52 KEPEMIMPINAN PEREMPUAN DALAM PERSPEKTIF Oleh: Halimatuzzahro (Dosen Uin Matara. alimatuzzahro11@gmail. Laelin Farhani Azmi (Mahasiswa Uin Matara. aelinfarhani0303@gmail. Meri Andriani (Mahasiswa Uin Matara. eriandriani810@gmail. Abstract Women's leadership is actually a subject that has been widely taking the attention of the people in Indonesia where most of them embraced Islam. Many are still debating the credibility of the female figure as a leader. Most of the group who understand the religion in an extreme way, do not allow women to become leaders while looking at the evidence that is in Al-Quran and AlHadith. However, if the review is by looking through the religious and social perspective, then the actual meaning would be the opposite. That is because there are lots of criteria assessment on the nature of women that makes them worthy as a leader, those are. participation, understand the needs among women, the delegation and administration of the authority, as well as the perspective far into the future. Therefore, this journal will discuss more what is leadership, how women's leadership, what is the difference between the leadership of men and women, as well as the views of people about women's Keywords: Women. Leadership. Religion. Social. Abstrak Kepemimpinan perempuan sebenarnya merupakan suatu pokok bahasan yang telah banyak menuai berbagai polemik pada kalangan masyarakat Indonesia yang mayoritas memeluk agama Islam. Banyak yang masih memperdebatkan kredibilitas sosok perempuan sebagai pemimpin. Sebagian kelompok yang memahami agama secara ekstrem, tidak memperbolehkan perempuan menjadi pemimpin dengan dalil Al-Quran dan Al-Hadist. Namun, jika ditinjau lebih dalam lagi memakai perspektif agama dan sosial, sebenanya makna hakikatnya tidak seperti itu. Hal itu karena ada beberapa kriteria penilaian pada sifat alamiah perempuan yang membuatnya layak dijadikan sebagai pemimpin, partisipasi, memahami kebutuhan sesama perempuan, pelimpahan dan pemberian wewenang, serta berpandangan jauh ke depan. Oleh karena itu, jurnal ini akan membahas lebih dalam mengenai apa itu kepemimpinan, bagaimana kepemimpinan perempuan, apa perbedaan kepemimpinan laki-laki dan perempuan, serta pandangan berbagai kalangan mengenai kepemimpinan Kata Kunci:Perempuan. Kepemimpinan. Agama. Sosial. Pendahuluan Perempuan selalu saja dikaitkan dengan 3 hal, yaitu sumur, dapur, dan Ketiga hal tersebut sudah tertanam dalam pandangan sebagian orang terutama laki-laki. Menurut mereka, buat apa perempuan sekolah tinggi-tinggi yang berujung mengurusi suami dan berdiam diri dirumah. Perlu kita ketahui, itu tergantung dari niat seorang perempuan. Hakikat sebenarnya perempuan perlu bersekolah tinggi-tinggi ialah karena perempuan itu Madrasatul Ummah. Awal seorang anak belajar tentang segalanya adalah dari seorang ibu, perempuan, perempuan. Dia memimpin dan mendidik pengetahuan anaknya, serta memimpin rumah ketika tidak ada suami atau ketika suami pergi mencari nafkah. Disinilah letak sebenarnya hakikat menuntut ilmu seorang perempuan. Pada dasarnya Allah SWT menciptakan hambanya, baik itu laki-laki maupun perempuan semata-mata bertujuan untuk mendarmabaktikan dirinya kepada yang Maha Kuasa yakni Allah SWT. Agama islam datang kemuka bumi ini membawa ajaran egaliter, yaitu memandang manusia itu secara setara atau sederajat, dengan tidak membeda-bedakan ras, kasta, jenis kelamin1, jenis kulit, dll. Dalam islam yang membedakan seseorang dengan yang lain ialah kualitas ketakwaannya, kebaikannya selama hidup didunia, dan warisan amal baik yang ditinggalkannya setelah Ini sesuai dengan bunyi ayat yang dituangkan dalam QurAan surah AlHujurat ayat 13. Dengan demikian. Islam tidak pernah membeda-bedakan antara lakilaki dan perempuan, baik dalam hal kedudukan, harkat, martabat, kemampuan, dan kesempatan untuk berkarya. Suatu hal yang tidak dapat dipungkiri adalah perempuan merupakan bagian integral dari masyarakat. Secara biologis perempuan berbeda dengan laki-laki, tetapi dari segi hak dan kewajiban sebagai manusia itu sama. Jadi, keberadaan perempuan bukan sekadar pelengkap bagi laki-laki melainkan mitra sejajar dalam berbagai aspek kehidupan, baik yang bersifat domestik seperti rumah tangga maupun publik. Neng Dara Affiah. Islam. Kepemimpinan Perempuan Dan Seksualitas, (Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia, 2. , hlm. Ida Novianti. Dilema Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam. Jurnal Studi Gender Dan Anak, (Vol. No. Thn. , hlm. Pengertian Kepemimpinan Berikut ini ada banyak pengertian yang dikemukakan oleh para pakar menurut sudut pandang masing-masing, dan definisi-definisi dibawah ini menunjukkan adanya beberapa kesamaan: Griffin dan Ebert . 9, . Kepemimpinan . adalah proses memotivasi orang lain untuk mau bekerja dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditentukan. Ivancevich. Konopaske dan Matteson . 5, . Kepemimpinan adalah as the process of influencing others to facilitate the attainment of organizationally relevant goals. Maksud dari definisi tersebut ialah setiap individu tidak diharuskan menjadi pemimpin formal dalam suatu organisasi. Namun dapat juga menjadi pemimpin informal untuk memimpin orang lain sebagai pengikutnya dalam suatu organisasi/kelompok. Dan untuk mencapai tujuan organisasi, pemimpin formal maupun informal mempunyai peran yang sama-sama pentingnya untuk mencapai keberhasilan tujuan kelompok. Hugges. Ginnett dan Churpy . Kepemimpinan adalah sebuah fenomena yang kompleks meliputi 3 elemen, yaitu pemimpin, para pengikut, dan situasi. Keys dan Case . 3, . Kepemimpinan adalah suatu proses merealisasikan tujuan organisasi dengan memadukan kebutuhan para pengikutnya untuk terus tumbuh berkembang sesuai dengan tujuan organisasi. Marvin . 7, . Kepemimpinan merupakan kreasi yang berkaitan dengan pemahaman dan penyelesaian atas permasalahan situasi internal dan eksternal organisasi. Jadidari kelima definisi kepemimpinan diatas, dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan merupakan usaha dari seorang pemimpin untuk dapat merealisasikan tujuan individu ataupun tujuan organisasi. Sutarto Wijono. Kepemimpinan Dalam Persfektif Organisasi, (Jakarta: Kencana, 2. , hlm. Kepemimpinan Perempuan Kita sebagai seorang perempuan identik dengan sosok yang lemah, halus, emosional, baperan, dan lain-lain. Sedangkan laki-laki, digambarkan sebagai sosok gagah, pemberani, bertanggungjawab, rasional, dan masih banyak lagi. Penggambaran seperti inilah yang membuat posisi perempuan itu sebagai makhluk Tuhan yang seolah-olah harus dilindungi, dan senantiasa bergantung pada kaum lakilaki. Akibatnya, jarang sekali perempuan itu bisa tampil menjadi seorang pemimpin, karena mereka tersingkirkan dengan laki-laki dengan male chuvinisticnya. Akan tetapi, perempuan memiliki sifat-sifat khusus dan alamiah yang diberikan oleh Allah SWT yang membedakannya dengan pria. Sehingga sifat-sifat ini dapat perempuan manfaatkan untuk melaksanakan kepemimpinan dalam kondisi yang sesuai baginya. Berikut beberapa sifat alamiah seorang perempuan tersebut : Partisipasi Jumlah perempuan saat ini lebih banyak dari laki-laki, bahkah setengah jumlah masyarakat. Saat ini, perempuan memiliki peran dalam semua perubahan ideologi dan pemikiran. Salah satu bentuk partisipasi yang perempuan bisa lakukan adalah musyawarah dalam proses pengembalian keputusan. Perempuan Ini merupakan sifat yang baik dan dianjurkan oleh pakar manajemen kepada semua pemimpin perempuan masa kini. Memahami kebutuhan sesama perempuan Perempuan kebutuhan-kebutuhan perempuannya daripada pria, karena perempuan memiliki peran lebih besar dalam Dan juga perempuan memiliki peran yang besar terhadap segala keputusan-keputusan yang penting pendidikan, kesehatan, membeli rumah, dan lain-lain. Oleh karena itu, sangat penting bagi semua perusahaan untuk memahami cara perempuan berpikir dan mengambil keputusan. Oleh karena itu. Umar Bin Khatab lebih mempercayai dan menunjuk seorang perempuan untuk mengawasi pasar dan harga barang. Jadi, baik dalam masalah ekonomi yang bersifat pribadi maupun yang khusus yang Thariq Muhammad As-Suwaidan & Faishal Umar Basyarahil. Melahirkan Pemimpin Masa Depan, (Jakarta : Gema Insani Press, 2. , hlm. berhubungan dengan perempuan, perempuan lebih mampu mengaturnya daripada laki-laki. Pelimpahan dan pemberian wewenang Dua orang peneliti perempuan Judith Rziner dan Selly Helgusen, dalam buku AuThe Female AdvantageAy mereka tuangkan penelitian yang menunjukkan bahwa perempuan lebih lembut dalam bekerja daripada pria. Perempuan lebih banyak memberikan wewenang bagi para pegawainya daripada pria. Perempuan lebih memberikan kebebasan dalam hal mengambil keputusan, sehingga menjadikan tim yang semangat dan solid. Berpandangan jauh ke depan Perempuan lebih berpandangan jauh ke masa depan yang akan datang, baik didunia maupun akhirat. Banyak kajian yang telah membuktikan bahwa perempuan lebih gemar dan bersemangat mengumpulkan informasi-informasi daripada pria, dengan begitu ia lebih memiliki pandangan yang jauh ketimbang Pandangan yang jauh ini terkadang menembus ke dunia akhirat, sebagaimana yang dilakukan oleh istri dari seorang Raja FirAaun ketika ia meninggalkan kenikmatan dunia dan kemegahan istana dan berkata dengan Bahasa masa depan. Ini sesuai dengan bunyi ayat dalam al-QurAan yang artinya : AuYa Tuhanku ! bangunkanlah untukku rumah disisi-Mu dalam surga. Ay . t-Tahriim : . Sifat-sifat diatas semata-mata lebih menunjukkan diri perempuan yang bisa mendukung dan memberi motivasi untuk perempuan yang bercita-cita menjadi seorang pemimpin. Sebagai seorang perempuan tidak ada salahnya menanamkan angan serta cita-cita menjadi seorang pemimpin, karena ini memang hal yang wajar dan tidak ada yang bisa menyalahkan. Bahkah Allah SWT dalam kitab sucinya AaO au eO aO aOO aO ac aO O au e aO aOeO au aO au O au acIau O aO au UEO au O e aO e au O aO au OaO UOn O aO aE eO O aO aO e aO aEO au aOO O aO O aE eO au EaEO au aOO O aO aO e auO aE O au acIE aO eO aOOA AaO aO e aEO aE aO acIau aEO au aO e auE aO O aO aE aO au acIE aE O aO aO On O aO aOO au auacI eO O aO e aO aEO aO O aO O aO e aO aE OaOOA Artinya : AuIngatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi". Mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan . di bumi itu orang yang Ibid. , hlm. Ibid. , hlm 210 akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui". (QS. Al-Baqarah Ayat . Dari firman diatas sudah jelas sekali, bahwa setiap orang bisa menjadi Baik itu laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, pemimpin disini memiliki banyak makna dan cakupan yang luas. Bisa saja kita seorang perempuan menjadi pemimpin pemerintahan, pemimpin pendidikan, pemimpin keluarga, dan kalau bisa menjadi pemimpin bagi diri kita sendiri. Karena memimpin diri kita sendiri adalah hal yang jauh lebih penting. Kita masih punya tanggungjawab yang harus diemban dan dilaksanakan dengan penuh amanah. Sebagaimana hadits Nabi SAW yang diriwayatkan oleh Ibn Abbas yang artinya : AuMasing-masing kamu adalah Dan masing-masing kamu bertanggung jawab atas yang dipimpinnya. Ay (Hadits Riwayat Ibn Abba. Berdasarkan konsep diatas, tidak ada satu konsep pun dalam al-QurAan yang membatasi perempuan untuk menjadi seorang pemimpin. Bahkah didalam Al-qurAan. Allah SWT memerintahkan manusia untuk menjadi pemimpin. Baik itu untuk laki-laki maupun perempuan. Salah satu hal yang sering diperdebatkan ketika berbicara tentang perempuan ialah apakah perempuan bisa menjadi pemimpin suatu kelompok yang didalamnya mayoritas laki-laki. Pembicaraan mengenai persoalan kepemimpinan perempuan di Indonesia mulai menghangat ketika Megawati Soekarnoputri mencalonkan diri menjadi presiden. Banyak pihak yang menentangnya bukan karena meragukan kemampuan Megawati untuk memimpin, melainkan karena jenis kelaminnya perempuan. Meski pada Pemilu tahun 1999 Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang dipimpin oleh Megawati memenangkan suara terbanyak, namun hal tersebut tidak otomatis membuat Megawati menduduki jabatan Presiden. Sebagian ulama bersikerasmenentangnya, bahkan kalangan ulama NU pun menjadi terpecah saat mendiskusikan tentang apakah mungkin perempuan menjadi pemimpin. Bagi sebagian orang yang tidak setuju dengan perempuan yang boleh menjadi seorang pemimpin, itu karena mereka berpegang teguh pada surah An-nisaA ayat 34 yang menjelaskan bahwa kaum laki-laki itu pelindung bagi seorang perempuan dan N Ibad. Kekuatan Perempuan Dalam Perjuangan Gus Dur-Gus Miek, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2. , hlm. kaum laki-laki lebih tegak diatas kaum perempuan. Sebab. Allah telah melebihkan sebagian mereka . aki-lak. atas sebagian yang lain . , dan juga karena laki-laki telah memberikan nafkah dari hartanya. Dengan bersandar pada ayat inilah yang menimbulkan doktrin bahwa perempuan tidak berhak untuk menjadi pemimpin, dan yang pantas atau layak untuk menjadi sosok pemimpin hanyalah dari kaum lakilaki. Sehingga, hal ini menyebabkan kaum perempuan kesulitan untuk mendapatkan posisi dalam dunia politik. Kita buka sedikit sejarah pada zaman Rasulullah SAW. Sejarah islam mencatat, bahwa orang yang pertama kali menangkap dan memahami, serta menghayati kebenaran islam adalah seorang perempuan. 8Yakni istri Rasulullah sendiri Siti Khadijah ra. Beliaulah yang meyakinkan Rasulullah bahwa dia adalah utusan Allah SWT yang harus menyampaikan ajaran-Nya kepada umat manusia. Perempuan lain yang sangat berperan pada zaman itu ialah Sayyidatuna Aisyah ra. Beliau istri Nabi juga. Sayyidatuna Aisyah memiliki banyak pengetahuan yang diajarkan oleh Nabi SAW, dan menjadikan dirinya tumbuh dan berkembang sebagai ahli sastra dan ahli ilmu agama islam. Para sahabat Nabi dan TabiAin banyak yang berguru kepada beliau. Selanjutnya adalah keturunan beliau sendiri, yakni Fatimah Az-zahra. Nabi Muhammad SAW sangat menyayangi Fatimah Az-zahra, beliau mengekpresikan rasa sayangnya dengan mendidiknya menjadi seorang yang bermental kuat dan hidup didalam kenyamanan. Ketiga perempuan inilah yang sangat beliau sayangi, hormati, kasihi, serta santuni sepanjang hidupnya. Dalam perspektif sejarah kenabian Muhammad saw, sebagaimana utusanutusan sebelumnya, beliau dikategorikan sebagai seorang revolusioner penentang segala bentuk penindasan yang banyak dialami oleh kaum perempuan. Pada zaman jahiliyah, kedudukan perempuan sangat rendah. Mereka berada dalam posisi terbelakang dan menjadi obyek bulan-bulanan bagi kaum laki-laki. Mereka tidak mendapatkan warisan, malah sebaliknya menjadi obyek dan dijadikan harta warisan9, perempuan sangat direndahkan, dianggap sebagai manusia yang tidak berguna, tidak utuh, dikerdilkan, dan diremehkan. Bahkan ada yang menganggap perempuan itu adalah aib dan beban keluarga, sehingga perempuan pada saat itu harus Namun. Rasulullah SAW memberikan kesempatan dan menghormati, serta Neng Dara Affiah. Islam. KepemimpinanA, hlm. Munawir Haris. Kepemimpinan Perempuan Dalam Islam. Jurnal Studi Keislaman, (Vol. No. Thn. , hlm. memberikan kebebasan bagi seorang perempuan terutama didalam mempelajari ilmuilmu pengetahuan. Selain ketiga zuriyah Rasulullah diatas, masih banyak lagi perempuan dalam sejarah islam yang menorehkan dirinya sebagai seorang pemimpin. Diantaranya, di Aceh ada Ratu Tajul Alam Shafiyatuddin Syah . Ratu Nur Alam Naqiyatuddin Syah . Ratu Inayatsyah Zakiyatuddin Syah . Ratu Kamalat Syah . 10, dan yang paling terkenal tentunya pahlawan tanpa jasa Cut Nyak Dien . Sosok Cut Nyak Dien terkenal dengan penampilannya yang gagah dan berani didalam memimpin medan perang. Pada mulanya Cut Nyak Dien mendampingi suaminya Teuku Umar . , keluar masuk rimba bergerilya menghadapi pasukan Belanda. Sewaktu Teuku Umar tertembak pada tahun 1899, ia menggantikan kedudukan suaminya sebagai pemimpin Selama enam tahun tidak putus asa mengadakan perlawanan. Demikian juga ada pahlawan AuHabis Gelap Terbitlah TerangAy kita yakni R. A Kartini . , pelopor kebangkitan perempuan pribumi, pejuang hak-hak perempuan dan pendidikan bagi perempuan di Indonesia, berkat kegigihannya Kartini berhasil mendirikan sekolah perempuan dengan nama AuSekolah KartiniAy di wilayah Semarang. Yogyakarta. Madiun dan Cirebon. Dan masih banyak lagi sosok pemimpin perempuan yang sangat berjasa dan berperan besar bagi masyarakat, terutama bagi Negara Indonesia. Perbedaan Gaya Kepemimpinan Pria dan Gaya Kepemimpinan Perempuan kita melihat pemimpin perusahaan atau organisasi yang bergender perempuan, bahkan posisi middle management pun telah banyak diisi oleh kaum Seorang peneliti dari Amerika, pernah melakukan penelitian mengenai gaya kepemimpinan lelaki dan perempuan, penelitian itu dilakukan untuk mengkaji keberhasilan dan pencapaian antara pria dan perempuan, serta kedua gender tersebut layak untuk memimpin. Keberhasilan dan pencapaiannya yang hampir setara terlihat tetapi yang mebedakannya adalah dari sudut cara atauprosesnya. Sehubungan dengan isu gender dan kepemimpinan Robbins . , mengemukakan dua kesimpulan: Pertama, menyamakan antara laki-laki dan perempuan cenderung mengabaikan perbedaan diantara keduanya. Kedua, bahwa Neng Dara Affiah. Islam. Kepemimpinan. ,hlm. Iyoes Tobing. Makalah Kepemimpinan Perempuan, (Paper Presented at Academi. , hlm. apa yang menjadi perbedaan antara perempuan dan laki-laki adalah bahwa perempuan memiliki gaya kepemimpinan yang lebih democratic, sedangkan lakilaki merasa lebih nyaman dengan gaya yang bersifat directive . enekankan pada cara-cara yang bersifat perinta. Sejumlah studi lainnya memperlihatkan bahwa terdapat perbedaan mendalam antara laki-laki dan perempuan dalam hal gayakepemimpinannya. Perempuan cenderung mengadopsi gaya kepemimpinan yang lebih demokratik. Sedangkanlakilaki menggunakan gaya yang mendasarkan12pada kontrol dan perintah. Penelitian Tannen . bahwa pemimpin yang menekankan pada hubungan dan keakrabancenderung dimiliki oleh perempuan,memungkinkan seorang pemimpin tersebut bersikap memberdayakan segenap anggotanya, serta menekankan struktur Sedangkan kemandirian,cenderung dimiliki oleh laki-laki dan memungkinkan pemimpin tersebut mengadopsi struktur hirarkis, spesialisasi, dan perintah. Perbedaan gaya kepemimpinan perempuan dan laki-laki dapat disimpulkan sebagai berikut : Perempuan cenderung lebih memiliki perilaku yang demokratis dan partisipatif, seperti hormat pada orang lain, perhatian pada orang lain,prihatin terhadap pekerjanya/bawahannya dan berbagi kekuasaan serta perasaan dengan orang lain. Gaya seperti ini mengacu pada kepemimpinan interaktif, unsur-unsur transformasional,yakni yang inspirasional. Berbeda dengan laki-laki yang cenderung lebih mengarah pada perilaku yang directive . endasarkan pada instruks. dan assertive . enderung agresif dan dogmati. , dan menggunakan otoritas yang biasanya ia miliki untuk melakukan Aukontrol dan komandoAy. Secara umum, gaya kepemimpinan lelaki dan perempuan adalah sama tetapi situasinya yang akan mungkin berbeda. Penelitian di Amerika Serikat, menyatakan sedangkanperempuan dalam organisasi pendidikan dan sosial. Nahiyah Jayidi Faraz. Makalah Kepemimpinan Perempuan, (Paper Presented at Universitas Negeri Yogyakarta. Jogja, 2. , hlm. Nahiyah Jayidi Faraz. Makalah KepemimpinanA, hlm 2 Kepemimpinan Perempuan Dalam Berbagai Pandangan Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Islam Islam adalah agama yang bersifat universal atau luas, mampu mengatur berbagai dimensi kehidupan manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia mengkhalifahi bumi ini. Pemimpin dalam syariAat Islam merupakan wakil dan ummat, rupa, seolah-olah dia luput dari perbuatan salah, pemimpin mempunyai tugas yang sangat berat sebagai pengganti tugas kenabian dalam rangka mengatur kehidupan dan mengurus umat mencapai kemashalatan. Islam, kesejahteraan rakyat, memelihara persatuan ummat lewat kerja sama yang baik dan toleransi serta mampu menciptakan keamanan dan ketenangan bagi Sebagai panutan, pemimpin harus memiliki kriteria-kriteria yang telah ditentukan, antara lain adil, mempunyai kapasitas keislaman dan mampu secara fisik maupun mental. Islam memberikan peluang besar kepada perempuan untuk berkarir agar tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat, artinya ia harus punya bekal ilmu untuk mendidik putra dan putri menjadi muslim sejati. Islam menghendaki agar kaum perempuan dapat mengetahui hak dan kewajibannya, memahami Islam cara-cara melaksanakan muAammalah dengan ketentuan yang telah diatur sedemikian rupa, bersikap dan bekerja sesuai dengan kodrat keperempuanannya sehingga dapat mengantar mereka kepada kebahagiaan dunia dan akhirat. Apalagi Islam mempunyai tujuan pendidikan tersendiri, agar pemeluk-pemeluknya dapat berpedoman kepada apa yang telah ditentukan dalm Al-QurAan dan Hadits Rasulullah SAW. Kepemimpinan perempuan dalam perspektif Islam merupakan sesuatu yang unik dan urgen dibicarakan, bahkan selalu menjadi perdebatan yang tak kunjung sima. Hal ini disebabkan karena kepemimpinan merupakan akad timbal balik antara pimpinan dan rakyat yang tugasnya cukup komplek. Raihan Putry. Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Islam. Jurnal Madarrisuna, (Vol. No. Thn. , hlm. Raihan Putry. KepemimpinanA, hlm. sebagai pelayan ummat yang harus mampu mewujudkan rasa keadilan, menciptakan rasa aman, menjaga disintegrasi sampai pada kemampuan mendaptakan Negara Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur. 16Sebagai manusia ciptaan Allah SWT, perempuan juga berhak untuk memimpin, dalam lembaran sejarah Islam. Istri Rasulullah SAW yakni Sayyidatuna Aisyah ra juga pernah berperan dalam kancah kepemimpinan bahkan dalam peperangan. Perempuan juga di ciptakan untuk menjadi Khalifah di muka bumi sebagaimana di berikan kepada laki-laki, namun dengan satu konsekuensi yangdipimpinnya kepada Alah SWT. Jadi apapun profesi yang dijabat oleh perempuan, dia harus dapat mencerminkan kepribadian Islam dan benar-benar menyadari akan ajaran Islam sehingga orang banyak menghormatinya dalam berkarir, karena dia memiliki etika yang baik sebagai aplikasi dari Akhlaqul Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Hukum Islam Kepemimpinan perempuan dalam perspektif hukum Islam adalah konsep yang terbuka tetapi senantiasa berhubungan secara dialogis dengan perkembangan zaman. Syariat Islam juga tidak memberikan ketentuan praktis yang tegas dan clear terkait kepemimpinan perempuan karena masalah ini adalah salah satu kajian muAammalah . ubungan sosial kemanusiaa. , yang harus dijelaskan lebih lanjut dengan ijtihad dan berdasarkan pertimbangan Berdasarkan pemikiran tersebut sebenarnya tidak ada larangan tekstual dan kontekstual terhadap perempuan untuk menjadi seorang Siapapun . menjadi pemimpin apabila memiliki kompetensi dan keahlian serta kesediaan dalam hal tersebut. KH. Husein Muhammad yang merupakan satu-satunya Kyai Feminis Indonesia dan Prof. Siti Musdah Mulia sebagai Aktivis Hak Asasi Perempuan, sama-sama Bagi keduanya, sudah waktunya perempuan ikut andil dalam wilayah sosial kepemimpinan karena mereka memang memiliki kapabilitas Raihan Putry. KepemimpinanA, hlm. Samsul Zakaria. Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Hukum Islam. Jurnal Khazanah, (Vol. No. Thn. , hlm. dalam hal tersebut. Menurut keduanya, yang membedakan manusia disisi Tuhannya hanya ketakwaan, dan karenanya perbedaan jenis kelamin tidak dapat menjadi sandungan untuk mengebiri kesempatan perempuan dalam konteks kepemimpinan. KH. Husein Muhammad dengan basis turats-nya melihat diskursus kepemimpinan perempuan tersebut dengan membahas teks-teks klasik dan memberikan kritikan terhadapnya. Sementara Prof. Siti Musdah Mulia lebih banyak melakukan refleksi, disamping mengkritisi kemapanan pemahaman yang ada, terhadap kepemimpinan perempuan. Perempuan saat ini, menurut KH. Husein Muhammad, memiliki kemampuan dan keahlian sebagaimana yang dimiliki laki-laki, dan karena sebab itulah perempuan menjadi mungkin untuk memimpin. enjadi pemimpi. Sementara menurut Prof. Siti Musdah Mulia, ketika perempuan menjadi pemimpin tidak harus berubah warna menjadi seorang laki-laki yang tegas dan berwibawa. Sebab, kepemimpinan juga ideal ketika identik dengan kelemah-lembutan dan kasih-sayang . esuai tabiat perempua. Selebihnya. KH. Husein Muhammad dan Prof. Siti Musdah Mulia menekankan pembacaan teks-teks agama . n-nushush addiniyya. secara kontekstual, bukan semata tekstual, untuk mendapatkan pemahaman yang sesuai dengan laju Terakhir, dalam kajiannya Prof. Siti Musdah Mulia menilik aspek kebahasaan dalam memahaminya QS. an-NisAA . Hal tersebut walaupun juga dipahami oleh KH. Husein Muhammad tetapi tidak dilakukan dalam tulisannya. Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Gender Ada dua perbedaan kehidupan sosial yang nyata bagi laki-laki dan perempuan, lingkungan masyarakat sebagai tempat pertama bagi laki-laki, dan perempuanlah yang akrab dengan lingkungan rumah tangga hubungan diantara keduanya adalah tidak langsung. Penafsiran yang diberikan kepada biologis perempuan menyebabkan kerugian mereka pada semua tingkat masyarakat bukan keadaan biologis mereka sendiri. Perempuan di manapun umumnya kurang dikenal dan kurang berwenang dalam adat. Penafsiran inilah yang Samsul Zakaria. Kepemimpinan Perempuan DalamA, hlm. mengikat mereka untuk hanya mengasuh anak-anak dan tetap dalam lingkungan rumah tangga. Berikut ini adalah beberapa perspektif gender mengenai kepemimpinan Adapun peran perempuan dari berbagai aspek, baik itu dalam refroduksi, ekonomi, sosial, politik dan kepemimpinan Islam bahwa selama ini perempuan ditempatkan hanya sebagai anggota dalam hal kepengurusan, hal ini diungkapkan oleh berbagai informan bahwa perempuan yang aktif diorganisasi kemasyarakatan serta tidak memiliki ciri-ciri pemberani seperti halnya dengan laki-laki. Alasan inilah sehingga program kerja yang implementasikan ke dunia politik yang ada. Sedangkan posisi perempuan dalam partai politik rata-rata bersifat stereotipe, hal ini dibuktikan dari hasil penelitian melalui wawancara dengan alasan bahwa dengan maupun tidak banyak dilibatkan dalam faktor-faktor yang mempengaruhi keterlibatan perempuan dalam partai politik adalah : pengaruh faktor pendidikan sangat besar dan sangat menentukan keaktifan kaum perempuan dalam keterlibatannya sebagai pengurus partai politik, karena semua tugas-tugas yang diembankan kepada perempuan dapat dilaksanakan berkat adanya pendidikan yang dimiliki oleh perempuan tersebut. Ini berarti bahwa ada relevansi antara tugas dengan pendidikan. Kendala yang dialami perempuan dalam partai politik yaitu melalui beberapa persoalan antara lain pendidikan, pekerjaan, keadilan dan kesetaraan gender, peran domestik, budaya patriarkhi, agama dan hubungan kekeluargaan. Semua yang tercatat ini adalah masalah yang sering dihadapi perempuan dalam aspek kehidupan di masyarakat. Sehingga terkesan bahwa selama ini banyak perempuan yang tidak mau terlibat dengan persoalan partai, dan kemudian kendala lain yang sering terjadi di beberapa partai yaitu terjadinya diskriminasi terhadap perempuan bahkan ketidakadilan yang dialami oleh perempuan dalam partai politik. St Habibah. Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Gender. Jurnal Sosioreligius, (Vol. No. Thn. , hlm. Perempuan yang memiliki keahlian atau kompetensi memimpin negara, boleh menjadi kepala negara dalam konteks masyarakat modern karena sistem pemerintahan modern tidak sama dengan sistem monarki yang berlaku di masa klasik dimana kepala negara harus mengendalikan semua urusan kenegaraan. Kepemimpinan Perempuan Dalam Perspektif Ormas Nahdhatul Ulama Menurut NU, kedudukan peremupuan dalam islam sangatlah mulia. Islam tidak menempatkan perempuan dalam posisi melakukan perubahan dikehidupan masyarakat. Peran domestik dan publik perempuan bisa berjalan secara seimbang. Sebagai warga negara, perempuan mempunyai hak untuk berpolitik dan melakukan peran sosialnya secara tegas, transparan, dan Peran-peran publik bagi perempuan diperbolehkan sepanjang perempuan tersebut mempunyai kemampuan dengan tidak melupakan peran Dalam konteks NU, peran domestik perempuan yaitu menjaga keutuhan rumah tangga, adalah tugas utama yang tidak bisa ditinggalkan dalam situasi apapun. Peran publik tidak boleh dilakukan dengan memojokkan peran domestik. Keluarga bahagia yang dipenuhi dengan unsur mawaddah wa rahmah dipenuhi dengan keharmonisan kehidupan keluarga yang terdiri dari suami, istri, dan anak dengan hak dan kewajiban masing-masing. Keseimbangan peran domestik dan publik akan meneguhkan kehidupan berbangsa dan bernegara yang harmonis dan sinergis. Perempuan menjadi tenang berkarir di sektor publik karena kondisi keluarganya harmonis. Suami dan anak-anak bisa menerima keputusan perempuan karir karena hak mereka tetap terpenuhi dengan baik. Dibutuhkan perjuangan keras bagi para aktivitis perempuan untuk menegakkan keseimbangan dalam keluarganya. Jangan sampai terlalu larut dalam kegiatan publiknya yang membuatnya lupa terhadap tanggungjawab keluarga. Keduanya sama-sama penting dan membutuhkan perhatian yang besar. Kekuatan spiritual sangat membantu untuk melakukan St Habibah. Kepemimpinan PerempuanA, hlm. Ahkamul Fuqaha. Solusi Problematika Aktual Hukum Islam: Keputusan Muktamar. Munas, dan Konbes Nahdlatul Ulama (Surabaya: Khalista dan LTNPBNU, 2. , hlm. kerja domestik dan publik secara seimbang demi kemaslahatan keluarga dan bangsa secara keseluruhan. Dukungan NU kepada perempuan untuk menjadi pemimpin publik secara tidak langsung mendorong kaum perempuan untuk meningkatkan kualitas secara komprehensif. Kapabilitas . dan integritas adalah dua unsur yang menjadi syarat bagi perempuan untuk menjadi pemimpin. Tanpa kapabilitas dan integritas, kepemimpinan perempuan hanya akan menjadi presiden buruk bagi kepemimpinan perempuan. Kepemimpinan Tri Rismaharini sebagai Wali Kota Surabaya yang mampu menutup lokalisasi Dolly di Surabaya tanpa ada pertumpahan darah adalah bukti real kapabilitas dan integritas moral pemimpin perempuan yang membawa angin segar bagi perubahan bangsa di seluruh aspek kehidupan. Perempuan boleh menjadi anggota DPR/DPRD sebagai lembaga permusyawaratan untuk menentukan hukum . ubutu amrin li amri. , bukan sebagai lembaga yang menentukan qada . izamil hikm. Kebolehan ini disertai dengan berbagai syarat, yaitu. Aafifah . enjaga dir. , mempunyai kapabilitas, menutup aurat, mendapat izin dari yang berhak memberi izin, aman dari fitnah, dan tidak menjadi sebab timbulnya kemungkaran menurut syaraA. Perempuan mencalonkan diri menjadi Kepala Desa tidak boleh, kecuali dalam keadaan terpaksa, karena hukumnya disamakan dengan larangan perempuan menjadi hakim. Pendapat ini menurut Mazhab SyafiAi. Maliki. Hambali, dan para ulama salaf dan khalaf. Namun, menurut Mazhab Hanafi, perempuan boleh menjadi pemimpin dalam urusan harta benda, dan menurut Imam Ibn Jarir diperbolehkan dalam segala urusan. Dasar keputusan ini dari kitab Bidayatul Mujtahid karya Ibn Rusyd Juz 2 dan al-Mizan alKubra karya Abdul Wahhab asy-SyaArani Juz 2. Dari perspektif di atas, dengan prinsip moderasi, keseimbangan dan toleransi di atas NU membolehkan perempuan menjadi pemimpin dengan merujuk pada prinsip utama Islam yang tidak membedakan antara laki-laki dan perempuan. Selain itu, kebolehan perempuan menjadi pemimpin menurut NU tidak lepas dari upaya menegakkan kemaslahatan yang berubah dengan Jamal MaAmur Asmani. Kepemimpinan Perempuan : Pergulatan Wacana Di Nahdhatul Ulama (NU). Jurnal ADDIN, (Vol. No. Thn. , hlm. Jamal MaAmur Asmani. Kepemimpinan Perempuan : PergulatanA, hlm. perubahan masa. Tuntutan publik, khususnya dari kalangan perempuan, untuk berpartisipasi aktif dalam berbagai aspek kehidupan di ruang publik, mengharuskan NU untuk menyikapinya secara arif dan bijaksana. Peran domestik perempuan juga tidak boleh ditinggalkan dalam keadaan Seorang perempuan yang aktif di ruang publik harus tetap menempatkan peran domestik sebagai peran utama yang harus diprioritaskan. Peran domestik adalah pondasi peran publik perempuan, karena keluarga adalah sumber kebahagiaan lahir dan batin. Jika keluarga berjalan secara harmonis, maka aktivitas di ruang publik akan berjalan dengan tenang dan Kesimpulan Perempuan juga memiliki hak dalam kehidupannya. Bahkan peluang untuk menjadi seorang pemimpin itu masih ada harapan. Akan tetapi, masih banyak forum yang meragukan kemampuan perempuan menjadi seorang pemimpin. Dikarenakan mereka masih berpegang teguh pada Surah An-nisaA ayat 34. Allah SWT tidak pernah membeda-bedakan hambanya. Bahkan perempuan juga diciptakan oleh-Nya untuk menjadi khalifah/pemimpin dimuka bumi ini. Dalam islam pun, perempuan diberikan peluang untuk berkarir dan menuntut ilmu setinggi-tingginya. Untuk apa ? tidak lain itu semua agar tercapai kebahagiaan dunia dan akhirat, artinya dengan kedua hal itu perempuan bisa mendidik putra dan putri mereka menjadi muslim sejati. Karena hakikatnya perempuan mencari ilmu untuk kehidupan berkeluarga kelak. Sedangkan dari pandangan ormas NU sendiri, perempuan diberikan dukungan dalam hal memimpin. Asalkan seorang perempuan tidak melupakan peran domestik dan publiknya. Yaitu menjaga keharmonisan berumah tangganya. DAFTAR PUSTAKA