Jurnal Lantera Ilmiah Kesehatan Artikel https://doi. org/10. 52120/jlik. Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Obat Antihipertensi di RSUD Siti Fatimah Received: 24 November 2025 Sinta Livia1*. Yovi Pranata1. Nia Azzahra1. Hilda Muliana2 Accepted: 4 Desember 2025 Publish online: 10 Desember 2025 Abstrak Hipertensi merupakan peningkatan tekanan darah yang menetap di atas 140/90 mmHg dan menjadi salah satu faktor risiko utama penyakit kardiovaskular. Keberhasilan terapi hipertensi sangat ditentukan oleh kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi rawat jalan di RSUD Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional pada 174 responden yang memenuhi kriteria inklusi bulan Juli 2025 melalui metode total sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. Analisis dilakukan secara univariat, bivariat . ji Chi-Squar. , dan multivariat . egresi logisti. Hasil penelitian secara parsial menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat kepatuhan sedang . ,1%) dan . ,9%) memiliki kepatuhan rendah. Uji Chi-Square menunjukkan bahwa usia . =0,006. r=-0,. dan tingkat pendidikan . =0,019. r=-0,. berhubungan signifikan dengan kepatuhan penggunaan obat antihipertensi dengan memiliki arah korelasi negatif, sedangkan usia, jenis kelamin, pekerjaan, dan lama menderita hipertensi tidak berhubungan signifikan . >0,. Model regresi secara simultan signifikan . =0,. , namun hanya mampu menjelaskan 10,3% variasi kepatuhan. Disimpulkan bahwa usia dan tingkat pendidikan merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan penggunaan obat antihipertensi, dengan arah negatif yang menunjukkan bahwa peningkatan usia dan pendidikan dapat menurunkan tingkat kepatuhan pasien. Kata kunci: Kepatuhan. Obat Antihipertensi. Hipertensi. RSUD Siti Fatimah Abstract Hypertension is a persistent increase in blood pressure above 140/90 mmHg and is one of the main risk factors for cardiovascular disease. The success of hypertension therapy is largely determined by patientsAo adherence to taking antihypertensive medication. This study aimed to identify factors associated with medication adherence among outpatient hypertension patients at Siti Fatimah Regional General Hospital. South Sumatra Province. This research used a descriptive-analytic design with a cross-sectional approach involving 174 respondents who met the inclusion criteria in July 2025 through a total sampling method. The research instrument was the Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-. Data were analyzed using univariate, bivariate (Chi-Squar. , and multivariate . ogistic regressio. The partial results showed that most respondents had a moderate level of adherence . 1%), while 33. 9% exhibited low adherence. The Chi-Square test revealed that age . = 0. r = Ae0. and education level . = 0. r = Ae0. were significantly associated with antihypertensive medication adherence, both showing negative correlation Meanwhile, gender, employment status, and duration of hypertension showed no significant association . > 0. The logistic regression model was significant overall . = . , although it explained only 10. 3% of the adherence variability. It was concluded that age and education level were the most influential factors affecting medication adherence, with negative associations indicating that higher age and higher education levels were linked to lower adherence among patients. Key words: Adherence. Antihypertensive Medication. Hypertension. Siti Fatimah Hospital Program Studi D3 Farmasi. Fakultas Farmasi. Universitas Kader Bangsa. Palembang Program Studi S1 Farmasi. Fakultas Kedokteran. Universitas Batam. Kepulauan Riau Koresponden: Sinta Livia . e-mail: sintalivia123@gmail. JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. Artikel Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Obat a PENDAHULUAN METODE PENELITIAN Hipertensi merupakan gangguan kesehatan yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah Ou140/90 mmHg secara menetap. Kondisi ini dikenal sebagai silent killer karena sering kali tidak bergejala, tetapi menjadi penyebab utama penyakit jantung, stroke, dan gagal ginjal. Faktor penyebab hipertensi dibagi menjadi dua, yaitu faktor yang tidak dapat dikendalikan seperti usia, jenis kelamin, dan genetik, serta faktor yang dapat dikendalikan seperti kelebihan berat badan, kurang aktivitas fisik, stres, konsumsi alkohol, merokok, dan pola makan tinggi garam (Muliana et al. Menurut Kementrian Kesehatan RI . , 423 penderita hipertensi berusia di atas 15 tahun, di mana 92,3% telah mendapatkan Kota Palembang menempati urutan tertinggi dengan 435. kasus, menunjukkan bahwa hipertensi masih menjadi permasalahan utama penyakit tidak Indonesia. Keberhasilan hipertensi sangat bergantung pada kepatuhan pasien dalam mengonsumsi obat antihipertensi Ketidakpatuhan menyebabkan tekanan darah tidak terkontrol dan meningkatkan risiko komplikasi serius (Rokhimah et al. Obat antihipertensi yang umum digunakan meliputi diuretik. ACE inhibitor, angiotensin receptor blocker, calcium channel blocker, dan beta blocker (Lolo et al. Penelitian sebelumnya menunjukkan tingkat kepatuhan yang rendah pada pasien hipertensi, seperti di Puskesmas Kema . ,5%) dan Puskesmas Banyumas . %) (Tumundo et al. Rokhimah et al. Kondisi ini menunjukkan perlunya evaluasi terhadap faktorfaktor yang memengaruhi kepatuhan pasien. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan antihipertensi pada pasien rawat jalan di RSUD Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan, sebagai upaya mendukung keberhasilan pengendalian hipertensi melalui peningkatan kepatuhan terapi. Penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di RSUD Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan pada tanggal 7 JuliAe 7 Agustus 2025. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien hipertensi rawat jalan yang menjalani pengobatan di RSUD Siti Fatimah. Sampel berjumlah 174 responden yang memenuhi kriteria inklusi yaitu pasien hipertensi yang menjalani terapi obat antihipertensi minimal selama satu bulan, dan bersedia menjadi responden, dan dapat berkomunikasi dengan baik. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner MMAS-8 dengan kategori kepatuhan tinggi . , kepatuhan sedang . , dan kepatuhan rendah (O. , yang telah diuji dan dinyatakan valid . > 0,. serta reliabel (CronbachAos Alpha = 0,. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan melalui tiga tahapan, yaitu analisis univariat untuk menggambarkan karakteristik responden dan distribusi tingkat kepatuhan minum obat, analisis bivariat menggunakan uji Chi-Square untuk menilai hubungan antara karakteristik responden dengan tingkat kepatuhan, serta analisis multivariat menggunakan regresi logistik untuk berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi setelah dikontrol oleh variabel Tingkat signifikansi yang digunakan pada seluruh analisis adalah p < 0,05, dan hasil analisis regresi logistik disajikan dalam bentuk nilai Odds Ratio (OR) beserta Confidence Interval (CI) 95% untuk menunjukkan besaran pengaruh dan kekuatan hubungan setiap variabel independen terhadap kepatuhan. JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Tabel 1. Hasil Uji Validitas Instrumen Penelitian No. Variabel Butir 1 Butir 2 Butir 3 Butir 4 Butir 5 Butir 6 r hasil 0,556 0,557 0,732 0,768 0,467 0,467 r tabel 0,334 0,334 0,334 0,334 0,334 0,334 Ket Valid Valid Valid Valid Valid Valid Artikel Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Obat a Butir 7 Butir 8 0,524 0,526 0,334 0,334 Valid Valid Berdasarkan Tabel 1. seluruh butir menunjukkan nilai r hitung >r tabel . , sehingga dinyatakan valid. Hal ini menunjukkan bahwa setiap item pada kuesioner mampu mengukur aspek yang dimaksud secara konsisten dan layak digunakan sebagai alat ukur dalam penelitian ini. Tabel 2. Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Penelitian Ket No. Jumlah CronbachAos Pertanyaan Alpha 0,721 Reliabilitas Berdasarkan Tabel 2. hasil uji reliabilitas menunjukkan nilai CronbachAos Alpha sebesar 0,721, yang berada di atas batas minimum 0,60. Dengan demikian, instrumen penelitian ini dinyatakan reliabel, pertanyaan memiliki tingkat konsistensi internal yang baik dan dapat diandalkan untuk mengukur variabel kepatuhan pasien hipertensi. Tabel 3. Karakteristik Responden Variabel Rentang Usia Ou 40 Tahun < 40 Tahun Total Jenis Kelamin Perempuan Laki Ae laki Total Tingkat Pendidikan SD/Sederajat SMP SMA Perguruan Tinggi Total Status Pekerjaan Tidak Bekerja Bekerja Total Lama Menderita Hipertensi Ou 2 Tahun < 2Tahun Total Jumlah JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. Berdasarkan hasil penelitian, mayoritas dari 174 responden berusia Ou40 tahun . ,1%) dan . ,9%), menunjukkan bahwa hipertensi lebih banyak dialami oleh kelompok usia lanjut dan sedikit lebih dominan pada perempuan. Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan perguruan tinggi . ,5%) dan SMA . ,2%), yang mencerminkan kemampuan literasi kesehatan yang relatif baik. Dari segi pekerjaan, mayoritas responden bekerja . ,2%), menandakan bahwa hipertensi juga banyak dialami oleh kelompok usia Selain itu, sebagian besar responden telah menderita hipertensi selama Ou2 tahun . ,5%), menggambarkan bahwa mayoritas pasien memiliki riwayat penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang. Tabel 4. Uji Parsial Hubungan Karakterisiik Responden dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien Hipertensi Person pVariabel Keterangan Korelasi value Usia -0,188 0,006 Jenis Kelamin 0,053 0,242 -0,158 0,019 Signifikan 0,060 0,215 Tidak Signifikan 0,051 0,250 Tidak Signifikan Tingkat Pendidikan Status Pekerjaan Lama Menderita Hipertensi Signifikan Tidak Signifikan Berdasarkan Tabel 4. hasil uji Chi-Square, variabel usia . = 0,006. r = -0,. dan tingkat pendidikan . = 0,019. r = -0,. menunjukkan hubungan yang signifikan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi. Arah korelasi negatif pada kedua variabel menunjukkan bahwa semakin tinggi usia dan tingkat pendidikan. Sementara variabel jenis kelamin, status pekerjaan, dan lama menderita hipertensi tidak memiliki hubungan yang bermakna secara statistik . > 0,. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa usia dan tingkat pendidikan merupakan faktor yang berhubungan signifikan dengan kepatuhan pasien hipertensi terhadap pengobatan. Artikel Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Obat a Tabel 5. Hasil Uji Simultan Hubungan Karakteristik Responden dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien Hipertensi Secara Simultan Berdasarkan Variabel Usia Jenis Kelamin Tingkat -0. Pendidikan Status Pekerjaan Lama Menderita Hipertensi Konstanta 2. Wald df Sig. Exp (B) Ket 198 Signifikan 121 Tidak 621 Signifikan Tidak Tidak 533 Ai Berdasarkan Tabel 5, hasil uji regresi logistik menunjukkan bahwa variabel usia . = 0,. dan tingkat 0,. memiliki pengaruh signifikan terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi . <0. Koefisien B yang bernilai negatif pada kedua variabel menandakan bahwa semakin tinggi usia dan semakin tinggi tingkat pendidikan maka kecenderungan ketidakpatuhan terhadap terapi obat meningkat. Sedangkan variabel jenis kelamin . = 0,. , status pekerjaan . = 0,. , dan lama menderita hipertensi . = 0,. tidak kepatuhan . >0. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa secara parsial dalam model regresi, variabel yang paling berpengaruh terhadap kepatuhan adalah usia dan tingkat Tabel 6. Omnibus Test of Model Coefficients (Uji Signifikansi Model Secara Simulta. Tahap Chi-square Sig. Step 1 Block Model Berdasarkan Hasil Omnibus Test of Model Coefficients pada Tabel 6 menunjukkan nilai Chisquare sebesar 13. 412 dengan nilai p = 0. sehingga dapat dinyatakan bahwa model regresi logistik secara keseluruhan signifikan . <0. Artinya, serangkaian variabel karakteristik responden yang diuji, yaitu usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan lama JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. hipertensi, secara berpengaruh terhadap kepatuhan minum obat Dengan demikian, model layak pengobatan pada pasien hipertensi. Tabel 7. Model Summary Regresi Logistik Step -2 Log Cox & Snell Nagelkerke Likelihood Berdasarkan Tabel 7 menunjukkan bahwa nilai Nagelkerke R Square sebesar 0. 103, yang berarti bahwa model regresi logistik dapat menjelaskan 10,3% variasi kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain di luar penelitian. Nilai -2 Log Likelihood sebesar 209. memprediksi peluang kepatuhan responden. Dengan demikian, meskipun model signifikan, kemampuan prediktif variabel karakteristik responden masih rendah, sehingga disarankan mempertimbangkan variabel lain yang mungkin lebih dominan. Tabel 8. Distribusi Tingkat Kepatuhan Pasien Hipertensi No. Tingkat Frekuensi Persentase Kepatuhan (%) Sedang Rendah TOTAL Kuesioner MMAS-8 digunakan untuk mengukur tingkat kepatuhan minum obat Skor MMAS-8 dikategorikan menjadi kepatuhan rendah (O. , sedang . Ae. , dan tinggi . Pada penelitian ini tidak ditemukan responden dengan kategori kepatuhan tinggi, sehingga distribusi hanya terbagi menjadi dua kategori: sedang dan rendah. Berdasarkan Tabel 8, sebagian besar responden memiliki tingkat kepatuhan sedang sebanyak 115 responden . ,1%), sedangkan 59 responden . ,9%) termasuk dalam kategori kepatuhan rendah. Temuan ini menunjukkan bahwa meskipun sebagian besar pasien telah Artikel Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Obat a konsistensi dalam mengonsumsi obat masih belum optimal. Dengan demikian, dibutuhkan motivasional untuk memastikan pasien dapat mencapai tingkat kepatuhan yang lebih baik dalam jangka panjang. Tabel 9. Distribusi pertanyaan kuesioner MMAS-8 terhadap kepatuhan Pasien Penderita Hipertensi Pertanyaan Apakah bapak/ibu 1 pernah lupa minum Dalam dua minggu 2 bapak/ibu pada suatu hari tidak meminum Pernahkah bapak/ibu berhenti minum obat karena merasa tidak Apakah 4 bapak/ibu minum obat sesuai aturan? Apakah bapak/ibu merasa terganggu jika harus minum obat setiap hari? Apakah bapak/ibu 6 sering lupa minum Jika merasa sudah 7 bapak/ibu Saat bepergian atau meninggalkan rumah, 8 apakah bapak/ibu pernah lupa untuk membawa obat? Jawaban Tidak n % n % 3 43 24. 9 28 16. 3 36 20. 3 116 66. 6 39 22. 6 32 18. 9 42 24. 7 51 29. JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. Berdasarkan tabel 9. Hasil analisis butir MMAS-8 menunjukkan bahwa mayoritas pasien masih sering mengalami ketidakpatuhan, ditandai dengan lupa minum obat . ,3%), tidak minum obat dalam dua minggu terakhir . ,9%), menghentikan obat tanpa izin dokter . ,3%), serta hanya 33,3% yang meminum obat sesuai aturan pada hari sebelumnya. Selain itu, sebagian besar responden merasa terganggu dengan rutinitas minum obat . ,6%), sering lupa . ,6%), berhenti minum obat saat merasa sehat . ,9%), dan lupa membawa obat saat bepergian . ,7%). Temuan ini memperlihatkan bahwa ketidakpatuhan terutama dipengaruhi oleh kebiasaan dan persepsi pasien terhadap terapi jangka panjang. Pembahasan Karakteristik Responden Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia Ou40 tahun . ,1%), menandakan bahwa hipertensi lebih dominan pada kelompok usia dewasa dan lansia. Kondisi ini sejalan dengan laporan WHO . yang menyatakan bahwa risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia akibat penurunan elastisitas pembuluh darah. Temuan ini konsisten dengan penelitian Hijriyati et al. Iskandar et al. dan hasil penelitian Muliana et al. di RSUD Siti Fatimah yang melaporkan bahwa 94,2% pasien hipertensi berada pada kelompok usia >40 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa usia lanjut merupakan determinan penting dalam terjadinya hipertensi. Oleh karena itu, upaya edukasi dan pencegahan hipertensi perlu difokuskan pada kelompok usia tersebut. Dari segi jenis kelamin, sebagian besar responden berjenis kelamin perempuan . ,9%). Hasil ini sejalan dengan penelitian Hermaniati et . Hijriyati et al. dan Muliana et al. yang menemukan dominasi perempuan pada pasien hipertensi. Kondisi ini dapat dikaitkan dengan perubahan hormonal pasca-menopause yang menyebabkan peningkatan risiko hipertensi akibat penurunan hormon estrogen. Namun, beberapa penelitian seperti Mansyur et al. berdasarkan jenis kelamin. Perbedaan temuan ini kemungkinan disebabkan oleh variasi karakteristik populasi serta kecenderungan perempuan yang Artikel Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Obat a lebih sering memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan dibandingkan laki-laki. Sebagian besar responden memiliki tingkat pendidikan tinggi . ,5%), menunjukkan bahwa pasien hipertensi di RSUD Siti Fatimah memiliki tingkat literasi kesehatan yang relatif baik. Hasil ini konsisten dengan penelitian Muliana et al. yang juga menemukan bahwa pasien hipertensi memiliki pendidikan tinggi. Hal ini sejalan dengan pernyataan WHO . bahwa pendidikan berperan penting dalam meningkatkan pemahaman terhadap pengelolaan penyakit kronis dan kepatuhan pengobatan. Perbedaan hasil dengan penelitian sebelumnya seperti Hijriyati et al. yang menemukan dominasi pendidikan rendah kemungkinan dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik lokasi penelitian dan akses terhadap layanan kesehatan. Mayoritas responden dalam penelitian ini berstatus bekerja . ,2%), menggambarkan bahwa hipertensi tidak hanya menyerang kelompok lansia yang tidak produktif, tetapi juga kelompok usia produktif. Pekerjaan dapat meningkatkan stres dan pola hidup tidak sehat yang memicu hipertensi (WHO 2. Hasil ini sesuai dengan temuan (Muliana et al. , 2. yang melaporkan bahwa pasien hipertensi berstatus Berbeda dengan penelitian Hermaniati et . dan Kurniati et al. yang menunjukkan dominasi responden tidak bekerja kemungkinan disebabkan oleh konteks sosialekonomi dan perbedaan lokasi penelitian. Selain itu, sebagian besar responden telah menderita hipertensi selama Ou2 tahun . ,5%), mencerminkan bahwa hipertensi merupakan penyakit kronis yang memerlukan pengelolaan jangka panjang. Hasil ini sesuai dengan temuan Hermaniati et al. dan Muliana et al. yang melaporkan bahwa mayoritas pasientelah menderita hipertensi lebih dari dua tahun dengan sebagian besar pasien hipertensi telah mengalami kondisi ini dalam waktu lama. Perbedaan dengan penelitian Hijriyati et al. yang menemukan durasi lebih singkat kemungkinan disebabkan oleh variasi dalam kesadaran deteksi dini dan akses Secara karakteristik responden dalam penelitian ini mencerminkan profil umum penderita hipertensi di fasilitas kesehatan tingkat provinsi, dengan dominasi usia lanjut, pendidikan tinggi, dan lama menderita yang cukup panjang. JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. Hubungan Karakteristik Responden dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien Hipertensi Secara Parsial Berdasarkan hasil uji Chi-Square pada Tabel 4, diketahui bahwa variabel usia dan tingkat pendidikan memiliki hubungan signifikan dengan kepatuhan minum obat antihipertensi. Arah korelasi negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi usia dan tingkat pendidikan responden, pengobatan justru meningkat. Sementara itu, variabel jenis kelamin, status pekerjaan, dan lama hubungan yang bermakna . > 0,. Secara teori, pedoman WHO . antihipertensi sangat bergantung pada adherensi Faktor kepatuhan tidak hanya bersifat klinis, tetapi juga mencakup aspek kognitif, perilaku, dan sistem layanan kesehatan. Usia lanjut sering kali dikaitkan dengan penurunan fungsi kognitif, gangguan memori, dan kompleksitas regimen terapi . , yang berdampak pada rendahnya konsistensi minum obat. Sementara itu, individu dengan tingkat pendidikan lebih tinggi dapat memiliki persepsi otonomi yang tinggi melakukan self-adjustment terhadap dosis atau waktu konsumsi obat, sehingga menurunkan tingkat kepatuhan. Temuan ini sejalan dengan penelitian (Muliana et al. , 2. yang menunjukkan bahwa tingkat pendidikan tinggi yang berhubungan dengan tingkat kepatuhan yang tetap berada pada kategori sedang dan rendah. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak selalu menjamin perilaku patuh, karena pasien tetap dapat mengalami kejenuhan terapi, lupa minum obat, atau menghentikan obat tanpa Hasil ini juga sejalan dengan WHO . peningkatan kepatuhan melalui edukasi pasien, penyederhanaan terapi dengan kombinasi dosis tunggal . ingle-pill combinatio. , serta tindak Artikel Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Obat a lanjut rutin setiap 1Ae3 bulan untuk memastikan tekanan darah tetap terkontrol dan meminimalkan kehilangan kepatuhan. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa faktor usia dan tingkat pendidikan berperan penting terhadap kepatuhan pasien hipertensi dalam menjalani terapi. Upaya peningkatan kepatuhan perlu difokuskan pada kelompok usia lanjut dan pasien berpendidikan tinggi melalui farmakoterapi yang sederhana serta mudah diikuti sesuai rekomendasi WHO . Hubungan Karakteristik Responden dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien Hipertensi Secara Simultan Berdasarkan hasil regresi logistik pada Tabel 5, diperoleh bahwa variabel usia dan tingkat pendidikan memiliki pengaruh signifikan terhadap kepatuhan minum obat antihipertensi. Kedua variabel tersebut menunjukkan nilai p < 0,05 serta koefisien B bernilai negatif, yang mengindikasikan bahwa semakin tinggi usia responden dan semakin tinggi tingkat pendidikan, kecenderungan untuk tidak patuh terhadap terapi obat semakin Kondisi ini menunjukkan bahwa usia dan pendidikan merupakan faktor penting dalam model yang memengaruhi proses kepatuhan Secara teori, kepatuhan pada terapi dipengaruhi oleh aspek fisiologis, psikologis, dan Pada pasien dengan usia lanjut, penurunan fungsi kognitif, keterbatasan fisik, serta adanya komorbid sering menyebabkan ketidakkonsistenan dalam mengonsumsi obat. WHO . menyatakan bahwa kelompok usia kemampuan mempertahankan regimen terapi jangka panjang. Hasil ini sejalan dengan penelitian Hermaniati et al. yang menemukan bahwa pasien berpendidikan tinggi lebih sering menghentikan obat ketika merasa kondisi sudah membaik, sedangkan usia lanjut sering mengalami penurunan ingatan dan . edication fatigu. Sementara itu, pengaruh negatif tingkat pendidikan dapat dijelaskan melalui teori perilaku JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. kesehatan yang menyebutkan bahwa individu dengan pendidikan lebih tinggi sering memiliki beban pekerjaan yang tinggi, mobilitas besar, serta kecenderungan merasionalisasi sendiri terapi yang dijalani. Dalam beberapa penelitian sebelumnya, pasien berpendidikan tinggi lebih sering menghentikan obat ketika merasa gejala membaik atau mengubah jadwal obat sesuai persepsi pribadi. Keadaan ini menunjukkan bahwa pendidikan tinggi tidak selalu berkorelasi dengan kepatuhan yang lebih baik. Berbeda dengan usia dan pendidikan, variabel jenis kelamin, status pekerjaan, dan lama pengaruh signifikan terhadap kepatuhan. Temuan ini konsisten dengan teori bahwa faktor demografi tidak cukup kuat untuk memprediksi kepatuhan tanpa mempertimbangkan aspek psikososial, seperti motivasi, dukungan keluarga, persepsi risiko, dan pengalaman terhadap efek samping Ketiga variabel tersebut tidak berpengaruh secara signifikan dalam model, menandakan bahwa kepatuhan lebih dipengaruhi oleh faktor internal atau perilaku daripada faktor demografis. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa dalam model regresi logistik, usia dan ketidakpatuhan, sedangkan variabel lainnya tidak memiliki kontribusi signifikan secara individual. Signifikansi Model Secara Simultan (Omnibus Test of Model Coefficient. Berdasarkan hasil Omnibus Test pada Tabel 6 menunjukkan bahwa model regresi logistik secara keseluruhan signifikan, ditandai dengan nilai p = 0,020. Ini berarti bahwa variabel usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, status pekerjaan, dan lama menderita hipertensi secara bersama-sama memiliki pengaruh terhadap kepatuhan minum obat. Secara teori, regresi logistik digunakan untuk menilai pengaruh multivariat, yaitu bagaimana seluruh variabel independen bekerja secara simultan dalam memprediksi variabel Signifikansi pada Omnibus Test ini mengindikasikan bahwa variabel-variabel yang dimasukkan dalam model memberikan kontribusi kolektif yang relevan terhadap variasi kepatuhan pasien hipertensi. Meskipun tidak semua variabel signifikan secara parsial . eperti ditunjukkan pada Artikel Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Obat a Tabel . , kombinasi seluruh variabel tetap menunjukkan pengaruh yang bermakna secara Hal ini sesuai dengan konsep multifactorial behavior di mana kepatuhan tidak ditentukan oleh satu faktor tunggal, tetapi oleh interaksi berbagai faktor demografi, sosial, dan psikologis. Dengan demikian, hasil ini memperkuat bahwa model regresi logistik yang digunakan layak dan relevan untuk memprediksi kepatuhan pengobatan pada pasien hipertensi. Model Summary Regresi Logistik Berdasarkan hasil Tabel 7 menunjukkan bahwa nilai Nagelkerke RA sebesar 0,103, yang berarti model regresi logistik mampu menjelaskan 10,3% Nilai ini tergolong rendah, tetapi lazim ditemukan pada penelitian perilaku WHO . menyatakan bahwa dipengaruhi oleh banyak faktor kompleks, termasuk motivasi internal, persepsi kesehatan, dukungan sosial, akses obat, dan hubungan pasienAetenaga kesehatan. Dengan variasi yang dapat dijelaskan hanya sebesar 10,3%, hal ini mengindikasikan bahwa variabel demografis seperti usia, pendidikan, jenis kelamin, pekerjaan, dan lama hipertensi bukanlah satu-satunya faktor utama penentu kepatuhan. Masih banyak faktor lain yang belum dimasukkan dalam model dan berpotensi lebih dominan, seperti persepsi risiko, efek samping obat, kepercayaan terhadap terapi, pengetahuan tentang hipertensi, serta kualitas edukasi yang diberikan tenaga kesehatan. Nilai Ae2 Log Likelihood sebesar 209. menunjukkan bahwa model cukup stabil dalam memprediksi peluang kepatuhan, namun tidak memiliki kekuatan prediktif yang sangat tinggi. Hal ini mempertegas perlunya penelitian lanjutan dengan memasukkan variabel lain yang lebih bersifat psikologis atau perilaku agar model prediktif menjadi lebih kuat. Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa meskipun model signifikan, kemampuan model dalam menjelaskan kepatuhan masih terbatas, sehingga perlu pengembangan variabel tambahan dalam penelitian berikutnya. JURNAL LANTERA ILMIAH KESEHATAN|VOL. 3 NO. Tingkat Kepatuhan Pasien Hipertensi Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hipertensi di RSUD Siti Fatimah Provinsi Sumatera Selatan memiliki tingkat kepatuhan sedang . ,1%), sedangkan 33,9% lainnya menunjukkan kepatuhan rendah. Temuan ini sejalan dengan laporan WHO . bahwa kepatuhan pengobatan pada penyakit kronis, termasuk hipertensi, umumnya masih rendah secara global. Tingkat kepatuhan sedang yang ditemukan menunjukkan bahwa pasien telah memiliki kesadaran untuk menjalani terapi, namun belum sepenuhnya konsisten. Temuan ini juga sesuai dengan hasil penelitian (Muliana et al. , 2. , yang menunjukkan bahwa kepatuhan pasien hipertensi di RSUD Siti Fatimah didominasi oleh kategori sedang . ,8%) dan rendah . ,2%) tanpa adanya pasien dengan kepatuhan tinggi. Kondisi ini menegaskan bahwa masalah kepatuhan masih menjadi tantangan, meskipun sebagian besar pasien memiliki karakteristik sosiodemografis yang cukup baik. Hasil ini sejalan dengan penelitian Hijriyati et al. dan Hermaniati et al. yang menunjukkan bahwa pasien hipertensi cenderung kurang patuh akibat kebiasaan lupa minum obat, kejenuhan terapi, dan penghentian pengobatan saat merasa sehat. Hal ini mengindikasikan bahwa kepatuhan pasien masih dipengaruhi oleh faktor psikologis, sosial, dan persepsi terhadap penyakit. Oleh karena itu, diperlukan intervensi edukatif yang berkesinambungan dari tenaga kesehatan untuk meningkatkan kesadaran dan motivasi pasien agar mencapai tingkat kepatuhan yang lebih optimal. Pertanyaan Kuesioner MMAS-8 terhadap KepatuhanPasien Penderita Hipertensi Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien hipertensi mengalami masalah dalam kepatuhan pengobatan. Sebanyak 75,3% responden pernah lupa minum obat, 83,9% tidak mengonsumsi obat pada hari tertentu dalam dua minggu terakhir, dan 79,3% menghentikan pengobatan tanpa izin dokter. Hanya 33,3% responden yang meminum obat sesuai aturan sehari sebelumnya. Selain itu, mayoritas merasa terganggu dengan rutinitas minum obat setiap hari . ,6%), sering lupa Artikel Analisis Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Penggunaan Obat a minum obat . ,6%), berhenti saat merasa sehat . ,9%), dan lupa membawa obat saat bepergian . ,7%). Temuan ini sejalan dengan hasil penelitian (Muliana et al. , 2. di RSUD Siti Fatimah, yang menunjukkan pola ketidakpatuhan serupa. Sebagian besar pasien dilaporkan sering lupa minum obat, menghentikan pengobatan tanpa berkonsultasi dengan dokter, merasa terbebani oleh rutinitas minum obat harian, serta cenderung berhenti minum obat ketika merasa sehat. Hasil instrumen MMAS-8 dalam penelitian tersebut juga didominasi kategori sedang . ,8%) dan rendah ,2%), tanpa adanya pasien berkepatuhan Hal ini memperkuat bahwa masalah kepatuhan bersifat konsisten dan terkait dengan perilaku sehari-hari pasien dalam mengelola Temuan ini juga sejalan dengan hasil penelitian Tumundo melaporkan bahwa lebih dari separuh pasien hipertensi . ,5%) memiliki tingkat kepatuhan rendah terhadap penggunaan obat antihipertensi berdasarkan instrumen MMAS-8. Hasil serupa juga diungkapkan oleh Mansyur et al. bahwa ketidakpatuhan sering disebabkan oleh kejenuhan terhadap terapi jangka panjang dan kurangnya dukungan keluarga. Secara umum, faktor-faktor psikologis seperti persepsi bahwa obat dapat dihentikan ketika merasa sehat dan kurangnya motivasi untuk mematuhi regimen terapi masih menjadi hambatan utama dalam mencapai kepatuhan optimal KESIMPULAN pekerjaan, dan lama menderita hipertens. memiliki hubungan yang signifikan terhadap kepatuhan penggunaan obat antihipertensi (Sig. =0,. Hasil signifikan ini mengindikasikan bahwa semakin baik karakteristik sosiodemografis pasienterutama usia produktif, pendidikan lebih tinggi, dan pengalaman lebih lama menjalani terapisemakin tinggi pula tingkat kepatuhan terhadap pengobatan. DAFTAR PUSTAKA