JURNAL SAINS & TEKNOLOGI Vol 01 No. 02 Juli - Desember 2025 https://ojs. id/index. php/univsm/index TEKNOLOGI DIGITAL SEBAGAI RUANG PERTEMUAN AGAMA DAN BUDAYA MASYARAKAT MULTIKULTURAL Latifah1 Ngalimun2 1Universitas Islam Negeri Palangka Raya. Jl. Obos. Komplek Islamic Centre No. Palangka Raya. Kalimantan Tengah. Kode Pos 73112, . 322 6356 2 Universitas Sapta Mandiri. Jl. Yani KM. RT. Kelurahan Batupiring. Kecamatan Paringin Selatan. Kabupaten Balangan. Kalimantan Selatan. Kode Pos 71618, . Pos-el : latifahhusien49@gmail. ngalimun@univsm. Abstrak Pemanfaatan teknologi digital di Kalimantan menunjukkan potensi besar dalam memperkuat hubungan antara agama dan budaya di masyarakat multikultural. Pendahuluan: Perkembangan media digital seperti YouTube. Instagram, dan platform siaran langsung telah mempermudah penyebaran nilai-nilai keagamaan dan budaya, menghubungkan komunitas lintas daerah, bahkan lintas negara. Fenomena ini terlihat pada tradisi keagamaan seperti Haul Guru Sekumpul yang dapat diakses secara luas dan mendorong apresiasi lintas budaya. Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kualitatif melalui telaah literatur, observasi konten digital, dan analisis fenomena sosial-budaya yang berkembang di ruang daring masyarakat Kalimantan. Hasil: Pertama, teknologi digital memperluas jangkauan nilai agama dan budaya. Kedua, ruang daring membuka dialog lintas agama dan budaya yang inklusif, memfasilitasi pertukaran pandangan dan mengurangi prasangka. Ketiga, dokumentasi dan inovasi digital merevitalisasi tradisi lokal, menjembatani kearifan lokal dengan generasi muda tanpa menghilangkan makna spiritual. Keempat, tantangan seperti hoaks dan ujaran kebencian menuntut peningkatan literasi digital yang berfokus pada verifikasi informasi, etika komunikasi, dan kesadaran konteks. Kelima, strategi harmonisasi mencakup pelatihan literasi digital, pengembangan platform kolaboratif lintas komunitas, serta produksi konten positif. Implementasi strategi ini secara konsisten dapat menjadikan ruang digital sebagai ekosistem inklusif yang menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menghormati perbedaan, merayakan keberagaman, dan memperkuat kohesi sosial di era Kata kunci: teknologi digital, agama, budaya, masyarakat multikultural. Abstract The utilization of digital technology in Kalimantan demonstrates significant potential in strengthening the relationship between religion and culture in multicultural societies. Introduction: The development of digital media such as YouTube. Instagram, and live streaming platforms has facilitated the dissemination of religious and cultural values, connecting communities across regions and even across countries. This phenomenon is evident in religious traditions such as the Haul Guru Sekumpul, which can be widely accessed and encourages cross-cultural appreciation. Methods: This study employs a descriptive qualitative approach through literature review, observation of digital content, and analysis of sociocultural phenomena emerging in the online space of KalimantanAos communities. Results: First, digital technology expands the reach of religious and cultural values. Second, online spaces open opportunities for inclusive interfaith and intercultural dialogue, facilitating the exchange of perspectives and reducing prejudice. Third, digital documentation and innovation revitalize local traditions, bridging local wisdom with younger generations without diminishing their Jurnal Sains & Teknologi. Volume 01. No. Juli-Desember 2025. Hal. spiritual meaning. Fourth, challenges such as hoaxes and hate speech require enhancing digital literacy with a focus on information verification, communication ethics, and contextual Fifth, harmonization strategies include digital literacy training, the development of collaborative cross-community platforms, and the production of positive content. Consistent implementation of these strategies can transform digital spaces into inclusive ecosystems that foster collective awareness to respect differences, celebrate diversity, and strengthen social cohesion in the era of globalization. Keywords: digital technology, religion, culture, multicultural society PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital pada abad ke-21 telah membawa transformasi yang signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Kehadirannya tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi dan pendidikan, tetapi juga merambah ranah sosial, budaya, dan agama yang sebelumnya lebih banyak berlangsung secara tatap muka. Kemajuan ini didorong oleh perkembangan internet, media sosial, perangkat mobile, dan aplikasi komunikasi yang mampu menghubungkan individu dari berbagai belahan dunia secara real time (Nasrullah. Fenomena ini menandai pergeseran pola komunikasi manusia dari ruang fisik ke ruang virtual, yang bersifat terbuka, interaktif, dan lintas batas geografis. Dalam konteks masyarakat multikultural, teknologi digital memiliki peran Masyarakat multikultural adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai kelompok sosial dengan latar belakang etnis, bahasa, agama, dan tradisi yang berbeda, namun hidup berdampingan dalam satu wilayah sosial yang sama (Parekh. Keberagaman ini menjadi sumber kekayaan budaya, namun sekaligus menyimpan potensi gesekan yang dapat memunculkan konflik identitas, stereotip, diskriminasi, bahkan intoleransi. Kehadiran teknologi digital menawarkan peluang baru untuk membangun interaksi lintas budaya dan agama, namun di sisi lain, juga berpotensi menjadi medium yang memperkuat polarisasi apabila digunakan tanpa kesadaran etis dan literasi digital yang memadai. Media sosial, situs web, forum daring, dan platform streaming telah menjadi arena di mana interaksi lintas agama dan budaya berlangsung intensif. Melalui media digital, individu dan komunitas dapat menyebarkan nilai-nilai religius, membagikan tradisi budaya, dan mengadakan dialog lintas iman dengan jangkauan yang jauh lebih luas dibandingkan metode konvensional. Misalnya, dakwah digital di YouTube, pengajian online melalui Zoom, festival budaya virtual, atau live streaming perayaan hari besar agama dapat diakses oleh masyarakat lintas batas wilayah dan keyakinan. Fenomena ini menciptakan ruang pertemuan baru yang memediasi jarak fisik sekaligus membuka kesempatan bagi pertukaran nilai dan pengetahuan antar komunitas (Campbell & Tsuria, 2. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa ruang digital juga menyimpan tantangan serius. Salah satu masalah yang kerap muncul adalah penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi berbasis identitas yang dapat memicu ketegangan antar kelompok. Algoritma media sosial yang memprioritaskan konten viral sering kali menciptakan ruang gema . cho chambe. , di mana pengguna hanya terekspos pada informasi dan opini yang sejalan dengan pandangannya sendiri, sehingga mempersempit wawasan dan memperkuat prasangka (Sunstein, 2. Selain itu, penggunaan simbol-simbol agama atau budaya dalam konteks komersial atau Copyright A 2025. Universitas Sapta Mandiri Balangan Latifah & Ngalimun. Teknologi Digital hiburan digital terkadang memicu kontroversi, terutama jika dilakukan tanpa memahami makna sakral yang terkandung di dalamnya. Di sisi lain, jika dimanfaatkan secara bijak, teknologi digital dapat berfungsi sebagai wahana pelestarian budaya dan penguatan nilai-nilai agama. Tradisi yang sebelumnya hanya dikenal di wilayah tertentu kini dapat terdokumentasi dan disebarkan secara global melalui kanal digital. Generasi muda yang akrab dengan teknologi dapat terlibat dalam produksi konten positif yang mengangkat nilai toleransi, gotong royong, dan penghargaan terhadap perbedaan. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi digital tidak hanya menjadi sarana komunikasi, tetapi juga alat pendidikan multikultural yang efektif. Keberhasilan pemanfaatan teknologi digital untuk mempertemukan agama dan budaya dalam masyarakat multikultural sangat bergantung pada literasi digital dan kesadaran multikultural. Literasi digital tidak hanya mencakup keterampilan teknis menggunakan perangkat dan aplikasi, tetapi juga meliputi kemampuan kritis untuk memverifikasi informasi, memahami konteks budaya, serta menerapkan etika komunikasi dalam interaksi daring (UNESCO, 2. Sementara itu, kesadaran multikultural menuntut kemampuan untuk menghargai perbedaan, mengelola konflik secara konstruktif, dan membangun empati lintas identitas. Pendidikan formal dan nonformal dapat memainkan peran penting dalam menanamkan kedua hal tersebut. Sekolah, perguruan tinggi, lembaga keagamaan, dan komunitas budaya dapat mengintegrasikan program literasi digital dan dialog lintas budaya sebagai bagian dari kurikulum atau kegiatan rutin. Dengan demikian, generasi muda dapat menjadi pengguna teknologi yang tidak hanya cakap secara teknis, tetapi juga berintegritas moral dan sosial. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini berangkat dari pertanyaan: Bagaimana teknologi digital menjadi ruang pertemuan agama dan budaya di masyarakat multikultural? Pertanyaan ini penting karena di satu sisi teknologi digital menawarkan potensi besar untuk memperkuat kohesi sosial, namun di sisi lain juga menyimpan risiko disintegrasi apabila disalahgunakan. Dengan mengkaji fenomena ini secara mendalam, penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi baik secara teoretis maupun praktis. Secara teoretis, hasil kajian ini akan memperkaya literatur tentang hubungan antara teknologi, agama, dan budaya dalam perspektif multikulturalisme. Secara praktis, temuan penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi pembuat kebijakan, pendidik, tokoh agama, budayawan, dan pelaku industri kreatif untuk mengembangkan ekosistem digital yang mendukung kerukunan, toleransi, dan penghargaan terhadap keberagaman. Kerangka pemikiran yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada teori komunikasi lintas budaya (Gudykunst & Kim, 2. dan konsep agama digital (Campbell & Tsuria, 2. Teori komunikasi lintas budaya menekankan pentingnya pemahaman terhadap perbedaan simbol, makna, dan norma dalam interaksi antarbudaya, sedangkan konsep agama digital menjelaskan adaptasi praktik keagamaan dalam media digital, baik dalam penyebaran ajaran, interaksi komunitas, maupun ekspresi identitas religius secara daring. Kedua kerangka ini digunakan untuk menelaah bagaimana nilai-nilai agama dan budaya dapat berinteraksi secara konstruktif di ruang digital, serta faktor-faktor yang Jurnal Sains & Teknologi. Volume 01. No. Juli-Desember 2025. Hal. mempengaruhi keberhasilannya dalam menciptakan harmoni sosial di masyarakat METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif yang bertujuan untuk memberikan gambaran mendalam mengenai fenomena pertemuan agama dan budaya di ruang digital dalam masyarakat multikultural. Pendekatan ini dipilih karena fokus penelitian terletak pada pemahaman makna, nilai, dan interaksi sosial yang muncul di ruang digital, bukan pada pengukuran statistik. Metode yang digunakan adalah kombinasi antara telaah literatur dan studi kasus digital Telaah literatur dilakukan untuk membangun kerangka konseptual yang kuat melalui analisis artikel ilmiah, buku, laporan penelitian, dan berita daring yang relevan. Sementara itu, digital ethnography digunakan untuk mengamati secara langsung fenomena sosial yang terjadi di platform digital, dengan memperhatikan narasi, simbol, dan interaksi yang berkembang di dalamnya. Sumber data dalam penelitian ini terdiri dari data sekunder dan data digital. Data sekunder diperoleh dari literatur akademik seperti jurnal, buku, dan laporan penelitian yang membahas hubungan antara teknologi digital, agama, dan budaya di masyarakat multikultural. Data digital diperoleh dari platform populer seperti YouTube. Instagram, dan TikTok yang dipilih karena kemampuannya memfasilitasi interaksi lintas budaya dan agama dalam berbagai format, mulai dari video pendek, siaran langsung, komentar, hingga forum diskusi. Konten yang diambil adalah konten yang merepresentasikan nilai agama, tradisi budaya, atau interaksi multikultural secara eksplisit. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui dokumentasi digital dan analisis konten. Dokumentasi digital meliputi pengumpulan bukti visual, teks, dan audiovisual yang relevan, termasuk tangkapan layar, rekaman video, dan arsip komentar dari media sosial. Analisis konten dilakukan untuk mengidentifikasi tema, narasi, simbol, dan pola interaksi yang menggambarkan bagaimana agama dan budaya direpresentasikan di ruang digital. Seluruh proses pengumpulan data dilakukan dengan memperhatikan etika penelitian, termasuk perlindungan privasi pengguna media sosial yang kontennya digunakan. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model interaktif Miles dan Huberman . , yang meliputi tiga tahap. Tahap pertama adalah reduksi data, yaitu proses seleksi dan penyederhanaan data untuk memfokuskan pada informasi yang relevan. Data yang terkumpul dikategorikan berdasarkan tema seperti Audakwah digitalAy. Aufestival budaya virtualAy, atau Audialog lintas imanAy. Tahap kedua adalah penyajian data, yaitu memvisualisasikan data yang sudah direduksi dalam bentuk narasi deskriptif, tabel, atau bagan agar hubungan antar temuan dapat dilihat dengan jelas. Tahap ketiga adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi, di Copyright A 2025. Universitas Sapta Mandiri Balangan Latifah & Ngalimun. Teknologi Digital mana kesimpulan sementara yang muncul dari data diverifikasi kembali dengan membandingkannya terhadap literatur yang ada untuk memastikan validitas Kriteria analisis yang digunakan dalam penelitian ini meliputi tiga aspek utama, yaitu representasi nilai agama, representasi tradisi budaya, dan bentuk interaksi multikultural di ruang digital. Representasi nilai agama mencakup ajaran, praktik, atau simbol keagamaan yang muncul dalam konten digital. Representasi tradisi budaya mencakup praktik budaya, ritual adat, seni tradisional, atau simbol budaya yang ditampilkan secara daring. Interaksi multikultural merujuk pada bentuk komunikasi, kolaborasi, atau dialog yang melibatkan individu atau kelompok dari latar belakang agama dan budaya yang berbeda. Dengan kriteria ini, penelitian diarahkan untuk mengungkap titik temu antara agama dan budaya yang dimediasi oleh teknologi digital dalam konteks masyarakat multikultural. HASIL DAN PEMBAHASAN Teknologi Digital sebagai Medium Penyebaran Nilai Agama dan Budaya Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam cara nilai-nilai agama dan budaya disebarluaskan di masyarakat Media digital seperti YouTube. Instagram. TikTok, dan berbagai platform streaming memungkinkan pesan keagamaan maupun kebudayaan menjangkau audiens yang sangat luas, melampaui batas geografis, bahasa, dan bahkan latar belakang keyakinan. Kecepatan penyebaran informasi di ruang digital menjadikan nilai-nilai tersebut dapat diakses secara real-time, sehingga peristiwa atau pesan tertentu dapat segera diketahui oleh masyarakat global. Fenomena ini terlihat jelas pada maraknya dakwah daring dan ceramah agama lintas bahasa. Sejumlah tokoh agama di Kalimantan kini aktif memanfaatkan media sosial untuk menyampaikan ajaran Islam melalui berbagai format, mulai dari video pendek berisi pesan moral, siaran langsung untuk menjawab pertanyaan jamaah, hingga dokumentasi kegiatan keagamaan seperti pengajian akbar atau peringatan hari besar Islam. Pemanfaatan teknologi ini tidak hanya meningkatkan aksesibilitas ajaran Islam di wilayah tersebut, tetapi juga mendorong inklusivitas, karena pesan-pesan keagamaan dapat diterjemahkan atau diberi subtitle sehingga dapat dipahami oleh masyarakat dari latar belakang budaya yang berbeda. Selain itu, nilai-nilai budaya Islam di Kalimantan juga semakin mudah diabadikan dan dipromosikan melalui media digital. Tradisi Haul Guru Sekumpul di Martapura. Kalimantan Selatan, merupakan salah satu contoh yang menonjol. Acara tahunan ini merupakan peringatan wafatnya ulama besar KH. Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Sekumpu. yang dihadiri jutaan jamaah dari berbagai daerah, bahkan mancanegara. Melalui siaran langsung di platform seperti YouTube dan Facebook, masyarakat yang tidak dapat hadir secara fisik Jurnal Sains & Teknologi. Volume 01. No. Juli-Desember 2025. Hal. tetap dapat mengikuti rangkaian acara, mulai dari pembacaan maulid, zikir, hingga ceramah agama. Siaran tersebut juga mendapat apresiasi dari masyarakat lintas daerah dan latar belakang, yang tertarik mempelajari kekayaan tradisi keagamaan di Kalimantan. Keterbukaan akses ini menciptakan ruang perjumpaan virtual di mana nilai-nilai Islam dan budaya lokal dapat menjadi titik temu yang mempererat hubungan antar komunitas. Misalnya, tayangan Haul Guru Sekumpul di media sosial sering kali memunculkan komentar dari penonton luar Kalimantan yang memberikan doa, ucapan selamat, atau rasa kagum terhadap kedamaian dan kekhidmatan acara tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi digital tidak hanya berfungsi sebagai saluran penyebaran informasi, tetapi juga sebagai medium membangun rasa saling menghargai di antara kelompok yang beragam. Meskipun demikian, tantangan tetap ada. Informasi yang beredar di ruang digital terkadang dipotong dari konteks atau mengalami distorsi, yang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Oleh karena itu, peran kurasi konten dan literasi digital menjadi penting untuk memastikan pesan yang disebarkan tetap akurat dan tidak menimbulkan konflik. Dengan demikian, teknologi digital dapat dimaksimalkan sebagai sarana memperkuat harmoni sosial sekaligus menjaga otentisitas nilai-nilai Islam dan budaya lokal yang dibagikan. Ruang Dialog Lintas Agama dan Budaya Perkembangan teknologi digital telah membuka peluang baru bagi terciptanya ruang dialog lintas agama dan budaya yang sebelumnya sulit terwujud secara tatap muka, terutama di wilayah yang memiliki jarak geografis jauh atau keterbatasan infrastruktur. Platform komunikasi daring seperti Zoom. Instagram Live, dan podcast memungkinkan individu maupun komunitas dari berbagai latar belakang keyakinan untuk saling bertukar pandangan, berdiskusi, dan membangun pemahaman bersama. Keunggulan ruang digital ini terletak pada kemampuannya menembus batas fisik, biaya, dan waktu, sehingga dialog lintas iman dapat berlangsung lebih inklusif dan berkesinambungan. Di Kalimantan, fenomena ini terlihat pada sejumlah forum virtual yang diinisiasi oleh tokoh agama, akademisi, maupun komunitas pemuda lintas iman. Misalnya, selama pandemi COVID-19, beberapa organisasi keagamaan di Banjarmasin dan Pontianak menyelenggarakan diskusi daring bertema AuHarmoni dalam KeberagamanAy melalui Zoom dan Instagram Live. Acara tersebut menghadirkan pembicara dari berbagai agama Islam. Kristen. Hindu, dan Buddha untuk membahas peran nilai-nilai spiritual dan budaya lokal dalam menghadapi tantangan sosial. Melalui interaksi tersebut, peserta dapat saling memahami ajaran agama lain sekaligus menemukan nilai-nilai universal seperti toleransi, solidaritas, dan kepedulian sosial. Copyright A 2025. Universitas Sapta Mandiri Balangan Latifah & Ngalimun. Teknologi Digital Kehadiran ruang dialog digital ini juga menjadi sarana efektif untuk mengurangi prasangka dan stereotip yang mungkin terbentuk akibat kurangnya interaksi langsung antar kelompok berbeda. Kolom komentar, fitur tanya-jawab, dan obrolan daring memungkinkan audiens untuk mengajukan pertanyaan, mengklarifikasi miskonsepsi, serta berbagi pengalaman pribadi yang memperkaya diskusi. Sebagai contoh, dalam salah satu sesi podcast bertema AuKearifan Lokal sebagai Perekat SosialAy yang diproduksi komunitas muda di Kalimantan Timur, narasumber dari latar belakang Muslim dan Kristen berbagi cerita tentang tradisi gotong royong di desa mereka, yang ternyata memiliki nilainilai serupa meskipun berbeda dalam ekspresi budaya dan agama. Dampak positif dari dialog lintas iman ini antara lain meningkatnya kesadaran akan pentingnya saling menghormati perbedaan, memperkuat kohesi sosial di masyarakat multikultural, serta membangun jejaring lintas komunitas yang dapat berkolaborasi dalam isu-isu sosial, kemanusiaan, maupun pelestarian Meski demikian, tantangan tetap ada, seperti potensi perdebatan yang memanas di ruang komentar atau penyalahgunaan platform untuk menyebarkan ujaran kebencian. Oleh karena itu, diperlukan moderasi konten dan etika komunikasi yang baik agar dialog yang tercipta benar-benar membangun jembatan pemahaman, bukan memperlebar jarak perbedaan. Revitalisasi Tradisi melalui Inovasi Digital Teknologi digital telah membuka peluang besar bagi revitalisasi tradisi lokal, termasuk tradisi yang berakar pada nilai-nilai Islam di Kalimantan. Melalui kanal digital seperti YouTube. Instagram. Facebook, hingga TikTok, upacara adat, musik etnik, maupun kisah rakyat dapat direkam, diarsipkan, dan disebarkan secara luas. Langkah ini tidak hanya berfungsi sebagai dokumentasi untuk generasi mendatang, tetapi juga sebagai media promosi budaya yang dapat menjangkau audiens lintas daerah dan negara. Salah satu contoh nyata adalah tradisi Baayun Maulid di masyarakat Banjar. Kalimantan Selatan. Tradisi ini merupakan perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW yang unik karena melibatkan prosesi mengayun bayi atau anak-anak sambil membacakan syair-syair pujian dan doa. Melalui dokumentasi video dan siaran langsung di media sosial. Baayun Maulid kini dapat disaksikan oleh generasi muda yang mungkin tidak selalu hadir langsung di lokasi acara. Bahkan, beberapa komunitas kreatif menggabungkan dokumentasi tradisi ini dengan narasi sejarah dan visual sinematik sehingga tampil lebih menarik dan mudah diterima oleh audiens muda yang terbiasa mengonsumsi konten digital. Selain upacara keagamaan, seni musik Islam lokal seperti Hadrah Banjar juga mendapat ruang baru melalui inovasi digital. Grup hadrah di berbagai daerah Kalimantan kini mengunggah penampilan mereka ke platform streaming, memanfaatkan media sosial untuk mengumumkan jadwal pertunjukan, dan Jurnal Sains & Teknologi. Volume 01. No. Juli-Desember 2025. Hal. bahkan berkolaborasi dengan musisi modern untuk menciptakan aransemen baru tanpa meninggalkan ciri khas tradisionalnya. Hal ini tidak hanya menjaga eksistensi seni hadrah, tetapi juga memperluas penggemarnya di kalangan anak Interaksi digital juga memungkinkan generasi muda untuk terlibat lebih aktif dalam pelestarian budaya. Mereka dapat menjadi pembuat konten, fotografer, atau pengelola media sosial yang mengangkat tradisi lokal ke kancah Di sisi lain, dokumentasi digital berfungsi sebagai arsip budaya yang dapat digunakan oleh peneliti, sejarawan, maupun praktisi pendidikan untuk mengajarkan nilai-nilai keagamaan dan budaya kepada masyarakat luas. Namun, revitalisasi melalui media digital juga menghadapi tantangan, seperti risiko komersialisasi berlebihan yang dapat menggeser makna spiritual dari tradisi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan keseimbangan antara inovasi dan pelestarian nilai-nilai otentik, agar tradisi Islam di Kalimantan tidak hanya bertahan secara fisik, tetapi juga tetap bermakna secara spiritual. Dengan pendekatan yang tepat, teknologi digital dapat menjadi jembatan yang menghubungkan kearifan lokal dengan generasi masa kini, sekaligus menguatkan identitas budaya di tengah arus globalisasi. Tantangan dan Potensi Konflik Di balik manfaat besar yang ditawarkan, teknologi digital juga membawa tantangan serius bagi harmoni sosial, terutama di masyarakat multikultural yang sarat keberagaman agama dan budaya. Ruang digital yang seharusnya menjadi wadah dialog dan pertukaran informasi kerap disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, serta provokasi berbasis identitas. Fenomena ini diperkuat oleh algoritma media sosial yang memprioritaskan konten viral tanpa mempertimbangkan nilai edukatif atau akurasi informasi (Sunstein, 2. Akibatnya, konten yang memicu emosi negatif sering kali lebih mudah menyebar dan membentuk opini publik yang bias. Di Kalimantan, tantangan ini pernah terlihat dalam bentuk penyebaran isuisu sensitif yang mengaitkan perbedaan agama atau suku. Meskipun banyak informasi tersebut tidak terbukti kebenarannya, pola penyebarannya di media sosial sangat cepat dan dapat memicu ketegangan di tingkat lokal. Misalnya, menjelang acara keagamaan besar seperti Haul Guru Sekumpul atau perayaan Baayun Maulid, terkadang muncul narasi provokatif yang mencoba menggiring opini publik ke arah perpecahan, baik dengan memelintir makna acara maupun menuduh adanya agenda tertentu di baliknya. Potensi konflik ini semakin diperparah oleh kurangnya literasi digital di kalangan sebagian masyarakat. Banyak pengguna media sosial yang membagikan informasi tanpa memverifikasi sumbernya terlebih dahulu. Hal ini membuat kabar palsu atau opini provokatif mudah mendapatkan panggung. Dalam konteks Copyright A 2025. Universitas Sapta Mandiri Balangan Latifah & Ngalimun. Teknologi Digital masyarakat multikultural Kalimantan, kesalahan informasi tidak hanya merusak hubungan antar kelompok, tetapi juga dapat mengancam kelestarian nilai-nilai kearifan lokal yang selama ini menjadi perekat sosial. Namun, di sisi lain, teknologi digital juga dapat digunakan untuk mengantisipasi potensi konflik. Sejumlah komunitas lintas agama di Kalimantan kini aktif mengelola grup media sosial yang berfungsi sebagai kanal klarifikasi informasi, ruang diskusi sehat, dan sarana membangun narasi positif. Melalui pendekatan ini, isu-isu yang berpotensi memicu perpecahan dapat segera direspons dengan informasi yang akurat dan menenangkan. Oleh karena itu, literasi digital menjadi kunci utama dalam mencegah konflik di era informasi cepat. Literasi digital di sini bukan hanya kemampuan teknis menggunakan perangkat, tetapi juga mencakup kemampuan kritis dalam menganalisis informasi, memahami konteks sosial-budaya, dan berkomunikasi secara etis di ruang publik. Dengan membekali masyarakat, khususnya generasi muda, dengan keterampilan ini, ruang digital dapat tetap menjadi tempat yang aman untuk mempertemukan agama dan budaya, alih-alih menjadi arena Strategi Pemanfaatan Teknologi Digital untuk Harmonisasi Agar teknologi digital dapat berfungsi sebagai jembatan harmonisasi antara agama dan budaya di masyarakat multikultural, diperlukan strategi yang terencana, inklusif, dan berkelanjutan. Strategi ini tidak hanya berfokus pada pemanfaatan teknologi sebagai media informasi, tetapi juga sebagai ruang kolaborasi yang memperkuat nilai-nilai toleransi dan persaudaraan. Pertama, meningkatkan literasi digital dan etika komunikasi menjadi prioritas utama. Masyarakat perlu dibekali kemampuan untuk memilah informasi yang benar dan menolak provokasi yang dapat memicu konflik. Program pelatihan literasi digital dapat dilakukan oleh lembaga pendidikan, pemerintah daerah, maupun organisasi keagamaan. Misalnya, di Kalimantan Selatan, beberapa pesantren telah mulai menyelenggarakan pelatihan bagi santri untuk membuat konten dakwah digital yang santun, informatif, dan bebas dari ujaran kebencian. Langkah ini sekaligus mengajarkan etika komunikasi yang sejalan dengan nilai-nilai keagamaan dan budaya lokal. Kedua, mengembangkan platform digital lintas komunitas untuk kolaborasi Platform ini dapat berbentuk situs web, kanal YouTube, atau grup media sosial yang dikelola bersama oleh perwakilan berbagai agama, etnis, dan kelompok budaya. Di Kalimantan, kolaborasi semacam ini dapat mengangkat kekayaan budaya seperti tradisi Baayun Maulid. Hadrah Banjar, dan kearifan lokal Dayak Muslim, sehingga dapat diakses, diapresiasi, dan dipelajari oleh masyarakat luas. Kolaborasi lintas komunitas juga memberi kesempatan untuk Jurnal Sains & Teknologi. Volume 01. No. Juli-Desember 2025. Hal. berbagi perspektif, mengurangi prasangka, serta memperkuat jejaring sosial antar kelompok. Ketiga, mendorong produksi konten positif yang mengangkat nilai toleransi dan persaudaraan. Konten seperti video dokumenter tradisi lokal, kisah inspiratif lintas iman, atau liputan kegiatan sosial bersama dapat menjadi narasi tandingan terhadap konten provokatif yang kerap muncul di ruang digital. Di Palangka Raya, misalnya, komunitas kreatif lokal memproduksi seri video AuHarmoni BorneoAy yang menampilkan kisah kerjasama antar pemuda Muslim dan Kristen dalam menggelar acara seni dan bakti sosial. Inisiatif seperti ini membuktikan bahwa media digital dapat menjadi saluran efektif untuk menyebarkan semangat kebersamaan dan menginspirasi masyarakat lainnya. Dengan penerapan strategi-strategi tersebut, teknologi digital tidak hanya menjadi alat penyampai informasi, tetapi juga ruang aman bagi interaksi Harmonisasi yang dihasilkan tidak bersifat artifisial, melainkan berakar pada kesadaran kolektif akan pentingnya menghormati perbedaan dan merayakan keberagaman. Jika dijalankan secara konsisten, strategi ini berpotensi membentuk ekosistem digital yang sehat, produktif, dan inklusif bagi masyarakat multikultural. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pemanfaatan teknologi digital di Kalimantan menunjukkan bahwa ruang daring dapat menjadi sarana strategis untuk memperkuat hubungan antara agama dan budaya di masyarakat multikultural. Pertama, media digital mampu memperluas jangkauan nilai-nilai agama dan budaya, sebagaimana terlihat pada penyiaran tradisi keagamaan seperti Haul Guru Sekumpul yang dapat diakses lintas daerah dan negara. Kedua, ruang digital menciptakan peluang dialog lintas agama dan budaya yang inklusif, memfasilitasi pertukaran pandangan, mengurangi prasangka, dan menemukan nilai-nilai universal seperti toleransi dan solidaritas. Ketiga, teknologi digital menjadi medium revitalisasi tradisi melalui dokumentasi, promosi, dan inovasi, yang menghubungkan kearifan lokal dengan generasi muda tanpa menghilangkan makna spiritualnya. Keempat, tantangan seperti penyebaran hoaks, ujaran kebencian, dan provokasi identitas perlu diantisipasi melalui literasi digital yang mengedepankan verifikasi informasi, etika komunikasi, dan pemahaman konteks sosial-budaya. Kelima, strategi yang terencana meliputi peningkatan literasi digital, pengembangan platform kolaborasi lintas komunitas, serta produksi konten positif dapat memastikan teknologi digital berfungsi sebagai jembatan harmonisasi. Dengan penerapan yang konsisten, ruang digital berpotensi menjadi ekosistem inklusif yang tidak hanya menyebarkan informasi, tetapi juga menumbuhkan kesadaran kolektif untuk menghormati perbedaan, merayakan keberagaman, dan memperkuat kohesi sosial di era globalisasi. Copyright A 2025. Universitas Sapta Mandiri Balangan Latifah & Ngalimun. Teknologi Digital Saran