Journal of Science Education and Management Business (JOSEAMB) Vol. No. 1, tahun 2026, hlm. ISSN: 2828-3031 ANALISIS PENERAPAN SAK-EMKM PADA PENYUSUNAN LAPORAN KEUANGAN DI UMKM KOTA PADANG PANJANG Putri Nadia. Resyelly Viona2 Universitas Putra Indonesia YPTK Padang. Indonesia Info Artikel ABSTRAK Sejarah artikel: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penerapan SAK-EMKM dalam penyusunan Laporan Keuangan UMKM di Kota Padang Panjang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan metode kuesioner. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif terhadap data primer yaitu untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi penerapan SAK - EMKM dalam penyusunan laporan keuangan UMKM kota Padang Panjang, dimana subjek penelitian menggunakan pendekatan purposive sampling dengan margin error 5 % sehingga jumlah sampel pelaku usaha mikro dan kecil ditargetkan berjumlah 400 responden yang diukur dengan penyebaran kuesioner skala Likert. Untuk pengabsahan data, peneliti memperhatikan analisa terhadap validitas dan reliabilitas dari hasil pengisian skala penelitian. Received: 4 Des 2025 Revised: 7 Jan 2026 Accepted: 7 Jan 2026 Published: 20 Jan 2026 Kata kunci: Penerapan SAK-EMKM latar belakang Pendidikan pemilik UMKM Ukuran Usaha Umur Usaha. Ini adalah artikel akses terbuka di bawah lisensi CC BY-SA. Penulis yang sesuai: Putri Nadia Departemen ekonomi. Fakulty ekonomi dan bisnis Universitas Putra Indonesia YPTK Padang, indonesia Email: putrinadia@upiyptk. PENDAHULUAN Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) merupakan salah satu yang dapat menggerakkan perekonomian di Indonesia (Tatik, 2. Sebagai penggerak perekonomian di Indonesia. UMKM mampu membukal apangan pekerjaan baru sehingga menyerap tenaga kerja Ismadewi et al. , 2. Menurut (Sulistyawati, 2. Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) memiliki potensi yang besar dalam menggerakkan kegiatan ekonomi masyarakat, bahkan UMKM merupakan tumpuan sumber pendapatan sebagian besar masyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, oleh sebab itu salah satu priorates dalam rencana kerja pemerintah adalah pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Dalam pengembangan UMKM yang ada di Indonesia, berbagai kegiatan dan program pun dilaksanakan oleh Pemerintah pusat dan daerah. Dalam Undang- undang No. 20 tahun 2008 tentang usaha Mikro. Kecil dan Menengah menyatakan bahwa pemerintah pusat dan daerah bersama-sama memberdayakan dan mengembangkan UMKM yang ada. Hal ini bertujuan untuk menumbuhkan dan mengembangkan usahanya dalam rangka membangun perekonomian nasional. Tidak terkecuali provinsi Sumatera Barat, provinsi yang memimiliki 19 kota dan kabupaten ini menyumbang adil Homepage jurnal: https://rcf-indonesia. org/jurnal/index. php/JOSEAMB/index A ISSN: 2828-3031 pertumbuhan ekonominya nasional dengan membantu menciptakan lapangan pekerjaan di daerah Sumatera Barat berdasarkan data dari BPS Sumatera Barat berikut disajikan data UMKM di Sumatera Barat pada tahun 2023. Wilayah Jumlah Persentase SUMATERA BARAT (Provins. Kepulauan Mentawai Pesisir Selatan Kab. Solok Sijunjung Tanah Datar Padang Pariaman Agam Lima Puluh Kota Pasaman Solok Selatan Dharmasraya Pasaman Barat Padang Kota Solok Sawahlunto Padang Panjang Bukittinggi Payakumbuh Pariaman 0,80 7,32 6,40 5,01 7,78 7,51 9,75 8,19 4,48 2,68 3,86 6,65 15,46 1,70 1,50 1,57 3,83 3,27 2,26 Dari data diatas dapat dilihat bahwa UMKM di Sumatera Barat didomnasi oleh kota Padang. Namun ada hal yang menarik, kota Padang Panjang merupakan kota kecil di provinsi Sumatera Barat namun memiliki perkembangan UMKM yang cukup peatdalam 3 tahun terakhir hal ini diungkapkan oleh kepala vabang Bank Nagari Padang Panjang Imelda dalam dialog RRI Bukit Tinggi. Tahun 2021 jumlah UMKM kota Padang Panjang sebanyak 12. 444, tahun 2022 sebanyak 13. 668 dan tahun 2023 meningkat menjadi 19. 795 UMKM. Hal ini menunjukan minat masyarakat yang semakin meningkat akan kesadaran berwirausaha. Namun banyak pengusaha UMKM yang belum memiliki kesadaran akan pentingnya pencatatan laporan keuangan bagi bisnisnya. Meskipun peraturan penyusunan laporan keuangan sudah ditetapkan namun masih banyak pengusaha UMKM yang belum menerapkannya. Hal tersebut disebabkan karena mereka masih merasa kesulitan dan kurang memahami pentingnya laporan Pedoman UMKM dalam membuat laporan keuangan adalah menggunakan Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil dan Menengah (SAK EMKM). Standar Akuntansi Keuangan Entitas Mikro Kecil dan Menengah adalah standar akuntansi yang lebih sederhana dibandingkan SAK ETAP karena dasar pengukurannya menggunakan biaya historis. Artinya UMKM cukup mencatat aset serta liabilitasnya sebesar biaya perolehannya (IAI : 2. Standar EMKM ini merupakan standar yang mampu berdiri sendiri serta dapat digunakan untuk entitas yang telah memenuhi definisi dari SAK ETAP. Dengan adanya SAK EMKM ini diharapkan mampu menjadi pendorong literasi keuangan bagi UMKM di Indonesia serta mampu memperluas JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 JOSEAMB ISSN: 2828-3031 akses pembiayaannya sehingga persepsi pengusaha UMKM akan pentingnya pembuatan laporan keuangan juga semakin meningkat. Menurut Rudiantoro . salah satu yang mempengaruhi pemahaman UMKM dalam Menyusun laporan keuangan yaitu tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan diperoleh dalam sekolah formal seperti Sekolah Menengah Atas (SMA). Diploma, dan Sarjana. Pemilik UMKM dengan latar belakang pendidikan selain akuntansi atau ekonomi cenderung lebih lama dan sulit dalam memahami penyusunan laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM daripada pengusaha UMKM dengan latar belakang pendidikan akuntansi atau ekonomi. Faktor selanjutnya yang mempengaruhi pemahaman UMKM dalam menyusun laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM adalah ukuran usaha. Ukuran usaha yaitu skala yang menunjukan besar atau kecilnya sebuah organisasi atau perusahaan yang dapat diukur menggunakan beberapa cara (Suastini et al. , 2. Cara untuk melihat sebuah ukuran perusahaan, yaitu dapat dilihat dari nilai aset perusahaan, jumlah karyawan, dan volume penjualan. Ukuran usaha yang semakin besar, maka akan mempengaruhi pemahaman dalam penyusunan laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM. Penelitian Andayani et al. , . , menyatakan bahwa ukuran usaha berpengaruh signifikan terhadap pemahaman penyusunan laporan keuangan berdasarkan SAK EMKM. Faktor lainnya yang mempengaruhi penerapan SAK EMKM adalah umur usaha. Umur usaha menggambarkan berapa lama perusahaan tersebut sudah beroperasi. Semakin lama usaha berjalan mengakibatkan adanya perkembangan usaha yang mengarah positif maupun negatif (Aufar, 2. Umur usaha pengalaman perusahaan dalam berbagai kondisi yang terjadi dalam dunia bisnis. Usaha yang lama berdiri dapat dikatakan sudah mengetahui iklim dagang dan persaingan yang mempengaruhi perusahaan tersebut. Penelitian ini mengacu kepada penelitian yang dilakukan oleh Dewi . yang berjudul faktor faktor yang mempengaruhi penerapan SAK-EMKM pada UMKM di kota Padang. Yang membedakan penelitian penulis dengan penelitian sebelumnya adalah objek penelitian yang mana penelitian terkait penerapan SAK -EMKM ini belum pernah dilakukan di Kota Padang Panjang. Dari fenomena terjadi peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan rumusan masalah terdiri dari Apakah latar belakang Pendidikan pemilik UMKM berpengaruh terhadap penerapan SAK EMKM pada penyusunan laporan keuangan UMKM kota Padang Panjang? Apakah ukuran usaha berpengaruh terhadap penerapan SAK EMKM pada penyusunan lapopran keuangan UMKM kota Padang Panjang? Apakah umur usaha berpengaruh terhadap penerapan SAK EMKM pada penyusunan lapopran keuangan UMKM kota Padang Panjang? TINJAUAN LITERATUR Standar Akuntansi Keuangan EMKM Menurut SAK EMKM:2018, laporan keuangan EMKM berupa Laporan Posisi Keuangan. Laba Rugi & Catatan Atas Laporan Keuangan. Laporan Posisi Keuangan menginformasikan aset, liabilitas dan ekuitas entitas akhir periode. Sedangkan Laporan kinerja/Laba Rugi menyajikan informasi akumulasi pendapatan, beban keuangan dan beban pajak yang merupakan laporan kinerja entitas dalam satu periode. Regulasi laporan keuangan dalam SAK EMKM dasar pengukurannya menggunakan dasar biaya historis. Artinya pengakuan sebuah aset disajikan berdasar nilai saat diperoleh yaitu sebesar kas yang dikeluarkan entitas. Demikian sebaliknya, liabilitas diukur sebesar kas yang diterima waktu terjadinya sebuah transaksi liabiltas atau sebesar kas yang akan dibayarkan entitas. Penyajian sebuah Laporan Keuangan harus wajar dengan syarat penyajian informasi yang relevan. Indikator penerapan SAK-EMKM menurut (Badria dan Diana, 2. terdiri dari : Metode penyusunan laporan keuangan. Kecukupan laporan keuangan. Ketaatan pada SAK EMKM. Latar Belakang Pendidikan pemilik UMKM Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan A ISSN: 2828-3031 spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Latar belakang pendidikan meliputi pengajaran keahlian khusus. Pengertian latar belakang pendidikan disini adalah latar belakang pendidikan formal. asal 3 UU. 20 th 2. Pemilik UMKM dengan latar Pendidikan yang tinggi biasanya punya literasi dan ilmu mengenai pentingnya penerapan standar akuntansi keuangan di usahanya. Indicator latar belakang Pendidikan pemilik UMKM menurut (Sulistyawati, 2. dibagi menjadi: Pendidikan ekonomi. Pengetahuan ekonomi. Ukuran usaha Menurut Martika . Ukuran usaha menunjukkan kemampuan sebuah UKM dalam mengelola usahanya dengan melihat berapa banyak jumlah karyawan yang dipekerjakan pada UKM tersebut dan berapa besar pendapatan yang diperoleh UKM dalam satu periode akuntansi. Sehingga dalam usaha untuk memperoleh hasil yang maksimal bagi UKM, para pelaku UKM harus mempertimbangkan jumlah karyawan yang dipekerjakan dan bagaimana mengelola usaha agar pendapatan yang diperoleh UKM dapat maksimal, dapat menunjukkan seberapa efektif perusahaan memperoleh pendapatan. Indicator ukuran usaha menurut (Sulistyawati, 2. terbagi menjadi : Pegawai. Penjualan. Aset UMKM Umur usaha Umur usaha merupakan lamanya suatu usaha beroperasi. Mulai dari perusahaan berdiri sampai Umur suatu usaha menunjukkan pengalaman atau eksistensinya dalam dunia bisnis. Dengan pengalaman yang cukup lama, pemilik usaha akan meningkatkan kreatifitas bisnisnya agar usahanya tetap berjalan dan tidak ditinggalkan oleh pelanggannya. Oleh sebab itu, diperlukan pengambilan keputusan yang tepat dan akurat agar usahanya dapat bersaing dengan usaha-usaha lainnya. (Febriyanti Indicator umur usaha menurut (Ningsih , 2. adalah jumlah waktu dalam mengelola Latar Belakang Pemilik UMKM (X. Standar Akuntansi Keuangan EMKM Ukuran Usaha (X. Penerapan SAK EMKM (Y) Umur Usaha (X. METODE Desain Penelitian Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kuantitatif, karena data yang didapat memungkinkan digunakan teknik analisis statistik. Menurut Sugiyono . metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian yang berdasarkan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu. Desain penelitiannya adalah penelitian deskriptif terhadap data sekunder yaitu untuk mengevaluasi penerapan standar Akuntansi Keuangan EMKM berdasarkan latar belakang Pendidikan pemilik usaha. Ukuran usaha, dan umur usaha pada Usaha Mikro Kecil di Kota Padang Panjang. Lokasi JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 JOSEAMB ISSN: 2828-3031 Penelitian ini dilakukan di KotaPadang, dengan mendatangi pelaku Usaha Mikro Kecil dan dinas terkait guna mengumpulkan data penelitian. Populasi dalam penelitian ini adalah UMKM di Kota Padang Panjang sebanyak 9089 dan sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 400 UMKM. Yang di tentukan menggunakan metode purposive sampling. Subjek dipilih berdasarkan kriteria yakninya mempunyai usaha yang tergolong kedalam Usaha Mikro dan Kecil dan telah berdiri lebih dari 5 tahun. Total subjek penelitian yang digunakan berdasarkan Slovin dengan margin error 5% yakni: n = N / . Ne. n = 9089 / . 089 x 0. n = 399,95 n= 400 Dimana n merupakan nilai sample dan e merupakan margin error yang ditetapkan sedangkan N merupakan jumlah populasi yang merupakan subjek penelitian. Sehingga dari hasil perkalian tersebut didapatkan bahwa subjek penelitian akan mengambil sampel sebanyak 400 responden pelaku usaha mikro dan kecil di Kota Padang. Data dan Sumber Data Data dalam penelitian ini berupa data kuantitatif yang bersumber dari dari hasil pengisian skala yang diisi oleh pelaku Usaha Mikro Kecil di Kota Padang Panjang yang telah berdiri lebih dari lima . tahun Teknik Pengumpulan Data Dalam pengumpulan data untuk penelitian ini, peneliti mengunakan teknik pengumpulan data dengan melakukan penyebaran skala penelitian untuk diisi oleh pelaku Usaha Mikro Kecil di Kota Padang Panjang yang telah berdiri lebih dari lima . HASIL DAN PEMBAHASAN Uji statistik deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran umum mengenai data penelitian yang diperoleh dari 400 responden Tabel 1 Statistik Deskriptif Variabel Variabel Minimum Maximum Mean X1 (Pendidika. X2 (Ukuran Usah. X3 (Umur Usah. Y (Penerapan SAK-EMKM) 1,00 1,00 1,00 1,00 5,00 5,00 5,00 5,00 3,00 3,00 3,00 3,00 Std. Deviation Sumber: Data diolah . Statistik deskriptif dilakukan untuk memberikan gambaran umum mengenai data penelitian yang diperoleh dari 400 responden. Dengan uji ini, peneliti dapat mengetahui kecenderungan jawaban responden, seberapa tinggi atau rendah persepsi mereka terhadap setiap variabel, serta bagaimana variasi jawaban antar responden. Berdasarkan Tabel 1 terlihat bahwa nilai rata-rata . untuk seluruh variabel berada pada angka 3,00 dari skala 1Ae5. Hal ini menunjukkan bahwa secara umum responden memberikan jawaban pada kategori sedang atau cukup setuju. Standar deviasi yang berkisar di angka 1 menunjukkan adanya variasi jawaban yang cukup besar antar responden. Dengan kata lain, ada sebagian pelaku UMKM yang sudah berada pada tingkat yang tinggi dalam hal pendidikan, ukuran, maupun umur usaha, tetapi ada juga yang masih rendah. Temuan ini memberikan indikasi awal bahwa kondisi UMKM cukup beragam dan perlu dianalisis lebih lanjut A ISSN: 2828-3031 Tabel 2 Uji Reliabilitas (CronbachAos Alph. Variabel Jumlah Item CronbachAos Alpha Kriteria X1 (Pendidika. X2 (Ukuran Usah. X3 (Umur Usah. Y (SAK-EMKM) Sumber: Data diolah . Reliabel Reliabel Reliabel Reliabel Uji reliabilitas digunakan untuk mengetahui sejauh mana instrumen penelitian . dapat dipercaya atau konsisten dalam mengukur variabel yang dimaksud. Instrumen yang reliabel akan memberikan hasil yang relatif sama jika diujikan kembali pada kondisi yang serupa. Patokan yang digunakan adalah nilai CronbachAos Alpha Ou 0,70, yang berarti instrumen dapat dikatakan Hasil pada Tabel 2 menunjukkan bahwa keempat variabel penelitian memiliki nilai CronbachAos Alpha di atas 0,70. Variabel Y (SAK-EMKM) bahkan memiliki nilai reliabilitas tertinggi yaitu 0,948 yang berarti sangat konsisten. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa instrumen penelitian ini reliabel dan layak digunakan untuk pengolahan data lebih lanjut. Tabel 3 Uji Normalitas (Kolmogorov-Smirno. One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test Unstandardized Residual Normal Parameters,b Most Extrime Differences Kolmogorov-Smirnov Asymp. Sig, . -taile. Sumber: Data diolah . Mean Std. Deviation Absolute Positive Negative 0,000000 1,000,000 0,050 0,070 -0,066 0,050 0,270 Uji normalitas dilakukan untuk memastikan bahwa data residual dalam model regresi terdistribusi normal. Asumsi normalitas sangat penting karena regresi linier menggunakan pendekatan parametrik yang mengharuskan residual mengikuti distribusi normal agar uji signifikansi Berdasarkan Tabel 3 dapat dilihat bahwa nilai Kolmogorov-Smirnov Z = 0. 050 dengan Asymp. Sig. = 0. Karena nilai signifikansi lebih besar dari 0. 05, maka dapat disimpulkan bahwa data residual berdistribusi normal. Adapun nilai Most Extreme Differences menunjukkan sebaran data antara positif dan negatif yang masih berada pada batas normal. Dengan demikian, asumsi normalitas terpenuhi dan model regresi dapat dilanjutkan. JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 JOSEAMB ISSN: 2828-3031 Tabel 4 Uji Multikolinearitas Collynearity Statistic Variabel Tolerance VIF X1 (Pendidika. 0,991 1,009 X2 (Ukuran Usah. 0,991 1,009 X3 (Umur Usah. 0,999 1,001 Sumber: Data diolah . Uji multikolinearitas bertujuan untuk mengetahui apakah antarvariabel independen terjadi hubungan yang sangat tinggi. Jika hal ini terjadi, maka akan menyulitkan model regresi dalam memisahkan pengaruh masing-masing variabel independen. Deteksi dilakukan melalui nilai Tolerance dan VIF Tabel 6 Uji Koefisien Determinasi (RA dan Adjusted RA) Model 0,489a R Square 0,239 Adjusted R Square Std. Error of The Estimate 0,234 0,980 Sumber: Data diolah . (Variance Inflation Facto. Jika Tolerance > 0. 10 dan VIF < 10, maka model dinyatakan bebas dari Dari Tabel 4 terlihat bahwa seluruh variabel independen memiliki nilai tolerance mendekati 1 dan nilai VIF sangat rendah, yakni sekitar 1. Hal ini menunjukkan tidak adanya masalah multikolinearitas, sehingga variabel X1. X2, dan X3 dapat digunakan secara bersama-sama dalam model regresi. Model Tabel 5 Uji Heteroskedastisitas (Glejse. Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients Std. Beta Error 0,012 0,050 0,000 0,001 0,010 -0,005 -0,004 0,009 0,030 0,007 0,007 0,050 Sig. 1 (Constan. 0,240 0,810 X1 (Pendidika. 0,070 0,944 X2 (Ukuran Usah. -0,450 0,860 X3 (Umur Usah. 1,010 0,033 Sumber: Data diolah . Uji heteroskedastisitas dilakukan untuk mengetahui apakah terdapat ketidaksamaan varians pada residual dari satu pengamatan ke pengamatan lain. Model regresi yang baik seharusnya memiliki varians residual yang homogen . Dalam uji Glejser, jika nilai signifikansi > 0. maka tidak terjadi heteroskedastisitas. Dari Tabel 5 terlihat bahwa nilai signifikansi seluruh variabel > 0. 05, yang berarti tidak ada pengaruh signifikan dari variabel independen terhadap residual absolut. Dengan demikian, model ini tidak mengalami heteroskedastisitas dan memenuhi asumsi homoskedastisitas. ISSN: 2828-3031 Tabel 6 Uji Koefisien Determinasi (RA dan Adjusted RA) Model 0,489a R Square Adjusted R Square 0,239 Std. Error of The Estimate 0,234 0,980 Sumber: Data diolah . Uji koefisien determinasi digunakan untuk mengetahui seberapa besar kemampuan variabel independen dalam menjelaskan variabel dependen. Semakin tinggi nilai Adjusted RA, semakin baik model dalam menjelaskan variasi yang terjadi. Tabel 6 menunjukkan bahwa nilai Adjusted RA adalah 0. Hal ini berarti 23,4% variasi penerapan SAK-EMKM dapat dijelaskan oleh pendidikan, ukuran usaha, dan umur usaha. Sementara itu, sisanya sebesar 76,6% dijelaskan oleh variabel lain yang tidak dimasukkan dalam model penelitian Tabel 7 Uji Signifikansi Parsial (Uji . Unstandardized Coefficients Standardized Coefficients Model 1 (Constan. X1 (Pendidika. X2 (Ukuran Usah. X3 (Umur Usah. Sumber: Data diolah . 0,209 0,420 0,310 0,201 Std. Error 0,258 0,050 0,048 0,044 Sig. 0,810 8,418 6,488 4,589 0,418 0,000 0,000 0,000 Beta 0,000 0,390 0,301 0,220 Uji t dilakukan untuk mengetahui pengaruh masing-masing variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial. Dengan kata lain, uji ini menguji hipotesis apakah X1. X2, dan X3 secara individu berpengaruh terhadap penerapan SAK-EMKM. Hasil Tabel 7 menunjukkan bahwa seluruh variabel independen (X1. X2. berpengaruh signifikan terhadap Y dengan nilai signifikansi < 0. Artinya, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar ukuran usaha, dan semakin lama umur usaha, maka semakin tinggi pula tingkat penerapan SAK-EMKM. Tabel 8 Uji Signifikansi Simultan (Uji F Ae ANOVA) Model Regresion Residual Total Sum of Squares 1,110,676 3,851,824 4,962,500 a. Predictors: (Constan. X3. X2. X1 b. Dependent Variable: Y Sumber: Data diolah . JOSEAMB Vol. No. Tahun 2026 Mean Square Sig. 370,225 9,726 41,552 0,000b JOSEAMB ISSN: 2828-3031 Hasil uji menunjukkan bahwa seluruh asumsi klasik terpenuhi, model regresi layak digunakan, dan ketiga variabel independen . endidikan, ukuran usaha, umur usah. terbukti berpengaruh signifikan baik secara parsial maupun simultan terhadap penerapan SAK-EMKM DISKUSI Pengaruh Latar Belakang Pemilik UMKM terhadap Penerapan SAK EMKM Pendidikan pemilik sangat penting dalam memengaruhi penerapan SAK EMKM. Pemilik yang memiliki pemahaman dasar akuntansi lebih mampu memahami pentingnya laporan keuangan yang sesuai standar dan dampaknya terhadap akses permodalan serta pengambilan keputusan bisnis. Pengaruh Umur Usaha terhadap Penerapan SAK EMKM Umur usaha menjadi indikator kedewasaan bisnis. Semakin lama usaha beroperasi, semakin besar kemungkinan pemilik usaha menyadari pentingnya pencatatan dan pelaporan keuangan yang benar. Selain itu, usaha yang telah berdiri lama biasanya telah memiliki sistem administrasi yang lebih Pengaruh Ukuran Usaha terhadap Penerapan SAK EMKM Semakin besar skala usaha, semakin kompleks transaksi keuangan yang terjadi. Hal ini mendorong pemilik untuk menggunakan sistem pelaporan yang lebih baik, termasuk SAK EMKM. Selain itu, usaha yang lebih besar biasanya memiliki tuntutan eksternal . isalnya dari pihak perbanka. untuk menyusun laporan keuangan formal. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian mengenai Analisis Penerapan SAK-EMKM pada Penyusunan Laporan Keuangan UMKM di Kota Padang Panjang, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: Latar belakang pendidikan pemilik UMKM (X. berpengaruh signifikan terhadap penerapan SAK-EMKM. Pemilik usaha dengan latar belakang pendidikan ekonomi maupun pengalaman pelatihan akuntansi lebih mampu memahami pentingnya penyusunan laporan keuangan sesuai Ukuran usaha (X. juga terbukti berpengaruh signifikan. Semakin besar skala usaha, baik dari segi jumlah karyawan, aset, maupun volume penjualan, maka semakin tinggi pula tingkat kebutuhan dan kemampuan untuk menyusun laporan keuangan sesuai SAK-EMKM. Umur usaha (X. berpengaruh signifikan terhadap penerapan SAK-EMKM. Semakin lama sebuah usaha beroperasi, semakin matang pula pengelolaan keuangan yang dilakukan, sehingga penerapan standar akuntansi lebih mudah dilakukan. BATASAN Penelitian ini memiliki beberapa keterbatasan yang diperlukan untuk menjaga kejelasan ruang lingkup dan fokus analisis ilmiah. Pertama, penelitian ini hanya melibatkan UMKM yang berdomisili di Kota Padang Panjang, sehingga temuan yang diperoleh masih terbatas pada karakteristik sosial, ekonomi, dan tingkat literasi akuntansi pelaku usaha di wilayah tersebut. Keterbatasan geografis ini berpotensi memengaruhi variasi hasil, karena tingkat pemahaman SAK-EMKM, kapasitas pencatatan keuangan, serta dukungan lembaga di daerah lain dapat berbeda secara signifikan. Oleh sebab itu, hasil penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan untuk seluruh UMKM di Indonesia tanpa adanya penelitian komparatif di wilayah lain Kedua, penelitian ini berfokus pada sudut pandang pelaku UMKM sebagai informan utama tanpa melibatkan pihak-pihak pendukung seperti Dinas Koperasi dan UMKM, lembaga pembina usaha, maupun akuntan pendamping yang memiliki peran dalam edukasi dan implementasi SAKEMKM. Keterbatasan perspektif ini dapat memengaruhi keluasan analisis, sebab tantangan dalam A ISSN: 2828-3031 penerapan SAK-EMKM tidak hanya datang dari pelaku usaha, tetapi juga terkait dengan ketersediaan pelatihan, kebijakan pendukung, serta infrastruktur pencatatan yang difasilitasi oleh instansi terkait. Ketiga, metode penelitian yang digunakan bersifat kualitatif, sehingga sangat bergantung pada kualitas wawancara, dokumentasi, dan interpretasi peneliti. Meskipun validasi data telah dilakukan melalui triangulasi sumber, potensi subjektivitas dalam menafsirkan pengalaman, persepsi, dan pemahaman informan tetap tidak dapat dihilangkan sepenuhnya. Hal ini dapat memengaruhi kedalaman interpretasi mengenai bagaimana UMKM menerapkan SAK-EMKM dalam praktik kesehariannya. Walaupun demikian, keterbatasan tersebut tidak mengurangi kebermaknaan temuan penelitian, tetapi justru memberikan arah yang jelas bagi penelitian selanjutnya. Studi di masa mendatang disarankan untuk melibatkan wilayah yang lebih luas, informan yang lebih beragam, serta menerapkan pendekatan mixed methods agar diperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai efektivitas penerapan SAK-EMKM dalam meningkatkan kualitas laporan keuangan UMKM di Indonesia. Dengan mengakui batasan ini, peneliti berupaya memberikan transparansi ilmiah dan membuka ruang bagi pengembangan kajian yang lebih mendalam pada penelitian Itu selalu lebih baik untuk mengidentifikasi dan mengakui kekurangan pekerjaan Anda, daripada membiarkannya ditunjukkan kepada Anda oleh penilai disertasi Anda. Saat mendiskusikan keterbatasan penelitian Anda, jangan hanya memberikan daftar dan deskripsi kekurangan pekerjaan Anda. Penting juga bagi Anda untuk menjelaskan bagaimana keterbatasan ini memengaruhi temuan penelitian Anda. Penelitian Anda mungkin memiliki beberapa keterbatasan, tetapi Anda hanya perlu mendiskusikan keterbatasan yang berhubungan langsung dengan masalah penelitian Anda. Misalnya, jika melakukan meta-analisis data sekunder belum dinyatakan sebagai tujuan penelitian Anda, tidak perlu menyebutkannya sebagai batasan penelitian Anda. REFERENSI