Manna Rafflesia, 8/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf Manna Rafflesia, 9/2 (April 2. https://s. id/Man_Raf P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Manna Rafflesia Article History: Submitted : 07/12/2023 Reviewed : 17/03/2025 Accepted : 30/09/2025 Published : 31/10/2025 ISSN: 2356-4547 (Prin. , 2721-0006 (Onlin. Vol. No. Oktober 2025, . , https://s. id/Man_Raf Published By: Sekolah Tinggi Teologi Arastamar Bengkulu PEMBACAAN LINTAS TEKSTUAL NARASI DEWA RUCI DAN WANITA SAMARIA SEBAGAI MODEL TEOLOGI KONTEKSTUAL BAGI MASYARAKAT JAWA David Eko Setiawan 1* Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu * Email Correspondence:davidekosetiawan14217@gmail. Abstract: This study aims to examine the theme of Living Water through a cross-textual reading of the Dewa Ruci narrative in Javanese tradition and the account of Jesus with the Samaritan woman in John 4. Using the cross-textual reading method, this research identifies similarities, differences, and points of convergence between the two narratives. The integration of these meanings is employed to formulate a contextual theology model that combines the biblical message with the symbolic richness of Javanese culture. The findings are expected to contribute to the development of a theology that is relevant, communicative, and rooted in the Javanese cultural context. Keywords: Water of Life. Cross-textual reading. Dewa Ruci. Woman of Samaria Abstraksi: Penelitian ini bertujuan mengkaji tema Air Hidup melalui pembacaan lintas tekstual antara narasi Dewa Ruci dalam tradisi Jawa dan kisah Yesus dengan perempuan Samaria dalam Injil Yohanes 4. Dengan menggunakan metode cross-textual reading, penelitian ini mengidentifikasi kesamaan, perbedaan, serta titik temu makna dari kedua narasi. Integrasi makna tersebut digunakan untuk merumuskan model teologi kontekstual yang memadukan pesan Alkitab dengan kekayaan simbolik budaya Jawa. Hasil penelitian diharapkan memberikan kontribusi bagi pengembangan teologi yang relevan, komunikatif, dan berakar pada konteks masyarakat Jawa. Kata kunci: Air Hidup. Pembacaan Lintas Tekstual. Dewa Ruci. Wanita Samaria Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 14 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf PENDAHULUAN Pembacaan lintas tekstual merupakan suatu pendekatan yang sangat relevan dalam mengkaji teks-teks yang berasal dari berbagai tradisi kepercayaan atau keagamaan yang berbeda. Dalam Listijabudi mengungkapkan bahwa pembacaan lintas tekstual memiliki kontribusi yang berharga dalam mendorong tindakan pembebasan dan penghargaan terhadap realitas multireligius. 1 Disamping itu pendekatan cross tekstual reading rupanya dapat menghasilkan cara pandang yang inklusif dan menghargai keberagaman teks sakral, dengan harapan untuk menciptakan pemahaman yang lebih mendalam dan dialog yang saling memperkaya antara berbagai tradisi keagamaan. Bagi orang Kristen Asia, yang memiliki banyak sumber teks sakral, pendekatan ini menjadi semakin relevan dan memberikan nilai tambah yang membebaskan dalam ziarah teologis Kwok menyatakan bahwa penting bagi orang Kristen Asia untuk Alkitab memperhatikan sudut pandang sosiopolitik-kultural dan religius yang erat terhubung dengan konteks kehidupan mereka sendiri. 3 Selanjutnya. Kwok menggugah orang Kristen di Asia untuk mempelajari Alkitab dengan seksama dengan beberapa alasan berikut:4 Alasan pertama adalah karena Alkitab di Asia seringkali kontroversial dan ambivalen, terkait dengan konflik dan status yang Selama abad ke-19. Alkitab digunakan dalam konteks kolonialisme Daniel. K Listijabudi. Bergulat Di Tepian:Pembacaan Lintas Dua Kisah Mistik (Dewa Ruci Dan Yakub Di Yabo. Untuk Membangun Perdamaian (Jakarta: BPK Gunung Mulia Jakarta dan Universitas Duta Wacana Yogyakarta, 2. , 106Ae16. Daniel Kurniawan Listijabudi. AuPembacaan Lintas Tekstual: Tantangan Ber-Hermeneutik Alkitab Asia . ,Ay Gema Teologika 3, no. https://doi. org/10. 21460/gema. Kwok dalam Listijabudi, 216. Kwok dalam Listijabudi, 217. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 etnosentrik mengenai inferioritas orang Asia dan kekurangan budaya mereka. Namun. Alkitab juga menjadi sumber inspirasi dalam perjuangan melawan penindasan di Asia, khususnya di Filipina dan Korea Selatan. Alasan kedua adalah bahwa dalam konteks Asia. Alkitab berinteraksi dengan tradisi hermeneutik yang berbeda dari model penafsiran Barat, menantang hegemoni Akhirnya, alasan ketiga adalah bahwa paradigma baru dalam penafsiran Alkitab telah muncul dalam beberapa dekade terakhir, menciptakan ruang untuk pertanyaan baru dan mendorong kreativitas serta imajinasi. Dengan melibatkan wawasan dari ilmu sosial, budaya, dan studi literatur, pemahaman kita tentang hubungan antara teks, konteks, dan pembaca menjadi semakin beragam dan maju. Penelitian ini berangkat dari minat untuk melakukan pembacaan lintas teksual terhadap Dewa Ruci dan kisah Wanita Samaria dalam Yohanes 4:1Ae42. Kedua narasi tersebut, meskipun berasal dari tradisi yang berbeda, samasama memuat pengalaman mistik yang mendalam dan tema teologis serupa tentang Air Hidup. Kesamaan ini membuka ruang bagi konstruksi model teologi kontekstual yang mampu menjembatani tradisi lokal dan pesan Injil. Bagi penulis yang berakar pada budaya Jawa, dialog antar-teks ini bukan sekadar kajian akademis, melainkan juga kontribusi praktis bagi pengembangan teologi yang relevan, membebaskan, dan kontekstual bagi masyarakat Jawa masa Beberapa dengan kedua narsi tersebut telah dilakukan, seperti penelitian Hardono yang berusaha mengkaji tentang makna simbol air dalam narasi Dewa Ruci yang diyakini memiliki kesamaan pada kisah wanita Samaria dalam Injil Yohanes 4:1- Listijabudi, 217. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 15 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf 6 Di dalam penelitiannya Hardono menemukan bahwa simbolisasi Air Hidup dalam narasi tersebut merupakan gambaran perjalanan batin manusia kesejatian hidup ini. 7 Namun demikian dalam penelitain ini. Hardono lebih banyak mengulas makna simbolisasi air pada narasi Dewa Ruci dan kurang mengali makna air hidup dalam narasi wanita Samaria. Selanjutnya. Candra dalam penelitiannya juga menyinggung tentang gagasan tentang Air Hidup dalam kisah Dewa Ruci dan Wanita Samaria, namun demikian dia lebih banyak menggali gagasan tersebut dalam Serat Suluk Samariyah atas Yohanes 4:4-42. Pada penelitian ini, penulis berusaha membuat perbedaan dengan beberapa penelitian sebelumnya. Malalui metode cross textual approach, penulis berusaha menemukan kesamaan dan perbedaan konsep Air Hidup di dalam kedua narasi tersebut. Tujuannya adalah untuk membangun sebuah teologi kontekstual, khususnya bagi masyarakat Jawa. Penulis ingin mengembangkan gagasan Air Hidup melalui percakapan kedua narasi tersebut sehingga akan memperkaya gagasan tentang Air Hidup. METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-textual reading, yang pada bentuk awalnya dikenal sebagai cross-textual Hermeneutic. 9 Melalui pendekatan ini pernafsir bertujuan untuk mencapai keseimbangan antara Alkitab dan teks-teks suci Asia dalam konteks keagamaan, dengan maksud membentuk Hardono. AuPeziarahan Bima Mencari Air Kehidupan,Ay Orientasi Baru 24. 65Ae80. Hardono, 77. Robby Igusti Chandra. AuAnalisis Tafsir Lintas Budaya Serat Suluk Samariyah Atas Yohanes 4:4-42,Ay Jurnal EFATA 6, no. : 1Ae16. Archie C. Lee. Cross-Textual Hermeneutics and Identity in Multi-Scriptural Asia, ed. Sebastian C. Kim (New York: Cambridge University Press, 2. , 200. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 identitas Kristen yang terinspirasi oleh keragaman dan adanya multi-kitab suci. Selanjutnya. Listjabudi mengembangkannya menjadi cross-textual reading dimana pada pendekatan ini diupayakan untuk membandingkan dan AumenautkanAy dua teks yang berbeda. 11 Kesamaan yang ada pada kedua teks dibatasi pada Augagasan berresonansiAy antara lain pola, motif serta unsur-unsurnya, sedangkan untuk perbedannya dikelompokkan menjadi pemerkayaan, dan irreconciliable. Analisis serangkaian langkah yang terstruktur. Pertama, dalam konteks ini, dilakukan pengambilan narasi Dewa Ruci dari Alkitab sebagai teks A, serta narasi Wanita samaria sebagai teks B. Langkah berikutnya adalah membaca teks-teks tersebut dari awal hingga akhir dengan Pada tahap ini, dilakukan identifikasi terhadap kesamaan dan Untuk pemahaman yang lebih mendalam. Listijabudi perbedaan-perbedaan spesifik antara teks-teks tersebut, termasuk di dalamnya perbedaan dalam hal pola, motif, dan unsur-unsurnya. Selanjutnya dibangun sebuah model teologi yang kontektual tentang Air Hidup bagi masyarakat Jawa. HASIL Hasil dari pembacaan lintas tekstual pada narasi Dewa Ruci dan Wanita Samaria menghasilkan teologi kontekstual bagi masyarakat Jawa. Dari kedua narasi tersebut, terbangunlah Teologi Air Lee, 200. Daniel K Listijabudi. AuPEMBACAAN LINTAS TEKSTUAL: Tantangan Ber-Hermeneutik Alkitab Asia . ,Ay Gema Teologika 4, no. : 83, https://doi. org/10. 21460/gema. Listijabudi. Bergulat Tepian:Pembacaan Lintas Dua Kisah Mistik (Dewa Ruci Dan Yakub Di Yabo. Untuk Membangun Perdamaian, 104. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 16 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf Hidup yang berakar pada titik temu di antara keduanya. Dasar munculnya Teologi Air Hidup adalah simbolisasi Air Hidup. Gagasan yang dapat disajikan kepada masyarakat Jawa melalui Teologi Air Hidup mencakup dua aspek penting. Pertama. Kristus diakui sebagai pemberi Air Hidup sejati yang membawa masyarakat Jawa menuju pengalaman manunggaling Gusti-kawula melalui keterbukaan untuk percaya kepada-Nya. Kedua. Teologi Air Hidup memberikan makna mendalam terkait simbolisasi Air. Transformasi ini mencakup pembebasan jiwa dari beban masa lalu, hawa nafsu, dan perjalanan menuju keselamatan jiwa Untuk menyampaikan gagasan-gagasan ini secara efektif kepada masyarakat Jawa, melalui pemahaman Teologi Air Hidup. PEMBAHASAN Mengenal Tirta Amerta di dalam Narasi Bima dan Dewa Ruci Serat Dewa Ruci merupakan kisah mistik Kejawen yang didalamnya menceritakan tentang perjalanan Bima dalam mencari Air Hidup, yaitu air yang diyakini dapat membawa kepada kehidupan yang sempurna. 13 Kisah ini menggam-barkan perjuangan manusia dalam menempuh perjalanan batin untuk menemukan kebenaran sejati dan mencapai kesempurnaan hidup. Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menyebut air tersebut, antara lain Tirta Amerta14. Tirta Nirmala. Perwita Adi. Tirta Ening. 15 Panjaitan berpendapat bahwa perjalanan ini bukan merupakan perjalanan biasa namun merupakan Hardono. AuPeziarahan Bima Mencari Air Kehidupan,Ay 69. Hardono, 69. F R Abror. AuNilai-Nilai Karakter Dalam Serat Dewa Ruci Kidung (Studi Analisis Konten Naskah Transformasi Serat Dewa Ruci Karya Yasadipura I)Ay (Universitas Islam Indonesia, 2. , 5. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 sebuah perjalanan spiritual bagi Bima. Perjalanan tersebut sarat dengan makna simbolis yang mengajarkan nilai-nilai kebijak-sanaan dan pemurnian diri. Nugroho berpendapat bahwa kisah perjumpaan Bima dan Dewa Ruci dapat seseorang dalam mengejar kesempurnaan hidup, di mana Bima sebagai tokoh utama menghadapi berbagai tantangan yang akhirnya memperoleh kebijaksanaan dari Dewa Ruci. 17 Melalui narasi tersebut dapat ditarik pelajaran bahwa setiap pencarian hakiki selalu menuntut keteguhan hati, keberanian, dan kesediaan untuk belajar dari seti-ap Abror berpendapat bahwa inti dari cerita ini dapat ditemukan dalam adegan pertemuan dan percakapan Bima dengan Dewa Ruci, dewa kerdil yang tinggal di tengah lautan. 18 Dalam momen tersebut. Bima memperoleh ajaran tentang makna hidup yang sejati dan rahasia kesempurnaan jiwa. Cerita ini diawali kecemasan para Kurawa terhadap kekuatan dan kesaktian Bima yang akan menjadi ancaman bagi mereka dalam perang Barathayuda. Kemudian meminta kepada guru Drona agar mengatur siasat untuk memusnahkan Bima dengan menyuruhnya mencari Air Hidup (Tirta Amerta/Toyo Parwit. yang diyakini dapat memberikan kesempurnaan hidup. 19 Bima harus menghadapi berbagai rintangan yang Firman Panjaitan. AuSpiritualitas Mistik Sebagai Jalan Kesadaran: Tawaran Untuk Membangun Teologi Mistik Protestan,Ay Studia Philosphica et Theologica 5, no. : 111, https://doi. org/https://doi. org/10. 35312/spet. Gregorius Kukuh Nugroho. AuTujuan Hidup Manusia,Ay Jurnal Studia Philosophica et Theologica, 2015, 130. Abror. AuNilai-Nilai Karakter Dalam Serat Dewa Ruci Kidung (Studi Analisis Konten Naskah Transformasi Serat Dewa Ruci Karya Yasadipura I),Ay 4. Hariani Santiko. AuBhima Dan Toya Pawitra Dalam Cerita AoDewa Ruci,AoAy AMERTA. Jurnal Penelitian Dan Pengembangan Arkeologi 35, no. : 124Ae25. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 17 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf sulit saat ia melakukan perjalanan yang panjang dan berat untuk mencapai air suci yang terletak di hutan Tribarasa, di bawah Gandawedana, di gunung Candramuka, di dalam gua. 20 Rupanya perintah Guru Drona itu disikapi oleh Bima keinginannya untuk menemuka Tirta Amerta tidak dapat dicegah oleh saudarasaudaranya sendiri yaitu para pendawa. Padahal para Pandawa tahu bahwa dibalik perintah Drona ada siasat licik yang mematikan. Dengan keteguhan hati dan semangat yang tak dapat dilunturkan. Bima berangkat ke sebuah gua di Gunung Candradimukha. Sesampainya Bima di situ, ia disambut dengan serangan dua raksasa yang bernama Rukmuka dan Rukmakala. Bima Ternyata raksasa tersebut adalah dua Dewa yang sedang menjalani kutukan dari Bhatara Guru (Siw. , mereka adalah Dewa Indra dan Dewa Bayu. 22 Selanjutnya Bima menghancurkan Gunug Candradimukha, mendadak terdengar suara Dewa Indra dan Dewa Bayu yang mengatakan kepada Bima bahwa Tirta Amerta tidak berada di Gunung Candradimukha, lalu mereka menyarankan dia agar kembali kepada Guru Drona untuk bertanya dimanakah sebenarnya Air Hidup itu Setelah bertemu dengan Guru Drona. Bima kembali bertanya tentang keberadaan Tirta Amarta. Lalu Drona memberitahu kepadanya bahwa air itu terletak di dasar lautan. 24 Mendengar hal tersebut, kecurigaan para Pandawa pun mulai muncul, sebab menurut mereka Himawan T Pambudi. AuNARASI BIMA BERTEMU DEWARUCI : Metodologi Teologi Injili Di Indonesia,Ay Jurnal Amanat Agung 7, no. : 289. Santiko. AuBhima Dan Toya Pawitra Dalam Cerita AoDewa Ruci,AoAy 125. Santiko, 125. Santiko, 125. Santiko, 125. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 dibalik perintah Drona terdapat jebakan berbahaya, oleh karena itu, mereka berusaha kembali untuk mencegah saudaranya itu. 25 Namun, rupanya tekad Bima sudah bulat sehingga ia tidak menghiraukan peringatan dari saudarasaudaranya. Kemudian Bima pergi ke Samudera Minagkalbu,26 saat Bima masuk ke dalam samudera, ia diserang oleh seekor naga besar bernama Nemburnawa dengan semprotan bisa yang sangat beracun. 27 Lalu Bima pun melawannya hingga terjadi pertarungan yang sangat hebat diantara mereka 28 Dengan Kuku Pancanaka. Bima merobek-robek tubuh Naga Nemburnawa dan akhirnya naga itu pun 29 Ditengah kelelahan yang luar biasa. Bima diombang-ambingkan oleh ombak besar Samudera Minagkalbu dan berkali-kali dibenturkan ke batu karang yang keras dan tajam , seakan ingin menyurutkan serta menghempaskan niatnya untuk menemukan Tirta Amerta. 30 Sekali lagi. Bima tak pernah menyerah meskipun dia sedang berada di titik terlemah dalam hidupnya. Saat ia lemah dan hampir binasa, tiba-tiba muncullah sosok makhluk yang mirip dengannya , namun berukuran sangat kecil sebesar ibu jarinya. 31 Sosok itu digambarkan berambut panjang, dan bertubuh seperti anak kecil. 32 Lalu ia Bagus Wahyu Setyawan. AuEnvironment Preserving Character on Wayang Story Dewa Ruci: An Ecological Literature Study,Ay Jurnal Kata 4, no. : 129, https://doi. org/10. 22216/kata. Alphonsus Awan Murba Candra. AuImajinasi Tokoh BimaAy (Institut Seni Indonesia Yogyakarta, 2. , 4. Nasihin Aziz Raharjo. AuAnalisis Semiotik Serat Dewa RuciAy (UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2. , 53. Raharjo, 53. Hardono. AuPeziarahan Bima Mencari Air Kehidupan,Ay 72. Raharjo. AuAnalisis Semiotik Serat Dewa Ruci,Ay 53. Santiko. AuBhima Dan Toya Pawitra Dalam Cerita AoDewa Ruci,AoAy 125. Pambudi. AuNARASI BIMA BERTEMU DEWARUCI : Metodologi Teologi Injili Di Indonesia,Ay 289. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 18 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf memperkenalkan dirinya sebagai Dewa Ruci, dan setelah itu terjadilah percakapan diantara mereka berdua, dan dalam percakapan itu Dewa Ruci banyak memberikan wajangan tentang hidup, jiwa kesatria dan kebenaran kepada Bima. 33 Setelah itu. Dewa Ruci menyuruh Bima untuk masuk ke dalam tubuhnya melalui telinga kiri, spontan hal ini dianggap lelucon dan tidak masuk akal, karena tubuh Dewa Ruci sangat kecil sedangkan Bima memiliki tubuh yang besar dan kekar. Reaksi Bima ditanggapi oleh Dewa Ruci dengan senyuman lalu berkata bahwa seluruh isi dunia ini tak terlalu penuh dan berat untuk masuk ke dalam tubuhnya. Singkat cerita akhirnya Bima masuk ke dalam tubuh Dewa Ruci melalui telinga kiranya, dan sekonyong-konyong ia melihat lautan luas tanpa tepi, serta langit biru lepas. Bima menemukan dirinya berada di dalam kehampaan tanpa batas. 35 Dia tidak tahu arah utara, selatan, timur, barat, atas, bawah, depan dan belakang. Tiba-tiba Dewa Ruci muncul memancarkan sinar sehingga membuat hatinya damai dan nyaman, lalu mulailah tampak seluruh jagad raya. 36 Saat itulah Bima mendapat banyak wejangan dari Dewa Ruci, dan wejangan-wejangan itu dikenal sebagai Pancaratna (Lima Permat. 37 Adapun isi dari Pancaratna adalaha sebagau berikut: Pertama, wejangan tentang Pancamaya, yang merupakan gambaran alam semesta yang dipersepsikan oleh panca indera manusia ketidaksadaran sebagai pengalaman Pambudi, 290. Pambudi, 290. Santiko. AuBhima Dan Toya Pawitra Dalam Cerita AoDewa Ruci,AoAy 125. Pambudi. AuNARASI BIMA BERTEMU DEWARUCI : Metodologi Teologi Injili Di Indonesia,Ay 290. SP Adhikarya dalam Firman Panjaitan. AuSpiritualitas Mistik Sebagai Jalan Kesadaran: Tawaran Untuk Membangun Teologi Mistik Protestan,Ay Studia Philosphica et Theologica 5, no. : 113. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Kedua. Caturwarna . mpat warn. , yang mewakili empat sifat batin manusia yang mempengaruhi pikiran dan wataknya. Warna hitam membuat manusia menjadi mudah marah, murka dalam segala hal sehingga dapat menutupi dan menghalanginya untuk melakukan hal yang baik. Warna merah menandakan nafsu manusia yang keluar dari panas hati sehingga dapat menutupi Warna Kuning menunjukkan perangai manusia yang suka merusak. Sedangkan warna putih menunjukkan ketenangan dan kesucian hati. Dalam wejangannya Dewa Ruci mengatakan kepada Bima bahwa warna hitam, merah dan kuning merupakan musuh dari warna putih, karena dapat menjadi ketenangan batin manusia menuju kepada kesempurnaan. Ketiga. Pramana. Pada bagian ini Dewa Ruci menjelaskan tentang jiwa . sebagai penjaga keberlanjutan dari kehidupan. Selain itu dijelaskan pula tentang Jagad Gede (Alam Semest. dan Jagad Cilik (Pancamay. , dimana merupakan gambaran dari penciptaan melalui imanensi, sehingga pada hakikatnya keduanya tidak ada bedanya sama sekali. Keempat, dijelaskan mengenai persatuan dan kesatuan manusia dengan Khaliknya, serta pesan Dewaruci Bima menyimpan ilmu pelepasan sebagai pandangan hidup pribadinya dan bukan untuk dipamerkan. Kelima, wejangan tentang hidup dalam mati dan mati dalam hidup agar dapat berprilaku baik. Maksud dari wejangan ini adalah agar Bima dalam selama hidupnya di dunia dapat mematikan hawa nafsunya yang akan menghalangi perbuatan baik, namun setelah dapat mematikannya maka Bima harus tetap hidup berkarya bagi sesama. Rupanya Bima dengan Dewa Ruci telah menjadi momen mistik baginya. Berbagai rintangan yang sudah dilewatinya dalam Tirta Amerta, telah membuatnya menang atas berbagai Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 19 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf godaan hawa nafsu duniawi serta keangkuhan dirinya Puncak dari momen mistik ini adalah munculnya kesadaran Bima bahwa dirinya merupakan bagian dari alam semesta, dan alam semesta sekaligus merupakan bagian dari 38 Cerita ini berakhir dengan Bima muncul sebagai seorang kesatria spiritualitas yang tinggi, karena ia telah mengalami persatuan dengan Pencipta melalui pengalaman spiritualnya. Hydor Zoon . OA ) dalam Narasi Percakapan Yesus dengan Wanita Samaria Narasi percakapan Yesus dengan Samaria (Yoh. 4:1-. merupakan salah satu narasi yang cukup terkenal, mengingat di dalamnya mengandung pesan penting dari Tuhan Yesus bagi para pembaca awal dan masa Sukendar menyebut percakapan mereka di sebuah sumur di Sikhar merupakan kisah perjalanan iman dari sang wanita itu. 39 Untuk dapat memberikan gambaran secara utuh narasi ini, maka penulis membaginya menjadi beberapa babak. Babak Pertama: Yesus Harus Melintas di Samaria Narasi ini diawali adegan kembalinya Yesus ke Galilea setelah Ia banyak membaptis banyak murid di Yudea (Yoh. 4:1-. Rupanya peristiwa itu telah didengar oleh orang-orang Farisi, lalu mulai memicu Ausemangat rivalismeAy antara para murid. (Yoh. 3:2. Namun masalah tersebut dapat diredam oleh Yohanes Pembaptis dengan mangatakan bahwa dirinya tidaklah jauh lebih besar dari pada Yesus (Yoh. 3:27-. Bahkan sekali lagi ia Panjaitan. AuSpiritualitas Mistik Sebagai Jalan Kesadaran: Tawaran Untuk Membangun Teologi Mistik Protestan,Ay 2005. Yohanes Sukendar. AuPERJALANAN IMAN WANITA SAMARIA (Yoh 4:1-. ,Ay SAPA-Jurnal Kateketik Dan Pastoral 4, no. : 14. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 menegaskan bahwa dirinya bukanlah Mesias (Yoh 4:. Tampaknya ini merupakan salah satu motif Yesus kembali ke Galilea, yaitu agar tidak terjadi perselisihan berkepanjangan antara para murid Yohanes dan orangorang Farisi tersebut. Adegan berikutnya dinara-sikan oleh Yohanes sebagai AukeharusanAy bagi Tuhan Yesus untuk melintasi daerah Samaria (Yoh. Adegan ini sebenarnya terasa aneh mengingat ada jalan lain yang dapat menghantar Yesus sampai ke Galelia, semisal melintasi jalan di sebelah timur sungai Yordan dengan rute yang lebih panjang. Karena pada waktu itu, jalur lain ini digunakan oleh orang-orang Yahudi untuk menghindari ancaman para perampok dari Samaria yang sering menjarah harta para pelintas jalur Yudea menuju Galilea. 41 Selain itu, jalur lintas Samaria sering dihindari mengingat berkepanjangan antara orang Yahudi dan Samaria. Permusuhan itu semakin memuncak semnjak kedata-ngan Ezra Nehemia ber-usaha mempertahankan kemurnian Israel dari percampuran bangsa-bangsa yang lain, sehingga orang Samaria yang merupakan keturunan campuran ditolak mentahmentah oleh mereka, bahkan ketika cucu imam besar menikah dengan putri Sanbalat. Nehemia dengan berani 42 Menurut Pater Groenen, orang Samaria yang mendiami daerah tersebut merupakan campuran orang Yahudi dengan bangsa-bangsa lain, menganut agama yang mirip dengan Yahudi, menyimpang dengan hanya menerima Taurat Musa (Pentateuk. yang disadur sedikit, menganggap Gunung Garizim Wahono S. Wismoady. Di Sini Kutemukan (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 338Ae39. Wismoady, 338Ae39. Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini. Jilid II. M Ae Z (Jakarta: Yayasan Bina Kasih. OMF, 1. , 352. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 20 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf sebagai tempat suci pilihan Allah dan tidak mengakui Bait Allah di Yerusalem, serta merayakan Sabat. Paskah, dan menanti seorang tokoh sebagai nabi untuk masa depan. 43 Maka dari itu, orang Samaria dianggap musuh kafir, dan layak dijauhui oleh orang Yahudi. Berdasarkan data sejarah tersebut maka AukeharusanAy Yesus untuk melintasi Samaria Namun sepertinya Yesus memiliki agenda. Dia tidak sekedar hanya melintas saja namun berencana untuk melakukan sesuatu di daerah tersebut yaitu sebuah misi yang Aumelampaui batasAy. 45 Hal ini tampak dalam adegan selanjutnya. Babak Kedua: Dialog Tentang Air di Pinggi Sumur Yakub Serta Tawaran Air Hidup Saat Yesus telah tiba di kota Sikhar. Ia merasa sangat kelelahan akibat perjalanan tersebut. Oleh karena itu. Ia memutuskan untuk duduk di pinggir sumur yang dikenal dengan nama sumur Yakub (Yoh. Menurut Tenney jarak antara kota Sikhar dengan sumur Yakub kurang lebih satu mil. 46 Itu artinya, perjalanan Yesus menuju sumur tersebut cukup jauh sehingga menguras Rasa haus rupanya juga melanda-Nya, terlebih saat itu siang hari kira-kira pukul dua belas. Maka datanglah seorang wanita Samaria untuk menimba air di sumur tersebut. Kedatangannya sendirian di siang hari untuk mendapatkan air merupakan kebiasaan yang tidak wajar bagi seorang OFM Peter Groenen. Pengantar Ke Dalam Perjanjian Baru, 10th ed. (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1. , 39. Sherri Brown. AuWater Imagery and the Power and Presence of God in the Gospel of John,Ay Theology Today 72, no. : 294, https://doi. org/10. 1177/0040573615601471. Dewald E. Jacobs. AuA Postcolonial Reading of the Early Life of Sara Baartman and the Samaritan Woman in John 4,Ay HTS Teologiese Studies / Theological Studies 80, no. : 4, https://doi. org/10. 4102/hts. Merril C. Tenney. Injil Iman (Malang: Gandum Mas, 1. , 96. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 wanita pada zaman itu. Menurut Carson, pada masa itu, kebiasaan para wanita tidak mengambil air pada saat panas terik, melainkan mereka mengambilnya secara berkelompok pada saat sebelum matahari menyengat kulit. 47 Dugaan yang muncul adalah kemungkinan wanita itu dengan sengaja mengambil air pada saat panas terik karena ia ingin karena prilaku sosialnya yang kurang baik, yakni telah memiliki lima suami laki-laki bersamanya saat ini bukanlah suaminya (Yohanes 4:17-. 48 Perempuan ini, perni-kahannya, kemungkinan besar adalah orang buangan di masyarakatnya sendiri. Ketika dia datang. Yesus langsung meminta air darinya. Namun, wanita tersebut memper-tanyakan tindakan Yesus yang meminta minum kepada seorang orang Samaria, mengingat bahwa kedua bangsa ini biasanya tidak bergaul satu sama lain (Yoh 4:7-. Yesus perbedaan yang dibuat oleh wanita Samaria itu, namun sebaliknya Ia malah menjelaskan tentang karunia Allah dan jati diri-Nya sebagai sumber air hidup (Yohanes 4:10-. Bagi Metthews, pada bagian ini Yesus sedang melakukan menghubungkan diri-Nya dengan Allah sebagai sang pemberi anugerah. 50 Selain dalam dialog awal ini. Yesus Carson dalam Sipora Blandina Warella. Karel M Siahaya, and Flora Maunary. AuKeberpihakan Yesus (Analisis Sosio-Teologis Terhadap Teks Yohanes 4:1-. ,Ay Jurnal Teologi Berita Hidup 4, no. : 398. Kejar Hidup Laia. AuModel Pemberitaan Injil Melalui Pola Dialog Kehidupan Sehari-Hari Ditinjau Dari Yohanes 4:4-42,Ay Saint PaulAoS Review 1, no. 89Ae90, https://doi. org/10. 56194/spr. Teresa Okure. AuJesus and the Samaritan Woman (Jn 4:1Ae. in Africa,Ay Theological Studies 70, no. : 407Ae8, https://doi. org/10. 1177/004056390907000209. Victor H. Matthewss. AuConversation and Identity: Jesus and the Samaritan Woman,Ay Biblical Theology Bulletin 40, no. : 221, https://doi. org/10. 1177/0146107910380876. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 21 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf menyodorkan gagasan tentang iOA (Hydor Zoo. atau Air Hidup. Rupanya wanita tersebut memaknainya secara harafiah dan tawaran Yesus dianggap mustahil karena Dia tidak memiliki timba (Yoh. 51 Bagi kebanyakan masyarakat pada masa itu, air hidup dimaknai sebagai air yang sedang mengalir, berlawanan dengan air yang 52 Inilah yang kemudian dimengerti oleh wanita tersebut, dan ia kemudian mempertanyakan apakah Yesus jauh lebih agung daripada Yakub yang telah memberikan sumur tersebut sebagai sumber kehidupan bagi orangorang Samaria (Yohanes 4:. Babak Ketiga: Penjelasan Air Hidup dan Pengenalan Terhadap Yesus Sang osAA Pada tampaknya Yesus tidak menanggapi pertanyaan wanita Samaria tersebut. Dia penjelasan-Nya tentang Air Hidup yang memiliki kuasa yang begitu ajaib. Air yang diberikan oleh-Nya itu tidak hanya akan menghilangkan rasa haus saja, tetapi juga akan menjadi seperti mata air yang terus-menerus memancar dari dalam diri orang yang menerimanya, mengalir hingga ke kehidupan yang kekal (Yoh. 4:13-. Dalam pandangan Metthews, penjelasan Yesus tersebut menunjukkan bahwa Diri-Nya jauh lebih agung dibandingkan leluhur orang-orang Samaria, yakni Yakub, yang hanya dapat memberikan sumber kehidupan di dunia ini melalui sumur tersebut, sementara Yesus mampu memberikan sumber kehidupan yang mencapai hingga hidup 53 Disini Yesus juga menambah dimensi lain untuk identitas-Nya sendiri. Sukendar. AuPERJALANAN IMAN WANITA SAMARIA (Yoh 4:1-. ,Ay 17Ae18. Laia. AuModel Pemberitaan Injil Melalui Pola Dialog Kehidupan Sehari-Hari Ditinjau Dari Yohanes 4:4-42,Ay 90. Matthewss. AuConversation and Identity: Jesus and the Samaritan Woman,Ay 222Ae P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 mengokohkan hubungan antara diri-Nya dan Allah. 54 Selanjutnya, wanita tersebut Yesus. menyebutnya sebagai osAA (Tua. Menurut Matthews, pemahamannya Yesus perubahan, sehingga dia tidak lagi hanya menganggap-Nya Yahudi namun sebaliknya dia telah mencapai pemahaman ganda, yang memberikan penghargaan lebih tinggi, dan panggilan yang lebih tinggi yaitu osAA. 55 Namun, wanita tersebut belum sepenuhnya memahami tentang Air Hidup. Hal permintaannya agar dengan air itu ia tidak akan dahaga lagi serta tidak perlu kembali ke sumur tersebut. Namun permintaannya itu ditanggapi oleh Yesus dengan perintah agar ia memanggil suaminya datang ke sumur tersebut (Yoh. Menurut Riyadi, perintah Yesus ini terkait dengan pengenalan wanita Samaria tentang diri-Nya, sebab wanita itu belum sepenuhnya mengenal Yesus, sementara Dia sangat mengenal kehidupan pribadinya sehingga saat Yesus mengatakan bahwa ia pernah memiliki lima suami dan laki-laki yang sedang bersamanya bukan suaminya, wanita Samaria serta-merta mengakui bahwa Yesus adalah seorang nabi. Sedangkan bagi Laila, perintah Yesus itu merupakan desakan untuk mengukap jati dirinya dihadapan Yesus, meskipun Dia sudah mengenalnya namun Dia ingin ada pengakuan secara terbuka tentang kondisi ketidakmenentuan, immoralias dan kekurangan-kekurangan dalam 57 Horison menyatakan bahwa perkataan Yesus telah membuat wanita Samaria itu rela terbuka tentang Matthewss, 223. Matthewss, 22. St. Eko Riyadi. Yohanes. AuFirman Menjadi Manusia (Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2. , 133. Laia. AuModel Pemberitaan Injil Melalui Pola Dialog Kehidupan Sehari-Hari Ditinjau Dari Yohanes 4:4-42,Ay 91. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 22 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf keadaannya, bahwa dia tidak memiliki suami, dan dia semakin heran ketika Yesus mengetahui tentang keadaannya di masa lalu dan masa kini, yaitu dia telah berhubungan dengan enam orang laki-laki. Babak Keempat: Dekonstruksi. Koreksi dan Penyingkapan diri Sang Mesias Wanita Samaria ini telah mengalami tahapan pengenalan yang jauh lebih baik terhadap Yesus, sekarang ia mengenalnya sebaga nabi yang mampu mengukap masa lalu dan masa kini hidupnya (Yoh. Selanjutnya, tanpa basa basi ia melanjutkan dialognya dengan Yesus dengan topik yang lebih religius, yaitu tentang penyembahan (Yoh. Rupanya dia memulai dengan perdebatan baru yang selama ini menjadi salah satu titik konflik antara orang Yahudi dengan orang Samaria. Bagi orang Samaria, gunung Gerizim tetap menjadi orientasi yang tepat untuk berdoa dan pada saat itu mungkin masih digunakan sebagai tempat ritual di udara Sedangkan Yerusalem merupakan pusat penyembahan bagi orang Yahudi. Wanita tersebut telah menyeret Yesus kepada isu penting yang memperjelas perbedaan posisi mereka masing-masing. Menurut Riyadi, sepertinya wanita tersebut masih menganggap perbedaan ini sebagai suatu sepenuhnya memahami identitas Yesus sebagai nabi. 61 Namun demikian Yesus mendekonstruksi serta mengkoreksi mengatakan bahwa akan tiba saatnya bahwa ia akan menyembah Bapa bukan di gunung Gerizim ataupun di Everett F. Harrison. Injil Yohanes Penjelasan Alkitab Untuk Kaum Awam (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 19Ae20. Sukendar. AuPERJALANAN IMAN WANITA SAMARIA (Yoh 4:1-. ,Ay 19. Matthewss. AuConversation and Identity: Jesus and the Samaritan Woman,Ay 224. Riyadi. Yohanes. AuFirman Menjadi Manusia, 134. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Yerusalem (Yoh 4:. namun akan menyembah dalam roh dan kebenaran (Yoh 4: 23-. Selain itu. Yesus juga menunjukkan bahwa orang Samaria menyembah apa yang sebenarnya tidak mereka kenal. Ia juga menyatakan bahwa keselamatan berasal dari bangsa Yahudi. Hal ini tampaknya berhubungan dengan pemahaman yang tidak lengkap dari orang Samaria tentang Allah, akibat penolakan mereka terhadap semua tulisan para nabi serta praktik penyembahan sinkretis. Oleh karena itu. Yesus mengoreksi pandangan ini. Terkait dengan pernyataan Yesus bahwa keselamatan berasal dari bangsa Yahudi, sepertinya hal ini berhubungan dengan sosok Mesias yang dikenal sebagai Sang Juru Selamat. Wanita tersebut akhirnya menyatakan pemahamannya tentang Mesias dalam keyakinannya (Yoh 4:. Matthews menjelaskan, rupanya Mesias dalam gagasan orang Samaria lebih sekedar guru atau nabi, dari pada seorang raja saja, jauh dari apa yang Yesus telah jelaskan. 62 Saat Wanita tersebut mengatakan demikian tanpa ragu Yesus memperkenalkan dirinya sendiri bahwa Ia adalah Mesias (Yoh. Babak Kelima: Menemukan Air Hidup. Meninggalkan Tempayan dan Mewartakan Sang Mesias Rupanya penyataan Yesus bahwa dirinya adalah Mesias, telah mendorong wanita tersebut untuk mewartakannya kepada orang-orang Samaria yang berada dikota, bahkan dia rela untuk meninggalkan tempayannya (Yoh. 4:2. Wanita tempayannya supaya dia dapat tiba lebih cepat di kota, untuk mengantarkan kabar baik ini ke sana. 63 Artinya, wanita itu telah melupakan tujuan utamanya pergi ke sumur Yakub, yaitu mengambil air. telah menemukan Air Hidup yang tidak Matthews. AuConversation and Identity: Jesus and the Samaritan Woman,Ay 224. Laia. AuModel Pemberitaan Injil Melalui Pola Dialog Kehidupan Sehari-Hari Ditinjau Dari Yohanes 4:4-42,Ay 94. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 23 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf lain adalah kebenaran tentang penyataan diri Yesus sebagai Mesias. Memang diakhir dialog dengan Yesus, tak disebutkan bahwa wanita tersebut percaya, namun tindakannya untuk mewartakan hal tersebut telah menjadi bukti bahwa ia telah memercayai Yesus sebagai Kristus (Yoh. Memang Air Hidup itu tak tampak secara fisik namun dapat dirasakan olehnya sehingga dari dalam dirinya mengalir secara melimpah kerinduan untuk membagikan kebenaran tersebut. Selanjut pewartaan wanita itu telah menggugah hati penduduk kota tersebut sehingga mereka ingin bertemu dengan Yesus (Yoh. 4:29-. Sebagai seorang wanita yang pernah dijauhi oleh orang-orang sebangsanya karena dulu peristiwa ini merupakan titik balik dalam kehidupannya karena sekarang ia telah membawa mereka mengenal Yesus. Kesaksian wanita Samaria tersebut berdampak besar sehingga banyak orang Samaria telah menjadi percaya kepada Yesus karena perkannya itu (Yoh. Bahkan akhirnya mereka sendiri meminta Yesus untuk tinggal bersama dengan mereka, dan selama dua hari itu telah banyak orang Samaria yang percaya bahwa Yesus benar-benar Juru selamat dunia (Yoh. 4:40-. Membangun Model Teologi Kontekstual Melalui Narasi Dewa Ruci dan Wanita Samaria Pada bagian ini penulis berusaha membangun teologi kontekstual melalui narasi Dewa Ruci dan Wanita Samaria. Usaha ini penting agar dapat tercipta teologi konteksual yang relevan bagi masyarakat Jawa Tengah. Berdasarkan metode corss-textual, penulis berusaha menguraikan perbandingan, pertemuan, saling keterkaitan, dan menciptakan hubungan simbiosis antara dua dokumen Ch Abineno. Yesus Sang Mesias Dan Sang Anak (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1. , 77. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 yang berbeda, satu berasal dari Alkitab dan yang lainnya dari teks Asia. 65 Pada tahap ini akan diadakan perbandingan dan penyatuan teks A (Narasi Dewa Ruc. dengan teks B . arasi wanita Samari. ke dalam sebuah pemahaman, perbedaan antara dua teks tersebut. Puncak dari tahap ini adalah proses transformasi teks Alkitab, yang akan memperluas teks budaya dan pada akhirnya menciptakan perspektif yang Kesamaan Kedua Teks Kedua teks ini terdapat beberapa kesamaan yang dapat ditemukan di dalamnya, antara lain: Pertama, kedua teks mengandung pengalaman spiritual yang sama, yaitu pengalaman mistik. Adapun pengalaman mistik yang dimaksud di sini adalah pengalaman individu yang memasuki kondisi penyatuan diri dengan Sang Ilahi yang dikenal secara sadar. 67 Pada teks A, pengalaman tersebut hadir di dalam diri Bima setelah mendapatkan pencerahan dari Dewa Ruci melalui wejanganwejangannya yang dikenal sebagai Pancaratna. Sedangkan pada teks B terjadi ketika wanita Samaria tersebut berdialog panjang dengan Yesus hingga pada puncaknya dia mengenalnya sebagai Mesias. Pada dialog antara Yesus dan wanita Samaria juga melibatkan beberapa pengajaran yang merupakan bentuk wejangan Sang Mesias kepadanya. Dan pengalaman Listijabudi. AuPEMBACAAN LINTAS TEKSTUAL: Tantangan BerHermeneutik Alkitab Asia . ,Ay 86. Firman Panjaitan. AuTeo Ekologi Kontekstual Dalam Titik Temu Antara Kejadian 1:26-31 Dengan Konsep Sangkan Paraning Dumadi Dalam Budaya Jawa,Ay GEMA TEOLOGIKA: Jurnal Teologi Kontekstual Dan Filsafat Keilahian 7, no. : 231, https://doi. org/10. 21460/gema. Bruce Janz dalam Panjaitan. AuSpiritualitas Mistik Sebagai Jalan Kesadaran: Tawaran Untuk Membangun Teologi Mistik Protestan,Ay 2005, 102. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 24 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf mistik pada teks A dan teks B telah memberikan dampak yang sangat signifikan bagi para tokoh yaitu penyatuan dengan Sang Ilahi. Kedua, dalam teks A dan teks B terdapat penggunaan simbol serupa untuk menggambarkan konsep penting dalam dialog. Pada teks A digunakan simbol air yang disebut sebagai Tirta Amerta. Simbol air ini menjadi jembatan dalam narasi pada teks A yang membawa Bima menemukan arti dari kesempurnaan hidup. Air hidup inilah perjumpaan pribadi dengan dewa Ruci serta menemukan kesejatian hidup. Begitu pula pada teks B, simbol air juga Yesus Kemesiasan-Nya. Baik teks A dan Teks B telah menjadikan air sebagai simbol penting untuk membuka dialog yang lebih mendalam. Meskipun akhirnya Bima maupun wanita Samaria itu tidak membawa Air Hidup, namun keduanya malah mengalami kedalam makna dari simbol air tersebut. Ketiga. Baik teks A dan teks B tampak memiliki kesamaan pengalaman Bima mengalami pembebasan dari hawa nafsu duniawi sehingga menjadi kesatria dengan kebijaksaan dan spiritualitas yang tinggi. Sedangkan pada teks B tampak bahwa wanita Samaria itu kebodohannya mengenali Sang Mesias. Selain itu ia juga mengalami pembebasa dari masa lalunya yang gelap sehingga berani bersaksi tentang Kristus kepada penduduk kota di Samaria. Pengalaman pembebasan ini tampak jelas dalam kedua teks tersebut. Perbedaan Kedua Teks Selain kesamaan, terdapat juga perbedan pada kedua teks tersebut. Adapun beberapa perbedaan itu adalah sebagai berikut: Pertama, pada teks A tampak bahwa manusialah yang P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 berinisiatif untuk menemukan penyatuan dengan Sang Ilahi. Sedangkan pada teks B tampak Sang Ilahilah yang mencari manusia untuk mengalami penyatuan dengan-Nya. Narasi pada teks A menunjukkan bahwa Bimalah yang Dorongan terbendung di dalam hatinya untuk Tirta Amerta, telah memperjumpakan dirinya dengan Dewa Ruci. Momen pengalaman mistik bagi Bima. Berbeda dengan teks A, di dalamnya tampak Yesuslah yang berinisiatif untuk datang ke Samaria. Pada saat berdialog, juga tampak bahwa Dia yang memulai pembicaraan dengan cara meminta air pada wanita Samaria itu. Bahkan pada babak selanjutnya, terlihat Dia yang memberikan ruang bagi wanita itu untuk dapat mempercayai bahwa diri-Nya adalah Mesias. Momen ini akhirnya menjadi pengalaman mistik bagi wanita Samaria. Kedua, pada teks A terlihat bahwa pengalaman mistik Bima membawanya kepada kesadaran bahwa dirinya merupakan bagian dari alam semesta dan alam semesta sekaligus Sedangkan di dalam teks B, puncak pengalaman mistik wanita Samaria adalah mengenal Yesus sebagai Mesias. Pengenalan ini mendorongnya untuk berbagi pengalaman kepada penduduk kota Samaria, hingga akhirnya mereka juga menerima Kristus. Ketiga, keselamatan atau kesempurnaan hidup dipahami sebagai hasil usaha manusia mistikAibersifat antroposentris dan kosmis. Sebaliknya, teks B memandang keselamatan sebagai anugerah Allah yang diberikan melalui iman kepada KristusAibersifat teosentris Harini dalam Panjaitan. AuTeo Ekologi Kontekstual Dalam Titik Temu Antara Kejadian 1:26-31 Dengan Konsep Sangkan Paraning Dumadi Dalam Budaya Jawa,Ay 232. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 25 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf dan relasional. Keempat, transformasi yang dialami Bima lebih bersifat internal dan kontemplatif, menekankan keselarasan batin dengan alam semesta. Sementara itu, transformasi wanita Samaria bersifat aktif dan misioner, mendorongnya Kristus Analisis Terhadap Kesamaan dan Perbedaan Kedua Teks Teks A dan teks B memiliki banyak kesamaan, meskipun juga Kesamaan yang menonjol dapat ditemui dalam kedua teks tersebut adalah penggunaan simbol air sebagai pentingnya pengalaman mistik antara manusia dan Yang Ilahi. Keduanya menggunakan terminologi yang sama yaitu Air Hidup. Teks A menyebutnya sebagai Tirta Amerta sedangkan pada teks B disebut sebagai iOA (Hydor Zoo. Dipastikan bahwa ini bukan sekedar air biasa, namun cenderung memiliki makna simbolis yang akan membawa seseorang kepada keadaan yang jauh lebih baik dari sebelumnya. Pada teks A diyakini dapat membawa kepada kesempurnaan hidup, sedangkan pada teks B dapat membawa seseorang sampai kepada hidup kekal. Melalu simbol Air Hidup, pesan seseorang dalam pengalaman mistik dengan Yang Ilahi dapat tersampaikan. Bahkan kedalaman simbol ini membawa para tokoh di dalam kedua teks tersebut terlibat dialog yang membebaskan. Bagi Bima pada teks A, kesempurnaan hidup telah ia menyatu dengan dewa Ruci dan segala wejangannya. Sedangkan bagi wanita Samaria pada teks B, tawaran Yesus akan Air Hidup itu direspons dengan kepercayaannya bahwa Dia adalah Mesias yang dijanjikannya. Pengalaman pembebasan pun ia alami, terbukti dengan keberaniannya untuk Kristus Samaria mempertimbangkan lagi kehidupan masa P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Teologi Air Hidup: Sebuah Pendekatan Kontekstual Bagi Masyarakat Jawa Masyarakat Jawa kedekatan yang signifikan dengan simbol-simbol. Dipercayai simbol-simbol tersebut mencermin-kan nilai-nilai pandangan hidup yang bersifat religius-mistis, serta perilaku etis yang mengedepankan moralitas dan martabat 69 Jadi bagi masyarakat Jawa, simbol memiliki peran penting dalam mewakili makna khusus, sehingga dapat dianggap bahwa di balik setiap simbol terdapat makna yang tersembunyi. Bahkan, masyarakat Jawa cenderung menyampaikan pesan melalui bahasa simbol dengan pertimbangan rasa dan sikap sopan santun, yang memungkinkan pemahaman makna terkandung di 70 Semuanya itu membuktikan bahwa pendekatan kepada orang Jawa melalui simbol bukanlah hal yang asing, malahan ini dapat menjadi jembatan komunikasi yang lebih kontekstual bagi Simbol adalah ungkapan realitas kehidupan masyarakat Jawa. Pada pembacaan lintas tekstual (Cross Tekstua. di atas ditemukan adanya korelasi di dalam narasi Dewa Ruci dan Wanita Samaria yaitu hadirnya simbol air. Simbol ini hadir dalam peristiwa mistik yang dialami oleh kedua tokoh yaitu Bima dan Wanita Samaria. Peristiwa tersebut telah membuat mereka mengalami penyatuan dengan Sang Ilahi serta pembebasan spiritual. Kesemuanya itu berawal dari kerinduan mereka untuk menemukan air. Rupanya simbol air mewakili makna mistis bagi kedua tokoh dalam narasi tersebut. Air bukan sekedar entitas Kuntadi Wasi Darmojo. AuTinjauan Semiotika Terhadap Eksistensi Keris Dalam Budaya Jawa,Ay Brikolase 8, no. : 76. Muslich. AuPandangan Hidup Dan Simbol-Simbol Dalam Budaya Jawa,Ay Millah i, . https://doi. org/10. 20885/millah. Muslich, 210. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 26 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf fisik yang mengalir dan menghilangkan rasa haus, namun menjadi simbol dengan makna khusus. Hal ini tampak dari kedua narasi tersebut, dimana diakhir cerita keduanya sama sekali tidak menemukan atau mambawa air tersebut. Bima meninggalkan Dewa Ruci tanpa membawa Tirta Amerta , sedangkan wanita Samaria alih-alih membawa air hidup di dalam tempayaannya yang kosong, malah ia pergi meninggalkan tempayannya itu dalam keadaan kosong Samaria memberitakan Sang Kristus. Meskipun keduanya tidak membawa air hidup itu, namun keduanya mengalami kehidupan yang baru. Kehidupan yang terbebas dari hawa nafsu, angkara murka serta hidup Teologi Air Hidup menjadi percakapan yang kontekstual bagi masyrakat Jawa. Terlebih dalam mistik Jawa, air mengalir . aca: hidu. dipandang sebagai simbol kehidupan, sebab air akan menjadikan tanah menjadi subur. 72 Mempercakapkan Air Hidup kehidupan, namun bukan sekedar kehidupan biasa tetapi kehidupan yang telah mengalami transformasi akibat pengalaman mistik dengan Sang Ilahi. Dalam konteks ini, terdapat beberapa gagasan penting dan relevan disampaikan kepada masyarakat Jawa melalui pendekatan Teologi Air Hidup. Sang Pemberi Air Hidup: Manunggaling Gusti-Kawulo Teologi Air Hidup menekankan peran Sang Pemberi air. Dalam percakapan antara Yesus dan Wanita Samaria, terungkap bahwa Dialah sang Pemberi air tersebut. Yesus menjelaskan, "Barangsiapa minum air ini, ia akan haus lagi, tetapi barangsiapa minum air yang akan Kuberikan, ia tidak akan haus P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 selama-lamanya. Air yang Kuberikan akan menjadi mata air di dalam dirinya, yang terus-menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal" (Yoh. 4:1. Yesus mengambil inisiatif untuk memberikan Air Hidup dengan sebuah tantangan untuk percaya kepada-Nya (Yoh 4:. Pada adegan ini tampak jelas bahwa ada motif yang tegas untuk AumendatangiAy kebutuhan utama wanita Samaria itu. Motif "mendatangi" sebenarnya sudah terlihat di awal narasi, sebagaimana dinyatakan, "Ia harus melintasi daerah Samaria" (Yoh. Menjadi suatu keharusan bagi Yesus untuk melintas di daerah tersebut demi sebuah misi. Yesus tidak menunggu momen namun menciptakan momen dengan bertindak aktif. Ia melintas, bercakap-cakap, mencukupi kebutuhan utama Wanita Samaria itu, yaitu Air Hidup. Dari penjelasan di atas terlihat sebuah gagasan yang menarik tentang Manunggaling Gusti-kawulo. Urutan ini berbeda dengan konsep dalam Kejawen yang hampir dipahami oleh sebagaian orang Jawa. Didalam mistik Kejawen dikenal adanya falsafah Manunggaling kawulo- Gusti, yang merujuk pada hubungan antara manusia dengan Tuhan. 73 Manunggaling kawulo-Gusti merupakan tujuan hidup manusia Jawa menembah serta diperoleh melalui pengalaman laku batin. 74 Manunggaling kawulo-Gusti bukanlah sekedar ajaran namun merupakan pengalaman mistik subyektif maupun kolektif dari manusia Jawa yang akan membawa kebahagiaan dan kesempurnaan hidup dikarenakan Tuhan telah bersemayam dalam diri 75 Tetapi pengalaman ini akan terjadi jika manusia Jawa terus dhepedhepe, mendekat kepada Sang Khalik melalui laku konsentrasi, pengendalian Waryunah Irmawati. AuMakna Simbolik Upacara Siraman Pengantin Adat Jawa,Ay Walisongo: Jurnal Penelitian Sosial Keagamaan 21, no. : 323, https://doi. org/10. 21580/ws. Suwardi Endraswara. MISTIK KEJAWEN: Sinkritisme. Simbolisme Dan Sufisme Dalam Budaya Spiritual Jawa, ed. Soesetro. II (Yogyakarta: Narasi, 2. , 130. Endraswara, 46Ae47. Endraswara, 46. Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 27 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf diri, pemudharan . ebebasan batin dan dunia inderaw. , menguasai ngelmu sejati dat tahu hakikat hidup. Penekanan pada usaha manusia sangat ditekankan dalam konsep Manunggaling kawulo-Gusti, sehingga dapat dikatakan bahwa kesempurnaan hidup merupakan hasil dari usaha manusia. Dan ini merupakan usaha yang tidak mudah, penuh perjuangan demi tercapainya tujuan tersebut. Bagi manusia Jawa, berita tentang Air Hidup (Tirto Amart. yang diberikan oleh sang Kristus dapat menjadi jawaban atas keresahan mereka dalam mencapai kesempurnaan hidup. Tidak semua orang Jawa mampu melakukan laku batin yang begitu ketat, undangan Kristus pastinya akan menjadi alternatif yang menarik, mengingat Dia hanya meminta manusia Jawa untuk percaya kepada-Nya, sang Pemberi Air Hidup yang tidak lain kesempurnaan Kesempurnaan hidup ini tidak sekedar berwujud kelepasan dari nafsu kelepasan dari kuasa roh-roh jahat serta keselamatan kekal. Teologi Air Hidup telah menjadi AuberitaAy pengharapan bagi manusia Jawa yang terikat pada siklus hidup yang tiada henti menuju pemudharan sejati. Transformasi Holistik Dibalik Makna Air Hidup Teologi Air hidup juga berusaha menekankan aspek transformasi dibalik Penekanan ini tidaklah berlebihan mengingat di dalam percakapan Yesus dan Wanita Samaria tampak jelas aspek Yesus mengatakan bahwa air yang diberikan oleh-Nya akan menjadi mata air yang akan terus- menerus memancar sampai kepada hidup yang kekal (Yoh. 4:13-. Bahkan jika diamati kembali ke belakang tentang kondisi Wanita Samaria tersebut, terlihat jelas bahwa transformasi holistik itu Secara spiritual, ia mengalami Endraswara, 45Ae47. P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 tahapan perkembangan di dalam mengenal jati diri Yesus. Pertama-tama ia mengenalnya sebagai orang Yahudi, kemudian sebagai ksAA . , lalu sebagai nabi, dan akhirnya sebagai Mesias atau Kristus. Tahapan ini spiritual di dalam dirinya, bahkan juga mengakibatkan transformasi sosial, dengan dibuktikan bahwa kesaksiannya tentang Kristus direspons oleh warga kota Samaria. Padahal sebelumnya dia telah mengalami AualienasiAy sosial akibat kehidupan masa lalunya. Keterbukaan dirinya untuk menerima Air Hidup melalui percaya kepada Mesias telah mentrasformasi hidupnya secara holistik. Masyarakat Jawa Melalui laku batin yang keras serta usaha tanpa menyerah diharapkan terwujudnya kehidupan yang sempurna. Kehidupan ini diwujudkan dengan kelepasa dari hawa nafsu dan angakar murka yang bercokol di dalam jiwa. Narasi Bima yang mengarungi segala bahaya untuk menemukan Tirto Amarto menjadi simbolisasi keresahan manusia Jawa untuk terlepas dari anasir jahat yang menguasai dirinya. Jika dalam narasi Dewa Ruci transformasi tu diperoleh Bima dengan kekuataanya sendiri, berbeda dengan narasi Wanita Samaria yang mengalaminya melalui undangan Sang Mesias. Pengalaman mistik Bima hanya sampai pada kelepasan akan hawa nafsu dan pengenalan akan Sangkan Paraning Dumadi, sedangkan pengalaman Wanita Samaria terjadi secara utuh yaitu kelepasan akan stigma masa lalunya serta hidup kekal yang dianugerahkan melalu Yesus Kristus. Melalui Teologi Air Hidup, manusia Jawa diajak untuk AumemikirkanAy transformasi secara utuh yaitu keselamatan jiwa menuju pada hidup kekal melalui Yesus Kristus. Aplikasi Praktis Teologi Air Hidup bagi Masyarakat Jawa Aplikasi praktis Teologi Air Hidup Jawa Copyright . 2025 Manna Rafflesia | 28 Manna Rafflesia, 12/1 (Oktober 2. https://s. id/Man_Raf memerlukan Pendekatan Kontekstual Simbolik (Symbolic Contextual Approac. yang menghubungkan pesan Injil dengan simbol, bahasa, dan cara berpikir yang telah mengakar dalam Dalam pendekatan ini, simbol air yang memiliki makna mendalam dalam kesadaran budaya Jawa dijadikan pintu masuk untuk menjelaskan karya Kristus diajarkan dalam Yohanes 4:10Ae14. Strategi praktisnya dapat dimulai dengan memanfaatkan pengalaman lokal, misalnya meng-ajak masyarakat berbicara tentang arti penting air yang mengalir bagi kehidupan, lalu secara bertahap mengaitkannya dengan janji Yesus tentang Air Hidup yang memberi hidup kekal. Selanjutnya, kisah budaya seperti pencarian Tirta Amerta oleh Bima dapat mem-bangun keterhubungan, kemudian diarahkan kepada Yesus sebagai Sumber Air Hidup yang sejati. Pengalaman simbolis juga dapat diciptakan, misalnya penggunaan air dalam ibadah atau pertemuan doa sebagai lambang penyegaran rohani, sambil menegaskan bahwa pembaruan sejati hanya berasal dari Kristus. Selain itu, jemaat atau peserta diajak untuk memberikan respons pribadi sekaligus bersaksi kepada komunitas, meneladani Samaria membagikan kabar tentang Mesias Air Hidup. Pendekatan bertentangan dengan Alkitab karena tetap menempatkan Kristus sebagai pusat keselamatan, sementara simbolsimbol budaya berfungsi sebagai jembatan komunikasi yang memperkaya pemahaman dan penerimaan Injil. Dengan demikian. Teologi Air Hidup tidak hanya menjadi konsep teologis, komunikasi Injil yang relevan, praktis, dan transformatif bagi masyarakat Jawa. KESIMPULAN Penelitian ini memposisikan Teologi Air Hidup sebagai Pendekatan P-ISSN: 2356-4547 E-ISSN: 2721-0006 Kontekstual Simbolik menjembatani pesan Injil dengan budaya Jawa melalui pembacaan lintas narasi Yohanes 4:1Ae42 dan kisah pencarian Tirta Amerta. Kedua teks sama-sama menghadirkan simbol air sebagai sumber hidup, namun Injil menegaskan Yesus sebagai Mesias yang memberi hidup Jawa memaknainya sebatas kesempurnaan hidup yang fana. Temuan ini menjadi memperkenalkan Kristus secara relevan di tengah masyarakat Jawa, sekaligus menjadi kontribusi unik penelitian ini dibanding studi sebelumnya yang jarang mengintegrasikan teologi biblika dan simbol budaya lokal. Secara praktis, penerapan Teologi Air Hidup dapat . pengajaran dari pengalaman lokal tentang pentingnya air, . memakai kisah Tirta Amerta sebagai analogi menuju Kristus, . menciptakan pengalaman simbolis penggunaan air dalam ibadah, dan . mendorong jemaat untuk bersaksi sebagaimana wanita Samaria. Pendekatan ini tetap setia pada Alkitab karena menempatkan Kristus sebagai pusat keselamatan, sementara unsur budaya berperan sebagai jembatan pemahaman dan penerimaan Injil. DAFTAR PUSTAKA