P a g e | 20 Jurnal Kesehatan Primer Vol. No. May pp. P-ISSN 2549-4880. E-ISSN 2614-1310 Journal DOI: https://doi. org/10. 31965/jkp Website: http://jurnal. id/index. php/jkp Body Mass Index. Age, and Gender on Bone Mineral Density in the Elderly Elita Halimsetiono Fakultas Kedokteran. Universitas Surabaya. Indonesia Email: elitahalims@staff. ARTICLE INFO Artikel Histori: Received date: January/10/2025 Revised date: April/11/2025 Accepted date: May/30/2025 Keywords: Bone mineral density, body mass index, age, gender, elderly ABSTRACT/ABSTRAK Introduction: Osteoporosis is a chronic bone disease caused by reduced bone mass and impaired bone structure. This disease is a widespread and serious public health problem. The most common consequences of this condition are hip and vertebral fractures, which can carry a substantial risk of premature morbidity and mortality. The best strategy to overcome osteoporosis is prevention by identifying risk factors and early This article aims to provide an overview of the influence of body mass index (BMI), age, and gender on bone mineral density (BMD) in the elderly. Methods: This article is a literature review with a search for literature sources using the keywords bone mineral density, body mass index, age, gender, and elderly in the Google Scholar. PubMed. PMC. Researchgate, and Sciencedirect databases. The inclusion criteria are online and full-text scientific articles in the last 10 years in international journals. Results: Several studies have shown that the prevalence of osteoporosis is higher in people with low BMI, but other studies have found a decrease in BMD in obese subjects. with increasing age there is a decrease in osteoclastogenesis and osteoclast activity, and increased bone females are more susceptible to osteoporosis because decreased estradiol during menopause causes a sharp increase in bone turnover and resorption. Conclusion: There are mixed findings regarding the relationship between BMI and BMD. Age is a factor that needs to be considered because a person's chances of developing osteoporosis will increase with age. Females are more susceptible to osteoporosis. Kata Kunci: Densitas mineral tulang, indeks massa tubuh, usia, jenis kelamin, lansia P a g e | 21 Pendahuluan: Osteoporosis adalah penyakit tulang kronis yang disebabkan oleh berkurangnya massa tulang dan gangguan struktur tulang. Penyakit ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang meluas dan serius. Konsekuensi yang paling umum dari kondisi ini adalah patah tulang pinggul dan tulang belakang, yang dapat membawa risiko morbiditas dan mortalitas dini yang substansial. Strategi terbaik untuk mengatasi osteoporosis adalah melakukan pencegahan dengan mengidentifikasi faktor risiko penyebab dan diagnosis Artikel ini bertujuan memberikan gambaran tentang pengaruh indeks massa tubuh (IMT), usia, dan jenis kelamin terhadap densitas mineral tulang (DMT) pada lansia. Metode: Artikel ini adalah telaah pustaka dengan penelusuran sumber pustaka menggunakan kata kunci bone mineral density, body mass index, age, gender, dan elderly pada database Google Scholar. PubMed. PMC. Researchgate, dan Sciencedirect. Kriteria inklusi berupa artikel ilmiah online dan full text 10 tahun terakhir pada jurnal internasional. Hasil: Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prevalensi osteoporosis lebih banyak dijumpai pada orang dengan IMT rendah, namun penelitian lain menemukan adanya penurunan DMT pada subyek dengan obesitas. seiring bertambahnya usia terjadi penurunan diferensiasi dan aktivitas osteoblas, peningkatan osteoklastogenesis dan aktivitas osteoklas, serta peningkatan resorpsi tulang. jenis kelamin wanita lebih rentan terhadap osteoporosis disebabkan penurunan estradiol saat menopause menyebabkan peningkatan tajam dalam pergantian dan resorpsi tulang. Kesimpulan: Terdapat temuan yang beragam mengenai hubungan antara IMT dan DMT. Usia merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan karena peluang seseorang untuk mengalami osteoporosis akan meningkat seiring bertambahnya usia. Jenis kelamin perempuan lebih rentan terhadap osteoporosis. CopyrightA 2025 Jurnal Kesehatan Primer All rights reserved Corresponding Author: Elita Halimsetiono Fakultas Kedokteran. Universitas Surabaya. Indonesia Email: elitahalims@staff. P a g e | 22 PENDAHULUAN Osteoporosis adalah penyakit tulang kronis yang disebabkan oleh berkurangnya massa tulang dan gangguan struktur tulang (Tariq et al. , yang keduanya dapat meningkatkan risiko patah tulang karena kerapuhan (Y. Li, 2. Pada tahun 2030, diperkirakan akan terjadi peningkatan prevalensi osteoporosis dari sekitar 53 juta menjadi lebih dari 70 juta orang (Fasihi et , 2. , sehingga penyakit ini merupakan masalah kesehatan masyarakat yang meluas dan serius, yang terutama terjadi di negara-negara industri dan berkembang. Konsekuensi yang paling umum dari kondisi ini adalah patah tulang pinggul dan tulang belakang, yang dapat membawa risiko morbiditas dan mortalitas dini yang substansial. Strategi terbaik untuk mengatasi osteoporosis adalah melakukan pencegahan dengan mengidentifikasi faktor risiko penyebab dan diagnosis dini (EscobioPrieto et al. , 2. Indeks massa tubuh (IMT), usia lanjut, menopause, gaya hidup yang kurang gerak, merokok, dan penyakit seperti hipertiroidisme merupakan faktor risiko dari osteoporosis (Thulkar et al. , 2. Diperkirakan 9 juta patah tulang yang berhubungan dengan osteoporosis terjadi setiap tahunnya di seluruh dunia (Xuan et al. , 2020. Yen et al. , 2. Risiko patah tulang akibat kerapuhan adalah sekitar 50% pada wanita dan 25% pada pria berusia di atas 50 tahun (C. Li et , 2. Meningkatnya kerapuhan dan risiko jatuh juga disebabkan oleh osteoporosis (Escobio-Prieto et al. , 2023. Nicholson et al. , yang mengakibatkan tingginya biaya kesehatan dan berkurangnya kualitas hidup (Escobio-Prieto et al. , 2. Pada tahun 2050, prevalensi patah tulang akibat kerapuhan secara global diprediksi akan meningkat sebesar 310% pada pria dan 240% pada wanita, sehingga diperlukan skrining dan identifikasi dini untuk mengantisipasi masalah kesehatan masyarakat utama yang akan timbul akibat peningkatan yang mengkhawatirkan ini (C. Li et al. , 2. Indeks massa tubuh (IMT) adalah alat ukur antropometri yang populer dan dapat diandalkan untuk menilai status gizi dan kesehatan seseorang, serta mengukur obesitas pada pria dan wanita dewasa (Aryal, 2. IMT adalah ukuran numerik sederhana untuk menentukan apakah seseorang gemuk atau kurus. IMT digunakan untuk menentukan kategori berat badan dan menyaring masalah kesehatan yang berhubungan dengan berat badan, sehingga IMT juga digunakan dalam menentukan kebijakan Skala IMT mengkategorikan seseorang sebagai kurang berat badan, normal, kelebihan berat badan, obesitas, atau obesitas berat (Mohajan & Mohajan, 2. IMT juga dianggap sebagai indikator malnutrisi. Seseorang yang terlalu kurus karena kurang berat badan dapat membahayakan kesehatan, karena orang yang kurang berat badan umumnya rentan terhadap infeksi dan osteoporosis (Mohajan & Mohajan, 2. Seiring dengan meningkatnya harapan hidup, jumlah orang lanjut usia juga meningkat dan prevalensi osteoporosis juga meningkat, yang sangat terkait dengan penuaan, sehingga osteoporosis menjadi penyakit ketujuh yang paling sering terjadi di seluruh dunia (C. Li et al. Salah satu penyebab utama nyeri tulang, patah tulang, kecacatan, dan kematian akibat patah tulang pada orang lanjut usia adalah osteoporosis (Kim et al. , 2018. Li et al. , 2. Peningkatan risiko patah tulang akibat penuaan terjadi karena berkurangnya massa, kualitas, dan kekuatan tulang (Karma et al. , 2. Peningkatan risiko patah tulang sekunder tambahan dapat terjadi akibat berkurangnya densitas mineral tulang (DMT) (Watts & Manson, 2. , sehingga perubahan DMT perlu diperhitungkan dalam memprediksi risiko patah tulang akibat osteoporosis pada orang lanjut usia (Escobio-Prieto et al. , 2. Pada wanita berusia antara 40 tahun dan menopause, kehilangan fisiologis tulang kortikal dan trabekular tahunan masing-masing sekitar 0,3% hingga 0,5% untuk tulang belakang dan P a g e | 23 0,5% untuk tulang paha proksimal (Kopiczko. Wanita setelah menopause rentan mengalami osteoporosis karena penurunan kadar hormon estrogen yang bertanggung jawab untuk keseimbangan kalsium dalam tubuh. Studi di Eropa menunjukkan bahwa lebih dari 300 juta orang mengalami osteoporosis pada usia pascamenopause, dan 3,79 juta orang telah mengalami kejadian patah tulang (Majeed et al. Setelah menopause, proses kehilangan massa tulang akan meningkat hingga 23% per tahun, dan pada wanita dengan faktor risiko osteoporosis, proses kehilangan tulang akan lebih dominan daripada proses produksi tulang (Majeed et al. , 2. Banyak penelitian menemukan bahwa strategi terbaik untuk mengatasi osteoporosis mengidentifikasi faktor risiko penyebab dan diagnosis dini. Sehubungan dengan hal itu, maka penulis ingin memberikan gambaran tentang pengaruh indeks massa tubuh (IMT), usia, dan jenis kelamin terhadap densitas mineral tulang (DMT) pada lansia. METODE Artikel ini adalah telaah pustaka dengan penelusuran sumber pustaka menggunakan kata kunci bone mineral density, body mass index, age, gender, dan elderly pada database Google Scholar. PubMed. PMC. Researchgate, dan Sciencedirect. Kriteria inklusi berupa artikel ilmiah online dan full text 10 tahun terakhir pada jurnal internasional. Sumber pustaka yang sesuai kriteria inklusi dan bertemakan tentang IMT, usia, dan jenis kelamin terhadap DMT pada lansia berjumlah 58 artikel. HASIL Tabel 1. Hasil Telaah Artikel Indeks Massa Tubuh. Usia, dan Jenis Kelamin terhadap Densitas Mineral Tulang pada Lansia No. Judul. Peneliti, dan Tahun Gender Disparities in Osteoporosis (Alswat. The between body mass mineral density in older adults: a crosectional study of population in Beijing (Cui et al. , 2. Effects of age on bone mineral density in active men (Fasihi et al. , 2. Association between Adiposity and Bone Mineral Density in Adults: Insights from a National Survey Analysis (Jiao et al. Hasil Penelitian Wanita kehilangan tulang pada usia lebih dini dan pada tingkat yang lebih cepat daripada pria. Wanita berusia Ou 50 tahun osteoporosis empat kali lebih tinggi dan tingkat osteopenia dua kali lebih tinggi, dan mereka cenderung mengalami patah tulang 5 - 10 Terdapat korelasi positif yang kuat antara IMT DMT lumbar/femoral menurut model regresi Mempertahankan IMT yang tepat tetapi tidak meningkatkan DMT. DMT menurun dengan Setelah berusia jumlah DMT semakin Pada orang tua, konsekuensi penurunan pembentukan tulang. Hubungan antara DMT dan obesitas bersifat dua arah dan mencakup perbedaan jenis kelamin dan usia. P a g e | 24 Bone mineral density in old age: the influence of age at and habitual past and (Kopiczko. Association between obesity and bone mineral density in middleAcaged adults (Li, 2. The Saturation Effect of Body Mass Index on Bone Mineral Density for People Over 50 Years Old: A Cross-Sectional Study of the US Population (Ma et al. , 2. The Comparison of the Total Body Mass between Pre and Postmenopausal Women in Mosul City (Majeed et al. , 2. Relationship between bone mineral density and body mass index among patients with diabetes mellitus in Bahrain (Naser et al. Peluang yang jauh lebih rendah untuk DMT normal ditemukan pada wanita dengan status hormonal tertua. Diduga IMT DMT. Namun, hubungan berbentuk U IMT kesehatan tulang pada wanita dan orang kulit Ditemukan hubungan antara nilai saturasi IMT dan DMT pada orang yang berusia di atas 50 Mempertahankan nilai IMT kelebihan berat badan . ekitar 26 kg/m. DMT yang optimal. Skor-T pada kelompok secara signifikan lebih rendah pada kelompok DMT positif dengan IMT, negatif dengan usia. Effect of Body Mass Index on Bone Mineral Density: A Retrospective Review (Onuoha et al. , 2. Bone Aging. Cellular Senescence. Osteoporosis (Pignolo et al. , 2. Obesity. Type Diabetes and Bone in Adults (Walsh & Vilaca, 2. Body Mass Index may Positively Correlate with Bone Mineral Density of Lumbar Vertebra and Femoral Neck Postmenopausal Females (Wu & Du. The Evaluation IMT yang lebih rendah DMT yang rendah. Jenis kelamin wanita lebih Usia merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan karena subyek setengah baya dan lanjut usia lebih berisiko terkena Perubahan substansial dalam arsitektur tulang ketebalan dan jumlah trabekular, kehilangan tulang kortikal dan peningkatan adipositas sumsum tulang. DMT pada orang gemuk lebih tinggi di semua lokasi, pergantian tulang ukuran kekuatan tulang obesitas baik untuk kekuatan tulang, tetapi meningkat cukup untuk semua patah tulang. Berat badan dan IMT DMT. Wanita dengan IMT rendah mengalami osteopenia. Korelasi negatif yang P a g e | 25 Bone Mineral Density based on Age and Anthropometric Parameters Southeast Chinese Adults: Crosectional Study (Xuan et al. , 2. antara DMT dan usia pada peserta wanita. Beberapa perbandingan wanita dalam kelompok signifikan lebih tua daripada wanita dalam kelompok normal. Densitas Mineral Tulang (DMT) Densitas mineral tulang (DMT) adalah massa materi anorganik . per unit volume tulang (Gomez & Tinoco, 2. DMT merupakan faktor risiko independen untuk fraktur kerapuhan, dan prediktor risiko fraktur pada kasus osteopenia (Escobio-Prieto et al. DMT merupakan standar emas untuk mendiagnosis osteoporosis (Fasihi et al. , 2. Deteksi penyakit ini sebelum terjadinya fraktur kini lebih mudah dilakukan dengan teknologi diagnostik dan fasilitas penilaian yang lebih baik (Fasihi et al. , 2. Beberapa metode, seperti dual X-ray absorptiometry (DXA) dan quantitative ultrasound (QUS), dapat digunakan untuk mengukur DMT (Annamalai & Lal, 2. DXA saat ini diakui sebagai standar emas untuk menilai DMT secara kuantitatif (Hammad, 2016. Xuan et al. , 2. QUS merupakan alat yang berguna untuk pre-skrining dan diagnosis dini osteoporosis (C. et al. , 2. , serta dalam mengevaluasi osteoporosis (Kang & Hong, 2. QUS sering digunakan untuk menghitung DMT kerangka perifer (Annamalai & Lal, 2018. Xuan et al. Jika dibandingkan dengan DXA sebagai alat ukur gold standard dari DMT. QUS merupakan alat deteksi non-invasif yang portabel, relatif murah, dan tidak menggunakan radiasi pengion untuk menentukan risiko patah tulang (Chen et al. , 2021. Kranioti et al. , 2019. Yen et al. , 2. Lebih jauh lagi, pengoperasian perangkat ini juga sederhana karena tidak memerlukan teknisi profesional, sehingga cocok untuk penggunaan klinis yang luas (Chen et al. Li et al. , 2. Penelitian telah menunjukkan bahwa QUS sama sensitifnya dengan DXA, sehingga menjadikannya pengganti yang berguna untuk menentukan prevalensi osteoporosis pada populasi yang cukup besar (Annamalai & Lal, 2. Satu-satunya lokasi anatomi yang dikenali untuk penilaian QUS dan direkomendasikan untuk skrining osteoporosis adalah kalkaneus (Subramaniam et al. , 2. Hal ini dikarenakan kalkaneus sebagian besar terdiri dari tulang trabekular/kanular, dan memiliki sedikit jaringan lunak serta dua permukaan lateral yang dapat memfasilitasi gelombang ultrasound, sehingga memudahkan pengukuran (Krueger et al. , 2018. Li, 2022. Yen et al. , 2. DMT dihitung berdasarkan skor-T setiap individu sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu osteoporosis jika skor-T O -2,5. osteopenia jika skor-T antara -1 dan -2,5. dan normal jika skor-T Ou -1 (Y. Li, 2. Indeks Massa Tubuh (IMT) Secara global, obesitas merupakan masalah kesehatan masyarakat yang serius yang berhubungan dengan sejumlah penyakit (Y. Li. IMT digunakan sebagai metrik untuk mengevaluasi obesitas, di mana IMT yang tinggi berkorelasi kuat dengan DMT baik pada pria maupun pada wanita (Y. Li, 2. Cara pengukuran IMT adalah sebagai berikut: peserta diukur tinggi dan berat badannya dalam keadaan berdiri dan bertelanjang kaki. Tinggi badan diukur menggunakan pita pengukur stadiometer dengan ketelitian A 5 mm. Berat badan diukur menggunakan timbangan elektronik digital yang dikalibrasi hingga ketelitian A 100 gram. IMT dihitung menggunakan rumus IMT = kg/m2, yaitu rasio berat badan . alam kilogra. terhadap tinggi badan . alam meter kuadra. , dan dinilai menurut kriteria yang ditetapkan oleh Centers for P a g e | 26 Disease Control and Prevention, yaitu berat badan kurang, jika nilai IMT O 18,4 kg/m2. badan normal, jika nilai IMT 18,5 - 24,9 kg/m2. kelebihan berat badan, jika nilai IMT 25,0 - 39,9 kg/m2. dan obesitas, jika nilai IMT Ou 40,0 kg/m2 (Zierle-Ghosh & Jan, 2. Di sisi lain, apakah obesitas bersifat diperdebatkan (Fassio et al. , 2. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa prevalensi osteoporosis lebih banyak dijumpai pada orang dengan IMT yang rendah, dan peningkatan DMT lebih banyak dijumpai pada orang dengan IMT yang tinggi, namun penelitian lain menemukan adanya penurunan DMT pada subyek dengan obesitas (Wu & Du, 2. Dari beberapa penelitian terdahulu, terdapat beberapa kemungkinan mekanisme yang dapat menjelaskan hubungan positif antara IMT dan DMT pada lansia. Pertama, penumpukan lemak yang berlebihan dan berat badan yang tinggi dapat memberikan beban mekanik statis yang lebih besar pada tulang, sehingga jaringan perubahan akibat gaya mekanik yang diberikan oleh tubuh (Fang et al. , 2019. Ma et al. , 2. Pembebanan jaringan tulang menunda apoptosis osteosit, dan sinyal stres akan mendorong diferensiasi osteoblas sekaligus menekan fungsi osteoklas (Jiao et al. , 2. Kedua, hormonhormon seperti estrogen, leptin, dan insulin akan disintesis dan dilepaskan dalam jumlah yang lebih besar pada individu yang kelebihan berat badan atau obesitas. Hormon-hormon ini memiliki efek positif pada DMT karena dapat mencegah remodeling dan resorpsi tulang (Devlin et al. , 2016. Krishnan & Muthusami. Ketiga, androgen jaringan adiposa akan meningkatkan massa tulang (Ma et al. , 2. Jalur molekuler yang kompleks mendasari peran estrogen dalam homeostasis tulang. Efek estrogen pada sel tulang dewasa telah menjadi subyek pada beberapa penelitian, yang membantu menjelaskan bagaimana osteoporosis diperburuk oleh kekurangan estrogen (Laurent et , 2019. Plotkin & Bruzzaniti, 2. Pertama, ada sitokin pro-osteoklastik penting yang diproduksi sel-T dan ditekan oleh estradiol, yang mengurangi peradangan (Pietschmann et al. Sebagai respons terhadap kekurangan estrogen, ada korelasi antara peningkatan perkembangan dan aktivitas osteoklas serta resorpsi tulang (Amarasekara et al. , 2018. Yao et , 2. Dengan menghambat jalur faktor-B nuklir (NF-B), estradiol juga mengurangi peradangan (Zhang et al. , 2. Kedua, estrogen menyebabkan lebih banyak osteoklas penyerap tulang mengalami apoptosis. Melalui pengikatan ke ER, estradiol menstimulasi tingkat transkripsi ekspresi ligan Fas (FasL) dalam osteoblas. Apoptosis osteoklas akan terjadi karena aktivasi sinyal Fas/FasL pada jaringan tulang (Zhang et al. Estradiol juga menurunkan jumlah dan osteoklastogenesis (Zhang et al. , 2. Ketiga, dengan meningkatkan protein antiapoptotik limfoma sel B-2 (Bcl-. , aktivitas pro-osteoblastik estradiol mendorong pertumbuhan tulang baru (Zhang et al. , 2. 17-estradiol menurunkan faktor transkripsi terkait runt 2 (RUNX. dan meningkatkan ekspresi miR-320-3p, sehingga kerusakan oksidatif pada osteoblas dapat dikurangi (Xu et al. , 2. Lebih jauh lagi, indikator perkembangan osteoblas, seperti alkali fosfatase dan alkali fosfatase spesifik tulang, dan peningkatan langsungnya oleh estradiol, menghasilkan peningkatan osteoblas dan produksi tulang baru (Zhang et al. , 2. P a g e | 27 perkembangan sel punca mesenkimal menjadi adiposit (Khan et al. , 2. Akumulasi adiposit sumsum tulang yang tidak tepat dalam sistem rangka dapat menyebabkan ketidakseimbangan aktivitas osteosit dan penurunan pergantian Hal ini dapat menjelaskan hubungan negatif antara IMT dan DMT. Alasan lain yang mungkin adalah peradangan yang disebabkan oleh obesitas (Savvidis et al. , 2. Proliferasi adiposit dalam lingkungan mikro sumsum tulang mempercepat pelepasan zat proinflamasi dan imunoregulatori, yang mempercepat produksi dan aktivasi osteoklas (Krishnan & Muthusami, 2. , sekaligus mengurangi diferensiasi osteoblas dan menginduksi osteoklas (Cui et al. Usia Gambar 1. Mekanisme Kerja Estrogen pada Sel-sel Tulang (Zhang et al. , 2. Leptin, yang diproduksi oleh sel adiposit, merupakan salah satu sitokin terpenting dalam jaringan lemak, yang memiliki efek besar pada regenerasi tulang karena dapat merangsang sel osteoklastogenesis (Naser et al. , 2023. Onuoha et al. , 2. Leptin juga berperan dalam aromatisasi androgen, sumber utama estrogen, yang melindungi tulang dari osteoporosis (Walsh & Vilaca, 2. Namun, terdapat temuan yang beragam dalam penelitian mengenai hubungan antara IMT dan DMT. di mana beberapa penelitian melaporkan bahwa memiliki IMT yang tinggi dapat melindungi terhadap osteoporosis, bertentangan dengan temuan ini (Y. Li, 2. Osteoblas dan adiposit dibedakan dari sel punca mesenkimal, obesitas dapat merangsang Penelitian sebelumnya, menemukan usia merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan karena peluang seseorang untuk mengalami bertambahnya usia (Onuoha et al. , 2. Perubahan pengeroposan tulang pada kedua jenis kelamin dan penurunan DMT yang stabil seiring bertambahnya usia (Segheto et al. , 2. Lansia memiliki pergantian tulang yang lebih tinggi dan ketidakseimbangan dalam remodeling tulang karena penurunan diferensiasi dan aktivitas osteoblas, peningkatan osteoklastogenesis dan aktivitas osteoklas, dan peningkatan resorpsi Hal ini menyebabkan penurunan pembentukan tulang baru, peningkatan resorpsi tulang, dan pengeroposan tulang, yang menurunkan massa tulang dan meningkatkan risiko patah tulang (Kenkre & Bassett, 2. Baik tulang kortikal maupun tulang trabekular dipengaruhi oleh perubahan tulang yang berkaitan dengan usia (Corrado et al. Untuk kedua jenis kelamin, hilangnya tulang trabekular pada manusia dimulai pada dekade ketiga kehidupan dan secara progresif meningkat selama era perimenopause (Corrado P a g e | 28 et al. , 2. Penurunan kadar estrogen dan testosteron berdampak langsung pada proses ini, yang dapat mengakibatkan hilangnya tulang dan osteoporosis (Pignolo et al. , 2. Jaringan kanalikular dipertahankan oleh protein yang disebut connexin-43. seiring bertambahnya usia, penurunan protein ini akan meningkatkan kematian sel osteosit dan pembentukan lakuna kosong, serta perubahan dalam perekrutan osteoklas dan karakteristik material tulang (Davis et al. , 2. Hubungan yang jelas antara adipositas sumsum tulang yang lebih tinggi dan penurunan DMT. di mana osteoporosis dan patah tulang dikaitkan dengan adipositas sumsum tulang yang lebih tinggi (Pignolo et al. , 2. Osteoporosis terkait usia sebagian disebabkan oleh peningkatan spesies oksigen reaktif (ROS) yang terkait usia, yang berkorelasi negatif dengan penurunan DMT dan kekuatan tulang terkait usia (Zhang et al. , 2. Gangguan metabolik terkait usia tertentu, seperti hiperglikemia dan resistensi insulin pada penderita diabetes tipe 2, dapat meningkatkan kadar ROS (Zhang et al. , 2. ROS merupakan elemen penting yang mengendalikan diferensiasi osteoklas (Zhang et al. , 2. ROS dapat meningkatkan stres oksidatif pada osteoblas dan menghambat osteoblastogenesis. Osteoporosis berkembang sebagian sebagai akibat dari stres oksidatif (BEdilE et al. , 2. Osteoporosis dapat diperburuk oleh paparan stres oksidatif yang berkepanjangan, yang dapat mengganggu homeostasis tulang (Zhu & March, 2. Pengurangan aktivitas osteoblas dan peningkatan aktivitas osteoklas disebabkan oleh stres oksidatif yang disebabkan oleh penuaan (Agidigbi & Kim, 2. Stres oksidatif meningkatkan produksi sitokin proinflamasi dan miRNA yang dapat menurunkan osteoblastogenesis dan meningkatkan osteoklastogenesis (Iantomasi et , 2. Jenis Kelamin Penelitian sebelumnya menemukan bahwa jenis kelamin wanita lebih rentan terhadap osteoporosis (Onuoha et al. , 2. Salah satu kemungkinan mekanisme yang menjelaskan hal ini adalah bahwa penurunan estradiol saat menopause menyebabkan peningkatan tajam dalam pergantian tulang dan peningkatan resorpsi tulang, yang akhirnya mengakibatkan pengeroposan tulang (Migliorini et al. , 2. Selain pembentukan jaringan rangka sebagai respons terhadap rangsangan mekanis (Kranioti et al. Wanita pascamenopause sering dikaitkan dengan osteoporosis karena harapan hidup mereka yang lebih panjang dan penurunan drastis kadar estrogen yang mereka miliki (Brown, 2017. Levin et al. , 2. Pengaturan massa tulang pada wanita secara signifikan dipengaruhi oleh estrogen, yang mencapai puncaknya pada usia 20-an dan menurun setelah menopause (Zhang et al. , 2. Ciri utama osteoporosis pascamenopause, yang juga dikenal hilangnya tulang trabekular secara cepat. Hilangnya tulang ini disebabkan oleh penurunan estrogen dan biasanya muncul 5 hingga 15 tahun setelah menopause (Zhang et al. , 2. Kehilangan DMT tahunan yang dialami oleh wanita perimenopause dan pascamenopause selama beberapa tahun pertama menopause berkisar antara 2% hingga 5%. Dalam sepuluh tahun sejak menopause dimulai, kehilangan DMT ini meningkat secara signifikan, mencapai 30 40% di tulang belakang dan 2030% di leher tulang paha (Zhang et al. , 2. Selain status hormonal pada wanita saat menopause, osteoporosis juga disebabkan oleh massa tulang puncak yang lebih rendah pada wanita saat pubertas (Alswat, 2017. Fasihi et al. Massa tulang puncak terjadi pada usia yang berbeda tergantung pada lokasi rangka, di mana usia termuda adalah 14-18,5 tahun di P a g e | 29 lokasi pinggul pada kedua jenis kelamin. Dibandingkan dengan wanita, pria sering mencapai massa tulang puncaknya di kemudian hari (Alswat, 2. 40% dari massa rangka pria dan wanita bertambah pada usia antara 12 dan 16 tahun. Namun, pada akhir masa remaja, akan ada sedikit peningkatan DMT pada batang femur tengah dan tulang belakang lumbar pada pria, sedangkan wanita tidak (Kranioti et al. , 2. Kehilangan tulang yang dialami oleh pria tidak secepat yang dialami oleh wanita mereka mengalami kehilangan tulang yang lebih lambat seiring bertambahnya usia (Fasihi et al. , 2. Pria mulai kehilangan tulang pada dekade keenam mereka, seringkali pada tingkat 0,5% hingga 1,0% setiap tahunnya (Fasihi et al. , 2021. Kranioti et al. , 2. KESIMPULAN Terdapat temuan yang beragam mengenai hubungan antara IMT dan DMT. Usia merupakan faktor yang perlu dipertimbangkan karena bertambahnya usia. Jenis kelamin perempuan lebih rentan terhadap osteoporosis. DAFTAR PUSTAKA