Equilibrium : Jurnal Pendidikan Vol. Issu 3. September-Desember 2022 Prodi Pendidikan Sosiologi Sosiologi http://journal. id/index. php/equilibrium Asesmen Pembelajaran Pada Masa Pandemi Covid-19 di Sekolah Menengah Pertama Jubilee Jakarta Utara Ernawati1. Eri Theresina2. Linda Pertiwi2. Muji Rahayu4 http://journal. id/index. php/equilibrium Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Prof. DR Hamka (UHAMKA) Email: ernawati. pep@uhamka. Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Prof. DR Hamka (UHAMKA) Email: erimathmail@gmail. Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Prof. DR Hamka (UHAMKA) Email: pertiwiliend@gmail. Penelitian dan Evaluasi Pendidikan. Universitas Muhammadiyah Prof. DR Hamka (UHAMKA) Email: ummi. hilma@gmail. Abstract. Activities in people's lives during the COVID-19 pandemic have undergone many changes. One of the activities in the teaching and learning process. Different strategies in conducting learning assessments during the pandemic are urgently needed. This is because the conditions of students and teachers are different in carrying out the learning and teaching process. This study aims to . find out the learning assessment process carried out by Jubilee Middle School teachers during the pandemic, . find out what obstacles teachers experience in conducting learning assessments during the pandemic. This research is an exploratory descriptive study, which describes and reveals the implementation of learning assessments during the pandemic. The population in this study were teachers of Jubilee Junior High School. North Jakarta. Determination of the sample with a saturated sample, where all teachers at Jubilee Junior High School. North Jakarta were sampled, as many as 15 teachers. Data were collected using questionnaires and interviews. interviews were conducted with teachers of English. Chemistry. Sports and Mathematics. Based on the results of data analysis, it was found that during the pandemic, teachers paid more attention to student activities during the learning process. Student participation in discussions, student attendance, and student attitudes in responding to questions from the teacher in the classroom are the teacher's considerations in conducting affective learning assessments. As for cognitive assessments, the limited supervision of students when carrying out tasks makes the results obtained feel less accurate for the teacher. In addition, the reduced duration of each subject and the lack of opportunities for students to practice using equipment that meets the criteria are also obstacles faced by teachers during the Keywords : Assessment. Pandemic Abstrak. Kegiatan dalam kehidupan masyarakat di masa pandemi COVID-19 mengalami banyak perubahan. Salah satunya kegiatan dalam proses belajar mengajar. Strategi yang berbeda dalam melakukan asesmen pembelajaran di masa pandemi sangat dibutuhkan. Hal ini dikarenakan kondisi siswa dan guru yang berbeda dalam melakukan proses belajar dan mengajar. Penelitian ini bertujuan untuk . Mengetahui proses asesmen pembelajaran yang dilakukan guru SMP Jubilee di masa pandemi, . Mengetahui kendala apa saja yang dialami guru dalam melakukan asesmen pembelajaran selama masa pandemi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif, yaitu mendeskripsikan dan mengungkap pelaksanaan asesmen pembelajaran pada masa Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMP Jubilee Jakarta Utara. Penentuan sampel dengan sampel jenuh, dimana semua guru di SMP Jubilee Jakarta Utara dijadikan sampel, yaitu sebanyak 15 orang Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan wawancara. wawancara dilakukan terhadap guru Bahasa Inggris. Kimia. Olah Raga dan Matematika. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh bahwa di masa pandemi guru lebih memperhatikan aktivitas siswa selama proses pembelajaran. Keikutasertaan siswa dalam melakukan diskusi, kehadiran siswa, dan sikap siswa dalam merespon pertanyaan dari guru di kelas menjadi pertimbangan guru dalam melakukan asesmen afekti pembelajaran. Sedangkan untuk asesmen kognitif, terbatasnya pengawasan terhadap siswa saat melakukan tugas membuat hasil yang diperoleh dirasa kurang akurat bagi guru. Selain itu berkurangnya durasi setiap mata pelajaran dan tidak adanya kesempatan siswa dalam melakukan praktek dengan menggunakan perlengkapan yang sesuai kriteria juga menjadi kendala yang dihadapi guru di masa pandemi. Kata Kunci : Asesmen. Pandemi PENDAHULUAN Asesmen adalah suatu hal yang sangat penting terkait pembelajaran siswa. Namun, asesmen mungkin akan membuat seorang guru menghabiskan waktunya dari pada jaminan kualitas Penilaian yang dirancang dengan baik memberikan manfaat selain untuk memberikan ukuran kemajuan siswa, juga memberikan keterlibatan siswa dalam pembelajaran mereka. Asesmen pembelajaran merupakan bagian integral dari pendidikan siswa. Asesmen mengacu pada pengumpulan data untuk menggambarkan atau lebih memahami suatu masalah sedangkan evaluasi mengacu pada perbandingan data dengan standar untuk tujuan asemen (Alam & Kizlik, 2. Sebuah sistem pengukuran yang adil untuk hal-hal seperti menerima, menempatkan, memajukan, membandingkan, dan bahkan memberi penghargaan kepada siswa untuk tujuan dan proses asesmen dan evaluasi. (Secolsky & Denison, 2. Asesmen menghasilkan informasi sebagai bentuk evaluasi untuk proses pengambilan keputusan. Kegiatan pembelajaran siswa selama masa pandemi covid 19, memberikan batasan interaksi langsung antar guru dan siswa sehingga menyebabkan kegiatan belajar mengajar disekolah harus digantikan dengan sistem belajar jarak jauh . Perubahan sistem penyelenggaraan proses belajar mengajar menyebabkan guru harus merancang pembelajaran yang sesuai dengan kondisi saat ini. Rancangan pembelajaran yang harus disesuaikan meliputi materi yang diberikan, proses penyampaian materi, dan penilaian terhadap hasil belajar siswa. Di masa pandemi ini pembelajaran sekolah sebagian besar akan dilakukan secara daring, sehingga membawa dampak berbeda dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran. Terdapat beberapa perubahan model asesmen yang dilakukan guru maupun dosen kepada siswa maupun mahasiswa. Asesmen yang dilakukan di masa pandemi ini dilakukan secara online. Asesmen dapat dilakukan secara personal karena ketuntasan belajar milik individu, meskipun tugas dikerjakan secara kelompok. Berbagai model asesmen yang sesuai dengan sistem pembelajaran saat ini dapat digunakan. Salah satunya asesmen karakter yaitu dengan mengumpulkan data tentang kemampuan peserta didik yang terkait dengan karakternya. Guru harus menggali nilai dan perilaku siswa selama proses pembelajaran (Wulan, 2. Penelitian Yansa dan Retnawati . menunjukkan bahwa praktek asesmen berbasis daring harus dilaksanakan secara berkala oleh guru. Teknik asesmen portofolio digunakan guru untuk melihat keaktifan dari kumpulan tugas-tugas peserta didik. Sementara asesmen kinerja merupakan alternatif untuk mengetahui apakah siswa dapat mengerjakan secara mandiri. Dengan asesmen kinerja guru dapat melihat secara langsung peserta didik bekerja memecahkan masalah. Asesmen proyek digunakan agar peserta didik lebih mengeksplorasi pengetahuan dalam belajar di Alasan-alasan tersebut yang mendasari guru menggunakan teknik asesmen di masa COVID19. Observasi awal yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa diperlukan sebuah teknik asesmen yang adil untuk menunjukkan hasil belajar siswa. Teknik asesmen ini tidak terbatas pada evaluasi sumatif dan formatif yang dilakukan guru, tetapi ada satu unsur yang harus diperhatikan, yaitu perilaku atau sikap siswa dalam proses kegiatan pembelajaran yang luput dari penilaian guru. Tujuan penelitian ini adalah untuk: . mengetahui proses asesmen yang dilakukan guru di SMP Jubilee Jakarta Utara pada masa pandemi. mengidentifikasi kendala-kendala yang ditemukan saat melakukan asesmen yang dilakukan guru di SMP Jubilee Jakarta Utara pada masa pandemi. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian deskriptif eksploratif, yaitu mendeskripsikan dan mengungkap pelaksanaan asesmen pembelajaran pada masa pandemi. Populasi dalam penelitian ini adalah guru SMP Jubilee Jakarta Utara. Penentuan sampel dengan sampel jenuh, dimana semua guru di SMP Jubilee Jakarta Utara dijadikan sampel, yaitu sebanyak 15 orang guru. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dan wawancara. Data kuesioner dan wawncara saling melengkapi yang di dalamnya terdapat beberapa hal yang tampak dalam wawancara dapat dikaji secara mendalam sesuai data hasil kuesioner, begitu juga data kuesioner dapat ditafsirkan lebih dalam dari hasil Ruang lingkup yang akan dieksplorasi pada penelitian ini adalah pelaksanaan asesmen pada masa pandemi. Data yang dikumpulkan kemudian dianalisis dengan pendekatan deskriptif kuantitatif fan kualitatif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman yang terdiri dari data collection, data condensation, data display, dan conclusion drawing/verification (Miles. Huberman, & Saldana, 2. Data collection dilakukan melalui kuesioner dan wawancara. Kondensasi data mengacu pada proses pemilihan, pemfokusan, penyederhanaan, pengabstraksian, dan/atau transformasi data yang muncul dalam korpus . lengkap dari catatan lapangan tertulis, transkrip wawancara, dokumen, dan bahan empiris lainnya. Data display adalah kumpulan informasi yang terorganisir dan terkompresi yang memungkinkan penarikan kesimpulan dan tindakan. Kegiatan analisis yang terakhir adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Dari awal pengumpulan data, analisis kualitatif menafsirkan apa yang dimaksud dengan mencatat pola, penjelasan, sebab-akibat aliran, dan proposisi. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian Berdasarkan hasil kuesioner diperoleh bahwa responden terdiri dari 72,7% responden dengan jenis kelamin perempuan dan 27,3% dengan jenis kelamin laki-laki, dengan rata-rata usia 38 tahun. 81,8% responden memiliki tingkat pendidikan S1 dan 18,2% dengan tingkat pendidikan S2. Rata-rata responden mengampu mata pelajaran sesuai dengan jurusan pada pendidikan terakhir mereka, sekitar 18,2% responden yang mengajar tidak sesuai dengan jurusan pada pendidikan terakhirnya. Sebanyak 70% responden belum memiliki sertifikasi guru dan 30% responden sudah memiliki sertifikasi guru. Tabel 1. Demografi Responden Kriteria Jumlah Responden Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan 27,7% 72,7% Jenjang Pendidikan 81,8% 18,2% Mata Sesuai dengan Tidak sesuai dengan pelajaran yang pendidikan terakhir pendidikan terakhir 81,8% 18,2% Status Sudah sertifikasi Belum sertifikasi Sertifikasi Sumber: Data Diolah . Proses Asesmen yang Dilakukan Guru SMP Jubilee Asesmen yang dilakukan dalam proses pembelajaran daring dimasa pandemi mengalami beberapa perubahan. Guru melakukan beberapa penyesuaian dalam menerapkan asesmen di kelas. Penyesuaian yang dilakukan berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan setiap mata pelajaran. Sebagai data awal, maka dilakukan pemberian angket untuk guru-guru SMP Jubilee. Melalui angket ini diperoleh data bahwa terdapat perbedaan dan penyesuian yang dilakukan guru dibeberapa mata Seperti ddalam pelajaran Olah Raga dan Kimia yang membutuhkan waktu untuk melakukan asesmen kognitif dan psikomotorik siswa dalam proses pembelajarannya. Sedangkan dalam beberapa pelajaran lain yang tidak membutuhkan praktek, guru tetap harus melakukan penyesuaian dalam pemberian tugas dan penilaian agar tetap dapat memenuhi kriteria asesmen yang dibuthkan dan tetap memotivasi siswa. Proses pembelajaran dan asesmen yang dilakukan di masa pandemi menuntut guru untuk belajar menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran. Dalam beberapa mata pelajaran digunakan aplikasi seperti Zoom. Gmeet. Google Classroom. Kahoot dan Quizzez. Perencanaan pembelajaran sebelum memulai pembelajaran tetap dilakukan sama dengan yang dilakukan guru saat sebelum pandemi. Asesmen yang dilakukan di masa pandemi dilakukan guru dengan lebih memperhatikan sikap siswa selama proses pembelajaran dan tidak hanya fokus pada hasil akhir asesmen kognitif. Apakah Anda melakukan validasi terhadap instrumen Apakah Anda selalu membuat kisi-kisi instrumen 54,5% 45,5% 63,6% 36,4% Tidak Gambar 1. Grafik Pembuatan Instrumen Penilaian Sebanyak 36,4% responden selalu membuat kisi-kisi instrumen penilaian, sementara sisanya 63,6% tidak selalu membuat kisi-kisi instrumen penilaian. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar responden tidak melakukan persiapan untuk melakukan asesmen, dalam hal ini, responden tidak selalu membuat kisi-kisi instrumen penilaian. Dari sejumlah responden yang selalu membuat instrumen penilaian, diketahui sebanyak 45,5% melakukan validasi terhadap instrumen penilaian yang mereka buat, sementara 54,5% tidak melakukan validasi terhadap instrumen penilaian. Penggunaan teknik penilaian disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan yang dapat menunjang program pengajaran seperti kompetensi dasar yang akan dicapai. Perencanaan yang matang seperti pembuatan kisi-kisi instrumen diharapkan dapat memberi informasi yang akurat tentang kompetensi kompetensi siswa yang perlu diukur, mendorong peserta didik belajar untuk lebih giat meningkatkan kompetesinya, pendidik, mengajar untuk meningkatkan kompetensi siswa, meningkatkan kinerja lembaga dan meningkatkan kualitas pendidik (Setiadi, 2. Berdasarkan data awal, kami melakukan wawancara dengan guru yang mengampu pelajaran Bahas Inggris. Olah Raga. Kimia. Matematika. Pada mata pelajaran tersebut dibutuhkan asesemen yang berupa kegiatan praktek yang dilakukan di laboratorium dan psikomotor. Oleh karena itu wawancara ini dilakukan untuk memperoleh informasi yang lebih dalam mengenai asesmen yang dilakukan selama masa pandemi. Informan 1 adalah guru mata pelajaran Bahasa Inggris. Penilaian yang dilakukan informan 1 berdasarkan dua hal yaitu afektif dan kognitif. Penilaian afektif meliputi karakter dan sifat siswa. Seperti partisipasi siswa di dalam kelas, tingkah laku siswa dan sebagainya. Sedangkan penilaian kognitif meliputi penilaian speaking, reading, listening dan writing diperoleh antara melalui ujian harian atau unit test, ujian semester, praktek berupa presentasi, proyek, kuis dan pekerjaan rumah (PR). Sedangkan asesmen di masa pandemi diberikan hampir sama dengan sebelumnya. Untuk tugas proyek siswa diminta membuat video yang berisi kegiatan sehari-hari. Selain itu untuk penilaian praktek speaking, siswa diminta untuk melakukan presentasi secara berkelompok ataupun Informan 2 adalah guru yang mengajar mata pelajaran Olah Raga. Penilaian kognitif dilakukan dengan pemberian kuis, kegiatan praktek dan presentasi kelompok. Sedangkan penilaian afektif dilakukan dengan menilai sikap siswa dalam melakukan gerakan-gerakan olah raga. Asesmen yang dilakukan pada saat pandemi adalah dengan memberikan tugas proyek melalui GCR (Google Class Roo. Proyek yang diberikan adalah seperti merekam aktivitas saat mereka melakukan gerakangerakan yang diminta. Selain itu diberikan juga tugas untuk membuat presentasi. Sedangkan kuis tidak dilakukan seperti pada saat sebelum pandemi, karena waktu di dalam kelas tidak cukup. Informan 3 adalah guru mata pelajaran Matematika. Asesmen yang dilakukan pada saat pandemi antara lain berupa PR (Pekerjaan Ruma. , kuis, proyek yang berupa teamwork, dan practical assesment. Pada pembelajaran di masa pandemi ini informan 3 memberikan penugasan antara lain dengan proyek yang dapat dikerjakan masing-masing ataupun menggunakan data yang dapat dikumpulkan perorangan. Informan 4 yang merupakan guru mata pelajaran Kimia menggunakan asesmen paper based . es tertuli. sebagai bentuk penugasan dalam pembelajaran sebelum masa pandemi. Selain itu siswa juga melakukan kegiatan praktek di laboratorium. Sedangkan saat pandemi ini informan 4 lebih banyak menggunakan teknologi seperti penggunaan website ataupun aplikasi yang mendukung proses belajar dan mengajar. Selain itu tes praktek juga dilakukan siswa dengan cara melakukan percobaan di rumah masing-masing yang kemudian divideokan. Tes tertulis juga dilakukan dengan menggunakan pengawasan melalui aplikasi Zoom atau Gmeet. Kendala-Kendala Asesmen Dalam Pembelajaran Daring Perbedaan yang dilakukan dalam asesmen pembelajaran selama masa pandemi seperti berkurang waktu yang diberikan untuk setiap mata pelajaran dan pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang terbatas karena harus dilakukan sedara daring menyebabkan siswa dan guru mengalami beberapa kendala dalam prakteknya. Menurut informan 1 kendala yang ditemukan dalam melakukan penilaian selama pembelajaran di masa pandemi ini adalah motivasi siswa dalam mengerjakan tugas. Kemampuan siswa yang sudah cukup maju dalam penggunaan teknologi membuat mereka dengan mudah mencari jawaban atas soal yang diberikan guru. Selain itu beberapa siswa mengalami masalah seperti kurangnya percaya diri dalam malakukan percakapan maupun berbicara di depan umum. Beberapa siswa memang terlihat lebih semangat saat belajar tatap muka di sekolah dibandingkan belajar di rumah secara daring. Untuk mata pelajaran Olah Raga, informan 2 mengalami kendala siswa yang sangat kurang minatnya dalam melakukan gerakan-gerakan yang diminta. Kendala penilaian terkait masalah kejujuran siswa dalam melakukan tugas, juga diungkapkan oleh informan lain. Tetapi informan 4 menyatakan dalam pengerjaan proyek yang membutuhkan teknologi para siswa mengalami Informan 4 merasa siswa lebih kreatif dalam mengerjakan proyek yang diberikan. Berdasarkan keterangan dari keempat informan juga ditemukan kendala kurangnya waktu yang diberikan karena selama masa pandemi durasi setiap mata pelajaran dan jumlah mata pelajaran setiap harinya dikurangi. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan Dwi Afrilia, bahwa rata-rata perolehan nilai peserta didik pada masa pandemi Covid-19 meningkat secara signifikan sementara penyelesaian tugas-tugas di rumah tidak sepenuhnya dilakukan peserta didik melainkan bantuan dari orang tua Afrilia . al ini menandakan bahwa perolehan nilai peserta didik tersebut bukan merupakan gambaran nyata prestasi belajar peserta didik. Pemberian Tugas yang Efektif pada Masa Pandemi Pemberian tugas yang efektif menurut informan 1 adalah tugas yang dikerjakan disaat pelajaran tersebut berlangsung. Sehingga siswa dan guru dapat melakukan diskusi bersama terutama untuk soal-soal yang sulit dan kurang dipahami oleh siswa. Selain itu proyek yang diberikan sebisa mungkin berhubungan dengan kehidupan mereka sehari-hari dan situasi yang ada pada saat itu. Seperti menceritakan kegiatan mereka sehari-hari selama pandemi. Untuk mata pelajaran Olah Raga, menurut informan 2 lebih efektif dengan meminta anak melakukan gerakan-gerakan Olah Raga dibandingkan dengan memberikan tugas berupa teori. Pemberian tugas menurut informan 3 akan lebih efektif jika diberikan sesuai dengan hal yang disukai siswa. Sedangkan informan 4 menyatakan pemberian tugas berupa proyek sepertinya lebih disukai siswa. Tetapi tes atau tugas yang sesuai dengan kebutuhan kurikulum juga dibutuhkan untuk mengetahui kemampuan siswa. Pemberian tugas yang bervariasi dapat memotivasi siswa dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Guru juga harus mencari berbagai refernsi bentuk asesmen yang dapata digunakan sesuai kebutuhan dan keadan saat ini. Sistem pembelajaran saat ini sangatlah bergantung pada teknologi. Pemanfaatan teknologi menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan pembelajaran di masa pandemi seperti saat ini. Oleh karena itu harus digunakan sebaik-baiknya untuk mendukung siswa maupun guru dalam melakukan pembelajaran. Penilaian yang efektif pada saat pandemi Pendapat para informan mengenai penilaian yang efektif pada masa pandemi harus dilakukan dengan kondisi guru dapat melihat aktivitas siswa selama proses belajar dan mengajar dengan jelas, begitupun siswa harus dapat melihat guru yang sedang memberikan materi dengan jelas. Kegiatan belajar jarak jauh menyebabkan penilaian yang dilakukan guru tidak maksimal. Seperti mengawasi pelaksanaan tes tertulis, hal ini cukup sulit dilakukan karena kemampuan kamera yang pada umumnya hanya satu arah. Namun seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa penggunaan teknologi harus dimaksimalkan dalam mendukung proses belajar dan mengajar khususnya dimasa pandemi. Selain itu sistem penilaian yang tidak hanya berfokus pada hasil tetapi juga proses dan sikap siswa di dalam proses pembelajaran tersebut. dapat sangat membantu guru dalam melakukan penilaian selain juga memotivasi siswa untuk lebih aktif dalam proses belajar. Pembahasan Proses pembelajaran selama masa pandemi membutuhkan strategi asesmen yang berbeda dengan asesmen yang biasa dilakukan dalam proses belajar pada umumnya. Dikarenakan kondisi siswa dan guru yang bebeda dalam proses belajar mengaja saat pandemi dan sebelum pandemi. Hal ini sesuai dengan hasil Penelitian Yansa dan Retnawati . yang menunjukkan bahwa praktek asesmen berbasis daring harus dilaksanakan secara berkala oleh guru. Teknik asesmen portofolio digunakan guru untuk melihat keaktifan dari kumpulan tugas-tugas peserta didik. Sementara asesmen kinerja merupakan alternatif untuk mengetahui apakah siswa dapat mengerjakan secara Dengan asesmen kinerja guru dapat melihat secara langsung peserta didik bekerja memecahkan masalah. dan Asesmen proyek digunakan agar peserta didik lebih mengeksplorasi pengetahuan dalam belajar di rumah. Alasan-alasan tersebut yang mendasari guru menggunakan teknik asesmen di masa COVID-19. Selain itu dalam Peraturan Pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan pada penilaian adalah perlunya penyesuaian terhadap model dan teknik penilaian yang dilaksanakan di kelas (Jenny dan Siti, 2. Strategi penilaian terhadap hasil belajar siswa hendaknya mengalami penyesuaian, terlebih dalam kondisi pandemi saat ini. Lingkungan tempat siswa belajar yang berbeda-beda menjadi tantangan bagi guru dan siswa untuk beradaptasi dengan cara belajar yang berbeda dari sebelumnya. Kendala yang terjadi selama proses asesmen pembelajaran di masa pandemi yang ditemukan peneliti sesuai dengan hasil observasi yang dilakukan Dwi Afrilia, bahwa rata-rata perolehan nilai peserta didik pada masa pandemi Covid-19 meningkat secara signifikan sementara penyelesaian tugas-tugas di rumah tidak sepenuhnya dilakukan peserta didik melainkan bantuan dari orang tua Afrilia . al ini menandakan bahwa perolehan nilai peserta didik tersebut bukan merupakan gambaran nyata prestasi belajar peserta didik. KESIMPULAN Kondisi pandemi di negara kita menyebabkan beberapa perubahan dalam kehidupan Salah satunya dalam dunia pendidikan. Kegiatan belajar dan mengajarpun mengalami Asesmen yang dilakukan menjadi kurang maksimal karena guru harus menyesuaikan dengan kondisi siswa di masa pandemi. Berdasarkan pengamatan guru di kelas motivasi siswa dalam merespon guru di kelaspun berkurang. Proses pembelajaran dan asesmen yang dilakukan di masa pandemi menuntut guru untuk belajar menggunakan teknologi sebagai media pembelajaran. Dalam beberapa mata pelajaran digunakan aplikasi seperti Zoom. Gmeet. Google Classroom. Kahoot dan Quizzez. Perencanaan pembelajaran sebelum memulai pembelajaran tetap dilakukan sama dengan yang dilakukan guru saat sebelum pandemi. Asesmen yang dilakukan di masa pandemi dilakukan guru dengan lebih memperhatikan sikap siswa selama proses pembelajaran dan tidak hanya fokus pada hasil akhir asesmen kognitif. Beberapa kendala dalam melakukan asesmen di masa pandemi adalah sulitnya menilai pekerjaan siswa terutama tugas tertulis karena guru tidak dapat mengawasi dengan maksimal saat siswa mengerjakan tugas. Selain itu dikuranginya waktu untuk setiap mata pelajaran menyebabkan beberapa kegiatan dalam proses pembelajaran dikurangi. DAFTAR PUSTAKA