Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Analisis Keterkaitan Gaya Belajar dengan Prestasi Belajar SBDP pada Siswa Kelas i SDN Pasiraman 03 Fauziah Rodiana Nisa1. Desy Anindia Rosyida 2. Ida Putri Rarasati3 Pendidikan Guru Sekolah Dasar. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Universitas Islam Balitar Email: fauziahrodiananisa@gmail. com, idaputri277@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara gaya belajar dengan prestasi belajar Seni Budaya dan Prakarya (SBDP) pada siswa kelas i SDN Pasiraman 03 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2023/2024. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional. Subjek penelitian berjumlah 23 siswa yang seluruhnya dijadikan sampel melalui teknik total sampling. Gaya belajar siswa diklasifikasikan ke dalam tiga tipe, yaitu visual, auditori, dan kinestetik, yang diukur menggunakan angket gaya belajar 30 butir dengan skala Likert 4 poin, sedangkan prestasi belajar SBDP diperoleh melalui dokumentasi nilai rapor semester II. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Pearson Product Moment dengan bantuan program SPSS pada taraf signifikansi 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki kecenderungan gaya belajar visual . ,21%) dan kinestetik . ,78%), sementara tidak ditemukan siswa dengan gaya belajar auditori sebagai gaya dominan. Prestasi belajar SBDP siswa secara keseluruhan berada pada kategori baik dengan rentang nilai 78Ae82. Hasil uji korelasi menunjukkan nilai koefisien korelasi sebesar -0,093 dengan signifikansi 0,672, yang berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara gaya belajar dan prestasi belajar SBDP Temuan ini mengindikasikan bahwa dalam konteks penelitian ini, gaya belajar tidak berkorelasi secara signifikan dengan prestasi belajar. faktor lain seperti metode pembelajaran, motivasi belajar, dan lingkungan belajar diduga lebih berperan. Keterbatasan penelitian meliputi ukuran sampel yang kecil dan rentang nilai rapor yang sangat sempit, sehingga generalisasi temuan perlu dilakukan dengan kehati-hatian. Kata Kunci: Gaya Belajar. Prestasi Belajar. SBDP PENDAHULUAN Pendidikan secara umum telah berevolusi dengan mengakui keragaman cara siswa memproses informasi, di mana konsep gaya belajar menjadi fondasi utama personalisasi pembelajaran sejak pertengahan abad ke-20. Pendekatan ini menekankan penyesuaian metode pengajaran untuk meningkatkan efektivitas belajar, terutama setelah pandemi yang mendorong adaptasi multimodal (Budi et al. , 2. Pendidikan berperan krusial dalam mengembangkan sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif di tengah kemajuan teknologi yang begitu cepat. Perubahan era digital menuntut sistem pendidikan untuk terus berinovasi agar relevan dengan kebutuhan zaman. Menurut Made et al. , pendidikan menjadi pilar utama dalam meningkatkan kualitas SDM secara global, di mana tingkat pendidikan yang lebih tinggi langsung berkorelasi dengan daya saing bangsa di era globalisasi. Upaya peningkatan mutu pendidikan dapat dicapai melalui adaptasi kurikulum dan metode pembelajaran yang berfokus pada pengembangan keterampilan abad 21. Keberhasilan sistem pendidikan di negara maju seperti Finlandia. Singapura. Jepang, dan Korea Selatan menegaskan bahwa kemajuan bangsa bergantung pada SDM berkualitas Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Penelitian oleh OECD 2022 dalam laporan PISA menunjukkan bahwa negara-negara tersebut unggul berkat pendidikan yang menekankan pengembangan kognitif dan keterampilan holistik siswa. Sebaliknya, lulusan Indonesia masih menghadapi tantangan daya saing global akibat kurangnya adaptasi pembelajaran terhadap keberagaman gaya belajar siswa (TIMSS, 2. Faktor utama ini menghambat optimalisasi potensi pembelajar di tengah tuntutan era digital (Fajartriani et al. , 2. Setiap siswa memiliki preferensi gaya belajar unik yang memengaruhi cara mereka menyerap informasi. Qondias . menemukan bahwa siswa kelas V SD memiliki distribusi gaya belajar visual 23%, auditori 30%, dan kinestetik 47% dalam pembelajaran Pancasila, sehingga guru perlu mengakomodir variasi ini. Penelitian ini menjadi dasar untuk strategi pembelajaran inklusif yang optimal. Analisis gaya belajar mendominasi visual dan auditori di mata pelajaran PPKn. Aliansah et al. menunjukkan sebagian besar siswa cenderung visual-auditori dengan persentase rata-rata 60%, sementara kinestetik hanya 10,5%, merekomendasikan adaptasi pengajaran untuk meningkatkan pemahaman. Kebiasaan belajar siswa berprestasi bervariasi sesuai gaya dominan mereka. Annisa et al. menyatakan siswa visual memanfaatkan diagram, auditori melalui diskusi, dan kinestetik via praktik, yang semuanya meningkatkan prestasi saat disesuaikan oleh guru. Gaya belajar memengaruhi keberhasilan pembelajaran secara signifikan. Penelitian Rohmah et al. mengonfirmasi tiga tipe utama visual, auditori, kinestetik dapat diidentifikasi melalui observasi atau survei untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa. Berdasarkan hasil pra-penelitian yang dilakukan di SDN Pasiraman 03 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar pada siswa kelas i, ditemukan bahwa proses pembelajaran masih didominasi oleh metode ceramah. Siswa terlihat memperhatikan penjelasan guru, namun ketika diberikan pertanyaan, sebagian besar siswa mengalami kesulitan dalam Hal ini mengindikasikan bahwa pembelajaran belum sepenuhnya mendukung kebutuhan gaya belajar siswa. Kurangnya penggunaan media visual maupun aktivitas kinestetik menyebabkan pembelajaran terasa monoton dan kurang membantu siswa dalam memahami materi secara optimal. Ketidaksesuaian antara pendekatan mengajar guru dan gaya belajar siswa kerap menghambat pencapaian pemahaman optimal serta prestasi akademik. Fendrik et al. menemukan bahwa siswa kelas V SD cenderung kinestetik . ,5%), auditori . %), dan visual . ,5%), sehingga ketidaksesuaian ini menurunkan efektivitas pembelajaran VAK. Pemahaman gaya belajar memungkinkan guru merancang strategi diferensiasi yang tepat untuk meningkatkan hasil belajar secara menyeluruh. Prestasi belajar siswa diukur sebagai capaian kompetensi dari proses interaksi pembelajaran, tercermin dalam nilai yang menunjukkan penguasaan materi pelajaran. Selain itu. Kasim et al. juga menyatakan bahwa perbedaan pendekatan antar guru menciptakan konflik internal pada siswa, menghambat pembentukan karakter positif seperti jujur dan disiplin. Dampak ini juga menekan motivasi belajar karena siswa merasa kebutuhan mereka diabaikan. Mata pelajaran Seni Budaya dan Prakarya (SBDP) memegang peran krusial di sekolah dasar karena mendukung pengembangan kreativitas, bakat, dan kepribadian siswa secara SBDP tidak hanya menyampaikan materi seni, tetapi juga membentuk sikap kritis. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 semangat berkarya, dan apresiasi budaya lokal untuk generasi digital (Iraqi et al. , 2. SBDP merangsang potensi kreatif siswa melalui aktivitas kreasi seni rupa, musik, tari, dan drama, sehingga meningkatkan olah pikir serta olah rasa. Pembelajaran ini membantu siswa menghasilkan karya seni inovatif, mewariskan kebudayaan bangsa, dan mengasah kemampuan intelektual (Gladish et al. , 2. Aktivitas SBDP melatih motorik kasar dan halus siswa melalui gerakan dan koordinasi, mendukung pertumbuhan fisik serta mental secara estetik. Rutinitas ini menciptakan keseimbangan, kelincahan, dan kecepatan, yang esensial untuk perkembangan anak usia dini (Nurhayati et al. , 2. Hasil analisis kebutuhan melalui dokumentasi di SDN Pasiraman 03 menunjukkan bahwa prestasi belajar SBDP siswa kelas i masih tergolong rendah. Dari 23 siswa yang mengikuti evaluasi kognitif berupa 15 soal tertulis dengan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75, sebagian besar siswa belum mencapai nilai ketuntasan. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembelajaran yang berfokus pada aspek kognitif semata belum sepenuhnya membantu siswa dalam memahami materi, khususnya pada tema AuMengenal Alat MusikAy. Selain itu, hasil analisis gaya belajar siswa menunjukkan bahwa sebagian besar siswa memiliki kecenderungan gaya belajar visual dan kinestetik. Namun, strategi pembelajaran yang diterapkan belum sepenuhnya mengakomodasi perbedaan gaya belajar tersebut. Adapun nilai rapor SBDP siswa pada semester II menunjukkan rentang nilai antara 78 hingga 82, yang berbeda dengan hasil evaluasi kognitif 15 soal pada pra-penelitian. Perlu dicatat bahwa kedua data tersebut mengukur aspek yang berbeda: evaluasi kognitif pra-penelitian mengukur pemahaman materi tertentu, sementara nilai rapor mencerminkan penilaian komprehensif selama satu semester. Berdasarkan kondisi tersebut, peneliti tertarik untuk mengkaji secara lebih mendalam apakah terdapat keterkaitan antara gaya belajar siswa dengan prestasi belajar yang tercermin dalam nilai rapor. Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa gaya belajar memiliki peranan penting dalam pencapaian prestasi belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran SBDP. Oleh karena itu, diperlukan kajian yang lebih mendalam untuk menganalisis keterkaitan antara gaya belajar dengan prestasi belajar siswa. Atas dasar tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuAnalisis Keterkaitan Gaya Belajar dengan Prestasi Belajar SBDP pada Siswa Kelas i SDN Pasiraman 03Ay. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi guru dalam merancang pembelajaran yang lebih efektif serta membantu siswa mencapai prestasi belajar yang optimal sesuai dengan gaya belajar masing-masing. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif korelasional untuk menganalisis keterkaitan antara gaya belajar dan prestasi belajar SBDP siswa kelas i. Penelitian dilaksanakan di SDN Pasiraman 03 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar pada Tahun Ajaran 2023/2024. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Gambar 1. Bagan Prosedur Penelitian Populasi penelitian mencakup seluruh siswa kelas i yang berjumlah 23 peserta didik. Teknik pengambilan sampel menggunakan total sampling, sehingga seluruh anggota populasi dijadikan sebagai sampel penelitian. Variabel penelitian terdiri atas gaya belajar siswa sebagai variabel bebas dan prestasi belajar SBDP sebagai variabel terikat. Gaya belajar diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu visual, auditori, dan kinestetik (VAK). Prestasi belajar diukur berdasarkan nilai rapor SBDP semester II. Pengumpulan data dilakukan menggunakan angket skala gaya belajar dan dokumentasi nilai rapor. Data dianalisis melalui analisis deskriptif kuantitatif untuk mengetahui distribusi gaya belajar dan prestasi belajar siswa, serta uji korelasi Pearson Product Moment untuk menguji keterkaitan antarvariabel. Seluruh analisis statistik dilakukan dengan bantuan SPSS pada taraf signifikansi 5%. Instrumen angket gaya belajar yang digunakan dalam penelitian ini disusun berdasarkan model VAK (Visual. Auditori. Kinesteti. dengan total 30 butir pernyataan, terdiri dari 10 butir untuk masing-masing dimensi. Setiap butir dinilai menggunakan skala Likert 4 poin . = tidak pernah, 2 = kadang-kadang, 3 = sering, 4 = selal. Contoh indikator gaya belajar visual antara lain kemampuan siswa memahami materi melalui gambar dan diagram. auditori meliputi kemudahan memahami penjelasan lisan. sedangkan indikator kinestetik mencakup preferensi belajar melalui praktik dan aktivitas fisik. Penentuan gaya belajar dominan dilakukan dengan membandingkan skor total ketiga dimensi. dimensi dengan skor tertinggi ditetapkan sebagai gaya belajar dominan siswa. Variabel X dalam analisis korelasi merepresentasikan skor dimensi dominan . kor visual untuk siswa bergaya visual, atau skor kinestetik untuk siswa bergaya kinesteti. , bukan kode kategori nominal. Instrumen telah divalidasi melalui validasi ahli dan uji validitas item menggunakan korelasi Product Moment dengan r-tabel pada taraf 5%. Reliabilitas instrumen diuji menggunakan formula Alpha Cronbach dan diperoleh koefisien reliabilitas yang memadai. Penggunaan uji korelasi Pearson Product Moment dapat dipertanggungjawabkan karena variabel X diperlakukan sebagai skor kontinu, bukan sebagai kategori nominal. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keterkaitan antara gaya belajar dengan prestasi belajar Seni Budaya dan Prakarya (SBDP) pada siswa kelas i SDN Pasiraman 03 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar. Secara umum, hasil penelitian menunjukkan bahwa Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 siswa memiliki karakteristik gaya belajar yang beragam, sementara prestasi belajar SBDP berada pada kategori sedang. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa keterkaitan antara gaya belajar dan prestasi belajar SBDP tidak menunjukkan hubungan yang signifikan secara Tabel 1. Pengklasifikasian Siswa Berdasarkan Gaya Belajar V-A-K NAMA SISWA S01 S02 S03 S04 S05 S06 S07 S08 S09 S10 S11 S12 S13 S14 S15 S16 S17 S18 S19 S20 S21 S22 S23 VISUAL SKOR BELAJAR AUDIO KINESTETIK GAYA BELAJAR Visual Kinestetik Visual Kinestetik Visual Visual Kinestetik Kinestetik Visual Visual Kinestetik Visual Visual Visual Kinestetik Kinestetik Visual Kinestetik Visual Visual Visual Visual Visual Gaya Belajar Siswa Hasil analisis deskriptif terhadap gaya belajar siswa menunjukkan bahwa mayoritas siswa memiliki kecenderungan gaya belajar visual. Dari 23 siswa yang menjadi responden penelitian, sebanyak 15 siswa . ,21%) memiliki gaya belajar visual dan 8 siswa . ,78%) memiliki gaya belajar kinestetik. Tidak ditemukan siswa yang memiliki gaya belajar auditori sebagai gaya belajar dominan. Temuan ini mengindikasikan bahwa siswa kelas i lebih mudah memahami pembelajaran SBDP melalui pengamatan visual dan aktivitas praktik dibandingkan melalui penjelasan lisan semata. Secara rinci, distribusi gaya belajar siswa kelas i SDN Pasiraman 03 disajikan pada Tabel 2 berikut. Tabel 2. Distribusi Gaya Belajar Siswa Kelas i SDN Pasiraman 03 Gaya Belajar Visual Auditori Kinestetik Jumlah Jumlah Siswa Persentase 65,21% 34,78% Kategori Baik Kurang Sekali Kurang Berdasarkan hasil penelitian terhadap 23 siswa kelas i SDN Pasiraman 03, terlihat bahwa sebagian besar siswa menunjukkan kecenderungan pada gaya belajar visual. Sebanyak 15 siswa . ,21%) lebih mudah memahami materi melalui pengamatan, gambar, maupun Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 tampilan visual. Hal ini menandakan bahwa strategi pembelajaran yang melibatkan media visual akan lebih efektif bagi mayoritas siswa. Sementara itu, terdapat 8 siswa . ,78%) yang memiliki kecenderungan gaya belajar Mereka lebih nyaman belajar melalui aktivitas langsung, praktik, dan gerakan Dengan demikian, metode pembelajaran berbasis praktik juga tetap penting untuk mengakomodasi kebutuhan kelompok ini. Menariknya, tidak ada siswa yang menunjukkan gaya belajar auditori sebagai dominan. Artinya, penjelasan lisan semata kurang efektif jika digunakan sebagai pendekatan utama dalam pembelajaran SBDP. Prestasi Belajar SBDP Prestasi belajar SBDP siswa kelas i SDN Pasiraman 03 diperoleh dari dokumentasi nilai rapor semester II tahun ajaran 2023/2024. Berikut pencapaian prestasi belajar siswa kelas 3 SDN Pasiraman 03 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2023/2024 yang dilihat dari nilai rapor semester 2 : Tabel 3. Nilai Raport SBDP Siswa Kelas 3 Semester 2 NAMA SISWA S01 S02 S03 S04 S05 S06 S07 S08 S09 S10 S11 S12 S13 S14 S15 S16 S17 S18 S19 S20 S21 S22 S23 NILAI RAPORT Hasil analisis menunjukkan bahwa seluruh siswa memperoleh nilai dalam rentang 78Ae Nilai tersebut menempatkan seluruh siswa pada kategori baik, meskipun belum ada yang mencapai kategori sangat baik. Kondisi ini memperlihatkan bahwa capaian belajar siswa telah melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal, namun masih berada di batas bawah kategori baik sehingga belum menunjukkan hasil yang benar-benar optimal. Berikut distribusi nilai prestasi belajar SBDP siswa kelas i disajikan pada Tabel 4. Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 Tabel 4. Distribusi Nilai Prestasi Belajar SBDP Siswa Kelas i SDN Pasiraman 03 Keterangan Sangat baik Baik Cukup Kurang JUMLAH Rentang Nilai <55 Jumlah Siswa Nilai prestasi belajar SBDP siswa kelas i SDN Pasiraman 03 pada semester II tahun ajaran 2023/2024 menunjukkan bahwa seluruh siswa memperoleh skor antara 78 hingga 82. Artinya, semua siswa berada dalam kategori baik, meskipun belum ada yang mencapai kategori sangat baik. Kondisi ini memperlihatkan bahwa hasil belajar mereka sudah melampaui Kriteria Ketuntasan Minimal, tetapi masih berada di batas bawah kategori baik sehingga belum sepenuhnya optimal. Tidak ada siswa yang masuk kategori cukup maupun kurang, sehingga dapat dikatakan capaian akademik cukup seragam. Namun, keseragaman ini juga menegaskan perlunya strategi pembelajaran yang lebih variatif agar prestasi siswa bisa meningkat ke tingkat yang lebih tinggi. Temuan tersebut kemudian dikaitkan dengan gaya belajar siswa yang sebelumnya telah Sebagian besar siswa memiliki kecenderungan gaya belajar visual, sementara sebagian lainnya lebih dominan kinestetik. Hal ini menimbulkan pertanyaan apakah perbedaan gaya belajar tersebut berhubungan dengan capaian prestasi belajar yang diperoleh. Untuk menjawab pertanyaan itu, penelitian dilanjutkan dengan pengujian hipotesis menggunakan analisis korelasi Product Moment melalui bantuan program SPSS. Hipotesis yang diajukan adalah adanya hubungan positif dan signifikan antara gaya belajar dengan prestasi belajar siswa kelas i SDN Pasiraman 03 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2023/2024. Sebelum dilakukan uji korelasi, terlebih dahulu disajikan statistik deskriptif untuk memberikan gambaran umum mengenai data gaya belajar dan prestasi belajar siswa. Hasil analisis statistik deskriptif tersebut ditampilkan pada Tabel 5 berikut. Tabel 5. Statistik Deskriptif Gaya Belajar dan Prestasi Belajar Siswa Mean Std. Deviation N Hasil analisis statistik deskriptif pada Tabel 5 menunjukkan bahwa variabel gaya belajar (X) memiliki nilai rata-rata sebesar 26,70 dengan standar deviasi 2,991 dari 23 responden. Hal ini menggambarkan adanya variasi yang cukup beragam dalam kecenderungan gaya belajar Sementara itu, variabel prestasi belajar (Y) memiliki rata-rata sebesar 79,09 dengan standar deviasi 1,041 dari jumlah responden yang sama. Nilai rata-rata tersebut menegaskan bahwa secara umum prestasi belajar siswa berada pada kategori baik, dengan tingkat penyebaran data yang relatif kecil sehingga menunjukkan konsistensi capaian antar siswa. Penelitian Adnan et al. mengonfirmasi variasi gaya belajar melalui indikator visual, auditorial, dan kinestetik yang efektif pada siswa berprestasi, didukung ketersediaan media pembelajaran guru serta fasilitas belajar dari orang tua di rumah. Faktor ini menjelaskan keragaman kecenderungan gaya belajar seperti pada hasil Tabel 3, di mana SD 2,991 mengindikasikan penyebaran sedang antar responden. Prestasi siswa berprestasi dapat Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 stabil berkat penerapan gaya belajar yang disesuaikan guru, menghasilkan pemahaman mudah melalui gambar, penjelasan langsung, dan gerakan, mirip konsistensi SD rendah 1,041 pada prestasi rata-rata baik 79,09. Dukungan orang tua dalam memantau belajar rumah memperkuat capaian ini secara keseluruhan. Setelah diketahui gambaran umum data penelitian, selanjutnya dilakukan uji korelasi antara gaya belajar dan prestasi belajar siswa. Hasil uji korelasi Product Moment disajikan pada Tabel 6 berikut. Tabel 6. Hasil Uji Korelasi Gaya Belajar dengan Prestasi Belajar Siswa Pearson Correlation Sig. -taile. Sum of Squares and Cross-products Covariance Pearson Correlation Sig. -taile. Sum of Squares and Cross-products Covariance Berdasarkan hasil uji korelasi antara gaya belajar (X) dengan prestasi belajar siswa (Y) yang ditampilkan pada Tabel 6, diperoleh nilai koefisien korelasi Pearson sebesar -0,093 dengan nilai signifikansi (Sig. 2-taile. sebesar 0,672. Nilai korelasi tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara gaya belajar dan prestasi belajar siswa sangat lemah serta cenderung tidak berarti, bahkan arah hubungan yang negatif tidak memiliki makna karena kekuatan korelasi yang sangat kecil. Selain itu, nilai signifikansi yang lebih besar dari 0,05 menegaskan bahwa hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Dengan jumlah sampel sebanyak 23 siswa, dapat disimpulkan bahwa gaya belajar tidak memiliki pengaruh yang nyata terhadap prestasi belajar siswa dalam penelitian ini. Hasil penelitian ini didukung oleh Herdiansyah . menemukan hubungan lemah atau tidak signifikan antara gaya belajar dengan prestasi belajar, yang didukung oleh dominasi faktor eksternal seperti motivasi belajar, lingkungan, dan minat siswa. Misalnya, faktor motivasi dan minat hanya menyumbang pengaruh kecil sementara variasi prestasi dijelaskan oleh variabel lain seperti lingkungan sekolah atau keluarga. Hal ini memperkuat hasil penelitian bahwa dengan sampel kecil . , gaya belajar tidak dominan karena faktor internal . akat, kebiasaa. dan eksternal . uara, temperatur, kurikulu. lebih berperan. Sementara itu, pada gaya belajar auditori tidak ditemukan siswa yang menjadikannya sebagai gaya belajar dominan. Karena tidak ada data responden dengan kecenderungan auditori, maka hubungan antara gaya belajar auditori dengan prestasi belajar tidak dapat dianalisis lebih lanjut. Kondisi ini menunjukkan bahwa gaya belajar auditori tidak berperan dalam capaian akademik siswa kelas i SDN Pasiraman 03, sehingga fokus analisis lebih diarahkan pada gaya belajar visual dan kinestetik yang memang muncul dalam distribusi data Selain itu, penelitian Hamama et al. juga menyebutkan bahwa pada 17 siswa kelas II SDN Karangrejo 02 menemukan distribusi gaya belajar visual . %, 7 sisw. , auditori Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 . %, 5 sisw. , dan kinestetik . %, 5 sisw. , dengan visual paling dominan karena siswa lebih efektif memahami materi melalui penglihatan seperti gambar dan diagram. Faktor mendasari mencakup fasilitas kelas SDN yang berorientasi visual . apan tulis, buku bergamba. dan minimnya penggunaan rekaman suara atau diskusi verbal intensif, sehingga auditori tidak muncul sebagai dominan. Setelah diketahui hasil uji korelasi secara umum, analisis selanjutnya dilakukan untuk mengetahui hubungan masing-masing jenis gaya belajar dengan prestasi belajar siswa. Analisis ini mencakup gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik sesuai dengan kecenderungan gaya belajar yang dimiliki siswa. Hasil uji korelasi antara gaya belajar visual dan prestasi belajar siswa disajikan pada Tabel 7 berikut. Tabel 7. Hasil Uji Korelasi Gaya Belajar Visual dengan Prestasi Belajar Pearson Correlation Sig. -taile. Sum of Squares and Cross-products Covariance Pearson Correlation Sig. -taile. Sum of Squares and Cross-products Covariance Hasil uji korelasi antara gaya belajar visual dengan prestasi belajar siswa yang ditampilkan pada Tabel 7 menunjukkan nilai Pearson Correlation sebesar -0,216 dengan signifikansi 0,439. Nilai korelasi yang negatif dan relatif kecil ini menandakan bahwa hubungan antara gaya belajar visual dengan prestasi belajar tidak signifikan. Artinya, meskipun sebagian besar siswa kelas i memiliki kecenderungan gaya belajar visual, kecenderungan tersebut tidak terbukti memberikan pengaruh yang nyata terhadap capaian nilai rapor mereka. Dengan kata lain, prestasi belajar yang berada pada kategori baik tidak dapat dijelaskan hanya melalui dominasi gaya belajar visual. Hasil penelitian di atas didukung oleh Musfirah et al. pada siswa SD menemukan korelasi visual-prestasi rendah atau tidak signifikan, disebabkan oleh ketergantungan pada media visual homogen yang kurang personalisasi serta pengaruh variabel eksternal seperti dukungan keluarga. Faktor mendasari termasuk variasi kemampuan siswa dalam memproses visual dan adaptasi guru yang tidak sepenuhnya menyesuaikan, sehingga prestasi stabil tanpa ketergantungan kuat pada satu gaya belajar. Selain itu, studi oleh Nugroho . menemukan bahwa meskipun gaya visual mendominasi, pengaruhnya terhadap prestasi tidak selalu kuat pada sampel SD akibat kurangnya personalisasi media visual seperti diagram yang disesuaikan individu. Faktor mendasari mencakup pengaruh variabel lain seperti motivasi siswa dan metode guru yang tidak sepenuhnya adaptif, sehingga prestasi baik tetap tercapai tanpa ketergantungan dominan pada visual. Selanjutnya, analisis korelasi gaya belajar auditori tidak dapat dilakukan karena berdasarkan hasil pengklasifikasian gaya belajar, tidak terdapat siswa yang memiliki kecenderungan gaya belajar auditori. Dengan demikian, tidak diperoleh data yang dapat Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 dianalisis untuk mengetahui hubungan antara gaya belajar auditori dan prestasi belajar siswa. Analisis berikutnya dilakukan untuk mengetahui hubungan antara gaya belajar kinestetik dan prestasi belajar siswa. Hasil uji korelasi gaya belajar kinestetik disajikan pada Tabel 8 berikut. Tabel 8. Hasil Uji Korelasi Gaya Belajar Kinestetik dengan Prestasi Belajar Pearson Correlation Sig. -taile. Sum of Squares and Cross-products Covariance Pearson Correlation Sig. -taile. Sum of Squares and Cross-products Covariance Hasil uji korelasi antara gaya belajar kinestetik dengan prestasi belajar siswa yang ditampilkan pada Tabel 8 menunjukkan nilai Pearson Correlation sebesar 0,056 dengan signifikansi 0,895. Nilai korelasi yang sangat kecil ini menandakan bahwa hubungan antara gaya belajar kinestetik dengan prestasi belajar hampir tidak ada. Selain itu, nilai signifikansi yang jauh di atas 0,05 memperkuat kesimpulan bahwa hubungan tersebut tidak signifikan secara statistik. Dengan demikian, kecenderungan siswa untuk belajar melalui praktik langsung dan aktivitas fisik tidak terbukti memberikan pengaruh nyata terhadap capaian nilai rapor mereka. Hasil penelitian ini diperkuat dengan penelitian Jesus et al. menemukan korelasi kinestetik tidak signifikan, karena siswa kinestetik lebih bergantung pada pengalaman langsung yang jarang diakomodasi penuh di kelas konvensional dengan fokus teori dan visual Faktor mendasari meliputi fasilitas SDN pedesaan yang minim alat praktik serta prioritas guru pada metode pasif, sehingga prestasi rapor tetap baik tanpa pengaruh dominan dari Selain itu, penelitian Sari & Sartika . melaporkan secara spesifik, tidak ada hubungan positif dan signifikan antara gaya belajar kinestetik dengan prestasi belajar. Faktor utama yang mendasari temuan ini adalah bahwa gaya belajar bukan penentu dominan faktor lain seperti bakat, motivasi belajar, sikap siswa, kesehatan, kondisi lingkungan kelas, dan gaya mengajar guru lebih berpengaruh. Hal ini menjelaskan mengapa kinestetik . raktik fisi. tidak selalu berkorelasi kuat dengan nilai rapor, terutama jika lingkungan pembelajaran tidak mendukung aktivitas tersebut secara optimal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa gaya belajar siswa tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan prestasi belajar Seni Budaya dan Prakarya (SBDP) siswa kelas i SDN Pasiraman 03 Kecamatan Wonotirto Kabupaten Blitar Tahun Ajaran 2023/2024. Hasil uji korelasi Pearson Product Moment menunjukkan nilai koefisien korelasi yang sangat lemah dan tidak signifikan secara statistik. Temuan ini mengindikasikan bahwa perbedaan kecenderungan gaya belajar visual dan Afeksi: Jurnal Penelitian dan Evaluasi Pendidikan Volume 7 Nomor 4 Tahun 2026 https://afeksi. id/jurnal/index. php/afeksi e-ISSN: 2745-9985 kinestetik yang dimiliki siswa tidak secara langsung menentukan tinggi rendahnya prestasi belajar SBDP yang dicapai. Secara deskriptif, sebagian besar siswa memiliki kecenderungan gaya belajar visual, diikuti oleh gaya belajar kinestetik, sementara gaya belajar auditori tidak ditemukan sebagai gaya dominan. Prestasi belajar SBDP seluruh siswa berada pada kategori baik dengan rentang nilai yang relatif seragam. Kondisi ini menunjukkan bahwa capaian prestasi belajar siswa lebih dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar gaya belajar, seperti metode pembelajaran guru, motivasi belajar, lingkungan belajar, serta sistem penilaian yang diterapkan di sekolah. Temuan penelitian ini memberikan implikasi teoretis bahwa gaya belajar bukanlah satusatunya variabel penentu prestasi belajar siswa, khususnya pada mata pelajaran SBDP di jenjang sekolah dasar. Oleh karena itu, teori pembelajaran yang menekankan dominasi gaya belajar tertentu perlu dikaji secara lebih kritis dan dikombinasikan dengan pendekatan lain yang lebih komprehensif. Secara implikasi praktis, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa guru tidak perlu terpaku pada satu jenis gaya belajar tertentu, tetapi lebih disarankan untuk menerapkan pembelajaran yang variatif, kontekstual, dan berpusat pada aktivitas siswa. Penggunaan media visual, kegiatan praktik, serta pengalaman belajar langsung tetap penting, namun perlu diintegrasikan dengan strategi pembelajaran yang mampu meningkatkan motivasi, kreativitas, dan keterlibatan siswa secara menyeluruh. Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang perlu diperhatikan dalam menginterpretasikan hasilnya. Pertama, ukuran sampel yang kecil . dan rentang nilai rapor yang sangat sempit . Ae. secara statistik membatasi kemampuan uji korelasi untuk mendeteksi hubungan yang mungkin ada. Kedua, hasil penelitian hanya berlaku pada konteks kelas i SDN Pasiraman 03 dengan kondisi pembelajaran yang spesifik, sehingga tidak dapat digeneralisasikan secara luas. Ketiga, nilai rapor sebagai indikator prestasi mencerminkan penilaian komprehensif yang mungkin kurang sensitif untuk mengukur capaian spesifik materi SBDP. Penelitian lanjutan dengan sampel yang lebih besar, instrumen prestasi yang lebih spesifik per kompetensi SBDP, dan analisis faktor-faktor lain seperti motivasi dan metode guru sangat direkomendasikan untuk menghasilkan temuan yang lebih DAFTAR PUSTAKA