Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha Volume. 3 Nomor. 2 Juni Tahun 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 07-16 DOI: https://doi. org/10. 61132/jbpab. Available online at : https://journal. id/index. php/jbpab Pendidikan Berbasis Welas Asih dalam Buddhisme Humanistik Fo Guang Tegar Yusteditera1*. Situ Asih 2. Prihadi Dwi Hatmono3 Sekolah Tinggi Agama Buddha Negeri Raden Wijaya. Indonesia *Penulis Korespondensi: tegarupin486@gmail. Abstract. This study examines the role of Humanistic Buddhism as practiced by Fo Guang Shan in building compassion-based communities through education in Indonesia. As a contemporary Buddhist movement with global development. Fo Guang Shan emphasizes the integration of values such as compassion, wisdom, and humanity into both formal and non-formal educational practices that are relevant to the social context of modern Using a qualitative descriptive approach, this research explores in depth the implementation of Humanistic Buddhist values within educational curricula, learning activities, and various community empowerment programs involving interfaith and intercultural engagement. Data were obtained through analysis of educational activities and social practices conducted by Fo Guang Shan in Indonesia. The findings indicate that education grounded in Humanistic Buddhism contributes significantly to fostering interreligious tolerance, shaping learnersAo moral character, and promoting social solidarity within IndonesiaAos pluralistic society. Beyond academic aspects. Fo Guang ShanAos educational model also prioritizes the development of empathy, social responsibility, and collective awareness to encourage harmonious coexistence. This study concludes that the educational initiatives undertaken by Fo Guang Shan offer a transformative approach to building an inclusive, compassionate society oriented toward sustainable social engagement. Keywords: Compassion. Education. Humanistic Buddhism. Indonesia. Social Solidarity. Abstrak. Penelitian ini mengkaji peran Buddhisme Humanistik yang dipraktikkan oleh Fo Guang Shan dalam membangun komunitas berbasis welas asih melalui pendidikan di Indonesia. Sebagai gerakan Buddhis kontemporer yang berkembang secara global. Fo Guang Shan menekankan integrasi nilai-nilai welas asih, kebijaksanaan, dan kemanusiaan ke dalam praktik pendidikan formal maupun non-formal yang relevan dengan konteks sosial masyarakat modern. Dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, penelitian ini menelusuri secara mendalam penerapan nilai-nilai Buddhisme Humanistik dalam kurikulum pendidikan, aktivitas pembelajaran, serta berbagai program pemberdayaan masyarakat yang melibatkan lintas agama dan budaya. Data diperoleh melalui analisis kegiatan pendidikan dan praktik sosial yang dijalankan oleh Fo Guang Shan di Indonesia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan berbasis Buddhisme Humanistik berkontribusi signifikan dalam menumbuhkan sikap toleransi antarumat beragama, membentuk karakter moral peserta didik, serta mendorong terciptanya solidaritas sosial dalam masyarakat Indonesia yang majemuk. Selain menekankan aspek akademik, model pendidikan Fo Guang Shan juga mengutamakan pengembangan empati, tanggung jawab sosial, dan kesadaran kolektif untuk hidup berdampingan secara harmonis. Studi ini menyimpulkan bahwa inisiatif pendidikan Fo Guang Shan menawarkan pendekatan transformatif dalam membangun masyarakat yang inklusif, penuh kasih, dan berorientasi pada keterlibatan sosial berkelanjutan. Kata Kunci: Buddhisme Humanistik. Indonesia. Pendidikan. Solidaritas Sosial. Welas Asih. LATAR BELAKANG Studi ini dilatarbelakangi oleh paradoks sosial yang signifikan di Indonesia: meskipun nilai persatuan dan gotong royong secara historis dijunjung tinggi, praktik nyata dari nilai welas asih . aruNA) semakin terpinggirkan dalam kehidupan sosial yang kian terfragmentasi akibat arus modernisasi. Sistem pendidikan formal umumnya masih berorientasi pada capaian kognitif semata, sehingga mengabaikan dimensi afektif dan keterampilan sosial-emosional yang vital dalam membentuk komunitas yang peduli dan inklusif (Sarwi et al. , 2. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi celah dalam kurikulum saat ini serta mengusulkan model pendidikan alternatif yang menekankan etika kasih sayang dan penguatan Naskah Masuk: 15 April 2025. Revisi: 22 Mei 2025. Diterima: 20 Juni 2025. Terbit: 30 Juni 2025 Pendidikan Berbasis Welas Asih dalam Buddhisme Humanistik Fo Guang Buddhisme Humanistik yang dikembangkan oleh Fo Guang Shan (FGS) menawarkan solusi potensial melalui pendekatan pendidikan yang mengintegrasikan nilai-nilai universal Buddhis ke dalam kehidupan sehari-hari. Dalam konteks masyarakat multikultural Indonesia, tantangan seperti erosi moral, intoleransi, dan menurunnya empati menjadi latar belakang penting bagi munculnya kebutuhan akan sistem pendidikan berbasis nilai kemanusiaan (Alberto Ardiansyah et al. , 2. FGS mengusung visi AuBuddhisme untuk kehidupan seharihari,Ay yang berfokus pada memberi manfaat kepada sesama dan menciptakan keharmonisan Nilai-nilai utama yang diajarkan meliputi welas asih . aruNA) dan kebijaksanaan . rajyA), yang tidak hanya disampaikan dalam bentuk ritual keagamaan, tetapi juga melalui kurikulum pendidikan formal dan non-formal. Dalam praktiknya. FGS merancang modul pendidikan karakter yang menggabungkan nilai-nilai seperti Empat Pemberian . emberi keyakinan, harapan, kegembiraan, dan kemudaha. serta Tiga Perbuatan Baik . erpikiran baik, berkata baik, berbuat bai. ke dalam Program ini diimplementasikan melalui sekolah di bawah naungan yayasan FGS serta pelatihan publik. Selain itu. FGS menyelenggarakan pelatihan intensif bagi guru dan relawan agar mereka menjadi agen perubahan yang hidup sesuai dengan nilai-nilai yang diajarkan (Susiana & Wiyarsih, 2. FGS juga aktif menciptakan ruang interaksi lintas agama dan budaya melalui kegiatan sosial, seni, dan dialog publik, sebagai strategi membangun pengertian dan welas asih lintas batas komunitas (Lensa et al. , n. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi sejauh mana pendekatan Buddhisme Humanistik FGS mampu mengatasi kesenjangan spiritual dan etis dalam masyarakat Indonesia. Pertanyaan utamanya adalah apakah metode pendidikan yang diterapkan FGS baik non-formal, mentransformasikan pemahaman welas asih menjadi tindakan nyata di lingkungan peserta didik dan komunitas yang lebih luas. Buddhisme Humanistik (Renjian Fojia. yang dipelopori oleh Venerable Master Hsing Yun, menekankan pentingnya praktik Dharma dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini bertumpu pada kesejahteraan manusia, pembentukan karakter moral, dan pelayanan sosial, sebagai lawan dari ritualisme atau keterasingan spiritual (Mirza Maulana, 2. Studi-studi terdahulu terkait implementasi pendidikan Buddhisme Humanistik di Indonesia, seperti di Pusat Pendidikan Fo Guang Shan dan Institut Dong Zen, mengonfirmasi fokus mereka pada penerapan Empat Pemberian dan Tiga Perbuatan Baik sebagai strategi pendidikan karakter yang menyatu dengan dunia nyata dan responsif terhadap tantangan modernitas (Tirta Kencanawati et al. , 2. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 JUNI TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 07-16 Meski memiliki potensi besar, pendekatan ini masih menghadapi kendala. Keterbatasan data empiris terkait dampak kuantitatif maupun kualitatif dari model pendidikan ini menjadi tantangan dalam upaya replikasi. Oleh karena itu, penelitian ini juga bertujuan untuk membangun kerangka konseptual yang menghubungkan Buddhisme Humanistik dengan teori pembangunan komunitas dan pendidikan karakter kontemporer di Indonesia. Dengan demikian, studi ini tidak hanya mengisi kekosongan penelitian, tetapi juga merumuskan model pendidikan berbasis welas asih yang dapat diadopsi lebih luas untuk memperkuat kohesi sosial dan mendorong terciptanya masyarakat yang berempati (Amalia et al. , n. Perubahan sosial di Indonesia menuntut pendekatan pendidikan yang mampu menjawab tantangan spiritual dan sosial secara bersamaan. Buddhisme Humanistik hadir sebagai alternatif yang relevan. Fo Guang Shan, melalui berbagai lembaga seperti Pusat Pendidikan Buddhis Fo Guang Shan Indonesia (PPBFGSI) dan Institut Dong Zen Indonesia (IDZI), telah mengembangkan sistem pendidikan yang menyeimbangkan antara penguasaan pengetahuan, pembentukan karakter, serta pelayanan sosial dan spiritual (Liu, 2. Penelitian ini mencoba memahami, menilai, dan merumuskan kontribusi nyata dari pendekatan tersebut dalam membentuk komunitas berbasis welas asih di Indonesia. KAJIAN TEORITIS Kajian teoritis dalam penelitian ini bertumpu pada konsep komunitas berbasis welas asih . ompassionate communit. , yang dipahami bukan sekadar sebagai entitas geografis, tetapi sebagai suatu ekosistem sosial yang mengintegrasikan nilai-nilai etika, empati, dan kepedulian dalam seluruh aspek interaksi dan kelembagaannya. Dalam konteks ini, komunitas dibangun melalui kesadaran kolektif dan tindakan aktif untuk saling mendukung, khususnya dalam menghadapi tantangan sosial dan spiritual. Secara filosofis, pendekatan ini sangat sejalan dengan prinsip-prinsip Buddhisme Humanistik yang dikembangkan oleh Fo Guang Shan (FGS), sebuah mazhab Buddhis modern yang dipelopori oleh Venerable Master Hsing Yun. Buddhisme Humanistik menekankan pentingnya mengaktualisasikan nilai-nilai Dharma dalam kehidupan sehari-hari (Dharma is inseparable from life. Humanistic Buddhism is living among peopl. Ini merupakan pergeseran paradigma dari penekanan tradisional yang lebih tertuju pada praktik monastik dan orientasi kehidupan setelah kematian, menuju pada praktik keagamaan yang membumi, aktif, dan solutif terhadap persoalan sosial kontemporer. Pendidikan Berbasis Welas Asih dalam Buddhisme Humanistik Fo Guang Teori Buddhisme Humanistik Landasan utama dalam kajian ini adalah pemikiran Master Hsing Yun tentang Buddhisme Humanistik. Menurut beliau, ajaran Buddha harus menjadi panduan moral praktis dalam kehidupan bermasyarakat, tidak terbatas pada ritual keagamaan formal di dalam vihara. Beberapa prinsip kunci dalam Buddhisme Humanistik antara lain integrasi Dharma dengan kehidupan sehari-hari, serta penerapan Empat Semboyan (Sy Gu. Integrasi Dharma dan kehidupan berarti bahwa ajaran Buddha tidak hanya diamalkan dalam ruang ibadah, tetapi diwujudkan dalam tindakan sosial nyata seperti pelayanan masyarakat, kegiatan pendidikan, dan kehidupan keluarga. Dalam konteks pendidikan, hal ini mencakup penanaman nilai-nilai kemanusiaan melalui proses pembelajaran yang menyeluruh dan menyentuh seluruh aspek kehidupan peserta didik. Sementara itu. Empat Semboyan memberi keyakinan, harapan, kegembiraan, dan kemudahan menjadi landasan pedagogis dalam membentuk hubungan yang positif antara guru dan siswa, serta memperkuat keterhubungan sosial di lingkungan komunitas secara lebih luas. Konsep Pendidikan Karakter Berbasis Welas Asih (KaruNA) Konsep ini didukung oleh teori pendidikan holistik, yang menekankan perkembangan seluruh aspek diri manusia intelektual, emosional, sosial, dan spiritual. Dalam kerangka ini, welas asih . aruNA) diposisikan sebagai inti dari pembentukan karakter dan hubungan sosial. Etika Kepedulian (Ethics of Car. menjadi prinsip penting dalam pendidikan berbasis welas asih. Prinsip ini menekankan pentingnya membangun hubungan yang saling peduli dalam proses belajar-mengajar. Lingkungan belajar yang menumbuhkan empati mampu menciptakan rasa aman secara psikologis dan mendukung perkembangan tanggung jawab sosial peserta didik. Dalam konteks masyarakat Indonesia yang multikultural, nilai-nilai welas asih berpotensi menjadi landasan etika lintas agama yang inklusif. Dengan demikian, welas asih dapat berperan sebagai jembatan universal yang menyatukan berbagai latar belakang budaya dan keyakinan dalam kerangka nilai-nilai kemanusiaan yang saling menghormati. Dengan memadukan teori Buddhisme Humanistik dan pendidikan berbasis welas asih, penelitian ini menawarkan kerangka konseptual untuk memahami dan mengembangkan pendekatan pendidikan yang mampu merespons tantangan sosial melalui penguatan nilai-nilai spiritual dan kemanusiaan. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 JUNI TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 07-16 METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus interpretatif . nterpretive case stud. Pendekatan ini dipilih karena mampu memberikan pemahaman yang mendalam dan kontekstual terhadap fenomena sosial yang kompleks, khususnya terkait dengan integrasi nilai-nilai welas asih Buddhisme Humanistik dalam praktik pendidikan dan pembentukan komunitas di Indonesia. Unit analisis utama dalam penelitian ini adalah program-program pendidikan formal dan non-formal yang diselenggarakan oleh Fo Guang Shan (FGS), serta dampaknya terhadap para partisipan komunitas. Penelitian ini menelaah bagaimana nilai-nilai Buddhisme Humanistik diimplementasikan dalam kurikulum, kegiatan belajar, serta interaksi sosial di lingkungan pendidikan FGS. Pengumpulan data dilakukan melalui beberapa teknik utama. Pertama, wawancara mendalam dilakukan terhadap para pemangku kepentingan kunci, seperti biksu/biksuni, pendidik, orang tua siswa, dan anggota komunitas. Wawancara ini bertujuan untuk menggali persepsi, pengalaman, serta interpretasi mereka terhadap peran FGS dalam pendidikan berbasis welas asih. Kedua, dilakukan observasi partisipatif di lokasi penelitian, seperti sekolah dan pusat kegiatan FGS, untuk menangkap dinamika pembelajaran, pelaksanaan nilai-nilai welas asih, dan praktik kehidupan komunitas sehari-hari. Ketiga, data pelengkap dikumpulkan melalui analisis dokumen yang mencakup kurikulum, laporan kegiatan sosial, dan bahan ajar resmi dari FGS. Analisis data dilakukan dengan menggunakan teknik analisis tematik . hematic analysi. , yaitu dengan mengidentifikasi pola-pola kunci, tema-tema utama, dan kategori-kategori yang muncul dari data naratif. Analisis ini bertujuan untuk menghasilkan deskripsi mendalam dan interpretasi yang valid mengenai kontribusi FGS dalam membangun komunitas berbasis welas asih di Indonesia (Li, n. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi Lokasi Penelitian Lokasi penelitian ini mencakup Yayasan Pendidikan dan Pusat Kegiatan Fo Guang Shan (FGS) di Indonesia yang secara strategis merepresentasikan penerapan Buddhisme Humanistik dalam konteks pendidikan dan kehidupan sosial multikultural. Fokus utama diberikan pada pusat-pusat aktivitas komunitas FGS, seperti Pusat Budaya Indonesia FGS, yang biasanya terdiri dari kompleks vihara, sekolah, dan pusat kegiatan sosial di kota-kota besar seperti Jakarta. Medan, atau Surabaya, tergantung pada lokasi penelitian yang dipilih (Belajar Pendidikan Berbasis Welas Asih dalam Buddhisme Humanistik Fo Guang Humanistik et al. , n. Tempat-tempat ini berfungsi sebagai laboratorium sosial, di mana nilai-nilai welas asih . aruNA) diwujudkan ke dalam kurikulum pendidikan, kegiatan pengabdian masyarakat, serta interaksi keseharian antara pendidik, peserta didik, dan umat. Selain institusi formal, lokasi penelitian juga mencakup program komunitas non-formal seperti klinik kesehatan gratis dan kegiatan filantropi, yang merupakan bentuk konkret dari upaya FGS membangun AuTanah Suci di dunia iniAy melalui praktik welas asih yang nyata dan inklusif. Analisis Implementasi nilai welas asih dalam komunitas tercermin dalam berbagai bentuk aktivitas nyata seperti pelayanan sosial, pendidikan moral, pelestarian lingkungan, dan penguatan institusi keluarga. Keterlibatan aktif dalam program-program ini membentuk ruang edukatif yang menanamkan empati dan kepedulian secara langsung kepada anggota komunitas. Contohnya mencakup dukungan kepada anak-anak dari keluarga kurang mampu, penyelenggaraan layanan kesehatan gratis, serta keterlibatan dalam kerja bakti menjaga kebersihan lingkungan. Aktivitas-aktivitas ini bukan hanya merupakan tindakan sosial, tetapi juga manifestasi praktis dari nilai-nilai welas asih. Ketika praktik ini diterapkan secara konsisten, komunitas dapat berkembang menjadi ruang yang inklusif dan harmonis, serta berkontribusi bagi terwujudnya masyarakat yang berkeadilan dan penuh kemanusiaan. Untuk memperkuat implementasi nilai-nilai ini, terdapat beberapa langkah strategis yang dapat diambil, seperti: . mengembangkan kurikulum yang mengintegrasikan nilai welas asih ke dalam seluruh mata pelajaran. menyelenggarakan pelatihan guru terkait penerapan nilainilai Buddhisme Humanistik dalam pembelajaran. menciptakan aktivitas sekolah yang menumbuhkan empati, seperti proyek sosial atau program mentoring. menjalin kemitraan antara sekolah Buddhis dan non-Buddhis untuk saling berbagi praktik pendidikan Welas asih . aruNA) merupakan nilai fundamental dalam ajaran Buddha yang tidak hanya menjadi landasan moral personal, tetapi juga prinsip sosial. Dalam naskah-naskah Buddhis klasik seperti Dhammapada dan Sutta Pitaka, welas asih digambarkan sebagai kepedulian tulus terhadap penderitaan makhluk lain dan dorongan aktif untuk meringankannya tanpa pamrih. Dalam konteks modern, welas asih bertransformasi menjadi nilai sosial yang mendasari interaksi antarindividu, kebijakan publik, serta sistem pendidikan. Sebagaimana disampaikan oleh Dalai Lama . , welas asih adalah kebutuhan universal manusia yang melampaui batas agama dan memiliki peran krusial dalam membentuk masyarakat yang damai dan adil (Yunia. Jurnal Budi Pekerti Agama Buddha - Volume. 3 Nomor. 2 JUNI TAHUN 2025 e-ISSN : 3031-8335, p-ISSN : 3031-8327. Hal 07-16 Analisis SWOT Untuk memahami posisi strategis lembaga-lembaga FGS dalam menjalankan misinya, diterapkan analisis SWOT pada lokasi penelitian. Kekuatan (Strength. mencakup dukungan jaringan internasional dari FGS Global, ketersediaan kurikulum pendidikan yang telah teruji . Tiga Perbuatan Bai. , serta komitmen tinggi dari para relawan dan pendidik yang terinspirasi oleh ajaran Master Hsing Yun (Danubius & Supliment, 2014. Syaputri et al. , n. Namun, terdapat kelemahan (Weaknesse. seperti keterbatasan dalam adaptasi budaya dan bahasa lokal, serta tantangan dalam menjangkau komunitas yang lebih luas akibat persepsi publik terhadap Buddhisme sebagai agama minoritas. Peluang (Opportunitie. muncul dari konteks sosial Indonesia yang mendukung multikulturalisme dan dialog antaragama, yang memungkinkan ekspansi program welas asih ke berbagai lapisan masyarakat. Selain itu, kerja sama dengan institusi pendidikan nonBuddhis dapat memperluas dampak sosial dari pendekatan ini. Di sisi lain, ancaman (Threat. dapat berupa perubahan regulasi pemerintah mengenai pendidikan keagamaan atau resistensi dari kelompok konservatif yang belum memahami secara menyeluruh nilai-nilai Buddhisme Humanistik. Untuk itu, strategi komunikasi lintas budaya dan agama menjadi sangat penting. Secara keseluruhan, pendekatan pendidikan FGS menawarkan alternatif yang relevan dalam mengatasi tantangan pendidikan modern. Program-program yang dijalankan tidak hanya mengajarkan doktrin keagamaan, tetapi juga mempromosikan disiplin, tanggung jawab sosial, dan penerapan nilai welas asih dalam kehidupan nyata (Kaunonen & Mair, 2. Literatur lokal, seperti yang ditulis oleh Sulaiman, juga menekankan bahwa pendidikan berbasis spiritualitas komunitas agama dapat menjadi pelengkap penting terhadap sistem pendidikan formal yang terlalu menekankan aspek akademik. Dalam konteks ini. Buddhisme Humanistik muncul sebagai bentuk revitalisasi agama yang selaras dengan kebutuhan zaman dan mampu menjawab tuntutan kehidupan sosial kontemporer. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini menyimpulkan bahwa nilai-nilai utama dalam Buddhisme Humanistik yang diterapkan oleh Fo Guang Shan (FGS) seperti welas asih . aruNA), toleransi, dan pelayanan tanpa pamrih memiliki peran signifikan dalam membentuk ekosistem pendidikan yang inklusif, berkarakter, dan berorientasi pada harmoni sosial. Melalui berbagai program pendidikan formal dan non-formal. FGS berhasil mentransformasikan nilai-nilai spiritual menjadi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta didik dan komunitas, sekaligus Pendidikan Berbasis Welas Asih dalam Buddhisme Humanistik Fo Guang menumbuhkan budaya empati, keterlibatan sosial, dan saling menghormati dalam konteks masyarakat Indonesia yang majemuk. Penerapan pendekatan pendidikan berbasis welas asih oleh FGS menunjukkan kontribusi nyata terhadap terbentuknya budaya pendidikan yang humanis dan transformatif. Nilai welas asih tidak hanya berfungsi sebagai prinsip moral abstrak, tetapi juga menjadi dasar operasional dalam menciptakan interaksi sosial yang harmonis dan inklusif. Pendidikan dalam model ini tidak sekadar memfokuskan pada transfer pengetahuan, tetapi juga berperan sebagai wahana transformasi nilai dan pembentukan karakter. Lebih jauh, pengalaman Fo Guang Shan dalam mengintegrasikan ajaran Buddhisme Humanistik ke dalam pendidikan memberikan wawasan yang berharga, tidak hanya bagi pendidik atau praktisi agama, tetapi juga bagi para peneliti dan antropolog yang tertarik memahami peran agama dalam membentuk etika sosial kontemporer. Model ini menunjukkan bahwa nilai-nilai spiritual dapat menjadi kekuatan konstruktif dalam membangun masyarakat yang peduli dan kolaboratif, tanpa kehilangan relevansinya dalam konteks modern. Berdasarkan temuan penelitian ini, disarankan agar lembaga pendidikan di Indonesia, baik yang berafiliasi dengan agama Buddha maupun yang bersifat umum atau non-Buddhis, mempertimbangkan untuk mengadopsi pendekatan pendidikan berbasis welas asih dalam kurikulum mereka. Pemerintah serta pemangku kepentingan di bidang pendidikan juga diharapkan dapat menyediakan ruang dan dukungan yang memadai bagi pengembangan model-model pendidikan berbasis nilai-nilai spiritual dan humanistik, yang telah terbukti efektif dalam memperkuat kohesi sosial. Selain itu, penelitian lebih lanjut perlu dilakukan guna mengevaluasi dampak jangka panjang dari pendidikan Buddhisme Humanistik terhadap pembentukan karakter dan solidaritas sosial, baik pada level lokal maupun nasional. Dengan demikian, pendidikan yang diinspirasi oleh Buddhisme Humanistik tidak hanya relevan secara teologis, tetapi juga kontekstual dan aplikatif dalam menjawab kebutuhan pendidikan yang holistik di era modern. UCAPAN TERIMA KASIH