803 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 OPTIMALISASI PERAN KELOMPOK SADAR WISATA DALAM PENGEMBANGAN SITUS SEJARAH WADU PAAoA DI DESA KANANTA KECAMATAN SOROMANDI KABUPATEN BIMA Rosidah1. I Ketut Bagiastra2 & Primus Gadu3 1,2,3 Sekolah Tinggi Pariwisata E-mail: 1rosidahmuhdar229@gmail. com 2bagiastraketut@gmail. primusgadu@gmail. Article History: Received: 07-08-2025 Revised: 08-09-2025 Accepted: 11-09-2025 Keywords: Situs Sejarah. Optimalisasi. Kelompok Sadar Wisata. Pengembangan Pariwisata. Abstract: Penelitian ini dilatar belakangi oleh adanya potensi wisata Sejarah yang nyaris terabaikan, kelompok sadar wisata yang seharusnya menjadi motor penggerak dalam hal perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan dan evalusi, tidak berhasil menjalankan perannya dengan Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan faktor pendukung dan penghambat kelompok sadar wisata dalam pengembangan situs Sejarah wadu paAoa serta menganalisis optimalisasi peran kelompok sadar wisata dalam pengembangan situs Sejarah wadu paAoa. Jenis penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan metode Tehnik penentuan informan dengan tehnik purposive sumpling. Tehnik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan adanya faktor pendukung dan Faktor pendukung internal yaitu: . sumber daya alam . sistem keamanan . signal/jaringan . lokasi yang strategis. Faktor pendukung eksternal meliputi: . pemerintah desa Kananta . organisasi dari masyarakat bali . mahasiswa KKN. Sedangkan faktor penghambat internal yaitu: . sumberdaya manusia . sarana dan prasarana . anggaran atau pendanaan, dan faktor penghambat eksternal adalah kurang adanya Kerjasama dari pemuda desa Kananta. Selanjutnya Upaya optimalisasi peran kelompok sadar wisata Wadu Pa,a terlihat melalui keikut sertaan secara aktif dalam . Perencanaan pengembangan situs sejarah wadu PaAoa . berperan dalam pelaksanaan pengembangan situs sejarah wadu paAoa . berperan dalam hal pemanfaatan dan . berperan dalam mengevaluasi. PENDAHULUAN Sekitar akhir abad ke-19 beberapa peninggalan Hindu banyak ditemukan di Pulau Sumbawa bagian timur (Rouffar, 1. Ragam situs peninggalan Hindu seperti Ganesha Mahakala. Lingga dan prasasti banyak ditemukan di Bima dan sekitarnya bahkan sampai sekarang. Salah satunya adalah Situs Wadu PaAoa. Wadu PaAoa adalah nama yang diberikan oleh masyarakat Bima untuk tempat ini. Kata Wadu PaAoa berarti AuBatu PahatAy. Wadu PaAoa erat kaitannya dengan a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 bentuk relief yang dipahatkan di tebing batu di kaki bukit Doro Lembo. Situs Wadu PaAoa adalah situs peninggalan masa klasik yang diperkirakan sejaman dengan pemerintahan Kerajaan maja pahit, situs ini berpotensi sebagai destinasi wisata yang berkembang jika dikelola dengan baik, karena disatu sisi menyimpan benda-benda yang bernilai sejarah dan di sisi lain memberikan nilai edukasi terhadap masyarakat setempat dan juga bagi wisatawan yang berdatangan. Keberadaan situs wadu paAoa sangat strategis bila dimanfaatkan dengan optimal karena selain potensi batu pahatnya juga terdapat potensi lain seperti keindahan pantainya, sehingga wisatawan bukan hanya mempelajari nilai sejarah akan tetapi dapat menikmati suasana pantai yang berdekatan langsung dengan situs wadu paAoa. Namun kondisi Situs Wadu PaAoa belum sesuai dengan ekspektasi sejak awal ditemukannya, ada beberapa faktor penghambat yang membuat Situs Wadu PaAoa ini tidak terlalu diminati oleh para wisatawan, misalnya dari kesulitan akses jalan. Akses jalan menuju Situs Wadu PaAoa terkendala karena jalananya masih berstatus jalan tanah serta infrastuktur yang kurang Salah satu hal penting yang telah dilakukan oleh pihak pemerintah Desa Kananta adalah pembentukan pengurus tetap pada objek wisata situs sejarah Wadu PaAoa yaitu pembentukan kelompok sadar wisata. Kelompok sadar wisata yang diberi nama Pokdarwis "Wadu PaAoa" ini seharusnya menjadi mitra pemerintah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat, meningkatkan sumber daya manusia, mendorong terwujudnya sapta pesona serta memulihkan kegiatan pariwisata secara keseluruhan. akan tetapi pokdarwis ini belum mampu menjalankan perannya dengan baik, program-program yang termasuk dalam cakupan mereka, seperti pemetaan potensi wisata, pelatihan, pemberdayaan masyarakat lokal, dan pengembangan infrastruktur wisata tidak berjalan Upaya-upaya yang dilakukan oleh kelompok sadar wisata . wadu paAoa dalam pengembangan situs sejarah wadu paAoa tentu belum optimal, optimalisasi peran kelompok sadar wisata sangat diperlukan supaya terus memotivasi masyarakat untuk dapat memanfaatkan potensi yang ada. dalam kaitannya dengan pengembangan pariwisata semestinya harus memperhatikan posisi, potensi dan peran masyarakat sebagai aktor atau subjek pengembangan, karena posisi peran dan dukungan masyarakat turut menentukan sukses atau keberhasilan jangka panjang pengembangan kegiatan pariwisata. Proses ini harus berkesinambungan, mengedepankan kolaborasi yang harmonis antara kelompok sadar wisata dengan pemerintah desa dan masyarakat. Adapun tujuan penelitian adalah . Untuk mendeskripsikan apa saja faktor pendukung dan penghambat kelompok sadar wisata dalam dalam pengembangan situs sejarah Wadu PaAoa di Desa Kananta Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima. Untuk menganalisa bagaimana optimalisasi peran kelompok Sadar wisata dalam pengembangan situs sejarah Wadu PaAoa di Desa Kananta Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima. LANDASAN TEORI Menurut Suwarti dan Yuliamir . , menjelaskan bahwa dalam pengembangan pariwisata itu terdapat 3 unsur penting yang dibutuhkan, yaitu: Manusia, adalah sebagai subjek yang utama dalam melaksanakan segala kegiatan pariwisata Tempat, adalah unsur fisik yang menjadi wadah dari segala kegiatan pariwisata. Waktu, adalah berapa lama jangka waktu yang dibutuhkan seorang wisatawan dalam perjalanan ke tempat wisata tersebut. Menurut Yoeti . , dalam pengembangan sebuah pariwisata itu terdapat 4 prinsip dasar yaitu sebagai berikut: Keberlangsungan ekologi artinya suatu pengembangan dalam pariwisata dapat menjamin a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 pemeliharaan terhadap wisata tersebut. Keberlangsungan kehidupan dan budaya artinya dengan adanya pengembangan pariwisata membuat peningkatan peran masyarakat dalam kehidupan dan budaya sehari-hari. Keberlangsungan ekonomi artinya suatu pengembangan pariwisata yang menjamin keberlangsungan kegiatan ekonomi Memperbaiki dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat artinya memberi wadah kepada mereka untuk mengembangkan pariwisata di daerah tersebut. Menurut Mappi . dalam Pradikta . , daya tarik wisata dibagi menjadi 3 yaitu: Daya Tarik Wisata Alam Adalah sumber daya alam yang memiliki potensi dan daya tarik Potensi wisata alam dibagi dalam 4 kawasan yaitu: flora fauna, keunikan dan kekhasan ekosistem seperti laut, pantai, gunung . , danau, sungai, fauna . , kawasan lindung, cagar alam pemandangan alam, air terjun, dan lainnya. Daya Tarik Wisata Budaya Adalah suatu daya tarik wisata yang memperlihatkan ke kekhasan daerah suatu destinasi contohnya:tari-tari . , musik . , upacara adat, cagar budaya, museum, adat istiadat lokal, dan lainnya. Daya Tarik Wisata Buatan Adalah suatu daya tarik yang muncul dari hasil karya manusia yang nantinya dapat dimanfaatkan dan dikembangkan, contohnya: saran dan fasilitas olahraga, hiburan . ulap, akroba. , ketangkasan . aik kud. , taman rekreasi, taman nasional, pusat perbelanjaan, dan lainnya. Wisata budaya adalah gerak atau kegiatan wisata yang dirangsang oleh adanya objek-objek wisata berwujud hasil-hasil seni budaya setempat, seperti adat istiadat, upacara-upacara, keagamaan, tata cara hidup masyarakat setempat, peninggalan-peninggalan sejarah, hasil-hasil seni, kerajinan rakyat dan lain sebagainya (Damardjati dalam Pambudi, 2010:. Wisata budaya secara umum merupakan perjalanan yang bertujuan untuk mengenal adat istiadat, kesenian dan hasil-hasil sejarah baik yang berupa bangunan candi, keraton, benteng, maupun makam para Menurut Oka A. Yoeti . wisata budaya dalam industri pariwisata merupakan salah satu unsur utama dan memegang peranan penting. Banyak wisatawan yang berkunjung kesuatu tempat hanya untuk mengamati adat istiadat suatu kelompok masyarakat dan cara hidup mereka, kesenian, sejarah bangunan, candi, benteng, maupun benda-benda peninggalan sejarah Kawasan dengan daya tarik wisata budaya adalah kawasan dengan daya tarik wisata berupa hasil olah cipta, rasa dan karsa manusia sebagai makhluk budaya. Daya tarik wisata budaya selanjutnya dapat dijabarkan, meliputi: Daya tarik wisata budaya yang bersifat berwujud . , yang berupa cagar budaya, seperti situs sejarah Wadu PaAoa. Benda cagar budaya adalah benda alam atau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia. Bangunan cagar budaya adalah susunan binaan yang terbuat dari benda alam atau benda buatan manusia untuk memenuhi kebutuhan ruang berdinding dan/atau tidak berdinding dan Daya Tarik Wisata budaya bersifat tidak berwujud . , seperti Kehidupan adat dan tradisi masyarakat dan aktifitas budaya masyarakat yang khas di suatu area/tempat. Dari beberapa pengertian diatas, dapat disimpulkan bahwa daya tarik wisata budaya adalah kawasan yang memiliki potensi sebagai pendorong kehadiran wisatawan kesuatu daerah tujuan wisata yang dari hasil olah cipta, rasa dan karsa manusia sebagai makhluk budaya yang bersifat tangible . idak berwuju. maupun intangible . Menurut Muhamad Nurul Huda optimalisasi berasal dari kata optimal artinya terbaik atau a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Mengoptimalkan berarti menjadikan paling baik atau paling tinggi. Sedangkan optimalisasi adalah proses mengoptimalkan sesuatu, dengan kata lain proses menjadikan sesuatu menjadi paling baik atau paling tinggi. Dapat disimpulkan bahwa optimalisasi ialah proses menjadikan suatu hal atau objek yang awalnya memiliki potensi agar menjadi lebih baik atau terbaik. Dalam potensi optimalisasi tentunya memerlukan cara terbaik mencapai tujuan. Strategi digunakan oleh pemangku kepentingan untuk mendeskripsikan arah umum yang akan dituju untuk mencapai tujuannya, yang dalam hal ini akan dilakukan oleh pengelola yang berpengaruh dalam pengembangan potensi pariwisata. Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwi. adalah kelembagaan di tingkat masyarakat yang anggotanya terdiri dari para pelaku kepariwisataan yang memiliki kepedulian dan tanggung jawab serta berperan sebagai penggerak dalam mendukung terciptanya iklim kondusif bagi tumbuh dan berkembangnya kepariwisataan dan memanfaatkannya bagi kesejahteraan masyarakat sekitar. METODE PENELITIAN Sesuai dengan fokus penelitian yaitu untuk melakukanan analisis terhadap faktor pendukung dan penghambat kelompok sadar wisata dalam pengembangan situs sejarah Wadu PaAoa, dan untuk mendeskripsikan upaya optimalisasi peran kelompok sadar wisata dalam pengembangan situs sejarah Wadu PaAoa maka peneliti menggunakan pendekatan kualitatif dengan mendesripsikan data yang diperoleh sebagai hasil suatu penelitian. Dengan metode ini peneliti akan mendapatkan data secara utuh dan dapat dideskripsikan dengan jelas sehingga hasil penelitian ini benar-benar sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan. Tehnik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini meliputi: Observasi, observasi yaitu penulis melakukan pengamatan dan pencatatan langsung yang secara sistematis terhadap objek penelitian tentang optimalisasi peran kelompok sadar wisata dalam pengembangan situs sejarah Wadu PaAoa di Desa Kananta Kecamatan Soromandi Kabupaten Bima. Wawancara, wawancara yang digunakan oleh peneliti adalah wawancara bebas terstruktur, artinya peneliti mengadakan wawancara langsung dengan unsur pemerintah Desa Kananta, ketua Pokdarwis dan wisatawan dengan wawancara bebas artinya peneliti bebas mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang telah disiapkan sebelumnya. Dokumentasi, dokumentasi merupakan suatu teknik pengumpulan data dengan menganalisis dokumen-dokumen, baik dokumen tertulis, gambar maupun elektronik. Kedudukan metode dokumentasi dalam penelitian ini adalah sebagai pelengkap yaitu untuk mendapatkan data yang tidak mungkin didapatkan dari observasi dan wawancara. Pada intinya, metode dokumentasi adalah metode yang digunakan untuk menelusuri data terkait objek penelitian, maka bahan dokumentasi sebagian besar data yang tersedia adalah dari buku-buku yang berhubungan dengan penelitian yang sedang diteliti, foto kegiatan kelompok sadar wisata dan sebagainya, maka peneliti mendokumentasikan apapun baik berupa lisan maupun tulisan yang berkaitan dengan objek penelitian yaitu tentang optimalisasi peran kelompok sadar wisata dalam pengembangan situs sejarah Wadu PaAoa. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 HASIL DAN PEMBAHASAN Kelompok sadar wisata Wadu PaAoa dalam pengembangan situs Sejarah wadu paAoa tentu terdapat faktor pendukung dan penghambatnya. Adapun faktor-faktor pendukung meluputi: Faktor pendukung internal Sumber daya alam, sumber daya alam adalah segala sesuatu yang berasal dari alam yang dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia seperti halnya dengan situs Wadu PaAoa. Situs Wadu PaAoa dengan keindahan alam lautnya dapat kiranya dikembangkan menjadi sebuah destinasi wisata yang lebih banyak dikunjungi wisatawan. Sistem keamanan. Situs Wadu PaAoa menjamin keamanan penuh bagi setiap pengunjung terutama pada tindakan kriminalitas dalam bentuk apapun. Pemerintah desa Kananta telah mengadakan kegiatan musyawarah dengan masyarakat dan kelompok sadar wisata dalam hal keamanan di situs sejarah wadu paAoa. Signal/jaringan. Jaringan internet yang baik dan lancar di destinasi wisata situs sejarah Wadu PaAoa berkontribusi positif terhadap minat berkunjung wisatawan. Fakta terkait letak lokasi situs Wadu PaAoa yang tidak jauh dari pusat kota Bima juga menjadi faktor penguat lainnya. Lokasi yang strategis, berdasarkan hasil observasi, peneliti menemukan beberapa hal terkait dengan letak lokasi situs Wadu PaAoa yang strategis yaitu: dekat bandar udara Sultan Muhammad Salahudin Bima dengan waktu tempuh sekitar 1 jam dan jika dari pusat kota Bima sekitar 1 jam 26 Letak lokasi wisata situs Wadu PaAoa juga tidak jauh dari jalan raya, di pinggir jalan sebelum memasuki area situs terdapat Gapura . erbang masuk pantur. dan terletak persis disamping gerbang masuk tersebut terdapat pula plang bertuliskan AuBenda cagar budaya Wadu PaAoa Kabupaten BimaAy. Plang ini bertujuan untuk memudahkan wisatawan yang berkunjung. Idhar. Pd. mengatakan bahwa situs Wadu PaAoa sangat gemar dikunjungi oleh wisatawan adalah karena jarak dan lokasi yang strategis. Faktor pendukung eksternal Pemerintah desa Kananta menjadi faktor pendukung pengembangan wisata Situs Sejarah Wadu PaAoa. Pemerintah desa Kananta sangat berantusias mendukung adanya kegiatan pengembangan oleh kelompok sadar wisata. Sebagai bentuk dukungan dari pemerintah desa Kananta adalah dibentuknya kelompok sadar wisata (Pokdarwi. Wadu PaAoa. Kemudian biaya operasional Pokdarwis untuk pengembangan situs Wadu PaAoa dibebankan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDe. Organisasi dari masyarakat Bali. Sekelompok masyarakat Bali memiliki rasa kepemilikan dan tanggung jawab atas keberlanjutan pengembangan situs Wadu PaAoa. Organisasi dari masyarakat bali juga ikut andil dalam pengembangan situs Sejarah Wadu PaAoa mereka turut berperan dalam hal memberikan bantuan. Bantuan itu berupa penambahan barugak yang ditempatkan di area Pantai situs Wadu PaAoa. Mahasiswa KKN. KKN adalah singkatan dari Kuliah Kerja Nyata. Sesuai dengan namanya, kegiatan ini memang difokuskan agar mahasiswa bisa memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat sekitar. KKN bukan hanya sekedar tugas akademis, tetapi juga merupakan wadah untuk mengembangkan rasa tanggung jawab sosial mahasiswa. Terlihat faktor pendukung dalam pengembangan situs Wadu PaAoa yakni dari mahasiswa yang melakukan tugas pengabdian di desa Kananta lalu ikut andil dalam pengembangan wisata situs sejarah Wadu PaAoa baik dari membantu membersihkan area situs, dan termasuk memberikan ide-ide baru untuk pengembangan situs Wadu PaAoa. Sedangkan dalam pengembangan situs Sejarah Wadu PaAoa terdapat juga faktor penghambat a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Faktor penghambat internal Sumber daya manusia, sumber daya manusia yang dimiliki desa Kananta masih sangat awam, kurangnya pengetahuan dan kesiapan masyarakat yang menjadi kendala utama dalam pengembangan wisata situs Sejarah Wadu PaAoa yang dimana disebabkan oleh asingnya kegiatan kepariwisataan, yang semulanya masyarakat biasanya bekerja di sawah, ladang, kebun dan hanya sebagai nelayan sekarang dihadapkan dengan kegiatan pariwisata, jadi sedikit membingungkan bagi masyarakat. Jadi faktor penghambat yang paling utama dalam pengembangan wisata situs Wadu PaAoa adalah kurangnya sumber daya manusia yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan tentang kepariwisataan. Sarana dan prasarana, seperti yang diketahui adalah hal pertama yang diincar oleh wisatawan, sarana dilihat dari kelengkapan fasilitas sedangkan prasarana merupakan akses yang akan ditempuh selama perjalanan. Berdasarkan hasil penelitian untuk jalanan umumnya semua sudah baik sedangkan jalan menuju situs Wadu PaAoa masih sedikit terkendala karena akses jalan yang akan ditempuh masih berstatus jalan tanah. Dan untuk akses jalan menuju tempat parkir sudah cukup bagus, namun untuk tempat parkirnya memang belum tertata dengan baik, tetapi sudah ada rencana dari pokdarwis untuk merubah hal tersebut. Jadi penyebab wisata situs Wadu PaAoa mengalami pengurangan kunjungan adalah dari infrastruktur, sarana dan prasarana. Anggaran atau pendanaan menjadi salah satu faktor penghambat dalam pengembangan situs sejarah Wadu PaAoa. Anggara atau pendanaan untuk pengembangan situs sejarah Wadu PaAoa masih sangat kurang, terkait dengan kebutuhan fasilitas untuk wisatawan masih banyak. Jadi faktor penghambat pengembangan lainnya memang benar kurangnya anggaran atau pendanaan baik dari desa Kananta maupun pemerintah kabupaten bima. Sehingga pihak pokdarwis kesulitan untuk melakukan pengembangan wisata situs Sejarah Wadu PaAoa. Faktor penghambat eksternal Kurang adanya Kerjasama antara pemuda desa Kananta dengan kelompok Sadar Wisata, menjadi penghambat pengembangan situs Sejarah wadu paAoa. Hal itu terlihat dari minimnya kerja sama dari pemuda desa Kananta, karena memang kemarin ditahun 2020 ada beberapa pihak yang berbeda pendapat dengan Pokdarwis, sempat dibentuk komunitas baru yaitu, (Komunitas Wadu Ntum. oleh pemuda lain yang ingin bersaing dengan pokdarwis. Jadi faktor penghambat eksternal dalam pengembangan situs Wadu PaAoa yaitu pemuda dari desa Kananta itu sendiri, terjadi kecemburuan sosial antara pemuda-pemuda desa dengan kelompok sadar wisata sehingga pengembangan situs Wadu PaAoa pun tidak berjalan dengan semestinya. Selanjutnya kelompok sadar wisata dalam pengembangan situs sejarah Wadu PaAoa memiliki peran sebagai berikut: Berperan Dalam Tahap Perencanaan Awal mula dikembangkannya wisata situs Wadu PaAoa yaitu dari munculnya kesadaran akan pemanfaatan warisan budaya situs Sejarah Wadu PaAoa dan terdapat banyak sekali potensi pendukung lainnya, membuat destinasi ini layak untuk dikembangkan yang dari masayarakat, oleh masyarakat dan untuk masyarakat. Demikianlah pemerintah desa Kananta membentuk pengurus tetap pada destinasi tersebut yaitu pembentukan kelompok sadar wisata Wadu PaAoa. Adapun upaya optimalisasi peran kelompok sadar wisata dalam perencanaan kedepannya terkait pengembangan situs Wadu PaAoa yakni dalam pembangunan berkelanjutan. kelompok sadar wisata Wadu PaAoa telah mengajukan permintaan beberapa item fasilitas untuk pengembangan situs Wadu PaAoa kepada pemerintah Desa Kananta yaitu: penambahan tempat sampah, barugak, toilet dan perbaikan sekertariat yang ada di situs Wadu PaAoa. Kemudian yang menjadi point perencanaan pengembangan berikutnya yakni pembangunan spot baru, yang dalam hal ini akan ada renovasi a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 kebun Oi Peto yang terletak persis disebelah utara situs Wadu PaAoa. pada kebun tersebut akan ditumbuhi berbagai jenis tanaman dan sayur-sayuran yang bisa dipetik oleh wisatawan. Sehingga nantinya wisatawan bukan hanya mempelajari nilai Sejarah dari situs Wadu PaAoa, akan tetapi juga dapat menikmati keindahan Pantai dan sekaligus dapat berkebun di kebun Oi Peto tersebut, yang telah dirancang oleh kelompok sadar wisata Bersama dengan pemerintah desa Kananta. Adapun perencanaan kegiatan rutin di wisata situs Wadu PaAoa seperti: Bersih-bersih Pantai Memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang pentingnya menjaga dan melestarikan tempat bersejarah. Berperan dalam tahap pelaksanaan Dari hasil wawancara yang dilakukan peneliti dapat dinyatakan bahwa dalam tahap ini wujud nyata peran kelompok sadar wisata dalam melaksanakan tugas yaitu pemikiran, kemudian difasilitasi oleh pemerintah desa Kananta dan bentuk keterlibatan sudah terlihat dari upaya pengembangan wisata situs Wadu PaAoa, disediakan sarana dan prasarana seperti pembuatan gerbang masuk . , penyediaan barugak/gazebo dan penyediaan lahan parkir. Yang sumber pendanaannya dari pemerintah desa Kananta. sebagai organisasi dari masyarakat dan menjadi mitra pemerintah desa Kananta yang memiliki peran dalam hal melaksanakan semua hal terkait pengembangan wisata situs sejarah Wadu PaAoa, pokdarwis yang mengatur segala sesuatu yang dibutuhkan oleh wisata situs Wadu PaAoa mulai dari spot foto, kemudian sarana dan prasarana yang dibantu oleh pemerintah desa Kananta, organisasi dari masyarakat bali dan juga mahasiswa KKN. Perencanaan yang telah dirancang seperti bersih-bersih pantai dilaksanakan oleh Pokdarwis yang ditanggung jawabkan oleh seluruh anggota Pokdarwis dan turut serta mengundang masyarakat sekitar, dan mahasiswa yang Tengah melakukan pengabdian kuliah kerja nyata (KKN) di Desa Kananta. Kemudian kelompok sadar wisata Wadu PaAoa memiliki peran dalam mengedukasi bukan hanya memfasilitasi, pokdarwis berperan dalam mengedukasi masyarakat sekitar berupa menyadarkan masyarakat dalam menjaga lingkungan situs dan melestarikan warisan budaya. Kegiatan edukasi yang dimaksud seperti gotong royong membersihkan pantai, dan mengedukasi masyarakat untuk menjaga situs candi tebing tersebut. Lalu kelompok sadar wisata dalam mewujudkan unsur sapta pesona, kegiatan yang dirutinin adalah bergotong royong dalam membersihkan area situs karena di situs Wadu PaAoa memang belum tersedia banyak tempat sampah, apalagi di area pantainya, ini yang membuat kegiatan bersih-bersih dilakukan secara rutin. Berperan dalam hal pemanfaatan Dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti dapat dinyatakan bahwa dalam hal pemanfaatan internal yang dilakukan oleh kelompok sadar wisata sudah cukup baik. Peluang yang diambil oleh kelompok sadar wisata kedepannya untuk meningkatkan pengembangan dan pembangunan untuk daya Tarik/spot baru. Manfaat eksternal yang diambil kelompok sadar wisata yaitu organisasi dari masyarakat bali dan lain lain yang memberikan dana untuk penambahan fasilitas di situs Wadu PaAoa, kemudian manfaat yang lain adalah pemberdayaan pemuda dengan menjadikan pemuda-pemuda yang semulanya ingin bersaing dalam pengembangan situs Wadu PaAoa kini bersama-sama dengan pokdarwis dan mulai berkegiatan produktif, seperti membantu membersihkan Pantai dan juga dalam hal mengedukasi Masyarakat sekitar. Berperan dalam hal mengevaluasi Kelompok Sadar Wisata Wadu PaAoa memiliki peranan yaitu perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan serta evaluasi. Yang evaluasi ini sendiri merupakan langkah terakhir yang dilakukan setelah 3 . peran tersebut, yang berfungsi untuk mengetahui hasil akhir dari apa yang telah a. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 direncanakan, dilaksanakan dan dimanfaatkan, lalu ditinjau hasil akhir atau evaluasi dari apa yang dicapai dari peranan yang telah dilaksanakan, yang dilakukan oleh kelompok sadar wisata. Pemerintah Desa sebagai pengevaluasi dari apa yang telah dilaksanakan di wisata situs Wadu PaAoa. Jadi mulai dari perencanaan, pengelolaan, pengembangan dan tinjauan hasil, dilakukan oleh kelompok sadar wisata dengan ditinjau oleh pihak pemerintah desa Kananta umumnya. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan selanjutnya peneliti menguraikan beberapa simpulan yaitu: Pengembangan situs Sejarah Wadu PaAoa ditemukan faktor pendukung dan penghambat. Faktor pendukung internal yaitu: . sumber daya alam . sistem keamanan . signal/jaringan . lokasi yang strategis. Faktor pendukung eksternal meliputi: . pemerintah desa Kananta . organisasi dari masyarakat Bali . mahasiswa KKN. Sedangkan faktor penghambat internal yaitu: . sumberdaya manusia . sarana dan prasarana . anggaran atau pendanaan, kemudian faktor penghambat eksternal adalah kurangnya Kerjasama dari pemuda Desa Kananta. Upaya optimalisasi peran kelompok sadar wisata Wadu Pa,a ditunjukkan melalui keikutsertaan secara aktif dalam . Perencanaan pengembangan situs sejarah Wadu PaAoa . berperan dalam pelaksanaan pengembangan situs sejarah Wadu PaAoa . berperan dalam hal pemanfaatan pengembangan situs Sejarah Wadu PaAoa dan . berperan dalam mengevaluasi. SARAN Berdasarkan pada hasil penelitian, maka peneliti menyarankan hal-hal sebagai berikut: Diperlukan adanya peningkatan dan penguatan kapasitas sumber daya manusia Pokdarwis melalui keikutsertaan dalam berbagai pelatihan yang relevan. Diperlukan adanya restrukturisasi susunanan keanggotaan/personalia kelompok sadar wisata Wadu PaAoa. Diperlukan adanya perbaikan dan peningkatan sarana dan prasarana secara kualitas dan kuantitas seperti pengadaan toilet umum dan penambahan tempat sampah yang masih minim serta menambahkan fasilitas pendukung lainnya di wisata situs Wadu PaAoa. Serta meningkatkan promosi dan publikasi tentang daya tarik wisata situs sejarah Wadu PaAoa melalui media sosial. https://stp-mataram. e-journal. id/JRTour JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 DAFTAR PUSTAKA