SYAHADAH: JURNAL ILMU AL-QURAoAN DAN KEISLAMAN Vol. No. 2 2025 hal. https://ejournal. id/index. php/syahadah/about Riwayat Artikel: Dikirim: 30-09-2. Diterima: 08-10-2025 | Diterbitkan: 30 -10-2025 | HUMAN-CENTERED DIGITAL TRANSFORMATION: QURAoANIC PRINCIPLES FOR SUSTAINABLE DEVELOPMENT Ahmad Ari Masyhuri 1. Moh. Bakir 2. Miftah Ulya 3*. Fahmi A Jawwas 4 Universitas Pamulang. Banten. Indonesia Sekolah Tinggi Agama Islam Al Mujtama Pamekasan. Indonesia Institut Agama Islam Diniyyah Pekanbaru. Indonesia Universitas Islam Negeri. Datokaramah. Palu. Indonesia Email: Dosen01214@unpam. id, mbakir490@yahoo. com, miftah@diniyah. fahmi_jawwas99@yahoo. Abstrak: Transformasi digital dalam kerangka Society 5. 0 menuntut pergeseran paradigma dari sekadar efisiensi teknologi menuju orientasi pada kemanusiaan . uman-centere. Dalam perspektif Islam. Al-QurAoan menyediakan landasan etis dan normatif yang dapat menjadi pedoman dalam mengarahkan perkembangan teknologi agar tetap selaras dengan nilai kemanusiaan dan keberlanjutan peradaban. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi prinsip-prinsip QurAoani, khususnya maqAid al-syarAoah, dalam merumuskan kerangka transformasi digital yang berpusat pada manusia. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif berbasis studi kepustakaan . ibrary researc. , dengan analisis tematik terhadap ayat-ayat Al-QurAoan yang berkaitan dengan kemaslahatan, keadilan sosial . l-Aoad. , amanah, dan tanggung jawab ekologis. Data primer bersumber dari Al-QurAoan serta tafsir klasik dan kontemporer, sedangkan data sekunder mencakup literatur akademik terkini terkait etika digital dan keberlanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilainilai QurAoani mampu membentuk kerangka konseptual bagi transformasi digital yang menyeimbangkan inovasi dan etika, serta mengintegrasikan prinsip al-Aoadl . , alraumah . asih sayan. , dan amAnah . anggung jawa. dalam pengelolaan teknologi. Pendekatan ini dapat memitigasi risiko dehumanisasi akibat disrupsi teknologi dan memperkuat ketahanan sosial-ekologis dalam jangka panjang. Penelitian ini menyimpulkan bahwa paradigma human-centered digital transformation dalam perspektif Al-QurAoan bersifat proaktif dalam membentuk kebijakan, pendidikan, dan inovasi yang berorientasi pada visi sustainable humanity. Implikasi praktisnya menegaskan bahwa prinsip maqAid al-syarAoah dapat dijadikan acuan strategis bagi pembuat kebijakan dan pengembang teknologi untuk merancang sistem digital yang etis, inklusif, dan berkeadilan, demi kemaslahatan umat dan kelestarian lingkungan. Kata Kunci: Transformasi digital. maqAid al-syarAoah. human-centered. Al-QurAoan. Abstract Digital transformation within the framework of Society 5. 0 requires a paradigm shift from mere technological efficiency to a human-centered orientation. From the Islamic perspective, the QurAoan provides an ethical and normative foundation that can guide technological development to remain aligned with human values and civilizational This study aims to analyze the relevance of QurAoanic principles, particularly maqAid al-sharAoah, in formulating a human-centered digital transformation framework. This research employs a qualitative-descriptive approach using library research methods, with thematic analysis of QurAoanic verses related to malauah . ublic benefi. , al-Aoadl . , amAnah . , and ecological responsibility. Primary data are drawn from the QurAoan and both classical and contemporary tafsr, while secondary data include recent academic works on digital ethics and sustainability. The findings indicate that QurAoanic Human-Centered Digital Transformation: QurAoanic Principles For Sustainable Development values provide a conceptual framework for digital transformation that balances innovation and ethics, integrating justice, compassion . l-rauma. , and moral accountability in technology governance. This approach helps mitigate the risk of dehumanization caused by digital disruption and strengthens long-term social and ecological resilience. The study concludes that the QurAoanic-based human-centered digital transformation paradigm is proactive in shaping policies, education, and innovation toward sustainable humanity. The practical implication emphasizes that the principles of maqAid al-sharAoah can serve as a strategic foundation for policymakers and technology developers to design ethical, inclusive, and equitable digital systems for the welfare of humanity and the preservation of the Keyword:: Digital transformation. maqAid al-sharAoah. human-centered. QurAoan. Pendahuluan Transformasi digital di era Society 5. 0 sudah mengubah lanskap kehidupan manusia secara mendalam. Inovasi seperti adanya kecerdasan buatan . rtificial intelligenc. , big data, dan Internet of Things tidak hanya memengaruhi sektor ekonomi, tetapi juga struktur sosial, pola komunikasi, dan nilai-nilai kemanusiaan. Juga Society 5. 0 mengharmonikan ruang siber dan fisik, dengan pemanfaatan teknologi seperti AI. IoT, dan big data untuk menciptakan sistem yang melayani kepentingan masyarakat secara menyeluruhAibukan hanya efisiensiAidan mengedepankan kualitas hidup, tanggung jawab sosial, dan keberlanjutan1 Namun demikian, orientasi pengembangan teknologi yang terlalu berpusat pada efisiensi dan profit sering kali mengabaikan dimensi kemanusiaan. Padahal, esensi Society 5. menekankan pentingnya human-centeredAiyakni menempatkan kesejahteraan manusia sebagai poros utama inovasi. Dengan begitu Industry 5. 0 lahir sebagai respons terhadap keterbatasan paradigma Industrial 4. 0 yang terlalu fokus efisiensi. Industry 5. 0 menempatkan kesejahteraan pekerja sebagai pusat, serta mengedepankan ketahanan dan keberlanjutan. Dalam perspektif Islam. Al-QurAoan menegaskan bahwa kemajuan teknologi harus selaras dengan nilai-nilai moral dan keberlanjutan. Firman Allah dalam QS. Al-Qashash . :77. Ayat ini memberikan arahan bahwa pemanfaatan teknologi wajib mengedepankan kemaslahatan dan mencegah kerusakan, baik secara sosial maupun ekologis. Artinya, bahwa kerangka maqAid al-syarAoah dapat menjadi panduan komprehensif dalam menilai dan mengarahkan perkembangan AI melalui perlindungan agama, jiwa, akal, keturunan, dan hartaAimembantu menjaga integritas moral dalam teknologi. Fenomena disrupsi digital memunculkan tantangan baru, seperti dehumanisasi interaksi sosial, polarisasi politik melalui media digital, hingga degradasi etika akibat anonimitas dunia maya. Tantangan ini tidak sekadar teknis, melainkan menyentuh ranah nilai, moral, dan spiritual. Demikian pula adanya tantangan etis AIAiseperti privasi, manipulasi, dan biasAidari perspektif maqAid, dan menekankan perlunya paradigma etika Maria C. Tavares. Graya Azevedo, and Rui P. Marques. AuThe Challenges and Opportunities of Era 5. for a More Humanistic and Sustainable SocietyAiA Literature Review,Ay Societies 12, no. : 1Ae 21, https://doi. org/10. 3390/soc12060149. Joel Alves. Tynia M. Lima, and Pedro D. Gaspar. AuIs Industry 5. 0 a Human-Centred Approach? A Systematic Review,Ay Processes 11, no. : 1Ae15, https://doi. org/10. 3390/pr11010193. Ramlan Mustapha et al. AuInternational Journal of Islamic Theology and Civilisation Maqasid AlShariah In The Ai Era: Balancing Innovation And Islamic Ethical PrinciplesAy 3, no. : 1Ae21, https://doi. org/10. 5281/zenodo. Islam dalam tata kelola teknologi 4 Untuk itu hal ihwal ini, bahwa pendekatan berbasis AlQurAoan menawarkan kerangka etis yang kokoh untuk mengarahkan transformasi digital agar tetap memuliakan martabat manusia . arAmah insAniyya. Penelitian-penelitian terdahulu umumnya membahas etika digital dari perspektif hukum atau filsafat teknologi modern, namun belum banyak yang mengaitkannya secara komprehensif dengan prinsip-prinsip QurAoani, khususnya maqAid al-syarAoah. Padahal, maqAid menawarkan visi holistik yang mencakup adanya perlindungan jiwa, agama, keturunan, akal sekaligus harta yang semuanya sangat relevan dalam konteks dunia digital, mulai dari keamanan data hingga perlindungan hak cipta. Penerapan maqAid al-syarAoah sebagai etika dasar dalam penggunaan media sosial, berfokus pada perlindungan tersebut di atas sesungguhnya untuk mengendalikan potensi bahaya teknologi digital 5 Transformasi digital yang berpusat pada manusia . uman-centered digital transformatio. dalam perspektif QurAoani bukan hanya merespons tantangan etika teknologi, tetapi juga proaktif membentuk arah inovasi yang berkelanjutan . ustainable humanit. Hal ini diangap penting dalam mempertimbangkan nilai sosial dan humanisme dalam sistem digital Adapun tantangan seperti keamanan, kepercayaan, dan kepatuhan terhadap regulasi sebagai prasyarat keberlanjutan teknologi yang manusiawi 6 Prinsip istiAomar al-arsAipemakmuran bumiAisebagaimana disebut dalam QS. Hud . :61, dimana ayat ini menunjukkan mandat teologis untuk mengembangkan peradaban melalui teknologi yang membawa kebaikan jangka panjang. Selain itu, integrasi nilai al-Aoadl . dalam tata kelola digital menjadi penting untuk mencegah ketimpangan akses teknologi antara kelompok kaya dan miskin. QS. An-Nahl . :90 menyatakan bahwa Allah memerintahkan keadilan, berbuat kebajikan, dan melarang kezaliman. Nilai ini jika diterapkan dalam kebijakan digital akan memastikan pemerataan manfaat teknologi serta meminimalkan eksklusi sosial. Artikel ini menawarkan akan formulasi maqAid digital frameworkAikerangka etis yang memadukan prinsip-prinsip maqAid al-syarAoah dengan paradigma human-centered dalam transformasi digital. Berbeda dengan kajian etika teknologi yang cenderung netral secara agama, kerangka ini mengakui peran wahyu sebagai sumber legitimasi moral sekaligus panduan praktis untuk inovasi berkelanjutan. Metode Penelitian Penelitian dalam hal ini melalui pendekatan kualitatif dengan paradigma interpretatif yang berfokus pada pemahaman makna teks Al-QurAoan dalam konteks transformasi digital berpusat pada manusia. Pendekatan kualitatif dipilih karena sesuai untuk menggali fenomena sosial, budaya, dan etika yang bersifat kompleks serta menekankan pada interpretasi makna dibandingkan dengan pengukuran kuantitatif. Metode yang digunakan lewat studi kepustakaan . ibrary researc. dengan menelaah sumber-sumber primer, yakni Al-QurAoan dan tafsir klasik maupun kontemporer, serta sumber-sumber sekunder seperti artikel jurnal, buku, serta laporan penelitian terkini terkait digitalisasi, human-centered design, dan keberlanjutan. Studi kepustakaan ini bertujuan Mawloud Mohadi and Yasser Tarshany. AuMaqasid Al-ShariAoah and the Ethics of Artificial Intelligence,Ay Journal Contemporary Maqasid Studies . 79Ae102, https://doi. org/10. 52100/jcms. Mohd Harifadilah Rosidi. Ahmad Wifaq Bin Mokhtar, and Mohd Nasir Bin Abdul Majid. AuThe Role of Maqasid Al-ShariAoah as a Fundamental Ethics in Social Media Use,Ay International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences 12, no. , https://doi. org/10. 6007/ijarbss/v12i4/13044. Marco Autili et al. AuEngineering Digital Systems for Humanity: A Research Roadmap,Ay ACM Transactions on Software Engineering and Methodology 34, no. : 1Ae11, https://doi. org/10. 1145/3712006. Cheryl N 2. Creswell. John W. , & Poth. Qualitative Inquiry and Research Design: Choosing Among Five Approaches . th Ed. Thousand Oaks, (CA: Sage Publications. , 2. 19 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Human-Centered Digital Transformation: QurAoanic Principles For Sustainable Development mengkonstruksi pemahaman kritis tentang nilai-nilai QurAoani yang dapat dijadikan fondasi bagi peradaban digital berkelanjutan. Analisis teks dilakukan melalui pendekatan tafsir tematik . , yaitu menelusuri serangkaian ayat Al-QurAoan yang relevan dengan prinsip kemanusiaan, keadilan, tanggung jawab sosial, serta etika pemanfaatan teknologi. Pendekatan ini relevan untuk menemukan benang merah antara ajaran QurAoani dengan tantangan era digital. 9 Selain itu, penelitian ini juga menggunakan pendekatan hermeneutika sosial, yang memandang teks Al-QurAoan bukan sekedarsebagai dokumen normatif, namun lebih dari sebagai pedoman etis yang dapat diaktualisasikan dalam realitas sosial kontemporer. Dengan demikian, interpretasi QurAoani dapat menjawab isu-isu aktual seperti dehumanisasi teknologi, kesenjangan digital, dan krisis lingkungan. Sementara proses analisis data dilakukan lewat analisis isi . ontent analysi. melalui mengkategorikan aneka ayat QurAoan yang relevan, lalu menghubungkannya dengan aneka konsep etika digital, transformasi sosial, dan keberlanjutan. Teknik ini memungkinkan peneliti untuk membangun kerangka konseptual yang berlandaskan pada nilai QurAoani sekaligus kontekstual dengan tantangan zaman. 11 Untuk memudahkan alur metodologi penelitian ini berikut dapat dilihat pada diagram di bawah ini. Identifikasi Isu dan Tujuan (Transformasi Digital dan Nilai Quran. Studi Kepustakaan (Al Quran . Tafsir. Buku, dan Jurna. Analisis Teks Al Quran (Tafsir Tematik atau Maudhu. Hasil dan Diskusi Landasan Konseptual Human Centered Digital Transformation Transformasi digital adalah proses perubahan mendasar dalam sistem sosial, ekonomi, dan budaya yang didorong oleh integrasi teknologi digital kepada aneka aspek kehidupan manusia. Konsep Society 5. 0 diperkenalkan Jepang sebagai kaum yang Masfi SyaAofiatul Ummah. AuNo oEAuECeEauIoAIAAOAcCU AunAUNoA nAoCUIOIiUAOIaTitle,Ay Sustainability (Switzerlan. 11, no. : 1Ae14, http://scioteca. com/bitstream/handle/123456789/1091/RED2017-Eng8ene. pdf?sequence=12&isAllowed=yhttp://dx. org/10. 1016/j. 005htt ps://w. net/publication/305320484_SISTEM_PEMBETUNGAN_TERPUSAT_STRAT EGI_MELESTAR. Abdul HayyAl-Farmawi. Metode Tafsir MaudhuAoy: Suatu Pengantar (Jakarta: Raja Grafindo Persada. Zia Al-Ayyubi. AuPenafsiran Kontekstual Abdullah Saed (Metodologi Dan Aplikasi Pada Ayat Jilba. ,Ay Rausyan Fikr: Jurnal Ilmu Studi Ushuluddin Dan Filsafat 19, no. : 53Ae80, https://jurnal. id/index. php/rsy/article/view/1708. Klaus Krippendorff. AuContent Analysis: An Introduction to Its Methodology . th Ed. Thousand OaksAy (CA: Sage Publications, 2. berorientasi pada manusia, di mana pembangunan ekonomi dan pemecahan isu sosial sejalan melalui integrasi ruang digital dan nyata. 12 Tujuan utamanya adalah menciptakan masyarakat yang tahan dan berkelanjutan, menjamin keselamatan dan kesejahteraan individu di tengah ketidakpastian global Dalam konteks Society 5. 0, transformasi digital tidak lagi dipahami hanya sebagai adopsi teknologi mutakhir, tetapi sebagai upaya menggabungkan inovasi teknologi dengan pemecahan masalah sosial. Orientasi ini menempatkan manusia sebagai pusat pengambilan keputusan dan pengembangan teknologi, sehingga teknologi berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan kualitas hidup, bukan sekadar simbol kemajuan. Konsep Society 5. 0 pertama kali diperkenalkan di Jepang sebagai respons terhadap tantangan global seperti penuaan populasi, urbanisasi, perubahan iklim, dan kesenjangan sosial. Berbeda dengan Industry 4. 0 yang fokus pada automasi dan efisiensi produksi. Society 0 menekankan harmoni antara kemajuan teknologi dengan kebutuhan manusia. Society 0 merupakan langkah maju pasca-revolusi industri ke-4, yang menjadikan manusia sebagai pusat inovasi untuk meningkatkan kualitas hidup, tanggung jawab sosial, dan kontiunitas sekali lagi menegaskan peran teknologi sebagai pendukung kehidupan, bukan tujuan akhir 13. Tujuannya adalah menciptakan masyarakat yang seimbang secara sosial, ekonomi, dan lingkungan, dengan teknologi sebagai sarana pendukung kehidupan, bukan sebagai tujuan akhir. Orientasi kemanusiaan dalam transformasi digital tercermin dari prinsip bahwa inovasi harus dapat diakses secara inklusif oleh seluruh lapisan masyarakat. Hal ini mencegah munculnya kesenjangan digital . igital divid. yang dapat memperlebar jurang antara kelompok yang memiliki akses teknologi dan yang tidak. Maka dari itu perlu pemikiran mendalam mengenai dampak sosial transformasi digital terhadap manusia, termasuk risiko ketimpangan akses antar kelompok masyarakat 14 Kota-kota di Eropa pun menekankan pendekatan human-centered dalam transformasi digital untuk menjamin inklusivitas dan kesejahteraan semua warga Oleh karena itu, keberhasilan transformasi digital tidak diukur semata dari kecanggihan perangkat, melainkan dari sejauh mana teknologi memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan manusia. Dalam perspektif Islam, orientasi kemanusiaan ini sejalan dengan prinsip rahmatan lil AoAlamn yang diajarkan Al-QurAoan. Allah berfirman dalam QS. Al-AnbiyaAo . :107. Nilai QurAoani seperti rahmah dapat diaplikasikan sebagai dasar dalam merancang sistem digital yang membawa manfaat dan kemaslahatan kepada manusia dan makhluk lainnya. Ayat ini dapat menjadi dasar teologis bahwa segala bentuk inovasi, termasuk transformasi digital, harus membawa rahmat, kemaslahatan, dan perlindungan bagi manusia serta seluruh Lebih jauh, orientasi kemanusiaan menuntut adanya etika dalam pengembangan Hal ini penting karena kemajuan teknologi tanpa panduan nilai berpotensi melahirkan penyalahgunaan, eksploitasi data pribadi, dan manipulasi informasi. Pendekatan ini juga mengakui bahwa manusia bukan sekadar pengguna teknologi, tetapi juga subjek yang memiliki martabat dan hak yang harus dihormati. Teknologi dirancang untuk mendukung pengembangan potensi manusia, bukan menggantikannya. Dengan begitu, orientasi kemanusiaan dalam Society 5. 0 menghindarkan kita dari jebakan Gary R. Bunt. Hashtag Islam: How Cyber-Islamic Environments Are Transforming Religious Authority. (University of North Carolina Press. , 2. Elias G. Carayannis and Joanna Morawska-Jancelewicz. AuThe Futures of Europe: Society 5. 0 and Industry 5. 0 as Driving Forces of Future Universities,Ay Journal of the Knowledge Economy 13, no. : 3445Ae71, https://doi. org/10. 1007/s13132-021-00854-2. A Shaji George. AuPartners Universal International Innovation Journal (PUIIJ) Bridging the Digital Divide: Understanding the Human Impacts of Digital Transformation,Ay no. May . , https://doi. org/10. 5281/zenodo. Asad Isma et al. AuMaking Muslim Rahmatan Lil AoAlamin via Android: Study on UMMA Mobile App,Ay 2022, https://doi. org/10. 4108/eai. 20-10-2021. 21 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Human-Centered Digital Transformation: QurAoanic Principles For Sustainable Development dehumanisasi yang sering terjadi dalam perkembangan teknologi yang hanya berorientasi pada efisiensi. Sementara pendekatan technology-centered menempatkan teknologi sebagai pusat perhatian dan tujuan utama. Dalam paradigma ini, keberhasilan diukur dari tingkat kecanggihan teknologi, kecepatan inovasi, dan kemampuan sistem untuk mengotomatisasi pekerjaan manusia. Meski memiliki manfaat dalam meningkatkan produktivitas, pendekatan ini sering mengabaikan dampak sosial, etika, dan lingkungan. Akibatnya, teknologi dapat menciptakan ketimpangan, memarginalkan kelompok tertentu, dan mengurangi kualitas interaksi manusia. Sementara pendekatan human-centered menempatkan kebutuhan, aspirasi, dan nilainilai manusia sebagai prioritas utama dalam perancangan dan penerapan teknologi. Dalam paradigma ini, teknologi dilihat sebagai sarana untuk memecahkan masalah nyata yang dihadapi masyarakat, seperti kemiskinan, kesenjangan pendidikan, atau degradasi Keberhasilan diukur dari dampak positif yang dihasilkan terhadap kesejahteraan manusia dan keberlanjutan peradaban. Perbedaan fundamental antara kedua pendekatan ini dapat dilihat dari proses Pada technology-centered, desain teknologi sering kali lahir dari logika pasar atau dorongan kompetisi industri. Sementara pada human-centered, desain diawali dari pemahaman mendalam terhadap kebutuhan manusia, nilai-nilai budaya, dan prinsip moral. Di sektor kesehatan digital, pendekatan yang Auhuman-centricAy dibutuhkan untuk menjaga hak, kerahasiaan, dan martabat pasien dari dominasi logika ekonomi atau privatisasi data 16 Dalam perspektif Al-QurAoan, pendekatan human-centered selaras dengan konsep maslahahAiyakni kemanfaatan yang mengutamakan kebaikan dan mencegah kerusakan . QS. Al-Baqarah . :195. Dalam ayat ini memberikan prinsip umum bahwa segala inovasi, termasuk teknologi, harus menghindarkan manusia dari bahaya dan memaksimalkan kebaikan. Pendekatan technology-centered cenderung menimbulkan Aufetish teknologiAy di mana teknologi dianggap sebagai solusi tunggal untuk semua masalah. Padahal, tanpa panduan nilai, teknologi dapat menjadi alat penindasan atau Sebaliknya, human-centered mengakui keterbatasan teknologi dan menempatkan manusia sebagai pengambil keputusan etis yang menentukan arah perkembangan teknologi. Perbedaan ini memiliki konsekuensi strategis bagi pembangunan peradaban digital. Pendekatan human-centered memungkinkan terciptanya teknologi yang lebih adaptif terhadap konteks budaya dan sosial suatu masyarakat. Hal ini relevan bagi negara seperti Indonesia yang memiliki keragaman budaya dan nilai religius yang kuat, sehingga pengembangan teknologi harus menghormati dan memperkuat identitas tersebut. Pendekatan human-centered ditopang oleh kerjasama lintas sektor pemerintah, akademia, industri untuk membangun ekosistem digital inklusif dan berorientasi pada nilai sosial serta Melalui pemahaman dalam perbedaan ini, kita dapat merumuskan strategi transformasi digital yang tidak sekadar mengadopsi teknologi terbaru, tetapi juga memastikan bahwa teknologi tersebut benar-benar memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan manusia. Strategi ini memerlukan kolaborasi lintas disiplin yang menggabungkan keilmuan teknologi, sosial, humaniora, dan nilai-nilai agama. Konsep sustainable humanity mengacu pada keberlangsungan hidup manusia yang berkualitas, adil, dan harmonis dengan lingkungan. Dalam konteks transformasi digital, hal Pekka Ruotsalainen and Bernd Blobel. AuA System Model and Requirements for Transformation to Human-Centric Digital Health,Ay Journal of Medical Internet Research 27, no. https://doi. org/10. 2196/68661. Ilias O. Pappas et al. AuResponsible Digital Transformation for a Sustainable Society,Ay Information Systems Frontiers 25, no. : 945Ae53, https://doi. org/10. 1007/s10796-023-10406-5. ini berarti teknologi tidak sekedar dikembangkan untuk mencukupi keperluan jangka pendek, namun juga untuk menjaga keseimbangan ekologi, kelestarian sumber daya alam, dan kohesi sosial. Pendesainan AI saat ini sering berisiko melewati kebutuhan manusia karena terlalu menekankan kecepatan inovasi tanpa memastikan kepercayaan dan tanggung jawab sosial 18. Integrasi visi ini memerlukan kerangka etis yang jelas, yang dapat ditemukan dalam prinsip-prinsip QurAoani. Di dalam QS. Ar-Rum . :41 tertera demikian. Ayat ini mengingatkan sesungghunya teknologi, jika digunakan tanpa kendali moral, dapat menimbulkan kerusakan lingkungan dan sosial yang luas. Human-centered digital transformation yang berlandaskan visi sustainable humanity menuntut adanya pertimbangan keberlanjutan dalam tiap level pengembangan teknologi, dimulai desain, produksi, distribusi, sampai pada penggunaan dan pembuangan. Ini mencakup prinsip ekonomi sirkular, efisiensi energi, dan pemanfaatan teknologi untuk mitigasi perubahan iklim. Termasuk didalamnya pengembangan AI yang human-centered harus menggabungkan pemahaman tentang manusia secara sosiokultural dan menjamin sistem yang transparan serta akuntabel. 19 Keberlanjutan juga menyangkut keadilan sosial, di mana teknologi harus mengurangi, bukan memperlebar, kesenjangan antar individu maupun antar daerah. Kondisi ini sejalan dengan titah perintah Al-QurAoan untuk menegakkan keadilan (QS. An-Nahl . yang menjadi fondasi masyarakat Artinya, teknologi yang berpihak pada kemanusiaan harus dirancang untuk melindungi kelompok rentan dan memastikan distribusi manfaat yang merata. Integrasi visi sustainable humanity memerlukan sinergi antara pemangku kebijakan, sektor swasta, akademisi, serta masyarakat sipil. Pendekatan ini menuntut regulasi yang tegas untuk mencegah praktik teknologi yang merusak lingkungan atau mengabaikan hak asasi manusia. Di sisi lain, inovasi harus didorong untuk menciptakan solusi bagi masalah sosial seperti kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan krisis lingkungan. Dalam konteks global, visi ini mendorong terciptanya teknologi yang tidak hanya kompetitif secara ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada pencapaian Sustainable Development Goals (SDG. Ketika digital transformation diarahkan pada tujuan keberlanjutan (SDG. , maka organisasi mendapatkan peningkatan performa lingkungan, sosial, dan ekonomi yang signifikan. Model integratif yang menyatukan literasi digital, inklusi sosial, dan keberlanjutan dalam konteks pendidikan digital global 21. Oleh sebab itu, dapat dikatakan bahwa transformasi digital berbasis human-centered menjadi jalan strategis untuk memastikan bahwa kemajuan teknologi membawa manfaat jangka panjang bagi umat manusia dan planet Penelitian empiris di industri manufaktur menunjukkan bahwa digital transformation mendorong inovasi hijau, yang pada gilirannya memperkuat performa keberlanjutan jangka Dalam Paper Principles for Environmental Justice in Technology mengajukan prinsipprinsip yang memprioritaskan kesinambungan ekologis dan keadilan dalam inovasi Dian Tjondronegoro et al. AuResponsible AI Implementation: A Human-Centered Framework for Accelerating the Innovation Process,Ay 2022, 1, https://arxiv. org/abs/2209. Mark O. Riedl. AuHuman-Centered Artificial Intelligence and Machine Learning,Ay Human Behavior and Emerging Technologies 1, no. : 33Ae36, https://doi. org/10. 1002/hbe2. Mohammed Alojail and Surbhi Bhatia Khan. AuImpact of Digital Transformation toward Sustainable Development,Ay Sustainability (Switzerlan. 1Ae20, https://doi. org/10. 3390/su152014697. Patricio Esteban Ramyrez-Correa. Ari Melo Mariano, and Mayra Rocha Santos. AuDigital and Sustainable Education and Social Inclusion: A Bibliometric Review with the Consolidated MetaAnalytical Approach,Ay Sustainability (Switzerlan. 1Ae26, https://doi. org/10. 3390/su17135677. Xing Mu. Dong Chen, and Hongmei Zhang. AuThe Impact of Digital Transformation on the Sustainable Development of Enterprises: An Analysis from the Perspective of Digital Finance,Ay Journal of Applied Economics 28, no. , https://doi. org/10. 1080/15140326. 23 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Human-Centered Digital Transformation: QurAoanic Principles For Sustainable Development teknologi, sebagai dasar masa depan regeneratif dan inklusif 23 Bisa dikatakan bahwa integrasi visi ini menegaskan bahwa kemajuan teknologi bukanlah tujuan akhir, melainkan sarana untuk mencapai peradaban yang adil, makmur, dan selaras dengan alam. Dalam perspektif QurAoani, hal ini adalah bentuk aktualisasi amanah yang ditujujakan pada manusia sebagai khalifah di persada bumi, yang bertanggung jawab memelihara keseimbangan serta keberlanjutan ciptaan Allah Perspektif Al-QurAoan terhadap Transformasi Digital Al-QurAoan memberikan panduan etis yang bersifat universal untuk mengatur interaksi manusia, termasuk dalam ranah pemanfaatan teknologi. Prinsip maslahah atau kemanfaatan tercermin dalam banyak ayat, di antaranya QS. Al-Baqarah . :201. Ayat ini menegaskan bahwa kemajuan dunia, termasuk teknologi, harus memberikan manfaat nyata tanpa mengabaikan dimensi akhirat dan nilai moral. Keadilan sosial . l-Aoad. adalah prinsip utama yang tidak dapat dipisahkan dari perkembangan teknologi. QS. An-Nahl . :90. Dalam kajian mengenai etika AI, disebutkan bahwa nilai Islam seperti keadilan . lAoad. , niat . , dan amanah . mAna. adalah pilar moral yang penting sebagai fondasi norma etisAilebih mendalam dibanding pendekatan sekuler. 24 Dalam konteks desain AI yang adil, prinsip al-Aoadl mendesak bahwa teknologi harus digunakan secara setara dan tidak menimbulkan kerugian bagi kelompok rentan. Pada konteks digital, prinsip ini mengharuskan adanya pemerataan akses teknologi, perlindungan hak digital, dan penghapusan diskriminasi berbasis teknologi. Prinsip rahmah . l-rauma. atau kasih sayang menuntut agar inovasi digital diarahkan untuk kemaslahatan bersama, bukan untuk merugikan pihak lain. Dalam etika bio-teknologis Islam modern, landasan normatifnya adalah tawhiti . , keadilan (Aoad. , dan rahmah . asih sayan. Aiyang menjadi dasar etik dalam berbagai aplikasi teknologi seperti AI. Tersurat dalam QS. Al-AnbiyaAo . :107 menegaskan misi Nabi Muhammad sebagai rahmatan lil AoAlamn. Artinya, setiap bentuk inovasi, termasuk di bidang digital, harus memancarkan kasih sayang, melindungi martabat manusia, dan menghindari kerusakan sosial maupun ekologis. Amanah sebagai prinsip dasar pengelolaan teknologi juga sangat ditekankan dalam Al-QurAoan. QS. An-NisaAo . :58. Amanah di era digital mencakup tanggung jawab menjaga kerahasiaan data, melindungi keamanan informasi, serta menghindari penyalahgunaan kekuasaan teknologi untuk kepentingan sempit. Dalam kajian bioetanika dan AI, tradisi etika Islam menekankan konsep trusteeship . , bersama dengan keadilan (Aoad. dan niat . , sebagai nilai fundamental yang mendasari tanggung jawab etis atas inovasi. Jika keempat prinsip ini . aslahah, al-Aoadl, al-raumah, dan amana. diintegrasikan dalam kebijakan dan desain teknologi, maka transformasi digital tidak akan terjebak pada orientasi profit semata. Sebaliknya, ia akan menjadi instrumen pemberdayaan manusia dan pembangunan berkelanjutan. Artikel MaqAid al-ShariAoah and the Ethics of Artificial Intelligence Sanjana Paul. AuPrinciples for Environmental Justice in Technology : Toward a Regenerative FutureAy 1, no. Fatima Ali et al. Islamic Ethics and AI : An Evaluation of Existing Approaches to AI Using Trusteeship Ethics (Springer Netherlands, 2. Mamdukh Budiman. Mirza Mahbub Wijaya, and Rijal Wakhid Rizkillah. AuArtificial Intelligence ( AI ) in Islam : Building Ethics and Solutions Based on Tawhid,Ay Proceeding of the International Conference on Religious Education and Cross-Cultural Understanding 1, no. : 60Ae76. Novarina Amalia Anggraini and Yayuk Sri Rahayu. AuOnlin. Original Res Earch Article TO CITE: Novarina Amalia Anggraini. Yayuk Sri Rahayu . Pengaruh Etika Pemasaran Islam Terhadap Minat Nasabah Menggunakan Produk Simpanan Mudharabah Di BMT Ar-Rahmah Arta Syariah Mojokerto,Ay Perisai@umsida. Ac. Id Perisai 6, no. : 97Ae105, https://doi. org/10. 21070/perisai. Ali et al. Islamic Ethics and AI : An Evaluation of Existing Approaches to AI Using Trusteeship Ethics. menegaskan pentingnya memasukkan pertimbangan etis . eperti privasi, kebebasan dari manipulas. ke dalam pengembangan AI, melalui pendekatan maqAid. 28 dalam hal penggunaan media sosial terdapat lima tujuan syariah termasuk agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta menjadi tolok ukur etika utama dalam pemanfaatan teknologi Dalam perspektif ini. Al-QurAoan bukan sekedar menjadi sumber inspirasi moral, namun menjadi panduan normatif untuk arah kebijakan teknologi modern. Hal penting yang membedakan pandangan QurAoani dengan etika teknologi sekuler adalah dimensi transendensinya. Prinsip-prinsip ini bukan hanya hasil konsensus sosial, melainkan memiliki legitimasi wahyu yang mengikat secara moral-spiritual. Hal ini memberikan landasan yang kokoh untuk menghadapi dilema etis yang muncul di tengah perkembangan teknologi yang cepat. Maka dari itu, pengembangan teknologi berbasis nilai-nilai QurAoani adalah langkah strategis untuk memastikan bahwa inovasi membawa kemanfaatan menyeluruh, melindungi martabat manusia, dan mendukung terciptanya masyarakat adil, inklusif, dan berkelanjutan. Konsep istiAomAr al-ars dalam Al-QurAoan merujuk pada mandat ilahi bagi manusia untuk memakmurkan bumi. QS. Hud . :61. Ayat ini mengandung pesan bahwa setiap aktivitas manusia, termasuk pengembangan teknologi, harus diarahkan untuk kesejahteraan bumi dan seluruh penghuninya. Dalam Kajian tematik tafsir Islami menegaskan bahwa makna istiAomar mengandung pesan tanggung jawab untuk menjaga tawazun alam, menekankan manusia sebagai khalfah di muka bumi. 30 Dalam hal ini sebagai penguatan bahwa Islam memerintahkan pemanfaatan alam secara tugas pengelolaan . , bukan eksploitasi memelihara keseimbangan ekologis sebagaimana khalfah konseptual (Environmental Jurisprudence Ae Nusantar. 31 Pemakmuran bumi dalam konteks teknologi berarti menciptakan inovasi yang mendukung keberlanjutan ekologis, menjaga keseimbangan alam, dan meningkatkan kualitas hidup manusia. Teknologi harus menjadi sarana untuk mengurangi kerusakan lingkungan, bukan sebaliknya. Misalnya, pengembangan energi terbarukan, sistem transportasi ramah lingkungan, dan teknologi daur ulang adalah wujud nyata istiAomar al-ars di era modern. Dalam Green Islamic Approach mempromosikan integrasi nilai-nilai Islam dalam kebijakan lingkungan modern, yang sejalan dengan SDGs dan praktik teknologi ramah lingkungan. Konsep ini juga mencakup dimensi sosial. Pemakmuran bumi tidak hanya berarti menjaga alam, tetapi juga membangun masyarakat yang adil, damai, dan sejahtera. Teknologi yang memicu kesenjangan sosial atau mengancam kohesi sosial bertentangan dengan semangat istiAomar al-ard. Dalam perspektif Islam terhadap sustainability mengintegrasikan dimensi spiritual, sosial, dan ekonomi dalam pendekatan yang holistikAi Mohadi and Tarshany. AuMaqasid Al-ShariAoah and the Ethics of Artificial Intelligence. Ay Rosidi. Mokhtar, and Abdul Majid. AuThe Role of Maqasid Al-ShariAoah as a Fundamental Ethics in Social Media Use. Ay Azzam Abu-Rayash and Eman Sabbah. AuAnalysis of Environmental Sustainability in the Holy Quran: Maqasid Framework,Ay Journal of Contemporary Maqasid Studies 2, no. : 61Ae94, https://doi. org/10. 52100/jcms. Faiz Zainuddin and Imam SyafiAo. AuEnvironmental Jurisprudence. Environmental Preservation Efforts Islam,Ay Nusantara: Journal Law Studies . 23Ae30, https://doi. org/10. 55210/assyariah. Yasmine Abdel Moneim. AuThe Green Islamic Approach on Environmental Sustainability: A Contemporary Perspective,Ay Manchester Journal of Transnational Islamic Law and Practice 19, no. : 43Ae68. 25 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Human-Centered Digital Transformation: QurAoanic Principles For Sustainable Development memastikan teknologi menciptakan kesejahteraan tanpa mengabaikan moralitas maupun keadilan sosial 33 Oleh karena itu, inovasi digital harus dirancang untuk memperkuat jaringan sosial, memperluas akses pendidikan, dan memperbaiki distribusi sumber daya. Dalam perspektif etika QurAoani, pemakmuran bumi harus memperhatikan prinsip maslahah dan menghindari mafsadah. Hal ini menuntut adanya regulasi ketat terhadap teknologi yang berpotensi merusak, seperti produksi limbah elektronik yang tidak terkelola atau penggunaan algoritma yang bias. Dalam kajian AuConcept of Sustainability in the Holy Quran: An AnalysisAy menekankan penggunaan sumber daya secara bertanggung jawab dan hemat, tepat berdasarkan nilai QurAoan, sebagai dasar filosofis regulasi lingkungan. Sementara adanya Konsep IstiAomAr al-ars juga memerlukan pendekatan lintas disiplin. Teknologi tidak dapat berkembang secara berkelanjutan tanpa keterlibatan ilmu lingkungan, ekonomi, hukum, dan nilai-nilai keagamaan. Dekonstruksi nilai QurAoanic untuk manajemen lingkungan mencakup tanggung jawab sebagai khalfah, keseimbangan ekologis, dan arsitektur hukum normatif berdasarkan Al-QurAoan. 35 Dengan melibatkan semua sektor, pengembangan teknologi dapat diarahkan untuk menciptakan keseimbangan antara kemajuan dan kelestarian. Mandat ini selaras dengan visi sustainable humanity dalam human-centered digital transformation. Teknologi tidak sekedar pemenuhan kebutuhan generasi saat ini semata, namun pula harus memastikan bahwa generasi mendatang mewarisi bumi yang layak huni. Prinsip ini sekaligus menegaskan peran manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab atas keberlangsungan ciptaan Allah. Dalam perspektif Islam modern menegaskan bahwa khalfah bukan autoritas absolut melainkan mandat pemeliharaan. pendekatan lingkungan Islami mendorong teknologi yang membangun keseimbangan dan warisan untuk generasi mendatang 36 Oleh sebab itu, konsep istiAomAr al-ars memberikan fondasi teologis yang kuat bagi pengembangan teknologi berkelanjutan, sekaligus memastikan bahwa inovasi digital membawa manfaat yang merata bagi manusia dan alam semesta. Prinsip QurAoani dan Maqsid al-SyariAoah MaqAid al-SyariAoah, yang secara umum dimaknai sebagai tujuan-tujuan utama syariat Islam, menawarkan kerangka etis yang komprehensif dalam menghadapi perkembangan teknologi digital. Secara klasik, al-Syaibi dan ulama lainnya menekankan lima tujuan utama dalam rangka menjaga agama . ife al-d. , jiwa . ife al-naf. , akal . ifz al-Aoaq. , keturunan huife al-nas. , dan harta . ife al-mA. Dalam konteks era digital, prinsip-prinsip ini dapat menjadi landasan normatif untuk menilai dan mengarahkan inovasi teknologi, sehingga kemajuan tidak mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitas. Auda secara khusus menggarisbawahi keperluan pendekatan systems approach dalam menerapkan maqAid dalam kebijakan modern, termasuk transformasi digital. Dalam hal ini oleh Al-QurAoan menegaskan pentingnya keadilan dan kemaslahatan sebagai pijakan etis. Firman Allah di dalam (QS. al-Naul . : . Ayat ini dapat ditafsirkan Abu-Rayash and Sabbah. AuAnalysis of Environmental Sustainability in the Holy Quran: Maqasid Framework. Ay Sayyed Shakeel ur Rahman et al. AuConcept Of Sustainability In The Holy Quran: An AnalysisPalarchAos,Ay Concept of Sustainability in the Holy Quran: An Analysis Pjaee 20, no. : 1946Ae59. Asram A. Jadda et al. AuConcept and Architecture of Al-Quran Legal Values in Environmental Management,Ay Pakistan Journal of Life and Social Sciences 22, no. : 3755Ae66, https://doi. org/10. 57239/PJLSS-2024-22. Khaled Abou El Fadl. AuThe Great Theft: Wrestling Islam from the ExtremistsAy (Harper One, 2. Jasser Auda. Maqasid Al-Shariah as Philosophy of Islamic Law: A Systems Approach. (International Institute of Islamic Thought . T), 2. Ali et al. Islamic Ethics and AI : An Evaluation of Existing Approaches to AI Using Trusteeship Ethics. sebagai legitimasi syarAoi bahwa setiap kebijakan dan inovasi, termasuk di bidang teknologi, harus memperhatikan prinsip keadilan sosial, distribusi manfaat, dan pencegahan kerusakan . Dalam konteks digital, ayat ini memberikan legitimasi syarAoi untuk kebijakan dan inovasi teknologi yang menegakkan keadilan sosial, distribusi manfaat, serta mencegah mafsadah . Pendekatan ini telah direkomendasikan oleh Mohadi & Tarshany dalam menyusun kerangka etika AI berbasis maqasid. 39 Dalam era transformasi digital, maqasid tidak hanya berperan sebagai AupenjagaAy dari dampak negatif, tetapi juga sebagai pendorong lahirnya kebijakan publik yang mengintegrasikan nilai etis dalam desain sistem digital. Hifz al-Din (Perlindungan Agam. Transformasi digital menghadirkan peluang besar dalam penyebaran ilmu keislaman melalui media daring, namun juga membuka pintu penyebaran informasi yang Prinsip uife al-dn menuntut adanya mekanisme verifikasi dan literasi digital Islami agar konten yang beredar tetap terjaga dari penyimpangan aqidah dan syariah. Era digital memperluas penyebaran ilmu keislaman tapi juga rentan terhadap penyebaran konten yang sesat. Oleh karenanya, prinsip hifz al-din menuntut literasi digital Islami dan verifikasi konten untuk menjaga aqidah dan syariah. Penekanan ini tercermin dalam kerangka etis teknologi Islam kontemporer. ifz al-Nafs (Perlindungan Jiw. Aplikasi kesehatan berbasis AI, sistem peringatan dini bencana, dan keamanan siber dapat menjadi instrumen maqAid untuk melindungi nyawa. Sebaliknya, penyalahgunaan teknologi yang membahayakan jiwa, seperti cyberbullying ekstrem atau kejahatan digital, harus dicegah melalui regulasi yang berpihak pada perlindungan nyawa manusia (AlQurAoan. QS. al-MAAoidah . : . ife al-AoAql (Perlindungan Aka. Era digital memudahkan akses informasi, namun juga rawan menumpulkan daya kritis melalui disinformasi. Prinsip uife al-Aoaql menuntut pengembangan literasi digital, kurikulum etika teknologi, dan algoritma yang mempromosikan konten edukatif serta menghindari manipulasi psikologis pengguna. Era digital memperluas penyebaran ilmu keislaman tapi juga rentan terhadap penyebaran konten yang sesat. Oleh karenanya, prinsip hifz al-din menuntut literasi digital Islami dan verifikasi konten untuk menjaga aqidah dan syariah. Penekanan ini tercermin dalam kerangka etis teknologi Islam kontemporer. ife al-Nasl (Perlindungan Keturuna. Keamanan data anak, perlindungan dari konten eksplisit, dan pembinaan interaksi daring yang sehat merupakan penerapan maqAid ini. Teknologi seharusnya mendukung pendidikan dan pembinaan moral generasi muda, bukan menjadi sumber degradasi nilai. ife al-MAl (Perlindungan Hart. Keamanan transaksi digital, pencegahan penipuan daring, dan distribusi manfaat ekonomi teknologi harus menjadi prioritas. Prinsip ini menuntut desain sistem keuangan digital yang aman, transparan, dan adil. Secara keseluruhan, maqAid al-syarAoah tidak hanya memberikan panduan normatif, tetapi juga kerangka strategis dalam membentuk ekosistem digital yang berkeadilan, berkelanjutan, dan bermaslahat. Pendekatan ini sejalan dengan pemikiran Jasser Auda . yang menekankan perlunya systems approach dalam menerapkan maqAid, yakni Mohadi and Tarshany. AuMaqasid Al-ShariAoah and the Ethics of Artificial Intelligence. Ay Mustapha Et Al. AuInternational Journal Of Islamic Theology And Civilisation Maqasid Al-Shariah In The Ai Era: Balancing Innovation And Islamic Ethical Principles. Ay Ramlan Mustapha. Islamic Education, and Article Info. AuISLAMIC SOCIAL ETHIC : A SCHOLAR VIEWSAy 2, no. : 49Ae59, https://doi. org/10. 5281/zenodo. 27 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Human-Centered Digital Transformation: QurAoanic Principles For Sustainable Development mempertimbangkan keterkaitan antarunsur sosial, ekonomi, teknologi, dan nilai spiritual dalam pengambilan kebijakan digital. Berikut table singkat prinsip maqAid al-syarAoah dan aplikasinya di digital PRINSIP MAQAID ALSYARAoAH MAKNA DAN FOKUS PERLINDUNGAN APLIKASI DALAM TRANSFORMASI DIGITAL DASAR ALQURAoAN uife al-dn (Perlindungan Agam. Menjaga kemurnian aqidah, nilai, dan ajaran Islam dari - Pengembangan literasi digital Islami. - Verifikasi keaslian dan kredibilitas konten keislaman. Regulasi terhadap konten yang menyimpang dari nilai syariah. uife al-nafs (Perlindungan Jiw. Menjamin keselamatan, keamanan, dan kesejahteraan manusia. uife al-Aoaql (Perlindungan Aka. Melindungi daya pikir dan nalar manusia dari kerusakan moral dan uife al-nasl (Perlindungan Keturuna. Menjamin keberlanjutan moral dan sosial uife al-mAl (Perlindungan Hart. Menjaga keamanan, keadilan, dan distribusi harta secara halal dan - Pemanfaatan AI untuk layanan kesehatan dan mitigasi - Perlindungan dari cyberbullying, kejahatan daring, dan eksploitasi digital. - Regulasi etis penggunaan teknologi berisiko tinggi. - Pengembangan kurikulum etika digital dan literasi media. Pengawasan terhadap algoritma agar tidak manipulatif. - Promosi konten edukatif dan penguatan daya kritis pengguna. - Keamanan data anak dan - Pencegahan paparan konten eksplisit dan kekerasan - Pembinaan interaksi daring yang sehat berbasis nilai - Penguatan keamanan transaksi digital dan data finansial. Pencegahan penipuan daring . nline frau. - Inovasi keuangan syariah berbasis teknologi . intech Islam. QS. AlNaul :125, QS. AlujurAt QS. AlMAAoidah :32 QS. AlAoAlaq . :1Ae5 QS. AlTahrm QS. AlBaqarah :188 Implementasi Strategi Integrasi pendidikan karakter QurAoani ke dalam literasi digital merupakan langkah strategis untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak sekadar berorientasi pada kecanggihan, tetapi juga berlandaskan pada moralitas yang kokoh. Literasi digital yang dimaksud bukan hanya kemampuan teknis menggunakan perangkat dan aplikasi, melainkan juga mencakup keterampilan kritis, etis, dan bijaksana dalam mengelola Dalam hal literasi digital yang bukan sekadar kompetensi teknis, melainkan juga mencakup kemampuan verifikasi dan penilaian kritis terhadap berita daringAiketerampilan yang selaras dengan prinsip QurAoani seperti idq . dan amAnah . anggung jawa. Ezgi GyuN-TOSK. Yasemin BERTZ, and Mustafa Tevfik HEBEBC. AuIndividualsAo Habits of Trust and Verification in Social Media News and Their Literacy,Ay Journal of Learning and Teaching in Digital Age 8, no. : 169Ae75, https://doi. org/10. 53850/joltida. Prinsip-prinsip QurAoani seperti sidq . , adalah . , dan amanah . anggung jawa. menjadi pedoman utama agar interaksi di ruang digital tetap membawa QS. Al-ujurAt . : 6 memberikan peringatan tegas agar memverifikasi informasi sebelum menyebarkannya, yang relevan untuk menghindari hoaks di era digital. Pendidikan karakter QurAoani dalam literasi digital dapat dimulai sejak tingkat pendidikan dasar, dengan pembelajaran berbasis studi kasus digital yang mengajarkan konsekuensi etis dari setiap tindakan daring. Misalnya, pembahasan tentang etika komunikasi online bisa dikaitkan dengan QS. An-NisaAo . : 148 yang melarang menyebarkan ucapan buruk kecuali untuk menuntut keadilan. Kurikulum yang disusun secara kontekstual akan membantu generasi muda memahami bahwa ajaran Al-QurAoan bersifat aplikatif dalam dunia maya yang penuh tantangan moral. Integrasi ini tidak hanya dilakukan di lembaga pendidikan formal, tetapi juga dalam pendidikan nonformal dan komunitas. Program pelatihan literasi digital berbasis QurAoani bisa menyasar berbagai kelompok masyarakat, seperti komunitas ibu rumah tangga, pelaku UMKM, dan pemuda desa. Dengan pendekatan ini, literasi digital menjadi bagian dari pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar keterampilan teknis. Selain itu, pendidikan karakter QurAoani dapat diimplementasikan melalui media digital itu sendiri. Konten edukatif di media sosial, podcast, dan platform video dapat dikemas dengan narasi QurAoani yang memikat dan masih dipandang relevan dengan kehidupan keseharian. Misalnya, pembuatan seri video singkat tentang AuEtika QurAoani di Media SosialAy yang menampilkan kisah-kisah teladan dari Al-QurAoan. Strategi pendidikan moral digital berbasis QurAoan dengan memanfaatkan AI dan metaverse terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar dan internalisasi nilai QurAoani di kalangan siswa generasi muda. Penerapan pendidikan karakter QurAoani juga membutuhkan dukungan dari keluarga sebagai madrasah pertama. Orang tua dapat menjadi role model dengan menunjukkan perilaku digital yang santun, seperti tidak terlibat dalam ujaran kebencian, menghindari konsumsi konten negatif, dan memanfaatkan teknologi untuk hal-hal yang produktif. tingkat masyarakat luas, literasi digital berbasis QurAoani dapat dikaitkan dengan kampanye publik, misalnya gerakan AuBerinternet dengan AkhlakAy atau AuDigital AmanahAy yang memadukan pesan moral QurAoani dengan teknik komunikasi massa modern. Kampanye seperti ini akan lebih efektif jika didukung tokoh masyarakat dan influencer yang memiliki pengaruh besar di media digital. Program literasi digital berbasis nilai Islami, misalnya yang fokus membangun kesadaran literasi digital pada generasi Z dengan landasan morals QurAoani, telah terbukti meningkatkan kesadaran kritis dan etika penggunaan teknologi. Integrasi nilai QurAoani dalam literasi digital juga menuntut adanya riset berkelanjutan untuk mengukur efektivitasnya. Evaluasi terhadap program pendidikan harus dilakukan secara periodik untuk mengetahui sejauh mana nilai-nilai QurAoani telah menginternalisasi perilaku digital masyarakat. Kajian sistematis menunjukkan bahwa meskipun publikasi literasi digital dalam perspektif Islam meningkat, masih terdapat gap yang signifikan dalam integrasi nilai Islami. Ini menekankan perlunya riset mendalam untuk meningkatkan efektivitas kurikulum dan kampanye moral digital 45 Melalui pendekatan komprehensif ini, literasi digital tidak hanya membekali masyarakat dengan keterampilan teknologi, tetapi Salis Masruhin et al. AuHadits Sebagai Sumber TasyriAo Dalam Islam,Ay Jurnal Al Mujaddid Humaniora 9, no. : 1Ae9. Muhammad Nuh Siregar et al. AuLiterary Ethics in the Perspective of adth and Its Implications for Gen Z in Facing the Digital Era,Ay TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin 24, no. : 108Ae43, https://doi. org/10. 30631/tjd. Mohamad Fauzan Adima et al. AuDigital Literacy Trends in Islamic Perspective in Higher Education: A Bibliometric Review,Ay Jurnal Penelitian Pendidikan IPA 10, no. : 1012Ae26, https://doi. org/10. 29303/jppipa. 29 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Human-Centered Digital Transformation: QurAoanic Principles For Sustainable Development juga memelihara identitas moral yang sejalan dengan visi Al-QurAoan: menghadirkan kemaslahatan dan mencegah adanya pengrusakan atau mafsadat. Tantangan dan Solusi Era digital membawa kemajuan yang signifikan dalam konektivitas, akses informasi, dan inovasi teknologi. Namun, kemajuan ini juga menghadirkan tantangan besar bagi peradaban modern. Dehumanisasi muncul ketika interaksi manusia semakin bergeser dari tatap muka ke dunia maya, sehingga empati, kepedulian, dan rasa kemanusiaan kerap Fenomena ini sejalan dengan peringatan Al-QurAoan agar manusia tidak kehilangan jati dirinya sebagai khalifah yang memelihara nilai-nilai kemuliaan (QS. Al-IsraAo : . Ketimpangan digital . igital divid. menjadi tantangan lain yang memicu kesenjangan akses teknologi antara negara maju dan berkembang, bahkan di dalam satu wilayah yang sama. Hal ini berpotensi melahirkan ketidakadilan sosial yang bertentangan dengan prinsip kesetaraan dalam Islam (QS. Al Hujarat: . yang menegaskan bahwa kemuliaan manusia di sisi Allah diukur dari ketakwaan, bukan dari kemampuan teknologinya. Degradasi moral juga semakin tampak di era digital, terutama dengan maraknya konten negatif, ujaran kebencian, dan penyebaran fitnah yang begitu cepat di media sosial. Al-QurAoan secara tegas melarang penyebaran berita bohong dan perbuatan keji (QS. Nur: . , karena dampaknya dapat merusak tatanan sosial dan memicu konflik. Sementara itu, eksploitasi sumber daya demi mendukung infrastruktur digitalAidari penambangan bahan elektronik hingga konsumsi energi datacenterAimemicu risiko ekologis besar. Studi terkait dampak lingkungan dari sistem komputasi menunjukkan bahwa limbah elektronik dan konsumsi energi terus meningkat, bahkan melampaui efisiensi inovasi 46 Selain itu, eksploitasi sumber daya untuk menunjang infrastruktur digitalAimulai dari penambangan mineral hingga penggunaan energi besarAidapat menimbulkan kerusakan ekologis. Padahal. Al-QurAoan mengingatkan agar manusia tidak melakukan pengrusakan di persada bumi (QS. Al-AAoraf: . dan memerintahkan untuk memanfaatkan bumi secara bijak. Dalam menghadapi tantangan tersebut. Al-QurAoan menawarkan kerangka solusi yang bersifat universal dan aplikatif. Pertama, penguatan akhlAq al-karimah perlu menjadi landasan dalam membangun budaya digital. Rasulullah diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia, dan hal ini tetap relevan dalam ruang digital. Prinsip-prinsip seperti kejujuran (QS. Ah-Saff: 2-. , kesabaran (QS. Ali Imran : . , dan menjaga amanah (QS. An NisaAo: , harus diinternalisasi oleh pengguna teknologi, pengembang, dan regulator. Kedua, pengendalian hawa nafsu menjadi kunci untuk mencegah penyalahgunaan teknologi. AlQurAoan memuji siapa saja yang mampu meredam amarah sekaligus bisa memberi pemaafan akan kesalahan orang lain (QS. Ali Imran : . , sebuah prinsip yang dapat mencegah polarisasi dan konflik di dunia maya. Pengendalian diri juga mendorong penggunaan teknologi secara produktif, bukan destruktif. Ketiga, tata kelola adil dalam teknologi memerlukan regulasi yang menyeimbangkan antara inovasi dan perlindungan terhadap kepentingan publik. Prinsip keadilan (Al-AoAd. yang ditegaskan dalam QS. An Nahl: 90 dapat menjadi landasan etis bagi pembuat kebijakan untuk memastikan distribusi manfaat teknologi secara merata, melindungi privasi, dan mencegah monopoli digital. Meski menghadirkan tantangan, teknologi juga memiliki potensi besar sebagai wasilah . untuk menegakkan nilai-nilai QurAoani secara global. Inovasi digital dapat dimanfaatkan untuk menyebarkan dakwah, memperluas akses pendidikan, meningkatkan literasi keagamaan, dan membangun solidaritas lintas negara. Udit Gupta et al. AuChasing Carbon: The Elusive Environmental Footprint of Computing,Ay Ie Micro 42, no. : 37Ae47, https://doi. org/10. 1109/MM. Al-QurAoan memerintahkan umat Islam untuk menyeru pada kebaikan dan melarang perbuatan kemungkaran (QS. Ali AoImran: . Dengan pemanfaatan teknologi informasi, pesan moral dan spiritual ini dapat disebarkan secara lebih efektif dan menjangkau audiens Artificial Intelligence. Big Data, dan Internet of Things dapat diarahkan untuk mendukung tata kelola sosial yang lebih adil, memperkuat ekosistem ramah lingkungan, dan menegakkan prinsip rahmatan lil-AoAlamn. Maka dari itu, dalam membangun peradaban digital berkelanjutan bukan hanya memerlukan inovasi teknis, tetapi juga transformasi nilai yang berpijak pada ajaran Al-QurAoan, sehingga kemajuan teknologi tidak menggerus kemanusiaan, melainkan menguatkan peran manusia sebagai khalifah di bumi. Kesimpulan Penelitian ini menegaskan bahwa transformasi digital yang berpusat pada manusia . uman-centered digital transformatio. dalam perspektif Al-QurAoan merupakan suatu keniscayaan untuk mewujudkan peradaban berkelanjutan. Nilai-nilai Al-Qur'an menyediakan kerangka etika yang kokoh untuk transformasi digital yang berorientasi pada Nilai-nilai seperti al-Aoadl . , al-malauah . , al-raumah . asih sayan. , dan al-amAnah . anggung jawa. menjadi pilar utama dalam membingkai etika Nilai-nilai tersebut tidak hanya berfungsi sebagai norma moral, tetapi juga sebagai kerangka epistemologis bagi pengembangan teknologi digital yang humanis, inklusif, dan berorientasi pada keberlanjutan. Al-QurAoan sendiri memberikan arahan universal terkait etika dan orientasi kehidupan berperadaban sebagaimana tercermin dalam QS. Al-Qaa . : 77. Transformasi digital berbasis human-centered dalam perspektif Islam bukan sekadar inovasi teknis, tetapi merupakan orientasi etis-sosiokultural yang berakar pada prinsip malauah. Aoadl, raumah, dan amAnah. Prinsip-prinsip maqAid al-syarAoah dapat menjadi panduan untuk membangun teknologi yang berkelanjutan dan adil secara sosial. Integrasi nilai-nilai ini selaras dengan mandat QurAoani istiAomAr al-ars . emakmuran bum. dan peran manusia sebagai khalfah, sehingga teknologi ditempatkan sebagai instrumen pemeliharaan bumi, perlindungan martabat manusia, dan penguatan kohesi sosial. Reintegrasi kerangka maqAid al-syarAoah dalam isu-isu digital kontemporer menghadirkan strategi etika digital yang holistik: uife al-dn untuk literasi dan verifikasi konten Islami, uife al-nafs untuk regulasi AI dan keamanan jiwa, uife al-Aoaql untuk literasi kritis dan algoritma edukatif, uife al-nasl untuk perlindungan generasi digital, serta uife almAl untuk keamanan dan keadilan ekonomi digital. Pelaksanaan prinsip-prinsip ini menuntut integrasi lintas sektor dalam kebijakan publik, pendidikan, dan program literasi digital QurAoani. Pendekatan ini menghasilkan model etika teknologi yang unik, yaitu Islamic Human-Centered Digital TransformationAisebuah paradigma yang menyinergikan maqAid alsyarAoah dengan agenda global Society 5. 0 dan Sustainable Development Goals (SDG. Model ini menawarkan alternatif bagi dunia untuk keluar dari fetisisme teknologi menuju peradaban digital yang berkeadilan, inklusif, ekologis, dan transendental. Rekomendasi untuk penelitian selanjutnya, studi empiris diperlukan untuk menguji sejauh mana nilai-nilai maqAid al-syarAoah telah diintegrasikan dalam kebijakan digital nasional maupun program literasi teknologi di lembaga pendidikan Islam. Selain itu, riset komparatif dapat dilakukan untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan berbasis Al-QurAoan dalam mengarahkan inovasi teknologi yang etis, berkelanjutan, dan berkeadilan sosial. Pendekatan interdisipliner yang melibatkan kajian tafsir, etika digital, dan kebijakan publik juga akan memperkaya pemahaman terhadap bagaimana prinsip QurAoani dapat dioperasionalkan dalam tata kelola teknologi modern. 31 | Syahadah: Jurnal Ilmu al-QurAoan dan Keislaman P-ISSN: 23380349 . E-ISSN: 23380349 Vol 13 Nomor 2, 2025 Human-Centered Digital Transformation: QurAoanic Principles For Sustainable Development Daftar Pustaka