelajaran sepenuhnya berada di tangan wali kelas dengan pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan masing-masing siswa. Pembahasan Kesulitan Belajar Matematika (Diskakuli. Problematika kesulitan belajar merupakan hal yang lumrah ditemukan dalam lingkungan Permasalahan ini akan semakin kompleks apabila pendidik belum memiliki pemahaman yang memadai mengenai karakteristik kesulitan belajar dan cara penanganannya yang tepat. Untuk mengatasi hal tersebut, diperlukan upaya identifikasi kesulitan belajar siswa melalui proses yang dikenal sebagai diagnosis kesulitan belajar. Ruseffendi dalam Arifin . menjelaskan bahwa diagnosis kesulitan belajar matematika dapat dilaksanakan melalui empat tahapan yang sistematis: Tahap pertama adalah mengamati tingkat perkembangan mental siswa, yang bertujuan untuk memastikan bahwa materi atau soal yang diberikan sesuai dengan kemampuan kognitif mereka dan tidak terlalu dini untuk dipelajari. Tahap kedua melibatkan identifikasi tujuan pembelajaran yang belum berhasil dicapai, dengan indikator bahwa lebih dari seperempat siswa di kelas tidak mampu menjawab soal terkait dengan tepat. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi . Tahap ketiga adalah penyusunan instrumen soal diagnostik yang dirancang khusus berdasarkan topik-topik yang belum dikuasai siswa. Informasi mengenai kelemahan siswa ini diperoleh melalui berbagai cara seperti observasi langsung, sesi tanya jawab, hasil tes buatan guru, atau tes terstandar. Dalam menyusun soal diagnostik ini, guru perlu memiliki kemampuan untuk memperkirakan area kelemahan siswa secara spesifik agar soal yang dibuat dapat mengarah pada identifikasi masalah yang tepat. Tahap terakhir adalah pelaksanaan tes diagnostik dan analisis hasilnya. Soal-soal yang tidak dapat dijawab oleh mayoritas siswa menunjukkan area di mana kelemahan utama siswa berada. Hasil diagnosis ini kemudian menjadi dasar bagi guru untuk merancang dan mengembangkan strategi pembelajaran yang lebih efektif guna meningkatkan pencapaian hasil belajar siswa. Matematika merupakan salah satu mata pelajaran yang memiliki tingkat kesulitan tinggi bagi siswa sekolah dasar. Dari berbagai bidang studi yang diajarkan di tingkat pendidikan dasar, matematika secara konsisten menjadi mata pelajaran yang paling sering menimbulkan hambatan dan tantangan dalam proses pembelajaran. Hal ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga menjadi fenomena global yang dialami oleh banyak sistem pendidikan di berbagai negara. Kompleksitas konsep matematika yang memerlukan pemikiran logis dan abstrak seringkali menjadi penghalang bagi siswa dalam memahami materi dengan baik. Penelitian yang dilakukan oleh Kenedi et al. memberikan gambaran yang jelas mengenai kondisi pembelajaran matematika di tingkat sekolah dasar. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa penggunaan konsep dalam penyelesaian permasalahan matematika pada siswa sekolah dasar masih rendah. Para siswa mengalami kesulitan tidak hanya dalam memahami konsep dasar matematika, tetapi juga dalam mengaplikasikan pengetahuan tersebut untuk memecahkan soal soal yang memerlukan penalaran matematika. Kondisi ini mencerminkan adanya kesenjangan antara pemahaman teoretis dan kemampuan praktis dalam bidang matematika. Permasalahan dalam pembelajaran matematika tidak bisa diabaikan begitu saja. Bidang kedokteran dan psikologi menyebut gangguan khusus ini dengan nama ilmiah diskalkulia. Diskalkulia dapat dipahami sebagai gangguan yang disebabkan disfungsi pada area otak tertentu yang bertanggung jawab dalam pengolahan konsep matematika, khususnya lobus parietal yang mengatur kemampuan aritmetika dan persepsi spasial. Siswa yang mengalami diskalkulia biasanya menunjukkan pola kesulitan yang khas dan dapat diidentifikasi melalui berbagai gejala yang muncul dalam proses JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Mereka mengalami kelemahan yang signifikan dalam menggunakan strategi pemecahan masalah matematika, sehingga seringkali merasa kebingungan ketika dihadapkan pada soal-soal yang memerlukan pendekatan sistematis. Hambatan ini tidak hanya berdampak pada pencapaian nilai akademik, tetapi juga menimbulkan frustasi dan menurunkan rasa percaya diri siswa dalam menghadapi pelajaran matematika. Akibat dari kondisi ini, mereka mengalami kesulitan yang berkelanjutan dalam memahami konsep-konsep matematika secara mendalam dan komprehensif. Dampak diskalkulia tidak terbatas pada pemahaman konsep saja, tetapi juga memengaruhi kemampuan kognitif lainnya yang berkaitan dengan pembelajaran matematika. Siswa dengan diskalkulia mengalami gangguan dalam mengingat informasi matematika yang telah dipelajari sebelumnya, seperti rumus-rumus dasar, tabel perkalian, atau langkah-langkah penyelesaian masalah. Dari hasil wawancara dengan guru, diketahui bahwa sebagian besar siswa kelas V mengalami kesulitan dalam mengingat kembali materi matematika yang telah dipelajari sebelumnya. Gangguan memori ini membuat mereka harus bekerja lebih keras untuk mengakses pengetahuan yang seharusnya sudah tersimpan dalam ingatan jangka panjang. Kondisi ini menciptakan beban kognitif tambahan yang dapat menghambat proses pembelajaran dan memperlambat kemajuan akademik siswa dalam bidang Adapun kemampuan dasar dalam matematika meliputi empat operasi aritmetika yaitu penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian. Hambatan dalam menguasai operasi -operasi ini, umumnya bersumber dari kesalahan pemahaman konsep atau prosedur yang dilakukan siswa saat mengolah bilangan sehingga penggunaan strategi yang digunakan kurang tepat. Hasil wawancara dengan guru wali kelas V SDN Gunggung 1 mengungkapkan bahwa kesulitan belajar yang paling dominan dialami siswa adalah pada operasi perkalian dan pembagian. Hal ini diketahui ketika guru memberikan materi matematika yang menggunakan pemecahan masalah seperti perkalian, mayoritas siswa di kelas tersebut belum fasih atau kurang menguasi perkalian meski ada beberapa yang sudah Keadaan ini tentunya akan berdampak pada kemampuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang melibatkan operasi pembagian. Oleh karena itu, guru perlu memberikan fokus dan perhatian khusus terhadap kesulitan belajar yang dihadapi siswa agar tidak berkelanjutan, sehingga siswa dapat mengatasi kendala pembelajaran mereka dan meraih prestasi yang maksimal (Andri et al. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Perkalian erat kaitannya dengan pembagian. Dalam hal ini. Guru kelas V meyakini bahwa apabila siswa mampu menguasai konsep perkalian dengan baik, maka mereka akan lebih mudah dalam memecahkan persoalan pembagian. Keyakinan ini didasari oleh pemahaman bahwa pembagian pada hakikatnya merupakan operasi kebalikan dari perkalian, dimana siswa dapat menggunakan pengetahuan perkalian untuk memverifikasi hasil pembagian atau sebaliknya. Dengan demikian, kemampuan dalam operasi perkalian menjadi landasan fundamental yang sangat penting dalam pembelajaran matematika kelas V karena tidak hanya mempengaruhi pemahaman siswa terhadap pembagian, tetapi juga berperan dalam pengembangan kemampuan berpikir logis dan pemecahan masalah matematika yang lebih kompleks. Penguasaan yang baik terhadap kedua operasi ini akan memberikan fondasi yang kuat bagi siswa untuk menghadapi materi matematika di jenjang yang lebih tinggi, sekaligus meningkatkan kepercayaan diri mereka dalam menghadapi tantangan pembelajaran Dalam implementasi Kurikulum Merdeka yang berlaku saat ini, siswa dihadapkan dengan berbagai materi pembelajaran yang menuntut pemahaman yang komprehensif mengenai keterkaitan antara operasi perkalian dan pembagian. Materi-materi tersebut meliputi operasi bilangan pecahan, penyelesaian soal berbentuk cerita, mencari Kelipatan Persekutuan Kecil (KPK) dan Faktor Persekutuan Besar (FPB), serta perhitungan keliling dan luas berbagai bentuk bangun datar. Semua materi ini dalam proses penyelesaiannya memerlukan kecakapan siswa dalam mengoperasikan perkalian dan pembagian. Ketika siswa sudah terampil dalam perkalian, mereka dapat dengan mudah memahami bahwa pembagian adalah inversi dari perkalian . y b = c berarti a = b y . Keterampilan ini sangat membantu siswa kelas 5 ketika mengerjakan soal-soal pembagian bilangan besar, pembagian dengan bilangan desimal atau pembagian dengan sisa. Selain itu, dalam penyelesaian soal cerita yang kompleks, pemahaman tentang hubungan perkalian dan pembagian memudahkan siswa untuk menentukan operasi hitung yang tepat. Dengan demikian, pendapat guru diatas sangat relevan dengan kebutuhan pembelajaran matematika di kelas 5 dimana penguasaan perkalian menjadi kunci untuk menguasai berbagai materi matematika yang lebih kompleks. Dengan demikian, guru memiliki peran penting dalam membimbing siswa yang mengalami diskalkulia karena pada dasarnya, setiap anak memiliki kemampuan dasar berhitung jika diberikan pengajaran yang Minat, bakat, konsentrasi, dan ketekunan siswa dalam belajar sangat dipengaruhi oleh motivasi JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi dan dukungan yang diberikan. Oleh karena itu, guru perlu menciptakan kondisi pembelajaran yang mendukung untuk menangani siswa dengan diskalkulia. Faktor Penyebab Pencapaian tujuan pembelajaran matematika seringkali menghadapi berbagai tantangan yang dapat mempengaruhi efektivitas proses pendidikan. Salah satu hambatan utama yang kerap dijumpai adalah persepsi negatif siswa terhadap matematika sebagai mata pelajaran. Banyak siswa menganggap matematika sebagai bidang studi yang kompleks dan menantang karena melibatkan konsep numerik serta operasi hitung yang memerlukan pemikiran abstrak. Persepsi ini selanjutnya berkembang menjadi sikap penolakan dan menurunnya motivasi belajar siswa terhadap matematika. Dampaknya, pemikiran negatif tersebut menjadi penghalang dalam proses internalisasi dan penguasaan konsep konsep matematika yang optimal. Untuk menganalisis permasalahan ini secara komprehensif, diperlukan identifikasi mendalam terhadap berbagai faktor yang berkontribusi pada kesulitan pembelajaran matematika. Menurut Koestoer Parto Wisastro . dalam Heryanto et al. faktor-faktor penyebab kesulitan belajar dapat di klasifikasikan menjadi dua kategori. Pertama adalah faktor internal, yaitu aspek-aspek yang melekat pada karakteristik individual siswa, mencakup kapasitas intelektual, orientasi minat dan potensi bakat, serta kepribadian yang unik pada setiap individu. Kedua adalah faktor eksternal, yang merujuk pada pengaruh lingkungan di luar diri siswa, termasuk kondisi dan dukungan keluarga, atmosfer pembelajaran di institusi pendidikan, serta dinamika interaksi dalam lingkungan sosial yang lebih luas. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru, peserta didik dengan diskalkulia menunjukkan gejala minat yang rendah terhadap pembelajaran matematika. Hal ini terlihat dari minimnya antusiasme mereka dalam mengikuti proses pembelajaran. Rendahnya minat terhadap matematika pada siswa diskalkulia ini bukan semata-mata disebabkan oleh sikap malas atau acuh tak acuh, melainkan merupakan respons adaptif terhadap pengalaman kegagalan yang berulang. Ketika siswa secara konsisten mengalami kesulitan dalam memahami konsep matematika, terbentuk asosiasi negatif yang mengakibatkan penolakan terhadap mata pelajaran tersebut. Fenomena ini dikenal sebagai learned helplessness dimana siswa mengembangkan keyakinan bahwa usaha mereka tidak akan membuahkan hasil positif. Pelajaran matematika yang dianggap sulit karena melibatkan angka dan rumus menyebabkan mereka tidak tertarik mengikuti pembelajaran sehingga meskipun guru telah berusaha JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi menarik perhatian dan menyampaikan materi dengan baik, hasil belajar siswa tetap tidak tercapai secara maksimal (Sari et al. , 2. Sebagian siswa dengan diskalkulia juga mengalami kesulitan dalam pemrosesan visual-spasial, yang mempengaruhi kemampuan mereka dalam memahami konsep geometri, grafik, dan representasi visual lainnya. Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam membedakan simbol matematika yang mirip, memahami konsep posisi dan arah, atau menginterpretasi informasi yang disajikan dalam bentuk diagram dan tabel. Menghadapi permasalahan ini, peran guru dan orang tua menjadi sangat penting dalam memberikan dukungan yang berkelanjutan sepanjang proses pembelajaran. Guru perlu menggunakan berbagai metode pengajaran yang lebih kreatif dan mudah dipahami, seperti pembelajaran visual, penggunaan alat peraga, atau pendekatan kontekstual yang menghubungkan matematika dengan kehidupan sehari-hari. Sementara itu, orang tua dapat membantu dengan menciptakan lingkungan belajar yang nyaman di rumah, memberikan bantuan dalam mengerjakan tugas, dan membangun kepercayaan diri anak terhadap kemampuan matematikanya. Komunikasi yang terbuka antara guru dan orang tua memungkinkan adanya pemahaman yang sama tentang kondisi dan kebutuhan belajar anak. Dengan demikian, strategi pembelajaran dapat disesuaikan dan diterapkan secara konsisten baik di sekolah maupun di rumah. Dari hasil wawancara kepada guru, telah dilakukan komunikasi dengan orang tua melalui WhatsApp untuk mendukung pembelajaran mandiri siswa di rumah, khususnya dalam pemahaman operasi perkalian dan pembagian. Namun demikian, dalam pelaksanaannya, kerjasama antara sekolah dan keluarga ini seringkali menghadapi berbagai kendala praktis yang tidak mudah diatasi. Beberapa tantangan yang umum dihadapi antara lain keterbatasan waktu orang tua karena kesibukan kerja, perbedaan pemahaman tentang metode pembelajaran antara guru dan orang tua, serta kurangnya komunikasi yang efektif. Selain itu, tidak semua orang tua memiliki kemampuan matematika yang cukup untuk membantu anak-anak mereka, sehingga mereka merasa tidak percaya diri untuk terlibat dalam proses pembelajaran. Kondisi ini memerlukan solusi yang lebih kreatif dan fleksibel agar kerjasama dapat berjalan dengan optimal demi kepentingan pendidikan anak. Minimnya pengawasan orang tua karena kesibukan pekerjaan yang mengharuskan mereka bekerja dari pagi hingga sore telah menciptakan keterbatasan waktu kebersamaan antara orang tua dan Selain itu, siswa juga cenderung menghabiskan waktu kosongnya dengan bermain, entah itu main bersama teman sebayanya atau bermain gadget. Akibatnya, proses penguatan materi JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi pembelajaran di rumah tidak berjalan optimal sehingga siswa cenderung cepat melupakan konsepkonsep yang telah diajarkan di sekolah. Hal ini sesuai dengan penelitian yang di lakukan Ananda & Wandini . yang berpendapat bahwa di era globalisasi ini, kemajuan teknologi Android dan perangkat canggih lainnya membuat siswa menjadi malas menghafal rumus dan memahami konsep Hal ini juga diperburuk oleh kebiasaan belajar yang tidak teratur, dimana siswa hanya bergantung pada pembelajaran di sekolah tanpa melanjutkan belajar di rumah, sehingga pemahaman matematika mereka menjadi dangkal dan tidak mendalam. Situasi ini menimbulkan terputusnya kelanjutan proses belajar karena materi yang dipelajari di sekolah tidak mendapat pemantapan dan pengulangan yang cukup ketika siswa berada di rumah. Keadaan semacam ini berdampak pada terhambatnya progress kemampuan akademis siswa, khususnya untuk pelajaran matematika yang sangat memerlukan praktek dan latihan secara konsisten guna membangun fondasi pemahaman yang kuat. Tanpa adanya bantuan atau penguatan materi di luar jam sekolah, konsep-konsep matematika yang kompleks sulit untuk dipahami secara mendalam. Akibatnya, siswa mengalami kesulitan dalam menguasai keterampilan matematika yang seharusnya menjadi bekal penting untuk jenjang pendidikan selanjutnya. Upaya Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta didik dengan diskalkulia mengalami hambatan pembelajaran matematika yang unik dan membutuhkan strategi pendidikan yang disesuaikan untuk mencapai hasil belajar yang optimal. Diskalkulia merupakan gangguan neurologis yang secara langsung mempengaruhi kemampuan otak dalam mengolah informasi numerik dan memahami konsep matematika dasar, bukan sekadar kesulitan pembelajaran biasa yang dapat diatasi dengan cara konvensional. Dalam konteks ini, peran pendidik harus berevolusi dari seorang penyampai materi menjadi fasilitator pembelajaran yang memberikan dukungan psikologis dan motivasi berkelanjutan. Guru perlu memahami bahwa rasa frustrasi yang muncul pada siswa diskalkulia bukanlah hasil dari sikap malas atau kurang berusaha, melainkan konsekuensi dari kesulitan nyata dalam memproses informasi matematis. Jika tidak ditangani secara tepat, kondisi ini dapat berkembang menjadi kecemasan matematika yang semakin memperburuk prestasi akademik siswa. Mengingat keragaman gaya belajar setiap individu, guru perlu menerapkan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan inklusif. Kombinasi metode visual melalui representasi grafis dan diagram, pendekatan auditori melalui diskusi dan penjelasan verbal, serta pembelajaran kinestetik JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi melalui manipulasi objek konkret dan permainan edukatif, akan memberikan peluang yang lebih besar bagi siswa untuk mengakses dan memahami materi sesuai dengan preferensi belajar mereka. Diversifikasi metode ini tidak hanya menyediakan berbagai jalur akses informasi, tetapi juga memperkuat koneksi neural dan daya ingat melalui stimulasi multi-sensori. Dengan demikian, siswa diskalkulia dapat mengembangkan strategi kompensatori yang efektif untuk mengatasi keterbatasan dalam pemrosesan numerik dan konsep spasial, sehingga tetap dapat mencapai kemajuan akademik yang bermakna. Dalam pembelajaran matematika di sekolah dasar, konsep perkalian memang diperkenalkan sebagai dasar penting sebelum siswa mempelajari pembagian. Urutan ini bertujuan agar siswa memiliki pemahaman yang kuat terhadap konsep perkalian sebagai landasan dalam memahami pembagian, mengingat pembagian pada dasarnya merupakan kebalikan dari perkalian. Oleh karena itu, guru kelas V cenderung memfokuskan pembelajaran pada penguatan kemampuan perkalian terlebih dahulu sebelum melangkah ke materi pembagian. Upaya ini dilakukan agar siswa tidak mengalami kesulitan dalam memecahkan soal-soal yang melibatkan operasi hitung pembagian. Salah satu pendekatan strategis yang diterapkan guru adalah melakukan identifikasi terhadap siswa yang belum menguasai operasi perkalian dengan lancar, khususnya perkalian lima ke atas untuk kemudian diberikan program penguatan melalui latihan hafalan berulang. Strategi diagnostik dan remedial ini memiliki signifikansi yang tinggi mengingat kelancaran dalam operasi matematika dasar merupakan fondasi yang menentukan keberhasilan siswa dalam menyelesaikan permasalahan matematika yang lebih rumit pada jenjang selanjutnya. Tanpa penguasaan perkalian yang bersifat otomatis, siswa akan menghadapi hambatan serius dalam mengerjakan soal pembagian dan operasi matematika lanjutan, yang pada akhirnya dapat menghambat progres akademik mereka secara Untuk mengoptimalkan proses pembelajaran ini, guru kelas V menerapkan strategi pembelajaran kolaboratif melalui pembentukan kelompok heterogen, dimana siswa dengan kemampuan yang beragam dapat saling berinteraksi dan mendukung dalam suasana belajar yang Dalam dinamika kelompok tersebut, siswa yang telah menguasai perkalian dengan baik berperan sebagai tutor sebaya yang membantu teman-temannya yang masih mengalami kesulitan. Pendekatan peer tutoring ini terbukti efektif karena siswa yang menerima bantuan dapat memperoleh penjelasan dengan menggunakan bahasa dan metode yang lebih mudah dipahami, mengingat teman JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi sebaya seringkali mampu menyampaikan konsep dengan cara yang lebih sederhana dan relevan dibandingkan dengan penjelasan guru yang mungkin terlalu kompleks atau abstrak. Keunggulan metode ini tidak hanya dirasakan oleh siswa yang menerima bantuan, tetapi juga memberikan manfaat signifikan kepada siswa yang berperan sebagai tutor. Proses mengajarkan materi kepada teman akan memperkuat pemahaman konseptual mereka sendiri melalui mekanisme repetisi dan elaborasi, sehingga tercipta pembelajaran yang saling menguntungkan bagi seluruh anggota Implementasi strategi ini sejalan dengan pandangan Syafiyah et al. yang menekankan pentingnya kemampuan guru dalam merancang dan melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan pendekatan dan strategi yang tepat sasaran, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan mampu meningkatkan kemampuan kognitif siswa, terutama bagi mereka yang menghadapi tantangan dalam pembelajaran matematika. Selain itu, keberhasilan strategi pembelajaran untuk siswa dengan diskalkulia sangat bergantung pada kemampuan guru dalam melakukan penilaian diagnostik yang tepat untuk mengenali kekuatan dan kelemahan spesifik setiap siswa. Guru perlu memahami bahwa setiap anak dengan diskalkulia memiliki profil kesulitan yang unik, ada yang lemah dalam menghafal fakta matematika, ada yang kesulitan dalam pemahaman konsep bilangan, dan ada pula yang mengalami masalah dalam persepsi spasial. Dengan pemahaman yang mendalam tentang karakteristik individual ini, guru dapat merancang intervensi yang tepat sasaran dan melakukan monitoring berkala untuk melihat perkembangan belajar siswa. Pendekatan ini memerlukan kompetensi guru yang tidak hanya menguasai materi matematika, tetapi juga memahami bagaimana anak-anak dengan kebutuhan khusus memproses dan menyimpan informasi dalam proses pembelajaran. Dalam hal ini. SDN Gunggung 1 belum menyediakan guru khusus untuk menangani anak dengan kesulitan belajar diskalkulia sehingga tanggung jawab pembelajaran sepenuhnya berada di tangan guru kelas dengan pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan masing-masing siswa. Situasi ini mengharuskan guru kelas regular untuk mengemban tanggung jawab ganda, yaitu mengajar siswa normal sekaligus memberikan perhatian khusus kepada siswa dengan kebutuhan belajar yang berbeda. Beban kerja yang berat ini seringkali tidak diimbangi dengan pelatihan yang memadai atau dukungan sumber daya yang diperlukan untuk menangani siswa berkebutuhan khusus secara optimal. Akibatnya, meskipun ada niat baik untuk membantu semua siswa, kualitas layanan pendidikan untuk anak dengan diskalkulia mungkin tidak maksimal karena keterbatasan kompetensi dan waktu yang tersedia. JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi Pihak sekolah telah melakukan upaya untuk membangun komunikasi yang baik dengan orang tua siswa melalui program kunjungan rumah khususnya bagi siswa yang menghadapi hambatan dalam proses pembelajaran. Namun, implementasi program tersebut kerap mengalami kendala signifikan. Kesulitan utama yang dihadapi adalah keterbatasan waktu orang tua akibat padatnya rutinitas pekerjaan, sehingga koordinasi dan komunikasi langsung menjadi sulit dilakukan. Kondisi ini mencerminkan realitas kehidupan modern di mana sebagian besar orang tua harus menjalankan aktivitas profesional yang menuntut waktu dan tenaga. Fenomena tersebut menunjukkan urgensi keterlibatan orang tua dalam mendampingi proses pendidikan anak secara aktif dan berkelanjutan karena peran orang tua tidak hanya sebatas penyedia kebutuhan material, tetapi juga sebagai mitra sekolah dalam mengidentifikasi, memahami, dan mengatasi berbagai permasalahan akademik yang dialami anak. Keterlibatan orang tua yang optimal dapat memberikan dukungan psikologis dan motivasi tambahan bagi siswa dalam menghadapi tantangan pembelajaran. Untuk mengatasi hambatan tersebut, dibutuhkan inovasi dalam strategi komunikasi yang lebih adaptif dan responsif terhadap kondisi serta kebutuhan keluarga. Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi dapat menjadi solusi alternatif yang efektif, seperti penggunaan aplikasi komunikasi digital, platform pembelajaran online, atau sistem pesan elektronik yang memungkinkan komunikasi dua arah antara guru dan orang tua. Selain itu, fleksibilitas dalam penjadwalan pertemuan, baik melalui konsultasi virtual maupun penyesuaian waktu yang lebih mengakomodasi kesibukan orang tua, dapat menjadi strategi yang lebih praktikal. Kerjasama yang efektif antara pihak sekolah dan orang tua merupakan faktor kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan optimal anak. Kolaborasi ini tidak hanya berdampak pada aspek kognitif, tetapi juga pada pembentukan karakter, keterampilan sosial, dan kesiapan mental anak dalam menghadapi tantangan masa depan. Dengan demikian, keberhasilan pendidikan anak tidak dapat dibebankan secara eksklusif kepada tenaga pendidik dan lingkungan sekolah semata, melainkan memerlukan keterlibatan aktif dan konsisten dari orang tua sebagai pendidik pertama dan utama dalam kehidupan anak (Nurfadhillah et , 2. Simpulan Penelitian terhadap siswa kelas V SDN Gunggung 1 mengidentifikasi adanya problematika dalam pembelajaran matematika, khususnya pada materi operasi hitung perkalian dan pembagian. Faktor-faktor penyebab kesulitan tersebut meliputi kurangnya motivasi belajar siswa, terbatasnya JEMI JURNAL EDUKASI PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH Vol. No. Maret 2026 ISSN: 3048-197X https://ejournal. id/index. php/jemi pendampingan orang tua yang disebabkan oleh aktivitas pekerjaan, serta kecenderungan siswa mengandalkan teknologi yang berdampak pada melemahnya kemampuan mengingat dan memahami konsep-konsep Dalam mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran remedial. Langkah-langkah tersebut mencakup intensifikasi latihan hafalan tabel perkalian bagi siswa yang belum menguasai dengan baik, pembentukan kelompok belajar heterogen yang memungkinkan terjadinya pembelajaran kooperatif antar siswa, dan pelaksanaan komunikasi dengan orang tua melalui program kunjungan rumah, meskipun implementasinya menghadapi hambatan berupa keterbatasan waktu orang tua. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penanganan kesulitan belajar matematika membutuhkan sinergi yang komprehensif antara seluruh stakeholder pendidikan. Guru dituntut untuk mengembangkan metode pembelajaran yang adaptif sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan spesifik setiap siswa. Sementara itu, peran aktif orang tua dalam memberikan bimbingan belajar di lingkungan rumah menjadi kunci utama terciptanya kesinambungan proses pembelajaran yang efektif dan berkelanjutan. REFERENCES