JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 STIMULASI PENGELUARAN COLOSTRUM MELALUI PIJAT OKSITOSIN Farihatunnisa*, 2Sri Wahyuni Ilmu Keperawatan. Fakultas Ilmu Keperawatan. Universitas Sultan Agung *Corresponding Author: fariha952@gmail. ABSTRAK Latar Belakang Masih rendahnya angka kecukupan ASI eksklusif menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas neonatus. Hal ini perlu penanganan dengan melaksanakan pemberian ASI secara dini sejak bayi baru lahir. Bayi baru lahir sangat membutuhkan ASI yang pertama kali keluar biasanya lebih kental dan kekuningan, yang disebut kolostrum. Faktor yang berpengaruh terhadap lambatnya pengeluaran kolostrum antara lain: cara persalinan, lamanya persalinan, sakit yang dialami saat persalinan, dan keletihan setelah Untuk mengatasi masalah tersebut diperlukan suatu upaya yang dapat merangsang pengeluaran hormon oksitosin dan memperlancar pengeluaran kolostrum yaitu dengan tindakan pijat oksitosin. Tujuan Pijat oksitosin ini dapat membuat ibu menjadi rileks, sehingga akan memberikan kenyamanan pada bayi yang akan disusuinya. Metode Penelitian Desain penelitian menggunakan rancangan quasi eksperimen dengan pendekatan non equivalent control group design. Data dianalisis dengan uji wilcoxon match pair test dan uji mann-withney. Cara pengambilan sampel dengan purposive sampling, dengan jumlah sampel 40 responden. Hasil Penelitian Pijat oksitosin meningkatkan rerata pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi (P value 0,. dan rerata pengeluaran kolostrum pada kelompok kontrol (P value 0,. pada Ibu secara signifikan. Simpulan Pijat oksitosin dapat meningkatkan pengeluaran kolostrum pada ibu sectio caesarea. Saran Diharapkan agar pijat oksitosin dapat dijadikan salah satu intervensi dalam asuhan keperawatan pada ibu nifas post sectio caesarea di ruang post partum dan diaplikasikan dalam hal mengedukasi ibu dan keluarga sebelum memberikan ASI pada bayinya. Kata Kunci : Pijat oksitosin, kolostrum, postpartum, sectio caesarea JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 Abstract Background The low rate of adequacy of exclusive breastfeeding is a major cause of neonatal morbidity and mortality. This needs to be handled by administering early breastfeeding since the newborn. Newborns are in great need of first-outed milk usually more viscous and yellowish, called colostrum. Factors that affect the slow expenditure of colostrum include: the mode of labor, the duration of labor, the pain experienced during childbirth, and fatigue after childbirth. To overcome these problems required an effort that can stimulate the expenditure of the hormone oxytocin and facilitate the expenditure of colostrum is by the action of oxytocin massage. Objective This oxytocin massage can make the mother become relaxed, so it will provide comfort to the baby who will be breastfed. Research Methods The study design used quasi experimental design with nonequivalent control group design approach. Data were analyzed by wilcoxon match pair test and mann-withney test. Sampling method by purposive sampling, with sample number 40 respondents. Research Results Oxytocin massage increased the mean expenditure of colostrum in the intervention group (P value 0,. and the mean exposure of colostrum in the control group (P value 0,. in the mother Conclusions Massage of oxytocin may increase colostrum exposure in sectio caesarea mothers. Suggestion It is hoped that the oxytocin massage can be one of the interventions in nursing care in postpartum caesarea postpartum in post partum room and applied in educating mother and family before breastfeeding the baby. Keywords : Massage oxytocin, colostrum, postpartum, sectio caesarea PENDAHULUAN ASI mengandung kolostrum yang kaya akan antibodi karena mengandung protein untuk daya tahan tubuh dan pembunuh kuman. Kandungan antibodi dan protein ini terdapat dalam jumlah tinggi, sehingga pemberian ASI ekslusif dapat mengurangi resiko kematian pada bayi. Kolostrum juga mengandung sel darah putih dan imunoglobulin A (IgA) dalam kadar yang paling tinggi dibandingkan ASI matur, yang berfungsi melapisi usus bayi yang masih rentan dan mencegah kuman memasuki bayi. IgA ini juga membantu dalam mencegah bayi mengalami alergi makanan (Prasetyono, 2. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap lambatnya pengeluaran kolostrum antara lain: cara persalinan, lamanya persalinan, sakit yang dialami saat persalinan, dan keletihan setelah persalinan. Faktor lain yang juga mempengaruhi keluarnya kolostrum adalah status gizi ibu, perawatan payudara, isapan bayi segera setelah lahir serta obesitas pada Pada ibu nifas akan mengalami Maternal stress sehingga mengganggu pengeluaran oksitosin yaitu hormon yang bertanggung jawab terhadap refleks pengeluaran susu. Dalam hal ini perbedaan utama penerapannya terjadi karena persalinan dapat dilakukan pervaginam dan perabdominal (Sectio Caesarea/SC) (Maryunani, 2. Dalam hal ini ibu yang menjalani bedah caesar mungkin belum mengeluarkan ASI nya dalam 24 jam pertama setelah melahirkan, kadangkala perlu waktu hingga 48 jam walaupun demikian bayi tetap dianjurkan untuk dilekatkan pada payudara ibu untuk JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 membantu merangsang pengeluaran ASI pertama. Keterlambatan pengeluaran kolostrum pada ibu sectio caesar disebabkan karena timbulnya nyeri post partum yang secara fisiologis dapat menghambat pengeluaran hormon oksitosin yang berguna untuk kelancaran pengeluaran kolostrum. (Fikawati dan Syafiq, 2. Cakupan ASI eksklusif di dunia tahun 2015 hanya mencapai 40% hal tersebut lebih rendah dari target MDGAos yaitu 80%. Berdasarkan Data World Breastfeeding Trends Initiative (WBTI) mencatat hanya 27,5% ibu yang memberikan ASI eksklusif, sehingga Indonesia menempati peringkat 49 dari 51 negara. Padahal target global peningkatan pemberian ASI eksklusif hingga 50% pada tahun 2025. (Kementerian Kesehatan Indonesia 2. Salah satu metode yang dapat dilakukan untuk membantu meningkatkan pengeluaran kolostrum pada ibu post sectio caeseria adalah dengan pijat oksitosin. Pijat oksitosin adalah suatu tindakan pemijatan tulang belakang mulai dari nervus ke 5 - 6 sampai scapula yang akan mempercepat kerja saraf parasimpatis untuk menyampaikan perintah ke otak bagian belakang sehingga oksitosin keluar. Pijat ini akan memberikan kenyamanan terhadap ibu, mengurangi bengkak, mengurangi sumbatan ASI, merangsang pelepasan hormon oksitosin, serta mempertahankan produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit. Pijat oksitosin dilakukan pada punggung ibu yang akan merangsang hipofise posterior kemudian mengeluarkan hormon oksitosin, selanjutnya akan merangsang kontraksi sel mioepitel di payudara untuk mengeluarkan air susu. (Risnawati, 2. Pijat oksitosin merupakan salah satu solusi untuk mengatasi ketidaklancaran pengeluaran kolostrum. Pijat oksitosin adalah pemijatan pada sepanjang tulang belakang . sampai tulang costae kelima-keenam dan merupakan usaha untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin setelah melahirkan. Pijat oksitosin ini dapat memberikan kenyamanan pada ibu, sehingga akan memberikan kenyamanan pada bayi yang akan disusui dan pijat oksitosin dapat dilakukan selama 2-3 menit secara rutin 2 kali dalam sehari (Rahayu, 2. Pijat oksitosin ini dapat dilakukan setelah melahirkan yaitu 1-2 hari dan harus dilakukan secara rutin. Dengan pijat oksitosin diharapkan ibu bisa rileks. Jika ibu rileks dan tidak kelelahan setelah melahirkan dapat membantu merangsang pengeluaran hormon oksitosin (Astutik, 2. Berdasarkan studi literatur bahwa melakukan pijat oksitosin pada ibu post partum dapat memperlancar pengeluaran ASI, selain itu dapat membuat ibu menjadi lebih rilekasi dan dan nyaman serta dapat merangsang hormon oksitosin (Agustina, 2. kemudian berdasarkan penelitian yang dilakukan pada pengaruh pijat oksitosin terhadap kelancaran asi pada ibu post partum primipara di moty care baby, kids & mom ciangsana tahun 2022 meunujukan adanya kelancaran ASI setelah dilakukan pijatan (Rimandini. Dewi. Berdasarkan data Survai Demografi dan Kesehatan Indonesia tahun 2019-2021 pencapaian ASI eksklusif belum mencapai target 80%, yaitu 71,58 % pada tahun 2021 yang mengalami kenaikan kurang dari 2 % dari tahun sebelumnya yaitu 69,62 % dan 66,69 % pada tahun 2019. Sedangkan di Provinsi Banten persentasi bayi usia kurang JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 dari 6 bulan yang mendapatkan ASI eksklusif juga belum mencapai target yang diharapakan, yaitu 71,17 % pada tahun 2021 dan 68,84 % pada tahun 2020 yang mengalami kenaikan sebesar 4 % dari tahun sebelumnya (BPS, 2. Pada tahun 2019 di Kota Tangerang persentase pemberian ASI eksklusif pada bayi 0-6 bulan sebesar 71,63 % (Profil Kesehatan Provinsi Banten, 2. Jumlah persalinan sectio caesarea di Indonesia menunjukkan angka yang terus Hal ini terlihat dari hasil Riskesdas tahun 2013 yang menyebutkan bahwa persalinan sectio caesarea mengalami peningkatan dari 6,8% pada tahun 2007 dan 9,8% pada tahun 2013 (Riskesdes, 2. Di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang didapatkan data pada tahun 2017 jumlah pasien yang melahirkan dengan tindakan operasi sebanyak 1. 548 pasien dari total 3. 656 kelahiran, hal ini berarti sebanyak 42% kelahiran di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang merupakan kelahiran dengan Berdasarkan dari uraian tersebut, peneliti bermaksud untuk melakukan penelitian dengan judul penelitian AuPengaruh Pijat Oksitosin Ibu Nifas Post Sectio Caesarea terhadap Pengeluaran Kolostrum di Rumah Sakit Umum Kabupaten TangerangAy. METODE PENELITIAN Jenis penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design yang mempunyai kesamaan dengan pretest-posttest control group design, perbedaannya pada pemilihan kelompok kontrol dan kelompok eksperimen yang dipilih tidak secara random. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu nifas post sectio caesarea yang ada di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. Penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling dengan pendekatan purposive sampling yaitu cara pengambilan sampel berdasarkan kriteria yang ditentukan oleh peneliti untuk dapat dianggap mewakili karakteristik populasinya. Sampel dalam penelitian ini adalah ibu nifas post sectio caesarea yang ada di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. Tempat penelitian ini adalah Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang, dengan waktu penelitian yaitu pada bulan Januari sampai dengan Mei. Sebelum dilakukan penelitian, terlebih dahulu telah dilakukan uji etik penelitian kesehatan oleh Komite Etik Penelitian Kesehatan Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi yang digunakan untuk mengukur pengeluaran kolostrum sebelum dan sesudah diberikan terapi pijat oksitosin dengan jumlah cairan dalam perhitungan cc. Didalam lembar observasi tersebut juga terdapat pertanyaan yang berisi data pribadi responden berupa nama, umur ibu, pendidikan, pekerjaan, paritas, dan umur kehamilan. Analisis data dilakukan secara Univariat dan Bivariat untuk mengetahui Pengaruh Pijat Oksitosin Pada Ibu Nifas Post Sectio Caesarea Terhadap Pengeluaran Kolostrum. Analisis data menggunakan uji chi-square dengan menggunakan Komputer program SPSS. JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 HASIL PENELITIAN Analisis Univariat Pada analisis univariat ini, menggambarkan distribusi nilai pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol saat sebelum dan sesudah dilakukan pijat Perbedaan Nilai Pengeluaran Kolostrum pada Kelompok Intervensi Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pijat Oksitosin Tabel 1 Perbedaan Nilai Pengeluaran Kolostrum pada Kelompok Intervensi Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pijat Oksitosin di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang Variabel Pre-test Post-test Mean Min Ae Max 00 Ae 5. 00 Ae 15. 95% CI 22 Ae 3. 15 Ae 9. Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan nilai rerata pengeluaran kolostrum sebelum dilakukan pijat oksitosin pada kelompok intervensi adalah 3. 38 cc, dan setelah dilakukan pijat oksitosin adalah 11. 05 cc. Nilai maksimal yang diperoleh pada kelompok intervensi sebelum dilakukan pijat oksitosin adalah 5 cc, dan nilai maksimal setelah dilakukan pijat oksitosin adalah 15 cc. Nilai minimal yang muncul sebelum dilakukan pijat oksitosin pada kelompok intervensi adalah 2 cc dan nilai minimal setelah dilakukan pijat oksitosin adalah 7 cc. Hasil yang diperoleh menggambarkan adanya peningkatan pada nilai rerata pengeluaran kolostrum antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. Perbedaan Nilai Pengeluaran Kolostrum pada Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pijat Oksitosin pada Kelompok Intervensi Tabel 2 Perbedaan Nilai Pengeluaran Kolostrum pada Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pijat Oksitosin pada Kelompok Intervensi di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang Variabel Pre-test Post-test Mean Min Ae Max 00 Ae 2. 00 Ae 5. 95% CI 21 Ae 3. 12 Ae 9. Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan nilai rerata pengeluaran kolostrum pre-test pada kelompok kontrol adalah 0. 58 cc dan post-test adalah 2. 70 cc. Nilai maksimal yang muncul diperoleh pada kelompok kontrol saat pre-test adalah 2 cc, dan nilai maksimal pada saat post -test adalah 5 cc . Nilai minimal yang muncul saat pre-test pada kelompok ini adalah 0 cc dan nilai minimal saat post-test adalah 1 cc. Sehingga hasil yang diperoleh menggambarkan adanya peningkatan pada nilai rerata pengeluaran kolostrum antara sebelum dan sesudah dilakukan intervensi. JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 Diagram Distribusi Rerata Nilai Pengeluaran Kolostrum pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pijat Oksitosin. Diagram 1 Distribusi Rerata Nilai Pengeluaran Kolostrum pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pijat Oksitosin di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang Berdasarkan diagram diatas menunjukkan pada kelompok kontrol menujukkan terjadi peningkatan sedikit setelah dilakukan pijat oksitosin. Pada kelompok intervensi terjadi peningkatan yang signifikan sesudah dilakukan pijat oksitosin. Analisa Bivariat Dalam analisis bivariate, akan dilakukan uji t dependen dan uji t independen. Uji t dependen digunakan untuk mengetahui perubahan rerata pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Uji t independen digunakan untuk mengetahui perbedaan rerata pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesudah dilakukan pijat oksitosin. Dalam analisis bivariat, peneliti terlebih dahulu melakukan uji normalitas dengan menggunakan uji Kolmogorov-Smirnov yang bertujuan untuk mengetahui distribusi data yang peneliti peroleh saat pengambilan data. Dan uji homogenitas untuk mengetahui varian populasi data, apakah dua kelompok atau lebih data memiliki varian yang sama atau berbeda. Uji Normalitas Uji normalitas dilakukan terlebih dahulu untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak. Pengambilan keputusan pada hasil uji Kolmogorov-Smirnov jika Sig>0,05 maka data berdistribusi normal, sedangkan Sig<0,05 maka data tidak berdistribusi normal (Sujawerni, 2. Pada penelitian ini peneliti telah melakukan uji normalitas terhadap hasil pengukuran pengeluaran kolostrum sebelum dan sesudah diberikan pijat oksitosin pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Pada data skor pre-test pengeluaran kolostrum kelompok intervensi didapatkan Sig<0. 05 yakni 0. 000 dinyatakan data berdistribusi tidak normal, dan skor post-test pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi didapatkan Sig<0. 05 yakni 0. 001 dinyatakan data berdistribusi tidak normal, sehingga JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 uji statistic bivariate yang dilakukan pada penelitian ini adalah menggunakan analisis non parametric uji Wilcoxon t-tet. Pada data skor pre-test pengeluaran kolostrum kelompok kontrol didapatkan Sig<0. 000 dinyatakan data berdistribusi tidak normal, dan skor post-test pengeluaran kolostrum pada kelompok kontrol didapatkan Sig<0. 05 yakni 0. 000 dinyatakan data berdistribusi tidak normal, sehingga uji statistic bivariate yang dilakukan pada penelitian ini adalah menggunakan analisis non parametric uji Wilcoxon t-tet. Sehingga untuk mengetahui pengaruh pijat oksitosin pada Ibu nifas post sectio caesarea terhadap pengeluaran kolostrum di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang adalah menggunakan analisis non parametric uji Mann-Withney. Uji Homogenitas Uji homogenitas dilakukan untuk mengetahui varian populasi data, apakah dua kelompok atau lebih data memiliki varian yang sama atau berbeda. Uji ini sebagai prasyarat dalam uji hipotesis, yaitu Independent Sample T Test. Kriteria pengambilan keputusan adalah jika nilai Sig. >0. 05, maka dapat disimpulkan bahwa varian dari dua atau lebih kelompok data adalah sama (Sujawerni, 2. Uji homogenitas pada penelitian ini dilakukan untuk melakukan uji hipotesis Independent Sample T Test pada varian data pengeluaran kolostrum sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin. Skor pre-test pengeluaran kolostrum Sig. <0. 05 yakni 007 dinyatakan varian tidak sama, dan skor post-test pengeluaran kolostrum Sig. <0. 000 memiliki varian yang tidak sama. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan data pengeluaran kolostrum sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin memiliki varian yang tidak sama . idak homoge. Uji Wilcoxon t test. Analisis pada penelitiam ini menggunakan uji non parametric yaitu Wilcoxon t test untuk mengetahui perbedaan rerata pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol sesudah dilakukan pijat oksitosin pada kelompok intervensi. Tabel 3 Perbedaan Rerata Pengeluaran Kolostrum pada Kelompok Intervensi dan Kelompok Kontrol Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pijat Oksitosin di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang Variabel Kelompok Mean P Value (Si. Pengeluaran Intervensi Kolostrum Sebelum Sesudah Kontrol Sebelum Sesudah Keterangan: Sig < 0. 05 ada pengaruh yang sangat signifikakan JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan rata-rata pengeluaran kolostrum pada ibu nifas post sectio caesarea di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang sebelum dilakukan pijat oksitosin pada kelompok intervensi adalah 3. 38 cc dengan standar deviasi 1. 13 dan setelah dilakukan pijat oksitosin adalah 11. 05 cc dengan standar deviasi 2. Analisa lebih lanjut adanya perbedaan bermakna antara pengeluaran kolostrum kelompok intervensi sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin dengan kata lain ada perbedaan yang signifikan bahwa pijat oksitosin dapat meningkatkan rata-rata pengeluaran kolostrum pada ibu nifas post sectio caesarea di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang kelompok intervensi sebesar 7. 67 cc (P Value 0. 000 atau <0,. Uji Mann-Withney Analisis yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan analisis non parametric yaitu Mann-Witney untuk mengetahui perbedaan rerata pengeluaran kolostrum sesudah pijat oksitosin pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Tabel 4 Perbedaan Rerata Pengeluaran Kolostrum pada Ibu Nifas Post Sectio Caesarea Sebelum dan Sesudah Dilakukan Pijat Oksitosin di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang Variabel Mean SD P Value Pengeluaran Kolostrum: Intervensi Kontrol Keterangan: Sig < 0. 05 ada pengaruh yang sangat signifikakan Berdasarkan tabel diatas, menunjukkan rerata peningkatan pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi adalah 11. 05 cc dengan standar deviasi 2. 48, dan pada kelompok kontrol terdapat peningkatan yang sedikit yaitu 2. 70 cc dengan standar deviasi 0. Hasil analisis lebih lanjut didapatkan bahwa ada perbedaan yang signifikan selisih rerata antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (P Value 0. 000 atau <0,. , pada kedua kelompok terdapat adanya perbedaan yang signifikan, pada kelompok intervensi didapatkan adanya perbedaan yang signifikan meningkatkan pengeluaran kolostrum sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin, sedangkan pada kelompok kontrol terdapat adanya perbedaan tetapi tidak signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa pijat oksitosin berpengaruh terhadap pengeluaran kolostrum pada ibu nifas post sectio PEMBAHASAN Keterbatasan Penelitian Penelitian menggunakan rancangan quasi eksperimen dimana pengukuran variabel independen yaitu pijat oksitosin dengan variabel dependen yaitu pengeluaran kolostrum dikumpulkan secara bersamaan pada saat penelitian dilakukan, sehingga penelitian ini JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 tidak dapat menjelaskan pengaruh sebab akibat, tetapi pengaruh yang didapatkan hanya pengaruh keterkaitan. Variabel independen yang diteliti sangat terbatas, dikarenakan keterbatasan waktu yang dimiliki oleh peneliti. Sedangkan masih terdapat banyak variabel independen lain yang dimungkinkan mempunyai pengaruh dengan variabel pengeluaran kolostrum. Instrumen penelitian berupa lembar observasi untuk mengukur pengeluaran kolostrum responden. Pembahasan . Distribusi pengeluaran kolostrum sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin pada ibu nifas post sectio caesarea di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat peningkatan pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi setelah dilakukan pijat oksitosin. Nilai rata-rata pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi sebelum dilakukan pijat oksitosin sebesar 3,38 cc, dan setelah dilakukan pijat oksitosin meningkat menjadi 11,05 cc. Hal ini menunjukkan bahwa pijat oksitosin berpengaruh terhadap peningkatan pengeluaran kolostrum pada ibu nifas post sectio caesarea. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Endah dan Masdinarsah . yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan rata-rata pengeluaran kolostrum sebesar 5,33 cc pada ibu yang diberikan pijat oksitosin dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya 0,02 cc. Penelitian tersebut menjelaskan bahwa pijat oksitosin dapat merangsang keluarnya hormon oksitosin yang berperan penting dalam proses pengeluaran kolostrum. Peningkatan pengeluaran kolostrum pada penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh efek fisiologis dari pijat oksitosin yang membantu relaksasi otot-otot payudara dan memperlancar aliran hormon oksitosin. Dengan meningkatnya hormon oksitosin, refleks let-down . engeluaran kolostru. menjadi lebih optimal. Hal ini mendukung teori bahwa pijat oksitosin dapat mempercepat dan memperlancar pengeluaran kolostrum pada ibu nifas setelah operasi sectio caesarea. Analisis perbedaan dilakukan untuk melihat adanya perbedaan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin pada kelompok intervensi. Data menunjukkan rata-rata pengeluaran kolostrum pada ibu nifas post sectio caesarea di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang sebelum dilakukan pijat oksitosin pada kelompok intervensi adalah 3. 38 cc dengan standar deviasi 1. 13 dan setelah dilakukan pijat oksitosin adalah 11. 05 cc dengan standar deviasi 2. Analisa lebih lanjut adanya perbedaan bermakna antara jumlah pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin dengan kata lain ada perbedaan signifikan bahwa pijat oksitosin dapat meningkatkan rata-rata pengeluaran kolostrum pada ibu nifas post sectio caesarea di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang kelompok intervensi sebesar 7. 67 cc (P Value 0,000 atau <0,. JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 Penelitian ini sejalan dengan penelitian Lestari. Julintrari, dan Murniati . , menunjukkan sebanyak 53,33% ibu yang diberikan pijat oksitosin mengalami kelancaran pengeluaran kolostrum, dan sebanyak 6,67% ibu yang diberikan pijat oksitosin mengalami ketidaklancaran pengeluaran kolostrum. Hal ini juga menyatakan pijat oksitosin dapat membuat ibu merasa lebih nyaman, mengurangi lelah, dan merangsang hormon oksitosin untuk mengeluarkan kolostrum. Pada ibu nifas akan mengalami Maternal stress sehingga mengganggu pengeluaran oksitosin yaitu hormon yang bertanggung jawab terhadap refleks pengeluaran susu. Untuk mengatasi masalah menyusui pada ibu post sectio caesarea, diperlukan suatu upaya yang dapat meningkatkan produksi ASI dan memperlancar pengeluaran kolostrum agar bayi dapat terpenuhi kebutuhan nutrisinya pada awal Alternatif tindakan yang dapat dilakukan adalah pijat oksitosin. Hal ini membuktikan ibu yang dilakukan pijat oksitosin akan mengeluarkan kolostrom dengan jumlah yang banyak, sedangkan pada ibu yang tidak dilakukan pijat oksitosin akan mengeluarkan jumlah kolostrum yang sedikit. Analisis pengaruh pijat oksitosin antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah dilakukan pijat oksitosin pada kelompok intervensi. Data diatas menunjukkan rerata peningkatan pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi adalah 7. 67 cc dengan standar deviasi 2. 84 sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan sedikit yaitu sebesar 2. 12 cc dengan standar deviasi 0. Hasil analisis lebih lanjut didapatkan bahwa ada perbedaan yang signifikan selisih rerata antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (P Value 0. 000 atau <0,. , pada kedua kelompok terdapat adanya perbedaan yang signifikan, pada kelompok intervensi didapatkan adanya perbedaan yang signifikan peningkatan pengeluaran kolostrum sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin, sedangkan pada kelompok kontrol terdapat adanya perbedaan tetapi tidak signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa pijat oksitosin berpengaruh terhadap pengeluaran kolostrum. Hasil penelitian diatas sejalan dengan penelitian Lestari. Julintrari, dan Murniati . , bahwa ada perbedaan yang signifikan antara pengeluaran kolostrum sebelum dilakukan pijat oksitosin pada kelompok intervensi dengan pengeluaran kolostrum setelah diberikan leaflet pada kelompok kontrol, sehingga dapat disimpulkan terdapat pengaruh pijat okstitosin terhadap pengeluaran kolostrum. Hasil penelitian ini juga didukung oleh penelitian Sundari, dan Sari . , yang menyatakan ada pengaruh pijat oksitosin terhadap pengeluaran kolostrum pada ibu sectio caesarea di RSUD Kota Madiun. Pijat oksitosin ini dilakukan untuk merangsang refleks oksitosin atau refleks let down. Selain untuk merangsang refleks let down, manfaat lain dari pijat oksitosin adalah memberikan kenyamanan pada ibu, mengurangi bengkak . , mengurangi sumbatan ASI, merangsang pelepasan hormon oksitosin, mempertahankan produksi ASI ketika ibu dan bayi sakit. Pijat oksitosin ini dilakukan secara rutin selama 2-3 menit sebanyak 2-3 kali setiap hari. Beberapa jurnal medis membuktikan bahwa pijat oksitosin juga dapat meningkatkan produksi ASI pada ibu nifas. Kondisi psikologis yang buruk berhubungan erat dengan kondisi ibu dalam memberikan ASI. Pijat oksitosin mampu membantu menstabilkan kecemasan yang biasa terjadi pada ibu nifas terhadap bayinya (Rahayu, 2. JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh pijat oksitosin pada ibu nifas post sectio caesarea terhadap pengeluaran kolostrum di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang dapat disimpulkan, sebagai berikut: Distribusi pengeluaran kolostrum antara sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin pada kelompok intervensi mengalami peningkatan yang signifikan dengan hasil rata-rata pengeluaran kolostrum sebelum dilakukan pijat oksitosin yaitu 3. 38 cc dengan standar deviasi 1. 13, dan hasil rata-rata pengeluaran kolostrum setelah dilakukan pijat oksitosin yaitu 11. 05 cc dengan standar deviasi 2. Analisa lebih lanjut menujukkan adanya perbedaan bermakna antara pengeluaran kolostrum kelompok intervensi sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin, dengan kata lain ada perbedaan yang signifikan bahwa pijat oksitosin dapat meningkatkan rata-rata pengeluaran kolostrum pada ibu nifas post sectio caesarea di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang kelompok intervensi sebesar 7. 67 cc. Distribusi pengeluaran kolostrum antara sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin pada kelompok kontrol mengalami peningkatan yang signifikan dengan hasil rata-rata pengeluaran kolostrum pada pre-test yaitu 0. 58 cc dengan standar 59, dan hasil rata-rata pengeluaran kolostrum pada post-test yaitu 2. 70 cc dengan standar deviasi 0. Analisa lebih lanjut menujukkan adanya perbedaan yang bermakna antara pengeluaran kolostrum kelompok kontrol pada pre-test dan post-test, dengan kata lain ada perbedaan yang tidak signifikan bahwa pijat oksitosin dapat meningkatkan rata-rata pengeluaran kolostrum pada ibu nifas post sectio caesarea di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang kelompok kontrol sebesar 12 cc. Ada pengaruh pijat oksitosin antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol setelah dilakukan pijat oksitosin pada kelompok intervensi. Hasil analisis data menunjukkan rerata peningkatan pengeluaran kolostrum pada kelompok intervensi 67 cc dengan standar deviasi 2. 48 sedangkan pada kelompok kontrol terjadi peningkatan sedikit yaitu sebesar 2. 12 cc dengan standar deviasi 0. Hasil analisis lebih lanjut didapatkan bahwa ada perbedaan yang signifikan selisih rerata antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol (P Value 0. 000 atau <0,. , pada kedua kelompok terdapat adanya perbedaan yang signifikan, pada kelompok intervensi didapatkan adanya perbedaan yang signifikan peningkatan pengeluaran kolostrum sebelum dan sesudah dilakukan pijat oksitosin, sedangkan pada kelompok kontrol terdapat adanya perbedaan tetapi tidak signifikan sehingga dapat disimpulkan bahwa pijat oksitosin berpengaruh terhadap pengeluaran kolostrum pada ibu nifas post sectio caesarea di Rumah Sakit Umum Kabupaten Tangerang. JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 SARAN Bagi Pelayanan Keperawatan Berdasarkan hasil penelitian bahwa pijat oksitosin telah terbukti dalam meningkatkan pengeluaran kolostrum, maka dari itu diharapkan agar pelayanan keperawatan mengembangkan intervensi pijat oksitosin dalam asuhan keperawatan pada ibu nifas post sectio caesarea untuk memperlancar pengeluaran kolostrum di ruang post partum. Bagi Institusi Rumah Sakit Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh pijat oksitosin terhadap pengeluaran kolostrum, oleh karena itu institusi rumah sakit diharapkan dapat menerapkan dan memanfaatkan pijat oksitosin sebagai stimulasi pengeluaran ASI serta membantu ibu dalam pelaksanaan pemberian ASI. Bagi Penelitian Selanjutnya Bagi penelitian selanjutnya, diharapkan dapat mengembangkan penelitian pijat oksitosin ini lebih lanjut terhadap pengeluaran kolostrum pada ibu nifas post section caesarea. Dikarenakan masih adanya keterbatasan dalam penelitian, untuk peneliti selanjutnya diharapkan ada tindak lanjut untuk melakukan observasi terkait faktorfaktor yang mempengaruhi pengeluaran kolostrum, seperti rasa nyaman ibu, isapan bayi, dan lain sebagainya. Diharapkan penelitian ini dapat dijadikan bahan referensi dan tambahan informasi untuk mengembangkan penelitian lebih lanjut terkait dengan manfaat pijat oksitosin terhadap pengeluaran kolostrum. JURNAL ILMIAH SULTAN AGUNG Universitas Islam Sultan Agung Semarang, 13 Desember 2025 ISSN: 2963-2730 DAFTAR PUSTAKA