ISSN: 2655-8491 Vol. 1 No. 1 (Januari, 2. KAJIAN ETNOGRAFI MASYARAKAT BANJAR DI ZAMAN SULTAN SURIANSYAH TERHADAP NOVEL TEGAKNYA MESJID KAMI KARYA TAJUDDIN NOOR GANIE AKHMAD SYAKIR Program Studi Pendidikan Bahasa Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin Email: ahmadsyakir02@gmail. ABSTRAK Sastra adalah bagian integral kebudayaan, menceritakan berbagai aspek kehidupan dengan cara imajinatif kreatif, sekaligus masuk akal. Melalui karya sastra dapat dibayangkan tingkat kemajuan kebudayaan, gambaran tradisi yang sedang berlangsung serta kehidupan masyarakat yang telah dicapai pada masa tertentu. Novel Tegaknya Masjid Kami karya Tajuddin Noor Ganie adalah salah satu karya sastra yang menceritakan tentang masyarakat Banjar di zaman Sultan Suriansyah. Oleh karena itu, untuk mengetahui gambaran tradisi dan kebudayaan zaman yang bersejarah dari Kalimantan Selatan tersebut, maka peneliti tertarik mengkaji etnografi masyarakat Banjar di zaman Sultan Suriansyah dalam novel Tegaknya Masjid Kami. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Metode ini digunakan untuk memberi gambaran secara objektif tentang aspek etnografi dalam novel Tegaknya Masjid Kami karya Tajuddin Noor Ganie. Hasil penelitian ini mendeskripsikan tentang . sistem bahasa yang meliputi, nama/ Julukan dan gelar kebangsawanan, . sistem mata pencaharian yaitu meramu dan mencari ikan, . organisasi sosial seperti aturan pemerintahan dan aturan pesta . sistem kepercayaan seperti upacara adat dan mitos. Kata kunci: masyarakat Banjar. Sultan Suriansyah, etnografi ISSN: 2655-8491 Vol. 1 No. 1 (Januari, 2. PENDAHULUAN Novel Tegaknya Masjid Kami karya Tajuddin Noor Ganie ini tadinya adalah sebuah cerita bersambung . yang diterbitkan oleh Radar Banjarmasin selama 25 kali terbit . disi 16 Januari-9 Februari Cerber ini banyak mendapat sambutan yang hangat dari pembaca di Kalsel. Ini selain pemuatan cerber masih terbilang hal baru untuk media koran di Kalsel, cerber yang disajikan oleh penulis juga sangat menarik karena berlatar sejarah kerajaan Banjar yang kaya dengan kearifan dan mitos-mitos. Oleh karena itu. Peneliti tertarik menulis tentang kajian etnografi dalam novel Tegaknya Masjid Kami karya Tajuddin Noor Ganie karena di dalamnya ditemukan paparan tentang etnografi orang Banjar seperti sistem bahasa, sistem mata Etnografi berasal dari kata ethos, yaitu bangsa atau suku bangsa dan graphein yaitu tulisan atau uraian. Etnografi adalah kajian tentang kehidupan dan kebudayaan suatu masyarakat atau etnik, misalnya tentang adat-istiadat, kebiasaan, hukum, seni, religi, bahasa. Bidang kajian yang sangat berdekatan dengan etnografi adalah etnologi, yaitu kajian perbandingan tentang kebudayaan dari berbagai masyarakat atau Etnografi antropologi pada dasarnya merupakan kegiatan peneliti untuk memahami cara orang-orang berinteraksi dan bekerjasama melalui fenomena teramati kehidupan sehari-hari. Etnografi adalah pelukisan yang sistematis dan analisis suatu kebudayaan kelompok, masyarakat atau suku bangsa yang dihimpun dari lapangan dalam kurun waktu yang sama (Purnanto, 2007:. Untuk merinci unsur-unsur bagian dari suatu kebudayaan, sebaliknya dipakai daftar unsur-unsur kebudayaan universal, yaitu . bahasa, . sistem teknologi, . sistem ekonomi, . organisasi sosial, . sistem pengetahuan, . kesenian, dan . Karena unsur-unsur Sebagai cabang kesenian, sastra berfungsi memperjelas, memperdalam, dan terhadap kehidupan. Melalui karya sastra dapat dibayangkan tingkat kemajuan kebudayaan, gambaran tradisi yang sedang berlangsung serta kehidupan masyarakat yang telah dicapai pada masa tertentu. Sastra adalah bagian integral kebudayaan, menceritakan berbagai aspek kehidupan dengan cara imajinatif kreatif, sekaligus masuk akal. Seperti disinggung di mempermasalahkan karya sastra dalam hubungannya dengan manusia sebagai penghasil kebudayaan. Manusia yang dimaksudkan adalah manusia di dalam karya, khususnya sebagai tokoh-tokoh. Dalam hubungan inilah karya sastra merupakan studi multikultural sebab melalui karya sastra dapat dipahami keberagaman manusia dengan kebudayaannya. Sastra Indonesia modern, sejak Balai Pustaka hingga sekarang jelas telah menceritakan keberadaan berbagai suku, ras, agama, dan adat-istiadat. Dengan membaca karya sastra dapat dipahami kebudayaan Kalimantan. Sunda. Jawa. Bali, dan sebagainya. Kebudayaan Jawa jelas tidak homogen, melainkan menampilkan berbagai macam kebudayaan dengan ruang lingkup yang lebih kecil demikian juga Nurgiyantoro . menyatakan dalam dunia kesastraan sering ada usaha untuk mencobabedakan antara novel serius dengan novel populer. Kita dapat saja mencobabedakan antara novel serius Namun, bagaimanapun AuadanyaAy perbedaan itu tetap saja kabur, tidak jelas benar batasbatas pemisahnya. Ciri-ciri yang ditemukan dipertentangkan dengan novel populer sering juga ditemui pada novel-novel populer, atau sebaliknya. ISSN: 2655-8491 Vol. 1 No. 1 (Januari, 2. kebudayaan bersifat universal maka, dapat dideskripsikan juga mengandung aktivitas adat-istiadat, pranata-paranata sosial dan benda-benda kebudayaan yang dapat digolongkan ke dalam salah satu dari ketujuh unsur universal tadi. Para ahli antropologi dapat memakai sistem tata urut dari unsur-unsur sesuai dengan selera dan perhatian mereka masing-masing. Sistem yang paling lazim dipakai adalah sistem dari unsur yang paling konkret ke yang paling (Koentjaraningrat, 2005:. mendeskripsikan fakta-fakta yang kemudian disusul dengan analisis. Melihat metode yang digunakan dalam penelitian, maka teknik yang digunakan adalah teknik deskriptif-interpretatif. Teknik analisis deskriptif untuk mendeskripsikan kajian etnografi dilakukan dengan cara mendeskripsikan teks-teks yang bermuatan kajian etnografi kemudian disusul dengan Setelah uji data terkumpul dan menginterpretasikan untuk menganalisis data yang dilakukan melalui tahapantahapan pengorganisasian data, yaitu menuju pada proses pengaturan dan pemilihan data yang dilandasi dengan hubungan antara pilihan secara asosiatif, . interpretasi mengacu pada penelitian data, pemaknaan dengan ciri signifikan, selanjutnya dihubungkan dengan idealisasi menyangkut deskripsi yang dihasilkan, . evaluasi, yaitu merefleksikan data dengan pemahaman dan pengetahuan penelitian. Kebanyakan hasil tulisannya banyak menggambarkan etnis orang Banjar. Ada beberapa daftar buku yang ditulis oleh Tajuddin Noor Ganie tentang etnis orang Banjar Kamus Pribahasa Banjar. Kamus Mimpi Orang Banjar. Mengenal benda-benda Batuah Magis dalam Religi Orang Banjar di Kalimantan Selatan. Puisi Banjar Genre Lama Bercorak Madihin. Mantra. Pantun. Pribahas dan Syair. Sasirangan Kain Khas Tanah Banjar,Tengah Malam di Kuala Lumpur, dan Tragedi Intan Trisakti. Oleh karena itu, untuk mengetahui gambaran tradisi dan kebudayaan zaman yang bersejarah dari Kalimantan Selatan tersebut, maka peneliti tertarik mengkaji etnografi masyarakat Banjar di zaman Sultan Suriansyah dalam novel Tegaknya Masjid Kami karya Tajuddin Noor Ganie. HASIL DAN PEMBAHASAN METODE Hasil penelitian ini mendeskripsikan tentang . sistem bahasa yang meliputi, nama/ Julukan dan gelar kebangsawanan, . sistem mata pencaharian yaitu meramu dan mencari ikan, . organisasi sosial seperti aturan pemerintahan dan aturan pesta . sistem kepercayaan seperti upacara adat dan mitos. Menurut Ratna . metode dalam karya sastra sangat diperlukan karena merupakan suatu jalan atau cara kerja untuk memahami suatu objek yang menjadi sasaran penelitian. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. Metode ini digunakan dalam penelitian untuk memberi gambaran secara objektif tentang aspek etnografi dalam novel Tegaknya Masjid Kami karya Tajuddin Noor Ganie. Metode deskriptif Sistem Bahasa Bahasa atau sistem perlambangan manusia yang lisan maupun tertulis untuk berkomunikasi satu dengan yang lain memberikan deskripsi tentang ciri-ciri terpenting dari bahasa yang diucapkan oleh suku bangsa yang bersangkutan, beserta variasi-variasi dari bahasa itu. Ciri-ciri yang mencolok dari bahasa suatu suku bangsa dalam novel ini dapat diuraikan sebagai Nama/Julukan ISSN: 2655-8491 Vol. 1 No. 1 (Januari, 2. Seorang tokoh sakti mandraguna yang beranama Awirusan mendapat tugas menjaga pintu masuk di ujung utara kota Muara Kuin. diberi gelar Awi Tadung, berikut mata pencaharian dalam novel ini, yaitu: meramu, dan mencari ikan. Meramu Meramu merupakan salah satu mata pencaharian masyarakat Banjar di zaman Sultan Surianysah, berikut Nama asli Awi Tadung adalah Awirusan. Nama atau lebih tepatnya Awi Tadung Awirusan memiliki seekor ular yang selalu melilit dipergelangan tangan kirinya. Ular yang dimaksud warnanya hitam legam dan merupakan jenis ular berbisa yang terkenal paling ganas. Dikalangan warga negara Kerajaan Banjar, ular jenis ini lajim disebut sebagai tadung mura . lar kobr. Tapi yang lebih uniknya lagi ular yang melilit tangan kiri Awi Tadung ini bukanlah ular biasa, tapi adalah ular buntung . lar yang tidak (STB/nma, 2010:. Secara fisik. Sutakil dan Sutakul memang tidak meyakinkan sebagai peramu hasil hutan yang ulung. Tetapi kenyataan menunjukkan hasil hutan yang mereka bawa pulang tidak kalah banyak dibandingkan dengan hasil hutan yang diperolah para peramu lainnya yang bertubuh besar kekar dan berotot (SMP/mrm, 2010:. Lamitak, lamitik dan Lamituk adalah 3 orang bersaudara yang Kampung Taniran. Ketiganya bekerja sebagai sebagai peramu hasil hutan professional yang sudah sering keluar masuk hutan lebat. Berbeda dengan harihari biasanya, kali ini mereka kembali masuk hutan untuk meramu hasil hutan sebagaimana bisanya, kali ini meraka kembali masuk hutan bukan untuk meramu hasil hutan sebagaimana biasanya. Tapi, untuk mencari 4 batang pohon ulin berukuran panjang sekitar 20 meter dengan besar sekitar sepemeluk orang dewasa (SMP/mrm, 2010:. Gelar Kebangsawanan Gelar anak raja atau atau gelar orang besar dalam kerajaan disebut dengan Pangeran, berikut kutipannya: AuTidak bisa!,Ay teriak Pangeran Temanggung tiba-tiba. Aku lebih Pangeran Samudera. Aku ayahanda yang masih hidup, sedangkan pangeran Samudera cuma cucu ayahanda dan lagi usianya masih terlalu muda untuk menjadi raja. Masih ingusan, masih bau kencur, baru 20 tahun. Ay (STB/gkb, 2010:. Kutipan di atas menunjukkan bahwa meramu merupakan sesuatu yang sangat menantang, membutuhkan fisik yang sangat serta keprofesionalan, diperlukan untuk pembangunan rumah serta tempat ibadah seperti masjid, berikut Sistem Mata Pencaharian Untuk memudahkan peneliti dalam mengungkapkan sistem mata pencaharian, peneliti menggunakan jalan keluar dengan menelusuri alur cerita. Ada beberapa sistem Mereka peserta sayembara pencarian 4 batang pohon ulin untuk dijadikan ISSN: 2655-8491 Vol. 1 No. 1 (Januari, 2. sebagai tiang guru masjid yang akan Sultan Suriansyah (SMP/mrm, 2010:118-. Dalam masyarakat Banjar pada zaman Sultan Suriansyah diperintah oleh seorang Raja yang disebut dengan Maharaja, berikut kutipannya. Mencari Ikan Kerajaan Daha/Banjar di kelilingi sungai, sehigga salah satu mata pencaharian adalah mencari ikan dengan meyusuri sungai-sungai besar dan kecil, berikut kutipannya . Menurut ketentuan yang sudah ditradisikan secara turun temurun di Tanah Banjar, orang yang paling berhak menggantikan raja tua adalah putera tertuanya yang masih hidup, bukan cucunya. Tapi, tradisi itu bisa saja dilanggar dan hak putera tertua itu bisa saja gugur jika raja tua yang berkuasa menetapkan keputusan lain sebagai mana yang dilakukan oleh Maharaja Sukarama (ORS/apn, 2010:. Dari hari kehari pekerjaannya tidak lain adalah mencari ikan sambil menyusuri sungai-sungai besar dan kecil yang mengalir di wilayah paling hilir Kerajaan Daha, terutama sekali di Sungai Barito. Sungai Kuin, dan Sungai Martapura (SMP/min, 2010:. Disetiap wilayah dalam kerajaan dipimpin oleh seorang Patih, berikut Kutipan di atas menggambarkan kehidupan masyarakat Banjar tidak jauh dari sungai. Setelah mendapatkan Banjar menjajakan hasil tangkapannya Patih Masih adalah orang yang paling berkuasa di wilayah paling hilir Kerajaan Negara Daha ini, karena ia adalah Kepala Daerah Muara Banjar itu sendiri. (ORS/apn, 2010:. Sejak pagi buta. Pangeran Samudera sudah berangkat mencari ikan dan siang hari sekitar pukul 00 ia sudah mengayuh tangkapannya hari itu (SMP/min, 2010:. Aturan Pesta Masyarakat Banjar di zaman Sultan Suriansyah selamatan besar-besaran sebagai rasa syukur kehadirat Allah swt, dengan meggelar pembacaan doa selamat, berikut kutipannya. Sistem Organisasi Sosial Setiap kehidupan masyarakat diatur oleh adat-istiadat dan aturan-aturan mengenai berbagai macam kesatuan di dalam lingkungan tempat individu hidup dan bergaul dari hari ke hari. Berbagai sistem organisasi sosial dalam novel ini dapat diuraikan sebagai berikut: Sebagai tanda syukur kehadirat Allah diselenggarakan acara selamatan ssecara besar-besaran (ORS/atp, 2010:. Aturan Pemerintahan Khatib Dayan yang sebagai pembaca doa ISSN: 2655-8491 Vol. 1 No. 1 (Januari, 2. berkali-kali mengucapkan untaian doa dibawah ini: AuYa Allah. Tegakkanlah Masjid Kami. Ay(ORS/atp, 2010:187-. masjid dimaksud dilakukan oleh 4 tokoh sakti mandraguna, yakni Aria Malangkan. Patih Balit. Patih Mahit, dan Patih Muhur . asing-masing tokoh memancangkan 1 tiang gur. (RLG/upa 2010:. Sistem Religi Masyarakat yang terdiri dari beribu-ribu suku bangsa masing-masing tentu berbedabeda pola susunannya, dan karena itu bentuk religinya pun berbeda-beda, yang secara nyata tampak pada upacara-upacara yang mereka lakukan masing-masing, pada kepercayaannya, dan pada mitologinya. Upacara Adat Penyerahan kekuasaan sebagai Raja di zaman Sulatan suriansyah dilakukan dengan Upacara penyerahan mahkota pusaka diatas panggung penobatan, berikut kutipannya. Mitos Masyarakat Banjar di zaman Sultan Suriansyah mendapat kutukan ketika melanggar Pandita Maharaja Sukamara, berikut kutipannya. Penobatan Pangeran Temenggung itu sendiri tidak mencoba mengenakan mahkota terhuyung-huyung. Mahkota pusaka itu terlalu berat baginya, sehingga menahannya Orang-orang yang menyaksikan hal itu langsung Maharaja Sukarama (RLG/mts, 2010:. Penobatan Pangeran Temenggung itu sendiri tidak mencoba mengenakan mahkota terhuyung-huyung. Mahkota pusaka itu terlalu berat baginya, sehingga menahannya (RLG/upa 2010:. Sutakil dan Sutakul mempercayai mantera, bahkan dengan melapalkan ratusan bahkan ribuan mantera, mereka dapat menaklukkan jin kapir sehingga jin kapir taklukkan mereka perintahkan unutuk meramu di tengah hutan, berikut kutipannya. Pada Pangeran Samudera dapat dengan pusaka (RLG/upa 2010:. Pembangunan Kerajaan Banjar upacara pemancangan 4 tiang guru oleh 4 tokoh sakti mandraguna, berikut Selama ini keduanya memang tidak mengandalkan diri pada kekuatan fisik semata. Tapi lebih merapalkan ratusan bahkan ribuan bait mantera. Tubuh keduanya tidaklah kekar berotot tapi kurus kerempeng seperti bilah lidi. Hanya A. Sultan Suriansyah kemudian menyelenggarakan upacara khusus pemancangan tiang guru masjid Kerajaan Banjar. Sesuai dengan rencana, pemancangan 4 tiang guru ISSN: 2655-8491 Vol. 1 No. 1 (Januari, 2. dengan mengandalkan kekuatan magis pada bait-bait mantera yang menaklukkan jin kapir mengganggu peramuan hasil hutan (RLG/mts, 2010:. Saguisuk. Benar saja bagian bawah hidung ketiga gadis misterius itu tampak rata tidak ada garis berlubang sama sekali. Tidak salah lagi ketiga gadis misterius ini memang adalah manusia jelmaan macan (RLG/mts, 2010:126-. Sutakil dan Sutakul terjebak oleh jebakan Maskabal dan Maskabil yakni mereka memakan potongan kulit pohon ulin yang diolesi dengan sejenis minyak yang bila ditelan manusia maka ia akan berubah wujud menjadi naga, berikut Lamitik dan Lamituk pun dikejar oleh tiga gadis jelmaan macan tersebut sehingga membuat mereka berlari, namun mereka dapat dikejar oleh tiga jelmaan macan tersebut karena Lamitik dan Lamituk memakan ketan yang diberikan oleh tiga gadis jelmaan macan, sehingga kemanapun mereka berlari maka ketan yang berada didalam perutnya pun langsung memberi tahu keberadaannya, berikut kutipannya. AuYa. Kalian berdua telah memakan potongan kulit pohon ulin yang sengaja kami pasang sebagai jebakan ketika kalian sedang tertidur pulas, potongan kulit pohon ulin yang kalian panggang dan makan itu sudah kami olesi dengan sejenis manusia itu berubah wujud menjadi naga seperti kami,Ay Maskabal (RLG/mts, 2010:. AuOiiA!Ay Suara sahutan itu sesungguhnya berasal dari kue katan pemberian Saguisik yang tadi dimakan Lamitik . ang kini telah berada di dalam perutny. (RLG/mts, 2010:. Sama halnya dengan Sutakul dan Sutakil, mendaftarkan diri sebagai peserta syembara berikutnya, yakni : Lamitak. Lamitik dan Lamituk juga menjelajahi hutan di kaki Gunung Meratus disana mereka bertemu dengan tiga gadis jelmaan macan, berikut kutipannya Deg. Tiba-tiba dada Lamitak berdegup keras. Ada rasa takut yang tiba-tiba menyergap dadanya. mulai menaruh curiga, janganjangan ketiga gadis ini adalah jelmaan macan. Ia lalu mencuri pandang ke arah bagian bawah hidung Saguisak. Saguisik, dan Begitu pula halnya yang terjadi dengan Lamituk, lelaki muda ini gagal meloloskan diri dari kejaran Saguisuk, maka kue ketan pemberian saguisuk yang dimakannya tadi . ang kini AuOiA!Ay(RLG/mts, 2010: . Tidak jauh berbeda dengan Lamitik dan Lamituk. Lamitak pun dikejar oleh jelmaan macan, namun yang berbeda ia beruntung hanya menyentuh ISSN: 2655-8491 Vol. 1 No. 1 (Januari, 2. PuahA jadilah kalian abuAy (RLG/mts, 2010: . kue ketan yang di sodorkan, sehingga jari telunjuknya yang memberi tahu keberadaanya kepada jelmaan macan, berikut kutipannya. Setiap Lamitak semak-semak, maka Saguisak akan memanggil namanya dan panggilan itu langsung disahuti oleh jari telunjuknya. Tanpa dikehendaki jari telunjuknya itu memang akan selalu menyahuti panggilan Saguisak, karena dengan jari telunjuk itu telah menyentuh kue ketan yang disodorkan Saguisak. Akibatnya, ke mana pun ia bersembunyi, tempat persembunyiaannya itu selalu berhasil ditemukan oleh Saguisak (RLG/mts, 2010: 132. SIMPULAN Dari hasil analisis tersebut Kajian Etnografi Masyarakat Banjar di Zaman Sultan Suriansyah dalam Novel Tegaknya Masjid Kami, mendeskripsikan tentang . sistem bahasa yang meliputi, nama/ Julukan dan gelar kebangsawanan, . sistem mata pencaharian yaitu meramu dan mencari ikan, . organisasi sosial seperti aturan pemerintahan dan aturan pesta . sistem kepercayaan seperti upacara adat dan DAFTAR RUJUKAN Koentjaraningrat. Pengantar Antropologi Pokok-pokok Etnografi. Jakarta: PT Rineka Cipta. Nurgiyantoro. Burhan. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Mengetahui dua anaknya mati, yakni: Lamitik dan Lamituk dari Lamitak ayahnya pun mempersiapkan upacara pembalasan dendam kepada tiga gadis jelmaan macan, berikut kutipannya. Segera setelah itu ayah Lamitak Ayah Lamitak dengan khusuknya membaca manteramantera siluman(RLG/mts, 2010: . Purnanto. Dwi. Etnografi Komunikasi dan Register. Jakarta: Raja Grafindo Persada. Ratna. Kutha Nyoman. Teori. Metode, dan teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Belajar. AuSaguisak. Saguisik dan Saguisuk. Aku tahu asal-usul Kalian bertiga adalah anak Sangatak dan Ssangitik. Berkat aku tahu asal-usul kalian, maka aku dapat mengutuk Kutukku Kalian kukutuk jadi