VOL 09 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL ANALISIS COMPETITIVE ADVANTAGE DALAM KAJIAN SEKTOR PEREKONOMIAN UNGGULAN KABUPATEN BIMA. PROVINSI NTB Rois Dinan. Arief Setijawan. Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesa No. Kota Bandung. Jawa Barat 40132 Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Nasional Malang Jl. Sigura - Gura No. Kota Malang. Jawa Timur 65152 e-mail: publikasi. rois@gmail. , arf_setiyawan@yahoo. ABSTRAK Penelitian ini berfokus untuk mengkaji sektor perekonomian yang memiliki daya saing di Kabupaten Bima. Kajian ini menggunakan basis data produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Bima pada tahun tahun 2017-2021. Dimana akan ditentukan lapangan usaha yang memiliki daya saing . ompetitive advantag. tertinggi dari 17 lapangan usaha yang ada. Alat analisis yang digunakan dalam menentukan lapangan usaha yang memiliki daya saing ialah analisis location quotient (LQ) dan shift-share (SS). Dalam analisisi LQ terbagi menjadi 3 tahap uji. Pertama mencari nilai static location quotient (SLQ). Kedua dilanjutkan untuk mencari nilai dynamic location quotient (DLQ). Dan yang terakhir akan dilakukan klasterisasi terhadap nilai SLQ dan DLQ yang telah diketahui. Teknik analisis static location quotient (SLQ) bertujuan untuk mengetahui posisi dari tiap-tiap sektor yang diujikan dalam terhadap sektor-sektor yang sama dalam skala regional. Sedangkan Teknik Analisis Dinamic Location Quotient (DLQ) adalah bentuk lanjutan dari SLQ dimana lebih rigit dengan menganalisis tren dari tiap-tiap sub sektor perekonomian yan diujikan. Masing-masing analisis tersebut nantinya akan menghasilkan plotting kuadran yang terbagi menjadi 4 kuadran terhadap 17 lapangan usaha dalam PDRB Kabupaten Bima yang diujikan. Pada analisis location quotient (LQ) didapatkan hasil bahwa lapangan usaha yang berada pada kuadran I (Unggula. adalah pertanian, perikanan, kehutanan, jasa keuangan dan asuransi dan juga administrasi Sedangkan pada analisis shift-share (SS) didapatkan hasil bahwa terdapat 2 lapangan usaha yang berada pada kuadran I, diantaranya adalah jasa keuangan dan informasi dan juga lapangan usaha informasi dan komunikasi. Dari kedua analisis tersebut diketahui terdapat 1 lapangan usaha yang berada pada kuadran I pada kedua analisis, yakni lapangan usaha jasa keuangan dan informasi. Kata Kunci: Pertumbuhan ekonomi. Sektor unggulan. Daya saing. Sektor Basis. PDRB ABSTRACT This study focuses on studying the competitive economic sector in Bima Regency. This study uses the Bima Regency Gross Domestic Product (GRDP) database in 2017-2021. Where will be determined business fields that have the highest competitive advantage of the 17 existing business The analytical tools used in determining competitive business fields are location quotient (LQ) and shift-share (SS) analysis. In the LQ analysis, it is divided into 3 test stages. First look for the static location quotient (SLQ) value. The second is continued to find the dy-namic location quotient (DLQ) value. And finally, clustering will be carried out on the known SLQ and DLQ values. Static location quotient (SLQ) analysis technique aims to determine the position of each sector being tested in relation to the same sectors on a regional scale. While the Dynamic Location Quotient Analysis Technique (DLQ) is an advanced form of SLQ which is more rigid by analyzing the trends of each tested economic sub-sector. Each of these analyzes will produce a quadrant plot which is divided into 4 quadrants of the 17 business fields in the Bima Regency GRDP being tested. The location quotient (LQ) analysis shows that the eight businesses in quadrant I (Superio. are Analisis Competitive Advantage Dalam Kajian Sektor Perekonomian Unggulan Kabupaten Bima. Provinsi NTB VOL 09 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL agriculture, fisheries, forestry, financial services and insurance as well as government While the shift-share (SS) analysis shows that there are 2 business fields in quadrant I, including financial and information services as well as information and communication business From the two analyzes, it is known that there is 1 business field that is in quadrant I in both analyzes, namely the financial and information services business field. Keywords: Economic growth. Leading sectors. Competitive advantages. Base Sector,GRDP PENDAHULUAN ertumbuhan ekonomi daerah erat kaitannya dengan peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB). Fluktuasi PDRB merepresentasikan tingkatan perekonomian wilayah. Dari PDRB dapat diketahui tiap-tiap lapangan usaha yang menyumbang pertumbuhan ekonomi. Dikutip dari teori Arsyad Lincoln, dimana pendekatan ini merupakan pendekatan tradisional, dimana ekonomi wilayah ini difokuskan terhadap peningkatan angka PDRB tanpa menghiraukan variabel-variabel lainnya seperti, ekalasi pertumbuhan jumlah penduduk ataupun struktur ekonomi yang terjadi. Pendekatan terhadap nilai PDRB sebagai variabel independen ini dapat merepresentasikan perekonomian rakyat ataupun kemiskinan di sebuah daerah. Hal ini dikarenakan PDRB per kapita ini merepresentasikan tingkat pendapatan di tiap-tiap lapangan yang dimanifestasikan dari 17 lapangan usaha tersebut . Tingkat pendapatan masyarakat dapat diketahui salah satunya melalui indikator fluktuasi PDRB di setiap wilayah khususnya PDRB atas dasar harga konstan (ADHK). Menggunakan PDRB atas dasar harga konstan dikarenakan dalam proses penghitungannya memakai tahun dasar. Penggunaan ini sangatlah penting khususnya untuk dipakai dalam perhitungan Produk domestik regional bruto (PDRB) . Pada tiap wilayah sangat penting untuk memperhatikan potensial besar dan juga bisa tumbuh dengan percepatan tinggi dimana disebabkan oleh beberapa potensi yang datang dari alam ataupun ini dikarenakan sektor-sektor tersebut memiliki daya saing . ompetitive advantag. untuk mempercepat perkembangannya. Hal ini dapat diartikan dengan kebutuhan modal dan sektor yang sama sektor itu bisa memberi nilai tambah yang tumbuh lebih besar bisa memproduksi dengan waktu yang cukup singkat dan jumlah partisipasi terhadap perekonomian terhadap perekonomian yang reltif cukup besar. kegiatan-kegiatan lainnya yang notabene bukan merupakan kegiatan basis, termasuk dalam kegiatan-kegiatan pada sektor pelayanan . on basi. yang merupakan sektor ekonomi yang hanya memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan wilayah tersebut sendiri. Oleh karenanya, permintaan akan sektor-sektor ini memiliki korelasi yang sangat kuat terhadap besaran tingkat pendapatan masyarakat setempat, oleh karenanya sektor-sektor ini memiliki keterikatan terhadap kondisi perekonomian setembat dan juga tidak dapat berkembang dalam melebihi pertumbuhan perekonomian wilayah. Dengan adanya pernyataanpernyataan tersebut, salah satunya sektor yang dapat menekan dalam peningkatan perekonomian wilayah untuk melebihi pertumbuhan yang bersifat alammiah adalah merupakan sektor basis. Kabupaten Bima merupakan salah satu daerah di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Kabupaten bima ini merupakan salah satu sentra penggerak perekonomian di NTB. Salah satunya. Bima merupakan sentra penghasil tanaman bawang merah di NTB. Lebih 000 Ha lahan yang menjadi sentra produksi tanaman bawang merah di Bima. Tentu hal ini akan terus berkembang seiring tingginya permintaan akan bawang merah ditingkat lokal, regional hingga kancah nasional. Dari salah satu penelitian terkait stratei pengembangan bawang merah ini dapat diketahui bahwa Kabupaten Bima ditetapkan Analisis Competitive Advantage Dalam Kajian Sektor Perekonomian Unggulan Kabupaten Bima. Provinsi NTB VOL 09 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL sebagai salah satu pemasok bawang merah dalam kanca nasional. Dari penelitian tersebut dapat diketahui bahwa kutub perekonomian wikayah di Kabupaten Bima sangatlah Hal ini dikarenakan selain pertanian yang cukup luas. Kabupaten Bima juga merupakan daerah pesisir, yang mana hal ini juga menjadi bangkitan perekonomian lainnya di Kabupaten Bima. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan dikaji melalui data PDRB ADHK Kabupaten Bima tahun 2017-2021, lapangan usaha atau sektor apa yang menjadi leading sector di Kabupaten Bima. II. METODE PENELITIAN Jenis Penelitian Penelitian berjudul AuAnalisis Competitive Advantage Dalam Kajian Sektor Perekonomian Unggulan Kabupaten Bima. Provinsi NTBAy ini merupakan penelitian dengan jenis penelitian kuantitatif. Penelitian kuantitatif merupakan penelitian yang menggunakan basis data yang bersifat angka ataupun numerical. Jenis penelitian ini dalam menarik sebuah kesimpulan dengan menggunakan data-data angka tersebut, kesimpulan yang dihasilkan bersifat eksak ataupun kesimpulan yang pasti . Metode Pengumpulan Data Pada penelitian ini menggunakan teknik pengambilana data dengan metode Metode sekunder dalam pengambilan data ini tidak melakukan metode dengan mengambil data langsung dengan cara turun lapangan. Metode sekunder adalah teknik pengambilan data menggunakan data-data instansi maupun data yang ada dalam publikasi. Pada data ini menggunakan data publikasi dari laman web Badan Pusat Statistik Kabupaten Bima. Provinsi NTB. Data yang diambil untuk diujikan adalah data produk domestik regional bruto (PDRB) time series 5 tahun terakhir, mulai dari tahun 2017-2022. Data tersebut menjadi basis data untuk menganalisis perekonomian wilayah Kabupaten Bima dan nantinya akan diketahui sektor lapangan-lapangan usaha yang berperan penting. Metode Analisis Pada penelitian ini menggunakan analisis location quotient (LQ) dan analisis shiftshare. Hal ini untuk mencari daya saing dari tiap lapangan usaha yang diujikan. Analisis LQ merupakan unit analisis perekonomian wilayah dimana bertujuan untuk mengetahui sektor basis perekonomian suatu wilayah. Dalam analisis ini akan diujikan peranan sektoe perekonomian lokal terhadap perekonomian regional. Jadi akan diketahui sektor yang paling berperan terhadap perekonoian regional di suatu wilayah . Dalam analisisi LQ terbagi menjadi 3 tahap uji. Pertama mencari nilai static location quotient (SLQ). Kedua dilanjutkan untuk mencari nilai dynamic location quotient (DLQ). Dan yang terakhir akan dilakukan klasterisasi terhadap nilai SLQ dan DLQ yang telah diketahui. Teknik analisis static location quotient (SLQ) bertujuan untuk mengetahui posisi dari tiaptiap sektor yang diujikan dalam terhadap sektor-sektor yang sama dalam skala regional. Nantinya akan diketahui apakah sektor tersebut merupakan sektor basis dalam perekonomian regional. Selain itu dengan teknik analisis ini akan diketahui apakah sebuah sektor tersebut selama ini berkembang baik dalam menyokong perekonomian regional. Sedangkan Teknik Analisis Dinamic Location Quotient (DLQ) adalah bentuk lanjutan dari SLQ dimana lebih rigit dengan menganalisis tren dari tiap-tiap sub sektor perekonomian yan diujikan . Adapun rumus untuk menganalisis SLQ dan DLQ adalah sebagai berikut . Analisis Competitive Advantage Dalam Kajian Sektor Perekonomian Unggulan Kabupaten Bima. Provinsi NTB JURNAL VOL 09 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA Gambar 1. Rumus Analisis Static Location Quotient Gambar 2. Interpretasi Analisis Static Location Quotient Gambar 3. Rumus Analisis Dynamic Location Quotient Selain itu dalam kajian ini juga menggunakan analisis shift-share. analisis shift-share dilakukan dengan cara melakukan perbandingan laju percepatan pertumbuhan sektorsektor perekonomian daerah terhadap sektor yang sama pada perekonomian nasional. Shiftshare bisa juga untuk mengidentifikasi peran perekonomian nasional dan tiap daerah tersebut terhadap perekonomian pada lingkup studi. Dalam metode analisis shift-share ini pula dapat digunakan untuk dapat menemukan penyebab-penyebab utama yang berkorelasi terhadap fluktuasi dari perekonomian suatu daerah yang dilakukan uji penelitian. Dalam hal ini faktor yang mempengaruhi tersebut dapat berasal dari luar daerah maupun dari dalam daerah bersangkutan. adapun rumus persamaan untuk menguji menggunakan anlisis shift-share adalah sebagai berikut . Gambar 4. Rumus Analisis Shift-Share i. HASIL DAN PEMBAHASAN Adapun seperti yang sudah dijelaskan, dimana pada penelitian ini akan mencari lapangan usaha yang memiliki daya saing tertinggi dalam kontribusi perekonomian Hal ini dilakukan dengan memakai 2 analisis, yakni analisis location quotient (LQ) dan juga analisis shift-share. Adapun hasil analisisi darikeduanya adalah sebagai Analisis Competitive Advantage Dalam Kajian Sektor Perekonomian Unggulan Kabupaten Bima. Provinsi NTB VOL 09 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL Analisis Location Quotient Produk domestik regional bruto (PDRB) Kabupaten Bima pada tahun 2017-2021 terus mengalami tren penaikan di hampir semua lapangan usaha. Walaupun semua lapangan usaha menunjukan tren positif dengan peningkatan di hampir semua lapangan usaha, namun ini memiliki signifikansi yang berbeda. Signifikan si yang dimaksud ialah besaran kontribusinya terhadap perekonomian wilayah. Diperlukan analisis SLQ dan DLQ untuk mengetahui sektor yang menjadi basis perekonomian wiayah di Kabupaten Bima dan juga dapat diketahui seberapa prospektif pertumbuhan dari tiap-tiap lapangan usaha ini. adapun hasil analisis SLQ PDRB Kabupaten Bima tertuang pada tabel. 1 dibawah ini. Tabel 1 Hasil Analisis SLQ PDRB Kabupaten Bima Analisis LQ Kab. Situbondo Tahun Nilai Lapangan Usaha Pertanian. Kehutanan. dan Perikanan Pertambangan dan Penggalian Industri Pengolahan Pengadaan Listrik dan Gas Pengadaan Air. Pengelolaan Sampah. Limbah dan Daur Ulang Konstruksi Perdagangan Besar dan Eceran. Reparasi Mobil dan Sepeda Motor Transportasi dan Pergudangan Penyediaan Akomodasi dan Makan Minum Informasi dan Komunikasi Jasa Keuangan dan Asuransi Real Estate Jasa Perusahaan Administrasi Pemerintahan. Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib Jasa Pendidikan Jasa Kesehatan dan Kegiatan Sosial Jasa lainnya Sumber: Hasil Analisis 2022 Pada tabel. 1 diketahui hasil analisis static location quotirnt (SLQ) PDRB Kabupaten Bima pada tahun 201702021. Untuk menginterpretasikan hasil nilai SLQ ini adalah, ketika nilai rata-rata SLQ berada pada angka >1, maka sektor ataupun lapangan usaha tersebut merupakan sektor basis. Yang mana artinya sektor /lapangan usaha tersebut merupakan lapangan usaha yang memiliki signifikansi dampak yang tinggi terhadap pertumbuhan perekonomian lokal hingga regional. Sebaliknya apabila nilai rata-rata SLQ berada pada angka . terdapat 3 lapangan usaha, pertama adalah pertanian, kehutanan dan perikanan, kedua adalah Perdagangan Besar dan Eceran. Reparasi Mobil dan Sepeda Motor dan yang ketiga adalah lapanan usaha Jasa Keuangan dan Asuransi. Ketiga lapangan usaha tersebut dapat disimpulkan merupakan lapangan usaha yang memberi signifikansi dampak yang besar terhadap perekonomian wilayah, khususnya pada lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan. Lapangan usaha tersebut memiliki nilai rata-rata SLQ 01 dimana merupakan yang tertinggi. Artinya sektor pertanian, kehutanan dan perikanan ini merupakan sektor lapangan usaha yang mempunyai signifikansi atau kontribusi besar terhadap perekonomian wilayah. Setelah diketahui nilai SLQ, selanjutnya akan dicari nilai DLQ nya. Mencari nilai DLQ ini bertujuan untuk lebih mengetahui tren per tren signifikansi dampaknya. Teknik Analisis Dinamic Location Quotient (DLQ) adalah bentuk lanjutan dari SLQ dimana lebih rigit dengan menganalisis tren dari tiap-tiap sub sektor perekonomian yan diujikan Adapun hasil analisis DLQ ada pada tabel. 2 dibawah ini Tabel 2 Hasil Analisis DLQ PDRB Kabupaten Bima Analisis DLQ Kab. Situbondo Kode Formula Perhitungan DLQ 1 gij 1 GI GI)/. G) Sumber: Hasil Analisis 2022 Pada tabel. 2 diketahui hasil analisis dynamic location Quotient (DLQ). Kuran lebih prinsip penarikan kesimpulan dari hasil analisis DLQ ini sama denan SLQ. Dimana apabila nilai DLQ >1 berarti sektor atau lapangan usaha tersebut merupakan sektor prospektif. Sektor prospektif yang dimaksudkan adalah berarti sektor atau lapangan usaha ini selain Analisis Competitive Advantage Dalam Kajian Sektor Perekonomian Unggulan Kabupaten Bima. Provinsi NTB VOL 09 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL memiliki signifikansi dampak atau kontribusi yang besar terhadap perekonomian wilayah, sektor ini memiliki perkembangan jangka panjang. Dalam jangka panjang sektor ini memiliki kecenderungan untuk terus megalami pertumbuhan. Sebaliknya apabila nilai DLQ <1 ini berarti sektor tersebut bukan merupakan sektor yang memiliki kontribusi yang besar terhadap perekonomian wilayah. Bukan hanya itu ini menunjukkan bahwa sektor tersebut memiliki kecenderungan tidak sustain apabila dikembangkan dalam jangka Pada tabel. 2 dapat diketahui bahwa lapangan usaha yang masuk dalam kategori sektor prospektif . ilai DLQ >. terdapat 6 lapangan usaha diantaranya adalah. Pertanian, kehutanan dan perikanan Pertambangan dan penggalian Penyediaan akomodasi makan dan minum Informasi dan komunikasi Jasa keuangan dan asuransi Jasa kesehatan dan sosial Hal ini dapat disimpulkan bahwa keenam sektor lapangan usaha tersebut memiliki kontribusi dampak yang besar terhadap perekonomian wilayah dan juga memiliki kecenderungan bahwa keenam sektor lapangan usaha ini akan memiliki sustainability ketika dikembangkan dalam jangka waktu yang cukup panjang. Dengan analisis DLQ ini akan sangat objektif karena analisis yang dilakukan sektor per sektor dalam kurun waktu tahun per tahun. Dari keenam lapangan usaha ini, sektor lapangan usaha pertambangan dan penggalian memiliki nilai DLQ tertinggi dengannilai DLQ sebesar 13. dengan begitu lapangan usaha pertambangan dan penggalian ini memiliki signifikansi dan sustainability yang tertinggi dari 17 lapangan usaha yang diujikan. Setelah diketahui nilai DLQ, akan dilakukan klasterisasi. Hasil klasterisasi dapat dilihat pada gambar. Gambar 5. Klasterisasi hasil analisis location quotient (LQ) PDRB Kabupaten Bima Analisis Competitive Advantage Dalam Kajian Sektor Perekonomian Unggulan Kabupaten Bima. Provinsi NTB VOL 09 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL Pada gambar. 5 dapat diketahui hasil klasterisasi dari analisis location quotient (LQ). Hasil klasterisasi didasarkan pada nilai dari hasil analisis SLQ dan DLQ. Terdapat 4 klasifikasi kuadran dalam klasterisasi ini. kuadran I merupakan kuadran dengan kategori Sektor lapangan usaha yang masuk pada kuadran ini adalah lapangan usaha yang memiliki nilai SLQ >1 dan nilai DLQ >1 (Sektor basis dan prospekti. Selanjutnya adalah kuadran II dimana kuadran ini merupakan kuadran dengan kategori potensial. lapangan usaha yang masuk dalam kuadran II ini merupakan lapangan usaha yang memiliki nilai SLQ >1 dan nilai DLQ <1 (Sektor basis namun non prospekti. Kuadran i merupakan kuadran dengan kategori berkembang. Dimana pada kuadran i sektor lapangan usaha yang masukdalam kategori ini adalah lapangan usaha yang memiliki nilai SLQ <1 dan nilai DLQ >1 . ektor non basis namun prospekti. Dan yang terakhir, kuadran IV adalah kuadran dengan kategori tertinggal, dimana lapangan usaha yang masuk dalam kategori ini adalah lapangan usaha dengan nilai SLQ <1 dan DLQ <1 . ektor non basis dan non prospekti. Pada gambar. 5 dapat diketahui dimana pada kuadran I . terdapat 3 lapangan usaha diantaranya adalah pertanian, kehutanan dan perikanan, jasa keuangan dan asuransi dan juga lapangan usaha administrasi pemerintahan. Hal ini dapat disimpulkan bahwa ketiga lapangan usaha ini merupakan lapangan usaha yang memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian wilayah maupun lokal dan juga regional. Selain itu ketiga lapangan usaha ini memiliki sustainability yang tinggi apabila dikembangkan terusmenerus dalam jangka panjang. Sebaliknya pada kuadran IV . ternyata terdapat 10 lapangan usaha yang masuk dalam kategori tersebut. hal ini menandakan bahwa 10 lapanga n usaha tersebut bukan merupakan sektor lapangan usaha basis ataupun sektor yang memberi kontribusi besar terhadap perekonomian wilayah. Selain itu 10 lapangan usaha tersebut tidak memiliki kecenderungan sustainability apabila dikembangkan dalam jangka waktu panjang. Diluar itu terdapat 4 lapangan usaha yang masuk dalam kategori mid-range pada kuadran II . dan kuadran i (Berkemban. , dimana keempatnya masih memiliki chance untuk dikembangkan sebagai sektor unggulan. Analisis Shift Share Pada penelitian ini juga akan dilakukan uji analisis shift-share tehadap PDRB Kabupaten Bima pada tahun 2017-2021. shift-share dilakukan dengan cara melakukan perbandingan laju percepatan pertumbuhan sektor-sektor perekonomian daerah terhadap sektor yang sama pada perekonomian nasional. Shift-share bisa juga untuk mengidentifikasi peran perekonomian nasional dan tiap daerah tersebut terhadap perekonomian pada lingkup studi. Adapun hasil analisis shift-share Kabupaten Bima dapat dilihat pada Tabel. Pada tabel. 3 dibawah dapat diketahui hasil analisis shift-share PDRB Kabupaten Bima pada tahun 2017-2021. Terdapat 4 ite dalam analisis shift-share diatas. Terdapat KPN yang mana kalkulasi untuk merepresentasikan pertumbuhan nasional, terdapat KPP yang merupakan representasi hasil kalkulasi pertumbuhan proporsiona, terdapat KPPW yang menggambarkan pertumbuhan pangsa wilayah dan juga terdapat PE/PB yang merupakan penjumlahan dari semuanya pada intinya dalam menarik kesimpulan pada hasil analisis shiftshare ini bertumpu pada hasil kalkulasi KPP . ertumbuha proporsiona. dan juga KPPW . ertumbuhan pangsa wilaya. dalam nilai KPP apabila nilai KPP merupakan angka negatif, maka dapat disimpulkan bahwa lapangan usaha tersebut masuk dalam kategori tumbuh lamban. Dan sebaliknya apabilai nilai KPP memiliki angka positif, makan dapat disimpulkan bahwa lapangan usaha tersebut masuk dalam kategori tumbuh cepat. Analisis Competitive Advantage Dalam Kajian Sektor Perekonomian Unggulan Kabupaten Bima. Provinsi NTB VOL 09 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL Dalam penarikan kesimpulan pada kalkkulasi KPPW, apabila nilai KPPW merupakan angka minus, maka kesimpulan yang bisa didapatkan lapangan usaha tersebut tidak memiliki daya saing. Dan sebaliknya apabila nilai KPPW merupakan angka positif, maka kesimpulan yang bisa didapatkan adalah lapangan usaha tersebut memiliki daya saing. Tabel 3 Hasil Analisis Shift-Share PDRB Kabupaten Bima Shift Share 2017-2021 Kode KPN KPP KPPW PE/PB Sumber: Hasil Analisis 2022 Dari penjelasan-penjelasan tersebut dapat diketahui ada 2 aspek yang bisa didapatkan dalam anlisis shiftshare ini, yakni percepatan pertumbuhan dan daya saing perekonomian. Dari hasil pada tabel. 3 dapat diketahui bahwa terdapat 4 lapangan usaha yang memiliki percepatan pertumbuhan yang lamban yakni diantaranya adalah lapangan usaha dengan kode B. I, dan O. keempat lapangan usaha tersebut memiliki nilai KPP minus, sedangkan 13 lapangn usaha lainnya memiliki nilai KPP plus yang berarti memiliki percepatan pertumbuhan yang relatif cepat. Sedangkan pada aspek daya saing terdapat 11 lapangan usaha yang memiliki nilai KPPW minus yang berarti 11 lapangan usaha tersebut tidak mempunyai daya saing dalam perekonomian wilayah. Selain itu terdapat 6 lapangan usaha yang memiliki nilai KPPW plus, dimana berarti lapagan usaha tersebut masuk dalam kategori lapangan usaha yang memiliki daya saing. Setelah diketahui nilai dari kedua aspek tersebut, selanjutnya akan dilakukan klasterisasi, dimana dpat dilihat pada gambar. dibawah ini. Analisis Competitive Advantage Dalam Kajian Sektor Perekonomian Unggulan Kabupaten Bima. Provinsi NTB JURNAL VOL 09 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA Gambar 6. Klasterisasi hasil analisis location quotient (LQ) PDRB Kabupaten Bima Pada gambar. 6 dapat diketahui hasil klasterisasi dari analisis shift-share (SS). Hasil klasterisasi didasarkan pada nilai dari nilai pertumbuhan proporsional (KPP) dan nilai pertumbuhan pangsa wilayah (KPPW). Terdapat 4 klasifikasi kuadran dalam klasterisasi kuadran I merupakan kuadran dengan kategori winner dengan nilai KPP plus dan nilai KPPQ plus. Pada kuadran II merupakan kuadran mixed winner dimana dengan nilai KPP minus dan nilai KPPW plus. Pada kuadran i merupakan kuadran mixed loser dimana nilai KPP plus dan nilai KPPW minus. Sedangkan pada kuadran IV merupakan kategori loser, dimana dengan nilai KPP minus dan nilai KPPW minus. Dari klasterisasipada gambar. dapt diketahui terdapat 2 lapangan usaha, diantaranya adalah informasi dan komunikasi dan juga lapangan usaha jasa keuangan dan asuransi. 2 lapangan usaha tersebut memiliki arti bahwa memiliki percepatan pertumbuhan cepat dan mempunyai daya saing. Sedangkan pada kuadran Iv . terdapat 4 lapangan usaha yang memilii arti keempat lapangan usaha tersebut memiliki percepatan pertumbuhan lamban dan tidak memiliki daya saing. IV. KESIMPULAN Pertumbuhan ekonomi daerah erat kaitannya dengan peningkatan produk domestik regional bruto (PDRB). Fluktuasi PDRB merepresentasikan tingkatan perekonomian Dari PDRB dapat diketahui tiap-tiap lapangan usaha yang menyumbang pertumbuhan ekonomi. Dalam kasus ini teknik analisis yang dipakai adalai analisis location quotient (LQ) dan analisis shift share (SS). Analisis LQ bertujuan untuk mengetahui sektor basis pada lapangan usaha yang diujikan, sedangkan analisis shift-share untuk mengetahui percepatan pertumbuhan dan juga daya saing . ompetitive advantag. dari 17 lapangan Analisis Competitive Advantage Dalam Kajian Sektor Perekonomian Unggulan Kabupaten Bima. Provinsi NTB VOL 09 NO 02 JURNAL WILAYAH DAN KOTA JURNAL usaha yang diujikan. Dalam analisis LQ dapat disimpulkan bahwa lapangan ushaa yang menjadi unggulan adalah pertanian, kehutanan dan perikanan. Hal ini dikarenakan lapangan usaha tersebut memiliki nilai SLQ >1 dan juga memiliki nilai DLQ >1. Dengan nilai tersebut lapangan usaha pertanian, kehutanan dan perikanan masuk dalam kuadran I. hal ini memiliki arti bahwa lapangan usaha tersebut merupakan sektor basis dan sektor Sedangkan pada analisis shiftshare, sektor lapangan usaha yang menjadi unggulan adalah jasa keuangan asuransi dimana memiliki nilai KPP dan KPPW positif dan Hal ini memiliki arti bahwa lapangan usaha tersebut tumbuh cepat dan juga mempunyai daya saing. DAFTAR PUSTAKA