Jurnal Good Governance Volume 17 No. September 2021 | 137 MODEL PEMBERDAYAAN MASYARAKAT DAERAH PENYANGGA KAWASAN SUAKA ALAM (Studi Kasus di Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Kabupaten Raja Ampat. Propinsi Papua Bara. Agung Setyabudi1 Widyaiswara Ahli Utama pada Pusat Pendidikan dan Pelatihan SDM Lingkungan Hidup dan Kehutanan. BPPSDM - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan setyabudi1979@gmail. Abstract This is a qualitative study with the aim of determining community empowerment model of Saporkren village as a buffer zone for Nature Reserve Area in West Waigeo Nature Reserve in Raja Ampat Regency. West Papua Province. Limited access to the use of the area encourages the formation of mutualism symbiosis between the community and the Nature Reserve. The results show that empowerment of Saporkren village community needs initial identification of community condition. the potentials of natural resources, and the target of the communities. Traditionally, the people with limited economy and skills made a living without paying attention to the preservation of forest areas. Method applied in this research is Participatory Rapid Appraisal to identify the extent of community involvement in the surrounding area. Various models of community empowerment land-based are agroforestry, community forest . umpang sari, hutan kemasyarakatan, hutan rakya. Whereas non-land-based community empowerment models are wildlife breeding, utilization of forest products, ecotourism etc. The suitable model of community empowerment in Saporkren Village Community is non-land-based ecotourism business model in accordance with the potentials of its natural resources. The forms of the model are: marine tourism. Cenderawasih (Bird of Paradis. bird watching tours, homestay development, beach tourism also snorkeling, diving and boat, equipment rentals. High commitment and assistance of involved parties such as West Papua Natural Resources Conservation Center. Fauna and Flora Indonesia and Conservation International Indonesia and Raja Ampat Regency Government are absolutely necessary. Considering supporting capacities which includes planning, institutional development, monitoring and evaluation as well as fulfillment of facilities and infrastructure are aspects that should be considered. Increasing the capacity of Saporkren community in various aspects and skills becomes the responsibility of involved parties for the community business Keywords: buffer zone, community empowerment, eco-tourism, nature reserve. Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan menentukan model pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren sebagai daerah penyangga Kawasan Suaka Alam (KSA) berupa Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat di Kabupaten Raja Ampat. Propinsi Papua Barat. Mengingat Cagar Alam dengan keterbatasan akses pemanfaatannya, maka model ini akan membentuk sinergi atau Ausymbiosis mutualismAy . aling menguntungka. antara masyarakat dengan keberadaan Cagar Alam dimaksud. Beberapa aspek yang harus dipertimbangkan dan diterapkan dalam pemberdayaan masyarakat di daerah penyangga antara lain aspek target masyarakat yang diberdayakan, tingkat keterlibatannya serta strategi dalam Elemen masyakat yang menjadi target pemberdayaannya adalah masyarakat yang mata pencahariannya sebanyak 58% dari kegiatan merambah kawasan untuk bertani, berburu satwa liar, menebang pohon di 138 | Model Pemberdayaan Masyarakat Daerabh Penangga Kawasan Suaka Alam (Studi Kasus di Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Kab. Raja Ampat. Prov. Papua Barat dalam kawasan untuk dijual kayunya . llegal loggin. masyarakat dengan tingkat pendidikan dan ketrampilan yang dimilikinya rendah serta kesejahteraannya berada di bawah garis kemiskinan. Bentuk keterlibatan masyarakat kampung Saporkren dalam pemberdayaan masyarakat utamanya adalah Sebanyak 90,9% masyarakat mempunyai kemauan untuk dilibatkan dalam usaha kegiatan pemberdayaannya untuk meningkatkan ekonominya. Untuk melakukan pendekatan kelompok dalam pemberdayaan masyarakat Kampung Saporkren harus dianalisa dengan beberapa metode pendekatan (Rapid Rural Appraisal/RRA. Participatory Rapid Appraisal/PRA. Focus Group Discussion/FGD. Participatory Learning and Action/PLA). Berdasarkan hasil Analisa metode yang cocok digunakan adalah metode PRA (Participatory Rapid Appraisa. yg dicirikan dengan langsung melibatkan masyarakat untuk mempelajari kondisi dan kehidupan kampung dari, dengan, dan oleh masyarakat, meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan Terdapat beberapa jenis kegiatan pemberdayaan masyarakat yaitu pemberdayaan masyarakat yang berbasis lahan hutan antara lain agroforestry, tumpang sari, hutan kemasyarakatan, hutan rakyat dan sebagainya dan yang berbasis non lahan hutan antara lain penangkaran satwa, pemanfaatan hasil hutan, ekowisata dan sebagainya. Berdasarkan hasil penelitian jenis kegiatan pemberdayaan masyarakat berbasis non lahan dengan pola usaha ekowisata sesuai dengan potensi sumber daya alam yang dimilikinya yaitu: wisata bahari . norkling/divin. , wisata pengamatan burung Cenderawasih, pengelolaan homestay, wisata pantai dan persewaan peralatan snorkling/diving serta perahu/speedboat. Komitmen dan pendampingan para pihak yaitu pengelola Kawasan (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat dan para mitra (Fauna dan Flora Indonesia serta Conservation Internatioanal Indonesi. serta Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat mutlak diperlukan dalam mengelola usaha bidang ekowisata dengan mempertimbangkan daya dukungnya, mulai perencanaan, kelembagaan, monitoring dan evaluasi serta pemenuhan sarana prasarananya. Peningkatan kapasitas masyarakat Saporkren dalam berbahasa Inggris, pengenalan jenis flora dan fauna, manajemen homestay dan persewaan amenities serta informasi teknologi (IT) merupakan tanggung jawab para pihak untuk kemandirian usahanya. Kata kunci: pemberdayaan masyarakat, daerah penyangga, cagar alam, ekowisata. PENDAHULUAN Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 (Departemen Kehutanan, 1. tentang Konservasi Sumberdaya Alami dan Ekosistemnya secara umum ada 2 pengelompokan besar fungsi konservasi yaitu: Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA). KSA terdiri dari: Cagar Alam (CA) dan Suaka Margasatwa (SM). Sedangkan KPA terdiri dari: Taman Nasional (TN). Taman Hutan Raya (TAHURA) dan Taman Wisata Alam (TWA). Propinsi Papua Barat mempunyai 25 kawasan konservasi dan terdapat 79 kampung yang berada di dalam maupun daerah penyangganya. Salah satu kawasan konservasi yang mudah dijangkau dari ibu kota Kabupaten Raja Ampat adalah Cagar Alam Waigeo Barat. Kondisi kawasan konservasi ini sangat unik karena berada dalam satu daratan yang dikelilingi oleh laut Pasifik yang landscapenya sangat beragam dari ekosistem daerah pantai sampai ekosistem pegunungan . rom the reef to the ridg. Kerusakan pada kawasannya akan berpengaruh terhadap kehidupan ekosistem lautnya yang merupakan spot menyelam yang terkenal di dunia internasional sehingga perlu strategi perlindungan untuk keutuhannya. Cagar Alam Waigeo Barat seluas 104. 412 hektar secara geografis terletak antara 130A16Ao BT sampai 130A56Ao BT dan 0A25Ao LS, di sekitarnya terdapat 5 kampung di Distrik Waigeo Selatan yaitu Saporkren. Wawiyai. Warsambin. Waisilip dan Lapintol merupakan daerah Jurnal Good Governance Volume 17 No. September 2021 | 139 penyangganya yang sangat bergantung pada kawasan tersebut (Fauna and Flora Indonesia (FFI), 2. terkait dengan tingkat ancaman dan gangguannya. Kampung Saporkren dipilih berdasarkan kriteria pemilihan lokasi prioritas yang terbesar pengaruhnya terhadap eksistensi Cagar Alam Waigeo Barat dibandingkan dengan kampung lainnya. Beberapa kriteria telah disusun mulai dari aksesibilitas menuju aksesibilitas masyarakat yang tergantung pada kawasan. besar/kecilnya ancaman atau gangguan terhadap kawasan mulai dari pengambilan kayu dalam kawasan, perambahan kawasan untuk kebun. kondisi social ekonominya. besar/kecilnya ketergantungan masyarakat terhadap kawasan. potensi sumber daya alam yang dimiliki. Kampung Saporkren telah terbentuk sejak tahun 1930-an yang diawali dengan kedatangan masyarakat dari suku Biak Betew. Jumlah penduduk sekitar 300 jiwa atau 117 KK dengan 4,4 jiwa per KK (Badan Pusat Statistik Kabupaten Raja Ampat, 2. Permasalahan yang patut untuk diperhatikan guna mencegah terjadinya kerusakan hutan berupa aktiAtas masyarakat seperti penebangan kayu secara ilegal, perburuan satwa liar, pembukaan areal hutan untuk berkebun merupakan masalah-masalah yang mengancam kelestarian oleh masyarakat Kampung Saprokren sekitar Cagar Alam Waigeo Barat. Selain hal tersebut, kondisi sosial ekonomi masyarakatnya merupakan masyarakat yang belum sejahtera dengan penghasilan rata-rata 1,5 juta rupiah dengan harga BBM Premium 1 liter 15 ribu rupiah (Brian S. Karowotjeng, 2. Pendapatan masyarakat kampung Saporkren per kapita berada jauh di bawah garis kemiskinan Kabupaten Raja Ampat. Pendidikan tertinggi adalah lulusan Sekolah Dasar. SMP berada di kota kecamatan sedangkan SMA berada di ibukota kabupaten. Sumber daya alam . dan manusia atau masyarakat keberadaannya saling mengkait. Hutan menyediakan produk barang dan jasa kepada masyarakat, dan masyarakat melakukan pengelolaan terhadap hutan dengan harapan untuk mendapat produk barang dan jasa hutan secara lestari. Di Papua dan Papua Barat, seluruh wilayahnya yang berupa kawasan hutan dan tanah merupakan milik masyarakat adat atau hak ulayat. Raja Ampat merupakan wilayah adat Domberay. Oleh karena itu, kontrol terhadap seluruh wilayah Papua berada pada masing-masing masyarakat adat dengan kearifan lokal terkait cara mengelola sumber daya hutannya. Dengan kearifan lokal tersebut dan aturan adat, sangat sulit dilakukan transaksi jual-beli tanah dan tidak ada sejengkalpun tanah di Papua bukan milik adat (Siburian, 2. Hal ini yang menyulitkan dalam pemecahan permasalahan konflik lahan termasuk kawasan hutan. Dari 554 unit kawasan konservasi di Indonesia hanya 53 unit . ,6%) masyarakat yang berada di daerah penyangganya yang diberdayakan. Adapun jenis keg pemberdy adalh dengan usaha home industry, peternakan, persewaan . erahu, tend. , madu, kerajinan tangan . , dan perikanan ( (Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, 2. Menurut (Tataq Muttaqin R. , 2. menyatakan bahwa Cagar Alam yang mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya, yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga kehidupan telah berubah total fungsinya yang menandakan bahwa perhatian terhadap masyarakat di sekitarnya tidak pernah tersentuh, baik dari sisi pemahaman tentang kawasan cagar alam maupun pemberdayaannya untuk menjaga keutuhan kawasan. Optimalisasi kawasan penyangga oleh masyarakat sekitar hutan, bisa menjadi alternative penangkal sekaligus 140 | Model Pemberdayaan Masyarakat Daerabh Penangga Kawasan Suaka Alam (Studi Kasus di Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Kab. Raja Ampat. Prov. Papua Barat penghambat aktivitas pemanfataan oleh masyarakat dalam wilayah Cagar Alam (Musyarofah Zuhri, 2. , termasuk CA Wegeo Barat. Penelitian di kampung Saporkren yang berada di sekitar Kawasan Cagar Alam Wageo Barat. Kabupaten Raja Ampat. Provinsi Papua Barat ini ingin membuktikan dan melihat bahwa model pemanfaatan hutan berbasis masyarakat di wilayah penyangga kawasan konservasi tersebut menjadi alternative penyelesaian masalah kerusakan hutan di Kawasan Suaka Alam. Potensi pengembangan ekonomi kreatif masyarakat di daerah penyangga Cagar Alam Waigeo Barat harus diidentifikasi dengan jelas untuk menentukan jenis kegiatan untuk peningkatan ekonomi masyarakatnya. Dari identifikasi akar masalah tersebut di atas, maka dapat disusun beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut: Elemen masyarakat Kampung Saporkren apa saja yang menjadi target pemberdayaan?. Bagaimana keterlibatan masyarakat Kampung Saporkren dalam pemberdayaan Bagaimana dalam melakukan pendekatan kelompok dalam pemberdayaan masyarakat Kampung Saporkren?. KAJIAN LITERATUR Memberdayakan masyarakat adalah upaya untuk meningkatkan harkat dan martabat lapisan masyarakat yang dalam kondisi sekarang tidak mampu untuk melepaskan diri dari perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Secara teoritis kajian dilakukan dengan konsep pemberdayaan (Kartasasmita Ginandjar, 1. , bahwa masyarakat tidak dijadikan objek dari berbagai proyek pembangunan, tetapi merupakan subjek dari upaya pembangunannya sendiri. Pemberdayaan masyarakat harus mengikuti pendekatan sebagai berikut: Pertama, upaya itu harus terarah . Ini dirancang untuk mengatasi masalahnya dan sesuai kebutuhannya. Kedua, harus langsung mengikut sertakan atau bahkan dilaksanakan oleh masyarakat yang menjadi sasaran dengan beberapa tujuan, yaitu meningkatkan keberdayaan . masyarakat dengan pengalaman dalam merancang, melaksanakan, mengelola, dan mempertanggung jawabkan upaya peningkatan diri dan ekonominya. Ketiga, menggunakan pendekatan kelompok, karena secara sendiri-sendiri masyarakat miskin sulit dapat memecahkan masalah-masalah yang dihadapinya dan ini yang paling efektif dan juga lebih efisien. Dengan kata lain memberdayakan adalah memampukan dan memandirikan masyarakat. (Ristianasari, 2. inti dari pemberdayaan ada tiga hal, yaitu pengembangan . , memperkuat potensi atau daya . , dan terciptanya kemandirian. Mengingat keinginan yang ada di masyarakat sangat banyak dan bervariasi, maka untuk dapat menjaring dan menentukannya terdapat beberapa metode menentukan keterlibatan masyarakat dalam pemberdayaan masyarakat yang langsung melibatkan masyarakat secara tepat yaitu: . RRA (Rapid Rural Appraisa. Metode ini tujuan untuk menggali sebanyak mungkin informasi tentang kondisi desa yang dilakukan oleh orang luar dan sangat sedikit melibatkan masyarakat setempat, teknik penilaian tentang kondisi desa. (Chambers, 1. PRA (Participatory Rapid Appraisa. Metode PRA ini penekanannya pada partisipasi dan pemberdayaan ( (Chambers, 1. FGD (Focus Group Discussio. dalam Jurnal Good Governance Volume 17 No. September 2021 | 141 masyarakat adalah AuRembug WargaAy yakni tradisi gotong royong yang sudah lama mengakar pada masyarakat (Fardiah, 2. PLA (Participatory Learning and Actio. PLA merupakan metode pemberdayaan masyarakat yang terdiri dari proses belajar . elalui ceramah, curah pendapat, diskus. tentang sesuatu topik seperti: persemaian, pengolahan lahan, perlindungan hama tanaman (Noor, 2011 ). METODE PENELITIAN Lokasi penelitian berada pada daerah penyangga Kawasan Suaka Alam yaitu pada masyarakat Kampung Saporkren sekitar Cagar Alam Waigeo Barat. Kabupaten Raja Ampat. Propinsi Papua Barat. Metoda yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif yaitu sebuah penelitian yang bertujuan membuat deskripsi secara faktual dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat obyek penelitian untuk memperoleh model pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren yang merupakan daerah penyangga Kawasan Cagar Alam Waigeo. Hal ini untuk memusatkan perhatian pada masalah-masalah yang ada serta mampu menggambarkan secara terinci dan mendalam mengenai fakta dilapangan. Pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren dilakukan dengan menganalisa dan mengidentifikasi kondisi masyarakatnya. menganalisa dan mengidentifikasi potensi sumber daya alam. menentukan target masyarakat. menganalisa penggunaan metoda tingkat keterlibatan dan cara pendekatannya. Jenis data dan informasi yang dikumpulkan merupakan data primer dan sekunder. Teknik pengumpulan data diperoleh dari responden, observasi di lapangan dan kajian data pendukung dan dokumentasi. Data primer potensi sumber daya alam, budaya dan SDM Kampung Saporkren sebagai daerah penyangga Cagar Alam Waigeo Barat diperoleh melalui identifikasi langsung di lapangan. Sedangkan data ekonomi dan sosial budaya masyarakat dan gangguan Cagar Alam Waigeo Barat diperoleh dari data kuisioner hasil kegiatan, wawancara dengan masyarakat serta data hasil wawancara dengan informan Untuk data sekunder diperoleh melalui literatur-literatur yang berhubungan dengan HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini al melalui tahapan. mengidentifikasi kondisi masyarakatnya. mengidentifikasi potensi sumber daya alam. menentukan target masyarakat yang menentukan tingkat keterlibatan masyarakat yang diberdayakan. menentukan metode dalam melakukan pendekatan kelompok masyarakat yang diberdayakan, strategi usaha bidang ekonomi. Kondisi Masyarakat Kampung Saporkren Kampung Saporkren keberadaannya berbatasan langsung dengan Cagar Alam Waigeo Barat yang menjadi daerah penyangga kawasan tersebut. Masyarakat kampung Saporkren berasal dari suku Biak Beteuw dan sekarang mendiami wilayah Waigeo Selatan yang merupakan bagian dari salah satu adat besar yaitu Adat Bomberay. Kontrol terhadap seluruh wilayah Papua berada pada masing-masing masyarakat adat dengan kearifan lokal terkait cara mengelola sumber daya hutanya. Dengan kearifan lokal 142 | Model Pemberdayaan Masyarakat Daerabh Penangga Kawasan Suaka Alam (Studi Kasus di Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Kab. Raja Ampat. Prov. Papua Barat tersebut dan aturan adat, sangat sulit dilakukan transaksi jual-beli tanah dan tidak ada sejengkalpun tanah di Papua bukan milik adat. Hal ini yang menyulitkan bagi pengelola wilayah Cagar Alam Waigeo Barat dalam mengamankan Kawasan. Saporkren diklasifikasikan sebagai kampung swadaya yang kondisi social ekonomi masyarakatnya merupakan masyarakat yang belum sejahtera dengan penghasilan ratarata kurang lebih 1,5 juta. Mata pencaharian umumnya berburu satwa liar, berkebun/merambah, menebang pohon di Kawasan . llegal loggin. , nelayan, petani dan pedagang. Potensi Daerah Penyangga Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat Kampung Saporkren merupakan daerah penyangga karena berada di luar dan berbatasan langsung dengan Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Berbagai potensi sumber daya alam, budaya dan SDM yang dimiliki dapat dikembangkan sebagai modal untuk kegiatan pemberdayaannya. Data yang didapatkan menunjukkan bahwa potensi sumber daya alam, budaya dan SDM merupakan peluang berbagai usaha yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan ekonominya. Tabel: Hasil Identifikasi Potensi Sumber Daya Alam. Budaya Dan SDM Kampung Saporkren sebagai Daerah Penyangga Cagar Alam Waigeo Barat Sebagai Modal Berusaha Masyarakat: Lokasi/Modalitas Potensi Peluang Luas/ Keterangan Yenpapir Pacifi. (Laut Lautnya yang masih jernih melimpahnya jenis terumbu karang dan ikan Persewaan peralatan Snorkling/ Diving 1,25 ha Letaknya di depan Saporkren Yenpapir Pacifi. (Laut Laut yang jernih dan tenang Persewaan Kayak 1 ha Depan kampung Saporkren Pantai Yenpapir/Sapork Laut yang jernih dan tenang dengan pasir putihnya Berenang Pantai yang bersih dan aman Saporkren Burung Cenderawasih Merah yang dapat dilihat pagi pukul 00 Ae 08. 00 dan sore hari 00 Ae 18. Pengamatan burung (Bird Watchin. 500 m2 Jalurnya Saporkren Burung Cenderawasih Wilson/Botak yang juga dapat dilihat pagi pukul 06. 00 Ae 08. dan sore hari pukul 16. 00 Ae Pengamatan burung (Bird Watchin. 10 m2 Perlu pembenahan jalur pengamatan kamuflase untuk Saporkren Jalan menuju spot burung Cenderawasi Merah yang mempunyai panorama yang indah dan mengesankan. Hiking dan trekking 2 km Jalurnya Laut Pacific puncak jalur Jurnal Good Governance Volume 17 No. September 2021 | 143 Pantai Yenpapir/Sapork Pinggiran pantai yang indah dengan pasir halusnya Homestay 1 km Dapat didirikan di tempat-tempat tertentu di pantai Yenpapir Budaya Tari-tarian tradisonal Pentas budaya Karang Dipersembahkan SDM Terdapat masyarakat yang ahli diving/snorkling dan terdapat masyarakat yang menguasai tempat spot Cenderawasih dan jalur trekking Pemandu wisata 8 orang Perlu dilatih untuk berbahasa Inggris SDM Keahlian ibu rumah tangga dalam mengolah hasil laut dan hasil kebun Pembuatan souvenir berupa abon ikan, keripik pisang. Ibu Ikan kakap yang SDM Terdapat masyarakat yang mengendarai perahu long boat maupun speed boat sebagai Persewaan transportasi dan alat selam/snorkel 3 buah Untuk mengantar wisatawan untuk snorkling, diving Kuliner Ikan laut yang melimpah, hasil kebun berupa pisang, pohon Kuliner bakar/seafood muda pisang goreng yang khas. Ibu Wisatawan dapat menikmati sesuai dengan seleranya Sumber: Analisis Data Primer, 2020 Elemen Masyarakat Kampung Saporkren yang menjadi Target Pemberdayannya Target masyarakat kampung Saporkren dalam pemberdayaannya: . masyarakat yang selama ini bermata pencaharian merusak Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat . erkebun dengan merambah kawasan, berburu satwa liar dan menebang kay. yaitu sekitar 58% dari populasi masyarakat, . yang ekonomin masyarakatnya berada di bawah garis kemiskinan. Indikator Kemiskinan Kabupaten Raja Ampat 2018 - 2020 bahwa Garis Kemiskinan pada tahun 2020 sebesar Rp. 488,- per kapita per bulan. Sedangkan di kampung Saporkren pendapatan per kapita per bulan untuk Kampung Saporkren sebesar Rp. 491,-. tingkat dan ketrampilan rendah dengan pendidikan rata-rata lulusan SD . %). Pemilihan Metode Pemberdayaan Masyarakat Kampung Saporkren Pemberdayaan masyarakat di daerah penyangga pada dasarnya merupakan pengelolaan partisipatif dari berbagai pihak . yang terkait dalam kegiatan pemberdayaan masyarakat. Langkah awal untuk dapat melaksanakan pengelolaan pemberdayaan masyarakat secara efektif dan efisien serta untuk dapat mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan, maka perlu adanya kesepahaman dari berbagai pihak . yang terkait, termasuk pihak pemerintah daerah setempat. 144 | Model Pemberdayaan Masyarakat Daerabh Penangga Kawasan Suaka Alam (Studi Kasus di Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Kab. Raja Ampat. Prov. Papua Barat Kegiatan pemberdayaan ekonomi masyarakat kampung Saporkren disesuaikan dengan pemanfaatan potensi sumber dayanya. Pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren bertujuan untuk meningkatkan produktivitas masyarakat melalui upaya menciptakan lapangan pekerjaan yang tidak berbasiskan lahan. Hal ini untuk menghindari konflik lahan mengingat kampung Saporkren berbatasan langsung dengan Cagar Alam Waigeo Barat. Sebanyak 89% masyarakatnya telah turun menurun bermukim di dalamnya sebelum Cagar Alam Waigeo Barat ditetapkan fungsinya. Pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren juga dimaksudkan sebagai insentif atas hilangnya akses masyarakat ke dalam kawasan tersebut. Sebagian besar masyarakat kampung Saporkren . ,9%) dapat menerima dengan kesadaran diri sendiri dan merasa senang apabila dilibatkan dan diberdayakan dalam mengikuti pelaksanaan kegiatan oleh para pihak/mitra dan persepsi terhadap pengelola kawasan Cagar Alam Waigeo Barat juga sangat baik terutama dalam keterlibatan pada Proses dan langkah-langkah yang dilakukan dengan melibatkan masyarakat kampung Saporkren untuk mempelajari kondisi dan kehidupan kampungnya dari, dengan, dan oleh masyarakat, meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan kampung, maka peenelitian ini menunjukkan bahwa metode yang cocok dipergunakan dalam pemberdayaan masyarakat adalah Metode PRA (Participatory Rapid Appraisa. Jenis Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Kampung Saporkren Beberapa usaha yang saat ini banyak diterapkan didalam pemberdayaan masyarakat antara lain agroforestry, pemanfaatan jasa lingkungan air, ijin perhutanan sosial, pemanfaatan wisata alam. Agroforestry merupakan sistim penggunaan lahan dengan mengkombinasikan tanaman semusim/pangan dan tanaman pohon pada lahan yang sama. Contoh agroforestry seperti tumpang sari sudah merupakan hal yang banyak di jumpai pada lahan hutan Perhutani di Jawa. Fungsi Cagar Alam Waigeo Barat sebagai kawasan konservasi merupakan kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa serta ekosistemnya dan mempunyai keterbatasan di dalam pemanfaatannya. Kawasan konservasi tersebut hanya dapat dimanfaatkan untuk penelitian dan pengembangan ilmu pengetahuan, pendidikan dan peningkatan kesadartahuan konservasi alam, penyerapan dan/atau penyimpanan karbon serta, pemanfaatan sumber plasma nutfah untuk penunjang budidaya. Kampung Saporkren sebagai daerah penyangga Cagar Alam Waigeo Barat tidak direkomendasikan untuk dilakukan kegiatan pemberdayaan dengan sistim agroforestry yang berbasis lahan karena tidak sesuai dengan fungsi dan manfaat cagar alam tersebut. Demikian pula halnya dengan pemberian ijin perhutanan sosial dan pemanfaatan wisata alam di Cagar Alam Waigeo Barat yang melanggar Undang-undang No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Alam dan Ekosistem. Jenis kegiatan pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren adalah berbasis non lahan dengan pola usaha ekowisata. Hal ini sesuai dengan potensi sumber daya yang dimiliki kampung Saporkren sebagai daerah penyangga Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat antara lain kekayan dan keindahann laut, satwa endemik dan kekayaan budaya. Jurnal Good Governance Volume 17 No. September 2021 | 145 Potensi ini dapat dijadikan usaha utama sebagai peningkatan sumber ekonominya dengan urutan prioritas yaitu: potensi bahari, pengamatan burung Cenderawasih, usaha Wisata Bahari Hasil observasi lapangan memperlihatkan bahwa pantai Yenpapir sepanjang 5 km mempunyai pasir halus dengan laut yang teduh, tenang, jernih dan bersih sangat berpotensi untuk dilakukan usaha snorkling, diving. Peluang lainnya yang sangat mungkin dijadikan usaha adalah persewaan peralatan snorkling dan diving, persewaan perahu/speed bost untuk mengantar wisatawan ke spot snorkling dan Pantai ini menjadi incaran para wisatawan, dan memang sangat direkomendasikan untuk mengunjunginya. Di kampung Saporkren terdapat 15 orang penyedia perahu. Selain karena bersih dan jernih, pantai ini merupakan tipe pantai yang dalam, sehingga bisa berenang bebas hingga 100 meter dari bibir Mansuar merupakan spot diving yang berada di lepas pantai Yenpapir dengan kekayaan terumbu karangnya dan jenis ikannya. Berdasarkan hasil wawancara dengan masyarakat kampung Saporkren, untuk menuju spot tersebut, setiap penyelam selalu diantar oleh masyarakat kampung Saporkren menggunakan perahu/speedboat. Bagi para penyelam di spot Mansuar diwajibkan untuk didampingi oleh masyarakat kampung Saporkren yang menguasai spot tersebut. Wisatawan lokal yang bermaksud untuk menyelam ke spot Mansuar dikenakan biaya Rp. 000,- per orang untuk sekali menyelam selama 45 menit. Sedangkan bagi wisatawan asing tarif yang dikenakan untuk sekali menyelam sebesar Rp. 000,- per orang. Apabila wisatawan menginginkan menyelam di spot lainnya di luar kampung Saporkren dikenakan sewa perahu/speedboat sebesar Rp. 000,-untuk perahu/speedboat kapasitas 10 orang dari jam 06. 00 sampai Peluang usaha lainnya adalah persewaan alat selam dan alat snorkling. Untuk menyewa peralatan selam dikenakan tarif Rp. 000, sedangkan yang berminat untuk snorkling peralatan dapat menyewa dengan tarif Rp. 000,Kegiatan snorkling dapat dilakukan di pantai Yenpapir yang berjarak 100 meter. Dari observasi lapangan pada spot ini dijumpai berbagai jenis terumbu karang dan berbagai jenis ikan dapat dilihat hanya pada kedalaman 5 Ae 10 meter. Potensi pasar juga memungkinkan untuk memanfaatkan sumber daya alam tersebut, mengingat jumlah wisatawan dari tahun ke tahun selalu meningkat. Jumlah kunjungan wisatawan ke Kampung Saporkren untuk wisata bahari di dominasi wisatawan asing. Kunjungan rata-rata per tahun untuk wisatawan domestik sebanyak 137 orang sedangkan rata-rata per tahun untuk wisatawan asing sebanyak 581 orang. 146 | Model Pemberdayaan Masyarakat Daerabh Penangga Kawasan Suaka Alam (Studi Kasus di Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Kab. Raja Ampat. Prov. Papua Barat Grafik 1. Jumlah Kunjungan Wisata Bahari di Kampung Saporkren Turis Domestik Turis Asing Sumber: Data dari Kampung Saporkren, 2018 Wisata Pengamatan Burung Cenderawasih (Bird Watchin. Hasil observasi lapangan, wawancara dengan pemuka masyarakat . Orgenes Dimar. dan data dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat, telah diidentifikasikan bahwa di luar Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat di wilayah kampung Saporken sebagai daerah penyangganya ditemukan sebanyak 12 spot burung Cenderawasih dengan 3 spot yang potensial untuk dijadikan spot pengamatan burung. Burung ini telah diketahui keberadaannya yang setiap harinya selalu berkumpul antara 6 Ae 10 ekor untuk melakukan ritual kawin. Jadwal ritual ini dapat disaksikan secara jelas mulai jam 06. 00 Ae 08. 00 pagi dan jam 16. 00 Ae 00 WIT. Peluang usaha masyarakat dengan potensi tersebut di atas adalah dengan usaha pengamatan burung (Bird Watchin. Cenderawasih Merah (Paradise rubr. dan Cenderawasih Botak (Cicinnurus respublic. Telah diketahui bahwa burung Cenderawasih dikenal dengan burung surga dan setiap orang mempunyai keinginan untuk melihatnya secara langsung di habitatnya. Setiap wisatawan asing yang ingin melihat burung Cenderawasih Merah (Paradise rubr. dapat memanfaatkan masyarakat untuk memandunya. Bagi wisatawan lokal dikenakan tarif Rp. 000, per orang sedangkan untuk wisatawan asing dikenakan tarif Rp. 000,- per orang. Untuk wisatawan lokal yang ingin mengamati burung Cenderawasih Botak (Cicinnurus respublic. dikenakan tarif Rp. 000,- per orang sedangkan wisatawan asing dikenakan tarif Rp. 000,per orang. Peralatan yang dibutuhkan adalah binocular dan raincoat yang sewarna dengan pepohonan. Usaha Homestay Pantai Yenpepir yang merupakan wilayah kampung Saporkren pada observasi lapangan mempunyai panjang kurang lebih 1 km mempunyai pasir putih yang halus menghadap laut Pasifik yang teduh dan tenang berpeluang untuk dibangun homestay sederhana yang dapat diusahakan oleh masyarakat. Untuk membangun 1 kamar homestay menurut keterangan sdr. Orgenes Dimara diperlukan dana kurang lebih Rp. 000,- belum termasuk harga kasur, kelambu dan lainnya. Jurnal Good Governance Volume 17 No. September 2021 | 147 Biaya menginap di homestay bagi wisatawan lokal rata-rata sebesar Rp. 000,semalam dengan 3 kali makan, sedangkan bagi wisatawan asing dikenakan biaya Rp. 000, per malam dengan 3 kali makan. Apabila para wisatawan menghendaki kuliner khas setempat yaitu papeda, ikan bakar, kuah kuning, bunga papaya, batatas dengan minum air kelapa muda, maka wisatawan dapat menikmatinya dengan biaya Rp. 000,- per orang. Strategi Usaha Bidang Ekowisata Kampung Saporkren yang mempunyai potensi sumber daya alam bahari dan terrestrial perlu diusahakan secara optimal dengan memberdayakan masyarakatnya. Wisata selam merupakan wisata paling diminati bagi wisatawan. Wisata pengamatan burung endemik merupakan potensi besar untuk dikunjungi oleh wisatawan. Pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren sebagai daerah penyangga Cagar Alam Waigeo Barat yaitu dengan cara mengembangkan dan memanfaatkan potensi, inovasi dan kreatifitas masyarakat dalam memanfaatkan potensi sumber daya alam yang dimiliki agar menjadi sesuatu yang baru dan mempunyai nilai ekonomi tinggi dan harapannya dapat meningkatkan perekonomian masyarakatnya. Elemen masyarakat Kampung Saporkren yang menjadi target pemberdayannya harus dilibatkan sejak awal didalam menentukan kegiatan usaha ekowisata dalam memanfaatkan potensi. Target masyarakat adalah yang selama ini merusak Kawasan Cagar Alam dengan keterbatasan ketrampilan dan tingkat pendidikan rendah serta masyarakatnya yang berada di bawah garis kemiskinan. Pendampingan para pihak terutama pengelola Kawasan (Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Bara. dan LSM yang bekerja di wilayah tersebut (Fauna dan Flora Indonesia dan Conservation International Indonesi. harus dilakukan untuk kemandiriannya. Potensi Daerah Penyangga Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat Potensi yang menonjol adalah wisata bahari, pengamatan burung Cenderawasih dan homestay. Pada wisata selam, wisatawan dapat menikmati kekayaan terumbu karang dan mengamati satwa langkah seperti Pari Manta. Paus. Hiu dan Hiu Wobbegong. Spot diving/selam yang dekat dengan kampung Saporkren bernama Lalosi Reef. Pada wisata terrestrial, wisatawan dapat melihat di alam burung Cenderawasi Merah (Paradiseae rubr. dan Cenderawasih Botak (Cicinnurus respublic. Di pantai Yenpepir, wisatawan dapat berenang dan berjemur untuk menikmati sinar matahari. Sarana penginapan berupa homestay di pantai Yenpepir perlu dibangun lebih banyak untuk menampung kunjungan wisatawan. Strategi eko wisata adalah dengan mengoptimalkan seluruh potensi sumber daya alam untuk dapat dikunjungi wisatawan, sehingga wisatawan tidak hanya menumpuk di salah satu tujuan wisata saja, misalnya hanya untuk menyelam saja. Untuk itu perlu pengaturan yang merencanakan jumlah maksimal wisatawan yang berkunjung di masing-masing obyek wisata. Oleh sebab itu pelibatan masyarakat dalam perencanaannya mutlak dilakukan karena masyarakat akan menjadi pelaku usaha eko wisata tersebut. Dalam rangka mengelola kawasan/spot tersebut agar tetap memberikan kenyamanan terhadap pengunjung dan juga tetap menjaga keutuhan kawasan sehingga berfungsi 148 | Model Pemberdayaan Masyarakat Daerabh Penangga Kawasan Suaka Alam (Studi Kasus di Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Kab. Raja Ampat. Prov. Papua Barat sebagaimana peruntukannya, maka akan dibutuhkan Daya Dukung atau Carrying Capacitynya. Penentuan Daya dukung destinasi wisata di wilayah kampung Saporkren: Daya dukung spot selam Lalosi Reef. Mansuar yang termasuk dalam Selat Dampier mempunya daya dukung fisik maupun daya dukung actual. Daya dukung pada spot selam/diving Lalosi Reef maksimal hanya diperbolehkan dilakukan penyelaman sebanyak 5 trip/hari dengan 17 orang penyelam. Daya dukung penyelaman ditentukan oleh luas dan kerentanan lokasi selam. Terkait kerentanan lebih dipertimbangkan pada obyek pengamatan jenis fauna maupun terumbu karangnya. Daya dukung lokasi penyelaman untuk mengamati biota ini penetapannya dilakukan dengan mempertimbangkan biologi dan ekologinya. Daya dukung untuk menikmati pantai Yenpepir hanya diperbolehkan maksimal 45 orang per hari guna menjaga kebersihan dan kenyamanan pengunjungnya. Oleh sebab itu maksimal wisatawan yang ingin berenang dan berjemur sangat terbatas. Jumlah wisatawan yang mengunjungi destinasi wisata pengamatan burung khusus Cendrawasih Botak (Cicinnurus respublic. pada satu tempat pengamatan maksimum hanya 4 . orang, sudah termasuk 1 . orang pemandu. Cendrawasih Botak sebagai spesies endemik Pulau Waigeo dan Batanta sudah hampir punah karena aktivitas manusia, seperti ilegal logging, pembuatan jalan lingkar dan juga perpanjangan bandara yang mengganggu habitatnya. Oleh karena itu perlu kebijakan khusus untuk menjaga habitatnya, sehingga atraksi pariwisata ini bisa lestari. Pengamatan burung Cendrawasih Merah (Paradiseae rubr. yang dilakukan menunjukkan bahwa rata-rata dengan luasan tempat pengamatan sebesar 300 m2 maka maksimum jumlah wisatawan yang diperbolehkan adalah 8 . orang termasuk 2 . pemandu wisata. Berdasarkan daya dukung masing-masing spot destinasi wisata di atas, maka perlu direncanakan pengaturan kunjungan wisatawan, mengingat kecenderungan kenaikan wisatawan baik lokal maupun asing sebanyak 46,7 % per tahunnya. Diasumsikan bila dalam satu hari terdapat 15 orang wistawan yang menginginkan untuk melakukan pengamatan burung Cenderawasih, maka wisatawan tersebut harus menginap di homestay. Mengingat untuk melakukan pengamatan burung Cenderawasih berangkat jam 05. 00 pagi. Oleh sebab itu perlu pengaturan dengan 3 . orang melakukan pengamatan burung Cenderawasih Botak dan 6 . orang melakukan pengamatan burung Cenderawasih Merah. Sisanya dapat melakukan diving ataupun snorkling atau apabila tidak melakukan diving maupun snorkling dapat menikmati keindahan pantai Yenpepir. Demikian untuk pengaturan kunjungan destinasi lainnya. Sistim pemesanan . jauh hari sebelumnya perlu dilakukan. Pendampingan para pihak yaitu Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat maupun LSM Conservation International Indonesia dan Fauna dan Flora Indonesia mutlak diperlukan guna perencanaan pengelolaan tersebut. Pengelolaan ekowisata tidak dapat berjalan apabila tidak terbangun lembaga Oleh sebab itu kelompok masyarakat yang menjadi target pemberdayaannya harus mengorganisir kelompoknya untuk membentuk lembaga pengelola dan bertanggung jawab terhadap kegiatan ekowisata tersebut. Jurnal Good Governance Volume 17 No. September 2021 | 149 Tahun 2018 pihak pengelola Cagar Alam Waigeo Barat telah membentuk Kelompok Tani Hutan (KTH) di kampung Saporkren. Beberapa kegiatan telah dilakukan oleh KTH terutama dalam mendukung keamanan kawasan. Oleh sebab itu KTH dapat ditingkatkan peranannya dalam pengelolaan ekowisata yang terintegrasi mulai membuat aturan atas kesepakatan sendiri termasuk dalam pengelolaannya. Para pihak wajib melakukan pendampingan terutama untuk peningkatan ketrampilan terkait bidang tujuan wisatanya . ahasa Inggris, pengenalan flora dan fauna, manajemen homestay, diving skill, pengaturan keuangan. IT untuk system booking dan pemasara. agar dengan pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren dapat meningkatkan perekonomian, ketrampilan dan kemandiriannya. Dampak Pemberdayaan Masyarakat Kampung Saporkren Terhadap Keberadaan Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat menyatakan bahwa sejak tahun 2016 Seksi Wilayah Konservasi I Raja Ampat telah melibatkan masyakat Kampung Saporkren dalam kegiatannya. Kegiatan berupa patroli bersama dengan masyarakat yang menunjukkan hasil yang sangat signifikan terhadap keutuhan Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Tindakan represif dan tegas terhadap pelaku illegal logging dan perburuan satwa liar serta perambahan kawasan untuk kebun sampai dengan saat ini menurun sampai dengan 86%. Penyuluhan dan diseminasi tentang fungsi kawasan konservasi selalu dilakukan setiap tahun termasuk pelibatan masyarakat dalam pengelolaannya seperti inventarisasi burung Cenderawasih selain kegiatan pengamanan kawasan. Masyarakat sebelumnya bermata pencaharian merusak dan mengganggu Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat berubah menjadi nelayan, pedagang dan berkebun di luar kawasan. Masyarakat yang sebelumnya merambah sebanyak 58% turun menjadi 15,79%. Perubahan mata pencaharian tersebut beralih menjadi nelayan dan pedagang. Nelayan yang sebelumnya 26% melonjak menjadi 57,90% sedangkan pedagang yang sebelumnya 16% naik menjadi 26,31%. Grafik 2. Perubahan Mata Pencaharian Masyarakat Kampung Saporkren Perubahan Mata Pencaharian Masyarakat Kampung Saporkren Sebelum dan Sesudah Terlibat Dalam Kegiatan BBKSDA Papua Barat SEBELUM SESUDAH NELAYAN SEBELUM SESUDAH SEBELUM MERAMBAH Sumber: Analisis Data Primer, 2020 SESUDAH PEDAGANG 150 | Model Pemberdayaan Masyarakat Daerabh Penangga Kawasan Suaka Alam (Studi Kasus di Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Kab. Raja Ampat. Prov. Papua Barat Pandangan masyarakat dalam pelibatan kerjasama/kemitraan dan persepsi masyarakat kampung Saporkren terhadap pengelola Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat hampir semuanya . ,9%) menunjukkan masyarakat menerima dengan sadar/sukarela untuk Data lapangan menunjukkan bahwa telah terjadi peningkatan kesejahteraan masyarakat tanpa merusak Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat dengan meningkatnya pendapatan masyarakat dari Rp. 491,-. per kapita per bulan menjadi Rp. 403,- per kapita per bulan, di atas Garis Kemiskinan Kabupaten Raja Ampat tahun 2020 sebesar Rp. 488,- per kapita per bulan. Dari data yang diperoleh dari lapangan dengan berubahnya mata pencaharian, 26,3% merasa senang dan nyaman, sedang sisanya 77,7% masyarakat sadar untuk tidak merusak Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Program pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren dengan usaha ekowisata yang merupakan kegiatan usaha non lahan akan merubah mata pencahariannya yang selama ini merusak kawasan serta dapat meningkatkan pendapatan masyarakat tidak akan lagi tergantung kepada kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Hanya dari pengamatan burung Cenderawasih diperoleh pendapatan yang selalu Sejak tahun 2014 hingga 2018, pendapatan dari kegiatan wisata pengamatan burung terus meningkat. Tabel di bawah ini menunjukkan peningkatan pendapatan masyarakat kampung Saporkren dari hasil usaha pengamatan burung Cenderawasih sejak tahun 2014 sampai dengan Juni 2018 (Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat, 2. Grafik 3. Peningkatan Pendapatan Masyarakat Kampung Saporkren Dari Usaha Pengamatan Burung Cenderawasih PendaA (Sumber Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat, 2. Berdasarkan hasil monitoring Tim Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat di tahun 2019 bahwa terjadi kenaikan populasi Cenderawasih Merah di Batanta dan Waigeo sebesar 157,14% dari baseline tahun 2014. Kenaikan jumlah populasi tersebut didukung dengan adanya penemuan dua sarang Cenderawasih Merah pada salah satu titik pengamatan yang sama yang dilakukan setiap tahunnya. Kondisi ini menunjukkan bahwa habitat Cenderawasih Merah mengalami peningkatan fungsinya Jurnal Good Governance Volume 17 No. September 2021 | 151 tanpa terganggu oleh aktifitas masyarakat yang memburunya dan merusak habitatnya dengan perambahan maupun aktifitas penebangan liar. Pendapatan masyarakat kampung Saporkren yang terus meningkat dari usaha pengamatan burung Cenderawasih akan memberikan persepsi masyarakat Saporkren untuk selalu menjaga habitat spot burung Cenderawasih yang terdapat di wilayah kampung Saporkren. Persepsi masyarakat ini menyebabkan utuhnya Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat dari gangguan yang merusak termasuk tidak terjadinya lagi perburuan satwa liar terutama burung Cenderawasih dan jenis lainnya. Kegiatan usaha ekowisata lainnya yang tidak berbasis lahan dengan memanfaatkan potensi yang dimiliki oleh kampung Saporkren akan lebih banyak memberikan pendapatan bagi masyarakatnya. Melihat kondisi masyarakat kampung Saporkren dengan pendidikan dan ketrampilannya yang rendah, maka untuk optimalisasi model pemberdayaannya perlu dilakukan peningkatan kompetensi masyarakat melalui pendidikan dan pelatihan termasuk para pihak terkait. Disamping itu juga perlu dilakukan peningkatan kompetensi teknis bagi pengelola Cagar Alam Waigeo Barat dan pihak terkait terutama pejabat pengelola Cagar Alam Waigeo Barat yaitu Balai Konservasi Sumber Daya Alam Papua Barat. Pemerintah Daerah Kabupaten Raja Ampat dan Lembaga Swadaya Masyarakat yang mempunyai kegiatan di wilayah tersebut. Dari sisi kebijakan terhadap pemberdayaan masyarakat di daerah penyangga Kawasan Konservasi terutama Cagar Alam dan Suaka Margasatwa, model pemberdayaan ini merupakan referensi dan bahan pertimbangan dalam menetapkan peraturan pemberdayaan masyarakat. Kesimpulan Model pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren yang merupakan daerah penyangga Kawasan Suaka Alam (Cagar Alam Wageo Bara. Kabupaten Raja Ampat. Provinsi Papua Barat dilakukan dengan menggunakan cara antara lain: mengidentifikasi kondisi masyarakatnya. mengidentifikasi potensi sumber daya alam. menentukan target masyarakat yang diberdayakan. menentukan tingkat keterlibatan masyarakat yang diberdayakan. menentukan metode dalam melakukan pendekatan kelompok masyarakat yang Aspek menentukan target, keterlibatan dan metode dalam pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren tersebut yaitu: Elemen masyakat yang menjadi target pemberdayaannya adalah masyarakat yang mata pencahariannya dari kegiatan merambah kawasan untuk bertani, berburu satwa liar, menebang pohon di dalam kawasan untuk dijual kayunya . llegal loggin. ebanyak 58%). masyarakat dengan tingkat pendidikan dan ketrampilan yang dimilikinya rendah serta kesejahteraannya berada di bawah garis kemiskinan. 152 | Model Pemberdayaan Masyarakat Daerabh Penangga Kawasan Suaka Alam (Studi Kasus di Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat. Kab. Raja Ampat. Prov. Papua Barat Kemauan masyarakat kampung Saporkren untuk terlibat dalam pemberdayaan masyarakat tinggi. Sebanyak 90,9% masyarakat mempunyai kemauan untuk dilibatkan dalam usaha kegiatan pemberdayaannya untuk meningkatkan Untuk melakukan pendekatan kelompok dalam pemberdayaan masyarakat Kampung Saporkren ditentukan metode yang digunakan adalah metode PRA (Participatory Rapid Appraisa. yang langsung melibatkan masyarakat untuk mempelajari kondisi dan kehidupan kampung dari, dengan, dan oleh masyarakat, meningkatkan dan menganalisis pengetahuan mereka tentang kondisi dan kehidupan kampung. Kegiatan pemberdayaan masyarakat daerah penyangga kawasan konservasi adalah usaha berbasis non-lahan berupa ekowisata yang dapat: menurunkan konflik lahan dan menjaga keutuhan kawasan serta habitat satwa. merupakan insentif atas hilangnya akses masyarakat ke dalam kawasan tersebut. berimplikasi terhadap perubahan perilaku masyarakat dari semula berpotensi merusak Kawasan Cagar Alam Waigeo Barat menjadi penjaga kawasan konservasi tersebut sehingga terjadi symbiosis mutualisme. diterapkan untuk pemberdayaan masyarakat di daerah penyangga Cagar Alam maupun Suaka Margasatwa lainnya . sesuai dengan spesifikasi yang Saran Pengambil kebijakan di Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem agar dapat menyusun peraturan tentang Pemberdayaan Masyarakat Daerah Penyangga Kawasan Konservasi dengan referensi dan pertimbangan pada hasil penelitian ini. Model pemberdayaan masyarakat kampung Saporkren yang merupakan daerah penyangga Cagar Alam Wageo Barat dapat diimplementasikan dalam Diklat, yang memuat kurikulum silabus: mengidentifikasi kondisi masyarakatnya. mengidentifikasi potensi sumber daya alam. menentukan target masyarakat yang diberdayakan. menentukan tingkat keterlibatan masyarakat yang diberdayakan. menentukan metode dalam melakukan pendekatan kelompok masyarakat yang peran para pihak dalam pemberdayaan analisis daya dukung obyek tujuan wisata alam. Jurnal Good Governance Volume 17 No. September 2021 | 153 Kurikulum dan silabus tersebut diberikan pada Diklat bagi fungsional ASN yaitu pejabat Pengendali Ekosistem Hutan. Penyuluh Kehutanan dan Polisi Kehutanan dan Non-ASN terutama para mitra dan masyarakat. DAFTAR PUSTAKA