Hubungan ASEAN dengan Amerika Serikat: Perkembangan di Sekitar Tahun 1980 Djisman S. SIMANDJUNTAK LINGKUNGAN KESELURUHAN Menyongsong ulang tahunnya yang kedua puluh. ASEAN, yang seringkah dipuji sebagai oasis stabilitas politik dan pusat pertumbuhan di antara negaranegara Dunia Ketiga yang kacau, kini menghadapi tantangan serius. WalauA pun dalam waktu dekat tidak terdapat alasan untuk mengkhawatirkan stabiA litas politik di kawasan ini, berbagai perkembangan di kawasan ini dan di negara-negara sekitarnya dapat menumpuk sedemikian rupa sehingga dapat mengurangi stabilitas jangka panjang ASEAN. Di antara isyu-isyu politik dalam negeri, belum melembaganya pergantian kepemimpinan tampaknya dapat menimbulkan ketegangan, tidak hanya di Filipina di mana usaha Presiden Aquino ke arah rekonsiliasi nasional kelihatA annya terhambat oleh adanya keengganan kelompok-kelompok lain, tetapi juga di negara-negara lain seperti Indonesia di mana pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pergantian kepemimpinan politik diredam oleh dukungan kepada presiden untuk periode berikutnya. Di negara-negara sekitar kawasan, konflik Kamboja tidak hanya terus berlangsung sehingga dapat mengundang campur-tangan Uni Soviet dan Cina di Asia Tenggara, tetapi juga telah menimbulkan ketegangan dalam hubungan antar-negara ASEAN, khususnya hubungan Indonesia dengan Muangthai. Di Pasifik yang diramalkan segera menjadi samudra abad ke-21, berbagai perubahan sedang terjadi yang di antaranya mungkin dapat merugikan ASEAN. Pidato Gorbachev di Wladiwostok akhir Juli jelas menunjukkan niat Uni Soviet untuk mengembangkan bagian dari wilayahnya yang luas di AsiaTerjemahan makalah AoAoASEAN Relation with the United States: Development in the 1980Aos,Ay yang disampaikan pada Konperensi Internasional tentang Western Europe and Southeast Asia: The Political and Economic Relationship, yang disponsori oleh Institute of European Studies. AoAoAlcede de Gaspari,Ay di Roma. Italia, tanggal 11-13 Desember 1986. HUBUNGAN ASEAN-AS Pasifik sebagai pusat pertumbuhan industri yang baru dan untuk menjaga kepentingan yang terkait dengan hal itu di Pasifik, baik kepentingan ekonomis maupun kepentingan-kepentingan lainnya. Hal ini dapat memperkuat keduA dukan orang-orang Amerika yang menganggap peran utama kebijakan AS di Asia-Pasifik adalah membendung pengaruh Uni Soviet di wilayah tersebut. Sebenarnya beberapa kelompok konservatif di Amerika Serikat mengharapA kan negara-negara kecil di Pasifik termasuk negara-negara anggota ASEAN memiliki persepsi yang sama mengenai ancaman Uni Soviet. 1 Namun dapat dimengerti bahwa tanggapan ASEAN tidak terlalu antusias. Dengan ZOPFAN sebagai rancangan keamanan untuk Asia Tenggara yang sampai batasbatas tertentu mencerminkan komitmen Malaysia dan Indonesia pada politik non-blok. ASEAN kelihatannya tetap bersikap ambivalen terhadap prakarsa Amerika Serikat dalam menjaga keamanan di Asia-Pasifik. 2 Berdasarkan amA bivalensi tersebut dan anggapan bahwa kebijakan Amerika Serikat yang terpuA sat pada pembendungan pengaruh Uni Soviet di Pasifik. ASEAN tampaknya menjadi kurang menarik bagi Amerika maupun bagi Jepang daripada Cina. Daftar isyu-isyu regional dan global di mana ASEAN tidak berada pada kubu yang sama dengan Amerika Serikat dapat dengan mudah diperpanjang. Sementara beberapa dari perbedaan-perbedaan tersebut dapat menimbulkan rintangan yang tak perlu terhadap perluasan pertukaran ekonomi antara ASEAN dan Amerika Serikat, jelas bahwa di bidang pertukaran ekonomi iniA lah kepentingan kedua-belah pihak saling bertemu. Memanfaatkan setiap peluang bagi kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan tidak hanya merupakan suatu kebutuhan karena sangat terbatasnya kerjasama di bidang politik-keamanan. Menurut pemahaman ASEAN, hal itu penting karena meA rupakan faktor utama bagi kestabilan politik dan keamanan di kawasan ASEAN. Ini tidak berarti bahwa kerjasama ekonomi lebih mudah dikembangA kan daripada kerjasama politik. Kenyataannya, dalam lingkungan ekonomi global sedang terjadi perubahan-perubahan cepat, sebagian di antaranya mungkin akan lebih merupakan disinsetif baru daripada insentif bagi hubungan ekonomi ASEAN-AS. 'Lihat, misalnya. Admiral William J. Crowe. Jr. AoAoThe Security Undcrpinings of US-Asia Trade,Ay pidato yang dibacakan pada Konperensi On the Next Decade in US-Asia Trade, diadakan di Washington. , pada tanggal 19-20 Februari 1986, diselenggarakan oleh US-Asia Institute. Lihat juga. Martin L. Lasater, "Soviet Objectives in ASEAN Countries and Regional Political Stability,Ay makalah ini disajikan dalam Konperensi US-ASEAN Relation: Prospects for the 1990s, diadakan di Kuala Lumpur pada tanggal 31 Maret-2 April 1986, diselenggarakan bersamasama oleh Institute of Strategic and International Studies (ISIS) Malaysia, dan Centre for Strategic and International Studies (CSIS). Georgetown University. Washington. 2Mengenai ambivalensi ini dan alasan-alasan yang mendasarinya lihat. Hans H. Indorf. AoAoUndercurrents of Change in US-ASEAN Relations,Ay dalam Trilateralism in Asia: Problems and Prospects in US-Japan-ASEAN Relations, cd. Nathan and Pathmanathan (Kuala Lumpur: Antara Book Company, 1. , hal. ANAL,ISA 1987-1 1 Tidak seperti tahun 1970-an yang ditandai oleh langkanya sumberdaya alam sehingga beberapa negara ASEAN pengekspor sumberdaya tersebut memperoleh rejcki nomplok, tahun 1980-an diawali oleh penurunan menyeA luruh dalam perdagangan komoditi internasional karena negara-negara pengimpor komoditi berhasil mengadakan penyesuaian. Penurunan itu tidakA lah bersifat siklis, namun terus berlangsung walaupun tingkat pertumbuhan di Amerika Serikat. Jepang dan MEE telah membaik. Kombinasi beberapa faktor seperti pergeseran struktur PDB (Produk Domestik Brut. ke arah produk-produk yang tidak banyak menggunakan sumberdaya, inovasi dalam cara produksi yang hemat sumberdaya alam dan penggunaan bahan pengganti termasuk bahan sintetis telah menurunkan pertumbuhan konsumsi beberapa bahan mentah penting relatif terhadap perumbuhan produksi seperti terlihat pada Tabel l'. Lepasnya kaitan pertumbuhan produksi dari konsumsi sumberA daya alam adalah yang terpenting di antara perubahan-perubahan yang terjadi di tahun 1980-an, dan diperkirakan akan terus meningkat pada dekade beriA Tabel 1 TINGKAT PERTUMBUHAN GDP PER TAHUN DAN PERMINTAAN ATAS BEBERAPA BAHAN BAKU Dunia 1975-1980 1980-1984 Tingkat Pertumbuhan GDP1 Amerika Serikat 1975-1980 11980-1984 Jepang 1975-1980 1980-1984 Pertumbuhan KonA sumsi Sumberdaya Alam:2 Aluminium Primer Tembaga Murni Timah Hitam -0,5 -0,1 -0,1 Nikel Seng Timah Putih -0,7 Sumber: -4,8 3 OECD Economic Outlook. 2Dari Melallgesellschaft seperti disalin dalam Pacific Regional Growth and Changing Industrial Structure: Effects on Minerals and Metals Production and Consumption, sebuah laporan yang disajikan pada The Mineral and Energy Forum of the Pacific Economic Co-operation Committee, di Jakarta 1986. 3Rata-rata 1972-1982. HUBUNGAN ASEAN-AS Menurunnya perdagangan komoditi internasional telah menimbulkan dampak ekonomi yang parah di ASEAN. Pertama, defisit neraca berjalan seluruh negara-negara ASEAN meningkat dari 2. 271 juta SDR pada tahun 1980 menjadi 15. 251 juta SDR pada tahun 1983, walaupun defisit itu telah turun menjadi 7. 949 juta SDR pada tahun 1984 sebagian disebabkan oleh ditekannya impor terutama di Indonesia dan Filipina. Kedua, tingkat pertumbuhan ekonomi ASEAN menunjukkan penurunan besar pada empat tahun pertama tahun 1980-an dibanding empat tahun terakhir tahun 1970 seperti dapat dilihat pada Tabel 2. Ketiga, kombinasi dari beberapa faktor seperti melemahnya tingkat pertumbuhan yang berarti berkuA rangnya insentif untuk penanaman modal di bidang barang-barang pengganti impor, menurunnya perdagangan internasional barang-barang komoditi yang membuat eksplorasi sumberdaya alam menjadi tidak menarik dan proteksioA nisme yang berkaitan dengan meningkatnya penanaman modal langsung antar-negara OECD, telah menyulitkan negara-negara ASEAN karena menguA rangi daya-tarik ASEAN bagi penanam modal asing langsung. Keseluruhan penanaman modal asing langsung di ASEAN ternyata merosot dari 3. 292 juta SDR pada tahun 1982 menjadi 2. 941 juta SDR pada tahun 1984. Sementara penanaman modal asing langsung di negara-negara industri meningkat dari 582 juta SDR menjadi 36. 342 juta SDR pada periode yang sama. Pangsa ASEAN dalam total penanaman modal asing langsung di seluruh negara telah menurun dari 7,4% pada tahun 1982 menjadi 5,7% pada tahun 1984 semenA tara pangsa negara industri meningkat dari 51% menjadi 71 %. Tabel 2 TINGKAT PERTUMBUHAN GDP PER TAHUN NEGARA-NEGARA ASEAN (Dalam T. Indonesia Malaysia Filipina 2,6' Singapura Muangthai Sumber: ESCAP. Social Statistics for Asia and the Pacific 1984. 3IMF. Balance of Payments Statistics Yearbook 1984. Part I (Washington. 4Ibid. Part i. ANALISA 1987-11 Keempat, dengan menurunnya perdagangan komoditi dan meningkatnya beban pengembalian utang pada saat yang sama, maka defisit neraca berjalan hanya dapat dipulihkan melalui perluasan ekspor produk-produk manufaktur secara besar-besaran. Tetapi pasar utama produk-produk ini tampaknya telah mendekati titik-jenuhnya, sehingga mendorong meningkatnya proteksionisme yang pada gilirannya membuat usaha ke arah AoAoreinventionAy lebih memberi harapan daripada usaha-usaha lain. Dengan kata lain, ketergantungan negaranegara ASEAN pada AoAotenaga kerja'murahAy sebagai salah satu faktor keungA gulan komparatif dalam perdagangan produk-produk manufaktur menjadi semakin rawan. Ini tidak menutup kemungkinan pertumbuhan terus-menerus ekspor barang manufaktur dari negara-negara ASEAN ke negara-negara inA Masalahnya pertumbuhan semacam ini tampaknya akan disertai oleh ketegangan yang semakin meningkat. Dapat ditambahkan beberapa perubahan dalam lingkungan global yang dapat membatasi perkembangan ekonomi ASEAN di tahun-tahun menA Sebagai contoh, membengkaknya kelebihan modal di Jepang dapat bergabung dengan sumber-sumber daya Soviet di Timur-Jauh. Paparan di atas kiranya cukup memadai untuk menunjukkan betapa ekonomi ASEAN dapat menghadapi kesulitan yang serius dalam waktu dekat ini. Walaupun digembar-gemborkan adanya saling ketergantungan, pada paruhan pertama tahun 1980-an jelas terlihat adanya perubahan dramatis yaitu lepasnya kaitan antara ekonomi negara maju dan negara berkembang yang telah diramalkan Peter Drucker. 5 Sebelum semua ini terjadi, bagaimanapun juga perlu didoA rong usaha-usaha untuk mewujudkan kembali saling ketergantungan tersebut. Negara-negara ASEAN belum menguras habis seluruh potensinya, dan di siniA lah hubungan dengan Amerika Serikat menjadi semakin penting. MENINGKATNYA KETERGANTUNGAN ASEAN PADA AMERIKA SERIKAT Perdagangan adalah unsur terpenting dalam hubungan antara ASEAN dan Amerika Serikat. Perubahan dalam besar, keseimbangan dan komposisiA nya telah membuat hubungan tersebut semakin tegang pada tahun-tahun terakhir ini dan mendorong ASEAN untuk melontarkan isyu-isyu yang kurang relevan pada tahun 1970-an. Salah satu isyu tersebut berkaitan dengan meningkatnya defisit neraca perdagangan Amerika Serikat dengan negara5Jika demikian, proyeksi abad ke-21 sebagai abad Pasifik adalah terlalu dini. Tentang sifat pelepasan . Peter F. Drucker. AoAoThe Changed World Economy,Ay Foreign Affairs (Spring 1. Skenario yang serupa lihat. Richard L. Drobrick. The United States a WorldAos Largest Debtor: Implications for the International Trade Environment in the Global Economy. Today. Tomorrow, and the Transition (Bethesda: World Future Security, 1. , hal. HUBUNGAN ASEAN-AS negara ASEAN. Hal ini tidak terlalu mengejutkan mengingat defisit raksasa dalam neraca keuangan Amerika Serikat yang berperilaku seperti black hole yang menyedot setiap benda angkasa di sekitarnya. Sementara ekspor Amerika Serikat ke negara-negara ASEAN meningkat dengan hanya 10% dari US$8,4 juta pada tahun 1981 menjadi US$9,3 juta pada tahun 1984, total imA por Amerika Serikat dari negara-negara ASEAN melonjak sebesar 17% dari US$14,4 juta menjadi US$16,9 juta dalam selang waktu yang sama. Hal ini berarti telah terjadi peningkatan sebesar 27% dalam defisit Amerika Serikat. Dengan demikian negara-negara ASEAN tampaknya termasuk dalam kelompok yang menjadi sasaran kritik Amerika Serikat terhadap melonjaknya defisit perdagangan, walaupun sebetulnya pangsa negara-negara ASEAN dalam impor total Amerika Serikat tetap sangat kecil dan terus menurun, yaitu dari 5,3% pada tahun 1981 menjadi 5% pada tahun 1984. Kedua, empat tahun pertama tahun 1980-an telah menunjukkan semakin pentingnya Amerika Serikat sebagai pasar utama ekspor negara-negara ASEAN, walauA pun proteksionisme terus meningkat. Di dalam selang waktu tersebut, pangsa Amerika Serikat dalam ekspor negara-negara ASEAN meningkat dari 16,9% pada tahun 1980 menjadi 19,8% pada tahun 1984, sementara ekspor Jepang dan MEE ke Amerika masing-masing turun dari 26,8% menjadi 24,4% dan dari 13% menjadi 10,2%. Jika perhatian dipusatkan hanya pada OECD sebagai pasar utama, semaA kin pemingnya Amerika Serikat bagi ekspor negara-negara ASEAN akan semakin jelas. Sementara pangsa Jepang dalam impor total OECD dari negara-negara ASEAN menurun 6% dari tahun 1981 sampai tahun 1984 dan pangsa EEC yang merupakan pasar terbesar di dunia tidak berubah, pangsa Amerika Serikat meningkat 4% meskipun tetap menduduki peringkat kedua setelah Jepang. Dengan meningkatnya pangsa Amerika Serikat ini. Kampanye berbagi-beban tampaknya diarahkan juga pada impor dari negara-negara ASEAN, walaupun defisit perdagangan Amerika Serikat dengan ASEAN pada tahun 1984 hanya sekitar 6% dari defisit totalnya. Ketiga, komposisi komoditi impor Amerika Serikat dari negara-negara ASEAN telah berubah. Sementara pangsa bahan mentah untuk industri (SITC 2, 3 dan . dan bahan-bahan yang diproses secara sederhana (SITC . menurun dari 60,5% pada tahun 1981 menjadi 42,4% pada tahun 1984, pangsa barang-barang yang diproses (SITC 5, 7 dan . meningkat sebesar lebih dari 18% menjadi 48,9% pada tahun 1984. Hal ini tentu saja tidak lengkap mengingat adanya perbedaan di masing-masing negara ASEAN. 6OECD. External Trade Statistics. Seri C (Pari. 7IMF. Direction of Trade Yearbook 1985. ANALISA 1987-11 Sementara sekitar 85% dan 72% impor Amerika Serikat dari Singapura dan Malaysia terdiri dari peralatan mesin, transpor, telekomunikasi dan berbagai barang manufaktur, sekitar 74% dan 84% impor Amerika Serikat dari InA donesia dan Brunei terdiri dari bahan bakar mineral. Meskipun demikian, imA por dari Indonesia pun telah bergeser ke arah barang manufaktur, yaitu sebesar 4% antara tahun 1981 dan tahun 1984. Dengan kata lain, impor Amerika Serikat dari negara-negara ASEAN tidak lagi dikuasai oleh bahanbahan mentah, tidak seperti impor Jepang yang hampir sepenuhnya terdiri dari bahan mentah, yaitu 92,2% pada tahun 1984. Perubahan komposisi imA por Amerika Serikat dari ASEAN telah menimbulkan berbagai implikasi. Menghadapi lingkungan global seperti telah disebut di atas, negara-negara ASEAN tidak punya pilihan lain kecuali mendorong pertumbuhan ekspor barang-barang manufaktur. Namun pengalaman menunjukkan bahwa, sejauh menyangkut pasar ekspor, pilihan ASEAN sangat terbatas. Walaupun usaha keras untuk menembus pasar barang-barang manufaktur di Jepang, raksasa perdagangan yang baru. EEC. EFTA, negara-negara CMEA, atau bahkan negara-negara berkembang, dapat meningkatkan ekspor ASEAN, pengaA laman empat tahun pertama tahun 1980-an menunjukkan bahwa pasar-pasar itu bukan tandingan pasar Amerika Serikat. Dengan meningkatnya ketergantungan negara-negara ASEAN pada ekspor barang-barang manufaktur, ketergantungan negara-negara ASEAN pada pasar Amerika Serikat pun semakin meningkat. Berkaitan dengan hal ini, agenda kebijakan Amerika Serikat semakin menentukan perkembangan ekonomi negara-negara ASEAN di masa depan yang pada gilirannya harus memperbaiki agenda kebijakan perdagangan mereka dengan Amerika Serikat. Namun tampaknya sulit untuk mengadakan perbaikan tersebut. Sementara pergeseran keseluruhan dalam komposisi ekspor cukup besar di Singapura. Malaysia dan Filipina untuk membenarkan pemusatan perhatian pada perA dagangan barang-barang manufaktur, pergeseran ini terlalu lemah untuk mengalihkan perhatian Indonesia dari isyu-isyu yang berkaitan dengan perdaA gangan barang-barang komoditi, sekalipun sejarah menunjukkan betapa siasianya debat yang berlarut-larut mengenai perdagangan komoditi. Jadi, dibanA ding tahun-tahun pertama setelah penandatanganan Deklarasi Kesepakatan ASEAN tahun 1976, semakin sulit untuk mencapai kesepakatan di antara negara-negara ASEAN saat ini. Sejauh ini pembicaraan masih terbatas pada perdagangan barang atau pada bagian neraca pembayaran yang terlihat nyata . Namun untuk menunjukkan hubungan antar-negara penjelasan itu tidak mencukupi. KenyaA taan bahwa negara-negara ASEAN sebagai kelompok menikmati surplus perA dagangan dengan Amerika Serikat yang cukup menggembirakan tidak mengA hindarkannya dari kemungkinan bahwa neraca keseluruhan justru mengunA HUBUNGAN ASEAN-AS tungkan Amerika Serikat. Sementara data tidak tersedia untuk membuktikan kebenaran hal ini, adalah sangat picik untuk merencanakan kebijakan perA dagangan semata-mata pada data perdagangan. Sebagian besar defisit neraca berjalan ASEAN yang menjulang Ai defisit gabungan meningkat dari 2. 271 juta SDR pada tahun 1980 menjadi US$15. 251 juta pada tahun 1983 sebelum menjadi separuhnya yaitu US$7. juta pada tahun 1984 - disebabkan oleh defisit yang besar dan kronis pada perdagangan jasa. Penerimaan yang diperoleh negara-negara di luar ASEAN dari penanaman modal langsung dan penanaman modal dalam sisi debit meningkat dua kali lipat dari 6. 299 juta SDR pada tahun 1980 menjadi 12. juta SDR pada tahun 1984. Dan Amerika Serikat adalah di antara pemberi pinjaman terbesar Te negara-negara ASEAN baik secara langsung maupun tak langsung melalui perwakilan-perwakilan multilateral. Yang juga menyolok adalah penanaman modal langsung Amerika Serikat di negara-negara ASEAN, yang menurut perwakilan dagang Amerika Serikat, berjumlah US$11 milyar pada tahun 1984. 9 Dengan kata lain, hasil yang besar dari investasi pasti sudah dibayar oleh negara-negara ASEAN ke Amerika Serikat. Sayangnya, walaupun banyak sekali statistik perdagangan sudah diterbitkan oleh brro-biro nasional maupun internasional, statistik mengenai perdagangan jasa dari masing-masing negara tidak tersedia. Namun jelas bahwa data perdagangan barang semata tidak dapat dipakai sebagai dasar yang memadai bagi pembuatan kebijakan perdagangan, terlebih di dunia dewasa ini di mana jasa-jasa semakin menjadi penting bagi pertukaran ejconomi antar-negara. Sebetulnya, neraca berjalan Amerika Serikat jauh lebih baik daripada neraca perdagangannya, walaupun defisit neraca berjalanA nya telah melonjak dari 7,5 milyar SDR pada tahun 1982 menjadi 99,4 milyar SDR pada tahun 1984. Transaksi modal merupakan kaitan lain yang penting antara ekonomi ASEAN dan Amerika Serikat. Sudah disebutkan sebelumnya bahwa Amerika Serikat adalah salah satu sumber terpenting dari modal yang mengalir ke negara-negara ASEAN. Namun terdapat tanda-tanda yang menunjukkan kecenderungan tidak menggembirakan dalam hubungan ini. Pertama-tama, kecenderungan Presiden Reagan untuk memilih penanaman modal langsung sebagai unsur terpenting kebijakan bantuan pembangunan sudah sangat 8Sayang bahwa data mutakhir mengenai utang negara-negara ASEAN pada Amerika Serikat tidak diperoleh. Jika ada, mungkin dapat diperkirakan jumlah bunga yang dibayarkan ke Amerika Serikat. 9United States Trade Representatives. Annua! Report on National Trade Estimates 1985. Laporan ini mencakup perkiraan penanaman modal langsung Amerika Serikat di setiap negara yang diteliti. ANALISA 1987-11 Ini mungkin adalah salah satu sebab menurunnya pinjaman yang diberikan oleh Pemerintah Amerika Serikat dalam tahun-tahun terakhir ini. Dengan memperhitungkan pembayaran kembali pinjaman yang sudah ada, pinjaman bersih Amerika Serikat turun dari 4,4 milyar SDR pada tahun 1982 menjadi 3,6 milyar SDR pada tahun 1984. Kedua, menurunnya kredit resmi ini tidak diimbangi oleh meningkatnya penanaman modal langsung Amerika Serikat di luar negeri. Sebaliknya, yang disebut terakhir menurun dari 13,3 milyar SDR pada tahun 1980 menjadi sebeA sar 4,4 milyar SDR pada tahun 1984 sementara penanaman modal langsung di Amerika Serikat meningkat dari hampir 13 milyar SDR pada tahun 1980 menA jadi hampir 22 milyar SDR pada tahun 1984. Dengan l^ata lain. Amerika Serikat telah menjadi saingan penting negara berkembang sejauh menyangkut penanaman modal secara langsung. Ini adalah salah satu perubahan terpenA ting yang menandai tahun 1980-an. Ketiga, dengan keadaan ekonomi yang secara menyeluruh buruk dan harga bahan mentah yang rendah, daya tarik negara ASEAN bagi penanam modal asing menjadi sangat menurun. Meskipun arus modal yang masuk ke negara ASEAN turun sedikit dari 3. 280 juta SDR pada tahun 1983 menjadi 941 juta SDR pada tahun 1984, pangsa negara-negara ASEAN dalam penaA naman modal asing yang baru di seluruh dunia turun dari 7,4% pada tahun 1982 menjadi 4,7% pada tahun 1984. Pangsa ini tampaknya akan terus menurun sampai akhir dekade. Keempat, penanaman modal langsung Amerika Serikat di negaranegara ASEAN terpusat di sektor sumberdaya alam. Dari keseluruhan stok sebesar US$11,6 milyar penanaman modal pada tahun 1984, hampir 47% ada di sektor minyak. 11 Dengan harga bahan mentah yang tampaknya tidak akan pulih kembali di masa depan, penanaman modal langsung baru oleh Amerika Serikat di negara-negara ASEAN juga dapat turun dengan cepat. Penurunan tersebut akan menimbulkan implikasi serius tidak hanya bagi pembiayaan penanaman modal dan keterbatasan devisa, tetapi juga bagi alih-teknologi yang sampai sejauh ini sangat tergantung pada perusahaan-perusahaan Dapat disimpulkan dari bagian ini bahwa perubahan-perubahan berikut 10Penanaman modal langsung di negara-negara ASEAN tidak tersebar secara merata. Dari keseluruhan modal yang masuk antara 1980-1984 lebih dari 49% masuk ke Singapura dan 35% yang lain masuk ke Malaysia menyisakan hanya 16% untuk dibagi antara Indonesia. Filipina dan Muangthai. "United States Trade Representatives. Annual Report. HUBUNGAN ASEAN-AS ini dalam pola hubungan ekonomi antara Amerika Serikat dan negara-negara ASEAN perlu ditekankan kembali. Di bidang perdagangan barang ketimA pangan meningkat ke arah yang menguntungkan negara-negara ASEAN. Komposisi impor Amerika Serikat dari negara-negara ASEAN juga menunA jukkan perubahan yang berarti. Sayang, sedikit yang diketahui mengenai neraca perdagangan bilateral di sektor jasa, walaupun harus diperhatikan bahwa neraca keseluruhan mungkin tidak terlalu merugikan Amerika Serikat dibanding neraca perdagangan barang. Dalam hal transaksi modal. Amerika Serikat tetap merupakan suatu sumber modal yang penting bagi negara-negara ASEAN. Namun pada saat yang sama. Amerika Serikat telah menjadi saingan serius sejauh menyangkut penanaman langsung modal asing. Seluruh perubahan ini tentu akan mempuA nyai implikasi kebijakan. Bagian berikut akan membicarakan isyu-isyu yang mendominasi perundingan perdagangan antara negara-negara ASEAN dan Amerika Serikat, terutama dalam tiga tahun terakhir ini. Dialog ASEANAmerika Serikat akan menjadi semakin tidak relevan bila perubahanperubahan di atas tidak masuk dalam pertimbangan. MENINGKATNYA TUNTUTAN AMERIKA SERIKAT AKAN ADANYA RESIPROSITAS AGRESIF Tidak diragukan lagi bahwa tahun 1980-an adalah periode yang penuh tanA tangan bagi hubungan ekonomi antara negara-negara ASEAN dan Amerika Serikat. Baik ASEAN maupun Amerika Serikat menyadari peningkatan keterA gantungan ekonomi ASEAN pada pasar Amerika Serikat bagi barang-barang Sementara masing-masing negara ASEAN telah berusaha secara intensif untuk mendapatkan pangsa di pasar Amerika Serikat, agenda perunA dingan perdagangan tampaknya masih didikte oleh Amerika Serikat. Melihat bahwa akar dari melonjaknya defisit perdagangan adalah praktek-praktek perdagangan negara lain yang tidak adil. Amerika Serikat secara agresif telah melontarkan kampanye menentang perdagangan yang tidak adil terutama terhadap negara-negara Asia-Pasifik, dan selalu mengingatkan akan kemungA kinan meningkatnya proteksionisme jika negara-negara Asia-Pasifik tidak memberikan tanggapan positif terhadap tuntutan Amerika Serikat akan perA dagangan yang adil. 12 Sebenarnya. Pemerintah Reagan sudah melaksanakan lebih dari 40 tindakan terhadap praktek-praktek perdagangan luar negeri yang tidak adil sejak Januari 1985 di samping sejumlah besar penyelidikan terhadap l2Diagnosis ini keliru dalam banyak hal. Beberapa pengamat di AS cenderung tidak menyetuA jui argumen yang banyak dianut yaitu bahwa memburuknya defisit neraca berjalan adalah akibat dari praktek-praktek tidak adil negara-negara lain. Lihat misalnya C. Michael Aho dan Jonathan David Aronson. Trade Talks: America Better Listen! (New York: Council on Foreign Relations. ANALISA 1987-11 praktek-praktek subsidi dan dumping. Tidak seluruh temuan Trade Strike Force Presiden Reagan lewat MOSS (Market-Oriented Sector Specifi. dan MAFF (Market Access Fact-Finding Talk. secara langsung relevan bagi negara-negara ASEAN. Perhatian Strike Force terutama tetap ditujukan pada Jepang. Korea Selatan. Taiwan. HongA kong dan Singapura. Walaupun demikian, dengan berubahnya komposisi imA por Amerika Serikat dari negara-negara ASEAN dan meningkatnya kecendeA rungan Amerika Serikat untuk meninggalkan patokan-patokan perdagangan yang bersifat selektif, yaitu patokan-patokan perdagangan yang sedikit banyak tidak berhubungan dengan neraca keseluruhan, maka beberapa isyu yang berkaitan dengan hal ini menjadi sangat penting bagi negara-negara ASEAN. Salah satu dari isyu-isyu tersebut berkaitan dengan kesesuaian produk-proA duk manufaktur negara-negara ASEAN dengan GSP (Generalized System of Preference. Amerika Serikat. Walaupun kaitan antara meningkatnya mutu barang-barang produksi negara-negara ASEAN di pasar Amerika Serikat sukar untuk dilacak, baik negara-negara ASEAN maupun Amerika Serikat cenderung melihat GSP sebagai salah satu faktor utama keberhasilan ASEAN. Oleh sebab itu, mempertahankan GSP adalah salah satu hal yang diperjuangkan negara-negara ASEAN dalam hubungan mereka dengan Amerika Serikat, yang pada gilirannya mengancam akan mengetatkan GSPnya jika negara-negara ASEAN gagal memenuhi tuntutannya akan resiprositas yang lebih besar. 14 Kata kunci sehubungan dengan hal ini adalah ketentuan-ketentuan tentang penahanan atau kebutuhan yang bersaing15 dan unsur resiprositas yang dicari Amerika Serikat adalah peningkatan akses ke pasar ASEAN. Kelompok isyu kedua berkaitan dengan bea setimpal . ountervailing Frekuensi penerapan kebijakan tersebut meningkat pada tahun-tahun terakhir ini. Terdapat 21 kasus pada tahun 1983, 14 kasus pada tahun 1984 dan 9 kasus pada paruhan pertama tahun 1985 di mana penyidikan yang diprakarsai Pemerintah Amerika Serikat terhadap subsidi telah mengakibatA 13Pernyataan di hadapan Kongres oleh Sekretaris Departemen Perdagangan Amerika Serikat. Malcolm Baldridge pada tanggal 9 September 1986. Pernyataan ini memberikan garis besar caracara kampanye perdagangan yang adil yang akan ditempuh Amerika Serikat di tahun-tahun menA l4Di antara tindakan-tindakan yang akan diambil Amerika Serikat terhadap negara-negara ASEAN yang menganak-tirikan produk-produk Amerika Serikat di pasar ASEAN, peninjauan ulang GSP-lah yang paling sering disebut. Lihat. Trade Representative. Annual Report. l5Mengenai GSP AS yang baru lihat. Trade Representative. Annual Report of the United States on Trade Agreements Program 1984-1985. Twenty-Eight Issue. Transmited to Congress. Februari 1986, hal. HUBUNGAN ASEAN-AS kan penerapan bea setimpal. Tetapi kemungkinan besar penyidikan terhadap subsidi dilakukan terlalu dini. Jumlah kasus penyidikan Amerika Serikat terhadap subsidi yang terbukti tidak berdasar meningkat dari 27 pada tahun 1983, 36 pada tahun 1984 dan 26 pada paruhan pertama tahun 1985. Sejak tanggal 31 Agustus 1985 sebanyak 70 penyidikan subsidi sedang diproses di Amerika Serikat. 16 Dan dalam kaitan kebijakan inilah negara-negara ASEAN telah menjadi sasaran inisiatif kebijakan perdagangan Amerika Serikat, berA sama negara-negara lebih maju lainnya yang lebih dirugikan olehnya. Yang juga mengecilkan hati dilihat dari kacamata pengekspor adalah jumlah penyidikan anti-dumping yang diprakarsai Pemerintah Amerika Serikat akhir-akhir ini. Bea anti-dumping telah diterapkan dalam 14 kasus pada tahun 1983, 22 kasus pada tahun 1984 dan 5 kasus pada paruhan perA tama tahun 1985, sementara temuan negatif berjumlah 46 pada tahun 1983, 68 pada tahun 1984 dan 69 pada paruhan pertama tahun 1985 dan sejak tanggal 31 Agustus 1985 penyidikan yang sedang dalam proses berjumlah 124. Tetapi komposisi impor Amerika Serikat dari negara-negara ASEAN jarang tergantung pada produk-produk kimia atau baja di mana penyidikan dumping dipusatkan pada tahun-tahun terakhir ini sehingga negara-negara ASEAN jarang terlibat dalam penyidikan ini. Jika penyidikan ini diperluas hingga mencakup peralatan telekomunikasi, negara-negara ASEAN, khususnya Singapura dan Malaysia, dapat segera menjadi rawan terhadap kebijakan anti-dumping seperti Korea Selatan. Terdapat aspek lain dari penyidikan subsidi dan dumping. Penyidikanpenyidikan itu dapat dengan mudah berubah menjadi proteksionisme buta karena penerapannya didasarkan atas konsep yang kabur mengenai kekacauA an pasar komoditi-komoditi tertentu. Perhatikan misalnya kasus Indonesia yang ekspor total produk-produk manufakturnya (SITC 5, 7 dan . ke AmeriA ka Serikat hanya berjumlah US$326 juta pada tahun 1984 atau kurang dari 0,2% dari impor total Amerika Serikat di kategori perdagangan ini. Tetapi karena impor pakaian dan perlengkapannya dari Indonesia ke Amerika Serikat meningkat dengan AoAosangat pesatAy dari US$42 juta pada tahun 1981 menjadi US$206 juta pada tahun 1984 - yang berarti peningkatan sebesar 70% dalam tiga tahun - Indonesia menjadi terbuka terhadap sasaran kebiA jakan di atas. Tambahan pula, kenyataan bahwa sebagian besar penyidikan subsidi dan dumping menunjukkan hasil negatif tidaklah mencerminkan keA murahan hati negara penyidik. Sebaliknya, dimulainya penyidikan dapat dengan mudah berakhir pada diterimanya pembatasan ekspor secara sukarela, pengaturan pemasaran yang tertib, penilaian minimum dan tindakan-tindakan "'Ibid. , hal. "ibid. , hal. ANALISA 1987-11 serupa dalam kebijakan perdagangan yang tidak jelas agar penyidikan tidak akan berakhir pada aksi-aksi sepihak yang mungkin ternyata lebih merugikan daripada aksi-aksi yang disetujui secara AoAosukarela. Ay Isyu-isyu yang berkaitan dengan perlindungan hak milik intelektual termaA suk unsur terpenting dalam kampanye resiprositas agresif Amerika Serikat. The Annual Report on National Trade Estimates 1985 telah memberikan dafA tar bidang-bidang di mana tidak memadainya perlindungan paten dan pembaA jakan terhadap hak-cipta maupun merek-dagang di setiap negara ASEAN dianggap menimbulkan masalah serius pada beberapa industri di Amerika Serikat, walaupun hampir tidak mungkin menghitung akibat tersebut secara 18 Untuk mendorong kepatuhan negara-negara ASEAN. Amerika Serikat kembali melontarkan gagasan untuk mengaitkan GSP-nya dengan respon negara-negara ASEAN terhadap desakan Amerika Serikat akan adanya perlindungan yang lebih baik terhadap hak milik intelektual. Untuk melengkapi, perlu dikemukakan bahwa termasuk dalam kampanye resiprositas Amerika Serikat ini masalah perlakuan lebih baik atas perusahaA an-perusahaan Amerika yang bergerak di bidang industri jasa terutama di bidang asuransi dan perbankan. Lebih jauh lagi, semakin banyak kritik terhadap kebijakan penanaman modal atau unsur-unsurnya yang khusus seperti program lokalisasi di Malaysia yang merupakan bagian dari kebijakan ekonominya yang baru, lemahnya perlakuan nasional terhadap masalah pemiA likan tanah dap tersebar luasnya korupsi di Indonesia, larangan untuk memiA liki tanah dan persyaratan-persyaratan yang berat bagi patungan di Filipina dan hambatan yang besar untuk masuk ke dalam industri perbankan di Muangthai. Penjelasan di atas menunjukkan betapa luasnya masalah-masalah yang tercakup dalam paket kebijakan Amerika Serikat yang mendesak adanya resiA Tidak dapat disangsikan lagi, terdapat bidang-bidang di mana ketaatan negara-negara ASEAN tidak hanya mengamankan akses ke pasar Amerika Serikat tetapi juga memperbaiki daya-saing produk-produk negaranegara ASEAN di dalam maupun di luar kawasan. Namun terdapat bidangbidang di mana desakan Amerika Serikat menyentuh kebijakan yang terutama bersifat sosial dan politis seperti Kebijakan Ekonomi Baru di Malaysia atau kebijakan Indonesia yang menuntut penyertaan modal dalam negeri dalam setiap perusahaan asing. Sementara terus memburuknya keadaan ekonomi 18Di samping isyu-isyu yang didaftar di atas. Amerika Serikat ingin pula memasukkan isyuisyu yang berkaitan dengan hasil-hasil teknologi tinggi dalam perundingan-perundingan dengan negara-negara lain. Tentang hal ini lihat, misalnya. Geza Feketekuty & Lawrence B-Krause. AoAoSerA vice and High-Technology Goods in the New GATT Round,Ay makalah yang disajikan pada The First Pacific Trade Policy Forum, yang diselenggarakan oleh Pacific Economic Co-operation Conference, 20-22 Maret 1986. HUBUNGAN ASEAN-AS dapat mendorong pelonggaran kebijakan di atas, tetap tidak dapat dipastikan apakah pemerintah negara-negara ASEAN rela mengkompromikan instruA men-instrumen kebijakan yang bersifat politis demi akses ke pasar Amerika Serikat. MENATA KEMBALI DIALOG ASEAN-AS Menghadapi ofensif perdagangan Amerika Serikat, negara-negara ASEAN dapat berusaha melindungi kepentingannya melalui berbagai forum konsultasi dan negosiasi. Terdapat babak baru negosiasi dagang multilateral dengan bantuan GATT yang diharapkan akan membahas baik isyu-isyu lama yang relevan terutama bagi negara-negara ASEAN maupun isyu-isyu baru yang menarik perhatian Amerika Serikat. Konsultasi dan negosiasi bilateral dapat juga dilaksanakan tanpa mengurangi arti usaha-usaha multilateral yang telah ada. Lagipula terdapat berbagai forum di Pasifik di mana konsultasi anA tara negara-negara ASEAN dan Amerika Serikat dapat dikembangkan. AkhirA nya terdapat juga Dialog ASEAN-Amerika Serikat yang terbuka bagi berA bagai macam perbaikan. Seluruh forum ini dapat melengkapi satu sama lain dalam usaha perbaikan iklim perdagangan internasional yang telah lama Meskipun demikian, pusat perhatian tulisan ini ada pada Dialog ASEAN-Amerika Serikat yang pada dasarnya seusia kerjasama ekonomi ASEAN dan sudah diselenggarakan tujuh kali. Seperti dialog ASEAN dengan negara-negara lain. Dialog ASEANAmerika Serikat sampai sejauh ini sebagian besar ditata sebagai Dialog UtaraSelatan yang mencakup beberapa negara saja. Hal ini tidak terlalu mengejutA kan mengingat lingkungan internasional yang ada pada saat dialog itu diajuA Dialog ASEAN-Amerika Serikat yang menandai mulai terpisahnya ASEAN dari Group 77 mungkin tak terpikirkan pada pertengahan tahun 1970-an ketika persatuan Group 77 dianggap merupakan satu-satunya hal yang dapat memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam perundingan dengan negara maju. Sebagai akibatnya, jelas terdapat kemiripan antara agenA da Dialog ASEAN-Amerika Serikat dan agenda UNCTAD. Termasuk di dalamnya Program Komoditi Terpadu dan Dana Bersama. STABEX. GSP, penanaman modal langsung dan alih-teknologi. Terlihat bahwa agenda terseA but tidak terlalu relevan bagi Amerika Serikat yang pada dasarnya tidak perA nah menaruh simpati pada tuntutan negara-negara berkembang akan adanya perubahan susunan ekonomi internasional secara revolusioner dan dirigistik. Sejak awal dialog. ASEAN telah menempatkan dirinya sebagai negara peneriA ma dan partner dialognya sebagai negara donor. Dan mungkin hubungan yang bersifat donor-penerima ini yang menghalangi ASEAN untuk memperA luas cakupan dialog ke negara seperti Korea Selatan yang dalam pengertian hubungan ekonomi dengan ASEAN jelas lebih penting dari Selandia Baru. ANALISA 1987-11 Diterimanya agenda dialog ini oleh Amerika Serikat mungkin lebih banyak didorong oleh motivasi politik daripada ekonomi. Sebagai akibatnya, hasil dialog hingga kini kecil sekali. Di semua isyu-isyu yang penting. ASEAN tidak memperoleh apa yang dikehendaki. 19 Kontribusi utama dialog ini adalah mengalirnya bantuan teknis yang menguntungkan ASEAN dan membaiknya citra ASEAN sebagai kelompok regional. 20 Tetapi ini justru dapat menjadi bumerang jika dialog tetap gagal menangani masalah-masalah yang penting, termasuk yang baru muncul, yang sudah dibahas pada bagian-bagian terdaA Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Dialog ASEANAmerika Serikat perlu ditata ulang agar tidak menjadi buyar. Pertama-tama, dialog perlu diubah dari dialog AoAodonor-penerimaAy ke dialog AoAopenuhAy yang peka terhadap kepentingan-kepentingan pihak-pihak yang terlibat. Jika tidak, akan semakin sulit bagi ASEAN untuk mempertahankan antusiasme Amerika Serikat untuk berpartisipasi dalam dialog itu. Kedua, agendanya perlu diperA baiki sedemikian rupa sehingga mencerminkan perubahan yang cepat dalam hubungan ekonomi pada paruhan pertama tahun 1980-an dan jika mungkin mencerminkan juga perubahan yang diperkirakan terjadi pada tahun-tahun ASEAN akhirnya harus belajar bahwa kepentingan-kepentinganA nya sukar untuk bertemu dengan kepentingan-kepentingan Amerika Serikat sejauh menyangkut perdagangan komoditi dan banyak unsur lain dalam agenA da UNCTAD. Ini adalah argumen untuk memusatkan dialog pada isyu-isyu yang menyangkut kepentingan bersama, terutama isyu-isyu perdagangan produk-produk manufaktur, penanaman modal Amerika Serikat di ASEAN dan sehubungan dengan itu isyu-isyu alih-teknologi. Hal ini tidak dimaksudA kan untuk mengecilkan arti eskalasi tarif yang tentu saja harus dianggap sebagai isyu utama. Ketiga. ASEAN harus mempertimbangkan cara untuk bersikap timbalbalik dengan mempertanyakan proteksi terhadap impor di masing-masing negara anggota. ASEAN mampu membiayai proteksi di masa lampau karena 19Berbagai penelitian telah sampai pada kesimpulan yang sama. Penilaian yang baik mengenai hal ini dapat dilihat pada M. Hadi Soesastro. AoAoFuture ASEAN-US Economic Relations: PerspecA tive on Strategic Planning,Ay dalam /1SE>1/V External Economic Relations. Proceedings of the Fifth Federation of ASEAN Economic Associations (Singapore: Chopmen Publishers, 1. , hal. Lihat juga, idem. AoAoASEAN-US Economic Relations: An Update,Ay dalam Indonesian Quarterly, vol. Xi . : hal. Lihat juga. Chia Siow Yue. AoAoDevelopment and Issues in US-ASEAN Economic Relations,Ay dalam ASEAN Security and Economic Development, ed. Karl D. Jackson and Hadi Soesastro (Berkeley. California: Institute of East Asian Studies, 1. , 20Sejak tahun 1985 Dialog ASEAN-Amerika Serikat telah menghasilkan 22 proyek bersama di berbagai bidang di antaranya telah masuk ke tahap implementasi yang melibatkan dana sebesar US$33 juta. Lihat. Annual Report of the ASEAN Standing Committee 1984-1985 (Jakarta: ASEAN Secretaria. HUBUNGAN ASEAN-AS adanya arus sejumlah besar dana dari ekspor komoditi, pinjaman dan penaA naman modal asing langsung. Tetapi arus masuk ini tidak akan terjadi lagi sementara pembayaran jasa investasi meningkat terus. Akhirnya, kegagalan atau keberhasilan ASEAN dalam hubungannya dengan negara-negara rekan dialog sangat tergantung pada kesungguhannya untuk membina kerjasama ekonomi intra-ASEAN yang tidak akan berkemA bang kecuali ASEAN dapat menyetujui penggabungan pasar-pasar nasional yang kecil menjadi pasar regional yang lebih besar. Munculnya pasar regional terpadu tampaknya merupakan leverage yang paling kuat yang dapat dimiliki ASEAN dalam hubungannya dengan Amerika Serikat. Jepang dan EEC yang pada gilirannya tampaknya telah melihat ASEAN semakin tidak menarik dalam pembentukan abad politik-keamanan Asia-PasifikAo. Lampiran I PERSENTASE PANGSA JEPANG. AMERIKA SERIKAT DAN MASYARAKAT EKONOMI EROPA ATAS IMPOR OECD DARI ASEAN (USS rib. Impor OECD dari ASEAN Pangsa Jepang Pangsa Amerika Serikat Pangsa Masyarakat Ekonomi Eropa Semua Komoditi 19,5 HUBUNGAN ASEAN-AS Lampiran IV PANGSA KOMODITI MASING-MASING DALAM IMPOR TOTAL DARI ASEAN (Dalam %) Jepang Semua Komoditi Amerika Serikat Masyarakat Ekonomi Eropa 2 3 4 6 5 7 8 ___________________________ Para Penulis ANALISA No. 11, 1987 RUKMO. Endi. Sarjana Muda dari Akademi Hubungan Internasional (AHI). Jakarta, 1979 dan MA dalam Hubungan Internasional dari Australian National University (ANU). Canberra. Australia, 1982. kini anggota Departemen Hubungan Internasional (HI) CSIS, peneliti dan pengamat masalah Asia Timur khususnya Cina. Sebelumnya. Anggota Team Summary (RingA kasan Peristiw. CSIS selama tahun 1976-1979. SIMANDJUNTAK. Djisman S. Sarjana Ekonomi Perusahaan dari Fakultas Ekonomi. UniversiA tas Parahyangan. Bandung . pada tahun 1979 mendapat diploma ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Ilmu-ilmu Sosial. Universitas Cologne. Jerman Barat. Dari fakultas dan univerA sitas yang sama pada tahun 1983 memperoleh Ph. dalam Ilmu Ekonomi. Mengawali tugasA nya di CSIS sejak tahun 1974 sebagai Staf Peneliti pada Departemen Ekonomi. Sejak 1984 menjabat Kepala Departemen Ekonomi. CSIS. SOESASTRO. Hadi. Sarjana di bidang Teknik Pesawat Terbang (Dipl. Ing. RhenishWestfaelische Technische Hochschule. Aachen. Jerman Barat, 1971 dan pada 1978 memperA oleh Ph. dari The Rand Graduate Institute for Policy Studies. Santa Monica. Amerika Serikat. kini anggota Dewan Direktur dan Direktur Studi CSIS. Anggota Dewan Juri Lomba Karya Ilmiah Remaja. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI . Dosen FISIP dan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. sebelumnya adalah Direktur Eksekutif dan kemudian Ketua Departemen Ekonomi CSIS. WANANDI. Jusuf. Sarjana Hukum lulusan Fakultas Hukum dan Ilmu-ilmu Sosial. Universitas Indonesia. Jakarta . Pada tahun 1964 menjadi dosen di fakultas dan universitas yang Tahun 1977: Congressional Fellow yang disponsori oleh American Political Science Association (APSA). Kini Direktur Eksekutif dan Anggota Dewan Direktur CSIS. Anggota. Board of Governors. East-West Center. Honolulu. Masih Tersedia ASIA TENGGARA DALAM TAHUN 1980-AN Rotxrt A SCALAPIHO Juiuf WANAMDI (Pcnyunttn. ASIA TENGGARA DALAM TAHUN 1980-AN Robert A. SCALAPINO, Jusuf WANANDI (Penyuntin. THE ROLE OF MIDDLE POWERS IN THE PACIFIC 1986, x 193 hat. Rp. 500,00 A Pesatnya perkembangan hubungan kerjasama ekonomi maupun politik di kawasan Asia-Pasifik telah memberikan penekanan-penekanan baru pada poliA tik luar negeri maupun hubungan daA gang negara-negara kawasan ini. o Buku ini memuat pembahasan meA ngenai peranan dari negara-negara beA sar serta negara-negara lainnya di kaA wasan, perkembangan kerjasama perA dagangan, hubungan ASEAN dengan Indocina. ASEAN dengan Canada, serA ta peranan Indonesia di kawasan. Dapatkan di toko-toko buku, atau pesan langsung . ambah ongkos kirim 15%) ke 1985, xxi 321 hal. Rp. 000,00 A Karangan-karangan dalam buku ini meA rupakan terjemahan makalah Konperensi ASEAN-AS pertama. Dalam karangan-karangan itu dapat ditemuA kan perspektif dan pendapat yang beraneka-ragam dari pihak AS maupun ASEAN. Tetapi fakta yang mengesanA kan adalah tingkat persatuan yang diA perlihatkan, khususnya jika pokok perA soalannya merupakan masalah regioA A Dari karangan-karangan yang disiapkan kontributor AS tampak minat kontinu dari AS terhadap wilayah yang diangA gapnya penting. Sekarang hanya segeA lintir ahli Amerika menganut pandangA an yang diutarakan selama Perang Vietnam bahwa Asia Tenggara merupaA kan wilayah pinggiran yang tidak penA