p-ISSN: 2548-7655 e-ISSN: 2614-0489 http://mediteg. id/index. php/mediteg Pelatihan Pembuatan Alat Peraga Pembelajaran Berbasis Kearifan Lokal Di Kabupaten Jeneponto Abdurrachman Rahim1*. Vivit Angreani2. Tismi Dipalaya3. Ahmad Swandi4. Fina Melani Putri5 Program Studi Pendidikan Matematika. Universitas Bosowa. Jl. Urip Sumohardjo km. Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia abdurrachman@universitasbosowa. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Bosowa. Jl. Urip Sumohardjo km. Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia angreani@universitasbosowa. Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Bosowa. Jl. Urip Sumoharjo Km. 4 Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia 3tismi@universitasbosowa. swandi@universitasbosowa. Program Pascasarjana. Universitas Bosowa. Jl. Urip Sumoharjo Km. 4 Makassar. Sulawesi Selatan. Indonesia 5finamelaniputri8533@gmail. Abstrak Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru dalam mengembangkan alat peraga yang sesuai dengan konteks budaya lokal, serta memperbaiki proses pembelajaran di SMPN 7 Turatea di wilayah tersebut. Melalui pendekatan PjBL yang berstandar emas, peserta pelatihan didorong untuk menerapkan metode proyek yang melibatkan eksplorasi, desain, dan implementasi alat peraga secara praktis dan kreatif. Pelatihan ini melibatkan sesi teori dan praktik yang dirancang untuk memfasilitasi pemahaman mendalam tentang pemanfaatan kearifan lokal dalam pendidikan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini meliputi 5 tahapan yaitu sosialisasi, pelatihan, pendampingan teknis, transfer teknologi, dan evaluasi penerapan alat peraga berbasis kearifan lokal dengan menggunakan model Gold Standart Project Based Learning. Hasil pelatihan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman dan keterampilkan guru terhadap penggunaan Gold-Standard Project Based Learning Berbasis Kearifan Lokal sebesar N-Gain >0,5 dengan kategori sedang. Selain itu, jumlah paket perangkat pembelajaran berbasis kearifan lokal yang dihasilkan dari kegiatan ini dari 0 menjadi 10 perangkat berbasis kearifan lokal. Kata Kunci: Alat Peraga. Kearifan Lokal. Gold Standart Project Based Learning. Abstract This community service activity aims to improve teachers' ability in developing teaching aids that are appropriate to the local cultural context, as well as improving the learning process at SMPN 7 Turatea in the area. Through the gold standard PjBL approach, training participants are encouraged to apply project methods that involve exploration, design, and implementation of teaching aids practically and creatively. This training involves theory and practice sessions designed to facilitate an in-depth understanding of the use of local wisdom in education. The methods used in this activity include 5 stages, namely socialization, training, technical assistance, technology transfer, and evaluation of the application of local wisdom-based teaching aids using the Gold Standard Project Based Learning model. The results of the training showed an increase in teachers' understanding and skills in the use of Gold-Standard Project Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 2. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG http://mediteg. id/index. php/mediteg Based Learning Based on Local Wisdom by N-Gain> 0. 5 with a moderate category. In addition, the number of local wisdom-based learning device packages produced from this activity from 0 to 10 local wisdom-based devices. Keyword: Teaching Aids. Local Wisdom. Gold Standard Project Based Learning. PENDAHULUAN Menurut data World Economic Forum Global Human Capital Report 2017, peringkat pendidikan Indonesia berada di urutan ke-65 dari 130 negara yang sangat jauh jika dibandingkan dengan empat negara ASEAN (Singapura. Malaysia. Thailand, dan Filipin. (Subroto, 2. Sumber daya manusia dan pendidik merupakan salah satu faktor kunci yang menentukan kualitas pendidikan (Irmadani. Yaqub et al. , 2. Guru sangat penting dalam mempersiapkan pemuda negara untuk masa depan yang cerah melalui pengajaran mereka. Persyaratan utama yang diperlukan untuk melakukan fungsi ini adalah profesionalisme. Jika seorang guru memenuhi persyaratan dan menunjukkan kompetensi yang diperlukan, maka ia dapat dianggap sebagai seorang Bahan utama untuk menghasilkan pembelajaran berkualitas tinggi adalah kompetensi guru. Dengan memanfaatkan semua sumber daya yang tersedia dan menghilangkan hambatan untuk belajar, pendidik yang terampil dapat memberikan pengajaran berkualitas tinggi dan secara konsisten bekerja untuk menciptakan lingkungan belajar yang mendukung. Mengingat pentingnya guru dalam upaya meningkatkan taraf pendidikan, pendidik harus dilatih untuk menjadi pendidik profesional yang tidak hanya memiliki kemampuan mengenali dan menggunakan model, metode, dan strategi pembelajaran yang efektif, serta keterampilan literasi digital yang memungkinkan mereka untuk menciptakan dan mengimplementasikan inovasi dan media digital di kelas. Temuan menunjukkan bahwa profesionalisme instruktur dalam menerapkan metode pembelajaran mutakhir masih jauh dari harapan (Khodijah, 2. Hal ini terlihat dari pengetahuan dan kemahiran pendidik tertentu yang masih berjuang dengan Kualitas pelatihan dan lokakarya yang dilakukan tidak memadai serta kurangnya komitmen dan motivasi instruktur untuk menggunakan model pembelajaran inovatif menjadi dua variabel yang berkontribusi pada rendahnya implementasi model pembelajaran inovatif (Khodijah, 2. Oleh karena itu, disarankan agar pemerintah dan pihak terkait lainnya memperluas jumlah dan kaliber program pelatihan guru dan lokakarya dan secara aktif berusaha untuk meningkatkan dedikasi dan dorongan terutama di daerah pedesaan. Selain itu, di mana pembelajaran sebagian besar bersifat teoritis daripada kontekstual, kapasitas instruktur untuk memasukkan kearifan lokal ke dalam pengajaran masih relatif rendah, menurut temuan penelitian Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 2. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG p-ISSN: 2548-7655 e-ISSN: 2614-0489 Rahim. Angreani. Dpalaya. Swandi & Putri (Kaliongga et al. , 2. Guru masih belum terlalu sadar tentang cara menggunakan alat bantu belajar (Putra, 2017. Hermawan et al. , 2. Di antara sekolah tempat survei dan observasi dilakukan adalah UPT SMPN 7 Turatea. Jeneponto. Sekolah ini didirikan pada tahun 2013 dan saat ini mempekerjakan 16 guru, 5 anggota staf pendukung, dan sekitar 220 siswa. Karena lokasinya yang terpencil dan pegunungan, sekolah ini tidak memiliki layanan internet yang baik. Orang tua sebagian besar siswa adalah petani. Berdasarkan temuan diimplementasikan terutama melalui penggunaan model tradisional, di mana guru berperan sebagai titik fokus pengajaran dan menggunakan sumber belajar seperti buku paket dan alat. Tidak ada gunanya sumber belajar kontemporer mutakhir yang berasal dari kearifan lokal dan daerah. Lembaga ini memiliki komunitas yang sangat dalam dan sejarah yang kaya. Ini juga sangat strategis. Selain itu, ada beberapa keahlian lokal eksklusif untuk Jeneponto dan Turatea, seperti butta turatea langka, festival lontar turatea, dan beberapa item khas seperti PLTB Jeneponto. Adat istiadat suku BugisMakassar dan penggunaan bahasa daerah hanyalah dua contoh budaya lokal yang terus dijunjung tinggi oleh sebagian besar siswa dan guru di kelas. Namun, menggunakan dan memasukkan nilai-nilai kearifan lokal saat ini ke dalam model pembelajaran kreatif dan mendorong siswa untuk terlibat dalam pembelajaran aktif belum dilakukan. Artefak sejarah yang tercantum di bawah ini dapat diubah oleh pembelajaran berbasis proyek menjadi alat Gambar 1 Keunikan dan kearifan lokal jeneponto yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran. PLTB Jeneponto . dan Tradisi Jenne-Jenne Sappara . Oleh karena itu, untuk memaksimalkan penggunaan model pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai pengetahuan lokal untuk membuat siswa lebih aktif dalam rangka mencapai hasil belajar yang diperlukan paket pengabdian kepada masyarakat. Mendidik instruktur tentang pembuatan dan penerapan alat bantu instruksional juga Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 2. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG http://mediteg. id/index. php/mediteg Layanan ini berfokus pada dua . kompetensi guru dalam menciptakan pelajaran yang menarik, fleksibel, dan menggabungkan nilai-nilai kearifan lokal untuk menghasilkan hasil pembelajaran berkualitas tinggi. mendukung lembaga pendidikan dalam menciptakan alat bantu belajar yang lebih interaktif yang memfasilitasi pemahaman siswa. Melalui mengaplikasikan keterampilan dan produk berbasis risetAiyang meliputi alat bantu belajar berbasis kearifan lokal dan model pembelajaran Berbasis Proyek Standar EmasAike dalam kelas (IKU . Selanjutnya, tiga dosen aktif berpartisipasi dalam kegiatan ekstrakurikuler dan terlibat dalam kegiatan di luar kampus. Ini tidak diragukan lagi membantu indikator kinerja utama ketiga untuk dicapai. Selain itu, semacam implementasi program MBKM melibatkan memberikan pengalaman belajar di luar kampus kepada mahasiswa semester 6 melalui keikutsertaan mereka dalam rangkaian acara lengkap dengan target pencapaian kompetensi yang sesuai (IKU. Berkenaan pembelajaran dan pengembangan praktisi pendidikan terhadap berbagai model pembelajaran yang mutakhir dan up to date dengan perkembangan zaman, kegiatan ini juga memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk belajar tentang mata pelajaran yang tidak berkaitan dengan ilmu dasar di perguruan tinggi serta bidang lain yang suatu saat nanti dapat mendukung pencapaian karir, seperti menjadi pendidik. Mahasiswa juga akan membantu mengajar di UPT SMPN 7 Turatea sebagai bagian dari program MBKM. II. METODE Sebelum dimulainya kegiatan utama, mitra sasaran awalnya disosialisasikan tentang program yang akan dilakukan, tujuannya, kegiatan teknisnya, dan hasil yang diharapkan. Sosialisasi online Peserta dalam proses sosialisasi antara lain guru, siswa, pengurus sekolah, dan siswa lainnya. Tujuan langkah ini adalah untuk memberikan semua rincian tentang tindakan yang akan diambil untuk memenuhi tujuan PKM. Menyamakan sikap di seluruh tim pelaksana, pakar, narasumber, instruktur, dan peserta kegiatan adalah manfaat lain. Dua jenis pelatihan akan dilakukan sebagai tanggapan atas isu-isu terkini: satu akan berfokus pada penerapan paradigma Gold Standard Project Based Learning, dan yang lainnya akan mengajarkan pembuatan pengetahuan lokal. Analisis kebutuhan pelatihan, perancangan strategi pelatihan, produksi materi pelatihan, pelaksanaan pelatihan, serta penilaian dan pembaruan pelatihan adalah lima kegiatan yang membentuk model Goad (Al Arif et al. yang digunakan dalam model Model Pembelajaran Berbasis Proyek Standar Emas adalah model pembelajaran Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 2. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG p-ISSN: 2548-7655 e-ISSN: 2614-0489 Rahim. Angreani. Dpalaya. Swandi & Putri yang dirancang yang akan digunakan dalam Untuk memberikan peserta pelatihan sesuatu untuk dimodelkan untuk pengembangan di masa depan, tim juga akan menggunakan sejumlah contoh alat bantu pengajaran yang dibuat sebelumnya. Selain itu, ada lembar kerja siswa dan contoh modul yang mengacu pada kearifan lokal dan akan digunakan dalam latihan Kegiatan pendampingan dilakukan baik di tempat maupun virtual setelah pelatihan di tempat. Mendorong guru untuk menerapkan paradigma Gold Standard Project Based Learning di kelas adalah tujuan dari program pendampingan ini. Selain itu, program bimbingan berusaha untuk menjamin bahwa peserta pelatihan menghasilkan alat bantu instruksional, modul pembelajaran, lembar kerja, dan evaluasi yang didasarkan pada kearifan Disdikpora, lembaga pendidikan, dan instruktur perlu menunjukkan dedikasi mereka terhadap keberlanjutan program dengan memastikan bahwa model pembelajaran GS-PjBL dan sumber belajar yang dibuat berdasarkan pengetahuan lokal benar-benar diterapkan dalam Guru dan siswa dapat memperoleh manfaat dari output yang diperlukan bagi peserta program untuk terus menggunakannya. Selain itu, pendidik harus dapat menggunakan teknologi pembelajaran di luar kelasAiselama pelatihan juga. Akibatnya, kelompok akan mengawasi dan menilai kelayakan Selain itu, mahasiswa dari Universitas Bosowa dapat memanfaatkan banyak produk yang dibuat untuk proyek penelitian atau untuk pengajaran praktis di SMPN 7 Turatea. Jeneponto. Akibatnya, kelompok ini juga akan mendorong integrasi kurikulum model GS-PjBL dan menciptakan sumber belajar oleh lembaga pendidikan dan pembuat kebijakan. HASIL DAN PEMBAHASAN Tidak adanya penggunaan alat peraga berbasis kearifan lokal kini menimbulkan kendala bagi SMPN 7 Turatea Kabupaten Jeneponto dalam proses pembelajaran. Penggunaan alat peraga di sekolah ini masih terbatas pada bahan ajar tradisional, yang kurang mampu mengikat materi pelajaran dengan konteks dan budaya lokal, meskipun potensinya sangat besar dalam hal sumber daya lokal dan kekayaan Pembuatan dan penggunaan materi pengajaran yang sesuai dengan lingkungan dan budaya lokal akan berkontribusi untuk menutup kesenjangan pendidikan saat ini pendidikan yang lebih memuaskan. Langkah pertama yang diperhitungkan untuk mengatasi kendala ini adalah pelatihan yang diberikan oleh model Gold Standard Project Based Learning (PjBL), yang memungkinkan SMPN 7 Turatea untuk memaksimalkan potensi lokal dan meningkatkan standar pengajaran secara Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 2. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG http://mediteg. id/index. php/mediteg Tabel 1 Jumlah Alat Peraga Berbasis Kearifan Lokal Sebelum dan Sesudah Pelatihan Dan Pendampingan Jumlah alat peraga berbasis kearifan lokal sebelum pelatihan dan Jumlah alat peraga berbasis kearifan lokal setelah pelatihan dan Angngaru Setelah menyelesaikan pelatihan dan pembuatan alat peraga berbasis kearifan lokal. SMPN 7 Turatea kini menghadapi era baru dalam proses pembelajaran yang lebih terhubung dengan budaya lokal mereka. Pelatihan ini telah memperlengkapi guruguru pengetahuan yang diperlukan untuk menciptakan alat peraga yang tidak hanya relevan tetapi juga mendalam dalam mencerminkan kekayaan budaya daerah. Gambar 2. Foto Alat Peraga Adapun rincian alat peraga yang telah dikembangkan selama masa pelatihan dan pendampingan pemberdayaan kemitraan masyarakat adalah sebagai berikut Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Pembangkit Listrik Tenaga Air Pembangkit Listrik Tenaga Uap Mengukur Tinggi PLTB Pisang Eppe Siklus Hujan AAoBulo Sibatang Gandrang Bulo penguapan garam Gambar 3 Foto Pelaksanaan Kegiatan Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 2. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG p-ISSN: 2548-7655 e-ISSN: 2614-0489 Rahim. Angreani. Dpalaya. Swandi & Putri Perubahan yang diamati di dalam kelas sangat jelas. Pengembangan alat bantu pengajaran berdasarkan pengetahuan lokal selama pelatihan telah menjadikannya komponen penting dari proses belajar Misalnya, di kelas sains, siswa menggambarkan lingkungan, termasuk alat peraga PLTB dan PLTU. Selain itu, para siswa menggunakan aksesori pembuatan garam sebagai alat pendidikan. Guru SMPN 7 Turatea mengukur ketinggian kincir angin terdekat menggunakan alat peraga altimeter selama perkuliahan aritmatika. Guru pembelajaran berupa posteks dengan konten pelajaran dengan menggunakan program gamma. Contoh dari jenis konten ini termasuk filosofi hidup yang diajarkan di kelas agama, pelajaran seni dan budaya Gandrang Bulo, dan pelajaran konten lokal Anggaru. Mengajarkan materi kepada siswa akan lebih mudah ketika materi pembelajaran disajikan dalam bentuk poster karena isinya lebih ringkas, terorganisir, dan disajikan dengan cara yang estetis. Instruktur di SMPN 7 Turatea sekarang memanfaatkan poster dan alat peraga yang mengambil inspirasi dari cara hidup lokal. Seiring menghasilkan strategi pengajaran yang kreatif dan lebih dinamis. Mereka dapat memodifikasi alat pengajaran dan media poster ini agar lebih sesuai dengan meningkatkan efektivitas belajar dengan bantuan pelatihan. Misalnya, mereka mendorong pemikiran kritis dan kreatif pada siswa mereka dengan menggunakan alat peraga dalam permainan dan simulasi yang menghibur dan instruktif. Secara keseluruhan, telah terjadi peningkatan yang signifikan dalam kualitas pendidikan di SMPN 7 Turatea sebagai hasil dari penerapan alat peraga berbasis kearifan lokal setelah pelatihan dan Aksesori ini membantu melestarikan dan mempromosikan budaya lokal sekaligus membuat materi pelajaran lebih relevan dan menarik bagi siswa. Berkat inovasi yang diperkenalkan di seluruh kursus. SMPN 7 Turatea sekarang menjadi contoh cemerlang tentang diintegrasikan dengan masyarakat untuk memberikan siswa pengalaman belajar yang lebih bermakna dan relevan. Tabel berikut menggambarkan bagaimana civitas akademika SMPN 7 Turatea telah berubah dalam pemahamannya tentang penerapan alat peraga lokal bijaksana melalui penggunaan paradigma Pembelajaran Berbasis Proyek Standar Emas. Kategori Tabel 2 Hasil Tes Tes Tes NAwal Akhir Gain 55,00 85,00 0,67 65,00 87,50 0,64 75,00 95,00 0,80 30,00 70,00 0,57 25,00 50,00 0,33 35,00 87,50 0,81 Responden Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 2. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG http://mediteg. id/index. php/mediteg Tes Awal 47,50 Tes Akhir 80,00 NGain 0,62 55,00 75,00 0,44 60,00 95,00 0,88 57,50 85,00 0,65 Responden Kategori Nilai n-Gain menggunakan aplikasi Microsof Excel dengan menggunakan rumus: ycA Oe yciycaycnycu = ycNyceyc yaycoEaycnyc Oe ycNyceyc yaycycayco 100 Oe ycNyceyc yaycycayco Gambar 4 Perbandingan Rata-Rata Tes Awal dan Akhir Berdasarkan temuan analisis, 10 responden yang mengikuti tes memiliki skor awal rata-rata 50,50, dan setelah melakukannya lagi, mereka memiliki skor rata-rata 81,0. Nilai perolehan 0,62 komputasi, menunjukkan peningkatan pengetahuan yang moderat. Instruktur dan siswa Kabupaten Jeneponto sangat bersemangat untuk mengambil bagian dalam pelatihan pembuatan alat bantu belajar berbasis kebijaksanaan yang bersumber secara memanfaatkan Model Pembelajaran Berbasis Proyek (PBL) Standar Emas karena pelatihan ini menawarkan kesempatan untuk memasukkan kekayaan budaya lokal ke dalam proses belajar mengajar. Karena siswa dapat menghubungkan prinsipprinsip yang telah mereka pelajari dengan realitas sehari-hari di lingkungan mereka, guru percaya bahwa teknik ini dapat membuat materi pelajaran lebih mudah dipahami siswa dan lebih relevan. Selain itu, dengan menyoroti kearifan lokal melalui alat peraga ini, identifikasi budaya diperkuat, meningkatkan kebanggaan dan motivasi siswa untuk belajar. Paradigma PjBL Standar Emas, yang proyek dengan persyaratan kualitas tinggi, juga diperkenalkan selama kursus. Instruktur sangat senang dengan teknik ini karena memungkinkan mereka untuk mengajar dengan cara yang lebih praktis dan dinamis, di mana siswa secara aktif berpartisipasi dalam produksi proyek otentik yang menguji pemikiran kritis, kreativitas, dan kemampuan kerja tim mereka selain menghafal mata pelajaran. Para siswa menanggapi dengan sangat antusias, mengalami secara langsung hasil kerja mereka dalam bentuk alat peraga buatan sendiri, dan merasa diberdayakan pemecahan masalah dan praktis di dunia Selanjutnya, dengan memperkuat kolaborasi guru-siswa, pelatihan ini menumbuhkan lingkungan belajar yang Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 2. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG p-ISSN: 2548-7655 e-ISSN: 2614-0489 Rahim. Angreani. Dpalaya. Swandi & Putri lebih dinamis dan kontekstual. Instruktur memperbarui strategi pengajaran sambil menjunjung tinggi norma budaya yang signifikan, dan siswa percaya bahwa mereka belajar melalui buku dan pengalaman praktis yang berlaku untuk kehidupan sehari-hari mereka. Kombinasi pengembangan keterampilan abad ke-21 menghasilkan lingkungan belajar yang lebih menarik dan relevan, yang pada gilirannya menginspirasi guru dan siswa untuk berpartisipasi aktif dalam setiap fase program ini. IV. PENUTUP Pada kategori medium, program pengabdian kepada masyarakat ini telah berhasil meningkatkan kesadaran dan kemahiran guru dengan Pembelajaran Berbasis Proyek Standar Emas Berdasarkan Kearifan Lokal N-Gain >0. Jumlah paket alat pembelajaran berbasis kearifan lokal juga meningkat, dari 0 menjadi 10 perangkat berdasarkan kearifan lokal. Keberlanjutan program ini dimaksudkan sebagai model bagi sekolah lain di sekitar SMPN 7 Turatea ketika membuat materi pengajaran menggunakan metodologi Pembelajaran Berbasis Proyek Standar Emas dan pengetahuan lokal. Integrasi pendidikan telah menjadi fokus penelitian penting, terutama di daerah pedesaan. Berbagai studi menunjukkan bahwa pendekatan ini tidak hanya memperkaya kurikulum, tetapi juga meningkatkan relevansi pembelajaran bagi siswa. Kearifan lokal mencerminkan nilai, tradisi, dan pengetahuan yang telah ada di masyarakat, sehingga membantu siswa memahami dan menghargai budaya mereka sendiri. Penelitian menunjukkan bahwa siswa yang belajar dengan metode berbasis kearifan lokal mengalami peningkatan motivasi dan keterlibatan dalam pembelajaran. Salah satu praktik efektif yang diadopsi dalam pendidikan adalah Gelombang Siswa-Pembelajaran Berbasis Proyek (GSPjBL). Metode pembelajaran aktif melalui proyek yang berhubungan dengan konteks nyata siswa. Dengan GS-PjBL, keterampilan kritis dan kolaboratif siswa dapat meningkat. Integrasi kearifan lokal proyek-proyek menjadikannya lebih relevan dan menarik, sehingga meningkatkan hasil belajar secara Namun, tantangan tetap ada, terutama bagi guru di daerah pedesaan. Mereka sumber daya, seperti akses ke materi ajar yang berkualitas dan pelatihan yang Banyak guru kesulitan dalam menerapkan metode ini karena minimnya pemahaman tentang kearifan lokal dan keterampilan dalam mengelola proyek. Kurangnya dukungan dari lembaga pendidikan juga menjadi hambatan dalam Secara keseluruhan, integrasi kearifan lokal dan penerapan GS-PjBL memiliki Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 2. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG http://mediteg. id/index. php/mediteg potensi besar untuk meningkatkan kualitas pembelajaran di daerah pedesaan. Namun, tantangan yang dihadapi guru perlu ditangani melalui pelatihan yang lebih baik dan dukungan dari pemerintah serta lembaga pendidikan lainnya. Untuk memastikan dampak jangka panjang dari integrasi kearifan lokal dalam kurikulum, beberapa strategi spesifik perlu Pertama, pengembangan profesional guru yang berkelanjutan sangat penting. Pelatihan yang rutin dan berkelanjutan akan mengadaptasi kearifan lokal dalam proses Melalui workshop, seminar, dan program mentor, guru dapat berbagi praktik terbaik dan meningkatkan mengembangkan materi ajar yang relevan dengan konteks lokal. Kedua, keterlibatan komunitas juga memainkan peran kunci. Mengajak masyarakat untuk terlibat dalam proses pendidikanAimisalnya, mengundang tokoh masyarakat atau pengetahuanAiakan pengalaman belajar siswa. Hal ini tidak hanya memperkuat hubungan antara sekolah dan komunitas, tetapi juga meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap pendidikan lokal. Ketiga, dukungan dari institusi, seperti pemerintah dan lembaga pendidikan, sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi integrasi kearifan lokal. Dukungan ini bisa berupa penyediaan sumber daya, seperti buku dan alat ajar yang sesuai, serta kebijakan yang mendukung pengajaran kearifan lokal. Dengan adanya kebijakan yang jelas dan sumber daya yang cukup, penerapan kearifan lokal dalam kurikulum dapat Dengan mengimplementasikan strategistrategi ini, diharapkan integrasi kearifan lokal dalam pendidikan dapat memberikan dampak jangka panjang yang positif, tidak hanya bagi siswa, tetapi juga bagi komunitas secara keseluruhan. Keselarasan antara pendidikan, masyarakat, dan dukungan institusi akan menciptakan ekosistem pembelajaran yang lebih holistik dan bermanfaat. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terima kasih kepada seluruh pihak atas dukungan dalam pelaksanaan kegiatan khususnya kepada LPPM Universitas Bosowa Makassar, dan SMPN 2 Maros sebagai mitra dalam kegiatan Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat. Ucapan terima kasih juga kepada Direktorat Riset. Teknologi dan Pengabdian Kepada Masyarakat atas pendanaan yang diberikan melalui hibah pengabdian kepada masyarakat dengan nomor kontrak induk : 131/E5/PG. 00/PM. BARU/2024 dengan kontrak turunan 785/LL9/PK. PG/2024. PPM. 785-016/DRIPM-UNIBOS/VI/2024. Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG Volume 9. Nomor 2. November 2024 Copyright A 2024 Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat MEDITEG p-ISSN: 2548-7655 e-ISSN: 2614-0489 Rahim. Angreani. Dpalaya. Swandi & Putri DAFTAR PUSTAKA