Jurnal AgroPet Vol. 14 Nomor 2 Desember 2017 ISSN: 1693-9158 PEMANFAATAN CENDAWAN ENTOMOPATOGENIK ISOLAT LOKAL POSO POTENSINYA SEBAGAI BIOINSEKTISIDA HAMA PENGGEREK BUAH KAKAO (Conopomorpha cramerella Snelle. Oleh: Meitry Tambingsila. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengetahui efektivitas cendawan Penicillium sp. biopestisida terhadap penggerek buah kakao (C. cramerellaSnele. di laboratorium dan di Luaran penelitian berupa didapatkan informasi potensi Penicillium sp. agensia pengendali penggerek buah kakao C. cramerella yang selanjutnya dapat digunakan sebagai sumber acuan dalam program Pengendalian OPT di pertanaman kakao secara terpadu. Penelitian dilaksanakan di laboratorium IAD Universitas Sintuwu Maroso Poso dan Perkebunan kakao Kec. Poso Pesisir dan Lage yang berlangsung selama 6 bulan. Perlakuan yang dicobakan terdiri dari 7 perlakuan dan 3 ulangan. Adapun perlakuan yang dicobakan C1 = Tanpa Pupuk Organik Tanpa Penicillium. C2 = 100cc/15L pupuk Padat 2 kg Penicillium knsentrasi spora 10 7. C3 = 100cc/15L pupuk Padat 3 kg Penicillium konsentrasi spora 10 7. C4 = 150cc/15L pupuk Padat 2 kg Penicillium konsentrasi spora 10 7. C5 = 150cc/15L pupuk Padat 3 kg Penicillium konsentrasi spora107. C6 = 200cc/15L pupuk Padat 2 kg Penicillium konsentrasi C7 = 200cc/15L pupuk Padat 3 kg Penicillium konsentrasi spora 10 7. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan analisis regresi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa . Penicillium sp isolat lokal Poso yang di dapatkan dari rhizosfer tanaman jagung dan dari kadafer di perkebunan kakao dapat menyebabkan mortalitas larva instar terahir dan pupa PBK pada uji bioassay di laboratorium dan cendawan ini memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai bioinsektisida karena dapat menurunkan pesentase buah kakao terserang PBK yang diaplikasikan di kebun kakao di dataran rendah dan dataran menengah/ sedang masing-masing sebesar 62,96 hingga 88% dansebesar 36,53 hingga 90,7%. Kata Kunci: Tanaman Kakao. Penggerek Buah Kakao (PBK). Cendawan Penicillium sp. PENDAHULUAN Kakao (Theobrema cocoa L. merupakan salah satu komoditas pendapatan nasional dan devisa negara hal ini dapat dilihatdari nilai ekspor komoditas pada tahun 2014 sebesar US$ 28,234 milyar atau setara dengan Rp 367,040 triliun. Disamping itu kakao juga berperan dalam mendorong pengembangan Berdasarkan rata-rata luas areal kakao tahun 2008-2012 yang bersumber dari FAO, terdapat 4 . negara dengan luas areal kakao terbesar di dunia, yaitu Pantai Gading. Ghana. Indonesia dan Nigeria. Kontribusi keempat negara tersebut mencapai 71,00% dari total luas areal kakao Staf Pengajar Program Studi Agroteknologi. Fakultas Pertanian. Universitas Sintuwu Maroso dunia. Pantai Gading menempati peringkat pertama dengan luas areal kakao rata-rata sebesar 2,32 juta ha atau memberikan kontribusi sebesar 23,97%. Ghana di peringkat kedua dengan luas areal kakao rata-rata sebesar 1,64 juta ton . ,96%). Indonesia berada di peringkat ketiga dan Nigeria keempat dengan luas areal kakao masing-masing sebesar 1,63 juta ha . ,85%) dan 1,28 juta ha . ,22%). Meskipun Indonesia merupakan pemasok kebutuhan kakao dunia, namun produktivitas kakao Indonesia masih rendah. Rendahnya produktivitas kakao karena tanaman kakao yang ada saat ini umumnya tanaman dari tahun sekitar 1980-an, sehingga produktivitasnya sudah menurun. Selain itu banyak tanaman kakao (OPT)(Directorate General of Estate Crops, 2. Provinsi Sulawesi Tengah yang merupakan provinsi penghasil Indonesia mempunyai sebaran kakao di Kabupaten Parigi Moutong menempati posisi pertama dengan produksi kakao sebesar 69,82 ribu ton atau 35,65% dari produksi kakao Sulawesi Tengah, diikuti oleh Kabupaten Poso . ,58%). Donggala . ,60%). Sigi Biromaru 8,69 % dan kabupaten kurang dari 10% (Directorate Geberal of Estate Crops, 2. Beberapa tahun terakhir kondisi kakao di kabupaten Poso menghadapi berbagai permasalahan penting disektor on farm, hal ini disebabkan kondisi tanaman yang sudah tua dan belum diterapkannya secara maksimal input teknologi pada budidaya kakao sehingga produksi dan kualitas biji kakao. Beberapa permasalahan yang masih dihadapi dalam budidaya kakao antara lain beragamnya adopsi petani terhadap teknologi budidaya, keterbatasan ketersediaan bahan tanam unggul, penggunaan pupuk sintetik yang melebihi dosis dan terus-menerus degradasi tanah dan mengacam populasi organisme dekomposer, banyaknya tanaman tua yang tidak produktif, sistem pemeliharaan yang belum optimal dan adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) dan salah satu hama utama kakao adalah pengerek buah Kakao (PBK) Conopomorpha cramerella Snellen yang dapat menurunkan produksi hingga mencapai 80%. Hasil survey di lapang menunjukkan bahwa teknik yang paling sering menjawab permasalahan kakao adalah pemakaian pupuk dan pestisida sintetik karena dianggap paling cepat memenuhi kebutuhan bagi tanamandan ampuh mengatasi organisme pengganggu tanaman, menimbulkan dampak negative baik Lahan sangat bergantung pada pupuk sintetik untuk memenuhi kebutuhan bagi tanaman, juga panjang dan tidak bijaksanan menyebabkan antara lain resistensi, resurjensi, sekunder dan matinya organismeorganisme yang bukan sasaran . usuh decomposer, pollinato. Hal ini merupakan masalah yang serius dan harus mendapatkan perhatian serta perlu upaya mencari alternatif lain yang lebih memperhatikan faktorfaktor lingkungan. Penggunaan pupuk organik alam dan biopestisida adalah salah satu alternatif menjawab tantangan Beberapa hasil penelitian telah dilaporkan penggunaan pupuk efisiensi serapan hara, memperbaiki pertumbuhan dan hasil serta diyakini meningkatkan ketahanan terhadap serangan hama dan penyakit (Agung dan Rahayu, 2. dan penggunaan Penicillium sp dengan konsentrasi spora 10A yang dikembangkan dari media PDA dapat menyebabkan mortalitas pupa PBK sebesar 100% dalam waktu 216 jam, dari media beras dan ampas kelapa sebesar 93,33% dalam waktu 192 jam, 80% dari media jagung dan media kombinasi ampas kedelai serbuk gergaji dedak dalam kurun waktu 120 jam (Nurariaty & Raodah, 2. Sistem salah satu proses pengendalian hama secara kultur teknis dan termasuk dalam pengendalian hama Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas cendawan Penicilliumsp sp isolate local asal Poso biopestisida terhadap penggerek buah kakao (C. cramerellaSnele. di laboratorium dan di lapang. METODE PENELITIAN Tempat dan Waktu Penelitian ini dilaksanakan di IAD Universitas Sintuwu Maroso Poso Perkebunan kakao Kecamatan Poso Pesisir dan Lage yang berlangsung selama 6 bulan. Desain Penelitian Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 7 perlakuan dan 3 ulangan, pada setiap perlakuan terdiri dari 4 tanaman kakao yang telah berumur Ou 5 tahun sehingga terdapat 84 tanaman kakao. Adapun perlakuan yang dicobakan meliputi: C1 = Tanpa Pupuk Organik Tanpa Penicillium C2 = 100cc/15L pupuk Padat 2 kg Penicillium C3 = 100cc/15L pupuk Padat 3 kg Penicillium konsentrasi C4 = 150cc/15L pupuk Padat 2 kg Penicillium konsentrasi C5 = 150cc/15L pupuk Padat 3 kg Penicillium konsentrasi C6 = 200cc/15L pupuk Padat 2 kg Penicillium konsentrasi C7 = 200cc/15L pupuk Padat 3 kg Penicillium konsentrasi Prosedur Penelitian Obsevasi Kebun dan Pembuatan Blok Percobaan Luas kakao 3000m , pemilihan tanaman dilakukan secara sengaja dengan menggambil tanaman kakao klon S1 dan S2 dengan kriteria umur tanaman Ou 5 tahun. Persiapan Cendawan Penicillium Isolat Penicillium sp. pertanaman kakao yang terinfeksi oleh cendawan yang di dapat dari hasil ekspolarasi (Meitry dan Rudias,2. Kab. Poso. Sulawesi Tengah. Koleksi Penicillium sp. kemudian dibuat biakan murninya pada media PDA. Setelah didapat biakan murninya kemudian diperbanyak lagi pada media PDA, yang selanjutnya pengujianpengujian selanjutnya. Uji Bioassay Cendawan Entomopatogen pada Larva dan Pupa PBK Sebanyak 14 larva instar terakhir dan 14 pupa PBK yang diperoleh dari buah yang terinfestasi PBK, diletakkan ke dalam wadah yang berisikan kertas/tissue steril lembab yang telah diberi label dan sebanyak 1ml suspensi spora cendawan Penicillium sp diteteskan pada masing - masing larva dan pupa kemudian wadah tersebut Larva dan pupa sampel dibiarkan hinga 24 jam kemudian dilakukan pengamatan terhadap jumlah dan persentase larva/pupa yang terinfeksi pada masing masing perlakuan selama 10 hari setelah aplikasi. Aplikasi Perlakuan Cendawan Penicillium sp Penicillium sp dalam media cair diblender lalu dicampur dengan air sebanyak 5 liter kemudian dimasukkan ke dalam sprayer, semua buah kecuali buah pentil. Penyemprotan dilakukan pada sore hari dengan selang tiap tujuh hari sebanyak tiga kali. Pengamatan Uji Bioassay Larva instar terakhir dan pupa sampel diamati dan dihitung Persentase mortalitas Larva/Pupa PBK dihitung dengan rumus : Jumlah Larva / Pupa PBK yang Terinfeksi Penicillium atau mati P=-----------------------------------------------------------------------------x100% Jumlah Larva/ Pupa PBK yang diamati Pengamatan Persentase Buah yang Terserang Pengamatan akan dilakukan setelah penyemprotan dilakukan sebanyak 3 kali, persentase buah yang terserang dihitung dengan Pedigo dan Buntin . yca P = yca x 100% Dimana : P = Persentase terserang (%) = Jumlah buah yang terserang dalam periode pengamatan = Total buah diamati selama periode pengamatan Nilai Kategori Kerusakan Pengamatan terhadap nilai setelah mendapatkan persentase PBK kakaodengan melihat nilai menurut Abadi. L . yang dimodifikasi sebagai berikut: Skor 0 = Tidak ada infeksi, kriteria Skor 1 = < 25% buah yang Skor 2 = 25% - < 50% buah yang serangan sedang Skor 3 = 50%-75% buah yang serangan berat Skor 4 = >75% serangansangat berat HASIL DAN PEMBAHASAN Ciri-ciri Makroskopis Penicillium Hasil Penicillium sp pada media PDA dan media cair memperlihatkan ciri-ciri makroskopis sebagai berikut: Isolat berumur 4 . pada media PDA dan Isolat berumur 8 hari . pada media cair, koloni berwana putih selanjut berwarna hijau keabu-abuan, hifa berwarna putih dan colony reserve kuning muda bergaris. Gambar 1a. Penicillium sp media PDA Gambar 1b. Penicillium media cair Ciri-ciri Mikroskopis Penicillium Hasil pengamatan dibawah mikroskopis berdasarkan Barnet dan Hunter . dan Watanabe . bentuk morfologi dari Penicillium sp pada gambar 2. Gambar 2. Bentuk morfologi Penicillium sp asal rhizozfer tanaman jagung. konidiaPenicillium sp. bentuk morfologi Penicillium sp asal kadafer serangga di perkebunan kakao. Uji Bioassay Cendawan Penicillium sp. pada Larva Instar Terakhir dan Pupa PBK Hasil uji Bioassay cendawan Penicillium sp yang diaplikasikan Larva . pada larva instar terakhir dan pada pupa PBK menunjukan bahwa dapat sebesar 71, 43% dan pupa sebesar 42, 86%. Larva Pupa (Kontro. Pupa Gambar 3. Persentase Mortalitas Larva dan Pupa PBK Mortalitas dengan larva menjadi pasif atau tidak bergerak, tidak masuk pada fase pupa karena tidak membentuk selaput pelindung, selanjutnya pada permukaan tubuh larva ditumbuhi cendawan Penicillium sp, lama kelamaan larva terlihat seperti mumi berwarna hijau keabu-abuan dan mengeras (Gambar 3. sementara pada perlakuan aquades . larva PBK memasuki fase pupa. Aplikasi spora Penicillium sp pada pupa PBK menyebabkan mortalitas pupa yang ditandai dengan permukaan pupa cendawan Penicillium sp sehingga pupa tidak mencapai fase imago . sedangkan pada pupa yang diaplikasikan aquades, dihari ke 9 berubah menjadi imago PBK . Gambar 3a. Larva yang terparasit Penicillium sp Gambar 3b. Larva masuk fase pupa Gambar 3c. Pupa masuk Imago Gambar 3d. Pupa yang terparasit Penicillium sp Menurut Agus et al. bahwa aplikasi langsung suspensi spora cendawan entomopatogen dari genus Penicillium sp. , dapat menyebabkan mortalitas pupa dan PBK. Proses mortalitas diawali dengan kontak propagul dengan inang, menempel dan berkecambah lalu penetrasi dan invasi terjadi yang selanjutnya membentuk hifa sekunder (Tanaka & Kaya, 1. Dapat cendawan Penicillium sp memiliki potensi untuk dijadikan sebagai bioinsektisida untuk mengendalikan larva dan pupa PBK karena kemampuannya memarasit larva dan pupa hama PBK. Reisolasi Hasil reisolasi sampel larva dan pupa PBK memperlihatkan ciriciri Penicillium sp. artinya bahwa mortalitas yang terjadi pada larva dan pupa PBK disebabkan oleh cendawan Penicillium sp isolate local asal Poso. Persentase Buah Terserang PBK di Dataran Rendah Gambar 4a menunjukan bahwa persentase tertinggibuah PBK perlakuan C1 sebesar 89,29 % dan persentase terendah pada perlakuan C7 sebesar 12 %. Aplikasi spora cendawan Penicillium sp dapat terserang PBK sebesar 62,96 hingga Korelasi antara pupuk organic spora Penicillium sp dengan persentase buah terserangPBK pada gambar 4b. Gambar 4a. Persentase (%) Buah Kakao Terserang PBK Perlakuan Nilai Kategori Kerusakan Nilai Skor Keterangan Skoring Skor 4 = >75 % Kriteria serangan sangat berat Skor 2 = 25%-<50% kriteria serangan sedang Skor 2 = 25%-<50% kriteria serangan sedang Skor 1 = <25% kriteria serangan ringan Skor 1 = <25% kriteria serangan ringan Skor 1 = <25% kriteria serangan ringan Skor 1 = <25% kriteria serangan ringan Persentase Buah Terserang PBK y = -9. RA = 0. Perlakuan Series1 Linear (Series. Gambar 4b. Korelasi antara pupuk organic spora Penicillium sp dengan persentase buah terserang PBK Hasil analisis regresi pupuk Penicillium sp 107dan persentase buah terserang PBK dinyatakan Persentase Buah Terserang PBK di Dataran Sedang Gambar 5a menunjukan bahwa persentase tertinggi buah PBK perlakuan C1 sebesar 89,47 % dan persentase terendah pada perlakuan C7 sebesar 9,30 %. Aplikasi spora cendawan Penicillium sp dapat terserang PBK sebesar 36,53 hingga 90,7%. Korelasi antara pupuk organic spora Penicillium sp dengan persentase buah terserang PBK pada gambar 5b. dengan model Y= -9,8964x 72,358. Model menujukan bahwa setiap kenaikan satu satuan pada dosis pupuk Penicillium sp maka akan diikuti dengan penurunan persentase buah terserang PBK sebesar 9,8964 dengan nilai determinasi RA=0,667 atau sebesar 66,7% variasi yang terjadi pada persentase buah terserang PBK diakibatkan oleh perlakuan pupuk organic spora Penicillium sp 107. Gambar 5a. Persentase (%) Buah Terserang PBK Perlakuan Nilai Kategori Kerusakan Nilai Skor Keterangan Skoring Skor 4 = >75 % Kriteria serangansangat berat Skor 3 = 50%-75% Kriteria serangan berat Skor 2 = 25%-<50% Kriteria serangan sedang Skor 2 = 25% - <50% Kriteria serangansedang Skor 2 = 25 % -<50% Kriteria serangansedang Skor 1 = <25% Kriteria serangan ringan Skor 1 = <25% Kriteria serangan ringan Chart Title y = -12. RA = 0. Axis Title Axis Title Series1 Linear (Series. Gambar 5b. Korelasi antara pupuk organik spora Penicillium sp dengan persentase buah terserang PBK. Hasil analisis regresi pupuk Penicillium sp 107dan persentase buah terserang PBK dinyatakan dengan model Y= -12,526x 92,009. Model menujukan bahwa setiap kenaikan satu satuan pada dosis pupuk Penicillium sp maka akan diikuti dengan penurunan persentase buah terserang PBK sebesar 12,526 dengan nilai determinasi RA=0,9148 atau sebesar 91,48% variasi yang terjadi pada persentase buah terserang PBK diakibatkan oleh perlakuan pupuk organic spora Penicillium sp 107. Peterson et al. menyatakan bahwa Penicillium sp. menghasilkan senyawa metabolit, yang dapat mematikan serangga. Beberapa senyawa metabolit yang bersifat toksin adalah ochratoxin A, brevianamide A, penicilic acid dan Hamdani et al. menemukan cendawan Penicillium sp menginfeksi pupa PBK (C. secara alami di propinsi Maluku dan tercatat memiliki pada serangga C. rata-rata mortalitas sebesar 77,5%. PENUTUP Kesimpulan Penicillium sp isolate local asal Poso adalah jenis cendawan entomopatogen yang potensial dijadikan sebagai bioinsektisida mortalitas larva dan pupa PBK serta dapat menekan persentase kerusakan buah kakao di lapang. Kombinasi penggunaan pupuk organic dan penggunaan agensia hayati (Penicillium s. secara nyata menekan tingkat kerusakan buah akibat serangan PBK sebesar 62,96 hingga 88% pada dataran rendah dan sebesar 36,53 hingga 90,7% pada dataran menegah/sedang. Saran Pengendalian PBK Penggunaan sebaiknya memperhatikan faktorfaktor pendukung di lapang dan secara bijaksana. DAFTAR PUSTAKA Abadi. Ilmu Penyakit Tumbuhan 3. Bayumedia Publishing. Malang: hlm. Agung. T D. dan A. Rahayu. Analisis Efisiensi Serapan N. Pertumbuhan, dan Hasil Beberapa Kultivar Kedelai Unggul Baru dengan Cekaman Kekeringan dan Pemberian Pupuk Hayati. Agrosains. Fakultas Pertanian Unsoed Purwokerto. : 70-74 Agus. N,A. Saranga,