Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 PERBEDAAN PENYULUHAN MEDIA DENTAL BRAILLE EDUCATION (DBE) DAN DENTAL AUDIO EDUCATION (DAE) TERHADAP PENGETAHUAN ORAL HYGIENE PADA PENYANDANG TUNANETRA DI SDLB A PAJAJARAN BANDUNG THE DIFFERENCE BETWEEN DENTAL BRAILLE EDUCATION (DBE) AND DENTAL AUDIO EDUCATION (DAE) MEDIA COUNSELING ON ORAL HYGIENE KNOWLEDGE OF BLIND PATIENTS AT SDLB A PAJAJARAN BANDUNG Windy Marsella Aprilianty1. Neneng Nurjanah1. Ulfah Utami1. Siti Fatimah1 Program Studi Sarjana Terapan Terapi Gigi dan Mulut. Jurusan Kesehatan Gigi. Politeknik Kesehatan Gigi dan Mulut. Bandung. Jawa Barat. Indonesia Email koresponden: windymarsella13@gmail. ABSTRAK Latar Belakang: Keterbatasan yang dimiliki anak tunanetra menjadi salah satu hambatan untuk memperoleh pengetahuan tentang kebersihan gigi dan mulut. Anak tunanetra membutuhkan media yang tepat untuk meningkatkan pengetahuan kebersihan gigi dan mulut. Salah satunya menggunakan braille dan audio. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan penyuluhan dental braille education (DBE) dan dental audio education (DAE) terhadap pengetahuan oral hygiene pada penyandang tunanetra di SDLB A Pajajaran Bandung. Metode: Metode penelitian ini menggunakan quasy eksperimen dengan rancangan one group pretest posttest design. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik proposional sampling sehingga jumlah responden sebanyak 50 siswa. Teknik analisis data menggunakan uji wilcoxon untuk mengetahui pengaruh dari masing-masing kelompok media dan uji mann whitney untuk mengetahui perbedaan dari dua kelompok media. Hasil: Hasil penelitian menunjukan terdapat perbedaan tingkat pengetahuan yang signifikan dengan nilai p=0,000 . <0,. penyuluhan pada media dental braille education (DBE) dan dental audio education (DAE). Kesimpulan: Dapat disimpulkan, penyuluhan menggunakan media dental audio education (DAE) lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan kebersihan gigi dan mulut daripada media dental braille education (DBE). Kata kunci : kebersihan gigi dan mulut, dental braille education (DBE), dental audio education (DAE). ABSTRACT Background: The limitations of blind children are one of the obstacles to gaining knowledge about dental and oral hygiene. Blind children need appropriate media to increase their knowledge of dental and oral hygiene. One of them uses braille and audio. The aim of this research is to determine the difference between dental braille education (DBE) and dental audio education (DAE) on oral hygiene knowledge for blind people at SDLB A Pajajaran Bandung. Methods: This research method uses a quasi-experiment with a one group pretest posttest design. Sampling was carried out using a proportional sampling technique so that the number of respondents was 50 students. The data analysis technique uses the Wilcoxon test to determine the effect of each media group and the Mann Whitney test to determine the differences between the two media groups. Results: The research results showed that there was a significant difference in the level of knowledge with a value of p=0. <0. in counseling on dental braille education (DBE) and dental audio education (DAE) media. Conclusion: It can be concluded that counseling using dental audio education (DAE) media is more effective in increasing knowledge of dental and oral hygiene than dental braille education (DBE) Keywords : dental and oral hygiene, dental braille education (DBE), dental audio education (DAE). Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 PENDAHULUAN Riset Kesehatan Dasar . mengatakan hingga saat ini penduduk Indonesia kesehatan gigi dan mulut. Sebesar 57,6% masalah kesehatan gigi dan mulut mempunyai proporsi yang cukup tinggi. Masyarakat yang menerima pelayanan kesehatan hanya sebesar 10,2%. Sebesar 94,7% penduduk yang berusia lebih dari 3 tahun mempunyai proporsi perilaku menyikat gigi dan yang menerapkan perilaku menyikat gigi dengan benar hanya sebesar 2,8%. Masalah dan mulut yang tinggi kebersihan gigi disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang kebersihan gigi dan Kurangnya pengetahuan dalam menjaga kebersihan gigi dan mulut dapat berdampak pada kesulitan sehingga menjadi keterbatasan bagi suatu individu2. Pengetahuan yang diterima seseorang sebagian besar diterima melalui indra pendengaran dan indra Indra yang paling penting dalam memperoleh pengetahuan merupakan indra penglihatan dalam proses belajar daya serap4. Pengetahuan yang diterima anak normal akan berbeda dengan anak berkebutuhan khusus. Dalam menerima pengetahuan yang didapat yang semakin kompleks perlu melibatkan banyak panca indra yang dilibatkan. Anak-anak (ABK) adalah anak-anak yang mengalami keluarbiasaan fisik, mental-intelektual, sosial, atau emosional yang sangat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan mereka dibandingkan dengan anak-anak normal Salah satu anak berkebutuhan khusus adalah anak tunanetra. Anak tunanetra yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan menjadi hambatan untuk memperoleh pengetahuan kebersihan gigi dan mulut. Kemampuan melihat dan mengontrol untuk menjaga kebersihan gigi dan mulutnya tentunya anak tunentra mengalami kesulitan. Dampaknya status kebesihan gigi dan mulut yang terdapat pada anak tunentra akan lebih buruk daripada anak normal seusianya1. Berbagai faktor yang menyebabkan anak tunanetra memiliki keadaan rongga mulut yang buruk diantaranya ketidaktahuan teknik menyikat gigi yang benar atau masih diabaikannya bantuan pendampingan dan keterampilan motorik. Selain itu, untuk memahami dan menguasai teknik menyikat gigi Munculnya hambatan praktik kebersihan gigi dan mulut disebabkan karena keterabatasan indra penglihatan. Meskipun mereka memiliki keterbatasan, namun mereka memiliki kelebihan dalam indra pendengaran dan perabaan yang lebih peka dibandingkan dengan anak normal7. Kepekaan indra peraba yang dimiliki penyandang tunanetra harus diprioritaskan dalam pemilihan media edukasi yang tepat. Dengan kepekaan indra peraba yang mereka miliki, mereka dapat dengan mudah memahami huruf Braille. Selain indra peraba penyandang tunanetra juga memiliki kepekaan yang baik pada indra pendengarannya, sehingga kepekaan pada indra pendengaran penyandang tunanetra perlu dimanfaatkan dalam pemberian edukasi8. Hal ini mungkin disebabkan masih banyak penyandang tunanetra yang belum menerima pendidikan kesehatan gigi dan mulut dan tidak memiliki kesempatan belajar dengan melihat dan meniru kebiasaan yang baik dan benar terhadap pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut akibat keterbatasan dalam penglihatan9. Pemberian edukasi tentang kebersihan gigi dan mulut mulut pada penderita tunanetra diperlukan media yang mendukung dalam proses penyampaian edukasi5. Salah satu media edukasi yang dianggap sangat tepat dan cocok untuk menginformasikan mengenai kebersihan gigi dan mulut adalah Dental Braille Education (DBE) dan Dental Audio Education (DAE). Dental Braille Education (DBE) merupakan suatu proses belajar dalam bidang kesehatan gigi dan mulut yang dikhususkan bagi tunanetra menggunakan media huruf braille, sedangkan Dental Audio Education (DAE) merupakan metode belajar dalam bidang kesehatan gigi dan mulut bagi tunanetra menggunakan audio sehingga diharapkan dapat mewujudkan derajat kesehatan gigi dan mulut yang optimal serta memiliki kemandirian dalam menjaga kesehatan giginya 10. Penelitian terdahulu meneliti metode braille dan audio terhadap pengetahuan kesehatan gigi dan mulut anak tunanetra terdapat perbedaan hasil antara metode braille dan audio11. Hasil penelitian yang dilakukan 12 sebagian besar populasi penyandang tunanetra menunjukan kenaikan pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulutnya sebesar rata-rata 89,1% dari 32,5% sesudah diberikan Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 penyuluhan kesehatan gigi dan mulut menggunakan dental braille education. Penyuluhan dengan media audio juga pada anak tunentra menunjukkan perbedaan nilai yang signifikan antara sebelum penyuluhan dan pengetahuan kesehatan gigi dan mulut pada Hasilnya peningkatan pengetahuan dan kebersihan gigi dan mulut penyandang tunanetra. Hasil wawancara kepada siswa tunanetra di SDLB A Pajajaran menyatakan 6 dari 10 siswa masih terbilang belum mengetahui kesehatan gigi dan mulut meskipun sudah sedikit terpapar karena terbatasnya penerima pengetahuan yang didapatkan. Berdasarkan uraian tersebut, maka peneliti akan melakukan penyuluhan kesehatan gigi menggunakan media dental braille education dan dental audio education di SLB A Pajajaran Bandung. METODE Jenis dari penelitian ini adalah penelitian analitik. Penelitian ini menggunakan quasy eksperimen dengan rancangan one group pre-test post-test, yaitu mengukur variabel kepada kelompok dari hasil sebelum dan sesudah diberikan perlakuan. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa Sekolah Dasar SLB A Pajajaran sebanyak 77 siswa. Sampel dalam penelitian ini diambil berdasarkan karakteristik dengan kriteria yang sudah dipertimbangkan. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik simple random sampling yang dimana semua sampel mempunyai karakteristik low vision untuk mendapatkan kesempatan yang sama. Siswa ekslusi dalam penelitian ini yaitu siswa yang berkriteria celebral plasty dan tunagrahita. Penelitian ini dilakukan di SLB A Pajajaran yang berlokasi di Jl. Pajajaran No. Pasir Kaliki. Kec. Cicendo. Kota Bandung. Jawa Barat, 40171 dan dilaksanakan pada bulan Januari-Februari 2024. Analisis univariat dilakukan untuk mengetahui gambaran distribusi dari setiap variabel yang diteliti. Analisis univariat dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin dan usia. Analisis data pada penelitian ini menggunakan bantuan aplikasi SPSS. Sebelum dilakukan uji hipotesis maka dilakukan terlebih dahulu uji normalitas data menggunakan Shapiro Wilk <50. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji Paired T-Test jika data berdistribusi normal dan menggunakan uji Wilcoxon jika data tidak berdistribusi normal. Kemudian pengetahuan kesehatan gigi dengan metode dental braille education dan dental audio education menggunakan uji Independen T-Test menggunakan uji Mann Whitney jika data berdistribusi tidak normal. HASIL Penelitian ini telah dilaksanakan di SDLB Pajajaran Bandung dengan kriteria sampel low Penelitian ini menunjukkan hasil sebelum dan sesudah diberikan intervensi pada masingmasing kelompok. Berikut hasil penelitian: Tabel 1 Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia Kategori Jenis Kelamin Perempuan Laki-laki Usia SD Kelas Rendah . -9 Tahu. SD Kelas Tinggi . -12 Tahu. Jumlah Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 Tabel 1 menunjukan karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin terbanyak yaitu pada perempuan sebanyak 18 siswa . ,3%) dan usia terbanyak yaitu pada jenjang SD kelas tinggi sebanyak 20 siswa . ,5%). Tabel 1 Tingkat Pengetahuan Responden Oral Hygiene Pretest dan Posttest Media Braille Nilai Pretest Posttest Selisih Mean 44,29 67,86 23,57 Tabel 2. Menunjukkan hasil rata-rata pretest sebesar 44,29 dan nilai posttest sebesar 72,90 setelah diberikan edukasi dengan media braille. Perempuan Pretest Laki-laki Posttest Digaram 1 Tingkat Pengetahuan Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pretest Posttest Media Braille Diagram 1 menunjukkan nilai rata-rata baik pretest . maupun posttest . lebih besar siswa laki-laki daripada perempuan Usia 7-9 tahun Pretest Usia 10-12 tahun Posttest Digaram 2 Tingkat Pengetahuan Responden Berdasarkan Usia Pretest Posttest Media Braille Diagram 1 menunjukkan nilai rata-rata baik pretest . maupun posttest . lebih besar siswa kelas tinggi . sia 10-12 tahu. daripada siswa kelas rendah . sia 7-19 tahu. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 Tabel 3 Tingkat Pengetahuan Responden Oral Hygiene Pretest dan Posttest Media Audio Nilai Pretest Posttest Selisih Mean 45,00 82,86 Tabel 3. menunjukkan hasil rata-rata pretest sebesar 45,0 dan nilai posttest sebesar 82,86 setelah diberikan edukasi dengan media audio. Perempuan Pretest Laki-laki Posttest Digaram 3 Tingkat Pengetahuan Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Pretest Posttest Media Audio Diagram 3 menunjukkan nilai rata-rata baik pretest . maupun posttest . lebih besar siswa laki-laki daripada perempuan. Usia 7-9 tahun Usia 10-12 tahun Pretest Posttest Digaram 4 Tingkat Pengetahuan Responden Berdasarkan Usia Pretest Posttest Media Audio Diagram 3 menunjukkan nilai rata-rata baik pretest . maupun posttest . lebih pada siswa kelas tinggi . sia 10-12 tahu. daripada siswa kelas rendah . sia 7-19 tahu. Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 Tabel 4 Pengaruh Media Dental Braille Education Terhadap Pengetahuan Oral Hygiene Nilai Z Pretest Posttest Mean Rank Negatif Rank Positif Rank Nilai p Tabel 4. menunjukan hasil uji Wilcoxon dengan nilai signifikansi 0,001 . <0,. , artinya terdapat perbedaan nilai pretest dan posttest pemberian edukasi menggunakan media braille. Tabel 5 Pengaruh Media Dental Audio Education Terhadap Pengetahuan Oral Hygiene Nilai Z Pretest Posttest Mean Rank Negatif Rank Positif Rank Nilai p Tabel 5. menunjukan hasil uji Wilcoxon dengan nilai signifikansi 0,001 . <0,. , artinya terdapat perbedaan nilai pretest dan posttest pemberian edukasi menggunakan media audio. Tabel 6 Perbedaan Media Dental Braille Education dan Media Dental Audio Education Terhadap Pengetahuan Oral Hygiene Nilai Z Pretest Posttest Mean Rank Negatif Rank Positif Rank 17,06 33,94 Nilai p 0,000 Tabel 6. memperoleh nilai signifikansi 0,000 . <0,. artinya terdapat perbedaan peningkatan pengetahuan antara pemberian edukasi dengan media braille dan media audio. PEMBAHASAN Hasil penelitian dilakukan pada siswa SLB A Pajajaran Bandung terkait perbedaan penyuluhan Dental Braille Education (DBE) dan Dental Audio Education (DAE) terhadap pengetahuan oral hygiene dengan jumlah sampel sebanyak 50 siswa dengan kriteria low vision usia 7 Ae 12 tahun. Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin terbanyak yaitu pada perempuan sebanyak 20 siswa . ,3%) dan usia terbanyak yaitu pada jenjang SD kelas tinggi sebanyak 20 siswa . ,5%). Pada kelompok media braille, sebelum dan sesudah diberikan edukasi terjadi peningkatan pengetahuan dengan selisih skor 23,57. Media yang tepat dibutuhkan oleh penyandang tuanentra karena keterbatasan Pemberian edukasi dengan menggunakan braille untuk penyandang tunentra sangat cocok untuk memperoleh informasi yang dapat memanfaatkan indra perabaannya. Kelebihan penyandang tunanetra, seperti yang didukung oleh pendapat 7 bahwa dalam melatih kemampuan membaca media braille sangat efektif, sehingga bagi penyandang tunentra akan semakin bertambah dan meningkat pengetahuan membacanya. Penggunaan braille memiliki beberapa kekurangan meskipun Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 banyak kelebihan diantaranya membutuhkan waktu yang lama bagi pembaca. Tingkat berdasarkan jenis kelamin pada kelompok media braille memperlihatkan nilai rata-rata baik pretest . maupun posttest . lebih besar siswa laki-laki daripada perempuan. Responden penelitian yang paling dominan yaitu perempuan. Dalam penelitian ini lebih banyak siswa perempuan namun yang lebih mampu menginterpretasikan hasil dengan menggunakan informasi yang didapat dari pemberian edukasi adalah siswa laki-laki. Sementara siswa perempuan belum maksimal terhadap interpretasi hasil belajar yang telah Hal ini didukung oleh pendapat Leach dan Good, bahwa kemampuan berpikir kritis siswa dipengaruhi secara signifikan oleh perbedaan gender dan pendidikan tinggi15. Pada usia SD kelas rendah, hasil pretest dan posttest terendah ditemukan pada pengetahuan berdasarkan usia 7-9 tahun (SD kelas renda. Siswa di SD kelas rendah masih kesulitan membaca braille karena masih dalam tahap pramembaca. Siswa di SD kelas tinggi, di sisi lain, sudah dapat memahami tulisan huruf dan kata braille. menyebutkan bahwa anak tunanetra melalui dua tahap pembelajaran braille yaitu tahap pembelajaran pra-membaca brailleAssyifa . Pada tahap ini, siswa SD kelas rendah belajar membaca braille dengan bantuan media knop atau papan knop. Papan knop membantu mengidentifikasi titik pada tulisan braille dan menunjukkan lokasi titik yang menonjol dan berlubang. Setelah siswa dapat mengidentifikasi titik menonjol dan lubang, proses penyusunan karakter huruf dan letak titik huruf dimulai. Pada tahap ini, media papan knop masih digunakan. Penggunaan reglet untuk mengidentifikasi tulisan braille masih berada di tahap pramembaca17. Hasil uji Wilcoxon pada kelompok media braille pada jenjang SD memperoleh nilai signifikan 0,001 . <0,. artinya terdapat peningkatan pengetahuan sebelum . dan setelah . diberikan perlakuan. Pengetahuan oral hygiene dengan media braille pada siswa SD terjadi peningkatan namun hanya sedikit. Beberapa responden pada jenjang SD kelas rendah belum lancar dalam mengenal huruf vokal dan konsonan, serta menggabungkan huruf maka anak akan mengalami kesulitan membaca, sehingga hasil penelitian hanya sedikit terjadi peningkatan pengetahuan oral hygiene. Mempelajari braille perlu bebeapa tahap yaitu tahap pengenalan tulisan huruf biralle yang mulai dilaksanakan pada SD kelas Kemmapuan menyesuaikan pengenalan huruf dan kata Peserta didik yang masih duduk di bangku kelas satu apabila dirasa sudah siap untuk menerima tulisan braille, maka sudah diberikan materi pengenalan tulisan braille. Peserta didik yang sudah menduduki kelas 4 SD harus sudah menguasai kegiatan pramembaca dan pengenalan hurud braille19. Pada kelompok media audio, sebelum dan sesudah diberikan edukasi terjadi peningkatan pengetahuan dengan selisih skor 37,86. Peningkatan pengetahuan kebersihan gigi dan mulut anak tunanetra dengan penggunaan Dental Audio Education (DAE) terjadi karena media audio merupakan media yang mengandalkan suara untuk membantu mengoptimalkan indra pendengaran yang masih berfungsi pada anak tunanetra. Menurut Crews, penerimaan informasi yang diterima melalui pendengaran sebesar 11% dan melalui perabaan sebesar 1,5%. Indra pendengaran dengan sensitivitas yang tinggi menggantikan fungsi indra penglihatannya 20. Sensitifnya indra pendengaran dan daya ingat yang kuat dimiliki oleh mereka. Selain itu, daripada orang yang bisa melihat, mereka mempunyai kemampuan dalam ruangan yang ramai untuk membedakan suara. Penyandang tunanetra memiliki kemampuan lebih baik dalam mendiskrimasi suara daripada orang normal karena mereka menyimpan ingatan dalam bentuk verbatim dan daripada orang yang memiliki penglihatan normal, penyandang tunanetra dapat dengan cepat memproses katalata verbal21. Penyandang tunanetra dalam memahami dan mudah mengingat terhadap pesan yang telah disampaikan22. Seperti kelompok media braille, tingkat pengetahuan responden berdasarkan jenis kelamin pada media audio sama. Siswa laki-laki memperoleh nilai lebih tinggi daripada siswa perempuan. Dengan cara yang sama, tingkat pengetahuan responden berdasarkan usia terendah pada siswa kelas rendah sekolah Media rekaman audio dapat digunakan oleh penyandang tunanetra tanpa bantuan Siswa kelas rendah sekolah dasar mulai dari hal-hal yang sederhana menuju hal-hal Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 yang lebih kompleks, jadi mereka perlu didampingi saat belajar23. Hal ini sesuai dengan pendapat 7 yang menyatakan bahwa kelebihan penggunaan media audio adalah dapat memberikan pesan yang menarik dan memotivasi audien, termasuk anak usia dini, karena mereka dapat mendengar langsung tanpa perlu latihan sebelumnya seperti media braille. Selain itu, penggunaan media audio menjadi lebih efektif apabila dapat merangsang imajinasi audiens sehingga mereka dapat membayangkan apa yang kita sampaikan. Siswa lebih termotivasi untuk belajar karena menggunakan audio memungkinkan mereka belajar kapan saja dan di mana saja. Selain memiliki beberapa keuntungan, penggunaan suara dalam edukasi memiliki beberapa kekurangan diantaranya komunikasinya satu arah, dan penyajian suara hanya bergantung pada salah satu dari lima Indera24. Untuk melihat ada tidaknya perbedaan bermakna dalam perbedaan penyuluhan menggunakan uji Mann Whitney yang memperoleh nilai signifikan 0,000 . <0,. Artinya, media audio merupakan metode pendidikan kesehatan gigi dan mulut yang efektif dibandingkan dengan media braille. Melalui indera pendengaran, siswa tunanetra mampu menangkap materi dengan baik, dibandingkan dengan braille yang harus menerima pelajaran teks braille dulu25. Penyandang tunanetra mengalami kesulitan dalam mencari nada basar pada tulisan braille karena beberapa dari mereka mempunyai sensitifitas yang rendah26. Anak tunanetra dengan karakteristik low vision mempunyai kesulitan dalam mengerjakan tugas visual karena kejataman penglihatan yang dimiliki kurang dari 20/200 dan tidak lebih dari 20/70. Apalagi tulisan braille yang memiliki tanda hampir sama atau terbalik sehingga beberapa siswa membolak-balikan penulisan Hal ini dapat terjadi karena pengaruh kepekaan dan perabaan tiap individu berbeda terhadap konseptual penulisan braille27. Terdapat menyebabkan keterbatasan pada anak tunanetra yaitu kemampuan kognitif. Indera perabaan dan pengalaman pengetahuan selama pembelajaran dapat digunakan untuk mengembangkan pengalaman kognitif anak tunanetra. Guru gagal memanfaatkan elemen kognitif yang kompleks untuk membantu siswa membaca Unsur-unsur kognitif digunakan untuk membedakan huruf braille berdasarkan perbedaan letak dan arah titik. Hal ini memungkinkan siswa untuk menguasai persepsi aktual dan keterampilan motorik untuk membaca tulis braille karena kemampuan kognitif dan ketangkasan anak masih rendah, orang tua harus mendampingi penerimaan pengetahuan anak-anak. Subjek yang lebih muda juga kurang termotivasi daripada subjek yang lebih tua29. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan Charu et al. , . tentang siswa tunanetra yang kesulitan membaca huruf Siswa sering lupa posisi titik braille yang akan dibaca, terutama ketika mereka Sebelum anak tunanetra di kelas rendah mulai belajar di sekolah khusus, mereka diajarkan mengenal huruf abjad braille. Beberapa hal yang harus diperhatikan saat menggunakan huruf braille adalah penguasaan arah, kepekaan perabaan, metode untuk mengidentifikasi huruf, dan kemampuan untuk menemukan baris, terutama akibat dari memvisualisasikan indera perabanya31. Audio adalah salah satu komponen berbasis suara/bunyi yang sangat efektif, dan jika digunakan sebagai media pembelajaran, sangat membantu pendidik 22. Media audio dapat memberikan pesan yang menarik dan memotivasi peserta didik32. Selain itu, media audio lebih efektif apabila memungkinkan peserta didik menggunakan kreativitas mereka untuk memvisualisasikan apa yang kita Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa penyandang tunantera lebih mudah memvisualisasikan materi yang disampaikan saat menerima informasi melalui media audio dibandingkan dengan saat menerima informasi melalui media braille34. Penelitian 13 dan 35 memaparkan tentang perbedaan penyuluhan dengan media audio dan media braille menunjukkan adanya peredaan peningkatan pengetahuan tentang kebersihan gigi dan mulut yang signifikan setelah diberikan penyuluhan. Secara tidak langsung, mengatakan bahwa media braille dianggap kurang efektif dibandingkan dengan media audio dari hasil yang didapat. Hal ini selaras dengan penelitian di Osaka Jepang yang mengungkapkan hasil pengetahuan anak tunanetra lebih meningkat menggunakan media audio daripada media braille. Penelitian 36 di India menyatakan sebanyak 58% audio efektif Jurnal Kesehatan Gigi dan Mulut (JKGM) Vol. 6 No. Desember 2024 eISSN 2746-1769 pada pengetahuan mengenai kebersihan gigi dan mulut pada anak-anak. Pengetahuan tentang kebersihan gigi dan mulut dipertahankan untuk jangka waktu yang lama. Ini disebabkan oleh fakta bahwa anak tunanetra memiliki indra pendengaran yang lebih sensitif dibandingkan indra peraba, yang membantu mereka lebih cepat memahami apa yang diajarkan. Media yang tersedia sangat penting untuk meningkatkan dalam kombinasi dengan braille daripada digunakan secara KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dilakukan, maka yaitu terjadi pengetahuan antara sebelum dan sesudah diberikan media dental braille education (DBE) maupun media dental audio education (DAE) pada penyangdang tunanetra di SLDB A Pajajaran Bandung. Kemudian, terdapat perbedaan penyuluhan menggunakan media dimana media audio lebih efektif daripada media braille terhadap pengetahuan kebersihan gigi dan mulut dengan nilai signifikan 0,000 . <0,. Penulis menyarankan pada penelitian mengkombinasikan media braille dengan media audio agar siswa dapat lebih maksimal dalam menerima pengetahuan kebersihan gigi dan mulutnya. DAFTAR PUSTAKA