Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 155-168 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 ANALISIS BIAYA MEDIS LANGSUNG PASIEN RAWAT INAP BEDAH UROLOGI DI RSUD KOTA YOGYAKARTA Yanti Fitriani Feangi1. Woro Supadmi2*. Adriyanto Rochmad Basuki2. Susi Ari Kristina3 Magister Farmasi Klinik Komunitas. Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta Rumah Sakit Umum Daerah Kota. Yogyakarta Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta *Email: woro. supadmi@pharm. Artikel diterima: 2025-07-25. Disetujui: 2025-10-31 DOI: https://doi. org/10. 36387/jiis. ABSTRAK Prosedur bedah urologi, seperti urolitiasis dan benign prostatic hyperplasia (BPH) terus meningkat dengan kekambuhan tinggi. Fasilitas penanganan yang terbatas dan risiko resistensi antibiotik dapat mempengaruhi beban biaya. Studi ini bertujuan untuk mengetahui kesesuaian biaya medis langsung dengan tarif klaim INA-CBGAos, serta mengidentifikasi variabel yang mempengaruhi total biaya medis langsung. Studi ini menggunakan studi observasional dengan pendekatan retrospektif. Sampel dipilih menggunakan purposive sampling dengan kriteria inklusi. Data dikumpulkan dari elektronik rekam medis dan laporan keuangan. Biaya medis langsung dihitung berdasarkan semua komponen biaya menggunakan pendekatan perspektif rumah Analisis data menggunakan uji univariat, bivariat, dan multivariat. Rata-rata total biaya medis langsung pasien urologi sebesar Rp 9. 325 A Rp 1. 707,79, sedangkan tarif klaim INA-CBGAos sebesar Rp 9. 328 A Rp 1. 291,26. Ada perbedaan biaya medis langsung dari faktor usia . - value 0. , kelas perawatan . value 0,. dan length of stay (LOS) . -value 0,. Analisis regresi menunjukkan bahwa LOS dan kelas perawatan memiliki dampak yang signifikan secara statistik terhadap total biaya medis langsung . -value < 0. Terdapat perbedaan antara biaya aktual yang ditanggung rumah sakit dan tarif klaim INA-CBGAos. Kata kunci: bedah urologi, biaya medik langsung. INA-CBGAos ABSTRACT Urological surgical procedures, such as urolithiasis and benign prostatic hyperplasia (BPH), continue to increase with high recurrence rates. Limited treatment facilities and the risk of antibiotic resistance can affect the cost burden. This study aims to determine the alignment of direct medical costs with INA-CBGAos claim rates and to identify variables influencing total direct medical costs. The study employs an observational approach with a retrospective design. Samples were selected using purposive sampling with inclusion criteria. Data were collected from electronic medical records and financial reports. Direct medical costs were calculated based on all cost components using a hospital perspective approach. Data analysis used univariate, bivariate, and multivariate tests. The average total direct medical costs for urology patients were Rp 9,962,325 A Rp 1,699,707. 79, while the INA-CBGAos Yanti Fitriani Feangi, dkk | 155 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 155-168 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 claim rates were Rp 9,600,328 A Rp 1,853,291. There were differences in direct medical costs based on age . -value 0. , care class . -value 0. , and length of stay (LOS) . -value 0. Regression analysis shows that LOS and care class have a statistically significant impact on total direct medical costs . -value < 0. There is a difference between the actual costs borne by the hospital and the INA-CBGAos claim rates. Keywords: urological surgery, direct medical costs. INA-CBGAos PENDAHULUAN Prevalensi penyakit urologi, terutama urolitiasis dan benign prostatic hyperplasia (BPH) secara global terus meningkat dengan tindakan Penanganan berupa prosedur non-invasif hingga bedah terbuka pada beberapa kasus dengan kompleksitas tinggi (Solange et al. , 2. Penyebab urolitiasis karena pola makan yang tidak baik, urbanisasi, dan obesitas (Lightner et al. , 2. Usia, riwayat keluarga, jenis kelamin, asupan cairan dan durasi duduk secara signifikan merupakan faktor risiko gangguan urologi (Silalahi, 2. Tata laksana pada gangguan urologi ditentukan berdasarkan ukuran, lokasi, dan kondisi klinis pasien. Tindakan endoskopi, maupun pembedahan, bertujuan mencegah komplikasi serius (Maulana, 2. Tindakan dengan operasi terbuka menyebabkan risiko komplikasi (Goller & Telussa, 2021: Stamatelou & Goldfarb, 2. Risiko komplikasi pascaoperasi dapat di hindari dengan pemberian antibiotik Penggunaan antibiotik yang pascaoperasi (Asmarawati et al. , 2. Peningkatan kasus urolitiasis berkontribusi pada beban ekonomi yang signifikan (Raheem et al. , 2. Studi mengevaluasi efektivitas dan efisiensi Pembayaran layanan rumah sakit disesuaikan pada tarif paket INA- CBGAos (Kemenkes RI No. 26, 2. Analisis farmakoekonomi diperlukan untuk menciptakan sistem pembiayaan JKN yang proporsional dan efisien (Kemenkes RI No. 26, 2. RSUD Kota Yogyakarta, mertupakan rujukan utama untuk tindakan bedah urologi kelas B di Daerah Istimewa Yogyakarta. Rumah Sakit tersebut menangani pasien dengan asuransi kesehatan negara (JKN). Penilaian komprehensif dari perspektif rumah sakit mengenai kesesuaian biaya medis langsung dengan tarif klaim INA-CBGAos sangat penting untuk menghindari defisit operasional. Studi ini bertujuan untuk menganalisis kesesuaian antara biaya medis langsung dan tarif klaim INA-CBGAos pada pasien rawat inap yang menjalani bedah urologi di RSUD Kota Yogyakarta. METODE PENELITIAN Studi ini merupakan studi observasional dengan pendekatan Penentuan Kriteria inklusi meliputi pasien dengan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) berusia di atas 18 tahun yang telah menjalani operasi urologi, dirawat di kelas I. II, atau i, dan memiliki catatan rekam medis dan data keuangan yang lengkap. Kriteria dipulangkan secara paksa atau atas permintaan sendiri, pasien yang meninggal selama perawatan, dan Yanti Fitriani Feangi, dkk | 156 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 155-168 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 pasien yang kelas perawatannya diubah selama rawat inap. Total sampel yang di teliti berjumlah 50 pasien. Studi Departemen Bedah Pusat RSUD Kota Yogyakarta dan instalasi farmasi. Data diperoleh dari rekam medis SMARTA . ekam medis elektroni. dan bagian Data dikumpulkan berupa karakteristik demografis pasien . sia, jenis kelamin, kelas perawatan, lama rawat inap, dan tingkat keparaha. , data karakteristik prosedur bedah . enis prosedur bedah, durasi operas. , dan data biaya . iaya prosedur bedah, biaya obat-obatan dan BMHP, biaya tindakan medis, biaya layanan medis, biaya penunjang medis, biaya akomodasi, dan tarif klaim INA-CBGAo. Data dianalisis univariat untuk mengetahui karakteristik demografis dan penyakit pasien. Uji normalitas dilakukan untuk menentukan distribusi Uji bivariat (Kruskal-Wallis dan Mann-Whitney mengidentifikasi perbedaan signifikan berdasarkan karakteristik demografis dan klinis pasien. Uji multivariat regresi linier berganda, untuk menilai pengaruh variabel independen bivariat yang signifikan terhadap biaya medis Studi persetujuan etika dari Komite Etika Penelitian Kesehatan RSUD Kota Yogyakarta Nomor 33/KEPK/RSUD/IV/ HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik penyakit pasien Karakteristik demografis pasien yang menjalani bedah urologi dalam studi ini meliputi usia, jenis kelamin, kelas perawatan, lama rawat inap, dan tingkat keparahan penyakit. Seperti pada tabel 1. Pada tabel 1 menunjukkan bahwa sebagian besar pasien urologi berada pada kelompok pra lansia . Ae59 tahu. dengan persentase 40%. Studi ini sejalan dengan yang dilakukan oleh Tjahjodjati et al. dan Hoffman et . , yang menunjukkan bahwa usia merupakan faktor risiko utama pembesaran prostat, batu ginjal, dan disfungsi ginjal, (Tjahjodjati et al. Wang et al. , 2. Sebagian besar pasien urologi adalah pria . %). Hasil ini sejalan dengan hasil penelitian Sukarni . di Poliklinik Urologi RSUD Undata. Sulawesi Tengah yang menunjukkan bahwa 81,2% pasien urologi adalah laki-laki. Hal ini dapat disebabkan faktor anatomis . eperti panjang uretr. , hormonal . engaruh testosteron terhadap pertumbuhan (Sukarni. Data menunjukkan bahwa 58% pasien yang menjalani bedah urologi memiliki Kondisi ini dapat pascaoperasi, sehingga memerlukan pemantauan klinis yang lebih ketat. (Ortner et al. , 2. Yanti Fitriani Feangi, dkk | 157 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 155-168 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Table 1. Karakteristik Demografi Pasien Bedah Urologi di RSUD Kota Yogyakarta Variabel Usia Dewasa . -44 tahu. Pralansia . -59 tahu. Lansia (>60 tahu. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Riwayat Penyakit Penyerta Ada penyakit penyerta Tidak ada penyakit penyerta Tingkat Keparahan I (Ringa. II (Sedan. Kelas Perawatan Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 LOS (Length of Sta. 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari Analisis menunjukkan bahwa sebagian besar pasien . %) termasuk dalam kategori ringan . ingkat keparahan I). Pasien bedah urologi rawat jalan umumnya diklasifikasikan dengan gangguan sistemik ringan. Stabilitas klinis menjadi faktor penentu prosedur yang aman, efisien, dan meminimalkan risiko komplikasi pascaoperasi. (Bal et al. Sebagian besar pasien dirawat di kelas perawatan i, mencerminkan dominasi populasi berpenghasilan rendah hingga menengah. Temuan ini sejalan dengan penelitian Aris Sarjito . , yang menunjukkan bahwa keterbatasan ekonomi secara signifikan membatasi akses populasi terhadap layanan kesehatan berkualitas tinggi. Jumlah . Persentase (%) Sementara pasien berpenghasilan tinggi memiliki akses ke prosedur medis yang lebih tinggi dan kompleks (Sarjito. Lama rawat inap pasien bedah urologi menunjukkan bahwa sebagian besar pasien . %) dirawat selama 3 Hasil studi oleh Manuba . menemukan kecenderungan lama rawat inap lama pada prosedur bedah urologi (Manuba et al. , 2. Karakteristik Prosedur Bedah Ureterorenoskopi(URS) adalah dilakukan, yakni pada 33 pasien . %). URS menjadi pilihan utama dalam mendominasi jenis tindakan bedah urologi dibanding prosedur lain. Yanti Fitriani Feangi, dkk | 158 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 155-168 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tabel 2. Karakteristik Prosedur Pembedahan Pasien Bedah Urologi di RSUD Kota Yogyakarta Karakteristik Pembedahan Tindakan Bedah Transurethral removal of obstruction from ureter and renal pelvis (URS) Other transurethral prostatectomy (TURP) Release of urethral stricture Ureterotomy Percutaneous nephrostomy without Other transurethral excision or destruction of lesion or tissue of bladder (TURBT) Nephrectomy (PCNL Dengan Panduan C-Ar. Transurethral clearance of bladder (Litotrips. Kelas Operasi Bersih Terkontaminasi (Clean Durasi Operasi < 3 jam Prosedur ureteroskopi (URS) banyak digunakan karena bersifat minimally invasive, efektif, dan aman, serta dapat dilakukan secara optimal meskipun dengan beberapa modifikasi (Asali, 2. Prosedur urologi seperti URS. TURP, dan PCNL bersih-terkontaminasi. Pedoman EAU 2024 dan CDC antibiotik profilaksis yang bertujuan mencegah bakteremia dan infeksi luka. (Kranz et al. , 2024. Odah et al. , 2. Sistem National Healthcare Safety Network (NHSN), menetapkan bahwa tindakan bedah pada sistem urogenital tergolong bersih terkontaminasi karena melibatkan organ yang secara anatomis tidak steril namun tanpa infeksi aktif (Mu et al. , 2011. Odah et al. Prosedur bedah dilakukan kurang dari tiga jam. Berdasarkan data dari Program Peningkatan Kualitas Bedah Nasional (NSQIP), terdapat hubungan yang signifikan antara durasi operasi Jumlah . Presentase (%) dan risiko komplikasi pascaoperasi. Operasi yang berlangsung kurang dari tiga jam memiliki risiko komplikasi yang lebih rendah (Riedinger et al. Penggunaan Obat Pasien yang menjalani operasi urologi di RSUD Kota Yogyakarta menerima antibiotik profilaksis berupa cefazolin dengan dosis tunggal 2 gram sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2021 tentang penggunaan antibiotik profilaksis yang rasional (Kemenkes No. Penggunaan cefazolin atau cefuroxime sebagai antibiotik profilaksis dosis tunggal yang efektif (Ahmad et al. Cefazolin efektif melawan Gram Staphylococcus Aureus dan beberapa Gram Escherichia coli dan Klebsiella pneumoniae (Bratzler et al. , 2. Yanti Fitriani Feangi, dkk | 159 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 155-168 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Tabel 3. Penggunaan Obat Pasien Bedah Urologi di RSUD Kota Yogyakarta Kelas Terapi Antibiotik Profilaksis Anestetik Anti Nyeri Antisekretori Lambung Antibiotik Terapi Antihipertensi Terapi Prostat Antidiabetik Oral Terapi Pendukung Nama Obat Cefazolin 2 gr Haloperidol (Lodome. Inj Lidocaine HCl 50 mg / ml Dextrose 5% (Lidode. Inj 100mg/2ml Bucain Inj (Bupivacain. Propofol 1% (Fresofo. Sevoflurane (Sevoran. 250ml Metamizole (Regivel. Inj Ketorolac Inj 30 mg/ml Na Diklofenak 25 Dexketoprofen Inj 25 mg/ml Na Diklofenak 50 mg Parasetamol Tab 500 mg Parasetamol Inf 1000 mg/100 ml: Paracetamol . tau Acetaminophe. Peinlos Inj 100 mg/ml: Ibuprofen Tramadol Inj 100 mg/2 ml Fentanyl 0. 1 mg/2ml Inj Petidin Inj 50 mg/ml Ketoprofen (Suprafeni. Suppo 100 mg Ranitidine Inj 25 mg/ml Ranitidine Tab 150 Mg Esomeprazole Inj Omeprazole Inj 40 mg/10ml: Lansoprazole Kapsul 30 mg Sucralfate Susp Rebamipide Tab Ondansetron Inj 2 mg/ml: Metoclopramide Inj Seftriakson Inj 1. 000 mg/vial Levofloksasin Inf 750 mg Amoxicillin and Clavulanic acid (CoAmoxicla. Tab 625 mg: Siprofloksasin Tab 500 mg Citicholin Tab 500 mg Furosemid Inj 10 mg/ml Captopril Tab 25 mg Candesartan Tab 8 mg Candesartan Tab 16 mg Amlodipin Tab 10 mg Nifedipine (Adalat Oro. Tab 30 mg Nifedipin Tab 10 mg Klonidin Tab 0,15 mg Atropin Inj 0. 25 mg/ml Tamsulosin (Farlosi. Sr 0. 4 mg Tab Metformin Tab 500 mg Acarbose Tab 50 mg Iohexol 300 mg/50 ml Efedrin Inj 50 mg/ml Sodium chloride dan potassium chloride (C Lyters Tm 15 m. Difenhidramin Inj 10 mg/ml Rocuronium Bromide (Neostigmi. Inj Ondansetron (Novero. Inj Jumlah Persentase (%) Yanti Fitriani Feangi, dkk | 160 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 155-168 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 Kelas Terapi Nama Obat Asam Traneksamat Inj 100 mg/ml Asam Traneksamat Tab 500 mg Metamizole 500 mg, diazepam 2 mg (Proneuron Ta. Jumlah Persentase (%) Pedoman dari American Society opioid (Noer et al. , 2. Pemberian Health-System Pharmacists anestesi pada prosedur URS dan TURP (ASHP) merekomendasikan pemberian cefazolin intravena 30 sampai 60 menit mempercepat pemulihan (Varghese et sebelum sayatan bedah dengan dosis 2 , 2. Ranitidine diberikan untuk gram atau 3 gram untuk pasien dengan pelindung mukosa lambung (Pai et al. berat Ou120 kg, serta pengulangan setiap 2. , sedangkan ondansetron . %) empat jam selama operasi (Bratzler et diberikan untuk mencegah mual dan , 2. Pedoman American muntah pascaanestesi (Elmaboud. A et Urological Association (AUA) juga , 2025. Jannah & Firmanda, 2. Biaya Medik Langsung tunggal antibiotik profilaksis pada Tabel 4 menunjukkan bahwa sebagian besar prosedur urologi tindakan bedah menjadi komponen (Lukito, 2. biaya terbesar dari total biaya medis Pemberian natrium diklofenak langsung pasien rawat inap RSUD Kota . %) dan ketorolak . %) sebagai Yogyakarta, yaitu 58% dari total biaya. NSAID efektif meredakan nyeri dan Prosedur bedah merupakan sumber peradangan pasca operasi (Hadibrata et biaya medis langsung terbesar selama , 2. Ketorolak memiliki rawat inap (Schulz et al. , 2. efektivitas setara atau lebih baik dari Tabel 4. Biaya Medik Langsung Pasien Bedah Urologi Rawat Inap di RSUD Kota Yogyakarta Komponen Biaya Tindakan Operatif Biaya Obat dan BMHP Biaya Tindakan Medik Biaya Pelayanan Medik Biaya Penunjang Medik Biaya Akomodasi Total Biaya Medik Langsung Total Biaya (R. Persentase (%) Obat-obatan dan bahan medis habis pakai (BMHP) merupakan komponen terbesar kedua dengan nilai Rata-rata biaya per Rp A SD 737,77 045,85 005,29 780,55 539,52 981,74 707,79 Median Biaya Maks (R. Biaya Min (R. presentase sebesar 17% dari total biaya. Studi di rumah sakit Jakarta menemukan bahwa obat-obatan dan Yanti Fitriani Feangi, dkk | 161 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 155-168 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 BMHP menyumbang 37% dari biaya operasional langsung, (Mahardika et , 2. Kondisi klinis pasien membantu perkiraan biaya yang lebih akurat untuk pengambilan keputusan yang efisien (Cardoso et al. , 2. Biaya medis langsung per pasien sebesar Rp 9. 325 sedangkan tarif klaim INA-CBGAos Rp 9. dengan selisih rata-rata Rp 362. 000 per Hal menyebabkan defisit kumulatif jika Ketidaksesuaian antara biaya rumah sakit aktual dan tarif klaim INA-CBG juga ditemukan di RSUD X Ponorogo terutama pada penyakit dengan biaya tinggi seperti penyakit dalam, jantung, dan paru-paru (Sunayya, 2. Perbedaan dan Selisih Biaya Medis Langsung dengan Tarif Klaim INACBG's Tabel 5 menunjukkan bahwa kelompok dengan usia di atas 60 tahun, rata-rata biaya medis langsung mencapai Rp 10. 265,94, melebihi INA-CBGAos 205,88, dengan selisih negative terbesar Rp 897. 060,06. Perbedaan biaya antar kelompok usia signifikan secara statistik . = 0,. Hal ini sejalan dengan studi sebelumnya bahwa usia lanjut merupakan faktor penting berkontribusi terhadap peningkatan biaya pengobatan. biaya pengobatan bertambahnya usia. Rata-rata tertinggi biaya pada pasien >70 tahun sebesar $9. (Shemesh et al. , 2. Tabel 5. Perbedaan Biaya Medis Langsung Berdasarkan Karateristik Pasien dan Perbandingan dengan Klaim Tarif INA-CBG's Karakteristik Jumlah Pasien (N=. Usia Dewasa . -44 tahu. Pralansia . -59 tahu. Lansia (>60 tahu. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Kelas Perawatan Kelas 1 Kelas 2 Kelas 3 LOS (Length of Sta. 2 hari 3 hari 4 hari 5 hari Penyakit Penyerta Ada Tidak Tingkat Keparahan I (Ringa. II (Sedan. Selisish Biaya Keterangan: *) nilai P value < 0,05 Sig. Taile. Rata-Rata Direct Medical Cost (R. Rata-Rata Tarif INACBGAos (R. Selisih (R. 592,54 802,25 265,94 084,62 205,88 507,92 737,75 060,06 596,75 556,14 033,33 657,14 563,42 899,00 496,63 132,68 781,82 664,52 128,82 153,37 468,16 980,17 924,75 729,67 033,33 887,50 053,16 463,00 789,55 970,10 734,48 147,62 055,07 822,48 802,90 835,00 Yanti Fitriani Feangi, dkk | 162 Analisis variabel jenis kelamin menunjukkan tidak adanya perbedaan biaya yang signifikan secara statistik antara pasien laki-laki dan perempuan . = 0,. Hasil ini bertentangan dengan penenelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa jenis kelamin signifikan terhadap peningkatan biaya pengobatan, (Shemesh et al. , 2. Analisis variabel lama rawat inap menunjukkan perbedaan biaya yang signifikan secara statistik . = 0,. Durasi perawatan merupakan faktor signifikan yang memengaruhi besarnya beban biaya rumah sakit. (Riyanto et , 2. Variabel komorbiditas tidak menunjukkan signifikansi statistic. Berbeda dengan studi Mucha . , signifikan meningkatkan total biaya tahunan sebesar 65% dibandingkan kelompok tanpa komorbiditas . < 0,. (Mucha et al. , 2. Biaya medis langsung rata-rata pasien bedah urologi mencapai Rp 325, sedangkan tarif klaim INACBGAos menghasilkan defisit sebesar Rp 997 per pasien. Hal menunjukkan bahwa rumah sakit menanggung beban finansial tambahan karena biaya aktual layanan melebihi kompensasi yang diterima. Selisih biaya mengindikasikan bahwa tarif INA-CBGAos memenuhi kebutuhan terapi pasien. (Wulansari et al. , 2. Hasil menunjukkan nilai adjusted R-squared sebesar 0,421 berart 42,1% variasi total biaya medis langsung pasien dapat dijelaskan oleh variabel dalam model, yang menandakan kemampuan prediksi yang cukup baik. Tabel 6. Analisis Regresi Linier Karaktersitik Pasien terhadap Biaya Medis Langsung Variabel Jenis Kelamin Usia Riwayat Penyakit Penyerta Lama Rawat Inap Kelas Perawatan Tingkat Keparahan Keterangan: *) nilai P value < 0,05 Analisis koefisien menunjukkan bahwa lama rawat inap memiliki pengaruh terbesar terhadap biaya medis langsung (Sig. = 0,. Kelas perawatan berpengaruh signifikan terhadap biaya KESIMPULAN Rata-rata biaya medis langung sebesar Rp 9. 325 A 1. 707,79. Terdapat perbedaan signifikan biaya medis langsung pada variable usia, kelas perawatan dan lama rawat inap . <0. Lama rawat inap merupakan Sig () Adjust R Square medis langsung (Sig. = 0,. Lama rawat inap dan kelas perawatan memengaruhi biaya medis langsung. prediktor paling kuat berpengaruh terhadap biaya medis langsung (=0,624. p<0,. UCAPAN TERIMA KASIH Penulis terimakasih kepada Direktur dan staf RSUD Kota Yogyakarta. Yanti Fitriani Feangi, dkk | 163 Jurnal Ilmiah Ibnu Sina, 10. Oktober 2025, 155-168 p-ISSN: 2502-647X. e-ISSN: 2503-1902 DAFTAR PUSTAKA