Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 8 Nomor 4 . ISSN : 2579-9843 (Media Onlin. Implikasi Penanaman Nilai-Nilai Filosofi Pendidikan Multikultural Bagi Siswa Hindu SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas I Gede Dharman Gunawan*. I Gede Arya Juni Arta Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya. Indonesia gunawan@gmail. Abstract It is very important to instill the values of a multicultural educational philosophy from an early age in schools. Considering that Indonesia is an archipelagic country consisting of various ethnicities, races, cultures and religions. This is done as a preventive effort to minimize and prevent conflicts that arise due to various differences. By instilling the values of a multicultural education philosophy in schools, including SMPN 2 Basarang. Kapuas Regency, it is hoped that this can become a strategic effort to maintain the diversity that exists in Indonesia. Efforts to instill the values of a multicultural educational philosophy are important to be implemented at SMPN 2 Basarang. Kapuas Regency, considering the diverse cultures of the students. This research aims to examine the implications of efforts to instill multicultural educational philosophy values for Hindu students at SMPN 2 Basarang. Kapuas Regency. The method used in this research is a qualitative method in the form of narrative text, ideas, words obtained from data sources. Based on the results of the research that has been carried out, it can be seen that there are several implications of instilling the values of a multicultural educational philosophy for students at SMPN 2 Basarang. Kapuas Regency, namely: the implications of unity values, the implications of togetherness values, the implications of harmony values, the implications of diversity values, and the implications of values pluralism. It can be concluded that these five value implications bring direct changes to the understanding, characteristics and behavior of students at SMPN 2 Basarang. Kapuas Regency in viewing diversity. Such as, strengthening attitudes of tolerance, mutual respect for different beliefs and cultures, cooperation and concern for each other. Keywords: Philosophical Values. Multicultural Education. Hindu Students Abstrak Penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural sangat penting dilakukan sejak dini di sekolah-sekolah. Mengingat Indonesia sebagai negara kepulauan yang terdiri dari berbagai macam suku, ras, budaya dan agama yang beranekaragam. Hal ini dilakukan sebagai upaya preventif untuk meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik yang timbul akibat adanya berbagai perbedaan. Melalui penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural yang dilakukan di sekolah-sekolah, yang diantaranya adalah di SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas diharapkan dapat menjadi sebuah upaya strategis untuk merawat kebhinekaan yang ada di Indonesia. Upaya penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural penting dilaksanakan di SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas, mengingat kultur siswanya yang beragam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji implikasi dari upaya penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural bagi siswa Hindu di SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas. Metode yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif berupa teks naratif, gagasan, kata-kata yang diperoleh dari sumber data. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa terdapat beberapa implikasi dari penanaman nilai-nilai filosofi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pendidikan multikultural bagi siswa di SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas, yaitu implikasi nilai persatuan, implikasi nilai kebersamaan, implikasi nilai keharmonisan, implikasi nilai keberagaman, dan implikasi nilai kemajemukan. Dapat disimpulkan melalui kelima implikasi nilai tersebut membawa perubahan secara langsung pada pemahaman, karakteristik dan perilaku siswa di SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas dalam memandang keberagaman. Seperti, menguatnya sikap toleransi, saling menghormati kepercayaan dan budaya yang berbeda, kerjasama serta kepedulian antar Kata Kunci: Nilai-Nilai Filosofi. Pendidikan Multikultural. Siswa Hindu Pendahuluan Indonesia merupakan negara kepulauan yang terdiri dari berbagai ragam suku, adat, budaya dan agama. Keragaman ini tampak dari banyaknya jumlah suku atau etnis, dengan berbagai adat dan budayanya. Di mana setiap suku memiliki bahasanya tersendiri, bahkan dalam satu suku pun terkadang memiliki bahasa yang berbeda-beda. Yani Kusmarni dalam (Ningsih, 2. menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara yang besar memiliki jumlah pulau besar dan kecil sebanyak 17. Dengan populasi penduduknya berjumlah kira-kira 210 juta jiwa, yang terdiri dari 350 kelompok etnis dan adat istiadat dengan menggunakan hampir 200 bahasa dan dialek lokal yang berbeda. Di Indonesia terdiri dari 6 agama, yakni Islam. Kristen. Hindu. Budha dan Konghu Cu serta berbagai macam aliran kepercayaan lokal lainnya. Berbagai ragam jumlah penduduk, etnis, suku, agama, adat, bahasa daerah dan pulau yang ada, menjadikan Indonesia sebagai negara yang multikultural. Yaqin . menjelaskan bahwa kata multikultural merupakan kata sifat yang dalam Bahasa Inggris terdiri dari kata multi dan culture. Kata multi berarti banyak atau ragam, dan culture memiliki arti kebudayaan atau kesopanan. Dalam hal ini kultur bermakna sebagai cara bertingkah laku atau beradaptasi dengan lingkungan di sekitarnya, di mana setiap masyarakat atau kelompok memiliki keunikan serta kelebihannya tersendiri, sehingga tidak boleh ada yang mengklaim yang satu lebih unggul daripada yang lainnya. Wulandari . Raihan et al. , . mengungkapkan multikultural dapat diartikan sebagai keragaman budaya. Di mana keragaman kebudayaan ini disebabkan karena latar belakang seseorang juga berbeda-beda. Indonesia sebagai negara multikultural memberikan pengakuan terhadap berbagai etnis, suku dan kebudayaannya masing-masing yang unik, dan menganggap keragaman tersebut sebagai potensi kekayaan yang sangat luar biasa untuk kemajuan bangsa Indonesia. Di sisi lain, keragaman tersebut kalau tidak mampu dijaga dan dikelola dengan baik, akan berbalik menjadikan Indonesia rawan akan terjadinya konflik sosial yang bersifat komunal. Ningsih . menjelaskan bahwa adanya keragaman yang begitu banyak, disadari atau tidak, akan dapat menimbulkan konflik-konflik sosial apabila tidak dikelola dengan baik. Konflik tersebut muncul dikarenakan adanya perbedaan suku, budaya, agama, dan ras. Seperti contohnya konflik yang terjadi antar suku Madura dan Dayak di Sambas Kalimantan Tengah, konflik dengan isu agama di Poso dan Maluku, gerakan separatis Aceh yang salah satunya dipicu oleh adanya perbedaan yang dianggap kurang Hal ini harus segera disadari, sehingga tidak menimbulkan konflik yang mengarah pada perpecahan bangsa. Huda dalam Ilmi et al. , . menjelaskan bahwa timbulnya budaya konflik atau kekerasan di Indonesia setidaknya disebabkan oleh empat faktor pendorong, yaitu gagap akan budaya, ketidaksukaan dengan penganut agama lain, masyarakat indonesia yang intoleren, dan tidak berpihaknya politik kepada keadilan yang dilaksanakan oleh Orde Baru. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Menyikapi hal tersebut maka diperlukan suatu pemahaman yang kokoh bagi bangsa Indonesia mengenai pentingnya dalam memandang dan menghargai perbedaan. Dalam hal ini diperlukan suatu upaya secara kontinyu dan komprehensif untuk menanamkan kesadaran dan karakter untuk saling menghargai, menghormati, serta sikap dan perilaku adil kepada setiap suku bangsa, ras, adat, budaya, dan agama yang ada di Indonesia. Menyikapi hal tersebut maka diperlukan suatu upaya integral dalam suatu sistem terintegrasi yang mampu menjangkau seluruh masyarakat Indonesia yang plural. Ningsih . mengungkapkan bahwa dengan adanya pluralitas di Indonesia maka diperlukan sikap yang saling menghormati dan menghargai antar budaya satu dengan budaya yang lain, oleh sebab itu perlu dibentuk sikap atau perilaku karakter bangsa yang baik untuk menghargai budaya suku lain tetapi tetap berpedoman dengan budaya suku Dalam membentuk karakter bangsa yang mendasar dan dapat menghargai perbedaan budaya ras, adat, istiadat dan suku bangsa untuk memecahkan masalah tersebut dengan melalui pendidikan. Ilmi et al. , . menegaskan bahwa dalam upaya untuk membangun kesadaran dalam menyikapi perbedaan, dibutuhkan usaha yang serius dan terus-menerus. Sikap multikulturalisme perlu ditanamkan, bukan hanya untuk menyadari akan banyaknya perbedaan, tetapi juga mendorong setiap individu untuk dapat berkontribusi dan saling membantu dalam kehidupan bersama. Salah satu cara untuk mengajarkan sikap multikulturalisme yakni melalui dunia pendidikan. Pendidikan dimaknai bukan saja sebagai upaya pembentukan pengetahuan jasmani, tetapi juga secara rohani . , yakni mencakup Intellectual Quotient (IQ). Emotional Quotient (EQ), dan Spiritual Quotient (SQ). Berkenaan dengan hal ini. Ki Hajar Dewantoro menyatakan bahwa pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan bertumbuhnya budi pekerti, pikiran dan tubuh anak didik agar hidup selaras dengan dunianya (Soemanto & Soetopo, 2. Pendidikan merupakan upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, sehingga akan mewujudkan manusia yang bertaqwa, memiliki kepribadian dan akal budi yang luhur, sehingga mampu berinteraksi dengan baik dalam kehidupan bermasyarakat dan Berkenaan dengan hal tersebut maka pendidikan multikultural merupakan salah satu sarana yang tepat untuk dapat membangun kesadaran bagi masyarakat Indonesia yang plural. Suryana & Rusdiana . menjelaskan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan yang memperhatikan keterampilan dan pengetahuan dasar bagi warga dunia, penting bagi semua siswa, menembus seluruh aspek sistem pendidikan, mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang memungkinkan siswa bekerja bagi keadilan sosial. Filosofi atau esensi . dari pendidikan multikultural sangat penting dipahami untuk meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik akibat adanya berbagai perbedaan. Melalui penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan berbasis multikultural, diharapkan akan membuka dan merubah sikap serta mindset . siswa sebagai peserta didik agar lebih memahami dan menghargai keberagaman. Penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural juga bisa membawa manfaat untuk menguatkan pemahaman siswa mengenai falsafah bangsa tentang sashanti Bhinneka Tunggal Ika. Filosofi multikulturalisme bertujuan untuk mencegah konflik horizontal yang dapat merusak harmoni sosial. Sasaran utamanya adalah menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas dan terampil, tetapi juga mampu hidup berdampingan dalam sebuah masyarakat yang harmonis (Shandy et al. , 2. Lebih lanjut penelitian terdahulu Khaerunnisa et al. menyatakan bahwa penerapan pendidikan multikultural yang penelitiannya dilaksanakan di SDN Sukaindah 03 terdapat beberapa langkah yang sudah https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH dilakukan dalam penerapan pendidikan multikultural di SDN Sukaindah 03, yaitu yang berkaitan dengan iklim sekolah, peran guru, program dan kegiatan sekolah serta Selanjutnya tulisan Supriatin & Nasution . bahwa implementasi pendidikan multikultural di sekolah dilaksanakan dengan mendesain proses pembelajaran, mempersiapkan kurikulum dan desain evaluasi, serta mempersiapkan guru yang memiliki persepsi, sikap dan perilaku multikultur, sehingga menjadi bagian yang memberikan kontribusi positif terhadap pembinaan sikap multikultur para siswanya. Implementasi pendidikan multikultural pada kurikulum jenjang sekolah, dapat dilakukan secara komprehensif melalui pendidikan kewarganegaraan, pendidikan agama ataupun terintegrasi dengan mata pelajaran lainnya. Berdasarkan tinjauan pustaka tersebut, terdapat kurikulum pada jenjang sekolah terkait pendidikan kultukultur dan penerapannya. Hal ini penting, guna menjaga kerukunan di lingkungan sekolah, terutama sekolah yang memiliki corak heterogen di Salah satu sekolah yang memiliki corak kultur siswanya yang beragam adalah SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas. Sekolah ini berada di daerah transmigrasi asal Suku Bali, serta diimbangi dengan masyarakatnya yang banyak berasal dari Suku Dayak. Suku Banjar, dan Suku Jawa. Hal ini menjadikan SMPN 2 Basarang diisi oleh siswa dari beragam latar belakang, yang tentunya memiliki budaya beragam. Dengan adanya penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural ini bertujuan untuk menghargai keberagaman dan perbedan, yang timbul akibat adanya kemajemukan suku, ras, agama dan budaya di Indonesia. Hal ini juga dapat membangun lingkungan belajar yang inklusif di sekolah-sekolah. Dengan demikian, penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural menjadi sangat penting dan strategis diterapkan di SMP N 2 Basarang Kabupaten Kapuas mengingat kultur siswanya yang beragaman. Di mana siswa di SMP N 2 Basarang Kabupaten Kapuas tidak saja berasal dari berbagai macam suku, budaya, dan agama, tetapi juga menggunakan bahasa yang Siswa di SMP N 2 Basarang Kabupaten Kapuas belajar untuk saling menghargai keragaman budaya, etnis, dan agama, serta berada dalam lingkungan belajar yang inklusif. Penerapan nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural di sekolah merupakan upaya preventif dalam pencegahan konflik. Berdasarkan kondisi dan karakteristik siswa yang beragam di SMPN 2 Basarang tersebut, pengkajian dan pendalaman terhadap nilai-nilai filosofi pendidikan multikultur siswa sangat perlu Melalui penelitian ini pembentukan dan penguatan karakter siswa yang dimulai dari lingkungan sekolah diharapkan membawa implikasi kepada siswa tentang tata cara merawat dan menghargai keberagaman yang ada di SMPN 2 Basarang. Berdasarkan hal tersebut maka dalam penelitian ini akan dikaji lebih lanjut mengenai implikasi dari upaya penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural di SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas. Metode Rancangan dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Adapun penelitian kualitatif, data yang disajikan sebagian besar data kualitatif berupa teks naratif, gagasan, hasil wawancara yang diperoleh dari informan. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk mengembangkan pandangan secara mendetail tentang makna suatu fenomena atau Penelitian ini merupakan penelitian lapangan (Field Researc. dapat juga dianggap sebagai pendekatan luas dalam penelitian kualitatif atau sebagai metode untuk mengumpulkan data kualitatif. Sumber data yang dipergunakan adalah sumber data primer melalui informan di lapangan, dan sumber data skunder berupa hasil penelitian, https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH buku serta artikel terkait dalam penelitian ini. Di mana teknik penentuan informan dilakukan secara snoball sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipan, wawancara mendalam dan studi dokumen. Analisis data didasarkan pada analisis Miles and Huberman yakni, melalui pengumpulan data, reduksi data, display data dan kesimpulan. Ide pentingnya adalah bahwa peneliti berangkat ke lapangan untuk mengadakan pengamatan tentang suatu fenomena dalam keadaan alamiah. Fenomena yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah fenomena yang ada di lapangan, baik yang bersifat ilmiah terhadap proses pembelajaran agama Hindu, penelitian yang berkaitan dengan implikasi nilai-nilai filosofi pendidikan multikultur bagi siswa Hindu di SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas. Hasil Dan Pembahasan Nilai-nilai multikultur tidak terbatas pada pengenalan ragam budaya Indonesia dan dunia, tetapi juga berupaya membentuk sikap-sikap positif terhadap keragaman Penanaman nilai-nilai multikultur dapat dilakukan dalam setiap proses pembelajaran di kelas. Pengenalan keragaman budaya dilakukan dengan pendekatan kognitif, maka penanaman nilai-nilai multikultur lebih menyentuh aspek afeksi siswa. Nilai-nilai multikultur yang dimaksud meliputi identitas diri, kesetaraan, obyektivitas, pemahaman akan perbedaan, toleransi, dan empati. Nilai-nilai tersebut dapat ditanamkan melalui interaksi guru dan siswa di kelas. Begitu juga dengan nilai-nilai pendidikan multikultur yang terimplementasikan dalam kegiatan keagamaan di SMPN 2 Basarang. Segingga dalam penelitian ini dikaji implikasi nilai-nilai filosofi pendidikan multikultur bagi siswa Hindu di SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas. Implikasi Nilai Persatuan Menurut Kansil . , persatuan merupakan satu kata yang utuh, tidak terpecah belah, terdiri dari bermagai macam corak yang beraneka ragam menjadi suatu kebulatan. Persatuan mengandung arti kebulatan yang utuh dari berbagai aspek kehidupan yang meliputi ideologi, politik, sosial, budaya dan pertahanan keamanan yang terwujud dalam suatu wadah (Indonesi. Sila ketiga yaitu Persatuan Indonesia mengandung arti usaha yang mengarah pada pembinaan rasa rasionalisme masyarakat, menghargai sekaligus menghormati keberagaman yang dimiliki Indonesia. Indikator nilai-nilai Persatuan Indonesia sebagai berikut, . Mampu menempatkan Persatuan. Kesatuan serta kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan. Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan bangsa apabila diperlukan. Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa. Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan bertanah air Indonesia. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Mengembangkan Persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Memajukan pergaulan demi Persatuan dan Kesatuan bangsa. Lebih lanjut menurut Kansil . prinsip nilai persatuan antara lain, . Prinsip Bhinneka Tunggal Ika. Adanya mengakuan terhadap bangsa Indonesia dari segi suku, bangsa, agama, ras dan lain-lain. Prinsip nasionalisme Indonesia. Mencintai bangsa dan tidak mengangung-angungkan bangsa lain. Prinsip kebebasan negara dalam rangka Persatuan bangsa. Kebebasan itu dibatasi oleh keadaan sendiri. Prinsip wawasan Inti wawasan nusantara adakah adanya kesatuan politik, kesatuan sosial budaya, kesatuan ekonomi dan kesatuan pertahanan dan keamanan. Pemahaman nilai Persatuan Indonesia dalam konteks Pancasila. Adapun implikasi nilai persatuan melalui penanaman nilai-nilai pendidikan multikultural sebagai contoh praktis atau inspirasi pada https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH penelitian terdahulu dapat dijelaskan sebagai berikut. Wardhani . menyatakan pelaksanaan pendidikan multikultural dalam upaya membangun keberagaman dan meningkatkan persatuan. Tuntutan lingkungan pendidikan dan diimbangi pembinaan yang memadai mampu, mampu menumbuhkembangkan siswa sebagai manusia Filosofi pendidikan multikultural tentang nilai persatuan tampak jelas dalam ajaran Hindu yang menjunjung tinggi kesatuan antar manusia, bahkan dengan semua makhluk hidup. Hal ini diungkapkan dalam mantra Yajurveda berikut: yasmin sarvANi bhtAni AtmaivA bhd vijAnatah, tatra ko mohau kau uoka ekatvam anupayatau (Yajurveda. XL. Terjemahannya: Bilamana orang yang cerdas menjalankan persatuan dengan seluruh dunia yang bernyawa . dan merasakan kesatuan dengannya, lalu semua malapetaka dan keterikatan lenyap (Titib, 1. Berdasarkan hal tersebut maka ajaran dan nilai persatuan secara eksplisit diungkapkan dalam mantra Yajurveda tersebut. Mantra ini menguraikan dan mengajarkan tentang pentingnya nilai persatuan dan kesatuan antar manusia, bahkan kepada seluruh makhluk hidup yang ada di bumi ini . eluruh duni. Lebih lanjut dalam mantra tersebut dijelaskan bahwa nilai persatuan diterapkan untuk mencegah malapetaka . eperangan atau konfli. yang menyebabkan terjadinya kehancuran dan bencana bagi kemanusiaan. Nilai persatuan ini sangat penting diterapkan di SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas mengingat keberagaman siswa di sekolah tersebut, yang terdiri dari berbagai ragam agama dan suku. Berdasarkan data profil sekolah tahun 2022 disebutkan bahwa terdapat 4 agama yang dianut oleh siswa di sana, yaitu Islam. Kristen. Katolik dan Hindu. Khusus siswa yang beragama Hindu dibagi 2, yakni penganut Hindu etnis Bali dan Hindu etnis Dayak Kaharingan. Demikian juga, suku siswa yang beragam, yakni Bugis. Bali. Dayak. Jawa dan Banjar. Hal ini tentunya menimbulkan tantangan tersendiri untuk meminimalisir terjadinya konflik akibat adanya perbedaan, dan sekaligus dapat menghadirkan peluang apabila keberagaman tersebut dapat dikelola dengan baik. Dalam hal ini implikasi nilai persatuan merupakan suatu keniscayaan sebagai salah satu peluang untuk menekan sekaligus menghindari konflik yang mungkin dapat terjadi akibat adanya perbedaanperbedaan tersebut di sekolah. Hal tersebut di atas diperkuat oleh Manurung et al. , . menyatakan bahwa pendidikan multikultural kian mendesak untuk dilaksanakan di Dengan pendidikan multikultural, sekolah akan menjadi lahan untuk menghapus prasangka serta melatih dan membangun karakter siswa agar mampu bersikap demokratis, humanis, dan pluralis. Melalui pendidikan multikultural, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang aman, tentram, dan tercipta rasa saling menghargai dan rasa toleransi di antara sesama. Sejalan dengan hal tersebut di atas, menurut Wayan Sindra selaku Kepala SMPN 2 Basarang (Wawancara, 10 Agustus 2. menyatakan implikasi penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural di sekolah adalah dengan semakin tolerannya siswa kepada semua warga sekolah, karakter warga sekolah menjadi semakin baik, dan kepedulian kepada sesama tetap terjaga. Lebih lanjut menurut Sri Haryati menyatakan bahwa pelaksanaan pembelajaran multikultural di sekolah sudah dilaksanakan pada setiap mata pelajaran sesuai dengan materi yang ada di dalam pembelajaran. Serta secara lisan guru selalu menyampaikan kepada siswa tentang bagaimana menghadapi perbedaan multikultural di sekolah, sehingga rasa persatuan di sekolah tetap terjaga dengan baik (Wawancara, 10 Agustus 2. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan paparan tersebut di atas dapat diketahui bahwa penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural di sekolah memiliki implikasi kepada siswa dengan semakin toleran dan solidernya siswa kepada semua warga sekolah, karakter warga sekolah menjadi semakin baik, dan kepedulian kepada sesama tetap terjaga. Walaupun adanya perbedaan multikultural di sekolah, dengan adanya peran dari guru pendidikan agama Hindu yang menanamkan rasa persatuan kepada siswa di sekolah, sehingga persatuan tetap terjaga dengan baik di SMPN 2 Basarang. Hal tersebut di atas diperkuat oleh Maemunah et al. , . bahwa di era globalisasi ini pendidikan multikultural memiliki tugas ganda, yaitu selain menyatukan bangsa sendiri yang terdiri dari berbagai macam budaya tersebut, juga harus menyiapkan bangsa Indonesia untuk siap menghadapi arus budaya luar yang masuk. Sehingga nilai persatuan sangat penting untuk ditanamkan kepada siswa di sekolah. Implikasi Nilai Kebersamaan Kebersamaan dalam suatu masyarakat menghasilkan ketenangan dalam segala kegiatan masyarakat itu, sedangkan saling bermusuhan menyebabkan seluruh kegiatan itu terhenti (Badiuzzaman, 2. Jadi nilai kebersamaan intinya adalah memupuk kekeluargaan dengan semangat perbedaan dari berbagai unsur dan kalangan dengan hidup secara berdampingan. Nilai kebersamaan implementasinya terletak pada tiga hal, di antaranya . Kebersamaan memiliki nilai kerendahan hati. Kerendahan hati akan memampukan kita untuk bekerjasama, tidak mencari kepentingan sendiri, atau pujipujian yang sia-sia. Orang yang rendah hati tidak mencari pujian manusia. Orang yang rendah hati akan lebih mudah menganggap orang lain lebih penting/utama dari dirinya sendiri, hanya orang sombong yang mementingkan diri sendiri, . Kebersamaan memiliki nilai pelayanan. Pelayanan bukan berorientasi kepada diri sendiri, tetapi memperhatikan kepentingan-kepentingan orang lain. Artinya, untuk mencapai kebersamaan kita perlu melayani orang lain, siapapun, terutama yang membutuhkan uluran tangan kita dan . Kebersamaan memiliki nilai pikiran. Nilai-nilai kebersamaan yang harus ditanamkan dan dipupuk sangatlah sederhana, yaitu berinteraksi, berbagi dan Dengan interaksi yang intens, berdampak terhadap komunikasi antar warga yang saling menghargai serta komunitas yang nyaman dan aman. Berbagi antar sesama warga, menimbulkan rasa saling membutuhkan dan senasib sepenanggungan yang akhirnya akan menciptakan kekompakan. Mengenai nilai kebersamaan dalam agama Hindu diuraikan dalam kitab suci Rgveda sebagai berikut: SaA gacchadhvaA saA vadadhvaA saA vo manAmsi jAnatAm, devA bhAgam yatha prve saAjAnAnA upAsate (Rgveda X. Terjemahannya: Wahai umat manusia, hendaknya kamu berjalan bersama-sama, berbicara bersama-sama dan berpikir yang sama, seperti halnya para pendahulumu bersamasama membagi tugas-tugas mereka, begitulah kamu mestinya memakai hakmu (Titib, 1. Mantra Rgveda tersebut menegaskan bahwa umat manusia sebagai ciptaan yang bersumber dari Tuhan Yang Satu, hendaknya dapat berjalan beririangan secara bersamasama dan menjaga harmonisasi yang telah dijalin dari para leluhur yang telah terjaga dan diwariskan secara turun-temurun. Perbedaan suku, ras, daerah, bahasa dan agama hendaknya tidak menjadi penghalang untuk menjaga dan mempererat tali kebersamaan. Di mana masing-masing orang menjalankan swadharma . ugas dan kewajibanny. masing-masing. dan menghormati hak orang lain. https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Mengenai nilai kebersamaan tersebut, diperlihatkan secara eksplisit oleh warga SMPN 2 Basarang, baik melalui kegiatan-kegiatan keagamaan maupun ekskul di sekolah. Wayan Sindra selaku Kepala SMPN 2 Basarang (Wawancara, 10 Agustus 2. menyatakan bahwa, kegiatan di sekolah yang mencerminkan kebersamaan yang sudah berjalan adalah saling berkunjung dan bekerjasama bila ada kegiatan perayaan hari raya di sekolah. Selain itu, kegiatan keagamaan seperti pelaksanaan pasraman kilat dan juga kegiatan pesantren di sekolah dibuka secara bersama-sama. Lebih lanjut Ibu Sri Haryati sebagai Kepala Urusan (Kau. Kesiswaan di SMPN 2 Basarang mengungkapkan bahwa, kami di kesiswaan sangat mendukung semua kegiatan keagamaan yang ada di sekolah. Bahkan ada ekskul keagamaan, di mana yang beragama Islam diajarkan membaca AlQuran, yang Hindu membaca kitab bhagavadgita dan yang Kristen membaca Alkitab. Dengan tujuan bahwa setiap siswa memiliki akhlak yang baik dengan memahami kitab sucinya masing-masing (Wawancara, 29 Juli 2. Berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas, dapat dibangun sebuah pemahaman bahwa peran dari guru pendidikan agama Hindu dalam menanamkan nilainilai filosofi pendidikan multikukltur berimplikasi pada pelaksanan kegiatan keagamaan di SMPN 2 Basarang yang dilaksanakan atau dibuka secara bersama-sama. Selain itu, guru juga telah berupaya menanamkan filosofi pendidikan multikulturan pada kegiatan-kegiatan ekskul atau ekstra keagamaan yang dilakukan secara bersama-sama setiap hari jumat setelah jam pelajaran. Hal ini tentu mencerminkan rasa, sikap, dan perilaku yang mengedepankan kebersamaan kepada semua warga sekolah. Hal tersebut di atas juga diperkuat oleh Arifudin . yang menyatakan bahwa agar individu dapat berinteraksi dengan sesama di lingkungan hidupnya, maka perlu dibekali kemampuan eksis dan dapat menyesuaikan diri dalam keragaman yang ada, serta menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan bersama. Dengan demikian, mereka mampu menerima perbedaan, dan bukan apriori terhadap perbedaan. Untuk dapat memiliki sikap hidup yang demikian, diperlukan pendidikan multikultural sebab pendidikan multikultural diharapkan mampu menjadi solusi terbaik dalam menangani keragaman yang ada, baik budaya, agama, etnis, status sosial, dan sebagainya. Implikasi Nilai Keharmonisan Keharmonisan berasal dari kata harmonis yang berarti hal . selaras atau serasi, keselarasan, keserasian. Suasana yang harmonis adalah suasana selaras, serasi yang ditandai dengan adanya persetujuan dan kerjasama yang baik antara sesama yang meliputi suasana dalam bermasyarakat, saling memberi perhatian, adanya komunikasi, dan saling menghargai antar anggota masyarakat. Menumbuh-kembangkan wawasan moderasi beragama terhadap masyarakat Indonesia agar terwujud keharmonisan dan kedamaian (Listiawati, 2. Adapun Implikasi nilai keharmonisan melalui penanaman nilai-nilai pendidikan multikultural di Indonesia telah dirasakan di berbagai sekolah. Beberapa studi kasus dapat dijadikan sebagai contoh praktis atau inspirasi mengenai hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut. Pendidikan multikultural di SMPN 1 Pangkalan yang diimplementasikan dalam pembelajaran agama Islam di kelas dan dan diintegrasikan dengan kegiatan di luar kelas seperti shalat berjamaAoah, kerja bakti, memasak bersama saat perayaan hari raya qurban, lomba menghias kelas, program pergantian pengurus kelas setiap tiga bulan sekali, kegiatan ekstrakurikuler seperti kesenian, olahraga, dan pramuka telah membuat siswa terbiasa memahami hal-hal yang baik, mencintai hal-hal baik dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam hal ini siswa mampu menunjukkan karakter yang mencerminkan nilai demokrasi, kesetaraan, kebersamaan, keharmonisan, dan toleransi https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH (Atoillah & Ferianto, 2. Selanjutnya penanaman nilai-nilai pendidikan multikultural juga diterapkan di SMP Bustanul Makmur Genteng Banyuwangi dalam kurikulum 2013 pada mata pelajaran pendidikan agama Islam dilakukan dengan cara melibatkan seluruh siswa dalam semua kegiatan kesiswaan dan keagamaan tanpa membeda-bedakan antar siswa, di mana guru menjadi teladan atau contoh bagi siswa. Hal inilah yang membawa nilai keharmonisan di lingkungan sekolah (Nasrodin & Ramiati, 2. Lebih lanjut implementasi nilai-nilai pendidikan multikultural juga ditunjukkan di SMP IT Darur Rasyid Silatong Kecamatan Simpang Kanan Aceh Singkil. Di mana dilakukan pendekatan holistik, yang melibatkan aspek-aspek seperti kurikulum, model pembelajaran, suasana sekolah dan peran guru. Penekanan terhadap penilaian isi, pendekatan, dan kurikulum yang menghargai perbedaan dan tidak diskriminatif Guru berperan sentral dalam mengelola konten sekolah, memimpin proses pembelajaran, dan mengorganisir kegiatan lintas budaya. Selain itu, upaya untuk menghargai budaya lain ditekankan melalui pendekatan pedagogis, seperti memotivasi siswa untuk mempelajari berbagai bahasa suku lain sejak dini, sehingga mereka dapat memahami dan menghargai orang dari etnis yang berbeda. Hal ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan harmonis (Hadi et al. , 2. Sejalan dengan hal tersebut implikasi nilai keharmonisan dalam penerapan pendidikan multikultural secara eksplisit juga ditemukan di SMPN 2 Basarang. Menurut Wayan Sindra selaku Kepala SMPN 2 Basarang (Wawancara, 10 Agustus 2. menyatakan, implikasi yang terkait dengan peran guru agama Hindu dalam menanamkan nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural bagi siswa yakni adanya aktivitas guru agama yang mengadakan kegiatan selain proses belajar mengajar. Adanya kegiatan ekstra di sekolah serta adanya prestasi yang diraih oleh siswa. Lebih lanjut Menurut Ni Kadek Indah Wardani selaku Siswa SMPN 2 Basarang (Wawancara, 10 Agustus 2. menyatakan, penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural sangat penting bagi siswa, karena di sekolah banyak siswa yang berasal dari berbagai suku dan budaya. Hal ini agar siswa bisa menyikapi bagaimana cara berkomunikasi yang baik dengan temanteman yang bersuku lain, sehingga dapat tercipta keharmonisan dalam pergaulan di Selaras dengan hal di atas. Ibu Sri Haryati sebagai Kepala Urusan (Kau. Kesiswaan, mengungkapkan bahwa, saat perayaan hari besar keagamaan, misalnya Isa Miraj. Maulid Nabi. Nyepi, dan Natal maka semua siswa dan guru diundang, namun pada saat ritualnya hanya diikuti oleh siswa dan guru dari agama yang bersangkutan. Hal ini sebagai wujud penghormatan dan toleransi bagi setiap agama di sekolah hasil (Wawancara Jumat, 29 Juli 2. Berdasarkan data dari informan di atas dapat dibangun sebuah kerangka pemikiran bahwa penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural sangat penting bagi siswa dan telah tercermin dari perilaku yang ditunjukkan oleh guru sebagai bagian dari warga sekolah, yang berimplikasi kepada cara siswa berkomunikasi yang baik dengan teman-temannya yang bersuku lain, dan meunjukkan toleransi serta penghormatan pada perayaan agama lain, sehingga dapat tercipta keharmonisan di antara siswa SMPN 2 Basarang. Implikasi Nilai Keberagaman Setiap daerah memiliki kebiasaan yang diyakini dan dipatuhi secara turuntemurun oleh masyarakatnya. Melaksanakan kebiasaan merupakan bentuk kepatuhan terhadap nilai-nilai yang berlaku didaerah tersebut. Jika ada anggota masyarakat yang melanggar adat istiadat maka dikatakan orang itu yang tahu adat. Orang yang melanggar adat biasanya mendapat sanksi adat. Sanksi yang biasa diterima asalah dikucilkan dari https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pergaulan di masyarakat. Kebiasaan-kebiasaan yang diyakini dan dilaksanakan secara turun-temurun inilah yang disebut adat istiadat. Suku bangsa adalah kelompok manusia yang memiliki persamaan ciri dan budaya, suku bangsa sangat berkaitan dengan asalusul, tempat asal dan kebudayaan. Terdapat sekitar1. 128 suku bangsa yang ada di Indonesia. Wilayah Indonesia yang luas dan berbentuk kepulauan mempengaruhi keaneka ragaman budaya bangsa Indonesia. Beberapa sikap yang dapat diterapkan untuk menghargai keberagaman suku bangsa dan budaya yang ada di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat antara lain sebagai berikut, . Mengakui suku bangsa ayah dan ibu. Tidak menjelek-jelekkan, menghina atau merendahkan suku bangsa yang lain. Tidak membeda-bedakan asal suku bangsa dalam berteman. Membentuk kelompok belajar tanpa memilih-milih suku bangsa teman. Menyapa tetangga yang berbeda suku bangsa ketika bertemu di jalan. Membantu tetangga yang sedang mengalami kesulitan tanpa membeda-bedakan suku Menghargai dan menghormati keberagaman merupakan ajaran yang sangat esensial dalam agama Hindu yang bersumber dari kitab suci Veda. Menyikapi perbedaan yang timbul dari keberagaman, hendaknya dipandang sebagai kutub yang saling melengkapi, dan jangan dijadikan sebagai alasan untuk mendikotomikan antara satu dengan yang lain (Arta & Darsana, 2. Agama Hindu sebagai agama tertua di muka bumi senantiasa berjalan dinamis, tanpa menghilangkan keanekaragaman budaya dan identitas di mana agama ini Penghargaan terhadap keberagaman ditunjukkan dalam agama Hindu dengan memberikan penghormatan yang sama pada setiap agama yang ada, ataupun terhadap cara pemujaan yang dilakukan oleh setiap orang darimanapun berasal . anpa memandang suku, daerah, kepercayaanny. Hal ini ditegaskan oleh tokoh besar Hindu SwAm VivekAnda. Sebagaimana aliran sungai yang berbeda, mempunyai sumber pada tempat yang berbeda-beda, semua menumpahkan airnya di laut, jadi wahai Tuhan, jalan yang berbeda yang ditempuh manusia, melalui kecenderungan yang berbeda, walaupun tampaknya beraneka ragam, baik yang bengkok maupun yang lurus, semuanya menghantar pada-Mu jua (VivekanAnda, 2. Keberagaman budaya tersebut lahir menjadi keunggulan sekaligus tantangan pihak sekolah dalam menjaga nilai kerukunan dan persatuan antar sesama warga sekolah (Permana, 2. Selaras dengan ajaran mengenai keberagaman tersebut, maka nilai-nilai keberagaman juga telah diimplementasikan di SMPN 2 Basarang melalui upaya penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural di sekolah. Menurut Sukarni selaku Wakasek Kurikulum SMPN 2 Basarang (Wawancara, 10 Agustus 2. menyatakan, guru pendidikan agama Hindu sebagai pendidik membantu siswa Hindu untuk mengerti dan menghargai siswa yang beragama Islam dan Kristen dari suku, budaya, dan nilai-nilai yang berbeda. Lebih lanjut menurut Wayan Sindra selaku Kepala SMPN 2 Basarang (Wawancara, 10 Agustus 2. menyatakan, dengan adanya pembelajaran materi multikultural, siswa dapat memahami betapa pentingnya keberagaman budaya sebagai kekayaan budaya bangsa yang ada di lingkungan sekolah. Berdasarkan hasil wawancara dengan kedua informan di atas dapat dipahami bahwa dengan adanya penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultur di SMPN 2 Basarang berimplikasi mengajarkan siswa untuk mengerti dan menghargai siswa yang lainnya yang berasal dari suku, budaya, dan nilai-nilai agama yang berbeda. Serta siswa dapat memahami betapa pentingnya keberagaman budaya sebagai kekayaan budaya bangsa yang ada di lingkungan SMPN 2 Basarang. Hal tersebut di atas diperkuat pula oleh Nurcahyono . bahwa pendidikan multikultural yang ada di Indonesia sekarang ini tidak lepas dari sejarah dimasa lampau, yaitu semboyan Bhinneka Tunggal sebagai https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH politik kebudayaan di jaman Kerjaan Majapahit dan Peristiwa reformasi yang melahirkan demokrasi dengan menjujung tinggi persamaan hak pada setiap warga negara khususnya dalam mengakses pendidikan. Implikasi Nilai Kemajemukan Kemajemukan merupakan karakteristik budaya yang dimiliki Indonesia. Kemajemukan budaya tersebut merupakan kekayaan bangsa yang harus dipertahankan. Kemajemukan disebut juga dengan keberagaman yang memiliki kata dasar ragam. Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia (KBBI), ragam berarti . sikap, tingkah laku, cara . macam, jenis . musik, lagu, lagam . warna, corak . tata bahasa. Hal tersebut merupakan keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia. Masyarakat majemuk ke dalam dua hal yaitu pembelahan horizontal dan pembelahan vertikal. Secara horizontal, masyarakat majemuk dikelompokkan berdasarkan ras, bahasa daerah, adat istiadat, agama, pakaian, makanan dan budaya lain. Secara vertikal, dikelompokkan berdasarkan penghasilan, pendidikan, pemukiman, pekerjaan dan kedudukan sosial politik. Kategori tersebut menjadikan masyarakat Indonesia sebagai masyarakat majemuk. Kemajemukan Indonesia terlihat dengan banyaknya etnis atau suku bangsa. Indonesia memiliki beragam etnis atau disebut juga dengan multisubetnis. Bangsa Indonesia terdiri dari ratusan etnis, agama, budaya dan adat istiadat, yang tersebar di 000 pulau besar dan kecil, serta memiliki ratusan bahasa daerah (Thohari. Hampir di setiap pulau memiliki lebih dari satu etnis atau suku bangsa. Akan tetapi beberapa suku menjadi suku mayoritas dan minoritas pada suatu pulau tersebut. Kemajemukan Indonesia yang lain juga terlihat berdasarkan jumlah penduduk yang besar, wilayah yang luas, kekayaan alam dan daerah tropis, persebaran serta jumlah pulau yang banyak. Kemajemukan tidak selalu menciptakan keindahan, keunikan dan hal positif lainnya. Kemajemukan tersebut juga berpotensi sebagai suatu ancaman. Ancaman tersebut berupa perpecahan antar kelompok, kecemburuan sosial dan lain sebagainya. Agar tidak tercipta kesalahpahaman seperti itu, maka kesadaran untuk menghargai, menghormati serta menegakkan prinsip kesetaraan harus tercipta. Apabila kesadaran seperti itu sudah tercipta, antar individu maupun kelompok, dapat saling mengenal, memahami, menghayati dan saling berkomunikasi maka tujuan pendidikan multikultural yang diterapkan dapat tercapai. Kemajemukan sendiri merupakan hal yang niscaya dalam agama Hindu. Di mana jika Tuhan ingin menciptakan satu jenis manusia atau makhluk hidup dan satu jenis agama tertentu . pasti tiada yang mampu menentang kehendakNya, tetapi nyatanya Beliau menciptakan kemajemukan . Memahami hal tersebut maka agama Hindu sangat menghormati dan menghargai berbagai perbedaan yang ada sebagai implikasi dari Hal ini ditegaskan sebagai berikut: Ayam nijah paroveti gananA laghuchetasAm. UdAracharitAnAm tu vasudhaiva kutumbakam (Hitopadesha, 1. Terjemahannya: Ini adalah keluarga saya dan itu adalah orang asing, cara berpikir adalah perhitungan untung rugi dari orang yang berpikir sempit, karena bagi hati yang lapang . urah hat. , selurih bumi adalah satu keluarga (Madrasuta, 2. Pernyataan dari sloka tersebut secara tegas menyatakan bahwa agama Hindu memandang perbedaan atau kemajemukan sebagai bagian dari kesatuan. Di mana sesungguhnya tidak ada persebedaan secara esensial karena semuanya sesungguhnya adalah satu keluarga di dalam rumah yang bernama bumi ini. Pemberian penghormatan pada seluruh bentuk kehidupan merupakan sebuah ajaran yang dewasa ini dikenal sebagai https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH pendidikan multicultural. Implikasi dari ajaran ini adalah tumbuh dan menguatnya nilainilai kemajemukan bagi setiap siswa dan warga sekolah ketika diterapkan, sehingga tidak ada lagi sekat-sekat yang memisahkan antar suku, ras, budaya dan agama yang berbeda. Di mana semuanya duduk setara dalam rasa kekeluargaan. Nilai kemajemukan ini telah dirasakan oleh siswa di SMPN 2 Basarang, mengingat ragam etnis, budaya, kultur, dan agama yang ada di sana. Secara implisit siswa dapat dikatakan mampu memahami kemajemukan yang ada di sekolah, dan pentingnya mempelajari pendidikan multikultural untuk menjaga kemajemukan tersebut. Hal ini diantaranya bertujuan untuk membangun sikap positif atas keragaman yang ada, dapat menjadikan siswa sebagai warga yang bertanggung jawab, mengembangkan identitas yang inklusif dan mengajarkan siswa untuk mengevaluasi pengetahuan dari berbagai perspektif (Shandy et al. , 2. Mengenai hal tersebut. Ketut Wahyu Rian Gunawan selaku siswa SMPN 2 Basarang . awancara, 10 Agustus 2. menyatakan nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural sangat penting dipelajari, karena ada banyak suku, ras, budaya dan agama yang majemuk. Jadi pembelajaran multikultural saling mengenal, memahami, dan menghayati kebudayaan yang berbeda-beda. Selanjutnya menurut Sukarni selaku Wakasek Kurikulum SMPN 2 Basarang . awancara, 10 Agustus 2. menyatakan: nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural sebagai kebijakan sosial yang didasarkan pada prinsip-prinsip pemeliharaan budaya dan saling memiliki rasa hormat antara seluruh kelompok budaya yang majemuk di Jadi berdasarkan hasil wawancara dengan informan di atas dapat dimaknai bahwa kemajemukan suku, ras, budaya dan agama yang ada di SMPN Basarang merupakan kekayaan yang harus dipertahankan oleh seluruh warga sekolah. Implikasi nilai kemajemukan dapat dilihat dengan adanya keberagaman suku, budaya dan agama, sehingga sangat penting untuk memelihara kemajemukan suku, budaya dan agama tersebut untuk dapat saling hormat menghormati serta menghargai antar warga sekolah di SMPN 2 Basarang. Secara teori siswa memperoleh pemahaman terkait membangun sikap toleransi dan saling menghormati antar sesama siswa, sehingga dalam prakteknya membawa perubahan secara langsung pada pemahaman, karakteristik dan perilaku siswa di SMP N 2 Basarang Kabupaten Kapuas dalam memandang keberagaman. Dalam upaya penanaman nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural sangat penting dipelajari oleh siswa, juga diperlukan evaluasi dan umpan balik dari siswa mengenai penerapan pendidikan multikultural. Hal ini Nampak dari pelaksanaan kegiatan keagamaan di SMP N 2 Basarang melalui ekskul keagamaan bahwa siswa mengikuti kegiatan dengan baik. Sehingga nilai-nilai pendidikan tersebut benar-benar dipahami dan diterima oleh siswa saling mengenal, memahami, dan menghayati kebudayaan yang berbeda-beda. Kesimpulan Penerapan nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural sangat penting diterapkan di SMP N 2 Basarang Kabupaten Kapuas dalam membangun sikap toleransi dan saling menghormati, mengingat kultur siswa yang beragaman dan majemuk. Filosofi pendidikan multikultural adalah esensi atau azas dasar . yang terkandung dalam pendidikan multikultural, yang berupaya untuk mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang memungkinkan siswa untuk menerapkan asas keadilan sosial di dalam kemajemukan berbangsa dan bernegara. Melalui upaya penerapan nilai-nilai pendidikan multikultural ini diharapkan dapat meminimalisasi dan mencegah terjadinya konflik akibat adanya berbagai perbedaan suku, ras, budaya dan agama https://jayapanguspress. org/index. php/JPAH Berdasarkan hal tersebut, maka penerapan nilai-nilai filosofi pendidikan multikultural di SMPN 2 Basarang Kabupaten Kapuas memiliki beberapa implikasi, seperti: nilai persatuan, kebersamaan, keharmonisan, keberagaman dan kemajemukan. Implikasi nilai persatuan ditunjukkan dengan semakin tolerannya siswa kepada semua warga sekolah, karakter warga sekolah menjadi semakin baik, dan kepedulian kepada sesama tetap terjaga. Implikasi nilai kebersamaan dilakukan dengan saling berkunjung dan bekerjasama apabila ada kegiatan perayaan hari raya di sekolah. Kegiatan keagamaan seperti pelaksanaan pasraman kilat dan juga kegiatan pesantren di sekolah dibuka secara bersama-sama. Implikasi nilai keharmonisan tampak dengan adanya kegiatan ekstra di sekolah serta adanya prestasi yang diraih oleh siswa. Dalam berbagai kegiatan ini siswa mampu berkomunikasi dengan teman-teman yang berlainan suku bahkan Bahasa daerah yang berbeda, sehingga dapat tercipta keharmonisan dalam pergaulan di sekolah. Implikasi nilai keberagaman diperlihatkan dengan menghargai siswa yang beragama lain dari suku, dan budaya yang berbeda. Implikasi nilai kemajemukan diwujudkan dengan saling mengenal, memahami, dan menghayati kebudayaan yang berbeda-beda. Daftar Pustaka